59
Dalam melakukan analisa saham harus dicari nilai intrinsik dari saham yang akan dibeli, tujuan dari melakukan analisa ini adalah untuk mengetahui tingkat pengembalian/keuntungan yang diharapkan. Ada dua cara untuk bisa memahami perusahaan dan lingkunganya yaitu denganTop-Down Approach, dimana dengan melihat faktor ekonomi terlebih dahulu untuk mengetahui industry atau sector usaha yang bagus pada saat itu. Yang kedua adalah Bottom-Up Approach yang merupakan kebalikan dari metode Top-Down Approach.Dalam metode ini, investor sudah yakin memiliki saham incaran.
Dari pengertian diatas, dalam analisa ini kita menggunakan Top-Down Approachkarena saham yang akan kita analisa sudah ada informasinya (PT. Indosat Tbk) analisa Top-Down Approachsaya sengaja tampilkan untuk memberikan perpektif secara keseluruahn perekonomian Indonesia pada 20014 sehingga akan bisa memberikan gambaran secara obyektif tentang nilai intrinsik saham tersebut
5.1 Analisis Makro Ekonomi Indonesia
Analisis makro ekonomi dapat dianalisis melalui beberapa indikator diantaranya adalah pendapatan domestik bruto, pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, stabilitas mata uang, sentiment pasar, dan lain- lain. Rangkain
sentimen-sentimen tersebut merupakan bagian yang saling terkait dan saling mempengaruhi satu dengan lainya.
Tabel 5.1 Indikator Ekonomi Indonesia (2009-2014)
Komponen 2009 2010 2011 2012 2013 Q2-2014 Inflasi (%) 2,78 6,96 3,79 4,61 8,38 6,7 Pertumbuhan Ekonomi (%) 4,6 6,1 6,5 6,17 5,78 5,12 PDB (RP Triliun) 5.606,10 6.436,30 7.427,10 6.151,60 2.770,30 2.480,80 BI Rate (%) 6,50 6,50 6,00 5,75 7,5 7,5 Rp/USD 9400 8.991 9.068 9.608 10.445 11.800 Cadangan Devisa (Juta US$) 66.104,90 96.207 110.123 110.297 99,4 105,6 Sumber : Dikutip dari Berbagai Sumber (2014)
Pertumbuhan ekonomi dapat berkaitan dengan nilai beli suatu negara. Ketika perekonomian kuat maka permintaan akan produk suatu perusahaan juga kuat, dan labanya menjadi relatif lebih tinggiPertumbuhan rata-rata pada tahun 2009 sampai dengan 2013 adalah 5.83%, sedangkan pertumbuhan ekonomi negara paling rendah pada tahun 2009 yaitu 4.7% dan pertumbuhan ekonomi tinggi dialami pada tahun 2011 yaitu sebesar 6.5%.pada Tabel 5.1 pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Q2-2014 mencapai 5.12 %. Angka tersebut berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada Q2-2014 mencapai Rp 2. 480,8 triliun meningkat dibanding Q1-2014 yang sebesar Rp 2.404 triliun. Tingkat pertumbuhan disuport oleh sektor pengangkutan dan komunikasi yang tumbuh 9.53% bila dibandingkan Q1-2014 (q-to-q)
Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam lima tahun terakhir selalu melesat dari target. Melemahnya investasi serta ekspor menjadi salah satu penyebabnya.Investasi melambat karena keputusan pemerintah menaikan suku bunga rate.Sementara ekspor anjlok karena pemberlakuan larangan ekspor mineral mentah menyusul diberlakukanya UU No 4 tahun 2009 mengenai minerba. Kondisi politik Indonesia dimana tahun 2014 ada pemilihan presiden juga mempengaruhi investor untuk masuk keindonesia.Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar menjadikan pukulan telak bagi dunia telekomunikasi, saat ini Indosat mencatatkan utang perusahaan sebesar US$850 juta jumlah tersebut 50% dari total hutang perusahaan.
