• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAHRUL ROZI. Kontak: (Whatsapp)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAHRUL ROZI. Kontak: (Whatsapp)"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)FAHRUL ROZI. 1.

(2) FAHRUL ROZI Kontak:  . [email protected] 081287211201 (Whatsapp). ○Hubungi dengan cara yang sopan, di waktu yang pantas, dan sabar menunggu balasan. ○Jika syarat di atas tidak dipenuhi → saya tidak akan balas..

(3) KOORDINATOR KELAS?.

(4) KONTRAK BELAJAR  .    . . Kelas online melalui ………. Jika mahasiswa tidak hadir dari waktu yang telah ditentukan sebanyak 4 kali, maka tidak diabsen dan nilai tidak dapat diinput Berpakaian rapi Saat presentasi wajib menunjukkan muka secara online Berpartisipasi aktif dalam proses perkuliahan Terlambat mengumpulkan tugas dari waktu yang telah disepakati bersama → tidak diterima = tidak dapat diinput nilai Akan ada kuis tentang eksperimen dan statistik. Jika nilai K → Remedial.

(5) WAKTU BELAJAR Waktu Belajar A. Waktu Belajar B. 08.15 - 10.15. 08.15 - 12.30. 10.45 - 13.00.

(6) ILMU PENGETAHUAN  Ilmu metode2 ilmiah  Ilmu tentang Tehnik/Metode Ilmu Pengetahuan  PERLUNYA DIPELAJARI, karena:  Supaya tahu bagaimana berpikir ilmiah  Tahu bagaimana proses ilmiah  Tahu bertolak darimana bekerja ilmiah  Tahu bagaimana pengambilan keputusan yang ilmiah.  jadi kita belajar “membangun sikap ilmiah” bukan. hanya menerima “Knowledge” saja, karena knowledge (pengetahuan) berbeda dengan Science (Ilmu Pengetahuan). 6.

(7) ILMIAH :  Diobservasi, diukur, obyektif, kuantitatif Khususnya dalam Psikologi,PERLU DISADARI KAIDAH2 ILMIAH ini, karena:  Sejarahnya.  yaitu berasal dari filsafat dimana pendekatannya adalah kualitatif. Karena sekarang psikologi sudah menjadi suatu ilmu maka diperlukan adanya dasar-dasar ilmiah. 7.

(8)  Dekat dengan kehidupan sehari-hari,.  sehingga sukar melihat batas2 nya (mana yang hanya “pengetahuan psikologi”, dan mana yang “berilmu psikologi”) Jadi dalam penulisan maupun pemberian konsultasi harus didasarkan pada kaidah2 ilmiah dalam psikologi. Misal: . Hukum LAW Of EFFECT :.  yaitu orang cenderung mengasosiasikan hal2 yang enak/menyenangkan dan mendissosiasikan hal2 yang tidak menyenangkan. . Reward & Punishment 8.

(9)  Kedekatan hubungan dengan Parapsikologi:.  yaitu ilmu yang mendekati Psikologi (ilmu Semu)  misalnya: Palmistry, Astrologi, Phrenologi etc. Jadi kita harus bisa membedakan keduanya  Obyeknya yang khusus yaitu “INTANGIBLE”  Sulit diamati  Sulit diukur  Sulit Obyektif, cenderung subyektif  Berubah, Osilasi/bergeser2 (mis: konsentrasi) 9.

(10) Contoh2 GEJALA Psikologi: (tidak terlihat, tidak teraba)  Tingkah laku yang covert. misal: berkhayal gejalanya biasanya adalah Partial Indication orang menangis belum tentu karena sedih  Mengukur intelegensi & kepribadian. diilmiahkan dengan eksperimen  baik persepsi, kesan maupun prasangka  Gejalanya dapat berubah. bergeser dari batas yang telah ditentukan atau berosilasi  masih ada disekitar batas yang ditentukan 10.

(11) OBTAIN SCORE.  score yang diperoleh dari pengukuran (hasil pengukuran)  Penjelasan mengenai gejala2 dapat dilihat secara: - COMMONSENSE:  awam  praktis sehari-hari - ILMIAH:  menggunakan metode ilmiah 11.

(12) REAL SCORE:.  score yang sebenarnya tanpa faktor error  Diantara keduanya ada penjelasan yang bersifat mistis atau magis  Asumsi psikologi: Obtain Score tidak pernah sama dengan Real Score/ True Score  akan selalu ada Error Score  Hasil pengukuran Psikologi bukan didapat dari satu score tetapi dari Range Score dan tidak pernah Real score contoh: Intelegensi tidak akan sama setiap kali diukur, tergantung pada keadaan mental & fisik obyek yang diteliti. 12.

(13)  TIMBULNYA ILMU PENGETAHUAN, karena:  Sesuatu tidak jelas, gelap, pertanyaan  jadi problem.  Ingin penjelasan  Dugaan2  HIPOTESIS, dapat bersifat:. - Awam : hanya menduga2 saja - Ilmiah : atas dasar ilmiah - Dugaan yang berfakta  Fakta yang benar . DUGAAN: Jawaban problem yang masih. diduga/dicoba tanpa didukung oleh fakta 13.

(14)  Jawaban problem yang masih diduga/dicoba tanpa didukung oleh fakta  PENYEBAB BERKEMBANGNYA ILMU PENGETAHUAN:  Karena adanya Problem yang menginginkan jawaban.  jadi harus ada Motivasi mencari jawaban.. Problem. Hipotesis. Jawaban. Motivasi. 14.

