UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETIL ASETAT TERAKTIF DAUN DANDANG GENDIS (Clinacanthus nutans) MENGGUNAKAN UJI LETALITAS LARVA UDANG DWI CAHYA AGUSTINA

24 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETIL ASETAT TERAKTIF

DAUN DANDANG GENDIS (

Clinacanthus nutans

)

MENGGUNAKAN UJI LETALITAS LARVA UDANG

DWI CAHYA AGUSTINA

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

(2)

ABSTRAK

DWI CAHYA AGUSTINA. Uji Toksisitas Ekstrak Etil Asetat Teraktif Daun Dandang

Gendis (

Clinacanthus nutans

) Menggunakan Uji Letalitas Larva Udang. Dibimbing oleh

DUDI TOHIR dan GUSTINI SYAHBIRIN.

Dandang gendis (

Clinacanthus nutans

) merupakan tumbuhan obat yang biasa

digunakan masyarakat sebagai obat tradisional untuk antimalaria dan antidiabetes.

Penelitian diawali dengan maserasi serbuk daun dandang gendis menggunakan etanol,

kemudian ekstrak kasar etanol dipartisi menggunakan

n

-heksana. Fraksi etanol bebas

senyawa nonpolar kemudian dipartisi menggunakan etil asetat. Uji toksisitas

menggunakan uji letalitas larva udang terhadap ekstrak kasar etanol, fraksi

n

-heksana,

dan fraksi etil asetat. Fraksi etil asetat memiliki aktivitas paling tinggi dengan konsentrasi

mematikan 50%

sebesar 64.32 mg/L. Ekstraksi kembali fraksi etanol bebas senyawa

nonpolar menggunakan pelarut etil asetat dengan kondisi waktu ekstraksi 90 menit,

jumlah ekstraksi 3 kali, dan nisbah sampel:pelarut 1:2 menghasilkan nilai LC

50

sebesar

29.02 mg/L. Hasil uji fitokimia positif saponin, alkaloid, steroid, dan flavonoid.

Kandungan flavonoid ekstrak etil asetat re-ekstraksi lebih besar dibandingkan kandungan

flavonoid ekstrak etil asetat pada ekstraksi awal.

ABSTRACT

DWI CAHYA AGUSTINA. Toxicity Assay of The Most Active Ethyl Acetate Extract

from

Clinacanthus nutans

Leaves by Using Brine Shrimp Lethality Test. Supervised by

DUDI TOHIR and GUSTINI SYAHBIRIN.

Dandang gendis

(

Clinacanthus nutans

) is a medical herb commonly used as a traditional

medicine as antimalarial and antidiabetic. This study was started with maceration of the

dried leaves of dandang gendis with ethanol,and then partitioned using

n

-hexane. The

ethanol extract free of nonpolar compounds was then partitioned with ethyl acetate. The

ethanol crude extract,

n

-hexane fraction, and ethyl acetate fraction were tested by using

brine shrimp lethality test to determine the toxicity of each extract. The ethyl acetate

fraction showed the highest activity with 50% lethal concentration (LC

50

) of 32 mg/L.

Re-extraction of ethanol extract free of nonpolar compounds by using ethyl acetate in 90

minutes by three times extraction with material:solvent ratio of 1:2 resulted LC

50

value of

29.02 mg/L. Phytochemical assay results showed that the ethyl acetate extract of

dandang

gendis

leaves contained saponins, alkaloids, steroids, and flavonoids. Re-extraction of

ethyl acetate extract contained higher flavonoids than ethyl acetate extract from the first

extraction.

(3)
(4)

UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETIL ASETAT TERAKTIF

DAUN DANDANG GENDIS (

Clinacanthus nutans

)

MENGGUNAKAN UJI LETALITAS LARVA UDANG

DWI CAHYA AGUSTINA

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Sains pada

Departemen Kimia

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

(5)

Judul Skripsi : Uji Toksisitas Ekstrak Etil Asetat Teraktif Daun Dandang Gendis

(

Clinacanthus nutans

) Menggunakan Uji Letalitas Larva Udang

Nama

: Dwi Cahya Agustina 

NIM : G44052565

Disetujui,

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs Dudi Tohir, MS

Dr Gustini Syahbirin, MS

NIP 19571104 198903 1 001 NIP 19600819 198903 2 002

Diketahui,

Ketua Departemen Kimia

Prof Dr Ir Tun Tedja Irawadi, MS

NIP 19501227 197603 2 002

(6)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah

yang berjudul Uji Toksisitas Ekstrak Etil Asetat Teraktif Daun Dandang Gendis

(

Clinacanthus nutans

) Menggunakan Uji Letalitas Larva Udang merupakan salah

satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sains pada Departemen Kimia FMIPA

