• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERFORMA INDUK KELINCI PERANAKAN NEW ZEALAND WHITE DENGAN PEMBERIAN PELLET DAN SILASE RANSUM KOMPLIT BERBASIS PAKAN LOKAL SKRIPSI ASEB HASAN IRFANDI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERFORMA INDUK KELINCI PERANAKAN NEW ZEALAND WHITE DENGAN PEMBERIAN PELLET DAN SILASE RANSUM KOMPLIT BERBASIS PAKAN LOKAL SKRIPSI ASEB HASAN IRFANDI"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

PERFORMA INDUK KELINCI PERANAKAN NEW ZEALAND

WHITE DENGAN PEMBERIAN PELLET DAN SILASE

RANSUM KOMPLIT BERBASIS PAKAN LOKAL

_______SKRIPSI_______ ASEB HASAN IRFANDI

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

(2)

RINGKASAN

ASEB HASAN IRFANDI. D24060338. 2010. Performa Induk Kelinci Peranakan

New Zealand White dengan Pemberian Pellet dan Silase Ransum Komplit

Berbasis Pakan Lokal. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc. Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Erika Budiarti Laconi, MS.

Ketersediaan pakan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha pemeliharaan ternak disamping faktor pemilihan bibit dan tata laksana pemeliharaan yang baik. Agar kelinci dapat berproduksi tinggi, maka perlu dipelihara secara intensif dengan pemberian pakan yang memenuhi syarat, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Pakan kelinci pada umumnya adalah hijauan atau pellet. Permasalahan pada penggunaan rumput adalah kurangnya asupan nutrien sehingga kelinci tidak dapat berproduksi dengan maksimal. Kendala dari penggunaan pellet adalah proses pembuatannya membutuhkan alat-alat yang relatif mahal sehingga akan memberatkan peternak. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif lain agar dapat mengurangi biaya pembuatan pakan kelinci tersebut. Silase ransum komplit adalah alternatif pengolahan pakan yang cukup baik. Silase ransum komplit dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak dan memiliki sifat organoleptik (bau harum, asam) sehingga lebih disukai ternak (palatabel).

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa reproduksi induk kelinci peranakan New Zealand White yang diberi silase ransum komplit dan pellet ransum komplit meliputi persentase kebuntingan, lama kebuntingan, jumlah anak per kelahiran (litter size), jumlah bobot anak per kelahiran (litter weight) dan bobot lahir individu anak. Ternak yang digunakan sebanyak 12 ekor kelinci betina peranakan New Zealand White umur 6 bulan dengan rataan bobot hidup 1696,33±109,92 g. Dalam penelitian ini digunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan pertama adalah pellet ransum komplit (R1) dan yang lain adalah silase ransum komplit (R2). Data konsumsi ransum (BK, PK, SK, LK, BETN), pertambahan bobot badan dan efisiensi ransum dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan apabila terjadi perbedaan yang nyata dilakukan analisis uji t, sedangkan data persentase kebuntingan, lama kebuntingan, bobot lahir, jumlah anak per kelahiran dan jumlah bobot anak per kelahirandianalisis secara diskriptif.

Hasil menunjukkan bahwa perlakuan nyata mempengaruhi konsumsi bahan kering (BK) induk kelinci tetapi tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan maupun efisiensi ransum. Konsumsi BK R1 (127,34±10,61) lebih tinggi dibandingkan dengan R2 (108,14±8,15). Persentase kebuntingan R1 (100%) lebih tinggi dibandingkan R2 (50%). Selain itu, litter size dan litter weight R1 lebih tinggi daripada R2.

Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa performa reproduksi induk kelinci peranakan New Zealand White yang diberi pellet ransum komplit lebih baik dibandingkan induk kelinci peranakan New Zealand White yang diberi silase ransum komplit.

(3)

ABSTRACT

Performance of New Zealand White Doe’s Fed Complete Ration Pellets and Silages

Irfandi, A.H., Nahrowi, and E. B. Laconi

The effect of silages complete rations and pellet complete rations on performance of doe were evaluated. Twelve female New Zealand White rabbits aged 6 months and live weight 1696.33±109.92 g were randomly assigned to one of the two dietary treatments named complete pellet ration (R1) and complete silages ration (R2). Feed and water were given ad libitum. Parameters measured were feed consumption, weight gain, feed eficiency, percentage of pregnancy, litter size, litter weight, and born weight. t test was used to analyzed the data. Results showed that treatments influenced performance of rabbits. Percentage of pregnancy of rabbit fed complete pellet rations (100%) was higher than that of rabbit fed complete silages ration (50%). Litter size and litter weight were higher for rabbit fed complete pellet ration than complete silages ration. But the efficiency of the ration was not significantly different. It is concluded that complete pellet ration was better than complete silages ration on increasing reproductive performance of New Zealand White doe’s.

(4)

PERFORMA INDUK KELINCI PERANAKAN NEW ZEALAND

WHITE DENGAN PEMBERIAN PELLET DAN SILASE

RANSUM KOMPLIT BERBASIS PAKAN LOKAL

ASEB HASAN IRFANDI D24060338

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada

Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

(5)

Judul : Performa Induk Kelinci Peranakan New Zealand White dengan Pemberian Pellet dan Silase Ransum Komplit Berbasis Pakan Lokal

Nama : Aseb Hasan Irfandi

NIM : D24060338

Menyetujui, Pembimbing Utama,

(Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc) NIP: 19620425 198603 1 002

Pembimbing Anggota,

(Dr. Ir. Erika Budiarti Laconi, MS) NIP: 19610916 198703 2 002

Mengetahui: Ketua Departemen,

Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

(Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr.) NIP: 19670506 199103 1 001

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 10 September 1988 di Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara yaitu Anna Irmawati. Dilahirkan dari seorang ibu yang penyayang yaitu Ibu Khasanah dan seorang ayah yang perhatian yaitu Bapak Suwandi.

Pendidikan Taman Kanak-kanak Mardisiwi diselesaikan pada Tahun 1994. Sekolah Dasar diselesaikan pada Tahun 2000 di SDN Madureso Temanggung, kemudian dilanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1 Temanggung dan lulus Tahun 2003. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Temanggung dan lulus Tahun 2006. Tahun yang sama Penulis diterima sebagai mahasiswa strata satu (S1) pada program studi Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI.

Selama mengikuti pendidikan Penulis aktif dalam organisasi Paguyuban Mahasiswa Temanggung Makukuhan (PMTM) pada Tahun 2007/2009 sebagai pengurus. Selain itu Penulis juga menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Nutrisi Ternak pada Tahun 2007/2009. Penulis juga pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Teknik Formulasi Ransum dan Sistem Informasi Pakan. Penulis berkesempatan menjadi penerima beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) pada Tahun 2007-2010. Pada Tahun 2007-2010 Penulis berkesempatan lulus seleksi program kreativitas mahasiswa (PKM) dengan 3 judul yang didanai yaitu PKMK pada Tahun 2009 dengan judul Sereal Beq-T sebagai Alternatif Sarapan Pagi dan

Snack Sehat serta Rendah Kolesterol, Tahun 2010 adalah PKMK dengan judul

Je-La Jeli Buah Pala sebagai Alternatif Jamu Penyembuh Penyakit Insomnia, Mual, dan Masuk Angin serta PKMP dengan judul Performa Kelinci Jantan Peranakan New Zealand White yang Diberi Silase Ransum Komplit.

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamian. Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia dan rahmat-Nya sehingga penelitian dan penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi ini berjudul Performa Induk Kelinci Peranakan New Zealand White dengan Pemberian Pellet dan Silase Ransum Komplit Berbasis Pakan Lokal.

Kelinci menjadi ternak pilihan karena pakannya tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, maupun dengan industri peternakan unggas. Pakan kelinci pada umumnya adalah hijauan dan pellet. Permasalahan pada penggunaan hijauan adalah kurangnya asupan nutrien kelinci sehingga kelinci tidak dapat berproduksi dengan maksimal. Kendala dari penggunaan pellet adalah proses pembuatannya membutuhkan alat-alat yang relatif mahal sehingga akan memberatkan peternak sehingga dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengukur dan membandingkan performa induk kelinci yaitu konsumsi, persentase kebuntingan, lama kebuntingan dan jumlah anak antara induk kelinci yang diberi pellet ransum komplit dengan silase ransum komplit.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah ikut berperan sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Bogor, Agustus 2010

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... i

ABSTRACT ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3 Pellet ... 3 Silase ... 3 Kualitas Silase ... 5 Ransum Komplit ... 6 Ubi Jalar ... 7 Rumput Lapang ... 7 Jagung ... 8

Bungkil Inti Sawit ... 8

Bungkil Kedelai ... 9

Tepung Ikan ... 10

Kelinci New Zealand White ... 10

Kebutuhan Zat Makanan Kelinci pada Periode Kebuntingan ... 11

Konsumsi Ransum ... 12

Pertambahan Bobot Badan ... 13

Efisiensi Penggunaan Ransum ... 14

Kebuntingan pada Kelinci ... 14

Litter Size dan Bobot Lahir Anak ... 15

MATERI DAN METODE ... 17

Lokasi danWaktu ... 17

Materi ... 17

Ternak ... 17

Kandang dan Peralatan ... 17

Ransum Penelitian ... 17 Rancangan Percobaan ... 18 Perlakuan ... 18 Model Matematika ... 18 Analisis Data ... 19 Prosedur ... 19 Pengeringan Hijauan ... 19

