Pemerintah Kabupaten Lamongan
III
KEBIJAKAN DAN PROGRAM UNGGULAN
3.1 PENGEMBANGAN PERMODALAN
3.1.1 Bantuan Modal Lunak Dari Pemerintah Kabupaten Lamongan
Dalam rangka mengembangkan usaha mikro dan menengah di Kabupaten Lamongan yang tersebar diberbagai sektor antara lain pertanian (tanaman pangan, perikanan, peternakan dan perkebunan), perdagangan dan perindustrian. Usaha mikro pada dasarnya merupakan usaha yang lemah dalam mengakses modal dari lembaga keuangan, seringkali mereka terlibat “bisnis” dengan rentenir yang suku bunganya tinggi yang pada akhirnya menurunkan keuntungan yang diterima dari usaha tani atau ekonomi produktif lainnya. Adanya persepsi bahwa usaha mikro kecil terutama usaha yang “profitable but not bankable” sehingga
lembaga keuangan cenderung enggan untuk menyalurkan kredit kepada UMKM. Dalam mengatasi hal tersebut pemerintah daerah menyalurkan dana revolving yang bersifat ekonomi produktif dengan tujuan membantu masyarakat petani dan pengusaha kecil menengah untuk diberdayakan mereka agar mereka mempunyai kemampuan produktivitas yang tinggi dan kompetitif dalam meningkatkan usahanya sehingga dapat lebih berperan dalam percepatan pembangunan daerah.
Penyaluran bantuan modal dilaksanakan melalui PD.Bank Daerah Lamongan, yang disalurkan kepada kelompok UMKM penerima dana. Dana tersebut dikembalikan
Pemerintah Kabupaten Lamongan
pada akhir tahun anggaran dengan memberikan kontribusi sebesar 6% per tahun dari dana yang diterima, dengan 2 (dua) pola pembagian bunga:
1. Pola pertama : 3% pihak bank, 2% untuk PAD dan 1% kelompok tani/ternak; 2. Pola kedua : 3% pihak bank, dan 3% untuk PAD.
Program ini bisa dikatakan sebagai program yang bersifat fasilitasi (withdrawl program) bagi pelaku UMKM dan secara sistem pada dasarnya melibatkan 3 (tiga) unsur pelaksana, yaitu :
1. Pemerintah Daerah selaku penyedia dana program, fasilitasi teknis dan administrasi;
2. Bank Pelaksana selaku penyalur dana program; 3. Penerima Program yaitu pelaku UMKM.
Penyaluran Dana Revolving kepada sasaran penerima dana bersifat persekot non anuited (dibayar dimuka) yang disalurkan oleh bank pelaksana (Executing Agent) kepada kelompompok UMKM sasaran penerima program. Untuk meminimalisir resiko yang harus ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan, maka dalam proses pengajuan, rekomendasi teknis/kelayakan usaha dan persetujuan
PEMKAB LAMONGAN
BANK
Pemerintah Kabupaten Lamongan
pemberian bantuan pinjaman permodalan harus dilakukan secara selektif dengan menggunakan prinsip kehati-hatian (prudential principles). Unsur pelaksana di tingkat lapangan harus secara selektif dan bertanggung jawab terhadap kelayakan calon penerima dana program ini karena mereka merupakan pintu awal penyeleksi calon penerima dana program ini.
3.1.2 Fasilitasi Aksesibilitas Pelaku Usaha Dengan Perbankan Mengingat besarnya animo pelaku usaha mikro kecil dan menengah untuk mendapatkan akses bantuan permodalan dari pemerintah daerah, dengan adanya keterbatasan anggaran Pemerintah Kabupaten Lamongan dan sebagai upaya untuk memberdayakan pengusaha, maka telah dilakukan Penandatanganan
MOU/Nota Kesepahaman Bersama antara Bupati Lamongan dengan direksi perbankan untuk kemudahan pembiayaan usaha koperasi dan UMKM tanggal 9 Juli 2008 tentang dukungan informasi UKM Center dan
penyaluran kredit kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi di Kabupaten Lamongan, yaitu dengan BRI, BNI, Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat, Bank Jatim, PD Bank Daerah Lamongan, BPR Bank Jatim dan Bank Bukopin.
3.1.3 Perijinan
Penerbitan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Lamongan Nomor 7 tahun 2008 tentang Pemberdayaan Koperasi dan UMKM di Kabupaten Lamongan dengan didukung Peraturan Daerah Kabupaten Lamongan Nomor 13 tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Perdagangan Dan Tanda Daftar Perusahaan Di Kabupaten Lamongan, yang ditetapkan tanggal 4 Juni 2008. Dengan
Pemerintah Kabupaten Lamongan
adanya PERDA ini Pemerintah Kabupaten Lamongan membebaskan biaya retribusi SIUP dan TDP baru bagi koperasi dan UMKM, serta kemudahan akses
promosi dan permodalan. Kebijakan tersebut bertujuan untuk pemberdayaan koperasi dan UMKM di Kabupaten Lamongan agar lebih berdayasaing dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Namun demikian pada tanggal 4 Juli bulan 2008 telah diterbitkan Undang-undang 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Dengan demikian karena Peraturan Daerah nomor 7 tahun 2008 mendahului undang-undang, maka diadakan penyesuaian sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
3.1.4 Pembentukan Kawasan Sentra-sentra Produksi
Dalam mengembangkan ekonomi di Kabupaten Lamongan telah dibentuk kawasan-kawasan produksi yang berbasis pada potensi unggulan lokal sehingga diharapkan akan terwujud one village one product (OVOP). Penetapan
kawasan dilakukan oleh Bupati Lamongan sehingga menjadi komitmen bersama seluruh SKPD untuk mengembangkan kawasan tersebut.
