• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSONA NON GRATA DALAM PRAKTIK HUKUM IN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERSONA NON GRATA DALAM PRAKTIK HUKUM IN"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Diterbitkan oleh:

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ICHSAN GORONTALO

©2013

(4)

Penasehat : Dekan Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo

Penanggung Jawab : Ketua Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Ichsan

Gorontalo

Pemimpin Redaksi : Rafika Nur

Dewan Redaksi : Marwan Djafar

Asdar Arti Muh. Nasir Alamsyah

Djamaris Machmud

Redaktur Pelaksana : Kingdom Makkulawusar

Sekretaris Redaktur : Hijrah Lahaling Darmawati

Mitra Bestari : Johan Jassin (Universitas Negeri Gorontalo)

Iin Karita Sakharina (Universitas Hasanuddin) Samsul Halim (Universitas Muhammadiyah Palu)

Desain Grafis & Layout : Ahsan Yunus

Distribusi & Pemasaran : Nur Insani

Zubair S. Mooduto

Alamat Redaksi : Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo

Jl. Raden Saleh No. 17, Kota Gorontalo, 96115 Telp/Fax : (0435) 829975 / (0435) 829976 E-mail : [email protected]

Website : http://www.fakultashukumunisan.ac.id

JURNAL HUKUM JUSTITIA

Jurnal ilmiah yang diterbitkan secara berkala oleh Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo. Terbit tiap bulan Maret dan September.

Harga Rp. 50.000 (lima puluh ribu rupiah),

JURNAL HUKUM

JUSTITIA

(5)

PERSONA NON GRATA DALAM PRAKTIK HUKUM INTERNASIONAL

Kadarudin... 1-15

UPAYA PENANGGULANGAN TERHADAP PELACURAN ANAK DI WILAYAH HUKUM POLRES BIAK NUMFOR

Muslim Lobubun... 17-34

PENEGAKAN HUKUM PIDANA PENYALAHGUNAAN IJIN KEIMIGRASIAN PADA KANTOR IMIGRASI KELAS II B BIAK

Iryana Anwar... 35-48

PROSTITUSI ANAK DI KOTA MANADO ”SUATU ANALISIS KRIMINOLOGIS”

Rafika Nur... 49-55

TINJAUAN YURIDIS PENYITAAN MINUMAN BERALKOHOL OLEH SATPOL PP DI KABUPATEN POHUWATO

Albert Pede... 57-69

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PROSES PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA

Zubair S. Mooduto... 71-82

PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN DI LAPAS KELAS I MAKASSAR

Darmawati... 83-99

PERLINDUNGAN HAK MASYARAKAT NELAYAN DI PULAU KAPOPOSANG KABUPATEN PANGKAJENE KEPULAUAN

Muh. Nasir... 101-106

ANALISIS HUKUM OKUPASI AREAL TANAH HGU PT. BUMI SUMALATA INDAH DI KABUPATEN GORONTALO UTARA

Sumiyati Beddu... 107-115

PERSYARATAN PENULISAN

Jurnal Hukum JUSTITIA Volume I, Nomor 1 September 2013

(6)

Pembaca yang budiman,

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa dan yang telah memberikan kami kekuatan, kesempatan, dan karunia yang begitu besar sehingga penerbitan jurnal hukum “JUSTITIA” Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo. Volume I Nomor 1 September 2013 dapat terlaksana dengan baik, merupakan suatu langkah progresif yang digagas oleh Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo untuk melahirkan suatu jurnal ilmiah yang sekaligus dimaksudkan untuk mengisi kekosongan ruang ekspresi ilmiah khususnya isu-isu yang berhubungan dengan perkembangan ilmu hukum secara umum, baik itu dalam aspek perdata, pidana, tata negara, administrasi negara, maupun isu-isu internasional.

Volume I Nomor 1 September 2013 menghadirkan beberapa penulis yang memiliki kepakaran di bidang masing-masing. Kadarudin menulis tentang isu hukum internasional yang baru-baru ini terjadi pada tahun 2013, khususnya dibidang hukum diplomatik dan konsuler, yaitu masalah persona non grata yang sering terjadi pada praktik di banyak negara anggota PBB.

Selanjutnya Muslim Lobubun, Iryana Anwar, Rafika Nur, Albert Pede, Zubair S.

Mooduto, dan Darmawati menguraikan isu-isu hukum yang saat ini sedang terjadi di Indonesia khususnya di area hukum pidana, yang terkait dengan pelacuran / prostitusi anak, penyalahgnaan izin keimigrasian, penyitaan minuman beralkohol, pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pembuktian pidana, dan pencegahan kekerasan terhadap warga binaan di lembaga pemasyarakatan.

Kemudian Muh. Nasir dan Sumiyati Beddu menguraikan isu hukum tentang perlindungan hak masyarakat nelayan dan okupasi areal tanah HGU. Kedua isu dimaksud memiliki concern yang sama penting di bidang hukum tata negara, apalagi kedua topik tersebut dilengkapi dengan uraian kasus.

Semoga berbagai isu-isu ilmu hukum yang tersaji baik itu isu hukum internasional, hukum pidana, dan hukum tata negara dalam Volume pertama ini, akan memberikan sebuah bentuk pencerahan baru yang bermanfaat bagi semua kalangan yang intens dan fokus mengkaji permasalahan yang berhubungan dengan ilmu hukum yang terus berkembang dewasa ini.

Selamat membaca.

Redaksi

(7)

PERSONA NON GRATA

DALAM PRAKTIK HUKUM INTERNASIONAL

Kadarudin

Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin

[email protected]

Abstract

Persona non grata literally meaning “an unwelcome person”, refers to a foreign person whose entering or remaining in a particular country is prohibited by that country’s government. It is the most serious form of censure which one country can apply to foreign diplomats, who are otherwise protected by diplomatic immunity from arrest and other normal kinds of prosecution.

Keywords: persona non grata, diplomats, immunity

I. PENDAHULUAN

Setiap negara dalam melakukan hubungan antara satu sama lain (negara dengan negara) salah satunya dapat dilakukan dengan saling menukar perwakilan diplomatik dari masing-masing negara, hubungan dengan saling menukar perwakilan (utusan) diplomatik tersebut dinamakan hubungan diplomati. Para wakil negara dalam menjalankan tugasnya mengemban misi-misi diplomatik dari negara yang ia wakili. Oleh karena itu, wakil-wakil dari suatu negara di negara tempatnya dikirim mendapatkan hak-hak istimewa karena ia bukanlah orang biasa, namun sebagai representasi dari negara dimana tempat ia wakili. Jadi penting kiranya bagi suatu negara dalam melakukan hubungan diplomatik mendapatkan pengakuan dari negara lain dimana ia akan melakukan kerjasama tersebut.

Pengakuan merupakan pernyataan dari suatu negara yang mengakui suatu negara lain sebagai subjek hukum internasional. Pengakuan berarti bahwa selanjutnya antara negara yang mengakui dan negara yang diakui terdapat hubungan sederajat dan dapat mengadakan segala macam hubungan kerja antar satu sama lain untuk mencapai tujuan nasional masing-masing yang diatur oleh ketentuan-ketentuan Hukum Internasional. Pengakuan juga berarti menerima suatu negara baru ke dalam masyarakat Internasional (Boer Mauna, 2005:65). Oleh karenanya, pengakuan merupakan hal yang mutlak bagi syarat berdirinya suatu negara, selain itu juga negara-negara dapat melakukan hubungan antara satu sama lain dengan baik jika antar negara tersebut saling mengakui.

(8)

tersebut terkadang menimbulkan konflik antara dua negara. Media diplomasi dapat digunakan untuk meredakan konflik yang terjadi antara negara-negara yang sedang berselisih, yakni

dengan menggunakan sarana lobbying dan bargaining. Namun apabila cara tersebut tidak berhasil maka dibutuhkan manajemen perubahan, melalui alternatif-alternatif lain yang tujuannya untuk mencapai kepentingan nasional (Huala Adolf, 2002:49). Jadi pengakuan adalah sangat penting adanya sebelum melakukan hubungan antar sesama subjek hukum internasional khususnya hubungan antara negara dengan negara.

Selain pengakuan, juga dibutuhkan sebuah wilayah, pemerintahan, dan kumpulan dari orang-orang yang merasa sebagai suatu kesatuan, kesatuan inilah yang kemudian disebut masyarakat atau negara (Soehino, 1980:17). Dari pengertian yang disampaikan, dapat diketahui bahwa suatu negara ada karenahubungan manusia dengan sesamanya karena manusia menyadari tidak dapat hidupsecara sendiri-sendiri dalam pemenuhan kebutuhannya, atau berdasarkan doktrinyang diajarkan oleh Aristoteles biasa kita kenal dengan istilah zoon political.Menurut Thomas Hobbes bahwa negara adalah suatu tubuh yang dibuatoleh orang banyak beramai-ramai, yang masing-masing berjanji akan memakainya menjadi alat untuk keamanan dan pelindungan mereka (Samidjo, 1996:29). Negara sebagai salah satu subjek hukum internasional (I Wayan Parthiana, 1990:59), selain organisasi internasional, palang merah internasional, vatikan, kaum belegerensi, dan individu (F. Sugeng Istanto, 1998:17) menjadi sangat penting keberadaannya dalam tatanan pergaulan masyarakat dunia. Jadi secara historis lahirnya suatu negara merupakan sebuah kebutuhan yang dipahami oleh setiap seorang, salah satunya adalah sebagai wadah untuk bersosialisasi dan perlindungan bagi dirinya, keluarganya, dan sesamanya.

Hal terpenting dalam hubungan suatu negara dengan negara lain tergantung pada tatanan dunia yang selalu berubah. Oleh karena itu, sarana diplomasi yang digunakan negara juga ikut mengalami transformasi untuk mewujudkan kepentingan nasional. Berdasarkan kondisi nyata dan globalisasi, pelaksanaan diplomasi disesuaikan dengan tuntutan Internasional merupakan keharusan sebagai upaya agar dapat menyesuaikan diri dengan segala perubahan baik perubahan politik dan isu-isu Internasional. Dengan adanya kepiawaian seorang diplomat dalam mengelola dan memahami perubahan situasi global secara kekinian, maka akan memudahkan pencapaian tujuan dan kepentingan nasional negaranya (S.L. Roy, 1995:3). Pelaksanaan diplomasi yang semakin kompleks menjadikan negara dituntut untuk mengirimkan orang-orang terbaiknya sebagai wakil dari negaranya di negara lain, Karena tanpa orang atau wakil terbaiknya yang dijadikan diplomat negaranya di negara lain maka niscaya misi-misi diplomatik negaranya sukar untuk tercapai sesuai dengan tujuan dari negara tersebut.

