• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PERTANIAN DI EMPAT KOMUNITAS PETANI KASUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PERTANIAN DI EMPAT KOMUNITAS PETANI KASUS"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

PERKEMBANGAN SISTEM PERTANIAN DI EMPAT

KOMUNITAS PETANI KASUS

5.1. Perkembangan Pertanian Menetap “Padi Sawah” dan “Tanaman Perkebunan” di Empat Komunitas Petani Kasus

Di semua desa kasus, baik di Sulawesi Tengah maupun NAD, sistem pertanian “perladangan berpindah” (shifting cultivation)52 di lahan kering pernah ada dan sebagian besar petani yang berusia relatif tua pernah melakukannya, kecuali para petani di Desa Jono Oge yang berlatarbelakang etnis Bugis. Sebagai petani pendatang, para petani di Desa Jono Oge umumnya hanya melakukan sistem pertanian menetap. Pola tersebut mereka mulai di lahan sawah, kemudian dilanjutkan di lahan kering dengan tanaman perkebunan.

Sistem pertanian menetap sebenarnya bukan hal yang baru, karena sistem tersebut sudah dilakukan para petani sejak zaman Belanda. Di wilayah dataran rendah seperti di Desa Tondo dan Jono Oge di Sulawesi Tengah serta di Desa Cot Baroh/Tunong di NAD, sistem tersebut dilakukan para petani melalui peng-usahaan tanaman padi sawah. Sementara itu, di wilayah dataran tinggi seperti di Desa Ulee Gunong di NAD sistem tersebut dilakukan para petani melalui peng-usahaan tanaman komersial kopi.

Pada awalnya sistem pertanian menetap hidup berdampingan dengan sistem perladangan berpindah. Akan tetapi, perkembangan sistem pertanian menetap yang mengusahakan tanaman perkebunan berkembang sangat pesat, sehingga akhirnya tidak tersedia lagi lahan yang memadai untuk melakukan sistem perla-dangan berpindah53. Oleh sebab itu, pada saat penelitian berlangsung sistem perladangan berpindah di semua desa kasus sudah tidak ada lagi. Bahkan,

52 Gourou dalam Geertz (1976) menyebutkan bahwa ciri-ciri perladangan adalah : dijalankan di tanah tropis yang gersang, berupa teknik pertanian yang elementer tanpa menggunakan alat-alat kecuali kapak, kepadatan penduduk masih rendah, dan tingkat konsumsi masih rendah. Kemu-dian Pelzer dalam Geertz (1976) mengemukakan bahwa ciri-ciri perladangan adalah tidak ada pembajakan, input tenaga kerja relatif sedikit, tidak menggunakan tenaga hewan dan pemupukan, serta tidak ada konsep pemilikan pribadi.

53

Menurut Geertz (1976), pada permulaan zaman penjajahan Belanda perladangan sudah diusaha-kan oleh suku-suku di Indonesia Luar tetapi jumlahnya masih sedikit. Pada umumnya lahan di Indonesia Luar masih berupa hutan tropis. Setelah itu, tanaman komersial (misalnya kopi) “ditumpangkan” atau “disisipkan” pada lahan hutan atau sistem perladangan sehingga penduduk pribumi tetap dalam keadaan semula tetapi juga menghasilkan produk untuk pasaran dunia.

(2)

rut informasi para petani sistem perladangan berpindah sudah berakhir lama, yaitu di Sulawesi Tengah sejak awal tahun 90 an dan di Nangroe Aceh Darussalam pertengahan tahun 90 an54.

Di desa-desa kasus di Sulawesi Tengah sistem perladangan berpindah di lahan kering mulai tergusur sejak berkembangnya sistem pertanian menetap yang mengusahakan tanaman “komersial” kelapa dan tanaman “komersial” cengkeh sebagai usahatani “monokultur tanaman komersial”55 Kemudian sistem per-ladangan berpindah menghilang dari desa-desa kasus di wilayah Sulawesi Tengah setelah tanaman “komersial kakao” berkembang sangat pesat (Gambar 5.1 dan Gambar 5.2). 0 2 4 6 8 10 12 14 52 - 57 58 - 6 2 63 - 67 68 - 72 73 - 77 78 - 8 2 83 - 87 88 - 92 93 - 97 98 - 0 2 03 - 07 Kakao Cengkeh Kelapa Padi Campuran

Gambar 5.1. Perkembangan Pertanian Menetap di Desa Tondo, 2007 (Sumber Data : Wawancara dengan Petani Responden)

0 2 4 6 8 10 12 14 52 57 58 62 63 67 68 72 73 77 78 - 82 83 87 88 92 93 97 98 - 02 03 07 Kakao Cengkeh Kelapa Padi Campuran

Gambar 5.2. Perkembangan Pertanian Menetap di Desa Jono Oge, 2007 (Sumber Data : Wawancara dengan Petani Responden)

54

(3)

0 2 4 6 8 10 12 14 52 - 57 58 - 62 63 - 67 68 - 72 73 - 77 78 - 82 83 - 87 88 - 9 2 93 - 97 98 - 02 03 - 0 7 Kakao Padi Campuran

Gambar 5.3. Perkembangan Pertanian Menetap di Desa Cot Baroh/Tunong, 2007

(Sumber Data : Wawancara dengan Petani Responden)

0 2 4 6 8 10 12 14 52 - 57 58 - 62 63 - 67 68 - 72 73 - 77 78 - 82 83 - 87 88 - 9 2 93 - 97 98 - 02 03 - 07 Kakao Kopi Campuran

Gambar 5.4. Perkembangan Pertanian Menetap di Desa Ulee Gunong, 2007 (Sumber Data : Wawancara dengan Petani Responden)

Sementara itu, di desa-desa kasus di NAD sistem perladangan berpindah di lahan kering tergusur oleh pengusahaan tanaman “komersial” kopi (di wilayah dataran tinggi) dan kemudian oleh tanaman “komersial” kakao (Gambar 5.3. dan Gambar 5.4.). Di NAD pengembangan tanaman kakao dimulai di wilayah dataran rendah, dan selanjutnya berkembang di wilayah dataran tinggi.

Pada saat penelitian berlangsung, di semua desa kasus, baik yang berada di Sulawesi Tengah maupun di NAD, sistem pertanian menetap dengan tanaman kakao hampir menghabiskan sumberdaya agraria lahan kering, termasuk

(4)

sumber-daya agraria lahan kering yang dipahami masyarakat sebagai “lahan negara” yang diperuntukkan bagi pengembangan usaha perkebunan (Areal Penggunaan Lain/ APL). Bahkan, di beberapa tempat pengembangan kebun kakao rakyat sudah mendekati batas wilayah “hutan lindung” (Gambar 5.5, Gambar 5.6, dan Gambar 5.7). Nampaknya masyarakat terus membuka hutan dan/atau meman-fatkan hutan yang sudah terbuka56 tanpa ada aturan lokal (adat) maupun aturan pemerintah yang dapat bekerja efektif untuk mengawasinya.

Dalam sistem perladangan berpindah yang pernah dilakukan para petani, mereka memanfaatkan lahan kering dengan mengusahakan tanaman utama “pa-ngan” padi ladang, kemudian juga diusahakan tanaman buah-buahan pisang, tana-man sayuran (terutama kacang), dan tanatana-man kayu-kayuan. Di desa kasus di Sulawesi Tengah, tanaman utama yang diusahakan pada sistem pertanian ladang berpindah di lahan kering adalah padi ladang, kemudian para petani juga mengusahakan tanaman palawija (khususnya jagung dan ubi kayu) serta tanaman pisang. Pada sistem perladangan berpindah di Sulawesi Tengah, padi ladang hanya ditanam satu kali/tahun dan hanya satu tahun dalam setiap periode, setelah itu para petani pindah dan membuka lahan di lokasi baru. Lahan lama diusahakan kembali setelah 3 tahun ditinggalkan (oleh orang yang membuka pertama atau orang lain). Sementara itu, di lokasi penelitian propinsi NAD, tanaman yang diusahakan pada sistem pertanian ladang berpindah di lahan kering adalah padi ladang, pisang, kacang. Tanaman-tanaman tersebut diusahakan selama 2 sampai dengan 3 tahun (3 kali penen padi ladang dan 3 kali panen kacang). Setelah itu, mereka membuka hutan lagi sebanyak 3 – 4 kali di tempat lain. Oleh sebab itu, mereka baru kembali ke lahan pertama sekitar 10 tahun kemudian. Baik di Propinsi Sulawesi Tengah maupun NAD, kayu-kayuan ditanam para petani dalam jumlah terbatas sebagai tanda bahwa lahan tersebut ada pemiliknya, sehingga meskipun lahan tersebut ditinggalkan dalam waktu cukup lama tidak akan ada petani lain yang menggarapnya.

(5)
(6)

Gambar 5.6. Peta Lokasi Pertanian Menetap di Desa Cot Baroh/Tunong - Kabupaten Pidie – Nangroe Aceh Darussalam, 2007

i

i

I-o

J Keterongan; _ -... ... - S. -~ ... hJa<ll _ _ 12 Bang lbolo

_

c...

_

_ ...

- Coklolll" - J"'- ...

-

'_ru_

-

". ...

(7)

Gambar 5.7. Peta Lokasi Pertanian Menetap di Desa Ulee Gunong - Kabupaten Pidie – Nangroe Aceh Darussalam, 2007

Keterangan: s ... y ••

_ Hu .. n . . kundo. _ HulOn IIndung

(8)

5.1.1. Perkembangan Pertanian Menetap “Padi Sawah” dan “Perkebunan” di Desa Tondo – Sulawesi Tengah

Pada lahan sawah, tanaman padi merupakan awal pertanian menetap yang dilakukan petani di Desa Tondo. Setelah itu, pada lahan kering, tanaman kelapa merupakan titik tolak berkembangnya pertanian menetap di lokasi tersebut, kemudian disusul dengan cengkeh dan tanaman kakao. Bila tanaman padi sawah sudah diusaha-kan sejak zaman Belanda, tanaman kelapa mulai diusahakan petani pada awal tahun 60 an dan cengkeh baru berkembang sekitar awal tahun 75 an. Sementara itu, tanaman kakao baru diusahakan para petani di Desa Tondo pada awal tahun 90 an.

