• Tidak ada hasil yang ditemukan

Performansi Teknis dan Evalusi Ekonomi P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Performansi Teknis dan Evalusi Ekonomi P"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PERFORMANSI TEKNIS DAN EVALUASI EKONOMI PENGERING LISTRIK BIAYA RENDAH UNTUK PETANI/KELOMPOK TANI JAMBU METE

Cahyawan Catur Edi Margana, Sukmawaty, Ahmad Alamsyah dan Satrijo Saloko Fakultas Pertanian, Universitas Mataram

ABSTRAK

Dalam meningkatkan daya saing produk mete, yang merupakan salah satu hasil produksi tanaman lahan kering, baik mete gelondong maupun mete kernel di tingkat lokal, regional maupun internasional perlu diupayakan secara nyata dengan melakukan inovasi teknologi baik teknologi pengolahan maupun teknologi mesin dan peralatan. Petani mete tergantung pada perusahaan besar yang ada baik didalam maupun diluar NTB yang membeli gelondongan, menyortir, mengolah dan menjual ke pasar. Dengan besarnya ketergantungan petani tersebut para petani belum dapat memperoleh nilai tambah yang cukup dari pengolahan mete gelondong ini. Sering kali para petani pada posisi tawar (bargaining position) yang rendah. Untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani mete maka mengusahakan mengolah dan memasarkan dalam bentuk kernel. Produk mete kernel dengan kualitas yang baik memerlukan teknik pengolahan yang baik pula. Salah satu penentu mutu produk mete kernel adalah penggunaan alat pengering terkontrol. Oven listrik terkontrol buatan import relatif sangat mahal sehingga untuk menjawab permasalah tersebut diperlukan pengkonstruksian alat pengering terkontrol dengan biaya rendah (biaya investasi dan biaya operasi) serta dengan performansi teknis sama atau mendekati performansi teknis dari alat pengering impor. Salah satu teknologi pengolahan yang ditawarkan untuk dapat menjawab tantangan tersebut adalah penerapan alat pengering listrik biaya rendah yang dapat terjangkau di tingkat petani/ kelompok tani dan secara ekonomi layak. Uji performansi teknis alat pengering listrik biaya rendah (hasil rancangan Laboratorium Mekanisasi Pertanian, FP, UNRAM) dibandingkan dengan oven listrik impor (“Memmert” Germany) dengan metode eksperimental dengan uji lanjut t-test diperoleh bahwa parameter-parameter teknik Moisture Ratio (MR, desimal), Kadar Air Akhir Pengeringan (Mf, %db), Jumlah air yang diuapkan/kadar air akhir pengeringan (dM/Mf, non dimensi), Kelembaban Relatif (RH, %), Panas Berguna (Qb,

kJ) serta uji organoleptik terhadap parameter-parameter warna, rasa, aroma dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak berbeda nyata pada tingkat signifikansi 5 % untuk masing-masing parameter tersebut kecuali pada parameter Kelembaban Relatif (RH, %) untuk alat pengering yang dikonstruksi mempunyai nilai rata-rata lebih rendah. Sebagai pendukung kelayakan ekonomi penerapan teknologi ini juga diberikan perbandingan besarnya B/C rasio, IRR dan pay back period.

Kata Kunci : Peningkatan pendapatan, oven listrik biaya rendah, evaluasi teknis, produk dan ekonomi.

PENDAHULUAN

Tanaman jambu mete merupakan tanaman yang tidak hanya dapat ditanam pada lahan basah namun juga pada lahan kering. Tanaman jambu mete merupakan tanaman kebun ataupun pada lahan dengan jumlah air tanah yang terbatas. Hasil tanaman jambu mete dapat dipasarkan dalam bentuk gelondong maupun dalam bentuk mete kernel.

