• Tidak ada hasil yang ditemukan

(1)(2)Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial | 1 ANALISIS DETERMINAN PENDAPATAN PEKERJA MISKIN DI PROVINSI ACEH TAHUN 2015 Rudi Hermanto1, T

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "(1)(2)Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial | 1 ANALISIS DETERMINAN PENDAPATAN PEKERJA MISKIN DI PROVINSI ACEH TAHUN 2015 Rudi Hermanto1, T"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

1 ANALISIS DETERMINAN PENDAPATAN PEKERJA MISKIN DI PROVINSI ACEH

TAHUN 2015

Rudi Hermanto1, T. Zulham2, Chenny Seftarita2 ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan ingin melihat bagaimana karakteristik demografi dari pekerja miskin di Provinsi Aceh dan menganalisis faktor-faktor apa yang menjadi penentu pendapatan dari pekerja miskin serta besar pengaruh dari masing-masing faktor tersebut.

Data yang digunakan adalah data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2015 dengan menggunakan model Multiple Classification Analysis (MCA). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan dan masing- masing variabel bebas jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, status perkawinan, umur, tingkat pendidikan, lapangan usaha, sektor pekerjaan, dan jam kerja. Hasil MCA menunjukkan bahwa variabel bebas secara simultan memberikan pengaruh yang nyata terhadap pendapatan. Dari 8 variabel demografi yang diteliti, variabel bebas lapangan usaha, jenis kelamin, umur dan tingkat pendidikan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pendapatan pekerja miskin.

Kata Kunci: pendapatan, Susenas, pekerja miskin, MCA I. PENDAHULUAN

Implementsi berbagai upaya pembangunan dihadapkan pada berbagai permasalahan terutama kemiskinan dan pengangguran. Upaya pengentasan permasalahan tersebut telah menjadi agenda pemerintah termasuk dalam lingkup kedaerahan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Aceh tahun 2012-2017 menyebutkan bahwa Pemerintah Aceh mempunyai misi memperkuat struktur ekonomi dan kualitas sumber daya manusia dengan sasaran ingin menurunkan angka pengangguran terbuka Aceh dari 7,43 persen menjadi 5 persen dan angka kemiskinan Aceh dari 19,57 persen menjadi 9,50 persen.

Permasalahan kemiskinan memang terkait dengan permasalahan ketenagakerjaan.

Pengangguran dianggap menambah jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan (Ngadi, 2003). Secara logis, seseorang yang menganggur bisa menyebabkan dirinya tidak mempunyai pendapatan sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dan hidup di bawah garis kemiskinan.

1 Kasubbag Bina Program BPS Provinsi Aceh

2 Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah, Banda Aceh

(3)

2

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

Dari berbagai kajian masalah ketenagakerjaan, ternyata penganggur bukanlah lapisan masyarakat yang paling menderita (miskin). Pada umumnya orang yang miskin sekali malah banyak yang tidak menganggur, mereka bekerja hanya sekedar dapat menghasilkan pendapatan untuk mempertahankan hidupnya.

Menurut Priyono (2002), status sebagai pekerja tidak memberikan jaminan bahwa seseorang akan sejahtera (atau tidak miskin). Hal ini bisa saja terjadi pada kondisi di mana seseorang yang bekerja, namun pendapatan yang diperoleh dari pekerjaannya itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minimumnya dan masih berada di bawah garis kemiskinan.

Data tahun 2014 menunjukkan, kemiskinan paling besar terjadi pada orang yang bekerja, bukan pada orang yang tidak bekerja/menganggur seperti terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Persentase Rumah Tangga Miskin menurut sumber penghasilan utama rumah tangga di Indonesia dan Provinsi Aceh, Tahun 2014

Wilayah

Tidak Bekerja (%)

Bekerja pada Lapangan Usaha (%) Jumlah Bekerja (%)

Total Pertanian Industri Lainnya (%)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Indonesia 12,33 30,50 9,49 47,68 87,67 100,00

Aceh 2,76 62,19 5,68 29,37 97,24 100,00

Sumber: BPS, Susenas 2014 (diolah)

Di Provinsi Aceh, persentase rumah tangga miskin yang tidak bekerja hanya berkisar pada angka 2,76 persen, relatif sangat kecil jika dibandingkan dengan rumah tangga yang bekerja secara keseluruhan (97,24 persen). Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga miskin di Provinsi Aceh sebenarnya berada pada posisi bekerja (tidak menganggur) namun pendapatan perkapitanya masih menempatkannya pada posisi di bawah garis kemiskinan.

Kondisi ini juga berlaku secara nasional, sebanyak 87,67 persen rumah tangga miskin mempunyai status bekerja dan hanya 12,33 persen yang tidak bekerja.

(4)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

3 Berbagai kajian memperlihatkan bahwa kemiskinan merupakan fenomena tradisional dikaitkan dengan orang yang secara ekonomi tidak aktif seperti tunawisma, pengangguran atau cacat. Perubahan pola kerja dan polarisasi yang berkembang di pasar tenaga kerja antara kerja tidak terampil dan pekerjaan dengan keterampilan tinggi telah menciptakan resiko kemiskinan baru di antara penduduk yang bekerja. Konsep pekerja miskin, mencuat di Amerika Serikat di tahun 1970, dan telah menjadi realitas di pasar tenaga kerja di dunia. Ada sekitar 550 juta orang yang dapat diklasifikasikan sebagai pekerja miskin di dunia. Dengan kata lain, satu dari setiap lima orang di angkatan kerja milik rumah tangga miskin (Gundogan et.al, 2005).

Laporan Nasional tentang kemiskinan yang diterbitkan oleh Leu, Burri dan Priester (1997) menyebutkan bahwa fenomena pekerja miskin telah menjadi masalah sejak kemerosotan ekonomi di era 90-an. Hal ini tidak saja berlaku di luar negeri, kondisi serupa juga terjadi di Indonesia. Hasil kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada bulan Februari 2012 menunjukkan bahwa sebanyak 43,67 persen pekerja di Indonesia berada di bawah garis kemiskinan (Nawawi, 2012).

Fenomena pekerja miskin di atas tentu saja memunculkan pertanyaan bahwa terdapat hal yang menjadi faktor penentu mengapa kesejahteraan/pendapatan pekerja masih menempatkannya di bawah garis kemiskinan. Faktor penentu ini dapat saja berasal dari internal yaitu kondisi sosial ekonomi pekerja itu sendiri maupun faktor eksternal mereka.

Berdasarkan fakta bahwa kemiskinan juga terjadi pada seseorang yang mempunyai status bekerja dan hal ini juga didukung dengan berbagai hasil penelitian sebelumnya, maka menjadi penting untuk dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang menentukan (determinan) pendapatan pekerja miskin dalam hal ini di Provinsi Aceh.

II. TINJAUAN TEORITIS

Pendapatan merupakan balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi dalam jangka waktu tertentu. Balas jasa tersebut dapat berupa sewa, upah/gaji, bunga ataupun laba. Pendapatan pribadi dapat diartikan sebagai semua jenis pendapatan, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan sesuatu kegiatan apapun, yang diterima oleh penduduk suatu negara (Sukirno, 2004:37).

Dalam memperkirakan pendapatan rumah tangga, Selim dalam Angkat (2004) menggunakan dua pendekatan. Pertama, dengan menjumlahkan seluruh penerimaan yang diperoleh anggota rumahtangga. Kedua, menduga pendapatan melalui pengeluaran total rumahtangga. Dalam berbagai studi, pengeluaran total sering digunakan sebagai pengganti pendapatan dengan berbagai alasan. Rumahtangga lebih tepat dalam melaporkan pengeluarannya daripada pendapatannya. Pengeluaran rumahtangga merupakan pengeluaran seluruh anggota rumahtangga, sedangkan pengeluaran per kapita (sebagai

(5)

4

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

pendekatan pendapatan individu atau pendapatan per kapita) diperoleh dengan membagi jumlah seluruh pengeluaran rumahtangga dibagi dengan jumlah anggota rumahtangga.

Penelitian ini digunakan pendekatan pengeluaran per kapita (sebagai pendapatan per kapita) karena di Indonesia pendapatan yang diperoleh sebuah rumahtangga digunakan bersama-sama oleh seluruh anggota rumahtangga tersebut.

Menurut ILO (2011), kemiskinan pekerja (working poverty) adalah situasi yang dihadapi individu yang walaupun telah mempunyai pekerjaan yang dibayar, tetapi tidak mempunyai penghasilan yang cukup untuk mengangkat dirinya dan keluarganya keluar dari kemiskinan. Pekerja miskin didefinisikan sebagai seseorang yang bekerja dalam suatu rumah tangga yang anggotanya hidup di bawah garis kemiskinan.

