• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dkerusakan parah di zona Graben Bantul. Penelitian ini bertujuan untuk: (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dkerusakan parah di zona Graben Bantul. Penelitian ini bertujuan untuk: (1)"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh :

Daryono

1) Daryono adalah Peneliti di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jakarta

INDEKS KERENTANAN SEISMIK BERDASARKAN MIKROTREMOR

PADA SETIAP SATUAN BENTUKLAHAN DI ZONA GRABEN BANTUL

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

aerah Bantul secara tektonik merupakan salah satu kawasan gempabumi aktif di Indonesia. Gempabumi Bantul 27 Mei 2006 (M 6.4) menyebabkan w

D

kerusakan parah di zona Graben Bantul. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik indeks kerentanan seismik pada setiap satuan bentuklahan di zona Graben Bantul, dan (2) mengetahui persebaran spasial indeks kerentanan seismik berdasarkan pendekatan satuan bentuklahan di zona Graben Bantul.

Penelitian ini menggunakan pendekatan spasial dengan satuan bentuklahan sebagai satuan analisis. Teknik pengambilan data mikrotremor menggunakan proportional

purposive sampling. Analisis data mikrotremor menggunakan Metode Horizontal to Vertical Spectrum Ratio (HVSR). Analisis hasil penelitian dan pembahasan menggunakan

analisis spasial, analisis kuantitatif, dan analisis kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor pada setiap satuan bentuklahan berubah mengikuti satuan bentuklahan. Nilai rata-rata indeks kerentanan seismik tertinggi terdapat pada satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda (K =8,5). Nilai rata-rata indeks g

kerentanan seismik terendah terdapat pada satuan bentuklahan Perbukitan Struktural Formasi Sentolo (K =0,1). Persebaran daerah lebih rentan secara seismik akibat local site g effect di zona Graben Bantul terdapat pada satuan bentuklahan asal fluvial, vulkanik,

aeoliomarin, denudasional, dan fluviomarin. Persebaran daerah kurang rentan secara seismik terdapat pada satuan bentuklahan asal struktural. Beberapa faktor yang mempengaruhi indeks kerentanan seismik dalam penelitian ini adalah jenis material penyusun bentuklahan, ketebalan sedimen, dan kedalaman muka airtanah.

keterangan penulis abstrak bahasa indonesia

(2)
(3)

gempabumi akibat aktivitas subduksi lempeng, zona Graben Bantul dan sekitarnya juga sangat rawan gempabumi akibat aktivitas sesar-sesar lokal di daratan. Jika mencermati sejarah kegempaan Jawa, sejak dahulu, zona Graben Bantul merupakan kawasan yang selalu mengalami kerusakan setiap terjadi gempabumi kuat. Gempabumi Yogyakarta 10 Juni 1867 menyebabkan ribuan rumah rusak dan lebih dari 500 orang meninggal (Newcomb dan McCann, 1987). Gempabumi Yogyakarta 23 Juli 1943 menyebabkan 15.275 rumah rusak dan lebih dari 213 orang meninggal (Bemmelen, 1949).

Tanggal 27 Mei 2006, zona Graben Bantul kembali diguncang gempabumi tektonik. Meskipun kekuatan gempabumi relatif kecil (M 6,4), tetapi mengakibatkan w

lebih dari 6.000 orang meninggal dunia dan 1.000.000 orang kehilangan tempat tinggal (Walter et al., 2008). Hasil analisis Harvard-CMT (2007) menunjukkan bahwa episenter gempabumi terletak pada koordinat 8,03 LS dan 110,54 BT, tepatnya pada perbukitan struktural yang berjarak ± 15 kilometer di sebelah timur zona Graben Bantul.

Gempabumi Bantul 27 Mei 2006 menyimpan tanda tanya terkait lokasi episenter dan persebaran kerusakan rumah. Teori yang menyatakan bahwa tingkat kerusakan gempabumi akan menurun terhadap bertambahnya jarak dari episenter ternyata tidak sepenuhnya benar, karena hal ini tidak berlaku pada kasus gempabumi Bantul 27 Mei 2006. Daerah kerusakan rumah paling parah justru terkonsentrasi di zona Graben Bantul yang lokasinya cukup jauh dari episenter, sementara daerah yang lokasinya berdekatan dengan episenter hanya

mengalami tingkat kerusakan ringan. Menurut Yamazaki dan Matsuoka (2008) dan Miura et al. (2008), zona kerusakan parah yang terjadi di wilayah Kecamatan Pundong, Jetis, Imogiri, Pleret, Banguntapan, dan Piyungan jaraknya cukup jauh dari episenter, sedangkan di daerah yang berdekatan dengan episenter justru mengalami kerusa-kan ringan. Persebaran kerusakerusa-kan yang membentuk jalur kerusakan di zona Graben Bantul menjadi fenomena unik mengingat lokasi episenter tidak terletak di zona kerusakan.

Survei pengukuran mikrotremor perlu dilakukan di zona Graben Bantul untuk menjawab keunikan persebaran kerusakan rumah akibat gempabumi. Data mikrotremor dapat mengetahui indeks kerentanan seismik pada setiap satuan bentuklahan di zona Graben Bantul. Setiap satuan bentuklahan dengan segala karakteristiknya memiliki respon tertentu terhadap gelombang seismik yang mengenainya. Adanya variasi relief dan jenis material penyusun pada setiap satuan b e n t u k l a h a n d a p a t m e m p e n ga r u h i karakteristik kerentanan seismik pada setiap satuan bentuklahan tersebut, sehingga bentuklahan diyakini dapat memberi informasi penting dalam analisis kerentanan seismik. Kajian indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor pada setiap satuan bentuklahan dapat menggambarkan secara empiris tingkat kerentanan seismik setiap satuan bentuklahan saat terjadi gempabumi.

Kabupaten Bantul memiliki tingkat risiko yang tinggi terhadap bencana gempabumi karena memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi dengan pertumbuhan penduduk yang terus

(4)

berkembang. Kajian indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor pada setiap satuan bentuklahan bermanfaat untuk keperluan mitigasi, terutama untuk kesiap-siagaan dalam menghadapi bencana gempabumi. Kajian kerentanan gempabumi yang didasari pada pengukuran lapangan, analisis peta, dan data sekunder menghasil-kan peta kerentanan gempabumi di zona Graben Bantul. Peta indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor dapat dimanfaatkan bagi masyarakat Kabupaten Bantul untuk menyesuaikan pola kehidupan-nya. Peta ini juga dapat dijadikan sebagai rujukan dalam pengembangan wilayah yang aman terhadap bahaya gempabumi.

