Narasi Capaian IKU 2018
ASISTEN DEPUTI PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN
INDIKATOR KINERJA:
REKOMENDASI KEBIJAKAN PEMBIAYAAN USAHA MIKRO DAN KECIL
LAPORAN KINERJA INTERIMTRIWULAN II TAHUN 2018 Sasaran IndikatorKinerja
Output Fisik
Kinerja (%)
Progress Capaian
(%)
Keterangan Target Realisasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Tersusunnya Paket Rekomendasi Kebijakan
Pembiayaan Usaha Mikro dan Kecil
Jumlah paket
Rekomendasi Kebijakan Pembiayaan Usaha Mikro dan Kecil
4 4 100% 50% Dalam tahap
pelaksanaan
Petunjukpengisian :
Kolom (1) : diisi sasaran strategis atau sasaran program atau sasaran kegiatan yang direncanakan dalam Renstra atau perencanaan kinerja tahunan.
Kolom (2) :diisi dengan ukuran kinerja atau indicator kinerja yang merupakan ukuran kuantitatif dari tercapainya sasaran strategis yang diukur tersebut pada kolom 1.
Penulisan indicator kinerja disertai dengan satuannya, misalnya :presentase rekomendasi yang terimplementasi (%), Indeks iklim organisasi (Skala 1-5) dll
Kolom (3) : diisi dengan rencana capaian atau rencana hasil kerja secara kuantitatif (berupa angka), misalnya 10 Paket Rekomendasi.
Kolom (4) : diisi dengan realisasi dari hasil kerja secara kuantitatif (berupa angka), misalnya 8 Paket Rekomendasi.
Kolom (5) : diisi dengan progress capaian yang dilaporkan pada kolom 4, misalnya 1 Paket rekomendasi telah selesai sebesar 50% dari target yang ditetapkan.
Kolom (6) : diisi dengan% capaian realisasi anggaran berdasarkan realisasi Surat Perintah Membayar (SPM)/Surat Permintaan Pencairan Dana (SP2D).
Kolom (7) : diisi dengan penjelasan singkat atas realisasi capaian kinerja, misalnya; alasan kenapa target tidak tercapai, realisasi yang jauh melampaui target, penjelasan angka- angka yang dijadikan dasar perhitungan, hal-hal lain yang relevan, dan lain-lain, beserta dokumen pendukung pengukuran kinerja.
Latar Belakang
Dalam rangka meningkatkan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah, Pemerintah memandang perlu dikembangkannya akses pembiayaan dari perbankan dan lembaga keuangan bukan bank, mengingat masih terbatasnya kemampuan UMKM untuk memperoleh akses tersebut.
Pemerintah telah membentuk Komite Kebijakan Pembiayaan bagi UMKM dengan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2015 tentang Komite Kebijakan Pembiayaan bagi UMKM, yang diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2015, untuk menyinergikan kebijakan atas pengembangan akses pembiayaan. Komite Kebijakan bertanggung jawab kepada Presiden, diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dengan beranggotakan 9 Menteri, 2 Kepala Badan, serta Sekretaris Kabinet.
Adapun tugas Komite Kebijakan meliputi: 1) merumuskan dan menetapkan kebijakan pembiayaan bagi UMKM termasuk penetapan prioritas bidang usaha; 2) melakukan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan kebijakan pembiayaan bagi UMKM, dan 3) mengambil langkah-langkah penyelesaian hambatan dan permasalahan dalam pelaksanaan kebijakan pembiayaan bagi UMKM. Mengingat Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, ditunjuk sebagai Sekretaris Komite, konsekuensinya Sekretariat Komite Kebijakan berada di Kedeputian 1, khususnya di Keasdepan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan.
Pada tahun 2018, Komite Kebijakan Pembiayaan Bagi UMKM telah menetapkan target penyaluran KUR sebesar 116,6 triliun dengan porsi penyaluran sektor produksi sebesar minimal 50% dari total penyaluran.
Pelaksanaan kebijakan KUR sesuai dengan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Kebijakan Pembiayaan bagi UMKM Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pedoman Pelaksanaan KUR yang berlaku secara efektif mulai 1 Januari 2018
Capaian Indikator Kinerja Utama
PAKET REKOMENDASI KEBIJAKAN PEMBIAYAAN USAHA MIKRO DAN KECIL
Paket Rekomendasi Kebijakan Pembiayaan Usaha Mikrodan Kecil dari rekomendasi, berupa:
1. Rekomendasi Penyusunan Pedoman Teknis Pelaksanaan KUR Khusus
“Asisten Deputi Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan
mempunyai tugas menyiapkan koordinasi dan sinkronisasi perumusan, penetapan, pelaksanaan kebijakan, dan pengendalian pelaksanaan kebijakan
Kementerian/Lem baga yang terkait dengan isu di bidang keuangan dan penguatan keuangan berbasis nasional.”
Tersusunnya Paket Rekomendasi Kebijakan
Pembiayaan Usaha Mikro dan Kecil
Dalam rangka optimalisasi penyaluran KUR Khusus dan sesuai amanat Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Kebijakan Pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), maka disusun Pedoman Pelaksanaan Teknis Kredit Usaha Rakyat Khusus.
