• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Puisi dan Prosa Secara Reseptif

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Puisi dan Prosa Secara Reseptif"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS KAJIAN BAHASA INDONESIA I

ANALISIS PUISI DAN PROSA SECARA RESEPTIF DAN PRODUKTIF

Disusun Oleh : Anisa Inggit Wijayanti

292013305 RS13I

S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

(2)

ANALISIS SECARA RESEPTIF

A. Pendekatan Emotif

Pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur unsur yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca. Sebagai contoh penerapan pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra anak secara reseptif sebagai berikut :

Kupu-Kupu

Di tamanku ada seekor kupu-kupu Selalu terbang dengan lucu

Aneka warna sayapmu Indah dipandang selalu

Namun, orang suka usil padamu Kau selalu diburu-buru

Sayapmu dicabuti Badanmu diteliti Wahai kawanku

Jangan tangkap kupu-kupu Lestarikan hewan itu

Tuk menambah keindahan tamanmu

Keindahan pada puisi diatas terbesit keindahan irama yaitu nada pada puisi ini menggunakan nada yang datar bahkan nadanya cenderung turun. Tempo yang digunakan cenderung pelan. Tekanan pada puisi ini pada larik "Wahai kawanku" dimana pada lirik itu mengajak orang lain.

(3)

prasaan sedih karena kupu kupu sering di buru hanya untuk di teliti atau di cabuti sayapnya.

B. Pendekatan Didaktis

Pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan, evaluatif maupun sikap pengarang pada kehidupan. Pada pendekatan didaktis dalam mengapresiasi karya sastra anak dengan menemukan nasihat yang terkandung didalamnya. Nasihat-nasihat itu antara lain :

(1) Pada bait pertama , mengandung nasihat bahwa kita harus mensyukuri anugerah yang di berikan Tuhan dengan adanya kupu-kupu dengan berbagai macam warna sayapnya. Kita juga harus menjaga dan melestarikan anugerah yang telah berikan Tuhan.

(2) Pada bait ke dua , mengandung nasihat bahwa kita harus melestarikan hewan terutama kupu-kupu. Kita tidak boleh membunuh hewan hanya untuk mencabuti sayap atau digunakan untuk penelitian.

(3) Pada bait ke tiga, mengandung nasihat bahwa kita harus melestarikan lingkungan terutama hewan-hewan yang ada di sekitar kita. Kita tidak boleh menangkap kupu-kupu sembarangan karena jika di tangkap terus menerus akan mempengaruhi populasi kupu-kupu tersebut.

C. Pendekatan Analitis

Pendekatan analitis adalah suatu pendekatan yang berupaya membantu pembaca memahami gagasan, sikap pengarang, unsur intrinsik, dan hubungan antara elemen itu sehingga dapat membentuk keselarasan dan kesatuan dalam rangka terbentuknya totalitas bentuk dan maknanya.

Bunda, Aku Tidak Bohong!

Matahari bersinar terik menampakkan wajahnya pada dunia. Angin berhembus menggoyangkan dedaunan, menyejukkan cuaca siang ini. Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun berjalan sendirian dengan seragam sekolah yang sedikit basah oleh keringat. Di tengah perjalanan pulang, siswa kelas tiga SD yang bernama Didit itu melihat kakaknya dari kejauhan sedang duduk berhadapan bersama beberapa anak di suatu warung makan.

(4)

“Jangan kasih tahu bunda yang sebenarnya, ingat!” Didit terdiam lalu perlahan meninggalkan warung dengan kebingungan.

Beberapa hari ini kakaknya memang selalu terlambat pulang sekolah dan selalu bilang belajar di rumah temannya. Tapi kata Andhika, teman sekelas Didit, kakaknya itu bermain kartu di salah satu warung yang tak jauh dari sekolah. Andhika sering melihat Gilang bersama teman-temannya berkumpul di warung itu sampai sore. Baru hari ini Didit melihat secara langsung tentang kebenaran perkataan temannya.

