LINGKUNGAN
Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah proses
pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip "memenuhi
kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan".
Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas
daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan
ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Dokumen-dokumen PBB,
terutama dokumen hasilWorld Summit 2005menyebut ketiga hal dimensi tersebut saling
terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan. Skema
pembangunan berkelanjutan: pada titik temu tiga pilar tersebut, Deklarasi Universal
Keberagaman Budaya (UNESCO, 2001) lebih jauh menggali konsep pembangunan
berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa "...keragaman budaya penting bagi manusia
sebagaimana pentingnya keragaman hayati bagi alam". Dengan demikian "pembangunan
tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga sebagai alat untuk
mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual". dalam pandangan ini,
keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan
berkelanjutan.
Gambar 4.1 Skema Pembangunan Berkelanjutan
dalam proses produksi maupun yang dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Dalam
pengertian ini meliputi semua prasarana umum seperti tenaga listrik, telekomunikasi,
perhubungan, irigasi, air bersih dan sanitasi, serta pembuangan limbah. Sedangkan
infrastruktur sosial antara lain meliputi prasaran kesehatan dan pendidikan.
Ketersediaan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, bandara, sistem penyediaan
tenaga listrik, irigasi, sistem penyediaan air bersih, sanitasi dan sebagainya yang
merupakansocial overhead capital, memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan tingkat
perkembangan wilayah, yang antara lain dicirikan oleh laju pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari kenyataan bahwa daerah yang
mempunyai kelengkapan sistem infrastruktur yang lebih baik, mempunyai tingkat laju
pertumuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik pula dibandingkan
dengan daerah yang mempunyai kelengkapan infrastruktur yang terbatas. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa penyediaan infrastruktur merupakan faktor kunci dalam
mendukung pembangunan nasional. Pembangunan infrastruktur dapat mengurangi tingkat
pengangguran dan kemiskinan. Semakin besar alokasi dana untuk perbaikan infrastruktur,
maka semakin besar penurunan angka pengangguran yang secara simultan akan
mengurangi kemiskinan.
Sesuai dengan amanah Undang – undang nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang yang menggariskan bahwa pemanfaatan ruang harus memperhatikan daya dukung
lahan, keseimbangan, keserasian dan keterpaduan. Seiring dengan penggunaan ruang
yang semakin padat, sedangkan ruang yang tersedia terbatas, maka diperlukan
pengaturan pemanfaatan ruang sesuai penggunaannya dengan memperhatikan daya
dukung dan daya tampung lainnya.
Kabupaten Tulungagung adalah salah satu kabupaten di selatan Provinsi Jawa
Timur yang memiliki potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan letak geografis
yang strategis guna mendukung perkembangan pembangunan Kabupaten Tulungagung
sendiri maupun kabupaten sekitarnya. Dengan keadaan tersebut, Kabupaten Tulungagung
mempunyai potensi besar serta tantangan serta dan permasalahan tersebut, diperlukan
Untuk mewujudkan pembangunan di Kabupaten Tulungagung yang berwawasan
lingkungan, maka disusun Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Berdasarkan
Undang – undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup bahwa dalam mengupayakan perbaikan kualitas Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), maka penyusunan RPJMD harus
dilengkapi dengan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) atau Strategic
Environmental Assessment (SEA). KLHS merupakan salah satu alat bantu yang berupaya
memperbaiki kerangka pikir (framework of thinking) Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) untuk mengatasi persoalan lingkungan hidup.
Kewajiban pelaksanaan KLHS oleh Pemerintah Daerah termuat didalam Undang –
undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pasal 15 bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melaksanakan KLHS kedalam
penyusunan atau evaluasi terhadap Rencana Tata Ruang wilayah beserta rinciannya,
Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Rencana Pembangunan jangka Menengah,
baik di tingkat nasional, Provinsi, dan kabupaten; dan terhadap kebijakan, rencana,
dan/atau program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau resiko lingkungan
hidup.
Tabel 4.1 Proses Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan Bidang Cipta Karya
No. Pengelompokan Isu-isu Pembangunan
Berkelanjutan Bidang Cipta Karya Penjelasan Singkat
(1) (2) (3)
4.1 Sosial
1. Pencemaran menyebabkan berkembangnya
wabah penyakit
Polusi atau pencemaran lingkungan adalah
masuknya atau dimasukkannya makluk hidup, zat
energi, dan atau komponen lain ke dalam
lingkungan atau berubahnya tatanan lingkungan
oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam
sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan
sesuai dengan peruntukannya (UU Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982).
Pencemaran lingkungan meliputi pencemaran air,
tanah dan udara baik yang dikategorikan sebagai
pencemaran ringan, kronis muapun pencemaran
akut. Bahan pencemaran lingkungan dibedakan
lagi menjadi empat jenis yang terdiri atas bahan
pencemaran kimiawi, biologi, fisik dan pencemaran
suara. semua jenis pencemaran lingkungan
tersebut memiliki kerugiannya masing-masing yang
dapat merusak atau menurunkan kualitas dari
lingkungan tersebut.
Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung
maupun tidak langsung. Secara langsung artinya
bahan pencemar tersebut langsung berdampak
meracuni sehingga mengganggu kesehatan
manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu
keseimbangan ekologis baik air, udara maupun
tanah. Sedangkan proses tidak langsung adalah
bereaksinya beberapa zat kimia di udara, air
maupun tanah yang pada akhirnya menyebabkan
pencemaran. Pencemar yang langsung terasa
dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan
langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan
setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis).
Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri
untuk mengatasi pencemaran (self recovery),
namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas
itu terlampaui, maka pencemar akan berada di
alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian
berdampak pada manusia, material, hewan,
Pencemaran yang paling rentan dan dekat dengan
kehidupan sehari-hari selain polusi udara adalah
polusi akibat sampah. Dampak sampah bagi
manusia dan lingkungan sangat besar baik sampah
domestik maupun non domestik, kesemuanya
sangat merugikan manusia baik secara langsung
maupun tidak langsung. Sampah-sampah yang
menumpuk merupakan salah satu sumber penyakit
yang terbesar. Bakteri penyebab TBC dan penyakit
berbahaya lainnya banyak bersarang di
sampah-sampah tersebut. Apabila tidak ada penanganan
yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut,
wabah penyakit akan timbul dan membahayakan
mahluk hidup yang ada di lingkungan tersebut, tak
terkecuali hewan dan tumbuhan.
4.2 Ekonomi
1. Kemiskinan berkorelasi dengan kerusakan
lingkungan
Kerusakan lingkungan disebabkan oleh banyak
faktor, terutama ulah manusia yang tidak
bersahabat dengan lingkungan itu sendiri. Manusia
seharusnya bertanggung jawab untuk menjaga
kelestarian lingkungan, tetapi mereka justru
merusak lingkungan. Mereka cenderung
mengambil kekayaan alam seenaknya sehingga
menimbulkan kerusakan dan polusi. Setelah
kekayaan alam digunakan, mereka tidak peduli
terhadap kebutuhan generasi mendatang yang
juga memiliki hak untuk menikmatinya. Kebutuhan
seringkali mendorong manusia untuk mengambil
sumber daya alam secara besar-besaran tanpa
mempedulikan dampaknya. Salah satu faktor
utama penyebab rusaknya lingkungan adalah
Banyak pakar mengemukakan pendapat bahwa
kemiskinan adalah salah satu penyebab utama
kerusakan lingkungan di negeri ini. Kemiskinan
bisa kita temui dengan mudah di kota-kota besar.
