• Tidak ada hasil yang ditemukan

RPI2JM Bidang PU Cipta Karya Tulungagung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "RPI2JM Bidang PU Cipta Karya Tulungagung"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

LINGKUNGAN

Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah proses

pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip "memenuhi

kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan".

Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas

daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan

ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Dokumen-dokumen PBB,

terutama dokumen hasilWorld Summit 2005menyebut ketiga hal dimensi tersebut saling

terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan. Skema

pembangunan berkelanjutan: pada titik temu tiga pilar tersebut, Deklarasi Universal

Keberagaman Budaya (UNESCO, 2001) lebih jauh menggali konsep pembangunan

berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa "...keragaman budaya penting bagi manusia

sebagaimana pentingnya keragaman hayati bagi alam". Dengan demikian "pembangunan

tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga sebagai alat untuk

mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual". dalam pandangan ini,

keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan

berkelanjutan.

Gambar 4.1 Skema Pembangunan Berkelanjutan

(2)

dalam proses produksi maupun yang dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Dalam

pengertian ini meliputi semua prasarana umum seperti tenaga listrik, telekomunikasi,

perhubungan, irigasi, air bersih dan sanitasi, serta pembuangan limbah. Sedangkan

infrastruktur sosial antara lain meliputi prasaran kesehatan dan pendidikan.

Ketersediaan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, bandara, sistem penyediaan

tenaga listrik, irigasi, sistem penyediaan air bersih, sanitasi dan sebagainya yang

merupakansocial overhead capital, memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan tingkat

perkembangan wilayah, yang antara lain dicirikan oleh laju pertumbuhan ekonomi dan

kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari kenyataan bahwa daerah yang

mempunyai kelengkapan sistem infrastruktur yang lebih baik, mempunyai tingkat laju

pertumuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik pula dibandingkan

dengan daerah yang mempunyai kelengkapan infrastruktur yang terbatas. Dengan

demikian dapat dikatakan bahwa penyediaan infrastruktur merupakan faktor kunci dalam

mendukung pembangunan nasional. Pembangunan infrastruktur dapat mengurangi tingkat

pengangguran dan kemiskinan. Semakin besar alokasi dana untuk perbaikan infrastruktur,

maka semakin besar penurunan angka pengangguran yang secara simultan akan

mengurangi kemiskinan.

Sesuai dengan amanah Undang – undang nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan

Ruang yang menggariskan bahwa pemanfaatan ruang harus memperhatikan daya dukung

lahan, keseimbangan, keserasian dan keterpaduan. Seiring dengan penggunaan ruang

yang semakin padat, sedangkan ruang yang tersedia terbatas, maka diperlukan

pengaturan pemanfaatan ruang sesuai penggunaannya dengan memperhatikan daya

dukung dan daya tampung lainnya.

Kabupaten Tulungagung adalah salah satu kabupaten di selatan Provinsi Jawa

Timur yang memiliki potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan letak geografis

yang strategis guna mendukung perkembangan pembangunan Kabupaten Tulungagung

sendiri maupun kabupaten sekitarnya. Dengan keadaan tersebut, Kabupaten Tulungagung

mempunyai potensi besar serta tantangan serta dan permasalahan tersebut, diperlukan

(3)

Untuk mewujudkan pembangunan di Kabupaten Tulungagung yang berwawasan

lingkungan, maka disusun Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Berdasarkan

Undang – undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup bahwa dalam mengupayakan perbaikan kualitas Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), maka penyusunan RPJMD harus

dilengkapi dengan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) atau Strategic

Environmental Assessment (SEA). KLHS merupakan salah satu alat bantu yang berupaya

memperbaiki kerangka pikir (framework of thinking) Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Daerah (RPJMD) untuk mengatasi persoalan lingkungan hidup.

Kewajiban pelaksanaan KLHS oleh Pemerintah Daerah termuat didalam Undang –

undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pasal 15 bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melaksanakan KLHS kedalam

penyusunan atau evaluasi terhadap Rencana Tata Ruang wilayah beserta rinciannya,

Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Rencana Pembangunan jangka Menengah,

baik di tingkat nasional, Provinsi, dan kabupaten; dan terhadap kebijakan, rencana,

dan/atau program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau resiko lingkungan

hidup.

Tabel 4.1 Proses Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan Bidang Cipta Karya

No. Pengelompokan Isu-isu Pembangunan

Berkelanjutan Bidang Cipta Karya Penjelasan Singkat

(1) (2) (3)

4.1 Sosial

1. Pencemaran menyebabkan berkembangnya

wabah penyakit

Polusi atau pencemaran lingkungan adalah

masuknya atau dimasukkannya makluk hidup, zat

energi, dan atau komponen lain ke dalam

lingkungan atau berubahnya tatanan lingkungan

oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam

sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke

tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan

(4)

sesuai dengan peruntukannya (UU Pokok

Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982).

Pencemaran lingkungan meliputi pencemaran air,

tanah dan udara baik yang dikategorikan sebagai

pencemaran ringan, kronis muapun pencemaran

akut. Bahan pencemaran lingkungan dibedakan

lagi menjadi empat jenis yang terdiri atas bahan

pencemaran kimiawi, biologi, fisik dan pencemaran

suara. semua jenis pencemaran lingkungan

tersebut memiliki kerugiannya masing-masing yang

dapat merusak atau menurunkan kualitas dari

lingkungan tersebut.

Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung

maupun tidak langsung. Secara langsung artinya

bahan pencemar tersebut langsung berdampak

meracuni sehingga mengganggu kesehatan

manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu

keseimbangan ekologis baik air, udara maupun

tanah. Sedangkan proses tidak langsung adalah

bereaksinya beberapa zat kimia di udara, air

maupun tanah yang pada akhirnya menyebabkan

pencemaran. Pencemar yang langsung terasa

dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan

langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan

setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis).

Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri

untuk mengatasi pencemaran (self recovery),

namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas

itu terlampaui, maka pencemar akan berada di

alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian

berdampak pada manusia, material, hewan,

(5)

Pencemaran yang paling rentan dan dekat dengan

kehidupan sehari-hari selain polusi udara adalah

polusi akibat sampah. Dampak sampah bagi

manusia dan lingkungan sangat besar baik sampah

domestik maupun non domestik, kesemuanya

sangat merugikan manusia baik secara langsung

maupun tidak langsung. Sampah-sampah yang

menumpuk merupakan salah satu sumber penyakit

yang terbesar. Bakteri penyebab TBC dan penyakit

berbahaya lainnya banyak bersarang di

sampah-sampah tersebut. Apabila tidak ada penanganan

yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut,

wabah penyakit akan timbul dan membahayakan

mahluk hidup yang ada di lingkungan tersebut, tak

terkecuali hewan dan tumbuhan.

4.2 Ekonomi

1. Kemiskinan berkorelasi dengan kerusakan

lingkungan

Kerusakan lingkungan disebabkan oleh banyak

faktor, terutama ulah manusia yang tidak

bersahabat dengan lingkungan itu sendiri. Manusia

seharusnya bertanggung jawab untuk menjaga

kelestarian lingkungan, tetapi mereka justru

merusak lingkungan. Mereka cenderung

mengambil kekayaan alam seenaknya sehingga

menimbulkan kerusakan dan polusi. Setelah

kekayaan alam digunakan, mereka tidak peduli

terhadap kebutuhan generasi mendatang yang

juga memiliki hak untuk menikmatinya. Kebutuhan

seringkali mendorong manusia untuk mengambil

sumber daya alam secara besar-besaran tanpa

mempedulikan dampaknya. Salah satu faktor

utama penyebab rusaknya lingkungan adalah

(6)

Banyak pakar mengemukakan pendapat bahwa

kemiskinan adalah salah satu penyebab utama

kerusakan lingkungan di negeri ini. Kemiskinan

bisa kita temui dengan mudah di kota-kota besar.

