• Tidak ada hasil yang ditemukan

DUKUNGAN KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN STROKE DI POLIKLINIK SARAF RSUD MEURAXA BANDA ACEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DUKUNGAN KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN STROKE DI POLIKLINIK SARAF RSUD MEURAXA BANDA ACEH"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

DUKUNGAN KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN STROKE DI POLIKLINIK SARAF RSUD MEURAXA BANDA ACEH

FAMILY SUPPORT IN TREATING STROKE PATIENTS AT NEUROLOGY POLYCLYNIC OF MERAXA HOSPITAL, BANDA ACEH

Fahrizal1; Devi Darliana2

1Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 2

Bagian Keilmuan Keperawatan Medikal Bedah Fakultas KeperawatanUniversitas Syiah Kuala Banda Aceh e-mail: [email protected]; [email protected]

ABSTRAK

Perawatan pasca stroke merupakan perawatan pemulihan jangka panjang yang menimbulkan berbagai komplikasi seperti hemiplegia,hemiparesis, gangguan komunikasi, gangguan persepsi, gangguan kognitif dan efek psikologik sehingga membutuhkan dukungan keluarga berupa dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuidukungan keluarga dalam merawat pasien stroke di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh. Jenis penelitiankualitatifdeskriptifeksploratifmenggunakan desain cross sectional study yang dilaksanakan pada tanggal 01 sampai 08 Agustus 2016.Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien stroke sebanyak 141 pasien dengan pengambilan sampel secara purposive sampling pada 58 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan metode wawancara terpimpin. Analisa data digunakan analisa univariat. Hasil penelitian menunjukan dukungan keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 86.2% responden, dukungan informasional keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 84.5% responden, dukungan emosional keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 75.9% responden, dukungan instrumental keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 82.8% responden, dan dukungan penilaian keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 67.2% responden. Bagi rumah sakit diharapkan agar lebih aktif melibatkan keluarga dalam merawat pasien stroke serta memberikan penyuluhan kepada keluarga agar lebih memahami tentang pentingnya setiap program rehabilitasi yang dianjurkan kepada pasien stroke.

Kata Kunci : Dukungan, Keluarga, Stroke

ABSTRACT

Post-stroke treatment is a long-term recovery that leads to various complications such as hemiplegia, hemiparesis, communication disorders, perceptual disorders, cognitive disorders and psychological effects. This treatment requires family support in the form of informational support, appraisal support, instrumental support and emotional support. This study aimed to determine the family support in caring for stroke patients at the Neurology Clinic of Meuraxa Public Hospital Banda Aceh. The descriptive, explorative, and qualitative study used cross-sectional study design and was held on 01 to 8 August 2016. The population in this study were all 141 stroke patients from which 58 respondents through purposive sampling. Data were collected through guided interview questionnaire and were analyzed with univariate analysis. The results showed that family support in caring for stroke patients was in good category at 86.2%. Informational, emotional, instrumental, and family assessment support in caring for stroke patients were all in good category at 84.5%, 75.9%, 82.8% and 67.2% respectively. The hospital is expected to urge the family to more actively involve in caring for stroke patients and provide counseling to them in order to better understand the importance of any rehabilitation program recommended for stroke patients.

(2)

PENDAHULUAN

Stroke merupakan penyebab mortalitas kedua terbesar di dunia setelah penyakit jantung. Stroke disebabkan karena gangguan aliran darah ke otak yang ditandai dengan pecahnya pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik) atau adanya sumbatan pada pembuluh darah otak (stroke iskemik) yang mengakibatkan kerusakan jaringan otak (WHO, 2015, p.5).

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2014, persentase individu yang menderita stroke berdasarkan usia dan jenis kelamin yaitu perempuan yang berusia 18-39 berjumlah 2.3% dan usia 40-69 berjumlah 3.3%. Sedangkan insiden stroke laki-laki pada usia 18-39 berjumlah 2.4% dan usia 40-69 berjumlah 2.9% (WHO, 2015, p.102). Jumlah pasien penyakit stroke di Indonesia tahun 2013 berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan diperkirakan sebanyak 1.236.825 orang (7,0%) dan prevalensi stroke berdasarkan jenis kelamin didapatkan jumlah pasien stroke pada laki-laki sebanyak 7.1% dan pada perempuan sebanyak 6,8% (Riskesdas, 2013, p.92).