Berdasarkan rumusan masalah yang diuraikan, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui karakteristik indeks keren-tanan seismik pada setiap satuan bentuklahan di zona Graben Bantul, 2. Mengetahui persebaran spasial indeks

kerentanan seismik berdasarkan pende-katan satuan bentuklahan di zona Graben Bantul.

B. KEASLIAN PENELITIAN

Beberapa penelitian mengenai indeks kerentanan seismik berdasarkan mikro-tremor sudah dilakukan oleh para peneliti terdahulu (Nakamura, 2008; Saita et al., 2004; Huang dan Tseng, 2002; Nakamura et al., 2000; Nakamura, 2000; Gurler et al., 2000). Penelitian ini memiliki beberapa kesamaan dalam hal tema dengan penelitian terdahulu, namun juga memiliki perbedaan

dalam hal tujuan, metode analisis, pende-katan, dan objek kajian yang digunakan.

Seluruh penelitian indeks kerentanan seismik berdasarkan pengukuran mikro-tremor yang dilakukan oleh para peneliti terdahulu hanya menggunakan pendekatan geofisika. Indeks kerentanan seismik berda-sarkan mikrotremor selanjutnya dibanding-kan dengan data kerusadibanding-kan rumah. Seluruh penelitian terdahulu hanya berupa pengum-pulan data lapangan tanpa analisis spasial mendalam, sedangkan penelitian ini merupakan penelitian terapan yang bersifat eksploratif menggunakan pendekatan satuan bentuklahan dan analisis spasial.

Para peneliti terdahulu belum ada yang secara khusus menjadikan satuan bentuklahan sebagai objek kajian indeks kerentanan seismik berdasarkan mikro-tremor. Sebagai langkah inovasi untuk menemukan sesuatu yang sebelumnya belum ada, penelitian ini menjadikan satuan bentuklahan sebagai objek kajian untuk mengetahui karakteristik indeks kerentanan seismik pada setiap satuan bentuklahan.

C. HIPOTESIS

Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dirumuskan, maka hipotesis penelitian ini sesuai dengan tujuan penelitian pertama dan kedua, yaitu:

1. Karakteristik indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah berubah mengikuti satuan bentuklahan.

2. Persebaran spasial indeks kerentanan seismik berdasarkan pendekatan satuan

(5)

bentuklahan menunjukkan bahwa variasi indeks kerentanan seismik dipengaruhi oleh jenis material penyusun, ketebalan sedimen, dan kedalaman muka airtanah.

D. METODE PENELITIAN

Zona Graben Bantul yang mengalami kerusakan rumah paling parah akibat gempabumi 27 Mei 2006, memiliki kondisi bentuklahan yang bervariasi (Langgeng dan Tjahyo, 2006). Bentuklahan ialah bagian dari permukaan Bumi yang memiliki bentuk topografi yang khas, akibat pengaruh kuat dari poses alam dan struktur geologis pada material batuan dalam ruang dan waktu kronologis tertentu (Simoen dkk. (Eds.), 2002).Berdasarkan pertimbangan adanya keunikan persebaran kerusakan rumah akibat gempabumi, maka daerah penelitian difokuskan di zona Graben Bantul yang mencakup 8 satuan bentuklahan (Tabel 1).

Sampel area dalam penelitian ini adalah 8 satuan bentuklahan di daerah penelitian. Pada ke-delapan satuan bentuklahan tersebut ditentukan sampel titik yang merupakan lokasi pengukuran mikrotremor. Mikrotremor adalah getaran tanah yang disebabkan oleh beberapa faktor akibat aktivitas manusia, seperti lalulintas, industri, dan aktivitas manusia lainnya di permukaan Bumi. Selain akibat aktivitas manusia, sumber-sumber mikrotremor juga disebabkan oleh faktor alam seperti interaksi angin dan struktur bangunan, arus laut, dan gelombang laut periode panjang (Petermans et al., 2006). Teknik penentuan sampel titik pengukuran mikrotremor ditetapkan dengan cara proportional purposive sampling. Banyaknya pengambilan sampel mikro-tremor tergantung kepada luasan satuan bentuklahan, sedangkan penentuan lokasi pengambilan data mikrotremor mempertim-bangkan persyaratan menurut standar aturan SESAME European Research Project (2004).

Tabel 1. Jumlah pengukuran mikrotremor pada setiap satuan bentuklahan

45 lokasi 19 lokasi 10 lokasi 5 lokasi 3 lokasi 4 lokasi 13 lokasi 10 lokasi 109 lokasi

No. Satuan Bentuklahan Jumlah

1 2 3 4 5 6 7 8

Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda

Lereng Kaki Koluvial Perbukitan Baturagung Kompleks Beting dan Gisik Gumukpasir Dataran Fluviomarin

Perbukitan Struk.Formasi Kebo, Butak & Semilir Perbukitan Struktural Formasi Nglanggran Perbukitan Struktural Formasi Sentolo Jumlah lokasi pengukuran mikrotremor

(6)

Alat untuk mengumpulkan data adalah

seperangkat alat pengukur mikrotremor

berupa satu buah seismometer periode pendek (sensitive velocity sensor) tipe TDS-303 (3 komponen) dengan frekuensi sampling 100 Hz, dilengkapi kabel data, digitizer, solar cell panel, GPS, UPS, dan laptop akuisisi data. Beberapa perangkal lunak yang digunakan adalah perangkat lunak DataPro untuk akuisisi data yang juga berfungsi untuk memotong sinyal digital, Perangkat lunak GEOPSY untuk analisis HVSR (Bonnefoy-Claudet, 2008), Perangkat lunak Arc GIS untuk pemetaan, dan Perangkat lunak Globalmapper untuk membuat penampang melintang zona Graben Bantul.

Pengolahan data mikrotremor meng-gunakan metode analisis Horizontal to Vertical Spectrum Ratio (HVSR) (Gambar 1). Hasil keluaran perangkat lunak GEOPSY berupa rara-rata spektrum mikrotremor. Dari spektrum ini dapat diketahui nilai frekuensi resonansi (fo) dan puncak spektrum mikrotremor (A) di lokasi pengukuran. Indeks kerentanan seismik (K ) diperoleh dengan g

membagi kuadrat puncak spektrum mikrotremor (A) dengan frekuensi resonansi (fo).

Cara analisis data dan hasil penelitian secara umum menggunakan analisis spasial, kualitatif, dan kuantitatif. Pada akhir analisis hasil penelitian dilakukan pengujian hipotesis terhadap hipotesis yang sudah ditetapkan. Hipotesis pertama diterima jika indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah berubah mengikuti satuan bentuklahan. Hipotesis ditolak jika nilai indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah tidak berubah mengikuti satuan bentuk-lahan. Hipotesis kedua diterima jika indeks kerentanan seismik memiliki korelasi signifikan dengan jenis material penyusun, ketebalan sedimen/kedalaman batuan dasar, dan kedalaman muka airtanah. Hipotesis ditolak jika indeks kerentanan seismik tidak memiliki korelasi signifikan dengan jenis material penyusun, kedalaman batuan dasar, dan kedalaman muka airtanah.

