1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu proses mengajar, belajar, dan pemikiran kreatif.
Proses mengajar dilaksanakan oleh pengajar dan proses belajar dilaksanakan oleh peserta didik. Oleh karena itu, langkah untuk melakukan pembangunan dibidang pendidikan dapat dilakukan dengan memperhatikan komponen kependidikan yang ada, terutama bagi siswa yang nantinya akan menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan itu sendiri.
Pada kompetensi inti mata pelajaran matematika kurikulum 2013, siswa diharapkan mampu mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan (Kemendikbud, 2013). Tujuan mata pelajaran matematika adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. Kelima kemampuan ini harus dikuasai oleh siswa setelah belajar matematika sehingga siswa mampu untuk mengembangkan potensi diri untuk bisa mengikuti dan bersaing dalam kehidupan global. Kelima kemampuan tersebut sesuai dengan aspek-aspek kemampuan literasi matematis.
Abidin, dkk (2017) mengemukakan bahwa kemampuan literasi matematis merupakan kemampuan memahami dan menggunakan matematika dalam berbagai konteks untuk memecahkan masalah, serta mampu menjelaskan kepada orang lain bagaimana menggunakan matematika. Kemampuan literasi matematis
sangat terkait dengan permasalahan yang terjadi dalam dunia nyata dan lebih dari sekedar mengingat kembali fakta-fakta dasar, menggunakan algoritma hafalan, dan melakukan perhitungan sederhana. Kemampuan literasi matematis melibatkan pemahaman terhadap aktivitas matematis, penggunaan pengetahuan dan kemampuan matematis, penalaran, serta bahasa untuk menyelesaikan masalah dalam berbagai keadaan dan kebutuhan.
Abidin, dkk (2017) mengungkapkan bahwa konsep literasi matematis berkaitan erat dengan beberapa konsep yang terdapat dalam pembelajaran matematika, diantaranya pemodelan dan proses bermatematika. Proses ini berkaitan dengan 1) Merumuskan masalah kehidupan nyata kedalam bahasa matematika. 2) menggunakan konsep, fakta dan prosedur matematika sehingga masalah tersebut dapat diselesaikan sebagai masalah matematika. 3) penyelesaian matematis tersebut dapat diinterpretasikan untuk memberikan jawaban terhadap masalah kehidupan nyata.
Berdasarkan observasi peneliti di SD Negeri 232/IX Kelas Jauh Sei Jerat, didapat hasil bahwa masih banyak siswa yang belum mampu menerjemahkan soal matematika dengan artian kurangnya kemampuan literasi matematis siswa. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut salah satunya fasilitas sarana dan prasarana yang dirasakan. Pada saat ini permasalahan perbedaan kualitas pendidikan pada sekolah di daerah perkotaan dan pedesaan tentu masih menjadi masalah yang terus dirasakan. Sekolah pada daerah perkotaan umumnya memiliki fasilitas yang lebih memadai dalam mendukung proses pembelajaran dibandingkan dengan sekolah pada daerah pedesaan. Permasalahan perbedaan kualitas pendidikan inilah yang menyebabkan tidak maksimalnya proses
pembelajaran yang dilakukan pada sekolah didaerah pedesaan karena kurangnya fasilitas sarana dan prasarana yang mendukung selama proses pembelajaran dilakukan. Dengan keadaan terbatas atau mungkin bahkan kekurangan, para siswa khususnya daerah pedesaan tidak bisa merasakan fasilitas sebaik sekolah diperkotaan (Syaharani, 2019). Sehingga hal ini mengakibatkan menurunnya mutu pendidikan yang dihasilkan.
Permasalahan inilah yang dirasakan para siswa di SD Negeri 232/IX Kelas Jauh Sei Jerat, sekolah ini terletak di Kecamatan Bahar Selatan, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi dan masih Terakreditasi C. Sekolah ini merupakan satu- satunya Sekolah Dasar yang terdapat di Dusun Sei Jerat, sekolah ini hanya memiliki 4 ruangan kelas, sehingga jika pembelajaran tatap muka dilakukan maka didalam 1 ruangan akan terdapat 2 kelas yang berbeda dengan jumlah tenaga pendidik yang terdapat pada sekolah ini hanya berjumlah 3 orang. Kemudian sekolah ini juga belum mempunyai ruang perpustakaan, sehingga jumlah buku yang dimilki pihak sekolah guna mendukung proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan sangatlah terbatas. Keterbatasan jumlah tenaga pendidik serta sumber buku yang ada tentu menjadi salah satu faktor sulitnya mengembangkan literasi matematis di SD Negeri 232/IX Kelas Jauh Sei Jerat. Selain itu, kondisi Dusun Sei Jerat juga bisa dikatakan belum memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung dunia pendidikan, karena dusun ini belum mendapatkan akses listrik, tidak adanya menara BTS (Base Transceiver Station) dan akses jalan yang berupa tanah liat yang menyebabkan jalanan akan lengket dan licin jika terjadi hujan.
Dengan kekurangan pada sekolah dan dusun tersebut, sebagai solusi dalam membantu siswa SD Negeri 232/IX Kelas Jauh Sei Jerat dalam peningkatan
kemampuan literasi matematis siswa yaitu melalui program Gerobak Singgah.
