e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan ISSN: 2302-3600
e-JRTBP ISSN: 2302-3600 DEWAN REDAKSI
e-JURNAL REKAYASA DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PERAIRAN
Penasehat
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Pembantu Dekan I Fakultas Pertanian Universitas Lampung Pembantu Dekan II Fakultas Pertanian Universitas Lampung Pembantu Dekan III Fakultas Pertanian Universitas Lampung
Penanggung Jawab
Ir. Siti Hudaidah, M.Sc
Pimpinan Redaksi Eko Efendi, ST, M.Sc
Penyunting Ahli
Ketua
Yudha T Adiputra, S.Pi, M.Si
Anggota
Indra Gumay Yudha, S.Pi, M.Si, Ir. Suparmono, MTA, Muh. Mohaimin, S.Pi, M.Si, Wardiyanto, S.Pi, MP, Supono, S.Pi, M.Si, Qadar Hasani, S.Pi, M.Si, Tarsim, S.Pi, M.Si, Henni Wijayanti, S.Pi, M.Si,Berta Putri, S.Si, M.Si, Rara Diantari, S.Pi, M.Sc, Herman Yulianto, S.Pi,M.si, Limin Santoso, S.Pi, M.Si,
Agus Setyawan, S.Pi, MP
Penyunting Teknis Mahrus Ali, S.Pi, MP
Keuangan dan Sirkulasi Esti Harpeni, ST, MAppSc
Alamat Redakasi
Jurusan Budidaya Perairan
Fakultas Pertanian Universitas Lampung
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan ISSN: 2302-3600
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan ISSN: 2302-3600
e-JRTBP ISSN: 2302-3600 PANDUAN UNTUK PENULIS
e-JURNAL REKAYASA DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PERAIRAN JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
e-JRTBP menerima naskah dalam bentuk hasil penelitian (artikel ilmiah), catatan penelitian, dan pemikiran konseptual baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Naskah hasil penelitian maksimum 12 halaman (suntingan akhir) termasuk gambar dan tabel. Naskah yang disetujui untuk dimuat akan dibebani kontribusi biaya sebesar Rp 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah) per empat halaman pertama, selebihnya ditambah Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) per halaman.
Tata Cara Pengiriman Naskah
Naskah yang dikirim haruslah naskah asli dan harus jelas tujuan, bahan yang dipergunakan, maupun metode yang diterapkan dan belum pernah dipublikasikan atau dikirimkan untuk dipublikasikan di mana saja. Naskah diketik dengan program MS-Word dalam satu spasi dikirim dalam bentuk soft copy dengan format doc/docx dan pdf .
Naskah diketik dua spasi pada kertas ukuran A4, pias 2 cm dan tipe huruf Times New Roman berukuran 12 point, diketik 2 kolom kecuali untuk judul dan abstrak. Setiap halaman naskah diberi nomor halaman secara berurutan. Ilustrasi naskah (gambar atau tabel) dikelompokkan pada lembaran terpisah di bagian akhir naskah dan ditunjukkan dengan jelas posisi ilustrasi dalam badan utama naskah. Setiap naskah harus disertai alamat korespondensi lengkap. .Para peneliti, akademis maupun mahasiswa dapat mengirimkan naskah ke:
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Jurusan Budidaya Perikanan
Fakultas Pertanian Universitas Lampung Jl. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung
Lampung 35144 E-mail: [email protected] .
Catatan: Editor tidak berkewajiban mengembalikan naskah yang tidak dimuat. Penyiapan Naskah
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan ISSN: 2302-3600
e-JRTBP ISSN: 2302-3600 Abstrak merupakan ringkasan penelitian dan tidak lebih dari 250 kata,
disajikan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kata kunci maksimum 5 kata dan diletakkan pada bagian abstrak.
Pendahuluan secara ringkas menguraikan masalah-masalah, tujuan dan pentingnya penelitian. Jangan menggunakan subbab.
Bahan dan Metode harus secara jelas dan ringkas menguraikan penelitian dengan rincian secukupnya sehingga memungkinkan peneliti lain untuk mengulangi percobaan yang terkait.
Hasil disajikan secara jelas tanpa detail yang tidak perlu. Hasil tidak boleh disajikan sekaligus dalam tabel dan gambar.
Tabel disajikan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, dengan judul di bagian atas tabel dan keterangan. Data dalam tabel diketik menggunakan program MS-Excel.
Gambar, skema, diagram alir, dan potret diberi nomor urut dengan angka Arab. Judul dan keterangan gambar diletakkan di bawah gambar dan disajikan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.
Kesimpulan disajikan secara ringkas dengan mempertimbangkan judul naskah, maksud, tujuan, serta hasil penelitian.
Daftar Pustaka disusun berdasarkan abjad tanpa nomor urut dengan urutan sebagai berikut: nama pengarang (dengan cara penulisan yang baku). Acuan pustaka yang digunakan maksimal berasal dari acuan yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir. Daftar lengkap acuan pustaka disusun menurut abjad, diketik satu spasi, dengan tata cara penulisan seperti contoh-contoh berikut:
Jurnal
Heinen, J.M., D’Abramo, L.R., Robinette, H.R., and Murphy, M.J. 1989. Polyculture of two sizes of freshwater prawns (Macrobrachium rosenbergii) with fingerling channel catfish (Getalurus punctatus). J. World Aquaculture Soc. 20(3): 72–75.
Buku
Dunhan, R.A. 2004. Aquaculture and Fisheries Biotechnology: Genetic Approaches. Massachusetts: R.A. Dunhan Press. 34 p.
Bose, A.N., Ghosh, S.N., Yang, C.T., and Mitra, A. 1991. Coastal Aquaculture Engineering. Oxford & IBH Pub. Co. Prt. Ltd., New Delhi. 365 p.
Artikel dalam buku
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan ISSN: 2302-3600
e-JRTBP ISSN: 2302-3600
Artikel dalam Prosiding
Yovi EY, Takimoto Y, Matsubara C. 2007. Promoting Alternative Physical Load Measurement Method. Di dalam: Proceedings of Agriculture Ergonomics Development Conference; Kuala Lumpur, 26–29 November 2007. p. 309–314 .
Tesis/Disertasi
Simpson, B.K. 1984. Isolation, Characterization and Some Application of Trypsin from Greenland Cod (Gadus morhua). PhD Thesis. Memorial University of New Foundland, St. John’s, New Foundland, Canada. 179 p.
Paten
Muchtadi TR, Penemu; Institut Pertanian Bogor. 9 Mar 1993. Suatu Proses untuk Mencegah Penurunan Beta Karoten pada Minyak Sawit. ID 0 002 569.
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan ISSN: 2302-3600
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan ISSN: 2302-3600
e-JRTBP ISSN: 2302-3600
PERNYATAAN PEMINDAHAN HAK MILIK
Ketika naskah diterima untuk dipublikasikan, Hak Milik dipindahkan ke e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan. Pemindahan Hak Milik memindahkkan kepemikikan eksklusifuntuk mereproduksi dan mendistribusikan naskah, termasuk cetakan lepas, penerjemahan, reproduksi fotografi, mikrofilm, material elektronik (offline maupun Online) atau bentuk reproduksi lainnya yang serupa dengan aslinya.
Penulis menjamin bahwa artikel adalah asli dan bahwa penulis memiliki kekuatan penuh untuk mempublikasikannya. Penulis menandatangani dan bertanggungjawab untuk melepaskan bahan naskah sebagian atau keseluruhan dari semua penulis. Jika naskah merupakan bagian dari skripsi mahasiswa, maka mahasiswa tersebut wajib menandatangani persetujuan bahwa pekerjaannya akan dipublikasikan.
