• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Tinjauan tentang Pembuktian

a. Pengertian Pembuktian

Secara etimologi, kata “pembuktian” memiliki akar kata “bukti”.

Dalam Kamus Hukum, “bukti” dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang memperlihatkan kebenaran fakta tertentu atau ketidakbenaran fakta lain oleh para pihak dalam perkara pengadilan guna memberikan bahan kepada hakim bagi penilaiannya. (Andi Hamzah, 1986: 83)

Menurut Andi Muhammad Sofyan, kata “pembuktian” berasal dari kata “bukti”, artinya sesuatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa, kemudian mendapat awalan “pem” dan akhiran “an”, maka pembuktian artinya “proses perbuatan, cara membuktikan sesuatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa”, demikian pula pengertian membuktikan yang mendapat awalan “mem” dan akhiran “an”, artinya memperlihatkan bukti, meyakinkan dengan bukti. Dalam hal ini dapat diketahui dalam hukum pembuktian terdapat makna “membuktikan” yang artinya memberikan bukti atau memperlihatkan bukti.

M. Yahya Harahap, berpendapat bahwa pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara- cara yang dibenarkan undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang dan boleh dipergunakan hakim membuktikan kesalahan yang didakwakan.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa M. Yahya Harahap lebih menekankan pada keabsahan bukti yang disajikan. Apabila suatu bukti tersebut tidak sesuai undang-undang maka bukti tersebut tidak dapat dikatakan sebagai alat bukti yang sah.

Pendapat lain disampaikan oleh R. Subekti yang berpendapat bahwa pembuktian adalah suatu proses untuk meyakinkan hakim tentang

commit to user

(2)

kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu persengketaan. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa urgensi dari pembuktian menurut R. Subekti adalah untuk memberikan keyakinan kepada hakim, dengan keyakinan tersebut maka hakim akan memperoleh dasar kepastian untuk menjatuhkan keputusan/vonis.

Makna penting dari pembuktian sesuai yang dikemukakan oleh Syaiful Bakhri adalah mencari kebenaran atas suatu peristiwa dalam konteks hukum yang mempunyai sebab akibat oleh karenanya dalam hukum acara merupakan inti dari pada persidangan. Dalam perspektif sistem peradilan pidana pada khususnya, maka aspek pembuktian memegang peranan yang menentukan untuk menyatakan kesalahan seseotang sehingga dijatuhkan pidana oleh hakim.

Sebagai catatan bahwa pembuktian dalam perkara pidana berbeda dengan pembuktian dalam perkara perdata, sebab di dalam pembuktian perkara pidana (hukum acara pidana) adalah bertujuan untuk mencari kebenaran materiil, yaitu kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Sedangkan pembuktian dalam perkara perdata (hukum acara perdata) adalah bertujuan untuk mencari kebenaran formil, artinya hakim tidak boleh melampaui batas-batas yang diajukan oleh para pihak yang berperkara. Jadi, hakim dalam mencari kebenaran formil cukup membuktikan dengan “prepoderence of evidence”, sedangkan hakim pidana dalam mencari kebenaran materiil, maka peristiwanya harus terbukti (beyond reasonable doubt). (Andi Muhammad Sofyan dan Abd Asis, 2017: 225)

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembuktian adalah suatu upaya untuk memperlihatkan kebenaran fakta dengan memberikan bukti sesuai dengan ketetentuan perundang-undangan agar menjadi suatu bukti yang sah dimana bukti tersebut memberikan kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya sehingga dapat memberikan keyakinan hakim untuk menjatuhkan vonis/putusan.

commit to user

(3)

Menurut Adhami Chazawi, sistem pembuktian adalah sistem yang berisi terutama tentang alat-alat bukti apa yang boleh digunakan untuk membuktikan,cara bagaimana alat bukti itu boleh dipergunakan, dan nilai kekuatan dari alat alat bukti tersebut serta standar / kriteria yang menjadi ukuran dalam mengambil kesimpulan tentang terbuktinya sesuatu (obyek) yang dibuktikan. Sistem pembuktian merupakan suatu kebulatan atau keseluruhan dari berbagai ketentuan perihal kegiatan pembuktian yang saling berkaitan dan berhubungan satu dengan lainnya yang tidak terpisahkan dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Sedangkan sistem pembuktian menurut Alfitra, adalah pengaturan tentang macam macam alat bukti yang boleh dipergunakan, penguraian alat bukti, dan dengan cara-cara bagaimana alat-alat bukti itu dipergunakan serta dengan cara bagaimana hakim harus membentuk keyakinannya di depan sidang pengadilan.

Hukum acara pidana mengenal beberapa macam teori pembuktian yang menjadi pegangan bagi hakim dalam melakukan pemeriksaan di sidang pengadilan. Sejalan dengan perkembangan waktu, teori atau sistem pembuktian mengalami perkembangan dan perubahan. Demikian pula penerapan sistem pembuktian di suatu negara dengan negara lain dapat berbeda (Susanto, 2018: 146). Menurut Hendar Sutama, dalam ilmu hukum acara pidana dikenal empat macam teori sistem pembuktian, yaitu :

1) Teori sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif (positief wettelijk bewijstheorie);

2) Teori sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim semata - mata (conviction intime);

3) Teori sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan yang logis (la conviction raisonee); dan

4) Teori sistem pembuktian berdasarkan undang – undang secara negatif (negatief wettelijk bewijstheorie).

commit to user

(4)

Berikut adalah penjelasan ringkas tentang pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam teori-teori sistem pembuktian di atas:

1) Teori sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif (Positief Wettelijk Bewijstheorie)

Teori sistem pembuktian ini dikatakan secara positif karena hanya didasarkan kepada undang-undang semata. Artinya jika suatu perbuatan telah terbukti sesuai dengan alat-alat bukti yang disebut oleh undang-undang, maka keyakinan hakim tidak diperlukan sama sekali. Sistem ini disebut juga teori pembuktian formal (formele bewijstheorie). Untuk menentukan kesalahan seseorang, hakim harus mendasarkan pada alat-alat bukti yang tersebut dalam Undang-undang, jika alat-alat bukti tersebut telah terpenuhi, hakim sudah cukup beralasan untuk menjatuhkan putusannya tanpa harus timbul keyakinan terlebih dahulu atas kebenaran alat-alat bukti yang ada. Dengan kata lain, keyakinan hakim tidak diberi kesempatan dalam menentukan ada tidaknya kesalahan seseorang, keyakinan hakim harus dihindari dan tidak dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan kesalahan seseorang. (Rusli Muhammad, 2007: 190)

2) Teori sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim semata - mata (Conviction Intime)