Pedesaan juga rawan kemiskinan karena

pertumbuhan ekonomi di desa tidaklah secepat

kota. Selain itu, tidak ada minat untuk

mengembangkan ekonomi perdesaan karena

dinilai tidak bisa menghasilkan keuntungan besar.

Lalu apa kaitannya dengan lingkungan hidup?

Kemiskinan di kota besar mungkin tidak terlalu

berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan,

tetapi penduduk miskin yang tinggal di desa

cenderung merusak lingkungan untuk memenuhi

kebutuhan mereka. Jika mereka terdesak oleh

kebutuhan ekonomi, mereka bisa merusak hutan

atau lingkungan sekitar, atau mengambil kekayaan

alam tanpa perhitungan. Penduduk miskin akan

menebangi pohon untuk mencukupi kebutuhan

hidup. Mereka memanfaatkan lahan marginal

secara tidak proporsional. Jika tidak ada sumber

penghasilan yang bisa diandalkan untuk

mencukupi kebutuhan hidup, mereka terpaksa

merampas kekayaan alam untuk memenuhinya.

Hutan menjadi satu-satunya tempat yang bisa

mereka manfaatkan untuk bertahan hidup.

Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh

penduduk miskin cenderung dipengaruhi oleh pola

pikir mereka. Karena mereka terhimpit oleh

kemiskinan, pikiran mereka hanya terfokus pada

makanan yang bisa mereka dapatkan untuk

(7)

yang mendorong mereka merusak lingkungan dan

merampas kekayaannya tanpa memberikan waktu

bagi alam untuk memperbarui sumber dayanya.

Lingkungan hanya dipandang sebagai alat untuk

memenuhi kebutuhan hidup sehingga tidak ada

rencana apapun untuk memanfaatkan kekayaan

lingkungan seefektif mungkin. Selama lingkungan

masih bisa memenuhi kebutuhan mereka, mereka

tidak peduli terhadap kerusakan lingkungan.

2. Perkembangan ekonomi lokal dari

pembangunan infrastruktur permukiman

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu

aspek penting dan vital untuk mempercepat proses

pembangunan suatu daerah. Infrastruktur juga

memegang peranan penting sebagai salah satu

roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Ini

mengingat gerak laju dan pertumbuhan ekonomi

tidak dapat pisahkan dari ketersediaan infrastruktur

seperti transportasi, telekomunikasi, sanitasi, dan

energi. Oleh karena itu, pembangunan sektor ini

menjadi fondasi dari pembangunan ekonomi

selanjutnya.

Untuk infrastruktur Pekerjaan Umum,

pembangunan sejauh ini pada hakikatnya telah

memberi landasan yang mendukung kehidupan

ekonomi dan sosial masyarakat. Hal ini tercermin

dari pengembangan sumber daya air telah menjadi

pendukung program ketahanan pangan, dan

menjadi sumber air bagi penyediaan air minum dan

air untuk berbagai keperluan lainnya seperti

pembangkit listrik tenaga air dan pengendalian

banjir yang kesemuanya mendukung

pengembangan perkotaan, industri dan sektor jasa.

Dibidang jalan, telah terbangun Aset Jalan yang

(8)

dan pasar, sehingga memberi manfaat terutama

meningkatnya mobilitas distribusi berbagai produk

barang dan jasa. Sistem air bersih yang terbangun

telah melayani sekian juta penduduk perkotaan dan

penduduk perdesaan, dan pembangunan

prasarana lingkungan permukiman yang tersebar di

kota besar dan sedang telah memberi manfaat

dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat

berpenghasilan rendah, peningkatan pertumbuhan

ekonomi lokal, serta terbukanya kesempatan kerja

4.3 Lingkungan

1. Kecukupan air baku untuk air minum Sumber air baku yang dapat digunakan untuk

kebutuhan air minum terdiri dari mata air, air

permukaan (sungai, danau, waduk, dll.), air tanah

(sumur gali, sumur bor) maupun air hujan. Dari segi

kualitas air, kualitas mata air relatif jernih

dibandingkan dengan kualitas sumber air dari air

permukaan pada umumnya, dengan demikian mata

air lebih baik digunakan dibandingkan dengan air

permukaan. Namun keberadaan mata air ini pada

saat ini terus berkurang. Air tanah, yang umumnya

mempunyai kandungan besi dan mangan relatif

lebih besar dari sumber air yang lain,

pemakaiannya juga sudah harus mulai dikurangi

atau dihentikan sehubungan dengan masalah

penurunan muka tanah. Air hujan yang

keberadaannya sangat tergantung musim, masih

dapat digunakan sebagai sumber air baku dengan

membangun tangki penampungan atau waduk

dalam skala besar. Di wilayah pedesaan

Tulungagung, kondisi air tanah masih bagus

sehingga masyarakat cenderung memanfaatkan air

(9)

Sedangkan masyarakat perkotaan menggunakan

jasa PDAM.

2. Pencemaran lingkungan oleh infrastruktur

yang tidak berfungsi maksimal

Pembangunan infrastruktur memiliki 2 (dua) sisi

yaitu: tujuan pembangunan dan dampak

pembangunan. Setiap kegiatan pembangunan

yang dilaksanakan pasti menimbulkan dampak

terhadap lingkungan baik dampak positif maupun

dampak negatif, yang perlu diperhatikan adalah

bagaimana melaksanakan pembangunan untuk

mendapatkan hasil dan manfaat yang maksimal

dengan dampak negatif terhadap lingkungan yang

minimal.

Bagaikan dua sisi mata uang yang tidak

terpisahkan, selain mempunyai dampak positif

ternyata pembangunan infrastruktur juga

mempunyai dampak negatif. Pembangunan

infrastruktur juga berdampak negatif bagi

kelestarian alam, diantaranya dengan

berkurangnya sumberdaya alam akibat ekploitasi

berlebihan, pencemaran udara akibat polusi

industri dan pembangunan infrastruktur

perekonomian yang identik dengan perusakan

alam. Sehingga hal tersebut menimbulkan suatu

pernyataan bahwa pembangunan infrastruktur

selalu identik dengan perusakan alam.

Infrastruktur yang tidak berfungsi maksimal baik itu

karena rusak atau terbengkalai karena tidak

termanfaatkan dapat menimbulkan pencemaran

bagi lingkungan. Kita ambil saja contoh

infrastruktur permukiman berupa saluran air

(10)

berfungsi maksimal karena rusak maka akan terjadi

leakege atau kebocoran yang menyebabkan

tercemarinya tanah dan air tanah oleh air limbah

yang merembes ke dalam tanah.

3. Dampak kumuh terhadap kualitas lingkungan Permukiman kumuh dapat didefinisikan sebagai

suatu lingkungan yg berpenghuni padat (melebihi

500 org per Ha) dengan kondisi sosial ekonomi

masyarakat yang rendah, jumlah rumahnya sangat

padat dan ukurannya dibawah standar, sarana

prasarana tidak ada atau tidak memenuhi syarat

teknis dan kesehatan serta hunian dibangun diatas

tanah milik negara atau orang lain dan diluar

perundang-undangan yang berlaku. Permukiman

kumuh merupakan salah satu masalah sosial tidak

mudah untuk diatasi

Permukiman kumuh dapat mengakibatkan

berbagai dampak. Dampak langsung dari adanya

permukiman kumuh dalam hal keruangan yaitu

adanya penurunan kualitas lingkungan fisik

maupun sosial permukiman yang berakibat

semakin rendahnya mutu lingkungan sebagai

tempat tinggal.

Dampak negatif dari pemukiman kumuh bagi

lingkungan antara lain:

- Pemborosan energi karena biasanya pada

lingkungan tersebut masyarakat kurang

mempunyai kesadaran yang lebih akan hal ini,

dan sering mengunakan nya lampu filamen

dan juga merangkai arus listerik secara asal

yang menyebabkan pemborosan energi listrik.

- Terjangkitnya penyakit menular karna kurang

(11)

- Penumpukan sampah dan limbah material

rumah yang tidak bisa didaur ulang karna tidak

menggunakan suistinable material.