IPB.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs Dudi Tohir, MS dan

Ibu Dr Gustini Syahbirin, MS sebagai pembimbing yang telah memberikan

arahan, saran, dan dorongan selama pelaksanaan penelitian dan penulisan karya

ilmiah ini. Ungkapan terima kasih penulis sampaikan kepada keluarga tercinta,

Bapak, Ibu,

Mba

Eka,

Mas

Didi, Yoga, dan Rara yang selalu memberikan

semangat, doa, dan kasih sayang dalam berbagai bentuk yang tak pernah putus.

Penulis mengucapkan terima kasih juga kepada

Kak

Budi Arifin, SSi, MSi, Pak

Sabur, Ibu Yeni, Ibu Aah,

Teh

Nia dan seluruh staf Laboratorium Kimia Organik

atas fasilitas dan bantuan yang diberikan selama penelitian. Ucapan terima kasih

tak lupa penulis berikan kepada

Mba

Sherly, Vicky, Rita, Irma, Gae, Ayu, dan

Noe yang turut membantu, memberikan semangat dan dukungannya dalam

penyusunan karya ilmiah, serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan

satu per satu. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat.

Bogor, September 2012

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Cirebon pada tanggal 15 Agustus 1986 sebagai putri

kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Agnan Lukito dan Kusriyati Tedas.

Tahun 2004 penulis lulus dari SMU Negeri 2 Brebes dan pada tahun 2005

lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Seleksi

Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Penulis memilih Program Studi Kimia,

Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah menjadi asisten praktikum

Kimia Organik (2008/2009), Kimia Lingkungan (2008/2009), Kimia Dasar

(2010/2011). Bulan Juli - Agustus 2008, penulis melaksanakan praktik lapangan

di di Unit Pelaksana Teknis Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

(8)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

PENDAHULUAN ... 1

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat ... 2

Penentuan Kadar Air ... 2

Ekstraksi ... 2

Uji Fitokimia ... 2

Uji Toksisitas ... 2

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kadar Air ... 3

Ekstrak ... 3

Hasil Uji Fitokimia ... 3

Hasil Uji Toksisitas ... 4

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan ... 4

Saran ... 5

DAFTAR PUSTAKA ... 5

(9)

vii

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Hasil uji fitokimia ekstrak etanol ... 3

2 Hasil uji fitokimia ekstrak etil asetat awal dan re-ekstraksi... 4

3 Nilai LC

50

hasil ekstraksi daun dandang gendis . ... 4

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Daun dandang gendis. ... 1

2

Struktur 5 senyawa dandang gendis yang mengandung sulfur

... 1

3

A. salina

... 4

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Diagram alir penelitian ... 8

2 Uji fitokimia ... 9

3 Pembuatan stok ekstrak 5000 ppm dan penetasan larva

A. salina

... 9

4 Uji toksisitas terhadap

A. salina

... 9

5 Penentuan kadar air ... 10

6 Rendemen ekstrak etanol ... 10

7 Hasil uji fitokimia ... 11

8 Data uji toksisitas ekstrak etil asetat daun dandang gendis pada

A salina

... 12

9 Data uji toksisitas ekstrak etil asetat daun dandang gendis pada

A salina

menggunakan parameter waktu ekstraksi 90 menit, jumlah ekstraksi 3 kali, dan

nisbah sampel:pelarut 1:2 ... 13

(10)
(11)

1

PENDAHULUAN

Dandang gendis (Gambar 1) merupakan salah satu tumbuhan obat tradisional yang lazim digunakan masyarakat sebagai antidiabetes dan antimalaria. Kemampuan ekstrak daun dandang gendis sebagai obat alami dikarenakan terdapat kandungan senyawa bioaktif di dalamnya. Dandang gendis yang termasuk ke dalam famili Acanthaceae memiliki banyak kandungan kimia seperti alkaloid, flavonoid, dan terpenoid (Suharty 1984).

