• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Hukum Perjanjian Syariah pada Pasa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Aspek Hukum Perjanjian Syariah pada Pasa"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Aspek Hukum Perjanjian Syariah pada Pasar Bursa Berjangka

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah

“Etika Bisnis dan Hukum Transaksi Islam”

Dosen Pengampu:

Prof. DR. Syamsul Anwar M.A.

Disusun oleh:

Kholid Fuadi

Konsentrasi Keuangan dan Perbankan Syariah

Prodi Hukum Islam

Program Pasca Sarjana Magister (S2)

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(2)

1

ASPEK PERJANJIAN SYARIAH PASAR BURSA BERJANGKA

A. Pendahuluan

Sebagai pengantar, berikut kami cantumkan kutipan artikel terkait dengan

rencana pengembangan produk syariah oleh otoritas bursa berjangka

Indonesia.

Bursa Berjangka Jakarta Kembangkan Produk Syariah

Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) mengembangkan produk

berbasis syariah Islam dalam perdagangan berjangka

komoditi. BBJ membutuhkan keterlibatan Dewan Syariah

Nasional (DSN) dan Bank Indonesia untuk mengembangkan

produk tersebut, karenanya BBJ memulai langkah dengan

menandatangani nota kesepakatan kerjasama dengan DSN

di Jakarta, Senin (20/12).

Penandatanganan nota kesepakatan kerja sama dilakukan

Direktur Utama BBJ Made Sukarwo, Nadratuzaman Hosen

dari DSN dan Kepala Badan Pengawas Perdagangan

Berjangka Komoditi (Bappebti) Deddy Saleh disaksikan

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

Ke ja sa a i i didasa i kei gi a pe ba ka u tuk e ge ba gka p oduk be basis sya iah u abahah ko oditi sepe ti ya g dilakuka di Bu sa Ko oditi Malaysia dengan Murabahah Ko iditi CPO ya, kata Made “uka wo.

Dalam teknis perbankan, murabahah adalah akad jual beli

(3)

2 memesan untuk membeli komoditi. Dalam transaksi

u abahah ko oditi , pe jual e yebutka de ga jelas

komoditi yang diperjualbelikan, harga pembelian dan

keuntungan yang diambil. Bank memperoleh keuntungan

jual beli yang disepakati bersama.

Pada kesempatan itu Made Sukarwo menjelaskan pula

bahwa, BBJ yang beroperasi sejak tahun 2000 terus

berusaha memperbaiki kinerja. Sekarang BBJ sudah

menyediakan sistem perdagangan dalam jaringan (daring)

yang bisa diakses dari semua tempat.

Sumber : Republika

B. Sejarah Bursa Berjangka

Futures Trading yaitu jenis perdagangan atau jual beli dengan

penyerahan barang dikemudian hari seperti yang lazim digunakan dalam

bursa komoditi, sejarahnya bermula pada tahun 1840-an. Pada saat itu, kota

Chicago merupakan pusat perdagangan komoditas pertanian antara lain

kapas dan gandum. Karena umumnya masa panen komoditas tersebut

terjadi pada saat bersamaan, maka pada saat panen, kota Chicago dipenuhi

oleh berbagai komoditas pertanian tersebut, sehingga harga menjadi turun.

Bahkan sebagian petani lebih suka membuang hasil panennya dibanding kan

dengan menjualnya, karena harga begitu jatuh. Setelah komoditas tersebut

berangsur-angsur berkurang, maka harga komoditas tersebut kembali naik.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, maka Badan Perdagangan Chicago

membuat suatu perdagangan yang disebut dengan to-arri e co tract .

(4)

3 menandatangani kontrak penjualan komoditasnya pada harga yang tetap

(fixed), dengan penyerahan (delivery) pada masa yang akan datang. Dengan

kontrak ini petani dapat mengatur penyerahan barang pada masa datang

dengan menandatangani kontrak dengan waktu penyerahan yang berbeda

dengan harga yang telah ditetapkan di muka, sehingga terhindar dari

fluktuasi harga musiman.

Future trading oleh para produsen dijadikan sarana untuk melakukan

hedging (lindung nilai), yaitu strategi untuk mengurangi risiko yang

diakibatkan oleh fluktuasi harga. Sedangkan dalam perkembangan

selanjutnya, para spekulan dari pemilik modal mulai melihat bahwa kontrak

ini sangat menarik untuk dikembangkan menjadi instrumen untuk spekulasi.