- Dapat merusaknya lapisan ozon karna hasil

pembakaran sampah yang asal oleh

masyarakat sekitar, karna tidak adanya

pengelola sampah.

- Wajah perkotaan menjadi memburuk dan kotor.

4. Dampak perubahan iklim terhadap kawasan

permukiman dan upaya mitigasi dan adaptasi

yang telah dilakukan

Berbagai hasil penelitian di bidang perubahan iklim

yang selama ini dilakukan mengindikasikan bahwa

perubahan iklim dan dampaknya sedang terjadi di

Indonesia. Peristiwa-peristiwa bencana yang terjadi

di Indonesia, menunjukkan bahwa perubahan iklim

bukan lagi sebuah isu. Perubahan iklim adalah

sebuah fakta yang harus dihadapi oleh masyarakat

di bumi. Terjadinya perubahan iklim berkaitan erat

dengan perilaku manusia sekaligus iklim itu sendiri.

Dampak perubahan iklim di wilayah perkotaan

yaitu: kota-kota memiliki suhu yang lebih hangat

dan lebih sering mengalami siang dan malam yang

panas di banyak wilayah; sedikit hari dan malam

yang dingin; peningkatan frekuensi angin/

gelombang; peningkatan frekuensi kejadian hujan

deras di beberapa wilayah; penambahan daerah

yang terkena bencana kekeringan; peningkatan

aktivitas badai tropis yang intens, dan peningkatan

insiden kenaikan permukaan air laut tinggi ekstrim.

Dampak perubahan iklim, di beberapa kota juga

ditambah dengan masalah penyediaan

sarana-prasarana dasar penghuninya. Perubahan iklim

(12)

infrastruktur fisik, transportasi, permintamaan dan

penawaran barang dan jasa, penyediaan energi

dan produksi industri. Dampak perubahan iklim

akan mengganggu potensi ekonomi lokal.

Beberapa penduduk dapat kehilangan aset dan

mata pencaharian. Dampak perubahan iklim

sangat dirasakan di wilayah pesisir atau yang

memiliki elevasi rendah. Terdapat 13% dari

penduduk perkotaan dunia tinggal di wilayah ini.

Dampak perubahan iklim seringkali merugikan bagi

kaum perempuan. Perempuan di beberapa wilayah

memerlukan ijin dari suami mereka, bahkan untuk

kebutuhan evakuasi. Anak-anak juga memiliki

resiko terkena dampak merugikan dari perubahan

iklim. Hal ini terkait dengan masa pertumbuhan dan

perkembangan anak yang mungkin terganggu oleh

peristiwa cuaca buruk dan bahaya iklim. Kejadian

seperti kenaikan suhu, gelombang panas, hujan

deras, kekeringan dapat berpengaruh pada

perkembangan organ, sistem saraf, pengalaman,

perilaku dan karakteristik anak.

Resiko bagi kaum perempuan dan anak-anak

dapat meningkat oleh karena kondisi kemiskinan

ekonomi. Kaum lanjut usia juga memiliki resiko

yang lebih tinggi, dibandingkan dengan yang

berusia kebih muda. Gelombang panas (misalnya

di Chicago (1995) dan Eropa (2003)) menjadi

contoh kematian kaum lanjut usia akibat perubahan

iklim. Kaum lanjut usia juga terbatas dalam hal

mobilitas, misalnya dalam menghadapi bahaya

banjir. Kaum perempuan (anak maupun lanjut usia)

(13)

perubahan iklim.

Ada dua konsep utama yang diperkenalkan oleh

regim modern untuk menghadapi dampak

perubahan iklim, yaitu mitigasi dan adaptasi.

Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim adalah

sebuah upaya yang dilakukan dalam menghadapi

dampak perubahan iklim. Secara singkat, mitigasi

berarti sebuah usaha yang dilakukan untuk

mencegah, menahan dan atau memperlambat efek

gas rumah kaca yang menjadi penyebab

pemanasan global di bumi. Berkebalikan dengan

mitigasi, adaptasi lebih kepada upaya yang

dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap

dampak perubahan iklim yang telah terjadi dan

dirasakan oleh manusia di bumi.

Mitigasi perubahan iklim didefinisikan sebagai

sebuah intervensi antropogenik untuk menurunkan

tekanan antropogenik terhadap sistem iklim,

termasuk didalamnya strategi untuk mengurangi

sumber-sumber penghasil gas-gas rumah kaca dan

meningkatkan penyerapan karbon. Terdapat

beberapa pendekatan yang dapat digunakan,

seperti dari sisi sosial, ekonomi, politik, dan

teknologi; yang semuanya dapat mendukung

penurunan emisi yang berkontribusi terhadap

perubahan iklim.

Terdapat empat strategi utama penerapan mitigasi.

Salah satunya adalah: Eliminasi, yaitu menghindari penggunaan alat-alat penghasil emisi

gas rumah kaca. Tindakan ini memberikan

(14)

langsung dirasakan. Contoh: Mematikan lampu

saat tidak digunakan; mematikan A/C saat tidak

ada orang didalam ruangan.

Startegi lainnya yang dpat dilakukan dalam

mengatasi damapak perubahan Iklim adalah:

Pengurangan. Yaitu sebuah tindakan dapat dilakukan dengan mengganti peralatan lama

dan/atau mengoptimalkan struktur yang sudah ada.

Tindakan mitigasi seperti ini sangat efektif dan

dapat integrasikan ke dalam bisnis sehari-hari

dengan usaha minimum. Contoh: Memasukkan

efisiensi energi ke dalam pengambilan keputusan

investasi

Hal lainnya yang dapat dilakukan dalam mengatasi

perubahan iklim adalah Subtitusi. Sekalipun langkah ini memiliki konsekswensi atau implikasi

biaya investasi yang tinggi. namun, akan

melahirkan dampak positif terhadap penurunan

potensi emisi melalui subtitusi sangatlah tinggi.

Contoh: Penggunaan energi terbarukan untuk

memenuhi kebutuhan listrik dan/atau pemanas.

Mitigasi perubahan iklim dapat juga dilakukan

dengan merubahnhabbitdalam hidup kita sehari

hari. Efisiensi energi dapat dilakukan melalui

substitusi ataupun melalui penghematan.

Penghematan energi seringkali turut menurunkan

emisi penyebab perubahan iklim. Penggunaan

energi secara efisien juga dapat menghemat biaya.

Dalam menghadapi perubahan iklim, tidak ada satu

solusi untuk semua dalam usaha efisiensi energi.

(15)

tergantung dari kasus per kasus. Bagaimanapun

juga, banyak tindakan efisiensi energi yang dapat

diterapkan dengan biaya investasi rendah dan

usaha minimum (tindakan tanpa/ rendah biaya).

Efisiensi energi yang membutuhkan biaya lebih

tinggi harus diimbangi dengan penghematan biaya

energi yang dikeluarkan.

4.1 Analisis Sosial

Ketika pada suatu daerah atau suatu komunitas terdengar akan terkena

suatu proyek pembangunan fisik, katakanlah pembangunan waduk, pengaspalan

jalan, perbaikan jembatan, atau konstruksi bangunan sekolah, ketika itu pula dalam

masyarakat sebenarnya sudah terjadi kasak-kusuk. Mereka telah menggunjingkan

pembangunan tersebut satu sama lain. Mereka telah mendiskusikan apa yang akan

berubah bila pembangunan tersebut jadi terlaksana. Pada saat seperti itu, bila detail

perencanaan pembangunan disusun tanpa kemudian menanyai aspirasi masyarakat

tenyang proyek yang akan dilaksanakan tersebut, maka ketika itulah masyarakat

mulai terpinggirkan oleh pembangunan. Akan timbul rasa termarginalisasi dan

ketakberdayaan terhadap sebuah desain perubahan yang berhubungan langsung

dengan hidup dan nasib mereka tetapi mereka tidak dilibatkan. Mereka seakan

dialienasikan dari perubahan yang justru menjadikan mereka sebagai obyeknya.