Judul Naskah
Title of Article
……… ……… ……… ……… ………
Penulis
Author
1. .………
2. .………
3. ………
4. ………
Tanda Tangan Penulis
Author’s Signature
1. ………
2. ………
3. ………
4. ………
Tanda Tangan
Mahasiswa
Student’s Signature
Tanggal
Date
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan ISSN: 2302-3600
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan
Volume IV No 1 Oktober 2015 ISSN: 2302-3600
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
D
AFTAR
I
SI
Volume 4 Nomor 1 Oktober 2015
Reduksi Amonia Pada Sistem Resirkulasi Dengan Pengunaan Filter Yang Berbeda
Fitri Norjanna, Eko Efendi dan Qadar Hasani………. 427 - 432 Efektivitas Penggunaan Beberapa Sumber Bakteri Dalam Sistem
Bioflok Terhadap Keragaan Ikan Nila(Oreochromis Niloticus)
Bestania Putri, Wardiyantodan Supono……… 433 - 438 Pengaruh Suhu Terhadap Perkembangan Telur Dan Larva Ikan
Tambakan (Helostoma temminckii)
Indah Wahyuningtias, Rara Diantar dan Otong Zenal Arifin……… 439 - 448 Pemanfatan Kulit Pisang Pada Budidaya Daphnia sp
Remon Firnandus ………..……… 449 - 452
Pertumbuhan Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypopthalmus) yang Dipelihara dengan Sistem Bioflok pada Feeding Rate yang Berbeda
Anggun Savitri, Qadar Hasani danTarsim ………. 453 - 460 Pengaruh Pemberian Pakan Alami Daphnia sp yang Diperkaya dengan
Tepung Spirulina Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva Ikan Komet (Carassius auratus)
Maulidiyanti, Limin Santosodan Siti Hudaidah……….…. 461 - 470 Pengaruh Perbedaan Jenis Tali Terhadap Tingkat Penempelan Benih
Kerang Hijau (Perna viridis)
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan
Volume IV No 1 Oktober 2015 ISSN: 2302-3600
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan
Volume IV No 1 Oktober 2015 ISSN: 2302-3600
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015 REDUKSI AMONIA PADA SISTEM RESIRKULASI DENGAN
PENGUNAAN FILTER YANG BERBEDA
Fitri Norjanna*, Eko Efendi†‡, Qadar Hasani ‡
ABSTRAK
Amonia merupakan parameter kualitas air yang berperan penting pada budidaya ikan. Ikan mengeluarkan limbah dari sisa pakan dan metabolisme yang banyak mengandung amonia. Permasalahan yang biasa dihadapi adalah cepatnya akumulasi limbah dari residu pakan dan hasil metabolisme ikan. Amonia akan terakumulasi dalam sistem resirkulasi dan dapat mencapai konsentrasi yang merugikan ikan jika terlalu berlebihan. Untuk mengurangi amonia pada sistem resirkulasi dapat di lakukan dengan penambahan filter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pengurangan amonia dan menguji jenis filter yang efektif dalam penurunan amonia pada sistem resirkulasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan (kontrol, zeolit, arang, dan pecahan karang). Penelitian dilakukan menggunakan benih lele (Clarias sp.) 4-5 cm dalam kolam terpal berukuran 1 x 1 x 2 mdengan kepadatan 200 ekor/m2. Parameter utama dalam penelitian ini adalah amonia, dengan parameter pendukung yakni suhu, pH, dan oksigen terlarut. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penambahan filter berupa pecahan karang memberikan pengaruh nyata terhadap penurunan amonia pada sistem resirkulasi.
Kata kunci: resirkulasi, filter, amonia, zeolit, arang, pecahan karang
Pendahuluan
Budidaya ikan secara intensif lebih efesien dalam memproduksi ikan, namun tidak terlepas dari limbah. Ikan mengeluarkan limbah dari sisa pakan
dan metabolisme yang banyak
mengandung amonia (Effendi, 2003). Ikan mengeluarkan 80-90% amonia melalui proses osmoregulasi, feses dan dari urin. Peningkatan padat tebar dan lama waktu pemeliharaan akan diikuti dengan peningkatan kadar amonia dalam air (Avnimelech, 2005; Shafrudin
*
MahasiswaJurusan Budidaya Perairan Universitas Lampung
† Email: [email protected]
‡ Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Unila. Jalan Prof. S. Brodjonegoro No. 1 Gedong
Meneng Bandar Lampung 34145
428 Reduksi ammonia pada system resirkulasi dengan filter yang berbeda
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
adalah salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menjaga kualitas air, dimana memanfaatkan kembali air yang sudah digunakan dengan cara memutar
air secara terus-menerus
(Djokosetiyanto dkk., 2006; Fauzzia dkk., 2013) sehingga sistem ini bersifat hemat air (Sidik, 2002; Djokosetiyanto dkk., 2006; Prayogo dan Abdul, 2012). Biofiltrasi amonia yakni mengoksidasi amonia menjadi nitrit kemudian menjadi nitrat. Penambahan biofitrasi dalam mereduksi amonia hanya mampu hingga 58% (Setijaningsih, 2009). Namun hal tersebut belum cukup optimal dalam mereduksi amonia. Permasalahan ini dapat diatasi dengan menerapkan sitem resirkulasi dengan penambahan filter untuk menyaring air dengan tujuan memperbaiki kualitas air
agar bisa digunakan kembali
(Darmayanti dkk., 2011). Filter yang digunakan dalam penelitian ini seperti zeolit, arang, dan pecahan karang. Zeolit dan pecahan karang bekerja dengan memanfaatkan kemampuan pertukaran ion (Silaban dkk., 2012), sedangkan arang aktif memiliki daya serap cukup tinggi dan memiliki pori-pori jauh lebih besar (Ristiana dkk,
2009; Darmayanti dkk., 2011;
Alamsyah dan Damayanti, 2013). Sistem resirkulasi dengan penambahan filter tersebut diharapkan mampu untuk menjaga kualitas air agar tetap baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pengurangan amonia dengan penggunaan filter yang berbeda dan jenis filter yang efektif untuk laju pengurangan amonia pada sistem resirkulasi.
Metode
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) (Steel dan Torrie, 1991), menggunakan 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan pada penelitian ini yaitu tanpa filter (perlakuan A), zeolit (perlakuan B), arang (perlakuan C), dan pecahan karang (perlakuan D). Parameter utama yang diamati yakni amonia dengan parameter pendukung kualitas air yang diamati meliputi suhu, pH, kadar oksigen terlarut (DO), dilakukan setiap pagi dan sore hari. Analisis sampel air dilakukan setiap 20 hari sekali. Pengambilan sampel air dilakukan pada 2 titik yaitu pada saluran pemasukan (inlet) dan pengeluaran (outlet) filter. Sampel air dianalisa di laboratorium dengan menggunakan metode phenate (APHA, 2005).
Pengaruh perlakuan terhadap laju retensi amonia dihitung dari menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Perbedaan antar perlakuan dilakukan analisa menggunakan uji Duncan pada selang kepercayaan 95% (Steel dan Torrie, 1991).
Hasil dan Pembahasan
Parameter kualitas air yang diamati meliputi suhu, pH, dan oksigen terlarut (Gambar 1).
Fitri Norjanna, Eko Efendi, Qadar Hasani 429
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
kondisi oksigen terlarut rendah dan pH serta suhu lebih tinggi diduga yang menyebabkan konsentrasi amonia pada ulangan tertentu akan memiliki nilai yang lebih tinggi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Effendi (2003) yang menyatakan bahwa konsentrasi amonia meningkat dengan meningkatnya pH dan suhu.
Gambar 1. Kualitas air suhu air (atas), pH (tengah) dan oksigen
terlarut (bawah)
penggunaan filter yang
berbeda pada sistem
resirkulasi.
Berdasarkan hasil penelitian kandungan amonia pada semua perlakuan baik pada saluran masuk (inlet) maupun saluran keluar (outlet) menunjukan penurunan pada pengambilan sampel ke dua, hal tersebut disebabkan karena adanya pengaruh dari sumber amonia. Pengamatan pertama sumber amonia berasal dari pupuk, hal tersebut memungkinkan konsentrasi amonia pada pengamatan pertama masih tinggi. Selanjutnya pada pengamatan ke dua sumber amonia berasal dari feses, sisa pakan, dan sisa pupuk sehingga konsentrasi amonia pada pengamatan ke dua lebih rendah dari pengamatan pertama. Konsentrasi amonia berkurang diduga adanya proses nitrifikasi, yang juga dipengaruhi oleh parameter kualitas air seperti suhu, oksigen terlarut, dan pH. Penurunan konsentrasi amonia juga diduga karena pengaruh filter, yang mampu bekerja secara kimia menyerap amonia (Silaban dkk., 2012).
Gambar 2. Konsentrasi amonia (mg/l) penggunaan filter yang berbeda pada sistem resirkulasi.
