Dinas Pangan Pertanian & Perikanan
Kota Balikpapan
Biodiversity/Keanekaragaman
Hayati ;
1.
Pesut Pesisir (Orcaella
brevirostris)
2.
Lumba-lumba Tanpa Sirip
Punggung/Finless Porpoise
(Neophocaena phocaenoides)
3.
Lumba-lumba Hidung Botol
Indo-Pasifik (Tursiops aduncus)
4.
Duyung (Dugong dugon)
5.
Penyu Hijau/Green Turtle
(Chelonia mydas)
6.
Penyu Lekang/Olive Ridley
Turtle (Lepidochelys olivacea)
7.
Penyu Sisik/Hawksbill Turtle
(Eretmochelys imbricata)
8.
Buaya Muara/Saltwater
Crocodile (Crocodylus porosus)
9.
Buaya Supit/Senyulong
(Tomistoma schlegelii)
10. Horseshoe Crab (Tachypleus
gigas, Tachypleus tridentatus,
Carcinoscorpius rotundicauda)
11. Bekantan/Proboscis Monkey
/Long-nosed Monkey (Nasalis
larvatus)
12. Monyet Ekor Panjang/Long Tail
Monkey (Macaca fascicularis)
13. Bangau Tong-tong (Leptoptilos
Buku :
Study Pengembangan &
Pemanfaatan Sumberdaya
Kelautan
(Bappeda Kota
Balikpapan)
Status Konservasi Pesut Pesisir
(Orcaella brevirostris)
Peraturan/perundang-undangan tentang Pesut Pesisir
(Orcaella brevirostris) ;
1.
Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.
2.
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang
Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
3.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018
tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi.
4.
Convention on International Trade in Endangered
Species of Wild Fauna and Flora/CITES Appendix I
IUCN Red List
Balikpapan is a refuge for endangered wildlife
Balikpapan unique among world cities in terms of high number of animal and plant species, which still survive within its
administrative area. This is shown by the number of mammalian species, which has been so far observed by several
researchers from Indonesia and abroad. So far, 94 species of mammals have been identified in Balikpapan. But it is very likely
that the total number will be more than 100 species because there was still very little research on small mammals such as tikus,
cucurut or kelelawar, which heve still been very little studied and their species numbers are probably still underestimated.
Some of the species found in Balikpapan are of high conservation value. According to IUCN Red List. 8 mammals found in
Balikpapan are globally endangered – bekantan (Nasalis larvatus), owa Kalimantan (Hylobates muelleri), orangutan
Kalimantan (
Pongo pygmaeus
), trenggiling (Manis javanica), musang air Bennet (
Cynogale bennettii
), berang-berang Sumatra
(Lutra sumatrana), kucing tandang (Prionailurus planiceps) dan kucing merah (Pardofelis badia).
Another 17 species are classified as Vulnerable according to IUCN Red List. These include beruang madu (Helarctos
malayanus), which is the mascot fauna of Balikpapan, and also binturong (Artictis binturong), macan dahan (Neofelis diardi),
kucing batu (Pardofelis marmorata), pesut (Orcaela brevirostris) dan duyung (Dugong dugon).
The total of 29 species of mammals found in Balikpapan is protected by Indonesian law.
The reason why Balikpapan hosts such unusually high biodiversity is mainly due to presence of two valuable areas – (1)
Hutan Lundung Sungai Wain, which represents primary lowland Dipterocarp rainforest and (2) coastal ecosystems of Teluk
Balikpapan, which include mangrove forests, padang lamun and coral reefs. Most (83 species) of the 94 mammal species
known from Balilkpapan are found in Sungai Wain Protection Forest but 11 species were so far observed only outside the
protected area. These include four marine mammal species – dugong (duyung), Irrawaddy dolphin (pesut), bottle-nosed
dolphin (lumba-lumba hidung botol) and finless porpoise (lumba-lumba tanpa sirip pungung).
But the unusually high diversity of mammals and other animals in Balikpapan is under serious threats. One of these threats if
habitat fragmentation. Forests patches are getting still smaller and isolated from each other so that animals can not move
between them. This increases risk of local extinctions. At least one mammal was probably already extinct in Balikpapan –
banteng
(Bos javanicus)
and other species may soon follow. The two main habitats – Sungai Wain rainforest and Balikpapan
Bay coast mangroves are still connected by forest biocorridors in the area of Sungai Tempadung, Sungai Berenga, Sungai
Tengah and Solok Puda, but these corridors need to be protected if they are to be saved.
The main threat to these corridors is the proposal to construct a provincial road to Pulau Balang. Building this road and
opening access to this valuable forested area would cause gradual exticntion of several species of globally endangered
wildlife, together with number of several other serious environmental problems. This would endanger reputation of
Kalimantan Timur as a green province. Fortunately, this disaster can be avoided by construction of an alternative bridge from
Tanjung Batu to Gunung Seteleng, so that the jalan penghubungan does not need to pass along the Hutan Lindung Sungai
Wain and coastal mangroves and all vital biocorridors could be saved.
