HUBUNGAN PERIBAHASA ARAB DAN INDONESIA K

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PERIBAHASA ARAB DAN INDONESIA (Kajian Semantik dan Sosial)

1.1 Latar Belakang Masalah

Peribahasa merupakan salah satu bentuk kebahasaan yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu hal yang terlintas dalam alam pikir manusia. Pada hakikatnya, peribahasa merupakan penggunaan bahasa yang memiliki suatu kekhasan tertentu, yakni mampu menunjukkan identitas antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Hal tersebut sesuai dengan yang telah dijelaskan oleh Sibarani1 yang menyatakan bahwa setiap pembentukan kata-kata bahkan kalimat dalam suatu bahasa (termasuk bahasa yang dipakai dalam peribahasa) dapat menentukan sifat atau ciri pikiran dalam kebudayaan suatu bangsa.

Peribahasa sebagai ungkapan atau kalimat-kalimat ringkas dan padat yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku yang menjadi salah satu gudang kebijaksanaan lokal (local wisdom) bagi suatu masyarakat. Dan setelah dilihat dari segi struktur dan makna dari sebuah peribahasa antara peribahasa Arab dan Indonesia memiliki makna yang sama dan tujuan yang sama yang membedakan hanyalah pada penggunaan kata peribahasa tersebut dan itu terjadi akibat bedanya kehidupan sosial, kebudayaan dan geografis antara Indonesia dan Arab. Oleh karena itulah pemakalah tertarik untuk mengambil judul makalah ini dengan “Hubungan Peribahasa Arab Dan Indonesia (Kajian Semantik Dan Sosial)

1.2 Rumusan Permasalahan

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang dikemukakan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan peribahasa dan perumpamaan ?

2. Bagaimana hubungan makna yang muncul antara peribahasa bahasa Arab dengan bahasa Indonesia dan mengapa nama benda tersebut yang digunakan ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Menjelaskan apa itu peribahasa dan perumpamaan.

(2)

menyebabkan penggunaan nama benda/kata tersebut, seperti keadaan geografis serta sosial budaya antara masyarakat Arab dengan Indonesia.

.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini akan memberikan manfaat yang besar, baik dari ranah teoritis maupun praktis. Dalam ranah teoritis, pertama, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan referensi dalam khazanah kajian semantik kognitif, terlebih dengan data utama bahasa Arab. Kedua, penelitian ini kiranya bermanfaat untuk membuka cakrawala serta memotivasi tumbuhnya kajian-kajian yang serupa sehingga mampu digunakan sebagai media untuk mengembangkan disiplin ilmu linguistik dengan objek bahasa Arab.

Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah sebagai pegangan hidup atau pengontrol sikap dan perilaku sehari-hari mengingat peribahasa merupakan suatu fakta kebahasaan yang banyak mengandung nilai-nilai kearifan lokal, seperti kedermawaan, keberanian, kebaikan, persaudaraan, dan sebagainya. Selain itu, penelitian ini juga dapat membantu masyarakat secara umum untuk lebih mengetahui dan memahami perumpamaan peribahasa bahasa Arab yang di dalamnya ternyata memiliki keterkaitan dengan peribahasa indonesia sebagai wahana pembelajaran dan sumber pengetahuan. Hal tersebut sangat berguna untuk mengatasi atau menghindari kemungkinan adanya salah tafsir dan perbedaan persepsi saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan penutur bahasa Arab.

(3)

A. Perumpamaan dan Peribahasa

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisi peribahasa merupakan kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengkiaskan maksud tertentu seperti keadaan seseorang atau yang mengenai kelakuan atau perbuatan tentang diri orang lain serta di dalamnya berisi ungkapan atau kalimat ringkas dan padat yang berupa perbandingan, perumpamaan, nasehat, prinsip hidup, dan aturan tingkah laku (KBBI, 2008:1055). Sedangkan dalam bahasa Arab adalah al-Amtsal (لاثثمملثا), bentuk tunggalnya adalah al-Matsal (لثثمثلا), yang dalam bahasa Indonesia lebih dekat dengan arti peribahasa (kiasan, pepatah, perumpamaan).