Stroke merupakan penyebab utama gangguan fungsional yang menyebabkan 20% pasien membutuhkan perawatan di institusi kesehatan setelah 3 bulan, 15sampai 30% pasiennya mengalami cacat permanen dan 30% sampai 40% pasien stroke dapat sembuh sempurna bila ditangani dalam waktu 6 jam pertama (golden periode)(Andarwati, 2012, p.5). Apabila dalam waktu tersebut pasien stroke tidak mendapatkan penanganan yang maksimal maka akan terjadi oedema serebri, obstruksi aliran CSS, peningkatan volume darah otak (CBV), dan perluasan massa otakyang diakibatkan oleh peningkatan tekanan intrakranial(Rosand, 2001, p.128).

Perawatan pasca stroke merupakan perawatan yang tersulit dan terlama sehingga membutuhkan kesabaran dan ketenangan pasien dan keluarga pasien. Keluarga perlu mendukung keterbatasan perawatan diri

pasien, perubahan gaya hidup dan kemampuan pasien untuk meningkatkan kemandirian. Keluarga harus terlibat secara aktif dalam proses rehabilitasi stroke secara menyeluruh. Keyakinan yang diterima keluarga adalah hal yang penting bagi pasien untuk menumbuhkan kepatuhan pasien menjalani program medis (Smeltzer dan Bare, 2002, p.2135).

Dukungan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan terhadap anggota keluarga, sehingga anggota keluarga merasa ada yang memperhatikan, memberi kenyamanan fisik, dan psikologis. Keluarga mempunyai beberapa fungsi dukungan yaitu berupa dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan emosional (Friedman, 2010, p.446) Berdasarkan hasil pengambilan data awal yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh, didapatkan jumlah penderita stroke pada bulan Januari sampai Desember tahun 2015 sebanyak 518 pasien dan pada tahun 2016 (Januari sampai Maret) didapatkan jumlah pasien stroke sebanyak 141 pasien. Hasil wawancara dengan anggota keluarga yang berkunjung ke Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa, didapatkan bahwa selalu mengigatkan pasien stroke untuk melakukan pengobatan, keluarga mengantar pasien untuk menjalani rahabilitasi, keluarga yang membayar semua biaya pengobatan, menyediakan pangan yang bergizi agar pasien cepat sembuh dan keluarga selalu memberikan semangat dan mendoakan pasien.Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti akan meneliti tentang Dukungan Keluarga Dalam Merawat Pasien Stroke di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh

METODE Jenis

penelitiankualitatifdeskriptifeksploratif menggunakan desain cross sectional study.. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini

(3)

adalahdeskriptifeksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien stroke di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh sebanyak 141 pasien pada bulan Januari sampai Maret 2016 Metode pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Teknik Purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini merupakan bagian dari populasi target yang akan diteliti secara langsung yang berjumlah 58 orang. HASIL

Data yang diperoleh berdasarkan kuesioner terhadap 58 responden adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Dukungan Keluarga (n=58)

No Kategori f % 1 2 3 Baik Cukup Kurang 50 8 0 86.2 13.8 0

Berdasarkan tabel 1 di atas dapat disimpulkan bahwa bahwa dukungan keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 50 orang (86.2%)

Tabel 2. FrekuensiDukungan Informasional Keluarga (n=58) No Kategori f % 1 2 3 Baik Cukup Kurang 49 9 0 84.5 15.5 0

Berdasarkan tabel 2 di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan informasional keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 49 orang (84.5%).

Tabel 3. Dukungan Emosional Keluarga (n=58) No Kategori f % 1 2 3 Baik Cukup Kurang 44 14 0 75.9 24.1 0

Berdasarkan tabel 3 di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan emosional

keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 44 orang (75.9%).

Tabel 4. Frekuensi Dukungan Instrumental Keluarga (n=58) No Kategori f % 1 2 3 Baik Cukup Kurang 48 10 0 82.8 17.2 0

Berdasarkan tabel 4 di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan instrumental keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 48 orang (82.8%).

Tabel 5. Dukungan Penilaian Keluarga (n=58) No Kategori f % 1 2 3 Baik Cukup Kurang 39 19 0 67.2 32.8 0

Berdasarkan tabel 5 di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan penilaian keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 39 orang (67.2%).

