commit to user
10 BAB II
LANDASAN TEORI
1. Landasan Teori
1. Tinjauan Umum tentang Notaris a. Pengertian Notaris
Kata Notaris berasal dari kata "nota literaria" yaitu tanda tulisan atau karakter yang dipergunakan untuk menuliskan atau menggambarkan ungkapan kalimat yang disampaikan nara sumber.
Tanda atau karakter yang dimaksud merupakan tanda yang dipakai dalam penulisan cepat (stenografie)17. Awalnya jabatan Notaris hakikatnya ialah sebagai pejabat umum yang ditugaskan oleh kekuasaan umum untuk melayani kebutuhan masyarakat akan alat
bukti Autentik yang memberikan kepastian hubungan hukum keperdataan, jadi, sepanjang alat bukti Autentik tetap diperlukan oleh sistem hukum negara maka jabatan Notaris akan tetap diperlukan eksistensinya di tengah masyarakat18. Notaris seperti yang dikenal di zaman Belanda sebagai “Republik der Verenigde Nederlanden” mulai masuk di Indonesia pada permulaan abad ke-17 dengan beradanya
“Oost Ind. Compagnie” di Indonesia19
Perkembangan Notaris diawali dengan didirikannnya Lembaga Notariat yang mempunyai peranan yang penting, karena menyangkut akan kebutuhan dalam pergaulan antara manusia yang menghendaki adanya alat bukti tertulis dalam bidang hukum perdata, sehingga mempunyai kekuatan autentik mengingat pentingnya lembaga ini maka harus mengacu pada peraturan perundang-undangan dibidang
17 G.H.S Lumban Tobing, Op. Cit., Hlm. 41.
18 Yanti Jacline Jennifer Tobing., “Pengawasan Majelis Pengawas Notaris Dalam Pelanggaran Jabatan dan Kode Etik Notaris (Studi Kasus MPP Nomor 10/B/Mj.PPN/2009 Jo Putusan MPW Nomor 131/MPW-Jabar/2008”. Tesis. Magister Kenotariatan Universitas Indonesia, 2010, Hlm. 12.
19 G.H.S Lumban Tobing, Op. Cit., hlm. 15.
commit to user
Notariat, yaitu Peraturan Jabatan Notaris (staatblad 1860 Nomor 3, Reglement op het Notaris Ambt in Indonesie) yang selanjutnya disebut
PJN.
Notariat seperti yang dikenal di Zaman Republik der Verenigde Naderlanden, mulai masuk ke Indonesia pada permulaan abad ke-17 dengan beradanya Oost Indische Compagnie di Indonesia. Pada tanggal 27 Agustus 1620 diangkat Notaris pertama di Indonesia, yaitu Melchione Kerchem yang berkedudukan di Jakarta, setelah pengangkatan Notaris yang pertama jumlah Notaris di Indonesia makin berkembang dan pada tahun 1650 di Batavia hanya dua Notaris yang diangkat Notariat di Indonesia sampai pada tahun 1822 hanya diatur oleh dua buah reglement yaitu tahun 1625 dan tahun 1765.
Berdasarkan Asas konkordansi lahirlah Peraturan Jabatan Notaris yaitu dengan Ordonansi 11 Januari 1860 Staatblad Nomor 3 dan mulai berlaku pada tanggal 1 juli 1860, Peraturan Jabatan Notaris di Indonesia mengalami perubahan yaitu undang-undang tanggal 13 November 2004 Nomor 33, Lembaran Negara 1954 dan lahirlah Undang-Undang Jabatan Notaris pada tanggal 6 oktober 2004 yaitu Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 yang sekarang telah diubah dengan UU No. 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.
Hal serupa dijelaskan dalam Pasal 1 angka 1 UU No. 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris yang memberikan definisi Notaris yaitu pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang- undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya.
b. Kewenangan Notaris
Notaris, adalah profesi yang sangat penting dan dibutuhkan dalam masyarakat, mengingat fungsi dari Notaris adalah sebagai pembuat alat bukti tertulis mengenai akta-akta autentik. Kewenangan
commit to user
tersebut selanjutnya dijabarkan dalam Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris, ordonansi Staatblad 1860 Nomor 3 yang berlaku mulai 1 Juli 1860 yang kemudian diperbaharui dengan Undang-undang nomor 30 tahun 2004 (saat ini UU No. 2 Tahun 2014), Pasal 1 butir 1 yang menyebutkan bahwa Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya.
Kewenangan Notaris menurut Undang-undang ini diatur dalam Pasal 15 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2014 yang menyatakan bahwa :
“Notaris berwenang membuat Akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam Akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan Akta, menyimpan Akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan Akta, semuanya itu sepanjang pembuatan Akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang”.
Selain kewenangan yang bersifat luas terbatas tersebut Notaris juga diberi kewenangan lain yaitu sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat (2) UU No. 2 Tahun 2014 yaitu:
1) mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
2) membukukan surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
3) membuat kopi dari asli surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;
4) melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya;
5) memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan Akta;
6) membuat Akta yang berkaitan dengan pertanahan; atau
commit to user 7) membuat Akta risalah lelang.
Dalam ayat 3 dijelaskan pula bahwa selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
2. Tinjauan Umum tentang Akta Notaris a. Jenis-jenis Akta
Menurut Subekti yang dimaksud dengan akta adalah” suatu tulisan yang memang dengan sengaja dibuat untuk dijadikan bukti tentang suatu peristiwa dan ditandatangani”.20 Sedangkan R. Tresna mengatakan bahwa:21
“Pada umumnya akta itu adalah suatu surat yang ditandatangani, memuat keterangan tentang kejadian-kejadian atau hal-hal yang merupakan dasar dari suatu hak atau sesuatu perjanjian.dapat dikatakan bahwa akta itu ialah suatu tulisan dengan mana diyatakan sesuatu perbuatan hukum”.
Pengertian akta menurut Pasal 165 Staatsblad Tahun 1941 Nomor 84 adalah:
“surat yang diperbuat demikian oleh atau dihadapan pegawai yang berwenang untuk membuatnya menjadi bukti yang cukup bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya maupun berkaitan dengan pihak lainnya sebagai hubungan hukum, tentang segala hal yang disebut didalam surat itu sebagai pemberitahuan hubungan langsung dengan perhal pada akta itu”
Akta adalah surat tanda bukti berisi pernyataan (keterangan, pengakuan, keputusan) tentang peristiwa hukum yang dibuat menurut peraturan yang berlaku, disaksikan dan disahkan oleh pejabat resmi.