(9)

Persiapan Kandang ... 20

Pemeliharaan ... 21

Peubah yang Diamati ... 21

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23

Konsumsi Ransum ... 23

Pertambahan Bobot Badan (PBB) dan Efisiensi Pakan ... 26

Persentase Kebuntingan dan Lama Kebuntingan ... 29

Litter Size ... 30

Litter Weight dan Bobot Lahir ... 31

KESIMPULAN DAN SARAN ... 32

Kesimpulan ... 32

Saran ... 32

UCAPAN TERIMAKASIH ... 33

DAFTAR PUSTAKA ... 34

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Karakteristik Produk Silase dengan Kualitas yang Berbeda ... 5 2. Komposisi Nutrien Bahan Baku Ransum Komplit ... 10 3. Kebutuhan Zat Makanan Kelinci dalam Berbagai Status Fisiologi 12 4. Kebutuhan Bahan Kering Pakan Kelinci Berdasarkan Periode

Pemeliharaan ... 13 5. Bahan Baku Penyusun Ransum Komplit (As fed) ... 18 6. Kandungan Nutrien Ransum Berdasarkan Bahan Kering ... 20 7. Rataan Konsumsi Nutrien Ransum Induk Kelinci selama

Penelitian ... 23 8. Pertambahan Bobot Badan dan Efisiensi Pakan Induk Kelinci ... 26 9. Persentase Kebuntingan, Litter Size, Litter Weight, serta Bobot

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Tahapan Pembuatan Silase Ransum Komplit ... 19 2. Konsumsi Bahan Kering Induk Kelinci Bunting selama Penelitian 24 3. Pertambahan Bobot Badan (PBB) Induk Kelinci Bunting dengan

Perbedaan Pakan ... 27

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Hasil Sidik Ragam Konsumsi Bahan Kering ... 40

2. Hasil Sidik Ragam Pertambahan Bobot Badan ... 40

3. Hasil Sidik Ragam Efisiensi Ransum ... 40

4. Hasil Sidik Ragam Konsumsi Abu ... 41

5. Hasil Sidik Ragam Konsumsi Bahan Organik (BO) ... 41

6. Hasil Sidik Ragam Konsumsi Protein Kasar (PK) ... 41

7. Hasil Sidik Ragam Konsumsi Serat Kasar (SK) ... 42

8. Hasil Sidik Ragam Konsumsi Lemak Kasar (LK) ... 42

9. Hasil Sidik Ragam Konsumsi BETN ... 42

10. Uji t Konsumsi Bahan Kering ... 43

11. Uji t Konsumsi Bahan Organik ... 43

12. Uji t Konsumsi Abu ... 43

13. Uji t Konsumsi Protein Kasar ... 44

14. Uji t Konsumsi Serat Kasar ... 44

15. Uji t Konsumsi Lemak Kasar ... 44

(13)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Sejak tahun 1989 kelinci dipromosikan sebagai salah satu ternak alternatif untuk pemenuhan gizi (khususnya protein hewani) bagi manusia. Menurut Ensminger et al. (1990) bahwa daging kelinci berwarna putih, mempunyai kandungan protein tinggi (25%), rendah lemak (4%), dan kadar kolesterol daging juga rendah yaitu 1,39 g/kg.

Menurut Farrel dan Raharjo (1984), kelinci menjadi ternak pilihan karena pakannya tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, maupun dengan industri peternakan unggas. Kelinci mampu memanfaatkan bahan pakan dari berbagai jenis hijauan, limbah sayuran, atau limbah agroindustri untuk memenuhi kebutuhan nutriennya karena kelinci memiliki sistem pencernaan yang dapat mancerna sebagian serat dari hijauan pada saluran pencernaan bagian belakang oleh mikroorganisme. Kelinci juga tumbuh dengan cepat, dan dapat mencapai bobot badan 2 kg atau lebih pada umur 8 minggu, dengan efisiensi penggunaan pakan yang baik. Selain itu, beternak kelinci tidak membutuhkan lahan yang luas, biaya produksi dan pemeliharaan yang tidak mahal, serta kemampuan produksi dan reproduksi yang tinggi.

Ketersediaan pakan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha pemeliharaan ternak. Keberhasilan usaha pemeliharaan ternak banyak ditentukan oleh pakan yang diberikan disamping faktor pemilihan bibit dan tata laksana pemeliharaan yang baik. Agar kelinci dapat berproduksi tinggi, maka perlu dipelihara secara intensif dengan pemberian pakan yang memenuhi syarat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Menurut Ensminger et al. (1990), pakan kelinci dapat berupa hijauan, namun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, sehingga produksinya tidak akan maksimum. Pertumbuhan dan perkembangan fetus juga sangat tergantung dari ketersediaan zat makanan untuk induk. Oleh karena itu, pakan yang diberikan harus seimbang dalam hal kuantitas dan kualitasnya.

Pakan kelinci pada umumnya adalah hijauan dan pellet. Permasalahan pada penggunaan rumput adalah kurangnya asupan nutrien kelinci sehingga kelinci tidak dapat berproduksi dengan maksimal. Kendala dari penggunaan pellet adalah proses pembuatannya membutuhkan peralatan yang relatif mahal sehingga akan

(14)

memberatkan peternak, karena biaya pakan sekitar 70% dari total biaya produksi. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif lain agar dapat mengurangi biaya pembuatan pakan kelinci tersebut.

Silase ransum komplit adalah alternatif pengolahan pakan yang cukup baik dan biaya pembuatannya relatif lebih murah dibandingkan ransum dalam bentuk pellet. Dengan dibuatnya silase, diharapkan dapat menambah nilai kegunaan pakan karena dalam proses pembuatan silase dapat dihasilkan feed additive yaitu bakteri asam laktat dan asam organik. Sofyan dan Febrisiantosa (2007) melaporkan bahwa silase ransum komplit dapat memenuhi 70-90% kebutuhan gizi ternak, memiliki sifat organoleptik (bau harum dan asam) sehingga lebih disukai ternak (palatabel).

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan performa reproduksi induk kelinci peranakan New Zealand White yang diberi silase ransum komplit dan pellet ransum komplit meliputi persentase kebuntingan, lama kebuntingan, jumlah anak per kelahiran (litter size), jumlah bobot anak per kelahiran (litter weight) dan bobot lahir individu anak.

(15)

TINJAUAN PUSTAKA Pellet

McElhiney (1994) menyatakan bahwa pellet merupakan hasil proses pengolahan bahan baku ransum secara mekanik yang didukung oleh faktor kadar air, panas dan tekanan, selain itu dua faktor yang mempengaruhi ketahanan serta kualitas fisik pellet adalah karakteristik dan ukuran partikel bahan. Pellet yang berkualitas harus mempunyai nutrien tinggi misalnya meningkatkan konsumsi ransum dan mungkin meningkatkan nilai nutrien (Thomas dan van der Poel, 1995).

Produksi pellet adalah suatu proses pengolahan pakan dengan mengompakkan bahan menggunakan mesin die sehingga menjadi bentuk silinder atau potongan kecil dengan diameter, panjang, dan derajat kekerasan yang berbeda. Pellet yang berukuran besar umumnya terbuat dari pakan hijauan. Pakan pellet populer dengan pemilik kuda atau karateker terdiri dari pellet konsentrat, pellet hay, dan pakan pellet komplit (kombinasi hay dengan konsentrat) (Ensminger et al. 1990). Pakan dalam bentuk pellet merupakan salah satu bentuk awetan karena melalui pengawetan bahan pakan dalam bentuk yang lebih terjamin tingkat pengadaan dan penyediaannya dalam hal mempertahankan kualitas pakan (Mathius et al. 2006).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pellet antara lain pati, serat dan lemak (Balagopalan et al., 1988). Pati bila dipanaskan dengan air akan mengalami gelatinisasi yang berfungsi sebagai perekat sehingga mempengaruhi kekuatan pellet. Serat berfungsi sebagai kerangka pellet dan lemak berfungsi sebagai pelicin selama proses pembentukan pellet dalam mesin pellet sehingga mempermudah pembentukan pellet.

Kestabilan pellet juga dipengaruhi oleh kandungan kadar air bahan baku, ukuran partikel dan suhu sebelum pengolahan, selain itu untuk menghasilkan pellet yang berkualitas baik dengan biaya operasional yang rendah perlu diperhatikan beberapa hal diantaranya ukuran ketebalan die (cetakan), diameter die, kecepatan putaran die dan ukuran pemberian ransum (Balagopalan et al., 1988).

Silase

Silase adalah pakan produk fermentasi hijauan, hasil sampingan pertanian dan agroindustri dengan kadar air tinggi yang diawetkan dengan menggunakan asam,

(16)

baik yang sengaja ditambahkan maupun secara alami dihasilkan bahan selama penyimpanan dalam kondisi anaerob (Moran, 2005; McDonald et al., 1991; Woolford, 1984). Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk mengawetkan dan mengurangi kehilangan zat makanan suatu hijaun untuk dimanfaatkan pada masa mendatang (Sapienza dan Bolsen, 1993; Schroeder, 2004; Jones et al., 2004). Stimulan fermentasi bekerja membantu pertumbuhan bakteri asam laktat sehingga kondisi asam segera tercapai, contohnya inokulan bakteri yaitu bakteri asam laktat yang berfungsi untuk meningkatkan populasi bakteri asam laktat dalam bahan pakan (McDonald et al, 1991).