PEMBAHASAN

Dukungan Keluarga Dalam Merawat

Pasien Stroke

Berdasarkah hasil penelitian tentang dukungan keluarga dalam merawat pasien stroke di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh berada pada kategori baik sebanyak 86.2% responden.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Surono (2013, p.4) tentang hubungan antara dukungan keluarga dengan motivasi untuk melakukan range of motion pada pasien stroke di Wilayah Kerja Puskesmas Karanganyar Kabupaten Pekalongan, didapatkan mayoritaas pasien pasca stroke mempunyai dukungan keluarga baik yaitu 56,8%. Uji spearman rank (α=5%)

(4)

di dapat nilai p 0,000 (p< 0,05) maka Ha gagal ditolak yang berarti ada hubungan antara dukungan keluarga dengan motivasi untuk melakukan range of motion pada pasien pasca Stroke.

Penelitian Erlina (2014) tentang pengaruh dukungan keluarga terhadap tingkat kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari pada lansia pasca stroke non hemoragik di poliklinik neurologi di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukit Tinggi, Hasil analisis data diperoleh persentase dukungan keluarga tertinggi sebesar 87,6% dan aktivitas sehari-hari dengan persentase 48,3% yaitu kategori ketergantungan ringan.

Menurut Suiter (2011, p.119), dukungan keluarga mempunyai arti yang besar dalam kekambuhan berbagai penyakit. Dukungan keluarga menurut Francis dan Fuady (2016, p.176), merupakan bantuan yang diterima salah satu anggota keluarga dari anggota keluarga lainnya dalam menjalankan fungsi keluarga. Dukungan yang dimiliki oleh seseorang dapat mencegah berkembangnya masalah akibat tekanan yang dihadapi. Dukungan keluarga baik akan membantu pasien dalam menghadapi dan mengatasi masalahnya dibanding dengan pasien yang tidak memiliki dukungan keluarga.

Keluarga idealnya seharusnya memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang mengalami masalah dengan cara keluarga berusaha mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalah anggota keluarga dan juga memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit sebagai tugas keluarga (Suprajitno 2004, p.17-18).

Stroke merupakan salah satu penyakit kronik yang membutuhkan pemulihan dan penyembuhan yang lama. Proses pemulihan stroke membutuhkan waktu yang lama sehingga keluarga perlu mendorong pasien untuk melakukan terapi lanjutan setelah di rumah dan membutuhkan dorongan keluarga secara finansial terhadap biaya pengobatan

dan perawatan pasien stroke (Lumbantobing, 2007, p.66).

Baiknya dukungan keluarga dalam merawat pasien stroke dapat dilihat dari peran keluarga yang mencari informasi cara perawatan pasien stroke, keluarga menyediakan berbagai kebutuhan perawatan pasien stroke seperti kebutuhan makanan, pengobatan dan alat-alat yang diperlukan pasien stroke, keluarga yang memperhatikan, mendengarkan keluh kesah pasien stroke, dan memberikan support kepada pasien stroke.

Dukungan Informasional Keluarga Dalam Merawat Pasien Stroke

Berdasarkah hasil penelitian tentang dukungan informasional keluarga dalam merawat pasien stroke di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh berada pada kategori baik sebanyak 84.5% responden.

Sesuai penelitian Simoni (2015) tentang stroke survivors and their families receive information and support on an individual basis from an online forum, Analisis 841 responden menunjukkan bahwa responden berbagi pengalaman sendiri tentang stroke (35%) yang membutuhan informasi tentang gangguan fisik yang berhubungan dengan stroke, penyebab stroke dan potensi untuk pemulihan.

Hal ini bertolak belakang dengan penelitian MacIsaac (2010) tentang

supportive care needs of caregivers of individuals following stroke: a synopsis of research, dari 15 pengasuh pasien stroke melaporkan bahwa ketidakpuasan dengan jumlah, kualitas dari informasi yang diterima dimana pengasuh tidak mengetahui informasi apa yang diperlukan untuk membantu dalam memberikan perawatan, mengakibatkan

ketidak-mampuan dalam memberikan

perawatan yang optimal.

