• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ilmu Ekonomi antara Liberalisasi dan Isl

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ilmu Ekonomi antara Liberalisasi dan Isl"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Ilmu Ekonomi, antara Liberalisasi dan Islamisasi1

Pendahuluan

Perkembangan kajian epistemologi ‘memaksa’ perkembangan berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial. Bermula dari ilmu-ilmu alam yang bersifat matematis, ilmu-ilmu sosial pun akhirnya menemukan paradigmanya sendiri-sendiri. Namun tumbuh kembangnya ilmu tersebut bukanlah tanpa metodologi atau asumsi dasar, bahkan juga didasari nilai-nilai historis, moral, hingga metafisis.

Pembicaraan mengenai ilmu ekonomi yang dahulu hanya memperhatikan urusan rumah tangga semata, akhirnya berkembang menjadi skala global dan makro dalam sebuah negara. Yang menarik, bahwa corak tumbuh-kembang ilmu tersebut ternyata dipengaruhi oleh corak tumbuh-kembang dari peradaban itu sendiri. Artinya, tentu ada perbedaan antara ilmu yang berkembang dalam tradisi keilmuan Islam, dan juga tradisi keilmuan Barat.

Pengalaman liberalisasi agama di Eropa, tentu berbeda dengan majunya peradaban manusia di bawah naungan Islam. Di zaman sekarang ini juga demikian, meski ilmu-ilmu sekuler sengaja diajarkan kepada mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi Islam, namun tidak sedikit respon dari cendekiawan muslim yang mengerti agenda tersebut. Di sinilah dapat terlihat seolah tarik ulur antara liberalisasi dan Islamisasi ilmu sosial.

Jika ilmu ekonomi di Barat berbicara kepuasan sekedar mengkonsumsi komoditas yang tinggi, tentunya tidak dengan Islam. Justru seorang muslim lebih dititik beratkan pada konsumsi barang yang halal dan thoyyib. Jika di Barat membicarakan kekuatan modal seseorang yang akan menentukan kesempatan suksesnya, namun seorang muslim dipandu dengan al-Quran dan hadits bisa sukses dunia akhirat. Perbedaan tersebut tentunya ada karena asumsi dasar dari masing-masing kubu tersebut. Makalah ini mencoba sedikit membahas tentang ekonomi dalam ranah liberalisasi dan islamisasinya.

Makna Ekonomi

Lafadz ekonomi memiliki berbagai makna secara secara etimologis. Dalam kamus bahasa Indonesia berarti 1. ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi, dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti hal keuangan, perindustrian, dan perdagangan)2; 2.

pemanfaatan uang, tenaga, waktu, dan sebagainya yang berharga; 3. tata kehidupan

1 makalah ditulis oleh Muhammad Taqiyuddin untuk memenuhi tugas kuliah Pascasarjana “Aqidah dan Sains Sosial” bersama al-ustadz Khoirul Umam, M.Ec

(2)

perekonomian (suatu negara).3 Kata tersebut merupakan kata serapan dari bahasa Inggris

yaitu “economy”4 yang mana jika ditelusuri akarnya adalah bahasa Yunani, yaitu

manajemen rumah tangga.5 Dalam bahasa Arab ia dimaknai sebagai “iqtishad” yang

memiliki akar kata "qashada-yaqshudu" yang berarti "mengarah ke", selain itu juga berarti "menjadi pertengahan antara boros dan kikir.6

Ilmu ekonomi seringkali disebut salah satu dari ilmu sosial. Hal ini dikarenakan ia mempelajari tentang perilaku manusia yang terkait dengan kelangkaan dan alternatif penyelesaian dari masalah kelangkaan tersebut.7 Artinya, bahwa secara umum ilmu

ekonomi digolongkan ke dalam disiplin ilmu sosial karena ia mempelajari berbagai macam aspek dari perilaku manusia dalam dunia sosialnya.8 Selain itu, bahwa tradisi

keilmuan di Barat yang melakukan penelitian secara realis-empiris, serta penggunaan data berupa statistik dan lainnya. Para peneliti tersebut adalah para ilmuwan sosial yang pertama kali ada yaitu para ekonom dan sosiolog.9

3 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Pusat Bahasa: Jakarta, 2008), hlm.377

4 terlihat bahwa kata ekonomi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu maknanya kurang lebih sama dengan pada bahasa Indonesia: 1. the relationship between production, trade and the supply of money in a particular country or region 2. a country, when you are thinking about its economic system; 3. the use of the time, money, etc. that is available in a way that avoids waste. lihat Albert Sidney

Hornby, Oxford advanced Learner’s Dictionary of Current English, (England: Oxford University Press, 2005) sixth edition, hlm. 400

5 sebagaimana dikutip bahwa: The English words "economy" and "economics" can be traced back to the Greek word οἰκονόμος (i.e. "household management"), a composite word derived from οἶκος ("house;household;home") and νέμω ("manage; distribute;to deal out;dispense") by way of οἰκονομία ("household management"). lihat The American Heritage Dictionary of the English Language, Fourth Edition. Houghton Mifflin Company, 2004. October 24, 2009 lihat juga dalam https://en.wikipedia.org/wiki/Economy

6 Louis Ma’luf, al-Munjid fi-al-Lughoh wa-al-A’lam, (Daar al-Masyriq: Beirut, 2002) cet. 39, hlm. 347

7 sebagaimana dikutip : Lionel Robbins (1935) defined economics as “the science which studies human behavior as a relationship between ends and scarce means which have alternative uses” lihat McMillan Reference, Encyclopedia of Philosophy, (Thomson Gale : Fermingston Hill, 2006) vol. 7, hlm. 353 (5750)

8 Sage Publication, The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods (edited by Lisa M. Given), (Sage Publication Inc: California, 2008) vol. 1-2, hlm. 826

(3)