Gambar 1 Daun dandang gendis. Berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan khasiat ekstrak daun dandang gendis. Ekstrak etanol dapat dijadikan sebagai antimalaria dan antimikrob karena mengandung senyawa trans -3-metilsulfonil-2-propenol dan trans-3-metilsulfinil-2-propenol (Tuntiwachwuttikul et al. 2003). Ekstrak daun dandang gendis berpotensi sebagai antikanker (Sofyan 2008), larvasida Aedes aegypti

(Andriani 2008), antivirus Herpes simplex

(Yoosook et al. 1999; Thongchai et al. 2008), dan antioksidan (Pannangpetch et al. 2007; Akbar 2010; Agustina 2011). Ekstrak air dari daun dandang gendis juga berpotensi sebagai antidiabetes, dibuktikan setelah pemberian glukosa 2 g/kg (b/b) terjadi penurunan kadar glukosa darah pada mencit (Nurulita 2005).

Penelitian Teshima et al. (1997) menunjukkan 6 senyawa dalam ekstrak n -butanol daun dan batang dandang gendis, yaitu senyawa C-glikosil flavon, viteksin, isoviteksin, shaftosida, isomolupentin 7-Ο-β -glukopiranosida, dan orientin. Penelitian lanjutan Teshima et al. (1997) juga menghasilkan 5 senyawa yang mengandung sulfur dengan rumus molekul diantaranya C10H18O8S (1), C10H18O7S (2), C12H21NO8S

(3), C10H18O8S (4), dan C10H18O8S (5).

(Gambar 2).

Gambar 2 Struktur 5 senyawa dandang gendis yang mengandung sulfur (Teshima

et al. 1997)

Salah satu metode untuk menentukan potensi bioaktif ekstrak tanaman adalah uji kematian larva udang atau brine shrimp lethality test (BSLT). Metode ini memiliki beberapa kelebihan antara lain sederhana, cepat, tidak memerlukan peralatan khusus, dan hanya menggunakan sedikit ekstrak contoh. Uji ini tidak spesifik untuk antitumor, tetapi kemampuannya mendeteksi 14 dari 24 ekstrak Euphorbiaceaeyang aktif terhadap uji leukemia secara in vivo pada mencit dan mendeteksi 2 dari 6 spesies yang aktif terhadap uji karsinoma nasofaring menunjukkan bahwa uji ini dapat dipakai untuk penapisan awal senyawa bioaktif (Meyer et al. 1982).

Penelitian Setiawan (2009) meragamkan parameter suhu, jumlah ekstraksi, dan nisbah sampel:pelarut menghasilkan nilai konsentrasi mematikan 50% (LC50) terendah sebesar

59.15 mg/L pada suhu 40 ºC, nisbah sampel:pelarut 1:4, dan jumlah ekstraksi 3 kali. Penelitian ini melanjutkan penelitian Setiawan (2009) dengan modifikasi parameter yang digunakan meliputi waktu ekstraksi, jumlah ekstraksi, dan nisbah sampel:pelarut. Metode ekstraksi yang digunakan dalam

(12)

2

penelitian ini adalah ekstraksi padat-cair secara maserasi, dilanjutkan dengan ekstraksi cair-cair untuk memperoleh ekstrak paling aktif. Ekstrak paling aktif berdasarkan uji BSLT kemudian di re-ekstraksi dan ditentukan kembali nilai LC50 dengan parameter waktu

ekstraksi 90 menit, jumlah ekstraksi 3 kali, dan nisbah sampel:pelarut 1:2. Re-ekstraksi dengan perlakuan 3 parameter tersebut diharapkan meningkatkan bioaktivitas ekstrak terhadap hewan uji. Penelitian ini bertujuan menentukan nilai LC50 ekstrak teraktif daun

dandang gendis berdasarkan BSLT.

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan adalah daun dandang gendis dari daerah Batuhulung Bogor, A. salina, serbuk Mg, pereaksi Meyer, Dragendorf, Wagner, Lieberman-Buchard, FeCl3 1%, dan air laut.

