ASPEK HUKUM PERDATA TERHADAP
PEMBERITAAN MEDIA YANG TIDAK BENAR
1. FARA SEARA DIVA SYAHRIAL
2. GABRIEL GREGORYAN
3. HALIMAH ASIH RUKMINI
4. HERI APRIANUS KARTONO NGGARO
5. JALIAH
6. M INDRA ARIADINANANTA
8. PUTRI ENI NURJANNAH
9. RACHMA RIZKYANI
10.RIKA PUSPITA SARI
11.TITI RISKANA
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ……… …
i
DAFTAR ISI ………..
2
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ……….. 3
B. Rumusan Masalah …………... 6
BAB II : PEMBAHASAN MASALAH
A. Tanggung Jawab Media Terhadap Pemberitaan Yang
Tidak Benar....………..
B. Upaya Yang Ditempuh Oleh Pihak Yang Dirugikan………
8
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan …………... 12
C. Saran ………... 13
BAB I
PENDAHULUAN
1. A. LATAR BELAKANG MASALAH
Manusia pada masa kini tidak terlepas dari kebutuhan untuk memperoleh informasi. Informasi yang tersaji di
bidang yang menaruh perhatian pada penyebaran berita dan opini mengenai masyarakat. Dalam dunia jurnalistik modern terdapat empat jenis penyebaran informasi yaitu surat kabar, radio, televisi, dan internet. jurnalistik adalah pers yang berasal dari bahasa Belanda yang memiliki makna komunikasi yang dilakukan dengan perantara barang cetakan. Istilah pers
digunakan untuk merujuk semua kegiatan jurnalistik, terutama kegiatan yang berhubungan dengan menghimpun berita, baik oleh wartawan media elektronik maupun oleh wartawan media cetak. Berita adalah bagian dari realitas sosial yang dimuat media karena memiliki nilai yang layak untuk disebarkan pada masyarakat.
Di era globalisasi perkembangan media massa sangatlah pesat. Baik itu media massa cetak seerti koran, majalah dan tabloid maupun media elektronik seperti televisi, Radio dan Internet. Saat ini kehidupan masyarakat di seluruh Dunia, bahkan masyarakat Indonesia pun tidak lepas dari yang namanya akses Informasi dan komunikasi dari media massa. Karena sudah menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi dalam kehidupan sosial bermasyarakat untuk mengakses informasi baik seputar lingkungan masyarakat sekitar, keadaan Negara maupun mancanegara.
pribadi dan konsepsi peran para pekerja media, rutinitas pekerjaan media, struktur dan budaya organisasi media, hubungan antara media dengan institusi sosial lainnya serta kekuatan ideologi dan budaya yang luas. Masyarakat
memandang berita sebagai sebuah fakta di lapangan yang kemudian disajikan apa adanya oleh media.
Hal ini menyebabkan masayarakat merasa terkejut saat menyaksikan apa yang ditayangkan di media ternyata tidak sama dengan apa yang mereka saksikan. Dengan kata lain, apa yang ditampilkan media sudah melalui berbagai proses
sehingga hasilnya tidak utuh lagi seperti fakta. Memang, tidak semua fakta bisa ditampilkan utuh dalam berita, tapi paling tidak campur tangan atau rekayasanya tidak terlalu
menyimpang dari kondisi yang sesungguhnya. Dengan demikian, masyarakat harus menyadari berbagai pengaruh yang dihadapi media dalam menyampaikan sebuah berita.
Pers diberikan kebebasan dalam menyampaikan berita, kebebasan tersebut diikuti dengan kewajiban-kewajiban.
Dengan kata lain, tuntutan kebebasan pers berlaku tanpa batas. Maksud dan tujuan kebebasan pers di Indonesia adalah
menciptakan pers yang sehat, yaitu pers yang bebas dan bertanggung jawab guna mengembangkan suasana saling percaya menuju masyaakat terbuka yang demokratis dengan mekanisme interaksi positif antara pers, pemerintah dan masyarakat.
menuntut pers untuk mempertanggungjawabkannya.
Penelitian ini akan mengkaji dan membahas tanggung jawab media dalam memuat berita yang tidak benar.