5.2 Perkembangan Industri Telekomunikasi
Perkembangan industri telekomunikasi memasuki masa peralihan dari kebutuhan tersier ke kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia.Tingkat pertumbuhan yang mencapai 7-12% pada 2013 menandakan bahwa pasar terus tumbuh baik dari jumlah pelanggan maupun revenue yang didapat bagi operator telekomunikasi. Peningkatan Jumlah pelanggan yang mencapai 200 jutamenunjukan penetrasi pasar yang expansif
Tabel 5.2Pendapatan Operator Telekomunikasi Q3 (2013-2014)
Operator Total Pendapatan Q3
2013 Total Pendapatan Q3 2014 (Triliun) (Triliun) Telkomsel 43,99 48,404 XL Axiata 15,6 17,6 Indosat 17,8 17,7
Sumber : Diolah dari Lap-Keu Indosat, Telkomsel, &XL(2014)
Dengan tingkat pendapatan Q3 2014 yang meningkat bisnis telekomunikasi berharap dapat tumbuh sekitar 3-4% proyeksi ini karena modernisasi perangkat yang support untuk LTE akanon-air pada akhir tahun 2014. Dengan kehadiran LTE bisnis telekomunikasi akan menargetkan penambahan pelanggan menembus 60 juta
Proses aliansi, merger, ataupun akuisisi meningkatkan nilai kapitalis serta daya saing bagi industri telekomunikasi. Akuisisi XL-Axiata terhadap Axis menjadikan jumlah operator berkurang sehingga dapat meminimalkan persaingan bisnis yang akan merugikan operator itu sendiri.
Penambahan fasilitas data dan akan di launcingnya LTE akan makin makin meningkatkan pasar terutama layanan data. Internet akan menyubang 20% dari total pendapatan operator selain pendapatan voice dan SMS. Demam smartphone, tablet, dan game online mengindikasikan kebutuhan koneksi mobile internet dimana-mana. Peningkatan kapasitas dan layanan operator akan menjadikan pelanggan lama puas dan akan selalu menggunakan layanan internet tersebut. Selain itu dengan program internet masuk desa yang digagas
oleh Presiden Susilo Bambang Yudhono akan semakin meningkatkan jumlah pelanggan dan revenue bagi operator tersebut.
5.3 Perhitungan Harga Wajar Saham
5.3.1 Capital Asset Pricing Model
Pada metode ini kita akan menghitung nilai wajar saham dengan menggunakan pendekatan pengembalian yang diharapkan (Required Rate of Return) tingkat ini untuk menilai earning di masa depan pada mas kini (Present Value). Model ini menggambarkan hubunga Antara resiko dan return yang diharapkan, sehingga meminimalkan resiko dari suatu investasi. Sedangkan langkah-langkah untuk menentukan harga wajar pada metode CAPM ini adalah :
1) Menentukan Tingkat Resiko
Menghitung nilai Beta untuk melihat tingkat sensifitas saham tersebut terhadap pasar. Perhitunganya menggunakan Antara return saham indosat dan IHSG, dari hasil perhitungan didapatkan :
, 0.000118899 0.000492845 0.2412 2.4 %
Tabel 5.3Nilai Beta
Operator Nilai Beta
(%)
ISAT 1,18
XL 0,47
TELKOMSEL 0,49
Sumber :www.reuters.com (2014)
Dilihat dari table 5.3 dimana dari hasil perhitungan dan dari data reuters nilai beta Indosat lebih besar daripada Telkomsel dan Xl. Hal ini mengindikasikan bahwa saham Indosat lebih besar resikonya daripada lainya. Nilai hutang yang 50% dalam bentuk dolar membuat saham indosat sangat gampang terpengaruh sentiment global
2) Menentukan Tingkat Keuntungan yang Disyaratkan
Pada perhitungan ini : 8.,375% menggunakan seri FR0070 yang jatuh tempo 15 Maret 2024. Hal ini sesuai dengan keputusan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Nomor 1/PU/2014 tentang Surat Utang Negara Negara Seri Bencmark. Untuk nilai diambil dari country risk premium 2013 (Damodaran, 2013) dimana untuk Indonesia nilai adalah 9.13 %
8,375 9,13 2.4 8,375 21,912 30,287 %
3) Untuk menghitung nilai harga wajar dapat dilakukan dengan rumus :
, , ,
3.827,314
Dari hasil perhitungan didapatkan harga wajar Rp 3.827
5.3.2 Metode Free Cash Flow to Equity
Metode selanjutnya adalah Free Cash Flow to Equity.Dalam metode ini valuasi dilakukan dengan mendiskontokan arus kas Cash Flow to Equity yaitu sisa arus kas yang dapat diterima oleh pemegang saham setelah perusahaan memenuhi semua kewajiban membayar beba, pajak, bunga pokok pinjaman dan belanja modal serta perubahan modal kerja.
Langkah-langkah untuk melakukan analisa ini dapat dilakukan dengan :
1)Menentukan Tingkat Pertumbuhan Perusahaan
Dalam menentukan tingkat pertumbuhan perlu dilakukan proyeksi terhadap laporan keuangan baik itu rugi-laba maupun neraca. Tujuan dari melakukan proyeksi ini untuk mengetahui laba dan nilai ekuitas PT. Indosat Tbk di masa depan. Merujuk pada keputusan Bapepam dan LK No : Kep-196/BL/2012 tanggal : 19 April 2012 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilain Usaha di Pasar Modal yang mengatur tentang proyeksi menyebutkan bahwa periode proyeksi
pendapatan ekonomis wajib dilakukan dalam kurun waktu paling kurang lima tahun kedepan atau disesuaikan dengan sisa umur dari fasilitas produksi utama objek penilaian.