(7)

E. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Indeks Kerentanan Seismik pada Satuan

Bentuklahan

Karakteristik spektrum mikrotremor berubah mengikuti satuan bentuklahan (Gambar 2). Spektrum mikrotremor di perbukitan memiliki karakteristik fre-kuensi resonansi tinggi dengan puncak spektrum rendah. Di dataran aluvial yang tersusun oleh material aluvium, spektrum mikrotremor memiliki karakteristik frekuensi resonansi rendah dengan puncak spektrum tinggi. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Nakamura et al. (2000), Saita et al. (2004), Gurler et al (2000) dan Huang dan Tseng (2002). Namun demikian belum ada peneliti terdahulu yang menjadikan satuan

bentuklahan sebagai objek kajian. Menurut Mukhopadhyay dan Borman (2004), Nguyen et al. (2003), Parolai et al. (2001) dan Parolai et al. (2002), adanya variasi spektrum mikrotremor dipenga-ruhi oleh kondisi litologi dan ketebalan sedimen.

Frekuensi resonansi di zona Graben Bantul dan sekitarnya berkisar antara 0,6-13,0 Hz. Persebaran nilai frekuensi reso-nansi rendah terdapat pada bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda, Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda, Beting Gisik dan Gumukpasir, Dataran Fluviomarin, dan Lereng Kaki Koluvial Perbukitan Baturagung. Nilai frekuensi resonansi berangsur-angsur membesar memasuki kawasan Perbukitan Struktural Formasi Sentolo di sebelah barat dan

Keterangan satuan bentuklahan: Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda (F) Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda (V) Lereng Kaki Koluvial Perbukitan Baturagung (D) Kompleks Beting Gisik dan Gumukpasir (A) Dataran Fluviomarin (M)

Perbukitan Struktural Formasi Kebo, Butak, dan Semilir (S1) Perbukitan Struktural Formasi Nglanggran (S2)

Perbukitan Struktural Formasi Sentolo (S3)

(8)

P e r b u k i t a n S t r u k t u r a l F o r m a s i Nglanggran, Kebo, Butak, dan Semilir di sebelah timur Graben Bantul. Pada satuan bentuklahan Perbukitan Struktural Formasi Nglanggran, Kebo, Butak, dan Semilir memiliki frekuensi resonansi tinggi (di atas 6,0 Hz), demikian juga satuan bentuklahan Perbukitan struktural Formasi Sentolo juga memiliki frekuensi resonansi tinggi (di atas 6,0 Hz). Analisis statistik untuk mengetahui hubungan antara frekuensi resonansi dengan ketebalan sedimen menunjukkan bahwa frekuensi resonansi memiliki korelasi signifikan dengan ketebalan sedimen dengan nilai korelasi sebesar -0,897 dan nilai signifikansi 0,0 (Gambar 3).

Jika frekuensi resonansi rendah berkorelasi dengan batuan dasar yang dalam, dan frekuensi resonansi tinggi berkorelasi lapisan sedimen yang tipis, maka Graben Bantul bagian timur secara kualitatif memiliki batuan dasar yang lebih dalam jika dibandingkan dengan Graben Bantul bagian barat. Nilai frekuensi resonansi membuktikan bahwa Graben Bantul merupakan jenis graben yang tidak simetris (asymmetric graben) (Gambar 4).

Menurut Ventura et al. (2004) rendahnya nilai frekuensi resonansi disebabkan oleh tebalnya material sedimen halus di dataran aluvial, sedangkan tingginya frekuensi resonansi disebabkan oleh tipisnya lapisan sedimen pada singkapan batuan dasar. Di Graben Bantul, rendahnya frekuensi resonansi di Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda, dan Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda disebabkan oleh tebalnya endapan

material vulkanik Merapi. Pada satuan bentuklahan Perbukitan Struktural Fo r m a s i N g l a n g g ra n , Pe r b u k i ta n Struktural Formasi Kebo, Butak, dan Semilir, serta Perbukitan Struktural Formasi Sentolo memiliki frekuensi resonansi yang tinggi disebabkan oleh satuan bentuklahan ini tersusun oleh material batuan keras dan singkapan permukaan dengan sedimen tipis.

Indeks kerentanan seismik di zona Graben Bantul berkisar antara 0,04 dan 23,21. Peta persebaran spasisl Indeks kerentanan seismik di zona Graben Bantul dapat dilihat pada Gambar 5. Indeks kerentanan seismik pada setiap satuan bentuklahan dirata-ratakan untuk menge-tahui variasinya dan karakteristiknya pada setiap satuan bentuklahan. Nilai indeks kerentanan seismik antara 1,0 hingga 23,21 tersebar pada satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda, Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda, L e re n g Ka k i Ko l u v i a l Pe r b u k i ta n Baturagung, Kompleks Beting Gisik dan Gumukpasir, dan Dataran Fluviomarin. Indeks kerentanan seismik kurang dari 1,0 terdapat pada satuan bentuklahan perbukitan struktural, seperti satuan bentuklahan Perbukitan Struktural Formasi Sentolo, Perbukitan Struktural Nglanggran, Perbukitan Struktural Kebo, Butak, dan Semilir.

Variasi indeks kerentanan seismik secara lateral disebabkan oleh kondisi bentuklahan, seperti variasi relief dan material penyusun bentuklahan. Pene-litian Nakamura et al. (2000) dan Nakamura (2008) menunjukkan bahwa

(9)

Gambar 3. Hubungan antara frekuensi resonansi dengan ketebalan sedimen

Persebaran spasial frekuensi resonansi (fo) di zona Graben Bantul

Model Graben Bantul dibawah batuan aluvium (hasil analisis data mikrotremor)

c. Penampang geologis Graben Bantul (Rahardjo et al., 1977)

Gambar 4. Persebaran spasial frekuensi resonansi di zona Graben Bantul (atas) dan model Graben Bantul dibawah batuan aluvium (bawah)

(10)

indeks kerentanan seismik tinggi terdapat di daerah pesisir yang tersusun material aluvium. Indeks kerentanan seismik selanjutnya mengecil setelah memasuki kawasan perbukitan. Hal serupa juga dinyatakan Gurler et al. (2000), bahwa indeks kerentanan seismik tinggi terdapat pada jalur aliran sungai, kawasan reklamasi, dan bekas rawa. Indeks kerentanan seismik nilainya menurun setelah memasuki perbukitan yang tersusun oleh batuan keras. Fakta ini yang mendasari kesimpulan bahwa indeks kerentanan seismik terkait dengan variasi relief dan jenis material penyusun bentuklahan.