Sesampainya di rumah Didit masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Terdengar seruan Bunda memanggil namanya menyuruh segera makan siang. Didit pun keluar kamar menuju ruang makan.

“Bunda mau bicara dengan Didit,” kata bunda lembut sambil menarik kursi dan mendudukinya. Bunda mendekati anaknya yang sedang menikmati santapannya dengan lahap.

“Bicara apa Bunda?” tanya Didit agak gugup. Dia takut bunda akan menanyakan pertanyaan seperti biasa, di mana kakaknya sekarang dan kenapa belum pulang. Didit takut untuk berbohong setelah tahu di mana dan apa yang dilakukan oleh kakaknya. Ternyata bukan itu yang akan dibicarakan bundanya. “Begini sayang, sudah empat hari ini Bunda kehilangan uang di dompet. Dompet itu Bunda letakkan di lemari, tepatnya di bawah pakaian Bunda. Setiap hari uang Bunda hilang Rp20.000 loh sayang. Apa Didit tahu siapa yang mengambil uang Bunda?” tanya Bunda sambil memandangi Didit. Didit terkejut mendengar perkataan bundanya. “Didit tidak tahu Bunda,”

“Benar Didit tidak tahu? Bunda lihat di kamar Didit ada dua komik baru juga ada dua mainan baru. Apakah Didit memakai uang Bunda untuk membelinya?”

“Didit membelinya pakai uang jajan Didit, Bun. Didit kumpulin selama satu minggu ini. Didit benar-benar menginginkan komik dan mainan itu jadi Didit memilih untuk tidak jajan agar bisa membelinya tanpa harus meminta uang sama Bunda atau sama Ayah,” jelas Didit sedih karena bunda telah menuduhnya mencuri uang.

Wanita yang masih terlihat muda ini bingung mendengar penjelasan putranya. “Benar begitu? Didit tidak bohong?”

“Iya Bunda. Didit tidak bohong. Didit tidak berani mencuri. Bunda pernah berkata sama Didit kalau bohong dan mencuri itu perbuatan dosa. Allah akan marah sama orang yang bohong dan mencuri. Didit tidak mau Allah marah sama Didit, Bun.” kata Didit terbata-bata dan perlahan mulai menangis.

(5)

Malamnya Didit telah menemukan jawaban siapa yang telah mencuri uang bunda. Dia bertekad malam ini juga ia akan mencari bukti dan akan ia tunjukkan kepada bunda esok hari. Didit tidak tega sebenarnya. Tapi ia harus melakukannya agar orang itu jera dan tahu kalau perbuatannya salah.

Sekitar pukul sebelas malam, Didit bangun dari tidurnya dan keluar kamar dengan langkah sangat pelan agar tak terdengar. Pandangan matanya tertuju ke kamar sebelah, kamar kakaknya. Di bukanya pintu kamar itu perlahan. Tepat seperti dugaan Didit jika kakaknya tidak ada di sana. Kamar itu kosong. Didit merogoh saku celana piyamanya dan mengeluarkan handphone nya. Dia menekan tombol dengan cepat setelah itu kakinya melangkah kembali menuju lantai bawah. Didit menuruni tangga dengan berjinjit agar langkah kakinya sama sekali tak terdengar.

Tepat di depan pintu kamar orang tuanya Didit berhenti. Dia menarik nafas kemudian mendorong pintu kamar itu sedikit demi sedikit. Dengan jelas Didit melihat seseorang sedang membuka dompet bunda dan menarik selembar uang berwarna hijau. Untung orang itu berdiri membelakangi pintu jadi tak akan tahu jika Didit sedang melihat perbuatannya. Didit Segera merekam kejadian itu menggunakan handphone. Kira-kira sudah cukup, Didit langsung meninggalkan kamar itu. Biip… Biip… Kriing… Handphone Didit bergetar dan berdering. Dia terkejut mendengar bunyi alarm dari handphone nya. Didit mempercepat langkahnya menuju tangga dan segera naik menuju kamarnya. Bisa gawat kalau orang itu mendengar dan mengejar dirinya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Didit menemui bundanya di dapur dan menunjukkan rekaman di handphone nya. Bunda sangat terkejut tak menyangka ternyata anak pertamanya yang telah mencuri uangnya.