Bila masyarakat dihargai aspirasinya pada fase perencanaan

pembangunan, atau fase sosialisasi sebuah rencana pembangunan, maka dalam

masyarakat tersebut akan muncul apa yang disebut sebagai sense of identification,

kepekaan didalam mengidentifikasi kebutuhan dan masalah yang mereka hadapi.

Sebaliknya, bila sebuah pembangunan hadir begitu saja ditengah masyarakat, maka

yang muncul adalah sense of alienation, rasa keterasingan dari pembangunan,

(16)

pengarusutamaan gender. Masyarakat harus diberi akses untuk membaca laporan

dokumen lingkungan bila ada dan diberi kesempatan untuk menyampaikan komentar.

Selain itu lembaga pengelola infrastruktur perlu mengundang laki-laki dan perempuan

baik dalam sosialisasi hal teknis maupun manfaat program dengan proporsi seimbang

mencapai 50% atau minimal perempuan 40%, melibatkan petugas laki-laki dan

perempuan dari instansi terkait dalam proses sosialisasi, memilih waktu sosialisasi

yang tepat agar laki-laki dan perempuan dapat sama-sama hadir jika perlu adakan

pertemuan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, melakukan sosialisasi di

kalangan masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah padat dan kumuh,

menggunakan bahasa setempat yang mudah dipahami dengan penjelasan yang

sederhana.

Pada tahapan pelaksanaan pambangunan, dampak sosial budaya menjadi

lebih beragam lagi. Ketika ganti rugi diberikan secara tidak pantas dan tidak adil,

ketika itu protes sosial akan muncul. Tidak jarang, dampak penggusuran rumah

tangga dari tempat tinggalnya, akan menyebabkan terjadinya gelombang pergolakan

sosial, seperti yang misalnya terjadi pada sejumlah pembangunan waduk, lapangan

golf, lokasi pemukiman ataupun lokasi industi. Manajemen pembangunan yang tidak

becus akan memacu terjadinya tindakan resistensi dalam masyarakat. Sekali praktek

pembangunan yang tidak becus demikian terjadi, sustainabilitas pembangunan

secara sosial tidak terjamin. Proyek pembangunan yang dijalankan kemudian menjadi

rawan aksi protes. Bahkan cukup banyak bukti menunjukkan bahwa pembangunan

dengan penggusuran tanah yang tidak adil pada akhirnya berdampak jangka panjang

dalam bentuk penyerobotan dan perusakan bangunan setelah rezim yang menggusur

tersebut jatuh. Atau bisa juga, masyarakat menderita stres dalam kondisi

ketakberdayaan bila rezim sang pemilik pembangunan tidak jatuh-jatuh.

Dampak protes juga sering muncul ketika sebuah pembangunan tidak

mengindahkan nilai budaya dan penghargaan religius-historis suatu masyarakat.

Ketika seorang konglomerat-kapitalis Jakarta seenaknya ingin membangun sebuah

(17)

memamfaatkan tetapi dengan upah yang eksploitatif, ketika itulah protes masyarakat

setempat terjadi. Ketidakterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan juga bisa

menyebabkan tidak adanya rasa memiliki terhadap hasil pembangunan pada

masyarakat. Pembangunan tidak melahirkan sense of integrity dalam masyarakat.

Bahkan ketika petani dipaksa mengganti pupuk urea prill menjadi urea tablet secara

paksa dan tidak rasional, ketika itulah aksi protes terjadi. Kita akan dapat menemukan

sejumlah variasi dampak ekstrim dari pelaksanaan pembangunan.

Pada tahap pelaksanaan pembangunan infrastruktur, masyarakat harus

diajak berdiskusi untuk mengetahui situasi lapangan serta untuk menampung keluhan

dan ide masyarakat. Apabila terdapat persoalan teknis dan non teknis di lapangan

maka pengelola infrastruktur harus segera menyelesaikan persoalan. Selain itu,

pengelola infrastruktur perlu memberikan informasi profil perusahaan kontraktor

kepada masyarakat baik laki-laki maupun perempuan dan kepada tokoh masyarakat,

menghimbau kontraktor untuk menyampaikan informasi teknis dan atau mendampingi

kontraktor di lapangan dalam melakukan ini, bersama kontraktor memberikan

kesempatan kepada perempuan dan laki-laki untuk memantau proses pembangunan

dan memerikan tanggapan mengenai permasalahan teknis selama konstruksi dan

dampak sosialnya, serta memberitahu kepada perempuan dan laki-laki tentang jadwal

perbaikan jalan dan fasilitas publik lainnya yang rusak karena pembangunan

infrastruktur.

Pembangunan akan memberi kesempatan, fasilitas dan peluang kepada

masyarakat untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraannya. Ketika

hasil-hasil pembangunan tersebut tidak terdistribusi relatif adil dan merata dalam

masyarakat, maka ketika itulah dampak kesenjangan sosial-ekonomi akan terjadi.

Pembangunan menyebabkan masyarakat terpolarisasi atas yang kaya dan yang

miskin, pembangunan akan memacu kecemburuan sosial, pembangunan akan

meledakkan konflik sosial. Sebuah bangunan kawasan industri, perkebunan besar,

atau eksplorasi pertambangan yang hanya memberi kemamfaatan kepada

(18)

Hasil pembangunan sering juga berdampak pada matinya budaya lokal.

Ketika sebuah industri dibangun di tengah komunitas lokal, maka tunggulah, nilai dan

norma budaya masyarakat lokal tersebut akan terpinggirkan, secara perlahan

penganutnya akan mengikuti nilai dan norma budaya yang dikonstruksi oleh kompleks

industri tersebut. Demikianlah, maka ketika sebuah pusat wisata pantai tidak

terhindarkan harus menghadirkan prostitusi di dalam kawasannya, maka ketika itulah

komunitas lokal tersebut juga mengenal prostitusi: sebagian menolaknya, sebagian

menikmatinya. Pembangunan adalah sebuah ajaran tentang rasionalisme dan

individualisme. Maka, ketika sebuah pusat ekonomi hadir di tengah masyarakat desa

yang kaya akan gotong royong, terpola dalam aktifitas saling memberi dan menolong,

dengan pusat ekonomi tersebut mereka akan berubah secara perlahan menjadi

sangat rasional, komersial, dan individualistik. Jangan lagi menuntut dari mereka

kegotong-royongan atau saling tolong, karena dalam hidup ini memang tidak ada

yang gratis menurut rasionalisme dan individualisme.

Dari berbagai ilustrasi diatas, dampak sosial budaya kegiatan pembangunan

dapat diklasifikasi dalam beberapa kategori. Pertama, dampak yang sifatnya

berhubungan langsung dengan perubahan struktur sosial seperti kesenjangan sosial,

sehingga struktur sosial yang awalnya berpola stratifikasi oleh pembangunan berubah

menjadi struktur polarisasi. Ini sangat lazim terjadi dalam praktek pembangunan kita,

nilai tambah pembangunan hanya dinikmati oleh lapisan masyarakat tertentu saja,

sebaliknya lapisan masyarakat lain justeru hanya sering menjadi korban. Kedua,

dampak yang sifatnya berhubungan dengan perubahan pola interaksi/proses sosial

dalam masyarakat. Ketika praktek pembebasan tanah tidak berlangsung dalam

masyarakat, pola konflik dan konfrontasi tidak dikenal oleh masyarakat. Tetapi karena

pembebasan tanah demi pembangunan tidak adil, masyarakat kemudian mengenali

tindakan protes, pergolakan sosial dan pengrusakan. Pembangunan jadinya

menstimulasi perilaku konflik dalam masyarakat. Ketiga, dampak yang berhubungan

dengan kondisi psiklogis seseorang yang terkenai pembangunan. Tidak sedikit orang

(19)

korban penggusuran demi pembangunan menderita stres ringan, stres berat, bahkan

depresi. Juga, tidak sedikit orang sekitar Kedungombo, Jawa Tengah, menderita

gangguan jiwa karena berada dipuncak ketakutan dituduh komunis akibat menolak

meninggalkan rumah berhubung ganti rugi dari pihak pengelola proyek terlalu rendah.