3.1.5 Pendidikan dan Pelatihan, Informasi dan Manajemen Pendirian klinik UMKM, dengan tujuan :
1. Pelayanan informasi tentang info promosi pameran, info notaris dan info hak merk dan HAKI, info permodalan dari perbankan dan koperasi;
2. Pelayanan advokasi seperti pendirian badan usaha, diskusi solusi kasus, monitoring dan pendampingan, pengembangan kemitraan usaha produk; 3. Pelayanan konsultasi kualitas yaitu pelatihan manajemen, pelatihan kualitas
Pemerintah Kabupaten Lamongan
3.2 PELAKSANAAN PROGRAM
3.2.1 Bantuan Modal Lunak Dari Pemerintah Kabupaten Lamongan
Dalam rangka akselerasi program pemberdayaan UMKM, Pemerintah Kabupaten Lamongan telah mengalokasikan anggaran bantuan modal yang bersumber dari APBD dengan rician sebagai berikut :
No Tahun Alokasi Anggaran
(Rp)
1. 2010 3.750.000.000,- 2. 2011 3.700.000.000,- 3. 2012 3.700.000.000,-
3.2.1.1 Sektor Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Penyediaan bantuan modal usaha
dana revolving APBD Kabupaten diarahkan kepada pemberdayaan usaha koperasi, PKL dan IKM/IRT. Keberadaan modal kerja dimaksudkan untuk pengembangan usaha koperasi yang sangat diperlukan. Bantuan
modal kerja ini ditujukan untuk pengembangan usaha pengadaan pangan, unit usaha simpan pinjam koperasi dan modal kerja bagi UMKM. Peran Pemerintah Kabupaten Lamongan sampai dengan tahun 2011 telah memberikan fasilitasi permodalan kepada 159 koperasi dari 1.036 koperasi yang ada di Kabupaten Lamongan atau 15,35%, 303 IK-IRT,PKL dari 12.777 IK-IRT,PKL yang ada di Kabupaten Lamongan atau 2,37%.
Secara lebih rinci jumlah bantuan modal dan penerima bantuan adalah sebagai berikut :
Pemerintah Kabupaten Lamongan
No Tahun Jenis Permodalan Penerima
Bantuan Nilai (Rp)
1 2010 Modal Kerja
Ketahanan Pangan
14 Koperasi/KUD 2.000.000.000 Modal Kerja
KSP/USP-Koperasi
21 KSP/USP-Koperasi
750.000.000 Modal Kerja IK, IRT
dan PKL
80 IK-IRT,PKL 1.000.000.000 2 2011 Modal Kerja
Ketahanan Pangan
14 Koperasi/KUD 2.000.000.000 Modal Kerja
KSP/USP-Koperasi
19 KSP/USP-Koperasi+HIPPAM
950.000.000 Modal Kerja IK, IRT
dan PKL
23 IK-IRT,PKL 750.000.000 3 2012 Modal Kerja
Ketahanan Pangan
12 Koperasi/KUD 2.000.000.000 Modal Kerja
KSP/USP-Koperasi
18
KSP/USP/HIPPAM
950.000.000 Modal Kerja IK, IRT
dan PKL
23 IK-IRT 750.000.000
3.2.1.2 Sektor Pertanian
1 Penguatan Kelompok Lumbung Pangan Pada masa lalu konsep ketahanan pangan wilayah didasarkan pada ketersediaan secara makro/absolut tetapi hal tersebut belum menjamin ketersediaan antar waktu, daerah sampai tingkat rumah tangga mengingat banyaknya faktor akibat
pengaruh alam maupun instabilitas termasuk krisis ekonomi, sosial dan politik. Oleh karena itu perlu adanya kepedulian pemerintah bersama
Pemerintah Kabupaten Lamongan
masyarakat untuk memfasilitasi dan pengendalian cadangan pangan melalui lumbung pangan.
Lumbung pangan bukan hanya sosok fisik tempat penyimpanan cadangan pangan tetapi mempunyai arti yang lebih luas yaitu hubungan dari dan untuk masyarakat yang bergerak di bidang penyimpanan, pendistribusian, pengolahan dan perdagangan yang dibentuk dan dikelola oleh masyarakat. Karena posisi cadangan pangan yang strategis tersebut maka pemerintah daerah lewat kantor ketahanan pangan Kabupaten Lamongan telah memfasilitasi dana pemberdayaan kelompok lumbung pangan dengan kegiatan pokok cadangan pangan dan tunda jual disamping kegiatan produktif dan optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan sebagai cadangan pangan hidup dan perbaikan gizi keluarga.
Peran Pemerintah Kabupaten Lamongan sampai dengan tahun 2011 telah memberikan fasilitasi permodalan kepada 152 kelompok tani dari 233 kelompok lumbung pangan yang ada di Kabupaten Lamongan atau 65,83 %. Adapun rincian yang diperuntukkan bantuan modal sebagai berikut :
No. Tahun Jumlah Dana
Bergulir (Rp) Jumlah Kelompok Lumbung Pangan 1 2010 3.500.000.000 36 2 2011 3.500.000.000 36 3 2012 3.500.000.000 39
Dana kegiatan penguatan modal lumbung pangan dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan :
a. Pengadaan / pembelian gabah atau jagung dari petani/masyarakat desa setempat pada waktu panen raya untuk dikelola dengan sistem tunda jual dan untuk stok pangan;
b. Simpan pinjam sarana produksi pertanian (pupuk, peptisida, bibit/benih);
Pemerintah Kabupaten Lamongan
c. Usaha produktif lainnya seperti kios saprodi, usaha pengolahan hasil dan pemasaran, usaha pengembangan alsintan, jasa pelayanan penyediaan sembako dan usaha lainnya.
Penggunaan dana dilaksanakan berdasarkan kesepakatan anggota kelompok melalui proses perencanaan partisipatif dengan mempertimbangkan potensi sumberdaya yang dimiliki kelompok lumbung pangan.
Selain itu Pemerintah Kabupaten Lamongan juga memfasilitasi pembangunan sarana dan prasarana lumbung pangan sebanyak 105 lumbung pangan disamping itu juga melaksanakan pembinaan dalam rangka peningkatan kapasitas kelembagaan pada 92 lumbung swadaya.