Sedangkan ilmu ekonomi adalah studi mengenai metode umum dimana orang-orang bekerja sama untuk memenuhi bahan kebutuhan mereka (Sir William Beveridge); Studi mengenai manusia dalam kehidupan berbisnis mereka (A. Marshall); ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam sebuah hubungan antara tujuan (memenuhi kebutuhan) dan mengatasi kelangkaan serta mendapatkan alternatifnya (L. Robbins); Ekonomi menyelidiki tentang pengaturan antara satu agen dengan agen lainnya dalam hal mencari keuntungan maksimum masing-masing (F.Y. Edgeworth). Istilah ini digunakan tahun 1760an, dan membahas dan menghasilkan berbagai teori tentang pertumbuhan, nilai, distribusi, buruh, dan perpajakan.10

Makna Liberalisasi dan Islamisasi dalam Ekonomi

Liberalisasi berasal dari kata liberal dan memiliki makna tertentu. Arti liberal dalam KBBI adalah 1 sifat yg condong kpd kebebasan; 2 berpandangan bebas (luas dan terbuka) dan liberalisme adalah aliran paham ketatanegaraan dan ekonomi, yang dulu ketatanegaraan bercita-cita demokrasi dan dulu ekonomi menganjurkan kebebasan berusaha dan berniaga (pemerintah tidak boleh turut campur).11 Kata tersebut merupakan

serapan dari bahasa Inggris yakni “liberal”. Secara populer, kata 'liberal' diartikan sebagai lawan kata dari 'konservatif'. Orang liberal menekankan pembelaan terhadap pihak yang kurang beruntung, minoritas, dan kelompok sosial. Meyakini penggunaan kekuatan negara untuk mewujudkan keadilan sosial, khususnya kesejahteraan yang memungkinkan dicapai dengan sistem egaliter dan sekuler.12

Liberalisasi dari kata liberalization atau liberalisation, yaitu berarti mengurangi pembatasan dalam hal politik dan agama. Sehingga menjadi orang yang 'libertarian' yang mana meyakini bahwa manusia bebas dalam berbuat dan berfikir sesuai yang mereka sukai.13 Liberalisasi memiliki sejarah yang panjang dan bisa terlacak hingga abad

pertengahan di Eropa. Kata liberal untuk menyebut sebuah aliran filsafat, pertama kali terdengar di Jerman pada tahun 1812, meski sebelumnya sudah ada di Inggris (disebut perfect freedom), Amerika (disebut liberty), hingga Prancis (dalam revolusinya disebut liberty). Para tokoh yang dikelompokkan sebagai pemikir liberalisme, diantaranya adalah John Locke, Voltaire, hingga Kant.14 Artinya, liberalisme memang berasal dari Eropa

yang mana merupakan basis dari peradaban Barat.15

10 Donald Rutherford, Routledge Dictionary of Economics (London: Taylor & Francis Group, 2002) second edition, hlm. 185

11 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar,... hlm. 857

12 Roger Scruton, The Palgrave Macmillan Dictionary of Political Thought ( New York: Palgrave Macmillan press, 2007) third edition, hlm. 396

13Albert Sidney Hornby, Oxford,...hlm. 739-740

14 Macmillan Reference USA, Encyclopedia of Philosophy (edited by: Donald M. Borchert), (New York: Thomson-Gale, 2006) vol. 5, cet. 2, hlm. 319-322 (4286)

(4)

Setidaknya, ditemukan tiga faktor yang melatarbelakangi sekularisme dan liberalisme di Barat: pertama, trauma sejarah,16 khususnya yang berhubungan dengan

dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan. Kedua, problema teks Bible. Hebrew Bible (Kristen menyebutnya Perjanjian Lama), yang hingga kini masih merupakan misteri, termasuk soal siapa yang sebenarnya menulis.17 demikian juga Perjanjian Baru

(The New Testament) juga menghadapi banyak problem otentisitas teks.18 Dan ketiga,

problema teologis Kristen.19 Sangat nampak, bahwa ketiga faktor tersebut tidak

terpisahkan. Dampaknya, sebagaimana telah kita lihat, adanya semacam sentiment atau

menyerap, seperti unsur-unsur filosofis, epistemologis, dasar-dasar pendidikan, dan etika serta estetika; dari peradaban Romawi, peradaban Barat telah menyerap unsur-unsur hukum dan ketatanegaraan serta pemerintahan; dari ajaran Yahudi dan Kristen, peradaban Barat telah menyerap unsur-unsur keyakinan beragama. Sedangkan dari orang-orang Latin, Germanik, Celtik, dan Nordik, peradaban Barat telah menyerap unsur-unsur kemerdekaan, semangat kebangsaan, dan nilai-nilai tradisi. Adapun dari peradaban Islam secara tidak disadari, juga banyak diserap oleh peradaban Barat, terutama dalam menanamkan semangat rasional dan saintifik. Tetapi ilmu dan semangat rasional tersebut, telah disusun dan ditata kembali untuk disesuaikan dengan acuan dan kebudayaan Barat sehingga melebur dan meyatu dengan unsur-unsur lain yang membentuk watak dan kepribadian peradaban Barat. Peleburan dan penyatuan itu kemudian berkembang dan menghasilkan suatu faham dualism yang khas dalam pandangan alam (worldview) dan tata nilai kebudayaan dan peradaban Barat. lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought, 1993) hlm. 134

16 Trauma Barat terhadap sejarah keagamaan mereka berpengaruh besar terhadap cara pandang mereka terhadap agama. Jika disebut kata “religion” maka yang teringat dalam benar mereka adalah sejarah agama Kristen, lengkap dengan doktrin, ritual, dan sejarahnya yang kelam yang diwarnai dengan inquisisi dan sejarah persekusi para ilmuwan. Seorang psikolog Barat, Scott Peck, menyatakan: “Sekali kata ‘religion’ disebutkan di dunia Barat, ini akan membuat orang berpikir tentang: … inquisisi, tahyul, lemah semangat, paham dogmatis, munafik, benar sendiri, kekakuan, kekasaran, pembakaran buku, pembakaran dukun, larangan-larangan, ketakutan, taat aturan agama, pengakuan dosa, dan kegilaan. Lihat Adian Husaini, Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal?, (Ponorogo: Centre for Islamic and Occidental Studies, 2007) hlm. 18 lihat juga Scott Peck, The Road Less Travelled, (London: Arrow Books Ltd, 1990), hal. 237-238. Pendapat Peck dikutip dari tulisan Dr. Fatimah Abdullah berjudul “Konsep Islam sebagai Din, Kajian terhadap Pemikiran Prof. Dr. SMN al-Attas, di Majalah Islamia, edisi ke-3, tahun 2004).