Pedesaan juga rawan kemiskinan karena
pertumbuhan ekonomi di desa tidaklah secepat
kota. Selain itu, tidak ada minat untuk
mengembangkan ekonomi perdesaan karena
dinilai tidak bisa menghasilkan keuntungan besar.
Lalu apa kaitannya dengan lingkungan hidup?
Kemiskinan di kota besar mungkin tidak terlalu
berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan,
tetapi penduduk miskin yang tinggal di desa
cenderung merusak lingkungan untuk memenuhi
kebutuhan mereka. Jika mereka terdesak oleh
kebutuhan ekonomi, mereka bisa merusak hutan
atau lingkungan sekitar, atau mengambil kekayaan
alam tanpa perhitungan. Penduduk miskin akan
menebangi pohon untuk mencukupi kebutuhan
hidup. Mereka memanfaatkan lahan marginal
secara tidak proporsional. Jika tidak ada sumber
penghasilan yang bisa diandalkan untuk
mencukupi kebutuhan hidup, mereka terpaksa
merampas kekayaan alam untuk memenuhinya.
Hutan menjadi satu-satunya tempat yang bisa
mereka manfaatkan untuk bertahan hidup.
Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh
penduduk miskin cenderung dipengaruhi oleh pola
pikir mereka. Karena mereka terhimpit oleh
kemiskinan, pikiran mereka hanya terfokus pada
makanan yang bisa mereka dapatkan untuk
yang mendorong mereka merusak lingkungan dan
merampas kekayaannya tanpa memberikan waktu
bagi alam untuk memperbarui sumber dayanya.
Lingkungan hanya dipandang sebagai alat untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehingga tidak ada
rencana apapun untuk memanfaatkan kekayaan
lingkungan seefektif mungkin. Selama lingkungan
masih bisa memenuhi kebutuhan mereka, mereka
tidak peduli terhadap kerusakan lingkungan.
2. Perkembangan ekonomi lokal dari
pembangunan infrastruktur permukiman
Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu
aspek penting dan vital untuk mempercepat proses
pembangunan suatu daerah. Infrastruktur juga
memegang peranan penting sebagai salah satu
roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Ini
mengingat gerak laju dan pertumbuhan ekonomi
tidak dapat pisahkan dari ketersediaan infrastruktur
seperti transportasi, telekomunikasi, sanitasi, dan
energi. Oleh karena itu, pembangunan sektor ini
menjadi fondasi dari pembangunan ekonomi
selanjutnya.
Untuk infrastruktur Pekerjaan Umum,
pembangunan sejauh ini pada hakikatnya telah
memberi landasan yang mendukung kehidupan
ekonomi dan sosial masyarakat. Hal ini tercermin
dari pengembangan sumber daya air telah menjadi
pendukung program ketahanan pangan, dan
menjadi sumber air bagi penyediaan air minum dan
air untuk berbagai keperluan lainnya seperti
pembangkit listrik tenaga air dan pengendalian
banjir yang kesemuanya mendukung
pengembangan perkotaan, industri dan sektor jasa.
Dibidang jalan, telah terbangun Aset Jalan yang
dan pasar, sehingga memberi manfaat terutama
meningkatnya mobilitas distribusi berbagai produk
barang dan jasa. Sistem air bersih yang terbangun
telah melayani sekian juta penduduk perkotaan dan
penduduk perdesaan, dan pembangunan
prasarana lingkungan permukiman yang tersebar di
kota besar dan sedang telah memberi manfaat
dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat
berpenghasilan rendah, peningkatan pertumbuhan
ekonomi lokal, serta terbukanya kesempatan kerja
4.3 Lingkungan
1. Kecukupan air baku untuk air minum Sumber air baku yang dapat digunakan untuk
kebutuhan air minum terdiri dari mata air, air
permukaan (sungai, danau, waduk, dll.), air tanah
(sumur gali, sumur bor) maupun air hujan. Dari segi
kualitas air, kualitas mata air relatif jernih
dibandingkan dengan kualitas sumber air dari air
permukaan pada umumnya, dengan demikian mata
air lebih baik digunakan dibandingkan dengan air
permukaan. Namun keberadaan mata air ini pada
saat ini terus berkurang. Air tanah, yang umumnya
mempunyai kandungan besi dan mangan relatif
lebih besar dari sumber air yang lain,
pemakaiannya juga sudah harus mulai dikurangi
atau dihentikan sehubungan dengan masalah
penurunan muka tanah. Air hujan yang
keberadaannya sangat tergantung musim, masih
dapat digunakan sebagai sumber air baku dengan
membangun tangki penampungan atau waduk
dalam skala besar. Di wilayah pedesaan
Tulungagung, kondisi air tanah masih bagus
sehingga masyarakat cenderung memanfaatkan air
Sedangkan masyarakat perkotaan menggunakan
jasa PDAM.
2. Pencemaran lingkungan oleh infrastruktur
yang tidak berfungsi maksimal
Pembangunan infrastruktur memiliki 2 (dua) sisi
yaitu: tujuan pembangunan dan dampak
pembangunan. Setiap kegiatan pembangunan
yang dilaksanakan pasti menimbulkan dampak
terhadap lingkungan baik dampak positif maupun
dampak negatif, yang perlu diperhatikan adalah
bagaimana melaksanakan pembangunan untuk
mendapatkan hasil dan manfaat yang maksimal
dengan dampak negatif terhadap lingkungan yang
minimal.
Bagaikan dua sisi mata uang yang tidak
terpisahkan, selain mempunyai dampak positif
ternyata pembangunan infrastruktur juga
mempunyai dampak negatif. Pembangunan
infrastruktur juga berdampak negatif bagi
kelestarian alam, diantaranya dengan
berkurangnya sumberdaya alam akibat ekploitasi
berlebihan, pencemaran udara akibat polusi
industri dan pembangunan infrastruktur
perekonomian yang identik dengan perusakan
alam. Sehingga hal tersebut menimbulkan suatu
pernyataan bahwa pembangunan infrastruktur
selalu identik dengan perusakan alam.
Infrastruktur yang tidak berfungsi maksimal baik itu
karena rusak atau terbengkalai karena tidak
termanfaatkan dapat menimbulkan pencemaran
bagi lingkungan. Kita ambil saja contoh
infrastruktur permukiman berupa saluran air
berfungsi maksimal karena rusak maka akan terjadi
leakege atau kebocoran yang menyebabkan
tercemarinya tanah dan air tanah oleh air limbah
yang merembes ke dalam tanah.
3. Dampak kumuh terhadap kualitas lingkungan Permukiman kumuh dapat didefinisikan sebagai
suatu lingkungan yg berpenghuni padat (melebihi
500 org per Ha) dengan kondisi sosial ekonomi
masyarakat yang rendah, jumlah rumahnya sangat
padat dan ukurannya dibawah standar, sarana
prasarana tidak ada atau tidak memenuhi syarat
teknis dan kesehatan serta hunian dibangun diatas
tanah milik negara atau orang lain dan diluar
perundang-undangan yang berlaku. Permukiman
kumuh merupakan salah satu masalah sosial tidak
mudah untuk diatasi
Permukiman kumuh dapat mengakibatkan
berbagai dampak. Dampak langsung dari adanya
permukiman kumuh dalam hal keruangan yaitu
adanya penurunan kualitas lingkungan fisik
maupun sosial permukiman yang berakibat
semakin rendahnya mutu lingkungan sebagai
tempat tinggal.
Dampak negatif dari pemukiman kumuh bagi
lingkungan antara lain:
- Pemborosan energi karena biasanya pada
lingkungan tersebut masyarakat kurang
mempunyai kesadaran yang lebih akan hal ini,
dan sering mengunakan nya lampu filamen
dan juga merangkai arus listerik secara asal
yang menyebabkan pemborosan energi listrik.