Hal ini seperti yang diungkapkan Friedman (2010, p.446) dukungan informasional keluarga juga berfungsi sebagai pencari dan penyebar informasi. Bantuan informasi yang disediakan agar

(5)

dapat digunakan oleh seseorang dalam menanggulangi persoalan-persoalan yang dihadapi, meliputi pemberian nasehat, pengarahan, ide-ide atau informasi lainnya yang dibutuhkan dan informasi yang dapat disampaikan kepada orang lain yang mungkin menghadapi persoalan yang sama (Setiadi, 2008).

Dukungan keluarga dengan meminta penjelasan tentang terapi yang harus dijalani oleh pasien pasca stroke pada petugas kesehatan, mencari informasi tentang jenis rehabilitasi yang sesuai untuk pasien, mencarikan keuntungan dan kerugian tindakan rehabilitasi (Fuady, 2016, p.176).

Dukungan informasional yang baik diberikan keluarga dalam merawat pasien stroke, dapat dilihat dari dukungan yang diberikan keluarga seperti mengigatkan pasien untuk menjaga pola makan dengan baik dan benar (70.2%) dan keluarga melakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mencari berbagai informasi mengenai cara perawatan pasien stroke (57.4%).

Dukungan Emosional Keluarga Dalam Merawat Pasien Stroke

Berdasarkah hasil penelitian tentang dukungan emosional keluarga dalam merawat pasien stroke di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh berada pada kategori baik sebanyak 75.9% responden.

Menurut Taylor (2003), dukungan emosional merupakan aspek yang paling penting dalam dukungan keluarga. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Hickey (1988, dalam Friedman, 2010, p.447) menyatakan bahwa 75 sampai 85 persen keberhasilan proses penyembuhan dan perawatan didukung oleh perhatian dan empati keluarga.

Menurut Friedman (2010, p.446) dukungan emosional keluarga berfungsi sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat serta membantu penguasaan emosional pasien. Dukungan emosional dianggap mencegah atau mengurangi efek

stress serta meningkatkan kesehatan mental individu atau keluarga secara langsung (Roth 1996 dalam Fuady, 2016, p.177).

Mengurangi stress yang terjadi merupakan salah satu faktor yang diperlukan dalam perawatan pasca stroke untuk mencapai penyembuhan dan mencegah kekambuhan. Keluarga merupakan tempat yang paling nyaman untuk seseorang dalam menghadapi segala persoalan hidup, berbagi kebahagiaan dan tempat tumbuhnya harapan-harapan akan hidup yang lebih baik (Hlebec, 2009, p.78).

Dukungan emosional yang baik diberikan keluarga dalam merawat pasien stroke, dapat dilihat dari keluarga yang mendengarkan semua keluhan-keluhan yang dialami pasien (80.9%) dan keluarga memberi kepercayaan untuk pasien agar cepat sembuh dari penyakit stroke (74.5%).

Instrumental Keluarga Dalam Merawat Pasien Stroke

Berdasarkah hasil penelitian tentang dukungan instrumental keluarga dalam merawat pasien stroke di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh berada pada kategori baik sebanyak 82.8% responden.

Hal ini sesuai hasil penelitian Lutz (2013) tentang the crisis of stroke: experiences of patients and their family caregiver, pengasuh diharapkan untuk membuat keputusan tentang kesejahteraan pasien, mempersiapkan, melaksanakan tugas dan keterampilan yang baru mereka dipelajari, di mana pengasuh benar-benar kewalahan dan menyadari mereka tidak siap untuk memikul tugas dan tanggung jawab merawat dan mengelola kebutuhan fisik, instrumental, dan emosional harian pasien stroke. Mereka tidak memiliki waktu atau sumber daya untuk menangani kebutuhan mereka sendiri untuk dukungan instrumental.

Menurut Kristyningsih (2011, p.4) bahwa dukungan keluarga yang baik dapat dilihat dari keluarga selalu memperhatikan kesehatan lansia, selalu menyediakan

(6)

kebutuhan kebutuhan makan, kebutuhan minum dan keluarga juga selalu berusaha mengingatkan dan membatasi segala kegiatan lansia serta keluarga juga mengingatkan dan menyediakan tempat bagi saya untuk istirahat.