Seorang spekulan dapat saja membeli kontrak futures untuk penyerahan di

masa datang, dan mulai spekulasi dengan perkiraan harga komoditas pada

saat penyerahan. Sehingga dalam hal ini para spekulator mengambil alih

risiko dari para petani. Sejak saat itulah terjadinya futures market sebagai

pasar untuk spekulasi para spekulan.

C. Ruang Lingkup Bursa Berjangka

Perkembangan futures market pada saat ini tidak hanya untuk

komoditas pertanian saja sebagai underlying transactian melainkan telah

bertambah dan lebih menjadi ajang spekulasi dengan komoditas yang bukan

komoditas riil. Underlying transaction yang dapat diperjualbelikan dewasa ini

adalah tingkat suku bunga (interest rate futures), indeks saham (stock indices

futures), mata uang (currency futures). Contoh dari indeks ini di pasar futures

Chicago Merchantile Exchange (CME) diantaranya: A. Pertanian (agriculture):

Live Cattle Futures, Broiler Chicken Futures, dsb. B. Indeks saham (stock

(5)

4 (currency): Japanese Yen futures, Deustche Mark Futures, dsb. D. Suku Bunga

(interest rate): one-month LIBOR futures, one-year Treasury bill futures.

Tek ik pe daga ga future trading dala hal ini memiliki beberapa

konvensi diantaranya: 1. Kontraknya tidak diakhiri dengan penyerahan

barang, 2. Kontrak dapat diperjualbelikan sebelum jatuh tempo 3. Penjual

dan pembeli tidak saling mengetahui sebelumnya, kecuali bilamana

kemudian kontraknya tersebut akan diakhiri dengan penyerahan barang. 4.

Perdagangan berjangka ini pada hakikatnya memperjualbelikan kontrak dan

digunakan untuk tujuan hedging, spekulasi maupun manajemen likuiditas.

Baik forward contract maupun futures market merupakan instrumen

turunan (derivatives) dan keduanya adalah kontrak dengan menggunakan

harga sekarang. Sedangkan pelaksanaan penyerahan maupun pembayaran

dilakukan pada masa datang. Baik forward contract maupun futures

contracts biasanya digunakan sebagai sarana bagi para investor atau

spekulator untuk melakukan hedging. Hedging merupakan aktivitas transaksi

yang menyangkut aksi beli (long position) dan aksi jual (short position) pada

dua pasar yang terpisah (spot market dan futures/forward market) untuk

mengurangi tingkat risiko.

Perbedaan antara forward contract adalah perjanjian antara dua

pihak yang biasanya telah saling kenal dan percaya untuk membeli aset dari

satu pihak pada masa datang dengan harga yang telah ditentukan sekarang.

Biasanya yang menjadi underlying asset pada forward contract adalah mata

uang dan beberapa komoditas. Karena adanya saling kenal dan percaya

umumnya forward contract ini tidak memerlukan jaminan dan hanya terjadi

dengan pihak tertentu dan tidak tersedia untuk semua orang s ehingga

(6)

5 Hal ini berbeda dengan futures contract yang tingkat ketersediaannya

(availability) dapat diakses semua pihak, maka kontrak ini merupakan

instrumen likuid. Biasanya futures contract dilakukan oleh suatu bursa

futures dengan aturan main yang jelas. Untuk bertransaksi pada bursa

futures diperlukan beberapa syarat seperti: semua pihak dapat melakukan

transaksi pada kontrak tertentu yang tersedia di bursa; semua pihak harus

menempatkan margin deposit; semua keuntungan maupun kerugian dalam

kertas (paper gain or loss) diselesaikan setiap hari (day to day settlement).

Pelaksanaan perdagangan antara saham dan futures dilakukan pada

suatu bursa seperti bursa saham atau bursa futures dengan regulasi dan

sistem yang telah terorganisasi dengan baik. Metode perdagangan antara

keduanya relatif sama. Biasanya aturan main perdagangan pada kedua bursa

ini telah ditentukan dengan undang-undang (UU Pasar Modal) maupun

peraturan dari suatu regulatory body (Bapepam untuk Pasar Modal di

Indonesia) dan bursa itu sendiri sebagai suatu self regulatory organization

(SRO). Umumnya cara-cara bermain pada kedua bursa tidak berbeda.

