• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Coronavirus Disease atau dikenal Covid-19 merupakan suatu infeksi virus atau wabah penyakit yang menular dan berbahaya yang ditemukan di Wuhan, China November 2019 lalu. Tepat terhitung satu tahun Covid-19 masuk di Indonesia setelah Presiden Joko Widodo bersama Menkes Terawan Agus Putrananto mengumumkan kasus Covid-19 di Indonesia pada Senin, 2 Maret 2020 (Liputan6.com, 2021). Akibat wabah yang mendunia ini, seluruh aktivitas di berbagai aspek kehidupan masyarakat sangat berdampak karena pandemi Covid-19 ini diantaranya aspek ekonomi, kesehatan, sosial, budaya, pendidikan, pariwisata dan lainnya.

Satu tahun lebih pandemi covid-19 ini menerjang Indonesia, berbagai sektor lumpuh dan harus mampu bertahan. Begitu juga dengan sektor pendidikan, konsep pembelajaran jarak jauh (PJJ), pembelajaran dari rumah (BDR) dan banyak istilah lainnya yaitu pembelajaran online (daring) telah dilewati hingga satu tahun lebih lamanya. Perubahan dan transisi aktivitas pekerjaan yang begitu cepat dari tatap muka ke Work From Home membutuhkan adaptasi yang cepat yang harus dilakukan. Khususnya Guru dan tenaga pendidik di SMK/SMA sederajat menjadi faktor sangat penting dalam pendidikan formal umumnya, hal ini dikarenakan guru menjadi tauladan atau tokoh yang diteladani siswa dan pelajar.

Perubahan dan transisi aktivitas pekerjaan yang begitu cepat dari tatap muka ke Work From Home membutuhkan adaptasi yang cepat yang harus dilakukan. Begitu juga dengan pemberlakuan PTM terbatas juga menuntut adaptasi yang cepat. Dalam sektor pendidikan, maka sumber daya manusia yang ada meliputi guru, dosen dan tenaga pengajar lainnya harus beradaptasi dengan kondisi Work From Home salah satunya untuk mempersiapkan suasana belajar dan proses pembelajaran saat daring dan PTM terbatas yang baru diberlakukan.

Khususnya Guru dan tenaga pendidik di SMK/SMA sederajat menjadi faktor

(2)

sangat penting dalam pendidikan formal umumnya, hal ini dikarenakan guru menjadi tauladan atau tokoh yang diteladani siswa dan pelajar. Sehingga konsep pembelajaran daring tentunya sangat berbeda dengan konsep pembelajaran tatap muka, dan perubahan pembelajaran daring ke PTM terbatas juga perlu melakukan suatu perubahan dan penyesuaian dalam sistem belajar mengajar.

Pendidikan merupakan salah satu upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan mutu sumber daya manusianya. Program pendidikan yang berhasil dapat memberikan kontribusi pencapaian tujuan pembangunan nasional. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesuksesan tujuan pendidikan, antara lain : guru, siswa, sarana dan prasarana, lingkungan pendidikan, serta kurikulum. Dari faktor tersebut tanpa mengabaikan faktor lainnya, guru memiliki kedudukan yang sangat penting (Nayohan, 2020). Guru merupakan beberapa faktor yang menentukan tinggi rendahnya kualitas hasil pendidikan, sehingga setiap usaha peningkatan kualitas pendidikan juga perlu memberikan atensi lebih dalam peningkatan kinerja guru.

Apalagi di era pandemi Covid-19 dan diberlakukannya Work From Home seperti ini, guru dan tenaga pendidik dituntut untuk meningkatkan kinerja dan produktivitasnya saat pembelajaran daring. Guru atau juga sumber daya manusia menjadi faktor yang wajib diperhatikan karena menjadi penentu tercapainya keberhasilan organisasi atau juga bidang pendidikan. Apabila kinerja guru tinggi atau meningkat, maka akan tinggi pula peluang untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Kinerja didefinisikan sebagai pencapaian kerja dalam mutu dan jumlah ketika diselesaikan oleh pegawai/pekerja saat menjalankan tugas sesuai kewajiban yang telah dilimpahkan kepada mereka (Mangkunegara, 2009).