Sebenarnya, para petani di Desa Tondo sudah mulai mencoba menanam kakao pada tahun 70 an dengan menggunakan benih dari petani Bugis di Desa Jono Oge. Akan tetapi, pada saat itu, produksi buah kakao belum dapat dijual. Kemudian pada akhir tahun 80 an buah kakao sudah dapat dijual, sehingga beberapa petani di Desa Tondo membeli bibit kakao lokal dari orang Mandar di daerah Pasang Kayu (Sulawesi Selatan). Sementara itu, bibit kakao unggul diperoleh para petani di Desa Tondo melalui proyek P2WK yang pembibitannya dilakukan oleh PT Hasfarm. Proyek P2WK memfasilitasi pembangunan kebun kakao para petani pada lahan-lahan yang berada sepanjang jalan yang menghu-bungkan antar desa. Luas kebun kakao petani yang dibangun melalui program P2WK sekitar 100 ha dan jumlah petani Desa Tondo yang ikut serta sekitar 25 % dan luas kebun kakao yang dibangun sekitar 100 ha (umumnya satu ha/petani).

Sebelum ada tanaman komersial perkebunan, sistem pertanian yang diterap-kan masyarakat umumnya sistem perladangan berpindah. Dalam sistem perla-dangan berpindah, tanaman yang diusahakan para petani adalah padi ladang dan palawija (terutama jagung dan ubi kayu) serta tanaman pisang. Pada sistem ini, padi hanya ditanam satu kali/tahun, setelah itu petani pindah dan membuka lahan baru. Lahan tersebut diusahakan kembali para petani setelah tiga tahun diting-galkan (umumnya diusahakan kembali oleh orang yang membuka pertama). Bila lahan tersebut diusahakan oleh orang lain, maka orang lain yang meneruskan harus membayar ganti rugi, sebagai pengganti biaya pembukaan lahan. Pada saat

(9)

pernah diusahakan) tidak perlu meminta izin karena tanah tersebut dipahami masyarakat sebagai tanah “swapraja” atau tanah negara.

Meskipun tanaman kakao terus berkembang, tetapi perubahan sawah menjadi kebun kakao sangat sedikit (sekitar 20 ha), itupun hanya terjadi pada lahan sawah yang tidak lagi mendapatkan air dalam jumlah cukup, sehingga secara teknis tidak mungkin ditanami padi sawah57. Para petani di desa ini masih mempertahankan lahan padi sawah dan tidak merubahnya menjadi kebun kakao karena pertimbangan berikut : sawah menghasilkan bahan untuk makanan pokok, memiliki beras memberikan keamanan ketahanan pangan keluarga dan menjadi prestise, kakao dapat ditanam di tanah kering.

Setelah berkembang pertanian menetap, maka status pemilikan lahan berubah dari pemilikan kolektif menjadi milik perorangan. Namun demikian, pada awal perubahan tersebut belum ada mekanisme pemilikan dengan bukti tertulis. Pada saat itu, satu-satunya bukti milik perorangan yang diakui masyarakat adalah “diatas lahan tersebut terdapat tanaman yang diusahakan”. Luas pemilikan lahan sebagian petani semakin sempit karena mereka menjual lahan, baik kepada petani sedesa maupun kepada penduduk luar desa. Saat ini, bila kebutuhan petani dapat diatasi dengan cara lain sebenarnya para petani enggan menjual sumberdaya agraria (lahan) karena mereka sulit untuk mendapatkan lahan lain.

5.1.2. Perkembangan Pertanian Menetap “Padi Sawah” dan “Perkebunan” di Desa Jono Oge – Sulawesi Tengah

Sebagaimana terjadi di Desa Tondo, di Desa Jono Oge pun pertanian menetap dimulai di lahan basah sawah dimana para petani mengusahakan tanam-an padi. Pengusahatanam-an ttanam-anamtanam-an padi sawah tersebut sudah mereka lakuktanam-an sejak zaman Belanda. Setelah tahun 80 an di desa ini banyak dilakukan pencetakan sawah baru, baik melalui program pemerintah maupun swadaya masyarakat. Sampai dengan saat ini, sebagian besar sawah di Desa Jono Oge dicetak melalui swadaya masyarakat, sedangkan sawah yang dicetak melalui program pemerintah hanya 20 %. Apalagi, sebagian sawah yang dicetak oleh program pemerintah

57

Perubahan lahan sawah menjadi kebun kakao banyak terjadi di daerah persawahan orang Bali di Kabupaten Parigi Montong Propinsi Sulawesi Tengah karena rusaknya saluran irigasi (10 tahun yang lalu). Akan tetapi, akhir-akhir ini setelah irigasi diperbaiki banyak petani yang merubah kembali kebun kakao menjadi sawah (Drajat dkk., 2007)

(10)

(oleh kontraktor) ternyata kurang berhasil. Pada awalnya, sumberdaya agraria (lahan) yang dijadikan sawah merupakan tempat tumbuhnya tanaman sagu. Oleh sebab itu, sampai dengan awal tahun 80 an masih banyak penduduk Jono Oge yang menggunakan sagu sebagai makanan pokoknya.

Pada saat penelitian berlangsung, semua sawah yang berlokasi di Desa Jono Oge tergarap dengan baik. Akan tetapi pengusahaannya dilakukan secara giliran, yaitu selama setahun hanya satu kali tanam/panen. Untuk keperluan pengaturan penanaman, lahan sawah di Desa Jono Oge dibagi tga blok. Jika penanaman padi dilakukan di blok satu, maka blok dua dan blok tiga tidak ditanami padi (dibe-rakan). Hal ini dilakukan untuk : 1) mengatasi keterbatasan ketersediaan tenaga kerja dan air, 2) pengendalian penyakit, 3) menyediakan tempat penggembalaan ternak dan usaha palawija. Ketersediaan air irigasi semakin menyusut sejak banyaknya pembukaan hutan dan pembangunan kebun.

Pada awalnya, pertanian menetap lahan kering dilakukan para petani di pekarangan rumah kemudian pada lahan-lahan yang jaraknya relatif dekat. Lebih lanjut, mereka mengembangkan pertanian menetap lahan kering di hutan yang baru dibuka. Di lahan kering, pertanian menetap dimulai dengan pengusahaan tanaman kelapa pada tahun 60 an dan kemudian cengkeh sekitar tahun 75 an. Adapun pengusahaan tanaman kakao dalam bentuk pertanian menetap baru dilakukan petani di Desa Jono Oge akhir tahun 80 an.

Pada awal tahun 90 an, para petani di Desa Jono Oge membangun kebun kakao secara mandiri dengan membeli bibit dari Sulawesi Selatan atau dari pantai Timur Sulawesi Tengah. Kemudian pada awal tahun 90 an perluasa kebun kakao petani di Desa Jono Oge mendapat fasilitas pemerintah melalui proyek P2WK. Pada saat itu, para petani di Desa Jono Oge yang turut serta sebagai peserta program P2WK sekitar 50% sehingga luas lahan kakao yang dibangun melalui program dimaksud sekitar 70 ha. Melalui program P2WK, para petani mem-peroleh bantuan bibit, parang, pupuk, dan obat-obatan. Namun demikian, petani yang mendapat fasilitas (peserta program P2WK) adalah para petani yang memi-liki tanah dekat jalan yang menghubungkan antar desa (baik lahan yang baru diolah maupun yang ada pohon kelapanya).

(11)

Pada tahap awal, bila para petani bermaksud membuka hutan mereka tidak perlu minta idzin kepada siapapun karena masyarakat memahami status lahan tersebut sebagai hutan bebas. Namun demikian, bila tanaman tersebut mereka usahakan pada lahan yang sudah dibuka petani lain maka mereka harus mem-berikan biaya ganti rugi kepada petani lain tersebut, yaitu sebagai pengganti biaya membuka lahan. Mekanisme ”permintaan idzin” dalam membuka lahan mulai muncul sekitar tahun 80 an. Sejak sat itu, untuk membuka lahan baru yang luas-nya haluas-nya sampai 2 hktar permintaan izin cukup dilakukan kepada kepala desa, sedangkan untuk membuka lahan baru dengan luas lebih dari 2 ha sampai dengan 5 ha permintaan izin harus diajukan kepada camat. Kemudian, untuk membuka lahan baru yang luasnya diatas 5 ha, maka permintaan izin harus diajukan kepada Bupati.

Saat ini, sekitar 30 petani di desa Jono Oge yang tidak memiliki lahan ber-upaya mengembangkan kakao di wilayah yang dinamai “Pura” yang berjarak sekitar 12 km dari pusat desa. Sekitar 10 KK diantaranya tinggal menetap di kam-pung Pura, tetapi 20 KK lainnya tidak menentap. Di wilayah tersebut selain suku asli Kaili dan suku ”terasing” Tajio, banyak pendatang dari desa sekitar (Sipi, Tompe, Sibado, Balikutume, Tondo) yang juga bermaksud membuka kebun baru, terutama kebun kakao. Untuk mendapat tanah harus minta idzin kepada kepala kampung

5.1.3. Perkembangan Pertanian Menetap “Padi Sawah” dan “Perkebunan” di Desa Cot Baroh/Tunong – NAD

Dua tanaman utama yang merupakan cikal-bakal pertanian menetap di Desa Cot Baroh/Tunong adalah padi sawah dan kakao. Tanaman lain yang diusahakan penduduk adalah pinang, pisang, dan buah-buahan. Akan tetapi, tanaman tersebut hanya diusahakan sebagai tanaman sela yang ditanam diantara tanaman utama kakao. Selain itu, ternak juga banyak diusahakan para petani terutama ternak sapi, lembu, kerbau dan kambing. Akan tetapi, hampir semua ternak yang diusahakan petani tidak pernah dikandangkan dan ternak-ternak tersebut berkeliaran mencari makan sendiri.

(12)

Meskipun di desa ini sebelumnya tidak pernah ada program pemerintah untuk pembangunan kebun kakao, tetapi sejak pertengahan tahun 80 an tanaman tersebut sudah mulai ditanam petani dan berkembang pesat setelah tahun 90 an. Para petani menanam kakao hanya dengan cara meniru dan mengambil bahan tanam dari petani lain. Pada awalnya para petani di Desa Cot Baroh dan Cot Tunong meniru dari petani-petani yang tinggal di desa lain. Oleh sebab itu, para petani di desa ini memandang Bin Bulang dan M. Ali sebagai perintis penanaman kakao di desa ini. Padahal keduanya merupakan penduduk desa lain (Desa Kurung Jangko), sebuah desa yang lokasinya bersebelahan dengan desa Cot Baroh/ Tunong. Sebenarnya kedua perintis tersebut merupakan guru SD, tetapi mereka juga aktif berusahatani dan pernah mendapat kesempatan keliling Sulawesi untuk studi banding tentang tanaman kakao (dibiayai pemerintah). Di desa Kurung Jangko hampir tidak ada petani yang tidak memiliki tanaman kakao.