Jambu mete merupakan salah satu tanaman hasil budidaya yang mempunyai nilai ekonomis tinggi baik ditingkat pasar di daerah, nasional maupun internasional. Mete merupakan tanaman budidaya yang bersifat musiman. Hasil tanaman jambu mete dapat dipasarkan dalam bentuk gelondong maupun dalam bentuk mete kernel.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (2001), produksi mete di Nusa Tenggara Barat tahun 1997-2000 mencapai 19.165,27 ton. Jambu mete ini merupakan salah satu produk unggulan hasil pertanian Nusa Tenggara Barat. Untuk meningkatkan daya saing produk mete Nusa Tenggara Barat, baik mete gelondong maupun mete kernel ditingkat daerah, regional maupun internasional perlu diupayakan secara nyata dengan melakukan inovasi teknologi baik teknologi pengolahan maupun teknologi mesin dan peralatan.

(2)

keuntungan yang cukup/nilai tambah dari pengolahan mete gelondong ini. Untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani/pengusaha mete maka mengusahakan mengolah dan memasarkan dalam bentuk mete kernel. Harga jual mete gelondong saat ini sebesar Rp. 5500/kg sedang mete kernel sebesar Rp. 45.000,-/kg dengan rendemen 100 kg Gelondong mengahasilkanan 20 kg mete kernel. Sehingga dengan mengusahakan mengolah menjadi mete kernel memperoleh peningkatan pendapatan diatas 100 %. Untuk sementara produksi mete gelondong dilihat dari aspek penanganan maupun pemasaran tidak mendapatkan hambatan meskipun keuntungan pemasaran dalam bentuk gelondong (seperti yang dijelaskan sebelumnya) dirasa masih kecil jika dibandingkan dalam bentuk mete kernel. Karena itu salah satu usaha untuk meningkatkan nilai tambah mete adalah dengan meningkatkan produksi dalam bentuk mete kernel.

Salah satu kunci dalam prosesing mete kernel adalah tahapan pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengeringan secara alami (natural drying) dan pengeringan buatan (artificial drying). Pengeringan secara alami dapat dilakukan dengan cara menjemur dibawah sinar matahari (sun drying) sedangkan pengeringan secara buatan dilakukan dengan menggunakan alat pengering.

Proses pengeringan terjadi karena adanya panas yang dibawa oleh media pengering, yaitu udara sehingga uap air akan dilepaskan dari permukaan bahan ke udara pengering (Brooker and Arkema, 1974). Proses pengeringan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu : 1). Suhu udara, 2) Kelembaban Relatif (Relative Humidity). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengeringan adalah : 1) Kadar air bahan (moisture content), 2). Kadar air keseimbangan (EMC = Equilibrium Misture Content) dan 3) Karaketristik pengeringan.

Persamaan-persamaan dasar yang digunakan dalam pengeringan mekanis adalah sebagai berikut :

Kadar Air Bahan (Moisture Content)

Kadar air suatu bahan dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut (Barre et al, 1988) :

(3)

Laju Pengeringan Menurun (Kd)

dimana : dM/dt = Laju pengeringan menurun (1/jam) M = Kadar air bahan (%, dry basis).

Me = Kadar air keseimbangan bahan dengan udara pengering (%, dry basis). Kd = Konstanta laju pengeringan menurun (1/jam)

Kadar Air Keseimbangan (EMC)

Kadar air keseimbangan (EMC) ditentukan dari rata-rata hasil penimbangan berat konstan biji mete pada saat t pengeringan (% dry basis).

Pengeringan dengan menggunakan alat pengering mekanis (pengering buatan) dengan menggunakan input panas buatan yang memberikan beberapa keuntungan diantaranya tidak tergantung cuaca, kapasitas pengering dapat dipilih sesuai dengan yang diperlukan, tidak memerlukan tempat yang luas, kondisi pengeringan yang dapat dikontrol, lebih higienis, mutu lebih seragam dan kadar air dapat mencapai sesuai dengan standar mutu yang diinginkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik pengeringan mete kernel dan perbandingan alat pengering tipe rak terhadap produk mete kernel dari sisi evaluasi teknis, evaluasi produk serta evaluasi ekonomi.