“Bilang sama Bunda dengan jujur, apakah Didit tahu kak Gilang mencuri uang Bunda untuk apa?”

Didit menceritakan apa yang dilihatnya setiap melintas di dekat warung makan saat berjalan pulang dari sekolah. “Didit baru tahu kemarin Bunda kalau Kak Gilang bermain kartu dengan teman-temannya di warung. Kata Andhika teman Didit itu adalah judi karena bermainnya memakai uang.”

“Bangunkan kakakmu sekarang, suruh kemari menemui Bunda,” kata Bunda terlihat marah.

(6)

“Selama satu bulan, Bunda tidak memberi uang saku buat Gilang. Gilang juga tidak boleh ke mana-mana sehabis pulang sekolah. Ini hukumannya buat Gilang. Perbuatan Gilang itu sangat salah, merugikan orang lain dan sangat berdosa. Dari sekaranglah harus belajar untuk tidak mengambil hak orang lain dan tidak berbohong. Bunda juga tidak mau anak Bunda seorang penjudi,” ujar Bunda sambil menatap lekat mata anak pertamanya yang berdiri dengan gemetar.

Anak laki-laki yang telah duduk di bangku kelas enam itu menangis tanpa bersuara. “Bunda tidak akan memukul Gilang, juga tidak akan mengatakan ini pada Ayah. Semoga Gilang sadar kalau perbuatan Gilang akan merugikan Gilang sendiri. Jadilah anak baik seperti adikmu, Nak.” lanjut Bunda tersenyum sambil membelai rambut anaknya dan menghapus airmata yang membasahi pipi Gilang.

“Maafkan Didit, Kak. Didit yang merekam perbuatan Kakak semalam dan menunjukkannya pada Bunda. Bukan Didit mau membuat Kakak dimarahi, Didit hanya ingin Kakak sadar jika kelakuan Kakak salah,” ujar Didit yang telah berada di dekat Gilang dan bundanya.

“Tidak apa-apa, Dit. Kakak memang pantas dimarahi karena telah melakukan perbuatan yang salah,” balas Gilang yang mulai mau tersenyum. “Kakak tenang saja. Selama satu bulan ini, setengah dari uang saku Didit akan Didit berikan untuk Kakak. Didit tidak tega kalau Kakak sampai tidak jajan di sekolah. Tapi, Kakak harus janji ya tidak akan berjudi lagi!” kata Didit sungguh-sungguh. “Terima kasih adikku, kamu memang anak yang baik,” Gilang membawa Didit dalam pelukannya.

Mendengar perkataan Didit, Bunda jadi terharu. “Bunda ikut berpelukan ya,” kata Bunda pada Gilang dan Didit. Mereka berdua mengangguk dan berkata, ”Kita seperti Teletubbies dong, tapi kurang satu orang lagi, hahaha…”

Setelah membaca cerita "Bunda, Aku Tidak Bohong" dapat dianalisis unsurnya sebagai berikut :

BUNDA, AKU TIDAK BOHONG !

(1) Tema Cerita

Perlu adanya bukti yang akurat untuk menghindari salah faham. Harus mengakui kesalahan kita.

(2) Latar Cerita

Cerita ini berlangsung di berbagai tempat yaitu pada saat perjalanan pulang sekoalh, di salah satu warung makan, di ruang makan, di kamar ibu, dan di rumah.

(3) Plot cerita

(7)

 Pengenalan masalah : Di tengah perjalanan pulang, siswa kelas tiga SD yang bernama Didit itu melihat kakaknya dari kejauhan sedang duduk berhadapan bersama beberapa anak di suatu warung makan. Setelah didekati ternyata ada setumpuk kartu beserta uang kertas lima ribuan di tengah-tengah mereka.