- Terjangkitnya penyakit menular karna kurang
- Penumpukan sampah dan limbah material
rumah yang tidak bisa didaur ulang karna tidak
menggunakan suistinable material.
- Dapat merusaknya lapisan ozon karna hasil
pembakaran sampah yang asal oleh
masyarakat sekitar, karna tidak adanya
pengelola sampah.
- Wajah perkotaan menjadi memburuk dan kotor.
4. Dampak perubahan iklim terhadap kawasan
permukiman dan upaya mitigasi dan adaptasi
yang telah dilakukan
Berbagai hasil penelitian di bidang perubahan iklim
yang selama ini dilakukan mengindikasikan bahwa
perubahan iklim dan dampaknya sedang terjadi di
Indonesia. Peristiwa-peristiwa bencana yang terjadi
di Indonesia, menunjukkan bahwa perubahan iklim
bukan lagi sebuah isu. Perubahan iklim adalah
sebuah fakta yang harus dihadapi oleh masyarakat
di bumi. Terjadinya perubahan iklim berkaitan erat
dengan perilaku manusia sekaligus iklim itu sendiri.
Dampak perubahan iklim di wilayah perkotaan
yaitu: kota-kota memiliki suhu yang lebih hangat
dan lebih sering mengalami siang dan malam yang
panas di banyak wilayah; sedikit hari dan malam
yang dingin; peningkatan frekuensi angin/
gelombang; peningkatan frekuensi kejadian hujan
deras di beberapa wilayah; penambahan daerah
yang terkena bencana kekeringan; peningkatan
aktivitas badai tropis yang intens, dan peningkatan
insiden kenaikan permukaan air laut tinggi ekstrim.
Dampak perubahan iklim, di beberapa kota juga
ditambah dengan masalah penyediaan
sarana-prasarana dasar penghuninya. Perubahan iklim
infrastruktur fisik, transportasi, permintamaan dan
penawaran barang dan jasa, penyediaan energi
dan produksi industri. Dampak perubahan iklim
akan mengganggu potensi ekonomi lokal.
Beberapa penduduk dapat kehilangan aset dan
mata pencaharian. Dampak perubahan iklim
sangat dirasakan di wilayah pesisir atau yang
memiliki elevasi rendah. Terdapat 13% dari
penduduk perkotaan dunia tinggal di wilayah ini.
Dampak perubahan iklim seringkali merugikan bagi
kaum perempuan. Perempuan di beberapa wilayah
memerlukan ijin dari suami mereka, bahkan untuk
kebutuhan evakuasi. Anak-anak juga memiliki
resiko terkena dampak merugikan dari perubahan
iklim. Hal ini terkait dengan masa pertumbuhan dan
perkembangan anak yang mungkin terganggu oleh
peristiwa cuaca buruk dan bahaya iklim. Kejadian
seperti kenaikan suhu, gelombang panas, hujan
deras, kekeringan dapat berpengaruh pada
perkembangan organ, sistem saraf, pengalaman,
perilaku dan karakteristik anak.
Resiko bagi kaum perempuan dan anak-anak
dapat meningkat oleh karena kondisi kemiskinan
ekonomi. Kaum lanjut usia juga memiliki resiko
yang lebih tinggi, dibandingkan dengan yang
berusia kebih muda. Gelombang panas (misalnya
di Chicago (1995) dan Eropa (2003)) menjadi
contoh kematian kaum lanjut usia akibat perubahan
iklim. Kaum lanjut usia juga terbatas dalam hal
mobilitas, misalnya dalam menghadapi bahaya
banjir. Kaum perempuan (anak maupun lanjut usia)
perubahan iklim.
Ada dua konsep utama yang diperkenalkan oleh
regim modern untuk menghadapi dampak
perubahan iklim, yaitu mitigasi dan adaptasi.
Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim adalah
sebuah upaya yang dilakukan dalam menghadapi
dampak perubahan iklim. Secara singkat, mitigasi
berarti sebuah usaha yang dilakukan untuk
mencegah, menahan dan atau memperlambat efek
gas rumah kaca yang menjadi penyebab
pemanasan global di bumi. Berkebalikan dengan
mitigasi, adaptasi lebih kepada upaya yang
dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap
dampak perubahan iklim yang telah terjadi dan
dirasakan oleh manusia di bumi.
Mitigasi perubahan iklim didefinisikan sebagai
sebuah intervensi antropogenik untuk menurunkan
tekanan antropogenik terhadap sistem iklim,
termasuk didalamnya strategi untuk mengurangi
sumber-sumber penghasil gas-gas rumah kaca dan
meningkatkan penyerapan karbon. Terdapat
beberapa pendekatan yang dapat digunakan,
seperti dari sisi sosial, ekonomi, politik, dan
teknologi; yang semuanya dapat mendukung
penurunan emisi yang berkontribusi terhadap
perubahan iklim.
Terdapat empat strategi utama penerapan mitigasi.
Salah satunya adalah: Eliminasi, yaitu menghindari penggunaan alat-alat penghasil emisi
gas rumah kaca. Tindakan ini memberikan
langsung dirasakan. Contoh: Mematikan lampu
saat tidak digunakan; mematikan A/C saat tidak
ada orang didalam ruangan.
Startegi lainnya yang dpat dilakukan dalam
mengatasi damapak perubahan Iklim adalah:
Pengurangan. Yaitu sebuah tindakan dapat dilakukan dengan mengganti peralatan lama
dan/atau mengoptimalkan struktur yang sudah ada.
Tindakan mitigasi seperti ini sangat efektif dan
dapat integrasikan ke dalam bisnis sehari-hari
dengan usaha minimum. Contoh: Memasukkan
efisiensi energi ke dalam pengambilan keputusan
investasi
Hal lainnya yang dapat dilakukan dalam mengatasi
perubahan iklim adalah Subtitusi. Sekalipun langkah ini memiliki konsekswensi atau implikasi
biaya investasi yang tinggi. namun, akan
melahirkan dampak positif terhadap penurunan
potensi emisi melalui subtitusi sangatlah tinggi.
Contoh: Penggunaan energi terbarukan untuk
memenuhi kebutuhan listrik dan/atau pemanas.
Mitigasi perubahan iklim dapat juga dilakukan
dengan merubahnhabbitdalam hidup kita sehari
hari. Efisiensi energi dapat dilakukan melalui
substitusi ataupun melalui penghematan.
Penghematan energi seringkali turut menurunkan
emisi penyebab perubahan iklim. Penggunaan
energi secara efisien juga dapat menghemat biaya.
Dalam menghadapi perubahan iklim, tidak ada satu
solusi untuk semua dalam usaha efisiensi energi.
tergantung dari kasus per kasus. Bagaimanapun
juga, banyak tindakan efisiensi energi yang dapat
diterapkan dengan biaya investasi rendah dan
usaha minimum (tindakan tanpa/ rendah biaya).
Efisiensi energi yang membutuhkan biaya lebih
tinggi harus diimbangi dengan penghematan biaya
energi yang dikeluarkan.