2 Peningkatan Mutu Intensifikasi (PMI) Padi, Jagung dan Tebu
Sasaran kegiatan diarahkan pada petani di Kabupaten Lamongan melalui kelompok tani. Ketua kelompok tani melaksanakan penyaluran paket pinjaman modal petani yakni menerima dan melaksanakan pengembaliannya kepada Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui PD Bank Daerah Lamongan. Dalam hal penyediaan sarana produksi, pelaksanaan usaha tani, penanganan pasca panen maupun pemasaran hasil dilakukan oleh masing-masing petani pelaksana dan atau disesuaikan dengan situasi setempat. Peran Pemerintah Kabupaten Lamongan sampai dengan tahun 2012 telah memberikan fasilitasi permodalan kepada 824 kelompok tani dari 1.687 kelompok tani yang ada di Kabupaten Lamongan atau 48,84 %.
Tujuan dilaksanakannya kegiatan PMI padi, jagung dan tebu adalah sebagai berikut :
a. Menyediakan modal guna kegiatan usaha tani pertanian;
b. Mendukung penerapan pemupukan berimbang, penggunaan pupuk organik;
Pemerintah Kabupaten Lamongan
d. Memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah;
e. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. 1) PMI Padi
Manfaat kegiatan PMI Padi :
a) Adanya peningkatan produksi padi 2,5 – 5 %;
b) Petani mulai menerapkan pemupukan berimbang dan pemakaian benih unggul bersetifikasi sebagai bagian dari paket pinjaman;
c) Adanya peningkatan pendapatan petani.
Perkembangan fasilitas permodalan PMI Padi sebagai berikut
No Tahun Jumlah Dana
Bergulir (Rp) Jumlah Penerima Keterangan 1 2010 4.000.000.000 160 klp 4.000 Ha 2 2011 4.000.000.000 160 klp 4.000 Ha 3 2012 4.000.000.000 144 klp 4.000 Ha 2) PMI Jagung
Manfaat kegiatan PMI Jagung :
a) Adanya peningkatan produksi jagung ± 5 % ;
b) Petani mulai menerapkan pemupukan berimbang dan pemakaian benih unggul bersetifikasi sebagai bagian dari paket pinjaman;
Pemerintah Kabupaten Lamongan
Perkembangan fasilitas permodalan PMI Jagung sebagai berikut :
No Tahun Jumlah Dana
Bergulir (Rp) Kelompok Keterangan
1 2010 400.000.000 16 klp 400 Ha 2 2011 400.000.000 16 klp 400 Ha 3 2012 400.000.000 16 klp 400 Ha
3) PMI Tebu
Manfaat kegiatan PMI Tebu :
a) Petani mulai menerapkan pemupukan berimbang dan pemakaian benih unggul bersetifikasi sebagai bagian dari paket pinjaman;
b) Adanya peningkatan produksi tebu tahun 2011 152.403 ton meningkat di tahun 2012 menjadi 217.713 ton;
c) Adanya peningkatan pendapatan petani.
Perkembangan fasilitas permodalan PMI Tebu sebagai berikut
No Tahun Jumlah Dana
Bergulir (Rp) Kelompok Keterangan
1 2010 1.750.000.000 14 klp 350 Ha 2 2011 1.000.000.000 8 klp 200 Ha 3 2012 1.350.000.000 3 KPTR 200 Ha
3.2.1.3 Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani Kecil Pola BUARI (Bunga Agunan Ringan)
Rumah tangga pertanian yang memiliki luas garapan 0,2 – 0,5 ha dan buruh tani di Kabupaten Lamongan pada umumnya mereka mempunyai keterbatasan pada
Pemerintah Kabupaten Lamongan
permodalan, pengembangan ketrampilan dan dalam menjangkau kemudahan fasilitas yang disediakan pemerintah, sasaran dari program ini adalah ibu rumah tangga.
Melalui pembinaan yang dilaksanakan oleh penyuluh dan kepala unit pelaksana teknis Dinas Pertanian dan Kehutanan kecamatan, mereka dibina dalam wadah Kelompok Petani Kecil (KPK). Pemberdayaan diarahkan dengan memberikan penyadaran dan motivasi tentang keterbatasan yang ada serta kebutuhan dalam mencapai keberdayaan.
Sesuai dengan potensi, ketrampilan dan usaha produktif yang dimiliki untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha mereka mendapat pendampingan dan pemberdayaan dari penyuluh dalam kegiatan di kelompoknya serta mendapatkan bantuan pinjaman modal usaha untuk mengembangkan usaha produktifnya.
Peran Pemerintah Kabupaten Lamongan sampai dengan tahun 2011 telah meberikan fasilitasi permodalan yang diperuntukkan untuk modal Kelompok Petani Kecil (KPK) sebagai berikut :
No Tahun Jumlah Dana Bergulir (Rp) Kelompok
1 2010 4.750.000.000 192
2 2011 4.750.000.000 158
3 2012 4.750.000.000 148
Dana kegiatan penguatan modal Kelompok Petani Kecil (KPK) menghasilkan manfaat :
1 Anggota kelompok terhindar dari pinjaman dengan suku bunga tinggi;
2 Pemberdayaan kelompok, ditujukan agar kelompok mempunyai kekuatan ekonomi yang lebih baik dan dana pinjaman modal tersebut dapat menambah volume usaha serta meningkatkan pendapatan anggota kelompok.
Pemerintah Kabupaten Lamongan
3.2.1.4 Peningkatan Mutu Intensifikasi (PMI) Sapi Bibit, Sapi Potong, Kambing/Domba
Tujuan dilaksanakannya kegiatan PMI sapi bibit, sapi potong, kambing/domba adalah sebagai berikut :
1 Mengembangkan potensi budidaya ternak melalui penguatan modal usaha melalui sistem perbankan; 2 Meningkatkan kemampuan
usaha dengan memanfaatkan segala sumberdaya yang tersedia sesuai dengan prinsip-prinsip usaha.
Adapun bantuan modal yang diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan sebagai berikut :
No Tahun Jumlah Dana Bergulir (Rp) Kelompok
1 2010 2.200.000.000,- 47
2 2011 2.200.000.000,- 59
3 2012 2.200.000.000,- 55
3.2.2 Fasilitasi Aksesibilitas Pelaku Usaha Dengan Perbankan Disamping itu Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam rangka pemberdayaan UMKM juga melakukan upaya fasilitasi kemudahan akses permodalan dengan pihak perbankan. Hal ini diwujudkan melalui Penandatanganan MOU-Nota Kesepahaman Bersama antara Bupati Lamongan dengan direksi perbankan untuk kemudahan pembiayaan usaha koperasi dan UMKM tanggal 9 Juli 2008 tentang dukungan informasi UKM Center dan penyaluran kredit kepada Usaha Mikro, Kecil,
Pemerintah Kabupaten Lamongan
Menengah dan Koperasi di Kabupaten Lamongan, yaitu dengan BRI, BNI, Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat, Bank Jatim, PD Bank Daerah Lamongan, BPR Bank Jatim dan Bank Bukopin.
