PERBEDAAN KEMAMPUAN MENGAPLIKASI DAN MENGANALISIS ATAS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN TIMELINE PADA MATA PELAJARAN IPS UNTUK SISWA KELAS V SD KANISIUS SOROWAJAN

163 

Teks penuh

(1)

i

PERBEDAAN KEMAMPUAN MENGAPLIKASI DAN

MENGANALISIS ATAS PENGGUNAAN MEDIA

PEMBELAJARAN

TIMELINE

PADA MATA PELAJARAN IPS

UNTUK SISWA KELAS V SD KANISIUS SOROWAJAN

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh :

Hervina Kathrin

101134061

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ilmiah sederhana ini Penulis persembahkan kepada:

1. Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW yang selalu memberikan Rahmat

dan Karunia-Nya dalam kehidupan ini.

2. Untuk belahan jiwaku bidadari surgaku yang tanpamu aku bukanlah

siapa-siapa di dunia fana ini Ibundaku tersayang Wiwin Kristiyani.

3. Orang yang menginjeksikan segala idealisme, prinsip, edukasi dan kasih

sayang yang berlimpah dengan wajah datar penuh kegelisahan ataukah

perjuangan yang tak pernah ku ketahui, namun tenang dengan penuh

kesabaran dan pengertian yang luar biasa Ayahandaku tercinta Budi

Isworo yang telah memberikan segalanya untukku.

4. Kepada adikku Herjuna Pribadhi terimakasih atas segala dukungan yang

telah diberikan selama ini dan semoga adikku tercinta dapat menggapai

keberhasilan juga dikemudian hari.

(5)

v MOTTO

“Dia memberikan hikmah (ilmu yang berguna) kepada siapa yang dikehendaki

-Nya. Barang siapa yang mendapat hikmah itu Sesungguhnya ia telah banyak

mendapat kebajikan yang banyak. Dan tiadalah yang menerima peringatan

melainkan orang-orang yang berakal”. (Q.S. Al-Baqarah: 269).

“… kaki yang akan berjalan lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak,

mata yang akan menatap lebih lama, leher yang akan lebih sering melihat ke atas,

lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

PERBEDAAN KEMAMPUAN MENGAPLIKASI DAN MENGANALISIS

ATAS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN TIMELINE UNTUK

SISWA KELAS V SD KANISIUS SOROWAJAN

Hervina Kathrin Universitas Sanata Dharma

2014

Peneliti melihat bahwa guru masih menerangkan materi pembelajaran IPS secara abstrak tanpa media pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan mengaplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) perbedaan kemampuan mengaplikasi atas penggunaan media pembelajaran timeline pada mata pelajaran IPS untuk siswa kelas V SD Kanisius Sorowajan, 2) perbedaan kemampuan menganalisis atas penggunaan media pembelajaran timeline pada mata pelajaran IPS untuk siswa kelas V SD Kanisius Sorowajan.

Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan populasi adalah siswa kelas V SD Kanisius Sorowajan tahun ajaran 2013/2014 sebanyak 60 siswa. Sampel untuk kelompok eksperimen adalah kelas VA sebanyak 30 siswa dan sampel untuk kelompok kontrol adalah kelas VB sebanyak 30 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian soal pretest dan posttest pada masing-masing kelompok, kemudian diolah dengan menggunakan program SPSS 16 for Windows melalui tiga tahap untuk masing-masing kelompok, yakni: uji homogenitas skor pretest, uji kenaikan skor pretest ke posttest pada kedua kelompok, dan uji perbandingan skor posttest.

Hasil penelitian menunjukkan 1) ada perbedaan kemampuan mengaplikasi atas penggunaan media pembelajaran timeline pada mata pelajaran IPS untuk siswa kelas V SD Kanisius Sorowajan 2) ada perbedaan kemampuan menganalis atas penggunaan media pembelajaran timeline pada mata pelajaran IPS untuk siswa kelas V SD Kanisius Sorowajan. Hal ini ditunjukkan dengan hasil 0,000 atau < 0,05 untuk kemampuan mengaplikasi dan harga 0,000 atau < 0,05 untuk kemampuan menganalisis, sehingga H0 ditolak dan Hi diterima.

(9)

ix ABSTRACT

DIFFERENCE APPLICATIVE AND ANALYZE ABILITY USAGE OF

TIMELINE MEDIA ON SOCIAL FOR 5TH GRADE IN KANISIUS

SOROWAJAN ELEMENTARY SCHOOL

Hervina Kathrin Sanata Dharma University

2014

The researcher saw that teachers still explain the material of social science in abstract way of teaching and without any media of learning that can improve applicative and analyze ability. This aims of this study were 1) difference applicative ability usage of timeline media on social for 5th grade in Kanisius Sorowajan Elementary School, 2) difference analyze ability usage of timeline media on social for 5th grade in Kanisius Sorowajan Elementary School.

This study applied quasi experiment model with the population of all students of grade V in Kanisius Sorowajan Elementary School in 2013/2014 academic year consisting 60 students. The sample of control group was class V B amountiny 30 students and the sample of experiment group was class V A amountiny 30 students. The data collection technique used pretest and posttest performed in all groups, then analyzied by SPSS 16 for windows program conducted in 3 stages namely: test of normality, test of homogenity and differential of posttest.

The result of the study shows of difference applicative and analyze ability usage of timeline media on social for 5th grade in Kanisius Sorowajan Elementary School. It is shown by the finding 0,000 or < 0,05 for applicative competence and 0,000 or < 0,05 for analitical. It can be concluded that H0 is refused and Hi is

accepted.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji Syukur panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karna berkat limpahan Rahmat, Hidayah, serta Inayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul: Perbedaan Penggunaan Media Pembelajaran Timeline terhadap Kemampuan Mengaplikasi dan Menganalisis untuk Kelas V SD Kanisius Sorowajan, tepat pada waktunya.

Peneliti menyadari bahwa tanpa adanya bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, skripsi ini tidak akan selesai tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, pada saat ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Rohandi Ph.D, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A, Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

3. E. Catur Rismiati, S.Pd, M.A., Ed.D, Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

4. Rusmawan, S.Pd.,M.Pd, Dosen Pembimbing I yang senantiasa memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran.

5. Elisabeth Desiana Mayasari, S.Psi., M.A, Dosen Pembimbing II yang senantiasa memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran.

6. Segenap Dosen PGSD S1 Universitas Sanata Dharma peneliti berterimakasih atas bantuan yang telah diberikan selama ini.

7. Sekertariat PGSD yang telah membantu proses perijinan hingga skripsi ini selesai tepat pada waktunya.

8. Bapak B. Suwardi, S.Pd, Kepala Sekolah SD Kanisius Sorowajan yang telah membantu dan memberikan ijin melakukan penelitian di SD Kanisius Sorowajan.

(11)

xi

10. Siswa kelas V A dan V B SD Kanisius Sorowajan yang telah bekerjasama dan membantu dalam penelitian ini.

11. Kedua Orang tuaku, Bapak Budi Isworo dan Ibu Wiwin Kristiyani yang tidak lelah mendukungku dalam pengerjaan skripsi ini.

12. Adikku Herjuna Pribadhi yang telah mendukung dan memberikan motivasi.

13. Nanang Bondan Wahyu Wibowo, terimakasih atas segala perhatian, kesabaran, serta motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.

14. Teman-teman satu kelompok payung dan PPL (Alberta Ratna, Nia Putri, Diannita Putu, Septirinda Eka, Irene Ika, dan Septi Widiyasari) yang telah banyak memberikan masukan dan bantuan serta selalu memberikan motivasi dan dukungan.

Peneliti menyadari bahwa karya ilmiah ini belum sempurna sebab masih ada kekurangan dalam penulisan. Akan tetapi peneliti berharap karya ilmiah ini mempunyai manfaat bagi mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang nantinya akan melakukan penelitian ilmiah.