17 Dalam hal problema teks Bible, Dr. Adian Husaini memberi penjelasan yang cukup otoritatif. Dalam bukunya, Mengapa Barat menjadi Sekular-Liberal beliau menyebutkan: Hebrew Bible (Kristen menyebutnya Perjanjian Lama), misalnya, hingga kini masih merupakan misteri. Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis, bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis Kitab ini masih merupakan misteri. (It is a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization). Ia mencontohkan, the Book of Torah, atau The Five Book of Moses, diduga ditulis oleh Moses. Book of lamentation ditulis Nabi Jeremiah. Separoh Mazmur (Psalm) ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidak seorang pun tahu, bagaimana penyandaran itu memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzles in the world). Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang menyebutkan, bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalam teks-nya dijumpai banyak kontradiksi. Adian Husaini, Mengapa Barat…, hlm. 22 lihat juga Richard Elliot Friedman, Who Wrote the Bible, (New York: Perennial Library, 1989), hal. 15-17

18 Dr. Adian Husaini juga memberi penjelasan sebagai berikut: Perjanjian Baru (The New

(5)

trauma terhadap hal-hal yang berbau ‘agama’. Perkembangannya dalam dunia pemikiran, akhirnya rasio manusia dijunjung tinggi, hingga menjadi standar bagi segala hal. Akhirnya, upaya Liberalisasi mutlak untuk dilakukan, untuk menghindari kekacauan sosial di zaman pertengahan Eropa. Dan ini berlaku di berbagai lini seperti politik, ekonomi, serta sains dan teknologi. Selanjutnya, liberalisasi dan sekularisasi menjadi urgensi atas segala pemikiran di Barat saat itu.

Para filosof menaruh perhatian yang besar kepada ilmu ekonomi karena ia akan selalu terkait dengan pembahasan moral, etika, hingga politik. Selain itu, ia memberikan studi kasus dan tantangan dalam sains sosial.20 Menurut asumsi dasar peradaban Barat,

khususnya setelah teori Darwin, bahwa kegiatan ekonomi pertama kali dilakukan oleh Homo Erectus, sebagai pendahulu dari manusia saat ini. Merekalah yang pertama kali mampu menggunakan api untuk mengolah makanan sehari-hari guna bertahan dari zaman es. Selain itu, kegiatan ekonomi mereka sebatas mencari makanan dengan cara berpindah-pindah dan berburu. Mereka hidup dalam kelompok, dan mampu untuk melakukan perburuan hewan yang besar bersama-sama.21 Selanjutnya, perkembangan

zaman dan teknologi terus berlanjut, hingga manusia mampu menetap dan mengolah sumber daya alam hingga sekarang. Saat ini sekalipun, manusia masih dijuluki homo economicus.22

Saat ini kita akan fokus kepada ekonomi liberal yang mana ia adalah suatu sistem ekonomi yg memberi kebebasan kepada warga untuk mengembangkan ekonominya sehingga berlomba-lomba mencari keuntungan sendiri.23 Liberalisasi Ekonomi mencakup

proses termasuk kebijakan pemerintah yang mempromosikan perdagangan bebas, deregulasi, penghapusan subsidi, sistem kontrol harga dengan penjatahan, dan kadangkala privatisasi pelayanan publik. Ini telah dikembangkan secara intens di kancah

bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, menulis beberapa buku tentang teks Perjanjian Baru. Satu bukunya berjudul “The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration” (Oxford University Press, 1985). Dalam bukunya yang lain, yang berjudul “A Textual Commentaary on the Greek New Testament”, (terbitan United Bible Societies, corrected edition tahun 1975), Metzger menulis di pembukaan bukunya, ia menjelaskan ada dua kondisi yang selalu dihadapi oleh penafsir Bible, yaitu (1) tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini, dan (2) bahan-bahan yang ada pun sekarang ini bermacam-macam, berbeda satu dengan lainnya. Adian Husaini, Mengapa Barat…, hlm. 23 lihat juga Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament”, (Stutgard: United Bible Societies, 1975), hal. xiii-xxi. Juga, Werner Georg Kume, The New Testament: The History of the Investigation of Its Problem, (Nashville: Abingdon Press, 1972), hal. 40.

19 Adian Husaini, Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal?, (Ponorogo: Centre for Islamic and Occidental Studies, 2007) hlm. 3

20 McMillan Reference, Encyclopedia of Philosophy…, vol. 7, hlm. 350 (5748)

21 H James Birx (ed. in chief), Encyclopedia of Time: Science, Philosophy, Theology, & Culture, (California: Sage Publication, 2009) hlm. 374 (409)

(6)

internasional mulai 1970an, banyak negara menggunakan asas laisses-faire dalam perdagangan, serta intervensi pemerintah di dalamnya merupakan ketidakefektifan.24

Setting sejarah pemikiran ekonomi yang demikian memunculkan beberapa aliran ekonomi modern setelah revolusi industri. Yakni, secara khusus setelah renaissance di Eropa abad 14 hingga 16/17. Transfer pengetahuan semakin bertambah dengan ditemukan mesin cetak Guttenberg, bank-bank modern mulai muncul. Hingga penjelajahan laut mulai digalakkan guna membentuk koloni baru, khususnya untuk pemasaran barang dagangan, hingga pencarian sumber daya alam. Di zaman tersebut, dimulailah juga imperialism dan kolonialisme bangsa Eropa atas lainnya.25 Selanjutnya

kita akan coba meneliti beberapa aliran ekonomi Eropa yang berkembang setelah renaissance. Kita akan coba menyoroti sedikit sisi historis-filosofis, yang tentunya mencakup asumsi dasarnya.