Para petani di desa Kurung Jangko menanam kakao di wilayah Blang Mane pada tahun awal 80 an melalui proyek PRPTE (Proyek Rehabilitasi dan Pengem-bangan Tanaman Ekspor) dan awal tahun 90 an melalui proyek P2WK (Proyek Pengembangan Wilayah Khusus). Sementara itu, para petani di Desa Cot Baroh Tunong mulai memperoleh bantuan pemerintah pada tahun 2000 dengan adanya program penghijauan kehutanan yang membagikan bibit kakao (tetapi bukan bibit unggul). Kemudian pada tahun 2004, terdapat Proyek Pengembangan Perkebunan Rakyat dengan biaya dari APBD Tingkat II yang dikembangkan di Blok Alue Kuno (60 ha) dan pada tahun 2006 terdapat Proyek Pengembangan Kebun dengan biaya dari ADB yang dikembangkan di Blok Cot Sintea (90 ha) dan Cot Sala (30 ha). Namun demikian tidak seluruh program tersebut ditujukan untuk masyarakat desa Cot Baroh/Tunong tetapi juga masyarakat desa sekitar. Pemilihan lahan, peserta, dan pembagian lahan diantara peserta dilakukan oleh peutua seneubok/ ketua kelompok tani setelah mendapat idzin dari ketua mukim (karena petani peserta berasal dari beberapa desa).

Sebelum tanaman kakao diusahakan para petani, mereka memanfaatkan la-han kering dengan mengusahakan tanaman padi ladang, pisang, kacang, dan kayu sentong. Tanaman-tanaman tersebut diusahakan dengan cara perladangan

(13)

berpin-dah58. Setelah lahan hutan dibuka kemudian mereka usahakan selama dua tahun. Setelah itu, mereka membuka hutan lain, sehingga mereka baru kembali ke lahan pertama setelah 10 tahun. Pada saat itu ukuran kayu sentong sudah sebesar betis sampai paha. Penanaman kayu sentong mereka lakukan agar hak garap atas lahan yang di dalamnya ada kayu tersebut dapat dipertahankan. Dengan kata lain, lahan tersebut tidak dapat digarap petani lain kecuali dengan mekanisme “ganti rugi”.

Pengembangan kebun coklat baru masih memungkikan karena masih ter-sedia lahan kosong dalam jumlah relatif banyak meskipun sudah jauh (jarak dari pusat desa sekitar 10 km) dan berada di wilayah kecamatan lain (Kecamatan Mutiara). Kondisi jalan menuju lahan tersebut hanya dapat dilalui dengan kenda-raan motor bila tidak hujan. Sebenarnya status tanah tersebut dipahami masya-rakat sebagai “tanah/hutan negara”, tetapi umumnya sudah relatif terbuka dan tidak lagi berisi kayu besar karena sudah ditebang melalui “ilegal logging”. Untuk mendapat lahan tersebut, hanya perlu meminta izin kepada kepala desa atau peutua seneubok setempat. Sebagian petani memahami bahwa hak mereka di atas tanah tersebut hanya hak garap (bukan hak milik), tetapi hak tersebut akan berlaku terus sepanjang di atas tanah dimaksud terdapat tanaman yang diusahakan.

Sebenarnya di kawasan dekat pemukiman (dua km dari pusat pemukiman) banyak tanah kosong yang belum diusahakan tetapi umumnya bukan milik warga yang tinggal di desa tetapi milik orang yang tingal di kota (pejabat/pegawai/ pedagang). Oleh sebab itu, pada tahun 2006, proyek pengembangan kebun kakao baru yang dibiayai Asian Development Bank (ADB) sebagian besar (90 ha) dilaksanakan di wilayah yang relatif jauh (berjarak sekitar 8 km dari pusat desa), sedangkan di lokasi yang relatif dekat (dua km dari pusat desa) hanya 30 ha. 5.1.4. Perkembangan Pertanian Menetap “Perkebunan” di Desa Ulee

Gunong–NAD

Di desa Ulee Gunong yang berada di dataran tinggi, pertanian menetap dimulai dengan pengusahaan tanaman kopi sejak zaman Belanda, kemudian disusul dengan pengusaahn tanamn kakao sejak awal tahun 90 an. Pada saat ini,

58

Syamsudin (1980) mengemukakan bahwa penanaman padi dan palawija dilakukan para petani di Aceh dengan sistem perladangan berpindah. Mereka berpindah-pindah untuk mencari lahan yang subur tetapi kemudian mereka akan kembali ke lahan semula.

(14)

pertanian menetap yang diusahakan para petani umumnya merupakan kebun cam-puran dengan tanaman utama : kopi saja, kopi + kakao (sama banyak, dominan kopi, atau dominan kakao), atau kakao saja. Tanaman tumpangsari lainnya yang banyak ditanam petani diantara kakao dan/atau kopi adalah pinang, kelapa, buah-buahan (terutama duren, pisang dan lasam), serta tanaman sayuran seperti cabe dan kacang panjang.

Kopi merupakan tanaman perkebunan yang pertama dikembangkan oleh para petani di desa Ulee Gunong, khususnya kopi robusta, arabika dan lebirika. Tanaman tersebut mulai ditanam petani sejak zaman Belanda, terutama setelah mereka melihat kebun contoh yang dibangun Belanda di Dusun Lombo seluas sekitar 3 ha (Oleh sebab itu, nama dusun Lombo diabadikan dari istilah Land Bouw yang artinya kebun Contoh). Tetapi sebagian besar tanaman kopi di Desa Ulee Gunong ditanam sekitar tahun 50 an. Terdapat dua sebab menurunnya luas tanaman kopi di desa ini, yaitu : 1) tanaman kopi mengalami seranagan penyakit (pertengahan tahun 90 an), 2) harga kopi menurun tajam (tahun 90 an). Ber-samaan dengan itu, harga kakao terus naik sehingg sejak saat itu banyak kebun kopi petani berubah menjadi kebun kakao.

Sebenarnya, di Desa Ulee Gunong, tanaman kakao sudah ada sejak sebelum krisis moneter. Akan tetapi, setelah krisis moneter tahun 1998, tanaman tersebut berkembang sangat pesat sehingga luasnya menjadi sekitar lima kali (menurut perkiraan para informan). Pada saat ini, tanaman kakao yang sudah berproduksi berada dekat kampung, tetapi tanaman kakao yang belum ber-produksi umumnya sudah jauh dari kampung (sekitar 5-10 km). Usaha pertanian lain yang banyak dilakukan petani adalah menanam sayuran, terutama tanaman cabe. Tanaman ini dilakukan petani satu kali/tahun. Akan tetapi, tanaman ini di-tanam dalam luasan yang relatif sempit karena hasil panen dan harganya sering tidak menentu.

Istilah mencari upahan/makan gaji lebih populer di kalangan masyarakat dibanding istilah buruh. Pekerjaan ini dilakukan sebagian besar penduduk (baik petani tak berlahan maupun petani pemilik lahan), manakala hasil kebun tidak dapat mencukupi kebutuhannya. Pada umumnya mereka mencari upahan pada lapangan kerja yang tidak menentu/tidak tetap, baik di sektor pertanian (di desa),

(15)

cari hasil hutan seperti : rotan, ijuk, damar). Oleh sebab itu, pekerjaan berburuh disebut juga ”mocok-mocok”. Mencari hasil hutan dianggap berburuh karena mereka seringkali dibiayai penampung dan kemudian diperhitungkan setelah memperoleh hasil hutan. Akan tetapi, hasil hutan pun sudah semakin sulit diper-oleh dan adanya pnertiban ilegal logging menyebabkan peluang berburuh angkut kayu dari hutan tidak ada lagi.

5.2. Diversifikasi Tanaman yang Diusahakan Komunitas Petani

Dalam mengembangkan sistem pertanian menetap, hasil penelitian di empat komunitas petani menunjukkan bahwa seorang petani umumnya tidak hanya mengusahakan satu jenis tanaman. Para petani beranggapan bahwa usahatani de-ngan “kombinasi tanaman” dapat memberikan penghasilan yang lebih aman atau dapat mengurangi resiko kegagalan serta dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidup keluarganya. Nampaknya para petani mempunyai pengalaman tentang peran masing-masing usahatani dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka, yaitu : 1. Padi Sawah : waktu panen relatif cepat (dalam waktu 3 - 4 bulan sudah

panen), hasilnya berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga (untuk menjalankan strategi bertahan hidup/survival strategy). Pada saat ini, setelah lahan kering hampir seluruhnya ditanami kakao, sawah menjadi satu-satunya tempat petani menghasilkan padi. Kalaupun petani menanm padi ladang tidak dilakukan terus menerus tetapi hanya ditanam sebagai tanaman sela kakao muda59.

2. Kakao : panen sering (panen setiap minggu, selama 6 bulan dalam setahun), bagi petani lapisan bawah dan menengah hasilnya berfungsi untuk menam-bah kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan pokok, terutama untuk mem-beli lauk pauk (strategi perbaikan kesejahteraan keluarga/concolidation strategy) dan bagi petani lapisan atas hasil kakao digunakan untuk menam-bah usaha (acumulation strategy)

59

Padi ladang ditanam bulan sepuluh dan dipanen bulan tiga tahun berikutnya, kakao ditanam bulan sebelas. Setelah padi dipanen kemudian para petani menanam kedelai ditanam bulan tiga dan dipanen bulan enam. Kegiatan penanam padi dan kedelai dilakukan hanya dua kali karena setelah itu pohon kakao sudah besar.

(16)

3. Kelapa : panen periodik (panen satu kali setiap 4 bulan), hasilnya berperan dalam pemenuhan kebutuhan sehari hari (strategi perbaikan kesejahteraan keluarga/concolidation strategy)

4. Cengkeh (panen 1 kali setiap 2 tahun), hasilnya memberikan “kejutan” penghasilan sehingga hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi pengeluar-an tidak rutin (bukpengeluar-an kebutuhpengeluar-an sehari-hari) dpengeluar-an untuk pengembpengeluar-angpengeluar-an usaha (acumulation strategy)

Oleh sebab itu, meskipun terdapat salah satu tanaman yang secara ekonomi sangat prospektif (misalnya kakao) tetapi sangat jarang petani mengganti tanaman perkebunan yang satu dengan tanaman perkebunan lainnya, kecuali bila secara teknis di lahan tersebut tidak mungkin lagi diusahakan tanaman tersebut sudah tua dan/atau rusak karena serangan hama/penyakit (misalnya tanaman kopi di Desa Ule Gunong diganti dengan tanaman kakao). Bahkan untuk lahan padi sawah, di semua desa kasus tidak ada petani yang mengganti tanaman padi sawah dengan tanaman kakao, kecuali bila di lahan padi sawah tersebut sudah tidak tersedia air yang memadai (debit air irigasi berkurang).