D. Aspek Hukum Perjanjian Syariah

Adapun perspektif fiqih kontemporer terhadap masalah bursa

komoditi dan bursa berjangka tidak terlepas dari prinsip-prinsip syariah

dalam jual beli sebagaimana dapat disimpulkan dari pendapat para ulama

dalam kitab-kitab fi ih sepe ti M. ‘ifa i dala Kifayatul Akhya 4 da

Wahbah Az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu yaitu:

1. Pada dasarnya diperbolehkan transaksi jual beli sebagai salah satu

sarana yang baik dalam mencari rizqi.1

1

(7)

6 2. Barang ataupun instrumen yang diperjualbelikan itu harus suci

sehingga dilarang menjualbelikan barang najis dan haram seperti

miras, narkoba, bunga bank ribawi.2

3. Bermanfaat dan bermaslahat dengan adanya nilai guna bagi

konsumen maupun pembeli serta tidak membahayakan.

4. Barang yang diperjualbelikan dapat diserahkan, baik secara langsung

keseluruhan maupun secara simbolis.

5. Barang yang diperjualbelikan harus jelas keadaannya, sifat-sifatnya,

kualitasnya, jumlah dan satuannya dan karakteristik lainnya.

6. Pe jual da pe beli be hadapa la gsu g u tuk elakuka ijab

qabul . Na u be dasa ka p i sip maslahat dan kebutuhan serta

merespon perkembangan zaman, maka hal itu dapat diwakili paper

trading yang menampilkan dokumen dagang berupa kertas maupun

elektronik trading / e-commerce yang menampilkan data komputer

dan data elektronik lainnya (paperless trading). Kedua media tersebut

substansinya menunjukkan sifat barang, mutu, jenis, jaminan atas

kebenaran data dan dokumen serta bukti kesepakatan transaksi

(dealing).

7. Transaksi dilangsungkan atas dasar saling sukarela ( a taradhi ),

kesepahaman dan kejelasan.3

8. Tidak ada unsur penipuan maupun judi (gambling).4

(8)

7 Dengan demikian, beberapa hal yang harus dijadikan pedoman dalam

konteks ini adalah: menghindari unsur spekulasi yang cenderung bersifat

gambling (judi), data dan informasi komoditi jelas baik yang menyangkut

satuannya, kualitasnya, kriteria, jenis dan sifat-sifatnya serta harga dan

penyerahannya, nilai guna yang membawa maslahat pada komoditi dan tidak

membahayakan.

Tinjauan terhadap commodity future trading dalam perspektif fiqih

kontemporer mencakup beberapa aspek diantaranya:

1. Motivasi perdagangan ini apapun bentuknya benar-benar untuk tujuan

hedging (lindung nilai) dari fluktuasi harga di masa depan dan bukan untuk

spekulasi.

2. Barang komoditi yang dapat diperdagangkan harus memenuhi kriteria

syariah seperti disebutkan di atas, sehingga tidak boleh memperdagangkan

suku bunga (interest rate) dan saham-saham serta instrumen lainnya yang

underlying asetnya, investasi dan usahanya haram.

3. Jual-beli mata uang sebagaimana substansi fatwa Dewan Syariah Nasional –

MUI (NO.28/DSN-MUI/III/2002 tgl 28 Maret 2002) pada prinsipnya

diperbolehkan dengan beberapa ketentuan yaitu: tidak untuk spekulasi

(untung-untungan), ada kebutuhan transaksi untuk berjaga-jaga (simpanan

persediaan), apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka

nilainya harus sama dan secara tunai, dan apabila berlainan jenis maka harus

dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi

dilakukan dan secara tunai.

4. Berdasarkan fatwa DSN tersebut hukum transaksi valuta asing dilihat dari

jenis-jenisnya yaitu:

a. Transaksi Spot, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta sing

(9)

8 penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari hukumnya

boleh, karena masing dianggap tunai sebagai proses penyelesaian

(settlement) yang tidak bisa dihindari.

b. Transaksi Forward yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas yang

nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu

yang akan datang, antara 2 x 24 jam sampai satu tahun, hukumnya

haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan

( u a adah) dan penyerahaannya dilakukan di kemudian hari, padahal

harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai

yang disepakati, keecuali hal itu dilakukan dalam bentuk forward

agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah).

c. Transaksi Swap yaitu suatu kontrak pembelian atau penjualan valas

dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara

penjualan valas yang sama dengan harga forward, hukumnya haram,

karena mengandung unsur maysir (spekulasi) disamping persyaratan

naqdan (tunai) yang ditetapkan nabi dalam pertukaran (sharaf) mata

uang.

d. Transaksi Option, yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka

membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas

sejumlah unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal

akhir tertentu, hukumnya haram, karena mengandung unsur maysir

(spekulasi).