Dalam studi ekonomi, yang seringkali dianggap sebagai ekonomi modern pertama adalah Merkantilisme pada abad 16, ketika itu masih dianggap ekonomi politis.26 Adam

Smith (1723-1790) adalah salah seorang pemikir ekonomi Eropa yang terkenal dengan karyanya "the Wealth of Nation". Selanjutnya juga menulis tentang filsafat moral yang terkait dengan ekonomi, seperti buruh dan kesejahteraannya. Teori yang dikemukakan olehnya adalah tentang pekerja produktif dan tidak produktif. Bahwa pekerja yang produktif mampu menyebabkan produksi barang-barang, selanjutnya secara akumulatif dapat menghasilkan surplus untuk investasi masa depan. Teori Adam Smith diskritisi karena asumsi dasarnya, bahwa manusia terbagi tiga, yaitu yang hidup dengan sewa, upah, dan yang hidup dengan keuntungan. Tentu asumsi dasar seperti ini sangatlah empiristik, hal ini dianggap wajar, karena Smith memang terpengaruh oleh pemikiran David Hume.27 Belakangan, Adam Smith akhirnya didaulat sebagai bapak ekonomi

Kapitalis.

Selanjutnya adalah Thomas Robert Malthus (1766-1834) yang banyak membicarakan tentang teori populasi dalam karyanya "an Essay on the Principle of Population". Populasi menjadi pembahasan menarik karena terkait dengan masalah sosial dan ekonomi. Diantara teorinya : "Makanan itu penting untuk kelangsungan hidup manusia. Dan hasrat antara jenis kelamin juga akan penting dan akan tetap ada dalam keadaan sekarang...".28 Selain itu juga terkait dengan teori buruh dan populasi: “Jumlah

24 United Nations: Department of Economic and Social Affairs, Rethinking Poverty: Report on

the World Social Situation 2010, (New York: United Nation Publication, 2009) hlm. 97 25 H James Birx (ed. in chief), Encyclopedia of Time:…., hlm. 377-378 (413)

26 N.S.B Gras, The Development of Metropolitan Economy in Europe and America (a paper read at the St. Louis meeting of the American Historical Association 29 December 1921) in JSTOR Journal hlm. 695 at https://ia601902.us.archive.org/31/items/jstor-1837536/1837536.pdf

27 William J Barber, A History of Economic Thought, (New York: Penguin Books Ltd, 1967) hlm. 34-39 (19)

(7)

buruh yang berada di atas proporsi pekerjaan di pasar, harga tenaga kerja harus cenderung menurun, sementara harga ketentuan pada saat yang sama cenderung meningkat. Oleh karena itu, buruh harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan penghasilan yang sama seperti sebelumnya. Selama musim kesedihan ini, keputusasaan untuk menikah dan sulitnya membesarkan keluarga begitu besar, populasi berada pada posisi tegak.”29

Tentunya teori tersebut hanya menitik beratkan pada kesejahteraan jasmani manusia saja. Kita tidak melihat teori tersebut terkait dengan konsep Tuhan atau konsep hari akhir dan lainnya.

Tidak jauh dari itu, David Ricardo (1772-1823) dalam buku “Principles of Political Economy and Taxation” juga memiliki teori bahwa: “di semua negara dan setiap saat keuntungan bergantung pada jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk menyediakan kebutuhan bagi buruh di tanah itu atau dengan modal yang tidak menghasilkan uang sewa.”30 Tentunya, asumsi dasarnya hampir serupa, yakni masih terkait dengan kepuasan,

dan tujuan duniawi dari ekonomi itu sendiri. John Stuart Mill (1806-1873) yang juga seorang filosof pendidikan memiliki pemikiran ekonomi yang politis, seperti “bahwa peningkatan kecerdasan, pendidikan, dan cinta kemerdekaan di antara kelas pekerja, harus dihadirikan dengan pertumbuhan perbuatan yang baik yang mewujudkan dirinya dalam kebiasaan baik yang berkaitan, dan bahwa populasi, oleh karena itu , Akan menghasilkan rasio yang berkurang secara bertahap terhadap kebutuhan modal dan distribusi pekerjaan.”31

Selanjutnya adalah Asumsi dasar filsafat ekonomi Karl Marx (1818-1883) adalah materialisme historis. Hal ini telah ia dikembangkan bersama Engel dalam rangka mendukung tesisnya, bahwa sistem produksi haruslah dilaksanakan dengan stuktur politik yang legal atau ideologi super stuktur.32 Karena sistem kapitalis membuat kelas pekerja

dan pemilik modal (borjuis) menjadi jauh terpisah. Pemilik modal dengan kuasanya mengeksploitasi kaum pekerja, selain itu kekayaan kaum borjuis juga semakin meningkat. Hingga terjadi ketidakstabilan ekonomi atau ketimpangan. Inilah perlunya ada revolusi dalam bidang ekonomi dan pemerintahan.33 Solusinya adalah dengan

29 William J Barber, A History of Economic…, hlm. 59 (29) 30 William J Barber, A History of Economic…, hlm. 79 (39)

31 pemikiran ini mengkritisi sebelumnya, yang mana mengukur kesejahteraan hanya berdasarkan produksi saja. Sebaliknya, bahwa peningkatan pendidikan dan kemanusiaan bahkan mampu meningkatkan etos kerja dari para buruh itu, dan secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap efisiensi pekerjaan produksi di pabrik. Selain itu, pemerintah juga sangat diharuskan untuk ikut melakukan stabilisasi yang terjadi akibat perubahan sosial yang terkadang bermasalah dengan kesejahteraan sosial. Pemikiran tentang kesejahteraan ini nampaknya merupakan interaksi Mill dengan Marx. lihat William J Barber, A History of Economic…, hlm. 101-104

32 Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, The Blackwell Dictionary of Western Philosophy, (Malden: Blackwell Publishing, 2004) hlm. 198

(8)

mencanangkan sosialisme dalam kepemilikan pribadi dan kekayaan negara.34 Ini

menunjukkan, bahwa komunis merupakan antithesis dari kapitalis. yang mana selanjutnya terjadi banyak perebutan kekuasaan yang berdarah juga. Ini akibat dari asumsi dasar akan konsep manusia, konsep alam, dan lainnya yang tidak terkait dengan nilai ketuhanan.