Keempat, dampak yang berhubungan dengan nilai dan norma budaya masyarakat.

Nilai dan norma lokal sangat banyak yang terbongkar akibat terpaan industrialisasi.

Semakin kuatnya komersialisme, individualisme, dan rasionalisme, menjadikan nilai

tradisional-lokal seperti kegotong-royongan, kolektivisme, dan moralisme, tereduksi

bahkan hilang dalam tatanam nilai dan norma masyarakat.

Dampak sosial budaya kegiatan pembangunan bukanlah hal yang mudah

diduga. Pertama, ini disebabkan karena ruang sosial-budaya itu sendiri bukanlah

ruang yang hampa udara, bukanlah ruang yang statis. Ia memiliki isi dan ia sifatnya

dinamis. Hal yang pada suatu saat dianggap melanggar norma dan nilai secara

ekstrim suatu masyarakat, pada saat lain sudah bisa ditolerir oleh masyarakat

bersangkutan. Begitu pula sebaliknya. Suatu dampak yang sebelumnya tidak

dipersoalkan oleh masyarakat, pada saat lainnya justeru menjadi masalah signifikan.

Terdapat relativitas waktu yang harus diperhatikan didalam menduga dampak. Kedua,

reaksi masyarakat terhadap suatu proyek pembangunan, ia kadang berbeda dari

suatu lokalitas ke lokalitas lainnya. Pada suatu daerah, prostitusi terang-terangan

dibalik industri pariwisata sudah bisa diterima; pada daerah lainnya prostitusi

tersembunyi bisa menimbukan protes radikal. Pada suatu daerah, polusi bau bisa

diterima oleh masyarakat; pada daerah lain polusi bau memicu protes sosial.

Terdapat relativitas lokasi yang harus diperhatikan dalam pendugaan dampak. Ketiga,

untuk dampak yang sama, sering kali proyek berbeda akan terpresentasi secara

berbeda pula. Untuk dampak penyerapan tenaga kerja misalnya, dampak penyerapan

tenaga kerja sebuah industri manufaktur akan berbeda secara sosio-psiklogis dengan

penyerapan oleh industri pemukiman. Tenaga kerja yang diserap oleh sebuah pabrik

manufaktur akan merasa lebih tenteram dan terjamin masa depannya dibanding

(20)

dampak sosial budaya yang dihadapinya, ketika dalam masyarakat hadir agen

demokrasi yang berbeda. Reaksi suatu masyarakat terhadap pencemaran yang tidak

memiliki LSM dan tokoh gerakan protes akan berbeda dengan masyarakat yang

didalamnya bekerja LSM atau advokator. Kelima, dampak sosial budaya bukanlah hal

yang mudah dikuantifikasi. Dampak sosial-budaya sifatnya kualitatif dan subyektif. Ia

tidak bisa dihitung dalam angka-angka. Karena itu, pendugaan dampak sosial yang

mencoba membandingkannya dengan dampak ekonomi dan dampak lingkungan,

sering kali kesulitan dalam mencari standar yang sederajat untuk membandingkan

dampak.

Setidaknya lima relativisme tersebut yang harus disadari lebih dahulu di

dalam upaya menduga dampak sosial-budaya sebuah kegiatan pembangunan.

Selanjutnya, dampak sosial-budaya dapat diduga dengan memperhatikan

variabel-variabel yang berhubungan dengan karakteristik perencanaan, model pelaksanaan

dan tingkat kemanfaatan dari suatu kegiatan pembangunan. Variasi-variasi pada tiga

tahapan pembangunan ini yang selanjutnya mempengaruhi dampak

sosial-budayanya.

4.2 Analisis Ekonomi

Infrastruktur merupakan salah satu bidang profesi yang akhir – akhir ini

mendapat sorotan luas di masyarakat, media masa dan bahkan lembaga keuangan

internasional. Penyelenggaraan Infrastructure Summit awal tahun 2005, yang dihadiri

wakil dari berbagai negara telah memperkenalkan berbagai reformasi kebijakan

sebagai komitmen Pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur dengan

melibatkan sektor swasta nasional dan internasional. Infrastruktur Pekerjaan Umum,

mempunyai peran vital dalam mendukung ekonomi, sosial – budaya, kesatuan dan

persatuan terutama sebagai katalisator di antara proses produksi, pasar dan

konsumen akhir; merupakanmodal sosial masyarakat; memfasilitasi lebih terbukanya

cakrawala masyarakat; dan mempertemukan budaya antar masyarakat; mengikat dan

(21)

program ekonomi yang bertumpu pada infrastruktur, diantaranya program New Deal

oleh Presiden Roosevelt, pada saat resesi di USA tahun 1933 yang dengan

meningkatkan pembangunan infrastruktur secara signifikan telah memberikan

dampak positif meningkatkan ekonomi secara signifikan dan lebih 6 juta penduduk

dapat bekerja kembali. Untuk Indonesia, peran vital infrastruktur dicerminkan pada

target pembangunan ekonomi nasional Indonesia yang dilakukan Bappenas dengan

asumsi pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,6 % pertahun diperlukan investasi untuk

infrastruktur jalan, listrik, telepon dan air minum dalam 5 tahun (2005 – 2009) secara

total Rp. 690 trilyun.

Untuk infrastruktur Pekerjaan Umum, pembangunan sejauh ini pada

hakikatnya telah memberi landasan yang mendukung kehidupan ekonomi dan sosial

masyarakat. Hal ini tercermin dari pengembangan sumber daya air telah menjadi

pendukung program ketahanan pangan, dan menjadi sumber air bagi penyediaan air

minum dan air untuk berbagai keperluan lainnya seperti pembangkit listrik tenaga air

dan pengendalian banjir yang kesemuanya mendukung pengembangan perkotaan,

industri dan sektor jasa. Dibidang jalan, telah terbangun Aset Jalan Nasional,

Propinsi, Kabupaten, dan Kota serta Jalan Tol dengan panjang keseluruhan 346.000

km, yang telah menghubungkan berbagai pusat permukiman dan pasar, sehingga

memberi manfaat terutama meningkatnya mobilitas distribusi berbagai produk barang

dan jasa dalam ekonomi nasional. Sistem air bersih terbangun melayani 45 juta atau

40% penduduk perkotaan dan 7 juta atau 8% penduduk perdesaan, dan

pembangunan prasarana lingkungan permukiman tersebar di kota besar dan sedang

telah memberi manfaat meningkatnya derajat kesehatan masyarakat berpenghasilan

rendah, meningkatnya pertumbuhan ekonomi lokal, serta terbukanya kesempatan

kerja

Infrastruktur terbukti merupakan senjata yang ampuh dalam mendorong

perekonomian karena infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan

ekonomi. Fasilitas transportasi memungkinkan orang, barang dan jasa yang diangkut

(22)

berangkat bekerja, menjual barang ke pasar dan sebagainya. Infrastruktur yang baik

juga dapat meningkatkan produktivias dan mengurangi biaya produksi.

Pembangunan infrastruktur baik berupa transportasi (jalan, rel KA, pelabuhan laut,

pelabuhan udara), jaringan listrik dan komunikasi (telepon) serta instalasi dan jaringan

air minum sangatlah penting dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat

di suatu wilayah. Prasarana imfrastruktur dibutuhkan tidak saja oleh rumah tanga

namun juga oleh industri. Sehingga peningkatan prasarana infrastruktur diharapkan

dapat mebawa kesejahteraan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Daerah

dengan prasarana yang mencukupi mempunyai keuntungan yang lebih besar dalam

usaha menarik investasi untuk masuk ke daerahnya serta akan lebih cepat

berkembang dibandingkan dengan daerah yang memiliki prasarana yang minim.