Conviction intime diartikan sebagai pembuktian berdasarkan keyakinan hakim belaka. Teori pembuktian ini lebih memberikan kebebasan kepada hakim untuk menjatuhkan suatu putusan berdasarkan keyakinan hakim, artinya bahwa jika pertimbangan putusan hakim telah menganggap terbukti suatu perbuatan sesuai dengan keyakinan yang timbul dari hati nurani, terdakwa yang diajukan kepadanya dapat dijatuhkan putusan. Pada teori ini keyakinan hakim adalah menentukan, dan mengabaikan hal-hal lainnya jika sekiranya tidak sesuai atau bertentangan dengan

commit to user

(5)

3) Teori sistem pembuktian berdasarkann keyakinan hakim atas alasan yang logis (Conviction Rasionee)

Sistem pembuktian conviction rasionee adalah sistem pembuktian yang tetap menggunakan keyakinan hakim, tetapi keyakinan hakim didasarkan pada alasan-alasan (reasoning) yang rasional. Dalam sistem ini hakim tidak dapat lagi memiliki kebebasan untuk menentukan keyakinannya, tetapi keyakinan itu harus diikuti dengan alasan-alasan yang reasonable, yakni alasan yang dapat diterima oleh akal pikiran yang menjadi dasar keyakinannya itu. (Rusli Muhammad, 2007: 187)

Hendar Sutarna berpendapat bahwa conviction rasioonee sebagai jalan tengah antara teori pembuktian berdasarkan undang- undang dan teori pembuktian semata-mata berdasarkan keyakinan hakim. Dalam teori ini, hakim dapat memutuskan terdakwa bersalah berdasarkan keyakinannya, namun tidak semata-mata keyakinan yang diciptakan hakim sendiri, tetapi keyakinan hakim sampai batas tertentu, yaitu keyakinan hakim yang didasarkan kepada dasar-dasar pembuktian dengan suatu kesimpulan (conclusive) yang berlandaskan kepada ketentuan pembuktian tertentu.

4) Teori sistem pembuktian berdasarkan undang - undang secara negatif (Negatief Wettelijk Bewijstheorie)

Menurut Rusli Muhammad pembuktian negatief wettelik bewijstheorie atau pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif adalah pembuktian yang selain menggunakan alat-alat bukti yang dicantumkan dalam undang-undang, juga menggunakan keyakinan hakim. Sekalipun menggunakan keyakinan hakim, namun keyakinan hakim terbatas pada alat-alat bukti yang ditentukan dalam undang-undang. Sistem pembuktian ini menggunakan antara sistem pembuktian menurut undang undang secara positif dan sistem pembuktian menurut keyakinan hakim commit to user

(6)

sehingga sistem pembuktian ini disebut sistem pembuktian berganda (doubelen grondslag).

Negatief Wettelijk Bewijstheorie memadukan dua unsur, yaitu ketentuan pembuktian berdasarkan undang-undang dan unsur keyakinan hakim menjadi satu unsur yang tidak dapat terpisahkan.

Keyakinan hakim dipandang tidak ada apabila keyakinan tersebut tidak diperoleh dari sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, dan dua alat bukti yang sah dipandang nihil bila tidak dapat menciptakan keyakinan hakim. (Hendar Sutarna, 2011: 41)

M. Yahya Harahap berpendapat bahwa dari hasil penggabungan kedua sistem dari yang saling bertolak belakang itu, terwujudlah suatu sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif. Dimana rumusannya bahwa salah tidaknya seorang terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim yang didasarkan kepada cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang- undang.

Sementara itu sistem pembuktian yang dianut oleh Pasal 183 KUHAP memadukan unsur-unsur obyektif dan subyektif dalam menentukan salah tidaknya terdakwa. Tidak ada yang paling dominan diantara kedua unsur tersebut, keduanya saling berkaitan.

Jika suatu perkara terbukti secara sah (sah dalam arti alat-alat bukti menurut undang-undang), akan tetapi tidak meyakinkan hakim akan adanya kesalahan tersebut, maka hakim tidak dapat menjatuhkan putusan pidana pemidaanaan terhadap terdakwa.

(Thalib Effendi, 2014: 172)

Sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP, mempunyai pokok-pokok sebagai berikut : (Adhami Chazawi, 2008: 30)

a) Tujuan akhir pembuktian untuk memutus perkara pidana, yang jika memenuhi syarat pembuktian dapat menjatuhkan

commit to user

(7)

memutus perkara pidana, dan bukan semata mata untuk menjatuhkan pidana.

b) Standar / syarat untuk hasil pembuktian untuk menjatuhkan pidana dengan dua syarat yang saling berhubungan dan tidak terpisahkan, yaitu :

(1) Harus menggunakan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah;

(2) Dengan menggunakan sekurang - kurangnya dua alat bukti hakim memperoleh keyakinan.

Berkaitan dengan keyakinan hakim dalam pembuktian, haruslah dibentuk atas dasar fakta – fakta hukum yang diperoleh dari minimal dua alat bukti yang sah. Adapun keyakinan hakim yang harus didapatkan dalam proses pembuktian untuk dapat menjatuhkan pidana, yaitu : (Adhami Chazawi, 2008: 32-34)

a) Keyakinan bahwa telah terjadi tindak pidana sebagaimana yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum, artinya fakta- fakta yang didapat dari dua alat bukti itu (suatu yang obyektif) yang membentuk keyakinan hakim bahwa tindak pidana yang didakwakan benar-benar telah terjadi. Dalam praktek disebut bahwa tindak pidana yang didakwakan jaksa penuntut umum telah terbukti secara sah dan meyakinkan.

Secara sah maksudnya telah menggunakan alat-alat bukti yang memenuhi sayarat minimal yakni dari dua alat bukti.

Keyakinan tentang telah terbukti tindak pidana sebagaimana didakwakan jaksa penuntut umum tidaklah cukup untuk menjatuhkan pidana, tetapi diperlukan pula dua keyakinan lainnya.

b) Keyakinan tentang terdakwa yang melakukannya, adalah juga keyakinan terhadap sesuatu yang obyektif. Dua keyakinan itu dapat disebut sebagai hal yang obyektif yang

commit to user

(8)

disubyektifkan. Keyakinan adalah sesuatu yang subyektif yang didapatkan hakim atas sesuatu yang obyektif.

c) Keyakinan tentang terdakwa bersalah dalam hal melakukan tindak pidana, bisa terjadi dalam dua hal / unsur, yaitu pertama hal yang bersifat obyektif adalah tiadanya alasan pembenar dalam melakukan tindak pidana. Dengan tidak adanya alasan pembenar pada diri terdakwa, maka hakim yakin kesalahan terdakwa. Sedangkan keyakinan hakim tentang hal yang subyektif adalah keyakinan hakim tentang kesalahan terdakwa yang dibentuk atas dasar-dasar hal mengenai diri terdakwa. Maksudnya, adalah ketika melakukan tindak pidana pada diri terdakwa tidak terdapat alasan pemaaf. Bisa jadi terdakwa benar melakukan tindak pidana dan hakim yakin tentang itu, tetapi setelah mendapatkan fakta-fakta yang menyangkut keadaan jiwa terdakwa dalam persidangan, hakim tidak terbentuk keyakinannya tentang kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana tersebut.