Pekerja miskin adalah orang yang pendapatan pribadinya di bawah ambang tertentu (Schafer, 1997) dalam Strengmann (2002). Ambang ini dapat berupa garis kemiskinan, persentase upah rata-rata atau ditetapkan dengan cara-cara lain.

Berdasarkan Laporan Statistik Tahunan FSO (Federal Statistical Office) Swiss, Pekerja Miskin adalah penduduk usia 20-59 tahun yang bekerja dan hidup dalam rumahtangga miskin. Pekerja miskin adalah bagian dari penduduk yang sukar untuk didefinisikan, bukan hanya karena keterbatasan pada data yang spesifik tetapi juga karena konsepnya mengkombinasikan dua level analisis yaitu status pekerjaan dari individu dan upah yang mereka dapatkan dari pekerja (tingkat individu) dan dalam tingkat yang lebih luas bagaimana tingkat kemiskinan pendapatan dalam konteks rumah tangga.

Dalam beberapa penelitian, definisi pekerja miskin melebar menjadi semua anggota rumah tangga yang hidup di rumah tangga miskin yang memiliki paling sedikit satu pekerja (Caritas, 1998) dalam Strengmann (2002). Pekerja miskin juga diartikan sebagai seseorang yang sudah bekerja tetapi tinggal dalam rumah tangga yang berada pada garis kemiskinan (Cooke dan Lawton, 2008). Definisi inilah yang banyak digunakan oleh negara- negara maju.

Penelitian terhadap pendapatan pekerja telah banyak dilakukan dan hasilnya cukup menjelaskan tentang faktor-faktor yang menjadi penentu pendapatan pekerja. Penelitian Agustiyani (2010) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi status kemiskinan pekerja di Indonesia menemukan bahwa variabel yang berpengaruh terhadap status kemiskinan pekerja adalah jenis kelamin, umur, pendidikan, daerah tempat tinggal, status perkawinan, lapangan pekerjaan, status pekerjaan, jumlah jam kerja seminggu, lama bekerja di pekerjaan saat ini dan pengalaman mengikuti kursus.

(6)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

5 Penelitian Garza-Rodriguez (2002) tentang faktor-faktor penentu atau berkorelasi dengan kemiskinan di Mexico menemukan bahwa variabel yang berkorelasi positif dengan probabilitas menjadi miskin adalah: ukuran rumah tangga, yang tinggal di daerah perdesaan, bekerja di sebuah pekerjaan perdesaan dan menjadi pekerja rumah tangga. Variabel yang berkorelasi negatif dengan probabilitas menjadi miskin adalah tingkat pendidikan kepala rumah tangga, umur kepala rumah tangga dan status pekerjaannya.

Mukhyi (2002) melakukan penelitian dan memperlihatkan aspek kecenderungan tingkat gaji dan upah di Indonesia. Analisisnya menggunakan pendekatan regresi berganda karena ingin melihat faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan gaji. Hasil penelitiannya, sebesar 87,1 persen perubahan gaji dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas tersebut (jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman kerja, jeda (berhenti sebentar dalam pekerjaannya), keahlian, dan kinerja (produktivitas). Namun dari sembilan variabel, yang signifikan mempengaruhi hanya ada dua variabel yaitu masa kerja dan tingkat pendidikan.

Penelitian empiris oleh Losa dan Soldini (2013) mengenai pekerja miskin dalam 7 kawasan di antero Swiss dengan menggunakan regresi logistik dan pohon klasifikasi menyebutkan bahwa meskipun banyak perbedaan sosial, politik dan ekonomi, yang berasal dari perbedaan budaya dan berbagai aturan kelembagaan dan politik, dan meskipun berbeda tingkat pekerja miskinnya faktor resiko utama untuk kemiskinan pekerja adalah ukuran rumah tangga, jumlah jam kerja, tingkat pendidikan dan kebangsaan.

III. METODE PENELITIAN

Pada penelitian ini, definisi kemiskinan mengacu pada konsep BPS (2012) yaitu kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Pekerja miskin adalah pekerja yang mempunyai pendapatan di bawah garis kemiskinan. Dalam menentukan pendapatan pekerja miskin digunakan pendekatan pengeluaran per kapita.

Cakupan wilayah dalam penelitian ini adalah Provinsi Aceh. Sumber data yang digunakan adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2015 dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 2.505 pekerja miskin yang tersebar di 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh.

Penelitian ini menggunakan dua pendekatan analisis yaitu (1) analisis deskriptif dan (2) analisis inferensia. Pendekatan deskriptif ini lebih menekankan pada pentabulasian silang (cross tabulation) antarvariabel. Untuk mengetahui ketergantungan antara dua variabel digunakan uji ketergantungan Pearson Chi-Square. Uji ketergantungan dengan Likelihood Ratio juga ditampilkan, karena jumlah sampel yang besar, nilainya akan sama dengan Pearson Chi-Square (Santoso, 2001).

(7)

6

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

Hipotesis nol (H0) yang digunakan adalah tidak ada ketergantungan antara pendapatan pekerja miskin dengan variabel bebas (jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, status perkawinan, umur, tingkat pendidikan, lapangan usaha, status pekerjaan dan jumlah jam kerja). Dengan tingkat keyakinan 95 persen (α = 5%), maka terima H0 jika nilai Asymp. Sig. (2-sided), lebih besar dari 0,05.

Uji statistik lainnya yang digunakan untuk mengetahui besarnya hubungan antara dua buah variabel secara simetris atau tanpa menentukan salah satunya sebagai variabel dependen dan yang lainnya sebagai variabel independen juga akan dilakukan yaitu dengan statistik uji Phi, Cramer’s V dan Contingency Coefficient (Santoso, 2001). Hipotesis nol (H0) yang digunakan adalah tidak ada hubungan antara kedua variabel, dan hipotesis alternatifnya terdapat hubungan antara kedua variabel.

Untuk menganalisis faktor-faktor penentu pendapatan pekerja miskin digunakan Multiple Classification Analysis (MCA). Andrews et.al (1973) menyatakan bahwa MCA adalah suatu metode analisis di mana variabel bebas berskala kategorik dengan sebuah variabel terikat yang berskala numerik. MCA mensyaratkan data yang dianalisis harus berupa data individu. Model analisis ini diperkenalkan oleh Yates pada tahun 1934, kemudian dikembangkan oleh Anderson Bancroft tahun 1952 (Rahman, 2011).

MCA menguraikan pengaruh dari setiap kategori dari variabel terhadap grand mean dari faktor yang diteliti. Salah satu kegunaan yang penting dari MCA adalah melihat pengaruh dari satu prediktor terhadap prediktor yang lain dan variabel kontrol pada setiap prediktor baik sebelum dibebaskan dari prediktor lain maupun sesudah dibebaskan dari prediktor lain sehingga akan diketahui pengaruh murni dari setiap prediktor dan pengaruh dari variabel atribut.

MCA merupakan analisis lebih lanjut dari tabel ANOVA, sehingga model yang digunakan adalah model linier aditif yang ditunjukkan dengan persamaan sebagai berikut:

Yijklmnop = 𝑦̅+JKi+WILTj+STKWk+UMURl+DIKm+LAPUSn+SPEKo+JKERp+eijklmnop ...(1) di mana:

Yijklmnop = pendapatan pekerja miskin pada kategori ke-i variabel JK (Jenis Kelamin), kategori ke-j variabel WILT (Wilayah Tempat Tinggal), kategori ke-k variabel STKW (Status Perkawinan), kategori ke-l variabel UMUR (Umur), kategori ke-m variabel DIK (Tingkat Pendidikan), kategori ke-n variabel LAPUS (Lapangan Usaha), kategori ke-o variabel SPEK (Sektor Pekerjaan) dan kategori ke-p variabel JKER (Jumlah Jam Kerja)

𝑦̅ = rata-rata keseluruhan pendapatan pekerja miskin (Grand Mean)

(8)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

7 JKi = efek kategori ke-i dari variabel JK (Jenis Kelamin)

WILTj = efek kategori ke-j dari variabel WILT (Wilayah Tempat Tinggal) STKWk = efek kategori ke-k dari variabel STKW (Status Perkawinan) UMURl = efek kategori ke-l dari variabel UMUR (Umur)

DIKm = efek kategori ke-m dari variabel DIK (Tingkat Pendidikan) LAPUSn = efek kategori ke-n dari variabel LAPUS (Lapangan Usaha) SPEKo = efek kategori ke-o dari variabel SPEK (Sektor Pekerjaan) JKERp = efek kategori ke-p dari variabel JKER (Jumlah Jam Kerja) eijklmnop = error untuk individu yang bersesuaian dengan Yijklmnop

JKi = Nilai rata-rata dari Y untuk kasus pada kategori ke-i dari variabel bebas JK atau pendapatan pekerja miskin yang diperoleh pada kategori ke-i pada variabel jenis kelamin pekerja miskin.

i

i j k l m n o p

ijklmnop

i W

Y JK



... (2)

Wi = banyaknya individu/amatan kategori ke-i pada variabel Jenis Kelamin Hal yang sama juga berlaku pada variabel WILT, STKW, UMUR, DIK, LAPUS, SPEK, dan JKER.