Nilai ground shear-strain pada setiap satuan bentuklahan menggambarkan

ke m a m p u a n m a t e r i a l p e n y u s u n bentuklahan untuk meregang dan bergeser saat mengalami guncangan akibat gempabumi. Untuk mengetahui nilai ground shear-strain (ã) pada setiap satuan bentuklahan saat terjadi gun-cangan gempabumi 27 Mei 2006 (M6,4) di zona Graben Bantul diperlukan data peak ground acceleration (PGA) di batuan dasar. Hasil perhitungan PGA meng-gunakan rumus empiris Fukushima dan Tanaka (1990), menunjukkan bahwa pada saat gempabumi di zona Graben Bantul mengalami PGA antara 361 dan 427

2

cm/detik . Berdasarkan persebaran nilai PGA tampak bahwa PGA terbesar terjadi di sekitar bidang sesar. Di Lanteng Dua, Imogiri yang lokasinya berdekatan dengan

Gambar 5. Peta persebaran spasial indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor di zona Graben Bantul

(11)

bidang sesar mengalami PGA sebesar 427

2

cm/detik . Nilai PGA mengecil terhadap bertambahnya jarak dari bidang sesar, sehingga di Sembung, Pajangan, yang merupakan lokasi paling jauh dari bidang sesar, hanya mengalami PGA sebesar 361

2

cm/detik .

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata ground shear-strain paling besar terdapat pada satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda

- 6

(ã=3.402×10 ) sedangkan rata-rata ground shear-strain paling kecil terdapat pada satuan bentuklahan Perbukitan

-6

Struktural Formasi Sentolo (ã=36×10 ). Rata-rata ground shear-strain berubah mengikuti satuan bentuklahan. Urutan ini mencerminkan tingkat kekompakan material batuan penyusun bentuklahan, dari bentuklahan yang tersusun oleh material lepas (unconsolidated) hingga bentuklahan yang tersusun oleh batuan ke r a s ( c o n s o l i d a t e d ) s i n g k a p a n permukaan.

Ishihara (1982) menyusun hubungan antara strain dengan dinamika tanah, dalam hal ini semakin besar strain menyebabkan lapisan tanah mudah mengalami longsoran, rekahan, dan likuefaksi. Semakin kecil nilai strain bentuklahan maka kondisinya semakin

-6

stabil. Pada strain 10 kondisi tanah hanya

-2

mengalami getaran, tetapi pada strain 10 lapisan tanah dapat mengalami rekahan, longsoran, dan likuefaksi. Kajian strain efektif untuk menilai bahaya gempabumi pada suatu bentuklahan karena dapat mengetahui tingkat kerentanan bentuk-lahan.

Hasil perhitungan rasio kerusakan rumah pada setiap satuan bentuklahan di daerah penelitian menunjukkan nilai yang bervariasi. Besarnya rasio kerusakan rumah berubah mengikuti satuan bentuklahan. Rasio kerusakan rumah paling besar terjadi pada satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda (R=75,3%), sementara rasio kerusakan paling kecil terjadi pada satuan bentuklahan Perbukitan Struktural Formasi Sentolo (R=12,0%).

Pengkajian rasio kerusakan rumah b e rd a s a r ka n p e n d e kata n s at u a n b e n t u k l a h a n p e r n a h d i l a k u k a n Midorikawa (2002) menggunakan data gempabumi Kanto, Jepang 1923. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya hubungan antara rasio kerusakan rumah dengan satuan bentuklahan. Rasio kerusakan rumah cenderung besar (70%) pada satuan bentuklahan rawa belakang, dataran lembah, tanggul alam, dan kipas aluvial, sedangkan rasio kerusakan rumah cenderung kecil (50,0%) pada satuan bentuklahan gumukpasir dan teras.

Karakteristik satuan bentuklahan yang tersusun oleh material lepas seperti pasir dan kerikil akan memiliki ground shear-strain yang lebih besar saat terjadi gempabumi. Ini menjadi fakta empiris bahwa pada satuan bentuklahan yang tersusun oleh material lepas seperti Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda dan Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda selamanya akan mengalami kerusakan parah jika terjadi gempabumi.

Ada hubungan antara indeks keren-tanan seismik berdasarkan mikrotremor

(12)

dengan rasio kerusakan rumah pada setiap satuan bentuklahan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa indeks kerentanan seismik 21,2 berhubungan dengan rasio kerusakan rumah 77%, indeks kerentanan 8,0 berhubungan dengan rasio kerusakan rumah 48%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa rasio kerusakan memiliki korelasi signifikan dengan indeks kerentanan seismik, dengan nilai korelasi sebesar 0,919 dan nilai signifikansi 0,0 (Gambar 6).

Ada kemiripan pola antara persebaran indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor di zona Graben Bantul dengan persebaran kerusakan akibat gempabumi 27 Mei 2006. Persebaran rasio kerusakan tinggi yang terkonsentrasi pada bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda dan Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda terkait dengan tingginya indeks kerentanan seismik kedua bentuklahan ini.

Tingginya rasio kerusakan akibat gempabumi di Graben Bantul khususnya pada satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda dan Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda dapat dijelaskan menggunakan pendekatan ground shear-strain. Sebagi contoh, di daerah Bulusan, Kecamatan Jetis, yang lokasinya sekitar 8,3 km dari episenter mengalami kerusakan parah, sementara daerah Lanteng Dua, Kecamatan Imogiri yang jaraknya 3,8 kilometer dari pusat gempabumi rumah-rumah tidak menga-lami kerusakan. Saat terjadi gempabumi Bantul 27 Mei 2006, perhitungan percepatan batuan dasar di daerah

2

Bulusan adalah 408 cm/detik . Daerah Bulusan terletak pada satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda yang memiliki indeks kerentanan seismik tinggi (K =23,2). Saat terjadi gempabumi, g

ground shear-strain daerah Bulusan

- 6

sangat besar (ã=9.460×10 ), yang

(13)

menurut Nakamura et al. (2000) dan Nakamura (2008) dapat menimbulkan deformasi tanah dan kerusakan rumah. Namun demikian, lain halnya yang terjadi di daerah Lanteng Dua, Kecamatan Imogiri yang terletak pada satuan bentuklahan Perbukitan Struktural Formasi Nglanggran yang lokasinya berdekatan dengan episenter. Meskipun di Lanteng Dua mengalami percepatan lebih besar, yaitu

2

427 cm/detik , tetapi karena daerah ini memiliki indeks kerentanan seismik sangat kecil (K =0,2) maka ground shear-g

-6

strain yang terjadi juga kecil (ã=67×10 ). Nilai ground shear-strain ini menyebab-kan bangunan rumah di daerah Lanteng Dua tidak mengalami kerusakan.