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...ii

HALAMAN PENGESAHAN ...iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ...iv

HALAMAN MOTTO ...v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ...vii

ABSTRAK ...viii

ABSTRACT ...ix

KATA PENGANTAR ...x

DAFTAR ISI ...xii

DAFTAR TABEL ...xii

DAFTAR GAMBAR ...xvi

DAFTAR LAMPIRAN ...xvii

BAB 1 PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang ...1

1.2 Batasan Masalah ...6

1.3 Rumusan Masalah ...6

1.4 Tujuan Penelitian ...6

1.5 Manfaat Penelitian ...7

1.6 Definisi Operasional Variabel ...8

BAB 2 LANDASAN TEORI ...10

2.1 Kajian Teori ...10

(13)

xiii

2.1.2 Media Pembelajaran...13

2.1.3 Media Pembelajaran Timeline ...16

2.1.4 Mata Pelajaran IPS SD...17

2.1.5 Tahap Perkembangan Siswa SD ...20

2.2 Penelitian yang Relevan ...22

2.3 Kerangka Berfikir ...24

2.4 Hipotesis Penelitian ...25

BAB 3 METODE PENELITIAN...26

3.1 Desain Penelitian ...26

3.2 Tempat Penelitian ...27

3.3 Waktu Penelitian ...28

3.4 Populasi dan Sampel ...29

3.5 Variabel Penelitian ...30

3.6 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ...31

3.7 Validitas dan Reliabilitas ...34

3.8 Teknik Analisis Data ...39

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...43

4.1 Deskripsi Data Penelitian ...43

4.1.1 Deskripsi Data ...43

4.1.2 Deskripsi Pelaksanaan Pretest ...44

4.1.3 Deskripsi Pelaksanaan Posttest ...45

4.2 Deskripsi Analisis Data Penelitian ...46

4.2.1 Pretest ...46

4.2.2 Posttest ...48

(14)

xiv

4.3.1 Uji Normalitas ...50

4.3.2 Uji Homogenitas ...53

4.4 Uji Hipotesis ...55

4.4.1 Uji Kenaikan Skor Pretest ke Posttest ...55

4.4.2 Perbandingan Skor Posttest ...57

4.5 Pembahasan ...60

BAB 5 PENUTUP ...64

5.1 Kesimpulan ...64

5.2 Keterbatasan Penelitian ...64

5.3 Saran ...65

DAFTAR PUSTAKA ...67

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kegiatan Penelitian ... 28

Tabel 2. Waktu Pengambilan Data... 28

Tabel 3. Kisi-kisi Instrumen Penelitian ... 33

Tabel 4. Kriteria Penilaian Validitas Konstruk ... 35

Tabel 5. Hasil Validitas Media Pembelajaran Timeline ... 35

Tabel 6. Validasi Perangkat Pembelajaran... 35

Tabel 7. Hasil Uji Validitas ... 37

Tabel 8. Kriteria Koefisien Reliabilitas ... 38

Tabel 9. Hasil Reliabilitas ... 39

Tabel 10. Deskripsi data pretest kemampuan mengaplikasi kelompok Eksperimen ... 46

Tabel 11. Deskripsi data pretest kemampuan menganalisis kelompok Eksperimen ... 47

Tabel 12. Deskripsi data pretest kemampuan mengaplikasi kelompok Kontrol ... 47

Tabel 13. Deskripsi data pretest kemampuan menganalisis kelompok Kontrol ... 48

Tabel 14. Deskripsi data posttest kemampuan mengaplikasi kelompok Eksperimen ... 48

Tabel 15. Deskripsi data posttest kemampuan menganalisis kelompok Eksperimen ... 49

Tabel 16. Deskripsi data posttest kemampuan mengaplikasi kelompok Kontrol ... 49

(16)

xvi

Kontrol ... 50

Tabel 18. Hasil Uji Normalitas data pretest dan posttest Kelompok

Eksperimen dan kelompok kontrol ... 51

Tabel 19. Uji Homogenitas skor pretest ... 54

Tabel 20. Perbandingan skor pretest ke posttest kemampuan

Mengaplikasi ... 56

Tabel 21. Perbandingan skor pretest ke posttest kemampuan

Menganalisis ... 56

Tabel 22. Perbandingan Skor Posttest kemampuan mengaplikasi... 59

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Media Pembelajaran Timeline ... 17

Gambar 2. Literature Map Penelitian ... 24

Gambar 3. Desain Penelitian ... 27

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Silabus Kelas Eksperimen ...71

Lampiran 2. RPP Kelas Eksperimen ...75

Lampiran 3. Silabus Kelas Kontrol ...84

Lampiran 4. RPP Kelas Kontrol...88

Lampiran 5. LKS Kelas Eksperimen dan Kontrol ...98

Lampiran 6. Validitas Instrumen...101

Lampiran 7. Hasil Validitas Soal ...113

Lampiran 8. Hasil Reliabilitas ...115

Lampiran 9. Hasil Soal Pretest dan Posttest ...116

Lampiran 10. Hasil Pretest dan Posttest ...124

Lampiran 11. Hasil Uji Normalitas ...128

Lampiran 12. Hasil Uji Homogenitas Data ...132

Lampiran 13. Hasil Uji Kenaikan Skor ...134

Lampiran 14. Gambar Media Pembelajaran Timeline ...138

Lampiran 15. Gambar Penelitian Kelas Kontrol ...139

Lampiran 16. Gambar Penelitian Kelas Eksperimen ...140

Lampiran 17. Surat Ijin Penelitian ...141

Lampiran 18. Surat Keterangan Penelitian ...143

(19)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

Bab 1 ini peneliti akan membahas mengenai latar belakang, rumusan

masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

1.1 Latar Belakang

Kondisi dunia saat ini dapat diperhatikan bahwa sedang berada pada era

globalisasi dimana segala sesuatu berkembang sangat pesat membuat segala

sesuatu menjadi lebih modern dan masyarakat menginginkan sesuatu terjadi

dengan cepat dan efisien, tidak terkecuali dalam hal Pendidikan. Semua hal

tersebut menuntut adanya keahlian Sumber Daya Manusia (SDM) yang

berkualitas, sedangkan SDM yang tidak berkualitas akan kalah bersaing dengan

SDM yang memiliki kualitas baik. SDM yang berkualitas inilah yang nantinya

akan menjadi penyalur tercapainya segala tujuan yang diharapkan.

SDM dalam dunia Pendidikan yang dimaksud adalah Tenaga Pegajar. Pendidikan

berarti salah satu usaha untuk menumbuh kembangkan potensi Sumber Daya

Manusia yang ada melalui kegiatan pengajaran (Mudyaharjo, 2006:81).

Sedangkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun

2003 disebutkan bahwa “tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan

kehidupan Bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu

manusia yang bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti

(20)

2

kepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan

dan kebangsaan”.

Seorang pendidik diharapkan berusaha untuk mengembangkan potensi yang

ada pada setiap peserta didik dengan baik yang disesuaikan dengan tingkat

perkembangan kognitif peserta didik. Bloom (dalam Supratiknya, 2012:71)

mengemukakan ada enam dimensi proses kognitif diantaranya mengaplikasi dan

menganalisis. Pengajaran yang memberikan pengalaman hidup akan lebih

bermakna dan memberikan pengalaman yang akan lebih lama diingat oleh siswa.

Mengaplikasi memerlukan pemahaman dari penerapan teori, prinsip,

metode,atau ringkasan berfikir, sehingga dapat dikatakan apabila seorang siswa

benar-benar memahami sesuatu, siswa akan dapat menerapkannya untuk

mengerjakan soal latihan atau menyelesaikan masalah (Kuswana, 2012:63). Soal

latihan adalah tugas yang langkah penyelesaian masalahnya telah diketahui siswa

yang biasanya telah rutin digunakan, sedangkan masalah adalah tugas yang

prosedur pnyelesaiannya belum diketahui siswa sehingga siswa harus mencari

cara untuk dapat menyelesaikannya (Anderson&Krathwohl, 2010:113).

Menganalisis merupakan proses kognitif yang melibatkan proses

memecah-mecah materi jadi bagian-bagian kecil dan menentukan bagaimana hubungan

antar bagian dan antar setiap bagian dan struktur keseluruhannya. Tujuan

pendidikan dari proses menganalisis antara lain untuk menentukan

potongan-potongan informasi yang relevan atau penting (membedakan), menentukan cara

(21)

3

menentukan tujuan balik di informasi tersebut (mengatribusikan)

(Anderson&Krathwohl, 2010:115).

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di SD Kanisius Sorowajan, guru lebuh

menekankan pada kemampuan mengingat dan memahami. Guru belum

menyajikan suatu masalah yang membuat peserta didik dapat mengaplikasikan

pengetahuannya. Peserta didik tidak diajak berfikir untuk mencari penyelesaian

yang baik itu seperti apa. Tidak hanya itu, dalam proses menganalisis guru juga

tidak meminta atau menggiring peserta didik untuk mengelompokkan informasi

atau materi yang sudah didapatkan sesuai dengan yang diminta guru. Terlihat dari

kegiatan yang kurang mengaktifkan peserta didik dan kurang bervariasi. Guru

lebih banyak menjelaskan materi di depan kelas dan selanjutnya meminta peserta

didik mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang pengerjaannya tidak

mendorong peserta didik untu mencari penyelesaian yang sesuai, karena

penyelesaiannya sudah diketahui (menjadi kebiasaan) peserta didik.