Menurut Ensminger (1990), karakteristik silase yang baik antara lain pH kurang dari 4,5 serta barbau asam laktat atau campuran asam laktat dan asam asetat, warna tidak berubah dengan warna asalnya, dan kehilangan nutrien dapat ditekan. Silase memiliki beberapa kelebihan antara lain: ransum lebih awet, memiliki kandungan bakteri asam laktat yang berperan sebagai probiotik dan memiliki kandungan asam organik yang berperan sebagai growth promotor dan penghambat penyakit. Silase yang baik diperoleh dengan menekan berbagai aktivitas enzim yang berada dalam bahan baku yang tidak dikehendaki namun dapat mendorong berkembangnya bakteri penghasil asam laktat (Sapienza dan Bolsen, 1993).

Pembuatan silase secara garis besar dibagi menjadi empat fase (Sapienza dan Bolsen, 1993). Pertama adalah fase aerob, fase ini berlangsung dua proses yaitu proses respirasi dan proses proteolisis, akibat adanya aktivitas enzim yang berada dalam tanaman tersebut. Proses respirasi secara lengkap menguraikan gula-gula tanaman menjadi karbondioksida dan air, dengan menggunakan oksigen dan menghasilkan panas. Kedua adalah fase fermentasi ketika kondisi aerob tercapai pada bahan yang diawetkan beberapa proses mulai berlangsung, isi sel makanan mulai dirombak. Pada hijauan basah, proses ini berlagsung dalam beberapa jam, sedangkan pada hijaun kering dapat berlangsung hingga satu hari. Ketiga adalah fase stabil, setelah masa aktif pertumbuhan bakteri asam laktat berakhir, maka proses ensilase memasuki fase stabil, hanya sedikit sekali aktivitas mikroba. Keempat adalah fase pengeluaran silase, oksigen secara bebas akan mengkontaminasi permukaan silase terbuka.

(17)

Kualitas Silase

Macaulay (2004) menyatakan bahwa kualitas silase dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu warna, bau, tekstur, pH, kandungan asam laktat, kandungan asam butirat dan kandungan amonia (Tabel 1).

Tabel 1. Karakteristik Produk Silase dengan Kualitas yang Berbeda

Karakteristik Kualitas Silase

Baik Sedang Jelek

Warna Hijau terang

sampai kuning atau hijau kecokelatan tergantung materi silase Hijau kekuningan sampai hijau kecokelatan

Hijau tua, hijau kebiruan, abu-abu, atau cokelat

Bau Asam Agak tengik dan

bau amonia

Sangat tengik, bau amonia dan busuk Tekstur Kokoh dan lebih

lembut dan sulit dipisahkan dari serat

Bahan lebih lembut dan mudah dipisahkan dari serat Berlendir, jaringan lunak, mudah hancur, berjamur atau kering pH Kadar air <65% <4,8 <5,2 >5,2 Kadar air >65% <4,2 <4,5 >4,8

Asam laktat 3-14% BK Bervariasi Bervariasi

Asam butirat <0,2% BK 0,2-0,5% BK >0,5% BK N Amonia (% total N) <10 10-16 >16 ADIN (% total N) <15 15-30 >30 Sumber : Macaulay (2004).

Silase yang baik adalah bila memenuhi kriteria antara lain pH maksimal 4,2 dan warna tidak berubah dari warna aslinya. Menurut Ensminger (1990) karakteristik silase yang baik antara lain pH kurang dari 4,5 serta berbau asam laktat atau campuran asam laktat dan asam asetat, warna tidak berubah dengan warna asalnya dan kehilangan nutrien dapat ditekan.

Kadar air yang optimum untuk pembuatan silase antara 62-67%, karena kadar air diatas 67% akan menghasilkan silase yang berlumpur dan busuk karena adanya

(18)

asam butirat dan asam lain yang tidak diinginkan. Penurunan kadar air juga akan mengurangi perembesan cairan dalam silo, menurunkan tekanan pada dinding silo dan menurunkan aktivitas asam yang merusak dinding silo (Ensminger, 1990). McDonald (1991) menyatakan bahwa dalam proses ensilase terjadi kehilangan bahan kering sekitar 16,1%. McDonald (1991) juga menyatakan bahwa pada silase hijauan, sejak terbentuknya larutan yang terdiri atas komponen yang mempunyai daya cerna tinggi seperti karbohidrat larut air, asam organik, mineral dan komponen protein terlarut akan cenderung meningkatkan komponen dinding sel yang mempunyai nutrien kurang dalam silase. Gauthier (2002) menyatakan bahwa asam organik dapat menghambat pertumbuhan bahkan dapat membunuh bakteri patogen seperti E. Coli dengan cara menurunkan pH dalam tubuh bakteri tersebut.

Ransum Komplit

Ransum merupakan campuran jenis pakan yang diberikan kepada ternak setiap hari pada waktu tertentu selama umur hidupnya untuk memenuhi kebutuhan nutrien bagi tubuhnya. Ransum yang sempurna harus mengandung zat-zat gizi yang seimbang, disukai ternak dan dalam bentuk yang mudah dicerna oleh saluran pencernaan (Ensminger et al., 1990). Ransum komplit merupakan pakan yang cukup gizi untuk hewan tertentu dalam tingkat fisiologi, dibentuk atau dicampur untuk diberikan sebagai satu-satunya makanan dan memenuhi kebutuhan pokok atau produksi, atau keduanya tanpa tambahan bahan atau substansi lain kecuali air (Tillman et al., 1997).

Menurut Ensminger et al. (1990), beberapa keuntungan yang diperoleh dari penggunaan ransum komplit adalah antara lain: 1) meningkatkan efisisensi pemberian pakan, 2) ketika hijauan yang kurang disukai ternak disuplementasi dengan konsentrat sehingga konsumsi meningkat, begitu pula sebaliknya jika ketersediaan konsentrat terbatas dapat digunakan hijauan sebagai campuran, 3) campuran ransum komplit dapat memudahkan ternak untuk mendapatkan pakan lengkap. Keistimewaan ransum komplit adalah semua bahan-bahan pakan yakni hijauan, bijian, konsentrat, suplemen protein, mineral, dan vitamin dicampur bersama menjadi satu dan diberikan kepada ternak sebagai ransum tunggal. Pemakaian hijauan dan konsentrat dapat bervariasi dan dalam penyusunannya dapat dicari bahan yang sesuai dengan nilai ekonomis. Bahan pakan yang digunakan untuk menyusun

(19)

ransum komplit dalam penelitian ini yaitu daun ubi jalar, rumput lapang, jagung, dedak padi, bungkil inti sawit, tepung ikan, bungkil kedelai, CPO, premix, DCP dan NaCl.

Daun Ubi Jalar

Menurut Rukmana (1997), tanaman ubi jalar (Ipomea batatas L.) termasuk tanaman semusim yang memiliki susunan tubuh utama terdiri dari batang, ubi, daun, buah, dan biji. Batang tanaman ini tidak berkayu, berbentuk bulat dengan gabus di bagian tengahnya dan berwarna hijau atau ungu. Daun berbentuk bulat sampai lonjong dengan tepi rata, berlekuk dangkal, sampai berlekuk dalam. Daun berukuran lebar, menyatu, ada pula yang bersifat menjari. Daun biasanya berwarna hijau tua atau hijau kekuningan (Najiyati dan Danarti 2000).

Badan Pusat Statistik (2009) menyatakan bahwa produksi ubi jalar di Indonesia pada tahun 2008 sebanyak 1.881.761 ton dan diperkirakan produksi ubi jalar tahun 2009 akan meningkat menjadi 1.947.311 ton. Luas lahan panen ubi jalar sekitar 174.561 Ha dan diperkirakan akan meningkat menjadi 181.183 Ha pada tahun 2009.

Menurut Sudaryanto et al. (1984), dari beberapa hijauan yang dimanfaatkan oleh ternak kelinci, konsumsi daun ubi jalar segar merupakan yang tertinggi, yaitu 379,50 g/ekor/hari pada kelinci jantan dan 389,85 g/ekor/hari pada kelinci betina. Efisiensi pakan yang paling baik juga terlihat pada perlakuan dengan pemberian ransum yang mengandung daun ubi jalar, baik untuk kelinci jantan maupun kelinci betina. Kandungan nutrien daun ubi jalar dapat dilihat pada Tabel 2.

Rumput Lapang

Rumput lapang merupakan campuran dari beberapa jenis rumput lokal yang umumnya tumbuh secara alami dengan daya produksi dan kualitas rendah. Meskipun demikian, rumput lapang mudah didapat, murah, dan pengelolaannya mudah (Wiradarya, 1989). Rumput lapang banyak terdapat di sekitar sawah, pegunungan, tepi jalan, dan semak-semak. Rumput ini tumbuh liar sehingga memiliki mutu yang kurang baik untuk pakan ternak (Aboenawan, 1991).

(20)

Rumput lapang yang diberikan penambahan ampas tahu memberikan konsumsi bahan kering yang tinggi pada kelinci betina umur 4 bulan (Lestari et al., 2008). Kandungan nutrien rumput lapang dapat dilihat pada Tabel 2.

Jagung

Jagung adalah bahan makanan yang disukai dan sesuai untuk semua jenis ternak. Jagung kaya akan energi dan rendah dalam serat serta mineral. Pati merupakan komponen terbesar yang terdapat dalam biji jagung yang terdiri atas amilosa dan amilopektin. Meskipun jagung sumber energi tercerna lebih unggul tetapi jagung rendah protein dan defisien lisin. Isi protein kasar jagung berubah-ubah dan secara umum berkisar antara 90 sampai 140 g/kg BK (McDonald et al., 1995). Kandungan nutrien jagung dapat dilihat pada Tabel 2.