Dengan demikian, maksud dilakukannya kegiatan pembuktian sebagaimana diatur dalam Pasal 183 KUHAP adalah untuk menjatuhkan atau mengambil putusan in casu menarik amar putusan oleh Majelis Hakim. Pembuktian dilakukan terlebih dahulu dalam usaha mencapai derajat keadilan dan kepastian hukum yang setinggi-tingginya dalam putusan hakim. Sehingga pembuktian tidak hanya ditujukan untuk menjatuhkan pidana saja berdasarkan syarat minimal dua alat bukti sah yang harus dipenuhi dalam pembuktian untuk menjatuhkan pidana. (Adhami Chazawi, 2008: 31)

c. Beban Pembuktian

(9)

Ditinjau dari perspektif ilmu pengetahuan hukum pidana terdapat tiga teori beban pembuktian, antara lain: (Djoko Sumaryanto, 2009: 89- 90)

1) Beban Pembuktian pada Penuntut Umum

Teori beban pembuktian ini menegaskan bahwa penuntut umum lah yang harus membuktikan kesalahan terdakwa dengan alat-alat bukti sah yang dihadapkan di persidangan guna untuk meyakinkan hakim akan kesalahan terdakwa. Beban pembuktian ini berhubungan dengan asas praduga tak bersalah (presumption of innocent) dan merupakan aktualisasi dari asas tidak mempersalahkan diri sendiri (non self incrimination).

2) Beban Pembuktian pada Terdakwa

Berdasarkan teori ini terdakwa sendiri lah yang membuktikan dirinya tidak bersalah dalam suatu perkara pidana pada suatu persidangan. Pada beban pembuktian ini terdakwa sangat berperan aktif untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah dengan menyiapkan segala pembuktian di depan sidang pengadilan. Implikasi dari teori beban pembuktian ini adalah apabila terdakwa tidak dapat membuktikan ketidakbersalahan dirinya maka oleh pengadilan terdakwa dinyatakan bersalah. Teori beban pembuktian ini dinamakan dengan teori beban pembuktian terbalik.

3) Beban Pembuktian Berimbang

Berdasarkan teori beban pembuktian ini penuntut umum maupun terdakwa dan/atau penasehat hukumnya saling membuktikan di depan persidangan.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diketahui bahwa beban pembuktian yang diatur dalam KUHAP adalah beban pembuktian pada penuntut umum saja dan terdakwa tidak memiliki kewajiban untuk membuktikan. Sehingga kaitannya dengan penelitian ini adalah digunakannya saksi yang merupakan seorang terdakwa pada berkas yang

commit to user

(10)

terpisah tidak diatur atau tidak sesuai dengan beban pembuktian yang telah diatur dalam KUHAP.

d. Standar Batas Minimum Pembuktian

Standar batas minimum pembuktian adalah suatu pedoman yang harus dipenuhi dalam menilai cukup atau tidaknya alat bukti untuk membuktikan salah atau tidaknya terdakwa, yang berarti sampai batas minimum pembuktian mana yang dapat dinilai cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Berdasarkan Pasal 183, dasar dari ketentuan batas minimum pembuktian menyebutkan bahwa Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Jadi, batas minimum pembuktian yang dianggap cukup membuktikan kesalahan seorang terdakwa agar dapat dijatuhkan pidana, harus dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah. Satu alat bukti saja, undang-undang menganggap tidak atau belum cukup membuktikan kesalahan terdakwa. Batas minimum yang dianggap cukup oleh undang- undang, paling sedikit dua alat bukti yang sah. (M. Yahya Harahap, 2003:

283)

M. Yahya Harahap juga berpendapat bahwa untuk membuktikan kesalahan terdakwa harus merupakan:

1) Penjumlahan dari sekurang-kurangnya seorang saksi ditambah dengan seorang ahli, atau surat maupun petunjuk, dengan ketentuan penjumlahan kedua alat bukti tersebut harus “saling bersesuaian”,

“saling menguatkan”, dan tidak saling bertentangan antara satu dengan yang lain;

2) Atau bisa juga, penjumlahan kedua alat bukti itu berupa keterangan dua orang saksi yang saling bersesuaian dan saling menguatkan, maupun penggabungan antara keterangan seorang saksi dengan

(11)

keterangan terdakwa, asal keterangan saksi dengan keterangan terdakwa jelas terdapat saling bersesuaian.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat diketahui bahwa yang dimaksud “dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah”

merupakan alternatif penjumlahan dari seorang saksi dengan seorang ahli, atau alat bukti surat maupun petunjuk, dengan catatan keduanya saling bersesuaian, saling menguatkan dan tidak saling bertentangan. Bisa juga penjumlahan kedua alat bukti berupa keterangan dua orang saksi maupun keterangan saksi dengan keterangan terdakwa yang tentunya saling bersesuaian, saling menguatkan dan tidak bertentangan.

Pengaturan tentang batas minimum pembuktian tidak hanya diatur dalam Pasal 183 KUHAP yang merupakan ketentuan bersifat umum (general rule), namun juga diatur dengan ketentuan yang bersifat lebih khusus. Yang pertama diatur dalam Pasal 185 ayat (2) KUHAP yang menyebutkan bahwa keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya. Pernyataan tersebut sesuai dengan asas Hukum Acara Pidana yaitu ”unus testis nullus testis” yang berarti “satu saksi bukan saksi”

Yang kedua diatur dalam Pasal 189 ayat (4) KUHAP yang menyebutkan bahwa keterangan atau pengakuan terdakwa (confenssion by on accused) saja tidak cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa.

Kaitannya dengan penelitian ini adalah kurangnya alat bukti yang menjadikannya terdakwa lain pada berkas yang terpisah, menjadi saksi dalam perkara yang akan diteliti.

2. Tinjauan tentang Alat Bukti a. Pengertian Alat Bukti

Alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu perbuatan, di mana dengan alat-alat bukti tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan

commit to user

(12)

hakim atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa. (Hari Sasangka dan Lily Rosita, 2003: 11)

Menurut Darwin Prinst, alat-alat bukti yang sah adalah alat-alat yang ada hubungannya dengan suatu tindak pidana, di mana akat-alat tersebut dapat digunakan sebagai bahan pembuktian, guna menimbulkan keyakinan bagi hakim, atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa.

Berdasarkan pendapat dari Lilik Mulyadi, pada dasarnya perihal alat-alat bukti diatur dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP. Oleh sebab itu apabila ditelaah secara global proses mendapatkan kebenaran materil (materiele waarheid) dalam perkara pidana alat-alat bukti memegang peranan sentral dan menentukan. Oleh karena itu secara teoritis dan praktek suatu alat bukti haruslah dipergunakan dan diberi penilaian secara cermat, agar tercapai kebenaran sejati sekaligus tanpa mengabaikan hak asasi terdakwa.