430 Reduksi ammonia pada system resirkulasi dengan filter yang berbeda
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
reduksi amonia tertinggi pada filter arang dan terendah filter pecahan karang, selanjutnya pada waktu pengamatan ke tiga nilai tertinggi filter zeolit dan yang terendah filter arang. Sedangkan pada waktu pengamatan ke empat nilai reduksi amonia tertinggi yakni filter pecahan karang dan terendah filter zeolit (Gambar 2). Secara keseluruhan bahwa perlakuan dengan penambahan filter yang dilakukan selama 60 hari menunjukan pengaruh yang nyata terhadap penurunan konsentrasi amonia (Gambar 2). Pada pengamatan pertama filter zeolit memiliki kemampuan lebih baik dalam mereduksi amonia dibandingkan dengan filter arang dan pecahan karang. Filter zeolit dapat bekerja secara kimiawi, dan fisika. Secara kimia zeolit menyerap amonia melalui mineral aluminosilikat (Silaban dkk., 2012).Pengamatan ke dua filter arang lebih baik dalam mereduksi amonia, dibandingkan filter zeolit dan pecahan karang. Kemampuan filter arang diduga secara kimia mampu bekerja optimal. Mifbakhuddin (2010) menyatakan bahwa kemampuan daya serap arang disesuaikan dengan ketebalannya, sehingga semakin tebal media yang digunakan semakin bagus hasil penyerapannya. Kemampuan filter zeolit berkurang dikarenakan adanya pengaruh oksigen terlarut yang mengurangi konsentrasi amonia, sehingga jumlah yang tereduksi menjadi lebih sedikit. Kemampuan filter pada pengamatan ke tiga, menyebabkan bahwa filter zeolit paling baik dalam mereduksi amonia diikuti filter pecahan karang dan arang. Kemampuan filter zeolit dalam mereduksi amonia karena filter zeolit dapat bekerja secara kimia. Filter pecahan karang juga menunjukan
peningkatan dalam mereduksi amonia, karena secara fisika menyebabkan tumbuhnya bakteri nitrifikasi, bahan-bahan organik yang ada di perairan akan
tersaring dan menempel pada
permukaan karang. Kemampuan filter arang mulai berkurang karena tidak lagi bekerja secara kimia dan kurang mendukung secara fisika dengan untuk tumbuhnya bakteri. Filter arang memiliki kondisi yang rapat sehingga cenderung lebih anaerob. Pengamatan ke empat, filter pecahan karang memiliki daya reduksi amonia tertinggi, diikuti filter arang dan filter zeolit. Filter pecahan karang mampu bekerja optimal secara fisika, dimana pori-pori kosong menjadi tempat tumbuhnya bakteri-bakteri yang membantu proses nitrifikasi. Sesuai pendapat Diyah dkk. (2012) yang menyatakan bahwa bakteri-bakteri dapat hidup dan berkembang pada pecahan karang. Filter arang dan zeolit tidak memiliki kemampuan secara kimia, tetapi secara fisika ukuran arang lebih besar dibandiingkan dengan zeolit. Ukuran yang lebih besar ini yang meyebabkan adanya tempat untuk
tumbuhnya bakteri, sehingga
kemampuan arang lebih baik dari zeolit. Pengaruh perlakukan dalam mereduksi amonia menunjukan adanya pengaruh yang signifikan berdasarkan analisi variasi pada selang kepercayaan 95% (P<0.05). Filter hanya mereduksi amonia untuk melihat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan uji lanjut Duncan yang menunjukan bahwa perlakuan pecahan karang lebih baik dibandingkan perlakuan yang lain. Dalam prosesnya pecahan karang memungkinkan bekerja secara fisika, kimia, maupun biologi
menunjukan bahwa perlakuan
Fitri Norjanna, Eko Efendi, Qadar Hasani 431
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
terhadap konsentrasi penurunan amonia di dalam sistem resirkulasi karena adanya pori-pori yang besar pada pecahan karang memungkinkan tempat bakteri untuk hidup, dimana bakteri tersebut akan membantu proses penurunan amonia dalam air (Diyah dkk., 2012).
Kesimpulan
Penambahan filter yang berbeda dalam sistem resirkulasi memberikan pengaruh nyata terhadap pengurangan kadar amonia dan filter yang efektif untuk laju pengurangan amonia pada sistem resirkulasi ialah filter pecahan karang.
Daftar Pustaka
Alamsyah, A., dan A Damayanti. 2013. Pengaruh Arang Tempurung Kelapa
dan Eceng Gondok untuk
Pengolahan Air Limbah Tahu dengan Variasi Konsentrasi.Jurnal Teknik Pomits 2: 6-9.
APHA. 2005. Standard Methods for Examination of Water and Wastewater. 21thEd. Washington. Avnimelech Y. 2005. Bio-filter: The
Need for New Comprehensive Approach. Aquaculture Engineering 34: 172-178.
Darmayanti, L. Yohanna L., dan Josua MTS. 2011. Pengaruh Penambahan Media pada Sumur Resapan Dalam Memperbaiki Kualitas Air Limbah Rumah Tangga. Jurnal Sains dan Teknologi 10: 61-66.
Djokosetiyanto, D., A. Sunarma., dan
Widanarni. 2006. Perubahan
Ammonia (NH3-N), Nitrit (NO2-N)
dan Nitrat (NO3-N) pada Media
Pemeliharaan Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) di dalam Sistem
Resirkulasi. Jurnal Akuakultur Indonesia 5: 13-20.
Diyah P, R., M Siringoringo, R., dan A Hadi, T. 2012. Status Rekruitmen Karang Scleractinia di Perairan Kendari Sulawesi Tenggara. Jurnal Ilmu Kelautan 17: 170-175.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan. Kanisius. Yogyakarta. Fauzzia, M., Izza, R., dan Nyoman W.
2013. Penyisihan Amonia dan Kekeruhan pada Sistem Resirkulasi
Budidaya Kepiting dengan
Teknologi Membran Biolfiter. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri 2: 155-161.
Hastuti, S., dan Subandiyono. 2011. Performa Hematologis Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) dan Kualitas Air Media pada Sistem Budidaya dengan Penerapan Kolam Biofilter. Jurnal Saintek Perikanan 6: 1-5.
Mifbakhuddin. 2010. Pengaruh
Ketebalan Karbon Aktif sebagai Media Filter terhadap Penurunan Kesadahan Air Sumur Artetis. Eksplanasi 5: 1-11.
Prayogo, B, S.R., dan Abdul M. 2012. Eksploritasi Bakteri Indigen pada Pembenihan Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.) Sistem Resirkulasi Tertutup. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan 4: 193-197.
Ristiana, Nana., D. Astuti., dan T.P Kurniawan. 2009. Keefektifan Ketebalan Kombinasi Zeolit dengan Arang Aktif dalam Menurunkan Kadar Kesadahan Air Sumur di Karangtengah Weru Kabupaten Sukoharjo. Jurnal Kesehatan 2: 91-102.
432 Reduksi ammonia pada system resirkulasi dengan filter yang berbeda
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
Terjemahan. Edisi ke-2. Gramedia Pustaka: Jakarta.
Setijaningsih L. 2009. Peningkatan Produktivitas Kolam Melalui Perbedaan Jarak Tanam Tanaman Akuaponik Pada Pemeliharaan Ikan Mas (Cyprinus carpio). Laporan Tahunan. Balai Perikanan Budidaya Air Tawar. Bogor.
Sidik, A.S. 2002. Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Laju Nitrifikasi dalam Budidaya Ikan Sistem Resirkulasi Tertutup. Jurnal Akuakultur Indonesia 1: 47-51. Silaban, T. F.,Santoso, L., dan
Suparmono. 2012. Dalam
Peningkatan Kerja Filter Air untuk Menurunkan Konsentrasi Amonia pada Pemeliharaan Ikan Mas (Cyprinus carpio). Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan 1: 47-56.
Shafrudin,D. Yuniarti., dan M.
Setiawati. 2006. Pengaruh
Kepadatan Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias sp) terhadap Produksi pada
Sistem Budidaya dengan
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan
Volume IV No 1 Oktober 2015 ISSN: 2302-3600
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015 EFEKTIVITAS PENGGUNAAN BEBERAPA SUMBER BAKTERI DALAM SISTEM BIOFLOK TERHADAP KERAGAAN IKAN NILA
(Oreochromis niloticus)
Bestania Putri* Wardiyanto† dan Supono†‡
ABSTRAK
Ikan nila merupakan ikan konsumsi air tawar dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi, sehingga nila banyak dibudidayakan secara intensif untuk meningkatkan nilai produksi. Pakan buatan berupa pelet menjadi sumber nutrisi utama bagi ikan untuk mempercepat laju pertumbuhan. Pelet yang tidak dimanfaatkan oleh ikan menjadi limbah ammonia di perairan yang dapat menurunkan kualitas air. Teknologi bioflok diaplikasikan untuk mengubah limbah ammonia menjadi biomassa mikroba yang dapat dijadikan sebagai pakan alami di perairan dengan bantuan bakteri heterotrof. Setiap spesies bakteri memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam membentuk flok dan mensintesis senyawa PHB (polyhidroksibutirat). Kecepatan aktivitas bioflokulasi dalam teknologi bioflok ditentukan oleh penggunaan inokulasi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan sumber bakteri berbeda dalam budidaya sistem bioflok terhadap keragaan ikan nila seperti laju pertumbuhan, survival rate (SR) dan feed conversion ratio (FCR). Penelitian menggunakan RAL dengan 4 perlakuan (Tanpa BFT, BFT limbah lele, BFT Lactobacillus casei, BFT Bacillus sp) dan 3 ulangan. Perlakuan diberikan pada ikan nila berukuran 3-5 cm yang dipelihara pada kolam terpal berukuran 0,5x0,5x0,5m selama 40 hari dengan FR 3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sumber bakteri yang berbeda dalam sistem bioflok memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan mutlak dan pertumbuhan harian ikan nila (P>0,5) namun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap FCR dan SR (P<0,5). Penggunaan bakteri Lactobacillus casei dalam pembentukan bioflok memberikan hasil yang terbaik dengan pertumbuhan berat mutlak tertinggi (3,89 gr±0,19), FCR (1,05± 0,11) dan SR (88%± 0,05).
Kata kuci :
Ikan nila, amoniak, bioflok, bakteri, dan PHB .
Pendahuluan
Ikan nila merupakan ikan kosumsi air tawar dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi sehingga banyak dibudidayakan secara intensif.
*Mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan Universitas Lampung
† Dosen Jurusan Budidaya Perairan Universitas Lampung. Jalan Prof. Soemantri Brodjonegoro No.
