• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Iklan Rokok terhadap Masyarakat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Iklan Rokok terhadap Masyarakat"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

BAB I

LATAR BELAKANG

Kreativitas adalah faktor penting dalam trend iklan sekarang ini. Baik secara komersial maupun non komersial, periklanan sekarang lebih banyak menampakkan wajah kreatifnya daripada wajah informatif dan persuasifnya. Tentu bukan hal mudah untuk memunculkan ide kreatif dalam sebuah iklan, dibutuhkan olah pikir yang serba ekstra untuk mendapatkan gagasan dan ide yang bisa dituangkan ke dalam iklan sehingga menghasilkan iklan yang tidak hanya kreatif, namun mampu menimbulkan “wow effect” ,juga bermanfaat secara kualitatif untuk kepentingan profit produsen.

Industri Tembakau sendiri, merupakan salah satu pemasok iklan terbesar di Industri periklanan Indonesia. Tercatat 92 persen ketertarikan iklan rokok melalui tayangan televisi sedangkan 70,63 persen melalui poster. Sebanyak 70 persen juga kerap tertarik melihat promosi rokok pada pentas acara musik, olahraga dan kegiatan sosial lainnya. Selain itu juga, terdapat salah satu pengiklanan yang lebih lihai yakni melalui penawaran sampel Rokok.

Namun dengan banyaknya Undang-undang yang mengatur Iklan Tembakau, seperti: Iklan Rokok hanya boleh ditayangkan antara pukul 21:00-05:00, Diharuskannya pencantuman peringatan bahaya Rokok, Dilarang menggunakan kata-kata yang persuasif, dan diarangnya penggunaan Foto/Gambar yang menampilkan Rokok, atau Seseorang yang sedang merokok. Membuat Industri Rokok memutar Otak untuk menaikkan terus jumlah Perokok, dan meningkatkan Loyalitas Pelanggan Rokok tersebut.

(4)

BAB II

DESKRIPSI OBYEK

Iklan atau dalam Bahasa Indonesia formalnya ialah pariwara adalah promosi benda seperti barang, jasa, tempat usaha, dan ide yang harus dibayar oleh sebuah sponsor. Sedangkan, Rokok ialah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya. Maka, Iklan Rokok ialah Promosi benda berupa batangan kertas berisi cacahan tembakau, entah melalu Media Elektronik, Media Cetak, ataupun Promosi secara langsung lewat Acara-acara Seni, Sosial, dll, maupun melalui Distributor-distributor Rokok.

Suku bangsa Indian di Amerika dikenal sebagai Manusia pertama di Dunia yang

Merokok, Suku Indian merokok untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Kemudian Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kebiasaan merokokpun mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Lalu pada Abad 17, para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk ke negara-negara Islam.

Menurut riset 51,1 persen rakyat Indonesia adalah perokok aktif, tertinggi di ASEAN dan sangat jauh bedanya dengan negara-negara tetangga, misalnya: Brunei Darusallam 0,06% dan Kamboja 1,15%. Pada tahun 2013, 43,8% perokok berasal dari golongan lemah; 37,7% perokok hanya memiliki ijazah SD; petani, nelayan dan buruh mencakup 44,5% perokok aktif. 33,4% perokok aktif berusia di antara 30 hingga 34 tahun. Bagusnya hanya 1,1% perempuan Indonesia adalah perokok aktif, walaupun tentunya perokok pasif akan lebih banyak.

Telah banyak riset yang membuktikan bahwa rokok sangat menyebabkan

ketergantungan, di samping menyebabkan banyak tipe kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan, penyakit pencernaan, efek buruk bagi kelahiran, dan emfisema.

(5)

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1 Definisi Dasar Iklan

Menurut pendapat Durianto (2003 : 1) pengertian iklan adalah merupakan suatu proses komunikasi yang bertujuan untuk membujuk atau menggiring orang untuk mengambil tindakan yang menguntungkan bagi pihak pembuat iklan.

Menurut pendapat Kriyantono (2008 : 174) pengertian iklan adalah sebagai bentuk komunikasi nonpersonal yang menjual pesan-pesan persuasif dari sponsor yang jelas untuk mempengaruhi orang membeli produk dengan membayar sejumlah biaya untuk media.

Menurut pendapat Lee (2004) pengertian iklan adalah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak target melalui media bersifat missal seperti televisi, radio, Koran, majalah, direct mail (pengeposan langsung), reklame luar ruang, atau kendaraan umum.