Bungkil Inti Sawit

Bungkil inti sawit (BIS) adalah hasil samping dari proses ekstraksi inti sawit. Bahan ini diperoleh dengan cara proses kimia atau mekanik (Mirwandhono dan Siregar, 2004). Satu tandan buah sawit segar menghasilkan bungkil inti sawit sebanyak 45-46%.

Produksi BIS tahun 2007 mencapai 2,14 juta ton. BIS umumnya mengandung air kurang dari 10%, protein 14-17%, lemak 9,5-10,5%, dan serat kasar 12-18%. BIS mengandung serat kasar yang tinggi dan sekitar 20% protein kasar (McNab dan Boorman, 2002). Menurut Elisabeth dan Ginting (2003), BIS kurang disarankan sebagai bahan baku pakan ternak non-ruminansia karena kandungan serat kasar pada BIS lebih tinggi dibandingkan bahan baku sumber protein lainnya.

Menurut Adeniji (2002), ransum yang mengandung bungkil inti sawit tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, serta konversi ransum. Peningkatan level penggunaan bungkil inti sawit (12,5; 25; 37,5; dan 50%) dalam ransum mengakibatkan penurunan level bobot badan akhir kelinci. Persentase penggunaan bungkil inti sawit sebagai pengganti bungkil kacang tanah dalam ransum yang optimal dan direkomendasikan sebagai pakan untuk kelinci lepas sapih adalah 37,5% dari total ransum (Adeniji, 2002). Kandungan nutrien bungkil inti sawit dapat dilihat pada Tabel 2.

(21)

Bungkil Kedelai

Bungkil kedelai merupakan produk hasil ikutan penggilingan biji kedelai setelah diekstraksi minyaknya, baik secara mekanik dengan penekanan maupun kimia menggunakan pelarut organik. Protein bungkil kedelai mengandung seluruh asam amino esensial, tetapi untuk methionin dan sistin jumlahnya belum optimal (McDonald et al., 1995). Bungkil kedelai yang dihasilkan secara mekanis mengandung lebih banyak minyak dan serat kasar, serta kandungan proteinnya lebih rendah dibandingkan dengan bungkil kedelai yang dihasilkan dengan menggunakan pelarut heksan (Suryahadi et al., 1997).

Rasidi (2002) menyatakan bahwa bungkil kedelai merupakan sisa hasil dari proses pembuatan minyak kedelai. Bahan ini sangat baik untuk campuran pakan ternak karena kandungan proteinnya tinggi, yaitu antara 42-45 %. Bungkil kedelai merupakan sumber protein nabati dan sumber energi sehingga sangat disukai ternak. Kandungan nutrien bungkil kedelai dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi Nutrien Bahan Baku Ransum Komplit

Bahan Baku Komposisi Nutrien BK (%) Abu PK LK SK BETN Ca P …………...………...%BK……… Daun Ubi Jalar1) 11,54 12,68 22,57 1,02 21,49 30,70 0,79 0,38 Rumput Lapang2) 31,26 10,68 13,11 5,40 30,23 40,58 - - Jagung3) 89,00 - 8,50 3,80 2,50 - 0,01 0,13 Dedak Padi3) - - 13,00 5,00 12,00 - 0,06 0,80 Bungkil Inti Sawit4) 91,83 4,14 16,33 6,49 36,68 28,19 0,56 0,84 Bungkil Kedelai3) 89,00 - 44,00 0,80 7,00 - 0,29 0,28 Tepung Ikan3) - - 61,00 10,00 0,50 - 1,23 1,63

Keterangan : 1) Laboratorium Ilmu Teknologi pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2008); 2) Adiyanto (2009); 3) NRC (1994); 4) Mathius (2008)

Tepung Ikan

Menurut McDonald et al. (1995), tepung ikan dibuat dari ikan berkualitas yang kemudian diproses menjadi sumber protein dalam bentuk tepung ikan. Tepung

(22)

ikan kaya akan asam amino esensial terutama lisin, sistin, metionin dan tryptopan. Bahan pakan ini juga mempunyai kandungan mineral yang tinggi (100-200 g/kg) seperti kalsium, phospor, mangan, besi dan iodine. Tepung ikan juga merupakan sumber vitamin B-kompleks yang baik terutama cholin, B12 dan riboflavin.

Secara umum tepung ikan berkualitas baik mengandung protein kasar 60%-70% dan kaya akan asam amino esensial terutama lisin dan metionin yang baik, yang selalu kurang dalam bahan-bahan makanan ternak asal nabati (Rasyaf, 1999). Kandungan nutrien bahan baku penyusun ransum komplit dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Kelinci New Zealand White

Kelinci memiliki potensi cukup baik untuk dikembangkan sebagai penghasil daging, kulit atau bulu, hewan percobaan, dan hewan untuk dipelihara (Church, 1991). Kelinci termasuk hewan herbivor non-ruminan yang memiliki sistem pencernaan monogastrik dengan perkembangan sekum seperti rumen ruminansia, sehingga kelinci disebut pseudo-ruminansia (Cheeke dan Patton, 1982).

Klasifikasi kelinci menurut Lebas et al. (1986) adalah sebagai berikut : Kingdom : Animal

Phylum : Chordata Sub phylum : Vertebrata Ordo : Logomorph Family : Lepotidae Sub family : Leporine Genus : Oryctolagus

Species : Oryctolagus cuniculus

Bangsa kelinci yang biasanya paling banyak digunakan sebagai hewan penelitian paramedis adalah New Zealand White. Kelinci ini memiliki beberapa keunggulan antara lain: sifat produksi tinggi, tidak dibutuhkan banyak biaya dalam pemeliharaan, siklus hidup yang pendek, daya tahan yang lebih kuat terhadap penyakit, adaptif terhadap lingkungan yang baru, dan tidak memerlukan tempat yang luas. Kelinci New Zealand White ini termasuk dalam bangsa medium yang memiliki

(23)

bobot hidup antara 3,5-4 kg (Lebas et al., 1986) dan mencapai bobot dewasa pada umur 5-6 bulan (Cheeke et al., 1982).

Kelinci dapat menggunakan protein hijauan secara efisien, dengan tingkat reproduksi tinggi, efisiensi pakan tinggi, hanya membutuhkan makanan dalam jumlah sedikit dan kualitas dagingnya cukup tinggi (Cheeke, 1983; Farrel dan Raharjo, 1984). Kelinci merupakan ternak yang mempunyai potensi reproduksi tinggi, laju pertumbuhan cepat, periode kebuntingan yang pendek bila dibandingkan dengan ternak lain, seperti sapi, kerbau, babi, kecuali unggas (Cheeke et al., 1982). Seekor induk kelinci mampu beranak 4-5 kali dalam setahun dengan masa kebuntingan 30-35 hari dan dari satu periode kelahiran dapat memberikan 6-8 ekor anak (Rismunandar, 1981).

Kebutuhan Zat Makanan Kelinci pada Periode Kebuntingan

Pakan yang diberikan pada kelinci harus disesuaikan berdasarkan umur dan tipenya disukai oleh ternak kelinci, memenuhi kebutuhan untuk semua zat makanan, dan seimbang dalam vitamin dan mineral essensial yang dibutuhkan (Herman, 2000). DeBlas dan Mateos (1998) menyatakan bahwa kebutuhan nutrien untuk reproduksi dan pertumbuhan pada kelinci dapat diformulasikan dalam pakan berbentuk pellet yang dapat menghasilkan pertumbuhan dan performan reproduksi yang baik.

NRC (1977) menyatakan bahwa kebutuhan hidup pokok ternak kelinci memerlukan bahan kering 3-4% dari bobot badan. Kebutuhan zat makanan untuk kelinci pada periode kebuntingan berdasarkan NRC (1977) adalah 2500 kkal/kg DE, 10-12% serat kasar, 15-17% protein kasar, 2% lemak, 0,45-0,75% kalsium, dan 0,37-0,5% phosphor. Ransum yang kurang mengandung serat kasar atau kelebihan akan mengakibatkan enteritis (Farrel and Raharjo, 1984). Kebutuhan zat makanan kelinci dalam berbagai status fisiologis dapat dilihat pada Tabel 3.

Cheeke (1987) menyatakan jika ingin meningkatkan performa reproduksi induk kelinci, dibutuhkan kandungan protein antara 17-18 % dalam ransum (Tabel 3). Menurut Tillman et al. (1997), faktor pakan sangat menentukan pertumbuhan, bila kualitasnya baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup, maka pertumbuhannya akan menjadi cepat, demikian pula sebaliknya.