(9)

negara yang berselisih tidak memiliki trust (kepercayaan), respect (rasa saling menghormati) dan keselarasan, sehingga sarana diplomasi melalui alternatif tindakan tegas dan ancaman dapat dipakai untuk membuat kesepahaman bersama (Eric, 2013:3). Rasa tidak saling percaya

dan saling menghormati itulah yang kemudian menjadi cikal-bakal terjadinya konflik, baik itu konflik kecil maupun konflik besar yang dapat merusak keharmonisan hubungan diplomatik

antar negara-negara di dunia

Salah satu bentuk dari penggunaan tindakan tegas dan ancaman yaitu dengan melakukan penangguhan hubungan diplomatik antara negara satu dengan negara lain. Itu dilakukan karena dua negara bersikeras untuk mempertahankan argumennya. Penangguhan hubungan diplomatik biasanya terjadi akibat penolakan untuk memberikan pengakuan yang sah terhadap wilayah suatu negara (Sukawarsini Djelantik, 2008:86). Wilayah suatu negara merupakan salah satu unsur penting dari suatu negara, oleh karena itu tanpa wilayah maka tidak ada yang namanya negara, karena tidak mungkin ada negara tanpa adanya wilayah. Wilayah dari suatu negara awalnya memang tidak ada masalah, namun batas-batas wilayah

dari suatu negara yang sangat berpotensi terjadinya konflik, konflik tersebut terjadi di wilayah

perbatasan dari masing-masing Negara, khususnya wilayah lautan yang penjagaannya relatif lebih lengang dibandingkan penjagaan yang ada di wilayah perbatasan bagian darat.

Negara sebagai pribadi hukum internasional harus memiliki syarat-syarat berikut : penduduk tetap, wilayah yang tertentu; pemerintah; kemampuan untuk melakukan hubungan dengan negara lain (J.G. Starke, 2003:127). Unsur wilayah adalah merupakan unsur negara dengan syarat bahwa kekuasaan negara yang bersangkutan harus secara efektif diseluruh wilayah negara yang bersangkutan. Hal ini berarti didalam wilayah tersebut tidak boleh ada kekuasaan lain selain kekusaan negara yang bersangkutan (Max Boli Sobun, 1994:16). Dalam sengketa-sengketa wilayah perbatasan, maka peran seorang diplomat sangat dibutuhkan

bagi negara-negara yang sedang bersengketa (berkonflik), karena peran diplomatlah yang

diperankan sebagai representasi (perpanjangan tangan) dari negara yang diwakilinya, sehingga sengketa tersebut dapat selesai. Oleh karena itu peran diplomat menjadi semakin

sentral ketika suatu negara yang di wakilinya berkonflik dengan negara tempat dimana ia

bertugas, jadi diplomat haruslah orang-orang pilihan (terbaik) dari setiap negara, agar misi-misi diplomatik negara yang ia emban dapat dilaksanakan secara baik.

Keterwakilan negara yang dianggap suci (sancti habentur legati) tersebut memang sudah merupakan ungkapan yang sudah lama sekali yang kemudian menjiwai prinsip tidak diganggu gugatnya misi diplomatik (L. Dembinski, 1988:163). Pemberian hak-hak tersebut di dasarkan atas asas timbale balik (the principle of reciprocity) antarnegara dan mutlak diperlukan dalam rangka mengembangkan permasalahan antarnegara tanpa mempertimbangkan system ketatanegaraan dan sistem sosial mereka yang berbeda. Disamping itu, pemberian kekebalan dan keistimewaan itu bukanlah untuk kepentingan perseorangan melainkan guna menjamin

terlaksananya tugas para pejabat diplomatic secara efisien terutama tugas dari negara yang

(10)

kepala-kepala perwkilan (termasuk para staf perwakilannya), tetapi juga para keluarganya yang tinggal bersama mereka. Kemudian pada pertengahan abad ke-18 aturan-aturan kebiasaan hukum internasional mengenai kekebalan dan keistimewaan diplomatik telah mulai diperluas terhadap gedung perwakilan, segala miliknya termasuk bebas berkomunikasi bagi para diplomatnya (Sumaryo Suryokusumo, 2005:101-102).

Gedung yang dipakai oleh suatu perwakilan baik milik negara penerima maupun yang di sewa dari perorangan biasanya di anggap tidak dapat diganggu gugat oleh para penguasa negara penerima serta dibebaskan dari perpajakan, kecuali pajak-pajak dalam bentuk biaya pelayanan khusus seperti tarif air (Dehaussy, 1956:597). Demikian juga arsip perwakilan dan sejenisnya di anggap tidak dapat diganggu gugat. Dalam pertengahan abad ke-18, hukum kebiasaan internasional telah menggariskan secara luas mengenai kekebalan dan keistimewaan bagi para diplomatnya, milik-miliknya, gedung perwakilan, termasuk komunikasinya. Menurut ketentuan di dalam Konvensi Wina 1961, kekebalan dan keistimewaan itu diberi bukan saja kepada duta besar, tetapi juga anggota staf diplomatik. Bahkan dalam beberapa hal dapat diberikan pada anggota staf administrasi dan tekhnis, yaitu yang dipekerjakan sebagai pelayanan administrasi dan tekhnis serta anggota staf pelayanan yang mengerjakan pelayanan domestik dari perwakilan asing tersebut, termasuk kepada pembantu pribadi, yaitu seorang yang mengerjakan pelayanan-pelayanan domestik pada anggota perwakilan tetapi bukan pegawai dari negara penerima. Kekebalan yang diberikan kepada staf teknik dan administratif, staf pelayanan dan pembantu pribadi bergantung kepada apakah mereka itu warga negara pengirim atau negara penerima. Jika warga negara dari negara penerima kekebalan mereka sangat dibatasi (Grant V. Mc. Clanahan, 1989:55). Baik duta besar maupun anggota staf diplomatic tidak dapat diganggu gugat dalam arti mereka tidak dapat dikenakan penahanan dalam bentuk apapun (Sumaryo Suryokusumo, 2005:102-104).

Negara penerima haruslah memperlakukan mereka “dengan segala hormat” dan “mengambil langkah-langkah seperlunya guna mencegah timbulnya setiap serangan baik terhadap orang-perorangan, kemerdekaan maupun kehormatannya”. Rumah tempat tinggal para diplomat yang kedudukannya juga sebagai gedung perwakilan sesuatu negara tidak dapat diganggu gugat dan harus di lindungi. Ini berarti bahwa rumah kediaman maupun gedung perwakilannya tidak dapat dimasuki oleh pegawai maupun alat negara-negara setempat, kecuali dengan izin dari duta besar atau kepala perwakilan (Pasal 29 dan 30 Konvensi Wina 1961). Para diplomat juga menikmati sepenuhnya kekebalan terhadap yurisdiksi pidana (kriminal) dari negara penerima. Dengan beberapa pengecualian, kekebalan terhadap yurisdiksi perdata dan administrasi juga diberikan oleh negara penerima, tetapi bukan kekebalan dari yurisdiksi negara pengirim (Pasal 31 dan 32 ayat 3 Konvensi Wina 1961).

(11)

dalam Pasal 31 ayat 1 Konvensi Wina 1961. Disamping itu, mereka ini tidak sebagaimana para diplomat lainnya, hanya diberikan satu kali kemudahan untuk mengimpor barang-barang keperluan pribadi dan rumah tangga pada waktu tiba di negara penerima untuk memulai tugasnya di perwakilan negaranya sebagaimana termuat dalam Pasal 36 ayat 1 Konvensi Wina 1961 (Sumaryo Suryokusumo, 2005:104-105).

Namun dalam praktiknya, banyak diplomat yang kemudian diusir (Persona Non Grata) oleh negara tempat dimana ia bertugas, karena alasan-alasan tertentu yang sudah diatur dalam aturan hukum internasional sebenarnya sah-sah saja seorang diplomat diusir, namun yang kemudian menjadi masalah apabila negara tempat dimana diplomat itu diutus kemudian tidak menerima secara baik aksi pengusiran yang dilakukan oleh negara mitranya

dalam berdiplomasi. Bahkan bisa menjadi konflik yang sangat rumit ketika negara tempat

pengirim diplomat tersebut melakukan aksi balasan tanpa adanya alasan yang sah menurut hukum internasional maupun nasional yang dilanggar oleh diplomat negara lain yang bertugas di negaranya. Jadi diplomat memegang peranan sentral bagi negara yang mengirimnya dalam menjaga hubungan baik dalam berdiplomasi antar negara, ketika seorang diplomat diusir, maka seketika itu pula kewibawaan negara tempat diplomat tersebut ditugaskan menjadi terusik. Permasalahan yang hendak diuraikan dalam tulisan ini yaitu Apakah yang dimaksud dengan persona non grata dalam praktek hukum internasional? Bagaimanakah gambaran kasus persona non grata dalam praktek hukum internasional?

II. PEMBAHASAN A. Persona Non Grata dalam Praktik Hukum Internasional

Kerjasama antar negara saat ini sudah tidak dapat lagi dihindarkan. Bentuk kehidupan yang kompleks sangat rentan untuk terjadi perselisihan. Untuk menghindari agar perselisihan tidak terjadi, maka masyarakat internasional harus senantiasa bertumpu pada norma atau aturan. Aturan tersebut tidak hanya dibuat untuk menghindari perselisihan, akan tetapi juga untuk menertibkan, mengatur, dan memelihara hubungan antar negara. Perwujudan kerjasama tersebut dituangkan dalam bentuk perjanjian internasional (Birkah Latif dan Kadarudin, 2013:61). Perjanjian internasional inilah yang kemudian disepakati oleh negara-negara untuk dijadikan dasar atau aturan dalam melakukan hubungan antar negara.