MOU-Nota Kesepahaman Bersama ini dimaksudkan untuk membantu dan mendukung pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi dalam mendapatkan kredit usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi Kabupaten Lamongan. Nota Kesepahaman Bersama ini bertujuan untuk memberdayakan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi serta pengembangan UMKM Center Kabupaten Lamongan dengan memberikan data informasi yang diperlukan.
Ruang lingkup Nota Kesepahaman Bersama ini meliputi :
1 Pemberian informasi yang diperlukan untuk pelayanan UKM Center Kabupaten Lamongan terhadap dunia usaha, informasi akses permodalan dan perbankan, khususnya bagi kelompok usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi;
2 Pemberian fasilitas kredit kepada usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi langsung maupun tidak langsung.
Realisasi kredit untuk UMKM sampai saat ini terinci sebagai berikut:
1 Bank Jatim Cabang Lamongan dengan realisasi Rp 2.325.000.000,- dengan sasaran 19 UMKM
2 Bank BRI dengan realisasi Rp 641.900.000.000,- dengan sasaran 36.214 UMKM
3 Bank BNI 46 dengan realisasi Rp 10.550.000.000,- dengan sasaran 100 UMKM
4 Bank Bukopin dengan realisasi Rp 562.000.000,- dengan sasaran 25 UMKM 5 Bank Syariah Mandiri dengan realisasi Rp 641.900.000.000,- dengan sasaran
Pemerintah Kabupaten Lamongan
6 Bank Mandiri dengan realisasi Rp 11.235.600.000,- dengan sasaran 112 UKMM
7 Bank Muamalat dengan realisasi Rp 5.650.000.000,- dengan sasaran 52 UKMM
8 PD. Bank Daerah dengan dengan realisasi Rp 16.185.000.000,- dengan sasaran 461 UKMM
9 BPR Bank Jatim dengan realisasi Rp 7.875.000.000,- dengan sasaran 78 UKMM
3.2.3 Kelembagaan
1 Pendirian Showroom sebagai pusat informasi dan promosi produk unggulan Kabupaten Lamongan di Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan Kabupaten Lamongan Jl. Panglima Sudirman Nomor 94 Lamongan tahun 2008. Selain berfungsi sebagai sarana promosi juga sekaligus membantu menjualkan produk-produk unggulan UMKM. UMKM yang memanfaatkan showroom sebanyak 49 UMKM dan Showroom di Wisata Bahari Lamongan 20 UMKM Sedangkan untuk menyebarluaskan informasi dan mendokumentasikan berbagai potensi, keberhasilan dan upaya terobosan pemberdayaan koperasi dan UMKM maka diterbitkanlah majalah Media Usaha secara berkala yang dikelola oleh Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan Kabupaten Lamongan.
Seiring dengan era globalisasi maka media promosi produk UMKM Kabupaten Lamongan juga menggunakan fasilitas internet di situs www.lamongankab.go.id dan rumah kreatif yang merupakan tempat untuk memfasilitasi UMKM dalam mempromosikan produk-produk UMKM yang dilakukan oleh pengusaha sendiri.
2 Pendirian klinik UMKM Center di Jl. Panglima Sudirman Nomor 94 Lamongan menyatu dengan Showroom Dinas Koperasi, Industri dan perdagangan Kabupaten Lamongan, fungsi klinik UMKM ini adalah :
Pemerintah Kabupaten Lamongan
a. Pelayanan informasi tentang info promosi pameran, info notaris dan info hak merk dan HAKI, info permodalan dari perbankan dan koperasi; b. Pelayanan advokasi seperti pendirian badan usaha, diskusi solusi kasus,
monitoring dan pendampingan, pengembangan kemitraan usaha produk;
c. Pelayanan konsultasi kualitas yaitu pelatihan manajemen, pelatihan kualitas produk.
d. Sampai saat ini UMKM yang telah mengakses klinik ini sebanyak 812 UMKM (termasuk calon wirausaha baru).
3 Pembinaan dan pemberdayaan PKL dilindungi dengan Surat Keputusan Bupati Lamongan Nomor 188/ 81/ Kep/ 413.013 /2010 tentang Penetapan Lokasi Pedagang Kaki Lima di Kabupaten Lamongan, hal ini untuk penertiban, pengendalian dan pembinaan setiap PKL yang menjalankan usaha di kawasan kota Lamongan. Selain itu untuk PKL tanaman hias telah diatur dalam Keputusan Bupati Lamongan Nomor 188/270 A/Kep/413.013/2008 tentang Lokasi Sentra Tanaman Hias di Kabupaten Lamongan. Dimaksudkan untuk memberikan kepastian tempat bagi PKL tanaman hias sehingga terasa nyaman dan tidak merusak pemandangan keindahan kota.
Dengan terbitnya kedua Keputusan Bupati Lamongan tersebut memberikan kepastian status para PKL yang resmi sehingga memberikan kemudahan akses untuk memperoleh modal dana revolving dengan bunga yang rendah. Untuk menciptakan kenyamanan dan tumbuh serta berkembangnya para pedagang agar mendukung mendapatkan fasilitas kemudahan akses permodalan kepada perbankan juga telah diterbitkan Surat Ijin Usaha Perdagangan, SIUP kecil PKL di kota Lamongan agar mereka terdapat jaminan kepastian usaha dan memudahkan apabila mereka mengakses modal pembiayaan usaha ke perbankan.