Dalam analisa ini laporan keuangan yang dianalisa adalah 5 tahun (2009-2014) sehingga untuk proyeksi akan menggunakan proyeksi 2015-2019 pertimbangan proyeksi lima tahun karena aturan Bapepam dan jika proyeksi dilakukan terlalu lama nilai akurasinya akan kecil.
Berdasarkan Damodaran (2002) dimana untuk menghitung tingkat pertumbuhan kita akan menggunakan Arithmetic Average dan Geometric Average dengan data yang digunakan adalah data 2009-2014. Hasil dari perhitungan rata-rata pertumbuhan pendapatan bersih PT. Indosat Tbk adalah sebagai berikut :
Tabel 5.4Pertumbuhan Pendapatan Q22009 – 2014
NO TAHUN PENDAPATAN BERSIH (Juta Rp) PERUBAHAN (%)
1 2009 8,919,674 2 2010 9,661,789 8,32 3 2011 10,049,455 4,01 4 2012 10,377,004 3,26 5 2013 11,708,059 12,83 6 2014 11,613,117 ‐0,81 ‐ Total Pertumbuhan 27,61
‐ Rata‐rata aritmetik (27.61) 5 = 5,52
‐ Geometric mean 11.613.117 /8.919.674 / = 5,42
‐ Rata‐rata pertumb (5,52 % + 5,42 %)/ 2 = 5,47
‐ Tingkat pertumbuhan yang digunakan 5,52
Dari hasil perhitungan, dimana pertumbuhan pendapatan bersih pada PT. Indosat Tbk menghasilkan dua angka yang berbeda juga. Perhitungan dengan metode Geometrik Mean lebih kecil bila dibandingkan dengan metode Arithmatic Mean karena perhitungan ini bersifat pelipatgandaan (compounding).(Frensidy, 2006) dalam bukunya mengatakan bahwa Arithmatic Mean dapat digunakan untuk prediksi ke depan sedangkan untuk kinerja masa lalu dapat menggunakan Geometric Meansehingga untuk tingkat pertumbuhan ini akan menggunakan Geometric Meansebesar 5.4 %. Nilai ini hampir sama dengan tingkat pertumbuhan ekonomi negara yang sebesar 5.2% pada Q2-2014sehingga nilai ini mendekati real
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2013 tumbuh sebesar 5,7 % sedangkan tingkat pertumbuhan ekonomi Q2-2014 tumbuh sebesar 5.4% dengan melihat pertumbuhan dan inflasi yang lebih kecil proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2014 akan tereliasasi
Setelah mendapatkan tingkat pertumbuhan pendapatan bersih dan tingkat pertumbuhan konstan, langkah selanjutnya adalah menentukan besaran pendapatan bersih selama periode proyeksi, yakni periode proyeksi selama 5 (lima) tahun kedepan dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019. Pertumbuhan diasumsikan konstan agar perhitungan mudah dilakukan dan hasilnya tidak terjadi bisa yang besar. Berikut adalah proyeksi pendapan bunga bersih tahun 2015 sampai dengan tahun 2019
Tabel 5.5Proyeksi Pendapatan Bersih Q2 2015 – 2019 (Dalam Juta Rp) URAIAN 2015 2016 2017 2018 2019 PT. ISAT 13,824,835 16,457,774 19,592,158 23,323,484 27,765,442
Sumber : Diolah dari Laporan keuangan (2014)
Proyeksi pendapatan bunga bersih tahun depan merupakan pendapatan bunga bersih tahun ini dikalikan dengan pertumbuhan (g) perusahaan.
2)Proyeksi Laporan Keuangan
Laporan keuangan terdiri dari neraca dan laporan laba rugi. Neraca dari sisi aktiva dalam neraca bank menggambarkan pola pengalokasian dana bank yang mencerminkan posisi kekayaan yang merupakan hasil penggunaan dana bank dalam berbagai bentuk dan harus memperhatikan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Sentral sebagai otoritas moneter yang mengatur dan mengawasi bank. Sedangkan pada sisi passiva neraca bank menggambarkan kewajiban bank yang berupa klaim pihak ketiga dalam bentuk rekening, giro, tabungan, deposito berjangka dan utang atau kewajiban bank lainnya.