Berdasarkan pendapat dari para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan alat bukti adalah segala hal yang berhubungan dengan suatu perbuatan yang dapat digunakan sebagai bahan pembuktian yang berguna untuk menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran tindak pidana yang dilakukan terdakwa sehingga mencapai kebenaran sejati tanpa mengabaikan hak asasi terdakwa.

b. Jenis-jenis Alat Bukti

Alat bukti yang sah menurut undang-undang telah diatur dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP yang mana di luar alat bukti tersebut dinilai tidak mempunyai kekuatan pembuktian sehingga tidak dibenarkan untuk dipergunakan membuktikan kesalahan terdakwa. Adapun alat bukti yang sah menurut undang-undang sesuai dengan yang disebutkan dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP, antara lain:

1) Keterangan saksi;

2) Keterangan ahli;

commit to user

(13)

4) Petunjuk;

5) Keterangan terdakwa.

Berikut merupakan penjelasan singkat dari masing-masing alat bukti:

1) Keterangan Saksi

Sesuai dengan Pasal 1 butir 27 KUHAP yang dimaksud dengan keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, ia alami sendiri. Keterangan saksi sebagai alat bukti dinyatakan dalam Pasal 185 ayat (1) KUHAP yang menyebutkan bahwa keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan. Dengan kata lain yang sah menjadi suatu keterangan saksi adalah ketika seorang saksi menyatakan keterangannya di muka sidang pengadilan.

Syarat sahnya keterangan saksi menurut M. Yahya Harahap, antara lain:

a) Harus mengucap janji atau sumpah

Dalam Pasal 160 ayat (3) KUHAP telah diatur bahwa sebelum saksi memberikan keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji yang dilakukan menurut cara agamanya masing-masing. Masih dengan pasal yang sama, dijelaskan pula pada prinsipnya bahwa sumpah diucapkan sebelum saksi memberikan keterangan akan tetapi di dalam Pasal 160 ayat (4) KUHAP memberikan kemungkinan bahwa sumpah atau janji dapat dilakukan setelah saksi memberikan keterangan.

b) Keterangan saksi yang bernilai sebagai alat bukti

Tidak semua keterangan saksi mempunyai nilai sebagai alat bukti. Keterangan saksi yang mempunyai nilai alat bukti adalah keterangan yang sesuai dengan Pasal 1 butir 27 KUHAP yaitu keterangan yang saksi lihat sendiri, saksi dengar sendiri, saksi alami sendiri, serta menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu. commit to user

(14)

c) Keterangan saksi harus diberikan di sidang pengadilan

Agar suatu keterangan saksi dapat dinilai sebagai alat bukti, keterangan tersebut harus dinyatakan di muka sidang pengadilan, hal ini sesuai dengan Pasal 185 ayat (1) KUHAP. Keterangan yang dinyatakan di luar sidang pengadilan bukan alat bukti sehingga tidak dapat dipergunakan untuk membuktikan kesalahan terdakwa.

d) Keterangan seorang saksi saja dianggap tidak cukup

Berdasarkan Pasal 185 ayat (2), keterangan seorang saksi saja belum cukup dianggap sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa (asas unus testis nullus testis).

Namun apabila terdakwa memberikan keterangan yang mengakui kesalahan yang didakwakan kepadanya maka dalam hal ini keterangan seorang saksi sudah cukup.

Nilai kekuatan pembuktian dari keterangan saksi menurut M.

Yahya Harahap, diantaranya; (M. Yahya Harahap, 2012: 294) a) Mempunyai kekuatan pembuktian bebas

Pada alat bukti kesaksian “tidak melekat sifat pembuktian yang sempurna” (volledig bewijskracht) dan juga tidak melekat di dalamnya sifat kekuatan pembuktian yang mengikat dan menentukan (beslissende bewijskracht). Tegasnya, alat bukti kesaksian sebagai alat bukti yang sah mempunyai nilai kekuatan pembuktian “bebas”. Oleh karena itu, alat bukti kesaksian sebagai alat bukti yang sah, tidak mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna dan juga tidak memiliki kekuatan pembuktian yang menentukan, atau dengan singkat dapat dikatakan, alat bukti kesaksian sebagai alat bukti yang sah adalah bersifat bebas dan

“tidak sempurna” dan tidak “menentukan” atau “tidak mengikat”.

b) Nilai kekuatan pembuktiannya tergantung pada penilaian hakim Alat bukti keterangan saksi sebagai alat bukti yang bebas,

commit to user

(15)

tidak menentukan, sama sekali tidak mengikat hakim. Hakim bebas untuk menilai kesempurnaan dan kebenarannya.

Tergantung pada penilaian hakim untuk menganggapnya sempurna atau tidak. Tidak ada keharusan bagi hakim untuk menerima kebenaran setiap keterangan saksi. Hakim bebas menilai kekuatan atau kebenaran yang melekat pada keterangan itu, dan dapat “menerima” atau “menyingkirkannya”.

Oleh karena itu, ada atau tidaknya salah satu alat bukti yang diatur dalam KUHAP, tidak menjadi hambatan pemeriksaan suatu tindak pidana, asalkan tetap ada alat bukti yang sah lainnya (yang diatur KUHAP) setidak-tidaknya dua alat bukti, dimana dari alat bukti tersebut, hakim dapat memperoleh keyakinan tentang suatu tindak pidana.

2) Keterangan Ahli

Sesuai dengan Pasal 1 butir 28 KUHAP yang dimaksud dengan keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.

Keterangan ahli sebagai alat bukti dinyatakan dalam Pasal 186 KUHAP yang menyebutkan bahwa keterangan ahli sebagai alat bukti ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Keterangan ahli harus merupakan keterangan yang diberikan oleh seseorang yang mempunyai keahlian khusus, tentang suatu yang ada hubungannya dengan perkara pidana yang sedang diperiksa.

Sedangkan keterangan yang diberikan seorang ahli, tapi tidak mempunyai keahlian khusus tentang suatu keadaan yang ada hubungannya dengan perkara pidana yang bersangkutan, tidak mempunyai nilai sebagai alat bukti yang sah menurut undang-undang.

Tata cara dan bentuk keterangan ahli yang diperlukan di sidang pengadilan menurut M. Yahya Harahap, antara lain:

commit to user

(16)

a) Apabila dianggap perlu dan dikehendaki baik oleh ketua sidang karena jabatannya, maupun atas permintaan penuntut umum, terdakwa atau penasihat hukum, dapat meminta pemeriksaan keterangan ahli dalam pemeriksaan di sidang pengadilan.

b) Keterangan ahli menurut tata cara ini berbentuk keterangan lisan dan secara langsung diberikan dalam pemeriksaan sidang pengadilan.

c) Bentuk keterangan lisan secara langsung dicatat dalam berita acara pemeriksaan.

d) Dan untuk itu ahli yang memberikan keterangan lebih dahulu mengucap sumpah sebelum memberi keterangan.

e) Dengan dipenuhinya tata cara dan bentuk keterangan yang demikian, bentuk keterangan ahli tersebut menjadi alat bukti yang sah menurut undang-undang dan sekaligus keterangan ahli yang seperti ini mempunyai kekuatan pembuktian.