(12)

tentang keadaan disebut juga sebagai kewajiban paling mendasar dari perwakilan diplomatik kepada negara pengirimnya. Asalkan laporan tersebut didapat dengan cara yang sah, sehingga laporan dari hasil memata-matai atau praktik spionase akan dianggap sebagai informasi yang didapat dengan cara yang tidak sah menurut Hukum dan Kebiasaan Internasional (Syahmin AK, 2008:93). Oleh karena itu praktik spionase tidaklah dibenarkan dalam praktik diplomasi antar negara, bahkan praktik spionase bisa dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap keamanan suatu Negara dimana diplomat tersebut bertugas.

Dalam Konvensi Wina tahun 1961 Mengenai Hubungan Diplomati, khusunya Pasal 2 mengatur bahwa jika suatu negara telah menyetujui pembukaan hubungan diplomatik dengan negara lain melalui suatu instrument atas dasar asas timbal balik (principle of resiprocity) dan asas saling menyetujui (principle of mutual consent), negara-negara tersebut sudah harus memikirkan pembukaan suatu perwakilan diplomati dan penyusunan keanggotaan perwakilan tersebut, baik dalam tingkatannya maupun jumlah anggota staf perwakilan yang telah di setujui bersama atas dasar asas yang wajar dan pantas “principle reasonable and normal” (Pasal 11 Konvensi Wina tahun 1961). Pengangkatan anggota staf perwakilan diplomatik oleh negara pengirim pada umumnya tidak memerlukan persetujuan dari negara penerima, karena negara pengirim dapat secara bebas mengangkatnya dan cukup hanya memberitahukan kepada Kementerian Luar Negeri negara penerima melalui nota diplomatik mengenai nama, kedudukan, pangkat diplomatiknya, anggota keluarganya, dan tanggal kedatangannya (Pasal 7 jo Pasal 10 Konvensi Wina tahun 1961). Dikecualikan hanya kepada pengangkatan duta besar dan atase pertahanan yang memerlukan persetujuan terlebih dahulu sebagai orang-orang yang dapat diterima untuk memangku jabatan-jabatan tersebut / Persona Grata (dalam hal negara penerima memberikan persetujuan terhadap seseorang yang disarankan untuk di angkat sebagai dita besar dari negara pengirim, seseorang itu dikatakan dapat diterima atau

PersonaGrata, persetujuan itu secara resmi akan di sampaikan sebelum pengangkatan orang tersebut di umumkan). Pengangkatan seorang duta besar di suatu negara penerima oleh negara pengirim terlebih dahulu harus dimintakan persetujuan (agreement) dari negara penerima (Pasal 4 ayat 1 Konvensi Wina tahun 1961). Untuk memperoleh agreement semacam itu negara pengirim harus memintakan terlebih dahulu dengan disertai hal-ihwal yang berkaitan dengan latar belakang calon duta besar (curriculum vitae) yang memang diperlukan oleh negara penerima untuk mempertimbangkan dalam memberikan agreement atau dinyatakan sebagai Persona Grata (Sumaryo Suryokusumo, 2005:108-109).

(13)

atau dinyatakan dapat diterima (Persona Grata) oleh negara penerima (Pasal 7 Konvensi Wina tahun 1961) kini banyak negara mengangkat bukan sebagai atase-atase militer, laut atau udara, melainkan sebagai atase pertahanan / Defence Attache (Sumaryo Suryokusumo, 2005:109-110).

Jika negara pengirim tetap dengan pendiriannya untuk mengangkat seseorang yang tidak dapat diterima oleh negara penerima, hal itu bukan saja akan dapat merugikan sendiri terhadap maksud dan tujuan yang akan dicapai tetapi juga dapat menciptakan situasi yang bisa mempengaruhi hubungan baik kedua negara tersebut. Disatu pihak, seperti di uraikan sebelumnya bahwa jika negara penerima menyatakan penerimaan terhadap pengangkatan seseorang calon duta besar (ambassador designed) dari negara pengirim, hal itu dinyatakan sebagai Persona Grata. Dilain pihak jika negara penerima menganggap bahwa seseorang itu tidak dapat diterima karena kegiatan-kegiatan dan kecenderungan politiknya di masa lampau atau latar belakang lainnya, negara penerima dapat memberitahukan kepada negara pengirim ketidaksetujuannya untuk menerima pengangkatan ambassador designed melalui sebuah nota diplomatik yang menyatakn calon tersebut sebagai Persona Non-Grata (Sumaryo Suryokusumo, 2005:117-118).

Setiap negara mempunyai hak menolak untuk menerima seseorang pejabat diplomatik, apakah atas dasar sifat pribadinya atau latar belakang sebelumnya, misalnya jika ia dikenal pernah menanamkan rasa sentiment bernada kebencian atau permusuhan terhadap negara tempat ia akan di angkat sebagai kepala perwakilan dari perwakilan diplomatik. Karena itu, ia dapat dinyatakan di tolak karena sifatnya terhadap negara tempat ia akan diangkat, atau di dalam bahasa latin dinyatakan dengan jelas sebagai ex eo ob quod mittitur atau suatu ungkapan diplomatic bagi negara penerima untuk tidak menerimanya atau seperti yang dijelaskan di atas sebagai deklarasi Persona Non-Grata (Sumaryo Suryokusumo, 2005:118).

Penolakan agreement bagi seorang calon duta besar oleh negara penerima tidak perlu diberikan alasan apapun, sebaliknya negara pengirim juga tidak perlu untuk menanyakan alasan penolakan untuk memberikan agreement tersebut. Pasal 4 ayat 1 Konvensi Wina tahun 1961 mengenai Hubungan Diplomati khusus memberikan kewajiban bagi negara penerima untuk tidak memberikan alasan bagi penolakan persetujuan atau agreement tersebut. Sedangkan dalam Pasal 9 ayat (1) Konvensi Wina Tahun 1961 lebih luas lagi pengertiannya, bukan saja penolakan itu ditujukan kepada calon duta besar tetapi juga kepada seseorang anggota staf diplomatik, termasuk anggota staf lainnya dari suatu perwakilan diplomatik. Dalam kasus seperti ini, negara pengirim berkewajiban menarik kembali orang yang bersangkutan ke negaranya atau menghentikan tugasnya di perwakilan tersebut.

(14)

i. Jika calon tersebut dianggap mengganggu hak kedaulatan negara dimana ia akan di akreditasikan, karena sikap pribadinya juga yang di sanksikan;

ii. Jika menunjukkan rasa permusuhan (hostile act) baik terhadap rakyat maupun lembaga di negara tempat dimana ia akan di akreditasikan;

iii. Jika ia menjadi pokok permasalahn di negara penerima dan negara akreditasi tersebut tidak mau memberikan kepada calon tersebut kekebalan-kekebalan sebagai calon duta besar (Sumaryo Suryokusumo, 2005:118-120).

Sebagai aturan umum mengenai spionase dan hasutan atau dukungan terhadap kerusuhan memerlukan suatu deklarasi Persona Non-Grata secara tepat. Mereka yang terlibat dalam kejahatan kekerasan atau lalu lintas obat-obat terlarang juga dinyatakan sebagai Persona Non-Grata kecuali jika kepadanya diberikan penanggalan kekebalan. Deklarasi Persona Non-Grata yang dikenakan kepada sesorang duta besar, termasuk anggota staf perwakilan misi diplomatik lainnya, khususnya terhadap mereka yang sudah tiba atau berada di negara penerima, melibatkan kepada tiga kegiatan yang dinilai bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam Konvensi Wina Tahun 1961 mengenai Hubungan Diplomatik. Pertama, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para diplomat asing yang dianggap bersifat politis maupun subversif dan bukan saja dapat merugikan kepentingan nasional tetapi juga melanggar kedaulatan suatu negara penerima. Kedua, kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu jelas-jelas melanggar peraturan hukum dan perundang-undangan negara penerima. Ketiga, kegiatan-kegiatan yang dapat digolongkan sebagai kegiatan spionase yang dapat dianggap dapat mengganggu baik stabilitas maupun keamanan nasional negara penerima (Sumaryo Suryokusumo, 2005:120-122).

Persona Non-Grata sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (1) Konvensi Wina Tahun 1961, memang merupakan salah satu jawaban yang disediakan ketika terjadi permasalahan diplomatik antara negara penerima dan pengirim. Untuk penggunaannya pernah dilakukan oleh Inggris ketika negara tersebut meminta agar Kedutaan Besar Uni Soviet memulangkan seratus lima anggotanya (Ernest Satow, 1979:21-23), ditambah dengan permintaan pemu-langan atas nama-nama yang dianggap Inggris melakukan praktik spionase yang terang dicantumkan Inggris dalam AideMemorie yang disampaikan kepada Kuasa Usaha Kedutaan Besar Uni Soviet di London (Ernest Satow, 1979:21-23). Sayangnya praktek Persona Non-Grata semacam ini, pada prakteknya akan menimbulkan reaksi pembalasan dari negara yang perwakilan diplomatiknya di persona non-gratakan (Syahmin AK, 2008:63). Sehingga akan menimbulkan masalah, dan bukan tidak mungkin ketegangan politik, bahkan dapat menjadi

konflik yang berkepanjangan yang menimbulkan hubungan kedua negara menjadi renggang

baik dalam pertemuan-pertemuan tingkat tinggi, maupun pertemuan-pertemuan resmi kedua negara di ajang konferensi-konferensi yang di adakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

(15)

di tingkat internasional adalah suatu kelaziman apabila suatu Negara yang terlebih dahulu eksis memberikan pengakuan atas keberadaan Negara atau pemerintahan yang lebih muda usianya (Birkah Latif dan Kadarudin, 2013:74). Oleh karena itu suatu negara agar benar-benar bisa melakukan hubungannya dengan negara lain secara baik (baik hubungan bilateral maupun hubungan multilateral) dalam bidang perdagangan, pendidikan, pertukaran budaya, dan sebagainya, maka terlebih dahulu harus menjadi suatu negara yang sah dengan salah satu syaratnya yaitu diakui oleh negara lain yang terlebih dahulu sudah menjadi suatu negara.