Walaupun para petani melakukan diversifikasi tanaman yang diusahakan, tetapi tanaman kakao masih menjadi tanaman perkebunan pilihan utama sebagian besar petani. Realitas tersebut ditunjukkan oleh tingginya proporsi rumahtangga petani pemilik lahan yang mengusahakan kakao (Gambar 5.8.). Hal ini terjadi karena selain tanaman kakao memberikan harapan ekonomi (sumber penghasilan) yang lebih baik, praktek usahatani kakao juga mudah dilaksanakan dan sumber-daya lahan yang diperlukan untuk mengusahakan tanaman kakao lebih tersedia dibanding untuk mengusahakan tanaman lainnya 60. Dalam hal ini, kakao dapat ditanam mulai dari wilayah dataran rendah; menengah; sam-pai dataran tinggi, sedangkan tanaman kelapa hanya tumbuh di wilayah dataran rendah dan tanaman cengkeh hanya tumbuh di wilayah dataran menengah.

60

Menurut Ruf dan Yoddang (2004), tanaman kakao menjadi harapan baru para petani terutama karena hal-hal berikut: 1) penghasilan dari usahatani kakao relatif besar dibanding penghasilan dari usaha pangan, 2) dalam mengusahakan tanaman kakao petani tidak perlu menghabiskan tenaga terlalu banyak seperti yang terjadi pada swidden farming, 3) ketersediaan bahan

(17)

-10 20 30 40 50 60 70 80 90

Tondo Jono Cot Ule

Kakao Kelapa Cengkeh Kopi Padi Tan. Lain

Gambar 5.8. Proporsi Rumahtangga Berdasarkan Jenis Tanaman yang Diusahakan, 2007

(Sumber data : Sensus Rumahtangga Melalui Informan Kunci )

Usahatani kakao menjadi harapan ekonomi yang lebih baik bagi para petani terutama berkaitan dengan hal-hal berikut : 1) penghasilan dari usahatani kakao relatif besar dibanding dengan penghasilan dari usahatani pangan, 2) dalam meng-usahakan tanaman kakao petani tidak perlu menghabiskan tenaga terlalu banyak seperti yang terjadi pada swidden farming, 3) ketersediaan bahan konsumsi (pangan) keluarga dapat dibeli di pasar, dan 4) penghasilan dari usahatani kakao memberikan harapan “pensiun” terutama untuk petani yang tidak dapat bekerja berat karena telah berusia lanjut dan/atau sedang sakit. Selain itu, tanaman kakao cepat berbuah (24 bulan sejak tanam sudah panen) dan buah kakao mudah diolah (petik - peram - kupas – jemur).

Selama ini, para petani sudah mengusahakan tanaman kakao dalam sistem pertanian menetap. Akan tetapi mereka belum menggunakan teknologi intensif, sehingga teknis budidaya yang mereka lakukan masih relatif sederhana. Selain itu, sebagian besar petani masih menggunakan bahan tanam “tidak unggul” yang diambil dari kebun kakao milik petani lain (tetangga) tanpa harus membeli. Oleh sebab itu, biaya input produksi dan peralatan yang mereka perlukan dalam meng-usahakan tanaman kakao juga relatif murah. Selama ini, modal utama yang mere-ka perlumere-kan, selain sumberdaya lahan adalah tenaga kerja keluarga.

(18)

Fenomena munculnya kombinasi tanaman terjadi pada semua desa kasus, baik di Sulawesi Tengah maupun di Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Nampak-nya kemunculan fenomena usahatani dengan “kombinasi tanaman” tidak dibatasi oleh kondisi ekologis, sehingga fenomena ini tetap muncul baik pada ekologi “dataran rendah” maupun pada ekologi “dataran tinggi”. Walaupun demikian, “jenis” tanaman yang dipasangkan dalam usahatani kombinasi tersebut berbeda bila kondisi ekologi nya berbeda.

Di Desa Ulee Gunong, meskipun pada saat penelitian berlangsung proporsi petani yang memiliki tanaman kakao masih sebesar 54 % tetapi dalam waktu dekat proporsi tersebut akan terus meningkat secara cepat. Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar petani di Desa Ulee Gunong mempunyai rencana untuk mengganti tanaman kopi dengan tanaman kakao dan/atau membangun usahatani kombinasi “kakao + kopi”. Sementara itu, di ketiga desa kasus lainnya tanaman kakao sudah diusahakan oleh minimal 70 % rumahtangga petani.

Di Desa Jono Oge dan Tondo di Sulawesi Tengah, yang keduanya merupa-kan wilayah dataran rendah, tanaman komersial perkebunan lain yang diusahamerupa-kan petani adalah tanaman cengkeh dan kelapa. Sementara itu, di Desa Cot Baroh/ Tunong NAD yang merupakan dataran rendah, tanaman komersial lain yang diusahakan para petani adalah tanaman pinang. Kemudian di Desa Ulee Gunong NAD yang merupakan wilayah dataran tinggi, tanaman komersial perkebunan lain yang diusahakan para petani adalah tanaman kopi. Di semua desa kasus yang berada di wilayah dataran rendah, baik di Sulawesi Tengah maupun di NAD, sebagian besar petaninya mengusahakan tanaman padi sawah, baik di lahan milik sendiri maupun di lahan milik orang lain.

Sejalan dengan jenis tanaman yang diusahakan petani, data pada Tabel 5.1. dan Gambar 5.9. juga menunjukkan bahwa sebagian besar lahan di desa-desa kasus digunakan untuk mengusahakan tanaman kakao, baik tanaman kakao yang sudah menghasilkan (TM) maupun tanaman kakao yang belum menghasilkan (TBM). Kecuali di desa Ulee Gunong Propinsi NAD, luas sumberdaya agraria yang digunakan untuk tanaman kakao sudah menyalip luas lahan yang digunakan untuk tanaman-tanaman yang sudah ada sebelumnya. Di desa Jono Oge dan Desa

(19)

menyalip luas lahan yang digunakan untuk tanaman padi sawah, kelapa, dan cengkeh. Demikian halnya, di Desa Cot Baroh/Tunong NAD luas sumberdaya agraria yang digunakan untuk tanaman kakao juga sudah menyalip luas sumber-daya agraria yang digunakan tanaman padi-sawah.

Tabel 5.1. Luas Sumberdaya Agraria Berdasarkan Pemanfaatannya (ha), 2007

Tanaman Tondo Jono Oge

Cot Baroh/Tunong Ulee Gunong ha % ha % ha % Ha % Kakao - TM 132 32.8 107 27.0 108 31.1 83 22.3 Kakao - TBM 3 0.7 3 0.8 73 21.0 32 8.6 Kelapa 61 15.2 57 14.4 0 - 0 - Cengkeh 103 25.6 97 24.4 0 - 0 - Kopi 0 - 0 - 0 - 125 33.6 Padi sawah 36 9.0 69 17.4 51 14.7 0 - Lahan kosong 67 16.7 64 16.1 115 33.1 132 35.5 Total 402 100.0 397 100.0 347 100.0 372 100.0

Sumber data : Sensus Rumahtangga Melalui Informan Kunci

Keterangan : TM = Tanaman Menghasilkan, TBM = Tanaman Belum Menghasilkan

Di masa yang akan datang, nampaknya tanaman kakao masih menjadi pilih-an petpilih-ani sehingga tpilih-anah kosong ypilih-ang sudah dimiliki para petpilih-ani umumnya diren-canakan untuk ditanami kakao. Data pada Tabel 5.1 dan Gambar 5.13. menun-jukkan bahwa tanah kosong yang dimiliki petani masih cukup luas, terutama di desa-desa kasus di NAD jumlahnya mencapai sekitar dua kali lipat dibanding di desa-desa kasus di Sulawesi Tengah. Di desa-desa kasus di Sulawesi Tengah lahan kosong tersebut umumnya merupakan lahan hutan yang sudah dibuka sekitar tiga tahun lalu tetapi belum ditanami. Sementara itu, di desa-desa kasus di NAD, lahan kosong tersebut terdiri dari : 1) lahan hutan yang sudah dibuka sekitar tiga tahun lalu tetapi belum ditanami, dan 2) kebun yang tanamannya sudah mati karena selama konflik kebun tersebut tidak terawat.

(20)

Walaupun kakao menjadi pilihan utama petani dan telah menggusur ta-naman padi ladang, namun di semua desa kasus tidak nampak upaya besar-besaran para petani merubah lahan padi sawah menjadi kebun kakao. Hal ini hanya dilakukan petani bila di lahan padi sawah tersebut sudah tidak cukup tersedia air sehingga secara teknis lahan tersebut tidak mungkin lagi ditanami padi sawah. Akan tetapi, di masa yang akan datang dengan semakin kecilnya debet air sungai akibat semakin luasnya hutan yang gundul, maka perubahan lahan padi sawah menjadi kebun kakao diperkirakan masyarakat akan terus meningkat.

33 1 17 27 1 16 31 21 33 22 9 36 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Tondo Jono Cot Ule

lahankosong padisaw ah kopi cengkeh kelapa kakao-tbm kakao-tm

Gambar 5.9. ProporsiSumberdaya Agraria Berdasarkan Pemanfaatan, 2007 (Sumber data : Sensus Rumahtangga Melalui Informan Kunci)

Dalam upaya memiliki usahatani yang memiliki beragam jenis tanaman, para petani di ke empat desa kasus menempuh dua cara. Pertama, para petani mererapkan “pola tanam campuran”, yaitu dalam sebuah plot lahan ditanam beberapa jenis tanaman dan jumlah pohon masing-masing tanaman tersebut relatif sama. Kedua, jika para petani sudah menerapkan “pola tanam monokultur” (dalam sebuah plot lahan hanya ditanami satu jenis tanaman), maka keragaman jenis tanaman dalam usahatani petani dilakukan dengan cara menanam jenis tanaman berbeda pada plot lahan yang berbeda.