Pemerintah Kabupaten Lamongan
4 Fasilitasi kemudahan pelayanan regulasi pendirian Badan Hukum Usaha Ekonomi Perkoperasian melalui notaris dan pengesahannya dari Kementerian Koperasi. Bertujuan untuk merangsang pertumbuhan koperasi di Kabupaten Lamongan, namun tetap memegang teguh aturan yang berlaku. Pada tahun 2008 berdiri 61 koperasi baru, tahun 2009 berdiri 179 koperasi baru sedangkan tahun 2010 berdiri 359 koperasi baru.
5 Kawasan Holtikultura
Dasar Hukum : Surat Keputusan Bupati Lamongan Nomor : 188/261.1/Kep/ 413.013/ 2010
Lokasi : Desa Medang dan Sudangan Kecamatan Glagah Sebagian besar wilayah di Kecamatan
Glagah merupakan sawah tambak, dengan produksi utamanya udang vanamae, udang windu, bandeng dan padi. Sedangkan pematang tambak tersebut ditanami tanaman holtikultura berupa cabe rawit dan cabe merah varietas lokal. Pada tahun 2006 Desa
Medang dan Sudangan Kecamatan Glagah ditunjuk menjadi pilot project pengembangan agrbisnis cabe merah varietas hibrida dan atas keberhasilan dari pilot project ini dibentuklah Klinik Konsutasi Agribisnis (KKA) Holtikultura. KKA memfasilitasi pengembangan holtikultura yang semula hanya ditanami cabe merah hibrida dikembangkan untuk varietas hibrida seperti terong, tomat, kubis, sawi putih dan timun, harapannya Kecamatan Glagah terutama Desa Medang dan Sudangan akan menjadi kawasan holtikulturanya Kabupaten Lamongan. Karena keunggulannya tersebut maka pada tahun 2010 dibentuklah kawasan holtikultura dan telah didukung melalui pembinaan, pelatihan dan pembangunan gedung sebagai tempat penampungan produk holtikultura dan sarana pemasarannya.
Pemerintah Kabupaten Lamongan
6 Kawasan Agropolitan
Dasar Hukum : - Surat Keputusan Bupati Lamongan Nomor : 188/284/kep/413.013/2008 tanggal 20 Nopember 2008;
- Surat Gubernur Jawa Timur Nomor : 520/1181/202.2/2009 tanggal 12 Mei 2009
Lokasi : - Pusat Pengembangan Kec.Ngimbang
- Hinterland : Kecamatan Modo, Sambeng, Kedungpring, Sukorame, Bluluk dan Mantup
Secara geografis wilayah Ngimbang berada disisi selatan Kabupaten Lamongan. Wilayah Ngimbang memiliki peran dan kedudukan penting dalam pembangunan wilayah selatan Lamongan. RTRW Kabupaten Lamongan 2011 – 2031 menetapkan wilayah Ngimbang sebagai titik pusat pertumbuhan bagi wilayah selatan Kabupaten Lamongan dan dengan ditetapkannya Kecamatan Ngimbang sebagai pengembangan kawasan agropolitan maka wilayah Ngimbang makin tumbuh pesat, terutama dengan makin lengkapnya fasilitas dan sarana prasarana di kawasan tersebut. Adapun kegiatan utama yang diarahkan untuk dikembangkan di wilayah Kecamatan Ngimbang adalah : a. Pengembangan pelayanan umum,
b. Telah dilaksanakan pembangunan Rumah Sakit Tipe C. c. Pengembangan pertanian secara luas
d. Penguatan kelembagaan masyarakat
e. Pengembangan kegiatan industri (kerajinan rakyat)
Potensi yang ada di Kecamatan Ngimbang adalah bidang pertanian dengan komoditas unggulan tembakau, jagung, tebu dan ternak besar dan dengan dilengkapi berbagai fasilitas pelayanan diantaranya terminal angkutan umum, fasilitas perdagangan dan jasa, serta rumah sakit umum daerah tipe C.
Pemerintah Kabupaten Lamongan
Kesemuanya itu makin menguatkan peran wilayah Ngimbang sebagai pusat pertumbuhan dan pusat pengembangan kawasan agropolitan.
Dari analisa potensi komoditas pertanian, baik tanaman pangan, tanaman perkebunan, tanaman holtikultura serta potensi peternakan dan potensi hutan lindung, hutan produksi, hutan rakyat yang didasarkan kemampuan lahan, kesesuaian lahan, iklim, partisipasi dan keinginan masyarakat dan pemerintah, dukungan sarana dan prasarana (khususnya jalan/ transportasi), prospek pasar serta kemudahan
akses pasar ke kota kecamatan dan kabupaten, maka dapat ditetapkan pusat-pusat Wilayah Pengembangan Agribisnis (WPA) sebagai berikut :
a. Wilayah Pengembangan
Agribisnis (WPA) Tanaman Pangan yang berada di Desa Slaharwotan, Kakatpenjalin, Lamongrejo, Munungrejo, Sendangrejo, dan Ngimbang dengan pusat pengembangan di Desa Ngimbang dengan komoditas unggulan yang sudah dikembangkan antara lain padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang hijau, kedelai dan kacang tanah. Sedangkan komoditas tanaman pangan yang dapat dikembangkan berikutnya adalah talas, lombok, bawang merah, sawi dan padi ladang.
b. Wilayah Pengembangan Agribisnis (WPA) Tanaman Holtikultura yang berada di Desa Jejel, Ngasemlemahbang, Lawak, Drujugurit, Tlemang, Girik, dan Purwokerto dengan pusat pengembangan di Desa Jejel dengan komoditas unggulan yang sudah dikembangkan antara lain semangka, blimbing, jambu biji, nangka, pepaya, pisang, mangga, sawo, sirsak, jambu air dan blewah. Sedangkan komoditas tanaman holtikultura yang dapat dikembangkan berikutnya adalah mengkudu dan buah naga.
Pemerintah Kabupaten Lamongan
c. Wilayah Pengembangan Agribisnis (WPA) Tanaman Perkebunan yang berada di Desa Kedungmentawar, Gagantingan, Gebangangkrik, Durikedungrejo, Mendoga dan Purwokerto dengan pusat pengembangan di Desa Gebangangkrik dengan komoditas unggulan yang sudah dikembangkan antara lain tembakau, tebu dan kelapa. Sedangkan komoditas tanaman perkebunan yang dapat dikembangkan adalah teh rosela, aren dan kakao.