Adapun Kridalaksana, salah satu pakar ahli dalam ilmu bahasa mendefinisikan peribahasa sebagai kalimat atau penggalan kalimat yang telah membeku bentuk, makna, dan fungsinya dalam masyarakat; bersifat turun temurun; dipergunakan untuk penghias karangan atau percakapan, penguat maksud karangan, pemberi nasihat, pengajaran atau pedoman hidup.2

Perumpamaan adalah peribahasa yang berisi perbandingan yang tersusun dari maksud (sesuatu hal yang tidak diungkapkan) dan perbandingan (sesuatu hal diungkapkan) yang dapat menggunakan kata pembanding seperti, ibarat, bagai, macam, dan lainnya atau tidak menggunakan kata-kata pembanding tersebut. Dicontohkan olehnya perumpamaan misalnya, seperti katak dalam tempurung, dan ibarat bunga: sedap dipandang, layu dibuang.

Honeck3 mengungkapkan bahwa istilah peribahasa seringkali dikacaukan dengan idiom. Secara konseptual dua istilah tersebut memiliki perbedaan namun keduanya memiliki suatu titik kemiripan yang hampir sama, yakni secara semantis keduanya mengalami penyimpangan makna dari unsur-unsur pembentuknya. Penyimpangan makna pada idiom tidak dapat secara langsung ditelusur dari makna masing-masing kata yang menjadi unsur-unsur pembentuknya. Akan tetapi, penyimpangan makna pada peribahasa dapat ditelusur

2 Harimurti Kridalaksana. 2009. Kamus Linguistik. Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 189

(4)

melalui skema metaforikal, yakni dengan menelusur unsur pembanding (vehicle), unsur pebanding (tenor), dan kesamaan antara unsur pembanding dan unsur pebanding (ground).

Peribahasa dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah proverb, yang merupakan turunan dari bahasa Latin proverbium yang mengandung arti kata-kata konkrit dan sederhana yang dikenal secara berulang-ulang untuk mengungkapkan suatu kebenaran berdasarkan logika umum sebagai metafora yaitu pengungkapan berupa perbandingan analogis untuk mengungkapkan gambaran tentang perilaku seseorang atau sesuatu yang dianggap kurang cocok dalam lingkungan masyarakat. Peribahasa menggambarkan hukum dasar dari tingkah laku dan umumnya berlaku sesuai dengan budaya yang ada di masyarakat. Peribahasa merupakan motto sebagai cambuk atau pengingat bagi manusia yang melakukan perbuatan yang dianggap melanggar adat ataupun budaya di lingkungannya. Ilmu yang mempelajari peribahasa disebut paremiology.4

Adapun dalam bahasa Arab dikenal kata ma al atau al-am ā l. Kata tersebut merupakan padanan yang mendekati istilah perumpamaan dan peribahasa dalam istilah linguistik Arab. Pakar linguistik Arab, Zulhaim memberikan contoh istilah tersebut dalam beberapa bahasa yang masih tergolong dalam rumpun semitik. Dalam bahasa Arab, peribahasa disebut ma al. Dalam bahasa Ibriyah disebut masal. Dalam bahasa Aramiah disebut matlā. Dalam bahasa Habsyiah disebut mesel dan dalam bahasa Akadiah disebut meslum. Menurut Zulhaim bahwa ma al ṡ memiliki pengertian al- mi lu wan na īru (persamaan atau keserupaan). Terkait dengan bentuk kebahasaan, peribahasa Arab dapat terbentuk dari satuan kebahasaan yang berupa frasa, klausa, dan kalimat.5

B. Makna Figuratif

Makna figuratif merupakan kandungan makna yang terdapat dalam suatu ungkapan figuratif (figurative expression), seperti halnya dalam peribahasa. Makna kiasan (figurative meaning, transferred meaning) merupakan pemakaian satuan kebahasaan dengan makna yang tidak sebenarnya. Sebagai contoh adalah mahkota wanita. Satuan kebahasaan yang berupa frasa tersebut tidak dimaknai sebagai sebuah benda yang dipakai seorang wanita di

4 (www.aip-iap.org/en)

(5)

atas kepalanya yang merupakan lambang kekuasaan seorang pemimpin dan berhiaskan emas atau permata namun frasa tersebut dimaknai sebagai rambut wanita.