Alat bukti keterangan ahli tidak mempunyai nilai kekuatan yang mengikat dan menentukan. Maka dari itu nilai kekuatan pembuktian keterangan ahli sama halnya dengan nilai kekuatan pembuktian yang terdapat pada alat bukti saksi. Berikut nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti keterangan ahli:

a) Mempunyai nilai kekuatan pembuktian bebas atau vrij bewijskrachf.

Di dalam dirinya tidak melekat nilai kekuatan pembuktian yang sempurna dan menentukan. Terserah pada penilaian hakim bebas menilai dan tidak terikat kepadanya. Tidak ada keharusan bagi hakim untuk mesti menerima kebenaran keterangan ahli dimaksud. Hakim dalam menggunakan wewenang kebenaran dalam penilaian pembuktian, harus benar-benar bertanggungjawab, atas landasan moral dan kebenaran sejati demi tegaknya hukum serta kepastian hukum.

commit to user

(17)

Bahwa keterangan seorang saksi saja tidka cukup membuktikan kesalahan terdakwa, oleh karena itu keterangan ahli dapat dianggap cukup membuktikan kesalahan terdakwa harus disertai dengan alat bukti lain. (Edmon Makarim, 2004:

436) 3) Surat

Yang dimaksud alat bukti surat menurut Pasal 187 KUHAP adalah surat yang dibuat oleh pejabat resmi yang berbentuk berita acara, akta, surat keterangan atau surat lain yang mempunyai hubungan dengan perkara yang sedang diproses. Nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti surat ditinjau dari segi teori dan dihubungkan dengan beberapa prinsip pembuktian yang diatur dalam KUHAP yaitu:

a) Ditinjau dari segi formal

Ditinjau dari segi formal, alat bukti surat yang disebut pada Pasal 187 huruf a, b dan c adalah alat bukti “sempurna”. Sebab bentuk-bentuk surat yang disebut di dalamnya dibuat secara resmi menurut formalitas yang ditentukan peraturan perundang- undangan. Dengan dipenuhinya ketentuan formal dalam pembuatannya serta dibuat dan berisi, keterangan resmi dari seorang pejabat yang berwenang, dan pembuatan serta keterangan yang terkandung dalam surat dibuat atas sumpah jabatan maka ditinjau dari segi formal alat bukti surat seperti yang disebut 187 huruf a, b dan c KUHAP adalah alat bukti yang bernilai sempurna. Oleh karena itu alat bukti surat resmi mempunyai nilai “pembuktian formal yang sempurna”

b) Ditinjau dari segi materiil

Dari sudut materiil, semua bentuk alat bukti surat yang disebut dalam 187 KUHAP bukan alat bukti yang mempunyai kekuatan mengikat. Pada diri alat bukti surat itu tidak melekat kekuatan pembuktian yang mengikat. Nilai kekuatan pembuktian commit to user

(18)

alat bukti surat, sama halnya dengan nilai kekuatan pembuktian keterangan saksi dan alat bukti keterangan ahli, sama – sama mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang bersifat bebas.

Tanpa mengurangi sifat kesempurnaan formal alat bukti surat yang disebut pada Pasal 187 huruf a, b dan c KUHAP sifat kesempurnaan formal tersebut tidak dengan sendirinya mengandung nilai kekuatan pembuktian yang mengikat. Hakim bebas untuk menilai kekuatan pembuktiannya, dan hakim dapat mempergunakan atau menyingkirkannya.

Agar alat bukti surat menurut Pasal 187 KUHAP mempunyai kekuatan mengikat maka harus memenuhi ketentuan Pasal 185 ayat (4) KUHAP yang menjelaskan bahwa alat bukti surat harus bersesuaian dengan alat bukti lain seperti keterangan saksi, dan 45 keterangan terdakwa. Kekuatan pembuktian pada alat bukti surat termasuk alatbukti yang lainnya mempunyai kekuatan pembuktian yang bebas, artinya hakim tidak terikat untuk menggunakan alat bukti surat sebagai dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan Putusan.

4) Petunjuk

Berdasarkan Pasal 188 ayat (1) KUHAP yang dimaksud dengan alat bukti petunjuk ialah perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana dan siapa pelakunya. Menurut Pasal 188 ayat (2), petunjuk hanya dapat diperoleh dari:

a) Keterangan saksi;

b) Surat; dan

c) Keterangan terdakwa

Menurut Pasal 188 ayat (3) KUHAP bahwa penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilaksanakan oleh hakim dengan arif dan bijaksana, setelah

(19)

hakim melakukan pemeriksaan dengan cermat dan keseksamaan berdasarkan hati nuraninya.

Alat bukti petunjuk memiliki sifat kekuatan pembuktian yang bebas, maksudnya:

a) Hakim tidak terikat pada kebenaran persesuaian yang diwujudkan oleh petunjuk, maka dari itu hakim bebas menilainya dan menggunakannya sebagai upaya pembuktian b) Petunjuk sebagai alat bukti tidak bisa berdiri sendiri untuk

membuktikan kesalahan terdakwa, maka agar petunjuk mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang cukup, harus didukung dengan sekurang-kurangnya satu alat bukti yang lain.

5) Keterangan Terdakwa

Yang dimaksud dengan keterangan terdakwa sesuai dengan Pasal 189 ayat (1) KUHAP ialah yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri.

Sesuai dengan Pasal tersebut di atas maka keterangan terdakwa yang dapat dinilai sebagai alat bukti ialah harus memenuhi persyaratan sebagi berikut:

a) Keterangan itu dinyatakan di sidang pengadilan

Di mana seorang keterangan terdakwa dapat dinilai sebagai alat bukti ketika keterangan tersebut dinyatakan di sidang pangadilan. Namun sesuai dengan Pasal 189 ayat (2) KUHAP menyatakan bahwa keterangan terdakwa yang diberikan di luar persidangan dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.

b) Tentang perbuatan yang ia lakukan atau ia ketahui atau ia alami sendiri.

commit to user

(20)

Supaya keterangan terdakwa dapat dinilai sebagai alat bukti, keterangan tersebut harus memuat pernyataan tentang:

(1) Perbuatan yang dilakukan terdakwa;

(2) Apa yang diketahui sendiri oleh terdakwa;

(3) Apa yang dialami sendiri oleh terdakwa.

c) Keterangan terdakwa merupakan alat bukti bagi dirinya sendiri Sesuai dengan Pasal 189 ayat (3) KUHAP menyatakan bahwa keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri. Semua hal yang dinyatakan oleh seseorang dalam persidangan yang kedudukannya sebagai terdakwa, hanya dapat digunakan sebagai alat bukti terhadap dirinya sendiri. Jika dalam suatu perkara pidana terdapat beberapa terdakwa, masing-masing keterangan setiap terdakwa hanya merupakan alat bukti yang mengikat pada dirinya sendiri.

d) Keterangan terdakwa saja tidak cukup membuktikan kesalahannya.