Dengan demikian, maka unsur penting untuk suatu akta ialah kesengajaan untuk menciptakan suatu bukti tertulis dan penandatanganan tulisan itu. Syarat penandatangan akta tersebut dilihat dari Pasal 1874 KUHPerdata dan Pasal 1 Ordonansi No. 29
20 Subekti, Hukum Pembuktian, Pradnya Paramitha, Jakarta, 2005, hlm. 25.
21 R. Tresna, Loc. Cit.
commit to user
Tahun 1867 yang memuat ketentuan-ketentuan tentang pembuktian dari tulisan-tulisan dibawah tangan yang dibuat oleh orang-orang Indonesia atau yang dipersamakan dengan mereka.
Disamping akta sebagai surat yang sengaja dibuat untuk dipakai sebagai alat bukti, dalam perbuatan perundang-undangan sering kita jumpai perkataan akta yang sama sekali bukanlah surat melainkan perbuatan. Berdasarkan bentuknya akta terbagi menjadi atas akta autentik dan akta dibawah tangan. Pasal 1867 KUHPerdata merupakan dasar hukum mengenai pembuktian dengan tulisan dilakukan dengan tulisan-tulisan autentik maupun dengan tulisan- tulisan di bawah tangan.
Akta dapat diberikan dalam 2 macam yaitu akta autentik dan akta di bawah tangan.
1) Akta Dibawah Tangan
Akta selain bersifat autentik, dapat pula bersifat sebagai akta dibawah tangan. Pasal 1874 KUHPerdata menyebutkan bahwa yang dianggap sebagai tulisan dibawah tangan adalah akta yang ditandatangani dibawah tangan, surat, daftar, surat urusan rumah tangga dan tulisan-tulisan yang lain yang dibuat tanpa perantaraan seorang pejabat umum. Jadi akta dibawah tangan hanya dapat diterima sebagai permulaan bukti tertulis (Pasal 1871 KUHPerdata) namun menurut pasal tersebut tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan bukti tertulis itu.
Didalam Pasal 1902 KUHPerdata dikemukakan mengenai syarat-syarat bilamana terdapat bukti tertulis, yaitu:
a) Harus ada akta;
b) Akta itu harus dibuat oleh orang terhadap siapa dilakukan tuntutan atau dari orang yang diwakilinya;
c) Akta itu harus memungkinkan kebenaran peristiwa yang bersangkutan.
commit to user
Jadi suatu akta dibawah tangan untuk dapat menjadi bukti yang sempurna dan lengkap dari permulaan bukti tertulis itu masih harus dilengkapi dengan alat-alat bukti lainnya. Oleh karena itu dikatakan bahwa akta dibawah tangan merupakan bukti tertulis (begin van schriftelijk bewijs).
Ditinjau dari segi hukum pembuktian agar suatu tulisan bernilai sebagai akta dibawah tangan, diperlukan beberapa persyaratan pokok. Persyaratan pokok tersebut antara lain surat atau tulisan itu ditandatangani, isi yang diterangkan didalamnya menyangkut perbuatan hukum (rechtshandeling) atau hubungan hukum (rechts betrekking) dan sengaja dibuat untuk dijadikan bukti dari perbuatan hukum yang disebut didalamnya.
Perbedaan pokok antara akta autentik dengan akta dibawah tangan adalah cara pembuatan atau terjadinya akta tersebut. Akta yang dibuat dibawah tangan adalah suatu tulisan yang memang sengaja dijadikan alat bukti tentang peristiwa atau kejadian dan ditandatangani, maka disini ada unsur yang penting yaitu kesengajaan untuk menciptakan suatu bukti tertulis dan penandatanganan akta itu. Keharusan mengenai adanya tanda tangan adalah bertujuan untuk memberi ciri atau untuk menginvidualisir suatu akta. Sebagai alat bukti dalam proses persidangan di pengadilan, akta dibawah tangan tidak mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna karena kebenarannya terletak pada tanda tangan para pihak yang jika diakui, merupakan bukti sempurna seperti akta autentik.
Akta autentik merupakan alat pembuktian yang sempurna bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya serta sekalian orang yang mendapat hak darinya tentang apa yang dimuat dalam akta tersebut. Akta autentik merupakan bukti yang mengikat yang berarti kebenaran dari hal-hal yang tertulis dalam akta tersebut harus diakui oleh hakim, yaitu akta tersebut dianggap sebagai
commit to user
benar selama kebenarannya itu tidak ada pihak lain yang dapat membuktikan sebaliknya.
Sebaliknya, akta dibawah tangan dapat menjadi alat pembuktian yang sempurna terhadap orang yang menandatangani serta para ahli warisnya dan orang-orang yang mendapatkan hak darinya hanya apabila tanda tangan dalam akta dibawah tangan tersebut diakui oleh orang terhadap siapa tulisan itu hendak dipakai.
2) Akta Autentik
Menurut Kohar akta autentik adalah akta yang mempunyai kepastian tanggal dan kepastian orangnya, sedangkan Pasal 1868 KUHPerdata menyatakan bahwa akta autentik adalah suatu akta yang dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuat.22 Akta di bawah tangan adalah Surat yang sengaja dibuat oleh orang-orang, oleh pihak-pihak sendiri, tidak dibuat dihadapan yang berwenang, untuk dijadikan alat bukti.
Dalam pasal 165 HIR dan 285 Rbg, akta autentik adalah suatu akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang diberi wewenang untuk itu, merupakan bukti yang lengkap antara para pihak dan para ahli warisnya dan mereka yang mendapat hak daripadanya tentang yang tercantum di dalamnya dan bahkan sebagai pemberitahuan belaka, akan tetapi yang terakhir ini hanya diberitahukan itu berhubungan dengan perihal pada akta itu.
Pejabat yang dimaksudkan antara lain ialah Notaris, Panitera, Jurusita, Pegawai Pencatat Sipil, Hakim dan sebagainya.
Selain itu, dalam Pasal 101 ayat (a) Undang-Undang No. 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, menyatakan
22 Kohar A., Notariat Berkomunikasi, Alumni, Bandung 1984, hlm. 86.
commit to user
bahwa akta autentik adalah surat yang diuat oleh atau di hadapan seorang pejabat umum, yang menurut peraturan perundang- undangan berwenang membuat surat itu dengan maksud untuk dipergunakan sebagai alat bukti tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang tercantum di dalamnya.