4.1 Analisis Sosial
Ketika pada suatu daerah atau suatu komunitas terdengar akan terkena
suatu proyek pembangunan fisik, katakanlah pembangunan waduk, pengaspalan
jalan, perbaikan jembatan, atau konstruksi bangunan sekolah, ketika itu pula dalam
masyarakat sebenarnya sudah terjadi kasak-kusuk. Mereka telah menggunjingkan
pembangunan tersebut satu sama lain. Mereka telah mendiskusikan apa yang akan
berubah bila pembangunan tersebut jadi terlaksana. Pada saat seperti itu, bila detail
perencanaan pembangunan disusun tanpa kemudian menanyai aspirasi masyarakat
tenyang proyek yang akan dilaksanakan tersebut, maka ketika itulah masyarakat
mulai terpinggirkan oleh pembangunan. Akan timbul rasa termarginalisasi dan
ketakberdayaan terhadap sebuah desain perubahan yang berhubungan langsung
dengan hidup dan nasib mereka tetapi mereka tidak dilibatkan. Mereka seakan
dialienasikan dari perubahan yang justru menjadikan mereka sebagai obyeknya.
Bila masyarakat dihargai aspirasinya pada fase perencanaan
pembangunan, atau fase sosialisasi sebuah rencana pembangunan, maka dalam
masyarakat tersebut akan muncul apa yang disebut sebagai sense of identification,
kepekaan didalam mengidentifikasi kebutuhan dan masalah yang mereka hadapi.
Sebaliknya, bila sebuah pembangunan hadir begitu saja ditengah masyarakat, maka
yang muncul adalah sense of alienation, rasa keterasingan dari pembangunan,
pengarusutamaan gender. Masyarakat harus diberi akses untuk membaca laporan
dokumen lingkungan bila ada dan diberi kesempatan untuk menyampaikan komentar.
Selain itu lembaga pengelola infrastruktur perlu mengundang laki-laki dan perempuan
baik dalam sosialisasi hal teknis maupun manfaat program dengan proporsi seimbang
mencapai 50% atau minimal perempuan 40%, melibatkan petugas laki-laki dan
perempuan dari instansi terkait dalam proses sosialisasi, memilih waktu sosialisasi
yang tepat agar laki-laki dan perempuan dapat sama-sama hadir jika perlu adakan
pertemuan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, melakukan sosialisasi di
kalangan masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah padat dan kumuh,
menggunakan bahasa setempat yang mudah dipahami dengan penjelasan yang
sederhana.
Pada tahapan pelaksanaan pambangunan, dampak sosial budaya menjadi
lebih beragam lagi. Ketika ganti rugi diberikan secara tidak pantas dan tidak adil,
ketika itu protes sosial akan muncul. Tidak jarang, dampak penggusuran rumah
tangga dari tempat tinggalnya, akan menyebabkan terjadinya gelombang pergolakan
sosial, seperti yang misalnya terjadi pada sejumlah pembangunan waduk, lapangan
golf, lokasi pemukiman ataupun lokasi industi. Manajemen pembangunan yang tidak
becus akan memacu terjadinya tindakan resistensi dalam masyarakat. Sekali praktek
pembangunan yang tidak becus demikian terjadi, sustainabilitas pembangunan
secara sosial tidak terjamin. Proyek pembangunan yang dijalankan kemudian menjadi
rawan aksi protes. Bahkan cukup banyak bukti menunjukkan bahwa pembangunan
dengan penggusuran tanah yang tidak adil pada akhirnya berdampak jangka panjang
dalam bentuk penyerobotan dan perusakan bangunan setelah rezim yang menggusur
tersebut jatuh. Atau bisa juga, masyarakat menderita stres dalam kondisi
ketakberdayaan bila rezim sang pemilik pembangunan tidak jatuh-jatuh.
Dampak protes juga sering muncul ketika sebuah pembangunan tidak
mengindahkan nilai budaya dan penghargaan religius-historis suatu masyarakat.
Ketika seorang konglomerat-kapitalis Jakarta seenaknya ingin membangun sebuah
memamfaatkan tetapi dengan upah yang eksploitatif, ketika itulah protes masyarakat
setempat terjadi. Ketidakterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan juga bisa
menyebabkan tidak adanya rasa memiliki terhadap hasil pembangunan pada
masyarakat. Pembangunan tidak melahirkan sense of integrity dalam masyarakat.
Bahkan ketika petani dipaksa mengganti pupuk urea prill menjadi urea tablet secara
paksa dan tidak rasional, ketika itulah aksi protes terjadi. Kita akan dapat menemukan
sejumlah variasi dampak ekstrim dari pelaksanaan pembangunan.
Pada tahap pelaksanaan pembangunan infrastruktur, masyarakat harus
diajak berdiskusi untuk mengetahui situasi lapangan serta untuk menampung keluhan
dan ide masyarakat. Apabila terdapat persoalan teknis dan non teknis di lapangan
maka pengelola infrastruktur harus segera menyelesaikan persoalan. Selain itu,
pengelola infrastruktur perlu memberikan informasi profil perusahaan kontraktor
kepada masyarakat baik laki-laki maupun perempuan dan kepada tokoh masyarakat,
menghimbau kontraktor untuk menyampaikan informasi teknis dan atau mendampingi
kontraktor di lapangan dalam melakukan ini, bersama kontraktor memberikan
kesempatan kepada perempuan dan laki-laki untuk memantau proses pembangunan
dan memerikan tanggapan mengenai permasalahan teknis selama konstruksi dan
dampak sosialnya, serta memberitahu kepada perempuan dan laki-laki tentang jadwal
perbaikan jalan dan fasilitas publik lainnya yang rusak karena pembangunan
infrastruktur.
Pembangunan akan memberi kesempatan, fasilitas dan peluang kepada
masyarakat untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraannya. Ketika
hasil-hasil pembangunan tersebut tidak terdistribusi relatif adil dan merata dalam
masyarakat, maka ketika itulah dampak kesenjangan sosial-ekonomi akan terjadi.
Pembangunan menyebabkan masyarakat terpolarisasi atas yang kaya dan yang
miskin, pembangunan akan memacu kecemburuan sosial, pembangunan akan
meledakkan konflik sosial. Sebuah bangunan kawasan industri, perkebunan besar,
atau eksplorasi pertambangan yang hanya memberi kemamfaatan kepada
Hasil pembangunan sering juga berdampak pada matinya budaya lokal.
Ketika sebuah industri dibangun di tengah komunitas lokal, maka tunggulah, nilai dan
norma budaya masyarakat lokal tersebut akan terpinggirkan, secara perlahan
penganutnya akan mengikuti nilai dan norma budaya yang dikonstruksi oleh kompleks
industri tersebut. Demikianlah, maka ketika sebuah pusat wisata pantai tidak
terhindarkan harus menghadirkan prostitusi di dalam kawasannya, maka ketika itulah
komunitas lokal tersebut juga mengenal prostitusi: sebagian menolaknya, sebagian
menikmatinya. Pembangunan adalah sebuah ajaran tentang rasionalisme dan
individualisme. Maka, ketika sebuah pusat ekonomi hadir di tengah masyarakat desa
yang kaya akan gotong royong, terpola dalam aktifitas saling memberi dan menolong,
dengan pusat ekonomi tersebut mereka akan berubah secara perlahan menjadi
sangat rasional, komersial, dan individualistik. Jangan lagi menuntut dari mereka
kegotong-royongan atau saling tolong, karena dalam hidup ini memang tidak ada
yang gratis menurut rasionalisme dan individualisme.