Pendidikan berbentuk segala macam pengalaman belajar dalam hidup

berlangsung dalam berbagai bentuk, pola, dan lembaga dapat berlangsung

kapanpun dan dimanapun yang berorientasi pada peserta didik. Dalam proses

mendapatkan pengalaman belajar yang diharapkan guru, tentunya guru harus

kreatif menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, menarik, serta dapat

membangkitkan motivasi siswa untuk belajar. Guru yang kreatif akan selalu

memperbaharui dan menyesuaikan gaya menajar dengan karakter peserta didik.

Hal yang sering dilupakan oleh sebagian besar guru yaitu penggunaan media

(22)

4

dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga

dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sedemikian rupa

sehingga proses belajar terjadi (Sadiman, 2002:6). Sedangkan menurut Smaldino

dkk (2012:17) dalam buku media pembelajaran mengatakan bahwa media adalah

suatu alat komunikasi dan sumber informasi yang berasal dari bahasa latin yang

berarti “antara” menunjuk pada segala sesuatu yang membawa Informasi antara

sumber dan penerima pesan, sehingga dapat dikatakan sebagai media

pembelajaran apabila segala sesuatu tersebut membawakan pesan untuk suatu

tujuan pembelajaran. Sehingga dapat disimpulkan bahwa segala sumber belajar

selain guru yang menjadi penyalur maupun penghubung isi dari materi

pembelajaran yang telah diadakan maupun direncanakan oleh guru untuk

mencapai suatu tujuan itu yang sering di kenal dengan media pembelajaran.

Pemilihan media pembelajaran juga harus disesuaikan dengan tingkat

perkembangan peserta didik, apalagi pada usia Sekolah Dasar dapat dikatakan

sebagai dasar dari proses pendidikan sehingga media tersebut dapat membantu

guru dalam mencapai tujuan yang dikehendaki. Maka proses belajar mengajar

harus dilakukan dengan tepat oleh guru agar segala keterampilan dasar yang

didapat siswa dapat dilakukan dengan benar karena itu akan menjadi kebiasaan

yang akan sulit diubah oleh siswa nantinya. Pendidikan dasar ini dapat

meningkatkan kualitas diri siswa dengan catatan guru dapat membentuk pola pikir

siswa dengan tepat. Dengan bantuan media pembelajaran yang tepat, diharapkan

siswa dapat berfikir kritis terhadap suatu permaslahan yang dihadapi dalam proses

(23)

5

Akan tetapi yang peneliti temukan dilapangan tidak sesuai dengan harapan

suatu pendidikan yang ideal. Guru masih banyak menerangkan materi didepan

kelas, kemudian guru hanya memberi soal yang setiap hari peserta didik juga

mengerjakan jenis soal yang sama. Peserta didik tidak dibimbing untuk

menerapkan ilmu yang di dapat untuk menyelesaikan permasalahan dengan

mengunakan langkah tertentu yang bisa saja muncul dari ide peserta didik itu

sendiri. Permasalahan media pembelajaran dalam belajar mengajar masih menjadi

topik pembicaraan yang sering dipertanyakan, tidak terkecuali dalam mata

pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Padahal seharusnya dalam pelajaran IPS

guru dapat memanfaatkan lebih banyak sesuatu yang ada dilingkungan siswa

untuk dijadikan media. Akan tetapi guru beranggapan menyediakan media

pembelajaran itu menyulitkan, membuang banyak waktu, dan tentunya

memerlukan banyak biaya. Padahal banyak sekali media pembelajaran yang ada

di sekolah yang tidak pernah digunakan dan lingkungan sekitar siswa yang dapat

di manfaatkan oleh guru.

Pengamatan dan beberapa permasalahan yang ditemui peneliti saat

melakukan pengamatan pada siswa kelas V di SD Kanisius Sorowajan yakni

peneliti melihat sebagian besar guru masih menyampaikan materi hanya

menjelaskan secara abstrak saja tanpa menggunakan media pembelaran pada mata

pelajaran IPS. Cara yang abstrak ini memungkinkan siswa mengalami salah

konsep dan ini kan berpengaruh pada kelangsungan pemahaman materi

selanjutnya yang berhubungan dengan materi yang pada saat itu dijarkan. Oleh

(24)

6

Timeline terhadap kemampuan Mengaplikasi dan Menganalisis pada Mata

Pelajaran IPS untuk kelas V SD Kanisius Sorowajan”.

1.2 Batasan masalah

Penelitian ini khusus meneliti tentang:

1.2.1 Penggunaan media timeline dalam mata pelajaran IPS yang disesuaikan

dengan kemampuan mengaplikasi dan menganalisis.

1.2.2 Penelitian ini dikhususkan pada materi “Persiapan Kemerdekaan”.

1.2.3 Penelitian ini hanya membatasi pada siswa kelas V di salah satu SD

Kanisius Sorowajan.

1.3 Rumusan Masalah

Dengan melihat pembatasan masalah diatas, maka dapat ditentukan Rumusan

masalah yaitu:

1.3.1 Apakah ada perbedaan kemampuan mengaplikasi atas penggunaan media

pembelajaran timeline pada mata pelajaran IPS untuk siswa kelas V SD

Kanisius Sorowajan?

1.3.2 Apakah ada perbedaan kemampuan menganalisis atas penggunaan media

pembelajaran timeline pada mata pelajaran IPS untuk siswa kelas V SD

Kanisius Sorowajan?

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1.4.1 Untuk mengetahui apakah ada perbedaan kemampuan mengaplikasi atas

penggunaan media pembelajaran timeline pada mata pelajaran IPS untuk

(25)

7

1.4.2 Untuk mengetahui apakah ada perbedaan kemampuan menganalisis atas

penggunaan media pembelajaran timeline pada mata pelajaran IPS untuk

siswa kelas V SD Kanisius Sorowajan.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik manfaat secara

teoritis maupun manfaat secara praktis, antara lain :

1.5.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam

perkembangan ilmu pendidikan, terutama dalam penggunaan media pembelajaran

timeline guna meningkatkan proses kognitif siswa pada tahap mengaplikasi dan

menganalisis dalam mata pelajaran IPS di kelas V SD Kanisius Sorowajan. Selain

itu dapat juga dijadikan bahan kajian dan pengembangan lebih lanjut untuk

penelitian selanjutnya.

1.5.2 Manfaat Praktis

1.5.2.1 Bagi Sekolah

Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan penggunaan media

pembelajaran timeline guna mengembangkan proses kognitif pada tahap

mengaplikasi dan menganalisis

1.5.2.2 Bagi siswa

Penelitian ini diharapkan mampu membantu siswa dalam meningkatkan

proses kognitif pada tahap mengaplikasi dan menganalisis dan mempermudah

memahami materi pelajaran IPS dengan menggunakan media pembelajaran

(26)

8 1.5.2.3 Bagi guru

Penelitian ini diharapkan agar guru dapat mengembangkan penggunaan

media pembelajaran timeline guna mengembangkan proses kognitif pada tahap

mengaplikasi dan menganalisis untuk mata pelajaran IPS kelas V SD

1.5.2.4 Bagi peneliti

Diharapkan penelitian ini memberikan pengelaman serta pengembangan

media pembelajaran dalam mata pelajaran IPS untuk kelas V SD.

1.6 Definisi Operasional Variabel

Variabel penelitian ini didefinisikan sebagai berikut:

1.6.1 Penggunaan media pembelajaran timeline dalam pembelajaran yakni dengan

menggambarkan hubungan antara peristiwa dan waktu dimana materi

pembelajarannya disajikan dalam sebuah bagan secara kronologis. Media

timeline yang digunakan peneliti dibuat semenarik mungkin agar siswa lebih

bersemangat dalam belajar. Bentuknya seperti papan tulis dalam kelas akan

tetapi lebih kecil, kemudian setiap jarak 5 cm diberi lubang untuk

mempermudah menempelkan gambar dan peristiwa-peristiwa penting yang

terjadi.

1.6.2 Kemampuan mengaplikasi merupakan suatu proses kemampuan berpikir

peserta didik yang tidak hanya memahami materi, namun juga penerapannya

(27)

9

1.6.3 Kemampuan menganalisis menuntut peserta didik untuk dapat

memisah-misah materi pembelajaran kemudian mencari hubungan antar materi dan

(28)

10 BAB 2

LANDASAN TEORI

Bab 2 ini peneliti membahas mengenai kajian teori, penelitian yang

relevan, kerangka berpikir, dan dugaan sementara atau hipotesis. Kajian teori

akan membahas menganai kemampuan berpikir menurut Benjamin S. Bloom,

media pembelajaran timeline, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan perkembangan

anak usia SD. Selanjutnya penelitian yang relevan berkaitan dengan penelitian

mengenai kemampuan berpikir dan media pembelajaran timeline. Berikutnya

kerangka berpikir akan membahas mengenai landasan pemikiran peneliti,

sedangkan Hipotesis membahas dugaan sementara mengenai jawaban dari

rumusan masalah yang telah dibuat.