(21)

Data dan informasi yang diperoleh dari para responden (Tabel 5.2.) menun-jukkan bahwa meskipun pola tanam campuran masih ada tetapi secara umum sudah berkurang, yakni tinggal 26,71 %. Para petani sudah banyak menggantikan pola tanam campuran dengan oleh pola tanam monokultur. Bahkan di desa “pen-datang” Jono Oge dan desa “dekat kota” Cot Baroh/Tunong pola tanam campuran sudah sangat berkurang, masing-masing hanya tinggal 9,09 % dan 21,11 %. Pe-nerapan pola tanam campuran yang masih cukup menonjol berada di desa “lokal” Tondo (39, 34 %). Penerapan pola ini masih sangat menonjol di desa “jauh dari kota” Ulee Gunong (50,94 %). Walaupun demikian, dalam pola tanam monokul-tur yang diterapkan petani seringkali masih ada tanaman lain (terutama buah-buahan), namun jumlah tanam tersebut sangat sedikit.

Tabel 5.2. Pola Tanam dalam Usahatani di Empat Komunitas Petani Kasus, 2007

Pola Tanam Tondo Jono Oge

Ulee Gunong Cot Baroh/Tunong N % N % N % N % A. Monokultur 37 60.7 80 90.9 26 49.1 71 78.9 • Kakao 12 19.7 20 22.7 12 22.6 34 37.8 • Kopi 0 - 0 - 14 26.4 0 - • Cengkeh 7 11.5 20 22.7 0 - 0 - • Kelapa 9 14.8 7 8.0 0 - 0 - • Padi 9 14.8 33 37.5 0 - 37 41.1 B. Campuran 24 39.3 8 9.1 27 50.9 19 21.1 Total 61 100.0 88 100.0 53 100.0 90 100.0

(22)

Tabel 5.3. Jenis Pola Tanam Campuran yang Diushakan Petani, 2007.

Jenis Pola Tanam Campuran

Tondo Jono Oge Cot

Baroh/ Ulee Gunong N % N % N % N % kakao + cengkeh 7 30.4 0 - 0 - 0 - • kakao + kelapa 12 52.2 5 100.0 0 - 0 - • kakao + kopi 0 - 0 - 1 5.3 20 74.1 kakao + pinang 0 - 0 - 15 78.9 2 7.4 • kakao + buah 0 - 0 - 2 10.5 0 - • kakao+cengkeh+kelapa 2 8.7 0 - 0 - 0 -

kakao + kopi + buah 0 - 0 - 0 - 3 11.1

kopi + pinang 0 - 0 - 0 - 1 3.7

cengkeh + kelapa 2 8.7 0 - 0 - 0 -

pinang + buah 0 - 0 - 1 5.3 1 3.7

Total 23 100.0 5 100.0 19 100.0 27 100.0

Sumber data : Wawancara Terhadap Responden

Dalam pola tanam campuran yang diusahakan petani, nampaknya tanaman kakao masih menjadi tanaman utama yang dipasangkan dengan tanaman lain (Tabel 5.3.). Di desa-desa kasus di Sulawesi Tengah, pola tanam campuran yang menonjol adalah pola pasangan antara “kakao + kelapa”. Di Desa Tondo, pola tanam campuran “kakao + kelapa” mencapai 52,17 %. Bahkan di Desa Jono Oge pola tanam campuran “kakao + kelapa” mencapai 100 %. Sementara itu, di Desa Ule Gunong NAD pola tanam campuran yang menonjol adalah pola pasangan antara “kakao + kopi” yang proporsinya mencapai 74,07 %, sedangkan di Desa Cot Baroh/Tunong NAD pola tanam campuran yang menonjol adalah pola pasangan antara “kakao + pinang” yang proporsinya mencapai 78,95 %. Pada umumnya, pola tanam campuran yang diterapkan petani tidak beraturan dan jarak antar tanaman sangat dekat, sehingga antara tanaman yang satu dengan lainnya sangat potensial saling berebut bahan makanan.

(23)

5.3. Ragam Kekuatan Produksi dalam Komunitas Petani : Teknologi Intensif di Padi Sawah dan Tidak Intensif di Kebun Kakao

Meskipun produk yang dihasilkan sistem pertanian menetap yang meng-usahakan “padi sawah” merupakan “produk subsisten” atau produk untuk dima-kan, ternyata pada sistem tersebut penerapan “kekuatan produksi” teknologi inten-sif lebih menonjol dibanding dalam sistem pertanian menetap yang mengusahakan “tanaman perkebunan” (kakao, cengkeh, kelapa, maupun kopi) yang hasil produk-sinya untuk dijual/diekspor atau “produk komersial” (Tabel 5.4). Walaupun tidak seintensif pada sistem pertanian menetap padi sawah, pengusahaan tanaman palawija juga mulai dilakukan para petani dengan teknologi yang intensif, ter-utama dalam hal penggunaan bibit unggul, pupuk urea, serta obat pengendali hama dan penyakit.

Pada sistem pertanian menetap yang mengusahakan tanaman “subsisten” padi sawah, hasil pengamatan di tiga desa kasus menunjukkan bahwa penggunaan kekuatan produksi teknologi intensif sudah dilaksanakan sebagian besar petani, baik oleh para petani pemilik maupun oleh para petani penggarap. Penggunaan teknologi intensif tersebut dilakukan para petani khsusnya dalam bentuk peng-gunaan input produksi bibit unggul, pupuk dan obat-obatan untuk pengendalian hama/penyakit serta penggunaan alat bajak traktor 61. Para petani menggunakan input produksi dimaksud karena berdasarkan pengalaman mereka selama ini menunjukkan bahwa : 1) bila tanaman padi-sawah tidak dipupuk maka tanaman tersebut akan tumbuh kerdil, 2) produktivitas usahatani padi-sawah yang dipupuk dan dikendalikan hama penyakitnya mampu mencapai dua kali lipat (dari 1.500 liter beras/ha menjadi 3.000 liter beras/ha). Sementara itu, para petani memilih menggunakan traktor karena menganggap penggunaan traktor telah meringankan pekerjaan mereka dan proses pembajakan sawah berlangsung lebih cepat. Selain itu, biaya penggunaan traktor dirasakan petani tidak lebih mahal dibanding peng-gunaan kerbau. Apalagi, setelah lahan kering penuh dengan tanaman coklat, para petani sulit memelihara kerbau “pembajak” karena sulit mendapatkan rumput. Di desa-desa kasus di Sulawesi Tengah maupun NAD traktor pembajak sudah

61

Sebagaimana dikutip Sajogyo (2002), hasil survey di sejumlah desa kasus di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa petani padi sawah sebagai “petani rasional” yang menerapkan teknologi baru di sawah dengan hasil yang meyakinkan.

(24)

dikenal sejak awal tahun 90 an tetapi penggunaan pembajak kerbau baru berakhir sekitar akhir tahun 90 an.

Tabel 5.4. Penerapan Teknologi Intensif pada Sistem Pertanian Menetap di Empat Desa Kasus di Sulawesi Tengah dan Nangroe Aceh Darussalam (NAD), 2007 Jenis Teknologi Intensif Jenis Tanaman Padi Sawah

Palawija Kakao Cengkeh Kelapa Kopi

Bibit unggul V V * * Pupuk Urea V V ** ** Pupuk KCL V Pupuk SP 36 V Obat-obatan V V Traktor V Perontok V Pembersihan rumput V *** *** *** *** Pemangkasan X X **** X X **** Keterangan :

* Bibit unggul hanya digunakan pada kebun proyek pemerintah, selebihnya menggunakan bibit dari kebun produksi petani lain

** Di Donggala waktu harga kakao dan cengkeh tinggi (awal krisis) sebagian petani memupuk kakao dan cengkeh, tetapi hanya pupuk urea

*** Umumnya hanya dilakukan karena untuk memudahkan panen **** Hanya dilakukan oleh sebagian kecil petani

V Dilakukan terus menerus

(25)

Meskipun tanaman kakao termasuk tanaman “komersial”, tetapi pada ta-naman kakao para petani di empat desa kasus hanya menerapkan kekuatan pro-duksi teknologi “kurang” intensif (jauh kurang intensif dibanding pengusahaan tanaman padi sawah). Selain itu, teknologi “kurang” intensif tersebut hanya dite-rapkan oleh sedikit petani. Pada tanaman kakao, teknologi “kurang” intensif ter-utama dilakukan dalam bentuk pemangkasan; pemarasan; dan pemupukan urea. Akan tetapi, teknologi ”kurang” intensif pun pada akhirnya ditinggalkan para pe-tani sejak tanaman kakao terserang Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) sehingga produksi kakao turun menjadi hanya 40 %. Dalam hal ini, para petani mempunyai pandangan bahwa perawatan intensif pada kebun yang terserang hama/penyakit tidak ada untungnya. Selain itu, tanaman kakao yang diusahakan petani umumnya tidak menggunakan bibit unggul. Mereka hanya menggunakan bibit kakao asalan yang dibuat sendiri dengan cara mengambil sumber bibit dari kebun produksi yang dimiliki para tetangganya.

Sementara itu, pada sistem pertanian menetap yang mengusahakan tanaman cengkeh dan kelapa teknologi “kurang” intensif pun hampir tidak dilakukan. Da-lam hal ini, para petani hampir tidak pernah membersihkan dan memupuk kedua tanaman tersebut. Pemeliharaan yang kadang-kadang dilakukan para petani pada tanaman kelapa dan cengkeh hanya kegiatan ”pemarasan” (pembersihan rumput). Itu pun hanya dilakukan para petani pada saat mereka akan melakukan panen dengan tujuan agar kegiatan panen mudah dilakukan.

Pada tanaman kakao, akibat penerapan teknologi yang kurang intensif tercermin pada rendahnya jumlah populasi tanaman dan jumlah produksi tanaman per satuan luas lahan (kebun). Sebagaimana tertera pada Tabel 5.5., populasi tanaman kakao yang tumbuh di kebun milik petani umumnya antara 400 - 800 pohon/hektar. Bahkan masih banyak kebun kakao petani yang jumlah tanaman-nya kurang dari 400 pohon/hektar. Padahal lahan-lahan tersebut sebenartanaman-nya dapat ditanami kakao dengan jumlah 1.000 pohon/hektar. Selain itu, sebagian tanaman kakao yang tumbuh tersebut dalam keadaan tidak sehat atau meranggas. Kondisi rendahnya jumlahnya populasi tanaman per ha juga terjadi pada kebun kopi, kelapa, dan cengkeh.

(26)

Tabel 5.5. Populasi Beragam Jenis Tanaman yang Diusahakan Petani, 2007.