Dengan infrastruktur yang meningkat ddiharapkan mampu menekan laju kemiskinan.

Mewujudkan kesejahteraan adalah upaya untuk meningkatkan kualitas

hidup masyarakat pada setiap lapisan. Dan salah satu langkah strategi utama untuk

mewujudkan kesejahteraan yang dikedepankan oleh Pemerintah Kabupaten

Tulungagung adalah menekan angka kemiskinan. Program Penanggulangan

Kemiskinan di Kabupaten Tulungagung menunjukkan hasil yang menggembirakan

terlihat dari tren angka kemiskinan yang menunjukkan pernurunan sebagaimana data

berikut:

Tabel 4.2 Tingkat Kemiskinan Kabupaten Tulungagung Tahun 2011-2015

Uraian Tahun

2011 2012 2013 2014 2015

Tingkat Kemiskinan (%) 9.90 9.37 9.03 8.75 8.65*

*) Angka Sementara

Sumber: BPS Kabupaten Tulungagung

Berdasarkan data tersebut tingkat kemiskinan di Kabupaten Tulungagung

pada dua tahun terakhir menunjukkan penurunan. Hal ini dipengaruhi keberhasilan

dan meningkatnya program-program dari pemerintah, pemerintah daerah yang

(23)

Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM),

Pengembangan Ekonomi Berbasis Kawasan dan Pengembangan Pasar Desa,

Pengembangan Usaha Ekonomi Desa, Pembentukan Koperasi Wanita (KOPWAN)

serta Jalan Lain Menuju Mandiri dan Sejahtera (JALIN MATRA).

4.3 Analisis Lingkungan

Setiap proses pembangunan tentu akan mempengaruhi keseimbangan

lingkungan (Tjahyadi dalam Supriyanta, 2002). Pembangunan yang semakin

meningkat akan mendesak sumber daya dan ruang. Akibatnya dalam penggunaan

ruang dan lahan untuk kegiatan pembangunan banyak menimbulkan berbagai

masalah seperti:

1. Menurunnya mutu lingkungan hidup karena pemanfaatan lahan yang tidak sesuai

dengan kemampuan daya dukung alam atau pemanfaatan yang berlebihan dan

bahkan merusak, baik dalam jangka pendek maupun panjang,

2. Banyak kawasan yang seharusnya berfungsi lindung dimanfaatkan untuk

kegiatan-kegiatan yang mengganggu fungsi lindung tersebut,

3. Adanya benturan kepentingan dalam penggunaan lahan, karena beberapa pihak

sama-sama merasa lebih berhak menggunakan kawasan tersebut,

4. Adanya perkembangan kota dan permukiman baru yang tak terkendali telah

menimbulkan permasalahan di kawasan itu maupun kawasan lain.

Walaupun pembangunan diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah,

namun pengalaman menunjukkan bahwa pembangunan dapat dan telah mempunyai

dampak negatif terhadap perobahan rona lingkungan. Pencemaran dan pengrusakan

lingkungan adalah dua resiko yang tidak dapat dihindari dalam rangka menjalankan

pembangunan. Wardhana (2001), menyatakan bahwa proses pembangunan dan

industrialisasi yang dilaksanakan, secara meluas telah menimbulkan dampak negatif

(24)

KLHS adalah sebuah bentuk tindakan strategis dalam menuntun,

mengarahkan, dan menjamin tidak terjadinya efek negatif terhadap lingkungan dan

berkelanjutan dipertimbangkan secara inheren dalam kebijakan, rencana dan

program (KRP). Posisinya berada pada tataran pengambilan keputusan. Oleh karena

tidak ada mekanisme baku dalam siklus dan bentuk pengambilan keputusan dalam

penentuan KRP, maka manfaat KLHS bersifat khusus bagi masing – masing KRP.

KLHS bisa menentukan substansi KRP, bisa memperkaya proses penyusunan dan

evaluasi keputusan, bisa dimanfaatkan sebagai instrumen metodologis pelengkap

(komplementer) atau tambahan (suplementer) dari KRP, atau kombinasi dari

beberapa atau semua fungsi – fungsi diatas.

Penerapan KLHS dalam RPJMD juga bermanfaat untuk meningkatkan

efektivitas pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) dan

atau isntrumen pengelolaan lingkungan lainnya, menciptakan tata pengaturan yang

lebih baik melalui pembangunan keterlibatan para pemangku kepentingan yang

strategis dan partisipatif, kerjasama lintas batas wilayahadministrasi, serta

memperkuat pendekatan kesatuan ekosistem dalam satuan wilayah (sering juga

disebut “bio-region” dan/atau “bio-geo-region”).

Sifat pengaruh KLHS dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaitu KLHS yang

bersifat isntrumental, transformatif, dan substantif. Tipologi ini membantu

membedakan pengaruh yang diharapakan dari tiap jenis KLHS terhadap berbagai

ragam KRP terkait dengan pertambanagan mineral di Kabupaten Tulungagung,

termasuk bentuk aplikasinya, baik dari sudut langkah – langkah prosedural maupun

teknik dan metodologinya.

4.3.1 Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)

Sepanjang tahun 2007-2012 tercatat isu-isu utama lingkungan hidup yang

terjadi di Kabupaten Tulungagung berupa bencana alam maupun kerusakan

lingkungan yang diakibatkan oleh kejadian alam maupun akibat ulah manusia

(25)

1. Penurunan debit mata air dan waduk telaga

Dengan ditetapkannya Peraturan Daerah tentang Kawasan Lindung yaitu

Peraturan Daerah Kabupaten Tulungagung Nomor 23 Tahun 1996 tentang

Pengelolaan Kawasan Lindung di Kabupaten Tulungagung baru kemudian

ditindaklanjuti dengan Keputusan Bupati Nomor 854 Tahun 2002 dimana dalam

keputusan dimaksud antara lain terdapat hasil inventarisasi mata air sejumlah 134

buah yang harus dilindungi. Kondisi mata air sebagian besar mengalami penurunan

debit air. Demikian halnya dengan beberapa telaga/ waduk juga mengalami

penurunan debit air. Hal ini dikarenakan di beberapa wilayah khususnya kawasan

Tulungagung Selatan terjadi penebangan hutan secara liar, padahal hutan berfungsi

sebagai hidroorologis. Tidak adanya tanaman pohon (hutan) maka lahan

dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar hutan untuk bercocok tanam tanaman

semusim meskipun kawasan tersebut memiliki berbagai tingkat

kelerengan/kemiringan. Disamping itu batu yang terdapat di hutan semakin tampak

jelas sehingga diambil masyarakat yang sebagian besar tanpa ijin.

Sumber-sumber air yang ada di Kabupaten Tulungagung dipengaruhi oleh

luas, jenis vegetasi dan kerimbunan kawasan tangkapan air (catchment area).

Semakin luas dan rimbun suatu daerah tangkapan air, maka akan semakin banyak

dan semakin besar sumber airnya.

2. Pencemaran air sungai dan Optimalisasi Penanganannya

Pencemaran air sungai khususnya Sungai Brantas, Kali Jenes dan Kali

Ngrowo mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai. Kegiatan yang membuang

limbah ke sungai adalah industri dan rumah tangga. Pemantauan secara berkala

kualitas air sungai dilakukan oleh Perum Jasa Tirta namun hasilnya masih belum

memenuhi baku mutu air sesuai peruntukannya. Beberapa industri kecil membuang

limbah ke sungai karena belum memiliki Instalasi Pengolah Air Limbah, sedangkan

industri yang sudah memiliki IPAL apabila IPAL overload juga membuang air

(26)

optimanya pengelolaan kawasan Kali Ngrowo dalam rangka untuk mengoptimalkan

fungsi kawasan tersebut sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Tabel 4.3 Rangkuman Beban Limbah Cair dan Pencemaran Air dari Industri Pengolahan

Jenis Sumber

Jumlah Beban Limbah Padat dan Pencemaran Air

Volume

Limbah BOD5 COD TSS TDS Minyak N

m³/thn m³/thn m³/thn m³/thn m³/thn m³/thn m³/thn

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

1. Agro Industri 1.698,99 46.832,73 - 166.625,71 - - 7.017,21

2.