Pendapat lain dikemukakan oleh Casio (1992) dalam Sinambela (2016), kinerja mengarah kepada pencapaian tujuan pekerja atas kewajiban yang diemban padanya. Kinerja seorang guru bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti yang dijelaskan oleh Kasmir (2016) diantaranya kemampuan dan keahlian, pengetahuan, rancangan kerja, kepribadian, kepemimpinan, gaya kepemimpinan, budaya organisasi, lingkungan kerja, loyalitas, komitmen dan

(3)

disiplin kerja. Selain itu ada beberapa variabel lain yang bisa mempengaruhi kinerja guru seperti yang disebutkan oleh Nayohan (2020) meliputi karakteristik individu, beban kerja, kompensasi, pemberian insentif, lingkungan kerja, kepemimpinan, budaya organisasi, komitmen organisasional, dan motivasi kerja.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja guru apalagi di masa Pandemi Covid-19 ini ialah beban kerja. Menurut Permendagri (2018) nomor 12 tahun 2008, “Beban Kerja adalah besaran pekerjaan yang harus dipikul oleh suatu jabatan/unit organisasi dan merupakan hasil kali antara volume kerja dan norma waktu”. Sedangkan menurut Menpan (1997) dalam Vanchapo (2020), beban kerja merupakan kumpulan atau beberapa kegiatan yang wajib diseleselesaikan oleh suatu bagian organisasi atau pemegang kekuasaan pada rentang waktu tertentu. Jika seseorang guru bisa menyelesaikan dan adaptasi dengan beberapa tugas yang diberikan, maka itu tidak menjadi suatu beban kerja. Menjadi permasalahan ketika pekerjaan atau tugas yang diberikan diluar batas kemampuan guru, itulah yang menjadi beban kerja. Riset yang dilakukan Asamani et al., (2015) menyebutkan “Beban kerja yang terlalu tinggi dan beban kerja yang sangat rendah berkorelasi dengan kinerja yang rendah. Hasil riset ini disimpulkan bahwa 75% tenaga kesehatan dalam penelitian ini menganggap beban kerja sedang untuk meningkatkan kinerjanya”. Artinya bahwa beban kerja harus disesuaikan, tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah beban kerja yang diberikan.

Masa pandemi covid-19, beban kerja guru disebutkan bertambah, ini ditandai adanya metode pembelajaran yang biasanya disampaikan langsung kepada siswa, saat ini harus melalui pembelajaran jarak jauh atau online. Salah satu contohnya ialah penyampaian materi, guru harus mempersiapkan jauh hari materi yang disampaikan dan dikemas melalui video kemudian dibagikan serta di upload di channel youtube dan sejenisnya (Rembangkab.go.id, 2020). Beban kerja menjadi suatu permasalahan yang harus diperhatikan bagi organisasi atau perusahaan apalagi di lembaga satuan pendidikan karena akan berdampak pada hasil kualitas kerja dan kinerja yang dihasilkan. Penelitian yang dilakukan oleh

(4)

Nabawi (2019), Amboyo et al., (2015) dan Neksen et al., (2021) mengungkapkan bahwa “beban kerja berpengaruh signifikan terhadap variabel kinerja karyawan”. Namun penelitian yang dilakukan Olivia et al., (2021) dan Wiryang et al., (2019) mengungkapkan bahwa “beban kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan”. Dari penelitian diatas ditemukan inkonsistensi hasil penelitian sehingga adanya reaseacrh gap dari variabel beban kerja terhadap kinerja.

