Tahap ini adalah suatu bentuk analisis yang mengklasifikasikan, dan mengorganisasikan data sehingga kesimpulan akhirnya dapat ditarik. Setelah data diklasifikasikan, kemudian menyeleksi bagian-bagiannya sesuai dengan data yang digunakan. Selanjutnya, data

Teks penuh

(1)

EROTISME TOKOH UTAMA DALAM NOVEL NAMAKU MATA HARI KARYA REMY SYLADO; TINJAUAN FEMINISME LIBERAL

oleh

Sabrini1) Yundi2) Maizar2)

1) Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Jambi 2) Dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Jambi

Email: gabriellapasaribuh@gmail.com

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Karya sastra adalah hasil karya seni yang menceritakan realita berdasarkan imajinasi si pengarang. Manusia dan lingkungannya sebagai objek yang digunakan oleh si pengarang, melalui bahasa sebagai medianya. Berbicara tentang sebuah karya sastra, tidak akan terlepas dari nilai-nilai etika dan estetika, sehingga orang yang menikmati karya sastra akan merasa berada dalam lingkup kehidupan yang diciptakan karya sastra tersebut. Novel adalah salah satu jenis hasil karya sastra berjenis prosa fiksi. Sebagai karya sastra, novel menyiratkan berbagai masalah, baik

di bidang sosial, ekonomi, politik, tradisi, budaya, dan lain-lain.

(2)

Novel NMH telah dimuat sebagai cerita bersambung di Harian

Kompas. Novel NMH termasuk

karya sastra bernuansa erotis. Erotisme yang dilakukan tokoh utama, yaitu perempuan. Kebebasan atas tubuh yang dilakoni oleh perempuan dalam novel NMH, akan menarik jika dilihat dari kacamata feminisme, khususnya feminisme liberal. Sehingga, Kehadiran novel yang bernuansa erotis dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia modern perlu dikaji, salah satunya novel NMH karya Remy Sylado. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian dengan judul “Erotisme Tokoh Utama Dalam Novel Namaku Mata Hari Karya Remy Sylado; Tinjauan Feminisme Liberal”

KAJIAN PUSTAKA Erotis

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 380—381), kata erotisme berasal dari kata erotis. Kata erotis berarti berkenaan dengan sensasi seks yang menimbulkan rangsangan; bersifat merangsang nafsu berahi. Berbeda dengan

erotisme, yang artinya adalah keadaan bangkitnya nafsu berahi; keinginan akan seks secara terus-menerus

Dalam konteks ini, Holman (dalam Zaidan 1998: 30) membagi bentuk erotis menjadi dua yaitu:

1. erotisme Literal yaitu

erotisme yang

memperlakukan aspek cinta seksual dalam tataran sebagai aspek estetik, tematik karya sastra itu sendiri.

2. Nonerotisme mengungkapkan unsur erotis dalam karya sastra yang bertujuan mengekspos unsur itu sendiri. Perilaku seksual tokoh ditampilkan secara vulgar, mencolok dan dengan memajangkan bagian tubuh. Sehingga, untuk lebih mendukung kesesuaian konsep, maka istilah nonerotisme diganti menjadi erotisme vulgar.

Feminisme Liberal

(3)

menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Feminisme adalah teori tentang persamaan antara laki-laki dan wanita di bidang politik, ekonomi, pendidikan dan sosial; atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan wanita (Geofe, dalam Sugihastuti, 2000: 21).

Wiyatmi (2012: 11) menyatakan Feminisme muncul pertama kali di Amerika, Eropa, dan Prancis, Feminisme telah mengalami perkembangan dan penyebaran pesat ke berbagai negara di penjuru dunia. Berbicara tentang feminisme, kiranya bukan saja berbicara tentang penguasaan manusia atas manusia lain atau sesamanya).

Feminisme terbagi atas beberapa gelombang, diantaranya adalah feminisme gelombang pertama, yang mencakup aliran feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme anarkis, feminisme marxist, dan feminisme sosialis. Selanjutnya di gelombang kedua mencakup feminisme eksistensial dan feminisme gynosentris.

Kemudian gelombang ketiga yang mencakup feminisme postmodern, feminisme multikultural, feminisme global, dan ekofeminisme dengan beragam macam variasinya. Penelitian ini menggunakan tinjauan feminisme liberal pada gelombang pertama.

(4)

dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kritik sastra

feminis yang berfokus pada gagasan feminisme liberal, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisisnya pada perempuan.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode pustaka (Mestika Zed, 2004:3). Adapun langkah yang peneliti lakukan adalah;

1. Membaca dan memahami isi novel;

2. Setelah itu, peneliti membaca referensi yang berhubungan dengan bentuk erotisme yang

ditinjau dari feminisme liberal;

3. Mencatat, menandai, data yang berhubungan dengan masalah penelitian, apabila

data sudah terkumpul, data-data tersebut diklasifikasikan dan dicatat dalam tabel data untuk kepentingan analisis.

Teknik Analisis Data

Berdasarkan pendapat Miles dan Huberman (2009:15-21) analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu.

1. Reduksi DataFormat Pengumpulan Data

(5)

Tahap ini adalah suatu bentuk analisis yang mengklasifikasikan, dan mengorganisasikan data sehingga kesimpulan akhirnya dapat ditarik. Setelah data diklasifikasikan, kemudian menyeleksi bagian-bagiannya sesuai dengan data yang digunakan. Selanjutnya, data-data yang telah diseleksi diidentifikasikan dengan erotisme tokoh utama yang akan dianalisis.

2. Penyajian Data

Setelah data ditandai, kemudian data disajikan dalam sebuah tabel data (lihat lampiran 3). Melalui

tabel data tersebut data dianalisis sesuai dengan erotisme yang dilakukan tokoh utama.