Pada Tabel MCA, semua pengaruh diekspresikan sebagai deviasi-deviasi dari rata-rata akhir. Dalam tabel juga dihasilkan nilai Eta dan Beta yang merupakan koefisien korelasi. Eta (η) adalah nilai keeratan hubungan suatu variabel bebas dengan variabel tidak bebas sebelum diperhitungkan variabel bebas lainnya, sedangkan Beta (β) adalah nilai eta setelah dibebaskan dari pengaruh prediktor lain dan variabel atribut (variabel kontrol).

Variabel bebas yang mempunyai nilai beta yang paling besar dapat dikatakan sebagai variabel yang memiliki pengaruh paling besar terhadap pendapatan pekerja miskin bila dibandingkan dengan variabel bebas lainnya.

(9)

8

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

Secara ringkas, variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagaimana Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Variabel yang digunakan dalam Penelitian

Variabel Terikat Variabel Bebas Kategori

(1) (2) (3)

Y= Pendapatan

X1 = JK 1 = laki-laki 2 = perempuan X2 = WILT 1 = perkotaan

2 = perdesaan X3 = STKW 1 = belum kawin

2 = kawin/pernah kawin X4 = UMUR

1 = < 25 tahun 2 = 25-54 tahun 3 = > 54 tahun X5 = DIK

1 = ≤ SMP 2 = SMA

3 = Perguruan Tinggi X6 = LAPUS 1 = pertanian

2 = non pertanian X7 = SPEK 1 = formal

2 = informal

X8 = JKER 1 = < 35 jam seminggu 2 = ≥ 35 jam seminggu

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2015 seperti terlihat pada Tabel 3, diperoleh gambaran bahwa dari total penduduk di Provinsi Aceh, sebanyak 2,07 juta orang berstatus bekerja dan 14,50 persen diantaranya masih tergolong ke dalam kategori miskin. Angka ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi dua tahun sebelumnya yang mencapai 13,24 persen pada tahun 2013 dan 14,39 persen pada tahun 2014.

(10)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

9 Tabel 3. Jumlah orang yang bekerja dan Pekerja Miskin di Provinsi Aceh

Tahun 2013-2015 Tahun Jumlah orang yang

bekerja (orang)

Jumlah Pekerja

Miskin (orang) Persentase

(1) (2) (3) (4)

2013 1.924.921 254.904 13.24

2014 2.005.275 288.585 14.39

2015 2.073.842 300.632 14.50

Sumber: Susenas 2015 (diolah)

Selanjutnya Gambar 1 memperlihatkan bagaimana gambaran umum pekerja miskin di Provinsi Aceh di mana sebagian besar (61,95 persen) pekerja miskin berjenis kelamin laki-laki.

Sebesar 85,95 persen bertempat tinggal di wilayah perdesaan dan 78,20 persen berstatus kawin/pernah kawin. Selanjutnya mayoritas di antara mereka berada pada kelompok umur prima (25-54 tahun) dengan persentase sebesar 72,52 persen dan tingkat pendidikan rata-rata paling tinggi SMP (71,07 persen). Sebagian besar pekerja miskin (64,24 persen) bergerak di sektor informal dengan lapangan usaha terbesar di sektor pertanian yaitu mencapai 76,23 persen. Rata-rata pekerja miskin atau sebesar 53,77 persen sudah mempunyai jam kerja di atas 35 jam seminggu, selebihnya masih mempunyai jam kerja di bawah 35 jam seminggu.

Gambar 1. Persentase Pekerja Miskin Menurut Karakteristik Demografi

Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan Belum Kawin Kawin/perna <=24 25-54 >=55 =< SMP SMA Perguruan… Pertanian Non Pertanian Formal Informal < 35 Jam >= 35 Jam

61,95 38,05

14,05 85,95

21,8 78,2

15,59 72,52

11,89 71,07

21,18 7,75

64,24 35,76

23,77 76,23

46,23 53,77

(11)

10

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

Apabila dilihat dari sisi pendapatan seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, secara umum rata-rata pendapatan perkapita pekerja di Provinsi Aceh adalah sebesar Rp. 803.498,-. Sementara itu, pendapatan pekerja miskin adalah sebesar Rp. 320.799,- atau hampir sepertiga dari pendapatan pekerja tidak miskin yang mencapai besaran Rp. 885.335,-.

Hal ini menggambarkan bahwa masih terdapat kesenjangan pendapatan yang cukup lebar antara pekerja. Ciri dan karakteristik demografi yang berbeda dari pekerja dapat memberikan implikasi yang berbeda terhadap pendapatan yang diterima oleh pekerja.

Gambar 2. Rata-rata Pendapatan Menurut Kategori Pekerja

4.1 Hubungan Antarvariabel

Tabel 4 menunjukkan hasil statistik uji Pearson Chi-Square dan Likelihood Ratio dengan tingkat keyakinan 95 persen (α = 5%), menghasilkan Asymp. Sig. (2-sided) sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan untuk menolak H0 artinya terdapat ketergantungan yang signifikan antara pendapatan dan masing-masing variabel bebas.

Tabel 4. Hasil Uji Ketergantungan Beberapa Variabel yang Mempengaruhi Pendapatan

Hubungan antara Variabel Uji Statistik Value Df

Asymp.

Sig (2- sided)

(1) (2) (3) (4) (5)

Pendapatan * Jenis Kelamin Pearson Chi Square 1025.638a 1 .000 Likelihood Ratio 1023.822 1 .000

803.498 320.799

885.335

0 200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000 Total Pekerja

Pekerja Miskin Pekerja Tidak Miskin

(12)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

11 Pendapatan * Wilayah

Tempat Tinggal

Pearson Chi Square 198.453a 1 .000 Likelihood Ratio 199.502 1 .000 Pendapatan * Status

Perkawinan

Pearson Chi Square 13.344a 1 .000 Likelihood Ratio 13.334 1 .000 Pendapatan * Umur

Pearson Chi Square 210.432a 2 .000 Likelihood Ratio 209.704 2 .000 Pendapatan * Pendidikan Pearson Chi Square 630.300a 2 .000 Likelihood Ratio 634.585 2 .000 Pendapatan * Lapangan

Usaha

Pearson Chi Square 2198.597a 1 0.000 Likelihood Ratio 2212.374 1 0.000 Pendapatan * Sektor

Pekerjaan

Pearson Chi Square 592.136a 1 .000 Likelihood Ratio 595.508 1 .000 Pendapatan * Jam Kerja Pearson Chi Square 178.372a 1 .000 Likelihood Ratio 178.334 1 .000 Sumber: Susenas 2015 (diolah)

Uji hubungan dengan menggunakan statistik uji Phi, Cramer’s V, dan Contingency Coefficient antara dua variabel secara simetris seperti ditunjukkan pada Tabel 5, juga menghasilkan keputusan untuk menolak H0, artinya terdapat hubungan antara pendapatan dengan masing-masing variabel bebas. Sesuai dengan signifikansi uji ketergantungan sebelumnya, hubungan terkuat berturut-turut adalah antara pendapatan dengan lapangan usaha, pendapatan dengan jenis kelamin, dan pendapatan dengan pendidikan.

Tabel 5. Hasil Uji Hubungan Beberapa Variabel Terhadap Pendapatan Hubungan antara Variabel Uji Statistik Value Approx. Sig.