Aturan hukum internasional yang disediakan masyarakat internasional dapat dipastikan berupa aturan tingkah laku yang harus ditaati oleh negara apabila mereka saling mengadakan hubungan kerjasama (Mohd. Burhan Tsani, 1990:12). Oleh karena itu praktek spionase juga harus dipahami sebagai suatu pelanggaran terhadap hubungan diplomatik suatu negara, in dikarenakan praktik spionase dilarang dan pelarangannya tersebut di atur dalam suatu perjanjian internasional yang telah di sepakati bersama-sama yakni Konvensi Wina Tahun 1961.

Kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara lain dimaksudkan dalam pengertian yuridis, maksudnya karena hukumlah baik hukum nasional maupun hukum internasional mengakui adanya kekuasaan dan kewenangan tersebut. Sedangkan mengenai pernyataan yang berkenaan dengan kriteria atau ukuran tentang kemampuan untuk mengadakanhubungan dengan negara-negara lain, tidak ada ketentuan yang jelas dan pasti. Berkaitan dengan pengakuan suatu negara diakui secara de jure sedangkan negara lain mengakuinya secara de facto, hanyalahpengecualian saja dan merupakan hal yang luar biasa (Setyo Widagdo dan Hanif Nur W, 2008:34). Namun dalam studi-studi hubungan internasional pada umumnya, maka diajarkan bahwa pengakuan suatu negara terhadap Negara lain itu harus memenuhi dua criteria, yakni pengakuan secara de jure (hukum) terhadap negara yang diakuinya, dan pengakuan secara de facto (kenyataannya) bahwa negara tersebut memang ada secara jelas dan nyata.

(16)

dari negaranya, maka wajib bagi para utusan (diplomat) untuk selalu menjaga nama baiknya, nama baik negaranya, dan tidak hanya berlindung pada atribut yang memberikan kekebalan dan keistimewaan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai seorang diplomat yang mewakili negara yang diwakilinya, terlebih lagi di saat melakukan kegiatan-kegiatan yang berpotensi merugikan negara tempat dimana ia bertugas.

B. Kasus Persona Non Grata dalam Praktik Hukum Internasional

1. Kasus Persona Non Grata Diplomat Amerika Serikat oleh Pemerintah Rusia

Rusia telah memerintahkan pengusiran terhadap seorang diplomat Amerika Serikat di Moskwa karena dicurigai melakukan mata-mata. Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan, diplomat bernama Ryan Fogle diserahkan ke para pejabat Amerika Serikat setelah sempat ditahan pihak berwenang. Ryan kemudian dinyatakan persona non grata dan diperintahkan meningggalkan wilayah Rusia secepatnya. “Tindakan-tindakan provokatif dengan semangat Perang Dingin sama sekali tidak akan mendukung upaya memperkuat rasa saling percaya,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia, Selasa 14 Mei 2013. Sebelumnya Rusia mengatakan pihak berwenang negara itu sempat menahan seorang diplomat Amerika Serikat karena dituduh sebagai agen Badan Intelijen Pusat (CIA). Badan Keamanan Federal Rusia mengatakan Ryan Fogle bekerja sebagai Sekretaris Ketiga Kedutaan Besar Amerika di Moskwa. Ia ditangkap ketika berusaha merekrut seorang agen intelijen Rusia. Dalam operasinya, pihak berwenang menemukan peralatan teknik khusus, uang tunai pecahan 500 euro dalam jumlah besar, dan beberapa perlengkapan untuk menyamar. Barang-barang yang diduga milik Fogle ditempatkan di meja, termasuk rambut palsu, peta, dan pisau. Kementerian Luar Negeri Rusia memanggil Duta Besar AS Michael McFaul untuk membicarakan masalah itu. (kompas.com edisi Rabu, 15 Mei 2013).

Ini bukan kasus skandal mata-mata pertama kedua negara itu pada tahun ini. Namun sejumlah media mengatakan tertangkap tangannya diplomat Amerika akibat aksi mata-mata merupakan yang pertama kali dalam satu dekade hubungan Rusia-Amerika. Rusia menyatakan Fogle di persona non grata, yang artinya harus segera meninggalkan Rusia. Insiden ini dinilai terjadi pada saat yang tak tepat karena beberapa hari sebelumnya Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mencapai kata sepakat untuk menggelar pertemuan guna membahas solusi politik krisis Suriah. Insiden ini juga menghadirkan atmosfer perang dingin lebih dari dua dekade lalu. Saat itu, Rusia bersitegang dengan negara-negara Barat, yang dipimpin Amerika. Pada hari Rabu, tanggal 15 Mei 2013. Duta Besar Amerika untuk Rusia, Michael McFaul, dipanggil Kementerian Luar Negeri Rusia terkait dengan masalah Fogle. McFaul memasuki gedung Kementerian Luar Negeri di pusat Kota Moskow, Rabu pagi. Setengah jam kemudian, ia keluar dari kantor itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada wartawan yang sudah menunggu di luar gedung (tempo.com edisi Kamis, 16 Mei 2013).

(17)

yang hendak ia dekati tidak akan dijerat dengan tuduhan tertentu,” kata juru bicara FSB, Nikolai Zakharov. Belum terlalu jelas apa yang dicari agen CIA itu dengan merekrut orang Rusia. Media Rusia, Kommersant, mengatakan ada kemungkinan Fogle sedang mencari informasi tentang Tamerlan Tsarnaev, pelaku pengeboman di Boston, Amerika, 15 April lalu, yang menewaskan tiga orang dan melukai 267 lainnya. Kommersant menduga aksi Fogle ini berhubungan dengan perjalanan delegasi Amerika ke Dagestan oada April lalu untuk menyelidiki kasus ledakan tersebut. Pengebom di Boston, Tamerlan Tsarnaev, pernah mengunjungi wilayah Dagestan pada tahun lalu dan Amerika ingin mengetahui apakah ia menjalin kontak dengan kelompok militan Islam di sana. “Sangat mungkin bahwa selama perjalanan pada bulan April itu, pihak Amerika mendapatkan nomor telepon agen Dinas Rahasia Rusia,” demikian ditulis Kommersant, yang memiliki kontak dengan FSB dan Kementerian Luar Negeri Rusia. Amerika, menurut Kommesant, kemudian menggunakan kontak pribadi dengan agen anti-teror Rusia itu. Sebab, pertukaran informasi antara dinas rahasia kedua negara tidak selalu cepat dan mudah (tempo.com edisi Kamis, 16 Mei 2013).

Dilihat dari kasus di atas, maka dapat dijelaskan bahwa deklarasi Persona Non-Grata yang dikenakan kepada sesorang duta besar, termasuk anggota staf perwakilan misi diplomatik lainnya, dalam hal ini adalah Diplomat Amerika Serikat yang di Persona Non-Grata-kan oleh Pemerintah Federasi Rusia sudah tepat, karena alasan-alasan suatu negara dalam mendeklarasikan Persona Non-Grata kepada sesorang duta besar, termasuk anggota staf perwakilan misi diplomatik negara lain yang berada di negaranya berdasarkan apa yang di atur di dalam Konvensi Wina Tahun 1961 mengenai Hubungan Diplomatik yaitu : Pertama, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para diplomat asing yang dianggap bersifat politis maupun subversif dan bukan saja dapat merugikan kepentingan nasional tetapi juga melanggar kedaulatan suatu negara penerima. Kedua, kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu jelas-jelas melanggar peraturan hukum dan perundang-undangan negara penerima. Ketiga, kegiatan-kegiatan yang dapat digolongkan sebagai kegiatan spionase yang dapat dianggap dapat mengganggu baik stabilitas maupun keamanan nasional negara penerima. Dan dalam kasus ini maka pejabat Diplomat Amerika Serikat yang di Persona Non-Grata-kan oleh Pemerintah Federasi Rusia adalah berdasarkan kegiatan spionase.

2. Kasus Persona Non Grata Duta Besar Vatikan oleh Pemerintah Malaysia

Uskup Joseph Marino adalah duta besar persona non grata di Malaysia. Ia tidak dinginkan di Malaysia, karena pernyataannya yang tidak bijaksana dan tidak dapat diterima, yang menyebabkan kemarahan dari komunitas Muslim di Malaysia, Uskup Joseph Marino mengatakan Federasi Kristiani Malaysia mengajukan alasan “logis dan dapat diterima” terkait argumen untuk penggunaan kata Allah dalam Kitab Injil berbahasa Melayu dan dalam literatur lain. Akibat pernyataannya memicu protes dari komunitas Muslim di Malaysia ini, kemudian Uskup Joseph Marino mengajukan permintaan maaf melalui Menteri Luar Negeri Vatikan Seri Anifah Aman (news.detik.com edisi ).

(18)

Non-Grata yang dikenakan kepada sesorang duta besar, termasuk anggota staf perwakilan misi diplomatik lainnya, dalam hal ini adalah Duta Besar Vatikan yang di Persona Non-Grata-kan oleh Pemerintah Malaysia sudah tepat, karena alasan-alasan suatu negara dalam mendeklarasikan Persona Non-Grata kepada sesorang duta besar, termasuk anggota staf perwakilan misi diplomatik negara lain yang berada di negaranya berdasarkan apa yang di atur di dalam Konvensi Wina Tahun 1961 mengenai Hubungan Diplomatik. Dan dalam kasus ini maka Duta Besar Vatikan yang di Persona Non-Grata-kan oleh Pemerintah Malaysia adalah berdasarkan kegiatan yang memicu protes dari komunitas Muslim di Malaysia dan dapat merugikan kepentingan nasional negara Malaysia.