Kewenangan utama dari Notaris adalah untuk membuat akta autentik, untuk dapat suatu akta memiliki otensitasnya sebagai akta autentik maka harus memenuhi ketentuan sebagai akta autentik yang diatur dalam Pasal 1868 KUHPerdata, yaitu:
a) Akta itu harus dibuat oleh (door) atau dihadapan (tenberstaan) seorang pejabat umum, yang berarti akta-akta Notaris yang isinya mengenai perbuatan, perjanjian dan ketetapan harus menjadikan Notaris sebagai pejabat umum.
b) Akta itu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang, maka dalam hal suatu akta dibuat tetapi tidak memenuhi syarat ini maka akta tersebut kehilangan otensitasnya dan hanya mempunyai kekuatan sebagai akta di bawah tangan apabila akta tersebut ditandatangani oleh para penghadap (comparanten).
c) Pejabat umum oleh atau di hadapan siapa akta tersebut dibuat, harus mempunyai wewenang untuk membuat akta tersebut, sebab seorang Notaris hanya dapat melakukan atau menjalankan jabatannya di dalam daerah hukum yang telah ditentukan baginya. Notaris membuat akta yang berada di luar daerah hukum jabatannya maka akta yang dibuatnya menjadi tidak sah.
Akta autentik dibagi dalam dua macam yaitu akta pejabat (ambtelijk acte) dan akta para pihak (partij acte). Telah diterangkan bahwa wewenang serta pekerjaan pokok dari Notaris adalah membuat akta autentik, baik yang dibuat di hadapan yaitu (partij acten) maupun oleh Notaris (relaas acten) apabila orang
commit to user
mengatakan akta autentik, maka pada umumnya yang dimaksudkan tersebut tidak lain adalah akta yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris.
Selanjutnya untuk akte autentik berdasarkan pihak yang membuatnya dibagi menjadi 2 yaitu :23
a) Akta para pihak (partij akte)
Akta para pihak (partij akte) adalah akta yang memuat keterangan (berisi) apa yang dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Mislanya pihak-pihak yang bersangkutan mengatakan menjual/membeli selanjutnya pihak notaris merumuskan kehendak para pihak tersebut dalam suatu akta.
Partij akte ini mempunyai kekuatan pembuktian sempurna bagi pihakpihak yang bersangkutan termasuk para ahli warisnya dan orang-orang yang menerima hak dari mereka itu. Ketentuan Pasal 1870 KUH Perdata dianggap berlaku bagi partij akte ini.
Mengenai kekuatan pembuktian terhadap pihak ketiga tidak diatur, jadi partij akte adalah :
1) Inisiatif ada pada pihak-pihak yang bersangkutan;
2) Berisi keterangan pihak pihak.
b) Akta Pejabat (Ambtelijke Akte atau Relaas Akte)
Akta yang memuat keterangan resmi dari pejabat yang berwenang. Jadi akta ini hanya memuat keterangan dari satu pihak saja, yakni pihak pejabat yang membuatnya. Akta ini dianggap mempunyai kekuatan pembuktian terhadap semua orang, misalnya akta kelahiran. Jadi Ambtelijke Akte atau Relaas Akte merupakan :
1) Inisiatif ada pada pejabat;
23 Mochammad Dja’is dan RMJ. Koosmargono, Membaca dan Mengerti HIR, Badan Penerbit Undip Semarang, 2008, Hlm. 154-155.
commit to user
2) Berisi keterangan tertulis dari pejabat (ambtenaar) pembuat akta.
b. Jenis-jenis Akta Notaris
Akta notaris adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh notaris berdasarkan Pasal 1870 KUHPerdata dan HIR pasal 165 (Rbg 285) yang mempunyai kekuatan pembuktian mutlak dan mengikat. Akta notaris merupakan bukti yang sempurna sehingga tidak perlu lagi dibuktikan dengan pembuktian lain selama ketidak benarannya tidak dapat dibuktikan.
Berdasarkan Pasal 1866 KUHPerdata dan HIR 165, akta notaris merupakan alat bukti tulisan atau surat pembuktian yang utama sehingga dokumen ini merupakan alat bukti persidangan yang memiliki kedudukan yang sangat penting. Jenis- jenis akta yang boleh dibuat oleh notaris, yang adalah sebagai berikut :
1) Pendirian Perseroan Terbatas (PT.), perubahan, dan juga risalah Rapat Umum Pemegang Saham.
2) Pendirian yayasan.
3) Pendirian badan usaha-badan usaha lainnya.
4) Kuasa untuk menjual.
5) Perjanjian sewa menyewa, perjanjian pengikatan jual beli 6) Keterangan hak waris.
7) Wasiat.
8) Pendirian CV termasuk perubahannya.
9) Pengakuan hutang, perjanjian kredit, dan surat kuasa membebankan hak tanggungan.
10) Perjanjian kerjasama, kontrak kerja.
11) Segala bentuk perjanjian yang tidak dikecualikan kepada pejabat lain.
commit to user
3. Tinjauan Umum tentang Hukum Pembuktian Perdata a. Pengaturan Hukum Pembuktian Perdata
Hukum pembuktian adalah hukum yang mengatur mengenai macam-macam alat bukti yang sah, syarat-syarat dan tata cara mengajukan alat bukti dan kewenangan hakim untuk menerima atau menolak serta menilai hasil pembuktian. Sampai saat ini sistem pembuktian hukum perdata di Indonesia masih menggunakan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam KUHPerdata, HIR (untuk Jawa dan Madura) dan RBg (untuk luar Jawa dan Madura).
Adapun pengaturan mengenai pembuktian dalam hukum perdata di Indonesia dapat dilihat dalam:
1) Pasal 1865 sampai dengan Pasal 1945 KUHPerdata;
2) Pasal 137 sampai dengan Pasal 158 dan Pasal 162 sampai dengan Pasal 177 HIR;
3) Pasal 163 sampai dengan Pasal 185 dan Pasal 282 sampai dengan Pasal 314 RBg.
b. Teori Hukum Pembuktian Perdata
Pembuktian adalah penyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum oleh para pihak yang berperkara kepada hakim dalam suatu persidangan dengan tujuan untuk memperkuat kebenaran dalil tentang fakta hukum yang menjadi pokok sengketa sehingga hakim memperoleh dasar kepastian untuk menjatuhkan keputusan.24
Dalam menilai suatu pembuktian, hakim dapat bertindak bebas atau terikat oleh undang-undang. Dalam hal ini terdapat tiga teori, yaitu :25
1) Teori Pembuktian Bebas
24 Bachtiar Effendie, Masdari Tasmin, A. Chodari, Surat Gugat dan Hukum Pembuktian Dalam Perkara Perdata, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hlm. 50.