Pada laporan laba rugi bank menggambarkan pendapatan dan biaya operasional dan non operasional bank serta keuntungan bersih bank untuk suatu periode tertentu.Dengan demikian, laporan keuangan suatu perusahan baik bank maupun non bank merupakan data yang diperlukan untuk menghitung Free Cash Flow to Equity. Aliran kas bebas yang
digunakan untuk menghitung nilai wajar ekuitas adalah aliran kas yang akan diterima dimasa mendatang sehingga perlu dilakukan proyeksi atas laporan keuangan ke depan. Menurut Lestari (2013), teknik yang digunakan untuk memproyeksi laporan keuangan adalah metode presentase penjualan (Percent of Sales Method).
Pada laporan keuangan bank teknik yang digunakan untuk memproyeksi laporan keuangan adalah presentase dari pendapatan bunga bersih bank. Pendapatan bunga bersih adalah hasil dari kegiatan yang dilakukan oleh lembaga keuangan yang secara masing-masing menyimpan dananya secara aman dan terjamin serta menyalurkan dana tersebut kedalam sektor pembiayaan pembangunan sehingga pihak bank akan memperoleh pendapatan.
3)Proyeksi Laporan Laba Rugi Indosat
Untuk melakukan proyeksi laporan laba rugi adalah menghitung parameter akun-akun laporan laba rugi terhadap pendapatan bunga bersih pada laporan keuangan terakhir, yaitu laporan keuangan tahun 2014.Nilai laporan keuangan terakhir dipilih karena laporan keuangan terakhir dianggap lebih mencerminkan konsidi perusahaan pada saat penilaian.
Setelah mendapatkan parameter akun-akun laporan keuangan, selanjutnya adalah mengalikan akun-akun pendapatan bunga bersih tersebut dengan 1 (satu) ditambah dengan pertumbuhan pendapatan bunga bersih tahun 2014, sehingga dperoleh proyeksi laporan laba rugi tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 seperti tertera pada Lampiran 5.
Akan tetapi, akun-akun yang merupakan penjumlahan dari beberapa akun-akun tidak dilakukan perkalian dengan pendapatan bunga bersih melainkan dilakukan penjumlahan komponen pembentuk akun-akun tersebut.
4)Proyeksi Laporan Neraca Indosat
Proyeksi ini berbeda dengan proyeksi laporan laba rugi.Proyeksi laporan neraca diawali dengan menghitung dari saldo akhir nilai buku ekuitas, perubahan ekuitas akibat adanya penambahan atau pengurangan ekuitas dikarenakan penambahan atau pengurangan laba ditahan pada tahun berjalan. Perhitungan laba ditahan dilakukan dengan cara mngurangkan laba bersih tahun berjalan dengan distribusi laba bersih tahun berjalan seperti untuk dividend an CSR. Nilai buku ekuitas awal tahun ditambah dengan saldo laba ditahan adalah nilai buku ekuitas akhir tahun.Perhitungan perubahan ekuitas dapat dilihat pada Lampiran 6.
Langkah selanjutnya, nilai buku ekuitas akhir tahun dimasukkan kedalam saldo buku ekuitas pada laporan neraca dalam periode yang sama. Akun modal saham dan tambahan modal disetor akanselalu sama sehingga akun laba ditahan diperoleh dari nilai buku ekuitas dikurangi dengan modal saham dan tambahan modal disetor. Total kewajiban dan ekuitas tahun 2015 diperoleh dari besaran proyeksi nilai ekuitas tahun 2015 dibagi dengan % ekuitas terhadap jumlah kewajiban dan ekuitas tahun 2014.
Selanjutnya, mencari parameter akun-akun (%) komponen pembentuk neraca tahun 2014. Besaran total kewajiban diperoleh dari besaran total kewajiban dan ekuitas dikurangi dengan besaran jumlah ekuitas.akun-akun. Kemudian akun total ekuitas pada proyeksi neraca diperoleh dari nilai ekuitas akhir tahun pada periode proyeksi tahun 2015 sampai dengan 2019. Kemudian di persentasekan anatara total ekuitas terhadap total ekuitas dan kewajiban sehingga menghasilkan angka total ekuitas dan kewajiban tahun 2015 sampai dengan tahun 2019. Proyeksi neraca tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 hasil dan perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 7.
5)Proyeksi Free Cash Flow to Equity
Dari hasil proyeksi diatas maka dapat dibuat proyeksi Free Cash Flow to EquityIndoat2015-2019. Metode ini adalah mendiskontokan arus kas sebagai sisa arus kas yang tertinggal setelah perusahaan memenuhi pembayaran bunga dan pokok pinjaman, serta pengeluaran modal baik untuk menjaga aset yang ada sekarang maupun untuk membeli aset baru guna pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang.