3. Kasus Persona Non Grata Staf Kedutaan 17 Negara oleh Pemerintah Suriah

Houla, kota kecil di daerah pedesaan pertanian miskin di provinsi Homs Suriah menjadi perhatian dunia, setelah terjadi tragedi pembantaian lebih dari 100 orang penduduk sipil oleh militer pada Jumat 25 Mei di tahun 2012. Kemarahan dunia muncul karena mayoritas korban adalah wanita dan anak-anak yang dibunuh dengan cara sangat kejam. Ada bukti kuat milisi shabbiha yang pro pemerintah terlibat dalam pembantaian tersebut. Pemantau PBB menemukan bukti-bukti keterlibatan militer berupa peluru artileri, tank, termasuk bangunan yang hancur oleh senjata berat dalam tragedi Houla. Kecaman dan kemarahan dunia atas tragedi Houla diikuti dengan pengusiran negara-negara Barat terhadap para diplomat Suriah. Suriah membalas tindakan tersebut dengan pengusiran duta besar dan staf kedutaan 17 negara, termasuk AS dengan persona non grata (Adirini Pujayanti, 2012:5).

Dilihat dari kasus di atas, maka dapat dijelaskan bahwa deklarasi Persona Non-Grata

yang dikenakan kepada sesorang duta besar, termasuk anggota staf perwakilan misi diplomatik lainnya, dalam hal ini adalah staf pejabat diplomat 17 negara (termasuk pejabat diplomat Amerika Serikat) yang di Persona Non-Grata-kan oleh Pemerintah Suriah kurang tepat, karena alasan-alasan suatu negara dalam mendeklarasikan Persona Non-Grata kepada sesorang duta besar, termasuk anggota staf perwakilan misi diplomatik negara lain yang berada di negaranya berdasarkan apa yang di atur di dalam Konvensi Wina Tahun 1961 mengenai Hubungan Diplomatik yaitu : Pertama, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para diplomat asing yang dianggap bersifat politis maupun subversif dan bukan saja dapat merugikan kepentingan nasional tetapi juga melanggar kedaulatan suatu negara penerima. Kedua, kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu jelas-jelas melanggar peraturan hukum dan perundang-undangan negara penerima. Ketiga, kegiatan-kegiatan yang dapat digolongkan sebagai kegiatan spionase yang dapat dianggap dapat mengganggu baik stabilitas maupun keamanan nasional negara penerima. Dan dalam kasus ini staf pejabat diplomat 17 negara (termasuk pejabat diplomat Amerika Serikat) yang di Persona Non-Grata-kan oleh Pemerintah Suriah tidak ada yang melanggar ketiga aturan tersebut. Oleh karena itu, menurut analisis penulis, pendeklarasian

(19)

dalam praktik negara-negara terhadap aturan hukum internasional.

III. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik dari kedua pokok permasalahan adalah :

1. Wakil-wakil diplomatik yang dikirim membawa misi-misi diplomatik dan harus memahami betul instrumen-instrumen internasional yang berhubungan dengan tugasnya, salah satunya Konvensi Wina Tahun 1961. Karena jika melanggar hal-hal yang sifatnya merugikan negara tempat dimana ia ditugaskan maka diplomat tersebut dapat saja di

persona non grata-kan. Persona non grata adalah sebuah istilah dalam bahasa Latin yang dipakai dalam perkancahan politik dan diplomasi internasional. Makna harfiahnya adalah orang yang tidak diinginkan. Orang-orang yang di-persona non grata-kan biasanya tidak boleh hadir di suatu tempat atau negara. Apabila ia sudah berada di negara tersebut, maka ia harus diusir dan dideportasi. Jadi sebagai wakil dari negaranya, maka wajib bagi para utusan (diplomat) untuk selalu menjaga nama baiknya, nama baik negaranya, dan tidak hanya berlindung pada atribut yang memberikan kekebalan dan keistimewaan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai seorang diplomat yang mewakili negara yang diwakilinya

2. Pernyataan deklarasi Persona Non-Grata yang dikenakan kepada sesorang duta besar, termasuk anggota staf perwakilan misi diplomatik lainnya, khususnya terhadap mereka yang sudah tiba atau berada di negara penerima, melibatkan kepada tiga kegiatan yang dinilai bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam Konvensi Wina Tahun 1961 mengenai Hubungan Diplomatik. Pertama, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para diplomat asing yang dianggap bersifat politis maupun subversif dan bukan saja dapat merugikan kepentingan nasional tetapi juga melanggar kedaulatan suatu negara penerima. Kedua, kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu jelas-jelas melanggar peraturan hukum dan perundang-undangan negara penerima. Ketiga, kegiatan-kegiatan yang dapat digolongkan sebagai kegiatan spionase yang dapat dianggap dapat mengganggu baik stabilitas maupun keamanan nasional negara penerima. Jika dilihat dari kasus Persona Non Grata diplomat Amerika Serikat oleh Pemerintah Rusia adalah suatu hal yang tepat, karena pejabat diplomat Amerika Serikat yang di Persona Non-Grata-kan oleh Pemerintah Federasi Rusia adalah berdasarkan kegiatan spionase. Dalam kasus lain, deklarasi Persona Non Grata Duta Besar Vatikan oleh Pemerintah Malaysia merupakan hal yang juga tepat, karena Duta Besar Vatikan yang di Persona Non-Grata-kan oleh Pemerintah Malaysia adalah berdasarkan kegiatan yang memicu protes dari komunitas Muslim di Malaysia dan dapat merugikan kepentingan nasional negara Malaysia. Sedangkan pada kasus deklarasi

(20)

Hubungan Diplomatik. Oleh karena itu menurut pendeklarasian Persona Non-Grata terhadap staf pejabat diplomat 17 negara oleh Pemerintah Suriah adalah tidak berdasar (sesuai dengan apa yang diatur dalam Konvensi Wina Tahun 1961 mengenai Hubungan Diplomatik) dan bertentangan dengan kepatutan dalam hukum kebiasaan dalam praktek negara-negara terhadap aturan hukum internasional.

DAFTAR PUSTAKA Buku dan Jurnal :

Adirini Pujayanti, Kebijakan Luar Negeri Indonesia Dalam Krisis Suriah, Info Singkat Hubungan Internasional, Jurnal DPR RI, Vol. IV. Nomor 11. Juni 2012.

Anthony Aust. Handbook of International Law. United kingdom: Cambridge University Press, 2005.

Birkah Latif dan Kadarudin, Pengantar Hukum Internasional. Makassar: Pustaka Pena Press, 2013.

______________________, Hukum Perjanjian Internasional. Makassar: Pustaka Pena Press, 2013.

Boer Mauna. Hukum Internasional, Pengertian, Peranan, Dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global. Edisi Kedua, Bandung: Alumni, 2002.

Dehaussy, The Inviolability of Diplomatic Residence, 83 Journal du droit international (cluent) 1956.

Eric. Hubungan Diplomatik Taiwan Dengan Negara Lain Dalam Statusnya Sebagai Subjek Hukum Internasional. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2013.

Ernest Satow. Satow’s Guied To Diplomatic Practice. 5th Edition. London: Longman Group

Ltd, 1979.

F. Sugeng Istanto. Studi Kasus Hukum Internasional. Jakarta: PT. Tata Nusa, 1998.

Grant. V. Mc. Clanahan, Diplomatic Immunities, Principles, Practices, Problems, New York: St. Martin’s Press, 1989.

Huala Adolf. Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum Internasional. Edisi Revisi. Jakarta: PT. RajaGravindo Persada, 2002.

I Wayan Parthiana. Pengantar Hukum Internasional. Bandung: Mandar Maju, 1990.

I Gst Ngr Hady Purnama Putera dan Ida Bagus Putu Sutama. Tinjauan Hukum Diplomatik Tentang Penyelesaian Sengketa Praktik Spionase Yang Dilakukan Melalui Misi

Diplomatik Diluar Penggunaan Persona Non-Grata. Bali: Bagian Hukum Internasional, Fakultas Hukum Universitas Udayana, Tanpa Tahun.

J.G. Starke. Pengantar hukum Internasional. Edisi Kesepuluh. Jakarta: Sinar Grafika, 2003.

(21)

Mohd. Burhan Tsani. Hukum Dan Hubungan Internasional. Yogyakarta: Liberty, 1990. S.L. Roy. Diplomasi. Jakarta: PT. RajaGravindo Persada, 1995.

Samidjo. Ilmu Negara. Bandung: Armico, 1996.

Setyo Widagdo dan Hanif Nur W. Hukum Diplomatik Dan Konsuler. Malang: Bayu Media, 2008.

Soehino. Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty, 1980.

Sukawarsini Djelantik. Diplomasi Antara Teori Dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008. Sumaryo Suryokusumo, Hukum Diplomatik. Teori dan Kasus, Bandung: PT. Alumni, 2005. Syahmin AK. Hukum Diplomatik Dalam Kerangka Studi Analisis. Jakarta: PT. RajaGravindo

Persada, 2008. Sumber Lain :

(22)
(23)

UPAYA PENANGGULANGAN TERHADAP PELACURAN

ANAK DI WILAYAH HUKUM POLRES BIAK NUMFOR

Muslim Lobubun

Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Biak

[email protected]

Abstract

Sex workers are minors in the jurisdiction of Police Biak Numfor average age

of 15 years they claim to be able to say a lot less than 18 years old, and this is

clearly very poor condition. The prostitutes are minors from outside the Biak

area i.o. Manado, Makassar, Malang, Surabaya, Jakarta. In tackling child

prostitution there are two efforts: (1) through the efforts of penal, and (2)

through the efforts of non-penal. Both of these efforts can be distinguished,

but in fact are inseparable.

Keyword : Child prostitution, tackling, poor condition.

I. PENDAHULUAN

Untuk mensukseskan dan mencapai tujuan tidaklah mudah sebagaimana yang diharapkan, ini dapat dibuktikan dengan adanya sebagaian masyarakat yang tidak mengindahkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Seperti pelacuran semakin lama semakin menjadi. Kerena pelacuran merupakan tinkah laku manusia yang menyimpang dari norma-norma dan selalu ada dalam kehidupan masyarakat, yang biasa dilakukan oleh wanita dewasa atau usia yang belum dewasa, bahkan ada yang dilakukan oleh kaum laki-laki dan ini merupakan masalah sosial yang selalu ada dalam masyarakat.