25Ibid, hlm. 53.
commit to user
Hakim bebas menilai alat-alat bukti yang diajukan oleh para pihak yang berperkara baik alat-alat bukti yang sudah disebutkan oleh undang-undang maupun alat-alat bukti yang tidak disebutkan oleh undang-undang.
2) Teori Pembuktian Terikat
Hakim terikat dengan alat pembuktian yang diajukan oleh para pihak yang berperkara. Putusan yang dijatuhkan harus selaras dengan alat-alat bukti yang diajukan dalam persidangan. Lebih lanjut teori ini dibagi menjadi:
a) Teori Pembuktian Negatif
Hakim terikat dengan larangan undang-undang dalam melakukan penilaian terhadap suatu alat bukti tertentu.
b) Teori Pembuktian Positif
Hakim terikat dengan perintah undang-undang dalam melakukan penilaian terhadap suatu alat bukti tertentu.
c) Teori Pembuktian Gabungan
Hakim bebas dan terikat dalam menilai hasil pembuktian.
c. Macam-macam Alat Bukti
Paton dalam bukunya yang berjudul A Textbook of Jurisprudence, seperti yang dikutip oleh Sudikno Mertokusumo, menyebutkan bahwa alat bukti dapat bersifat oral, documentary, atau material. Alat bukti yang bersifat oral merupakan kata-kata yang diucapkan oleh seseorang dalam persidangan. Alat bukti yang bersifat documentary meliputi alat bukti surat atau alat bukti tertulis. Alat bukti yang bersifat material meliputi alat bukti berupa barang selain dokumen.26
26 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Edisi Kelima, Liberty, Yogyakarta, hlm. 120.
commit to user
Menurut Pasal 164 HIR, Pasal 284 RBg, dan Pasal 1866 KUHPerdata, alat-alat bukti dalam hukum pembuktian perdata yang berlaku di Indonesia adalah :
1) Alat bukti surat/alat bukti tulisan;
2) Alat bukti saksi;
3) Alat bukti persangkaan;
4) Alat bukti pengakuan;
5) Alat bukti sumpah.
4. Tinjauan Umum tentang Bea Materai
a. Bea Materai Menurut UU No. 13 Tahun 1985
UU No. 13 Tahun 1985 lahir dalam rangka pembaharuan sistem perpajakan berdasarkan peraturan yang dibuat pada masa penjajahan Belanda penjadi undang-undang perpajakan nasional.
Perubahan ini dalam sejarah perjalanan perpajakan Indonesia dikenal sebagai pembaharuan pajak atau tax reform, yang dimulai pada tahun 1983, yang ditandai dengan lahirnya tiga buah undang-undang pajak yaitu :27
1) UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan;
2) UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan; dan
3) UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
UU No. 13 Tahun 1985 dengan tegas mengatakan Bea Meterai adalah pengenaan pajak atas dokumen sebagaimana yang tersurat dalam Pasal 1 ayat (1).28 Bea Materai menurut UU No. 13 Tahun 1985 tidak bersifat sebagai penggantian jasa. Pemerintah mengenakan Bea Meterai atas dokumen tidak ada imbalan secara langsung yang diberikan oleh Pemerintah kepada pembayar Bea Meterai. Dalam
27Marihot Pahala Siahaan, Bea Materai di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, hlm. 57.
28 Salim HS, op.cit, hlm. 168-169.
commit to user
melakukan suatu perbuatan, adanya suatu keadaan atau kenyataan (peristiwa) tidakdiharuskan seseorang membuat suatu dokumen untuk itu. Dengan demikia dapatlah diambil kesimpulan bahwa jika tidak dibuat dokumen tidak ada masalah pengenaan Bea Meterai atau disingkat : tiada dokumen, tiada Bea Meterai. Objek Bea Meterai bukanlah perbuatan hukumnya sendiri, seperti perbuatan jual beli, menerima uang, melakukan perborongan pekerjaan dan sebagainya melainkan dokumen yang dibuat untuk membuktikan adanya perbuatan itu seperti surat perjanjian. Sebagaimana diutarakan di atas bahwa Objek Bea Meterai adalah dokumen, tetapi tidak semua dokumen dikenakan Bea Meterai. Dokumen yang dikenakan Bea Meterai hanya dokumen yang disebut dalam Undang-undang saja, yaitu terbatas pada dokumen yang disebut dalam Pasal 2 UU No. 13 Tahun 1985 .29
Sesuai denga Pasal 2 UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai menyatakan bahwa Dokumen yang dikenakan Bea Meterai berdasarkan adalah dokumen yang berbentuk :
1) surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata;
2) akta-akta Notaris termasuk salinannya;
3) akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangka-prangkapnya;
4) surat yang memuat jumlah uang, yaitu : a) yang menyebutkan penerimaan uang;
b) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di Bank;
c) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank; atau
d) yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan;
29 Lichoen Tedjosiswojo, op. cit, hlm. 9.
commit to user
5) surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang harga nominalnya lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah);
6) efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga nominalnya lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah).surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan; surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, selain dari maksud semula.
Pasal 4 UU No. 13 Tahun 1985 mencantumkan beberapa dokumen yang tidak dicantumkan bea materai, antara lain :
b. dokumen yang berupa : 1. surat penyimpanan barang;
2. konnosemen;
3. surat angkutan penumpang dan barang;
4. keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka 1), angka 2) dan angka 3);
5. bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang;
6. surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim;
7. surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat sebagaimana dimaksud dalam angka 1) sampai angka 6).
c. segala bentuk Ijazah;
d.tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu;
e. tanda bukti penerimaan uang Negara dari Kas Negara, Kas Pemerintah Daerah, dan bank;
f. kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari Kas Negara, Kas Pemerintah Daerah, dan bank;
commit to user
g. tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi;
h. dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang tabungan kepada penabung oleh bank, koperasi, dan badan-badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut;
i. surat gadai yang diberikan oleh Perusahaan Jawatan Pegadaian;
j. tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek, dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Pasal 4 UU No. 13 Tahun 1985 mengatur beberapa dokumen yang tidak dikenakan bea materai. Dokumen-dokumen yang dimuat dalam Pasal 4 ini sebenarnya dokumen yang dimuat dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985, tetapi karena atas pertimbangan tertentu, dikecualikan dari pengenaan bea materai.30
Pemerintah dalam hal ini bukannya membiarkan begitu saja, pengawasan tentunya tetap dilakukan hal ini secara jelas tercantum dalam Pasal 11 UU No. 13 Tahun 1985 yaitu sebagai berikut :31 1) Pejabat Pemerintah, Hakim, Panitera, Juru Sita, Notaris Dan
Pejabat Umum lainnya, masing-masing dalam tugas atau jabatannya tidak dibenarkan :
a) menerima, mempertimbangkan atau menyimpan dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar;
b) melekatkan dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar sesuai dengan tarifnya pada dokumen lain yang berkaitan;
c) membuat salinan, tembusan, rangkapan atau petikan dari dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar;
2) memberikan keterangan atau catatan pada dokumen yang tidak atau kurang dibayar sesuai dengan tarif Bea Meterainya.