Dari berbagai ilustrasi diatas, dampak sosial budaya kegiatan pembangunan
dapat diklasifikasi dalam beberapa kategori. Pertama, dampak yang sifatnya
berhubungan langsung dengan perubahan struktur sosial seperti kesenjangan sosial,
sehingga struktur sosial yang awalnya berpola stratifikasi oleh pembangunan berubah
menjadi struktur polarisasi. Ini sangat lazim terjadi dalam praktek pembangunan kita,
nilai tambah pembangunan hanya dinikmati oleh lapisan masyarakat tertentu saja,
sebaliknya lapisan masyarakat lain justeru hanya sering menjadi korban. Kedua,
dampak yang sifatnya berhubungan dengan perubahan pola interaksi/proses sosial
dalam masyarakat. Ketika praktek pembebasan tanah tidak berlangsung dalam
masyarakat, pola konflik dan konfrontasi tidak dikenal oleh masyarakat. Tetapi karena
pembebasan tanah demi pembangunan tidak adil, masyarakat kemudian mengenali
tindakan protes, pergolakan sosial dan pengrusakan. Pembangunan jadinya
menstimulasi perilaku konflik dalam masyarakat. Ketiga, dampak yang berhubungan
dengan kondisi psiklogis seseorang yang terkenai pembangunan. Tidak sedikit orang
korban penggusuran demi pembangunan menderita stres ringan, stres berat, bahkan
depresi. Juga, tidak sedikit orang sekitar Kedungombo, Jawa Tengah, menderita
gangguan jiwa karena berada dipuncak ketakutan dituduh komunis akibat menolak
meninggalkan rumah berhubung ganti rugi dari pihak pengelola proyek terlalu rendah.
Keempat, dampak yang berhubungan dengan nilai dan norma budaya masyarakat.
Nilai dan norma lokal sangat banyak yang terbongkar akibat terpaan industrialisasi.
Semakin kuatnya komersialisme, individualisme, dan rasionalisme, menjadikan nilai
tradisional-lokal seperti kegotong-royongan, kolektivisme, dan moralisme, tereduksi
bahkan hilang dalam tatanam nilai dan norma masyarakat.
Dampak sosial budaya kegiatan pembangunan bukanlah hal yang mudah
diduga. Pertama, ini disebabkan karena ruang sosial-budaya itu sendiri bukanlah
ruang yang hampa udara, bukanlah ruang yang statis. Ia memiliki isi dan ia sifatnya
dinamis. Hal yang pada suatu saat dianggap melanggar norma dan nilai secara
ekstrim suatu masyarakat, pada saat lain sudah bisa ditolerir oleh masyarakat
bersangkutan. Begitu pula sebaliknya. Suatu dampak yang sebelumnya tidak
dipersoalkan oleh masyarakat, pada saat lainnya justeru menjadi masalah signifikan.
Terdapat relativitas waktu yang harus diperhatikan didalam menduga dampak. Kedua,
reaksi masyarakat terhadap suatu proyek pembangunan, ia kadang berbeda dari
suatu lokalitas ke lokalitas lainnya. Pada suatu daerah, prostitusi terang-terangan
dibalik industri pariwisata sudah bisa diterima; pada daerah lainnya prostitusi
tersembunyi bisa menimbukan protes radikal. Pada suatu daerah, polusi bau bisa
diterima oleh masyarakat; pada daerah lain polusi bau memicu protes sosial.
Terdapat relativitas lokasi yang harus diperhatikan dalam pendugaan dampak. Ketiga,
untuk dampak yang sama, sering kali proyek berbeda akan terpresentasi secara
berbeda pula. Untuk dampak penyerapan tenaga kerja misalnya, dampak penyerapan
tenaga kerja sebuah industri manufaktur akan berbeda secara sosio-psiklogis dengan
penyerapan oleh industri pemukiman. Tenaga kerja yang diserap oleh sebuah pabrik
manufaktur akan merasa lebih tenteram dan terjamin masa depannya dibanding
dampak sosial budaya yang dihadapinya, ketika dalam masyarakat hadir agen
demokrasi yang berbeda. Reaksi suatu masyarakat terhadap pencemaran yang tidak
memiliki LSM dan tokoh gerakan protes akan berbeda dengan masyarakat yang
didalamnya bekerja LSM atau advokator. Kelima, dampak sosial budaya bukanlah hal
yang mudah dikuantifikasi. Dampak sosial-budaya sifatnya kualitatif dan subyektif. Ia
tidak bisa dihitung dalam angka-angka. Karena itu, pendugaan dampak sosial yang
mencoba membandingkannya dengan dampak ekonomi dan dampak lingkungan,
sering kali kesulitan dalam mencari standar yang sederajat untuk membandingkan
dampak.
Setidaknya lima relativisme tersebut yang harus disadari lebih dahulu di
dalam upaya menduga dampak sosial-budaya sebuah kegiatan pembangunan.
Selanjutnya, dampak sosial-budaya dapat diduga dengan memperhatikan
variabel-variabel yang berhubungan dengan karakteristik perencanaan, model pelaksanaan
dan tingkat kemanfaatan dari suatu kegiatan pembangunan. Variasi-variasi pada tiga
tahapan pembangunan ini yang selanjutnya mempengaruhi dampak
sosial-budayanya.
4.2 Analisis Ekonomi
Infrastruktur merupakan salah satu bidang profesi yang akhir – akhir ini
mendapat sorotan luas di masyarakat, media masa dan bahkan lembaga keuangan
internasional. Penyelenggaraan Infrastructure Summit awal tahun 2005, yang dihadiri
wakil dari berbagai negara telah memperkenalkan berbagai reformasi kebijakan
sebagai komitmen Pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur dengan
melibatkan sektor swasta nasional dan internasional. Infrastruktur Pekerjaan Umum,
mempunyai peran vital dalam mendukung ekonomi, sosial – budaya, kesatuan dan
persatuan terutama sebagai katalisator di antara proses produksi, pasar dan
konsumen akhir; merupakanmodal sosial masyarakat; memfasilitasi lebih terbukanya
cakrawala masyarakat; dan mempertemukan budaya antar masyarakat; mengikat dan
program ekonomi yang bertumpu pada infrastruktur, diantaranya program New Deal
oleh Presiden Roosevelt, pada saat resesi di USA tahun 1933 yang dengan
meningkatkan pembangunan infrastruktur secara signifikan telah memberikan
dampak positif meningkatkan ekonomi secara signifikan dan lebih 6 juta penduduk
dapat bekerja kembali. Untuk Indonesia, peran vital infrastruktur dicerminkan pada
target pembangunan ekonomi nasional Indonesia yang dilakukan Bappenas dengan
asumsi pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,6 % pertahun diperlukan investasi untuk
infrastruktur jalan, listrik, telepon dan air minum dalam 5 tahun (2005 – 2009) secara
total Rp. 690 trilyun.
Untuk infrastruktur Pekerjaan Umum, pembangunan sejauh ini pada
hakikatnya telah memberi landasan yang mendukung kehidupan ekonomi dan sosial
masyarakat. Hal ini tercermin dari pengembangan sumber daya air telah menjadi
pendukung program ketahanan pangan, dan menjadi sumber air bagi penyediaan air
minum dan air untuk berbagai keperluan lainnya seperti pembangkit listrik tenaga air
dan pengendalian banjir yang kesemuanya mendukung pengembangan perkotaan,
industri dan sektor jasa. Dibidang jalan, telah terbangun Aset Jalan Nasional,
Propinsi, Kabupaten, dan Kota serta Jalan Tol dengan panjang keseluruhan 346.000
km, yang telah menghubungkan berbagai pusat permukiman dan pasar, sehingga
memberi manfaat terutama meningkatnya mobilitas distribusi berbagai produk barang
dan jasa dalam ekonomi nasional. Sistem air bersih terbangun melayani 45 juta atau
40% penduduk perkotaan dan 7 juta atau 8% penduduk perdesaan, dan
pembangunan prasarana lingkungan permukiman tersebar di kota besar dan sedang
telah memberi manfaat meningkatnya derajat kesehatan masyarakat berpenghasilan
rendah, meningkatnya pertumbuhan ekonomi lokal, serta terbukanya kesempatan
kerja
Infrastruktur terbukti merupakan senjata yang ampuh dalam mendorong
perekonomian karena infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan
ekonomi. Fasilitas transportasi memungkinkan orang, barang dan jasa yang diangkut
berangkat bekerja, menjual barang ke pasar dan sebagainya. Infrastruktur yang baik
juga dapat meningkatkan produktivias dan mengurangi biaya produksi.