Masa pandemi covid-19 ini menuntut guru untuk selalu optimis dan memiliki keyakinan terhadap tugas dan tanggung jawab yang diembannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Faktor yang berkaitan dengan hal ini ialah self efficacy yang dimiliki seseorang. Kemampuan menyelesaikan dan melaksanakan tugas atas kinerja berkaitan erat dengan self efficacy dalam diri seseorang. Menurut Kreitner & Kinicki (2014) Self Efficacy ialah keyakinan seorang tentang peluang keberhasilannya dalam menuntaskan pekerjaan eksklusif/tertentu. Self-efficacy adalah kepercayaan seseorang pada kapasitas kemampuan dirinya untuk mencapai kesuksesan pada tugas dan tanggung jawab yang di embannya dalam perusahaan (Kilapong, 2013). Pencapaian kinerja yang maksimal realitanya dapat pula digapai melalui sikap self efficacy dari anggota organisasi tersebut. Sikap self efficacy sangat dibutuhkan dalam peningkatan kinerja seseorang, karena dengan sikap self efficacy yang ada dalam individu akan menimbulkan keyakinan atau kepercayaan terhadap kemampuan dirinya dalam menyelesaikan semua tugas atau pekerjaan yang diemban.

Lunenburg (2011) menyebutkan, “karyawan dengan tingkat efikasi diri yang rendah cenderung menetapkan tujuan yang relatif rendah untuk diri mereka sendiri. Sebaliknya, individu dengan efikasi diri yang tinggi cenderung menetapkan tujuan pribadi yang tinggi. Penelitian yang dilakukannya menunjukkan bahwa orang tidak hanya belajar tetapi juga tampil pada tingkat yang konsisten dengan keyakinan efikasi diri mereka”. Apalagi di masa pandemi covid-19 seperti ini, karyawan khususnya guru di lembaga pendidikan dituntut untuk memiliki sikap self efficacy yang tinggi untuk menghadapi dan menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik yang memiliki tugas yang berat dengan penyesuaian kondisi yang ada. Berkaitan dengan self efficacy terhadap kinerja ini, ada beberapa penelitian

(5)

yang telah dilakukan untuk melakukan riset tentang variabel tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Khaerana (2020) dan Sjamsuri & Muliyani (2019) menunjukkan bahwa ”Self efficacy berpengaruh positif dan signigikan terhadap kinerja karyawan”. Bertolak belakang dengan penelitian oleh Fadilah & Laura (2018) dan Permata & Candra (2020) mengungkapkan bahwa “self efficacy tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Dari hasil riset teradahulu ini, ditemukan reaseacrh gap variabel self efficacy terhadap kinerja.

Organisasi atau perusahaan khususnya satuan pendidikan harus memperhatikan mengenai kinerja guru saat pandemi covid-19 ini. Seperti yang disebutkan diatas kinerja dipengaruhi berbagai faktor. Menurut Sofyan et al., (2020) dalam penelitiannya menyebutkan, “apabila kinerja guru rendah, maka akan berimbas pada produktivitas guru tersebut. Produktivitas guru yang rendah menunjukkan tingkat kepuasan kerja yang rendah pula. Kepuasan kerja berkaitan erat dengan sikap karyawan terhadap pekerjaannya, semakin besar tingkat kepuasan kerja akan mendorong sikap karyawan ke arah yang positif.

Begitu pula sebaliknya, ketidakpuasan kerja seseorang akan berimbas pada sikap kerjanya kearah negatif”. Menurut Kreitner & Kinicki (2014), kepuasan kerja menggambarkan ukuran di mana seorang menyenangi pekerjaannya.

Kepuasan kerja yang tinggi akan berpengaruh pada kinerja yang dihasilkan. Kepuasan kerja yang rendah berdampak pada produktivitas yang menurun dikarenakan semangat yang rendah ataupun absensi yang tinggi yang pastinya berkaitan erat antara kinerja dan kepuasan kerja. Pernyataan ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Sofyan et al., (2020) dan Widayati et al., (2020) yang menunjukkan bahwa “kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru”. Berbeda dengan penelitian yang dihasilkan oleh Nabawi (2019) dan Subakti (2013) menunjukkan bahwa “Kepuasan kerja secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap variabel kinerja pegawai”.

Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan adanya inkonsistensi hasil penelitian yang memunculkan adanya reaseacrh gap pada variabel kepuasan kerja terhadap kinerja.

(6)

Konsep Work From Home juga diterapkan salah satu lembaga pendidikan menengah atas, yakni SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kabupaten Malang. Sejak Surat Edaran Kemendikbud nomor 36962/MPK.A/HK/2020, SMK 1 Muhammadiyah Kepanjen sudah menerapkan pembelajaran online atau lebih dikenal dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Selama pelaksanaan pembelajaran daring tentu ada dampaknya baik positif maupun negatif, dari sisi pihak sekolah, guru, karyawan maupun siswa. Berdasarkan studi kasus awal melalui wawancara langsung dengan Wakasek Sarana Prasarana dan Ketenagakerjaan SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen bapak Rusliasnyah, diperoleh beberapa informasi sebagai berikut :

Tabel 1.1 Hasil Studi Awal di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen

No Fenomena masalah

1. Masih ada guru yang datang terlambat ke sekolah ketika mendapatkan jadwal mengajar

2. Beberapa kali ada guru yang tidak hadir ke sekolah (beberapa ada yang dengan keterangan)

3. Adanya resign atau guru yang pindah kerja/tugas dan mengundurkan diri dengan konfirmasi yang sering mendadak, sehingga terjadinya kekosongan tugas pekerjaan yang terjadi

4. Kadangkala masih banyak guru yang acuh, pura-pura tidak tahu dan tidak mengerti dengan pekerjaan yang dilakukan, harus diingatkan terus dan diperintahkan terlebih dahulu baru dikerjakan

5. Beban kerja lumayan tinggi sehingga dirasa butuh effort/usaha besar untuk menyelesaikannya karena harus mempersiapkan pembelajaran dengan penyesuaian kondisi pandemi

6. Beberapa hasil pekerjaan dapat diselesaikan sesuai waktunya, namun juga kebanyakan tidak sesuai waktu yang ditentukan sekolah

7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) belum terealisasi dengan maksimal sesuai yang direncanakan

Sumber : Wawancara Langsung

Dari beberapa informasi diatas, terlihat terdapat beberapa fenomena yang berpengaruh pada kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen khususunya di masa pandemi Covid-19 saat ini. Berdasarkan fenomena diatas, beberapa hal yang menunjukkan kinerja guru yang kurang optimal diantaranya ialah tidak terealisasinya rencana pembelajaran yang telah disusun oleh guru.

Saat pandemi ini dengan metode pembelajaran daring dan juga PTM terbatas

(7)

ini membuat rencana pembelajaran yang belum bisa tersampaikan dengan maksimal. Selain itu, penyelesaian pekerjaan yang dihasilkan guru kebanyakan tidak sesuai waktu yang ditentukan oleh pihak sekolah. Kemudian faktor lainnya ialah kedisiplinan guru yang masih terdapat guru yang terlambat datang ke sekolah dan juga ketidakhadiran guru di sekolah.

Sebagai data penunjang hasil interview diatas, dibuat dan disebarkan juga kuesioner pra penelitian kepada beberapa guru dan mendapat 15 responden sebagai data pendukung dengan diperoleh beberapa fenomena yang berkaitan variabel yang diteliti.