Berdasarkan Pasal 189 ayat (4) KUHAP menyatakan bahwa keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lainnya.

3. Tinjauan tentang Saksi Mahkota

Ketentuan secara jelas mengenai saksi mahkota dapat kita temukan dalam Pasal 200 Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP) Tahun 2010 yang menempatkan Saksi Mahkota pada Bagian Ketujuh dana sub judul secara tersendiri.

Istilah saksi mahkota ditemukan dalam praktek hukum acara pidana yang salah satunya bersumber dari Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1986 K / Pid / 1989 tertanggal 21 Maret 1990 dalam perkara pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Abdurahman dan teman-temannya sebagaimana

(21)

dimaksud dalam Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Dalam Putusan tersebut Mahkamah Agung berpendapat sebagai berikut :

“Bahwa jaksa penuntut umum diperbolehkan oleh Undang-Undang untuk mengajukan teman terdakwa yang ikut serta melakukan tindak pidana tersebut, sebagai saksi di persidangan pengadilan negeri, dengan syarat bahwa saksi ini dalam kedudukannya sebagai terdakwa tidak termasuk dalam “satu berkas perkara” dengan terdakwa yang diberikan kesaksian (gesplit). Teman terdakwa yang diajukan sebagai saksi terhadap terdakwa lainnya seperti disebutkan diatas dalam ilmu hukum disebut “saksi mahkota” atau “Kroon Getuige”.

Maka dengan demikian pendapat Mahkamah Agung tersebut memperbolehkan menggunakan saksi mahkota dengan syarat “terdakwa tidak termasuk satu berkas perkawa dengan terdakwa yang diberikan kesaksian”, maksudnya jaksa penuntut umu harus melakukan splitsing perkara terlebih dahulu kemudian salah satu terdakwa dijasikan sebagai saksi, dan terhadap saksi tersebut diberikan status “mahkota”

Dengan demikian sesungguhnya istilah saksi mahkota ini lahir dari perkembangan praktek pelaksanaan Pasal 142 KUHAP tentang pemisahan perkara oleh penuntut umum (splitsing). Pasal 142 KUHAP menegaskan bahwa dalam hal penuntut umum menerima satu berkas perkara yang memuat beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka yang tidak termasuk ketentuan Pasal 141, penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap masing-masing terdakwa secara terpisah.

Di Indonesia, saksi yang juga sekaligus sebagai pelaku ini dikenal dengan beberapa istilah, antara lain:

a. Saksi Tersangka, diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 31 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban;

b. Saksi Pelaku yang bekerjasama atau justice collaborator, sebagaimana diatur dalam Surat Edara Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011;

commit to user

(22)

c. Saksi Pelaku yang bekerjasama yang diatur dalam Peraturan Bersama Kementrian Hukum dan HAM, Polri, Kejaksaan Agung, KPK, dan LPSK; dan

d. Saksi Mahkota di dalam Rancangan KUHAP Tahun 2010.

Saksi mahkota dalam Bahasa Inggris digunakan istilah crown witness sedangkan dalam Bahasa Belanda digunakan istilah kroon getuige. Kedua istilah tersebut jika diterjemahkan secara bebas dalam Bahasa Indonesia memiliki makna “saksi mahkota”. Mengenai asal usul istilah saksi mahkota menurut Andi Hamzah, saksi mahkota dikenal dalam praktek pengadilan di Nederland, yaitu salah seorang terdakwa yang paling ringan peranannya dalam pelaksanaan kejahatan itu, misalnya delik narkoba atau terorisme dikeluarkan dari daftar terdakwa dan dijadikan saksi. Dasar hukumnya ialah asas oportunitas yang ada di tangan jaksa untuk menuntut atau tidak menuntut seseorang ke pengadilan baik dengan syarat maupun tanpa syarat.

Menurut Loebby Loqman, saksi mahkota adalah kesaksian sesame terdakwa, yang biasanya terjadi dalam peristiwa penyertaan. Saksi mahkota dapat didefinisikan adalah saksi yang berasal dan / atau diambil dari salah seorang atau lebih tersangka atau terdakwa lainnya yang sama-sama melakukan perbuatan pidana dan dalam hal mana saksi tersebut diberikan mahkota.

Sejalan dengan definisi tersebut, Syaiful Bahri menjelaskan bahwa pada hakikatnya saksi mahkota adalah saksi yang diambil dari salah seorang tersangka / terdakwa yang kepadanya diberikan suatu mahkota.

Menurut Lilik Mulyadi, mengenai saksi mahkota tidak terdapat definisi yang otentik dalam ketentuan KUHAP, namun berdasarkan perspektif empirik maka saksi mahkota didefinisikan sebagai saksi yang berasal atau diambil dari salah seorang tersangka atau terdakwa lainnya yang bersama-sama melakukan tindak pidana, dan dalam hal mana kepada saksi tersebut diberikan mahkota.

Adapun mahkota yang diberikan kepada saksi yang berstatus terdakwa tersebut adalah dalam bentuk ditiadakan penuntutan terhadap perkaranya atau

commit to user

(23)

dilimpahkan ke pengadilan atau dimaafkan atas kesalahan yang pernah dilakukan.

Selanjutnya M. Yahya Harahap, memberikan pengertian saksi mahkota adalah saksi yang juga merupakan terdakwa pada kasus yang sama di pengadilan rekannya yang merupakan sesama terdakwa. Keterangannya dijadikan sebagai alat bukti kesaksian yang sah secara timbal balik, dimana berkas perkara harus dipisah (di split).

Disisi lain, Andi Hamzah mengemukakan definisi atau pengertian dari saksi mahkota adalah seorang terdakwa (biasanya yang paling ringan kesalahannya) dijadikan (dilantik) menjadi saksi, dan diberi mahkota, yang tidak akan dijadikan terdakwa lagi. Atau lebih mudahnya bahwa saksi mahkota adalah seorang terdakwa menjadi saksi bagi terdakwa lainnya yang kedudukannya sebagai terdakwa dilepaskan (terdakwa yang mengkhianati temannya). Pengertian ini berdasarkan atas praktek dan peraturan perundang- undangan yang terdapat di Negara Perancis dan Belanda. Penarikan seorang terdakwa menjadi saksi, terlebih dahulu diberi janji-janji seperti akan diperingan hukumannya atau bahkan dibebaskan, apabila bersedia membongkar kejahatan yang dilakukan oleh teman-temannya. Pemeriksaan di depan sidang pengadilan atas terdakwa (yang menjadi saksi mahkota) dilakukan setelah hakim memberikan putusan terhadap terdakwa-terdakwa lainnya. (Loebby Loqman, 1995: 6-7)