Berdasarkan pendapat para ahli atau pakar tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa iklan adalah salah satu jenis teknik komunikasi massa dengan membayar ruangan atau waktu untuk menyiarkan informasi tentang barang atau jasa yang ditawarkan oleh si pemasang iklan

3.2 Iklan menurut pandangan Perusahaan dan Konsumen

Ada dua sudut pandang tujuan periklanan, yaitu sudut pandang perusahaan dan sudut pandang konsumen. Dari sudut pandang perusahaan, menurut Robert V. Zacher (Sumartono, 2002:66), tujuan periklanan diantaranya adalah ;

a. Menyadarkan komunikan dan memberi informasi tentang suatu barang dan jasa atau ide.

b. Menimbulkan dalam diri komunikan suatu perasaan suka akan barang dan jasa ataupun ide yang disajikan dengan memberi prefensi kepadanya.

c. Meyakinkan komunikan akan kebenaran tentang apa

yang dianjurkan dalam iklan dan karenanya menggerakan untuk berusaha memiliki atau menggunakan barang atau jasa yang dianjurkan.

Sedangkan dari sudut pandang konsumen, iklan dipandang sebagai suatu media penyedia informasi tentang kemampuan, harga, fungsi produk maupun atribut lainnya yang berkaitan dengan suatu produk.

3.3 Menggali Ideologi dalam Iklan

(6)

pencahayaan, editing, musik dan suara. Anasir-anasir tersebut dapat merepresentasikan makna tentang situasi yang dibangun seperti konflik, karakter, seting dan sebagainya. Level ketiga adalah level ideologi. Sebagai level terdalam, level ini merepresentasikan sejauh mana ideologi yang dibangun dalam sebuah tayangan iklan. Pembaca dapat menilai makna-makna tersembunyi di balik iklan televisi dengan menilai sejauh mana koherensinya dengan situasi sosial (konteks) yang dapat diterima dan masuk akal.

(7)

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Sejarah Periklanan Rokok

Walau Perindustrian Rokok telah lama ada di Dunia, terutama di daerah Eropa, dan Amerika Serikat. Namun, Periklanan Rokok itu sendiri baru dimulai di awal abad 20 melalui Poster-poster bergambar warna-warni yang menarik di Koran-koran, Pamflet, dll.

Kurangnya riset tentang Bahaya Rokok, membuat Masyarakat di masa itu menganggap bahwa Rokok tidak berbahaya, malah justru menyehatkan karena menganggap Tembakau yang terbuat dari Daun Tanaman, pasti sama sehatnya dengan Teh yang juga berasal dari Daun.

Hal-hal ini membuat Perindustrian Rokok di awal Abad 20 berlomba-lomba memasang Iklan yang menyatakan Rokok Produksi mereka ialah paling sehat, di antara lain ada di gambar berikut:

1 Lebih banyak Doktor yang merokok merk "Camels" dibandingkan merk Rokok yang lain Hal ini menciptakan stigma di Masyarakat bahwa Rokok merk “Camels” memiliki lebih banyak Manfaat daripada merk-merk Rokok lain. Selain itu, dengan penggunaan Dokter sebagai Media Iklan, membuat Masyarakat terpancing,

mengingat Doktor adalah Seseorang yang sangat mengerti Kesehatan. Iklan ini sangat sukses di masanya, dan meningkatkan Jumlah Konsumen Rokok Camels di masa itu.

(8)

2 Kiri: Langsung dari Bahu! Kanan: Lihat Faktanya!

Melalui penggambaran-penggambaran ini, muncul bayangan di Mayarakat tentang Rokok sebagai Benda kesehatan, yang dipengaruhi oleh unsur-unsur Level Pertama Penggalian Ideologi Iklan yakni Level “Realitas” yang dikemukakan oleh John Focke.

Setelah banyak ditemukannya riset-riset yang menemukan bahwa Rokok berbahaya, dan mampu mengakibatkan banyak sekali Penyakit-penyakt

mematikan. Maka, Perusahaan-perusahaan Rokok kembali mencari sebuah

Gagasan-gagasan Baru. Di antara lain ialah, gagasan dimana Rokok sebagai Benda yang Maskulin, Cerdas, dan membuat stigma baru bahwa Rokok itu wajib bagi para Seniman, Ilmuan, Para Pria Jantan, dll.

Salah satunya ialah merk Rokok “Marlboro,” Rokok “Light” yang awalnya memfokuskan Rokoknya untuk Konsumen Perempuan. Melalui penggunaan

(9)

3 Semangat Marlboro dalam sebatang Rokok rendah Tar

4.2 Periklanan Rokok di Indonesia

Di Indonesia sendiri, Periklanan Rokok sudah ada sejak awal abad 20, dimana Rokok masihlah sangat tradisional, dan masih melakukan Produksi menggunakan Tangan. Hingga ketika ada kemunculan Industri-industri Rokok Mesin yang

memproduksi secara besarlah, Industri Periklananpun mulai berkembang.

