1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di era globalisasi ini, semua sektor industri mengalami perkembangan dan perubahan, salah satu sektor yang mengalami perkembangan paling signifikan terjadi pada sektor makanan dan minuman. Banyak usaha makanan dan minuman yang kini mulai bermunculan dan hadir dengan keunikan dan inovasi baru yang menarik minat masyarakat di Indonesia.
Menurut data dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan peningkatan jumlah usaha makanan dan minuman pada tahun 2008 – 2011
Tabel 1.1 Perkembangan Usaha Restoran di Indonesia
Tahun Jumlah Usaha Pertumbuhan (%)
2008 2,235 38.39
2009 2,704 20.98
2010 2,916 7.84
2011 2,977 2.09
Sumber: Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Tabel 1.1 di atas menunjukkan bahwa perkembangan jumlah usaha restoran di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun 2008 ke tahun 2011 yaitu dari 2,235 menjadi 2,977 usaha restoran.
Sedangkan di Kalimantan Barat yang merupakan provinsi di mana penelitian ini dilakukan dapat ditunjukkan pada Tabel 1.2 bahwa angka pendapatan usaha rumah makan / restoran di Provinsi Kalimantan Barat turut meningkat dari tahun 2010-2012 dari Rp 1.820.695.130,00 menjadi Rp2.938.427.812,00.
Tabel 1.2 Perkembangan Jumlah Pendapatan Restoran di Kalimantan Barat
Tahun Jumlah Pendapatan
2010 Rp 1.820.695.130,00
2011 Rp 2.405.328.296,00
2012 Rp 2.938.427.812
Sumber: Badan Pusat Stastistik
Jumlah restoran yang kian meningkat mendesak para pelaku bisnis restoran untuk meningkatkan citra merek (brand image) restoran supaya tetap dilirik oleh masyarakat. Simamora dalam Sangadji dan Sopiah (2013:327) mengatakan bahwa citra merek (brand image) berarti seperangkat asosiasi unik yang ingin diciptakan atau dipelihara oleh pemasar. Asosiasi-asosiasi itu menyatakan apa yang sesungguhnya merek dan apa yang dijanjikan kepada konsumen.
Untuk mencapai sebuah keputusan pembelian konsumen, citra merek yang baik dan positif sangat diperlukan karena citra merek suatu produk seringkali digunakan konsumen menjadi acuan dalam membuat keputusan. Sangadji dan Sopiah (2013:338) mengemukakan bahwa, “Citra merek yang positif memberikan manfaat bagi produsen untuk lebih dikenal konsumen. Dengan kata lain, konsumen akan menentukan pilihannya untuk membeli produk yang mempunyai citra yang baik. Begitu pula sebaliknya, jika citra merek negatif, konsumen cenderung mempertimbangkan lebih jauh lagi ketika akan membeli produk.”
Menurut Engel et al dalam Sangadji dan Sopiah (2013:334) keputusan pembelian adalah tahap di mana pembeli menentukan sikap dalam pengambilan keputusan apakah membeli atau tidak. Ketika hendak membeli sebuah produk, hal pertama yang dilihat oleh konsumen adalah citra merek dari produk tersebut. Dan pada saat terjadinya keputusan pembelian yang dilakukan, maka konsumen akan mengetahui bagaimana pelayanan dan kualitas dari produk tersebut. Jika konsumen tidak memiliki pengalaman dengan suatu produk, mereka cenderung untuk mempercayai merek yang disukai atau yang terkenal (Schiffman dan Kanuk dalam Sulistyari, 2012).
Oleh karena itu, sebuah perusahaan harus memperhatikan aspek citra merek (brand image) agar menarik konsumen untuk datang, semakin kuat citra merek yang ada di benak konsumen maka semakin besar keinginan konsumen untuk membeli. Hal ini di dukung Shimp et al dalam Sangadji dan Sopiah (2013: 327) yang menyebutkan bahwa brand image dapat dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul dalam benak konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu. Komponen dari brand image menurut Biel dalam jurnal penelitian Sulistyari (2012) terdiri atas citra perusahaan, citra produk/ konsumen, dan citra pemakai. Citra perusahaan adalah citra yang ada dalam perusahaan itu sendiri, di mana perusahaan berusaha membangun imagenya dengan tujuan agar nama perusahaan bagus. Citra produk/konsumen merupakan citra konsumen terhadap suatu produk yang dapat berdampak positif ataupun negatif. Dan citra pemakai sendiri dapat dibentuk langsung dari pengalaman dan kontak dengan pengguna merek tersebut.