Penentuan FCFE dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Persamaan 4-7):
FCFE = Net income – (Capex – Depreciation) – (Change in Non Cash Working Capital) + (New Debt Issued – Debt Repayment). Setelah kita konversikan angka-angka di lampiran 7 kedalam perhitungan rumus FCFE tahun 2015 – 2019 lampiran 8. Dengan
proyeksi FCFE dilakukan selama lima tahun, dan dengan asumsi perusahaan mengalami pertumbuhan FCFE konstan untuk periode tersebut, maka :
Tabel 5.6 Hasil Perhitungan FCFE Q2 2015 – 2019 (Dalam Juta Rp)
URAIAN
PROYEKSI PROYEKSI PROYEKSI PROYEKSI PROYEKSI
2015 2016 2017 2018 2019 1 2 3 4 5 Laba Bersih (Net Income) 12.541.701 14.930.268 17.773.738 21.158.746 25.188.429 Belanja Modal 33.325.488 39.672.327 47.227.921 56.222.479 66.930.050 ∆ Non Cash Working Capital (2.423.449) (2.884.995) 1.966.944 (9.489.919) (6.175.489) New debt Issued - Debt Repayment 29.545.512 35.172.454 41.871.048 49.845.390 59.338.444 FCFE 11.185.174 13.315.391 10.449.921 24.271.576 23.772.312
Sumber : Diolah dari Laporan keuangan, detail lampiran 8 (2014)
Dari table, nilai dari proyeksi laba bersih, belanja modal (Capex), danPenerbitan/pelunasan utang (new debt issued – debt repayment) tahun 2015 menurun dari 2014 dan mulai naik pada tahun berikutnya hal itu disebabkan proporsi hutang dalam bentuk dolar yang hampir 50% sehingga nilainya fluktuatif.
a. Belanja modal (capital expenditure) dihitung dengan cara mengurangkan antara aset teap bersih tahun sekarang dengan aset tetap bersih tahun lalu.
b. Perubahan modal kerja bukan kas (change in non cash working capital) berasal dari current asset dan current liabilities. current assetterdiri dari giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain, penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain, efek, efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali dan kredit yang diberikan. Sedangkan current liabilities terdiri dari liabilitas segera, simpanan nasabah, simpanan dari bank lain dan lembaga keuangan lain, serta efek yang diterbitkan.
c. Penerbitan/pelunasan utang (new debt issued – debt repayment) berasal dari total kewajiban tahun sekarang dikurangi total kewajiban tahun lalu.
6) Estimasi Biaya Modal (Cost of Capital)
Tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat diskonto Cost of Capital yang digunakan oleh perusahaan atas biaya ekuitas. Perhitungan biaya ekuitas menggunakan pendekatan CAPM.
Pada pendekatan CAPM ini nilai SUN sama dengan analisa CAPM sebelumnya, tapi untuk nilai beta disini menggunakan data dari reuters dengan nilai 1.18% sedangkan Untuk nilai diambil dari country risk premium 2013 (Damodaran, 2013) dimana untuk Indonesia nilai adalah 9.13 %
8,375 9,13 1.18 19,045 %
7) Estimasi Nilai Wajar Saham
Perhitungan ini adalah perhitungan untuk menentukan harga wajar saham menggunakan metode FCFE, nilai-nilai didapatkan dari hasil proyeksi laporan laba-rugi, neraca, serta Cost of Equity untuk saham indosat. Langkah-langkah perhitunganya adalah :
a. Terminal valuedidapatkan setelah kita menemukan proyeksi FCFE 2019, yaitu FCFE tahun 2018 dikalikan asumsi pertumbuhan, cost of equity, dan proyeksi 2019:
g R FCFE g FCFE 2018 2019 (1 ) b. Nilai kini adalah tanggal 30 Juni 2014
c. Nilai kini FCFE didapat dari penjumlahan nilai FCFE masing-masing tahun proyeksi 2015 – 2019 stelah dikalikan dengan discount factor-nya sebesar biaya modal ekuitas yaitu 19,05.