Selain itu, motivasi untuk berkegiatan ekonominya juga beragam. Di antaranya adalah teori krisis, yang juga terkait dengan teori produksi dan distribusi, belum lagi akibat sosial seperti kepanikan masyarakat akan harga barang.35Asumsi dasar dan

motivasi tersebut, serta dilatar-belakangi dengan suasana keagamaan (Kristen) Eropa yang saat itu dimarjinalkan karena banyak sebab, akhirnya membentuk corak dan aliran ekonomi yang khas. Bahkan di Barat, konsep-konsep dalam agama seperti Tuhan, manusia, moral, dan sebagainya bukan merupakan hal yang permanen. Para teolog dan filosof memiliki pandangan masing-masing tentang semua konsep tersebut, bahkan ada juga yang berujung kepada penolakan metafisika.

Kondisi tersebut juga telah dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah Harvey Cox, seorang teolog Kristen. Ia mendifinisikan sekularisasi sebagai: “pembebasan manusia dari pentunjuk/arahan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju dunia kini”.36 Sekularisasi dianggap menjadi

pemahaman baru bagi manusia, yakni dari pandangan kosmologis berpindah kepada pandangan antropologis, karena hal ini penting dalam perkembangan sains.37 Al-Attas

juga memberikan komentar atas sekularisas dan menyebut tiga komponen proses sekularisasi dalam pemikiran manusia, yaitu: (1) disenchantment of nature (pengosongan alam dari semua makna spiritual); (2) desacralization of politics (desakralisasi politik); dan (3) deconsecration of values (pengosongan nilai-nilai agama dari kehidupan).38

Kekhasan pandangan ini adalah desakralisasi terhadap alam dari nilai-nilai Tuhan.

Jauh sebelum itu, ada filosof Barat yang memang telah meramalkan fenomena tersebut dengan membuat kategorisasi kehidupan manusia. August Comte (1798-1857) membuat kategorisasi sebagai berikut: 1) Tahap Teologis: a) Fetisisme, b) Politeisme, dan b) monoteisme 2) Tahap Metafisik dan 3) Tahap Positif.39 Kategorisasi ini tentunya

34 William A. Darity (ed. in chief), International Encyclopedia of the Social Sciences, (New York: Macmillan Reference, 2008) second edition, vol. 4, hlm. 638 (2657)

35 William A. Darity (ed. in chief), International Encyclopedi…, vol. 2, hlm. 483 (1239) 36 Donald Gates, Altruism ini the Context of Economic Rationalistic Ideologies and System of

Healthcari and Welfare Delivery: a Multidiciplinary Approach, (Morrisville: Lulu.com, 2006) hlm. 193 37 lihat juga Gustavo Gutierrez, A Theology of Liberation: History, Politics and Salvation (translated and edited by Sister Caridad Ida), (Maryknoll: Orbis Books, 1988)

38 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993) hlm. 15-19

(9)

setelah dicetuskannya pemikirannya dalam bidang positivisme. Artinya, sekularisasi dapat dikatakan merupakan hasil dari renaissance, yang mana manusia di Barat ‘seolah terlahir kembali’ dengan bertambah yakin dan optimis akan kekuatan rasio manusia daripada kekuatan hal-hal metafisis seperti Tuhan dan lainnya.

Jejak positivisme dalam sains ekonomi masih terlihat. Hal ini dapat kita lihat dari asumsi dasar berbagai aliran ekonomi di atas. Diantara pilar-pilarnya adalah: (1) kesatuan dari metodologi ilmiah, (2) mencari sebab-akibat dari manusia (3) percaya kepada empirisisme (4) sains dan prosesnya adalah bebas nilai (5) pondasi sains adalah logika dan matematika. Tentunya, hal tersebut mengesampingkan fakta-fakta non empiris yang berada di balik sains tersebut, apalagi segi metafisik. 40

Perkara ilmu dan sains, terdapat perbedaan yang menyolok antara definisi ilmu dalam Islam dan pandangan Barat. Istilah ilmu dalam epistemology Islam mempunyai kemiripan dengan istilah science dalam epistemology Barat. Pengertian ilmu sebenarnya tidak jauh beda dengan sains, hanya sementara sains dibatasi pada bidang-bidang fisik atau inderawi, ilmu melampauinya pada bidang-bidang non-fisik seperti metafisika.41

Namun ternyata definisi sains di Barat telah mengalami pergeseran makna. Sains pada masa awal abad 19 difahami sebagai sebagai any organized knowledge yang termasuk juga teologi. Lama kelamaan makna sains berubah menjadi yang intinya adalah sesuatu yang bisa diverifikasi secara empiris (fisik) dan rasional.42

Elements in Human Life: the Cosmic Past of Humanity and the Mistery of Evil, (Malta: Gutenberg Press Ltd., 1988) hlm. 13-17

40 sebagaimana disebutkan: The characteristic theses of positivism are that science is the only valid knowledge and facts the only possible objects of knowledge; the basic affirmations of positivism are:

(1) that all knowledge regarding matters of fact is based on the “positive” data of experience, and (2) that beyond the realm of fact is that of pure logic and pure mathematics. The Positivists became noted for their repudiation of metaphysics; i.e., of speculation regarding the nature of reality that radically goes beyond any possible evidence that could either support or refute such knowledge claims. Positivism is thus, worldly, secular, anti-theological, and anti-metaphysical. lihat dalam McMillan Reference, Encyclopedia of Philosophy, (Thomson Gale : Fermingston Hill, 2006) vol 7, hlm. 710

41 Budi Handrianto dalam buku Islamic Science: Paradigma, Fakta, dan Agenda (Insist: Jakarta, 2016) hlm. 58-59

42 Hal ini telah diteliti oleh Mulyadhi Kertanegara: bahwa penyetaraan makna ilmu dan sains

(10)