(24)

Tabel 3. Kebutuhan Zat Makanan Kelinci dalam Berbagai Status Fisiologis

Nutrien Status Fisiologis Kelinci

Pertumbuhan Pemeliharaan Bunting Laktasi

Protein Kasar (%) 15,00 13,00 18,00 18,00 Lemak (%) 3,00 3,00 3,00 5,00 Serat Kasar (%) 14,00 15,00-16,00 14,00 12,00 Kalsium (%) 0,50 0,60 0,80 1,10 Phospor (%) 0,30 0,40 0,50 0,80 TDN (%) 65,00 55,00 58,00 70,00 DE (kkal /kg) 2500 2200 2500 2700 Sumber : Cheeke (1987) Konsumsi Ransum

Konsumsi adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak atau sekelompok ternak selama periode tertentu dan ternak tersebut mempunyai akses bebas pada pakan dan tempat makan. Menurut Parakkasi (1999) konsumsi pakan merupakan faktor esensial untuk menentukan kebutuhan hidup pokok dan produksi karena dengan mengetahui tingkat konsumsi pakan dapat ditentukan kadar zat makanan dalam ransum untuk memenuhi hidup pokok dan produksi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi ransum pada ternak kelinci adalah temperatur lingkungan, kesehatan, bentuk ransum, imbangan zat makanan, cekaman, bobot badan, kecepatan pertumbuhan dan yang paling utama adalah energi (NRC, 1977). Menurut Aritonang dan Silalahi (1992), palatabilitas pakan pada ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor internal (kebiasaan, umur dan selera), maupun faktor eksternal (sifat pakan yang diberikan dan kondisi lingkungan). Lebih lanjut dijelaskan bahwa palatabilitas berkaitan dengan bau, rasa, dan tekstur yang dapat mempengaruhi selera makan. Tingkat konsumsi ransum pada ternak kelinci dipengaruhi oleh temperatur lingkungan, kesehatan, bentuk ransum, imbangan zat makanan, cekaman, bobot badan, kecepatan pertumbuhan dan yang paling utama adalah energi (NRC, 1977). Menurut Cheeke (1987), konsumsi ransum akan meningkat bila kandungan energi ransum rendah. Card dan Nesheim (1972) juga menjelaskan bahwa semakin tinggi kadar lemak dan energi dalam ransum

(25)

menyebabkan ternak mengkonsumsi pakan lebih sedikit tetapi menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi.

Ternak kelinci lebih menyukai ransum dalam bentuk pellet dibandingkan ransum bukan pellet (Harris et al., 1983). Menurut Winowiski (1995) bahwa sapi mengkonsumsi pakan bentuk pellet lebih cepat dibandingkan dengan bentuk lain. Menurut Poole (1987), kebutuhan konsumsi bahan kering ransum pellet pada kelinci sebanyak 5% dari bobot badan. Jumlah pakan yang diberikan harus memenuhi jumlah yang dibutuhkan oleh kelinci sesuai dengan tingkat umur/bobot badan kelinci. Hasil penelitian Hariyawan (2009) menunjukkan bahwa rataan konsumsi BK pellet ransum komplit sebesar 136,93 g/ekor/hari. Pemberian pakan ditentukan berdasarkan kebutuhan bahan kering. Jumlah pemberian pakan bervariasi bergantung pada periode pemeliharaan dan dan bobot badan kelinci (Tabel 4).

Tabel 4. Kebutuhan Bahan Kering Pakan Kelinci Berdasarkan Periode Pemeliharaan

Status Bobot Badan (kg) Bahan kering (%) Kebutuhan BK (g/ekor/hari) Muda 1,8-3,2 5,4-6,2 112-173 Dewasa 2,3-6,8 3,0-4,0 92-204 Bunting 2,3-6,8 3,7-5,0 115-251 Menyusui dengan anak 7 ekor 4,5 11,5 520 Sumber:NRC (1977)

Pertambahan Bobot Badan

Pertambahan bobot badan merupakan suatu cara untuk mengukur laju pertumbuhan seekor ternak. Di negara seperti Eropa dan Amerika, kelinci dapat mencapai pertumbuhan sekitar 35-40 g/hari, sedangkan di daerah tropis pertumbuhannya lebih rendah, yaitu 10-20 g/hari (Cheeke, 1987). Sementara pertambahan bobot badan kelinci yang diberi ransum dalam bentuk pelet lebih tinggi dibandingkan dengan ransum berbentuk crumble (Cheeke, 2005). Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), kecepatan tumbuh kelinci adalah 100-150 g/minggu pada umur 8 sampai 26 minggu. Menurut Farrell dan Rahardjo (1984), kelinci tumbuh dengan cepat hingga mencapai berat lebih dari 2 kg pada umur 8 minggu. Parakkasi (1999) menyatakan bahwa penambahan protein dalam ransum dapat meningkatkan

(26)

pertambahan bobot badan sedangkan pertambahan serat kasar dalam ransum akan menurunkan bobot badan.

Efisiensi Penggunaan Ransum

Efisiensi penggunaan ransum adalah rasio antara nilai rata-rata pertambahan bobot badan yang dihasilkan (g/ekor/hari) dengan nilai rata-rata konsumsi ransum (g/ekor/hari). Cheeke (1987) mengemukakan bahwa kandungan energi dalam ransum akan mempengaruhi efisiensi penggunaan ransum, yakni semakin tinggi kandungan energi dalam ransum akan menurunkan konversi ransum dan meningkatkan efisiensi penggunaan ransum. Farell dan Rahardjo (1984) menyatakan bahwa pemberian hijauan yang tinggi akan meningkatkan efisiensi ransum pada kelinci. Menurut Ensminger dan Olentine (1978), dengan pemberian ransum yang berkualitas tinggi dan tata laksana yang baik, angka efisiensi ransum kelinci berkisar 0,25 sampai 0,35.

Kebuntingan pada Kelinci

Performa reproduksi kelinci berhubungan erat dengan pengaruh lingkungan, nutrisi, genetik, dan manajemen (Lukefahr dan McNitt, 1983). Herman (1989) menyatakan bahwa kelinci mencapai dewasa kelamin pada umur 4-8 bulan, bergantung kepada bangsa, makanan, dan kesehatan, kelinci betina tipe ringan mencapai dewasa pada umur 4 bulan, tipe medium 5-6 bulan dan tipe berat umur 7-8 bulan.

Kebuntingan dipastikan dengan palpasi induk betina pada hari ke-12 hingga 14 setelah kawin. Jika induk dalam keadaan bunting, maka fetus akan terasakan berbentuk seperti kelereng kecil (Gillespie, 2004). Menurut Cheeke (1987), sekitar 98% kelahiran normal diperoleh dengan lama kebuntingan antara 30-33 hari. Selebihnya kelahiran 29-35 hari terdapat dalam persentase yang kecil. Lama bunting dihitung sejak betina kawin sampai melahirkan, lamanya sekitar 29-35 hari dengan rata-rata 31 hari (Herman, 1989). Hasil penelitian Kharisma (2007) menyatakan bahwa persentase kebuntingan induk kelinci peranakan New Zealand White sebesar 70%. Rathor et al. (2000) menyatakan bahwa induk pada periode kebuntingan pertama menghasilkan litter size lebih rendah. Rendahnya litter size banyak dipengaruhi oleh umur induk yang muda dan karena induk beranak pertama (Syaifullah, 1993).

(27)

Penyakit beresiko tinggi yang timbul saat kebuntingan adalah Pregnancy Toxemia. Penyakit ini diindikasikan pada induk kelinci yang mengalami obesitas yang umumnya terjadi pada minggu terakhir dari kebuntingan. Penyebabnya adalah ketika nutrien tidak mencukupi uteroplacental. Tanda-tanda terjadinya penyakit ini adalah depresi, abortus, nafas beraroma aseton, koma, ketonuria, dan kematian (Rosenthal, 2001). Selain itu, terdapat penyakit yang tidak berbahaya namun dapat menyebabkan kerugian pada suatu usaha peternakan kelinci yaitu kebuntingan semu. Menurut Butterworth (2002), induk kelinci yang mengalami kebuntingan semu akan merontokkan bulu dada dan perut untuk membuat sarang, kemudian kelenjar susu akan berkembang seperti yang terjadi pada kelinci bunting tetapi hanya terjadi selama 16-17 hari.

Litter Size dan Bobot Lahir Anak

Litter size merupakan jumlah anak kelinci (ekor) dalam satu kali kelahiran. Litter size merupakan banyaknya anak yang dilahirkan (Lebas et al., 1986). Litter size umumnya berpengaruh terhadap perkembangan tubuh, feed intake dan penampilan reproduksi. Bobot badan induk yang sangat besar pada saat awal bereproduksi meningkatkan jumlah litter size pada kebuntingan pertama namun tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum ataupun peningkatan bobot badan induk kelinci selama masa kebuntingan (Rommers et al., 2002). Induk kelinci pada periode beranak pertama menghasilkan litter size yang rendah (Rathor et al., 2000).

Litter size dalam setiap kebuntingan bervariasi, mulai dari 1-12 ekor (rata-rata 8 ekor). Litter size bervariasi sesuai dengan bangsa dan strain kelinci. Bangsa yang lebih prolifik menghasilkan rataan litter size 8 ekor per kelahiran (Gillespie, 2004). Lukefahr dan Ozimba (1993) menyatakan bahwa litter size kelinci New Zealand White rata-rata 10,5 ekor. Penelitian dengan menggunakan kelinci New Zealand White namun tidak diketahui periode beranaknya diperoleh kisaran litter size 2-7 ekor (Suryani, 2002). Berdasarkan faktor nutrien, Fernandez et al. (1995) menyatakan bahwa korelasi antara makanan yang masuk saat terakhir kebuntingan dengan litter size sangat kecil.