IUCN Red List
Balikpapan menjadi tempat perlindungan satwa yang terancam punah
Balikpapan adalah kota yang sangat unik di dunia karena kekayaan jenis satwa dan tanamam liar yang masih terdapat di dalam wilayah administratifnya. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah spesies mamalia yang telah ditemukan oleh beberapa peneliti dari Indonesia dan dari negara luar. Sampai saat ini, sebanyak 94 spesies mamalia sudah terdaftar di Balikpapan. Tetapi sangat mungkin jumlah ini akan bertambah menjadi lebih dari 100 spesies setelah dilakukan penelitian lengkap tentang mamalia kecil seperti tikus, curut atau kelelawar. Namun, jumlah spesies mamalia kecil masih belum dapat di pastikan.
Sebagian dari spesies yang ditemukan di Balikpapan mempunyai nilai konservasi tinggi. Menurut IUCN Red List, sebanyak 8 jenis mamalia yang ditemukan di Balikpapan terancam punah (Endangered) secara global, seperti Bekantan (Nasalis larvatus), Uwa-uwa Kalimantan (Hylobates muelleri), Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), Trenggiling (Manis javanica), Musang Air Bennet (Cynogale bennettii), Berang-berang Sumatera (Lutra sumatrana), Kucing Tandang (Prionailurus planiceps) dan Kucing Merah (Pardofelis badia). Selain itu, menurut IUCN Red List terdapat 17 spesies yang termasuk kategori rentan (Vulnerable). Seperti, Beruang Madu (Helarctos malayanus), yang merupakan satwa maskot Balikpapan, dan juga Binturong (Artictis binturong), Macan Dahan (Neofelis diardii), Kucing Batu (Pardofelis marmorata), Pesut (Orcaela brevirostris) dan Duyung (Dugong dugon).
Terdapat 29 spesies mamalia yang ditemukan di Balikpapan dan dilindungi di Indonesia sesuai dengan PP No. 7 tahun 1999.
Alasan mengapa Balikpapan mempunyai keanekaragaman hayati yang luar biasa tinggi, sebab disana terdapat dua ekosistem yang bernilai tinggi, yaitu : (1) Hutan Lindung Sungai Wain dengan ekosistem hutan primer Dipterocarpaceae dan (2) pesisir Teluk Balikpapan dengan ekosistem hutan manggrove, padang lamun dan terumbu karang.
Sebanyak 83 spesies dari 94 spesies mamalia yang diketahui di Balikpapan, kebanyakan ditemukan di Hutan Lindung Sungai Wain. Namun, sampai saat ini ada juga 11 spesies yang hanya dapat dilihat di luar area yang dilindungi. Misalnya, empat spesies mamalia laut yakni: duyung, pesut, lumba-lumba hidung botol dan lumba-lumba tanpa sirip pungung.
Namun keanekaragaman mamalia dan binatang lain di Balikpapan berada di bawah ancaman yang serius. Salah satu ancaman ini adalah fragmentasi ekosistem. Setiap tahun hutan yang tersisa masih saja di jarah dan diisolasikan dari fragment-fragment hutan lain sehingga menyebabkan binatang tidak bisa bergerak di antara fragment-fragment itu yang dapat menambah risiko kepunahan lokal. Satu spesies mamalia yang telah punah di Balikpapan adalah banteng (Bos javanicus) dan tidak menutup kemungkinan spesies yang lainnya bisa ikut punah. Syukurlah, dua ekosistem utama yaitu Hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir Teluk Balikpapan belum diisolasikan. Masih ada biokoridor (jalan hijau) seluas 5656 ha di antara hutan lindung dan pesisir, melalui DAS (Daerah Aliran Sungai) Selok Puda, Sungai Tengah, Berenga, Tempadung, Baruangin dan Kemantis. Tetapi koridor ini perlu dilindungi jika semua itu ingin diselamatkan dari ancaman kepunahan.
Ancaman utama untuk biokoridor (jalur hijau) ini adalah perencanaan membuat jalan penghubungan ke Jembatan Pulau Balang yang melewati perbatasan barat Hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir barat Balikpapan. Jalan ini akan memotong semua koridor yang masih tersisa dan akan membuka akses untuk bermacam-macam aktivitas yang nantinya akan merusak hutan dan pesisir, termasuk illegal logging, kebakaran hutan dan pemburuan. Ini akan sangat membahayakan reputasi Kalimantan Timur sebagai provinsi hijau (Green Province). Tetapi bencana ini bisa dihindari dengan cara pembuatan jembatan alternatif dari Tanjung Batu ke Gunung Seteleng, agar jalan penghubungnya tidak perlu dibangun melalui sepanjang perbatasan Hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir barat Balikpapan. Dengan alternatif itu, keanekaragaman satwa kota Balikpapan yang di kenal unik di seluruh dunia menjadi bisa diselamatkan.