Restoran yang ada di indonesia memiliki banyak jenis preferensi masakan, seperti masakan Western, Chinese, Japanese, dan Indonesian. Dan dari berbagai jenis masakan tersebut umumnya restoran menjual berbagai olahan nasi. Nasi merupakan makanan pokok orang Indonesia dan juga menjadi makanan pokok masyarakat dari negara Asia lainnya. Jenis olahan nasi yang ada di Indonesia terdapat berbagai macam, dari yang umum hingga yang hanya terdapat di suatu daerah yang merupakan ciri khas suatu tempat. Di antara berbagai macam jenis olahan nasi, terdapat seperti nasi goreng, nasi padang, dan nasi uduk yang umum di temukan di masyarakat, salah satunya di kota Pontianak.
Dari seluruh jenis olahan tersebut, nasi uduk di pilih karena selain merupakan makanan utama masyarakat pontianak tetapi juga salah satu jenis yang lebih memungkinkan untuk dilakukannya penelitian karena terdapat banyak restoran penyedia yang memiliki ukuran restoran yang relatif tidak jauh berbeda dibandingkan dengan jenis lainnya. Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang merupakan salah satu restoran yang menjual nasi uduk ayam di Pontianak yang telah berdiri sejak tahun 1991 di Jl. Gajahmada, Pontianak yang kemudian pada tahun 2001 pindah ke Jl. Setiabudi, Pontianak yang memiliki jam operasional mulai dari 09.00 hingga 21.00. Nama ayam gebuk pada merek mereka berarti setelah proses penggorengan daging ayam dipukul, sehingga menjadikan tekstur daging yang lembut dan menimbulkan aroma yang sedap.
Seiring dengan berjalannya waktu, Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang menghadirkan beberapa inovasi menu baru, seperti ayam bakar, ayam goreng penyet, ayam penyet bakar, ayam taliwang, dan ayam kampung. Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang kini di kelola oleh generasi kedua dari Bapak Achiang yaitu, Bapak Yayan Hendro.
Restoran nasi uduk yang berada di Pontianak ada banyak, namun yang ingin peneliti angkat untuk dijadikan perbandingan terdapat 4 restoran nasi uduk yaitu Nasi uduk Borobudur, Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang, Raja Uduk, dan Nasi Uduk Ayam Jogja Ny. Ana. Hal ini didasarkan karena keempat restoran tersebut memiliki ukuran restoran yang relatif sama yang dilihat dari kapabilitas restoran. Berikut ini adalah hasil dari pra survei terhadap 100 orang masyarakat Pontianak tentang restoran nasi uduk ayam manakah yang sering mereka kunjungi.
Gambar 1.1 Diagram Responden Berdasarkan Restoran Nasi Uduk Ayam Sumber: Penelitian, 2015
Gambar 1.2 Diagram Responden Berdasarkan pernah mendengar Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang
Sumber: Penelitian, 2015
Gambar 1.3 Diagram Responden Berdasarkan Bagaimana Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang
Sumber: Penelitian, 2015
Dari pra survei yang dilakukan, pada pertanyaan pertama terdapat hasil yang di mana Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang berada di urutan ketiga dibawah Nasi Uduk Ayam Borobudur dan Raja Uduk, yang di mana Nasi Uduk Ayam Borobudur merupakan pesaing kuat karena terletak tidak jauh dari Restoran Nasi Uduk Ayam
Gebuk Mr. Achiang. Dan di ketahui bahwa jam operasional Nasi Uduk Ayam Borobudur adalah dari jam 15.00 hingga 22.00 malam. Pada pertanyaan kedua terdapat hasil di mana 52% masyarakat Pontianak pernah mendengar Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang, dengan hasil tersebut dapat diketahui bahwa merek Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang cukup dikenal masyarakat Pontianak. Dan pada pertanyaan ketiga dengan pertanyaan “Bagaimana menurut Anda tentang Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang” di mana pada pertanyaan ini penulis memberikan pilihan jawaban secara open, terdapat hasil sebanyak 53 orang berpendapat bahwa hidangan yang disajikan di Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang kurang enak, 22 orang berpendapat terlalu mewah, 14 orang berpendapat bahwa Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang mahal, dan 11 orang berpendapat bahwa pelayanan di Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang kurang ramah.
Dengan demikian dapat di lihat bahwa Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang kurang dipilih masyarakat Pontianak berdasarkan beberapa alasan, maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk menguji hubungan antara citra merek Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang terhadap keputusan pembelian di Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang, sehingga penulis memilih judul “PENGARUH BRAND IMAGE (CITRA MEREK) TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN DI RESTORAN NASI UDUK AYAM GEBUK MR.ACHIANG, PONTIANAK”.