Alat-alat yang digunakan adalah peralatan kaca, mikropipet, pelat tetes, penguap putar, sumur uji BSLT, dan peralatan penetasan telur

A. salina.

Penentuan Kadar Air

Pinggan porselen dikeringkan pada suhu 105 ºC selama 30 menit, didinginkan dalam eksikator, dan ditimbang. Daun yang telah dikeringudarakan kurang lebih sebanyak 3 g dimasukkan ke dalam pinggan, dikeringkan pada suhu 105 ºC selama 3 jam, didinginkan dalam eksikator dan ditimbang. Pengeringan diulangi lagi selama 3 jam pada suhu 105 ºC, didinginkan, kemudian ditimbang kembali. Prosedur ini diulangi hingga didapat bobot yang tetap (stabil). Kadar air dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

Keterangan:

a = bobot contoh awal (g)

b = bobot contoh akhir (g)

Ekstraksi

Sebanyak 400 g serbuk daun dandang gendis dimaserasi beberapa kali hingga filtrat tidak berwarna hijau lagi. Filtrat disaring dengan kertas saring lalu dipekatkan pada suhu 40 oC. Ekstrak etanol yang diperoleh

diuji BSLT dan fitokimia (Lampiran 1) kemudian dipartisi menggunakan n-heksana. Fraksi n-heksana dipekatkan lalu diuji BSLT dan fitokimia. Fraksi etanol bebas senyawa nonpolar ditambahkan air dan dipartisi menggunakan etil asetat. Dihasilkan fraksi etil asetat dan fraksi etanol-air. Kedua fraksi tersebut juga dipekatkan dan diuji BSLT dan fitokimia. Fraksi paling aktif dari hasil uji di re-ekstraksi menggunakan 3 parameter yaitu waktu ekstraksi 90 menit, nisbah sampel:pelarut 1:2, dan jumlah ekstraksi 3 kali, lalu ditentukan kembali nilai LC50.

Uji Fitokimia

Uji fitokimia (flavonoid, alkaloid, saponin, triterpenoid, steroid, dan tanin) dilakukan berdasarkan prosedur Harborne (1987) (Lampiran 2)

Uji Toksisitas

Sepuluh ekor A. salina yang telah ditetaskan dimasukkan ke dalam sumur uji BSLT yang berisi air laut dan dibuat konsentrasi ekstrak 0, 10, 100, 500, dan 1000 mg/L (Lampiran 3 dan 4). Pengamatan dilakukan 24 jam setelah penetasan dengan menghitung jumlah A. salina yang mati dengan bantuan kaca pembesar. Data persen mortalitas diolah menggunakan analisis probit dengan tingkat kepercayaan 95%. Kurva penentuan LC50 dibuat menghubungkan log

konsentrasi dengan nilai probit. Nilai LC50

diperoleh dengan menarik garis bantu pada titik tengah sumbu probit dan sumbu log konsentrasi pada kurva.

(13)

3

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kadar Air

Daun dandang gendis yang telah dikering kan dan digiling menjadi serbuk ditentukan kadar airnya menggunakan metode gravimetri taklangsung pada suhu 105 ºC. Kadar air yang ditentukan adalah yang terikat secara fisik dan dapat dihilangkan pada suhu 100 - 105 ºC (Harjadi 1993). Kadar air digunakan sebagai parameter ketahanan bahan dalam penyimpanan dan sebagai faktor koreksi untuk rendemen. Menurut Winarno (1997), apabila kadar air suatu bahan kurang dari 10%, pertumbuhan mikrob dapat dihindari sehingga bahanl dapat disimpan dalam waktu relatif lama.

Kadar air daun dandang gendis kering diperoleh sebesar

9.69%

(Lampiran 5). Hasil ini masih di bawah 10% sehingga sampel dapat disimpan dalam waktu relatif lama.

Ekstrak

Proses diawali dengan maserasi sampel menggunakan etanol. Maserasi dilakukan berulang kali sampai filtrat tidak berwarna hijau lagi, sehingga dapat dianggap semua senyawa yang berbobot molekul rendah telah terekstraksi (Harborne 1987). Penggunaan etanol yang bersifat polar didasarkan pada sifat senyawa polar yang akan diekstraksi yaitu flavonoid, alkaloid, tanin. Diharapkan semua senyawa tersebut dapat terekstraksi dengan baik oleh pelarut dengan sifat kepolaran yang sama. Selain itu etanol memiliki titik didih yang rendah sehingga mudah diuapkan kembali, dan sifatnya tidak setoksik pelarut polar lainnya seperti metanol. Maserasi dengan etanol menghasilkan rendemen sebesar 25.46%(Lampiran 6).

Ekstrak etanol selanjutnya dipartisi dengan

n-heksana untuk menarik senyawa nonpolar. Fraksi etanol bebas senyawa nonpolar ditambahkan akuades dan dipartisi kembali dengan etil asetat. Akuades ditambahkan untuk meningkatkan kepolaran, sebab etil asetat memiliki kepolaran yang tidak jauh berbeda dengan etanol. Hal ini dapat memperjelas batas pemisahan pada proses partisi etil asetat (Afif 2006).