d. Estimasi nilai wajar ekuitas PT. Indosat Tbk adalah jumlah nilai kini FCFE ditambah nilai kini terminal value sehingga menghasilkan indikasi nilai wajar ekuitas
e. Untuk memperoleh nilai wajar saham PT. Indosat Tbk, maka nilai wajar ekuitas dibagi dengan jumlah saham yang beredar sebanyak
54.339.335.000 lembar, sehingga didapat nilai wajar saham per 30Juni 2014 adalah sebesar Rp 2.391
Tabel 5. 7 Estimasi Nilai Wajar Ekuitas (Dalam Juta Rp, Kecuali harga Saham)
URAIAN Discount
Rate (%) PRO 2015 PRO 2016 PRO 2017 PRO 2018 PRO 2019
FCFE 5,52 11.185.174 13.315.391 10.449.921 24.271.576 23.772.312 PERTUMBUHAN CONSTAN 6 TERMINAL VALUE 186.522.658 TOTAL FCFE 11.185.174 13.315.391 10.449.921 210.794.235 COST of EQUITY 19,05 PRESENT VALUE FCFE 9.395.753 9.395.753 6.194.118 104.957.648 NILAI WAJAR EKUITAS 129.943.274 NILAI SAHAM 2.391,33
Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan (2014)
5.3.3 Metode Relative Valuation
Pada metode ini cara perhitunganya lebih mudah daripada FCFE, dan merupakan metode pelengkap dari metode Discounted Cash Flow. 1) Penentuan Perusahaan Pembanding
Perusahaan pembanding dapat dicari di www.idx.com dengan pilihan perusahaan telekomunikasi. Saat ini operator telekomunikasi di Indonesia yang aktif tinggal 5 (Telkomsel, XL-Axiata, Indosat, Smart-Fren, B-Tel) untuk B-Tel sedang ada masalah likuiditas dimana nilai hutang lebih besar daripada asset sehingga tidak saya masukan,
sedangkan smart-fren adalah pemain di WCDMA sehingga untuk pembanding metode ini saya menggunakan Telkomsel dan XL-Axiata
Untuk langkah selanjutnya dan untuk memudahkan perhitungangan kita perlu menkonversi laporan keuangan Telkom dan XL-Axiata kedalam laporan laba-rugi dan neraca. Setelah itu maka kita akan mencari nilai pertumbuhan baik ituAritmetik Mean maupun Geometrik Meanpada masing-masing perusahaan pembanding
Tabel 5. 8Pertumbuhan Pendapatan Bersih Q2 TELKOM Group 2009 - 2014
Sumber :Diolah dari laporan keuangan(2014)
Tabel 5.9Pertumbuhan Pendapatan Bersih Q2
NO TAHUN PENDAPATAN BERSIH (Juta Rp) PERUBAHAN
(%) 1 2009 30,672,732 2 2010 32,243,096 11,64 3 2011 34,457,375 0,63 4 2012 36,720,000 6,57 5 2013 40,160,000 9,37 6 2014 43,542,000 8,42 ‐ Total Pertumbuhan 36,62
‐ Rata‐rata aritmetik 36.62 / 5 = 7,32
‐ Geometric mean 43.542.000/ 30.672.732 / ‐1= 7,26
‐ Rata‐ratapertumb (7.32 % + 7.26 %)/2 = 7,29
XL-AXIATA 2009 - 2014
NO TAHUN PENDAPATAN BERSIH (Juta Rp)
PERUBAHAN (%) 1 2009 6,210,638 2 2010 8,367,735 34,73 3 2011 9,037,684 8,01 4 2012 10,170,544 12,53 5 2013 10,290,761 1,18 6 2014 11,546,958 12,21 ‐ Total Pertumbuhan 68,66
‐ Rata‐rata aritmetik 68,66/5 = 13,73
‐ Geometric mean 11.546.958 / 6.210.638 / ‐1= 13,21
‐ Rata‐rata pertumb (13.73 % + 13.21 %)/2 = 13,47
‐ Tingkat pertumbuhan yang digunakan 13,73
Sumber : diolah dari laporan keuangan(2014)
Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai pertumbuhan pendapatan bersih pada PT. Telkom Group adalah 7.32 sedangkan pada PT. XL Axiata adakah 13.73. nilai rata-rata yang digunakan ini adalah Aritmetik Mean hal ini mengacu pada (Frensidy, 2006) dimana bukunya mengatakan bahwa Arithmatic Mean dapat digunakan untuk prediksi ke depan sedangkan untuk kinerja masa lalu dapat menggunakan Geometric Mean. Dilihat dari pertumbuhan 3 operator telekomunikasi ini maka tingkat pertumbuhan paling tinggi adalah XL-Axiata, hal ini dikarenakan XL-Axiata baru saja mengakuisisi AXIS (NTS) dan juga mengurangi beban perawatan tower dengan melakukan penjualan 3500 tower ke STP.