30Marihot Pahala Siahaan, Op. Cit, hlm. 143-144.
31 Eugenia Liliawati Muljono, Tanya Jawab Bea Meterai, Harvarindo, Jakarta,1999, hlm. 27.
commit to user
3) Pelanggaran terhadap ketentuanketentua sebagaimana dimaksu dalam ayat (1) dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pejabat dalam pasal 11 merupakan pejabat “kepanjangan tangan” Direktorat Jenderal Pajak untuk ikut serta mengawasi law enforcement ketentuan dalam UU No. 13 Tahun 1985 . Kehadiran pejabat secara eksplisit dalam UU No. 13 Tahun 1985 tersebut diperlukan mengingat Bea Meterai tidak memiliki nomor identitas baik objek ataupun subjek pajak. Oleh karena itu, para pejabat tersebut perlu mengetahui secara lengkap UU No. 13 Tahun 1985 .32
Pasal 12 UU No. 13 Tahun 1985 menentukan bahwa kewajiban pemenuhan Bea Meterai dan denda administrasi yang terhutang menurut undang-undang ini daluarsa setelah lampau waktu lima tahun, terhitung sejak tanggal dokumen dibuat. Dijelaskan lebih lanjut bahwa ditinjau dari segi kepastian hukum daluarsa 5 tahun dihitung sejak tanggal dokumen dibuat dan berlaku untuk seluruh dokumen termasuk kuitansi.33 Penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa dokumen yang tidak lunas bea materai dianggap tidak bermaterai sehingga dapat dilakukan pelunasan dikemudian hari.
a. Latar Belakang Lahirnya UU No. 13 Tahun 1985
Konsiderans nenimbang UU No. 13 Tahun 1985 menyatakan bahwa Undang-Undang Bea Materai lahir dengan pertimbangan berikut ini :34
1) Bahwa Pembangunan Nasional menuntut keikutsertaan segenap warganya untuk berperan menghimpun dana pembiayaan yang memadai, terutama harus bersumber dari kemampuan dalam
32 Eugenia Liliawati Muljono, ibid, hlm. 234.
33 Eugenia Liliawati Muljono, ibid.
34Rochmat Soemitro, Aturan Bea Materai, Cetakan Kedua, PT. Eresco, Bandung, 1992, hlm. 55- 56.
commit to user
negeri, hal mana merupakan perwujudan kewajiban kenegaraan dalam rangka mencapai tujuan Pembangunan Nasional;
2) Bahwa Bea Meterai yang selama ini dipungut berdasarkan Aturan Bea Meterai 1921 (Zegelverordening 1921) tidak sesuai lagi dengan keperluan dan perkembangan keadaan di Indonesia;
3) Bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas, perlu diadakan pengaturan kembali tentang Bea Meterai yang lebih bersifat sederhana dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat;
4) Bahwa untuk mencapai maksud tersebut di atas, perlu dikeluarkan undang-undang baru mengenai Bea Meterai yang menggantikan Aturan Bea Meterai 1921 (Zegelverordening 1921).
Pengaturan bea materai selama ini terdapat pada Aturan Bea Materai 1921 Nomor 498 sebagaimana terlah beberapa kali diubah, terakhir telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Prp tahun 1965 (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 121), yang tealah ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1969 (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 38) tidak sesuai lagi dengan keperluan dan perkembangan keadaan di Indonesia sehingga perlu disederhanakan.
Untuk itu Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tidak lagi mencantumkan bea materai menurut luas kertas dan bea materai sebanding, melainkan hanya bea materai yang besarnya Rp. 1.000,- dan Rp. 500,-.35
Selanjutnya untuk kesederhanaan dan kemudahan pemenuhan bea materai, pelunasannya cukup dilakukan dengan materai tempel atau kertas materai sehingga masyarakat tidak perlu lagi datang ke Direktorat Jenderal Pajak untuk memperoleh Surat Kuasa Untuk Menyetor (SKUM). Dokumen yang dikenakan bea materai dibatasi pada dokumen-dokumen yang disebut dalam UU No. 13 Tahun 1985 yang dilengkapi masyarakat dalam lalu lintas hukum. Untuk melunasi
35Marihot Pahala Siahaan, Op. Cit., hlm. 57.
commit to user
bea materai yang tidak atau kurang bayar beserta dendanya (jika ada), dilakukan dengan cara pemateraian kemudian (nazegeling).36
b. Falsafah UU No. 13 Tahun 1985
Berkaitan dengan hal tersebut, sasaran mengganti Aturan Bea Materai 1921 dengan UU No. 13 Tahun 1985 adalah untuk mengganti falsafahnya, tercermin dalam mekanisme dan pemungutannya yaitu :37 1) Pemungutan bea materai walaupun dianggap jumlah kecil, namun
merupakan perwujudan dari kewajiban dan peran serta masyarakat untuk secara langsung bersama-sama turut dalam pembiayaan Negara dan pembangunan nasional;
2) Tanggung jawab atas kewajiban tersebut berada pada anggota masyarakat sendiri. Pemerintah dalam hal ini bertindak dalam pembinaan, penelitian dan pengawasan dalam pelaksanaannya;
3) Anggota masyarakat diberi kecercayaan memenuhi kewajibannya dengan melekatkan sendiri materai pada dokumen-dokumen yang bersangkutan atau menggunakan kertas materai. Dengan system ini, penyelenggaraan administrasi dapat dilaksanakan dengan sederhana dan mudah.
c. Prinsip UU No. 13 Tahun 1985
Dokumen yang dilekatkan bea materai dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 terbatas pada dokumen-dokumen yang bersifat perdata. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan :38
1) Untuk mewujudkan kesederhanaan;
2) Mengenakan dokumen yang dibuat untuk kepentingan individu;
36Ibid.
37Ibid, hlm. 59.
38Ibid, hlm. 59-60
commit to user
3) Karena pemerintah memberikan tugas pelayanan kepada masyarakat, surat-surat dari pemerintah tidak perlu dibebani bea materai.