METODE PENELITIAN

Metode Penelitian dan Rancangan Percobaan

Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap kegiatan yaitu :

a. Tahap penentuan karakteristik pengeringan lapis tipis mete kernel.

b. Tahap uji perbandingan performansi teknis 2 (dua) oven listrik hasil rancang bangun (biaya rendah) dengan oven listrik fabrikasi impor.

c. Tahap evaluasi ekonomi.

Tahap penentuan karakteristik pengeringan mete kernel dilakukan dengan rancangan percobaan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) dimana rak oven sebagai blok, dengan percobaan faktor tunggal yaitu suhu pengeringan (T), yang terdiri dari empat aras. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan oven udaraara panas yang terkontrol dengan batasan waktu yang dibutuhkan bahan untuk mencapai kadar air keseimbangan (EMC).

Adapun perlakuan suhu dengan 4 (empat) aras : T1 = pengeringan dengan suhu 40oC, T2 = pengeringan dengan suhu 50oC, T3 = pengeringan dengan suhu 60oC dan T4 = pengeringan dengan suhu 70oC. Adapun rak oven sebagai blok terdiri atas, rak tengah dan rak bawah. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 12 unit percobaan.

Tahap uji perbandingan teknis 2 (dua) pengering )oven) listrik dilakukan dengan metode eksperimental dengan percobaan laboratorium. percobaan ini terdiri dari dua perlakuan yaitu pengeringan dengan mesin I ( oven listrik fabrikasi impor) dengan mesin II (oven listrik hasil rancang bangun/biaya rendah).

1. Pengeringan dengan mesin I (hasil rancangan fabrikasi import) merk “Memmert” buatan Germany (P).

(4)

Sebaliknya apabila probabilitas > 0.05, berarti tidak ada berbeda nyata antara kedua jenis mesin pengering tersebut terhadap parameter-parameter yang diamati.

Produk mete kernel diujikan pada suhu 40 oC selama 20 jam kemudian dilanjutkan lagi pada suhu 60oC selama 10 jam. Pada suhu dan waktu tersebut mete kernel sudah mencapai hasil yang diinginkan. Adapun prosedur tersebut mengikuti prosedur yang dipergunakan pada industri pengolahan mete kernel (PMA, 2002).

Evaluasi Ekonomi

Tahap evaluasi ekonomi dilakukan pada dua pengering listrik hasil fabrikasi import dengan hasil rancang bangun Laboratorium Mekanisasi Pertanian dengan melihat parameter-parameter ekonomi NPV, B/C rasio, IRR dan pay back period

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Pengeringan Lapis Tipis

Pengeringan merupakan proses dasar dari usaha pengawetan hasil pertanian. Rancangan pengering harus memiliki fungsi sebagai media pengering, yakni dapat mengalirkan udara panas ke sekeliling produk pada suhu yang diinginkan serta kelembaban nisbi udara yang rendah.

Pengeringan lapis tipis di Laboratorium dilakukan dengan menggunakan oven udara panas terkontrol pada suhu 40, 50, 60 dan 70oC. Data pengeringan lapis tipis ini dipergunakan sebagai data pendukung dalam analisis performansi teknis, karena data-data tersebut dipergunakan dalam perhitungan parameter-parameter uji yang diamati.

Dari hasil penelitian di Laboratorium pada tahap pengeringan lapis tipis dengan menggunakan oven udara panas terkontrol pada suhu 40, 50, 60 dan 70oC dihasilkan bahwa parameter Rasio Kadar Air (MR), kelembaban relatif (RH) dan kadar air keseimbangan (EMC), serta parameter pendukung lainnya seperti laju pengeringan (k) dan indeks pengeringan (y) dipengaruhi oleh suhu. Untuk menggambarkan proses yang terjadi digunakan persamaan :

MRexp(kd.t )... (4)

Hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa persamaan karakteristik pengeringan lapis tipis mete kernel diatas diperoleh :

MRexp((2.65590.084*T))... (5)

Persamaan diatas menunjukkan bahwa rasio kadar air bahan berbanding terbalik dengan suhu ruang pengering, sehingga dengan tingginya suhu ruang pengering, maka rasio kadar air bahan semakin rendah, karena banyaknya air yang teruapkan pada suhu tinggi .