Karena adanya fenomena sekularisasi tersebut, muncullah tokoh-tokoh cendekiawan muslim yang menanggapi tentang isu tersebut. Hal ini dikarenakan bahwa sekularisasi disebar luaskan ke berbagai negara dan agama-agama. Sehingga banyak cendekiawan yang meresponnya. Islamisasi memiliki makna yang merujuk pada asal kata ‘Islam’. Islam secara bahasa dari kata 'salima-yaslamu' yang berarti selamat dan bebas, yakni bebas dari aib dan celaka.43 Sedangkan ber'Islam', yakni adalah masuk Islam, yang

mana mengikhlaskan din (agama) karena Allah.44 Islamisasi sendiri, menurut al-Attas

bermakna “pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, tradisi nasional-kultural yang bertentangan dengan Islam dan dan sesudah itu dari pengendalian sekularisasi terhadap nalar dan bahasanya”.45

Secara khusus, islamisasi ilmu menurut al-Attas dimaknai sebagai pembebasan ilmu dari penafsiran-penafsiran yang didasarkan pada ideologi sekuler, dari makna-makna serta ungkapan-ungkapan manusia-manusia sekuler, Pembuangan unsur-unsur asing dari semua cabang ilmu mengacu terutama pada ilmu-ilmu kemanusiaan, meskipun mesti juga diperhatikan bahwa dalam ilmu-ilmu alam juga terdapat istilah dan penafsiran fakta yang bersifat sekuler.46

Metodenya adalah dengan mengisikan konsep-konsep Islam47 ke dalam disiplin

ilmu tersebut, setelah sebelumnya mengisolasi atau membuang konsep asing yang bertentangan dengan Islam. Ilmu yang sudah diislamisasikan masih perlu diformulasikan untuk dibuat tingkatan dan strukturnya untuk dapat diletakkan dalam sistem edukasi yang sesuai dengan tempatnya (beradab). Karena ada sebagian dari ilmu tersebut yang berposisi sebagai fardhu kifayah dan ada juga yang fardhu ain.48

Sedangkan menurut al-Faruqi, Islamisasi ilmu adalah:

43 Louis Ma’luf, al-Munjid…, hlm. 347

44 Jumhûriyyah Al-‘Arobiyyah Misra, al-Mu’jam al-Wasith, (Mesir: Maktabah as-Syurûq ad-Dauliyyah, 1425 H 2004 M) hlm. 446

45 sebagaimana dikutip: “liberation of man first from magical, mythological, animistic islamization is the liberation of man first from magical, mythological, animistic, national—cultural tradition opposed to Islam, and then from secular control over his reason and his language.” lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and…, hlm. 44 lihat juga Bernhard Platzdasch dan Johan Saravamuttu (editor), Religious Diversity in Muslim-majority States in Southeast Asia: Areas of Toleration and Conflict, (Singapura: Institute of Southeast Asian Studies, 2014) hlm. 254

46 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam terjemahan Haidar Baqir, (Mizan: Bandung, 1984) hlm. 90-91

47 Konsep Islam tersebut diantaranya adalah konsep agama (din), konsep manusia (insan), konsep pengetahuan (ilm dan ma'rifah), konsep kebijaksanaan (hikmah), konsep keadilan ('adl) konsep perbuatan baik (amal dan adab) konsep universalitas (kulliyah-jami'ah) sebagaimana diderivasi dari al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW. lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism…, hlm. 163

(11)

“membentuk/mencetak ulang ilmu tersebut untuk menyesuaikan dengan Islam… sebagian prosesnya berupa pendefinian ulang dan tinjauan ulang terhadap data ang digunakan, memikirkan kembali argument-argumen yang sesuai untuk data tersebut. Selanjutnya dilakukan evaluasi ulang untuk menyimpulkan kembali hal yang telah ada, serta memberikan tujuan dan proyeksi yang baru. Cara ini meningkatkan visi sebuah disiplin ilmu.”49

Tujuan dari rencana kerja Islamisasi al-Faruqi adalah sebagai berikut: 1) Penguasaan disiplin. 2) Penguasan Khazanah Islam. 3) Penentuan relevansi Islam bagi masing-masing bidang ilmu modern. 4) Pencarian sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan ilmu modern. 5) Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah SWT.50

Menurut al-Faruqi, untuk merealisir tujuan tersebut, ada sejumlah langkah yang harus dilakukan. Langkah-langkahnya adalah: 1) Penguasaan disiplin ilmu modern (penguasaan kategoris). 2) Survey disiplin ilmu. 3) Penguasaan khazanah Islam, sebuah antologi. 4) Penguasaan khazanah ilmiah tahap analisa. 5) Penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin ilmu. 6) Penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern: tingkat perkembangannya di masa kini. 7) Penilaian kritis terhadap khazanah Islam pada tingkat perkembangannya. 8) Survey permasalahan yang dihadapi umat Islam. 9) Survey permasalahan yang dihadapi umat manusia. 10) Analisa kreatif dan sintesa. 11) Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam 12) Penyebaran ilmu-ilmu yang diislamiskan.51

Karena dalam kasus Islam, dari konsep Tuhan timbul konsep-konsep lain seperti konsep Wahyu (al-Qur’an), penciptaan, hakikat kejiwaan manusia, ilmu, agama, kebebasan, nilai dan kebajikan, kebahagiaan dan lainnya. Konsep-konsep tersebut saling berkaitan dan membentuk sistem metafisika dan worldview yang selanjutnya menjadi penafsir bagi makna kebenaran (truth) dan realitas (reality). Struktur tersebut berperan dalam menerima dan menolak pengetahuan yang diperolehnya secara selektif. Artinya ketika akal seseorang menerima pengetahuan, terjadi proses seleksi yang alami, di mana pengetahuan tertentu diterima dan yang lainnya ditolak. Penerimaan atau penolakan tersebut didasari karena pandangan hidupnya tentang realitas dan kebenaran tersebut. Seorang muslim bisa mengetahui liberalisasi atau sekulerisasi tanpa menjadi liberal dan sekuler karena dasar berfikirnya yang sudah kokoh. Sebaliknya, jika dasar berfikirnya (baca: worldview) tidak kokoh maka ia bisa saja beridentitas muslim tapi pengetahuannya liberal dan sekuler.52