Dalam UU No. 13 Tahun 1985, obyek bea materai telah ditentukan dengan pasti, tetapi tetap dimasukkan ketentuan tentang pengecualian dokumen sebagai obyek pajak. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa apabila tidak ada pasal yang memuat pengecualian, semua dokumen yang bersifat perdata akan dikenakan bea materai. Pertimbangan ini dimasukan agar tidak mengenakan bea materai pada dokumen tertentu, misalnya surat penyimpanan barang, konosemen, dan surat angkutan barang. Dokumen-dokumen ini bersifat perdata, namun harus dikecualikan untuk menunjang kelancaran arus barang.39
UU No. 13 Tahun 1985 menganut self assessment, dimana pemerintah memberikan kepercayaaan kepada masyarakat untu memenuhi sendiri kewajiban membayar bea materai sesuai dengan ketentuan. Atas kepercayaan itu pemerintah sangat mengharapkan kesadaran dan kepatuhan dari masyarakat. Pengawasan atas pemenuhan ketentuan bea materai selain dilakukan oleh fiskus, juga dilakukan oleh para pejabat sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 11 UU No. 13 Tahun 1985 yaitu pejabat pemerintah, hakim, panitera, juru sita, Notaris, dan pejabat umum lainnya. Para pejabat tersebut tidak dibenarkan untuk melakukan sesuatu jika dokumen yang diajukan kepadanya tidak atau kurang bayar bea materainya. Jika sekiranya wajib bea materai tidak memenuhi kewajibannya, maka akan berakibat urusan-urusan tersebut tidak akan dilayani oleh pejabat-pejabat tersebut.40
39Ibid, hlm. 60.
40Ibid.
commit to user b. Tarif Bea Materai
1) Menurut UU No. 13 Tahun 1985
Tarif bea materai yang berlaku dalam UU No. 13 Tahun 1985 adalah bea materai Rp. 1.000,- dan Rp. 500,-. Besarnya tarif tersebut dibedakan berdasarkan jenis dokumen.
a) Tarif bea materai Rp. 1.000,-
(1) Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata;
(2) akta-akta notaris termasuk salinannya;
(3) akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah termasuk rangkap-rangkapnya;
(4) Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) :
(a) yang menyebutkan penerimaan uang;
(b) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank;
(c) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank;
(d) yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan;
(5) surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang harga nominalnya lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah);
(6) efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga nominalnya lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah).
(7) dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan :
(b) surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan;
(c) surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain
commit to user
atau digunakan oleh orang lain, lain dari maksud semula.
b) Tarif bea materai Rp. 500,-
(1) Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) tetapi tidak lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) :
(a) yang menyebutkan penerimaan uang;
(b) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank;
(c) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank;
(d) yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan;
(2) surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang harga uang lebih dari Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) tetapi tidak lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah);
(3) efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga nominalnya uang lebih dari Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) tetapi tidak lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah).
(4) dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan :
(a) surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan;
(b) surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, lain dari maksud semula.
2) PP No. 7 Tahun 1995 a) Tarif Rp. 2.000,-
commit to user
(1) Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata;
(2) akta-akta notaris termasuk salinannya;
(3) akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah termasuk rangkap-rangkapnya;
(4) Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) :
(a) yang menyebutkan penerimaan uang;
(b) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank;
(c) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank;
(d) yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan;
(5) surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang harga nominalnya lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah);
(6) efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga nominalnya lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah).
(7) dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan :
(a) surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan;
(b) surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, lain dari maksud semula.
commit to user b) Tarif Rp. 1.000,-
(1) Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp. 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah) tetapi tidak lebih dari Rp.
1.000.000,- (satu juta rupiah):
(a) yang menyebutkan penerimaan uang;
(b) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank;
(c) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank;
(d) yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan;
(2) surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang harga nominalnya lebih dari Rp. 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu) tetapi tidak lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah);
(3) efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga nominalnya lebih dari Rp. 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu) tetapi tidak lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah).
(4) dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan :
(a) surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan;
(b) surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, lain dari maksud semula.
(5) cek dan bilyet giro.
3) PP No. 24 Tahun 2000 a) Tarif Rp. 6.000,-
commit to user
(1) surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata;
(2) akta-akta Notaris termasuk salinannya;
(3) akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangka-prangkapnya;
(4) surat yang memuat jumlah uang, yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), yaitu:
(a) yang menyebutkan penerimaan uang;
(b) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di Bank;
(c) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank; atau (d) yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya
atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan;
(e) surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep; atau (f) dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian
di muka Pengendalian, yaitu :
(5) surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan , yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah),;
(6) surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, selain dari maksud semula.
(7) Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah).
(8) Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal lebih dari Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah)
commit to user b) Tarif Rp. 3.000,-
(1) surat yang memuat jumlah uang yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) sampai dengan Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) yaitu :
(a) yang menyebutkan penerimaan uang;
(b) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di Bank;
(c) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank; atau (d) yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya
atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan;
(e) surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep; atau (f) dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian
di muka Pengendalian, yaitu :
(2) surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) sampai dengan Rp.
1.000.000,00 (satu juta rupiah);
(3) Cek dan Bilyet Giro.
(4) Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp.
1.000.000,00 (satu juta rupiah).
(5) Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal sampai dengan Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah).
5. Aliran Hukum Positivisme
Positivisme lahir dan dimatangkan oleh perubahan besar yang terjadi pada masyarakat Eropa terutama setelah meletus Revolusi Industri
commit to user
di Inggris dan Revolusi Borjuis di Perancis pada pertengahan abad ke-18.
Munculnya tata produksi baru yang didasari prinsip akumulasi modal mulai menggeser mode of production zaman feodalisme menyebabkan kelas menengah baru (borjuis) mulai berani secara terbuka menentang kekuasaan feodal.41 Seiring dengan perubahan mode of production dan penemuan-penemuan teknologi baru, mulai muncul kesadaran yang sama sekali baru tentang hakikat manusia dan alam.
Descartes yang berjudul ”Discourse de la Method” dilarang beredar. Bahkan Episcopal Perancis yang menguasai hampir seluruh Eropa saat itu melarang buku itu diajarkan di berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Oxford.42 Bisa dibayangkan bagaimana susah- payahnya perjuangan masyarakat Eropa saat itu sampai harus berdarah- darah dalam memperoleh kebebasan, kebenaran, dan keadilan, hingga tampilannya saat ini.