Jika dihubungkan dengan persebaran kerusakan aktual dampak gempabumi Bantul 27 Mei 2006 di zona Graben Bantul, tampak persebaran indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor memi-liki kemiripan dengan pola persebaran nilai rasio kerusakan rumah, lokasi likuefaksi, dan lokasi rekahan tanah akibat gempabumi. Hasil ini sesuai dengan pendapat Saita et al., (2004) dan Gurler et al., (2000), bahwa teknik indeks kerentanan seismik sangat handal dalam memprediksi kawasan yang mengalami kerusakan akibat gempabumi. Adanya kemiripan pola persebaran indeks kerentanan seismik dengan persebaran lokasi rekahan tanah akibat gempabumi menurut Pramumijoyo dan Ignatius

(2008) menunjukkan bahwa teknik indeks

kerentanan seismik dapat memprediksi kawasan rentan rekahan tanah. Adanya kemiripan antara pola persebaran indeks

kerentanan seismik dengan persebaran lokasi likuefaksi menurut Natawidjaja (2007) juga mengindikasikan bahwa indeks kerentanan seismik mampu memprediksi kawasan rentan likuefaksi seperti dikemukanan Huang dan Tseng (2002).

Jika ada hubungan antara indeks kerentanan seismik dengan rasio keru-sakan rumah, maka ground shear-strain lapisan tanah permukaan juga berhu-bungan dengan rasio kerusakan rumah. Hasil perhitungan menunjukkan ada hubungan antara indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah dengan satuan bentuklahan. Ground shear-strain

-6

ã=8.637×10 berhubungan dengan rasio kerusakan 77%, ground shear-strain

-6

ã=3167×10 berhubungan dengan rasio kerusakan 48%. Ada kecenderungan semakin consolidated material penyusun bentuklahan akan semakin kecil indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakannya (Gambar 7).

Gempabumi Bantul 27 Mei 2006 dengan episenter di perbukitan struktural sebelah timur zona Graben Bantul mem-bangkitkan percepatan di batuan dasar. Percepatan dari batuan dasar ini menjalar ke permukaan dan berinteraksi dengan karakteristik kerentanan bentuklahan yang dikuantifikasi sebagai indeks kerentanan seismik. Indeks kerentanan seismik pada setiap satuan bentuklahan merespon masukan percepatan dari batuan dasar digambarkan dalam ground shear-strain. Ground shear-strain mencerminkan kemampuan material

(14)

penyusun bentuklahan untuk meregang dan bergeser saat gempabumi.

Ada hubungan antara indeks keren-tanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah dengan satuan bentuklahan. Semakin tinggi indeks kerentanan seismik pada satuan bentuk-lahan, maka saat gempabumi akan mengalami ground shear-strain yang semakin besar, sehingga menimbulkan rasio kerusakan rumah yang besar pada bentuklahan tersebut. Hubungan antara indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah dengan satuan bentuklahan mampu menjawab fenomena persebaran kerusakan yang terkonsentrasi pada satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda dan Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda di zona Graben Bantul yang lokasinya jauh dari episenter.

Gambar 8 menunjukkan lokasi perlin-tasan penampang satuan bentuklahan:

(1) Perbukitan Struktural Formasi Sentolo, (2) Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda, (3) Lereng Kaki Koluvial Perbukitan Baturagung, (4) Perbukitan Struktural Formasi Kebo, Butak, dan Semilir, serta (5) P e r b u k i t a n S t r u k t u r a l F o r m a s i Nglanggran. Dalam penampang ini tampak nilai rasio kerusakan rumah paling besar terjadi pada satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda dengan rasio kerusakan rumah 75%. Meskipun satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda lokasinya jauh dari episenter tetapi mengalami rasio kerusakan rumah yang lebih besar jika dibandingkan dengan satuan bentuklahan Perbukitan Struktural Formasi Nglanggran (14,0%) yang lokasinya dekat dengan episenter. Nilai rasio kerusakan pada setiap satuan bentuklahan merupakan cerminan dari indeks kerentanan seismik dan ground shear strain setiap satuan bentuklahan.

Keterangan nomor satuan bentuklahan: 1.Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda 2.Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda 3.Lereng Kaki Koluvial Perbukitan Baturagung 4.Kompleks Beting Gisik dan Gumukpasir 5.Dataran Fluviomarin

6.Perbukitan Struktural Formasi Kebo, Butak, dan Semilir 7.Perbukitan Struktural Formasi Nglanggran

8.Perbukitan Struktural Formasi Sentolo

Gambar 7. Indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah pada setiap satuan bentuklahan

(15)

Kerusakan parah yang terkonsentrasi pada satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda dan Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda merupakan cerminan tingginya indeks kerentanan pada satuan bentuklahan tersebut, sehingga saat gempabumi membang-kitkan ground shear-strain yang besar pada kedua satuan bentuklahan tersebut. Nilai ground shear-strain yang besar pada satuan bentuklahan Dataran

Fluviovul-kanik Merapi Muda dan Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda menyebabkan material penyusun bentuklahan bergun-cang hebat saat gempabumi, sehingga meskipun lokasinya jauh dari episenter tetap menyebabkan bangunan rumah mengalami kerusakan, rekahan tanah, dan likuefaksi. Kedua satuan bentuklahan ini morfologinya dataran, materialnya didominasi kerikil dan pasir dengan muka airtanah dangkal.

Gambar 7. Indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah pada setiap satuan bentuklahan

(16)

Berdasarkan gambaran tersebut, tampak bahwa tingginya indeks keren-tanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah terkait dengan material lepas seperti pasir dan kerikil hasil deposisi lahar Merapi yang terkonsentrasi di zona Graben Bantul. Kerusakan parah yang terjadi pada satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda dan Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda merupakan gambaran fenomena local site effect di zona Graben Bantul saat gempabumi 27 Mei 2006.

Hasil penelitian pada bagian ini telah menjawan hipotesis pertama, yaitu karakteristik indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah berubah mengikuti satuan bentuklahan (Tabel 2).

2. Persebaran Spasial Indeks Kerentanan Seismik Berdasarkan Pendekatan Satuan Bentuklahan

Seluruh faktor yang mempengaruhi tingkat kerentanan seismik di daerah penelitian bersifat statis karena merupa-kan faktor asal dalam dari bentuklahan itu

sendiri. Di alam ini ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi besarnya indeks kerentanan seismik. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi indeks kerentanan seismik dalam penelitian ini diantaranya adalah jenis material penyusun, ketebalan sedimen, dan kedalaman muka airtanah.