2.1 Kajian Teori

Kajian teori ini peneliti akan membahas teori-teori mengenai kemampuan

berpikir menurut Benjamin S. Bloom, media pembelajaran, media pembelajaran

timeline, mata pelajaran IPS di SD, dan karakteristik siswa SD.

2.1.1 Kemampuan Berpikir menurut Benjamin S. Bloom

Proses kognitif taksonomi Bloom dalam berpikir siswa yang telah direvisi

memiliki 6 tahapan (Anderson & Krathwohl, 2010: 99). Namun dalam penelitian

ini hanya akan dibahas mengenai mengaplikasi dan menganalisis saja.

2.1.1.1 Mengaplikasi

Pada awalnya dalam jalan satu arah ini perbedaan yang dapat dilihat dari

(29)

11

berpikir, sehingga siswa dapat menunjukkan penggunaannya secara terperinci

ketika siswa diminta untuk melakukannya. Akan tetapi dalam konteks

mengaplikasi, siswa memerlukan lebih dari hanya sekedar paham karena siswa

dihadapkan pada situasi baru dengan menerapkan ringkasan hasil berpikir

sebelumnya secara langsung tanpa diberi tahu cara penggunaannya dalam situasi

baru tersebut, sehingga siswa akan mencari sendiri jalan keluar untuk

menyelesaikan masalah yang telah ditemukan. Selanjutnya tahapan berikutnya

dirancang suatu proses untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang digolongkan

dalam kategori mengaplikasi. Jalan keluar suatu pemecahan masalah yang

lengkap dari masalah penerapan yang terdiri dari beberapa langkah yang

ditentukan oleh guru.

Sedangkan Anderson & Krathwohl (2010:116) menegaskan bahwa proses

kognitif mengaplikasi itu melibatkan penggunaan langkah-langkah tertentu untuk

mengerjakan soal latihan atau menyelesaikan masalah sehingga ini berkaitan

dengan pengetahuan prosedural. Soal latihan merupakan tugas yang prosedur

penyelesaiannya telah diketahui oleh siswa, sehingga siswa menggunakannya

secara rutin. Sedangkan masalah adalah tugas yang prosedur penyelesaiannya

belum diketahui siswa sehingga siswa harus mencari prosedur sendiri untuk

menyelesaikan masalah tersebut. kategori ini terdiri dari dua proses kognitif:

2.1.1.1.1 Mengeksekusi, dalam proses ini siswa secara rutin menerapkan proedur

(30)

12

2.1.1.1.2 Mengimplementasikan, berlangsung saat siswa memilih dan

menggunakan sebuah prosedur untuk menyelesaikan tugas yang belum

diketahui pemecahannya oleh siswa.

Dari dua pengertian mengenai kemampuan berfikir mengaplikasi yang

dikemukakan diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa mengaplikasi adalah

suatu kemampuan kognitif yang tidak hanya memahami suatu materi namun

dapat menerapkannya untuk menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan

prosedur tertentu.

2.1.1.2 Menganalisis

Anderson & Krathwohl (2010:120) menjelaskan bahwa menganalisis

melibatkan proses memecah-mecah materi jadi bagian-bagian kecil dan

menentukan bagaimana hubungan antar bagian dan antara setiap bagian dan

struktur keseluruhannya. Kegiatan analisis ini merupakan perluasan dari tahap

memahami sebagai pembuka namun tahap sebelum mengevaluasi dan mencipta.

Tujuan pendidikan yang tercakup dalam proses menganalisis antara lain :

2.1.1.2.1 Membedakan, dalam tujuan ini siswa melibatkan proses memilah-milah

bagian-bagian yang yang dianggap penting dan tidak penting dalam

sebuah struktur dan kemudian hanya memperhatikan bagian yang

peting saja.

2.1.1.2.2 Mengorganisasi, dalam tujuan ini siswa menentukan cara-cara untuk

menata potongan-potongan informasi penting yang telah diperoleh pada

(31)

13

menstrukturkan, memadukan, menemukan koherensi, membuat garis

besar, dan mendeskripsikan peran.

2.1.1.2.3 Mengatribusikan, terjadi ketika siswa dapat menentukan sudut pandang,

pendapat, nilai, atau tujuan yang terkandung dalam sebuah informasi

yang sudah didapatkan.

2.1.2 Media Pembelajaran

2.1.2.1 Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran adalah alat yang dapat membantu proses belajar

mengajar dan berfungsi untuk memperjelas makna pesan yang disampaikan,

sehingga dapat mencapai tujuan yang pembelajaran dengan baik dan sempurna

(Kustandi & Sutjipto, 2011: 9). Hal yang hampir sama diungkapkan oleh

Djamarah (2010: 120) media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan

penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran. Sehingga dua pendapat tersebut

sama-sama mengungkapkan bahwa media pembelajaran digunakan untuk

mencapai tujuan pembelajaran yang baik. Pengertian yang sedikit berbeda

diungkapkan oleh Munadi (2010:5) bahwa media pembelajaran adalah

sumber-sumber belajar selain guru yang disebut sebagai penyalur atau penghubung pesan

ajar yang diadakan dan atau diciptakan secara terencana oleh para guru atau

pendidik. Pernyataan yang hampir sama diungkapkan oleh Sadiman (2009:7)

bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk

menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang

pikiran, peasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa

(32)

14

Dari beberapa teori diatas peneliti menyimpulkan bahwa media pebelajaran

itu merupakan segala sesuatu yang ada di luar diri siswa misalnya benda,

lingkungan disekitar siswa, masyarakat, dan lain-lain yang membantu siswa

mempermudah memahami suatu materi pembelajaran.

2.1.2.2 Fungsi media pembelajaran

Sadiman (2009:17) mengemukakan fungsi dari media pembelajaran dalam

proses belajar mengajar, yaitu:

2.1.2.2.1 Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis atau

dapat dikatakan lebih memperjelas materi yang hanya diberikan dalam

bentuk kata-kata tertulis atau lisan sehingga siswa akan lebih

memahami.

2.1.2.2.2 Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indra, misalnya saja:

objek yang terlalu besar bisa digantikan dengan miniatur, film, atau

gambar; objek yang terlalu kecil dapat dilihat atau disajikan dengan

mikroskop, gambar, atau film; gerak yang terlalu cepat atau terlalu

lambat dapat dibantu dengan timelapse atau high-speed photography;

kejadian yang terjadi di masa lalu dapat disajikan dengan gambar atau

film; objek yang terlalu luas, dan konsep yang terlalu luas.

2.1.2.2.3 Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat

mengatasi sifat pasif siswa, sehingga berguna untuk menimbulkan

kegairahan belajar, memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara

siswa dengan lingkungan serta kenyataan yang ada, dan memungkinkan

(33)

15

2.1.2.2.4 Dengan sifat yang unik dari setiap siswa ditambah lagi dengan

lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum, dan

materi pendidikan telah ditentukan sama untuk semua siswa, maka guru

akan mengalami kesulitan untuk menyampaikannya bila dilakukan

sendiri. Hal yang akan menambah kesulitan guru apabila latar belakang

lingkungan siswa juga berbeda. Maka masalah ini dapat diatasi dengan

media pembelajaran yang memiliki kemampuan untuk memberikan

rangsangan yang sama, persamaan pengalaman, dan menimbulkan

pengertian yang sama pada setiap siswa.

Fungsi media pembelajaran yang lain dikemukakan oleh Levie dan Lents

dalam Kustadi (2011:9) ada empat fungsi media pembelajaran khususnya media

visual yaitu:

2.1.2.2.1 Fungsi atensi, yaitu berguna untuk menarik serta mengarahkan

perhatian siswa agar dapat fokus dan konsentrasi pada materi pelajaran

yang berkaitan dengan makna visual yang disajikan.

2.1.2.2.2 Fungsi afektif, berguna untuk mengetahui sejauh mana sikap siswa

terhadap kegiatan belajar yang sedang dilakukannya. Misal ketika siswa

menyukai belajar dengan membaca teks bergambar, gambar yang

disajikan harus dapat menggugah emosi dan sikap siswa.

2.1.2.2.3 Fungsi kognitif, berguna untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa

terhadap materi pelajaran yang dipelajari, terlihat dari temuan-temuan

(34)

16

dapat memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan

mengingat informasi ataupun pesan yang terkandung dalam gambar

2.1.2.2.4 Fungsi kompensatoris, mampu memberikan konteks untuk dapat

memahami teks, membantu siswa yang lemah dalam kegiatan membaca

serta untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingat

kembali.