1. B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
Bagaimana tanggung jawab media terhadap pemberitaan
yang tidak benar?
Apa upaya yang ditempuh oleh pihak yang dirugikan
BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
2. A. TANGGUNG JAWAB MEDIA TERHADAP PEMBERITAAN YANG TIDAK BENAR
Pers diberikan kebebasan dalam mepublikasikan atau
adalah fakta. Jika ada pihak merasa dirugikan dengan
pemberitaan mengenai fakta tersebut, maka penyelesaiannya setelah tidak dapat dikompromikan misalnya dengan
pemuatan hak jawab tidak dapat diompromikan misalnya ke pengadilan, dan diselesaikan dengan peradilan perdata.
Tanggung jawab media dalam memuat berita yang tidak benar dilakukan berdasarkan KUHPerdata yang diatur dalam pasal 1365, yaitu media cetak maupun media elektronik wajib membayar ganti rugi atas kerugian yang ditimbulkan oleh
berita yang diterbitkan tersebut, baik kerugian materil maupun kerugian imateril.
Kemudian berdasarkan pasal 1366 BW, yaitu media cetak atau media elektronik bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena pemberitaan yang tidak benar, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaiannya atau kurang hati-hatinya. Tanggung jawab tersebut muncul setelah pihak yang dirugikan melakukan gugatan ke pengadilan berdasarkan perbuatan melawan hukum dan tanggung jawab tersebut diambil alih
pimpinan redaksi pada masing-masing departemen yang bersangkutan.
Mengenai siapa yang bertanggung jawab terhadap
pemberitaan yang merugikan pihak lain, bahwa secara teknis hukum, perusahaan pers harus menunjuk penanggung
jawabnya, yang terdiri dari 2 (dua) bidang yaitu, penanggung jawab bidang usaha dan penanggung jawab bidang redaksi. Mekanisme pertanggungjawaban yang dilakukan oleh
wartawan diambilalih oleh perusahaan pers yang diwakili oleh penanggung jawab itu.
Mangku Pastika menggugat secara perdata Bali Post dengan kerugian immateriil mencapai Rp. 150 milyar dan kerugian materiil dengan gugatan senilai Rp. 170 juta.
2. B. UPAYA YANG DITEMPUH OLEH PIHAK YANG DIRUGIKAN
Dalam banyak kasus, sesungguhnya wartawan Indonesia telah menyadari dan selalu mempertimbangkan prinsip-prinsip kelayakan suatu berita. Tetapi mengapa selalu saja ketika wartawan telah melakukan yang terbaik dan seobyektif mungkin, masih muncul “perlawanan” yang tidak pada
tempatnya yang dilakukan oleh anggota masyarakat? Namum seobyektif-obyektifnya pers meliput peristiwa, masih saja ada yang menilai secara subyektif. Hal yang lumrah tentunya,
mengingat pers hanyalah sebuah medium. Yang dengan segala keterbatasannya, harus melakukan keputusan untuk memilih dan menentukan bentuk sajiannya. Maka tidak mengherankan jikalau kemudian muncul tuduhan-tuduhan pers oleh pihak yang dirugikan. Kalau saja tuduhan itu berupa komentar bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika peristiwa itu diangkat oleh wartawan, pihak yang dirugikan melakukan “penikaman” dengan cara yang sangat tidak terpuji. Upaya yang ditempuh oleh pihak yang dirugikan apabila ada pemberitaan yang tidak benar adalah dengan cara mengajukan upaya keberatan kepada media cetak untuk meminta
(perdata) ke pengadilan, haruslah dibuktikan lebih dahulu bahwa pers yang menyiarkan berita tersebut memang terbukti tidak melayani hak jawab.