Pengolahan

Makanan 1.033,20 3.246,05 18,32 2.525,74 - 894,43 289,63 3. Industri Kertas 1.087,72 241,72 - 463,29 745,29 -

-4.

Industri Mineral

Non Logam - - -

-5.

Industri hasil

Olahan Logam 108,63 38,12 161,95 16,39 44,64 6,72

-JUMLAH : 3.928,54 50.358,61 180,27 169.631,13 789,93 901,15 7.306,84

Sumber : Tim SLHD Kabupaten Tulungagung Keterangan : Data diolah

3. Pencemaran udara

Kualitas udara terutama di kawasan dekat kegiatan industri mengalami

penurunan dan yang sering dilaporkan oleh masyarakat adalah kegiatan PG.

Modjopanggoong dan Pabrik Kertas CV. Setia Kawan. Debu yang dihasilkan

meskipun ditangkap dust collector tetapi sebagian masih keluar dan mencemari

lingkungan dan bahkan tertiup angin sampai radius 1 km yang berupa debu/abu

yang berwarna hitam. Sedangkan debu/abu hasil kegiatan Pabrik Kertas berasal dari

(27)

Jenis Sumber Debu SO2

Oksida Hidrikarbon CO CO2

Ton/thn Ton/thn Ton/thn Ton/thn Ton/thn Ton/thn

1 2 3 4 5 6 7

Komersial 4,07 16,34 17,42 0,59 1,91 23.087,70 - Tungku Domestik 4.262,84 424,66 1.617,52 318,57 318,91 530.295,90

SUMBER BERGERAK

- Mobil dan Truk 181,51 794,47 879,52 714,76 17.604,74 260.284,50

JUMLAH : 28.275,20 1.235,47 2.514,46 1.033,92 17.925,55 813.668,10

4. Sampah

Limbah domestik atau sampah rumah tangga merupakan salah satu jenis

sampah yang ikut memperberat masalah persampahan yang dihadapi oleh

pemerintah, khususnya di wilayah perkotaan. Saat ini sampah yang dihasilkan dari

kegiatan rumah tangga mencapai 390,68 m³/hari dan yang terangkut ke TPA sekitar

284,50 m³/hari. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk pengelolaan sampah

merupakan salah satu kendala dalam pengendalian pencemaran limbah sampah di

samping keterbatasan sarana dan prasarana persampahan, sehingga seringkali

masyarakat membuang sampah sembarangan dan membakar sampah.

Menyadari bahwa masalah sampah rumah tangga tidak bisa diselesaikan

(28)

Tabel. 4.5 Produksi dan Volume Sampah yang Terangkut Tiap Kecamatan

No. Kecamatan Volume Sampah (m³)

(1) (2) (3)

1. Besuki 1,29 2. Bandung 4,29 3. Pakel -4. Campurdarat 3,71 5. Tanggunggunung -6. Pucanglaban -7. Kalidawir 1 8. Rejotangan 3,5 9. Ngunut 8,6 10. Sumbergempol 3,3 11. Boyolangu 33,9 12. Gondang -13. Kauman 27,5 14. Tulungagung 101,71 15. Kedungwaru 45,30 16. Ngantru 3 17. Karangrejo 1,5

18 Sendang -19. Pagerwojo

-Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Perumahan dan Cipta Karya Kabupaten Tulungagung

5. Limbah B3

Meningkatnya pembangunan khususnya di bidang industri, semakin

meningkat pula jumlah limbah yang dihasilkan termasuk yang berbahaya dan

beracun yang dapat membahayakan lingkungan hidup dan kesehatan manusia.

Limbah B3 kebanyakan dihasilkan oleh kegiatan industri elektroplating, rumah sakit

dan laboratorium medis yang pada umumnya pengelolaanya masih sangat

(29)

dikembangkan penggunaan tehnologi bioremediasi seperti yang telah dikembangkan

di salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Tulungagung.

Tabel 4.6 Jenis Industri dan Jumlah Produksi dan Perusahaan yang Potensial Pencemaran

No. Jenis Industri Produksi

Satuan Jumlah

(1) (2) (3) (4)

1. Pabrik Kertas Ton 25.949 2. Keramik dan Tembikar Ton 0 3. Alat-alat Rumah Tangga Ton 3.278 4. Elektroplating Ton 982 5. Gula merah Ton 391 6. Tahu Ton 742 7. Tempe Ton 1.046 8. Kecap Ton 75 9. Penggilingan batu marmer Ton 100.444 10. Mie Ton 577.145 11. Pabrik Rokok Batang 12.662.000

Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan

6. Degradasi hutan

Tindakan perusakan hutan termasuk di dalamnya penebangan hutan secara

liar (illegal logging) yang dilakukan secara besar-besaran pada menjelang akhir

tahun 2001 dan penebangan liar yang terjadi sampai saat ini telah menyebabkan

terjadinya berbagai bencana di Kabupaten Tulungagung seperti banjir, tanah

longsor, kekeringan dan semakin luasnya lahan kritis. Usaha reboisasi hutan yang

telah dilakukan di Kabupaten Tulungagung seluas 1.921,9 Ha pada tahun 2006,

dan 920,8 Ha pada Tahun 2005. Diharapkan kegiatan reboisasi dapat dilakukan di

semua lahan kritis di Kabupaten Tulungagung. Luas hutan pada Tahun 2006 seluas

29.365,4 Ha, pada tahun 2005 seluas 33.391,3 Ha, pada tahun 2004 38.664,2 Ha

(30)

penebangan hutan yang semakin tidak terkendali (illegal logging).

Hilangnya sebagian besar tegakan di hutan dalam jangka waktu yang

singkat dan terjadi begitu cepat tidak mampu diimbangi dengan kegiatan

penghijauan kembali yang membutuhkan dana besar serta jangka waktu yang lama.

Kegiatan penanaman kembali yang telah mulai dilakukan belum mampu mengurangi

jumlah lahan kritis di Kabupaten Tulungagung. Luas lahan kritis saat ini mencapai

74,480 km², sementara tahun 2005 lahan kritis seluas 29,00 km².

Tabel 4.7 Realisasi Kegiatan Penghijauan

1. Pucanglaban 411 164.569 411 164.569 2. Kauman 179 71.742 179 71.742 3. Gondang 179 71.732 179 71.732 4. Pagerwojo 178 71.108 178 71.108 5. Sendang 117 46.808 117 46.808 6. Rejotangan 173 69.243 173 69.243 7. Kalidawir 339 135.543 339 135.543 8. Tanggunggunung 376 150.307 376 150.307 9. Campurdarat 235 93.948 235 93.948 10. Besuki 260 104.072 260 104.072 11. Bandung 103 41.152 103 41.152 12. Karangrejo 58 23.307 58 23.307

Jumlah 2.609 1.043.531 2.609

Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tulungagung

7. Penambangan tanpa ijin

Kekayaan alam di Kabupaten Tulungagung seperti batu bara, emas, batu

marmer, pasir besi dan bahan galian lainnya saat ini banyak menjadi incaran para

(31)

semakin meningkatnya permintaan perijinan untuk melakukan pengolahan

kekayaan alam yang tersimpan di perbukitan Tulungagung Selatan.

Di sisi lain juga dijumpai penambangan tanpa izin, walaupun luas lahan

yang dieksploitasi dapat dikatakan kecil namun karena jumlah yang banyak dan

waktu yang tidak berbatas maka akan memberikan kontribusi yang besar pula

terhadap kerusakan lahan akibat kegiatan pertambangan.