Indeks kerentanan seismik menun-jukkan ada hubungan dengan litologi. Batuan breksi dan shale yang dangkal memiliki indeks kerentanan seismik rendah, tetapi lapisan pasir dan krikil yang tebal sangat rentan secara seismik karena memiliki indeks kerentanan seismik tinggi (Gambar 9)

Indeks kerentanan seismik memiliki korelasi signifikan dengan ketebalan sedimen. Hubungan antara indeks kerentanan seismik dengan kedalaman batuan dasar menunjukkan bahwa semakin dalam batuan dasar cenderung memiliki indeks kerentanan seismik yang semakin tinggi. Indeks kerentanan seismik rendah (K kurang dari 1,0) berhubungan g

dengan ketebalan sedimen kurang dari 10 meter, tetapi indeks kerentanan tinggi (K g

di atas 10,0) berhubungan dengan Tabel 2. Perubahan rata-rata indeks kerentanan seismik (K ), g

ground shear-strain (ã), dan rasio kerusakan (R) pada setiap satuan bentuklahan

Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda Lereng Kaki Koluvial Perbuk.Baturagung Kompleks Beting Gisik dan Gumukpasir Dataran Fluviomarin

Perbukitan Struktural Formasi Kebo, Butak, & Semilir Perbukitan Struktural Formasi Nglanggran

Perbukitan Struktural Formasi Sentolo

8,5 8,0 3,0 2,5 1,9 0,6 0,3 0,1 0,0034 0,0031 0,0012 0,0009 0,0007 0,0002 0,0001 0,00004 75,0 44,3 20,0 16,0 16,3 15,6 14,0 12,0 No Bentuklahan 1 2 3 4 5 6 7 8 Kg ã R (%)

(17)
(18)

ketebalan sedimen di atas 90 meter. Analisis statistik menunjukkan bahwa indeks kerentanan seismik memiliki korelasi signifikan dengan ketebalan sedimen dengan nilai korelasi sebesar 0,799 dan nilai signifikansi 0,0 (Gambar 10).

Adanya hubungan antara kedalaman muka airtanah dengan indeks kerentanan seismik. Daerah yang memiliki kedalaman muka airtanah yang dangkal memiliki indeks kerentanan seismik yang tinggi, sebaliknya pada lokasi yang memiliki kedalaman muka airtanah dalam memiliki

indeks kerentanan seismik yang rendah. Indeks kerentanan seismik di atas 3,0 banyak dijumpai pada daerah dengan kedalaman muka airtanah kurang dari 4,0 meter. Indeks kerentanan seismik di bawah 1,0 terdapat pada lokasi dengan kedalaman muka airtanah lebih dari 15,0 meter. Analisis statistik menunjukkan bahwa kedalaman muka airtanah memiliki korelasi yang signifikan dengan indeks kerentanan seismik dengan nilai korelasi sebesar -0,769 dan nilai signifikansi 0,0 (Gambar 11).

Gambar 10. Hubungan antara indeks kerentanan seismik dengan tebal sedimen

(19)

Berdasarkan hubungan antara indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, rasio kerusakan, dengan faktor-faktor yang mempengaruhi indeks kerentanan seismik (jenis material, ketebalan sedimen, dan kedalaman muka airtanah), maka daerah penelitian dapat dikelom-pokkan dalam dua kelas kerentanan berdasarkan satuan bentuklahan, yaitu: daerah lebih rentan dan daerah kurang rentan secara seismik (Gambar 12).

Daerah lebih rentan secara seismik dalam hal ini adalah daerah yang dapat mengalami local site effect saat gempabumi. Daerah ini memiliki indeks kerentanan seismik berdasarkan mikro-tremor antara 1,0 dan 24,0. Penetapan daerah yang lebih rentan secara seismik ini didasarkan fakta: (1) Saat gempabumi 27 Mei 2006, daerah indeks kerentanan seismik antara 1,0 dan 24,0 mengalami

-6

rata-rata ground shear-strain 2.839×10 .

Keterangan nomor satuan bentuklahan: 1.Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda 2.Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda 3.Lereng Kaki Koluvial Perbukitan Baturagung 4.Kompleks Beting Gisik dan Gumukpasir 5.Dataran Fluviomarin

6.Perbukitan Struktural Formasi Kebo, Butak, dan Semilir 7.Perbukitan Struktural Formasi Nglanggran

8.Perbukitan Struktural Formasi Sentolo

(20)

Ground shear-strain sebesar ini menurut Ishihara (1982) sangat berpotensi menimbulkan defor-masi tanah dan menimbulkan kerusakan bangunan rumah, (2) Berdasarkan data kerusakan gempabumi 27 Mei 2006, daerah indeks kerentanan seismik antara 1,0 dan 24,0 mengalami rasio kerusakan 16-80%, (3) Daerah Graben Bantul yang tersusun oleh material unconsolidated sediment memiliki indeks kerentanan seismik antara 1,0 dan 24,0. Morfologinya berupa dataran yang tersusun oleh material lepas seperti pasir, kerikil, dan lempung, (4) Sebagian besar daerah dengan indeks kerentanan seismik antara 1,0 dan 24,0 merupakan kawasan airtanah potensial dan dangkal (1-15 meter) sehingga berpotensi terjadi likuefaksi saat gempabumi, dan (5) Daerah dengan indeks kerentanan seismik antara 1,0 dan 24,0 memiliki lapisan sedimen tebal (5-150 meter), sehingga berpotensi terjadi resonansi gelombang seismik saat gempabumi.

Daerah kurang rentan secara seismik dalam hal ini adalah daerah yang dapat tidak mengalami local site effect saat gempabumi. Daerah ini memiliki indeks kerentanan seismik berdasarkan mikro-tremor sangat rendah, kurang dari 1,0. Penentuan daerah kurang rentan ini didasarkan fakta: (1) Saat gempabumi 27 Mei 2006 daerah indeks kerentanan seismik kurang dari 1,0 hanya mengalami

-6

rata-rata ground shear-strain 107×10 . Ground shear-strain ini sangat kecil dan menurut Ishihara (1982) kurang membahayakan bangunan rumah, (2)

Saat gempabumi 27 Mei 2006, daerah indeks kerentanan seismik kurang dari 1,0 ini hanya mengalami rasio kerusakan antara 11 dan 15%, (3) Daerah indeks kerentanan seismik kurang dari 1,0 dicirikan morfologinya berupa perbukitan yang tersusun oleh batupasir tufaan, breksi andesit, batugamping, dan batupasir napalan dengan tebal sedimen sangat tipis, sehingga tidak berpotensi terjadi resonansi, dan (4) Daerah indeks kerentanan seismik kurang dari 1,0 memiliki potensi airtanah rendah, muka airtanah lebih dari 15 meter sehingga tidak terjadi likuefaksi.