5. Penjualan saham-saham halal berdasarkan pandangan yang

mengkategorikannya sebagai aset produktif dan barang-barnga hasil

pertanian dan tambang yang halal dibolehkan untuk diperdagangkan baik

(10)

9

hedging dan bukan untuk tujuan spekulasi. Sekalipun ada gains (keuntungan)

selama bukan dari transaksi spekulatif maka diperbolehkan.

Persoalan yang menyangkut perdagangan barang komoditi pertanian

(agriculture) yang tidak ada di majelis akad ketika dilakukan transaksi dalam

forward trading, maka hal itu dapat dijelaskan sebagaimana pendapat Sayyid

Sabiq dalam Fiqh Sunnah (II/61) bahwa boleh memperjualbelikan barang

komoditi (hasil pertanian) yang pada waktu dilakukannya akad tidak ada

ditempat, dengan syarat kriteria baik yang menyangkut jenis, kualitas dan

kuantitas komoditi tersebut terinci dengan jelas serta waktu penyerahan

yang pasti. Jika ternyata berbeda, pihak pelaku akad yang tidak menyaksikan

boleh memilih menerima atau tidak. Tak ada bedanya dalam hal ini, pembeli

maupun penjual. Hal ini juga berdasarkan pernyataan Ibnu Umar bahwa ia

melakukan jual-beli Usman, miliknya yang ada di Wadi dengan milik Usman

yang ada di Khaibar.

Apabila commodity future trading dikaitkan dengan muamalat

perdagangan agribisnis jenis hasil bumi maka dapat dianalogikan (diqiyaskan)

de ga t a saski akad jual beli sala . “ala e u ut “ayyid “abi adalah

penjualan komoditi tertentu yang masih dalam kewajiban penyerahannya

yang akan datang dengan pembayaran segera (tunai). Dalam hal ini Nabi

be sabda: Ba a g siapa ya g elakuka salaf (salam), maka hendaklah

dengan takaran yang tertentu, timbangan yang tertentu dan sampai masa

te te tu. H‘.Muttafa Alaih Pa a ula a sepakat bolehnya salam

sebagaimana diriwayatkan Ibnu Mundzir.

Pola transaksi Salam tidak termasuk ijon yang mengandung uns ur

gharar (ketidakpastian) karena tidak adanya kriteria barang yang akan

(11)

10 dan Shabus Sunan yang mengatakan Ja ga lah ka u e jual ko oditi

ya g tidak ada pada u . La a ga tersebut ditujukan untuk seseorang yang

menjual komoditi yang ia pada hakekatnya tidak mampu menyerahkannya

dan menjual yang tidak ia kuasai untuk menjualnya. Sementara jual beli

komoditi hasil pertanian dan perkebunan yang memenuhi persyaratan

syariah sebagaimana disebutkan di atas tidak termasuk yang dilarang Islam.

Masalah pengalihan atau penjualan kontrak commodity future

trading kepada pihak lain selain pembeli pertama pada prinsipnya

diperbolehkan selama memenuhi persyaratan syariah diantaranya; 1. seizin

an taradhin) dari penjual pertama komoditi untuk menyerahkan barang

kepada pembeli akhir, 2. objek transaksi (barang komoditi) benar-benar ada

dan sebagai underlying asset. 3. menghindari spekulasi yang mengarah

kepada gambling.

Adapun perdagangan berjangka indeks saham (stock indices futures)

yang hakekatnya tidak terlepas dari hukum jual beli saham. Secara prinsip

transaksi tersebut sebagaimana jual beli aset produktif investasi yang tidak

ada larangan dalam syariah selama memenuhi kriteria syariah. Secara ringkas

dapat dikatakan bahwa jual beli saham sebagai instrumen asset investasi

yang tidak sesuai dengan syariah Islam itu menyangkut tiga hal yang menjadi

criteria pasar modal syariah yakni 1. Investasi dengan cara spekulasi, 2.

Investasi yang tidak sesuai dari segi instrumennya, 3. Investasi yang tidak

sesuai dari segi asset/operasional emiten yang bersangkutan. Salah satu

indeks saham yang sesuai syariah dari aspek operasional emitennya terdaftar

dalam Jakarta Islamic Index (JII) terdiri sekitar 250 saham.

Investasi dengan cara spekulasi ialah adanya sikap berjudi atau

untung-untungan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya

(12)

11

margin trading, short selling dan option dengan mengharapkan capital gain

melalui transaksi spekulatif. Namun demikian tidak semua harapan

keuntungan melalui capital gain dapat dikategorikan termasuk spekulasi.