Program ini akan dilengkapi dengan buku-buku yang berkaitan dengan pelajaran sekolah dan wawasan pengetahuan. Sehingga hal ini akan membantu siswa dalam mendapatkan sumber informasi mengenai pelajaran sekolah maupun informasi mengenai pengetahuan umum yang dibutuhkan. Buku pelajaran merupakan buku yang digunakan siswa dalam mendukung kegiatan belajar yang berisi uraian mengenai materi tertentu yang disusun secara sistematis dengan tujuan tertentu, buku teks pelajaran ini digunakan oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, biasanya selain memuat materi juga memuat soal-soal yang dapat dikerjakan siswa untuk melatih kegiatan belajar mandiri siswa(Rahmawati, 2015).
Kemudian dalam pelaksanaan program, akan diberikan pendampingan pengajaran literasi matematis guna membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di SD Negeri 232/IX Kelas Jauh Sei jerat. Selain memberikan pendampingan pengajaran terhadap siswa, Program Gerobak Singgah juga memberikan pelatihan kepada guru guna mengembangkan literasi matematis siswa di SD Negeri 232/IX Kelas Jauh Sei Jerat.
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa siswa kelas V yang mengimplementasikan Program Gerobak Singgah menunjukkan ketercapaian indikator kemampuan literasi matematis siswa, siswa kelas V ini dipilih berdasarkan saran dari guru pengampu dengan jumlah siswa sebanyak 4 orang serta rata-rata kunjungan tertinggi pada Program Gerobak Singgah. Pada indikator pertama merumuskan situasi secara matematis terlihat bahwa siswa mampu menuliskan aspek-aspek yang diketahui yaitu harga permen jeli isi 5 buah seharga Rp 3.000,00 dan harga permen jelli isi 3 buah seharga Rp
2.000,00 selain itu siswa mampu menginterpretasikan permen jelly isi 3 dengan
“x” dan permen jelli isi 5 dengan “y”. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mampu memahami dan mengidentifikasi aspek-aspek matematika yang ada pada soal. Hal tersebut dapat terlihat pada Gambar 1.1 di bawah ini.
Gambar 1. 1 Indikator Kemampuan Literasi Matematis Pertama Pada indikator menggunakan konsep dan fakta, siswa masih kebingungan soal tersebut mau dikerjakan dengan cara seperti apa. Siswa hanya mengerjakan soal tersebut dengan operasi pengurangan secara langsung tanpa memperhatikan sistematis pengerjaannya. Hal ini karena siswa belum memahai soal dengan seksama dan bingung dalam menyusun strategi yang akan digunakan dalam menyelesaikan soal. Dari hasil tersebut maka siswa belum bisa menggunakan konsep, fakta, prosedur, dan alasan matematika seperti pada gambar 1.2 di bawah ini
Gambar. 2 Indikator kemampuan literasi matematis kedua indikator kemampuan literasi matematis kedua
Pada indikator menginterpretasikan, menerapkan dan mengevaluasi hasil matematika, siswa mampu untuk menyimpulkan jumlah kembalian yang Ita terima. Hal ini dapat terlihat pada gambar 1.3 di bawah ini
Gambar. 3 Indikator kemampuan literasi matematis ketiga
Berdasarkan uraian latar belakang dan masalah yang ada diatas, peneliti tertarik untuk menganalisis kemampuan literasi matematis siswa dengan adanya Program Gerobak Singgah sehingga dengan penelitian ini diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuannya terutama kemampuan literasi matematisnya.
Oleh karena itu peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kemampuan Literasi Matematis Siswa Dengan Adanya Program Gerobak Singgah di SD Negeri 232/IX Kelas Jauh Sei Jerat”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana kemampuan literasi matematis siswa SD Negeri 232/IX Kelas Jauh Sei Jerat dengan Adanya Pogram Gerobak Singgah di SD Negeri 232/IX Kelas Jauh Sei Jerat?”
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan dari penelitian ini adalah Untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan literasi matematis siswa SD Negeri 232/IX Kelas Jauh Sei Jerat dengan adanya program Gerobak Singgah.
1.4 Manfaat Penelitian 1.1.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang peningkatan kemampuan literasi matematis siswa, salah satu langkahnya yaitu dengan membuat Program Gerobak Singgah.
1.1.2 Manfaat Praktis
Manfaat penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagi guru, dapat memberikan gambaran kepada guru mengenai kemampuan literasi matematis siswa dengan adanya program gerobak singgah.
2. Bagi siswa, dapat mengetahui sejauh mana kemampuan literasi matematis yang dimiliki oleh siswa dalam menyelesaikan soal nilai mata uang serta pedoman untuk meningkatkan kemampuan literasi matematis bagi siswa.
3. Bagi pembaca, sebagai informasi tambahan mengenai kemampuan literasi matematis siswa dengan adanya program gerobak singgah materi nilai mata uang.
4. Bagi peneliti lain, sebagai bahan pertimbangan untuk pengembangan penelitian yang berkenaan dengan kemampuan literasi matematis
8