49 The International Institute of Islamic Thought, Islamization of Knowledge: General Principles

and Work Plan, (Herndon: The International Institute of Islamic Thought (IIIT), 1989) hlm. 18-20

50 Ismail Raji’ al-Faruqi, Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan

(12)

Membicarakan konsep ekonomi Islam zaman sekarang merupakan keharusan. Meningkatnya kesadaran bahwa sistem riba bunga bank, penimbunan, dan berbagai praktik yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dari segi nilai-nilai keislaman. Untuk menyebut beberapa nama seperti ulama dari zaman Abu Yusuf (w. 798), asy-Syaibani (w. 804), imam al-Ghazali (w. 1111) Ibnu Khaldun (w. 1406), al-Maqrizi (1441) hingga kontemporer seperti Umer Chapra (1983-1989), Abdul Mannan, Monzer Kahf, Yusuf Qardhawi, dan lainnya.

Masih banyak kalangan ilmuwan baik ilmuwan Barat maupun ilmuwan muslim sendiri yang masih meragukan bahkan menafikan adanya sains Islam. Mereka mengatakan bahwa sains itu netral, sehingga tidak ada sains Hindu, Buddha, dan lainnya. Sebagaimana yang diyakini oleh Abdussalam, seorang saintis muslim penerima hadiah Nobel di bidang Fisika tahun 1980-an.53 Pendapat ini juga dipegang oleh Fazlur Rahman

yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa diislamkan karena tidak ada yang salah di dalam ilmu pengetahuan, masalahnya hanya dalam penyalahgunaan. Menurutnya, ilmu pengetahuan ibarat “senjata bermata dua” yang mesti digunakan dengan hati-hati dan bertanggungjawab sekaligus menggunakan dengan benar.54

Tidak untuk menyalahkan pendapat para ilmuwan tersebut, namun perkara netralitas sains yang sudah menjadi perdebatan sejak dulu hendaknya segera diakhiri. Perkembangan dalam kajian filsafat ilmu akhirnya menguak hal-hal tersebut, bahwa setiap disiplin ilmu memiliki landasan filosofis. Landasan filosofis tersebut adalah kerangka teori (theoretical framework), paradigma keilmuan, dan asumsi dasar. Ketiga hal tersebut memang tidak serta merta bisa terlihat secara praktis, namun sangat jelas menentukan “corak” ilmu yang dihasilkan. Suatu paradigma juga lahir dari asumsi dasar tertentu, begitu pula dengan teori yang dihasilkan.55 Artinya, ketika kita bandingkan fakta

urgensi sekularisasi di peradaban Barat, bukan berarti sekularisasi juga harus diterapkan

52 Hamid Fahmy Zarkasyi dalam buku Islamic Science: Paradigma, Fakta, dan Agenda (Insist: Jakarta, 2016) hlm. 16

53 sebagaimana dinyatakan: “There is only one universal science, its problems and modalities are

international and there is no such as Islamic science just as there is no Hindu science, no Jewish science, no Confucian science, nor Christian science.” dalam Pervez Hoodboy, Islam & Sains: Pertarungan Menegakkan Rasionalitas, (Bandung: Pustaka, 1997) hlm. vi

54 Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad

Naquib al-Attas, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998) hlm. 398

55 Menurut Dr. Mohammad Muslih: “bahwa setiap teori memiliki kerangka kerja yang lazim disebut

metodologi, dan berbeda teori akan berbeda metodologinya. Dalam kegiatan keilmuan, metodologi harus dipahami sebagai ‘kacamata’ atau perspektif dalam membaca, memahami dan menafsirkan objek ilmu pengetahuan, sehingga fakta dapat ditata dan dipetakan menjadi data yang sesuai dengan karakternya.”

(13)

dalam studi Islam. Ini karena setting sejarah dan tradisi keilmuannya berbeda, selain itu dalam kajian worldview, bahwa Islam dan Barat bukan peradaban yang sama.

Penutup

Setelah berbagai uraian di atas, kita dapat simpulkan bahwa ilmu ekonomi termasuk dalam paradigma sains sosial. Secara historis, terdapat fakta bahwa perkembangan ilmu ekonomi terbagi menjadi dua, yakni menurut tradisi peradaban Barat dan Islam. Namun saat ini masih banyak yang belum menyadari perbedaan antara keduanya.

Berdasarkan kajian di atas, kita dapat membedakan antara ilmu ekonomi di Barat dan ekonomi Islam yang telah ada. Kita tentu sering mendengar bahwa konsep ekonomi Islam melarang praktik yang tidak sesuai dengan hukum syariat Islam. Inilah perbedaan secara praktis, meski hanya terlihat dalam beberapa sisi saja. Namun jika kita singkap asumsi dasar dan paradigma filosofisnya, nampak terlihat bahwa perbedaan keduanya adalah pada tataran landasan filosofis hingga metodologinya.

Kajian ini tentu menemukan hal yang penting, bahwa urgensi sekularisasi ilmu sosial di Barat tidak harus diterapkan juga dalam tradisi keilmuan Islam. Bahkan dalam Islam juga terdapat urgensi Islamisasi untuk ilmu kontemporer yang berasal dari Barat. Inilah yang seharusnya terjadi. Karena setiap peradaban sebenarnya dapat berdialog dan bertukar hal-hal yang bermanfaat bagi keduanya, namun tetap mempertahankan identitasnya.

Bagi seorang muslim, tentu ia wajib menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan yang sesuai untuk tradisi keilmuannya. Ia tidak harus mengambil semua konsep ilmu yang ada di depannya, hingga pandangan hidup Barat itu sendiri. Justru pandangan hidup Islamnya yang akan mampu membuat ia mengambangkan keilmuan itu untuk dapat sesuai dengan tradisi dan pandangan peradaban Islam.