(1) (2) (3) (4)

Pendapatan * Jenis Kelamin

Phi -.058 .000

Cramer's V .058 .000

Contingency Coefficient .058 .000 Pendapatan * Wilayah Tempat

Tinggal

Phi -.026 .000

Cramer's V .026 .000

Contingency Coefficient .026 .000 Pendapatan * Status

Perkawinan

Phi .007 .000

Cramer's V .007 .000

Contingency Coefficient .007 .000

Pendapatan * Umur Phi .026 .000

Cramer's V .026 .000

(13)

12

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

Contingency Coefficient .026 .000 Pendapatan * Pendidikan

Phi .046 .000

Cramer's V .046 .000

Contingency Coefficient .046 .000

Pendapatan * Lapangan Usaha

Phi .086 0.000

Cramer's V .086 0.000

Contingency Coefficient .085 0.000 Pendapatan * Sektor Pekerjaan

Phi -.044 .000

Cramer's V .044 .000

Contingency Coefficient .044 .000 Pendapatan * Jam Kerja

Phi .024 .000

Cramer's V .024 .000

Contingency Coefficient .024 .000 Sumber: Susenas 2015 (diolah)

4.2 Main Effect dan Signifikasi Model

Tabel 6. Main Effect Variabel bebas terhadap pendapatan

Variabel Hierarchical Method

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Pendap atan

(Combi

ned) 12801641682363.600 10 1280164168236.360 582.557 0.000 J K 2333254527700.410 1 2333254527700.410 1061.781 .000 WILT 1328344476778.280 1 1328344476778.280 604.482 .000 STKW 12272711346.279 1 12272711346.279 5.585 .018 Umur 626265644243.493 2 313132822121.746 142.496 .000 Pendidi

kan 1827612114324.770 2 913806057162.386 415.841 .000 LAPUS 6415594499795.550 1 6415594499795.550 2919.509 0.000 SPEK 8664760302.512 1 8664760302.512 3.943 .047 J KER 249632947872.256 1 249632947872.256 113.599 .000

Sumber: Susenas 2015 (diolah)

Berdasarkan Tabel 6, dalam taraf kepercayaan 5 persen, semua variabel bebas adalah

(14)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

13 signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pendapatan pekerja miskin antar kategori, baik pada variabel Jenis Kelamin, Wilayah Tempat Tinggal, Status Perkawinan, Umur, Tingkat Pendidikan, Lapangan Usaha, Sektor Pekerjaan dan Jumlah Jam Kerja.

Selain itu, pengujian keberartian model yang memuat semua variabel bebas juga dilakukan dengan H0 : efek variabel bebas secara simultan adalah tidak berarti dalam model.

Hasil Anova menunjukkan bahwa p-value combined pengujian adalah signifikan, sehingga diputuskan untuk menolak H0 dan dapat disimpulkan bahwa efek variabel bebas secara simultan adalah berarti dalam model.

4.3 Pengaruh Karakteristik Demografi Terhadap Pendapatan

Tabel 7 memperlihatkan bahwa variabel bebas lapangan usaha mempunyai pengaruh paling besar terhadap pendapatan per kapita bila dibandingkan dengan variabel bebas lainnya baik sebelum atau sesudah dibebaskan dari pengaruh variabel lain. Hal ini ditunjukkan dengan nilai eta dan beta yang dihasilkan yakni sebesar 0,115 dan 0,100.

Besarnya pengaruh lapangan usaha dapat disebabkan oleh besarnya persentase pekerja miskin yang bergerak pada sektor pertanian, dimana sektor pertanian sendiri masih identik dengan perdesaan yang menjadi lumbung kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, sektor pekerjaan informal dan produktivitas rendah.

Tabel 7. Besar Pengaruh Variabel Bebas Terhadap Pendapatan

Variabel Eta(η) Beta (β)

Adjusted for Factors

(1) (2) (3) (4)

Pendapatan

Jenis Kelamin .058 .046

Wilayah Tempat Tinggal .044 .006

Status Perkawinan .004 .001

Umur .028 .029

Tingkat Pendidikan .054 .040

Lapangan Usaha .115 .100

Sektor Pekerjaan .046 .003

Jam Kerja .052 .020

Pengaruh yang cukup besar lainnya disebabkan oleh variabel jenis kelamin dengan beta sebesar 0.046; tingkat pendidikan beta sebesar 0,040 dan variabel umur dengan nilai beta sebesar 0,29. Besarnya pengaruh jenis kelamin dalam pendapatan pekerja miskin

(15)

14

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

disebabkan karakteristik yang melekat pada variabel jenis kelamin tersebut. Faktor gender ditenggarai masih berpengaruh terhadap pendapatan pekerja. Tidak dapat dipungkiri tingkat pendidikan signifikan mempengaruhi pendapatan. Begitu juga dengan faktor umur, pada golongan pekerja miskin ini, masih signifikan mempengaruhi pendapatan.

Hasil penghitungan MCA sebagaimana Tabel 8, menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan pekerja miskin laki-laki lebih tinggi dibandingkan pekerja perempuan baik sebelum maupun sesudah dibebaskan dari pengaruh faktor lain. Kecenderungan ini sejalan dengan beberapa teori dan hasil penelitian sebelumnya. Pekerja wanita dihadapkan pada kenyataan bahwa produktivitas wanita dalam usahanya berpartisipasi di luar rumah dibatasi oleh sektor domestiknya, sehingga mempengaruhi pekerja wanita untuk memasuki berbagai jenis pekerjaan yang ada di pasaran kerja. Kaum perempuan memiliki jam kerja yang lebih terbatas daripada laki-laki, sehingga produktifitasnya lebih rendah dan mempunyai pendapatan lebih rendah.

Tabel 8. Hasil Penghitungan MCA Pendapatan Pekerja Miskin

Variabel N

Predicted Mean Deviation

Unadjusted Adjusted for

Factors Unadjusted Adjusted for Factors

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Jenis Kelamin

Laki-laki 186,244 322,982.44 322,524.23 2,183.30 1,725.09 Perempuan 114,388 317,244.36 317,990.41 -3,554.79 -2,808.74 Wil_Tinggal

Perkotaan 42,228 326,034.40 321,527.46 5,235.26 728.31 Perdesaan 258,404 319,943.61 320,680.13 -855.54 -119.02 Status Perkawinan

Belum Kawin 65,552 320,432.80 320,931.79 -366.35 132.64 Kawin atau pernah

kawin

235,080 320,901.30 320,762.16 102.16 -36.99 Umur

=<24 tahun 46,876 318,189.69 317,561.34 -2,609.46 -3,237.80 25-54 tahun 218,006 321,627.25 321,467.15 828.10 668.00

>=55 tahun 35,751 319,170.90 320,971.10 -1,628.25 171.95 Tingkat Pendidikan

=< SMP 213,658 319,211.24 319,591.40 -1,587.91 -1,207.74

SMA 63,686 325,443.62 324,229.79 4,644.48 3,430.64

(16)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

15 Perguruan Tinggi 23,289 322,666.11 322,497.77 1,866.96 1,698.62 Lapangan Usaha

Pertanian 193,125 316,672.00 317,229.06 -4,127.14 -3,570.09 Non Pertanian 107,507 328,213.13 327,212.44 7,413.98 6,413.29 Sektor Pekerjaan

Formal 71,451 324,755.64 321,035.03 3,956.49 235.89 Informal 229,181 319,565.64 320,725.61 -1,233.50 -73.54 Jam Kerja

< 35 Jam 138,993 318,100.73 319,759.78 -2,698.42 -1,039.36

>= 35 Jam 161,639 323,119.51 321,692.89 2,320.36 893.75

Berdasarkan wilayah tempat tinggal, pendapatan pekerja di perkotaan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja yang tinggal di perdesaan baik sebelum maupun sesudah dibebaskan dari pengaruh faktor lain. Perbedaan pendapatan ini dapat terjadi disebabkan oleh perbedaan karakteristik wilayah masing-masing. Hal ini sejalan dengan pernyataan ILO (2007) bahwa kemiskinan di Indonesia masih merupakan masalah di perdesaan. Kemiskinan menjadi suatu identitas yang melekat dengan perdesaan. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai hal diantaranya: tingkat pendidikan dan kualitas pendidikan di perdesaan masih rendah; rendahnya asset yang dikuasai masyarakat perdesaan; pelayanan sarana dan prasarana perdesaan yang kurang memadai; dan terbatasnya kesempatan melakukan usaha di perdesaan.

Pekerja dengan status belum kawin cenderung mempunyai pendapatan lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja dengan status kawin/pernah kawin. Hal ini disebabkan karena pendapatan pekerja kawin/pernah kawin harus membagi pendapatan yang diperolehnya dengan tanggungannya sehingga pendapatan perkapitanya menjadi kecil. Namun pada saat diperhitungkan faktor lain (unadjusted), pendapatan pekerja kawin/pernah kawin lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja belum kawin. Adanya pengaruh variabel lain inilah yang mempengaruhi besarnya pendapatan pekerja kawin/pernah kawin.