Parameter waktu re-ekstraksi dipilih 90 menit karena pada saat itu ekstrak telah menjadi lebih jernih dibandingkan dengan waktu ekstraksi 30 dan 60 menit. Semakin lama waktu ekstraksi semakin banyak senyawa bioaktif akan terambil, ditandai dengan perubahan warna ekstrak. Demikian pula dengan jumlah ekstraksi, ekstraksi beberapa kali dengan sedikit pelarut lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan pelarut dalam jumlah banyak sekaligus.

Hasil Uji Fitokimia

Uji kualitatif fitokimia digunakan untuk mengetahui jenis senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak. Golongan senyawa dapat ditentukan dari perubahan warna setelah penambahan pereaksi spesifik untuk setiap uji kualitatif. Hasil uji fitokimia ekstrak kasar daun dandang gendis (Tabel 1) ialah terbentuknya warna putih, cokelat, dan jingga dengan pereaksi Meyer, Wagner, dan Dragendorf; terbentuk buih yang stabil setelah pengocokan; terbentuk warna jingga pada lapisan amil alkohol; terbentuk warna hijau dengan pereaksi Lieberman-Buchard; dan warna hitam dengan FeCl3 1%. Hasil ini

berturut-turut menunjukkan bahwa ekstrak kasar daun dandang gendis positif mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, steroid, dan tanin. Sementara ekstrak etil asetat hasil re-ekstraksi mengandung alkaloid, saponin, steroid, dan flavonoid (Tabel 2). Kandungan flavonoid ekstrak etil asetat re-ekstraksi lebih besar daripada kandungan flavonoid ekstrak etil asetat awal, terlihat dari lebih pekatnya warna yang dihasilkan. Gambar hasil uji fitokimia dapat dilihat pada Lampiran 7.

Tabel 1 Hasil uji fitokimia ekstrak etanol Golongan Senyawa Etanol

Alkaloid +++ Saponin +++ Flavonoid +++ Triterpenoid - Steroid +++ Tanin +++

(14)

4

Tabel 2 Hasil uji fitokimia ekstrak etil asetat awal dan re-ekstraksi

Golongan

Senyawa Etil Asetat Awal

*Etil Asetat Re-ekstraksi Alkaloid ++ ++ Saponin ++ ++ Flavonoid ++ +++ Triterpenoid - - Steroid ++ ++ Tanin ++ - Keterangan : *re-ekstraksi dilakukan pada kondisi

waktu ekstraksi 90 menit, jumlah ekstraksi 3 kali, dan nisbah sampel:pelarut 1:2

Hasil Uji Toksisitas

Proses penetasan larva udang A. salina

(Gambar 3) menggunakan air laut dengan bantuan aerator untuk menjaga kadar oksigen yang terlarut. Gelembung udara dari aerator juga berfungsi untuk mengaduk telur agar tidak mengendap di dasar wadah. Telur akan sulit menetas jika oksigen dalam air kurang. Penyinaran selama proses penetasan berfungsi menjaga kondisi air laut agar tetap hangat. Umur larva udang yang digunakan adalah 24 jam setelah menetas. Kondisi membran sel larva udang pada umur tersebut masih lunak sehingga memudahkan senyawa asing dalam air laut masuk dan menyebabkan kematian. Kematian larva udang yang disebabkan masuknya senyawa asing dijadikan dasar untuk pengujian toksisitas ekstrak aktif daun dandang gendis dalam penelitian ini.

Gambar 3 A. salina.

Suatu senyawa memiliki potensi bioaktif jika nilai LC50-nya di bawah 1000 mg/L. Hasil

pengujian toksisitas larva udang ekstrak kasar (fraksi etanol), fraksi n-heksana, fraksi etanol-air, fraksi etil asetat, dan fraksi etil asetat re-ekstraksi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Nilai LC50 hasil ekstraksi daun

dandang gendis Pelarut LC50 (mg/L) Etanol n-heksana Etanol-air Etil asetat

Etil asetat re-ekstraksi

124.42 668.95 276.94 64.32 29.02

LC50 yang diperoleh menunjukkan bahwa

semua ekstrak memiliki potensi bioaktif. Ekstrak etil asetat paling aktif dengan nilai LC50 64.32 mg/L (Lampiran 8). Selanjutnya

dilakukan re-ekstraksi terhadap fraksi paling aktif dengan menggunakan 3 parameter, yaitu waktu ekstraksi 90 menit, jumlah ekstraksi 3 kali, dan nisbah sampel:pelarut 1:2 yang kemudian ditentukan kembali nilai LC50 nya.