Bahasa figuratif atau kiasan merupakan penyimpangan dari bahasa yang digunakan sehari-hari, penyimpangan dari bahasa baku atau standar, penyimpangan makna, dan penyimpangan susunan (rangkaian) kata-kata supaya memperoleh efek tertentu atau makna khusus. Bahasa kias atau figuratif menurut Abrams dapat muncul dalam bentuk simile (perbandingan), metafora, metonimi, sinekdoke dan personifikasi.6 Wahab mendefinisikan bahwa metafora merupakan ungkapan kebahasaan yang tidak dapat diartikan secara langsung dari lambang yang dipakai, melainkan dari prediksi yang dapat dipakai baik oleh lambang maupun makna yang dimaksudkan oleh ungkapan kebahasaan tersebut.7

Adapun Kridalaksana dalam Kamus Linguistik menjelaskan bahwa metafora adalah pemakaian kata atau ungkapan lain untuk objek atau konsep lain berdasarkan kiasan atau persamaan, misalnya kaki gunung dan catatan kaki yang dianalogikan dengan kaki manusia. Oleh karena itu, dari etimologi dan defnisi para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa metafora memiliki suatu peran untuk menjadikan sebuah kata memiliki makna di luar dari makna aslinya dengan cara menggunakan kata tersebut untuk merujuk pada sesuatu hal yang lain (transfer makna).8

Konsep metafora di atas sering disandingkan dengan simile karena adanya konsep perbandingan antara satu hal dengan hal lain. Metafora dan simile merupakan dua bentuk gaya bahasa kiasan perbandingan atau perumpamaan namun keduanya memiliki perbedaan. Simile berasal dari bahasa Latin simili yang berarti like atau seperti. Simile didefinisikan sebagai bahasa kiasan yang membandingkan suatu hal dengan hal lain (suatu benda dengan benda lain) dengan mempergunakan kata-kata pembanding, di antaranya seperti, sebagai, bagai, bak, semisal, seumpama, laksana, dan kata-kata pembanding lainnya.

Adapun kaitannya dengan metonimi, metonimi merupakan suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena mempunyai pertalian makna yang sangat dekat. Kata metonimia diturunkan dari bahasa Yunani meta yang berarti

6 Abrams, M. H. 2009. A. Glossary of Literary Terms. Ninth Edition. USA: Wadsworth Cengage Learning. Hal. 118-121

7 Abdul Wahab. 1990. Metafora Sebagai Alat Pelacak Sistem Ekologi. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 11

(6)

menunjukkan perubahan dan onoma yang berarti nama. Dalam lingkup yang lebih luas, sinekdoke merupakan bagian dari metonimi. Sinekdoke didefinisikan sebagai penyebutan sebagian dengan maksud untuk keseluruhan. Sinekdoke sendiri dibagi menjadi dua, yaitu pars prototo dan totum proparte. Pars prototo merupakan pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. Adapun totum proparte merupakan pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. 9

Parera mengatakan bahwa dalam metonimia terdapat suatu hubungan kedekatan antarmakna. Hal tersebut berbeda dengan metafora yang mengungkapkan adanya hubungan kesamaan antarmakna. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa metonimia digunakan untuk melihat makna dari segi kedekatan antarmakna sedangkan metafora digunakan untuk melihat makna dari segi kesamaan antarmakna.10