 Permasalahan : Pada saat Bunda menanyakan pada Didit bahwa sudah empat hari sering kehilangan uang di dompetnya yang di letakkan di lemari tepatnya di bawah pakaian. Bunda menuduh Didit yang mengambil uang Bundanya karena baru saja membeli sebuah komik kesukaannya.

 Klimaks : Pada saat malam hari tepatnya pada jam sebelas malam Didit keluar kamar dengan membawa handphone-nya lalu pergi ke kamar Bunda dan melihat kakaknya sedang mengambil uang di dompet. Lalu, Didit merekam semua kejadian. Pagi harinya Didit menunjukan rekaman yang tadi malam ke Bunda dan menceritakan apa yang dilakukan kakaknya di warung makan. Akhirnya kakanya dipanggil dan dimarahi Bunda, sebagai sanksinya kakaknya tidak di beri uang saku selama satu bulan.

 Penyelesaian masalah : Bunda memaafkan perbuatan kakaknya. Kakaknya juga menyadari bahwa perbuatannya tidak baik.

Jika dilihat dari segi banyak alurnya, cerita diatas menggunakan alur maju karena peristiwanya beranjak terus menerus ke depan. Sedangkan, dilihat dari segi sifat alurnya, cerita ini menggunakan alur rapat karena seluruh peristiwa yang ditampilkan pelaku berpusat pada satu alur.

(4) Penokohan

 Pelaku utama (protagonis) dan sifat-sifatnya.

Didit dengan sifatnya yang baik hati, sabar, pemaaf, pemberani, penyayang.

 Pelaku antagonis dan sifat-sifatnya.

Gilang (kakak Didit) dengan sifat yang keras, nakal, panjang tangan karena mencuri uang didompet Bunda hanya untuk berjudi.

 Pelaku tambahan.

Bunda dengan sifat yang tegas menberi sanksi pada Gilang (kakak Didit) karena telah mencuri.

(8)

Gaya pengarang dalam menyajikan cerita menggunakan gaya yang berimbang atau moderat. Pengarang tidak hanya menggambarkan sesuatu yang nakal pada Gilang (kakak Didit) tetapi juga menggambarkan sesuatu dengan sabar, baik hati pada Didit.

ANALISIS SECARA PRODUKTIF

A. Pendekatan Parafratis

Pada pendekatan ini siswa dilatih untuk dapat mengubah karya sastra tertentu diubah menjadi karya sastra yang lain tanpa mengubah tema atau gagasan pokoknya. Berikut contoh parafrase dari puisi ke prosa :

Kupu-Kupu

Di tamanku ada seekor kupu-kupu Selalu terbang dengan lucu

Aneka warna sayapmu Indah dipandang selalu

Namun, orang suka usil padamu Kau selalu diburu-buru

(9)

Badanmu diteliti Wahai kawanku

Jangan tangkap kupu-kupu Lestarikan hewan itu

Tuk menambah keindahan tamanmu

Puisi "Kupu-Kupu" dapat diubah ke bentuk menjadi sebuah cerpen sebagai berikut :

Kupu-Kupu

Tak terasa hari berlalu sangat begitu cepat. Aku yang selalu di sibukkan oleh PR (Pekerjaan Rumah) yang seringkali menghantui hari-hariku. kini saatnya aku terbebas dari tekanan itu dan sejenak untuk merehatkan pikiran. Dengan muka masih kucel, mata sayup, dan seakan badan terasa lemas aku terbangun lalu melihat jam yang sudah menunjukan pukul 06:00 pagi.

Aku yang masih menggunakan piama kesayanganku dengan corak polkadot warna pink soft dengan background warna hitam langsung membuka jendela kamar kecilku. Udara yang segar dan pemandangan yang sangat indah menyambut pagiku dengan indah. Pohon pohon yang hijau dengan daun-daun yang di basahi oleh embun pagi menambah kesejukkan desaku. Tiba-tiba pandanganku menuju ke arah taman kecilku yang hanya 4x6meter , bunga-bunga yang sedang bermekaran dengan warna yang sangat indah di tambah banyak kupu-kupu yang sedang berterbangan dari bunga yang satu ke bunga yang lain. Sesegera mungkin aku langsung turun menuju taman. Saat sampai dapur aku melihat Mama dan Bi Jum sedang memasak untuk sarapan. "Dinda, mau kemana? Jangan lari-lari nanti jatuh baru di pel sama Bu Jum" kata Mamaku

"Itu Ma mau liat kupu-kupu di taman" kataku sambil tetap lari menuju taman

Sesampainya di taman aku terkagum-kagum melihat kupu-kupu yang sedang berterbangan sangat luwes dan lucunya. "Indahnya" cletusku.