Untuk keperluan kalkulasi pada uji performansi mesin dan peralatan pengeringan perlu input data besarnya Kadar Air Keseimbangan (EMC) hubungannya dengan suhu ruang pengering. Hasil penelitian pada tahap penentuan karakteristik lapis tipis diperoleh persamaan sebagai berikut :

753

pengering rendah. Sehingga pada akhir proses pengeringan pada perlakuan suhu tertentu, suhu tinggi maka kelembaban relatif rendah maka kadar air keseimbangan mete kernel menjadi rendah pula

Desain Pengering Listrik untuk Mete Kernel.

(5)

Tabel 2. Spesifikasi Teknis Pengering Listrik Tipe Rak “Memmert”

Germany

Kondisi Teknis Spesifikasi

Kapasitas 40 Kg

Cara penempatan produk diletakkan pada rak menggunakan wadah atau alas

Jumlah rak 3 buah

Suhu setting 0 – 300 oC

RH pengeringan 46 – 85 %

Daya listrik 2000 Watt

Sistem Kendali Suhu Thermokontrol dengan solid state temperature kontrol.

Tabel 3. Spesifikasi Teknis Pengering Listrik Tipe Rak Rancangan

Laboratorium Mekanisasi Pertanian

Kondisi Teknis Spesifikasi

Kapasitas 40 Kg

Cara penempatan produk diletakkan pada rak menggunakan wadah atau alas

Jumlah rak 5 wadah

Suhu setting 0 – 200 oC

RH pengeringan 46 – 80 %

Daya listrik 900 Watt

Sistem Kendali Suhu Thermokontrol dengan relay

Perbandingan Dua Pengering Tipe Rak

Perbandingan dua pengering tipe rak yang dilakukan penelitian ini adalah pengering listrik pengering tipe rak rancangan fabrikasi tanda dagang “Memmert” Germany (P) dan oven listrik Kadar air yang diuapkan/kadar air pengeringan, dM/Mf (desimal)

(6)

Ln MR = -0,1838*t

Gambar 1. Hubungan antara Ln MR dengan t (jam) pertama pada Mesin I (rancangan fabrikasi import)

Gambar 2. Hubungan antara Ln MR dengan t (jam) kedua pada Mesin I (rancangan fabrikasi import)

Ln MR = -0,1735*t

Gambar 3. Hubungan antara Ln MR dengan t (jam) ketiga pada Mesin I (rancangan fabrikasi import)

Dengan memperhitungkan waktu pengeringan (jam) dan menggunakan persamaan ln MR = -kd.t sebagai persamaan dasar, maka dapat ditentukan konstanta laju laju pengeringan, Kd pada kedua jenis oven listrik tersebut, yaitu dengan perbandingan sebagai berikut:

Tabel 5. Perbandingan antara konstanta laju pengeringan, Kd

pada 2 (dua) jenis pengeringan tipe

rak.

T(°C) Konstanta laju pengeringan, Kd (lt/jam) Mesin I (fabrikasi import) Mesin II (LM)

40 1. 0.1838 1. 0.1805

2. 0.1816 2. 0.1745

(7)

60 1. 0.4673 1. 0.5862

2. 0.6382 2. 0.5821

3. 0.5362 3. 0.4387

(8)

Kadar Air Akhir Pengeringan

Laju pengeringan akan menurun siring dengan penurunan kadar air selama pengeringan. Kadar air akhir pengeringan, Mf (%) diartikan sebagai proses dimana pengeringan itu tidak dilanjutkan kembali. Dari data 2 (dua) mesin pengering didapatkan kadar air akhir selama proses pengeringan sebagai berikut:

Tabel 6. Perbandingan antara kadar air akhir pengeringan, Mf (%) pada 2 (dua)

jenis pengering listrik tipe rak

T(°C) Kadar air akhir pengeringan, Mf (%)