Lebih lanjut Parera mengelompokkan metonimi bedasarkan atribut yang mendasarinya, misalnya metonimia dengan relasi tempat, relasi waktu, relasi atribut (pars prototo), metonimia berelasi penemu atau pencipta, dan metonimi berdasarkan perbuatan. Senada dengan pemaparan makna figuratif di atas, peribahasa dilihat dari sifatnya merupakan salah satu bentuk kebahasaan yang di dalamnya sarat akan penggunaan makna figuratif, sebagai contoh peribahasa seperti air jatuh di daun talas. Peribahasa tersebut mengandung makna kias yang hendak menggambarkan seseorang yang tidak berpendirian teguh. Makna kias dari peribahasa tersebut dapat ditelusur melalui skema metaforika, yakni menemukan kesamaan antara unsur pembanding dengan unsur pebandingnya. Peribahasa tersebut menyerupakan air yang jatuh di atas daun talas seperti halnya seseorang yang tidak berpendirian teguh. Keadaan air di atas daun talas tersebut tidak ada yang dapat tertahan dan segera dengan mudah jatuh ke tanah. Begitupun juga dengan seseorang yang berpendirian tidak teguh akan mempunyai keserupaan keadaan sebagaimana air tersebut, yakni tidak mempunyai kekuatan yang teguh atau tidak memiliki suatu keyakinan atas sesuatu hal. Begitupun juga dengan peribahasa ada gula ada semut. Kata gula dan semut dalam peribahasa tersebut mengambarkan kejadian atau fenomena yang dapat saling melingkapi antara satu dengan yang lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang sifatnya baik dan serasi. Oleh karena itu, peribahasa tersebut mengandung kiasan bahwa di mana ada tempat yang menghasilkan keuntungan, maka akan dihampiri banyak orang.11

9Gorys Keraf, 1992. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 141-142

(7)

C. Hubungan Antara Bahasa dan Budaya

Dalam kehidupan manusia, baik dalam posisi sebagai makhluk individual maupun makhluk sosial, keberadaan bahasa merupakan suatu hal yang amat sangat penting dan bahkan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Mengapa demikian?

Pertama, dalam posisi sebagai makhluk hidup, bahasa ditempatkan sebagai sarana untuk mengungkapan segala perasaan yang terlintas dalam benak manusia, baik perasaan gembira, senang, susah, sedih, gelisah, ataupun perasaan-perasaan lainnya yang dialami serta untuk mengungkapkan kehendak, ide-ide atau gagasan-gagasan yang muncul dalam pikirannya. Dengan kata lain, melalui sarana bahasa manusia dalam tataran sebagai makhluk hidup menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

Kedua, sebagai makhluk sosial, tentu manusia akan melakukan kontak atau hubungan dengan anggota-anggota masyarakat yang lain. dan alat yang paling efektif untuk mengkomunikasikan segala perasaan, kehendak, keinginan gagasan ataupun pikiran-pikiran seseorang kepada anggota masyarakat yang lain adalah bahasa.

Bahasa bagian dari kebudayaan. Jadi, hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, di mana bahasa berada di bawah lingkup kebudayaan. Namun, ini bukanlah satu-satunya konsep yang dibicarakan orang, sebab disamping itu ada pendapat lain yang menyatakan bahwa bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif, yakni hubungan yang sederajat, yang keduanya sama tinggi.12

Melalui wadah kebahasaanlah segala bentuk komunikasi sosial maupun aktivitas kerjasama antaranggota masyarakat dapat terrealisasi dengan baik dan lancar. Dengan demikian, kehadiran bahasa benar-benar sangat diperlukan dalam kehidupan seseorang baik kehidupan yang bersifat individu maupun sebagai makhluk sosial. Pateda menyatakan bahwa bahasa menempati posisi yang fundamental sebagai alat untuk mengadakan interaksi dan bekerja sama dengan anggota masyarakat yang lain. Tanpa bahasa dapat dipastikan bahwa segala bentuk komunikasi di dunia ini tidak akan berjalan dengan efektif, bahkan akan berhenti.13 Manurut Poedjosoedarmo komunikasi adalah proses menyampaikan maksud. Komunikasi juga bisa diartikan sebagai proses pertukaran informasi antara individu melalui

12 Chaer, Abdul dan Leoni Agustina, 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hal. 165

(8)

simbol, tanda, atau tingkah laku umum. Di samping itu, melalui bahasa, kebudayaan suatu bangsa dapat diidentifikasi, dibentuk dan dikembangkan serta dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.14 Hal ini seperti yang dituturkan oleh Alisyahbana (1979) bahwa bahasa termasuk bagian dari kebudayaan. Oleh karena itu, setiap pembentukan kata-kata bahkan kalimat dalam suatu bahasa menentukan sifat atau ciri-ciri pikiran dalam kebudayaan suatu bangsa. Dalam kajian sosiolinguistik, kita ketahui bahwa pengenalan identitas seseorang dapat dilakukan dengan melihat bahasa atau ragam yang digunakan dalam percakapan terutama percakapan dengan orang atau kelompok lain15