Rata-rata pendapatan pekerja umur 25-54 tahun menjadi yang paling tinggi dibandingkan dengan pekerja muda atau pekerja tua. Pada kelompok umur tersebut produktivitas pekerja berada pada puncaknya. Berbeda dengan pekerja muda dimana pada usia muda pekerja baru memulai karier dengan pekerjaan berupah rendah (Eurofond, 2010), sehingga pendapatannya relatif rendah. Kemudian semakin meningkat umur, produktivitas seorang pekerja juga akan meningkat. Namun ketika umur sudah menua, produktivitas dan kemampuan berfikir serta kemampuan untuk menerima kemajuan teknologi mulai menurun. Hal ini memungkinkan pada saat memasuki umur tua, pendapatan akan menurun dari sebelumnya.

(17)

16

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

Pada kelompok pekerja miskin, pendapatan paling tinggi dimiliki oleh pekerja dengan pendidikan SMA. Hal ini disebabkan rata-rata pekerjaan secara umum yang dilakukan pekerja miskin bersifat informal (76 persen) sehingga tidak memerlukan keahlian tinggi untuk masuk ke sektor pekerjaan ini. Seseorang yang berpendidikan rendah cenderung tidak banyak pilihan pekerjaan sehingga apapun jenis pekerjaan harus dijalani. Hal inilah yang menyebabkan pendapatan pekerja masih rendah.

Lapangan usaha pertanian masih menjadi lumbungnya pekerja dengan pendapatan rendah. Berdasarkan data hasil Sensus Pertanian 2013, sebagian besar pekerja pada sektor pertanian adalah buruh tani. Faktor kepemilikan tanah garapan yang semakin kecil, sehingga tidak menguntungkan dari segi ekonomis dan penghasilan petani juga menjadi relatif kecil. Selain itu, tingkat pendidikan yang relatif rendah di kalangan pekerja di sektor pertanian yakni sebesar 48,66 persen hanya tamatan SMP serta keterbatasan keahlian dan pengetahuan menyebabkan sektor pertanian masih menjadi lapangan usaha tidak menguntungkan.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian sebelumnya diperoleh fakta bahwa pekerja sektor formal lebih sejahtera dibanding dengan pekerja sektor informal. Hal yang sama ditemukan pada kelompok pekerja miskin di Aceh di mana berdasarkan hasil MCA diperoleh bahwa pendapatan rata-rata pekerja formal masih lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja informal baik sebelum atau sesudah dibebaskan dari pengaruh faktor lain.

Rendahnya pendapatan pekerja sektor informal disebabkan karakteristik yang melekat pada sektor tersebut dimana menurut Laporan ILO dalam Effendi (1985) disebutkan bahwa pada sektor informal pola kegiatan usaha tidak teratur baik dalam arti lokasi maupun jam kerja, modal dan perputaran usaha relatif kecil, sehingga skala operasi juga relatif kecil, dan umumnya unit usaha termasuk golongan one-man-enterprises dan mempekerjakan buruh berasal dari keluarga. Sektor ini juga rata-rata ditekuni oleh pekerja dengan pendidikan rendah, karena sektor ini tidak memerlukan keahlian dan kemampuan yang tinggi untuk menekuninya. Seseorang dengan pendidikan tinggi cenderung akan mempunyai pekerjaan dengan status formal, sebaliknya yang memiliki pendidikan rendah akan terserap ke sektor informal. Memasuki pekerjaan di sektor informal tidak menuntut syarat pendidikan tertentu seperti pada lapangan pekerjaan di sektor formal. Semua orang dari berbagai tingkat pendidikan bahkan yang tidak berpendidikan dapat terserap di sektor informal. Berdasarkan data Susenas 2015, 76,23 persen pekerja miskin bergerak pada sektor informal dan 71,07 persen paling tinggi berpendidikan SMP.

Berdasarkan karakteristik jam kerja diperoleh hasil bahwa besarnya rata-rata pendapatan pekerja miskin ditentukan oleh jam kerja dimana pekerja yang mempunyai jam kerja lebih dari 35 jam seminggu memperoleh pendapatan lebih tinggi daripada pekerja dengan jam kerja di bawah 35 jam seminggu baik sebelum maupun sesudah dibebaskan dari pengaruh faktor lain. Hal ini berlaku juga pada kelompok pekerja tidak miskin. Menurut

(18)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

17 Khan dalam Angkat (2012) untuk meningkatkan pendapatan perekonomian rumahtangga diperlukan penambahan waktu kerja. Dengan tingkat produktivitas yang sama, seseorang yang bekerja lebih lama lebih produktif daripada pekerja dengan waktu lebih sedikit.

4.4 Model Aditif Pendapatan Pekerja Miskin

Berdasarkan uraian hasil MCA pada bahasan sebelumnya, pengaruh aditif dari variabel bebas menurut kategori berdasarkan deviasi adjusted dapat digambarkan dalam model persamaan aditif sebagai berikut:

Y = 320.799 + JKi+WILTj+STKWk+UMURl+DIKm+LAPUSn+SPEKo+ JKERp

dimana kombinasi pengaruh kategori dari masing-masing variabel bebas akan menghasilkan berbagai kombinasi rata-rata pendapatan yang diperoleh oleh seorang pekerja miskin. Berdasarkan model tersebut, maka seorang pekerja miskin akan memperoleh pendapatan tertinggi jika: berjenis kelamin laki-laki; bertempat tinggal di wilayah perkotaan; status belum kawin; berada pada kelompok umur 25-54 tahun; tingkat pendidikan SMA; bekerja pada sektor non pertanian; bergerak pada sektor formal; dan mempunyai jam kerja minimal 35 jam seminggu.

Dengan karakteristik demikian, seorang pekerja miskin akan memperoleh pendapatan sebesar Rp. 335.027,-. Sedangkan pendapatan terendah dari pekerja miskin adalah sebesar Rp. 308.706,-. Pendapatan tersebut diperoleh pada kondisi dimana karakteristik pekerja miskin adalah: berjenis kelamin perempuan; bertempat tinggal di wilayah perdesaan; status kawin/pernah kawin; berada pada kelompok umur kurang dari 25 tahun; tingkat pendidikan SMP ke bawah; bekerja pada sektor pertanian; bergerak pada sektor informal; dan mempunyai jam kerja kurang dari 35 jam seminggu.

Berdasarkan dua model aditif di atas, terlihat bahwa terdapat perbedaan pengaruh kategori pada masing-masing variabel bebas terhadap besarnya pendapatan.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis terhadap determinan pendapatan pekerja miskin di Provinsi Aceh dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Kemiskinan tidak hanya terkait dengan penduduk yang tidak bekerja, namun terdapat sebanyak 14,50 persen penduduk Provinsi Aceh yang bekerja dan rata-rata pendapatannya masih berada di bawah garis kemiskinan.

(19)

18

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

2. Status pekerja miskin di Provinsi Aceh sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, bertempat tinggal di wilayah perdesaan, status kawin/pernah kawin, mayoritas berada pada kelompok umur prima (25-54 tahun), dan tingkat pendidikan rata-rata paling tinggi SMP. Sebagian besar pekerja miskin bergerak di sektor informal dengan lapangan usaha terbesar di sektor pertanian. Rata-rata pekerja miskin sudah mempunyai jam kerja di atas 35 jam seminggu.

3. Terdapat ketergantungan yang signifikan antara pendapatan pekerja miskin dengan masing-masing variabel bebas.

4. Analisis Inferensia dengan model Anova menyimpulkan bahwa variabel Jenis Kelamin, Wilayah Tempat Tinggal, Status Perkawinan, Umur, Tingkat Pendidikan, Lapangan Usaha, Sektor Pekerjaan dan Jumlah Jam Kerja signifikan mempengaruhi tingkat pendapatan per kapita pekerja miskin..

5. Analisis Multiple Classification Analysis (MCA) menyimpulkan bahwa masing-masing variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap pendapatan pekerja miskin. Besarnya pengaruh tersebut dari yang terbesar berturut-turut disumbangkan oleh variabel lapangan usaha, jenis kelamin, tingkat pendidikan, umur, jam kerja, wilayah tempat tinggal, sektor pekerjaan dan status perkawinan.

6. Model aditif pendapatan pekerja miskin menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan seorang pekerja miskin tertinggi diperoleh pada saat mempunyai karakteristik jenis kelamin laki-laki, bertempat tinggal di wilayah perkotaan, status belum kawin; berada pada kelompok umur 25-54 tahun; tingkat pendidikan SMA; bekerja pada sektor non pertanian;

bergerak pada sektor formal; dan mempunyai jam kerja minimal 35 jam seminggu.

(20)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

19 DAFTAR PUSTAKA

Agustiyani, Rachmi. 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Kemiskinan Pekerja di Indonesia (Analisis Data Susenas dan Sakernas 2008). Thesis, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok.