Gairah pencarian kebenaran tak terbendung dan meluap sejak Pencerahan (Aufklarung) lahir di Eropa bersama ledakan deklarasi
“Sapere Aude”.43 Selain menggugat norma-norma pengetahuan lama, para pemikir pencerahan juga menawarkan sistem pengetahuan baru yang bersifat ilmiah menggantikan kepercayaan (teologi) dan filsafat lama yang spekulatif dan cenderung mistis.80
Positivisme kemudian berkembang dan mempengaruhi bidang ilmu ekonomi, psikologi, dan termasuk hukum. Dalam bidang hukum, secara epistemologis, mazhab Positivisme Hukum lahir sebagai kritik terhadap mazhab Hukum Kodrat. Berdasarkan senjata rasio, mazhab Positivisme Hukum menolak mazhab Hukum Kodrat yang terlampau idealistik.
Hukum Kodrat dengan segala variannya yang menempatkan ontologi
41E.P. Thompson, Custom in Common, The Merlin Press, 2010, hlm. 185 – 351
42Oemar Amin Hoesin, Kultur Islam; Sejarah Perkembangan Kebudayaan Islam dan Pengaruhnya dalam Dunia Internasional, terjemahan H.Zainal Abidin Ahmad, cet. 2, Bulan Bintang, Jakarta, 1975, hlm.
10.
43Ibid.
commit to user
hukum pada tataran yang sangat abstrak,44 ditolak Positivisme Hukum karena dinilai tidak konkret. Jika aliran Hukum Kodrat sibuk dengan permasalahan validasi nilai (abstrak), maka Positivisme Hukum justru hendak menurunkan kepada permasalahan konkret.
Kelemahan Hukum Kodrat gagal mengembangkan suatu metode untuk menetapkan apa yang menjadi kodrat manusia dan apa ciri-ciri hakikinya. Setiap filosof mempunyai pandangan sendiri tentang moral, keadilan, dan sebagainya. Menurut kritik Positivisme Hukum, paham Hukum Kodrat bersifat ambigu dan gagal memberikan kepastian hukum yang obyektif.45 Pada titik ini, kritik Positivisme Hukum terhadap Hukum Kodrat kelihatan meyakinkan.
Dalam rangka kepentingan memberikan jaminan kepastian hukum, Positivisme Hukum mengistirahatkan filsafat dari kerja spekulasinya46 dan mengindentifikasi hukum dengan peraturan perundang-undangan. Hanya dengan mengindentifikasi hukum dengan peraturan perundang-undangan kepastian hukum akan diperoleh karena orang tahu dengan pasti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya. Pemikiran ini mengimplikasikan perpisahan tajam antara hukum dan moral. Hukum ditaati bukan karena dinilai baik atau adil, melainkan karena telah ditetapkan oleh penguasa yang sah.
6. Konsep Keadilan dan Kepastian Hukum
Menurut Gustav Radbruch keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan (Gustav Radbruch: Gerechtigkeit, Rechtssicherheit, Zweckmäßigkeit) adalah tiga terminologi yang sering dilantunkan di ruang- ruang kuliah dan kamar-kamar peradilan, namun belum tentu dipahami hakikatnya atau disepakati maknanya. Keadilan dan kepastian hukum, misalnya. Sekilas kedua terma itu berseberangan, tetapi boleh jadi juga
44Heinrich A. Rommen (Diterjemahkan oleh Thomas Hanley), Natural Law A Study in Legal and Social History and Philosophy, Liberty Fund, 1998.
45Robin West, Natural Law Ambiguities, Connecticut Law Review, Vol 25, hlm. 831-841.
46Dennys Llyod, The Idea of Law, Penguin Books, Harmondsworth, 1973, hlm 100 dan 106 -107.
commit to user
tidak demikian. Kata keadilan dapat menjadi terma analog, sehingga tersaji istilah keadilan prosedural, keadilan legalis, keadilan komutatif, keadilan distributif, keadilan vindikatif, keadilan kreatif, keadilan substantif, dan sebagainya. Keadilan prosedural, sebagaimana diistilahkan oleh Nonet dan Selznick untuk menyebut salah satu indikator dari tipe hukum otonom, misalnya, ternyata setelah dicermati bermuara pada kepastian hukum demi tegaknya the rule of law. Jadi, pada konteks ini keadilan dan kepastian hukum tidak berseberangan, melainkan justru bersandingan.47
Keadilan dan Kepastian adalah dua nilai aksiologis di dalam hukum. Wacana filsafat hukum sering mempersoalkan kedua nilai ini seolah-olah keduanya merupakan antinomi, sehingga filsafat hukum dimaknai sebagai pencarian atas keadilan yang berkepastian atau kepastian yang berkeadilan.48
Pandangan Gustav Radbruch secara umum diartikan bahwa kepastian hukum tidak selalu harus diberi prioritas pemenuhannya pada tiap sistem hukum positif, seolah-olah kepastian hukum itu harus ada lebih dulu, baru kemudian keadilan dan kemanfaatan. Gustav Radbruch kemudian meralat teorinya bahwa ketiga tujuan hukum sederajat.49
Pada dasarnya prinsip kepastian hukum menekankan pada penegakan hukum yang berdasarkan pembuktian secara formil, artinya suatu perbuatan baru dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hanya jika melanggar aturan tertulis tertentu. Sebaliknya menurut prinsip keadilan, perbuatan yang tidak wajar, tercela, melanggar kepatutan dan sebagainya dapat dianggap sebagai pelanggaran demi tegaknya keadilan meskipun secara formal tidak ada undang-undang yang melarangnya.50
47 Sidharta, Reformasi Peradilan dan Tanggung Jawab Negara, Bunga Rampai Komisi Yudisial, Putusan Hakim: Antara Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kemanfaatan,Komisi Yudisial Republik Indonesia, Jakarta, 2010, hlm. 3.
48Ibid, hlm. 3.
49 Nur Agus Susanto, Dimensi Aksiologis Dari Putusan Kasus “ST” Kajian Putusan Peninjauan Kembali Nomor 97 PK/Pid.Sus/2012, Jurnal Yudisial Vol. 7 No. 3 Desember 2014.
50 Laksono, Ed., Hukum Tak Kunjung Tegak: Tebaran Gagasan Otentik Prof. Dr. Mahfud MD, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007, Hlm. 91.
commit to user 2. Kerangka Berpikir
NOTARIS
Premis Minor
1. KUHPerdata;
2. UU No. 2 Tahun 2014;
3. UU No. 30 Tahun 2004 ;
4. UU No. 13 Tahun 1985
tentang Bea Meterai;
5. PP. No. 28 Tahun 1986;
6. PP. No. 7 Tahun 1995 ; 7. PP. No. 24 Tahun 2000;
8. Putusan MA Tanggal 13
Maret 1971 No.