1.2 Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian berjalan dengan efektif, maka penelitian ini dilakukan hanya berfokus mengenai pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian di restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang, Pontianak.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana brand image restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr.
Achiang,Pontianak di mata konsumen?
2. Bagaimana keputusan pembelian di restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr.
Achiang, Pontianak ?
3. Bagaimana pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian di restoran
Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang, Pontianak ?
1.4 Tujuan dan Manfaat 1.4.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan tugas akhir ini :
1. Untuk mengetahui bagaimana brand image d restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang, Pontianak di mata konsumen
2. Untuk mengetahui bagaimana keputusan pembelian di restoran Nasi
Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang, Pontianak.
3. Untuk mengetahui pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian
di restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang, Pontianak. 1.4.2 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Formal
Sebagai salah satu syarat kelulusan dalam menyelesaikan studi program Diploma IV Fakultas Ekonomi dan Komunikasi Jurusan Hotel Management.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dan referensi dalam meningkatkan dan mempertahankan brand image perusahaan.
1.5 Hipotesis
“Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitan, dimana rumusan masalah penelitan telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan” (Sugiyono, 2012: 64).
Ho : Tidak terdapat pengaruh antara brand image terhadap keputusan pembelian di Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang, Pontianak .
Ha : Terdapat pengaruh antara brand image terhadap keputusan pembelian di Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang, Pontianak.
1.6 Landasan Teori
1.6.1 Pengertian Merek (Brand)
Menurut American Marketing Association dalam Kotler dan Keller (2011:263) Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau desain, atau kombinasi dari mereka, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakan mereka dari para pesaing. 1.6.2 Pengertian Citra Merek (Brand Image)
Menurut Rangkuti dalam Sangadji dan Sopiah (2013:327) “Citra merek adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk di benak konsumen.” Simamora dalam Sangadji dan Sopiah (2013:327) mengemukakan bahwa “Citra merek adalah seperangkat asosiasi unik yang ingin diciptakan atau dipelihara oleh pemasar. Asosiasi-asosiasi itu menyatakan apa sesungguhnya merek dan apa yang dijanjikan kepada konsumen.”
1.6.3 Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Sangadji dan Sopiah (2013:120) “Mendefinisikan keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua pilhan alternatif atau lebih. Seorang konsumen yang hendak memilih harus memiliki pilihan alternatif.”
1.7 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif asosiatif – kausal.
1.7.1 Jenis Data
Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah :
1. Data Primer
“Data primer adalah data yang dkumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan” (Siregar, 2013: 16).
2. Data Sekunder
“Data sekunder adalah dat yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan pengolahannya” (Siregar, 2013: 16).
1.7.2 Metode pengumpulan Data
Menurut Siregar (2013:17) pengumpulan data adalah “Suatu proses pengumpulan data primer dan sekunder, dalam suatu penelitian pengumpulan data merupakan langkah yang penting, karena data yang dikumpulkan akan digunakan untuk pemecahan masalah yang sedang ditelit atau untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.”
Metode pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Observasi
Observasi adalah “Kegiatan pengumpulan data dengan melakukan penelitian langsung terhadap kondisi lngkungan objek penelitan yang mendukung kegiatan penelitan, sehingga didapat gambaran secara jelas tentang kondisi objek penelitian tersebut” (Siregar, 2013: 19). Dengan metode observasi penulis melakukan pengamatan secara langsung di Restoran Nasi Uduk Ayam Gebuk Mr. Achiang, Pontianak.
2. Kuesioner
Kuesioner adalah “Suatu teknik pengumpulan informas yang memungkinkan analisis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku,
dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada” (Siregar, 2013: 21).
3. Studi Pustaka
Studi pustaka bertujuan untuk memperoleh teori-teori yang mendukung penelitian ini dengan sumber dari buku-buku dan penelitian-penelitian yang sebelumnya telah di teliti.
4. Wawancara
Wawancara bertujuan untuk memperoleh data untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab.
1.8 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan tugas akhir ini terdiri dari lima bab, dengan pembagian sebagai berikut :
BAB 1. PENDAHULUAN
Pada bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah yang akan diteliti yang merupakan landasan dasar dalam melakukan penelitian, ruang lingkup penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, hipotesis, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB 2. LANDASAN TEORI
Pada bab ini penulis membahas mengenai teori – teori yang digunakan dalam penelitian ini.
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi tentang metode-metode yang digunakan dalam membahas masalah dalam penelitian ini.
BAB 4. ANALISIS PENELITIAN
Bab ini menjelaskan mengenai analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini. BAB 5. SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini penulis menjelaskan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan, serta saran – saran yang berisi masukan.