Andrews F., Morgan J.N, et all. 1973. Multiple Classification Analysis. A Report On A Computer Program For Multiple Regression Using Categorical Predictors. Second Edition, The University of Michigan.

Angkat, Marine Sohadi. 2004. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengeluaran Makanan di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2003. (Tesis). Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.

Badan Pusat Statistik. 2009. Analisis Kemiskinan, Ketenagakerjaan dan Distribusi Pendapatan. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

______. 2015. Penghitungan dan Analisis Kemiskinan Makro Indonesia Tahun 2015. Jakarta:

Badan Pusat Statistik.

______. 2015. Aceh Dalam Angka 2015. Banda Aceh: Bappeda dan BPS Provinsi Aceh.

______. 2015. Keadaan Angkatan Kerja Provinsi Aceh Agustus 2015. Banda Aceh: BPS Provinsi Aceh.

Eurofound. 2010. Working Poor in Europe. European Foundation for Improvement of Living and Working Conditions. http//:www.eurofound.europa.eu. Diunduh tanggal 6 September 2016.

Garza, Jorge dan Rodriguez. 2002. The Determinants of Poverty In Mexico. MPRA Paper No.

65993, August 2015, Universidad de Monterrey.http://mpra.ub.uni- muenchen.de/65993. Diunduh tanggal 28 April 2016 Jam 14.35 WIB.

Gleicher, David and Stevans, Lonnie K. 2005. A Comprehensive Profile of The Working Poor.

CEIS, Fondazione Giacomo Brodolini and Blackwell Publishing Ltd, 9600.

Gordon, D and Spicker, P. 1998. Definitions of Absolute and Overall Poverty, The International Glossary on Poverty. Zed Books, New York, London.

Gundogan, Naci, et.al. 2005. The Working Poor: A Comparative Analysis. MPRA Paper No.

5096, October 2007, Anadolu University.http://mpra.ub.uni-muenchen.de/5096.

Diunduh tanggal 9 April 2015 Jam 10.56 WIB.

Harun, Tommy. 1997. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Pekerja:

Kasus Pekerja Migran di Indonesia (Analisis Data Sakerti 1993. (Tesis). Jakarta:

Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

(21)

20

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

ILO. 2015. Tren Ketenagakerjaan dan Sosial di Indonesia 2014 - 2015: Memperkuat Daya Saing dan Produktivitas Melalui Pekerjaan Layak. Jakarta: ILO.

Kim, Marlene. 1997. The Working Poor: Lousy Jobs or Lazy Workers? Journal of Economic Issues, Vol. 32. No. 1 Mar 1998. Association for Evoluntary Economic.

https://www.jstor.org/stable/4227278. Diunduh tanggal 21 Juli 2016 Jam 15.57 WIB.

LIPI. 2012. Konsep dan Ukuran Kemiskinan Alternatif. Jakarta: Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI.

Losa, Fabio B. dan Soldini, Emiliano. 2011. The Similar Faces of Swiss Working Poor, An Empirical Analysis Across Swiss Regions Using Logistic Regression and Classification Trees dalamSwiss Society of Economics and Statistics, 2011, Vol. 147 (1) 17–44.

Ngadi. 2003. Pengaruh Upah Minimum Terhadap Kemiskinan dan Kesempatan Kerja di Indonesia (Analisis Data Tahun 1996, 1999, 2001). Thesis, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Pemerintah Aceh. 2013. Qanun Aceh No. 12 Tahun 2013 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh Tahun 2012-2017. Banda Aceh: Pemerintah Aceh.

Priyono, Edy. 2002. Mengapa Angka Pengangguran Rendah di Masa Krisis?: Menguak Peranan Sektor Informal Sebagai Buffer Perekonomian. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan Vol 1, No. 2, Juli 2002.

Santoso, Singgih. 2001. SPSS versi 10: Mengolah Data Statistik Secara Profesional. Jakarta:

Elex Media Komputindo.

SMERU. 2001. Pengukuran Kemiskinan dan Aspek Multidimensinya. Lembaga Penelitian SMERU, No.3: May-Jun 2001.

Sukirno, Sadono. 2004. Pengantar Teori Makro Ekonomi Edisi Ke-2. Jakarta: Rajawali Press.

The Indonesian Institute. 2005. Kebijakan Pasar Tenaga Kerja Fleksibel: Tepatkah untuk Indonesia saat ini? www.theindonesianinstitute.com. Diunduh tanggal 15 September 2016 Jam 10.20 WIB.

UNESCO. 2000. Multiple Classification Analysis (Chapter 5.3). http://www.unesco.org.

Diunduh tanggal 30 Juni 2015 Jam 09.46 WIB.

World Bank. 2006. Era Baru dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia: Ikhtisar. Jakarta:

World Bank.

(22)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

21 KECANGGIHAN EKSPOR (EXPORT SOPHISTICATION) NEGARA ASEAN-5

Rini Hapsari Cahyaningrum1 dan Septiawan Nur Hidayat1

ABSTRAK

Perdagangan merupakan salah satu aspek penting yang menunjang perekonomian suatu negara. Kinerja ekspor merupakan salah satu komponen penting yang menentukan perdagangan antar negara. Seperti halnya China yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi China mencapai 9,5 persen pada kuartal kedua tahun 2011 (Asian Development Bank, 2011). Fakta penelitian menunjukkan bahwa tingginya pertumbuhan ekonomi China ditunjang oleh ekspor (Coates, 2012). Menurut Rodrik (2006), keranjang ekspor China cenderung menyerupai ekspor negara maju. Meskipun ekspor China didominasi produk yang padat tenaga kerja, namun China juga mengekspor berbagai produk yang canggih (sophisticated). Berdasarkan Hausmann et al (2007), setiap jenis produk dinyatakan memiliki tingkat produktivitas yang berbeda sehingga kombinasi produk menentukan produktivitas keranjang ekspor suatu negara yang dapat diukur dengan indeks kecanggihan ekspor (export sophistication index). Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi kecanggihan ekspor (export sophistication index) negara ASEAN-5 tahun 1991-2011.

Analisis deskriptif menunjukkan bahwa produk-produk manufaktur cenderung memiliki tingkat kecanggihan produk (PRODY) lebih tinggi dibanding produk primer. Diantara negara ASEAN-5 Singapura memiliki keranjang ekspor yang paling canggih selama periode penelitian. Konsentrasi ekspor Singapura pada produk yang lebih canggih (PRODY tinggi) menyebabkan keranjang ekspor negara tersebut lebih canggih dibanding negara ASEAN-5 lainnya.

Kata kunci : indeks kecangihan ekspor (export sophistication index)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya, pertumbuhan ekonomi dapat dipahami dari dua sisi. Dari sisi permintaan, bertambahnya jumlah penduduk menuntut peningkatan pemenuhan kebutuhan konsumsi. Dari sisi penawaran, pertumbuhan penduduk menuntut penambahan kesempatan kerja sebagai sumber pendapatan. Pemenuhan kedua kebutuhan tersebut hanya dapat dicapai dengan peningkatan output barang dan jasa atau PDB secara terus menerus (Tambunan, 2009).

1 Staf BPS Kabupaten Pidie

(23)

22

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

Pertumbuhan ekonomi yang stabil diperlukan suatu negara untuk menunjang pelaksanaan pembangunan. Kestabilan pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN- 5 juga diharapkan dapat terus dicapai, sehingga pembangunan ekonomi dapat berlangsung dengan baik.

Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek yang berperan dalam mendorong perekonomian suatu negara. Ekspansi ekspor dapat meningkatkan pendapatan negara yang berguna untuk pembiayaan pembangunan. Hal tersebut dialami oleh China sebagai negara yang tumbuh pesat selama beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi China paling tinggi di Asia, mencapai 9,5 persen pada kuartal kedua tahun 2011 (Asian Development Bank, 2011). Menurut Coates 2012, tingginya pertumbuhan ekonomi China ditunjang oleh ekspor. Ekspor China meningkat pesat dengan proporsi kurang dari 10 persen terhadap PDB pada tahun 1980 menjadi lebih dari 37 persen pada tahun 2007 (Jarreau, 2012). Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata China tidak hanya memiliki kinerja ekspor yang baik secara kuantitas, tetapi keranjang ekspor China juga baik secara kualitas jika dilihat dari komposisi produknya.

China memiliki keranjang ekspor yang produktif. Menurut Rodrik (2006), keranjang ekspor China cenderung menyerupai ekspor negara maju. Meskipun ekspor China didominasi produk yang padat tenaga kerja, ternyata China juga mengekspor berbagai produk yang canggih (sophisticated). Dalam perkembangannya, Hausmann et al (2007) menyatakan bahwa setiap produk ekspor memiliki tingkat produktivitas yang berbeda dan pada akhirnya keranjang ekspor suatu negara dapat diukur tingkat produktivitasnya dengan indeks kecanggihan ekspor (export sophistication index).