7 Kawasan Minapolitan
Dasar Hukum : Surat Keputusan Bupati Lamongan Nomor : 188/213/kep/413.013/2010
Budidaya : - Minapolis budidaya perikanan dengan komoditas udang vannamei di Kabupaten Lamongan adalah Kecamatan Glagah
- Hinterland : Kecamatan Karangbinangun, Deket, Turi dan Sarirejo
Tangkap : - Minapolis perikanan tangkap adalah Kecamatan Brondong, dengan Pusat Pengelolaan Minapolitan (PPM) terletak di PPN Brondong
- Hinterland : Kecamatan Paciran dengan beberapa TPI yang ada disekitarnya
Kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi perikanan dan pengelolaan sumberdaya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dari hierarki keruangan satuan
Pemerintah Kabupaten Lamongan
system pemukiman dan sistem minabisnis. Minapolitan/agropolitan menurut Friedman dan Douglass (1985) adalah aktivitas pembangunan yang terkosentrasi di wilayah perdesaan dengan jumlah penduduk antara 50.000 jiwa sampai dengan 150.000 jiwa.
8 Sentra Produksi Bordir, Batik dan Keemasan
Dasar Hukum : Surat Keputusan Bupati Lamongan Nomor : 188/208.5/Kep/ 413.013/ 2010
Lokasi : Desa Sendangagung dan Sendang Dhuwur Kecamatan Paciran
Sentra produksi Bordir, Batik dan Keemasan berada disebelah utara Kabupaten Lamongan tepatnya di Desa Sendangagung dan Sendang Dhuwur Kecamatan Paciran dan terletak dipinggir pantai utara. Bordir dan Batik dari wilayah ini
memiliki kekhasan antara lain batik pesisiran, jumlah IKM yang begerak dibidang Bordir sebanyak 340 IKM, Batik sebanyak 183 IKM dan Keemasan sebanyak 495 IKM. Sedangkan wilayah pemasarannya produknya meliputi lokal, regional dan nasional. Keberadaan sentra ini berdekatan dengan tempat wisata pantai berupa Wisata Bahari Lamongan, Maharani Zoo Lamongan (Mazola) dan Makam Sunan Drajat. Pada saat ini sentra ini telah dirintis untuk dijadikan Kampung Wisata Belanja Bordir, Batik dan Keemasan, sehingga akan menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Lamongan dan menjadi satu paket dengan WBL, MAZOOLA dan
Pemerintah Kabupaten Lamongan
9 Sentra Produksi Konveksi
Dasar Hukum : Surat Keputusan Bupati Lamongan Nomor : 188/208.7/Kep/ 413.013/ 2010
Lokasi : Desa Tritunggal Kecamatan Babat
Sandang merupakan salah satu kebutuhan manusia yang pokok selain makanan dan tempat tinggal, itulah kiranya yang dibaca oleh sebagai peluang usaha untuk mengembangkan industri konveksi. Dengan didukung oleh 100 IK Konveksi, usaha konveksi ini telah menjadi produk unggulan daerah dan wilayah pemasarannya telah menembus pasar ekspor. Desa Tritunggal berada ditepi jalan raya arteri primer Surabaya – Jakarta, sehingga menjadi tempat yang strategis untuk mendukung perkembangan sentra ini. Kawasan telah dirintis sebagai Kawasan Wisata Belanja Konveksi. 10 Sentra Produksi Tenun Ikat
Dasar Hukum : Surat Keputusan Bupati Lamongan Nomor : 188/208.6/Kep/ 413.013/ 2010
Lokasi : Desa Parengan Kecamatan Maduran
Sentra tenun ikat berpusat di Desa Parengan sebagai tempat pemasaran dengan didukung oleh Desa Pringgoboyo, Laren, Pangkatrejo dan Kanugrahan sebagai tempat
produksi dengan menggunakan Alat Tenum Bukan Mesin (ATBM). Tenun ikat ini mempunyai kekhasan motif doby dan songket
Industri kecil menengah tenun ikat sebanyak 33 IKM dengan
Pemerintah Kabupaten Lamongan
wilayah pemasarannya lokal, regional, nasional dan internasional. Pada tahun 2009 dibuat tenun ikat sepanjang 59,99 meter dan memecahkan rekor MURI sebagai kain tenun ikat terpanjang.
11 Sentra Budidaya Bebek
Dasar Hukum : Surat Keputusan Bupati Lamongan Nomor : 188/34.2/Kep/ 413.013/ 2011
Lokasi : Desa Tawangrejo dan Keben Kecamatan Turi Populasi bebek di Kabupaten
Lamongan pertahun rata-rata sebesar 143.960 ekor dengan produksi telur sebanyak 9.328.320 butir. Salah satu wilayah yang memberikan kontribusi terhadap populasi bebek di Kabupaten Lamongan
adalah Desa Tawangrejo dan Keben Kecamatan Turi. Populasi bebek diwilayah ini sebesar 46.025 ekor dan produksi telur mencapai 3.974.400 butir. Pada tahun 2010 desa Tawangrejo dan Keben ditetapkan sebagai salah satu kawasan sentra budidaya bebek di Kabupaten Lamongan. Pada 2 desa ini terdapat 2 kelompok ternak atau 458 rumah tangga ternak, dengan pola budidaya intensif dan semi intensif. Kekhasan dari sentra ini adalah besarnya keterlibatan perempuan dalam budidaya bebek sehingga mampu membantu pendapatan keluarga (diversifikasi usaha) dalam serta pemanfaatan limbah budidaya ikan di sawah tambak berupa “cepret”.
Pemerintah Kabupaten Lamongan
12 Sentra Budidaya Kambing
Dasar Hukum : Surat Keputusan Bupati Lamongan Nomor : 188/34.1/Kep/ 413.013/ 2011
Lokasi : Desa Slaharwotan Kecamatan Ngimbang
Kontribusi sentra budidaya kambing terhadap populasi kambing di Kabupaten Lamongan sebesar 13.941 ekor dari total populasi yang mencapai 63.227 ekor atau 22 persen. Jenis kambing yang dibudidayakan antara lain Peranakan Etawa dan Kacangan. Keberadaan sentra budidaya kambing memang dipusatkan diwilayah selatan yang meliputi 3 kecamatan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi basis budidaya peternakan. Tumbuh kembangnya sentra budidaya ternak kambing telah memberi dampak terhadap peningkatan pendapatan peternak.