Hal ini seperti yang diungkapkan Friedman (2010, p.446) dukungan instrumental keluarga berupa sumber bantuan praktis dan konkret. Bantuan bentuk ini bertujuan untuk mempermudah seseorang dalam melakukan aktifitasnya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya, atau menolong secara langsung kesulitan yang dihadapi misalkan dengan menyediakan peralatan lengkap dan memadai bagi penderita, menyediakan obat-obat yang dibutuhkan (Setiadi, 2008, p.48).

Dukungan instrumental yang baik diberikan keluarga dalam merawat pasien stroke, dapat dilihat dari keluarga yang menyediakan waktu luang untuk mengantar pasien stroke untuk kontrol ulang (55.3%) dan keperluan perawatan dirumah serta menyediakan berbagai keperluan pasien stroke seperti mempersipkan makanan yang bergizi (51,1%) kebutuhan pengobatan dan alat-alat yang dibutuhkan dalam proses perawatan (63.8%).

Dukungan Penilaian Keluarga Dalam Merawat Pasien Stroke

Berdasarkah hasil penelitian tentang dukungan penilaian keluarga dalam merawat pasien stroke di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh berada pada kategori baik sebanyak 67.2% responden.

Hal ini sesuai hasil penelitian Yeung (2007), family carers in stroke care: examining the relationship between problem-solving, depression and general health, ditemukan hubungan yang signifikan antara pengasuh keluarga dengan kemampuan pemecahan masalah dengan tingkat yang lebih tinggi dari gejala depresi (r = 0.35, P = 0.01).

Menurut Kristyningsih (2011, p.4) bahwa dukungan penilaian keluarga baik karena keluarga selalu memberikan bimbingan terhadap permasalahan-permasalahan yang di hadapi lansia menengahi atau memberikan solusi dan memberikan dukungan atau support terhadap permasalahan-permasalahan lansia dan keluarga juga memberikan penghargaan terhadap segala hal yang dilakukan oleh lansia.

Hal ini seperti yang diungkapkan Friedman (2010, p.446) keluarga bertindak sebagai sistem pembimbing umpan balik (keluarga membimbing pasien agar kesehatan pasien meningkat), membimbing dalam memecahkan masalah (keluarga membantu pasien untuk menyelesaikan masalah yang pasien hadapi) dan merupakan sumber serta validator identitas keluarganya. Menurut Nurdiana (2007), bahwa keluarga berperan pentingdalam menentukan cara atau asuhan keperawatan yang diperlukan oleh pasien di rumah sehingga akan menurunkan angka kekambuhan.

Peneliti berpendapat bahwa dukungan penilaian yang baik diberikan keluarga dalam merawat pasien stroke, dapat dilihat dari keluarga yang mengurus semua perlengkapan administrasi berobat di rumah sakit (91.5%) dan senantiasa meluangkan waktu untuk mengantar kerumah sakit dan melakukan perawatan dirumah (80.9%).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan maka secara umum dapat disimpulkan bahwadukungan keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 86.2% responden. Dukungan informasional keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 84.5% responden. Dukungan emosional keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 75.9% responden. Dukungan instrumental keluarga dalam merawat pasien stroke berada

(7)

pada kategori baik sebanyak 82.8% responden. Dukungan penilaian keluarga dalam merawat pasien stroke berada pada kategori baik sebanyak 67.2% responden.

Adapun saran dari peneliti bagi rumah sakit adalah agar lebih aktif melibatkan keluarga dalam merawat pasien stroke serta memberikan penyuluhan kepada keluarga agar lebih memahami tentang pentingnya setiap program rehabilitasi yang dianjurkan kepada pasien stroke.Diharapkan petugas kesehatan agar dapat memberikan motivasi kepada keluarga untuk memberi dukungan secaraoptimal kepada pasien stroke dalam upaya mengatasipenyakitnya yang meliputi dukungan informasional, dukungan emosional, dukungan instrumental, dan dukungan penilaian mengingat proses perawatan pasien stroke sangat membutuhkan waktu yang lama sehingga

sangat membutuhkan dukungan

keluarga.Bagi Keluarga diharapkan untuk lebih meningkatkan peran keluarga dalam memberikan dukungan dan kepedulian terhadap pasien stroke terutama dalam hal dukungan informasional, dukungan emosional, dukungan instrumental, dan dukungan penilaian. Bagi Penelitian selanjutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan dan sumber referensi bagi peneliti selanjutnya, serta dapat dikembangkan dengan cara meneliti faktor-faktor lain yang mungkin berhubungan dengan dukungan keluarga dalam merawat pasien stroke.