Adapun yang dimaksud masalah sosial adalah gejala-gejala yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, seperti yang menyangkut tentang nilai-nilai sosial dan moral. Karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Karena masalah-masalah sosial tidak dapat ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran apa yang dianggap baik dan buruk dalam masyarakat. Dengan keadaan ekonomi yang sulit menyebabkan oranr-orang berani melakukan apapun demi memenuhi kebutuhan hidupnya, agar dapat menghasilkan uang banyak melalui jalan pintas demi menghalalkan segala cara dengan dalih mencari sesuap nasi. Sehingga ini mengakibatkan menurunnya moral dan etika masyarakat Indonesia yang masih kental dengan adat istiadat atau budaya timur.

(24)

oleh para pelakunya meskipun kehormatan diri harus dikorbankan sebagai pemuas nafsu lelaki hidung belang.

Di Papua khususnya di Biak bisnis pelacuran tidak pernah merugi, besar kecilnya keuntungan yang diperoleh tergantung pada cara pengelolaan bisnis dalam mengemas dagangannya. Bahkan para pengelola bisnis dengan teganya memasok gadis-gadis dibawah umur atau dengan istilah anak baru gede (ABG) untuk memuaskan syahwat lelaki iseng, demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Para Pekerja Seks Komersial (PSK) baik yang dewasa maupun yang belum dewasa, ini melakukan transaksi seks secara langsung ditempat-tempat yang telah menyediakan gadis-gadis dibawah umur oleh pemilik bisnis. Adapun yang mengadakan transaksi tidak langsung seperti di pusat-pusat perbelanjaan secara tersamar,di pub, karaoke, panti pijat dan diskotik.

Membicarakan kehidupan seks seputar dunia Anak Baru Gede (ABG), itu tidak akan ada habis-habisnya. Pergaulan bebas seperti yang dilakukan Anak Baru Gede (ABG) ini semakin semarak dengan terlupakannya norma-norma yang hidup dalam masyarakat. Sehubungan dengan kemajuan teknologi yang tidak terbendung membuat dunia komunikasi dan hiburan-hiburan yang ditanyangkan di televisi menjadi pengaruh buruk bagi masyarakat kita khususnya Anak Baru Gede (ABG), dimana tanyangan-tanyangan di televisi sebagian bersumber dari budaya barat yang bertentangan dengan norma-norma adat timur. Ditambah lagi dengan hadirnya komunikasi di dunia maya yang menjadikan dunia seks atau pergaulan

seks yang muda diakses oleh masyarakat khususnya anak remaja. Karena kurangnya filter serta

kurangnya pendidikan spiritual menjadikan tontonan yang dilihat tersebut langsung dicontoh dan diikuti tanpa dipikir terlebih dahulu. Kurangnya perhatian dan pengawasan dari orang tua, keluarga, orang-orang terdekat dan lingkungan pendidikan serta pengaruh lingkungan yang buruk semakin memudahkan Anak Baru Gede (ABG) yang dalam tahap pencarian jadi diri, sehingga mereka lebih cepat mencontoh segala hal yang dilihatnya seperti perilaku seks bebas pada remaja bahkan dalam penyalahgunaan narkoba. Pada awalnya mereka hanya mencoba-coba, kemudian menikmati gaya hidup tersebut dan akhirnya terjebak didalamnya. Sehingga hal tersebut menjadi sala satu faktor penyebab terjadinya pelacuran anak di bawah umur.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 296, Pasal 297 dan Pasal 506 diatur hanya mengenai sanksi-sanksi kepada mereka yang memudahkan perbuatan cabul saja dengan pidana penjara satu tahun empat bulan, memperdagangkan wanita dan anak laki-laki yang belum dewasa dengan pidana enam tahun dan menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang wanita dan menjadikannya sebagai mata pencaharian dengan ancam pidana satu tahun, akan tetapi tidak mengatur secara jelas sanksi pidana terhadap pelacur dan para konsumennya, kecuali terhadap germo yang men gambil keuntungan dari pelacura.

(25)

disebabkan berbagai faktor yang kurang mendukung dalam penegakan hukum di lapangan. Meskipun begitu sesuai dengan fungsi hukum yaitu untuk menjaga ketertiban maka segala bentuk pelanggaran terhadap moral dan kesusilaan harus ditindak sesuai dengan tingkat pelanggarannya.

II. METODE PENELITIAN

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dan penelitian hukum emperis (sosiologis). Penelitian hukum normatif digunakan untuk mengkaji data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, dan pendapat para ahli di bidang hukum. Sedangkan penelitian hukum emperis digunakan untuk menggali data di Polres Biak Numfor yang menangani masalah pelacuran anak.

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Biak, yakni Polres Biak Numfor sebagai lembaga yang menangani masalah pelacuran anak, selain itu juga mudah dijangkau oleh

penulis untuk memperoleh data pelacuran dan juga efektifitas waktu serta menghemat biaya

penelitian.

2. Teknik Pendekatan

Teknik pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dan penelitian hukum emperis (sosiologis). Penelitian hukum normatif digunakan untuk mengkaji data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, dan pendapat para ahli di bidang hukum. Sedangkan penelitian hukum emperis digunakan untuk menggali data di Polres Biak Numfor yang menangani masalah pelacuran anak.

3. Populasi dan Sampel

Populasi merupakan keseluruhan dari obyek yang diteliti, sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang dijadikan unit analisis. Adapun populasi dalam penelitian ini seluruh kejahatan pelacuran anak di Kabupaten Biak Numfor, sedangkan sampel ditentukan secara purposive sampling, dengan maksud bahwa sampel tersebut yang dianggap memenuhi kriteria penelitian dan dianggap mengetahui secara baik tentang permasalahan yang diteliti (Bambang Suggono, 2001:68).

4. Jenis dan Sumber Data

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan yang dikumpulkan dari responden dan informan. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai sumber atau bahan kepustakaan.

5. Teknik Pengumpulan Data

(26)

b. Pengamatan (observasi), yaitu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati sejumlah fenomena tentang masalah pelacuran anak di Kabupaten Biak Numfor.

c. Studi Dokumentasi, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan mempelajari berbagai literatur dan dokumen-dokumen lain yang relevan dengan obyek penelitian. 6. Analisa Data

Analisa data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif, analisis

kualitatif yaitu, meliputi tahap pengumpulan data, pengeditan data, klasifikasi data, penyajian

data, dan penarikan kesimpulan. Analisis kuantitatif dimaksudkan untuk menganalisis jenis dan jumlah kejahatan pelacuran anak di Kabupaten Biak Numfor.

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Permasalahan pelacuran anak ini ternyata juga terkait erat dengan persepsi masyarakat terhadap anak yang dijadikan alternatif untuk dipekerjakan atau dikawinkan dengan alasan untuk melepas tanggung jawab sosial atau tingkat ekonomi keluarga yang rendah. Kuatnya peran hubungan relasi antara laki-laki dengan perempuan yang tidak setara juga merupakan persoalan munculnya pelacuran anak di bawah umur, dimana yang lebih banyak dirugikan adalah anak perempuan.

Berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa pekerja seks anak di bawah umur rata-rata mereka mengaku umur 15 tahun jadi dapat dikatakan banyak yang umurnya kurang dari 18 tahun, dan kondisi ini jelas sangat memprihatinkan. Para pelacur yang berusia di bawah umur ini berasal dari daerah luar Biak seperti Manado, Makassar, Malang, Surabaya, Jakarta. A. Faktor Penyebab Pelacuran Anak Di Bawah Umur

Terjadinya perubahan-perubahan sosial begitu cepat dan perkembangan yang tidak sama dalam kebudayaan, mengakibatkan ketidakmampuan banyak individu untuk menyesuaikan diri, mengakibatkan timbulnya 2 (dua) bentuk pelacuran, yaitu:

1. Bentuk pelacuran secara terang-terangan yaitu, wanita tuna susila yang bertempat tinggal tetap. Tempat pelacuran bagi wanita tuna susila yang ada di Bempo letaknya di belakang SPBU, serta di Wabnour belakang pasar Inpres Biak yang merupakan komplek yang dilokalisasi illegal, selain itu juga ada yang berkeliaran sepeti di café-café, karaoke dan panti-panti pijat yang ada di kota Biak. Walaupun jumlahnya tidak begitu banyak akan tetapi diantara wanita tuna susila tersebut masih ada yang berusia di bawah 18 tahun.

(27)

atau laki-laki hidung belang bila menginginkan wanita tuna susila yang dimaksud harus melalui perantara atau penghubung seperi pemilik warung, sopir angkot, sopir taxi hotel,dan sekaligus perantara tersebut menentukan tempat bertemunya kedua belah pihak. Tempat yang sering mereka gunakan adalah hotel-hotel serta ada kalanya para wanita tuna susila ini dibawa sendiri oleh lelaki hidung belang.

Selanjutnya berdasarkan hasil penelitian bahwa terdapat faktor-faktor yang menjadi penyebab serta tujuan mengapa anak-anak di bawah umur ini terjun kedalam dunia pelacuran. Seperti yang di utarakan oleh Fritz Yawan (anggota Samapta pada Polres Biak Numfor) bahwa faktor penyebab terjadinya pelacuran anak dibawah umur ini paling dominan disebabkan karena faktor ekonomi. Faktor-faktor penyebab tersebut dapat digambarkan dalam tabel berikut ini.

Tabel 1

Faktor penyebab pelacuran anak di bawah umur di Kabupaten Biak Numfor Tahun 2009-2011

No. Faktor Penyebab Tahun Jumlah Prosentase

2009 2010 2011

1 Ekonomi 6 9 13 28 28,86

2 Masalah Keluarga 2 4 2 8 8,25

3 Patah Hati 5 7 8 20 20,62

4 Dijebak/tertipu rayuan 4 6 11 21 21,65

5 Kemauan Sendiri 4 5 11 20 20,62

Total 21 31 45 97 100,00

Sumber: Kepolisian Resor Biak Numfor Januari 2011

Berdasarkan Tabel 1 bahwa selama kurun waktu 3 (tiga) tahun 2009-2011 terungkap bahwa faktor penyebab terjadinya pelacuran anak di bawah umur di Kabupaten Biak Numfor ada 5 (lima) faktor. Dari faktor tersebut yang paling dominan adalah disebabkan oleh faktor ekonomi, yaitu berjumlah 28 orang (28,86%), kedua karena faktor dijebak, berjumlah 21 orang (21,65%), ketiga faktor kemauan sendiri berjumlah 20 orang (20,62%), keempat faktor patah hati berjumlah 20 orang (20,62%), kelima faktor masalah keluarga berjumlah 8 orang (8,25%), kelima faktor tersebut dapat diuraikan satu persatu sebagai berikut.