1 Kelurahan Gedung Meneng Bandar Lampung 34145 ‡ Email : [email protected]
Bestania Putri, Wardiyanto, Supono 434
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
budidaya yang tinggi. Limbah tersebut merupakan akumulasi dari residu organik yang berasal dari pakan yang tidak termakan, ekskresi amoniak, dan feses. Teknologi bioflok merupakan sistem pemanfaatan limbah nitrogen pada budidaya ikan oleh bakteri heterotrof. Bakteri heterotrof merupakan golongan bakteri yang mampu memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai bahan makanannya (Riberu, 2002).
Teknologi bioflok merupakan salah satu alternatif baru dalam mengatasi masalah kualitas air dalam akuakultur yang diadaptasi dari teknik pengolahan limbah domestik secara konvensional (Avnimelech, 2006; de Schryver et al., 2008). Prinsip utama yang diterapkan dalam teknologi ini adalah manajemen kualitas air yang didasarkan pada kemampuan bakteri heterotrof untuk memanfaatkan N-organik dan N-anN-organik yang terdapat di dalam air. Pada kondisi C dan N yang seimbang dalam air, bakteri heterotrof akan memanfaatkan N, baik dalam bentuk organik maupun anorganik, yang terdapat dalam air untuk pembentukan biomasa sehingga konsentrasi N dalam air menjadi berkurang (Schneider et al., 2005).
Bakteri heterotrof merupakan penyusun utama bioflok. Di alam, bakteri heterotrof mendominasi ketersediaan mikroorganisme dengan jenis yang bervariasi. Namun demikian, bakteri heterotrof sebagai pembentuk bioflok dapat pula diperoleh dari biakan murni atau dalam bentuk produk komersil (probiotik). Efektivitas kemampuan sumber bakteri berbeda dalam sistem bioflok belum diketahui secara pasti. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai efektivitas penggunaan beberapa sumber bakteri dalam sistem bioflok
terhadap keragaan ikan nila
(Oreochromis niloticus).
Materi dan Metode
Penelitian dilakukan selama 2 bulan yaitu pada bulan April-Mei 2015, bertempat di Laboratorium Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan (Tanpa BFT, BFT limbah lele, BFT Lactobacillus casei, BFT Bacillus sp) dengan 3 ulangan.
Ikan uji yaitu benih ikan nila yang berukuran 3-5 cm/ekor. Wadah pemeliharaan yang digunakan berupa kolam terpal berukuran 0,5x0,5x0,5 m sebanyak 12 unit. Padat tebar yang digunakan yaitu 50 ekor/kolam. Sebanyak 60 liter air suspensi bioflok dimasukkan ke dalam masing-masing kolam. Aerasi dilakukan selama 24 jam agar bioflok tidak mengendap dan menjaga agar kandungan DO lebih dari 2 mg/L.
Pemeliharaan ikan dilakukan selama 40 hari dengan pemberian pakan secara rutin dengan FR 3% dari biomassa. Pakan diberikan 2 kali sehari yaitu pagi hari pukul 08.00 WIB dan sore hari pukul 16.00 WIB. Sampling pertumbuhan dilakukan setiap 8 hari dengan mengambil 10 ekor sampel ikan pada masing-masing unit percobaan
Pengukuran parameter kualitas air meliputi oksigen terlarut DO, pH, dan suhu setiap 5 hari, sedangkan uji ammonia diukur pada awal (hari ke-1), tengah (hari ke-20) dan akhir penelitian (hari ke-40).
Data pertumbuhan, SR dan FCR dianalisis dengan mengunakan analisis
ragam (Anova) dengan selang
435 Penggunaan Bakteri dalam Sistem Bioflok Ikan Nila
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015 Hasil dan Pembahasan
Pembuatan bioflok dengan inokulasi bakteri yang berbeda menghasilkan kepadatan yang berbeda pula seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Kepadatan bioflok
Perlakuan Sumber bakteri Kepadatan A Tanpa bakteri 0 ml/L
B Limbah lele 35 ml/L
C Lactobacillus casei 18 ml/L
D Bacillus sp 20 ml/L
Kepadatan bioflok tertinggi yaitu pada penggunaan bakteri yang berasal dari limbah budidaya lele sebesar 35 ml/L. Hal ini diduga dalam limbah lele terdapat jenis bakteri yang bervariasi dengan kelimpahan yang banyak. Bakteri heterotrof yang ada dapat dengan cepat mengakumulasi C organik dan N organik yang kemudian dengan adanya senyawa PHB mampu
membentuk flok-flok bakteri.
Lactobacillus casei merupakan golongan bakteri gram positif yang umumnya digunakan sebagai probiotik. Penggunaan bakteri ini sebagai probiotik terbukti mampu mengurangi resiko kematian ikan dalam budidaya. Dalam penelitian ini bakteri ini digunakan sebagai bakteri pembentuk flok, namun menghasilkan kepadatan yang rendah yaitu sebesar 18ml/L, sedangkan Bacillus sp menghasilkan kepadatan bakteri sebesar 20 ml/L.
Pertumbuhan berat mutlak ikan nila tertinggi terjadi pada perlakuan BFT Lactobacillus casei dengan nilai 3,89±0,19 gr, sedangkan terendah sebesar 2,72±0,25 gr pada perlakuan tanpa bioflok. Pada perlakuan BFT limbah lele dan BFT Bacillus sp sebesar 3,01±0,56 gr dan 3,27±0,24 gr (Gambar 1).
Berdasarkan hasil uji Anova
pada selang kepercayaan 95%
menunjukkan bahwa penggunaan
sumber bakteri yang berbeda dalam sistem bioflok berpengaruh nyata
terhadap pertumbuhan berat mutlak ikan nila. Azim dan Little (2008) menjelaskan bahwa tilapia dapat memakan komunitas bakteri dalam sistem bioflok dan dapat tumbuh baik dengan pakan yang berprotein rendah. Bioflok mengandung 38% protein yang sangat bermanfaat sebagai sumber sehingga mampu meningkatan produksi ikan nila sebesar 44-46% (Azim dan Little, 2008).
Gambar 1. Pertumbuhan mutlak
Laju pertumbuhan harian pada perlakuan bioflok memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan tanpa bioflok. Pada perlakuan BFT Lactobacillus casei sebesar 0,097±0,009 gr/hari, BFT Bacillus sp 0,082±0,006 gr/hari, BFT limbah lele 0.075±0,014 gr/hari dan tanpa BFT 0,068±0,006 gr/hari (Gambar 2). Laju pertumbuhan yang lebih tinggi pada perlakuan BFT diduga karena nilai nutrisi bioflok mampu meningkatkan pertambahan bobot pada ikan nila.
Laju pertumbuhan yang lebih tinggi pada perlakuan BFT diduga karena nilai nutrisi bioflok mampu meningkatkan pertambahan bobot pada ikan nila. Berdasarkan hasil uji Anova
pada selang kepercayaan 95%
menunjukkan bahwa penggunaan
Bestania Putri, Wardiyanto, Supono 436
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
terhadap laju pertumbuhan harian mutlak ikan nila. Ikan nila dapat memanfaatkan pakan dengan optimal, baik itu pakan komersil maupun flok bakteri.
Gambar 2. Laju pertumbuhan harian
Pertumbuhan ikan nila
mengalami peningkatan setiap
minggunya untuk semua perlakuan, baik itu dengan sistem BFT maupun tanpa BFT. Pemeliharaan nila dengan
sistem bioflok memberikan
penambahan bobot yang lebih tinggi (Gambar 3).
Gambar 3. Sampling pertumbuhan
Hal ini berarti bakteri heterotrof membentuk flok-flok bakteri yang kemudian dimakan oleh ikan sebagai pakan alami dengan kandungan protein
yang tinggi sehingga dapat
meningkatkan laju pertumbuhan.
Survival Rate (SR) ikan nila yang dipelihara pada sistem bioflok menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan tanpa bioflok. Menurut Michaud et al. (2006), bakteri bioflok
memiliki kemampuan untuk
mengakumulasi komponen senyawa PHB atau polyhydroxybutirate yang diduga berperan dalam pengontrolan bakteri patogen pada sistem akuakultur. Hal ini berbanding lurus dengan nilai SR yang diperoleh selama penelitian. Pada sistem BFT limbah lele 79% ±0,10, BFT Lactobacillus casei 88%±0,05, BFT Bacillus sp 80%±0,02, sedangkan tanpa bioflok sebesar 58%±0,002 (Gambar 4).
Gambar 4. Survival Rate
Berdasarkan hasil uji Anova
pada selang kepercayaan 95%
menunjukkan bahwa penggunaan
437 Penggunaan Bakteri dalam Sistem Bioflok Ikan Nila
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
Nilai feed convertion ratio (FCR) ikan nila yang dipelihara pada sistem bioflok menujukkan nilai cukup yang baik yaitu mencapai 1,05±0,11 sedangkan tanpa bioflok sebesar 1,61±0,17 (Gambar 5).