Pasal 168 huruf (c) KUHAP merupakan aturan dasar tentang larangan pihak yang bersama-sama sebagai terdakwa didengar keterangannya sebagai saksi, dan dengan demikian maka terdakwa tersebut dapat mengundurkan diri sebagai saksi. Namun dalam perkembangannya, maka petunjuk tentang saksi mahkota sebagai alat bukti dalam perkara pidana diatur dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1986 K /Pid/1989 tanggal 21 Maret 1990. (Loebby Loqman, 1995: 19)

Dalam yurisprudensi Mahkamah Agung tersebut dijelaskan bahwa Mahkamah Agung tidak melarang apabila jaksa penuntut umum mengajukan saksi mahkota di persidangan dengan syarat bahwa saksi ini dalam commit to user

(24)

kedudukannya sebagai terdakwa tidak termasuk dalam satu berkas perkara dengan terdakwa yang diberikan kesaksian. (Loebby Loqman, 1995: 25)

Selain itu, dalam yurisprudensi tersebut juga telah diberikan suatu definisi tentang saksi mahkota, yaitu teman terdakwa yang melakukan tindak pidana bersama-sama diajukan sebagai saksi untuk membuktikan dakwaan penuntut umum, yang perkara diantaranya dipisah, karena kurangnya alat bukti. (M. Sofyan Lubis, 1990: 1)

Berdasarkan uraian diatas, maka pengajuan saksi mahkota sebagai alat bukti dalam perkara pidana didasarkan pada kondisi-kondisi tertentu, yaitu dalam hal adanya perbuatan pidana penyertaan, dan terhadap bentuk perbuatan pidana penyertaan tersebut diperiksa dengan mekanisme pemisahan (splitsing), serta apabila dalam bentuk penyertaan dalam tindak pidana tersebut masih terdapat kekurangan alat bukti, khususnya keterangan saksi. Hal ini bertujuan agar terdakwa tidak terlepas dari pertanggung jawabannya sebagai pelaku perbuatan pidana. (Loebby Loqman, 1995: 27)

4. Tinjauan tentang Asas Non Self Incrimination

Asas non self incrimination adalah hak terdakwa untuk tidak mengkriminalkan atau mempersalahkan dirinya sendiri dalam suatu kasus persidangan yang ia jalani. Pengakuan adanya “non self incrimination”

disebutkan melalui Pasal 189 ayat (3) KUHAP, yang berbunyi keterangan terdakwa hanya dapat dipergunakan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan hal ini maka tersangka atau terdakwa mempunyai hak untuk tidak mempermasalahkan dirinya sendiri sejak proses penyidikan sampai dengan proses persidangannya di Pengadilan. Sehingga jelaslah bahwa, apabila kedudukan seorang tersangka atau terdakwa dalam suatu berkas perkara terpisah ditarik sebagai saksi namun mengenai tindak pidana yang sama adalah melanggar hak tersangka atau terdakwa mengenai asas “non self incrimination”.

Kemudian secara tegas asas mengenai non self incrimination ini diatur dalam Pasal 14 ayat (3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang

commit to user

(25)

menyatakan bahwa terdakwa tidak boleh dipaksa mengaku bersalah, maka berdasarkan hal tersebut seorang tidak dapat dipaksa bersakksi dan memberikan keterangan bagi pemeriksaan atas dirinya termasuk hak untuk bebas dari paksaan untuk mengaku bersalah. Hal ini berarti terdakwa mempunyai hak untuk tidak mempersalahkan dirinya sendiri sejak proses penyidikan sampai proses persidangan di pengadilan.

Sejatinya tidak ada ketentuan hukum di Indonesia yang secara spesifik mengatur asas non self incrimination ini, namun pada Pasal 66, 169 dan 175 KUHAP merupakan pasal yang merujuk pada asas tersebut, yang mana dinyatakan bahwa terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian. Sehingga kaitannya dengan penelitian ini adalah bahwa kedudukan tersangka atau terdakwa yang juga dijadikan sebagai saksi pada berkas perkara yang terpisah akankah nantinya bertentangan dengan asas non self incrimination ini mengingat berdasarkan asas ini, seorang terdakwa tidak memiliki beban pembuktian dan terdakwa diberikan hak untuk tidak menjerat atau mengkriminalkan dirinya sendiri pada saat persidangan.

5. Tinjauan tentang Tindak Pidana Penadahan a. Pengertian Tindak Pidana Penadahan

Penadahan berasal dari kata “tadah” yang pada kamus besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa tadah adalah wadah yang dipakai untuk menampung sesuatu yang jatuh atau dilemparkan, menampung, menerima barang hasil curian (untuk menjualnya lagi).

Menurut Andi Hamzah, dalam terminologi hukum pidana, penadahan adalah perbuatan yang sengaja mendapatkan keuntungan atas barang yang berasal dari kejahatan, dengan cara membeli, menjual, menyewa, menyewakan, menerima gadai, menggadaikan, mengangkut, menyimpan barang.

Tindak pidana penadahan telah diatur di dalam Bab XXX dari buku II KUHP sebagai tindak pidana pemudahan. Menurut Prof. Satochid Kartanegara, tindak pidana penadahan menadah telah mendorong orang lain untuk melakukan kejahatan-kejahatan yang mungkin saja tidak akan commit to user

(26)

ia lakukan, seandainya tidak ada orang yang bersedia menerima hasil kejahatan. (P. A. F. Lamintang Theo Lamintang, 2009: 362)

Sedangkan pengertian penadahan menurut Pasal 480 KUHPidana:

1. Barang siapa membeli, menawarkan, menukar, menerima gadai, menerima sebagai hadiah, atau karena ingin mendapat keuntungan, menjual, menukarkan, mengadaikan, membawa, menyimpan atau menyembunyikan, menyewakan suatu benda, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa diperoleh dari kejahatan.

2. Barang siapa menarik keuntungan dari hasil suatu benda, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa diperoleh dari kejahatan.

Penadahan merupakan bagian terakhir dari kejahatan terhadap harta kekayaan yang dimuat dalam Bab XXX KUHPidana, tentang delik pemberi bantuan sesudah terjadi kejahatan. Penadahan bertindak hampir selalu untuk memperkaya diri dengan satu atau lain yang tidak dapat diizinkan, jadi mengambil keuntungan dari kejahatan yang dilakukan oleh orang lain. Penadahan selalu berkaitan dengan barang yang “diperoleh dari kejahatan” dan merupakan salah satu kejahatan terhadap harta kekayaan.

Pada Pasal 481 KUHPidana mengenai penadahan sebagai mata pencarian berbunyi: (Andi Hamzah, 2010: 133)

1. Barang siapa menjadikan sebagai kebiasaan untuk sengaja membeli, menerima gadai, menyimpan, atau menyembunyikan barang yang diperoleh dari kejahatan, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

2. Yang bersalah dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan. Kebiasaan menurut Hoge Raad 11 Februari 1991 berdasarkan pengulangan perbuatan dalam jangka waktu yang patut.