NO NAMA PERUSAHAAN ROA ROE 1 2 6 7 1 PT. INDOSAT Tbk -1.98 % -6.55 % 2 PT. TELKOM GROUP Tbk 5.88 % 8.52 % 4 PT. XL AXIATA Tbk -0.80 % -3.24 % Sumber :Lampiran 13 Kinerja Keuangan Perusahaan Pembanding (2014)
Dilihat dari ROA dan ROE tiga perusahaan tersebut tingkat kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan ada pada Telkom Group, sedangkan Pada PT. Indosat Tbk dan XL Axiata tingkat keuntungan tidak sehat karena minus. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai ekuitas Telkom Group masih diatas dari 2 kompetitor tersebut, beban hutang dan proses investasi cukup menguras dan menambah NPL. Detail perhitungan ada dilampiran 13
2) Menghitung Faktor Multiple/Pengali
Pada perhitungan ini faktor multiple/Pengali digunakan dengan tujuan memperoleh harga wajar saham PT. Indosat Tbk. Faktor pengalinya: Price Earning Ratio (PER), Price to Book Value (PBV) dan Price to Sales Ratio (PSR). Untuk harga aktual yang digunakan adalah 30-juni-2014 sesuai dengan bulan saat debat serta durasi Q2 2014. Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa nilai rata-rata PER : -15.5, PBV : 3.1, dan PSR : 4.0 (Detail perhitungan lampiran 17). Dilihat dari nilai PER yang negative secara teori bahwa saham Indosat tidak menarik, tapi berkaca pada (Hamonangan,2012) bahwa “ ..hitungan valuasi dapat dilakukan seakurat mungkin, namun kondisi eksternal seperti krisis
Eropa, Amerika, dan sentiment-sentimen negative memberi pengaruh juga..” jika dibandingkan harga saham 30-juni-2014 : Rp 3.685 dan harga 24-Desember-2014 : Rp 4.030 maka faktor sentimen dan isu-isu global lebih dominan.
3) Estimasi Besaran Faktor Multiple/Pengali
Langkah terakhir untuk mencari harga wajar saham dengan metode Relative Valuation adalah mencari nilai estimasi nilai saham kemudian dikalikan proporsi nilai faktor pengali menurut (Astuti, 2013) bobot nilai pengali untuk PER : 50%, PBV : 30%, dan PSR : 20%
Laba perlembar, nilai buku, serta pendapatan didapat dari laporan keuangan perusahaan pembanding. Sedangkan nilai estimasi saham didapat kan dari pengakalian dari masing-masing faktor. Setelah jumlah saham beredar dan estimasi dikalikan akan didapat nilai ekuitas kemudian dikalikan dengan bobot didapatkan nilai ekuitas tertimbang. Nilai dari ekuitas tertimbang di bagi jumlah saham beredar didapatkna harga saham Rp 5.657 (perhitungan detail dilampiran 18).
Dengan perhitungan Relative Valuation harga wajar saham 30-juni-2014 adalah undervalued. Kalau dari metode ini recommended to Buy tapi nilai akhir adalah setelah direkonsiliasi dari keempat metode tersebut apakah under/over-valued
5.3.4 Metode Gordon Growth Model
Dari jurnal Khasanah (2013) bahwa analisa DDM hasilnya lebih kecil dari perhitungan FCFE dan hasil dari perhitungan DDM lebih mendekati actual. Hal ini akan kita lihat dari hasil akhir perhitungan 1) MenghitungCost of Equity
Pada pendekatan CAPM ini nilai SUN beda dengan analisa CAPM sebelumnya, disini menggunakan SUN Seri FR0069 : 7.875% yang jatuh tempo pada 15 April 2019 dengan tingkat pertumbuhan konstan sedangkan nilai beta disini menggunakan data dari reuters dengan nilai 1.18% sedangkan Untuk nilai diambil dari Country Risk Premium 2013 (Damodaran, 2013) dimana untuk Indonesia nilai
adalah 9.13 %
7.875% 9,13 1.18
7,875 10.773 18,645 %
2) Estimasi Tingkat Pertumbuhan (Growth)
Perhitungan Tingkat pertumbuhan dicari untuk memproyeksikan revenue dan earningdari saham tersebut. Untuk mencari growth pada model ini dapat digunakan rumus g = (1-DPR) x ROE. Nilai DPR didapat dari = Dividen per share/Earning Pershare, dari perhitungan nilai DPR = -0.18, sedangkan nilai ROE -0.07. setelah dikonversi kerumus didapat nilai g adalah -8.66 (detail perhitungan di lampiran 19)
3) Estimasi Nilai Wajar Saham
Setelah melakukan perhitungan didapatkan nilai pertumbuhan awal (g1), dan -0.086 persen.dari data laporan keuangan diketahui dividen per
lembar saham PT. Indosat tahun 2009 (D1) : Rp172.85, tahun 2010 (D2)
: Rp137.85, tahun 2011 (D3) : Rp59.55, tahun 2012 (D4): Rp76.83 dan
tahun 2013 (D5): Rp34.52.