"Apanya yang indah Dinda?" Mama bertanya.

"Kupu-kupunya Ma bagus banget, warna-warni. Tangkap satu ah" kataku sambil jalan menuju taman untuk menangkap kupu-kupu

"Ehhhh.. jangan" kata Mama dengan intonasi yang tinggi.

(10)

"Tapi satu saja ya Dinda, apling nanti kalo di kasihkan toples mati, kasihan kupu-kupunya. Mereka juga ingin hidup bebas seperti kita" kata Mama dengan mengancamku.

"Iya Mama" kataku sambil menangkap kupu-kupu.

Dengan sigap aku menagkap kupu-kupu itu hanya denagn menggunakan tangan. "Happp... Kena kamu" kataku sambil tertawa.

Aku langsung berlari mengambil toples atau wadah buat kupu-kupu yang ber saja aku tangkap. Dengan masih tertawa-tawa kecil aku bertanya pada Mama "Ma.. Dinda minta toples dong buat naruh kupu-kupu ini"

Sembari menunggu di ambilkan Mama toples aku sibuk dengan kupu-kupu yang ada di tanganku.

"Nih ma, cantikkan kupu-kupuku?"

Mama hanya geleng-geleng kepala smabil memberikan toplesnya. "Makasih Ma" kataku sambil jalan ke kamar

Sesampai dekat tangga Mama berteriak "Ehh.. Dinda jangan lupa tutup toplesnya di kasih lubang biar kupu-kupunya ngak mati" aku yang hanya dengar samar-samar langsung meng-iyakan perkataan Mama.

Kupu-kupu yang tadi aku tangkap langsung di masukkan ke toples dengan tutup tanpa ada ventilasi untuk pertukaran udara.

Keesokan harinya ketika aku terbangun aku melihat kupu-kupuku sudah mati. Aku langsung menemui Mama dengan piama yang kali ini bukan polkadot tapi gambar doraemon. Dengan lari menuruni tangga,denagn muka masih sayup dan raut muka di tekuk, aku memanggil-mnggil Mama.

"Ma.. Ma.. Ma.. Mama dimana sih?"

Suara terdengar agak samar-samar. Pikirku sepertinya ini Mama sedang dapur. Denagn sigap aku langsung menuju ke dapur. Ternayata hanya ada Bi Jum. "Bi, Mama mana?"

"Itu non di kebun" jawab Bi Jum

Sesampainya di kebun aku melihat Mama yang sedang menyiram bunga-bunga di taman.

"Ma.. kupu-kupuku kok mati?" bertanya dengan wajah yang sedih Mana Mama lihat

"Lah, salah siapa tutup toplesnya ngak di kasih lubang! Kan Mama udah bilang tutupnya di kasih lubang biar ngak mati, kamu sih ngak dengerin Mama" dengan nada agak jutek

"Haa.. terus gimana? Dinda mau kupu-kupunya lagi" kataku sambil merengek-rengek agar di tangkapkan satu lagi.

"Kemarin mama bilang gimana? Satu aja to. Ya udah berarti udah ngak boleh nangkep satu lagi. Sudah buang sana di tong sampah" suruh Mama.

(11)

sayapnya. Ku cabut sayap pertama. Saat ingin mencabut sayap ke dua tiba-tiba Mama berterik dari kejauhan.

"Dinda.. jangan kasihan kupu-kupunya. udah buang aja!" dengan wajah sedikit marah.