Jumlah litter size tidak hanya berpengaruh terhadap lama kebuntingan, akan tetapi juga mempengaruhi rataan bobot lahir. Bobot lahir merupakan bobot individu anak pada saat kelahiran. Bobot lahir kelinci akan lebih rendah pada litter size yang

(28)

tinggi untuk setiap kebuntingan (Herman, 1989). Litter size dan bobot lahir dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti bangsa, makanan, umur, dan lingkungan induk. Induk yang diberi makanan bermutu rendah akan menghasilkan anak yang kecil, lemah, dan mudah mati. Bangsa kelinci yang besar akan menghasilkan anak yang relatif besar, demikian pula sebaliknya (Cheeke et al., 1987).

Menurut Herman (1989) bobot lahir anak berkisar antara 38-95 g dengan rataan 55 g dan berhubungan dengan lama kebuntingan. Rata-rata bobot lahir untuk setiap individu akan turun dengan meningkatnya litter size yang dilahirkan, tetapi bobot lahir total akan meningkat (Afifi et al., 1989). Rommers et al. (2001) juga menyatakan bahwa semakin banyak anak yang dilahirkan maka semakin rendah bobot lahir tiap anak.

(29)

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di peternakan kelinci, Komplek Laladon Indah Bogor, Jalan Bukit Asam Ujung 1 No. 31, Bogor. Pembuatan ransum penelitian dilakukan di PT. Indofeed, Bogor. Pembuatan silase ransum komplit dilakukan di laboratorium Ilmu Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini berlangsung dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2009.

Materi Ternak

Ternak yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 12 ekor kelinci betina umur 6 bulan. Kelinci yang digunakan merupakan kelinci persilangan New Zealand White.

Kandang dan Peralatan

Kandang yang digunakan adalah kandang bertingkat sistem batere individual yang dibuat dari bilah bambu. Kandang yang dipakai sebanyak 12 kandang dengan ukuran panjang 75 cm, lebar 60 cm dan tinggi 50 cm. Setiap kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum. Peralatan lain yang digunakan adalah timbangan untuk mengukur bobot badan kelinci, tong untuk pembuatan silase.

Ransum Penelitian

Ransum penelitian yang digunakan merupakan ransum komplit berbasis pakan lokal dalam bentuk pellet dan silase yang disusun sesuai dengan kebutuhan kelinci. Hijauan yang digunakan adalah rumput lapang dan daun ubi jalar. Ransum dicampur dengan bahan baku lain seperti jagung, dedak padi, bungkil inti sawit, tepung ikan, premix, NaCl, DCP, dan CPO dengan pemakaian seperti disajikan pada Tabel 5.

(30)

Tabel 5. Bahan Baku Penyusun Ransum Komplit (As fed)

Bahan Makanan Jumlah (%)

Rumput lapang 20,00

Daun ubi jalar 10,00

Jagung 23,00

Dedak padi 12,00

Bungkil inti sawit 5,00

Tepung ikan 3,00 Bungkil kedelai 20,00 CPO 2,00 Premix 0,50 DCP 1,00 NaCl 0,50 Jumlah 100,00 Rancangan Percobaan Perlakuan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan 6 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu silase ransum komplit yang mengandung :

R1 = Silase ransum komplit R2 = Pellet ransum komplit

Model Matematika

Model matematika yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Yij = µ + αi + εij

Keterangan:

Yij = Hasil pengamatan untuk perlakuan ke- i µ = Nilai rataan umum perlakuan

αi = Pengaruh perlakuan ke-i

εij = galat percobaan pada perlakuan ke-i i = Jenis pakan (i = 2 : (i1) pellet, (i2) silase) j = Ulangan (j = 6)

(31)

30%

70% Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA), dan jika terdapat perbedaan yang nyata maka dilanjutkan dengan uji t (Steel dan Torrie, 1993).

Prosedur Pengeringan Hijauan

Hijauan yang digunakan sebagai bahan baku ransum komplit adalah rumput lapang dan daun ubi jalar. Hijauan dicacah dengan panjang 3-5 cm kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari selama 3 hari hingga diperkirakan kadar air 12%.

Pembuatan Ransum Komplit

Ransum komplit terlebih dahulu diformulasikan sesuai dengan kebutuhan kelinci induk menggunakan program WinFeed 2.8. Untuk tahapan pembuatan ransum komplit berbentuk pellet dan silase dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 1. Tahapan Pembuatan Silase Ransum Komplit Rumput Lapang dan

Daun Ubi jalar Dicacah 3-5 cm

Pengeringan dengan Sinar Matahari selama

3 hari (KA ± 12%)

 Tepung Jagung  Dedak Padi  Bungkil Kelapa  Bungkil Inti Sawit  Tepung Ikan  Premix  DCP  NaCl  CPO Penggilingan menggunakan Hammer mill Formulasi Ransum dengan PK 18% dan TDN 55-70% Pencampuran dengan Mesin Mixer Horizontal (10 menit) Pelleting dengan diameter 3 mm Ensilase dengan KA 50% dan penambahan

bakteri asam laktat sebanyak 107 cfu/kg BK

(32)

Bahan-bahan pakan yang telah digiling kemudian dicampur dengan bahan lain (jagung, dedak padi, bungkil kelapa, bungkil inti sawit, tepung ikan, premix, NaCl, DCP, dan CPO) sesuai dengan formula yang dibuat. Bahan campuran tersebut dimasukkan ke dalam mesin mixer dangan tujuan agar semua bahan pakan tercampur merata dan homogen. Bahan campuran tersebut dibagi menjadi dua bagian yang sama besar. Bagian pertama dicampur dengan aquades yang telah ditambahkan bakteri asam laktat hingga kadar air ransum 50% dengan cara disemprot. Setelah campuran homogen, dimasukkan ke dalam plastik ukuran 5 kg dan oksigen dalam plastik tersebut dihilangkan dengan pompa vakum. Kemudian dimasukkan dalam tong atau silo. Kemudian tong silo yang sudah terisi dengan ransum komplit ditutup dengan menggunakan penutup sehingga silo dalam keadaan anaerob. Silo tersebut disimpan selama 1 bulan. Setelah 1 bulan, silase langsung diberikan ke kelinci.

Bagian yang kedua dilakukan pembuatan pellet yakni dengan memasukkan bahan yang telah dicampur ke dalam mesin pellet ukuran 3 mm. Pellet yang dihasilkan kemudian diangin-anginkan hingga kering lalu dikemas ke dalam karung. Berikut ini merupakan kandungan nutrien ransum penelitian berdasarkan bahan kering.

Tabel 6. Kandungan Nutrien Ransum Berdasarkan Bahan Kering

Kadar R1 R2

...(%)...

Abu 12,38 10,18

Bahan organik (BO) 87,62 89,82

Protein kasar (PK) 18,48 19,09

Serat kasar (SK) 14,51 21,12

Lemak kasar (LK) 2,25 3,48

Bahan ekstrak tanpa nitrogen

(BETN) 52,38 46,13

Keterangan : Hasil Analisa Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2010); R1 = pellet ransum komplit; R2 = silase ransum komplit Persiapan Kandang

Kandang sebanyak 12 buah yang digunakan dibersihkan dan didesinfektan terlebih dahulu dengan pemberian kapur di dalamnya. Kandang dipersiapkan dengan

(33)

penempatan tempat pakan dan tempat minum di dalamnya. Masing-masing kandang ditempati seekor kelinci calon induk.

Pemeliharaan

Dua belas ekor induk peranakan New Zealand White dengan rataan bobot badan 1696,33±109,92 g dipelihara dalam kandang individu selama 8 minggu. Masing-masing enam ekor kelinci induk diberi ransum pellet dan silase.

Adaptasi pakan dilakukan hingga kelinci mampu mengkonsumsi pakan yang akan diujicobakan hingga 100% (tidak ada sisa) tanpa mengalami penurunan konsumsi dan bobot badan. Kemudian minggu ke-3 sampai ke-7 dilakukan pengamatan atau pengambilan data.

Pakan dan air minum diberikan ad libitum. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, pada pagi hari pukul 07.00-08.00 WIB dan pada sore hari pada pukul 16.00-17.00 WIB. Penimbangan pakan yang diberikan dan sisa pakan dilakukan pada pagi dan sore hari Penggantian air minum dilakukan pada pagi hari. Penimbangan bobot badan dilakukan setiap minggu sebelum induk kelinci beranak, selama kelinci bunting, dan setelah induk kelinci beranak (selama pemeliharaan). Selain itu juga dilakukan pengukuran peubah-peubah lain seperti berikut.

Peubah yang diamati

Peubah yang dianalisis secara statistik dalam penelitian ini adalah :

1. Konsumsi ransum (g/ekor/hari) diukur setiap hari dengan cara menghitung jumlah pakan yang diberikan dikurangi dengan jumlah pakan yang tersisa. 2. Konsumsi bahan kering (g/ekor/hari) dihitung dari jumlah ransum yang

dikonsumsi dikalikan dengan persentase bahan kering ransum.

3. Konsumsi protein (g/ekor/hari) dihitung dari jumlah bahan kering ransum yang dikonsumsi dikalikan dengan persentase protein kasar ransum.

4. Konsumsi abu (g/ekor/hari) dihitung dari jumlah bahan kering ransum yang dikonsumsi dikalikan dengan persentase abu ransum.

5. Konsumsi lemak (g/ekor/hari) dihitung dari jumlah bahan kering ransum yang dikonsumsi dikalikan dengan persentase lemak kasar ransum.

6. Konsumsi serat (g/ekor/hari) dihitung dari jumlah bahan kering ransum yang dikonsumsi dikalikan dengan persentase serat kasar ransum.