Hasil penelitian pada bagian ini telah berhasil menjawab hipotesis kedua, yaitu persebaran spasial indeks kerentanan seismik berdasarkan pendekatan bentuk-lahan menunjukkan bahwa variasi indeks kerentanan seismik ditentukan oleh jenis material penyusun, ketebalan sedimen, dan kedalaman muka airtanah. Berdasar-kan hasil penelitian menunjukBerdasar-kan: (1) pada lapisan kerikil dan pasir yang makin tebal memiliki indeks kerentanan seismik tinggi, sedangkan pada batuan breksi andesit, pasir tufaan, batugamping, dan batupasir memiliki indeks kerentanan seismik kecil, (2) indeks kerentanan seismik memiliki korelasi signifikan dengan ketebalan sedimen, dengan nilai korelasi -0,799 dan nilai signifikansi 0,0 dan (3) indeks kerentanan seismik memiliki korelasi signifikan dengan kedalaman muka airtanah, dengan nilai korelasi -0,769 dan nilai signifikansi 0,0.

(21)

F. KESIMPULAN

Karakteristik spektrum mikrotremor berubah mengikuti satuan bentuklahan. Data frekuensi resonansi hasil pengukuran mikrotremor dapat menggambarkan profil kedalaman batuan dasar graben secara kualitatif, sehingga diketahui bahwa Graben Bantul merupakan jenis graben yang tidak simetris dengan batuan dasar lebih dalam di bagian timur. Karakteristik indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah berubah mengikuti satuan bentuklahan. Pola persebaran spasial indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor memiliki kemiripan dengan persebaran rasio kerusakan rumah, persebaran lokasi kejadian likuefaksi, dan persebaran lokasi kejadian rekahan tanah akibat gempabumi Bantul 27 Mei 2006. Semakin unconsolidated material penyusun bentuklahan maka akan semakin besar nilai indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakannya. Semakin consolidated material penyusun bentuklahan maka akan semakin kecil nilai indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakannya. Persebaran kerusakan rumah akibat gempabumi Bantul 27 Mei 2006 yang terkonsentrasi di zona Graben Bantul merupakan fenomena local site effect yang disebabkan oleh tingginya indeks kerentanan seismik pada Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda dan Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda.

Kondisi geomorfologi yang mem-pengaruhi variasi indeks kerentanan seismik di daerah penelitian adalah relief muka bumi, jenis material penyusun bentuklahan,

ketebalan sedimen, dan kedalaman muka airtanah. Ada korelasi signifikan antara indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor dengan ketebalan sedimen dan kedalaman muka airtanah. Persebaran daerah lebih rentan secara seismik karena berpotensi terjadi local site effect saat g e m p a b u m i t e rd a p a t p a d a s a t u a n bentuklahan: (1) Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda, (2) Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda, (3) Lereng Kaki Koluvial Perbukitan Baturagung, (4) Kompleks Beting Gisik dan Gumukpasir, dan (5) Dataran Fluviomarin. Persebaran daerah kurang rentan secara seismik karena tidak berpotensi terjadi local site effect saat g e m p a b u m i t e rd a p a t p a d a s a t u a n bentuklahan: (1) Perbukitan Struktural Formasi Sentolo, (2) Perbukitan Struktural Formasi Nglanggran, Kebo, Butak, dan Semilir, dan Perbukitan Struktural Formasi Nglanggran.

G. TEMUAN PENELITIAN

Penelitian ini menghasilkan dua temuan penting dalam hal metode dan konsep/teori.

1. Secara metodologis penelitian ini telah menghasilkan metode baru dalam analisis bahaya gempabumi deterministik. Metode ini menjadikan satuan bentuk-lahan sebagai objek kajian indeks kerentanan seismik, sebuah cara penelitian yang belum pernah dilakukan oleh para peneliti terdahulu. Pengukuran mikrotremor pada setiap satuan bentuklahan dapat mengetahui respon

(22)

dan karakteristik kerentanan seismik pada setiap satuan bentuklahan, sehingga daerah yang berpotensi mengalami kerusakan jika terjadi gempabumi dapat diprediksi hanya dengan mengetahui satuan bentuklahannya. Penelitian ini merupakan penelitian inovasi guna membuka cakrawala baru mengenai pentingnya menjadikan satuan bentuk-lahan (landforms) sebagai objek kajian mitigasi bencana gempabumi.

2. Secara konseptual/teoritis penelitian ini telah menghasilkan teori baru, yaitu indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan rumah berubah mengikuti satuan bentuklahan. Konsep ini merupakan teori baru yang belum pernah dikemukakan oleh para peneliti terdahulu.

H. UCAPAN TERIMAKASIH

Kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Prof. Dr. Sutikno, Bapak Prof. D r. D u l b a h r i , P ro f. D r. K i r b a n i S r i Brotopuspito, dan Prof. Dr.rer.nat. Junun Sartohadi, M.Sc. atas bimbingannya dalam menyelesaikan penelitian ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada Risk Management System for Yogyakarta (RIMSY Project), Fakultas Geografi UGM dengan Innsbruck University Austria, yang telah memberi dukungan dana dan fasilitas untuk menyelesaikan penelitian ini.

(23)

Bemmelen, R.W. Van. 1949. The Geology of Indonesia. Gov.Printing Office, The Haque, p.732. Bonnefoy-Claudet, S., Leyton, F., Baize, S., Berge-Thierry, C., Bonilla, L.F. and Campos J. 2008.

Potentiality of Microtremor to Evaluate Site Effects at Shallow Depth in The Deep Basin of

th

Santiago de Chile. The 14 World Conference on Earthquake Engineering. Beijing, China. Fukushima, Y. and Tanaka, T.A.1990. A new attenuation relation for peak horizontal acceleration

of strong earthquake ground motion in Japan, Bulletin of the Seismological Society of America, v.80, no. 4, p.757-783.

Gurler, E.D., Nakamura, Y., Saita, J.,Sato, T. 2000. Local site effect of Mexico City based on

th

microtremor measurement. 6 International Conference on Seismic Zonation, Palm Spring Riviera Resort, California, USA, pp.65.

Harvard-CMT. 2007. Focal mechanism of the 2006 Yogyakarta Earthquake, The website of the Harvard Global CMT, id#20062253A, (available at http://www.globalcmt.org).