Mesin I (fabrikasi import) Mesin II (LM)

40 1. 14. 374 1. 15. 495

2. 14. 235 2. 15. 903 3. 15. 790 3. 14. 473

60 1. 12. 283 1. 12. 306

2. 12. 463 2. 12. 127 3. 12. 326 3. 12. 033

Dari nilai perbandingan di atas dapat dijelaskan bahwa kadar air akhir pengovenan rancangan fabrikasi import maupun oven listrik rancangan Laboratorium Mekanisasi Pertanian tidak berbeda nyata. Ini berdasarkan hasil uji lanjut dengan t-test pada taraf nyata 5 %. Nilai t-test untuk oven listrik tersebut yaitu pada suhu 40°C t hitung sama dengan 0.750 sedangkan pada suhu 60°C t-hitung sama dengan 0.563 dengan nilai t tabel sama dengan 2.776. Pada penelitian uji perbandingan ini, kadar air akhir pengeringan tidak memncapai kadar air keseimbangan (EMC). Hal ini dimaksudkan karena jika penurunan kadar air produk sampai Kadar Air Keseimbangan (EMC) maka kadar air final terlalu rendah sehingga secara ekonomis tidak menguntungkan. Standar Mutu Kacang Mete Indonesia 15 % (SNI, 1992).

Kelembaban Relatif, RH (%)

Kelembaban relative umumnya dipengaruhi oleh suhu ruang pengering. Semakin tinggi suhu, maka kelembaban relatif akan semakin rendah. Dari analisis data diperoleh bahwa kelembaban relatif pada suhu 40°C tidak berbeda nyata pada taraf 5% antara mesin I dan mesin II yakni berturut-turut 66% dan 65.84%, sedang pada suhu 60°C berbeda nyata pada taraf yang sama yaitu pada dengan kelembaban relatif pada mesin I sebesar 38% dan mesin II 33%. Hal ini diduga bahwa sistem ventilasi pada oven listrik rancangan Laboratorium Mekanisasi Pertanian mempunyai lubang pengeluaran uap air sisa yang lebar dengan dibantu blower dengan diameter yang lebih besar maka pembuangan uap air sisa udara pengeringan menjadi sangat sempurna. Peningkatan suhu mengakibatkan penurunan kelembaban relative (Sagara, 1990)

Panas Berguna (kJ)

Panas berguna adalah panas yang dipergunakan untuk (1) menaikkan suhu bahan, (2) proses evaporasi, (3) menaikkan suhu ruang pengering. Peningkatan suhu bahan diperlukan untuk meningkatkan tekanan uap jenuh bahan. Dengan adanya perbedaan tekanan uap air jenuh bahan. Dengan adanya perbedaan tekanan antara bahan dengan udara lingkungan maka akan terjadi difusi air dari dalam bahan kepermukaan bahan melalui pori-pori. Sedangkan panas untuk evaporasi diaplikasikan pada mete kernel agar air permukaan bahan dapat menguap sehingga terjadi pemindahan massa berupa uap air. Menurut Heldman (1979) panas untuk evaporasi ini diberikan oleh udara pengering dengan tipe pindah panas secara konduksi maupun radiasi pada laju pengeringan menurun. Energi panas yang diperoleh digunakan untuk menguapkan sisa air bahan dan digunakan untuk menguapkan air dari dalam rongga sel, menariknya melalui pipa kapiler ke permukaan bahan serta melepaskan air dari ikatannya, baik yang terikat pada dinding sel mapun senyawa kimia.

(9)

Berikut diberikan nilai perbandingan panas berguna, Qbt (kJ) antara oven listrik rancangan fabrikasi import dengan oven listrik rancangan laboarorium Mekanisasi Pertanian yang diperoleh dari data hasil pengeringan.

Tabel 7. Perbandingan panas berguna, Qbt

(kJ) 2 (dua) jenis pengering listrik tipe

rak.