Sedangkan margin trading, short selling dan option dilarang karena Islam

tidak memperbolehkan seseorang untuk menjual sesuatu yang tidak

dikuasainya. Selain itu pula adanya larangan berbisnis dengan cara untung

-untungan (maysir).

Investasi yang tidak sesuai dengan syariah Islam dari segi

instrumennya ialah yang memberikan keuntungan melalui mekanisme

pembayaran bunga (interest), seperti pada obligasi karena merupakan salah

satu bentuk praktek riba.

Investasi ke dalam perusahaan-perusahaan yang memilki aset atau

mekanisme operasional yang tidak sesuai dengan syariah Islam. Industri

-industri tersebut ialah yang bergerak dalam bidang: Minuman keras,

narkotika, psikotropika, dan zat-zat adiktif beserta derivatifnya; Makanan

haram dan derivatifnya; Pornografi dan seni mempamerkan keindahan tubuh

wanita; Prostitusi; Perjudian; Perusahaan-perusahaan yang menjalankan

usahanya dan memberikan serta memperoleh keuntungan melalui bunga

(interest); Industri senjata yang secara jelas produknya digunakan untuk

melawan dunia Islam atau kaum muslimin. (Lihat: William Clark, Islamic

Securities Market: Australian Experience, 1997).

Di Bursa Efek Indonesia (BEI) terdapat sejumlah perusahaan publik

yang bergerak dalam bidang minuman keras dan pembungaan uang,

sedangkan makanan haram dan perjudian biasanya tidak menjadi core

business mereka. Adapun industri pornografi, prostitusi pembuatan dan

(13)

12 Sedangkan yang tidak diperkenankan dari segi operasionalisasi

perusahaan publik tersebut ialah perilaku bisnis yang mencerminkan

praktik-praktik penipuan, Penimbunan barang (ihtikar), permainan harga (najasy),

monopoli dan oligopoli yang bersifat kartel.

Selain faktor-faktor diatas, terdapat pula sejumlah perilaku atau cara

yang dilakukan oleh mereka yang menerjuni dunia pasar modal. Perilaku

tersebut tidak dapat dibenarkan, baik dalam pandangan Islam maupun etika

bisnis pada umumnya. Bahkan regulasi di dalam pasar modal itu sendiri telah

melarangnya, berikut sangsi-sangsi yang dapat dikenakan kepada pelakunya.

Pelaku dari cara-cara yang tidak dibenarkan ini bisa jadi adalah para investor,

penasehat investasi, pialang (broker), akuntan publik, appraisal, internal

emiten itu sendiri, maupun yang lainnya. Perbuatan-perbuatan ini mungkin

dilakukan seorang diri atau saling bekerja sama antar pihak-pihak tersebut,

demi meraup keuntungan yang tidak jarang cukup fantastis. Cara -cara

tersebut ialah: Margin Trading, Short selling, Insider trading, Corner,

Window Dressing (rekayasa pembukuan).

Margin trading berarti perdagangan saham melalui pembelian saham

dengan uang tunai dan meminjam kepada pihak ketiga untuk membayar

tambahan saham yang dibeli. Harapan pembeli margin untuk mendapatkan

keuntungan yang berlipat ganda dengan modal yang sedikit. Bapepam-LK

melarang manajer investasi reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif

untuk terlibat dalam pembelian efek secara margin. Larangan yang sama

dikenakan kepada pengelola reksa dana berbentuk perseroan berdasarkan

Keputusan Ketua Bapepam-LK.

Short selling ialah penjualan saham yang dimiliki penjual short, saham

yang dijual secara short tersebut diperoleh dengan meminjam dari pihak

(14)

13 tersebut nantinya pada harga yang rendah dan secara simultan

mengembalikan saham yang dipinjam, juga memperoleh keuntungan atas

penurunan harganya. Secara umum UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar

Modal pada Peraturan V.D.3 melarang perusahaan efek menerima pesanan

jual dari nasabah yang tidak mempunyai saham. Sedangkan Keputusan Ketua

Bapepam nomor Kep-07/PM/1997, peraturan Nomor IV.B.1 pada nomor

12.g. melarang manajer investasi reksa dana berbentuk Kontrak Investasi

Kolektif untuk terlibat dalam pembelian efek yang belum dimiliki (short sale).

Larangan yang sama dikenakan kepada pengelola reksa dana berbentuk

perseroan berdasarkan Keputusan Ketua Bapepam nomor Kep-19/PM/1996

nomor 12.g.