Tabel 1. 2 Pra Riset Fenomena Kinerja Guru

Item Pernyataan % Jawaban

Y/S T/TS Apakah kinerja Bapak/Ibu Guru mengalami penurunan dan

kurang optimal saat pandemi Covid-19 ini ? 93,3% 6,7%

Apa yang menyebabkan kinerja Bapak/Ibu guru mengalami penurunan ?

a. Beban kerja yang besar dan bertambah saat pandemi 73,3% 26,7%

b. Target pekerjaan yang besar untuk diselesaikan 73,3% 26,7%

c. Waktu penyelesaian pekerjaan yang tidak cukup 66,7% 33,3%

d. Tingkat kehadiran yang menurun 66,7% 33,3%

e. Interaksi dan kerjasama dengan rekan guru yang minim 80% 20%

f. Persiapan pembelajaran yang berat (di masa pandemi) 86,7% 13,3%

g. Penyusunan RPP yang berat dan disesuaikan dengan

kondisi yang ada 73,3% 26,7%

h. Penguasaan media dan teknologi pembelajaran (daring)

yang kurang 53,3% 46,7%

i. Pengelolaan kelas yang sulit saat pembelajaran daring &

PTM terbatas 80% 20%

j. Penggunaan media dan sumber belajar yang monoton dan

tidak variatif 46,7% 53,3%

k. Rencana pembelajaran (RPP) belum terealisasi sesuai

rencana 80% 20%

l. Hasil pembelajaran siswa yang tidak sesuai harapan

(sehingga target rencana tidak tercapai) 100% - m. Evaluasi dan penilaian hasil pembelajaran kepada siswa

yang kesulitan karena jarang memantau secara langsung kemampuan siswa

93,3% 6,7%

n. Minimnya kreatifitas dan inovasi dalam menyusun

rencana pembelajaran yang menarik dan tidak monoton 66,7% 33,3%

o. Kepuasan kerja yang belum terpenuhi (dari kompensasi,

promosi jabatan, pengawasan dan lainnya) 53,3% 46,7%

(8)

p. Minimnya prestasi yang diraih siswa di berbagai event

lomba (khususnya akademik) 66,7% 33,3%

q. Menurunnya nilai ujian yang didapatkan siswa 93,3% 6,7%

Berapa % target rencana pembelajaran yang harus

direalisasikan….? 68.33% (rerata)

Menurut Bapak/Ibu guru, berapa % rencana pembelajaran

yang terealisasi …..? 46.13% (rerata)

Sumber : Pra Riset Data Primer (2022)

Fenomena yang berkaitan kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen ditandai faktor yang menyebabkan penurunan dan kurang optimalnya kinerja guru ini ditekankan pada tugas pokok guru sebagai pendidik, yaitu proses pembelajaran. Faktor tersebut diantaranya 1) Persiapan pembelajaran yang berat (di masa pandemi): 2) Penyusunan RPP yang berat dan disesuaikan dengan kondisi yang ada; 3) Penguasaan media dan teknologi pembelajaran (daring) yang kurang; 4) Pengelolaan kelas yang sulit saat pembelajaran daring & PTM terbatas; 5) Rencana pembelajaran (RPP) belum terealisasi sesuai rencana; 6) Hasil pembelajaran siswa yang tidak sesuai harapan (sehingga target rencana tidak tercapai); 7) Evaluasi dan penilaian hasil pembelajaran kepada siswa yang kesulitan karena jarang memantau secara langsung kemampuan siswa; 8) Minimnya kreatifitas dan inovasi dalam menyusun rencana pembelajaran yang menarik dan tidak monoton; 9) Minimnya prestasi yang diraih siswa di berbagai event lomba (khususnya akademik) dan 10) Menurunnya nilai ujian yang didapatkan siswa. Berkaitan proses pembelajaran tersebut, dari hasil kusioner didapatkan bahwa rata-rata jawaban guru persentase (%) rencana pembelajaran yang harus direalisasikan adalah 68,33% (70%), namun realisasi hanya 46,13% (50%).