1. Masalah ekonomi

(28)

yang urgen, maka kebanyakan dari wanita yang dikarenakan desakan ekonomi yang kuat mendorong mereka untuk menjalani hidup sebagai “wanita malam” atau “wanita panggilan”. 2. Masalah keluarga

Dari beberapa PSK yang penulis temui sebagian menuturkan bahwa alasannya menjadi pelacur adalah karena dia kabur dari rumah, akibat ketegangan yang ia dapatkan di rumah keluarga yang berantakan dan kurangnya perhatian orang tua sehingga merasa frustasi. 3. Patah hati

Alasan yang ketiga adalah dikarenakan patah hati, dikecewaakan oleh pacar dengan dinodai lalu ditinggalkan begitu saja. Diantara mereka bahkan disakiti dan ditinggalkan oleh mantan suami, hal ini disebabkan karena sewaktu masih sekolah di tingkat SMP sudah terlanjur hamil sebelum menikah (kawin muda), dan ternyata oleh laki-laki tersebut tidak mau bertanggung jawab.

4. Dijebak/tertipu rayuan

Dijebaknya seorang gadis di bawah umur yang di iming-iming dengan pekerjaan mudah bergaji besar di kota, ternyata apa yang telah dijanjikan oleh orang yang akan mencarikan pekerjaan tidak sesuai dengan yang diharapkan, akibatnya mereka dijadikan wanita penghibur untuk kemudian dijual pada germo yang berada di wilayah lokalisasi

dan terjebak tak bisa keluar, ternyata cerita tragis yang sering kita nonton di dalam film

atau sinetron adalah menjadi kenyataan pahit yang mereka alami, menangis dan menyesali langkah yang telah mereka ambil saat mereka pergi ke kota menjadi kegiatan rutin mereka sehari-hari, kepedihan yang harus mereka telan disela caci maki orang yang merasa jijik akan kehadiran mereka membuat mereka kebal akan rasa sakit.

5. Atas kemauan sendiri

Alasan ini agak mengejutkan bagi penulis, karena anak yang masih di bawah umur berpenampilan dewasa mengatakan bahwa melakukan pekerjaan ini atas kemauan sendiri tanpa desakan apapun, hal ini disebabkan pergaulan bebas serta kurangnya pendidikan moral dan agama sehingga mudah terpengaruh.

B. Peranan Polres Biak Numfor dalam menanggulangi masalah pelacuran anak di Kabupaten Biak Numfor

Dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, khususnya dalam Pasal 5 disebutkan bahwa “Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri” (Anonim, 2002:25). Kemudian di dalam Pasal 13 disebutkan bahwa tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah:

(29)

(3) Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat

Menurut Fritz Yawan (staf Samapta pada Polres Biak Numfor) untuk menanggulangi masalah pelacuran anak dibawah umur ini telah dibentuk suatu tim pada bagian Bimas (Bimbingan Masyarakat) Polres Biak Numfor yang bertugas untuk melakukan bimbingan remaja, pemuda dan wanita yang lebih dikenal dengan sebutan “Binredawan”. Binredawan ini kebanyakan lebih diprioritaskan kepada mereka yang bekerja di kafe-kafe, rumah makan dan panti pijat, hal ini dikarenakan Polres Biak Numfor melihat kebanyakan dari mereka yang bekerja di kafe-kafe, rumah makan maupun panti pijat adalah mereka yang yang pada umumnya putus sekolah sehingga memiliki pengetahuan yang kurang terutama pengetahuan tentang hukum yang mengatur masalah prostitusi dan tentang undang-undang perlindungan anak (Hasil Wawancara tanggal 29 September 2012).

Sebagai penegak hukum, Polisi masuk dalam jajaran sistem peradilan pidana, sebagai salah satu subsistem. Subsistem yang lain adalah Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan. Dalam sistem Peradilan Pidana, Polisi adalah pintu gerbang bagi para pencari keadilan. Dari sinilah segala sesuatunya dimulai, posisi awal ini menempatkan Polisi pada posisi yang tidak menguntungkan. Sebagai penyidik Polisi harus melakukan penangkapan dan bila perlu penahanan, yang berarti Polisi harus memiliki dugaan yang kuat bahwa orang tersebut adalah pelaku kejahatan. Dari rangkaian tugas penegak hukum dapat diketahui bahwa tugas Kepolisian bukan merupakan tugas yang ringan. Dengan segala keterbatasan, keterampilan dalam melakukan penyidikan masih tetap harus ditingkatkan guna mengejar modus kriminalitas yang semakin kompleks. Sering terjadi keluhan dalam masyarakat, bahwa tugas yang dilakukan oleh Kepolisian dalam rangka penegakan hukum, seringkali melanggar aturan-aturan yang telah ditentukan. Aparat Kepolisian dianggap tidak menghormati hak-hak yang dimiliki tersangka serta sering melakukan kekerasan dalam memeriksa tersangka.

Menurut Satria Lumbantoruan (anggota satuan Reskrim Polres Biak Numfor) kekuasaan yang dimiliki oleh penyidik, masih menjadi faktor penentu dalam melakukan penegakan hukum, sehingga terdapat kecenderungan ketidakpercayaan masyarakat pada lembaga Kepolisian yang dianggap bisa merekayasa kasus yang sedang dalam proses penyidikan, hal ini tentunya sangat merugikan pihak Kepolisian serta proses peradilan pidana secara keseluruhan (Hasil Wawancara dengan Satria Lumbantoruan tanggal 29 September 2012).

(30)

Pasal 19 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002, yang menyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, pejabat POLRI senantiasa bertindak berdasarkan norma hukum dan mengindahkan norma agama, kesopanan, kesusilaan, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Dari ketentuan tersebut, penghormatan terhadap hak asasi manusia telah mendapat penegakan khusus dalam rangka pelaksanaan tugas POLRI. Penghormatan hak asasi manusia dalam peradilan pidana telah dimulai dengan memberikan serangkaian hak kepada tersangka/terdakwa. Sayangnya apabila dikaji secara cermat, pemberian hak kepada tersangka/terdakwa ternyata tidak dibarengi dengan kewajiban dari aparat penegak hukum, sehingga serangkaian hak tersebut hanyalah sebagai ketentuan normatif yang tidak memiliki kekuatan hukum. Selain itu pelanggaran terhadap ketentuan hukum yang berkaitan dengan hak-hak tersangka juga tidak dibarengi sanksi, sehingga pelanggaran-pelanggaran terhadap hak-hak yang telah diberikan KUHAP masih tetap berlangsung.

Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) sebagai sub sistem dari sistem peradilan pidana merupakan ujung tombak di lapangan dalam penegakan hukum peraturan perundang-undangan, bahkan banyak masyarakat yang beranggapan bahwa POLRI adalah hukum yang hidup dan orang awam pun bila ditanya hukum akan menjawab POLRI, karena POLRI yang selalu melakukan teguran, menilang dan tindakan upaya paksa bagi setiap warga dan masyarakat yang melakukan pelanggaran hukum. Berfungsinya hukum di lapangan sangat ditentukan oleh POLRI dalam mengadakan rekayasa sosial, bahkan ada seorang pakar mengatakan setiap ada undang-undang baru, hampir dapat dipastikan bahwa pekerjaan polisi akan bertambah. Seorang hakim baru bekerja apabila ada perkara yang diajukan kepadanya, tetapi polisi sudah harus bertindak begitu ada undang-undang dikeluarkan dan dinyatakan berlaku.

Tugas kepolisian yang banyak adalah menangani kejahatan konvensional. Kejahatan konvensional juga disebut sebagai kejahatan yang tradisional, karena landasan terdapat dalam KUHP, dan dilakukan dengan cara biasa. Welfare Crimes pada dasarnya merupakan konvensional

crimes, tetapi crimes tersebut meningkat karena adanya kemakmuran masyarakat. Dengan semakin makmurnya masyarakat, maka kejahatan semakin sulit dalam pengawasan dan penindakannya, karena memerlukan keterpaduan fungsi dan political will pemerintah. Kejahatan akibat kemakmuran ini adalah pelacuran, penyalahgunaan Narkotika dan obat-obatan keras, kenakalan dan kejahatan anak, perjudian dan pemabukan.

Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) sebagai salah satu aparat penegak hukum dalam sistem peradilan pidana di Indonesia, dalam melaksanakan tugasnya selalu berpatokan pada hukum yang berlaku. Hal ini sesuai dengan asas yang terdapat di dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP, yaitu Asas Legalitas yang berbunyi: “Tiada suatu perbuatan boleh dihukum, melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undang-undang, yang ada terdahulu daripada perbuatan itu”.

(31)

dilakukan sebelum ketentuan pidana dalam undang-undang itu diadakan. Ini berarti bahwa undang-undang tidak mungkin berlaku surut (mundur). “Nullum delictum sine praevia lege poenali”, artinya “persistiwa pidana tidak akan ada, jika ketentuan pidana dalam undang-undang tidak ada terlebih dahulu”. Apabila kepolisian hanya terpaku pada asas legalitas formal, maka pelacuran tidak dapat tersentuh oleh hukum pidana sebagai sarana penal dalam penanggulangan kejahatan, karena apabila kita memeriksa KUHP, di dalamnya sangat minim dan sederhana sekali kaidah yang berhubungan dengan prostitusi.