Pada tahap selanjutnya, kecanggihan ekspor tersebut diyakini dapat berdampak positif pada perekonomi suatu negara.

Kinerja ekspor sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi mendorong perlunya meninjau kondisi ekspor negara-negara ASEAN-5, khususnya dari segi kualitas atau produktivitas ekspor sesuai dengan Hausmann et al (2007). Selain itu, dengan mengetahui kondisi ekspor negara-negara ASEAN-5, dapat dilihat pula posisi kompetisi negara-negara tersebut sehingga menjadi celah atau pembelajaran untuk kemajuan perdagangan negara-negara ASEAN-5 di masa depan. Berbagai penelitian kecanggihan ekspor hanya dilakukan pada negara-negara di dunia secara keseluruhan, tidak secara spesifik untuk setiap negara. Penelitian ini bermaksud menganalisis kondisi kecanggihan ekspor pada negara-negara ASEAN-5 secara spesifik.

1.2 Permasalahan

Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan batasan masalah tersebut, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran umum keranjang ekspor negara ASEAN-5 tahun 1991-2011?

2. Bagaimana gambaran kecanggihan produk ekspor negara ASEAN-5 tahun 1991- 2011?

(24)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

23 3. Bagaimana gambaran kecanggihan ekspor negara ASEAN-5 tahun 1991-2011?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui gambaran umum keranjang ekspor negara ASEAN-5 tahun 1991- 2011.

2. Mengetahui gambaran kecanggihan produk ekspor negara ASEAN-5 tahun 1991- 2011.

3. Mengetahui gambaran kecanggihan ekspor negara ASEAN-5 tahun 1991-2011.

II. Tinjauan Pustaka

2.1 Teori Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional ditandai dengan ekspor beberapa produk suatu negara ke luar negeri dan impor barang dari luar negeri, baik untuk dikonsumsi atau investasi. Perdagangan internasional dapat diartikan sebagai kegiatan pertukaran barang dan jasa yang terjadi melampaui batas antar negara. Dornbusch (2004) menyatakan bahwa perdagangan barang dan jasa merupakan salah satu jalur penghubung dalam perekonomian internasional.

Boediono (1993) mendefinisikan perdagangan sebagai proses tukar menukar berdasarkan kehendak sukarela dari masing-masing pihak dimana setiap pihak bebas menentukan untung rugi yang diperoleh dari pertukaran tersebut. Dengan demikian, perdagangan antar negara timbul karena setiap negara mempertimbangan manfaat yang dapat diperoleh dari perdagangan. Krugman (1999) juga menekankan bahwa perdagangan internasional didasari keinginan setiap negara untuk mendapatkan keuntungan perdagangan (gains from trade) yang dapat diperoleh melalui spesialisasi produksi. Setiap negara berpeluang mengekspor barang yang diproduksi dengan sumber daya melimpah dan mengimpor barang yang langka diproduksi di negara tersebut.

Menurut Salvatore (1995), teori perdagangan memberikan gambaran terjadinya perdagangan, pola perdagangan, keuntungan perdagangan, serta pengaruhnya terhadap perekonomian negara yang terlibat dalam perdagangan tersebut. Sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, telah dikenal beberapa teori perdagangan, antara lain teori teori klasik (Adam Smith dan David Ricardo), serta teori kelimpahan faktor (Heckser dan Ohlin).

(25)

24

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

Menurut Adam Smith dalam Salvatore (1995), perdagangan antara dua negara didasarkan pada konsep keunggulan mutlak (absolute advantage). Manfaat perdagangan internasional dapat diperoleh melalui spesialisasi produksi. Suatu negara mengekspor barang jika negara tersebut lebih efisien daripada negara lain dalam memroduksi sebuah komoditas (memiliki keunggulan absolut), dan mengimpor barang jika negara tersebut tidak memiliki keunggulan mutlak (absolut disadvantage). Dengan spesialisasi produksi, sumberdaya di setiap negara dapat digunakan secara efisien, sehingga output kedua negara akan meningkat. Peningkatan output kedua negara tersebut merupakan bentuk keuntungan spesialisasi produksi yang dapat dinikmati kedua pihak.

Teori keunggulan komparatif merupakan penyempurnaan teori keunggulan mutlak. Pada tahun 1817 David Ricardo menerbitkan buku Principles of Political Economy and Taxation yang menjelaskan teori tersebut. Menurut David Ricardo, meskipun suatu negara kurang efisien atau tidak memiliki keunggulan mutlak (absolute disadvantage) dibanding negara lain dalam memproduksi kedua jenis barang, perdagangan yang menguntungkan kedua pihak masih dapat dilakukan (Salvatore, 1995). Negara pertama harus melakukan spesialisasi dalam memproduksi dan mengekspor komoditas yang memiliki kerugian absolut atau memiliki absolut disadvantage lebih kecil (memiliki keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditas yang memiliki kerugian absolut lebih besar.

Pada abad ke-20, Eli Heckscher dan Bertil Ohlin mengembangkan teori klasik dengan melibatkan faktor perbedaan endowment atau kelimpahan faktor produksi antar negara (faktor produksi tanah, tenaga kerja, dan modal) dalam spesialisasi perdagangan yang kemudian dikenal dengan teori kelimpahan faktor (factor- endowment trade theory). Menurut teori tersebut, terjadinya perdagangan internasional disebabkan adanya perbedaan kelimpahan atau kekayaan faktor produksi yang kemudian menentukan besarnya harga relatif setiap faktor produksi (Todaro, 2003). Suatu negara akan mengekspor komoditas yang produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang relatif melimpah dan murah di negara itu, dan mengimpor komoditas yang produksinya memerlukan sumber daya yang relatif langka dan mahal di negara tersebut. Menurut Todaro (2003), teori kelimpahan faktor Hecsker-Ohlin memiliki dua landasan pokok, yaitu:

1. Setiap jenis produk membutuhkan berbagai faktor produksi dalam proporsi yang relatif berbeda. Produk pertanian lebih membutuhkan tenaga kerja (bersifat padat karya) sedangkan produk manufaktur lebih membutuhkan modal (bersifat padat modal).

2. Setiap negara memiliki kelimpahan faktor yang berbeda. Secara keseluruhan, negara-negara maju cenderung memiliki kelimpahan modal dan tenaga terampil sedangkan negara-negara berkembang hanya memiliki tenaga kerja yang melimpah.

(26)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

25 2.2. Kecanggihan Ekspor (export sophistication)

Konsep kecanggihan ekspor berawal dari teori perdagangan internasional Heckser- Ohlin. Menurut teori tersebut, perbedaan endowment atau kelimpahan faktor antar negara menimbulkan perbedaan pola spesialisasi antar negara. Menurut Todaro (2003), negara maju yang kaya modal memperoleh keuntungan spesialisasi dengan mengekspor produk padat modal yang didominasi oleh mesin modern dan teknologi canggih serta mengimpor produk primer dari negara berkembang. Sebaliknya, teori ini mendorong negara-negara berkembang untuk berspesialisasi pada produk primer yang padat tenaga kerja, serta mengimpor produk manufaktur negara maju. Di semua kawasan baik Asia, Afrika, Timur Tengah maupun Amerika Latin, ekspor negara berkembang cenderung didominasi oleh produk primer.

Teori kelimpahan faktor dapat merugikan posisi negara-negara berkembang.

Todaro (2003) mengungkapkan bahwa doktrin teori kelimpahan faktor dapat memenuhi kepentingan negara Barat yang memanfaatkan negara berkembang sebagai penyedia bahan mentah serta sebagai pasar produk manufaktur mereka. Selain itu, ketergantungan negara berkembang pada ekspor produk primer beresiko karena ketidakpastian pasar dan harga produk.

Pada tahun 2003, muncul sebuah pandangan baru mengenai spesialisasi.

Meskipun teori kelimpahan faktor memiliki peranan penting, teori tersebut tidak dapat menentukan jenis barang yang sebaiknya diproduksi dan diekspor suatu negara.

Hausmann et al (2003) mengungkapkan bahwa pola spesialisasi suatu negara tidak hanya ditentukan oleh faktor endowment atau kelimpahan faktor tetapi juga ditentukan oleh jumlah pengusaha yang mampu menerapkan prinsip cost discovery dengan baik di negara tersebut. Semakin banyak pengusaha yang mampu menerapkan prinsip tersebut, semakin tinggi produktivitas dalam perekonomian. Menurut Hausmann et al (2003), cost discovery merupakan kendala produsen dalam menentukan struktur biaya ketika pertama kali akan memproduksi suatu barang.

