2| PENGELOLAAN PERIKANAN
DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM
(EAFM)
WILAYAH PENGELOLAAN CTI-CFF DI INDONESIA
573 713 714
715 716
717
1. FMA 573 2. FMA 713 3. FMA 714
4. FMA 715 5. FMA 716 6. FMA 717
CTI CFF area in Indonesia:
PENGERTIAN EAFM
Pengalaman pengelolaan di berbagai negara di dunia
menunjukkan bahwa dampak penangkapan tidak hanya terhadap target species saja, tetapi juga terhadap lingkungan dimana target species tersebut hidup, sehingga pengelolaan perikanan
sudah seharusnya mempertimbangkan unsur ekosistem.
Pendekatan pengelolaan perikanan yang demikian itulah yang disebut sebagai ECOSYSTEM APPROACH TO FISHERIES
MANAGEMENT.
PENGERTIAN EAFM
DEFINISI: Pendekatan ekosistem untuk perikanan berupaya menyeimbangkan tujuan masyarakat yang beragam, dengan memperhatikan pengetahuan dan ketidakpastian mengenai
komponen ekosistem biotik, abiotik dan manusia serta interaksinya dan menerapkan pendekatan terpadu untuk perikanan dalam batas- batas ekologis.
TUJUAN pendekatan ekosistem untuk perikanan: untuk
merencanakan, mengembangkan dan mengelola perikanan dengan cara memenuhi beberapa kebutuhan dan keinginan masyarakat, tanpa membahayakan pilihan generasi mendatang untuk
mendapatkan keuntungan dari berbagai barang dan jasa yang disediakan oleh ekosistem laut.
EAF bukan tidak konsisten dengan, atau pengganti, pendekatan
pengelolaan perikanan konvensional. EAF dikembangkan sebagai
perluasan dari praktek pengelolaan perikanan saat ini.
PENGERTIAN EAFM
EAF merupakan sarana untuk menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan dalam perikanan. EAF menggabungkan dua
paradigma, yaitu:
pengelolaan ekosistem, yang bertujuan untuk mencapai tujuannya dalam melestarikan struktur, keragaman dan fungsi ekosistem melalui tindakan pengelolaan yang berfokus pada komponen biofisik ekosistem;
pengelolaan perikanan, yang bertujuan untuk memenuhi tujuan mencukupi kebutuhan masyarakat/manusia akan
pangan dan manfaat ekonomi melalui tindakan pengelolaan yang berfokus pada kegiatan perikanan dan sumberdaya.
(FAO, 2003)
PENGERTIAN EAFM
Konsep pembangunan berkelanjutan menuntut kedua paradigma konvergen ke arah pendekatan yang lebih holistik yang
menyeimbangkan kesejahteraan manusia ( human well-being ) dan
kesejahteraan lingkungan ( ecological well-being ).
PENGERTIAN EAFM
Perikanan harus dikelola untuk membatasi dampaknya terhadap ekosistem ke tingkat yang dapat diterima;
Hubungan ekologi antara spesies harus dipertahankan;
Langkah-langkah pengelolaan harus sesuai di seluruh distribusi sumber daya;
Kehati-hatian dalam pengambilan keputusan dan tindakan
diperlukan karena pengetahuan tentang ekosistem tidak lengkap;
Tatakelola harus memastikan kesejahteraan manusia dan
ekosistem serta kesetaraan.
PENGERTIAN EAFM
Definisi FAO mengatakan bahwa EAFM adalah pendekatan pencapaian tujuan PENGELOLAAN PERIKANAN melalui pemahaman tentang interaksi antara komponen biotik, abiotik dan manusia dalam sebuah unit ekosistem perairan
Pikitch , et.al (2004) mendefinisikan EAFM sebagai sebuah arahan baru PENGELOLAAN PERIKANAN di mana prioritas pengelolaan dimulai dari ekosistem dan bukan spesies target.
Dengan demikian kunci dari pemahaman EAFM adalah perhatian terhadap konektivitas antar komponen ekosistem (termasuk manusia) yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh spesies target sebagai obyek dari PENGELOLAAN PERIKANAN.
EAFM adalah pendekatan holistik dari
PENGELOLAAN PERIKANAN yang melibatkan seluruh komponen sistem ekosistem termasuk manusia.
Pengelolaan Perikanan Biasa (baca :
konvesional) biasanya hanya memfokuskan pada spesies tanpa melihat hubungannya dengan komponen ekosistem lainnya.
Pengelolaan Perikanan Konvensional memandang bahwa spesies target itu
INDEPENDEN terhadap ekosistem perairan dan komponen lain di dalamnya.
Sedangkan EAFM adalah menitikberatkan pada pentingnya KONEKTIVITAS antara spesies target dengan ekosistemnya beserta komponen-komponen di dalamnya,
termasuk manusia, yang bersifat saling mempengaruhi.
EAFM merupakan PENYEMPURNAAN
pengelolaan perikanan yang ada dan BUKAN menggantikannya.