Dalam hal ini perlu kiranya diketahui adanya beberapa perbedaan

yang signifikan antara perdagangan saham dan future commodity adalah:

1. Pada pembelian saham umumnya akan memperoleh kepemilikan

(ownership), namun pada pembelian futures tidak berhak atas kepemilikan

underlying asset sampai si pembeli memutuskan untuk menyerahkan saat

berakhirnya kontrak. Umumnya para pemain futures jarang sekali menahan

kontraknya sampai saat penyerahan (delivery) dan mereka menjual

kontraknya sebelum jatuh tempo.

2. Fasilitas leverage (dengan menggunakan hutang) umumnya lebih besar pada

pasar futures dibandingkan dengan pasar saham. Pada pasar saham hanya

sebagian kecil saja transaksi yang menggunakan fasilitas margin, sedangkan

pada futures semua jenis futures contract dapat memperoleh margin.

3. Pada transaksi saham atas penggunaan fasilitas margin biasanya dikenakan

bunga yang hal ini tidak berlaku dalam pasar modal syariah sedangkan pada

futures tidak dikenakan biaya atas margin, karena jenis kontrak ini adalah

(15)

14 4. Fluktuasi harga pada pasar saham umumnya tidak dibatasi (di Bursa Efek

Jakarta, suatu saham otomatis akan disuspen dalam perdagangan jika dalam

satu hari telah mengalami kenaikan atau penurunan sebesar 50%). Pada

bursa futures, kontrak umumnya memiliki batas harian harga dan transaksi

tidak dapat dilakukan setelah mencapai batas tersebut, dan baru diteruskan

keesokan harinya.

Perdagangan interest rate dalam bursa apapun dan segala transaksi

berbasis bunga apapun bentuknya tidak diperkenankan dalam muamalah

Islam, sehingga wajib untuk dihindari oleh para pelaku bisnis syariah.

E. Kesimpulan

Dari uraian yang cukup panjang di atas, dapat disimpulkan bahwa

aktivitas perdagangan pada bursa berjangka tidak semuanya bertentangan

dengan rambu-rambu Islam seperti yang disebutkan dalam poin D di atas .

Bahkan penulis merasa bahwa perdagangan di bursa berjangka ini nantinya

akan bermanfaat dalam beberapa hal, di antaranya sebagai sarana lindung

nilai dari terjadinya volatilitas harga yang ekstrem di pasaran, dan juga

sebagai alternatif investasi bagi kalangan muslim yang memiliki dana

berlebih dan disalurkan kepada pihak yang membutuhkan, sehingga dapat

memacu perputaran roda ekonomi, terutama di negara-negara muslim.

F. Referensi

Karim, A. Adiwarman, SE., MBA., MAEP., Bank Islam: Analisis Fiqh dan

Keuangan, Edisi Keempat, RajaGrafindo Perkasa, Jakarta 2010.

http://ustadzsbu.blogspot.com/2009/04/hukum-bursa-berjangka-future-market.html

Referensi

Dokumen terkait

Tersebarnya lokasi dari ATM yang berada di wilayah Purwokerto, dan tidak sedikit dari para nasabah yang belum mengetahui lokasi ATM yang berada di wilayah tersebut, maka

pengaruh secara parsial antara disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada KUD Gondanglegi. Berdasarkan hasil analisis statistik dapat diketahui bahwa terdapat

Prinsip kehati-hatian adalah pedoman pengelolaan Bank yang wajib dianut guna mewujudkan perbankan yang sehat, kuat dan efisien sesuai dengan ketentuan

Peralatan teknis yang digunakan dalam proses pengujian sertifikasi Ahli Kesehotan dan Keselamatan Keia Konsfuksi diverifikasi atau. dikalibrasi secara

Output yang dihasilkan yaitu dari data NBM dihasilkan banyak keluhan-keluhan yang dirasakan oleh operator yang dapat memicu terjadinya resiko kerja, Perhitungan JSI menunjukkan

matematis siswa dengan gaya kognitif FI sebagai berikut : (a) Mampu men- jelaskan situasi/ permasalahan dengan menyatakan hal-hal yang diketahui dan dinyatakan

Peningkatan jumlah PUBLIKASI ILMIAH internasional bereputasi, yang mencerminkan kemampuan menciptakan invensi berbasis iptek sebagai hulu dari produk inovasi dengan nilai

stock ) yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang digunakan dalam bekerjanya