Pembangunan infrastruktur baik berupa transportasi (jalan, rel KA, pelabuhan laut,
pelabuhan udara), jaringan listrik dan komunikasi (telepon) serta instalasi dan jaringan
air minum sangatlah penting dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat
di suatu wilayah. Prasarana imfrastruktur dibutuhkan tidak saja oleh rumah tanga
namun juga oleh industri. Sehingga peningkatan prasarana infrastruktur diharapkan
dapat mebawa kesejahteraan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Daerah
dengan prasarana yang mencukupi mempunyai keuntungan yang lebih besar dalam
usaha menarik investasi untuk masuk ke daerahnya serta akan lebih cepat
berkembang dibandingkan dengan daerah yang memiliki prasarana yang minim.
Dengan infrastruktur yang meningkat ddiharapkan mampu menekan laju kemiskinan.
Mewujudkan kesejahteraan adalah upaya untuk meningkatkan kualitas
hidup masyarakat pada setiap lapisan. Dan salah satu langkah strategi utama untuk
mewujudkan kesejahteraan yang dikedepankan oleh Pemerintah Kabupaten
Tulungagung adalah menekan angka kemiskinan. Program Penanggulangan
Kemiskinan di Kabupaten Tulungagung menunjukkan hasil yang menggembirakan
terlihat dari tren angka kemiskinan yang menunjukkan pernurunan sebagaimana data
berikut:
Tabel 4.2 Tingkat Kemiskinan Kabupaten Tulungagung Tahun 2011-2015
Uraian Tahun
2011 2012 2013 2014 2015
Tingkat Kemiskinan (%) 9.90 9.37 9.03 8.75 8.65*
*) Angka Sementara
Sumber: BPS Kabupaten Tulungagung
Berdasarkan data tersebut tingkat kemiskinan di Kabupaten Tulungagung
pada dua tahun terakhir menunjukkan penurunan. Hal ini dipengaruhi keberhasilan
dan meningkatnya program-program dari pemerintah, pemerintah daerah yang
Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM),
Pengembangan Ekonomi Berbasis Kawasan dan Pengembangan Pasar Desa,
Pengembangan Usaha Ekonomi Desa, Pembentukan Koperasi Wanita (KOPWAN)
serta Jalan Lain Menuju Mandiri dan Sejahtera (JALIN MATRA).
4.3 Analisis Lingkungan
Setiap proses pembangunan tentu akan mempengaruhi keseimbangan
lingkungan (Tjahyadi dalam Supriyanta, 2002). Pembangunan yang semakin
meningkat akan mendesak sumber daya dan ruang. Akibatnya dalam penggunaan
ruang dan lahan untuk kegiatan pembangunan banyak menimbulkan berbagai
masalah seperti:
1. Menurunnya mutu lingkungan hidup karena pemanfaatan lahan yang tidak sesuai
dengan kemampuan daya dukung alam atau pemanfaatan yang berlebihan dan
bahkan merusak, baik dalam jangka pendek maupun panjang,
2. Banyak kawasan yang seharusnya berfungsi lindung dimanfaatkan untuk
kegiatan-kegiatan yang mengganggu fungsi lindung tersebut,
3. Adanya benturan kepentingan dalam penggunaan lahan, karena beberapa pihak
sama-sama merasa lebih berhak menggunakan kawasan tersebut,
4. Adanya perkembangan kota dan permukiman baru yang tak terkendali telah
menimbulkan permasalahan di kawasan itu maupun kawasan lain.
Walaupun pembangunan diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah,
namun pengalaman menunjukkan bahwa pembangunan dapat dan telah mempunyai
dampak negatif terhadap perobahan rona lingkungan. Pencemaran dan pengrusakan
lingkungan adalah dua resiko yang tidak dapat dihindari dalam rangka menjalankan
pembangunan. Wardhana (2001), menyatakan bahwa proses pembangunan dan
industrialisasi yang dilaksanakan, secara meluas telah menimbulkan dampak negatif
KLHS adalah sebuah bentuk tindakan strategis dalam menuntun,
mengarahkan, dan menjamin tidak terjadinya efek negatif terhadap lingkungan dan
berkelanjutan dipertimbangkan secara inheren dalam kebijakan, rencana dan
program (KRP). Posisinya berada pada tataran pengambilan keputusan. Oleh karena
tidak ada mekanisme baku dalam siklus dan bentuk pengambilan keputusan dalam
penentuan KRP, maka manfaat KLHS bersifat khusus bagi masing – masing KRP.
KLHS bisa menentukan substansi KRP, bisa memperkaya proses penyusunan dan
evaluasi keputusan, bisa dimanfaatkan sebagai instrumen metodologis pelengkap
(komplementer) atau tambahan (suplementer) dari KRP, atau kombinasi dari
beberapa atau semua fungsi – fungsi diatas.
Penerapan KLHS dalam RPJMD juga bermanfaat untuk meningkatkan
efektivitas pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) dan
atau isntrumen pengelolaan lingkungan lainnya, menciptakan tata pengaturan yang
lebih baik melalui pembangunan keterlibatan para pemangku kepentingan yang
strategis dan partisipatif, kerjasama lintas batas wilayahadministrasi, serta
memperkuat pendekatan kesatuan ekosistem dalam satuan wilayah (sering juga
disebut “bio-region” dan/atau “bio-geo-region”).
Sifat pengaruh KLHS dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaitu KLHS yang
bersifat isntrumental, transformatif, dan substantif. Tipologi ini membantu
membedakan pengaruh yang diharapakan dari tiap jenis KLHS terhadap berbagai
ragam KRP terkait dengan pertambanagan mineral di Kabupaten Tulungagung,
termasuk bentuk aplikasinya, baik dari sudut langkah – langkah prosedural maupun
teknik dan metodologinya.
4.3.1 Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)
Sepanjang tahun 2007-2012 tercatat isu-isu utama lingkungan hidup yang
terjadi di Kabupaten Tulungagung berupa bencana alam maupun kerusakan
lingkungan yang diakibatkan oleh kejadian alam maupun akibat ulah manusia
1. Penurunan debit mata air dan waduk telaga
Dengan ditetapkannya Peraturan Daerah tentang Kawasan Lindung yaitu
Peraturan Daerah Kabupaten Tulungagung Nomor 23 Tahun 1996 tentang
Pengelolaan Kawasan Lindung di Kabupaten Tulungagung baru kemudian
ditindaklanjuti dengan Keputusan Bupati Nomor 854 Tahun 2002 dimana dalam
keputusan dimaksud antara lain terdapat hasil inventarisasi mata air sejumlah 134
buah yang harus dilindungi. Kondisi mata air sebagian besar mengalami penurunan
debit air. Demikian halnya dengan beberapa telaga/ waduk juga mengalami
penurunan debit air. Hal ini dikarenakan di beberapa wilayah khususnya kawasan
Tulungagung Selatan terjadi penebangan hutan secara liar, padahal hutan berfungsi
sebagai hidroorologis. Tidak adanya tanaman pohon (hutan) maka lahan
dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar hutan untuk bercocok tanam tanaman
semusim meskipun kawasan tersebut memiliki berbagai tingkat
kelerengan/kemiringan. Disamping itu batu yang terdapat di hutan semakin tampak
jelas sehingga diambil masyarakat yang sebagian besar tanpa ijin.