Gambar 5. Feed Convertion Ratio
Pemanfaatan pakan buatan oleh ikan nila selama pemeliharaan memperlihatkan bahwa efisiensi pakan pada perlakuan bioflok lebih tinggi dibandingkan tanpa bioflok. Nilai FCR rata-rata dalam budidaya ikan nila
sekitar1,5 (Ardjosoediro dan
Ramnarine, 2002). Berdasarkan hasil uji Anova pada selang kepercayaan 95%
menunjukkan bahwa penggunaan
sumber bakteri yang berbeda dalam sistem bioflok tidak berpengaruh nyata terhadap FCRikan nila.
Kualitas air merupakan faktor utama yang harus diperhatikan dalam budidaya ikan. Penerapan sistem bioflok merupakan teknologi untuk mengatasi permasalahan dalam menjaga kualitas air. Suhu pada media pemeliharaan ikan nila selama penelitian berkisar atara 27-29°C. Nilai tersebur masih berada pada kisaran suhu yang baik bagi pertumbuhan ikan nila antara 25-30°C (BSN, 2009). Oksigen terlarut (DO) diperairan selalu terjadi fluktuasi, yaitu dikisaran antara 2,2-6,9 mg/L. Nilai tersebut masih dapat ditoleransi oleh ikan nila karena menurut Popma dan Lovshin (1996) ikan nila tahan terhadap DO kurang dari
0,5 mg/L. Nilai pH selama
pemeliharaan ikan nila cukup stabil dan baik, kisaran nilai pH yaitu 7,22 – 8,08. Kisaran konsentrasi pH yang dapat menunjang pertumbuhan ikan yaitu 6,5-9,0 (BSN, 2009).
Tabel 2. Nilai kualitas air pemeliharaan benih ikan nila selama 40 hari
Parameter Perlakuan Kisaran
A B C D Optimal
DO Pagi 3,13-6,13 2,73-5,07 2,60-7,37 3,43-6,90 > 4(a) (mg/L) Siang 2,20-6,87 2,50-4,93 2,43-5,67 2,53-5,33
Sore 3,17-6,13 2,43-6,07 2,93-6,27 2,60-5,37
Suhu Pagi 27-28 27-28 27-28 27-28 25-30 (b) (°C) Siang 28-29 28-29 28-29 28-29
Sore 27-29 27-28 27-28 27-28
pH Pagi 7,28-7,65 7,22-7,67 7,46-8,27 7,50-8,08 6,5-9 (a) Siang 6,85-7,80 7,23-7,73 7,57-8,13 7,55-7,96
Sore 7,24-7,78 7,31-7,93 7,32-8,13 7,31-7,91
Amoniak Awal 0,052 0,017 0,437 0.301 0,3 – 1 (b) (mg/L) Tengah 0,351 0,132 0,108 0,189
Akhir 0,383 0,192 0,037 0,231
Bestania Putri, Wardiyanto, Supono 438
Kesimpulan
Penggunaan sumber bakteri yang berbeda dalam sistem bioflok memberikan pengaruh yang nyata terhadap keragaan ikan nila namun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap Feed Conversion Ratio dan Survival Rate. Penggunaan bakteri Lactobacillus casei dalam pembentukan bioflok menghasilkan pertumbuhan berat mutlak tertinggi sebesar 3,89gr±0,19, nilai FCR 1,05± 0,11 dan nilai SR 88% ± 0,05. tilapia strain. Aquaculture 212, 159– 165 tanks: water quality, biofloc composition, and growth and welfare of Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Aquaculture 283, 29-35. BSN (Badan Standardisasi Nasional).
2009. Produksi Ikan Nila
(Oreochromis niloticus) Kelas Pembesaran di Kolam Air Tenang.
BSN (Badan Standardisasi
Nasional). SNI 7550 :2009. 12 hlm. Michaud, L., Blancheton, J.P., Bruni, V.
dan Piedrahita R. 2006. Effect of particulate organik carbon on heterotrophic bacterial populations and nitrification efficiency in biological filters. Aquacultural Engineering. 34, 224–233. Moriarty,
D.J.W. 1996. Microbial
Biotechnology for Suitable
Aquaculture. INFOFISH
International 4 (96): 23-28.
Popma, T.J. dan Lovshin, L.L. 1996. World prospect for commercial production of tilapia. Research and Development Series No. 41. International Center for Aquaculture
and Aquatic Environmens.
Departement of Fisheries and Allied Aquacultures Auburn University. Alabama. 23 hal.
Riberu, P. 2002. Pembelajaran Ekologi. Universitas Negeri Jakarta. Jurnal
Pendidikan Penabur –
No.01/Th.I/Maret 2002.
Schneider, O., V. Sereti, E.H. Eding. dan Verreth, J.A.J. 2005. Protein Production by Heterotrophic
Bacteria Using Carbon
Supplemented Fish Waste. Paper presented in World Aquaculture 2005, Bali. Indonesia.
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan
Volume IV No 1 Oktober 2015 ISSN: 2302-3600
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015 PENGARUH SUHU TERHADAP PERKEMBANGAN TELUR DAN
LARVA IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminckii)
Indah Wahyuningtias*†, Rara Diantar‡, Otong Zenal Arifin§
ABSTRAK
Ikan tambakan merupakan salah satu komoditas air tawar yang cukup digemari oleh masyarakat. Namun, pemeliharaan ikan tambakan dalam waah terkontrol belum banyak dilakukan sehingga informasi mengenai suhu optimum inkubasi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan suhu inkubasi terhadap perkembangan embrio, lama waktu penetasan, hatching rate dan survival rate, penggunaan kuning telur, dan abnormalitas larva ikan tambakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-September 2015 di Instalasi Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar Cijeruk, BPPBAT Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan (kontrol (24-260C), suhu 26-280C, suhu 29-310C dan suhu 32-340C) dan 3 kali ulangan. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan suhu inkubasi berpengaruh terhadap perkembangan embrio, lama waktu penetasan, hatching rate dan survival rate, laju penyerapan dan lama waktu penyerapan kuning telur, serta tidak berpengaruh terhadap nilai abnormalitas larva ikan tambakan. Perlakuan terbaik untuk perkembangan embrio adalah pada suhu 26-280C, untuk lama waktu penetasan pada suhu 29-310C, untuk hatching rate pada suhu 26-280C, untuk survival rate pada perlakuan kontrol (24-260C), dan untuk laju penyerapan kuning telur, dan lama waktu penyerapan kuning telur pada suhu pada suhu 26-280C.
Kata kunci: ikan tambakan, suhu, perkembangan embrio, waktu penetasan,
hatching rate
Pendahuluan
Ikan tambakan juga cukup digemari masyarakat sebagai ikan konsumsi, baik dikonsumsi dalam bentuk kering (ikan asin) maupun dalam keadaan segar. Telur ikan tambakan merupakan produk sampingan selama proses pengolahan ikan. Masyarakat Lampung juga memanfaatkan telur ikan tambakan dalam acara adat untuk pemberian bekal keberangkatan haji, yang menyebabkan
*
Mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan Universitas Lampung
† email: [email protected]
‡ Dosen Jurusan Budidaya Perairan Universitas Lampung. Jl. Prof. Sumantri Brodjonegoro No. 1
Gedong Meneng Bandar Lampung 35145
§ Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar, Bogor, Jawa Barat
harga telur ikan tambakan mencapai Rp. 250.0s00,00 per kilogram (Ubamnata et al., 2015).
Pemeliharaan ikan tambakan dalam wadah terkontrol belum banyak dilakukan. Saat ini, informasi mengenai proses inkubasi telur ikan tambakan yang berkaitan dengan daya tetas dan lama waktu penetasan masih terbatas.
Dalam proses inkubasi telur
440 Pengaruh Suhu Terhadap Perkembangan Telur Dan Larva Ikan Tambakan
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
satunya adalah suhu. Pada beberapa penelitian menyebutkan bahwa suhu berpengaruh terhadap penetasan telur serta persentase kelangsungan hidup larva. Menurut Andriyanto et al., (2013), suhu merupakan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan rata-rata dan menentukan waktu penetasan serta berpengaruh langsung pada proses perkembangan embrio dan larva. Perkembangan embrio dan larva merupakan hal yang harus diperhatikan, hal ini berkaitan dengan kualitas dan kuantitas benih yang dihasilkan. Suhu tinggi atau rendah pada proses pembuahan ikan akan dapat mengakibatkan telur tidak terbuahi serta dapat menyebabkan kematian (Olivia et al.,2012).
Salah satu alternatif dalam menghadapi masalah ini adalah, mencari suhu yang tepat pada saat inkubasi telur. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian agar diketahui suhu yang tepat dalam media inkubasi serta pengaruhnya terhadap daya tetas dan lama waktu penetasan telur ikan tambakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu yang berbeda terhadap perkembangan telur dan larva ikan tambakan (Helostoma temminckii).
Bahan dan Metode
Penelitian dilakukan pada bulan Juli-September 2015, bertempat di Instalasi Penelitian Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, Cijeruk, (BPPBAT) Bogor, Jawa Barat. Alat dan bahan yang digunakan adalah akuarium ukuran 20x20x15 cm3 sebanyak 12 buah, heater, termometer, cawan petri, sendok plastik, mikroskop okuler, induk ikan tambakan, hormon ovulasi.