"Biarin, kan ini udah mati Ma" jawabku

"Walaupun sudah mati tetap ngak boleh. Cepat buang!" kata Mama sambil membuang kupu-kupu dan sayapnya yang sudah aku cabut ke tong sampah.

"Ih Mama kenapa ngak boleh dicabut?"

"Ya ngak boleh, kamu aja kemarin sudah mengkap kupu-kupu sama saja sudah mengurangi populasi kupu-kupu. Apalagi di tambah barusan mencabuti sayapnya. Apa kamu tidak kasihan? Coba saja kalo kamu jadi kupu-kupunya, mau di cabuti sayapnya terus ngak bisa terbang lagi?

"Ya, ngak mau Ma" jawabku

"Makanya, jangan sembarangan nangkep-nangkep hewan apa lagi kamu siksa kaya tadi. Di cabuti sayapnya. Bahkan dulu waktu Mama masih SMA, Mama sering nangkep kupu-kupu buat di teliti tapi sebelumnya di awetkan dulu. Dulu sih Mama semapt mikir kalau setiap tahunnya banyak yang buat penelitian tentang kupu-kupu terus kupu-kupu di buru nanti populasi kupu-kupunya bisa sedikit. Nanti di taman kita tidak ada kupu-kupu lagi" kata Mama

"Ya jangan Ma. Ya udah Dinda ngak mau nangkep kupu-kupu lagi nanti ngak bisa lihat kupu-kupu yang cantik di taman" kataku sambil jalan ke dalam rumah.

"Nah, gitu dong. Memang anak Mama yang apling pinter" sambil mengelus-lus rambutku dan menciumku.

B. Pendekatan Analitis

Pendekatan analitis merupakan pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk memahami unsur-unsur instrinsik yang menangun suatu karya sastra tertentu dan hubungan antarunsur yang satu dengan lainnya sebagai suatu kesatuan yang utuh.

Kupu-Kupu

Di tamanku ada seekor kupu-kupu Selalu terbang dengan lucu

Aneka warna sayapmu Indah dipandang selalu

(12)

Kau selalu diburu-buru Sayapmu dicabuti Badanmu diteliti Wahai kawanku

Jangan tangkap kupu-kupu Lestarikan hewan itu

Tuk menambah keindahan tamanmu 1. Unsur Lahiriah (metode puisi)

a. Diksi (pilihan kata)

Pada puisi yang berjudul "Kupu-Kupu" dapat dianalisis sebagai berikut

Pada bait ke-1

Di tamanku ada seekor kupu (ditaman miliknya ada seekor kupu-kupu)

Selalu terbang dan lucu (kupu-kupu tersebut selalu terbang hinggap di bunga yang satu ke bunga yang lainnya)

Aneka warna sayapmu (berbagai macam warna dan corak pada sayap kupu-kupu)

Indah dipandang selalu (jika kita memandang serasa indah)

Pada bait ke-1 kata-kata yang dipilih dan disusun (diksi) menunjukan suatu kekaguman dan keterpesonaan pada ciptaan Tuhan. Kata-kata yang digunakan sederhana tetapi mengandung makna yang dalam. Ketika dibaca perbaris makna itu belum terlihat, akan tetapi jika dibaca secara keseluruhan akan ditemukan makna yang penuh kekaguman. Walaupun pilihan kata yang digunakan sederhana tetapi membentuk susunan kalimat yang indah.

Pada bait ke-2

Namun, orang suka usil padamu (sering ditangkap) Kau selalu diburu-buru (selalu di cari atau di tangkap) Sayapmu dicabuti (sayapnya sering di cabuti)

Badanmu diteliti (baik badan maupun sayap di teliti bahkan diawetkan dan di pajang)

(13)

lebih mendalam akan menghadirkan suasana keperihatinan dan kesedihan terhadap nasib sang kupu-kupu.