Suhu Ruang Pengering (oC) Panas Berguna, Qbt (kJ)

Mesin I (fabrikasi import) Mesin II (LM)

40

Dari tampilan tabel perbandingan panas berguna dua mesin pengering tersebut menunjykkan bahwa panas berguna antara mesin rancangan fabrikasi import dengan rancangan Laboratorium Mekanisasi Pertanian tidak berbeda nyata berdasarkan pada uji perbadingan dengan t-test pada taraf nyata 5 %. Nilai perbadingan kedua mesin tersebut adalah pada suhu 40oC t hitung sama dengan 0.953. Sedangkan pada suhu 60oC sama dengan 0.945 dengan nilai t tabel sama dengan 2.776.

Ketika panas yang dihasilkan oleh mesin pengering kecil jumlahnya, maka kehilangan panas juga akan kecil. Sebaliknya jika panas yang dihasilkan besar, maka kehilangan panas juga akan besar. Dengan mekanisme seperti ini, maka terdapat keseimbangan energi panas dalam sistem operasi pengeringan yang menyatakan bahwa panas masuk akan sama dengan panas keluar. Analisis regresi yang menyatakan tidak terdapat perbedaan nyata antara panas berguna mesin I dengan panas berguna mesin II.

Evaluasi Produk

Dari hasil analisa didapatkan bahwa pengujian terhadap dua oven listrik tersebut tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap warna, rasa, aroma dan tekstur.

Berikut grafiuk perbandingan antara Mesin I (rancangan fabrikasi import) dengan Mesin II (rancangan Laboratorium Mekanisasi Pertanian) terhadap berbagai parameter tersebut diatas.

4.3 4

Gambar 8. Tingkat kesukaan panelis terhadap warna mete kernel pada perban-dingan dua pengering listrik

(10)

4 4 parameter warna, rasa, aroma dan tekstur mete kernel yang dikeringkan dengan menggunakan oven listrik fabrikasi import, terlihat grafik bahwa nilai perbandingannya lebih tinggi dibandingkan dengan oven listrik Laboratorium, tetapi dapat dikatakan bahwa perbandingan tersebut tidak berbeda nyata berdasarkan tabel nilai F hitung dan nilai perbandingan dari hasil uji lanjut t-test pada taraf nyata 5 %.

Evaluasi Ekonomi

Perhitungan dengan menggunakan analisis cashflow diperoleh hasil secara ringkas bahwa sebenarnya penerapan kedua jenis mesin tersebut secara ekonomi layak yakni dengan kapasitas pengeringan mete 40 kg diperoleh parameter-parameter ekonomi untuk pengering listrik fabrikasi import yakni NPV = Rp. 20.418.400/tahun, B/C rasio = 1.324, IRR = 32.46 dan pay back period = 2 tahun sedang untuk pengering listrik rancangan Mekanisasi Pertanian NPV = Rp. 22.209.200/tahun, B/C rasio = 1.360, IRR = 36.043 dan payback period = 1 tahun. Dari uraian diatas berarti bahwa keduanya secara ekonomi layak, namun bila melihat kemampuan finansial petani/ kelompoktani jambu mete maka penggunaan pengering listrik Laboratorium Mekanisasi Pertanian lebih murah dan terjangkau dengan harga Rp. 3.000.000,- dibanding pengering listrik fabrikasi import dengan harga berkisar Rp. 30.000.000,- serta kebutuhan daya listrik pengering listrik fabrikasi import 2000 Watt, sedang untuk pengering listrik rancangan Laboratorium Mekanisasi Pertanian sebesar 900 Watt sehingga dapat dioperasikan untuk skala rumah tangga.