(34)

7. Konsumsi BETN (g/ekor/hari) dihitung dari jumlah bahan kering ransum yang dikonsumsi dikalikan dengan persentase BETN ransum.

8. Pertambahan bobot badan (g) diukur setiap seminggu sekali dengan cara bobot badan akhir dikurangi bobot badan awal dan dibagi dengan lamanya waktu pengamatan. Bobot badan awal dan akhir diukur dengan cara menimbang kelinci sebelum pemberian pakan.

9. Efisiensi penggunaan ransum diperoleh dengan cara membagi pertambahan bobot badan dengan konsumsi ransum selama perlakuan.

10. Lama kebuntingan (hari) dihitung sejak induk kelinci dikawinkan hingga kelinci tersebut melahirkan.

11. Litter Size (ekor) merupakan jumlah anak yang dilahirkan per induk dalam satu

kelahiran.

12. Litter Weight (g) merupakan jumlah bobot anak yang dilahirkan oleh induk

dalam satu kelahiran.

13. Bobot lahir (g/ekor) merupakan bobot individu anak yang dilahirkan oleh induk.

(35)

HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Ransum

Konsumsi ransum adalah jumlah makanan yang dimakan oleh hewan bila diberikan ad libitum. Konsumsi ransum juga merupakan faktor dasar untuk hidup dan menentukan produksi (Parakkasi, 1999). Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi ransum pada ternak kelinci adalah temperatur lingkungan, kesehatan, bentuk ransum, imbangan zat makanan, cekaman, bobot badan, dan kecepatan pertumbuhan (NRC, 1977). Menurut Poole (1987), kebutuhan konsumsi bahan kering ransum pellet pada kelinci sebanyak 5% dari bobot badan.

Tabel 7. Rataan Konsumsi Nutrien Ransum Induk Kelinci selama Penelitian

Nutrien Konsumsi (g/ekor/hari)

R1 R2

Bahan segar (As fed) 144,99±12,08B 249,57±18,82A

Bahan kering 127,34±10,61A 108,14±8,15 B Abu 15,77±1,31A 11,01±0,83 B Bahan organik 111,58±9,29 a 97,13±7,32 b Protein kasar 23,53±1,96 a 20,64±1,56 b Serat kasar 18,48±1,54 B 22,71±1,65 A Lemak kasar 2,87±0,24 B 3,76±0,28 A BETN 66,70±5,56 A 49,89±3,76 B

Keterangan : Superskrip huruf kapital yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P< 0,01), Superskrip huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P< 0,05); R1 = pellet ransum komplit, R2 = silase ransum komplit

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi bahan segar, bahan kering, abu, serat kasar, lemak kasar, BETN dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi bahan organik dan protein kasar (Tabel 7). Rataan konsumsi kelinci yang mendapat perlakuan pellet ransum komplit lebih tinggi (127,34 g/ekor/hari) dibandingkan rataan konsumsi kelinci yang mendapat perlakuan silase ransum komplit (108,14 g/ekor/hari) (Gambar 2). Kebutuhan bahan kering kelinci pada periode kebuntingan adalah 3,7-5,0% dari bobot badan atau sebesar 115-251 g/ekor/hari (NRC,1977). Hasil penelitian Hariyawan (2009) menunjukkan bahwa rataan konsumsi BK pellet

(36)

ransum komplit sebesar 136,93 g/ekor/hari. Hal ini menunjukkan bahwa palatabilitas pellet lebih tinggi dibandingkan silase. Hal tersebut akibat dari perbedaan tekstur antara R1 dan R2 yaitu R1 berbentuk pellet sedangkan R2 (silase) dalam bentuk mash. Kelinci lebih menyukai bentuk pellet dibandingkan bentuk silase karena kelinci termasuk binatang pengerat. Harris et al. (1983) menyatakan bahwa ternak kelinci lebih menyukai ransum dalam bentuk pellet dibandingkan ransum bukan pellet. Menurut Winowiski (1995) bahwa sapi mengkonsumsi pakan bentuk pellet lebih cepat dibandingkan dengan bentuk lain. Penyebab lain adalah kandungan lemak kasar R2 lebih tinggi dibandingkan dengan R1 menyebabkan energi yang terkandung dalam R2 juga lebih tinggi dibanding R1. Semakin tinggi kadar lemak dan energi dalam ransum menyebabkan ternak mengkonsumsi pakan lebih sedikit tetapi menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi (Card dan Nesheim, 1972).

Gambar 2. Konsumsi Bahan Kering Induk Kelinci Bunting selama Penelitian

Selain itu, pH pakan juga mempengaruhi konsumsi kelinci. pH silase yang asam menyebabkan kelinci enggan untuk memakan silase. Sebaliknya, pellet mempunyai pH netral sehingga tidak mempengaruhi konsumsi kelinci. Menurut Aritonang dan Silalahi (1992), palatabilitas pakan pada ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor internal (kebiasaan, umur dan selera), maupun faktor eksternal (sifat pakan yang diberikan dan kondisi lingkungan). Lebih lanjut dijelaskan bahwa palatabilitas berkaitan dengan bau, rasa, dan tekstur yang dapat mempengaruhi selera makan.

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 3 4 5 6 7 K o n su m si (g/ e k o r /h ar i) Minggu ke-pellet silase

(37)

Konsumsi protein kasar (PK) pada penelitian ini memiliki rataan yang berkisar antara 20,64-23,53 g/ekor/hari. Penelitian Theodore (2009) menyatakan bahwa kelinci dalam keadaan bunting dapat mengkonsumsi PK dari 17,67-21,39 g/ekor/hari. Hal tersebut menunjukkan konsumsi PK kelinci pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian Theodore (2009). Konsumsi PK pada perlakuan pellet ransum komplit (R1) lebih tinggi dibandingkan dengan silase ransum komplit (R2) (Tabel 7). Konsumsi serat kasar R2 lebih tinggi dibandingkan dengan R1. Hal tersebut terjadi akibat dari konsumsi bahan kering pellet ransum komplit lebih tinggi dibandingkan silase ransum komplit walaupun kandungan PK R1 lebih rendah dibandingkan R2. Ransum komplit yang diolah menjadi silase (R2) mempunyai kandungan protein dan serat kasar yang lebih tinggi dibandingkan ransum bentuk pellet (R1) sedangkan kandungan BETN silase ransum komplit lebih rendah dibandingkan pellet ransum komplit (Tabel 6). Hal ini disebabkan dalam ensilase terjadi proses fermentasi oleh bakteri asam laktat. Bakteri asam laktat membutuhkan karbohidrat (terutama karbohidrat mudah larut) untuk dapat berkembang biak dan melakukan fermentasi. BETN merupakan karbohidrat yang mudah larut sehingga kandungan BETN silase ransum komplit lebih rendah dibanding pellet ransum komplit. Penurunan kadar BETN dalam silase menyebabkan proporsi SK meningkat dalam silase ransum komplit. Kandungan protein kasar silase lebih tinggi dibandingkan pellet akibat dari sumbangan bakteri asam laktat karena tubuh bakteri tersebut adalah protein. McDonald (1991) menyatakan bahwa dalam proses ensilase terjadi kehilangan bahan kering sekitar 16,1%.

Kadar abu pada pellet ransum komplit juga lebih tinggi dbandingkan pada silase ransum komplit (Tabel 6). Hal tersebut terjadi karena proses fermentasi pada silase menghasilkan asam organik terutama asam laktat sehingga proporsi bahan organik silase ransum komplit meningkat. Menurut McDonald (1991) bahwa pada silase hijauan, sejak terbentuknya larutan yang terdiri atas komponen yang mempunyai daya cerna tinggi seperti karbohidrat larut air, asam organik, mineral dan komponen protein terlarut akan cenderung meningkatkan komponen dinding sel yang mempunyai nutrien kurang dalam silase.

(38)

Pertambahan Bobot Badan (PBB) dan Efisiensi Pakan

Pertambahan bobot badan adalah suatu cara untuk mengukur laju pertumbuhan seekor ternak. Dalam penelitian ini, pertambahan bobot badan adalah tolak ukur dari perkembangan organ reproduksi induk dan pertumbuhan fetus yang ada di dalam tubuh induk. Nilai pertambahan bobot badan diperoleh dari selisih nilai bobot akhir kebuntingan dengan bobot awal induk. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), kecepatan tumbuh kelinci adalah 100-150 g/minggu pada umur 8 sampai 26 minggu. Menurut Farrell dan Rahardjo (1984), kelinci tumbuh dengan cepat dan seiring mencapai berat lebih dari 2 kg pada umur 8 minggu.