Pada bait ke-3

Wahai kawanku (mengajak teman-teman)

Jangan kau tangkap kupu-kupu (jangan menangkap kupu-kupu)

Lestarikan hewan itu (kita harus menjaga, melestarikan, merawat kupu-kupu)

Tuk menambah keindahan kebunmu (untuk menambah keindahan dan keasrian taman atau kebunmu)

Pada bait yang ke-3, kata yang di gunakan juga sederhana. Pada bait ini terdapat suatu pesan (makna) mulia yang disampaikan si penulis puisi untuk pembaca puisi.

b. Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang di gunakan dalam puisi "Kupu-Kupu" menggunakan sat8u gaya bahasa yaitu gaya bahasa tropen atau gaya bahasa yang mempergunakan kata kata yang tepat dan sejajar artinya dengan pengertian yang dimaksud.

c. Kata Konkret,

Pada penggalan puisi di atas semua kata-kata menggunakan kata-kata yang konkret. Contohnya pada larik :

Sayapmu dicabuti Badanmu diteliti

Kata dicabuti, diteliti sudah merupakan kata konkret.

d. Daya Bayang (Imagery)

(14)

kata konkret, tidak ada kata kiasan. Gaya bahasa yang digunakan juga hanya menggunakan gaya bahasa sejenis yaitu gaya bahasa tropen.

e. Irama dan Rima

 Irama berkaitan dengan :

Tekanan (keras lmbutnya suara), pada puisi "Kupu-Kupu" tekanan yang diberikan pada larik yang "Wahai kawanku" tekanan yang di berikan lebih keras. Sedangkan tekanan pada larik yang lain cenderung datar.

Tempo (panjang pendeknya suara), pada puisi "Kupu-Kupu" temponya teratur. Kecuali pada kata "Namun" yang temponya pendek dan pada kata "Wahai" yang temponya panjang.

Nada (tinggi rendahnya suara), pada puisi "Kupu-Kupu" cenderung melengkung-lengkung atau naik turun.

Jeda (perhentian sejenak), pada puisi "Kupu-Kupu" terdapat pada kata "Namun".

 Rima, persamaan bunyi awal, akhir, awal-akhir

Pada puisi "Kupu-Kupu" persamaan bunyi dari awal hingga akhir sama. Bisa dilihat dari akhiran kata menggunakan huruf "u".

2. Unsur batiniah puisi (hakikat puisi) a. Tema :

(15)

Pada puisi "Kupu-Kupu" pengarang ingin memberikan rasa sedih, prihatin karena kupu-kupu digunakan untuk penelitian bahkan kadang sering di cabuti sayapnya.

c. Nada (tone) :

Puisi "Kupu-Kupu" , pengarang bersifat persuasif, untuk mengajak pembaca agar mencintai lingkungan dan melestarikan lingkungan dan alam kita agar tetap indah.

d. Amanat :

Referensi

Dokumen terkait

Tidak diterapkannya manajemen dan kesehatan pemerahan yang baik dan benar tidak hanya ditemui pada peternak skala kecil saja, bahkan di beberapa peternakan yang semi

farmakologi yang dapat menurunkan insiden Ventilator Associated Pneumonia (VAP) dengan menurunkan skor Clinical Pulmonary Infection Score (CPIS) pada

Hal ini semakin diperkuat dengan hasil penelitian dari Ainurrohma (2014), Karimah dkk (2013), Novia (2015), Jurniadi (2015), dari penelitian- penelitian tersebut

Langkah-langkah metodologi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi pendahuluan, studi literatur, pengumpulan data sekunder (mengumpulkan 100 data

1& !utor menutup tutorial )eenam dengan memeri)an penilaian terhadap hasil )era )elompo) peserta tutorial dan meminta mahasis.a untu) mempelaari topi) $ang a)an diahas

#aringekt(mi t(tal dilakukan ketika kanker meluas diluar pita suara$ #e'ih &auh ke tulang hi(id, epigl(tis, kartilag( krik(id, dan dua atau tiga inin trakea diangkat$

Dan karena terdapat pertentangan satu sama lain pada beberapa kriteria yang juga merupakan fungsi tujuan, maka diperlukan adanya pertukaran (trade off) yang dilakukan