Urutan langkah hukum yang adalah, pertama-tama pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan sebuah media, hak jawablah yang seharusnya diajukan terlebih dahulu kepada media. Sesuai kamus Bahasa Indonesia maka hak adalah kepunyaan, kekuasaan untuk berbuat atau suatu wewenang menurut hukum. Sehingga dengan demikian, karena hak jawab merupakan hak, kepunyaan, kekuasaan orang dirugikan maka penggunaan hak tersebut tidak dapat dipaksakan atau bukan karena suatu kehendak, kekuasaan atau pernyataan yang dipengaruhi untuk digunakan oleh orang yang dirugikan, namun sebaliknya pers berkewajiban melayani hak jawab orang yang dirugikan manakala orang yang dirugikan
menggunakan hak jawabnya. Siapapun yang merasa dirugikan oleh pemberitaan pers, oleh Undang-undang pers dijamin dan diberi hak jawab. Karena hak maka boleh digunakan, boleh juga tidak. Itupun jika seseorang yang dirugikan menggunakan hak jawabnya dan manakala dia kurang puas boleh memproses secara hukum melalui pihak berwajib secara pidana dan secara perdata langsung ke Pengadilan. Dan tanpa atau dengan
menggunakan hak jawab, seseorang tetap boleh berproses atau mengajukannya ke proses hukum atau kepada yang berwajib.
Jika hak jawab ini tidak dilayani atau pihak yang dirugikan merasa masih tidak puas, pihak yang dirugikan harus
mengirim somasi sampai tiga kali. Sama halnya dengan hak jawab maka somasi merupakan hak yang melekat pada orang yang merasa dirugikan. Penggunaan hak tersebut tidak dapat dipaksakan atau tidak ada suatu kehendak, kekuasaan atau pernyataan yang dapat mempengaruhi sesorang untuk
ajakan kepada “Pimpinan Redaksi” atau “Perusahaan Pers” untuk menyelesaikan kesalahan pemberitaannya secara damai dan kekeluargaan yang dapat saja berisi permintaan
permohonan maaf dan pemuatan atas kekeliruan atas berita atau “hak koreksi berita”. Selama ini “somasi” dianggap dapat memberikan kepuasan kepada pihak yang merasa dirugikan jika hal itu dilakukan oleh perusahaan pers. Diantara hak jawab dengan somasi, maka hak jawab banyak dikehendaki
perusahaan pers sedangkan somasi banyak dikehendaki
masyarakat dari pihak yang merasa dirugikan. Namun kembali kepersoalan bahwa oleh karena somasi merupakan hak
masyarakat atau orang yang dirugikan maka penggunaan hak tersebut tidak dapat dipaksakan atau tiada suatu kehendak, kekuasaan lebih-lebih pernyataan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi korban menggunakannya haknya.
Jika somasi tidak dilayani, pihak yang merasa dirugikan dapat melaporkan kasusnya ke polisi. Pihak yang dirugikan juga dapat mengadukan kepada dewan pers melalui PWI. Selanjutnya PWI akan memanggil pihak-pihak yang
BAB III
PENUTUP
3. A. KESIMPULAN
informasi yang memungkinkan masyarakat membuat penilaian terhadap sesuatu masalah yang mereka hadapi. Jurnalistik tak boleh menyalahgunakan kekuasaan untuk motif pribadi atau tujuan yang tak berdasar. Kebebasan berbicara dan
menyatakan pendapat adalah milik setiap anggota masyarakat (milik publik) dan jurnalistik menjamin bahwa urusan publik harus diselenggarakan secara publik. Jurnalistik harus
berjuang melawan siapa saja yang mengeksploitasi pers untuk keuntungan pribadi atau kelompok. Ketika media pers
menyajikan pemberitaan yang tidak benar maka media pers harus bertanggung jawab berdasarkan KUHPerdata yang diatur dalam pasal 1365, yaitu media cetak maupun media elektronik wajib membayar ganti rugi atas kerugian yang ditimbulkan oleh berita yang diterbitkan tersebut, baik kerugian materil maupun kerugian imateril. Kemudian berdasarkan pasal 1366 BW, yaitu media cetak atau media elektronik bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena
pemberitaan yang tidak benar, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaiannya atau kurang hati-hatinya.
3. B. SARAN
Setelah mengetahui bagaimana aspek hukum perdata
terhadap pemberitaan media yang tidak benar hendaknya pers dapat lebih pandai ataupun teliti dalam menyajikan berita