Sumber-sumber air yang ada di Kabupaten Tulungagung dipengaruhi oleh
luas, jenis vegetasi dan kerimbunan kawasan tangkapan air (catchment area).
Semakin luas dan rimbun suatu daerah tangkapan air, maka akan semakin banyak
dan semakin besar sumber airnya.
2. Pencemaran air sungai dan Optimalisasi Penanganannya
Pencemaran air sungai khususnya Sungai Brantas, Kali Jenes dan Kali
Ngrowo mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai. Kegiatan yang membuang
limbah ke sungai adalah industri dan rumah tangga. Pemantauan secara berkala
kualitas air sungai dilakukan oleh Perum Jasa Tirta namun hasilnya masih belum
memenuhi baku mutu air sesuai peruntukannya. Beberapa industri kecil membuang
limbah ke sungai karena belum memiliki Instalasi Pengolah Air Limbah, sedangkan
industri yang sudah memiliki IPAL apabila IPAL overload juga membuang air
optimanya pengelolaan kawasan Kali Ngrowo dalam rangka untuk mengoptimalkan
fungsi kawasan tersebut sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Tabel 4.3 Rangkuman Beban Limbah Cair dan Pencemaran Air dari Industri Pengolahan
Jenis Sumber
Jumlah Beban Limbah Padat dan Pencemaran Air
Volume
Limbah BOD5 COD TSS TDS Minyak N
m³/thn m³/thn m³/thn m³/thn m³/thn m³/thn m³/thn
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1. Agro Industri 1.698,99 46.832,73 - 166.625,71 - - 7.017,21
2.
Pengolahan
Makanan 1.033,20 3.246,05 18,32 2.525,74 - 894,43 289,63 3. Industri Kertas 1.087,72 241,72 - 463,29 745,29 -
-4.
Industri Mineral
Non Logam - - -
-5.
Industri hasil
Olahan Logam 108,63 38,12 161,95 16,39 44,64 6,72
-JUMLAH : 3.928,54 50.358,61 180,27 169.631,13 789,93 901,15 7.306,84
Sumber : Tim SLHD Kabupaten Tulungagung Keterangan : Data diolah
3. Pencemaran udara
Kualitas udara terutama di kawasan dekat kegiatan industri mengalami
penurunan dan yang sering dilaporkan oleh masyarakat adalah kegiatan PG.
Modjopanggoong dan Pabrik Kertas CV. Setia Kawan. Debu yang dihasilkan
meskipun ditangkap dust collector tetapi sebagian masih keluar dan mencemari
lingkungan dan bahkan tertiup angin sampai radius 1 km yang berupa debu/abu
yang berwarna hitam. Sedangkan debu/abu hasil kegiatan Pabrik Kertas berasal dari
Jenis Sumber Debu SO2
Oksida Hidrikarbon CO CO2
Ton/thn Ton/thn Ton/thn Ton/thn Ton/thn Ton/thn
1 2 3 4 5 6 7
Komersial 4,07 16,34 17,42 0,59 1,91 23.087,70 - Tungku Domestik 4.262,84 424,66 1.617,52 318,57 318,91 530.295,90
SUMBER BERGERAK
- Mobil dan Truk 181,51 794,47 879,52 714,76 17.604,74 260.284,50
JUMLAH : 28.275,20 1.235,47 2.514,46 1.033,92 17.925,55 813.668,10
4. Sampah
Limbah domestik atau sampah rumah tangga merupakan salah satu jenis
sampah yang ikut memperberat masalah persampahan yang dihadapi oleh
pemerintah, khususnya di wilayah perkotaan. Saat ini sampah yang dihasilkan dari
kegiatan rumah tangga mencapai 390,68 m³/hari dan yang terangkut ke TPA sekitar
284,50 m³/hari. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk pengelolaan sampah
merupakan salah satu kendala dalam pengendalian pencemaran limbah sampah di
samping keterbatasan sarana dan prasarana persampahan, sehingga seringkali
masyarakat membuang sampah sembarangan dan membakar sampah.
Menyadari bahwa masalah sampah rumah tangga tidak bisa diselesaikan
Tabel. 4.5 Produksi dan Volume Sampah yang Terangkut Tiap Kecamatan
No. Kecamatan Volume Sampah (m³)
(1) (2) (3)
1. Besuki 1,29 2. Bandung 4,29 3. Pakel -4. Campurdarat 3,71 5. Tanggunggunung -6. Pucanglaban -7. Kalidawir 1 8. Rejotangan 3,5 9. Ngunut 8,6 10. Sumbergempol 3,3 11. Boyolangu 33,9 12. Gondang -13. Kauman 27,5 14. Tulungagung 101,71 15. Kedungwaru 45,30 16. Ngantru 3 17. Karangrejo 1,5
18 Sendang -19. Pagerwojo
-Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Perumahan dan Cipta Karya Kabupaten Tulungagung
5. Limbah B3
Meningkatnya pembangunan khususnya di bidang industri, semakin
meningkat pula jumlah limbah yang dihasilkan termasuk yang berbahaya dan
beracun yang dapat membahayakan lingkungan hidup dan kesehatan manusia.
Limbah B3 kebanyakan dihasilkan oleh kegiatan industri elektroplating, rumah sakit
dan laboratorium medis yang pada umumnya pengelolaanya masih sangat
dikembangkan penggunaan tehnologi bioremediasi seperti yang telah dikembangkan
di salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Tulungagung.
Tabel 4.6 Jenis Industri dan Jumlah Produksi dan Perusahaan yang Potensial Pencemaran
No. Jenis Industri Produksi
Satuan Jumlah
(1) (2) (3) (4)
1. Pabrik Kertas Ton 25.949 2. Keramik dan Tembikar Ton 0 3. Alat-alat Rumah Tangga Ton 3.278 4. Elektroplating Ton 982 5. Gula merah Ton 391 6. Tahu Ton 742 7. Tempe Ton 1.046 8. Kecap Ton 75 9. Penggilingan batu marmer Ton 100.444 10. Mie Ton 577.145 11. Pabrik Rokok Batang 12.662.000
Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan
6. Degradasi hutan
Tindakan perusakan hutan termasuk di dalamnya penebangan hutan secara
liar (illegal logging) yang dilakukan secara besar-besaran pada menjelang akhir
tahun 2001 dan penebangan liar yang terjadi sampai saat ini telah menyebabkan
terjadinya berbagai bencana di Kabupaten Tulungagung seperti banjir, tanah
longsor, kekeringan dan semakin luasnya lahan kritis. Usaha reboisasi hutan yang
telah dilakukan di Kabupaten Tulungagung seluas 1.921,9 Ha pada tahun 2006,
dan 920,8 Ha pada Tahun 2005. Diharapkan kegiatan reboisasi dapat dilakukan di
semua lahan kritis di Kabupaten Tulungagung. Luas hutan pada Tahun 2006 seluas
29.365,4 Ha, pada tahun 2005 seluas 33.391,3 Ha, pada tahun 2004 38.664,2 Ha
penebangan hutan yang semakin tidak terkendali (illegal logging).
Hilangnya sebagian besar tegakan di hutan dalam jangka waktu yang
singkat dan terjadi begitu cepat tidak mampu diimbangi dengan kegiatan
penghijauan kembali yang membutuhkan dana besar serta jangka waktu yang lama.
Kegiatan penanaman kembali yang telah mulai dilakukan belum mampu mengurangi
jumlah lahan kritis di Kabupaten Tulungagung. Luas lahan kritis saat ini mencapai
74,480 km², sementara tahun 2005 lahan kritis seluas 29,00 km².