2.1.3 Media Pembelajaran Timeline

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa media pembelajaran

merupakan semua yang berada di luar diri siswa yang dapat membantu siswa

untuk mempermudah memahami informasi yang disampaikan oleh guru, sehingga

media pembelajaran akan mempermudah guru untuk menyampaikan suatu materi

pembelajaran. Begitu juga dengan media pembelajaran garis waktu atau dalam

bahasa Inggris disebut dengan timeline. Sadiman (2009:37) mengemukakan

bahwa media timeline merupakan media yang menyajikan sebuah garis waktu

yang menghubungan antara sebuah peristiwa dengan waktu terjadinya peristiwa

tersebut. Materi yang disampaikan melalui media timeline ini disajikan secara

kronologi (urutan kejadian) dimana setiap peristiwa demi peristiwa disajikan

secara runtut. Obenchain (2011:186) menerngkan bahwa timeline merupakan

media yang dapat membantu siswa dalam memahami konsep yang lebih abstrak.

Timeline digunakan untuk mempermudah siswa dalam mengingat peristiwa

lampau dan dalam waktu yang panjang. Melalui timeline siswa dapat berfikir

(35)

17

Dua pernyataan di atas menjelaskan bahwa media pembelajaran timeline

merupakan media pembelajaran yang menyajikan suatu urutan kejadian secara

kronologis mulai dari peristiwa, tanggal, tahun, tempat dimasa lampau yang

membantu siswa mudah dalam memahami.

Gambar 1. Media Pembelajaran Timeline

Adapun manfaat media pembelajaran timeline menurut Obenchain

(2011:186) yaitu: 1) siswa lebih mudah memahami konsep yang abstrak, 2) siswa

lebih cepat memahami materi yang disampaikan oleh guru, dan 3) mendorong

siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran.

2.1.4 Mata Pelajaran IPS SD

2.1.4.1 Pengertian Mata Pelajaran IPS

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah ilmu pengetahuan yang memuat

keterampilan di dalam memecahkan suatu masalah yang berawal dari diri sendiri

(36)

18

(2006:9) mengemukakan bahwa IPS merujuk pada kajian yang memusatkan

perhatian pada aktivitas kehidupan manusia, dalam berbagai dimensi kehidupan

sosial sesuai dengan karakteristik manusia yaitu sebagai makhluk sosial. Selain itu

dalam Depdikbud (2003:8) menyatakan bahwa program IPS dimaksudkan untuk

mempersiapkan siswa dalam melanjutkan IPS baik dalam bidang akademik

maupun pendidikan profesional. Sehingga dalam program ini dapat memberikan

bekal kepada siswa secara laungsung maupun tidak langsung untuk bergabung di

masyarakat. Materi yang terkandung dalam mata pelajaran IPS merupakan

gabungan (perpaduan) dari cabang-cabang ilmu sosial yang terait dengan masalah

sosial yang terjadi di lingkungan sekitar siswa dan selalu berkembang mengkuti

perkembangan ilmu pengtahuan dan teknologi.

Pada bidang ilmu sosial, nantinya dapat digunakan oleh siswa untuk

mempersiapkan siswa dalam bidang akademik maupun profesionalnya

dimasyarakat kelak. Pada jenjang Sekolah Dasar (SD) mata pelajaran IPS memuat

materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Sehingga diharapkan melalui

mata pelajaran IPS siswa dapat dibimbing untuk menjadi warga negara Indonesia

yang baik dan bertanggung jawab.

Segala bidang pengetahuan dalam IPS di kaji dari kehidupan sehari-hari

siswa yang terjadi dilingkungan masyarakat sekitar siswa, sehingga siswa dilatih

untuk mengetahui dan memahami bagaimana cara berhubungan dengan anggota

keluarga, masyarakat, memahami aturan-aturan yang berlaku dimasyarakat

(37)

19

dapat mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis

terhadap kondisi sosial masyarakat.

2.1.4.2 Tujuan IPS di SD

Supardi (2011:185) mengemukakan beberapa tujuan IPS di SD antara lain:

1) memberi Pengetahuan kepada siswa untuk menjadi warga negara yang baik, 2)

sadar sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sadar hak dan kewajibannya dan bersikap

demokratis serta tanggungjawab, 3) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis

dan inkuiri untuk memecahkan masalah-masalah sosial, 4) Melatih belajar

mandiri dan membangun kebersamaan, 5) Mengembangkan kecerdasan,

kebiasaan dan keterampilan sosial, 6) Melatih untuk menghayati nilai-nilai hidup

ang baik dan terpuji, 7) Mengembangkan kesadaran dan kepedulian terhadap

masyarakat dan lingkungan.

Berbeda dengan yang tertuang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(KTSP, 2006:575) menyatakan bahwa tujuan Pembelajaran IPS adalah agar siswa

mampu:

2.1.4.2.1 Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat

dan lingkungannya.

2.1.4.2.2 Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin

tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan

sosial.

2.1.4.2.3 Memiliki kemampuan berkomuikasi, bekerjasama, dan berkomptisi

(38)

20

Kesimpulan dari kedua pendapat diatas, bahwa IPS belajar mengenai segala

sesuatu yang terjadi dilingkungan siswa dan masyarakat, serta bagaimana siswa

dapat menyesuaikan diri dilingkungan dan dapat memecahkan segala

permasalahan yang terjadi di masyarakat.

2.1.4.3 Keterampilan yang dikembangkan IPS di SD

Maryani dan Syamsudin (2009:15) mengemukakan keterampilan yang ada

dalam mata pelajaran IPS yaitu: work study skill contohnya membaca peta, group

process skils contohnya berpikir kritis, social living skills contohnya bekerjasama

dengan orang lain.

2.1.5 Tahap Perkembangan Siswa SD

Teori perkembangan kognitif anak menurut Jean Piaget (Crain, 2007:171)

yang dikelompokkan menurut tahapan atau periodenya adalah sebagai berikut:

2.1.5.1 Periode I: Disebut dengan kepandaian sensori-motorik dengan usia anak

dari lahir hingga berusia 2 tahun. Dalam periode ini anak dapat

melakukan tindakan fisik seperti menghisap, menggengam, dan memukul

untuk menghadapi dunia yang muncul dihadapannya.

2.1.5.2 Periode II: Disebut dengan pikiran pra-operasional dimana anak yang

termasuk dalam periode ini memiliki usia 2 tahun sampai 7 tahun. Pada

periode II ini Crain menyatakan bahwa anak-anak belajar berpikir, cara

berpikir mereka masih mengunakan simbol-simbol dan menggunakan

batin atau perasaan. Mereka berpikir masih belum sistematis dan tidak

(39)

21

2.1.5.3 Periode III: Disebut tahap operasi-operasi berpikir konkret. Anak yang

tergolong kedalam periode ini adalah anak yang memiliki usia 7 tahun

sampai dengan 11 tahun. Anak-anak dalam periode ini mengembangkan

kemampuan berpikir secara sistematis dan hal tersebut terjadi jika

anak-anak mengacu kepada objek-objek dan aktivitas-aktivitas secara konkret.

Sebagai contohnya adalah ketika proses pembelajaran berlangsung, siswa

perlu diberikan benda – benda atau media konkrit agar memudahkan siswa dalam memahami dan mengerti tentang materi yang diajarkan.

2.1.5.4 Periode IV: Disebut periode operasi-operasi berpikir formal yang disebut

dengan periode ke IV, dimana anak dalam usia 11 tahun hingga dewasa

yang termauk kedalam periode ini. Pada periode ini orang-orang muda

mengembangkan kemampuan untuk berpikir sistematis menurut

rancangan yang murni abstrak dan hipotesis. Sebagai contohnya, siswa

yang sudah masuk pada periode ini tidak lagi menggunakan media – media yang konkrit dalam pembelajaran melainkan sudah belajar secara

abstrak atau benda – benda abstrak.

Dari keempat tahapan perkembangan anak diatas, peneliti memfokuskan

pada tahap Operasional Konkret karena penelitian ini akan dilakukan untuk siswa

kelas V Sekolah dasar yang berada pada usia sekitar 10-11 tahun. Dalam tahap ini

anak-anak mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis dan hal

tersebut terjadi jika anak-anak mengacu kepada objek-objek dan

aktivitas-aktivitas secara konkret. Sehingga penggunaan media pembelajaran yang konkret

(40)

22 2.2 Penelitian yang Relevan

Mityasari (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Penggunaan Media

Bagan Garis Waktu (Timeline Chart) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

dalam Pembelajaran IPS kelas V SD mengemukakan tujuan dari penelitian ini

adalah mendeskripsikan peningkatan aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan

pembelajaran menggunakan bagan garis waktu (timeline chart), mendeskripsikan

peningkatan hasil belajar siswa selama pembelajaran menggunakan bagan garis

waktu, dan mengetahui respon siswa selama penggunaan media bagan garis

waktu. Untuk mencapai tujuan dari penelitian ini pemilihan media harus

memperhatikan karakteristik dan keunggulan media yang dipergunakan. Masalah

yang dihadapi yakni hasil belajar siswa yang masih dibawah Kriteria Ketuntasan

Minimal (KKM) yang telah ditentukan yakni 75. Hasil penelitian ini dapat

disimpulkan bahwa penggunaan media bagan garis waktu dapat meningkatkan

aktivitas pembelajaran dan hasil belajar siswa.