Franz Boas (1858-1945) mengemukakan bahwa bahasa merupakan cerminan dari kehidupan mental penuturnya. Pandangan Boaz tersebut kemudian dikuatkan kembali oleh para generasinya yaitu Edward Sapir (1884-1939) dan Benjamin Lee Whorf (1897-1941) dengan hipotesisnya yang terkenal yaitu “Sapir-Whorf Hipotesis”. Dan laizim juga disebut Relativitas Bahasa.16 Relativitas bahasa mengandung pengertian bahwa kenyataan atau realitas suatu objek dipahami secara kebahasaan berbeda-beda oleh masyarakat penutur. Bahasa mengasumsikan bahwa karakteristik bahasa dan norma budaya saling mempengaruhi. Dengan arti lain, budaya dikontrol dan sekaligus mengontrol bahasa. Hipotesis Sapir – Whorf menyatakan bahwa dunia yang kita ketahui terutama ditentukan oleh bahasa dalam budaya kita.

Menurut Edward Sapir dan Benyamin Whorf, bahasa tidak saja berperan sebagai suatu mekanisme untuk berlangsungnya komunikasi, tetapi juga sebagai pedoman ke arah kenyataan sosial. Dengan kata lain, bahasa tidak saja menggambarkan persepsi, pemikiran dan pengalaman, tetapi juga dapat menentukan dan membentuknya. Dengan arti lain orang-orang yang berbeda bahasa : Indonesia, Inggris, Jepang, China, Korea, dan lain sebagainya cenderung melihat realitas yang sama dengan cara yang berbeda pula. Implikasinya bahasa juga dapat digunakan untuk memberikan aksen tertentu terhadap suatu peristiwa atau tindakan, misalnya penekanan, mempertajam, memperlembut, mengagungkan, melecehkan dan lain sebagainya.

14 Poedjosoedarmo, Soepomo. 2001. Filsafat Bahasa. Surakarta: Muhammadiyah University Press. Hal. 171

(9)

D. Contoh Peribahasa Dan Penjelasannya

bahwa makna sebuah kata terikat oleh lingkungan kultural dan ekologis pemakai bahasa tertentu. Berikut ini, adalah beberapa amtsâl (peribahasa Arab) yang memiliki kesamaan makna dengan peribahasa Indonesia:

نئانكلا لمت ءامرلا لبق

“Sebelum memanah, isi dulu tempat anak panah”

Hal ini sama dengan ungkapan bahasa Indonesia yang berbunyi: "Sedia payung sebelum hujan". Meskipun terdapat perbedaan lafadz dan kata-kata dalam kedua peribahasa tersebut, namun, keduanya mengandung persamaan maksud, yaitu: "siapkan segala sesuatu sebelum beraktivitas". Orang Arab menggunakan kata tempat anak panah dan memanah, karena dipengaruhi oleh budaya mereka yang memiliki tradisi berperang pada zaman dahulu dengan menggunakan alat tersebut. Sedangkan dalam bahasa Indonesia digunakan kata hujan dan payung. Karena di Indonesia sering hujan.

Adapaun contoh yang lain seperti yang terjadi pada peribahasa :

ةرمتلاب ةرمتلا نم هب هبشل هنإ

Sesungguhnya ia benar-benar lebih menyerupainya dari pada buah kurma serupa dengan

buah kurma

Adapun dalam bahasa Indonesia kita mengenal sebuah peribahasa yang memiliki persamaan makna dengan "bagaikan pinang di belah dua". Terdapat dua hal yang mana menunjukkan kemiripan, orang Arab menggunakan kata kurma (Sejenis buah buahan yang dominan berwarna hitam dan manis rasanya), karena itulah buah khas dari arab dan banyak tumbuh disana . Sedangkan dalam bahasa Indonesia digunakan kata pinang (Sejenis buah buahan yang dominan berwarna kuning dan hijau ketika mentah ) karana buah ini banyak tumbuh di indonesia.