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu persiapan wadah,
seleksi induk, penyuntikan hormon ovulasi menggunakan hormon ovaprim dengan dosis 0,6 ml/kg secara intramuscular pada otot punggung induk sebanyak masing-masing 1 kali penyuntikan pada induk jantan dan induk betina. Induk kemudian dimasukkan ke dalam bak pemijahan dengan perbandingan 1:1. Induk memijah 14 jam setelah penyuntikan dan kemudian telur segera dipindahkan ke dalam wadah perlakuan. Telur yang terbuahi akan nampak kuning, sedangkan yang tidak terbuahi akan berwarna putih susu.
Proses penetasan telur dilakukan dengan mengambil telur yang sudah terbuahi, kemudian telur dimasukkan ke dalam akuarium ukuran 20x20x15 cm3 dengan ketinggian air 10 cm. Wadah perlakuan yang disiapkan sudah diberi heater yang masing-masing sudah diatur suhunya sesuai dengan perlakuan yaitu dengan menggunakan suhu 26-28
0C, 29-31 0C, 32-34 0C dan wadah
perlakuan tanpa heater (kontrol) dengan ulangan sebanyak 3 kali. Jumlah telur sampel yang digunakan untuk masing-masing perlakuan adalah sebanyak 100 butir telur.
Pengamatan telur dilakukan setelah telur dimasukkan ke dalam akuarium pada masing-masing perlakuan. Pengamatan perkembangan telur, dilakukan di bawah mikroskop dengan frekuensi pengamatan yaitu, 30 menit sekali selama 3 jam. Setelah itu, pengamatan dilakukan 60 menit sekali hingga telur ikan tambakan menetas.
Waktu perubahan tiap fase
perkembangan embrio dicatat dan didokumentasikan.
Indah Wahyuningtias, Rara Diantari, Otong Zenal Arifin 441
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
kali pada pagi, siang dan sore hari yaitu pukul 06.00 WIB, pukul 12.00 WIB, dan 18.00 WIB.
Penelitian menggunakan desain rancangan acak lengkap (RAL) yang dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan dan masing-masing terdiri dari tiga kali ulangan. Adapun kelompok perlakuan yang digunakan adalah suhu air dalam media inkubasi yang berbeda: P1 : suhu ruang inkubasi (kontrol); P2 : suhu inkubasi 26-28 0C; P3 : suhu inkubasi 29-31 0C; dan P4 :
suhu inkubasi 32-34 0C.
Lama waktu penetasan adalah waktu yang dibutuhkan telur untuk dapat menetas. Perhitungan lama waktu penetasan atau Hatching time telur dapat dihitung menggunakan rumus, yaitu selisih dari lama waktu akhir penetasan (Ht) dengan waktu pasca pembuahan (H0) :HT = Ht– H0
Hatching rate diamati selama proses
penelitian berlangsung untuk
mengetahui persentase jumlah telur yang menetas. Hatching rate dihitung dengan menggunakan rumus (Effendie, 1997).
𝐻𝑅 = ∑ 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑡𝑎𝑠∑ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑇𝑒𝑙𝑢𝑟 𝑥 100%……….(1)
Survival rate diamati diakhir
pengamatan untuk mengetahui
persentase jumlah larva yang masih bertahan hidup. Survival rate dihitung menggunakan rumus (Adriana et al., 2013).
𝑆𝑅 = ∑ 𝑙𝑎𝑟𝑣𝑎 𝑘𝑢𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑙𝑢𝑟 ℎ𝑎𝑏𝑖𝑠∑ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑙𝑎𝑟𝑣𝑎 𝑥 100%…………(2)
Volume kuning telur diukur menggunakan rumus Hemming and Buddlington (1988):
V = 0,1667 π LH2 ………(3)
Keterangan :
V = volume kuning telur (mm3)
L = diameter kuning telur memanjang (mm)
H = diameter kuning telur memendek (mm)
Laju penyerapan kuning telur (LPKT) dihitung menggunakan rumus Kendall et al. (1984) dalam Ardimas sedangkan T adalah waktu (jam).
Waktu penyerapan kuning telur (WPKT) di amati dengan mencatat waktu pre-larva mulai menetas sampai kuning telur hampir habis seluruhnya dapat dihitung menggunakan rumus Adriana et al, (2013);
WPKT = tkh – tn………(5)
dimana tn dan tkh adalah waktu menetas
dan waktu kuning telur habis (jam). Pengamatan abnormalitas dalam penelitian ini meliputi bentuk kepala, bentuk tubuh dan bentuk ekor. Perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui besarnya abnormalitas seperti yang dikemukakan oleh Wirawan (2005), yaitu:
𝐴𝑏𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 = (Jumlah larva abnormal )/ (Jumlah larva normal) 𝑥 100% ...(6)
Parameter lama waktu penetasan, HR (Hatching Rate), SR (Survival Rate), lama waktu penyerapan kuning telur, laju penyerapan kuning telur dan abnormalitas diuji dengan uji F, jika ada pengaruh atau beda nyata dilakukan uji lanjut BNT dengan tingkat kepercayaan 95% dan taraf nyata 0,05. Data yang diperoleh dari hasil disajikan dalam bentuk tabel, grafik, gambar dan dianalisis secara deskriptif. Perkembangan embrio dan parameter suhu air dianalisis secara deskriptif.
Hasil dan Pembahasan
442 Pengaruh Suhu Terhadap Perkembangan Telur Dan Larva Ikan Tambakan
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
pengukuran suhu sebanyak 3 kali dalam sehari. Hasil pengukuran seperti pada tabel 1, suhu inkubasi masih dalam kisaran perlakuan.
Pengukuran dilakukan pada waktu pagi, siang dan sore hari untuk mengetahui perubahan suhu. Adapun suhu ruang tempat penelitian berkisar antara 22-240C.
Tahap perkembangan embrio
diamati setelah telur dimasukkan ke dalam wadah inkubasi. Saat telur dimasukkan ke dalam wadah inkubasi, perkembangan telur sudah mencapai
tahap morula. Lama waktu
perkembangan embrio ikan tambakan disajikan dalam tabel 2.
Tabel 1. Pengukuran Suhu Air Inkubasi Selama Penelitian
Dari hasil pengamatan, menunjukkan terdapat lama waktu pada setiap perkembangan embrio ikan tambakan. Nugraha et al., (2012) menyatakan bahwa suhu dapat berpengaruh terhadap waktu yang diperlukan telur ikan untuk berkembang. Small and Bates (2001) dan Lin et al., (2006) juga menyatakan bahwa, jika suhu lebih rendah dari suhu optimum maka perkembangan embrio akan lebih lambat. Sementara suhu yang lebih tinggi akan menghasilkan embrio yang berkembang lebih cepat (Das et al., 2006).
Pada perlakuan kontrol (24-260C) perkembangan embrio dari tahap morula ke tahap blastula memerlukan waktu 71 menit lebih lambat dibandingkan pada perlakuan suhu 26-280C dan 29-310C masing–masing memerlukan waktu 45 dan 42 menit, sedangkan pada perlakuan suhu 32-340C hanya memerlukan waktu 34 menit. Begitu pula tahap perkembangan embrio dari tahap blastula sampai sampai dengan pergerakan embrio, pada
perlakuan kontrol (24-260C) memerlukan waktu 703 menit lebih lambat dibanding pada perlakuan suhu 26-280C dan 29-310C memerlukan waktu 580 menit dan 576.
Namun pada perlakuan dengan suhu 32-340C, perkembangan embrio terhenti pada tahap pembentukan bakal embrio. Telur mengalami kematian dan tidak dapat menetas karena telur tidak dapat mentolerir suhu 32-340C untuk berkembang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu maksimum untuk perkembangan embrio ikan tambakan adalah 29-320C. Sedangkan
untuk suhu optimum untuk
perkembangan embrio ikan tambakan adalah pada suhu 26-280C.
Pemberian perlakuan suhu yang berbeda mempengaruhi lama waktu penetasan telur ikan tambakan. Hal ini di tunjukkan pada gambar 1. Pada perlakuan dengan suhu 32-340C telur mengalami kematian saat berkembang sehingga tidak dapat menetas.