Tindakan represif yang mewujudkan pelaksanaan kaidah hukum pidana sesuai sanksi yang diancamkan belum seperti yang diharapkan. Oleh karena itu penerapan hukum pidana dalam mengatasi pelacuran secara represif hasilnya relatif kecil, dan suatu kepastian hukum yang berlaku telah tidak mampu ditegakkan sesuai rumusannya, seperti halnya yang terdapat di dalam Pasal 506 KUHP. Tindak pidana yang diancamkan Pasal 506 KUHP termasuk tindak pidana ringan, adapun pemerikasaan acara ringan, undang-undang tidak menjelaskan, akan tetapi undang-undang menentukan patokan dari segi “ancaman pidananya”. Untuk menentukan apakah suatu tindak pidana diperiksa dengan acara ringan, bertitik tolak pada ancaman tindak pidana yang didakwakan. Secara generalisasi ancaman tindak pidana yang menjadi ukuran dalam acara pemeriksaan tindak pidana ringan, diatur dalam Pasal 205 ayat (1) KUHP, yakni (1) Tindak pidana yang ancamannya “paling lama 3 bulan” penjara atau kurungan, (2) Denda sebanyak-banyaknya Rp. 7.500,- dan (3) “Penghinaan ringan” yang dirumuskan dalam Pasal 315 KUHP.

1. Upaya Penanggulangan Pelacuran Anak di Bawah Umur

Sebagai konsekwensi bahwa dari segi hukum baik hukum perkawinan maupun hukum pidana, tersirat bahwa pelacuran tidak dapat di lenyapkan, yang disebabkan kaitannya dengan berbagai aspek kehidupan manusia, khususnya bila dihadapkan pada sifat-sifat alami manusia. Hukum tidak mampu secara langsung menindak tegas agar pelacuran dapat dihentikan, di lain segi pelacuran sebagai gaya sosial dapat menimbulkan berbagai akibat yang membahayakan baik untuk individu yang bersangkutan, keluarga dan akhirnya adalah masyarakat. Menghadapi kenyataan ini Pemerintah Daerah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi bertambahnya jumlah pelacuran dan mencegah akibat-akibat yang timbul karena pelacuran.

Pemerintah Daerah dihadapkan pada permasalahan yang bukan hanya pelacuran yang dilakukan oleh orang dewasa saja, melainkan banyaknya timbul pelacuran yang dilakukan oleh anak di bawah umur, Pemerintah Daerah Kabupaten Biak Numfor berkewajiban untuk:

a) Mengadakan upaya rehabilitasi kepada para pemeran pelacuran guna mempersiapkan proses rehabilitasi dirinya sendiri untuk mencapai penghidupan yang layak dan terhormat sesuai dengan nilai-nilai moral Pancasila.

b) Mengadakan inventarisasi daerah-daerah rawan pelacuran.

(32)

d) Mengadakan pengawasan untuk mencegah bertambahnya jumlah pelacuran, bahkan berkurang atau hilang serta mencegah meluasnya daerah operasional mereka.

e) Memberikan penyuluhan dan penerangan kepada masyarakat tentang bahaya pelacur. f) Mengkoordinasikan Satuan Pelaksana Pemberantasan Pelacuran Kota dari mulai

perencanaan, pembinaan sampai dengan operasional baik preventif, represif maupun rehabilitatif.

Dalam menangani para pelacur yang masih di bawah umur Polres Biak Numfor biasanya memanggil orang tua atau walinya atau cukup dengan memberikan surat pemberitahuan, karena anak yang masih di bawah umur selalu di kembalikan ke orang tuanya karena masih menjadi tanggung jawab orang tuanya.

Konsepsi kebijakan penanggulangan kejahatan yang integral mengandung konsekwensi, bahwa segala usaha yang rasional untuk menanggulangi kejahatan harus merupakan satu kesatuan yang terpadu (integralitas). Ini berarti kebijakan penal harus pula dipadukan dengan kebijakan atau usaha-usaha lain yang bersifat non-penal. Ini berarti pula, apabila dalam pelaksanaan politik kriminal tidak dilakukan upaya integralitas terhadap kedua kebijakan (penal dan non-penal) tersebut, maka akan terjadi pemikulan beban yang berlebihan, terutama yang dirasakan oleh Hukum Pidana, karena di dalam masyarakat sering terjadi, bahwa urusan penanggulangan kejahatan adalah urusan hukum (pidana), sehingga dalam sehari-hari akan tanpak bahwa hukum itu berfungsi sebagai “Panglima” dalam politik kriminal. Padahal usaha-usaha preventif (pencegahan) akan sangat dirasakan lebih efektif dari pada usaha penindakan secara represif. Sebab usaha-usaha preventif (non-penal) yang dapat meliputi bidang yang sangat luas sekali di seluruh sektor kebijakan sosial atau pembangunan nasional ini, mempunyai tujuan utama yakni memperbaiki kondisi-kondisi sosial tertentu secara tidak langsung mempunyai pengaruh preventif terhadap kejahatan.

Dengan demikian ditinjau dari sudut politik kriminal, maka keseluruhan kegiatan preventif (usaha-usaha non-penal) sebenarnya mempunyai kedudukan yang sangat strategis. Ia memegang posisi kunci yang harus diintensifkan dan diefektifkan. Kegagalan dalam menggarap posisi strategis ini berarti akan berkaitan fatal bagi usaha penanggulangan kejahatan.

C. Upaya Penanggulangan dan Kendala yang Dihadapi Polres Biak Numfor dalam Menanggulangi Pelacuran Anak di Kabupaten Biak Numfor.

Dalam menanggulangi kejahatan ada dua upaya penaggulangan kejahatan yaitu (1) melalui upaya penal, dan (2) melalui upaya non-penal. Kedua upaya ini dapat dibedakan, tetapi sesungguhnya tidak bisa dipisahkan. Seperti diketahui bahwa kedua upaya tersebut saling melengkapi atau berada dalam keseimbangan antara upaya penal dan non-penal. Menurut Barda Nawawi Arif (2001:74)bahwa:

(33)

simptomatik/tidak kausatif/tidak eliminatif, individualistik atau offender-oriented

tidak victim oriented, lebih bersifat represif/tidak preventif, harus didukung oleh infrastruktur dengan biaya tinggi.

Disebabkan upaya penal tidak eliminatif atau tidak kausatif dalam arti bahwa tidak menghapus sama sekali kejahatan termasuk sebab-sebab terjadinya kejahatan, melainkan hanya mengobati ujung atau ekor kejahatan, sementara akar sebab musababnya tidak tersentuh melalui upaya penal tersebut. Oleh karena itu dikembangkanlah upaya non-penal.

(1) Upaya Penal

Seperti diketahui bahwa upaya penanggulangan kejahatan melalui jalur penal lebih menitikberatkan pada sifat represif (penumpasan, pemberatasan). Kebijakan penanggulangan kejahatan melalui upaya penal dapat ditelusuri melalui kebijakan dalam (1) hukum pidana materiil, (2) hukum pidana formil dan (3) hukum pelaksanaan pidana. Barda Nawawi Arif (2001:75) menyatakan bahwa penanggulangan kejahatan dengan sarana penal meupakan

penal policy atau penal-law enforcement policy yang fungsionalisasi/operasionalisasinya melalui 3 tahapan, yitu (1) formulasi (kebijakan legislatif), (2) aplikasi (kebijakan yudikatif), dan (3) eksekusi (kebijakan ekskutif).

Dengan singkat dapat dinyatakan bahwa upaya penal adalah upaya penanggulangan kejahatan dengan menggunakan sarana pidana. Dengan penggunaan/penjatuhan sanksi pidana dipandang sebagai reaksi terhadap penjahat sebagaimana ditentukan dalam undang-undang pidana, sejak penangkapan, penahanan, penuntutan, pemeriksaan di persidangan sampai adanya penjatuhan pidana. Oleh karena itu ada muncul pandangan legalistik bahwa pidana itu hanya dilihat sebagai suatu pembalasan karena orang telah melakukan kejahatan, dan sementara dilupakan bahwa penggunaan sarana pidana tersebut hanya salah satu bagian dari politik kriminal. Kejahatan membuktikan bahwa dengan pandangan demikian, maka hampir semua produk legislatif hampir selalu menggunakan pidana sebagai sarana penguat normanya, seakan-akan produk legislatif belum lengkap atau masih diragukan pemberlakuannya manakala tidak disertai dengan penggunaan instrumen pidana. Akan tetapi tidak boleh dilupakan bahwa ada batas-batas kemampuan dari hukum pidana sebagai sarana penanggulangan kejahatan. Hal ini karena hakekat dari kejahatan itu sesungguhnya adalah masalah kemanusiaan dan sekaligus masalah sosial, dan kejahatan adalah produk dari masyarakatnya sendiri (crime is produk of society it self). Sudarto (2001:44) menyatakan bahwa penggunaan hukum pidana merupakan penanggulangan sesuatu gejala dan bukan suatu penyelesaian dengan menghilangkan sebab-sebab kejahatan itu sendiri.

(2) Upaya Non Penal

Gambar

Tabel 1
Tabel 1.
Tabel 1
Tabel 1
+2

Referensi

Dokumen terkait

Usaha laundry merupakan salah satu bidang usaha jasa yang semakin dibutuhkan, Jasa mencuci pakaian makin memperoleh tempat karena orang-orang di perkotaan umumnya lebih memilih

Pada umumnya pengusaha bordir membuka usaha bordir di rumah disamping sebagai tempat tinggal juga sebagai tempat bekerja dan berproduksi antara lain: 1) Memilih

Perjanjian kerja antara pekerja dan pengusaha yang didalamnya terdapat klausul non- kompetisi, yang isinya memberikan larangan bagi pekerja untuk bekerja di tempat lain dengan bidang

penelitian dilakukan upaya untuk mengambarkan pertanggungjawaban penyidik polri ketika terjadi error in persona dalam pelaksanaan tembak di tempat saat menjalankan

Pertanggungjawaban hukum terhadap anggota Kepolisian yang melakukan salah tangkap atau eror in persona dapat ditempuh melalui sidang displin Polri sesuai dengan Peraturan

18 maret 2019, Pukul 09.00 WIB.. orang yang tertarik untuk jual beli emas di pedagang kaki lima. Salah satu tempat yang strategi terdapat di sekitar jalan Ahmad Yani Kartasura

Untuk prosedur sidang keliling sama dengan sidang di Pengadilan Agama pada umumnya hanya yang membedakan tempat dilakukannya sidang keliling tidak di dalam ruang

Selain proses peradilan pidana yang di lakukan menurut hukum acara yang berlaku di lingkungan peradilan umum, penyidik Polri yang melakukan salah tangkap juga