Eva Niko A & Mulyani. (2013) dalam penelitiannya yang berjudul

Penggunaan Media Puzzle untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Tema

Keluarga pada Siswa Sekolah Dasar mengemukakan tujuan dari penelitian ini

untuk mengkaji menjelaskan tentang penggunaan media puzzle untuk

meningkatkan hasil belajar IPS dengan tema keluarga, mendeskripsikan hasil

belajar dengan menggunakan media puzzle dengan tema keluarga, dan untuk

mendeskripsikan kendala-kendala yang muncul dan cara mengatasi kendala yang

(41)

23

dengan tema keluarga. Hasilnya bahwa media puzzle dapat meningkatkan hasil

belajar siswa.

Alwi (2002) dalam penelitiannya yang berjudul Penggunaan Peta dan Globe

untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPS di Sekolah Dasar mengungkapkan

tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menguji apakah terdapat perbedaan prestasi

belajar IPS antara siswa yang belajar menggunakan media globe dengan siswa

yang menggunakan peta dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar. Hasil belajar

kelompok eksperimen yang diajar menggunakan media peta dan globe lebih tinggi

daripada hasil belajar siswa yang diajar tanpa menggunakan media peta dan globe

dalam pembelajaran IPS di SD. Media peta dan globe sangat baik digunakan oleh

guru untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, membangkitkan rasa senang

terhadap pengajaran IPS.

Ketiga penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran

timeline dan puzzle dapat meningkatkan hasil belajar IPS. Selain itu penggunaan

media Peta dan Globe juga dapat meningkatkan Prestasi belajar IPS di Sekolah

Dasar. Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti apakah penggunaan media

timeline dapat meningkatkan kemampuan berpikir mengaplikasi dan menganalisis

(42)

24

Gambar 2. Literature map penelitian

2.3 Kerangka Berpikir

Aktivitas belajar yang dilakukan peserta didik sebaiknya menyenangkan dan

dapat mendorong peningkatan kemampuan berpikir peserta didik sesuai dengan

tingkat perkembangannya. Untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta

didik, guru hendaknya menggunakan menggunakan media pembelajaran yang

sesuai dengan karakteristik dan perkembangan siswa SD yang sedang berada pada

tahap operasional konkret. Peran media pembelajaran sebagai perantara guna

mempermudah peserta didik dalam memahami materi yang pelajari, sehingga

tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Dalam materi Proklamasi

Kemerdekaan dalam mata pelajaran IPS pada Kelas V Semester 2, salah satu

media yang dapat digunakan yaitu media timeline.

Media pembelajaran timeline merupakan media pembelajaran yang

mengubungkan antara suatu peristiwa dan waktu kejadian, dimana materi yang perlu diteliti:

Kelas V SD Kanisius Sorowajan Mityasari (2013)

Penggunaan Media Bagan Garis Waktu (TimelineChart)

untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran IPS kelas V SD

Alwi (2002) Penggunaan Peta dan Globe untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPS di Sekolah Dasar

Eva Niko A & Mulyani. (2013) Penggunaan Media Puzzle untuk Meningkatkan

Hasil Belajar IPS dengan Tema Keluarga pada Siswa

(43)

25

pembelajaran disajikan dalam suatu garis yang menampilkan urutan kejadian

secara logis. Diharapkan penggunaan media timeline ini dapat meningkatkan

kemampuan berpikir siswa pada tahap mengaplikasi dan menganalisis.

Kemampuan berpikir Mengaplikasi adalah suatu kemampuan kognitif yang tidak

hanya memahami suatu materi namun dapat menerapkannya untuk

menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan prosedur tertentu. Sedangkan

kemampuan menganalisis menuntut siswa untuk dapat memisah-misah materi

pelajaran kemudian mencari hubungan antar materi. Untuk mempermudah siswa

dalam mengaplikasi dam menganalisis suatu materi dalam mata pelajaran IPS di

kelas V SD guru dapat menggunakan media, dalam penelitian ini media yang

digunakan adalah media timeline yang tentu saja itu disesuaikan dengan

perkembangan kognitif siswa SD.

2.4 Hipotesis Penelitian

Peneliti menentukan hipotesis dari penelitian ini adalah:

2.4.1 Terdapat perbedaan kemampuan mengaplikasi atas penggunaan media

pembelajaran timeline pada mata pelajaran IPS untuk siswa kelas V SD

Kanisius Sorowajan.

2.4.2 Terdapat Terdapat perbedaan kemampuan menganalisis atas penggunaan

media pembelajaran timeline pada mata pelajaran IPS untuk siswa kelas V

(44)

26 BAB 3

METODE PENELITIAN

Bab 3 ini peneliti membahas mengenai metode penelitian yang terdiri dari

desain penelitian, populasi, sampel, variabel penelitian,instrumen penelitian,

validitas instrumen, reliabilitas instrumen, teknik pengumpulan data, teknik

analisis data, dan jadwal penelitian.

3.1Desain Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan desain quasi eksperimental

design. Desain ini dipilih apabila kita tidak dapat mengontrol sepenuhnya sampel

yang kita ambil (Sugiyono, 2012:77), maka penggunaan desain ini tepat dengan

keadaan sampel pada saat ini untuk mengatasi kesulitan dalam menentukan

kelompok kontrol dalam menentukan kelompok kontrol dalam penelitian.

Ada dua bentuk desain quasi ekspermen, yaitu Time-Series Design dan

Nonequivalent Control Group Design (Sugiyono, 2012:77). Dalam penelitian ini

peneliti menggunakan model bentuk yang kedua yaitu Nonequivalent Control

Group Design karena desain ini sama dengan pretest dan posttest control group,

hanya dalam desain ini kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak dipilih

secara random (acak). Setelah kelompok kontrol diperoleh kemudian dua

kelompok tersebut diberi soal pretest untuk mengetahui kondisi awal sebelum

dilakukannya perlakuan. Setelah didapat hasil pretest dari kelas kontrol dan

eksperimen kemudian hasil tersebut dibandingkan. Hasil pretest dikatakan baik

(45)

27

kelas eksperimen diberikan perlakuan, kemudian diberikan postest guna

mengetahui perubahan yang terjadi. Desain penelitian jenis ini dapat digambarkan

sebagai berikut:

Gambar 3. Desain penelitian (Taniredja,2011:56)

Keterangan:

OA : Rerata skor Pretest kelompok eksperimen

OB : Rerata skor posttest kelompok eksperimen

X : Perlakuan (treatment) penggunaan timeline OC : Rerata skor Pretest kelompok kontrol

OD : Rerata skor posttest kelompok kontrol

3.2Tempat Penelitian

Peneliti melakukan penelitian di SD Kanisius Sorowajan yang beralamat di

Jl. Sorowajan No. 111, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Letak SD ini cukup

strategis karena berada diantara kota Jogja, Sleman dan Bantul. SD Kanisius

Sorowajan merupakan SD Swasta unggul di Bantul sehingga menjadi barometer

untuk sekolah disekitarnya, sehingga harus mampu menunjukkan keunggulan

dalam hal akademik maupun non akademik. Sehubungan dengan visi dan misi

sekolah ini yaitu cerdas, berkarakter, unggul, peduli lingkungan, maka guru

dituntut untuk mengembangkan segala aspek termasuk penggunaan media

pembelajaran selama proses pengajaran berlangsung.

oA X oB

---

(46)

28 3.3 Waktu Penelitian

Peneliti melakukan penelitian dimulai dari bulan September 2013 hingga

bulan April 2014, dengan jadwal sebagai berikut:

Tabel 1. Kegiatan penelitian

No Kegiatan Bulan 6. Pengolahan data 7. Penyusunan Bab

Peneliti mengambil data penelitian dengan jadwal sebagai berikut:

Tabel 2. Waktu pengambilan data

Kelompok Kegiatan Alokasi Waktu Hari, Tanggal

Kontrol Pretest 2 x 40 menit Kamis, 13 Februari 2014 Kegiatan pembelajaran 2 x 40 menit Kamis, 20 Februari 2014

Kegiatan pembelajaran 2 x 40 menit Kamis, 27 Februari 2014

(47)

29

Kegiatan pembelajaran 2 x 40 menit Kamis, 13 Maret 2014

Kegiatan pembelajaran 2 x 40 menit Jumat, 14 Maret 2014

Posttest 2 x 40 menit Jumat, 4 April 2014

3.4Populasi dan Sampel

3.4.1 Populasi

Populasi adalah wilayah genaralisasi yang terdiri atas objek/subjek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012:215). Populasi

yang dimaksud bukan hanya manusia, akan tetapi benda-benda dan objek yang

ada di alam ini. Pada penelitian ini peneliti menentukan populasinya adalah siswa

kelas V di SD Kanisius Sorowajan tahun ajaran 2013/2014 berjumlah 60 siswa.