Apabila produksi barang tersebut berkembang dan menguntungkan, pola tersebut akan diikuti oleh pengusaha lain.

Proses cost discovery tersebut dapat dihitung secara empiris melalui indeks kecanggihan ekspor atau export sophistication index (Hausmann et al, 2007). Kombinasi produk ekspor pada keranjang ekspor suatu negara menentukan tingkat produktifitas.

Melalui proses cost discovery, setiap jenis produk memiliki tingkat produktivitas yang berbeda, sehingga kombinasi produk tertentu memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibanding kombinasi produk lain. Perhitungan indeks kecanggihan ekspor diawali dengan menghitung produktivitas setiap jenis produk ekspor (PRODY). Selanjutnya,

(27)

26

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

berdasarkan PRODY tersebut, dapat dihitung kecanggihan ekspor (EXPY) dari seluruh keranjang ekspor setiap negara.

Konsep kecanggihan ekspor berbeda dengan tingkat teknologi. Menurut Lall et al (2005), kecanggihan ekspor ditentukan oleh tingkat pendapatan rata-rata negara, sedangkan tingkat teknologi ditentukan oleh intensitas penelitian dan pengembangan (rasio R dan D terhadap GDP). Tanpa intervensi perdagangan, produk ekspor negara- negara maju cenderung mampu bersaing di pasar dunia. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi pendapatan rata-rata negara pengekspor, maka semakin canggih ekspor negara tersebut. Keranjang ekspor suatu negara dikatakan semakin canggih jika menyerupai atau mirip dengan keranjang ekspor negara maju (Schott, 2006).

III. METODE PENELITIAN

Penelitian ini membahas kecanggihan ekspor negara-negara ASEAN-5 tahun 1991- 2011. Kecanggihan ekspor diukur degan indeks kecanggihan ekspor atau export sophistication index (EXPY). Indeks tersebut dihitung berdasarkan keranjang ekspor (export basket) yang dimiliki negara ASEAN-5, dengan menggunakan data seluruh komoditas ekspor, mencakup 259 produk berdasarkan klasifikasi Standart International Trade Classification (SITC) 3 digit revisi 3 periode 1991 hingga 2011. Penelitian ini menggunakan data sekunder, berasal dari beberapa sumber. Berikut merupakan data beserta sumbernya.

No Jenis Data Sumber Data

1 Nilai ekspor seluruh komoditas ekspor negara ASEAN-5 berdasarkan klasifikasi SITC 3 digit revisi 3 (current US$)

UNCOMTRADE www.comtrade.un 2 Nilai ekspor seluruh komoditas ekspor seluruh

negara di dunia berdasarkan klasifikasi SITC 3 digit revisi 3 (current US$).

UNCOMTRADE www.comtrade.un 3 PDB per kapita paritas daya beli (purchasing

power parity) atas dasar harga konstan (2005=100) seluruh negara di dunia.

WDI

www.data.worldbank.com

Dalam penelitian ini, analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis gambaran umum dan kondisi kecanggihan ekspor (EXPY) ASEAN-5 tahun 1991-2011.

(28)

Media Pemerhati Dan Peminat Statistika, Ekonomi, Dan Sosial

|

27 Indeks Kecanggihan Ekspor (Export Sophistication Index)

Pada tahun 2007, Hausmann, Jason Hwang, dan Dani Rodrik membuat indeks kecanggihan ekspor (export sophistication index) yang menggambarkan tingkat pendapatan yang dikaitkan dengan pola spesialisasi suatu negara. Berdasarkan Hausmann, Jason Hwang, dan Dani Rodrik (2007), perhitungan indeks kecanggihan ekspor dilakukan melalui 2 tahapan. Tahap pertama yaitu menghitung sebuah indeks kualitatif yang disebut PRODY.

PRODY mengukur tingkat produktivitas setiap jenis produk ekspor yang dimiliki suatu negara. Apabila i menunjukkan suatu negara, dan k menyatakan jenis komoditas ekspor, maka ekspor total negara i dinyatakan sebagai:

𝑋𝑖 = ∑ 𝑥𝑘 𝑖𝑗 (1)

Selanjutnya dapat dihitung PRODYk yang merupakan rata-rata tertimbang pendapatan rata-rata suatu negara yang mengekspor produk k dengan keunggulan komparatif (Revealed Comparative Advantage) produk k setiap negara sebagai penimbangnya. PRODYkdirumuskan sebagai:

PRODY𝑘= ∑ {∑ (𝑥𝑥𝑖𝑘 / 𝑋𝑖

𝑖𝑘/𝑋𝑖)

𝑖 . 𝑌𝑖}

𝑖 (2) Keterangan:

𝑥𝑖𝑘 / 𝑋𝑖 : kontribusi nilai ekspor produk k terhadap total ekspor negara i

∑ (𝑥𝑖 𝑖𝑘/𝑋𝑖) : total kontribusi nilai ekspor produk k semua negara di dunia

𝑌𝑖 : pendapatan rata-rata negara i yang diukur dengan PDB per kapita paritas daya beli (purchasing power parity)

Tahap kedua, dihitung EXPYi yang menunjukkan tingkat produktifitas terkait dengan pola speisalisasi atau keranjang ekspor suatu negara. EXPY merupakan akumulasi PRODY dari keranjang ekspor setiap negara dengan kontribusi ekspor suatu produk k terhadap total ekspor negara tersebut sebagai penimbangnya. EXPYi dapat dirumuskan sebagai berikut:

EXPYi= ∑ {𝑥𝑋𝑖𝑘

𝑖 PRODYk}

𝑘 (3)

Keterangan:

EXPYi : indeks kecanggihan ekspor (export sophistication index) negara i 𝑥𝑖𝑘 : nilai ekspor produk k dari negara i

𝑋𝑖 : total ekspor negara i

PRODY𝑘 : tingkat produktivitas produk k

(29)

28

|

Volume 2 . Nomor 4. Juni 2017

Berdasarkan Mishra et al (2011), PRODYk dan EXPYi dihitung untuk setiap tahun masing-masing untuk setiap produk ekspor k dan setiap negara i. Kecanggihan ekspor (EXPY) yang dinamis diharapkan tidak hanya menangkap perubahan atau EXPY akibat naiknya kontribusi produk yang canggih (PRODY tinggi) tetapi juga dapat menangkap perubahan atau kenaikan EXPY akibat perubahan tingkat produktivitas atau kecanggihan produk (PRODY).

IV. PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Ekspor Negara ASEAN-5 Tahun 1991-2011

Struktur Keranjang Ekspor Negara ASEAN-5

0%

20%

40%

60%

80%

100%

1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011

Gambar 1. Komposisi Ekspor Singapura Tahun 1991-2011 (%)

Primer Migas Manufaktur Lainnya

0%

20%

40%

60%

80%

100%

1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011

Gambar 2. Komposisi Ekspor Filipina Tahun 1991-2011 (%)

Primer Migas Manufaktur Lainnya

Referensi

Dokumen terkait

Modul Arduino yang bcrbasis mikrokontrolkr AT Mega 328, digunakan unru k akuisi data drui kclima sensor tersebut, un tuk sdanjutnya niclalui shield GSM / GPRS data dikirim ke

Titanium murni adalah logam putih, logam putih, lustrous lustrous dengan sifat densitas rendah, dengan sifat densitas rendah, kekuatan tinggi dan daya tahan terhadap korosi yang

Besarnya kompensasi pegawai yang bekerja di lapangan berbeda dengan pekerjaan yang bekerja dalam ruangan, demikian juga kompensasi untuk pekerjaan klerikal akan berbeda

Penyuluhan tentang Inovasi teknologi pembuatan garam mikro dilaksanakan sejak tahun 2018 dan masih berlangung hingga sekarang. Hal terebut dilakukan karena masih

hal kejahatan, dan tidak dalam hal pelanggaran. 3) Asas Personaliteit hanya berlaku hanya berlaku pada warga negara Indonesia yang melakukan kejahatan (bukan

nilai-nilai input pada sistem ril, data output hasil nilai-nilai input pada sistem ril, data output hasil pengoperasian sistem maya sebagai imitasi dari

Penelitian ini memberikan korelasi hubungan fragmen hancuran batuan dan kejenuhan air di lokasi pertambangan terkini beserta analisis material halus yang mungkin

Celah antara silinder dapat diatur jaraknya untuk memperoleh derajat kehalusan yang diinginkan, bila jarak antara silinder terlalu dekat maka tenaga yang