Tanam- an

Populasi (phn/ha)

Tondo Jono Oge Ulee

Gunong Cot Baroh

N % N % N % N % Kakao < 400 3 27.3 3 15.8 3 25.0 7 25.0 400 – < 800 4 36.4 9 47.4 3 25.0 19 67.9 > 800 4 36.4 7 36.8 6 50.0 2 7.1 Total 11 100.0 19 100.0 12 100.0 28 100.0 Kopi < 400 3 21.4 400 – < 800 4 28.6 > 800 7 50.0 Total 14 100.0 Kelapa < 50 1 14.3 1 14.3 50 - < 100 1 14.3 2 28.6 > 100 5 71.4 4 57.1 Total 7 100.0 7 100.0 Cengkeh < 50 0 - 1 5.3 50 - < 100 2 33.3 9 47.4 > 100 4 66.7 9 47.4 Total 6 100.0 19 100.0

Sumber data : Wawancara Terhadap Responden

Bersamaan dengan itu, produktivitas kebun kakao petani masih banyak yang dibawah 400 kg/hektar (Tabel 5.6.). Kondisi produktivitas yang rendah juga terjadi pada tanaman kopi, kelapa dan cengkeh. Umumnya produktivitas tanaman tersebut berada dibawah potensi. Bila kondisi produktivitas tanaman-tanaman dimaksud dibandingkan di antara komunitas petani kasus, nampak bahwa keadaan di Desa Jono Oge (yang sebagian besar petaninya pendatang beretnis Bugis) relatif lebih baik dibandingkan dengan keadaan di komunitas petani kasus lainnya.

(27)

Tabel 5.6. Produktivitas Beragam Jenis Tanaman yang Diusahakan Petani, 2007.

Tanaman Kriteria

Tondo Jono Oge Ulee Gun Cot

N % N % N % N % Kakao < 400 11 78.6 5 31.3 4 44.4 12 52.2 400 - < 800 3 21.4 11 68.8 4 44.4 5 21.7 > 800 0 - 0 - 1 11.1 6 26.1 Total 14 100.0 16 100.0 9 100.0 23 100.0 Kopi < 400 11 73.3 400 - < 800 3 20.0 > 800 1 6.7 Total 15 100.0 Kelapa <1000 3 50.0 0 - 1000 - < 2000 0 - 2 100.0 2000 -< 3000 3 50.0 0 - Total 6 100.0 2 100.0 Cengkeh < 400 2 50.0 2 16.7 400 - < 800 2 50.0 7 58.3 > 800 0 - 3 25.0 Total 4 100.0 12 100.0 Padi < 3000 2 18.2 8 38.1 7 19.4 3000 - < 5000 7 63.6 11 52.4 13 36.1 > 5000 2 18.2 2 9.5 16 44.4 Total 11 100.0 21 100.0 - 36 100.0

Sumber data : Wawancara Terhadap Responden

Bagi para petani, pada tanaman apapun, melaksanakan usahatani dengan teknologi intensif memerlukan tambahan curahan tenaga kerja dan tambahan modal finansial (uang tunai) yang relatif besar. Tambahan tenaga kerja diperlukan karena semakin intensif teknologi yang diterapkan umumnya memerlukan per-lakuan di lapangan yang lebih banyak. Tambahan modal finansial terutama diperlukan karena sebagian besar input produksi (bahan dan/atau alat) untuk menerapkan teknologi intensif tidak mereka hasilkan sendiri, tetapi harus mereka peroleh dengan cara membeli dari pihak lain. Demikian halnya peralatan pun harus mereka sewa kepada pihak lain, misalnya penggunaan alat bajak traktor.

(28)

Tabel 5.7. Tambahan Biaya Untuk Penerapan Teknologi Intensif, 2007

Uraian Padi Kakao Cengkeh Kelapa

Tambahan Biaya Tenaga Kerja : (Rp) 1.360.000 3.550.000 2.320.000 885.000 (%) 34 394 64 36Bahan/Alat : (Rp) 575.000 1.765.000 1.020.000 1.165.500 (%) 140 * 97 190 Tambahan Hasil (Rp) 5.250.000 6.000.000 5.400.000 6.750.000 (%) 100 125 67 60

Tambahan Hasil/Tambahan Biaya 2,7 1,1 2,3 3,3

Sumber data : Diolah dari data hasil wawancara dengan informan kunci Keterangan : Biaya bahan/alat sebelumnya = Rp.0,-

Berdasarkan pengalaman para petani di Desa Jono Oge dan Desa Tondo di Sulawesi Tengah (Tabel 5.7.), tambahan tenaga kerja yang harus disediakan para petani untuk menerapkan teknologi intensif pada usahatani padi relatif lebih sedikit dibanding untuk usahatani tanaman kakao dan cengkeh, tetapi relatif lebih besar dibanding untuk usahatani kelapa. Demikian halnya, tambahan biaya finan-sial yang harus disediakan para petani untuk menerapkan teknologi intensif pada usahatani padi relatif lebih rendah dibanding untuk menerapkan teknologi intensif pada usahatani tanaman kakao, cengkeh maupun usahatani kelapa. Sementara itu, tambahan hasil yang diperoleh petani dari usahatani padi dengan teknologi inten-sif lebih besar dibanding tambahan hasil yang diperoleh petani dari usahatani kakao dan cengkeh yang menggunakan teknologi intensif, tetapi lebih kecil dari pada tambahan hasil yang diperoleh petani dari usahatani kelapa.

Gambaran-gambaran di atas menunjukkan bahwa penerapan teknologi intensif telah meningkatkan ketergantungan petani terhadap pihak lain, bukan hanya terhadap pihak-pihak lain yang berada dalam komunitas yang sama tetapi bahkan terhadap mereka yang berada di luar komunitas petani (masyarakat luar desa). Bersamaan dengan itu, ternyata sebagian kelebihan penerimaan petani dalam penerapan teknologi intensif tidak dapat dinimati para petani karena akan dibawa ke luar komunitas melalui transaksi jual beli bahan dan alat produksi.

(29)

Untuk mengusahakan tanaman padi sawah dengan teknologi intensif, para petani akan mengadakan input produksi dan peralatan yang diperlukan dengan upaya yang maksimal, baik dengan cara mengakumulasikan kemampuan modal finansial sendiri maupun dengan cara mencari pinjaman (seringkali harus meminjam dari sumber keuangan yang tidak murah). Sebaliknya, pada usahatani tanaman perke-bunan, seringkali penyediaan dana untuk pengadaan input produksi dan peralatan teknologi intensif tidak diupayakan secara maksimal. Bahkan seringkali kalah prioritas bila para petani harus memenuhi kebutuhan biaya sekolah anak-anaknya. Selain itu, sekalipun petani mempunyai modal financial yang sebenarnya dapat digunakan untuk menerapkan teknologi intensif, tetapi para petani lebih senang menggunakan modal finansial tersebut untuk membangun kebun baru. Dengan kata lain, pada pengembangan sistem pertanian menetap yang mengusahakan tanaman perkebunan (kakao, dan tanaman lainnya) “pola ektensifikasi” masih menjadi pilihan utama para petani.

Selain terkait dengan persoalan kesulitan menyediakan modal finansial yang jumlahnya relatif besar, nampaknya pilihan ekstensifikasi terkait dengan beragam persoalan teknis dan persoalan sosial berikut :

ƒ Penerapan teknologi intensif mempunyai persyaratan yang sangat kompleks. Dalam hal ini untuk mencapai keberhasilan penerapan teknologi tersebut tidak dapat tercapai bila penerapannya berlangsung secara parsial. Misalnya, keberhasilan pengendalian hama Penggerek Buah Kakao (PBK) akan ter-capai bilamana pelaksanaannya disertai dengan penerapan teknologi pemu-pukan dan pemangkasan.

ƒ Semakin intensif teknologi yang diterapkan umumnya memerlukan tambah-an tenaga kerja lebih btambah-anyak. Apalagi sumberdaya agraria perkebuntambah-an milik petani umumnya terpencar dalam beberapa tempat yang berjauhan dalam luasan kecil (lampiran 5.13.).

ƒ Banyak petani lapisan menengah dan petani lapisan bawah (miskin) yang harus menyisihkan tenaga kerja keluarganya untuk menjadi buruh harian agar mereka dapat segera memperoleh tambahan penghasilan tunai. Tam-bahan penghasilan tersebut mereka perlukan untuk memenuhi kebutuhan

(30)

minimum/kebutuhan pokok (terutama makanan) anggota keluarganya yang tidak dapat ditunda karena berkaitan dengan kelangsungan hidup keluarga mereka.

ƒ Kebijakan pemerintah daerah yang tidak mengontrol penggunaan lahan baru (hutan) secara tidak langsung mendukung penerapan perluasan tanaman ko-mersial perkebunan yang dilakukan secara ekstensif. Dalam hal ini perluasan kebun dipandang mendukung pemerintah daerah untuk pengembangan/ perluasan wilayah62 dan upaya perluasan kesempatan berusaha bagi warga pedesaan. Upaya perluasan peluang berusaha/bekerja dengan cara memper-luas kebun menjadi sangat penting manakala pemerintah daerah tidak mampu memberikan pilihan lain pada sektor non pertanian.

ƒ Bagi keluarga petani, menambah luas sumberdaya agraria mempunyai mak-na sangat penting sebagai investasi untuk menyiapkan masa depan amak-nak. Bila anak-anaknya juga menjadi petani, maka orang tua harus menyediakan lahan untuk dipinjamkan (petani kaya), dibagihasilkan (petani sedang), dan kemudian diwariskan. Kemudian bila masa depan anaknya diarahkan di luar sektor pertanian, maka para orang tua harus mempunyai cukup lahan untuk menyiapkan biaya sekolah dan untuk biaya mendapatkan pekerjaan.