13 Kampung Kerapu
Dasar Hukum : Surat Keputusan Bupati Lamongan Nomor : 188/1690/Kep/ 413.013/ 2011
Lokasi : Desa Labuhan Kecamatan Brondong
Sebagai upaya peningkatan usaha, mutu hasil produksi serta penyediaan lapangan kerja, Desa Labuhan Kecamatan Brondong ditetapkan lewat Keputusan Bupati Lamongan sebagai kampung kerapu. Keberadaan kampung kerapu merupakan bentuk sinergitas dari seluruh komponen pendukung, diantaranya adanya potensi sumber daya alam, sarana produksi perikanan, pemasaran, lembaga keuangan, sarana prasarana, kemitraan sehingga merupakan keunggulan komparatif untuk menjamin keberlanjutan usaha.
Pemerintah Kabupaten Lamongan
Luas Lahan Budidaya Ikan Kerapu kurang lebih 60 ha dengan produksi rata-rata 251,3 ton/ tahun dan nilai produksinya Rp. 20.610.000.000,-.
Berkembangnya kampung kerapu membawa dampak dalam peningkatan
penyerapan tenaga kerja. Adapun perkembangan tenaga kerja yang terlibat dalam usaha budidaya kerapu adalah sebagai berikut :
No Tahun Jml Pembudi-daya (Orang) Kasar (Orang) Jml Tenaga Kerja (Orang) Jml Tenaga
1 2010 60 135 195
2 2011 67 148 215
3 2012 83 169 252
14 Sentra Budidaya Lele
Dasar Hukum : Surat Keputusan Bupati Lamongan Nomor : 188/249.1/Kep/ 413.013/ 2010
Lokasi : Desa Kedungwangi Kecamatan Sambeng
Kabupaten Lamongan merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Timur. Dengan potensi panjang pantai 47 km Kabupaten Lamongan merupakan salah satu penghasil ikan tangkap terbesar, disamping perikanan tangkap telah berkembang perikanan budidaya tambak dan sawah tambak. Sejak tahun 1989 telah dikembangkan budidaya ikan dipekarangan (urban farming) terutama diwilayah dataran tinggi dengan menggunakan terpal. Salah satu wilayah yang telah berhasil dan ditetapkan menjadi sentra
Pemerintah Kabupaten Lamongan
budidaya lele yaitu Desa Kedungwangi dan Candisari Kecamatan Sambeng. Jumlah pembudidaya di wilayah ini sebanyak 45 orang dengan produksi mencapai ± 84 ton/tahun dan wilayah pemasaran meliputi kawasan Jawa Timur (Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, Lamongan).
3.3 PENGEMBANGAN PROGRAM
3.3.1 Gerakan Membangun Ekonomi Rakyat Lamongan Berbasis Pedesaan (GEMERLAP)
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lamongan trendnya selalu meningkat bahkan pada tahun 2010 mencapai 6,89%, besarnya pertumbuhan ini ternyata belum diikuti oleh peningkatan pendapatan perkapita masyarakat secara signifikan, pada tahun 2010 pendapatan perkapita sebesar Rp. 9.474.775 . Berdasarkan kondisi ini Pemerintah Kabupaten Lamongan menggagas Program Gerakan Membangun Ekonomi Rakyat Lamongan Berbasis Pedesaan (GEMERLAP). Program ini dilounching oleh Bupati Lamongan pada tanggal 14 Juni 2011. Program ini merupakan perwujudan tekad yang kuat dari Pemerintah Kabupaten Lamongan yang didukung lewat Peraturan
Bupati Lamongan Nomor 13 Tahun 2011 untuk membangun ekonomi masyarakat dengan berbasis pada pedesaan. Hal ini bukan berarti meninggalkan perkotaan yang selama ini telah digarap, tetapi keberpihakan kepada masyarakat
Pemerintah Kabupaten Lamongan
pedesaan perlu dilakukan agar tidak ada ketimpangan yang mencolok antara kota dan desa. Disadari bahwa masyarakat pedesaan sebagai sasaran program tidak dalam kondisi “Nol”, tetapi mereka sudah mempunyai kemampuan dan bekal dasar untuk inovasi dan kemajuan serta perbaikan kehidupannya. Sehingga program Gemerlap ini bersifat penguatan (enabling) yakni menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat bisa berkembang dan memotivasi atau mendorong (encourage), serta membangkitkan kesadaran (awareness) akan potensi yang dimiliki serta berupaya mengembangkannya. Sasaran penerima program Gemerlap :
1 Masyarakat pedesaan yang telah mempunyai usaha mandiri, yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi usaha masyarakat desa yang kemudian akan menjadi produk unggulan desa tersebut. Hal ini dimaksudkan usaha yang telah ada dijadikan motivasi sekaligus bengkel kerja masyarakat desa tersebut;
2 Kegiatan yang dapat diusulkan untuk memperoleh pembiayaan dari Gemerlap hanya kegiatan yang dapat menjangkau dan mengikutsertakan sebanyak mungkin penduduk desa tersebut dengan pola bergulir.
Tujuan program Gemerlap :
1 Menggerakkan lebih terencana, terarah dan terukur ekonomi masyarakat pedesaan melalui pemberian bantuan modal (hibah/pinjaman) bergulir, mengefektifkan kelompok-kelompok usaha pedesaan yang sudah ada sebagai basis inovasi dan merehabilitasi atau membangun sarana dan prasarana ekonomi yang mendukung sistem produksi, distribusi barang dan jasa;
2 Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana ekonomi rakyat dengan tetap memelihara kelestarian fungsi lingkungan;
3 Mengembangkan produk unggulan tiap desa dan menciptakan akses pasar lokal menuju regional, nasional dan global;
Pemerintah Kabupaten Lamongan
4 Meningkatkan peran dan koordinasi SKPD dalam pemberdayaan masyarakat pedesaan;
5 Meningkatkan kemitraan dan sinergitas stake holders (pemerintah, swasta dan masyarakat) dalam membangun pedesaan yang berkelanjutan.
Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2011 dalam rangka mensukseskan program GEMERLAP antara lain :
3.3.1.1 Pengadaan Alsintan
Berdasarkan luas satu areal lahan pertanian seluas 88.221 hektar, handtraktor yang dibutuhkan untuk mengolah tanah sebanyak 3.323 unit dan sampai tahun 2010, jumlah handtraktor yang tersedia sebanyak 1.339 unit, sehingga masih dibutuhkan handtraktor sebanyak 1.984 unit. Dalam rangka efisiensi biaya produksi dan percepatan proses produksi tanaman pertanian khusunya padi, maka pada tahun 2011
Pemerintah Kabupaten Lamongan memberikan bantuan kepada kelompok tani sebanyak 293 handtraktor bagi 293 kelompok tani. Disamping itu kebutuhan akan pompa air mencapai 5.859 unit dan sampai tahun 2010 jumlah pompa air yang tersedia sebanyak 1.353 unit, sehingga masih dibutuhkan pompa sebanyak 4.506 unit dan pada tahun 2011 dibantu oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan sebanyak 111 unit bagi 111 kelompok tani.
Pemerintah Kabupaten Lamongan
3.3.1.2 Pengembangan Budidaya Kambing
Pengembangan sentra budidaya kambing merupakan upaya Pemerintah Kabupaten Lamongan mendukung program swasembada daging yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Pusat, disamping itu untuk menambah penghasil masyarakat. Pada tahun 2011 Pemerintah Kabupaten telah memberikan bantuan kambing sebanyak 2.200 kambing yang terdiri dari 2.000 kambing betina dan 200 kambing jantan yang diperuntukan bagi 11 kelompok ternak di 11 desa 3 kecamatan. Agar bantuan ini terus berkembang, Pemerintah Kabupaten Lamongan dibantu oleh Non Government Organitations (NGO’s) untuk mendampingi kelompok.
3.3.1.3 Pengembangan Budidaya Bebek Pemerintah Kabupaten telah memberikan bantuan bebek sebanyak 20.000 ekor bebek bagi 8 kelompok ternak di 8 desa 2 kecamatan. Kelompok ternak ini terdiri dari perempuan. Agar bantuan ini terus berkembang, Pemerintah Kabupaten Lamongan dibantu oleh Non
Government Organitations (NGO’s) untuk mendampingi kelompok. 3.3.1.4 Pengembangan Budidaya Lele
Pemerintah Kabupaten telah memberikan bantuan lele sebanyak 186 paket (per paket terdiri dari 1 terpal, 1.500 – 1.800 ekor ikan 1 unit pompa) yang diperuntukan bagi 16 kelompok pembudidaya ikan di 13 desa 8 kecamatan.
Pemerintah Kabupaten Lamongan
Budidaya lele ini sebagai bentuk pemanfaatan lahan pekarangan (urban farming) dan wilayah sasarannya yaitu Lamongan bagian selatan yang karakteristik wilayahnya dataran tinggi sehingga kebutuhan akan protein hewani yang berasal dari ikan akan terpenuhi. Agar bantuan ini terus berkembang, Pemerintah Kabupaten Lamongan dibantu oleh Non Government Organitations (NGO’s) untuk mendampingi kelompok.
3.3.1.5 Pengembangan Budidaya Keramba Jaring Apung
Pemerintah Kabupaten telah memberikan bantuan keramba jaring apung yang dipergunakan untuk budidaya ikan nila dan ikan patin sebanyak 11 paket (keramba berukuran 16 x 20 m dan
ikan sebanyak 54.500 ekor/paket) yang diperuntukan bagi 11 kelompok pembudidaya ikan di 5 desa 2 kecamatan. Agar bantuan ini terus berkembang, Pemerintah Kabupaten Lamongan dibantu oleh Non Government Organitations (NGO’s) untuk mendampingi kelompok.
3.3.1.6 Pengembangan IKM Konveksi
Dalam rangka mepromosikan IKM konveksi terutama di Desa Tritunggal Kecamatan Babat, Pemerintah Kabupaten telah memberikan berupa Neon Box sebanyak 133 unit, papan promosi (schelter) sebanyak 2 dan lahan parkir seluas 210 m2.
Pemerintah Kabupaten Lamongan
3.3.1.7 Pengembangan IKM Bordir, Batik dan Kemasan
Dalam rangka mepromosikan IKM Bordir, Batik dan Kemasan terutama di Desa Sedangagung dan Sendangdhuwur Kecamatan Paciran, Pemerintah Kabupaten telah memberikan berupa Neon Box sebanyak 50 unit, papan promosi (schelter) sebanyak 2 lahan parkir seluas 300 m2 dan tempat informasi dan toilet.
3.3.1.8 Pengembangan Pasar Desa/Tradisional
Dalam rangka meningkatkan perdagangan di wilayah pedesaan, pada tahun 2011 telah dibangunkan pasar tradisional (desa) sebanyak 4 buah yang berada :
1 Desa Ardirejo Kecamatan Sambeng 2 Desa Purwokerto Kecamatan Ngimbang 3 Desa Gempoltukmloko Kecamatan Sarirejo 4 Desa Sumberdadi Kecamatan Mantup
3.3.1.9 Pembangunan Sentra Makanan Khas Lamongan
Sentra jajanan khas ini berada di jalan arteri primer Surabaya – Jakarta yang pada awalnya merupakan sekumpulan PKL yang menjual jajanan/ oleh-oleh khas Lamongan. Agar dapat tertata rapi
dan “good looking” maka Pemerintah Kabupaten Lamongan melakukan pembenahan dan diberikan bantuan tenda kepada 40 PKL sehingga tempat ini menjadi lebih menarik.
Pemerintah Kabupaten Lamongan
3.3.1.10 Peningkatan SDM Petani/ Peternak/ Pembudidaya Ikan/ IKM
Disamping bantuan berupa sarana dan prasarana, Pemerintah juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi Petani/Peternak/ Pembudidaya Ikan/IKM agar pengetahuan dan skill meningkat.