Tabel 8. Pertambahan Bobot Badan dan Efisiensi Pakan Induk Kelinci

Peubah R1 R2

Pertambahan Bobot Badan (g/ekor/hari) 16,80±6,34 12,91±4,63

Efisiensi Pakan 0,13±0,05 0,12±0,04

Keterangan : R1= pellet ransum komplit; R2 = silase ransum komplit

Berdasarkan hasil penelitian dapat dikatakan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertambahan bobot badan kelinci induk, dimana pertambahan bobot badan kelinci induk pada perlakuan R1 sebesar 16,80 g/ekor/hari dan R2 sebesar 12,91 g/ekor/hari (Tabel 8), padahal konsumsi bahan kering dan protein kasar pellet ransum komplit lebih tinggi dibandingkan silase ransum komplit. Cheeke (1987) menyatakan pertumbuhan kelinci di daerah tropis sekitar 10-20 gram per hari. Hasil penelitian Hariyawan (2009) menyatakan bahwa pertambahan bobot badan induk kelinci peranakan New Zealand White berkisar antara 11,42-17,93 g/ekor/hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa R2 (silase) dapat memberikan performa pertumbuhan yang setara dengan R1 (pellet). Hal ini mungkin disebabkan kandungan protein pellet tidak dicerna dengan baik akibat dari proses pelleting yang menyebabkan terjadinya proses gelatinisasi pati yang mengikat protein sehingga menjadi lebih sukar dicerna. Butterworth (2002) menjelaskan bahwa pati merupakan granula yang dapat ditemukan dalam tanaman dan tidak larut dalam air dingin tetapi pada saat campuran pati dan air dipanaskan akan mengembang dan terjadi gelatinisasi. Pati yang tergelatinisasi akan mengikat protein menjadi senyawa yang lebih komplek dan menurunkan kecernaan baik pati maupun protein.

(39)

Pertambahan bobot badan yang tidak berbeda antara perlakuan R1 dan R2 juga disebabkan oleh perbedaan kandungan lemak kasar. Kandungan lemak kasar pada R2 lebih tinggi dibandingkan dengan R1 (Tabel 6). Card dan Nesheim (1972) menyatakan bahwa semakin tinggi kadar lemak dan energi dalam ransum menyebabkan ternak mengkonsumsi pakan lebih sedikit tetapi menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi. Meskipun demikian, secara deskriptif dapat dikatakan petambahan bobot badan pada R1 lebih tinggi dibandingkan R2. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya kandungan serat kasar pada R2 yang menyebabkan pakan menjadi lebih sulit dicerna dibandingkan R1. Parakkasi (1999) menyatakan bahwa penambahan protein dalam ransum dapat meningkatkan pertambahan bobot badan sedangkan pertambahan serat kasar dalam ransum akan menurunkan bobot badan.

Gambar 3. Pertambahan Bobot Badan (PBB) Induk Kelinci Bunting dengan Perbedaan Pakan

Gambar 3 dapat dilihat bahwa pertambahan bobot badan induk kelinci bunting kedua perlakuan mengalami penurunan dari minggu 3 sampai minggu ke-6 kemudian naik sampai minggu ke-7. Hal tersebut terjadi karena pada minggu ketiga terjadi perkawinan induk kelinci dengan pejantan. Perkawinan tersebut merupakan perkawinan yang pertama sehingga induk kelinci mengalami stres dan menyebabkan penurunan PBB. Pada minggu ke-6, PBB induk kelinci meningkat tajam akibat dari pertumbuhan fetus dalam kandungan induk kelinci.

Nilai efisiensi ransum kelinci yang diujicobakan tersebut masih berada di bawah standar efisiensi ransum kelinci yang baik menurut Ensminger dan Olentine

0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 3 4 5 6 7 P B B (g/ e k o r /h ar i) Minggu ke-pellet silase

(40)

(1978) yaitu berkisar antara 0,25-0,35. Namun hal ini dapat dimaklumi karena pertumbuhan kelinci di daerah tropis hanya sekitar 10-20 g/ekor/hari memang lebih rendah bila dibandingkan dengan negara Eropa dan Amerika yang pertumbuhannya mencapai 35-40 g/ekor/hari (Cheeke, 1982). Sama halnya dengan pertambahan bobot badan, efisiensi pakan R1 tidak berbeda nyata dengan pakan R2, dimana efisiensi pakan R1 dan R2 berturut-turut sebesar 0,13 dan 0,12. Hal tersebut terjadi akibat kandungan protein R2 lebih tinggi dibanding R1 sehingga perbedaan konsumsi protein kasar antara R1 dan R2 tidak terlalu besar. Selain itu, asam organik yang terkandung dalam silase menyebabkan berkurangnya jumlah bakteri patogen dalam saluran pencernaan sehingga memperbaiki pencernaan pakan. Perbedaan kandungan lemak kasar antara R1 dengan R2 juga mempengaruhi efisiensi pakan. Cheeke (1987) menyatakan bahwa kandungan energi ransum mempengaruhi efisiensi penggunaan ransum yakni dengan semakin tinggi kandungan energi dalam ransum akan menurunkan konversi ransum dan meningkatkan efisiensi ransum. Mekanisme pengurangan bakteri patogen dalam saluran pencernaan oleh asam organik adalah asam organik membuat tubuh bakteri patogen menjadi asam. Bakteri patogen adalah bakteri yang tidak toleran terhadap perubahan pH sehingga bakteri tersebut akan berusaha menyeimbangkan tubuhnya dengan cara mengeluarkan asam dari dalam tubuhnya. Proses pengeluaran asam akan membutuhkan energi dan akibat dari banyaknya asam organik yang masuk dalam tubuh, bakteri patogen akan kehabisan energi dan akhirnya mati.

Cheeke (1987) dan Xiangmei (2008) menyatakan jika ingin meningkatkan performa reproduksi induk kelinci, dibutuhkan kandungan protein antara 17-18 % dalam ransum (Tabel 3). Menurut Tillman et al. (1998), faktor pakan sangat menentukan pertumbuhan, bila kualitasnya baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup, maka pertumbuhannya akan menjadi cepat, demikian pula sebaliknya. Gauthier (2002) menyatakan bahwa asam organik dapat menghambat pertumbuhan bahkan dapat membunuh bakteri pathogen seperti E. Coli dengan cara menurunkan pH dalam tubuh bakteri tersebut.

(41)

Persentase Kebuntingan dan Lama Kebuntingan

Persentase kebuntingan merupakan rasio antara jumlah induk kelinci yang bunting dengan jumlah kelinci yang dikawinkan. Persentase kebuntingan dianalisa secara deskriptif.

Tabel 9. Persentase Kebuntingan, Litter Size, Litter Weight,serta Bobot Lahir dan Lama Kebuntingan

Peubah Perlakuan

R1 R2

Jumlah Induk Bunting (ekor) 6 3

Persentase Kebuntingan (%) 100 50

Lama Kebuntingan (hari) 30,67±0,82 30,33±0,58

Litter size (ekor) 4,17±2,04 3±1

Litter weight (g) 208,83±77,95 146±37,51

Bobot Lahir (g/ekor) 57,31±22,07 49,58±4,16

Keterangan : R1 = Pellet Ransum Komplit R2 = Silase Ransum Komplit

Persentase kebuntingan pada perlakuan pellet ransum komplit (R1) yaitu sebesar 100% lebih baik dibandingkan pada perlakuan silase ransum komplit (R2) yang hanya 50% (Tabel 9). Hasil penelitian Kharisma (2007) menyatakan bahwa persentase kebuntingan induk kelinci peranakan New Zealand White sebesar 70%. Penyebab utama rendahnya persentase kebuntingan pada perlakuan silase (R2) adalah kurangnya asupan nutrien akibat dari rendahnya konsumsi bahan kering ransum. NRC (1977) menyatakan bahwa kebutuhan bahan kering induk kelinci pada periode kebuntingan berkisar antara 115-251 g/ekor/hari, sedangkan konsumsi bahan kering silase hanya sebesar 108,14 g/ekor/hari. Xiangmei (2008) menyatakan jika ingin meningkatkan performa reproduksi induk kelinci, dibutuhkan kandungan protein antara 17-18 % dalam ransum. Apabila terjadi kekurangan protein (PK<15%) maka akan terjadi penurunan performa seperti rendahnya jumlah laktasi dan bobot sapih. Apabila terjadi kelebihan protein (PK>18,5%), akan menyebabkan efek yang merugikan dalam saluran pencernaan induk kelinci dan menurunkan pertumbuhan kelinci muda. Kelebihan protein akan diubah menjadi urea oleh bakteri proteolitik

Gambar

Tabel 1. Karakteristik Produk Silase dengan Kualitas yang Berbeda
Tabel 3. Kebutuhan Zat Makanan Kelinci dalam Berbagai Status Fisiologis
Tabel 4. Kebutuhan Bahan Kering Pakan Kelinci Berdasarkan Periode Pemeliharaan
Gambar 1. Tahapan Pembuatan Silase Ransum Komplit Rumput Lapang dan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Untuk anak jalanan yang berasal dari Kabupaten Sidoarjo di tangani langsung oleh Dinas Kesejahteraan Sosial Kabupaten Sidoarjo, dan diberikan pembinaan sosial melalui

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional , disingkat Bappenas , adalah lembaga pemerintah nonkementerian Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada siklus II ini sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah direncanakan oleh peneliti. Pelaksanaan pembelajaran

pembiayaan mudharabah mudharabah financing Penurunan (kenaikan) pembiayaan musyarakah 305,853 ( 122,633 ) Decrease (increase) in musyarakah financing Penurunan (kenaikan)

Penutur tidak memperdulikan perasaam lawan tutur dan penutur memiliki penilaian negatif terhadap muka positif dari lawan tutur dengan meragukan keberanian dari lawan

Pembuatan perancangan antar muka ini dibuat untuk merancang halaman aplikasi yang berinteraksi langsung dengan pengguna agar aplikasi tersebut menjadi userfriendly

Simpulan: Faktor yang berhubungan dengan pemakaian implan pada wanita kawin usia subur adalah nilai budaya yang mendukung, adanya role model, pengetahuan yang baik

Character education in schools to be effective because, (a) the basic values of the characters from the culture of the school, family and society, (b) the character education