5.4. Marginalisasi Kualitas Sumberdaya Agraria

Pada awalnya, para petani megembangkan tanaman kakao dan tanaman perkebunan lainnya pada lahan-lahan pilihan “terbaik”, yaitu lahan yang tidak terlalu miring dan menghadap ke timur sehingga mendapatkan sinar matahari pagi. Berdasarkan pengalaman (pengetahuan lokal), para petani memahami bah-wa kondisi lahan yang demikian akan menyebabkan musim berbuah tanaman kakao lebih panjang, sehingga secara keseluruhan produksi buah kakao yang

62

Di Sulawesi Tengah, Kabupaten Donggala dimekarkan menjadi Kabupaten Donggala dan Kabupaten Parigi Montong. Wilayah Pura berada di perbatasan kedua kabupaten tersebut, tetapi batas tersebut belum ditetapkan secara resmi dengan pemasangan tapal batas (misalnya pemasangan patok). Oleh sebab itu, pemerintah Kabupaten Donggal memfasilitasi wilayah Pura dan sekitarnya agar menjadi desa definitif sehingga kemudian dapat masuk menjadi wilayah Kabupaten Donggala. Walaupun hal ini menjadi perdebatan karena sebagian aparat pemerintah

(31)

nam pada lahan tersebut akan lebih banyak dibanding pada lahan lainnya. Pada saat itu, sumberdaya agraria yang mempunyai kemiringan tinggi tetap dibiarkan sebagai hutan. 0 5 10 15 20 25 52 57 58 62 63 67 68 72 73 - 7 7 78 82 83 87 88 92 93 97 98 02 03 07 Hutan Bekas Hutan Lahan Tergarap

Gambar 5.10. Perkembangan Asal Sumberdaya Agraria untuk Sistem Pertanian Menetap di Desa Tondo, 2007.

(Sumber Datar : Wawancara dengan Petani Responden)

0 5 10 15 20 25 52 - 57 58 - 6 2 63 - 6 7 68 - 72 73 - 77 78 - 82 83 - 87 88 - 92 93 - 9 7 98 - 0 2 03 - 07 Hutan Bekas Hutan Lahan Tergarap

Gambar 5.11. Perkembangan Asal Sumberdaya Agraria untuk Sistem Pertanian Menetap di Desa Jono Oge, 2007

(32)

0 5 10 15 20 25 52 - 57 58 - 62 63 - 67 68 - 72 73 - 77 78 - 82 83 - 87 88 - 92 93 - 97 98 - 02 03 - 07 Hutan Bekas Hutan Lahan Tergarap

Gambar 5.12. Perkembangan Asal Sumberdaya Agraria untuk Sistem Pertanian Menetap di Desa Ulee Gunong, 2007

(Sumber Datar : Wawancara dengan Petani Responden)

0 5 10 15 20 25 52 57 58 - 62 63 - 67 68 72 73 - 77 78 82 83 - 87 88 92 93 97 98 - 02 03 07 Hutan Bekas Hutan Lahan Tergarap

Gambar 5.13. Perkembangan Asal Sumberdaya Agraria untuk Sistem Pertanian Menetap di Desa Jono Cot Baroh/Tunong, 2007

(Sumber Datar : Wawancara dengan Petani Responden)

Upaya penyediaan sumberdaya agraria untuk mendukung sistem pertanian menetap, di seluruh lokasi penelitian nampaknya mempunyai pola yang sama. Dalam hal ini, penggunaan “lahan tergarap” merupakan titik awal, kemudian dilanjutkan dengan penggunaan lahan bekas hutan, dan akhirnya untuk terus menambah luas lahan mereka juga membuka hutan (Gambar 5.10, Gambar 5.11,

(33)

wesi Tengah penggunaan lahan bekas hutan relatif lebih menonjol dibanding lahan hutan. Sebaliknya, di desa-desa kasus di NAD penggunaan lahan hutan relatif lebih menonjol dibanding lahan bekas hutan. Secara keseluruhan, peng-gunaan lahan hutan dan bekas hutan paling menonjol terjadi di Desa Cot Baroh /Tunong NAD.

Penggunaan Lahan tergarap adalah lahan yang sebelumnya pernah diusaha-kan para petani, terutama lahan bekas ladang berpindah (di semua desa kasus), lahan bekas kebun kelapa dan kebun cengkeh (di Desa Tondo dan Desa Jono Oge), serta lahan bekas kebun kopi (di Desa Ulee Gunong). Lahan bekas hutan adalah lahan-lahan bekas HPH yang sudah ditinggalkan perusahaan-perusahaan yang meng-ambil kayu 63 atau lahan bekas illegal logging. Sementara itu, lahan hutan adalah lahan negara yang masih mempunyai tanaman hutan (tanaman kayu-kayuan).

Walaupun sampai saat ini para petani masih ada yang menggunakan sum-berdaya agraria lahan hutan dan/atau lahan bekas hutan, tetapi para petani (di semua desa kasus) mengemukakan bahwa mereka sudah tidak lagi dapat mene-mukan lahan “terbaik” sebagaimana mereka gunakan pada awal pengembangan kakao karena lahan tersebut sudah tidak ada lagi (sudah digunakan seluruhnya) 64. Bahkan pada saat ini, para petani sudah membangun pertanian menetap tanaman “komersial” kakao sampai ke wilayah dekat hutan lindung dan mereka sudah menggunakan lahan yang mempunyai kemiringan di atas 30 %.

Masyarakat di desa-desa kasus umumnya tidak memahami tentang adanya berbagai status kawasan hutan yang ditetapkan oleh pemerintah, sehingga pada saat memilih lahan untuk membuka kebun yang diperhatikan hanyalah : 1) lahan tersebut memiliki kualitas yang subur, dan 2) lahan tersebut belum diusahakan petani lain. Berdasarkan aturan pemerintah, sebenarnya pembukaan kebun hanya

63

Sebagaimana dijelaskan PPL Perkebunan, lahan baru di Pura Sulawesi Tengah yang kini ramai dijadikan lahan perkebunan oleh masyarakat Desa Tondo dan Jono Oge sebetulnya bekas lahan HPH (PT Iradat Puri) yang memanfaatkan kayu hitam. Pada masa sebelum krisis, warga desa sekitar tidak ada yang membuka kebundi Pura karena tidak ada jalan menuju ke sana. Hanya ada jalan melalui sungai dengan tikungan yang tajam. Karyawan PT Iradat Puri banyak yang berasal dari Masamba (Sulsel) dan merekalah yang merintis penanamana kakao di Pura.

64

Kejadian tersebut sama halnya dengan pendapat Ricardo dalam Hayami (1987) bahwa jika penduduk terus bertambah maka batas-batas tanah yang ditanami akan meluas ke daerah-daerah yang lebih marjinal.

(34)

boleh dilaksanakan di luar kawasan hutan65 atau di Areal Peng-gunaan Lain (APL). Namun demikian, menurut pengamatan aparat Sub Dinas Kehutanan di lokasi penelitian banyak petani membuka kebun sampai di walayah hutan, bahkan sampai ke wilayah hutan lindung. Hal ini terjadi karena : 1) aparat Dinas Kehutanan tidak mampu mengawasi kegiatan petani di lapangan karena jumlah tenaga yang ada terbatas (Jumlah Polisi Hutan dan Penyuluh Hutan terbatas), 2) meskipun penetapan kawasan hutan sudah dilakukan lama, tetapi tanda batasnya tidak jelas karena belum dilakukan pematokan atau patok dipindahkan masya-rakat, 3) para petani mendapat dukungan dari aparat pemerintah lain (instansi pemda) terutama terkait dengan kepentingan mereka untuk melakukan pengem-bangan wilayah dan/atau perluasan lapangan berusaha masyarakat, 4) terdapat para pejabat negara (pejabat eksekutif maupun legislatif) yang juga ikut serta membuka kawasan hutan untuk membangun kebun, 5) adanya contoh perusahaan (terutama HPH) yang diperbolehkan membuka hutan.

Dalam hal penggunaan lahan yang mempunyai tingkat kemiringan tinggi, pada umumnya para petani tidak menerapkan teknologi berwawasan lingkungan untuk mempertahankan kualitas sumberdaya agraria secara berkelanjutan, misal-nya dengan melakukan pembuatan teras. Bagi para petani, membuat teras masih dianggap pekerjaan yang berat karena memerlukan curahan tenaga kerja yang sangat besar. Padahal pada lahan yang mempunyai kemiringan diatas 30 %, pembuatan teras diperlukan untuk mengendalikan erosi dan menyerap sumber air, sehingga dapat menciptakan kualitas sumberdaya agraria dimaksud maupun sumberdaya agraria di wilayah hilir (lahan padi sawah). Nampaknya, sampai saat ini belum ada lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah (termasuk lembaga lokal) yang dapat secara efektif mengawal proses pelaksanaan sistem pertanian berkelanjutan.

65

(35)

5.5. Ihtisar : Beragam “Kekuatan Produksi” dalam Komunitas Petani Bertolak dari pengalaman yang terjadi di empat komunitas petani kasus, pengaruh kapitalisme terhadap perkembangan praktek “kekuatan produksi” (force of production) sudah muncul dan cenderung semakin kuat. Pengaruh tersebut dimulai dengan terjadinya perubahan praktek kekuatan produksi : dari kekuatan produksi yang menopang sistem pertanian “ladang berpindah” (shifting cultivation) menjadi kekuatan produksi yang menopang “pertanian menetap”, sehingga seluruh proses produksi pertanian di dalam komunitas petani hanya dijalankan dengan satu sistem, yaitu “pertanian menetap” (sedentary cultivation).

Di desa-desa kasus di Sulawesi Tengah, sistem perladangan berpindah tergusur sejak berkembangnya pertanian menetap yang mengusahakan tanaman “komersial” kelapa; kemudian disusul tanaman “komersial” cengkeh; dan terakhir tanaman “komersial kakao”. Sementara itu, di desa-desa kasus di NAD, sistem perladangan berpindah di lahan kering tergusur oleh pengusahaan tanaman “ko-mersial” kopi (di wilayah dataran tinggi) dan kemudian oleh tanaman “ko“ko-mersial” kakao (di wilayah dataran tinggi dan dataran rendah). Di desa-desa kasus di Sula-wesi Tengah sistem pertanian perladangan berpindah berakhir sekitar awal tahun 90 an, sedangkan di desa-desa kasus di NAD sistem tersebut berakhir lebih lambat, yaitu sekitar pertengahan tahun 90 an

Setelah berakhirnya perladangan berpindah, proses kapitalisme dilanjutkan dengan semakin dominannya praktek “kekuatan produksi” yang menggunakan teknologi intensif untuk mencapai peningkatan produksi per satuan luas lahan (produktivitas lahan). Kekuatan produksi tersebut banyak menggunakan modal non lahan (bahan, alat, dan modal finansial) serta keterampilan yang berasal dari luar komunitas petani, sehingga untuk mendapatkannya para petani harus melaku-kan hubungan pertukaran di pasar melalui memelaku-kanisme jual beli. Dengan kata lain, praktek kekuatan produksi teknologi intensif telah mengintegrasikan petani pada pihak lain yang umumnya berada di luar komunitas petani, sehingga proses pro-duksi yang dilakukan petani semakin tergantung kepada pihak lain yang mengua-sai modal non lahan serta keterampilan yang menopang proses produksi tersebut. Namun demikian, pada komunitas petani yang mengusahakan beragam jenis tanaman ternyata pengaruh kapitalisme tidak mendorong hadirnya kekuatan

(36)

pro-duksi yang seragam, tetapi sebaliknya menghadirkan beragam kekuatan propro-duksi yang dipraktekkan secara bersamaan. Pada usahatani padi sawah yang menghasil-kan produk untuk dimamenghasil-kan (produk subsisten), proses produksi dijalanmenghasil-kan dengan praktek kekuatan produksi “teknologi intensif”. Sebaliknya, pada usahatani perke-bunan yang menghasilkan produk untuk dijual (produk komersial), proses produk-si dijalankan dengan praktek kekuatan produkproduk-si “teknologi yang tidak intenproduk-sif”. Oleh sebab itu, meskipun sebagian besar kebun kakao sudah diusahakan secara monokultur tetapi produkstivitas kebun tersebut masih sangat rendah, yaitu umumnya hanya sekitar 200 – 400 kg/ha/tahun padahal potensinya dapat menca-pai 900 kg/ha/tahun). Dengan kata lain, pada usahatani padi sawah kapitalisme masuk terutama melalui penyediaan modal non lahan yang diperlukan untuk menopang praktek teknologi intensif, sedangkan pada usahatani kebun (kakao) kapitalisme masuk terutama melalui penguasaan hasil produksi petani yang digu-nakan bahan baku industri di negara maju.