Untuk menjadi pelaku tindak pidana penadahan tidak mesti menunggu pencuri diadili lebih dulu. Dalam hal ini apabila dipandang cukup dengan telah terbuktinya ada orang yang kecurian dan barang- barang ada pada penadah maka pelaku sudah dapat untuk diadili.

(27)

Jadi pengertian penadahan adalah perbuatan secara sadar menerima barang dari seseorang yang berasal hasil tindak pidana pencurian ataupun dari suatu kejahatan tertentu

b. Bentuk Tindak Pidana Penadahan

Adapun tindak pidana penadahan diatur dalam KUHPidana dalam Pasal 480-482 dengan bentuk-bentuk tindak penadahan antara lain: (R.

Soesilo, 1995: 314-316)

1) Penadahan dalam bentuk pokok (Pasal 480 KUHPidana) Pada Pasal 480 KUHPidana diatur sebagai berikut:

Dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 900,- dihukum;

1. Karena sebagai sekongkol, barang siapa membeli, menyewa, menukar, menerima gadai, menerima hadiah atau karena mendapat untung, menyimpan atau menyembunyikan sesuatu barang, yang diketahuinya atau yang patut disangkanya diperolah karena kejahatan.

2. Barang siapa yang mengambil keuntungan dari hasil sesuatu, yang diketahuinya atau yang patut harus disangkanya barang itu diperoleh karena kejahatan.

2) Penadahan sebagai kebiasaan (Pasal 481 KUHPidana) Pasal 481 KUHPidana sebagai berikut:

1. Barang siapa yang membuat kebiasaan dengan sengaja membeli, menukarkan, menerima gadai, menyimpan atau menyembunyika benda, yang diperoleh karena kejahatan, dihukum penjara selama-lamanya tujuh tahun.

2. Sitersalah itu dapat dicabut haknya yang tersebut dalam Pasal 35 No. 1 – 4 dan dapat dipecat dari menjalankan pekerjaan yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan itu (K.U.H.P.

35, 480, 486, 517).

3) Penadahan ringan (Pasal 482 KUHPidana)

Pada Pasal 482 KUHPidana diatur sebagai berikut:

Perbuatan yang diterangkan dalam Pasal 480 itu dihukum sebagai tadah ringan, dengan hukuman penjara selamalamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 900,-, jika barang itu diperoleh karena salah satu kejahatan, yang diterangkan dalam Pasal 364, 373,

379. commit to user

(28)

c. Unsur-unsur Tindak Pidana Penadahan

Adapun unsur-unsur tindak pidana penadahan menurut Pasal 480 angka 1 KUHPidana antara lain: (R. Soesilo, 1995: 314)

1) Unsur-unsur objektif:

a) Perbuatan kelompok 1, yakni:

(1) Membeli (2) Menyewa (3) Menukar

(4) Menerima gadai

(5) Menerima hadiah, atau kelompok 2 Untuk menarik keuntungan:

(1) Menjual;

(2) Menyewa;

(3) Menukar;

(4) Menggadaikan;

(5) Mengangkut;

(6) Menyimpan;

(7) Menyembunyikan.

b) Objek: suatu benda

c) Yang diperoleh dari suatu kejahatan.

2) Unsur-unsur subjektif:

a) Yang diketahuinya, atau

b) Yang sepatutnya dapat diduga bahwa benda itu diperoleh dari kejahatan.

(29)

B. Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Keterangan:

Kerangka pemikiran tersebut menjelaskan pemikiran penulis dalam menganalisis, menjabarkan, dan menemukan jawaban atas permasalahan hukum yang dikaji berupa kedudukan saksi mahkota dalam tindak pidana penadahan dengan terdakwa bernama Sukma Arianto alias Glendoh yang tertuang pada pada Putusan Nomor 167/Pid. B/ 2019/PN Skt. Kehadiran saksi mahkota adalah untuk mengungkap secara terang-benderang tentang tindak pidana yang terjadi, karena ia mengetahui dengan pasti terjadinya tindak pidana sejak perencanaan, hingga pelaksanaan bahkan mengetahui pemanfaatan hasil kejahatan. Jadi peran saksi mahkota disini adalah untuk membuktikan di depan persidangan pengadilan bahwa ia bersama para pelaku lainnya telah melakukan tindak pidana di suatu tempat, pada waktu, dan dengan cara tertentu dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Sehingga keterangan itu menjadi memenuhi syarat minimal pembuktian dan hakim yakin bahwa para terdakwalah yang bersalah melakukan tindak pidana, guna menemukan kebenaran materil. Agar proses pembuktian berlangsung dengan cepat dan sederhana, hakim memperbolehkan jaksa penuntut umum untuk mengajukan saksi mahkota dengan cara splitsing perkara. Namun keberadaan saksi mahkota di dalam proses peradilan menimbulkan banyak kontroversi. Kontroversi tersebut disebabkan antara lain karena status legal formal saksi mahkota yang commit to user

(30)

tidak diatur secara tegas oleh KUHAP, saksi mahkota secara esensial adalah tersangka atau terdakwa, pemeriksaan terhadap saksi mahkota akan mengalihkan beban pembuktian dari jaksa penuntut umum kepada tersangka atau terdakwa, tersangka sebagai saksi harus memberikan keterangan meskipun keterangan itu akan memberatkan dirinya sendiri (self incrimination). Maka dari itu penulis mencoba mengetahui kedudukan saksi mahkota dalam tindak pidana penadahan (Studi Putusan Nomor 167/Pid.B/2019/PN Skt).

Gambar

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran  Keterangan:

Referensi

Dokumen terkait

12,18,20 Mekanisme ini seperti yang dijelaskan pada penelitian yang dilakukan oleh Ita Zuraida, yang menyatakan bahwa kandungan senyawa fenol dan turunannya dalam asap cair

:ari pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam yang dilakukan terhadap enaah tersebut sangat mendukung bah$a kematiannya disebabkan oleh tenggelam" Hni diperkuat lagi

Disamping itu juga sebagai informasi dalam menyusun ransum dengan menggunakan tepung darah sebagai pakan tambahan alternatif sumber protein pada ternak kambing untuk meningkatkan

06/KPTS/DPRD-SARMI/PIMP/2005 tanggal 12 September 2005 tentang Persetujuan Ibu kota Kabupaten Mamberamo Raya, Rekomendasi Bupati Waropen Nomor 136/125/SET pada tanggal 26 Oktober

Segara Timber adalah pada yaitu pada On Product yang telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta produk yang menggunakan tanda/logo V-Legal tersebut bukan

Karakteristik siswa yang akan diajar juga turut diperhatikan oleh guru Pendidikan Agama Islam di MAN 1 Mojokerto dalam mendesain model pembelajaran yang kreatif. Kemudian

Nilai ekspor produk-produk DKI Jakarta bulan Oktober 2007 mencapai 594,97 juta dollar Amerika, menurun sebesar 19,87 persen dari bulan September 2007 yang mencapai 742,54 juta