Waktu Pengukuran Suhu Air Inkubasi Selama Penelitian
Kontrol 26-280C 29-310C 32-340C
Pagi (06.00) 24-25 0C 27-28 0C 30 0C 34 0C
Siang (12.00) 26 0C 28 0C 31 0C 33 0C
Indah Wahyuningtias, Rara Diantari, Otong Zenal Arifin 443
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
Tabel 2. Lama Waktu Perkembangan Embrio Ikan Tambakan (Helostoma temminckii)
Perkembangan Embrio
Perlakuan dan Lama Waktu Perkembangan (Menit)
Kontrol 26-280C 29-310C 32-340C
Morula
Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi Tidak terdeteksi
Blastula
71 45 42 34
Gastrula
202 197 147 106
Bakal Embrio
444 364 323 368
Organogenesis
582 486 434 0
Pergerakan embrio
703 580 576 0
Menetas
444 Pengaruh Suhu Terhadap Perkembangan Telur Dan Larva Ikan Tambakan
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
Keterangan : Huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata dengan tingkat kepercayaan 95% Huruf yang beda menunjukkan berbeda nyata dengan tingkat kepercayaan 95% Suhu 32-340C tidak ada telur yang menetas
Gambar 1. Grafik Lama Waktu Penetasan Telur Ikan Tambakan Pada Suhu yang Berbeda
Waktu penetasan tercepat terdapat pada perlakuan suhu 29-310C, yaitu
14,64 jam. Sedangkan waktu paling lama terdapat pada perlakuan kontrol (24-260C), yaitu 20,06 jam. Hal ini
sesuai dengan Yamagami (1988) bahwa peningkatan suhu akan berpengaruh terhadap sekresi enzim penetasan, ketika enzim penetasan disekresikan maka pencernaan korion akan lebih cepat pada suhu tinggi dibanding pada suhu rendah, maka proses penetasan akan lebih cepat. Pada suhu yang rendah akan membuat enzim (chorion) tidak bekerja dengan baik pada kulit telur dan
membuat embrio akan lama dalam melarutkan kulit, sehingga embrio akan menetas lebih lama (Satyani, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian, nilai hatching rate ikan tambakan tertinggi, yaitu 78% pada perlakuan suhu 26-280C dan nilai hatching rate paling rendah pada perlakuan kontrol (24-260C) sebesar 71%. Penelitian serupa telah dilakukan terhadap ikan kerapu sunu oleh Busroni (2008), yang menunjukkan
bahwa suhu penetasan 28oC
menghasilkan persentase penetasan yang tertinggi, yaitu sebesar 83% .
Keterangan : Huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata dengan tingkat kepercayaan 95% Huruf yang beda menunjukkan berbeda nyata dengan tingkat kepercayaan 95% Gambar 2. Grafik Nilai Hatching Rate (HR) Ikan Tambakan pada Suhu yang
Berbeda
Kontrol Suhu 26-28 Suhu 29-31 Suhu 32-34
Indah Wahyuningtias, Rara Diantari, Otong Zenal Arifin 445
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
Keterangan : Huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata dengan tingkat kepercayaan 95% Huruf yang beda menunjukkan berbeda nyata dengan tingkat kepercayaan 95%
Gambar 3. Grafik Nilai Survival Rate (SR) Ikan Tambakan pada Suhu yang Berbeda
Nilai survival rate tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol (24-260C), yaitu
sebesar 80%. Sedangkan pada
perlakuan suhu 26-280C dan suhu 29-310C sebesar 71% dan 70%.
Menurut Landsman et al., (2011), bahwa kematian telur dan larva akan
meningkat seiring dengan
bertambahnya suhu, diduga terkait dengan laju metabolisme yang tinggi sehingga penyerapan energi lebih cepat. Hasil ini berbeda penelitian Adriana et al. (2013), menunjukkan bahwa persentase kelangsungan hidup pre-larva ikan tambakan tertinggi terdapat
pada perlakuan dengan suhu 30±0,50C
sebesar 89,87%.
Peningkatan laju penyerapan kuning telur disebabkan adanya aktivitas metabolik yang dipengaruhi oleh perlakuan suhu inkubasi. Menurut Budiardi et al. (2005) semakin tinggi suhu inkubasi maka akan memerlukan energi yang besar sehingga laju penyerapan kuning telur juga meningkat. Sedangkan pada suhu inkubasi yang rendah maka aktivitas
akan melambat sehingga laju
penyerapan kuning telur juga rendah.
Tabel 3. Laju Penyerapan Kuning Telur Ikan Tambakan (Helostoma temminckii) (mm3/jam)
Perlakuan Ulangan Rerata
BNT 0,05=13,402x10-6
1 2 3
Kontrol 39,14x10-5 36,90x10-5 33,95x10-5 36,66x10-5(a)
Suhu 26-28 0C 42,26x10-5 40,18x10-5 40,26x10-5 41,05x10-5(b)
Suhu 29-31 0C 41,03x10-5 50,05x10-5 42,53x10-5 44,71x10-5(bc)
Suhu 32-240C 0 0 0 0
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata dengan tingkat kepercayaan 95%
Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda menyatakan berbeda nyata dengan tingkat kepercayaan 95%
Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju penyerapan tertinggi terdapat pada perlakuan dengan suhu
29-310C sebesar 44,71x10-5 mm3/jam dan tidak berbeda nyata terhadap perlakuan dengan suhu 26-280C sebesar
0
Kontrol Suhu 26-28 Suhu 29-31 Suhu 32-34
446 Pengaruh Suhu Terhadap Perkembangan Telur Dan Larva Ikan Tambakan
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
41,05x10-5 mm3/jam. Laju penyerapan paling rendah terdapat pada perlakuan kontrol (24-260C) sebesar 36,66x10-5
mm3/jam. Sedangkan pada hasil penelitian Adriana et al., (2013) menunjukkan bahwa laju penyerapan kuning telur terendah pada suhu 26±0,50C sebesar 39,02x10-5 mm3/jam dan laju penyerapan kuning telur paling tinggi terdapat pada perlakuan dengan
suhu 34±0,50C sebesar 42,24x10-5 mm3/jam.
Pada tabel 4. menunjukkan bahwa lama waktu penyerapan kuning telur tercepat terdapat pada perlakuan suhu 29-310C, yaitu 68,79 jam. Sedangkan
lama waktu penyerapan kuning telur paling lama terdapat pada perlakuan kontrol (24-260C), yaitu 78,05 jam.
Tabel 4. Lama Waktu Penyerapan Kuning Telur Ikan Tambakan (Helostoma temminckii) (jam)
Perlakuan Ulangan Rerata
BNT 0,05=0,572
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf berbeda menunjukkan berbeda nyata dengan tingkat kepercayaan 95%
Semakin tinggi suhu maka laju penyerapan kuning telur ikan tambakan juga semakin cepat. Hal ini ditunjukkan pada hasil penelitian bahwa pada perlakuan dengan suhu 29-310C waktu penyerapan kuning telur 68,79 jam dengan laju penyerapan sebesar 44,71x10-5 mm3/jam lebih cepat dibandingkan pada perlakuan suhu 26-280C dan perlakuan kontrol (24-260C) memerlukan waktu 74,43 jam dan 78,05 jam dengan laju penyerapan kuning telur sebesar 41,05x10-5 mm3/jam dan
36,66x10-5 mm3/jam. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Adriana et al. (2013) bahwa waktu penyerapan kuning telur tercepat terdapat pada perlakuan P5 (34 ±0,50C) yaitu 72 jam. Sementara waktu penyerapan kuning telur terlama terdapat pada perlakuan P1 (26 ± 0,50C) yaitu 78,67 jam.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu tidak berpengaruh terhadap larva abnormalitas ikan tambakan. Hal ini ditunjukkan pada tabel 5.
Tabel 5. Persentase Abnormalitas Ikan Tambakan (Helostoma temminckii)
Perlakuan Ulangan Rerata
Uji F Sig. >α
Perbedaan suhu inkubasi tidak berpengaruh terhadap abnormalitas larva ikan tambakan, diduga suhu
Indah Wahyuningtias, Rara Diantari, Otong Zenal Arifin 447
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
abnormalitas larva ikan tambakan dipengaruhi oleh kualitas telur yang baik serta suhu yang optimal bagi perkembangan embrio ikan tambakan. Sehingga embrio ikan tambakan dapat
berkembang dengan baik dan
menghasilkan larva yang normal.
Kesimpulan
Perlakuan perbedaan suhu inkubasi
memberikan pengaruh terhadap
perkembangan embrio, lama waktu penetasan, lama waktu penyerapan kuning telur, namun tidak berpengaruh nyata terhadap abnormalitas. Perlakuan terbaik untuk perkembangan embrio adalah pada perlakuan dengan suhu 26-280C, untuk lama waktu penetasan adalah dengan perlakuan suhu 29-310C, untuk nilai hatching rate adalah dengan perlakuan suhu 26-280C, untuk survival rate adalah dengan perlakuan suhu kontrol (24-260C), untuk laju
penyerapan kuning telur dan lama waktu penyerapan kuning telur ikan tambakan adalah pada perlakuan dengan suhu 26-280C.
DAFTAR PUSTAKA
Adriana, M., Muslim dan M. Fitrani. 2013. Laju Penyerapan Kuning Telur Tambakan (Helostoma temminckii CV) dengan Suhu
Inkubasi Berbeda. Jurnal
Akuakultur Rawa Indonesia. 1 (1) : 34-45.
Andriyanto, W., B. Slamet dan I. M. D. J. Ariawan. 2013. Perkembangan Embrio dan Rasio Penetasan Telur
Ikan Kerapu Raja Sunu
(Plectropoma laevis) pada Suhu Media Berbeda. Jurnal Ilmu dan Tekonologi Kelautan Tropis. 5 (1) : 192-207.