3.4.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut (Sugiyono, 2012:216). Apabila populasi yang dipilih terlalu

besar, peneliti tidak dapat mungkin mempelajari semua mengenai populasi yang

ada karena keterbatasan waktu, tenaga dan dana, maka peneliti dapat mengambil

sampel dari populasi yang telah ditentukan. Dalam penelitian ini sampel untuk

kelas eksperimen adalah kelas VA yang berjumlah 30 siswa dan sampel untuk

kelas kontrol adalah kelas VB yang berjumlah 30 siswa. Peneliti menentukan

pengambilan sampel dengan cara non-random yaitu cara pemilihan sejumlah

(48)

30

yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel (Kariadinata&Abdurahman,

2012:24), dalam hal ini hanya anggota-anggota tertentu dari populasi yang akan

terpilih menjadi anggota sampel, dan pemilihan anggota-anggotanya bersifat

subjektif.

3.5 Variabel Penelitian

Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa

saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi

tentang hal tersebut untuk kemudian dapat ditarik kesimpulannya (Sugiyono,

2012:38). Dalam variabel terdapat berbagai variasi data yang berbeda-beda.

Meskipun jenis data sama, akan tetapi ukuran untuk setiap orang itu berbeda-beda

atau bervariasi. Pada penelitian ini akan digunakan dua variabel, yaitu :

3.5.1 Variabel bebas ( independen variabel )

Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi

sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2008: 39). Pada

penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah penggunaan media

pembelajaran timeline.

3.5.2 Variabel terikat ( dependen variabel )

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi

akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2008: 39). Pada penelitian ini

(49)

31

Variabel Bebas Variabel Terikat

Gambar 4. Pemetaan Variabel Penelitian

3.6 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

3.6.1 Teknik Pengumpulan Data

Peneliti dalam penelitian ini mengumpulkan data dengan teknik tes.

Teknik ini digunakan untuk mengevaluasi, yaitu untuk membedakan antara

kondisi awal dengan kondisi sesudahnya (Sangaji, 2010:191). Tes merupakan

suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan

pengukuran, yang di dalamnya terdapat berbagai pertanyaan, pernyataan, atau

serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta didik untuk

mengukur aspek perilaku peserta didik (Arifin, 2009:118).

Tujuan tes yang paling penting adalah untuk: 1) mengetahui tingkat

kemampuan peserta didik, 2) mengukur pertumbuhan dan perkembangan peserta

didik, 3) mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik, 4) mengetahui hasil

pengajaran, 5) mengetahui hasil belajar, 6) mengetahui pencapaian kurikulum, 7) Penggunaan media

Timeline

Kemampuan Menganalisis Kemampuan

(50)

32

mendorong peserta didik belajar, dan 8) mendorong pendidik mengajar lebih baik

(Mardapi, 2008:68).

Langkah pertama adalah dengan melakukan pretest, dilakukan dengan

sampel yang kecil. Tempat untuk pretest harus dipilih sedemikian rupa sehingga

hampir bersamaan dengan atau sama dengan lapangan yang sebenarnya (Nazir,

2005: 213). Pengambilan data melalui pretest bertujuan untuk mengetahui

kemampuan awal siswa dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

3.6.2 Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data merupakan alat ukur dalam penelitian

(Sugiyono, 2012:222). Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah

berupa soal latihan. Soal latihan adalah tugas yang langkah penyelesaian

masalahnya telah diketahui siswa yang biasanya telah rutin digunakan (Anderson

& Krathwohl, 2010:113). Sebelum menyusun soal, peneliti sebelumnya harus

menyusun kisi-kisi soal terlebuh dahulu. Kisi-kisi merupakan tabel yang

menunjukkan hubungan antara hal yang disebutkan dalam baris dengan

hal-hal yang disebutkan dalam kolom yang menunjukkan kaitan antara variabel yang

diteliti dengan sumber data dari mana data akan diambil, metode yang digunakan,

dan instrumen yang disusun (Sangadji&Sopiah, 2010:155). Berikut adalah

(51)

33

Tabel 3. Kisi-kisi instrumen penelitian

No Variabel Aspek Indikator No

Mengimplementasikan - Menggunakan cara tertentu untuk

Mengorganisasi - peranan tokoh-tokoh dalam

Setelah melakukan pretest, peneliti melakukan analisis kesulitan

siswa untuk selanjutnya diberikan perlakuan sesuai kebutuhan yakni

memberikan meteri pembelajaran dengan menggunakan media

pembelajaran timeline pada kelas eksperimen. Setelah perlakuan dirasa

cukup, untuk mengetahui kondisi setelah diberi perlakuan siswa akan

(52)

34 3.7 Validitas dan Reliabilitas Instrumen

3.7.1 Uji validitas

Azwar (2011: 173) mengungkapkan bahwa validitas menunjukkan sejauh

mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

Dengan melakukan uji validitas ini peneliti dapat melihat apakah alat ukur yang

dibuat dan digunakan itu sudah tepat. Bila peneliti hendak mengukur perbedaan

penggunaan media timeline terhadap kemampuan mengaplikasi dan menganalisis,

maka instrumen yang digunakan harus sesuai dengan tujuan agar instrumen

tersebut dapat dikatakan valid. Penyusunan butir-butir instrumen didasarkan pada

indikator-indikator yang sudah dibuat dan diberi pula kriteria penilaian untuk

setiap item soal. Ada 4 bentuk validitas yaitu validitas isi, validitas konstruk,

validitas prediktif, dan validitas konkruen. Dalam penelitian ini, peneliti

menggunakan validitas konstruk dan validitas isi.

Sugiyono (2012:125) mengemukakan bahwa pengujian validitas konstruk

dengan menggunakan pendapat para ahli (expert judgement). Setelah instrumen

disesuaikan dengan indikator yang akan diukur, selanjutnya akan dikonsultasikan

atau diteliti dengan para ahli. Para ahli ini diminta untuk mengemukakan

pendapatnya mengenai instrumen yang telah disusun oleh peneliti. Dalam hal ini

peneliti meminta kepala sekolah dan guru kelas untuk melakukan validasi pada

media pembelajaran timeline, perangkat pembelajaran, dan kesesuaian soal

(53)

35

Berikut Kriteria Hasil Validitas yang telah ditentukan peneliti:

Tabel 4. Kriteria penilaian Validitas Konstruk

Nilai Kriteria

80-100 Sangat Baik

60-79 Baik

40-59 Cukup

0-39 Kurang

Tabel 5. Hasil Validitas Media Pembelajaran Timeline

No Validitas Media Timeline Nilai

1 Kepala Sekolah 92, 86

2 Guru Kelas 89,29

Validitas Konstruk yang pertama peneliti lakukan adalah validitas pada

media pembelajaran timeline yang dilakukan oleh kepala sekolah dan guru kelas.

Hasil validitas yang diperoleh dari kepala sekolah adalah 92,86 sedangkan hasil

validitas yang dilakukan oleh guru kelas adalah 89,29. Kedua nilai yang

dihasilkan menunjukkan bahwa media pembelajaran timeline yang peneliti

gunakan dalam penelitian termasuk dalam kategori sangat baik, sehingga telah

(54)

36

Tabel 6. Validasi Perangkat Pembelajaran

No Aspek yang dinilai Nilai

1. Silabus 95

2. RPP 80

3. LKS 68

4. Materi Ajar 93,75

5. Soal 97,5

Rata-rata 86,85

Validasi perangkat pembelajaran yang di validasi oleh Kepala Sekolah

berisi tentang silabus, RPP, LKS, Materi Ajar, dan Soal. Dari ke lima aspek yang

divalidasi tersebut peneliti mendapatkan skor rata-rata 86,85. Hasil rata-rata

menunjukkan dalam ke lima aspek peneliti mendapatkan nilai Sangat Baik.

Validasi yang terakhir yaitu validasi kesesuaian kisi-kisi dengan soal yang

di isi oleh guru kelas sebelum soal diberikan kepada siswa untuk divalidasi.