Pedoman Pelaksanaan Teknis ini disusun sebagai Panduan yang dapat digunakan bagi Penyalur KUR untuk Pelaksanaan KUR Khusus, sektor yang dibiayai KUR Khusus serta perhitungan biaya indikatif dan kebutuhan pembiayaan KUR Khusus. Pedoman Pelaksanaan Teknis KUR Khusus ini telah dibahas, dikoordinasikan dan disesuaikan dengan masukan – masukan dari Kementerian/Lembaga yang menangani sektor-sektor yang dibiayai dan lembaga Penyalur KUR. Pedoman Pelaksanaan Teknis KUR ini dapat disesuaikan apabila terdapat perubahan – perubahan yang signifikan. Pedoman Pelaksanaan Teknis ini merupakan pedoman/petunjuk pelaksanaan teknis bagi berbagai pihak baik instansi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Penyalur KUR, Penjamin KUR, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan instansi terkait lainnya dalam melaksanakan kebijakan program KUR Khusus sebagai bagian pelaksanaan dari Permenko Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pedoman Pelaksanaan KUR.
2. Rekomendasi Pembiayaan KUR untuk Revitalisasi Penggilingan Padi
Dalam rangka optimalisasi penyaluran KUR di sektor produksi, Komite Kebijakan melakukan pembiayaan di sektor pertanian dari hulu ke hilir.
Dari sisi hulu, KUR telah dinikmati oleh petani baik tanaman pangan, hortikulular dan agrobisnis. Dari sisi hilir, pemerintah juga focus pada pembiayaan kepada pengolahan hasil-hasil prodoksi dari petani. Salah satunya adalah pembiayaan kepada pelaku usaha penggilingan padi untuk meningkatkan produktifitas beras dalam rangka mendukung ketahanan pangan.
Permasalahan yang dihadapi petani padi saat ini yaitu: tidak memiliki fasilitas pengeringan atau lantai jemur, penjemuran padi terkendala juga dengan cuaca, gabah terlambat dipanen karena terbatasnya tenaga kerja, ketebalan tumpukan gabah dipenjemuran sehingga penjemuran tidak optimal. Dampaknya petani banyak yang lebih memilih menjualnya langsung ke tengkulak, sehingga petani tidak mendapatkan nilai tambah dari penjualan hasil panen-nya. Solusinya dengan pengadaan mesin dryer/drying center (pengeringan gabah) yang dapat digunakan oleh semua petani dengan biaya operasional yang terjangkau. Pengadaan
pengering gabah dapat dibiayai dengan KUR Kecil dengan kredit maksimal sebesar 500 juta.
3. Sosialisasi Permenko Nomor 11 Tahun 2017 bagi Pemerintah Daerah di 3 Wilayah (Provinsi Kepulauan Riau, dan Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Barat)
Dalam rangka mempercepat penyaluran KUR maka dibuat ketentuan-ketentuan baru terkait KUR sebagaimana tercantum pada Permenko KUR No 11 Tahun 2017. Perubahan-perubahan ini diharapkan dapat mendorong penyaluran KUR baik dari segi kualitas dan kuantitas sehingga tingkat kemiskinan di Indonesia pada akhirnya dapat diturunkan.
Poin perubahan ketentuan KUR sesuai Permenko No 11 Tahun 2017 meliputi:
1) kelompok usaha menjadi penerima KUR (diperbolehkan anggota kelompok ada yang berupa startup business dengan mekanisme tanggung renteng);
2) skema KUR khusus (untuk perkebunan, peternakan dan perikanan rakyat);
3) penurunan suku bunga KUR Tahun 2018 menjadi 7%;
4) pengaturan porsi penyaluran minimum ke sektor produksi;
5) skema KUR multisektoral;
6) mekanisme pembayaran yarnen dan grace period;
7) perubahan istilah KUR ritel menjadi KUR kecil;
8) plafon KUR mikro untuk sektor produksi sebesar Rp 25 juta per siklus produksi, sedangkan diluar sektor produksi maksimum akumulasi plafon sebesar Rp 100 juta;
9) penyaluran KUR bersamaan dengan kredit lain yang diperbolehkan (kartu kredit, KPR, SSRG, dan sejenisnya);
10) struktur biaya KUR Penempatan TKI;
11) KUR untuk masyarakat perbatasan; serta 12) KUR untuk optimalisasi KUBE.
4. Laporan Penyaluran KUR Triwulan 2 Tahun 2018
Per tanggal 30 Juni 2018 KUR yang telah disalurkan berjumlah Rp 64,632 triliun dari target penyaluran sebesar Rp 117,08 triliun yang telah ditetapkan, dengan jumlah debitur 2.454.987 orang. Sebagian besar KUR yang disalurkan adalah KUR Mikro yaitu sebesar Rp 41,020 triliun sedangkan untuk KUR Kecil sebesar Rp 23,382 triliun dan KUR Penempatan TKI sebesar Rp 231,109 miliar. BRI menyalurkan KUR terbesar yaitu Rp 44,514 triliun, disusul BNI Rp 8,707 triliun, Bank
Mandiri sebesar Rp 8,273 triliun, BRI Syariah Rp 366,641 miliar, dan BPD Bali Rp 364,322 miliar Selain itu kinerja NPL baik yaitu berkisar 0,01%.
Berdasarkan sebaran wilayah, penyaluran KUR tertinggi masih didominasi oleh wilayah Jawa, yaitu Provinsi Jawa Tengah (Rp 11,867 triliun), JawaTimur (Rp 10,699 triliun), dan Jawa Barat (Rp8,151triliun).
Sedangkan di luar pulau Jawa, sebaran penyaluran KUR yang tinggi adalah di Provinsi Sulawesi Selatan (Rp 3,568 triliun), Sumatera Utara (Rp 2,704 triliun), dan Bali (Rp 2,548 triliun). (Grafik 1).
Sektor perdagangan masih mendominasi penyaluran KUR bulanJuni 2018 yaitu sebesar 61,53%, disusul oleh sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan sebesar 21,37%, sektor jasa-jasa 10,84%, industri pengolahan 4,76%, perikanan 1,49%.
ooOoo