Ekstrak etil asetat hasil re-ekstraksi menghasilkan nilai LC50 sebesar 29.02 mg/L

dengan R2 = 99.2% (Lampiran 9). LC 50 yang

dihasilkan lebih rendah dari penelitian Setiawan (2009) yang menggunakan parameter suhu 40 ºC, nisbah sampel:pelarut 1:4, dan jumlah ekstraksi 3 kali dan menghasilkan nilai LC50 sebesar 59.15 mg/L.

Setelah dilakukan re-ekstraksi, nilai LC50

fraksi etil asetat turun menjadi 29.02 mg/L. Semakin kecil nilai LC50, semakin tinggi

aktivitasnya. Hal ini menunjukkan bahwa lamanya waktu, jumlah ekstraksi, dan nisbah sampel:pelarut dapat meningkatkan keaktifan ekstrak dalam penelitian ini. Turunnya nilai LC50 dapat juga disebabkan karena kandungan

flavonoid ekstrak etil asetat hasil re-ekstraksi lebih besar dibandingkan dengan kandungan flavonoid pada ekstrak etil asetat awal. Keaktifan etil asetat hasil re-ekstraksi ini tergolong sangat aktif menurut National Cancer Institute (NCI) Amerika yang menyatakan bahwa standar efektivitas komponen bioaktif untuk melawan sel kanker adalah ≤ 30 mg/L (Albuntana et al. 2011).

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Setelah dilakukan re-ekstraksi, nilai LC50

fraksi etil asetat turun dari 64.32 mg/L menjadi 29.02 mg/L. Hasil uji fitokimia

(15)

5

menunjukkan etil asetat re-ekstraksi mengandung alkaloid, saponin, steroid, dan flavonoid dengan kandungan flavonoid lebih besar dibandingkan kandungan flavonoid ekstrak etil asetat ekstraksi awal.

Saran

Perlu penelitian lanjutan ke arah potensi daun dandang gendis sebagai antikanker secara in vitro menggunakan sel kanker.

DAFTAR PUSTAKA

Afif KH. 2006. Peningkatan kadar kurkumin ekstrak etanol temulawak dengan metode ekstraksi cair-cair [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Agustina S. 2011. Isolasi golongan flavonoid sebagai antioksidan dari daun dandang gendis (Clinacanthus nutans) [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Akbar HR. 2010. Isolasi dan identifikasi golongan flavonoid daun dandang gendis (Clinacanthus nutans) berpotensi sebagai antioksidan [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Albuntana A, Yasman, Wardhana W. 2011. Uji toksisitas ekstrak empat jenis teripang suku Holothuriidae dari Pulau Penjaliran Timur, Kep. Seribu, Jakarta menggunakan BSLT. J Ilmu Teknol Kelautan Trop 3:65-72.

Andriani A. 2008. Identifikasi senyawa golongan aktif ekstrak daun Clinacanthus nutans yang berpotensi sebagai larvasida pada Aedes aegypti [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia.

Padmawinata K, Sudiro I, penerjemah.

Bandung: Institut Teknologi Bandung. Terjemahan dari: Phytochemical Method. Harjadi W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Meyer BN et al. 1982. Brine shrimp: a convenient general bioassay for active plant constituent. Planta Med 45:31-34. Nurulita Y. 2005. Penapisan aktivitas

antidiabetes isolat ekstrak air daun dandang gendis (Clinacanthus nutans) pada mencit Swiss Webster jantan [skripsi]. Bandung: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung.

Pannangpetch P et al. 2007. Antioxidant activity and protective effect against oxidative hemolysis of Clinacanthus nutans (Burm.f) Lindau. J Sci Technol 1: 1-9.

Setiawan I. 2009. Optimalisasi ekstraksi cair-cair fraksi etanol ekstrak daun dandang gendis (Clinacanthus nutans) pada uji toksisitas Artemia salina [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Sofyan D. 2008. Inhibisi fraksi aktif daun dandang gendis (Clinacanthus nutans)

pada pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae sebagai uji potensi antikanker [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Suharty NS. 1984. Isolasi terpenoid dari daun

Clinacanthus nutans [tesis]. Bandung: Program Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung.