Tabel 4.7 Realisasi Kegiatan Penghijauan
1. Pucanglaban 411 164.569 411 164.569 2. Kauman 179 71.742 179 71.742 3. Gondang 179 71.732 179 71.732 4. Pagerwojo 178 71.108 178 71.108 5. Sendang 117 46.808 117 46.808 6. Rejotangan 173 69.243 173 69.243 7. Kalidawir 339 135.543 339 135.543 8. Tanggunggunung 376 150.307 376 150.307 9. Campurdarat 235 93.948 235 93.948 10. Besuki 260 104.072 260 104.072 11. Bandung 103 41.152 103 41.152 12. Karangrejo 58 23.307 58 23.307
Jumlah 2.609 1.043.531 2.609
Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tulungagung
7. Penambangan tanpa ijin
Kekayaan alam di Kabupaten Tulungagung seperti batu bara, emas, batu
marmer, pasir besi dan bahan galian lainnya saat ini banyak menjadi incaran para
semakin meningkatnya permintaan perijinan untuk melakukan pengolahan
kekayaan alam yang tersimpan di perbukitan Tulungagung Selatan.
Di sisi lain juga dijumpai penambangan tanpa izin, walaupun luas lahan
yang dieksploitasi dapat dikatakan kecil namun karena jumlah yang banyak dan
waktu yang tidak berbatas maka akan memberikan kontribusi yang besar pula
terhadap kerusakan lahan akibat kegiatan pertambangan.
Gambar 4.2 Penambangan Tanpa Izin Merupakan Salah Satu Kontributor Kerusakan Lingkungan
8. Banjir
Secara hidrologi Kabupaten Tulungagung pada saat sekarang sebelah
timur menuju ke utara mengalir Sungai Brantas kemudian dari arah barat laut
mengalir Sungai Song sedangkan dari arah barat terdapat Sungai Bodeng dan
Sungai Gondang dan dari arah timur mengalir Sungai Kalidawir yang pada akhirnya
masuk ke Sungai Parit Agung yang melintas dalam kota menuju arah selatan
kemudian bergabung dengan Parit Raya untuk selanjutnya di buang ke Laut
Bencana banjir telah melanda beberapa kecamatan yaitu Kecamatan
Kalidawir dan Kecamatan Bandung.
Bencana ini juga terjadi karena di wilayah lain yang lebih tinggi yakni
Kabupaten Trenggalek terjadi banjir bandang sehingga air masuk ke wilayah
Kabupaten Tulungagung bagian selatan.
Bencana juga terjadi di beberapa perumahan/ permukiman penduduk
karena adanya curah hujan yang tinggi dan kurang berfungsinya saluran
pembuangan air (drainase).
9. Degradasi keanekragaman hayati
Keanekaragaman sumberdaya hayati di Kabupaten Tulungagung
keadaannya cenderung makin menurun akibat perlakuan manusia yang kurang
bijaksana. Pemanfaatan sumber daya alam hayati secara berlebihan, alih fungsi dan
penurunan kualitas dan pengrusakan habitat memberikan kontribusi yang nyata
terhadap berkurangnya keanekaragaman hayati disamping adanya pencemaran
lingkungan dan perubahan iklim global.
Upaya yang dilakukan untuk mengendalikan degradasi keanekaragaman
hayati yaitu pengendalian eksploitasi sumberdaya alam hayati serta pengalihan
pengembangannya khususnya tanaman duku Tulungagung(Lansium domesticum).
10.Kekeringan
Luas, jenis vegetasi, dan kerimbunan catchments area sangat
mempengaruhi sumber air. Semakin luas dan rimbun suatu daerah tangkapan air,
maka akan semakin banyak dan semakin besar sumber airnya. Musim kemarau
yang cukup lama juga menyebabkan debit air mengecil.
Penggundulan hutan yang terjadi di Kabupaten Tulungagung telah
mematikan sebagian besar mata air yang ada. Keadaan ini mengakibatkan
terjadinya kekeringan di Kecamatan Kalidawir,Kecamatan Pakel, Besuki, Bandung,
Tanggunggunung, Pucanglaban dan Campurdarat.
11. Tanah longsor
Keadaan topografi di sebagian wilayah Kabupaten Tulungagung yang
berbukit dan memiliki kelerengan yang cukup curam serta diperparah hilangnya
tegakan yang menjaga kestabilan tanah sangatlah rawan terhadap bencana banjir
dan tanah longsor. Meskipun tidak sampai menelan korban jiwa, akan tetapi
bencana ini telah mengakibatkan kerugian yang cukup besar Tanah longsor terjadi
di Desa Nglurup Kecamatan Sendang dan Kecamatan Pagerwojo yaitu di Desa
Mulyosari, Desa Kradinan, Desa Sidomulyo dan Desa Wonorejo, serta di Desa
Pagerwojo Kecamatan Pagerwojo. Tanah Longsor juga menyebabkan
Untuk mengurangi bencana tanah longsor maka diupayakan untuk
melestarikan hutan sesuai dengan fungsinya dengan mengadakan reboisasi,
mencegah penebangan hutan dan penambangan batu marmer secara liar.
4.3.2 AMDAL, UKL-UPL dan SPPLH
Dari analisis lingkungan dan evaluasi kebijakan ada beberapa hal yang
harus dilakukan dalam upaya menanggulangi peningkatan pencemaran dan
kerusakan lingkungan di Kabupaten Tulungagung. Sementara itu adanya beberapa
bencana alam seperti tanah longsor dan bencana banjir beberapa waktu yang lalu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Program Pencegahan dan Pengendalian Kerusakan dan/atau Pencemaran Lingkungan Hidup
1. Melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup bagi semua
kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan.
2. Sosialisasi AMDAL dan UKL/ UPL serta perijinan
3. Sosialisasi pelaksanaan RKL/RPL dan UKL/UPL
4. Evaluasi dan monitoring penerapan RKL/ RPLdan UKL/ UPL.
5. Pengembangan kawasan terpadu yang berwawasan lingkungan.
2. Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
1. Penyuluhan tentang perlindungan keanekaragaman hayati dan pengembangan
flora fauna identitas daerah
2. Pengembangan kemampuan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam
secara bijaksana dan lestari.
3. Pemasyarakatan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
4. Sosialisasi pelestarian fungsi lingkungan hidup melalui Forum Pemulihan
Kualitas Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga.
3. Program Penataan/Pengembangan Kelembagaan dan Penegakan Hukum dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
a. Menjalankan kerja sama lintas sektoral dengan Dinas/Instansi terkait dengan
masalah lingkungan hidup serta mengintegrasikan perencaan pengelolaan
lingkungan hidup ke dalam perencanaan pembangunan yang lebih luas dalam
rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
b. Melaksanakan koordinasi dalam rangka pencegahan dan pengendalian
pencemaran/kerusakan lingkungan hidup serta pemulihan kualitas lingkungan
c. Meningkatkan kinerja Tim KPDLH untuk menindaklanjuti kasus-kasus/ sengketa
lingkungan hidup.
d. Pemberdayaan dan revitalisasi Tim Pembina Kelautan dan Tim Pembina
Penghijauan.
e. Menjalin kemitraan baik dengan Pemerintah Propinsi Jawa Timur maupun
PSL/PPLH Perguruan Tinggi serta LSM bidang LH.
f. Meningkatkan koordinasi lintas sektoral dalam pelaksanaan Program Bangun
Praja, khususnya kebersihan dan keteduhan wilayah perkotaan.
g. Penegakan hukum lingkungan melalui peningkatan kapasitas dan intensitas
koordinasi lintas sektoral dengan melibatkan seluruh instansi, baik otonomi