Gambar 4.2 Penambangan Tanpa Izin Merupakan Salah Satu Kontributor Kerusakan Lingkungan

8. Banjir

Secara hidrologi Kabupaten Tulungagung pada saat sekarang sebelah

timur menuju ke utara mengalir Sungai Brantas kemudian dari arah barat laut

mengalir Sungai Song sedangkan dari arah barat terdapat Sungai Bodeng dan

Sungai Gondang dan dari arah timur mengalir Sungai Kalidawir yang pada akhirnya

masuk ke Sungai Parit Agung yang melintas dalam kota menuju arah selatan

kemudian bergabung dengan Parit Raya untuk selanjutnya di buang ke Laut

(32)

Bencana banjir telah melanda beberapa kecamatan yaitu Kecamatan

Kalidawir dan Kecamatan Bandung.

Bencana ini juga terjadi karena di wilayah lain yang lebih tinggi yakni

Kabupaten Trenggalek terjadi banjir bandang sehingga air masuk ke wilayah

Kabupaten Tulungagung bagian selatan.

Bencana juga terjadi di beberapa perumahan/ permukiman penduduk

karena adanya curah hujan yang tinggi dan kurang berfungsinya saluran

pembuangan air (drainase).

9. Degradasi keanekragaman hayati

Keanekaragaman sumberdaya hayati di Kabupaten Tulungagung

keadaannya cenderung makin menurun akibat perlakuan manusia yang kurang

bijaksana. Pemanfaatan sumber daya alam hayati secara berlebihan, alih fungsi dan

penurunan kualitas dan pengrusakan habitat memberikan kontribusi yang nyata

terhadap berkurangnya keanekaragaman hayati disamping adanya pencemaran

lingkungan dan perubahan iklim global.

Upaya yang dilakukan untuk mengendalikan degradasi keanekaragaman

hayati yaitu pengendalian eksploitasi sumberdaya alam hayati serta pengalihan

(33)

pengembangannya khususnya tanaman duku Tulungagung(Lansium domesticum).

10.Kekeringan

Luas, jenis vegetasi, dan kerimbunan catchments area sangat

mempengaruhi sumber air. Semakin luas dan rimbun suatu daerah tangkapan air,

maka akan semakin banyak dan semakin besar sumber airnya. Musim kemarau

yang cukup lama juga menyebabkan debit air mengecil.

Penggundulan hutan yang terjadi di Kabupaten Tulungagung telah

mematikan sebagian besar mata air yang ada. Keadaan ini mengakibatkan

terjadinya kekeringan di Kecamatan Kalidawir,Kecamatan Pakel, Besuki, Bandung,

Tanggunggunung, Pucanglaban dan Campurdarat.

11. Tanah longsor

Keadaan topografi di sebagian wilayah Kabupaten Tulungagung yang

berbukit dan memiliki kelerengan yang cukup curam serta diperparah hilangnya

tegakan yang menjaga kestabilan tanah sangatlah rawan terhadap bencana banjir

dan tanah longsor. Meskipun tidak sampai menelan korban jiwa, akan tetapi

bencana ini telah mengakibatkan kerugian yang cukup besar Tanah longsor terjadi

di Desa Nglurup Kecamatan Sendang dan Kecamatan Pagerwojo yaitu di Desa

Mulyosari, Desa Kradinan, Desa Sidomulyo dan Desa Wonorejo, serta di Desa

Pagerwojo Kecamatan Pagerwojo. Tanah Longsor juga menyebabkan

Untuk mengurangi bencana tanah longsor maka diupayakan untuk

melestarikan hutan sesuai dengan fungsinya dengan mengadakan reboisasi,

mencegah penebangan hutan dan penambangan batu marmer secara liar.

4.3.2 AMDAL, UKL-UPL dan SPPLH

Dari analisis lingkungan dan evaluasi kebijakan ada beberapa hal yang

harus dilakukan dalam upaya menanggulangi peningkatan pencemaran dan

kerusakan lingkungan di Kabupaten Tulungagung. Sementara itu adanya beberapa

bencana alam seperti tanah longsor dan bencana banjir beberapa waktu yang lalu

(34)

diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Program Pencegahan dan Pengendalian Kerusakan dan/atau Pencemaran Lingkungan Hidup

1. Melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup bagi semua

kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan.

2. Sosialisasi AMDAL dan UKL/ UPL serta perijinan

3. Sosialisasi pelaksanaan RKL/RPL dan UKL/UPL

4. Evaluasi dan monitoring penerapan RKL/ RPLdan UKL/ UPL.

5. Pengembangan kawasan terpadu yang berwawasan lingkungan.

2. Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

1. Penyuluhan tentang perlindungan keanekaragaman hayati dan pengembangan

flora fauna identitas daerah

2. Pengembangan kemampuan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam

secara bijaksana dan lestari.

3. Pemasyarakatan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

4. Sosialisasi pelestarian fungsi lingkungan hidup melalui Forum Pemulihan

Kualitas Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga.

3. Program Penataan/Pengembangan Kelembagaan dan Penegakan Hukum dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

a. Menjalankan kerja sama lintas sektoral dengan Dinas/Instansi terkait dengan

masalah lingkungan hidup serta mengintegrasikan perencaan pengelolaan

lingkungan hidup ke dalam perencanaan pembangunan yang lebih luas dalam

rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

b. Melaksanakan koordinasi dalam rangka pencegahan dan pengendalian

pencemaran/kerusakan lingkungan hidup serta pemulihan kualitas lingkungan

(35)

c. Meningkatkan kinerja Tim KPDLH untuk menindaklanjuti kasus-kasus/ sengketa

lingkungan hidup.

d. Pemberdayaan dan revitalisasi Tim Pembina Kelautan dan Tim Pembina

Penghijauan.

e. Menjalin kemitraan baik dengan Pemerintah Propinsi Jawa Timur maupun

PSL/PPLH Perguruan Tinggi serta LSM bidang LH.

f. Meningkatkan koordinasi lintas sektoral dalam pelaksanaan Program Bangun

Praja, khususnya kebersihan dan keteduhan wilayah perkotaan.

g. Penegakan hukum lingkungan melalui peningkatan kapasitas dan intensitas

koordinasi lintas sektoral dengan melibatkan seluruh instansi, baik otonomi

Gambar

Gambar 4.1 Skema Pembangunan Berkelanjutan
Tabel 4.1 Proses Identifikasi Isu PembangunanBerkelanjutan Bidang Cipta Karya
Tabel 4.3Rangkuman Beban Limbah Cair dan Pencemaran Air dari Industri
Tabel 4.4Rangkuman Beban Pencemaran Udara Menurut Sumber
+6

Referensi

Dokumen terkait

pengembangan kelembagaan dalam bidang perumahan dan permukiman, yaitu:. Sinergi dan kemitraan, yaitu para pelaku kegiatan perumahan

(sharring) baik antar Pemerintah (Pusat dan Provinsi), antar Pemerintah dan Pemerintah Kabupaten Tangerang maupun antara swasta/investor dengan Pemerintah dan/atau

MATRIK RENCANA TEPADU DAN RPI2JM BIDANG CIPTA KARYA XIII - 1 Program investasi Kota Pasuruan merupakan rekapitulasi dari dokumen RPI2-JM.. yang telah disusun dengan

Upaya pemerintah Kanada untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang akan dirasakan oleh masyarakat dan juga terhadap perekonomian negara telah dilakukan

berarti dibidang keuangan daerah pada jenjang pemerintah provinsi.. SATGAS RPI2JM BIDANG CIPTA KARYA KABUPATEN ACEH BARAT DAYA IX- 5 e) Lain-lain Penerimaan yang

Sesuai dengan arahan pada Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kawasan Strategis Nasional (KSN) adalah wilayah yang

Sejalan dengan penerapan konsep pembangunan Pontianak sebagai kota perdagangan dan jasa, maka untuk memperoleh kualitas lingkungan kota yang baik dan nyaman, sebaiknya luas

Rencana Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) Kabupaten Banyuasin merupakan dokumen rencana dan program pembangunan infrastruktur bidang Cipta