INDIKATOR EAFM
Implementasi EAFM memerlukan perangkat indikator yang dapat digunakan sebagai alat monitoring dan evaluasi mengenai sejauh mana pengelolaan perikanan sudah menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan berbasis ekosistem (Degnbol 2004; Garcia and Cochrane, 2005;
Gaichas, 2008).
Indikator
EAFM
Sumber Daya (6 indikator)Ikan
Habitat dan Ekosistem (6 indikator)
Teknik Penangkapan Ikan
(6 indikator)
Sosial (3 indicator)
Ekonomi (3 indikator)
Kelembagaan (6 Indikator)
INDIKATOR EAFM
INDIKATOR
EAFM
SU M BE R DA YA I KAN
4. KOMPOSISI SPESIES 1. CPUE BAKU 2. UKURAN IKAN
5. RANGE COLLAPSE SDI 3. PROPORSI JUVENIL
HA BIT AT & EK OS IS TEM
7. KUALITAS PERAIRAN8. STATUS LAMUN
9. STATUS MANGROVE 10. STATUS TERUMBU
KARANG 11. HABITAT UNIK/KHUSUS 12. STATUS ESTUARI
TEKNIS PENANGKAPAN IKAN 13.PENANGKAPAN YANG MERUSAK 14. MODIFIKASI ALAT
TANGKAP 15. KAPASITAS & UPAYA
PENENGKAPAN 16. SELEKTIVITAS
PENANGKAPAN 17. KESESUAIAN FUNGSI &
UKURAN KAPAL 18. SERTIFIKASI
AWAK KAPAL
SO SI AL
22. PARTISIPASI STAKEHOLDERS 23. KONFLIK
PERIKANAN 24. PENGETAHUAN
LOKAL
EK ON OM I
19. KEPEMILIKAN ASET20. NILAI TUKAR NELAYAN 21. PENDAPATAN
RUMAH TANGGA
KEL EMB AG AA N
25. KEPATUHAN 26. KELENGKAPAN ATURAN PENGELOLAAN
27. MEKANISME KELEMBAGAAN
28. RENCANA PENGELOLAAN PERIKANAN 29. SINERGISITAS KEBIJAKAN
& KELEMBAGAAN
INDIKATOR EAFM
Existing Fisheries Management
Improving Fisheries Management through EAFM
Initiative
Better Fisheries Management
Bridging Process
Before
After
P A
I
M P
A I
M P
A
I M
Indikator EAFM disusun sebagai sebuah
“bridging tools” dari existing fisheries management menuju formal EAFM Cycle.
Indonesia memerlukan proses ini dalam proses realisasi siklus EAFM.
Indikator EAFM dapat digunakan sebagai sebuah set of reference indicators dalam proses siklus EAFM – planning, organizing, implementing, and monitoring and
evaluation.
Indikator EAFM disusun dan digunakan untuk menguji status sebuah pengelolaan perikanan dari sebuah unit perikanan
Setelah status pengelolaan perikanan diketahui maka dilakukan proses siklus EAFM mulai dari perencanaan (diagnosis, penentuan tujuan dll) hingga monitoring dan evaluasi
ROADMAP EAFM (2010-2014)
2010 • Workshop Pentingnya EAFM dan Pengembangan Indikator EAFM
2011 • Pengembangan Lanjut Indikator dan Testing Cepat terhadap WPP di Indonesia
2012 • Peningkatan Kapasitas EAFM dan Testing Perikanan dengan menggunakan Set Indikator EAFM di Beberapa Lokasi
2013 • Testing Implementasi EAFM dan Persiapan Adopsi Legal Indikator EAFM 2014
• Adopsi Legal Indikator EAFM
• Penerapan Indikator EAFM secara luas untuk perikanan di Indonesia
Sumber : NWG-EAFM
ROADMAP EAFM (2015-2019)
2015
• Modul SK3 EAFM telah lengkap dan tersedia
• Pelatihan EAFM bagi pengelola perikanan
• Kajian lembaga pengelola perikanan WPP
2016
• Penetapan dokumen Rencana Pengelolaan Perikanan
• Pelatihan bagi stakeholder perikanan menggunakan SK3 EAFM
• Penyiapan konsep lembaga pengelola perikanan WPP
2017
• Pembentukan lembaga pengelola perikanan WPP (payung hukum, SDM & infrastruktur)
• Penetapan Learning Center EAFM di masing-masing WPP
• Advokasi penerapan Hak Pemanfaatan Perikanan (Right Based Fisheries Management/RBFM)
2018
• Penguatan lembaga pengelola perikanan WPP
• Penyiapan legal basis RBFM
• Pilot testing penerapan RBFM
2019
• Pengelolaan perikanan kolabratif (co-management) dengan pendekatan ekosistem (EAFM) diterapkan secara luas
PERKEMBANGAN PELAKSANAAN EAFM DI INDONESIA (CAPAIAN)
Unsyiah
Unri
STP IPB (NLC)
Undip UB
Unram UKAW Politani Unmul
Unhas Unpatti
STPL Palu
Unipa Unkhair UBH
Unair
Unsrat
Unpad
Undana Uni Borneo
UGM UnUd UTU
Untan Umrah
UBB