Daftar Pustaka

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought, 1993)

(14)

Al-Faruqi, Ismail Raji’, Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan terjemahan Anas Mahyuddin, (Bandung: Penerbit Pustaka, 2003) cet. III

Barber,William J, A History of Economic Thought, (New York: Penguin Books Ltd, 1967)

Birx, H James, (ed. in chief), Encyclopedia of Time: Science, Philosophy, Theology, & Culture, (California: Sage Publication, 2009)

Bunnin, Nicholas dan Jiyuan Yu, The Blackwell Dictionary of Western Philosophy, (Malden: Blackwell Publishing, 2004)

Darity, William A. (ed. in chief), International Encyclopedia of the Social Sciences, (New York: Macmillan Reference, 2008)

Friedman, Richard Elliot, Who Wrote the Bible, (New York: Perennial Library, 1989)

Gates, Donald, Altruism ini the Context of Economic Rationalistic Ideologies and System of Healthcari and Welfare Delivery: a Multidiciplinary Approach, (Morrisville: Lulu.com, 2006)

Gras, N.S.B, The Development of Metropolitan Economy in Europe and America (a paper read at the St. Louis meeting of the American Historical Association 29 December 1921) in JSTOR Journal hlm. 695 at https://ia601902.us.archive.org/31/items/jstor-1837536/1837536.pdf

Gutierrez, Gustavo A Theology of Liberation: History, Politics and Salvation (translated and edited by Sister Caridad Ida), (Maryknoll: Orbis Books, 1988)

Handrianto, Budi dalam buku Islamic Science: Paradigma, Fakta, dan Agenda (Insist: Jakarta, 2016)

Hoodboy, Pervez, Islam & Sains: Pertarungan Menegakkan Rasionalitas, (Bandung: Pustaka, 1997)

Hornby, Albert Sidney, Oxford advanced Learner’s Dictionary of Current English, (England: Oxford University Press, 2005) sixth edition

Husaini, Adian, Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal?, (Ponorogo: Centre for Islamic and Occidental Studies, 2007)

Jumhûriyyah Al-‘Arobiyyah Misra, al-Mu’jam al-Wasith, (Mesir: Maktabah as-Syurûq ad-Dauliyyah, 1425 H 2004 M)

(15)

Ma’luf, Louis, al-Munjid fi-al-Lughoh wa-al-A’lam, (Daar al-Masyriq: Beirut, 2002) cet. 39

McMillan Reference, Encyclopedia of Philosophy, (Thomson Gale : Fermingston Hill, 2006) vol. 7

Mcmillan Reference USA, Encyclopedia of Philosophy (edited by: Donald M. Borchert), (New York: Thomson-Gale, 2006) vol. 5

McMillan Reference, International Encyclopedia of the Social Sciences, 2nd edition, (Thomson Gale : Fermingston Hill, 2008) vol 2

Metzger, Bruce M. A Textual Commentary on the Greek New Testament”, (Stutgard: United Bible Societies, 1975)

Peck, Scott, The Road Less Travelled, (London: Arrow Books Ltd, 1990)

Platzdasch, Bernhard dan Johan Saravamuttu (editor), Religious Diversity in Muslim-majority States in Southeast Asia: Areas of Toleration and Conflict, (Singapura: Institute of Southeast Asian Studies, 2014)

Rutherford, Donald, Routledge Dictionary of Economics (London: Taylor & Francis Group, 2002) second edition

Sage Publication, The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods (edited by Lisa M. Given), (Sage Publication Inc: California, 2008) vol. 1-2

Scruton, Roger, The Palgrave Macmillan Dictionary of Political Thought ( New York: Palgrave Macmillan press, 2007) third edition

Steiner,Rudolf, Eternal and Transient Elements in Human Life: the Cosmic Past of Humanity and the Mistery of Evil, (Malta: Gutenberg Press Ltd., 1988)

The International Institute of Islamic Thought, Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan, (Herndon: The International Institute of Islamic Thought (IIIT), 1989)

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Pusat Bahasa: Jakarta, 2008)

Tim Redaksi Pusat Bahasa, Tesaurus Bahasa Indonesia, (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta, 2008)

(16)

Wan Daud, Wan Mohd, Nor The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998)

Referensi

Dokumen terkait

Namun, selain itu, hasil analisis tersebut juga dapat memperlihatkan (1) korelasi antar-bidang penelitian (interdisipliner); (2) hubungan relasi makna antar-kata kunci

Hal ini didasarkan pada pereobaan ketiga dimana pereepatan tumbuh minggu pertama pada konsentrasi 1 ppm dan 1.5 ppm adalah yang terbesar namun perlu di­ paeu lagi dengan

Dengan menggunakan nlai parameter ini, hibridisasi GA-SA pada optimasi permasalahan Multi-trip VRPTW dapat menghasilkan nilai rata-rata fitness yang lebih baik daripada

Sedangkan pada rasio 9,5-10,5 kkal/g protein, walaupun ikan memanfaatkan lemak pakan lebih efisien tetapi karena terbatasnya jumlah pakan yang dikonsumsi maka pada rasio energi

Menerima bukti kas keluar lembar 3 dilampiri dengan daftar upah lembar 2 yang telah dicap lunas dan kartu penghasilan karyawan dari bagian kasa.. Mengarsipkan bukti kas keluar

Untuk kriteria berkembang sesuai harapan (BSH) mengalami peningkatan yaitu 42,86% pada pertemuan pertama, meningkat menjadi 52,39% pada pertemuan kedua, dan pada

Kemudian setelah lubang terisi tutup tabung menggunakan batu bata, usahakan batu bata tertanam rata dengan permukaan tanah supaya tidak membahayakan orang yang

Siswa memberikan respon terhadap pembelajaran yang menggunakan inkuiri terbimbing berkategori baik, karena 57% siswa sangat setuju dan 43 siswa setuju bahwa siswa merasa