Dari nilai tersebut kita cari nilaiPresent Value kan dengan rumus D0 x (1 + g)tSehingga didapat dividen saham adalah Rp 356.64, detail
perhitungan di lampiran 19
Langkah terakhirGordon Growth Model adalah mencari nilai terminal atau Terminal Value, yaitu tingkat pertumbuhan setelah pertumbuhan tinggi yang diasumsikan konstan, yaitu nilai setelah pertumbuhan dividen proyeksi 5 (lima) tahun kedepan mulai tahun 2015 sampai dengan tahun 2019. Sebelum mencari terminal value, terlebih dahulu melakukan present value atau melakukan proyeksi lima tahun kedepan dividen PT. Indosat. dengan rumus :
V
Dari haril perhitungan didapatkan nilainya adalh RP 1733.98, nilai dari harga wajar saham dengan metode ini adalah jumlah dari Present Value sehingga didapatkan harga wajar dengan metode Gordon Growth Model adalah Rp 1.997
Dari hasil perhitungan ini jika mengacu pada jurnal Khasanah (2013) bahwa nilai harga wajar DDM<FCFE adalah benar tapi nilai ini tidak mendekati harga actual dari saham PT. Indosat
5.4 Rekonsiliasi Nilai
Rekonsiliasi nilai dilakukan untuk menggabungkan hasil perhitungan dari beberapa metode, penggabungan ini dilakukan dengan proporsi yang berbeda tergantung dari proses dan data yang digunakan
Rekonsiliasi nilai diawali dengan melakukan pembobotan terhadap indikasi nilai dari masing-masing metode penilaian.Merujuk pada Lestari (2013) dimana proporsi pembobotan adalah FCFE : 30%, RV PER : 25%, RV PBV : 10, RV PSR : 15%, dan DDM : 20%. Dan setelah dicari dalam literature lain bahwa rekonsialisi nilai bersifat subjektif, sehingga asumsi yang di gunakan untuk pembobotan berdasarkan tingkat kesulitan dan kelengkapan dara dari masing-masing metode. Dalam hal ini pembobotan paling besar senilai 30 persen diberikan kepada metode FCFE, karena metode FCFE menggunakan data aliran kas bersih dimana semua beban biaya dan pajak sudah dikeluarkan dari hitungangan, metode ini juga tidak bisa di manipulasi mengingat arus kas dan neraca. Untuk metode Relaltive Valuationdan metode Gordon Growth modediberikan bobot masing-masing 25 persen.Proporsi ini diberikan karena metode ini adalah secara data lebih rentan dimanipulasi terutama nilai dividen (dividen bisa ditinggikan untuk menarik investor atau dividen dibuat kecil untuk menghindari pajak).
Sedangkan metode CAPM diberi porsi 20% karena asset rentan akan isu global
Tabel 5.11 Rekonsiliasi Nilai
NO METODE HARGA SAHAM BOBOT NILAI TERTIMBANG A PT. Indosat Tbk 1 CAPM Model 3.827 20% 765 2 FCFE Model 2,391.0 30% 717
4 Relative Valuation Model 5,657.0 25% 1,414
5 Gordon Growth Model 1,997.00 25% 499
Jumlah 100% 3.396
Nilai Wajar saham 3.396
Sumber : Diolah dari laporan keuangan (2014)
Nilai tertinggi dari metode diatas adalah Relative valuation, nilai tersebut karena ditopang oleh perusahaan pembanding (Telkom Group) yang mempunya PBV dan ROE tinggi. Sedangkan nilai DDM<FCFE membuktikan jurnal dari khasanah (2013)
Tabel 5.12 Hasil Perbandingan (dalam Rupiah)
Harga Pasar Harga Wajar Hasil Perbandingan 30-Juni 2014 30-Juni 2014
3,685 3.396 Over Valued
Sumber : Diolah dari laporan keuangan (2014)
Dari table 5.12 didapat hasil perbandingan Overvalued, hasil tersebut mengindikasikan bahwa saham PT. Indosat Tbkbuy on weakness nilai beban utang yang tinggi serta nilai ROE yang minus saham Indosat masih layak diakuisisi mengingat total asset dan master plan bisnis serta prospek bisnis Telekomunikasi yang tak akan lekang oleh jaman. Jika dilihat dari proyeksi neraca maka beban hutang akan mulai berkurang ditahun 2015 dan akan
menjadi positif pada 2019 hal itu menandakan secara fundamental saham Indosat ini bagus.