Fenomena berkaitan beban kerja ditandai dengan respon dari 10 guru menyatakan bahwa beban kerja saat pandemi lebih besar dan bertambah dari waktu biasanya. Faktor yang mempengaruhi beban kerja tersebut diantaranya 1) Banyak tuntutan target pekerjaan yang diberikan sekolah; 2) Waktu untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai guru terkadang tidak cukup; 3) Beban kerja saat pandemi sangat besar dan melebih standar pekerjaan yang harusnya dikerjakan dijawab; 4) Persiapan pembelajaran lebih berat dibandingkan di

(9)

waktu sebelum pandemi; 5) Pekerjaan extra diluar waktu yang telah ditentukan (misalnya lembur kerja) dan sebanyak 9 guru menyatakan bahwa beban kerja yang dirasakan saat ini terlalu tinggi dan berat untuk dilaksanakan.

Fenomena yang berkaitan dengan self efficacy juga direspon oleh 14 guru yang menyatakan bahwa selama pandemi guru merasa sulit dalam menyelesaikan pekerjaan dan sebanyak 12 guru mengalami penurunan tingkat keyakinan diri untuk menuntaskan pekerjaan yang dilakukan, diantaranya kurangnya keyakinan untuk mengelola tugas atau pekerjaan yang diterima dan menurunnya semangat bekerja dan menyelesaikan tugas. Fenomena kepuasan kerja guru juga direspon oleh sebanyak 15 guru yang menyatakan tidak mengalami kepuasan kerja di masa pandemi. Banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja guru tersebut salah satunya kurangnya pengawasan dari atasan terhadap pekerjaan, kurangnya interaksi dengan rekan kerja dan interaksi dengan atasan dan Keadilan yang kurang terkait perlakukan di tempat kerja.

Beban semua Guru tidak hanya di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen saja namun juga di seluruh Indonesia yang bertambah lebih besar. Memperkuat fenomena diatas, berdasarkan informasi yang didapat dari Kompas.com (2021), Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengungkapan bahwa sumber daya manusia tidak siap terkait pembelajaran jarak jauh di Indonesia.

Guru di Indonesia tidak didesain untuk PJJ luring dan daring, namun hanya untuk pembelajaran normal. Faktor lain yang menjadi penghambat kurangnya kinerja Guru di Indonesia umumnya ialah keterampilan penggunaan perangkat digital yang masih minim. Sehingga Guru dituntut untuk meningkatkan kinerjanya dan diharuskan untuk mampu beradaptasi di masa pandemi Covid- 19 untuk melaksanakan pembelajaran di era New Normal (Merdeka.com, 2020). Oleh sebabnya, seluruh Guru di Indonesia umumnya diharuskan untuk beradapatasi dan memiliki keyakinan akan kemampuannya menuju tatanan dan kondisi yang baru. Apalagi di masa tahun pembelajaran yang baru, pemberlakuan PTM terbatas membuat transisi perubahan guru dalam pembelajaran turut harus dipersiapkan dengan matang pula. Mengutip dari

(10)

News.detik.com (2021), “salah satu administrasi yang wajib disiapkan guru ialah membentuk perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran itu terdiri dari lima komponen yakni planning pembelajaran (RPP), media pembelajaran (power point), materi ajar, lembar aktivitas siswa (LKPD), lembar penilaian, serta instrumen penilaian”.

Berdasarkan penjabaran dan uraian beberapa hal di atas dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan peneliti sebelumnya, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kinerja Guru khususnya di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, sehingga peneliti mengangkat judul penelitian yakni : “Pengaruh Beban Kerja Dan Self Efficacy Terhadap Kinerja Guru Saat Pandemi Covid-19 Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening (Studi Pada Guru di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang fenomena yang dijabarkan diatas, maka penelitian ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana beban kerja, self efficacy, kepuasan kerja dan kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen ?

2. Apakah beban kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen ?

3. Apakah beban kerja berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen ?

4. Apakah self efficacy berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen ?

5. Apakah self efficacy berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen ?

6. Apakah kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru SMK Muhammdiyah 1 Kepanjen?

7. Apakah kepuasan kerja memediasi pengaruh antara beban kerja terhadap kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen ?.

(11)

8. Apakah kepuasan kerja memediasi pengaruh antara self efficacy terhadap kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen ?.