Keputusan petani dalam memilih kekuatan produksi yang akan mereka praktekkan didasari oleh rasionalitas yang berbeda. Rasionalitas para petani ter-nyata tidak semata-mata mengacu pada jenis produk yang dihasilkan (produk untuk dimakan atau produk untuk dijual). Akan tetapi, rasionalitas mereka cende-rung berkaitan dengan strategi pencapaian kesejahteraan keluarga masa kini dan masa yang akan datang. Oleh sebab itu, 1) pada usahatani padi sawah, pening-katan produksi menjadi satu-satunya jalan yang harus ditempuh petani untuk mempertahankan kepastian ketersediaan pangan keluarganya (merupakan strategi pencapaian kesejahteraan keluarga masa kini), dan 2) pada usahatani kebun, menambah luas kebun merupakan jalan yang lebih baik (dibanding peningkatan produktivitas) untuk “berinvestasi” menyiapkan masa depan keluarga, termasuk masa depan anak-anaknya.

Pada saat ini, satu-satunya sumberdaya agraria yang dapat menghasilkan padi (beras) adalah sumberdaya agraria sawah karena ketersediaan sumberdaya agraria lahan kering untuk menghasilkan padi (dahulu melalui sistem perladangan berpindah) sudah tidak mungkin lagi. Bersamaan dengan itu, kemungkinan mem-perluas sumbedaya agraria sawah juga semakin sulit akibat ketersediaan

(37)

sumber-yang memerlukan padi sebagai sumber pangan keluarga terus meningkat. Oleh sebab itu, satu-satunya pilihan petani untuk menghasilkan jumlah produksi padi yang lebih banyak adalah menjalankan usahatani padi sawah dengan praktek ke-kuatan produksi “teknologi intensif”, walaupun untuk itu mereka harus menye-diakan modal finansial lebih banyak atau semakin tergantung kepada pihak lain.

Sebaliknya, upaya petani untuk meningkatkan jumlah produksi dari usaha-tani kebun masih dapat dilakukan dengan cara memperluas penguasaan sumber-daya agraria (lahan kering) sampai ke wilayah dekat hutan dan/atau ke dalam wilayah hutan. Apalagi akuisisi sumberdaya agraria hutan dan/atau bekas hutan belum dikontrol secara efektif, baik oleh kelembagaan lokal (pada tingkat komu-nitas) maupun oleh aturan/kebijakan pemerintah (regional maupun nasional). Selain itu, perluasan sumberdaya agraria kebun mempunyai nilai masa depan (nilai investasi) sangat penting bagi para petani. Khususnya, sumberdaya tersebut dapat dijadikan pembuka jalan bagi upaya melepas landaskan masa depan anak-anak mereka. Dalam hal ini, sumberdaya agraria kebun selain dapat dipinjamkan, dibagihasilkan, dan diwariskan kepada anak-anak mereka (bila anak-anak mereka meneruskan pekerjaan orangtuanya sebagai petani) tetapi juga dapat digunakan untuk membiayai anak sekolah atau biaya masuk sebagai pegawai (negeri).

Besarnya dorongan petani untuk memperluas sumberdaya agraria “lahan kering” serta tidak adanya pengawasan yang efektif dalam tataguna sumberdaya agraria hutan dan/atau bekas hutan telah mendorong petani menggunakan sumber-daya agraria yang terletak di wilayah sekitar hutan dan/atau bahkan di wilayah hutan, meskipun lokasinya jauh dari pemukiman petani. Kemudian rendahnya kemampuan modal finansial dan tenaga kerja petani menyebabkan mereka menge-lola sumberdaya agraria dimaksud tanpa menerapkan teknologi intensif dan tekno-logi yang mendukukng pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan (diantara-nya tanpa terasering). Dalam jangka panjang, tata cara tersebut akan berdampak pada menurunnya kualitas sumberdaya agraria lahan kering (kebun) dan juga menurunnya luas dan/atau kualitas sumberdaya agraria padi sawah akibat terus berkurangnya persediaan air.

(38)

Tabel 5.8. Perkembangan Sistem Pertanian Menetap di Empat Komunitas Petani Kasus, 2007.

Aspek Tondo Jono Oge Cot Baroh/ Tunong Ulee Gunong

Lahan Basah

Bentuk Perkembangan Pertanian Menetap Padi Sawah Pertanian Menetap Padi Sawah Pertanian Menetap Padi Sawah x Riwayat Perkembangan Sejak Awal Belanda Sejak Awal Belanda +

pencetakan baru tahun 80 an (pemerintah + swadaya)

Sejak Awal Belanda x

Fasilitas Irigasi setengah teknis dibangun Belanda, kondisi kurang baik

Irigasi setengah teknis teknis dibangun Belanda, kondisi baik

Irigasi setengah teknis dibangun Belanda kondisi baik

x Intensitas Tanam 1 kali/tahun, sebagian kecil

lahan ditanami

1 kali/tahun, seluruh lahan ditanami

1 kali/tahun, seluruh lahan ditanami

x Lahan Kering

Bentuk Perkembangan Ladang Berpindah Æ Pertanian Menetap (kelapa, cengkeh, kakao)

Pertanian Menetap (kelapa, cengkeh, kakao)

Ladang Berpindah Æ Pertanian Menetap (kakao)

Ladang Berpindah Æ Pertanian Menetap (kopi, kakao)

Riwayat Perkembangan Akhir Ladang Berpindah = awal 90 an

Kelapa mulai = 60 an, cengkeh = 75 an, kakao = awal 90 an

Kelapa mulai = 60 an, cengkeh = 75 an, kakao = akhir 80 an

Akhir Ladang Berpindah = pertengahan 90 an

kakao = awal 90 an

Akhir Ladang Berpindah = pertengahan 90 an

Kopi sejak Belanda, pertengah-an tahun 90 pertengah-an hampir punah terkena serangan penyakit, Kakao = awal 90 an

Fasilitas Proyek Kakao (P2WK) awal 90 an

Proyek Kakao (P2WK) awal 90 an

Proyek Kakao APBD setelah tahun 2000

Proyek Kopi (Pembagian Bibit/Pemda),

Ada Kebun percobaan yang dibangun Belanda

Pola Tanam Monokultur Kakao Dominan

Monokultur Kakao Dominan

Monokultur Kakao Dominan

Campuran (kopi + kakao) dominan

Produktivitas Kakako Dominan

< 200 kg/ha 400 - < 600 kg/ha < 200 kg/ha 200 - < 400 kg ha Sumber Utama Informasi

Teknologi/Bahan Tanam

Proyek Kakao (P2WK) Wilayah asal, Proyek Kakao (P2WK)

Petani Perintis, Desa Tetangga Petani Perintis, Desa Tetangga Urutan Luas Penggunaan

Lahan Kering

Kakao > cengkeh > kelapa Kakao > cengkeh > kelapa Kakao Kopi = kakao

Gambar

Gambar 5.1.  Perkembangan Pertanian Menetap di Desa Tondo, 2007  (Sumber Data : Wawancara dengan Petani Responden)
Gambar 5.4.  Perkembangan Pertanian Menetap di Desa Ulee Gunong, 2007  (Sumber Data : Wawancara dengan Petani Responden)
Gambar 5.5.  Peta Lokasi Pertanian Menetap di Desa Tondo dan Desa Jono Oge - Kabupaten Donggala - Sulawesi Tengah, 2007
Gambar 5.6.  Peta Lokasi Pertanian Menetap di Desa Cot Baroh/Tunong -  Kabupaten Pidie – Nangroe Aceh Darussalam, 2007
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil jawaban responden bahwa pada indikator sistem pusat pelayanan pernyataan pertama yakni bandara sultan hasanuddin makassar dikembangkan sebagai pusat

Proses pembakaran batubara yang umumnya terjadi di dalam boiler pada pembangkit listrik tenaga uap, dan merupakan reaksi kimia yang dilakukan dengan menambah oksigen

Adapun ruang lingkup pembahasan permasalahan yang akan diangkat dalam perencanaan bangunan sekolah ini adalah bagaimana menciptakan sebuah bangunan sekolah islam yang dapat

Wahono (2005) melakukan penelitian mengenai penciptaan pengetahuan perusahaan dan inovasi pada perusahaan batik di empat daerah industri batik di Jawa Tengah, dengan menggunakan

Jika letak mata potong pahat bubut diatas titik senter mesin, maka sudut yang dibuat oleh garis sumbu mesin dan sudut tatal akan lebih besar akibatnya sudut bebasnya

Follower Instagram @sahabat_islami memang didominasi oleh para remaja, sehingga pesan dakwah yang diamalkan juga sesuai dengan keadaan remaja masa kini yaitu

Gambar 3.2 Diagram Aliran Data Level 1 38 Gambar 3.3 Rancangan Antarmuka Utama Perangkat Lunak 43 Gambar 3.4 Rancangan Antarmuka Tampilan Dokumen dan Query 44 Gambar 3.5

Pada awal berdirinya Pegadaian pada tahun 1746 produk utama dari Pegadaian adalah penyaluran kredit dengan sistem gadai, karena latar belakang berdirinya Pegadaian hanya