Teshima I et al. 1997. Sulfur-containing glucosides from Clinacanthus nutans.

Phytochemistry 48:831-835.

Thongcai S et al. 2008. Anti-herpes simplex virus type 1 activity of crude ethyl acetate extract derived from leaves of

Clinacanthus nutans Lindau. JSci Technol

(16)

6

Tuntiwachwuttikul P, Yupa P, Pootchana P, Thongchai S, Walter CT. 2003. Sulfur-containing compounds from Clinacanthus siamensis [abstrak]. Pharm Soc Japan

51:1423-1425.

Winarno FG. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Yoosook C, Panpisutchai Y, Chaichana S, Santisuk T, Reutrakul V. 1999. Evaluation of anti-HSV-2 activities of Barleria lupulina and Clinacanthus nutans. J Ethnopharmacol 67:179-187.

(17)

7

LAMPIRAN

(18)

8

Lampiran 1 Diagram alir penelitian

Dipekatkan

Uji BSLT

Uji Fitokimia

Fraksi

n

-Heksana

Fraksi Etanol-Air

*Fraksi Etil Asetat

+Akuades

Partisi dengan etil asetat

Maserasi dengan etanol sampai filtrat

tak berwarna

Partisi dengan

n

-heksana

Daun Kering

Ekstrak Etanol

Dipekatkan

Uji Fitokimia

Uji BSLT

Fraksi Etanol

*fraksi paling aktif di re-ekstraksi

menggunakan parameter waktu 90 menit, 3

kali jumlah ekstraksi, dan nisbah

bahan:pelarut 1:2

(19)

9

Lampiran 2 Uji fitokimia

Uji alkaloid

. Sebanyak 0.1 g sampel dilarutkan dalam 10 mL kloroform dan 4 tetes

NH

4

OH kemudian disaring dan filtratnya dimasukkan ke dalam tabung reaksi tertutup.

Ekstrak kloroform dalam tabung reaksi dikocok dengan 6 mL H

2

SO

4

2 M dan lapisan

asamnya dipisahkan ke dalam tabung reaksi yang lain. Lapisan asam ini diteteskan pada

lempeng tetes dan ditambahkan pereaksi Meyer, Wagner, dan Dragendorf yang akan

menimbulkan endapan dengan warna berturut-turut putih, cokelat, dan merah jingga.

Uji saponin dan flavonoid

. Sebanyak 0.1 g sampel dimasukkan ke dalam gelas piala

kemudian ditambahkan 100 mL air panas dan didihkan selama 5 menit. Setelah itu,

disaring dan filtratnya digunakan untuk pengujian. Untuk uji saponin, 10 mL filtrat

dimasukkan ke dalam tabung reaksi tertutup kemudian dikocok selama 10 detik dan

dibiarkan selama 10 menit. Adanya saponin ditunjukkan dengan terbentuknya buih yang

stabil. Sebanyak 10 mL filtrat yang lain ditambahkan 0.5 g serbuk Mg, 1 mL HCl pekat,

dan 1 mL amil alkohol kemudian dikocok dengan kuat. Terbentuknya warna merah,

kuning, dan jingga pada lapisan amil alkohol menunjukkan adanya flavonoid.

Uji triterpenoid dan steroid

. Sebanyak 0.1 g sampel dilarutkan dengan 25 mL etanol

panas (50

o

C) kemudian hasilnya disaring ke dalam pinggan porselen dan diuapkan

sampai kering. Residu ditambahkan eter dan ekstrak eter dipindahkan ke dalam lempeng

tetes kemudian ditambahkan 3 tetes anhidrida asetat dan 1 tetes H

2

SO

4

pekat (uji

Lieberman-Buchard). Warna merah atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid dan

warna hijau atau biru menunjukkan adanya steroid.

Uji Tanin

. Sebanyak 0.1 g sampel ditambahkan 100 mL air panas, dididihkan selama

5 menit, dan disaring. Sebagian filtrat yang diperoleh ditambah larutan FeCl

3

1%.

Terbentuknya warna hitam kehijauan menunjukkan adanya tanin (Harborne 1987).

Lampiran 3 Pembuatan stok ekstrak 5000 ppm dan penetasan larva

A. salina

Pembuatan stok ekstrak 5000 ppm

Ekstrak ditimbang sebanyak 0.25 g lalu dimasukkan ke dalam gelas piala 25 mL yang

berisi air laut kemudian diaduk sampai larut sempurna. Bila tidak larut, ditambahkan

Tween 80 secukupnya. Larutan ekstrak dimasukkan ke dalam labu takar 50 mL lalu ditera

dengan air laut.