3. Penarikan kesimpulan/ verifikasi

Kesimpulan dalam penelitian ini diperoleh dari data-data

yang telah diolah dan dianalisis pada tahap sebelumnya. Dalam tahap ini digunakan teknik penarikan kesimpulan induktif, yaitu teknik penarikan kesimpulan yang melihat permasalahan dari data yang bersifat khusus untuk memperoleh kesimpulan yang bersifat umum.

HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai bentuk erotisme dalam novel Namaku Mata Hari Karya

Remy Sylado dapat dilihat dalam

(6)

menggunakan kata-kata yang tidak senonoh.

Hasil dari penelitian ini berupa pendeskripsian bentuk erotisme tokoh utama dalam novel NMH dan erotisme sebagai strategi yang dilakukan Mata Hari. Disesuaikan dengan tulisan Holman yang menjadi salah satu acuan teoretis dalam penelitian ini, bentuk erotisme dalam novel

NMH karya Remy Sylado ada dua. Kedua hal itu adalah erotisme literal dan erotisme vulgar.

Pertama, erotisme literal.

Bentuk erotisme literal yang mengarah pada penggambaran seksual seperti bercumbu, bersenggama, berciuman. Kedua, erotisme vulgar yang didefinisikan mencakup bentuk-bentuk yang lebih kasar yang bertujuan mengekspos unsur itu sendiri. Contohnya dengan menggunakan kata-kata penis, vagina, selangkang.Kedua bentuk erotisme tersebut dapat diperoleh dari dialog, monolog, prolog, dan narasi si pengarang yang terdapat dalam novel NMH karya Remy Sylado.

Selanjutnya, penelitian mengenai erotisme sebagai strategi yang dilakukan oleh Mata Hari menghasilkan dua temuan. Temuan yang dimaksud adalah tubuh dan pikiran/rasio. Pertama, dalam novel

NMH, pengarang mendeskripsikan bahwa sosok Mata Hari adalah perempuan yang cerdas. Kedua, Mata Hari memiliki strategi-strategi untuk menjalankan misinya. Strategi ini memiliki hubungan pada wacana feminisme.

Melalui strategi, Mata Hari mampu mengatasi sekat-sekat patriarki yang selama ini memposisikan dirinya untuk tidak mampu mengakomodir keuntungan. Maka dari itu, strategi tersebut dapat dibaca sebagai salah satu model feminisme, bahwa Mata Hari tidak hanya ‘melacurkan diri’ tetapi dia menawarkan suatu upaya untuk No Cara Bentuk

Tubuh Rasio

Jum lah 1 Menari

2 Melacur

(7)

menundukkan laki-laki dengan erotisme, melalui tubuh.

Tubuh yang dalam praktiknya, dipergunakan Mata Hari sebagai strategi untuk memunculkan dinamika dirinya di hadapan kepentingan-kepentingan patriarki. Mata Hari melakukan strategi untuk membangun wacana feminisme. Strategi melalui tubuh yang berwujud erotisme, tubuh sebagai alat penaklukan dan pendekonstruksi dominasi patriarki. Dalam novel

NMH karya Remy Sylado Mata Hari dideskripsikan menjadi seorang istri, lalu menjadi ibu rumah tangga, penari, pelacur, dan yang terakhir sebagai agen ganda. Ada perbedaan seorang ibu rumah tangga yang biasa, dibandingkan Mata Hari sebagai ibu rumah tangga. Perbedaannya, dinamika antara seorang ibu dan seorang pelacur sekaligus agen ganda tentu berbeda. Persinggungan ibu rumah tangga hanya mencakup tetangga, rumah, suami, anak, lingkungan, sementara Mata Hari melampaui ruang yang sangat luas. Maka dari itu, Mata Hari juga perlu membekali dirinya dengan

pikiran/rasio. Melalui erotisme, ada tiga cara yang dilakukan Mata Hari sebagai strategi untuk menjalankan misinya, yaitu menari, melacur, dan berkamuflase. Dengan tubuh, Mata Hari menari dan melacur. Dengan pikiran, Mata Hari berkamuflase untuk mengelabui kaum patriarki.

KESIMPULAN dan SARAN Kesimpulan

(8)

Saran

Erotisme dalam sebuah karya sastra merupakan objek yang menarik untuk diteliti. Untuk itu, peneliti sangat mengharapkan bahwa penelitian tentang erotisme dalam karya sastra, khususnya novel dapat diteliti lebih mendalam. Tujuannya, untuk menambah referensi keilmuan di bidang sastra Indonesia murni, mengenai feminisme. Novel Namaku Mata Hari karya Remy Sylado merupakan karya sastra yang secara kompleks telah mengusung nilai-nilai erotis pada kaum perempuan. Hal tersebut dapat memberikan peluang untuk meneliti novel ini dari tinjauan feminis.

DAFTAR PUSTAKA

KBBI, Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Ed 4. Luring. Zaidan Rozak Abdul, dkk. 1998.

Unsur Erotisme dalam Cerpen

Indonesia 1950- 1n. Jakarta:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Zed, Mestika. 2004. Metode

Penelitian Kepustakaan. Jakarta:

Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Sugihastuti, 2000. Rona Bahasa dan

Sastra Indonesia.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wiyatmi. 2012. Kritik Sastra Feminis Teori dan Aplikasinya

dalam Sastra Indonesia.

Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Miles, M.B dan Huberman. 2009.

Analisis Data Kualitatif. Terjemahan

Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia. Moleong, Lexy J. 2001. Metodologi

Penelitian Kualitatif. Bandung:

(9)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : FEMINISME LIBERAL Remy Sylado