(10)

dikarenakan adanya Undang-undang yang membatasi Isi Konten Iklan-iklan Rokok. Maka, Periklanan Rokok di Indonesia menggunakan Tulisan-tulisan tersembunyi yang persuasif, dan memiliki hubungan dengan Rokok itu sendiri. Seperti contohnya ialah Iklan Gudang Garam dengan slogannya “Pria Punya Selera,” yang membuat Imaji ke Masyarakat bahwa merokok Rokok Kretek Gudang Garam merupakan sebuah tanda Maskulinitas. Sedangkan di Iklan Dji Sam Soe 234, mereka memiliki Slogan “Kesempurnaan dari Keahlian,” yang menandakan Kesempurnaan Racikan Tembakau mereka hasil Industri yang telah berpuluh-puluh tahun telah menguasai Industri Rokok di Indonesia.

Namun, ada juga Perusahaan-perusahaan Rokok yang lain, yang mengiklankan Iklan tentang Motivasi dan Kritik Sosial.

(11)

Salah satu yang fenomenal ialah Program “Bukan Basa Basi” Amild yang dijalankan di antara tahun 1995-2004 diera dimana Demokrasi dan Kritik Sosial sedang berkembang di Masyarakat. Salah satu contohnya ialah Iklan di atas, yang dikeluarkan di Bulan Ramadhan tahun 2002. Si Pengiklan berusaha mengkritik Masyarakat yang hanya Beribadah ketika di Bulan Ramadhan, hal ini dapat dilihat dengan personifikasi Sejadah Sholat yang sedang memegang Tulisan “Apa Kabar? Udah Setahun gak ketemu!”

Lalu semenjak tahun 2007, Amild mengeluarkan Program Iklan baru bertajuk “Tanya Kenapa?” yang bertemakan Kritik-kritik Budaya Sosial di Indonesia yang sepatutnya perlu dipertanyakan.

4 Iklan ini berusaha mengkritik Masyarakat kelas Bawah Indonesia yang selalu bertindak sewenangn-wenang, dan melanggar Aturan atas dasar "Wong Cilik"

(12)
(13)

BAB V

KESIMPULAN

Maka dapat disimpulkan, Iklan-iklan Rokok memiliki dampak yang besar di dalam Masyarakat, yang membuat Imaji tersendiri tentang Rokok. Imaji-imaji tersebut sangat berkaitan dengan Maskulinitas, yang merangsang pemikiran seseorang dan cara pandangnya dari Rokok sebagai Hal yang berbahaya menjadi Rokok sebagai tanda Maskulinitas.

Ketatnya perundang-undangan tentang Periklanan Rokok di Indonesia, memberikan nilai Positif tersendiri, yaitu Periklanan menurut Kotler (2003:1), dimana Iklan-iklan hebat tidak

hanya kreatif, tapi mampu menjual. Kreativitas semata tidak cukup. Periklanan harus dapat lebih berperan daripada hanya sekedar karya seni. Namun bagaimanapun juga seni akan membantu.

Dengan kekreatifan Para Pengiklan, masyarakat menjadi tertarik untuk membahas Iklan dari merk Rokok tertentu, yang sekaligus mengangkat nama Merek Rokok tersebut secara tidak langsung.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Ardiyanto, Elvinaro; & Anees, Bambang Q. 2007. Filsafat Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Berger. Arthur Asa 2000. Media Aanalysis Technique. Second edition. Alih Bahasa Setio Budi HH. Yogyakarta : Penerbit Universitas Atma Jaya. Budiman, Kris. 2011. Semiotika Visual: Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas.Yogyakarta : Jalasutra.

Daymon, Christine; & Holloway, Immy. 2008. Qualitative Research Methods In Public Relations and Marketing Communications. Cahya Wiratama

(penterjemah). Yogyakarta: Bentang.

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analsis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.

Garjito, Murdijati & Erwin, Lilly T. 2010. Serba-Serbi Tumpeng Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hakim, Budiman. 2006. Lenturan Tapi Relevan. Yogyakarta: Galang Press. Hardiman, F. Budi. 1990. Kritik Ideologi Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta: kanisius.

Hardiman, F. Budi. 2009. Menuju Masyarakat Komunikatif : Ilmu, Masyarakat, Politik dan Postmodernisme Menurut Jurgen Habermas. Yogyakarta.

Kanisius.