Penetasan larva

A. salina

.

Kista

A. salina

yang sudah siap ditetaskan ditimbang sebanyak 50 mg lalu dimasukkan

ke dalam wadah yang berisi air laut yang sudah disaring; setelah itu, diaerasi. Kista

dibiarkan selama 48 jam di bawah pencahayaan lampu agar menetas sempurna. Larva

yang sudah menetas diambil untuk digunakan dalam uji toksisitas.

Lampiran 4 Uji toksisitas terhadap

A. salina

Sebanyak 10 ekor larva

A. salina

dimasukkan ke dalam vial yang berisi air laut

kemudian ditambahkan larutan ekstrak kasar dan ditepatkan volumenya dengan air laut

hingga konsentrasinya menjadi 0, 10, 100, 500, dan 1000 mg/L. Pengamatan dilakukan

setelah 24 jam dengan menghitung jumlah larva yang mati dari total larva yang

dimasukkan ke dalam vial. Pengamatan memakai bantuan lampu neon.

(20)

10

Lampiran 5 Penentuan kadar air

Ulangan

a

(g)

b

(g)

c

(g)

Kadar air

(%

b

/

b

)

1

3.0112

23.8117 23.5198

9.69

2 3.0055

24.8111

24.5091 10.00

3 3.0048

23.4497

23.1482 10.03

Rataan

9.93

Keterangan:

a

: bobot sampel (g)

b

: bobot sampel dan cawan petri sebelum dikeringkan (g)

c

: bobot sampel dan cawan petri setelah dikeringkan (g)

Contoh perhitungan:

Lampiran 6 Rendemen ekstrak etanol

Bobot sampel

= 400.00 g

Bobot labu bulat kosong

= 244.25 g

Bobot labu bulat + isi

= 335.95 g

Bobot isi

= 91.70 g

(21)

11

Lampiran 7 Hasil uji fitokimia

Ekstrak kasar etanol

Meyer Wagner Dragendorf

(Alkaloid) (Steroid)

(Flavonoid)

Ekstrak etil asetat ekstraksi awal

Meyer

Wagner Dragendorf

( Alkaloid)

(Steroid)

(Flavonoid)

Ekstrak etil asetat re-ekstraksi

Meyer Wagner Dragendorff

(Alkaloid) (Steroid)

(22)

12

Lampiran 8 Data uji toksisitas ekstrak etil asetat daun dandang gendis pada

A. salina

10 0 0 10 0 10 0 10 2 20 10 10 2 20 16.67 4.05 1 10 1 10 10 4 40 100 10 5 50 53.33 5.08 2 10 7 70 10 8 80 500 10 8 80 83.33 5.95 2.6989 10 9 90 10 9 90 1000 10 10 100 96.67 6.88 3 10 10 100 Log (mg/L) Konsentrasi (mg/L) Jumlah Larva Artemia Jumlah yang mati %Mortalitas Rerata Probit

Contoh perhitungan:

Konsentrasi 10 ppm ulangan 1

Keterangan:

Nilai probit diperoleh dengan merefleksikan nilai % mortalitas ke dalam tabel probit,

kemudian dibuat kurva linear hubungan antara log konsentrasi dengan nilai probit.

Persamaan garis yang diperoleh:

(23)

13

Lampiran 9 Data uji toksisitas ekstrak etil asetat daun dandang gendis pada

A salina

menggunakan parameter waktu ekstraksi 90 menit, jumlah ekstraksi 3 kali,

dan nisbah sampel:pelarut 1:2

10 0 0 10 0 10 0 10 3 30 10 10 4 40 33.33 4.56 1 10 3 30 10 7 70 100 10 6 60 70 5.52 2 10 7 70 10 9 90 500 10 9 90 86.67 6.13 2.6989 10 8 80 10 10 100 1000 10 10 100 100 8 3 10 10 100

Konsentrasi (mg/L) Jumlah Larva Artemia Jumlah yang mati %Mortalitas Rerata Probit Log (mg/L)

Nilai probit diperoleh dengan merefleksikan nilai % mortalitas ke dalam tabel probit,

kemudian dibuat kurva linear hubungan antara log konsentrasi dengan nilai probit.

Persamaan garis yang diperoleh:

(24)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :