• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 KERAGAAN USAHA PERIKANAN BUDIDAYA DI JAWA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4 KERAGAAN USAHA PERIKANAN BUDIDAYA DI JAWA BARAT"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

4 KERAGAAN USAHA PERIKANAN BUDIDAYA DI

JAWA BARAT

Gambaran Umum Provinsi Jawa Barat

Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak antara 50 50’ -70 20’ Lintang Selatan dan 1040 48’-1080 48’ Bujur Timur dengan batas wilayahnya meliputi:

ƒ Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa dan DKI Jakarta;

ƒ Sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah;

ƒ Sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia;

ƒ Sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Banten.

Luas wilayah Provinsi Jawa Barat mencapai 3.584.664,92 hektar, dengan kondisi topografi beragam mulai dari dataran rendah hingga tinggi. Seluas 330.946,92 hektar berada pada ketinggian 0-25 meter di atas permukaan laut (dpl), 312.037,34 hektar berada pada ketinggian 25-100 meter dpl, 650.086,65 hektar berada pada ketinggian 100-500 meter, 585.384,37 hektar berada pada ketinggian 500-1000 meter dpl, dan 284.022,53 hektar berada pada ketinggian 1000 meter dpl lebih. Mempunyai panjang 816,82 km dan luas perairan laut 16.450 km2. Secara administrasi terbagi kedalam 17 kabupaten dan 9 kota.

Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah memiliki kondisi alam yang cocok untuk pengembangan perikanan budidaya, khusunya budidaya perikanan air tawar. Hal ini ditunjang dengan besarnya sumberdaya air tawar di Jawa Barat karena ditunjang oleh curah hujan yang tinggi. Curah hujan rata-rata tahunan pada umumnya diatas 2.000 mm. Banyaknya hujan diperkirakan 180 hari/tahun. Air hujan yang jatuh ke permukaan sekitar 80 milyar m3 setahunnya, sehingga Jawa Barat memiliki banyak sungai, danau rawa, situ dan genangan air lainnya. Air permukaan ini juga berfungsi sebagai pengisi waduk-waduk (Jatiluhur, Saguling, Cirata, dan Dharma). Jawa Barat memiliki 514 buah sungai besar dan kecil, sebagian besar bermuara di Laut Jawa dan sebagiannya di Samudera Hindia serta Selat Sunda.

Kondisi alam yang sesuai untuk budidaya ikan ditunjang dengan tradisi budidaya ikan yang sudah lama berkembang di masyarakat Jawa Barat. Budidaya dalam kolam air tenang dan sawah sudah lama dikenal di Jawa Barat, kemudian berkembang kolam air deras dan karamba jaring apung. Oleh karena itu, Jawa Barat dikenal sejak lama menjadi penghasil ikan budidaya air tawar terbesar di Indonesia.

Perkembangan Jenis Ikan dan Teknologi Produksi Perikanan Budidaya Sampai tahun 1950an, jenis ikan yang dibudidayakan sebagai ikan konsumsi baru terbatas pada jenis-jenis ikan tertentu saja seperti mas, tawes dan nilem. Sesudah tahun 1950-an, domestikasi ikan dan udang berkembang lebih lanjut dengan ikan dari sungai, yang sejauh itu merupakan hasil penangkapan. Disamping domestikasi ikan dari dalam negeri, juga didatangkan berbagai varietas ikan dan udang yang berasal dari luar. Rincian mengenai jenis ikan dan udang serta waktu domestikasi atau masuknya ke

(2)

Indonesia umumnya dan Jawa Barat khusunya dapat dilihat dalam Tabel 9 berikut.

Tabel 9 Jenis ikan atau udang dan waktu domestikasi atau introduksinya

No. Tahun Keterangan Jenis Ikan

1. Sampai 1950

ƒ Ikan mas (Cyprinus carpio) yang dibawa masuk oleh imigran Cina zaman Mataram.

ƒ Tawes (Puntius gonionotus), Nilem (Osteochilus hasseltii)

ƒ Mata merah (Puntius orphoides), Gurame (Osphronemus goramy)

ƒ Mujair (Oreochromis mossambicus)

ƒ Sepat siam (Trichogaster pectoralis) introduksi dari Thailand melalui Malaysia tahun 1934

ƒ Tambakan (Helostoma temminckii), Belut (Monopterus alba) 2. 1957 ƒ Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni). Pembesaran di kolam dicoba

dilakukan sejak tahun 1957 di Pusat Percobaan Perikanan Air tawar Depok, dan beberapa tempat di Jawa Barat. Benih jelawat didatangkan dari Jambi. Budidaya tidak berkembang lebih lanjut, karena belum ditemukan cara pembiakan yang praktis.

ƒ Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii). Pembudidayaan dimulai tahun 1957-1958. Pusat Percobaan Perikanan Air Tawar dari Balai Penyelidikan Perikanan di Depok mengadakan percobaan pemeliharaan udang galah dari benih tokolan yang ditangkap di daerah Cilacap. Ujicoba pembesaran udang galah dilakukan di kolam air tawar di Ciamis dan Tasikmalaya.

ƒ

3. 1968 ƒ Pada tahun 1968, diintroduksi ikan koan (Ctenopharyngodon idellus) dari negeri Cina. Ikan ini dikembangkan di Ciherang Jawa Barat dan di BBI Sentral Ngrajek Jawa Tengah

ƒ

4. 1973 ƒ Diintroduksi ikan mola (Hypophthalmichys molitrix) dari Taiwan.

ƒ Didatangkan dari Thailand benih ikan lele bangkok atau jambal (Pangasius sutchi). Sampai 1985, benihnya masih didatangkan dari Thailand. Pihak swasta mulai berhasil mengembangkan pembenihannya sejak tahun 1986.

5 1975 ƒ Didatangkan ikan nila hibrida (hasil silangan Oreochromus nilotica

dan Oreochromus mossambicus). Sifat unggulnya ialah omnivora, cepat tumbuh, cepat berkembang biak, dan tebal dagingnya. 6. 1980 ƒ Pada tahun 1980-an didatangkan ikan nila merah dari Filipina, yang

berkembang biak dengan cepat. Tetapi perkembangannya berkurang karena terjadi persilangan liar dengan nila biasa.

7. 1985 Ikan lele dumbo Clarias gariepenus (hasil silangan antara Clarias fuscus asal afrika dan Clarias batrachus endemik di Asia Tenggara) dari Taiwan dan Hongkong dibawa ke Indonesia tahun 1985.

(3)

Lanjutan Tabel 9

No. Tahun Keterangan Jenis Ikan

8. 1988 ƒ Pada tahun 1988-1989 diimpor lagi parent stock ikan nila strain

chitralada dari Thailand dan nila Genetically Improved Farmed Tilapia (GIFT) dari Filipina. Strain chitralada tidak berkembang dan tidak jelas penyebabnya, tetapi nila GIFT amat populer pada akhir dekade 1990.

9. 1990 ƒ Diintroduksi ikan bawal air tawar Colossoma sp yang hidup asli di sungai Amazon, Amerika Serikat. Ikan ini bersifat omnivora, bentuknya pipih sepert ikan bawal. Pertumbuhannya cukup pesat, dalam 4-6 bulan dapat mencapai bobot 0,5 kg dan sudah matang telur. Sejak berhasilnya pembiakan pada tahun 1994, ikan ini sudah banyak dibudidayakan.

10. 1999 ƒ Diintroduksi Ikan Mas Sinyonya

ƒ Diintroduksi Ikan Mas Majalaya dan Ikan Patin Jambal 11. 2001 ƒ Diintroduksi Udang Galah GIMacro

12. 2004 ƒ Diintroduksi Lele Sangkuriang yang merupakan perbaikan genetik dari ikan lele dumbo sebelumnya, dan diintroduksi Ikan Nila JICA 13. 2006 ƒ Diintroduksi Nila Nila GESIT (Genetiacally Supermale Indonesian

Tilapia), Nirwana 1 dan diintroduksi Ikan Patin PASUPATI

14. 2009 ƒ Diintroduksi Varietas Ikan Nila Hitam BEST hasil Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor

ƒ Diintroduksi Varietas Ikan Nila Merah Hibrida Larasati hasil pemuliaan Satker PBIAT Janti Klaten Jawa Tengah

15. 2011 ƒ Diintroduksi Ikan Torsoro hasil domestikasi Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor.

16. 2012 ƒ Diintroduksi ikan nila Nirwana (Nila Ras Wanayasa) Menteri Kelautan dan Perikanan pada tanggal 20 April 2012, menerbitkan Surat Keputusan Nomor KEP.23/MEN/2012 tentang Pelepasan Ikan Nila Nirwana II. Diintroduksi ikan nila Sultana.

Diintroduksi ikan nila Srikandi (Salinity resistant improvement from Sukamandi). Strain unggul ikan nila berkarakter tumbuh cepat di perairan payau diperlukan untuk memenuhi kebutuhan benih unggul di masyarakat pembudidaya ikan di kawasan pesisir. Perakitan strain unggul ikan nila yang mampu tumbuh cepat di tambak dilakukan oleh Balai Penelitian Pemuliaan Ikan sejak tahun 2007.

Sumber: Dirangkum dari data sekunder Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat dan Kementerian Kelautan dan Perikanan

(4)

Selain jenis ikan, teknologi budidaya serta berbagai kebijakan di bidang perikanan mempengaruhi perkembangan budidaya perikanan. Pada masa lalu berbagai teknologi produksi dikembangkan di Indonesia umumnya dan khsususnya Jawa Barat. Pembudidaya ikan air tawar di Jawa Barat telah memiliki pengalaman dalam teknologi pemijahan dan budidaya. Hal ini ditandai dengan banyaknya temuan teknologi dalam perikanan budidaya di Jawa Barat. Contohnya teknik pemijahan ikan mas dengan metode kakaban. Hanya saja penguasaan teknologi budidaya modern seperti teknologi bebasis bioteknologi belum dikuasai para pembudidaya. Tabel 10 berikut menguraikan perkembangan teknologi perikanan serta kebijakan bidang perikanan.

Tabel. 10 Perkembangan teknologi dan kebijakan perikanan di Jawa Barat No. Tahun Perkembangan Teknologi dan Kebijakan

1. 1950 ƒ Teknik pemijahan ikan mas dengan kakaban

ƒ Teknik penggunaan karamba untuk memelihara ikan di sungai 2. 1968 ƒ Introduksi budidaya ikan mas Majalaya dalam kolam air deras di

Cibalagung Bogor. Perkembangannya sendiri baru terjadi pada tahun 1976 di Bogor, Bandung, lalu diikuti oleh kabupaten lain. 3. 1970 ƒ Introduksi budidaya ikan mas dalam kolam air tenang bersama

ayam (longyam) di Kabupaten Tasikmalaya.

4. 1986 ƒ Teknik penggunaan karamba untuk memelihara ikan mulai berkembang sejak tahun 1950-1951 di Sungai Cibunut Bandung. Sejak tahun 1974, dilakukan percobaan budidaya ikan dalam karamba jaring apung (KJA) di Situ Cigombong (Lido) Bogor, Situ Ciburuy Bandung, dan Waduk Juanda Jatiluhur. Pada tahun 1986 berkembang di Waduk Saguling Bandung, dan tahun 1988 di Waduk Cirata Cianjur. Introduksi awal karamba jaring apung di Situ Lido Bogor, Situ Wanayasa Purwakarta, Situ Ciburuy Bandung, dan Waduk Dharma Kuningan. Dicanangkan pada tanggal 10 Mei 1986 oleh Presiden RI di Waduk Saguling.

5. 1987 ƒ Teknik pengembangan mina pesantren, yang kemudian dijadikan inti pengembangan mina pesantren di Indonesia.

6. 1988 ƒ Intensifikasi mina sawah (istilah awal disebut intensifikasi mina padi, yang kemudian disingkat menjadi INMINDI) yang dicanangkan oleh presiden RI pada kesempatan hari pangan sedunia di Sukabumi dengan Jawa Barat ditargetkan seluas 20.000 Ha.

7. 1990 ƒ Introduksi budidaya ikan di lahan hutan bakau (mina-hutan) yang dicanangkan pelaksanaannya oleh Presiden RI di Cikiong Karawang

2000 ƒ Pembentukan Departemen Kelautan dan Perikanan 8. 2002 ƒ Intensifikasi Budidaya Ikan (INBUDKAN)

9. 2007 ƒ Cara Pembudidayaan Ikan yang Baik

ƒ Budidaya ikan (terutama ikan lele) dalam kolam terpal 10. 2010 ƒ Pengembangan Kawasan Minapolitan

Sumber: Dirangkum dari data sekunder Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat dan Kementrian Kelautan dan Perikanan

(5)

Luas Areal Budidaya dan Jumlah Pembudidaya

Secara umum luas areal budidaya perikanan budidaya air tawar di Jawa Barat terbesar adalah sawah, kemudian kolam air tenang, dan terakhir karamba jaring apung. Dalam 40 tahun terakhir luas areal perikanan budidaya air tawar di sawah mengalami penurunan, sedangkan budidaya kolam air tenang cenderung stagnan. Berbeda dengan sawah dan kolam air tenang, maka luasan areal budidaya di KJA secara umum mengalami kenaikan. Hal ini diduga banyaknya alih fungsi lahan sawah menjadi peruntukan non pertanian. Kenaikan luasan areal KJA diduga karena besarnya keuntungan usaha tersebut, sehingga menarik banyak pembukaan KJA baru. Perkembangan luas areal perikanan budidaya dapat dilihat dalam Gambar 11 berikut.

Luas Areal Budidaya

0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 1969 1972 1975 197 8 1981 1984 1987 1990 199 3 199 6 1999 2002 2005 2008 201 1 Tahun L u as ( H a) Kolam Sawah Jaring Apung

Gambar 11 Grafik perkembangan luas areal perikanan budidaya tahun 1969-2011

Jawa Barat memiliki 625.000 ha sawah beririgasi teknis yang dapat dimanfaatkan untuk memelihara ikan, baik secara mina padi, penyelang, maupun palawija. Luas areal budidaya ikan di sawah merupakan luas areal budidaya terbesar dibanding jenis budidaya lainnya (67,33% dari total luas areal budidaya). Mengalami kenaikan terutama setelah pencanangan program Intensifikasi Mina Padi (Inmindi) pada tahun 1988. Luas areal budidaya di sawah kemudian menurun pasca krisis ekonomi 1998, tetapi sejak tahun 2007 trennya naik kembali.

Potensi perikanan budidaya dalam kolam mencapai 58.771 ha (31,80% dari total luas areal budidaya). Sampai tahun 2011 luas areal perikanan budidaya dalam kolam baru mencapai 20.475.68 ha, artinya baru mencapai 34.84%. Perkembangan luas areal budidaya di kolam dalam empat dasawarsa ini sedikit meningkat. Jika pada tahun 1969 luasnya 19.353 ha, maka pada tahun 2011 luasnya menjadi 20.475.68 ha. Hanya terjadi perluasan rata-rata sebesar 26,7 ha per tahun.

Karamba jaring apung mulai diperkenalkan tahun 1986 di beberapa waduk di Jawa Barat. Mulai banyak berkembang secara komersial sejak tahun 1997, sebagian besar di Waduk Cirata, Saguling dan Jatiluhur dan

(6)

sebagian kecil di Waduk Dharma Kuningan. Secara umum sejak 1997 sampai tahun 2008 tren luas areal budidaya KJA mengalami kenaikan. Ada lonjakan kenaikan pada tahun 2000, diduga adanya krisis ekonomi mendorong banyak orang ke bidang perikanan dan pertanian. Sejak tahun 2009 luas areal budidaya KJA cenderung mengalami penurunan. Hal ini diduga karena luasan budidaya yang terbatas serta banyaknya kejadian

upwelling sehingga banyak mengakibatkan kematian masal ikan yang banyak menimbulkan kerugian. Rincian luas areal KJA dapat dilihat dalam Gambar 12 berikut.

Gambar 12 Luasan Waduk Cirata yang ditempati KJA (Bappeda Cianjur, tahun 2012)

Pada sensus KJA tahun 2007, jumlah KJA adalah 52.418 petak, padahal batas maksimal yang diperbolehkan yakni hanya 12.000 unit sesuai Surat Keputusan Gubernur No 41 Tahun 2002. Jumlah KJA Waduk Cirata pada

(7)

tahun 2011 meningkat menjadi sebanyak 53.031 petak dengan jumlah petani sebanyak 2.511 RTP (Rumah Tangga Petani). Jumlah Keramba yang aktif sebanyak 48.591 petak atau sekitar 91,63% dari seluruh jumlah KJA. Perkembangan jumlah KJA di Waduk Cirata selengkapnya dapat dilihat dalam Gambar 13 berikut.

Sumber: Badan Pengendalian Waduk Cirata (BPWC)

udidaya KJA di Cirata 1998-

li Waduk Cirata tahun 2011 secara mum menunjukkan mutu air Waduk Cirata bagi peruntukan air baku air

inu

Keterangan

Gambar 13 Grafik perkembangan luas areal b 2011

Menurut pantauan Badan Pengenda u

m m (Golongan B), tergolong buruk. Parameter kualitas air yang tidak memenuhi baku mutu yaitu H2S, DO, COD, BOD, Cd, E. coli. dan Coliform. Mutu air bagi peruntukan kegiatan perikanan dan peternakan (Golongan C), hasil pemantauan menunjukkan bahwa mutu air tergolong buruk. Pada umumnya, parameter yang tidak memenuhi baku mutu untuk Golongan C adalah H2S, NH3, NO2-N, Cl2, DO, Cu, Zn, dan Cd (lihat Tabel 11).

Tabel 11 Kualitas air Waduk Cirata tahun 2011

Parameter Stat 1 Stat 2 Stat 3 Stat 4 Baku Mutu

DO 4.14 3.08 3.31 3.98 >3 mg/l Sedikit di atas baku mutu

COD 18 1 16 4 17 1 16 6 Dibawah baku mutu

1 1 1 1

.6 .7 .0 .5 10 mg/l

BOD 0.98 1.54 1.54 0.67 6 mg/l Dibawah baku mutu

Ammonia 0.01 0.01 0.00 0.01 0 Dibawah baku mutu

Nitrit 0.10 0.03 0.10 0.01 0 Dibawah baku mutu

Nitrat 2.66 2.68 2.86 2.31 0 Dibawah baku mutu

Sumber: Badan ol ad rat

(RTP) kolam air tenang dan sawah lah trennya mengalami penurunan. Tahun 1997 jumlah total RTP kolam air tenang turun 7,99% dan mina sawah turun 37,12%.

Pengel aan W uk Ci a, 2012

Jumlah rumah tangga pembudidaya secara umum jum

(8)

Sedangkan jumlah RTP untuk karamba jaring apung secara umum dalam sepuluh tahun terakhir mengalami kenaikan mencapai 83,8%. Grafik perkembangan jumlah RTP dalam perikanan budidaya disajikan dalam Gambar 14 berikut Perkembangan Jumlah RTP 400,000.00 0.00 50,000.00 100,000.00 150,000.00 200,000.00 250,000.00 300,000.00 350,000.00 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05 20 06 20 07 20 08 20 09 20 10 20 11 Tahun RT P (Un it) Kolam Sawah Jaring Apung

Gambar 14 Grafik perkembangan jumlah RTP perikanan budidaya di Jawa Barat

ang dan sawah jumlah trennya mengalami penurunan. Dari tahun 997 jumlah total pembudidaya kolam air tenang turun 19,99% dan mina

Sebagaimana jumlah RTP, maka jumlah pembudidaya kolam air ten secara umum

1

sawah turun 44,17%. Sedangkan jumlah pembudidaya untuk karamba jaring apung secara umum dalam sepuluh tahun terakhir mengalami kenaikan, kenaikannya mencapai 168,07%. Grafik perkembangan jumlah pembudidaya dalam perikanan budidaya disajikan dalam Gambar 15 berikut.

Jumlah Pembudidaya 0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 1998 199 9 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 201 0 2011 Tahun Ju m lah ( O ra n g ) Kolam Sawah Jaring Apung

Gambar 15 Jumlah pembudidaya perikanan air tawar di Jawa Barat Produksi P

Secara umum jumlah produksi perikanan budidaya air tawar di Jawa

Ba al

mengalami kenaikan sebesar 18,47%. Rata-rata kenaikan tahun 1969-2004 berbeda secara signifikan dibanding rata-rata kenaikan tahun 2004-2011.

erikanan Budidaya Perikanan Air Tawar di Jawa Barat

(9)

Rata-rata kenaikan tahun 1969-2004 sebesar 6,96%, sedangkan rata-rata kenaikan tahun 2005-2011 meningkat menjadi sebesar 22,13%. Hal ini diduga adanya penglepasan berbagai varietas ikan nila unggulan.

Kontribusi produksi perikanan budidaya terbesar disumbangkan oleh budidaya kolam. Kontribusi kedua oleh produksi yang berasal dari keramba jaring apung. Kontribusi ketiga oleh produksi yang berasal dari budidaya di sawah. Meski luasan sawah jauh lebih besar dibanding karamba jaring apung tetapi kontribusi jaring apung sejak tahun 2004 melampaui produksi dari sawah. Hal ini karena budidaya dalam karamba jaring apung bersifat intensif sehingga kepadatannya sangat tinggi. Perkembangan produksi perikanan budidaya di Jawa Barat dapat dilihat dalam Gambar 16 berikut.

0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 1969 1971 1973 1975 1977 1979 1981 1983 1985 1987 1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011 Pr oduk si   (t on)

Kolam Sawah Karamba Kolam Air Deras Jaring Apung

Gambar 16 Grafik perkembangan produksi perikanan budidaya di Jawa Barat

Konsumsi Per Kapita

mengalami kenaikan. Data menunjukkan bahwa pada tahun 1983 jumlah perkapita konsumsi ik sar 8,35 kg/kapita/tahun, meningkat menjadi 27,5 kg/kapita/tahun pada tahun 2011. Meningkat Jumlah per kapita konsumsi ikan di Jawa Barat secara umum

an di Jawa Barat sebe

rata-rata 8,2 % per tahun. Tingkat per kapita konsumsi ikan masyarakat Jawa Barat masih di bawah tingkat perkapita nasional. Tingkat per kapita konsumsi ikan yang masih menunjukkan masih terbuka peluang pengembangan permintaan ikan. Hal ini karena besarnya jumlah penduduk Jawa Barat, sehingga kenaikan sedikit saja perkaita konsumsi ikan akan meningkatkan jumlah permintaan ikan secara signifikan. Perkembangan tingkat per kapita konsumsi ikan di Jawa Barat dapat dilihat dalam Gambar 17 berikut.

(10)

Per Kapita Konsumsi Ikan 35 0 5 10 15 20 25 30 1 983 1 985 1 987 1 989 1 991 1 993 1 995 1 997 1 999 2 001 2 003 2 005 2 007 2 009 2 011 Tahun Pe r K a p it a (K g/ K a pi ta /Ta hu n

Per Kapita Jabar Per Kapita Nasional

Gambar 17 Grafik perkembangan per kapita konsumsi ikan Jawa Barat tahun 1983-2011

Keragaman jenis ikan yang dibudidayakan di Jawa Barat menurun tajam. Dari sepuluh ikan utama yang ada, hanya tiga ikan (mas, nila, dan lele) yang mendominasi d rhadap produksi ikan air tawar Jawa Barat. Pangsa jenis ikan terhadap produksi dapat dilihat dalam

amb

Keragaman Jenis Ikan

alam pangsa jenis ikan te G ar 18 berikut.

Perbandingan Produksi Jenis Ikan Utama

180,000.00 Mas 0.00 20,000.00 40,000.00 60,000.00 80,000.00 100,000.00 120,000.00 140,000.00 160,000.00 1998 2002 2007 2008 2005 2006 2009 2010 2011 Tahun (T o n ) Nila Nilem Mujair Gurame Tawes Patin Lele Sepat Siam Tambakan

Gambar 18 Grafik tren pangsa jenis ikan utama terhadap produksi ikan Jabar Diversitas Entropy

eberagaman aktivitas/sektor ekonomi di suatu wilayah. Semakin bertambah jumlah jenis aktivitas/sekto ai diversitas entropi akan semakin besar. Semakin berimbang komposisi berbagai aktivitas/sektor Nilai diversitas entropy ditujukan untuk menghitung tingkat k

r ekonomi maka nil

ekonomi tersebut, nilai diversitas entropi juga menjadi semakin besar. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa semakin besar nilai diversitas entropy

(11)

maka suatu wilayah dapat dianggap semakin berkembang/maju (Panuju, et al.

2010).

Berdasar pengertian dan berdasar perumusan diversitas entropy, dihitung nilai diversitas entropy dalam perikanan budidaya air tawar berdasar nilai produksi masing-masing jenis ikan. Hasil perhitungan nilai diversitas entropy jenis ikan budidaya air tawar dapat dilihat dalam Gambar 19 berikut.

Indeks Entropy Jenis Ikan Budidaya Air Tawar Jawa Barat, 2005-2011

0.8 0 0.2 0.4 0.6 Tahun In d e k s E n tr o py Indeks entropy Indeks entropy 0.44977 0.64912 0.63416 0.70111 0.71984 0.71019 0.70526 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Gambar 19 Grafik tren indeks entropy jenis ikan budidaya air tawar Jawa Barat

Dalam grafik terlihat bahwa sejak tahun 2005 sampai tahun 2009, nilai peningkatan nilai. Hal ini menunjukkan bahwa dari tahun 2005 sampai tahun 2009 jumlah dan komposisi berbagai jenis ikan semakin berimbang. Berbeda

ara merata oleh konsumen di Jawa Barat. Kedua, ketersediaan

indeks diversitas entropy jenis ikan budidaya air tawar menunjukkan

dengan periode tahun 2009 sampai tahun 2011, justru terjadi penurunan nilai indeks diversitas entropy jenis ikan budidaya air tawar. Hal ini menunjukkan penurunan jumlah dan komposisi berbagai jenis ikan semakin tidak berimbang dan tidak beragam. Sesuai grafik keragaman jenis ikan dalam gambar di atas, dominasi jenis ikan mas, nila dan lele semakin dominan dan menjadikan komposisi keberagaman jenis ikan tidak lagi meningkat (stagnan).

Dominasi jenis ikan mas, nila dan lele didiuga disebabkan beberapa faktor. Pertama, konsumen di Jawa Barat umumnya menyukai ketiga jenis ikan tersebut. Hal ini berbeda dengan ikan nilem atau belut yang belum disukai sec

benih ikan mas, nila dan lele lebih banyak tersedia dibanding ikan-ikan seperti sepat, nilem, belut dan udang galah. Ketiga, peningkatan secara pesat jenis ikan nila dan lele diduga karena kedua jenis ikan ini lebih tahan terhadap penurunan kualitas lingkungan perairan dibanding jenis ikan lainnya.

Gambar

Tabel 9 Jenis ikan atau udang dan waktu domestikasi atau introduksinya
Gambar 11  Grafik perkembangan luas areal  perikanan  budidaya  tahun     1969-2011
Gambar 12  Luasan Waduk Cirata yang ditempati KJA (Bappeda Cianjur,  tahun 2012)
Tabel 11  Kualitas air Waduk Cirata tahun 2011  Parameter Stat  1  Stat 2  Stat 3  Stat 4  Baku Mutu
+5

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Sebuah organisasi wajib memiliki struk dalam struktur kepemimpinan, yang m musyawarah oleh para anggota atau pem Jika di lakukan pemilihan ketua dengan salah satu calon

ANALISIS BIAYA PRODUKSI PADA PT PLN (PERSERO) WILAYAH ACEH AREA LANGSA..

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) pengaruh dari model quantum teaching terhadap prestasi belajar ips, 2) pengaruh partisipasi terhadap

Tujuan Penelitian : Untuk memeriksa kadar lumpur batu pecah Pedoman Penelitian : Kandungan lumpur pada agregat kasar tidak.. melebihi 1% apabila melebihi agregat

(2) Terhadap terpidana mati yang belum mengajukan permohonan grasi berdasarkan Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi, jangka waktu 1 (satu) tahun

observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena

Contoh: Hakim apabila mengadapi suatu kasus, dimana kasus tersebut belum diatur dalam peraturan perundang-undangan, tetapi Hakim mengetahui bahwa untuk kasus tersebut telah