Huang, H. and Tseng, Y. 2002. Characteristics of soil liquefaction using H/V of microtremor in Yuan-Lin area, Taiwan. TAO, Vol. 13, No. 3, 325-338.

Ishihara, K. 1982. Introduction to Dynamic Soil Mechanism. Japan.

Midorikawa, S. 2002. Importance of damage data from destructive earthquakes for seismic microzoning damage distribution during the 1923 Kanto, Japan earthquake. Annals of Geophysics, Vol. 45, No. 6.

Miura, H., Yamasaki, F., & Matsuoka, M., 2007, Identification of damaged area due to the 2006 Central Java Earthquake using satellite optical images. Urban Remote Sensing Joint Event. Mukhopadhyay, S. and Borman, P. 2004. Low cost seismic microzonation using microtremor

data: an example from Delhi, India, Elsevier, Journal of Asian Earth Science, 24 (2004) 271-280.

Nakamura, Y. 2000. Clear Identification of Fundamental Idea of Nakamura's Technique and Its Application. World Conference of Earthquake Engineering.

th

Nakamura, Y. 2008. On The H/V Spectrum. The 14 World Conference on Earthquake Engineering, Beijing, China.

(24)

Nakamura, Y., Sato, T., and Nishinaga, M. 2000. Local Site Effect of Kobe Based on Microtremor Measurement. Proceeding of the Sixth International Conference on Seismic Zonation EERI, Palm Springs California.

Natawidjaja, D.H. 2007. Tectonic Setting Indonesia dan Pemodelan Sumber Gempabumi dan Tsunami. Pelatihan Pemodelan Run-Up Tsunami, RISTEK, 20-24 Agustus 2007.

Newcomb, K.R. and McCann, W.R. 1987. Seismic History and Seismotectonic of the Sunda Arc. Journal of Geophysical Research, Vol. 92, no. B1 pp 421-439. American Geophysical Union. Nguyen, F., Van Rompaey, G., Teerlynck, H., Van Camp, M., Jougmans, D. and Camelbeeck, T.

2003. Use of Microtremor for Assessing Site Effect in Northern Belgium-Interpretation of The Observed Intensity During The Mag. 5.0 June 11 1938 Earthquake. Journal of Seismology, Vol. 1-3.

Parolai, S., Bormann, P., Milkereit, C. 2001. Assessment of the natural frequency of the sedimentary cover in the Cologne area (Germany) using noise measurement. Journal of Earthquake Engineering, 5, 541-564.

Parolai, S., Bormann, P., Milkereit, C. 2002. New relationship between Vs, thickness of sediment, and resonance frequency calculated by the H/V ratio of the seismic noise for the Cologne area (Germany). Bulletin of Seismological Society of America, 92, 2521-2527.

Petermans, T., Devleeschouwer, X., Pouriel, F. & Rosset, P. 2006. Mapping the local seismic hazard in urban area of Brussel, Belgium. IAEG Paper, Number 424.

Pramumidjoyo, S. and Ignatius S. 2008. Surface Cracking due to Yogyakarta Earthquake 2006, Star Publishing Company.

Rahardjo, W., Sukandarrumidi, and H. Rosidi. 1977. Geologic map of the Yogyakarta. Quadrangle, Java, scale 1:100,000, 8 pp., Geological Survey of Indonesia, Minister of Mines, Jakarta. Saita, J., Bautista, M.L.P. and Nakamura, Y. 2004. On Relationship Between The Estimated Strong

Motion Characteristic of Surface Layer and The Earthquake Damage: Case Study at

th

Intramuros, Metro Manila-. 13 World Conference on Earthquake Engineering, Paper No. 905, Vancouver, B.C., Canada.

SESAME European research project. 2004. Guidelines for the implementation of the H/V spectral ratio technique on ambient vibrations measurements, processing and interpretation. European Commission – Research General Directorate.

(25)

Simoen, S., Langgeng W.S. dan Pramono H. (eds). 2002. Pengenalan Bentanglahan Parangtritis-Bali, Badan Penerbit Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Walter, T.R., B.G. Luehr, R. Wang, M. Sobiesiak, H. Grosser, H.U. Wetzel, C. Milkereit, J. Zschau, J. Wassermann, P.J. Prih Harjadi and Kirbani S. B. 2008. The 26 May 2006 6.4 Yogyakarta Earthquake South of Mt. Merapi Volcano: Did Lahar Deposits Amplify Ground Shaking and thus Lead to Disaster?, Geochemistry, Geophysics, Geosystems, An Electronic Journal of the Earth System.

Ventura, C.E., Onur, T. and Hao, X.S. 2004. Site period estimation in the Fraser River Delta using Microtremor measurement-experimental and analytical studies. 13th World Conference on Earthquake Engineering, Vancouver, B.C., Canada, August 1-6, 2004, Paper No. 1075. Yamazaki, F. and Matsuoka, M. 2007. Remote Sensing Tools For Earthquake Response and

Gambar

Gambar 1. Analisis Horizontal to Vertical Spectrum Ratio (HVSR)
Gambar 2. Karakteristik spektrum mikrotremor berubah mengikuti satuan bentuklahan
Gambar 3. Hubungan antara frekuensi resonansi dengan ketebalan sedimen
Gambar 6. Hubungan antara indeks kerentanan seismik dengan rasio kerusakan rumah
+6

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kondisi habitat peneluran penyu sisik secara umum serta menganalisis parameter morfologi pantai yang diduga dapat mempengaruhi

Integrasi Islam dalam spiritualitas tampak jelas, terlebih ilustrasi di atas kendati sebagian pikiran Maslow tentang spiritual sebagai peak experience yang diungkap, tetapi

Dengan demikian, terapi atau psikoterapi tidak bisa terlepaskan dari bimbingan konseling, karena pada dasarnya manusia tidak bisa luput dari permasalahan, baik permasalahan itu

Dengan demikian, terdapat perbedaan hasil kemampuan metakognisi peserta didik pada pembelajaran fiqh sebelum dan sesudah penerapan strategi pembelajaran Contextual Teaching and

Pengurus KONI Kabupaten Ogan Komering Ulu telah melaksanakan program yang sangat baik dalam rangka menyiapkan sumberdaya manusia yakni melakukan Penaratan Pelatih

pemilihan agregat merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan beton. agregat dibedakan menjadi dua macam yaitu agregat halus dan agregat kasar yang didapat secara alami atau

Oleh karena itu, untuk meningkatkan kinerja perusahaan dalam proses mewujudkan visi dan misi nya, Auto 2000 Puri Kembangan diharapkan dapat memanfaatkan teknologi

Penilaian Keterampilan : Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan cara siswa membuat gambar hias motif hewan kemudian hasil karya dapat dikirim ke guru untuk