589K/Pid/1970.
Premis Mayor
1. Bagaimana keabsahan nilai kekuatan bukti Akta Notaris yang tidak dilekatkan bea materai sebagai alat bukti di pengadilan?
2. Bagaimana akibat hukum terhadap akta notaris yang melekatkan bea materai tidak sesuai dengan ketentuan dalam UU No. 13 Tahun 1985?
Akta Notaris yang tidak dilekatkan Bea Materai tidak mendegradasi kekuatan bukti dan tetap memiliki kekuatan pembuktian sempurna, namun berdasarkan yurisprudensi Putusan MA Tanggal 13 Maret 1971 No. 589K/Pid/1970, tidak memenuhi syarat dokumen yang dijadikan alat bukti di pengadilan.
Positivisme Hukum, Teori Kepastian Hukum
Akibat hukum terhadap akta yang kurang atau tidak dilunasi Bea Materai nya yaitu Akta Notaris dianggap tidak bermaterai dan wajib dilakukan pemateraian kemudian berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 70/PMK.03/2014 tentang Tata Cara Pemeteraian Kemudian.
Teori Kedaulatan Hukum, Teori Kepastian Hukum
commit to user Keterangan:
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut dapat dijelaskan dalam Pasal 1 UU No. 2 Tahun 2014 menjelaskan bahwa Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya. Dalam KUHPer dijelaskan bahwa akta autentik mempunyai kekuatan pembuktian sempurna. Kesempurnaan akta autentik tersebut, dalam kedudukannya sebagai alat bukti di pengadilan sebagaimana diuraikan dalam Pasal 183 HIR menempati kedudukan tertinggi dalam kerangka alat bukti. Akta autentik yang mempunyai kekuatan pembuktian sempurna tersebut apabila diajukan dalam suatu perkara, maka hakim tidak memerlukan alat bukti lainnya untuk membuktikan perkara tersebut, dan kesempurnaan tersebut salah satunya terdapat dalam Akta Notaris.
Lebih lanjut dalam UU No. 13 Tahun 1985, mewajibkan Akta Notaris dilekatkan sebuah Materai sebesar Rp. 6.000,- sebagaimana diatur dalam PP No. 24 Tahun 2000. Permasalahan muncul apabila kewajiban yang diatur dalam UU No. 13 Tahun 1985, dan PP No. 24 Tahun 2000 tidak dapat dilaksanakan oleh Notaris sebagai pejabat yang diberi amanat dalam peraturan perundang-undangan tersebut.
Permasalahan pertama adalah apakah Akta Notaris yang tidak dilekatkan bea materai dapat mendegradasi kekuatan bukti Akta Notaris tersebut dan permasalahan kedua yaitu bagaimana akibat hukum terhadap Akta Notaris yang tidak melekatkan bea materai atau melekatkan bea materai namun kurang bayar sebagaimana dimaksud dalam UU No. 13 Tahun 1985.
Kedua permasalahan tersebut dalam penelitian ini akan dikaji berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mendukung sebagai premis minor dan konsep-konsep maupun teori-teori sebagai pisau analitis dalam penelitian ini.
commit to user 3. Penelitian yang Relevan
1. Penelitian tesis Magister Kenotariatan Universitas Dipenogoro Tahun 2010 yang berjudul Kekuatan Pembuktian Akta Di Bawah Tangan Yang Dilegalisasi Oleh Notaris. Penelitian tersebut ditulis oleh Sidah. Dalam tulisannya dapat disimpulkan bahwa akibat hukum dalam pembuktian di pengadilan dalam hal ada akta dibawah tangan yang dilegalisasi oleh notaris adalah tidak mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna karena terletak pada tandatangan para pihak yang jika diakui, merupakan bukti sempurna seperti akta autentik. Suatu akta di bawah tangan hanyalah memberi pembuktian sempurna demi keuntungan orang kepada siapa sipenandatanganan hendak memberi bukti, sedangkan terhadap pihak ketiga kekuatan pembuktiannya adalah bebas. Berbeda dengan akta autentik yang memiliki kekuatan pembuktian yang pasti, maka terhadap akta di bawah tangan kekuatan pembuktiannya berada di tangan hakim untuk mempertimbangkannya (Pasal 1881 ayat (2) KUHPerdata).
2. Penelitian berbentuk jurnal berjudul Fungsi Meterai dalam Memberikan Kepastian Hukum Terhadap Surat Perjanjian yang ditulis oleh Mega Tumilaar dalam Jurnal Lex Privatum, Vol.III/No. 1. Dalam penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi meterai dalam sebuah surat perjanjian adalah sebagai pajak atas dokumen secara pasti telah ditegaskan dalam UU No. 13 Tahun 1985. Artinya dengan tidak adanya dokumen dalam hal ini surat perjanjian maka tidak perlu ada meterai.
Objek dari meterai adalah dokumen dan bukan perbuatan hukumnya.
Surat perjanjian sebelumnya tidak menggunakan Bea Meterai berakibat pada surat perjanjian tersebut dianggap tidak bermeterai dan sesuai dengan ketentuan UU No. 13 Tahun 1985. Sah tidaknya suatu surat perjanjian tidak ditentukan oleh ada tidaknya meterai namun oleh Pasal 1320 KUHPerdata. Artinya meterai bukanlah patokan yang menentukan keabsahan sebuah surat perjanjian. Jika isi perjanjiannya terlarang atau tidak benar, maka walaupun menggunakan ribuan meterai sama sekali tidak mempunyai kekuatan yuridis.
commit to user
3. Penelitian tesis Program Pascasarjana (Hukum Keuangan Negara) Universitas Indonesia Tahun 2010 yang berjudul Tinjauan Yuridis Terhadap Bea Materai dalam Konteks Dokumen Elektronik. Penelitian tersebut ditulis oleh Sukarno. Dalam penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap alat bukti yang diajukan tertulis ke pengadilan dalam penyelesaian perkara perdata harus dibubuhi dengan materai yang cukup sebagaimana diatur dalam UU No. 13 Tahun 1985. Namun bukanlah berarti materai tersebut merupakan syarat sah nya perjanjian, perjanjian tersebut tetaplah sah meskipun tanpa perjanjian. Karena syarat sahnya perjanjian diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Namun apabila perjanjian tersebut tidak dibubuhi materai maka tidak memenuhi syarat sahnya sebagai alat bukti. Hal ini sesuai dengan Putusan MA Tanggal 13 Maret 1971 No. 589K/Pid/1970 yang berpendapat bahwa surat bukti yang tidak dibubuhi materai tidak merupakan alat bukti yang sah.