Ardimas, Y. A. Y. 2012. Pengaruh gradien suhu media pemeliharaan
terhadap pertumbuhan dan
kelangsungan hidup larva ikan betok (Anabas testudineus Bloch). Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Budiardi, T., W. Cahyaningrum dan I.
Effendi. 2005. Efisiensi
Pemanfaatan Kuning Telur Embrio
dan Larva Ikan Maanvis
(Pterophyllum scalare) Pada Suhu Inkubasi Yang berbeda. Jurnal Akuakultur Indonesia. 4 (1) : 57-61.
Busroni. 2008. Penetasan Telur Ikan Kerapu Sunu (Plectropomus sp) Pada Suhu Yang Berbeda. Skripsi. Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Indralaya. (tidak dipublikasikan).
Das, T., Pal, A., Chakraborty, S.K., Manush, S.M., Dalvi, R.S., Sarma, K., Mukherjee, S.C., 2006. Thermal
dependence of embryonic
development and hatching rate in Labeo rohita (Hamilton, 1822). Aquaculture 255 : 536–541.
Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogjakarta.
Landsman, S.J., A.J. Gingerich., D.P. Philip dan C.D. Suski. 2011. The Effects of Temperature Change on The Hatching Success and Larval Survival of Largemouth Bass Micropterus salmoides and Smallmouth Bass Micropterus dolomieu. Journal of Fish Biology. 78 : 1200-1212.
448 Pengaruh Suhu Terhadap Perkembangan Telur Dan Larva Ikan Tambakan
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
juvenile seahorses, Hippocampus kuda Bleeker. Aquaculture. 254 : 701–713.
Nugraha, D., M. N. Supardjo dan Subiyanto. 2012. Pengaruh
Perbedaan Suhu Terhadap
Perkembangan Embrio, Daya Tetas Telur dan Kecepatan Penyerapan Kuning Telur Ikan Black Ghost (Apteronous olbifrons) pada Skala
Laboratorium. Journal of
Management of Aquatic Resources. 1 (1):1-6.
Olivia, S., G. H. Huwoyon, dan V. A., Prakoso. 2012. Perkembangan Embrio dan Sintasan Larva Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) pada Berbagai Suhu Air. Bulletin Litbang. 1 (2) :135-144.
Satyani, D. 2007. Reproduksi dan Pembenihan Ikan Hias Air Tawar. Pusat Riset Perikanan Budidaya. Jakarta.
Small, B.C. and Bates, T.D., 2001. Effect of low-temperature incubation of channel catfish Ictalurus punctatus eggs on development, survival, and growth. J. World Aquacult. Soc. (32) : 189– 194.
Ubamnata, B., R. Diantari dan Q. Hasani. 2015. Pertumbuhan dan
Biologi Reproduksi Ikan
Tembakang (Helostoma
temminckii) di Rawa Bawang Latak, Kabupaten Tulang Bawang Lampung. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan. 15 (2) : 90-99. Wirawan, I. 2005. Efek Pemaparan
Copper Sulfat (CuSO4) terhadap
Daya Tetas Telur, Perubahan Histopatologik Insang dan Abnormalitas Larva Ikan Zebra (Brachydanio rerio). Tesis. Program Pasca Sarjana. Universitas Airlangga. Surabaya. 77 hal.
e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan
Volume IV No 1 Oktober 2015 ISSN: 2302-3600
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015 PEMANFATAN KULIT PISANG PADA BUDIDAYA Daphnia sp.
Remon Firnandus*†
ABSTRAK
Daphnia merupakan pakan alami yang umum digunakan dalam pembenihan ikan air tawar. Ketersediaan Daphnia sebagian besar masih mengandalkan tangkapan di alam dengan terbatasan jumlah dan kualitas yang fluktuatif. Ketersediaan stok Daphnia dilakukan dengan budidaya dengan memanfatkan sumber nutrien yang banyak tersedia diantaranya kulit pisang yang merupakan limbah makanan dari buah pisang yang dikonsumsi manusia. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompos kulit pisang terhadap peningkatan populasi Daphnia. Penelitian menggunakan tiga dosis kompos kulit pisang yang berbeda dalam tiap satu liter budidaya Daphnia yaitu 3 gr/l, 6 gr/l dan 9 gr/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kompos kulit pisang pada budidaya Daphnia memberikan pengaruh terhadap peningkatan populasi Daphnia. Kompos kulit pisang sebesar 6 gr/l merupakan dosis yang terbaik karena dapat menghasilkan populasi Daphnia tertinggi dibandingkan dosis lainnya. Kompos kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrien pakan alami yang diperlukan pada budidaya ikan. Penelitian ini juga akan memperbanyak pilihan metode sumber nutrien pakan alami.
Kata kunci: kompos, limbah, pisang, copepoda, pakan alam
Pendahuluan
Pakan alami yang merupakan faktor pembatas bagi keberhasilan budidaya ikan. Kebutuhan pakan alami sebagian besar masih mengandalkan hasil tangkapan di alam. Keterbatasan jumlah
dan musim yang tidak sama
menyebabkan ketersediaan dan kualitas pakan alami fluktuatif sehingga perlu dilakukan budidaya pakan alami untuk menjamin jumlah dan kualitasnya (Khairuman dan Amri, 2008). Daphnia merupakan pakan alami yang digunakan dalam pembenihan ikan air tawar. Daphnia yang merupakan golongan krustasea kecil yang hidup secara bergerombol pada perairan umum yang
*
Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Jl. Prof. S.Brodjonegoro No. 1 Gedong Meneng Bandar Lampung35145.
†Email: [email protected]
mengandung bahan organik.
Kandungan nutrien Daphnia bervariasi yang ditentukan oleh sumber nutrien habitat dan media pemeliharaannya (Suwignyo, 1989).
450 Pemanfaatan Kulit pisang pada Budidaya Daphnia
© e-JRTBP Volume 4 No 1 Oktober 2015
ini) yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrien budidaya Daphnia. Kompos kulit buah pisang berbahan dasar kulit pisang 5 kg, serbuk gergaji 1 kg, dedak halus 120 gr, gula merah 5 gr, probiotik EM4 dan kapur pertanian 120
gr. Penelitian dilakukan dengan merendam kompos kulit pisang pada media akuarium yang dengan volume 3 liter dengan aerasi selama 3 hari untuk menumbuhkan fitoplankton. Inokulasi Daphnia sebanyak 60 ekor per akuarium. Pengamatan dan perhitungan populasi fitoplankton dan Daphnia dilakukan mulai hari pertama sampai populasi fitoplankton dan Daphina menurun pada saat dibandingkan antar perlakukan. Penelitian menggunakan perlakuan dosis kompos kulit pisang yang berbeda sebesar 3 gr/l, 6 gr/l dan 9 gr/l.
Hasil dan Pembahasan
Pengamatan pertumbuhan fitoplankton dan Daphnia pada ketiga perlakuan menunjukan kecenderungan pola yang sama (Gambar 1; Gambar 2). Tiga fase pertumbuhan fitoplankton yaitu fase lag, eksponensial dan deklinasi (Gambar 1).
Gambar 1. Kepadatan rata-rata populasi fitoplankton dalam kompos kulit pisang.
Perlakuan 3 gr/l memiliki puncak kepadatan fitoplankton 10,6 x 104 pada hari ke-7 dan menunjukan bahwa nutrien dalam media kompos kulit pisang dapat diserap dan dimanfaatkan
oleh fitoplankton untuk
pertumbuhannya. Pada perlakuan 6 gr/l
memiliki puncak kepadatan
fitoplankton 22,2 x 104 pada hari ke-8. Pada perlakuan 9 gr/l memiliki puncak kepadatan fitoplankton 32,4 x 104 pada hari ke-10. Penurunan populasi fitoplankton mulai hari ke-10 diduga
disebabkan karena persaingan
memperebutkan tempat hidup yang terbatas dan konsumsi oleh Daphnia serta jumlah kompos kulit pisang sebagai nutrien semakin berkurang. Pertumbuhan populasi Daphnia dari setiap perlakuan juga membentuk kurva signoid yang terdiri dari fase lag, eksponensial dan deklinasi (Gambar 2). Populasi Dapnia dimulai pada hari ke- 3 ( Gambar 2). Fase lag terjadi pada dari pertama sampai ke-5 yang ditandai dengan peningkatan populasi yang
rendah. Fase ini merupakan
penyesuaian organisme terhadap lingkungan media baru terutama. Fase ekponensial terjadi mulai hari ke-4
sampai mendekati hari ke-8
(penambahan 3gr/l kompos kuit pisang), mendekati hari ke-9 pada penambahan 6 gr/l dan mendekati hari ke-10 pada penambahan kompos kulit pisang. Pada fase ini peningkatan populasi sangat cepat karena pakan yang tersedia bagi Daphnia yaitu fitoplankton tersedia cukup melimpah. Pada jumlah dan nutrien yang cukup Daphnia pada fase juvenil akan tumbuh dan berganti kulit
sampai menjadi dewasa dan