C. Batasan Masalah

Batasan masalah bertujuan agar penelitian terfokus pada apa yang ingin diteliti dan dibahas. Batasan masalah penelitian ini sebagai berikut :

1. Variabel beban kerja mengacu pada indikator beban kerja menurut Putra (2012) terdiri dari : target yang harus dicapai, kondisi pekerjaan, penggunaan waktu kerja dan standar pekerjaan.

2. Variabel self efficacy mengacu pada indikator self efficacy menurut Bandura dalam Ghufron & Suminta (2010) terdiri dari Dimensi Tingkat Kesulitan (magnitude), Dimensi Generalisasi (Generality) dan Dimensi Kekuatan (strength).

3. Variabel kepuasan kerja mengacu pada indikator kepuasan kerja menurut Sedarmayanti (2017) terdiri dari : isi pekerjaan, supervisi, organisasi dan manajemen, kesempatan untuk maju, gaji dan keuntungan finansial lainnya seperti insentif, rekan kerja dan kondisi pekerjaan.

4. Variabel kinerja guru mengacu pada indikator kinerja menurut Depdiknas (2008) dan Permendiknas (2007) yang meliputi : perencanaan program kegiatan pembelajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan evaluasi/penilaian pembelajaran.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini ialah sebagai berikut :

1. Untuk mendeskripsikan beban kerja, self efficacy, kepuasan kerja dan kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen.

2. Untuk mengetahui pengaruh beban kerja terhadap kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen.

3. Untuk mengetahui pengaruh beban kerja terhadap kepuasan kerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen.

(12)

4. Untuk mengetahui pengaruh self efficacy terhadap kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen.

5. Untuk mengetahui pengaruh self efficacy terhadap kepuasan kerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen.

6. Untuk mengetahui pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen.

7. Untuk mengetahui kepuasan kerja dalam memediasi pengaruh antara beban kerja terhadap kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen.

8. Untuk mengetahui kepuasan kerja dalam memediasi pengaruh self efficacy terhadap kinerja guru SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian yang dilakukan ini ialah : 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai Manajemen Sumber Daya Manusia tentang beban kerja, self efficacy, kepuasan kerja serta kinerja guru.

2. Manfaat Praktis

Menjadi pertimbangan bagi pihak sekolah dan bahan referensi dalam pengambilan keputusan dan sumber informasi yang bermanfaat bagi organisasi atau sekolah yang berkaitan dari pengaruh beban kerja dan self efficacy terhadap kinerja guru dengan kepuasan kerja sebagai variabel intervening.

Gambar

Tabel 1.1 Hasil Studi Awal di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen
Tabel 1. 2 Pra Riset Fenomena Kinerja Guru

Referensi

Dokumen terkait

Emisi surat utang korporasi di pasar domestik selama Januari 2018 mencapai Rp7,67 triliun atau naik 2,84 kali dibandingkan dengan Januari 2018, berdasarkan data oleh

Sehingga dapat dilihat hasil penilaian rata – rata yang dicapai nilai dari kegiatan kondisi awal 64,77 dan pada silkus pertama nilai rata – rata yang dicapai 65,45

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

Jadi keanekaragaman hayati dapat diartikan sebagai keanekaragaman atau keberagaman dari mahluk hidup yang dapat terjadi akibat adanya perbedaan – perbedaan sifat, diantaranya

Posted at the Zurich Open Repository and Archive, University of Zurich. Horunā, anbēru, soshite sonogo jinruigakuteki shiten ni okeru Suisu jin no Nihon zō. Nihon to Suisu no kōryū

Buku ajar yang dikembangkan telah memenuhi unsur kebutuhan pembelajaran, khususnya pada pembelajaran tematik dengan pendekatan tematik

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Jika setelah berakhirnya perjanjian kerja ke-2 ternyata PIHAK KEDUA tidak diajukan untuk pengangkatan sebagai karyawan tetap oleh PIHAK PERTAMA, maka perjanjian kerja kontrak