KESIMPULAN Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :

o Proses pengeringan lapis tipis mete kernel, dengan membandingkan dua pengering, adalah proses pengeringan dengan laju menurun.

o Pada uji perbandingan pengering listrik tipe rak tidak terdapat perbedaan yang nyata (non signifikan) antara semua parameter kecuali parameter RH pada saat suhu pengering 60oC. o Evaluasi ekonomi menunjukkan bahwa kedua pengering listrik secara ekonomi

layak, namun bila dilihat kemampuan finansial petani/ kelompok petani jambu mete maka penggunaan pengering listrik Laboratorium Mekanisasi Pertanian sangat lebih murah dan terjangkau. Selain itu bila dilihat dari kebutuhan daya listrik pengering, rancangan Laboratorium Mekanisasi Pertanian dapat dioperasikan untuk skala rumah tangga.

Gambar 10. Tingkat kesukaan panelis terhadap rasa mete kernel pada perban-dingan dua pengering listrik

(11)

DAFTAR PUSTAKA

AOAC, 1996. Methods of Analysis, 16th Edition. Association of Official Agriculture Technical, Contaminant, Drug. Washington DC.

BPS, 2001. Nusa Tenggara Barat dalam Angka. Biro Pusat Statistik, Jakarta.

Argo, B.D. 1984. Thermodinamika, PS Teknik Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.

Barre, H.J.L.L., Sammet and G.L., 1988. Environmental and Functional Engineering of Agricultural Buildings, Van Nonstran Reinhold Company Inc, New York, USA.

Haard, F.N., and Salunkhe, K.D., 1975. Symposium Postharvest Biology and Handling of Fruits and vegetables, AVI Publishing Company, Inc, Westport, Connecticute.

Heldman, 1979. Food Process Engineering, AVI Publishing Co. Inc. West Port, USA.

Noomhorm, A., 1998. Postharvest Technology of Cereals, Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand.

PMA, 2002. Unit Pengolahan Mete. PT Profil Mitra Abadi, Jakarta

Sagara, Y. 1990. Pengeringan bahan Olahan dan Hasil Pertanian. dalam Academic of Graduate Program. The Faculty of Agricultural Engineering and Technology, Bogor Agriculture University. Keteknikan Pertanian Tingkat Lanjut. UPT Produksi Media Informasi, Lembaga Sumberdaya Informasi. IPB, Bogor.

(12)

Gambar

Tabel 3.  Spesifikasi Teknis Pengering Listrik Tipe Rak Rancangan
Gambar 2. Hubungan antara Ln MR dengan t (jam) kedua pada Mesin I (rancangan fabrikasi import)
Gambar 9. Tingkat kesukaan panelis terhadaptekstur mete kernel pada  perban-dingan dua pengering listrik
Gambar 10. Tingkat kesukaan panelis terhadap

Referensi

Dokumen terkait

berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap uji organoleptik warna, rasa, tekstur dan aroma, semakin banyak penambahan tepung jamur tiram putih maka panelis semakin tidak menyukai

Parameter yang dianalisa adalah kadar air (%), waktu dispersi (menit), pH biji kopi setelah fermentasi, pH bubuk kopi dan uji organoleptik (warna, aroma, rasa dan tekstur)..

Interaksi konsentrasi ragi dan lama penyangraian berpengaruh sangat nyata terhadap uji organoleptik warna, berpengaruh nyata terhadap uji organoleptik aroma dan rasa dan

Data dari hasil penilaian uji organoleptik berupa warna, tekstur, aroma dan rasa serta data dari hasil uji kandungan albumin abon ikan gabus diolah dengan menggunakan SPSS 21

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi yoghurt memberi pengaruh sangat nyata terhadap uji organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa), % overrun dan waktu meleleh pada

Berdasarkan hasil uji-t terhadap hasil uji organoleptik mutu sensori dan hedonik pada parameter aroma, rasa, tekstur, dan warna diketahui bahwa penambahan tepung daun

Pada penentuan terbaik uji organoleptik terhadap nilai hedonik warna, aroma dan penerimaan umum beras analog, dan nilai hedonik warna, aroma, rasa, tekstur dan

Analisis Organoleptik Teh Kulit Mangga Madu Terhadap Warna, Tekstur, Aroma, dan Rasa Hasil organoleptik teh kulit buah mangga madu terhadap warna, tekstur, aroma, dan rasa teh