REFERENSI

Erlina, R. (2014).Pengaruh dukungan keluarga terhadap tingkat kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari pada lansia pasca stroke non hemoragik di poliklinik neurologi di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukit Tinggi. Fakultas Keperawatan. Universitas Andalas Friedman, M.M.,& Bowden, V.R. (2010).

Buku ajar keperawatan

keluarga: riset, teori, & praktik. Jakarta: EGC.

Fuady, N.F.A. (2016). Pengaruh pelaksanaan

discharge planning terhadap

dukunganpsikososial keluarga merawat pasien strokedi Rsup Dr. Wahidin Sudirohusodo. JST Kesehatan, vol 6 (2): 172 – 178. Hlebec, V et al. (2009). Social support

network and received support at stressful events. Metodološki zvezki, Vol. 6, No. 2, 2009, 155-171.

Kristyningsih. (2011).Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat depresi pada lansia. Jurnal Keperawatan, vol 01 (01).

Lumbantobing, S. M. (2007). Stroke bencanaperedaran darah otak. Jakarta: FakultasKedokteran UI Lutz. (2013).The crisis of stroke: experiences

of patients and their family caregiver

diunduh dari

http://www.ncbi.nlm.nih.gov pada tanggal tanggal 10 Agustus 2016. MacIsaac. (2010).Supportive care needs of

caregivers of individuals following stroke: a synopsis

Riskesdas. (2013). Riset kesehatan dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitbang Kemenkes RI

Rosand. J., &Schwamm L.H. (2001). Management of brain edema complicating stroke. J Intensive Care Med, vol 16. 128-41.

Setiadi. (2008). Konsep & keperawatan keluarga. Yogyakarta: Graha Ilmu Simoni, A.D. (2015) Stroke survivors and

their families receive information and support on an individual basis from an online forumdiunduh dari http://bmjopen.bmj.com/content/6/4/e0 10501.abstract pada tanggal 10 Agustus 2016.

Smeltzer, S. C., & Bare B. G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah BrunnerSuddarth (Edisi 8 Volume 1). Jakarta: EGC

Suiter, S.V. (2011). Issues of care are issues of justice: reframing the experiences of family caregivers of children with

(8)

mental illness. Families in Society: The Journal of Contemporary Social Services, 92 : 191-198

Taylor, R.B. (2003). Family medicine : Principles and Practice sixth edition. New York. Springer-Verlag.

WHO. (2015). National survey for noncommunicable disease risk factors and mental health using approach in Bhutan-2014. South-East Asia: WHO Library Cataloguing-in-Publication data

Wirawan. (2009). Rehabilitasi stroke padapelayanan kesehatan primer. smf rehabilitasi medis RS Fatmawati, Jakarta. Maj Kedokt Indon, 59 (2) Yeung, S. (2007). Family carers in stroke

care: examining the relationship between problem-solving, depression and general health. diunduh dari http://onlinelibrary.wiley.com pada tanggal tanggal 10 Agustus 2016.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan dengan berbagai keterbatasan, yang menggunakan institutional ownership, board independence, board size, audit committee meeting frequency

Kedua Ketetapan pemenang ini dibuat dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku dalam pengadaan Barang/Jasa. Ditetapkan di

In more detail, those 76 adjective clauses use 20 zero relative pronouns, 31 relative pronouns denoting subject, 7 relative pronouns denoting object, 2

774.20 0.000,- Alternatif 1: PRIVATISASI Dilepas ke swasta melalui skema penjualan saham mayoritas, divestasi, atau penjualan seluruh aset Pemda tidak dipusingkan dengan

[r]

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan etos kerja dan prestasi belajar baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama terhadap kesiapan kerja siswa

The Cybersecurity and Privacy (CSP) Innovation Forum 2015, organized and successfully executed in close collaboration between the CSP Forum and the European commission DG CONNECT

Strategi pembelajaran Guru Aqidah Akhlak dalam menanamkan sikap tawadu' pada peserta didik di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ngantru Tulungagung ini sangat besar