(10)

juga di dalamnya keduanya mengandung persamaan maksud, yaitu: "siapkan segala sesuatu sebelum beraktivitas".17 Orang Arab menggunakan kata tempat anak panah dan memanah, karena dipengaruhi oleh budaya mereka yang memiliki tradisi berperang pada zaman dahulu dengan menggunakan alat tersebut. Sedangkan dalam bahasa Indonesia digunakan kata hujan dan payung. Karena merupakan intisari dari pengalaman hidup masyarakatnya yang tercermin dalam perbandingan-perbandingan antara satu hal dengan hal yang lain. begitupun dengan makna kurma dan pinang yang memiliki kekahasan masing-masing. Oleh karena itu, hal yang hendak ditunjukkan dari pernyataan tersebut adalah adanya hubungan atau relasi antara bahasa dengan latar belakang pengalaman masyarakat penutur suatu bahasa.

Dalam kaitannya dengan aspek makna, peribahasa merupakan representasi dari penggunaan makna figuratif.18 Abrams mengungkapkan bahwa makna figuratif dapat terdiri atas, simile (perbandingan), metafora, metonimi, sinekdoke dan personifikasi. Bahasa figuratif atau kiasan merupakan penyimpangan dari bahasa yang digunakan sehari-hari, penyimpangan dari bahasa baku atau standar, penyimpangan makna, dan penyimpangan susunan (rangkaian) kata-kata supaya memperoleh efek tertentu atau makna khusus. Penyimpangan makna dalam kaitannya dengan makna figuratif tersebut dapat menggunakan berbagai macam hal, dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah dengan kebudayaan yang ada diindonesia dan arab.19

BAB III PEMNUTUP A. Kesimpulan

17 Danandjaja, James. 1990. “Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Foklor” dalam Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra”. Malang: Hiski. Hal. 21

18 Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Edisi Kedua. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hal. 108

(11)

 Peribahasa sebagai kalimat atau penggalan kalimat yang telah membeku bentuk

makna, dan fungsinya dalam masyarakat; bersifat turun temurun; dipergunakan untuk penghias karangan atau percakapan, penguat maksud karangan, pemberi nasihat, pengajaran atau pedoman hidup.

Perumpamaan adalah peribahasa yang berisi perbandingan yang tersusun dari maksud (sesuatu hal yang tidak diungkapkan) dan perbandingan (sesuatu hal diungkapkan) yang dapat menggunakan kata pembanding seperti, ibarat, bagai, macam, dan lainnya atau tidak menggunakan kata-kata pembanding tersebut.

Hal ini sama dengan ungkapan bahasa Indonesia yang berbunyi: "Sedia payung sebelum hujan". Meskipun terdapat perbedaan lafadz dan kata-kata dalam kedua peribahasa tersebut, namun, keduanya mengandung persamaan maksud, yaitu: "siapkan segala sesuatu sebelum beraktivitas". Orang Arab menggunakan kata tempat anak panah dan memanah, karena dipengaruhi oleh budaya mereka yang memiliki tradisi berperang pada zaman dahulu dengan menggunakan alat tersebut. Sedangkan dalam bahasa Indonesia digunakan kata hujan dan payung. Karena di Indonesia sering hujan.

B. Daftar Pustaka :

Abrams, M. H. 2009. A. Glossary of Literary Terms. Ninth Edition. USA: Wadsworth Cengage Learning

Chaer, Abdul dan Leoni Agustina, 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Danandjaja, James. 1990. “Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Foklor” dalam Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra”. Malang: Hiski

Honeck, Richard P. 1997. A Proverb in Mind The Cognitive Science of Proverbial Wit and Wisdom. Lawrence Erlbaum Associates: New Jersey

Keraf, Gorys. 1992. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik. Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Parera, Djos Daniel. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga

(12)

Poedjosoedarmo, Soepomo. 2001. Filsafat Bahasa. Surakarta: Muhammadiyah University Press

Sibarani, Robert. 2004. Antropologi Lingusitik. Medan: Penerbit Poda Sumarsono. 2004. Buku Ajar Filsafat Bahasa. Jakarta: PT. Grasindi

Wahab, Abdul. 1990. Metafora Sebagai Alat Pelacak Sistem Ekologi. Yogyakarta: Kanisius

Zulhaim, Rodlef . 1982. Am āl al -Arabiyyah al-Qadīmah (Peribahasa Arab Kuno). Cetakan Kedua. Beirut: Muasatur Risālah

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : peribahasa Indonesia