Hardiyanto. 2009. Modul Perencanaan Kreatif Periklanan: Teknik Kamera untuk Ekseskusi Iklan TV. Jakarta. Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu

Buana.

Jefkins, Frank, 1997, Periklanan, Jakarta: Erlangga.

Kotler, Philip. 2003. Marketing Insight from A to Z; 80 Konsep yang Harus Dipahami Setiap Manajer: By Philip Kotler ; Anies Lastiati (Penterjemah). Jakarta: Erlangga

Kriyantono, Rachmat. 2009. Teknik Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi,

Komunikasi Pemasaran. Cetakan ke-4. Jakarta: Kencana.

Madjadikara, Agus. S. 2004. Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan: Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.

Murniati, Nunuk P. 2004. Getar Gender: Perempuan Indonesia Dalam Perspektif Agama, Budaya dan Keluarga. Magelang: Perpustakaan Nasional.

Napitupulu Diana. 2010. KPK in action. Jakarta: Raih Asa Sukses.

Nawawi, H. Hadari. 1995. Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Noeh, Munawar Fuad. 2005. Kiai di republik Maling. Jakarta: Republika. Noviani, Ratna. 2002. Jalan Tengah Memahami Iklan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pawito . 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LKiS. Piliang, Yasraf, Amir 2003, Hipersemiotika : Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Rangkuti, Freddy. 2009. Strategi Promosi Yang Kreatif dan Analisis KasusIntegrated Marketing Commmunication. Jakarta. Gramedia Pustaka

(15)

Semma, Mansyur. 2008. Negara dan korupsi, pemikiran Mochtar Lubis atas Negara, Manusia, dan Perilaku Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media; Suatu Pengantar untuk Analisis wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Soekamto, Soerjono. 1993. Kamus Soiologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Stokes, Jane. 2006. How to Media and Cultural Studies: Panduan Untuk Melaksanakan Penelitian dalam Kajian Media dan Budaya. Yogyakarta: Bentang.

Strinati, Dominic. 2003. Populer Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Media Elektronik

Adamson. 2011. Kinerja PNS Buruk. http://citraindonesia.com/kinerja-pns-buruk/. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2015

Bali, Adrian. 2011. Iklan Djarum 76 (Versi Korupsi, Pungli & Sogokan) http://www.youtube.com/watch?v=uvSd1KvY3LM. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2015.

Bungalan, Mahendra. 2012, 05 Februari. PNS Paling Banyak Jadi Tersangka Kasus Korupsi. suaramerdeka.com. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2015. Dewobroto, Wisnu. 2011. Kunci keberhasilan PT Djarum Indonesia. http://wisnudewobroto.com/kunci-keberhasilan-pt-djarum/ diakses pada tanggal 10 Oktober 2015

Elexmedia. 2011. Proses Terbentuknya dan Jenis Awan; 1002 Fakta dan Data (Elexmedia) dan sumber lainnya.

http://www.gudangmateri.com/2011/01/proses-terbentuknya-dan-jenisawan. html. Diakses pada 10 Oktober 2015

Hermawan, Anang. 2008. ”Membaca Iklan Televisi: Sebuah Perspektif Semiotika

Referensi

Dokumen terkait

Aktivitas Gempa Vulkanik Gunung Ijen mengalami peningkatan tinggi ditandai dengan peningkatan gempa vulkanik dalam (VA) dan gempa vulkanik dangkal (VB) diikuti oleh tremor

MEKANISME DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK Di dalam ekosistem, organisme perombak bahan organik memegang peranan penting karena sisa organik yang telah mati diurai menjadi

an- Layar PDHUPL- APAJ- 001-03- 10 Pengujian Halaman Aksara Jawa- Sandhang an- Cecak Klik Tombol Sandhang an- Cecak Pilihan Sandhang an- Cecak Masuk ke Halaman

Jika skor tersebut dimasukan ke dalam garis kontinum, maka strategi penetapan harga di Kampung Batu Malakasari menurut persepsi wisatawan berada pada kategori

Pada pasien ini telah dilakukan sebanyak 6x penyinaran dengan interval waktu 3 minggu dan terlihat perbaikan yang ditandai dengan menghilangnya pigmen tattoo

Tentang kesimpulan rumah tangga, sesuai dengan pernyataan al-Qur’an, ar-rijal qawamuna ‘ala an-nisa’, maka para mufassir dan feminis Muslim sepakat menyatakan bahwa laki-laki

Esta planta de marihuana se caracteriza por ofrecer una excelente producción y un vigor sin precedentes, tanto en cultivos de exterior como de interior, donde el cultivador no

Pendataan siswa yang kurang berprestasi di bidang akademik untuk.. mendapatkan bimbingan dari