Hasilnya peneliti mendapatkan skor 92 yang artinya sangat bagus, karena soal

yang dibuat sudah sesuai kisi-kisi dan bahasanya juga sudah mudah dipahami

siswa.

Validitas yang digunakan untuk menghitung setiap item soal yakni

validitas isi dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran

yang telah diajarkan (Sugiyono, 2012:129). Pengertian yang lain dikemukakan

oleh Sangadji&Sopiah (2010:160) bahwa validitas isi menunjuk pada sejauh mana

(55)

37

sama-sama mengemukakan bahwa validitas merupakan suatu kegiatan

membandingkan isi instrumen dengan materi yang telah diajarjan guna mengukur

cakupan substansi yang akan diukur. Untuk menghitung validitas isi, peneliti

menggunakan program SPSS 16 yang disesuaikan dengan kriteria instrumen yang

dikatakan valid apabila harga probabilitas yang ditunjukkan dalam sig. (2-tailed)

di bawah 0,05 (p < 0,05). Pengujian validitas yang dilakukan tidak hanya pada

setiap variabel, akan tetapi pada setiap aspek yang hendak diteliti. Hasil pengujian

validitas diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 7. Hasil Uji Validitas

No Variabel Person

(56)

38 5. Peranan

tokoh-tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia

0,555** 0,001 Valid

Lima butir soal yang telah divalidasi dan menghasilkan butir soal yang

valid untuk selanjutnya diujikan kepada siswa dalam kelompok kontrol dan

kelompok eksperimen sebagai pretest dan posttest. Peneliti mengambil item valid

dengan korelasi 0,01 dengan tingkat kesalahan 1%, maka semua item tersebut

dinyatakan valid.

3.7.2 Uji reliabilitas

Uji validitas yang telah menghasilkan soal valid untuk selanjutnya

dilakukan uji reliabilitas instrumen untuk mengetahui taraf keajegan dari suatu

instrumen. Azwar (2011:180) mengemukakan bahwa reliabilitas adalah sejauh

mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Di dalam uji reliabilitas ini peneliti

dapat melihat apakah hasil dari uji validitas tersebut tepat dalam penggunaannya.

Sugiyono (2012:130) mengemukakan bahwa instrumen dikatakan reliabel apabila

instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama,

akan menghasilkan data yang sama pula. Pengujian reliabilitas dalam penelitian

ini peneliti menggunakan program SPSS 16 dengan uji Alpha Cronbach.

Nunnally mengemukakan dalam (Ghozali, 2006:42) bahwa suatu konstruk akan

disebut reliabel atau memiliki reliabilitas jika telah memenuhi harga Alpha

(57)

39

Tabel 8. Kriteria Koefisien Reliabilitas

Koefisien Koreksi Kualifikasi

0,91-1,00 Sangat tinggi

0,71-0,90 Tinggi

0,41-070 Cukup

0,21-0,40 Rendah

Negatif-0,20 Sangat rendah

Dari hasil uji reliabilitas instrumen diperoleh hasil sebagi berikut:

Tabel 9. Hasil Reliabilitas

SD Kanisius Sorowajan

Alpha Cronbach Kualifikasi

0,686 Cukup

Tabel 9 menunjukkan harga Alpha Cronbach untuk instrumen yang

digunakan adalah 0, 686 dengan kriteria cukup, sehingga instrumen soal yang

dibuat dapat digunakan sebab telah memenuhi syarat instrumen valid dan reliabel.

3.8 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

analisis data dengan menggunakan program komputer PASW (SPSS) 16 for

(58)

40 3.8.1 Uji Prasyarat Analisis

3.8.1.1Uji Normalitas Data

Uji normalitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

Kolmogorov-Smirnov (Prayitno, 2012:136) dengan tujuan untuk menentukan jenis

statistik yang akan digunakan. Kriteria yang digunakan dalam teknik

Kolmogorov-Smirnov yakni:

1. Apabila harga sig. (2-tailed) > 0,05 distribusi data normal. Apabila

distribusi data normal, teknik statistik inferensial yang digunakan

adalah statistik parametrik uji t atau t-test.

2. Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 distribusi data tidak normal. Apabila

distribusi data tidak normal, teknik statistik yang digunakan adalah

statistik nonparametrik Mann-Withney.

Setelah semua data telah diuji normalitas, selanjutnya data dapat diuji

dengan uji statistik dengan langkah sebagai berikut:

3.8.1.2 Uji Homogenitas skor Pretest

Pengujian homogenitas yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui

apakah objek yang diteliti mempunyai varian yang sama (Siregar, 2013:167).

Metode yang di gunakan dalam melakaukan uji homogenitas ini adalah metode

varian terbesar dibandingkan dengan varian terkecil. Prayitno (2008:31)

mengemukakan apabila nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka dapat dikatakan

bahwa varian dari kedua kelompok data adalah sama. Kriteria untuk menilai

Figur

Tabel 21. Perbandingan skor pretest ke posttest kemampuan
Tabel 21 Perbandingan skor pretest ke posttest kemampuan . View in document p.16
Gambar 4. Pemetaan Variabel Penelitian.............................................................
Gambar 4 Pemetaan Variabel Penelitian . View in document p.17
Gambar 1. Media Pembelajaran Timeline
Gambar 1 Media Pembelajaran Timeline . View in document p.35
Gambar 2. Literature map penelitian
Gambar 2 Literature map penelitian . View in document p.42
Gambar 3. Desain penelitian (Taniredja,2011:56)
Gambar 3 Desain penelitian Taniredja 2011 56 . View in document p.45
Tabel 2. Waktu pengambilan data
Tabel 2 Waktu pengambilan data . View in document p.46
Gambar 4. Pemetaan Variabel Penelitian
Gambar 4 Pemetaan Variabel Penelitian . View in document p.49
Tabel 3. Kisi-kisi instrumen penelitian
Tabel 3 Kisi kisi instrumen penelitian . View in document p.51
Tabel 5. Hasil Validitas Media Pembelajaran Timeline
Tabel 5 Hasil Validitas Media Pembelajaran Timeline . View in document p.53
Tabel 6. Validasi Perangkat Pembelajaran
Tabel 6 Validasi Perangkat Pembelajaran . View in document p.54
Tabel 7. Hasil Uji Validitas
Tabel 7 Hasil Uji Validitas . View in document p.55
Tabel 9. Hasil Reliabilitas
Tabel 9 Hasil Reliabilitas . View in document p.57
Tabel 10. Deskripsi data Pretest kemampuan Mengaplikasi Kelompok
Tabel 10 Deskripsi data Pretest kemampuan Mengaplikasi Kelompok . View in document p.64
Tabel 12. Deskripsi data Pretest kemampuan Menganalisis Kelas
Tabel 12 Deskripsi data Pretest kemampuan Menganalisis Kelas . View in document p.65
Tabel 12 dan 13 mengenai data pretest pada kelas kontrol, untuk
Tabel 12 dan 13 mengenai data pretest pada kelas kontrol untuk . View in document p.66
Tabel 14. Deskripsi data Posttest kemampuan Mengaplikasi Kelas
Tabel 14 Deskripsi data Posttest kemampuan Mengaplikasi Kelas . View in document p.66
Tabel 15. Deskripsi data Posttest kemampuan Menganalisis Kelas Eksperimen
Tabel 15 Deskripsi data Posttest kemampuan Menganalisis Kelas Eksperimen . View in document p.67
Tabel 14 dan 15 mengenai data posttest pada kelas eksperimen kemampuan
Tabel 14 dan 15 mengenai data posttest pada kelas eksperimen kemampuan . View in document p.67
Tabel 17. Deskripsi data Posttest kemampuan Mengaplikasi Kelas
Tabel 17 Deskripsi data Posttest kemampuan Mengaplikasi Kelas . View in document p.68
table dibawah ini:
table dibawah ini: . View in document p.69
Tabel 19 menunjukkan bahwa harga sig. (2-tailed) pada kemampuan
Tabel 19 menunjukkan bahwa harga sig 2 tailed pada kemampuan . View in document p.73
Tabel 21. Perbandingan skor pretest ke posttest kemampuan
Tabel 21 Perbandingan skor pretest ke posttest kemampuan . View in document p.75
Tabel 22. Perbandingan skor posttest kemampuan mengaplikasi
Tabel 22 Perbandingan skor posttest kemampuan mengaplikasi . View in document p.77
Tabel 23. Perbandingan skor posttest kemampuan menganalisis
Tabel 23 Perbandingan skor posttest kemampuan menganalisis . View in document p.78
gambar yang digunakan juga hitam putih. Sehingga untuk siswa yang
Sehingga untuk siswa yang . View in document p.84
gambar pada
gambar pada . View in document p.91

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (163 Halaman)