(15)  CIRI DUNIA ILMU PENGETAHUAN:  Hipotesis makin besar, sehubungan dengan fakta yang. semakin luas sehingga common sense makin menyempit  Tanpa adanya motivasi tidak akan sampai pada hipotesis.  CIRI KHAS dari: . ILMUWAN.  selalu menginginkan jawaban atas problem . AWAM.  mengabaikan/ mengacuhkan saja problem yang dihadapi  lebih cepat puas. 15.

(16)  SEBELUM BERILMU PSIKOLOGI, kita harus mengetahui ILMU PENGETAHUAN secara. umum dulu   . Ilmu pengetahuan (Science) Psikologi = ilmu pengetahuan Psike Pengetahuan.  PSIKOLOGI.  Ilmu pengetahuan yang memperlajari tingkah laku manusia. 16.

(17) TINGKAH LAKU dapat BERSIFAT: . OVERT.  motorik (tampak luar)  dapat diobservasi dengan mudah . COVERT.  tidak tampak  seperti:  berpikir (thinking  mengingat (remember).  berasosiasi (sad, lonely)  emosi ( scare, helpless)  berkhayal etc 17.

(18) Perilaku Covert harus distimulasikan dulu agar dapat menjadi Perilaku Overt  supaya bisa diukur secara psikologis BAGAIMANA CARANYA ?????  Ditampilkan & Dirangsang  Salah satu caranya adalah dengan Test . TEST.  suatu rangkaian susunan pertanyaan yang dibuat untuk mampu menampilkan gejala inventory yang mampu mengukur gejala tersebut.. 18.

(19)  Karena adanya MOTIVASI, maka manusia selalu:  ingin mengerti  mencari penjelasan  mengendalikan: benda & kejadian  dilingkungan.   untuk itu digunakan/ diperlukan penjelasan2 (explaining). 19.

(20) ASPEK. ILMUWAN (ilmiah). AWAM (common sense). MOTIVASI PADA PERTANYAAN. TERMOTIVASI MENCARI JAWABAN. PUAS APA YANG ADA. RASA INGIN TAHU. TERTARIK PADA HAL APAPUN SAMPAI SEKECIL-KECILNYA. TERTARIK PADA HAL YANG MENONJOL , BESAR. PENDEKTAN PROBLEM SOLVING. JAWABAN SAMPAI KE AKAR /ILMIAH. DANGKAL, ASOSIATIF, MUDAH, MISTIS. SIKAP TERHADAP KRITIKAN DAN SARAN. DINAMIS, MEMBUKA DIRI. STATIS, DOGMATIS. CARA BERFIKIR. KRITIS, OBJEKTIF. SEMPIT, SUBYEKTI. POLA FIKIR,. RASIONAL , LOGIS. TDK RASIONAL, TDK LOGIS 20.

(21) CIRI-CIRI ILMU PENGETAHUAN Control Direction Systematic Method. 21.

(22)  Control.  penguasaan  penguasaan penelitian terhadap semua variabel & suatu penelitian tidak boleh ada 1 variabel yang lepas  error . berapa kecepatan rata2 lari orang Indonesia?.  lalu kita akan bertanya:  lari macam apa? Jarak pendek ? Jarak jauh?  Jenis kelamin?  Golongan usia berapa? Senior ? Junior? Beginner?  Pakai sepatu atau tidak? 22.

(23)  Pada tiap macam event yang berlainan dibutuhkan. control yang berbeda  dalam ulangan matematika/ kemampuan matematika  tidak perlu menggolongkan dalam jenis kelamin jadi laki2/perempuan bisa.   tanpa control, hasil penelitian akan ‘biased’  karena hasil penelitian diambil dari sumber2 yang tidak sistematis. 23.

(24)  Direction.  Problem lah yang menentukan arah penelitian. Misal:  Bagaimanakah pengaruh narkotika?  belum terarah  Bagaimanakah pengaruh narkotika bagi kepribadian. remaja?  terapan kepada psikologi  Bagaimanakah pengaruh narkotika terhadap pertumbuhan fisik anak?  terapan kepada kesehatan fisik.. 24.

(25)  Systematic Ada hukum2/ prinsip2 tertentu.  Method.  Ada teknik2 tertentu  pengumpulan data, analisa data etc. Terdapat hubungan yang :  INVARIANT  TIDAK BERVARIASI  Tetap.  hubungan yang tetap antara 2 variabel  variabel X & Y  Ilmu pengetahuan selalu mencari hubungan sebab-akibat antara kedua variabel tersebut.  Peneliti biasanya melihat terlebih dahulu akibatnya lalu kemudian mencari sebab2nya.  binatang mati  lalu dicari sebabnya apa? Makan apa sebelumnya?  dicari kebelakang (Trace Back) 25.

(26) Seorang ilmuwan harus menyatakan Invariant Relationship sebelum mengemukakan penelitiannya, bahwa memang ada hubungan sebab akibat antara 2 variabel..  Invariant Relationship. Contoh: Bila Mr X masuk ruangan, maka lampu menyala.  Orang awam akan mengira bahwa lampu menyala karena kedatangan Mr X  padahal bukan demikian.  Setelah beberapa hari kemudian Mr X masuk lagi tetapi lampu tidak menyala  maka orang awam baru menyadari bahwa tidak ada hubungan ‘prediktif/peramalan’ antara Mr X dengan menyalanya lampu. 26.

(27)  Jika kejadian berkorelasi tinggi, maka hubungan prediktif. bisa dilihat dari event satu dengan lainnya yang reliable dengan Batas Kesalahan Korelasi 0,01 atau 0,05..  Dalam ilmu sosial, sulit mencari peramalan setepat. Ilmu Eksakta, tetapi harus tetap bisa karena Ilmu Sosial tetap merupakan Ilmu Pengetahuan.  Dalam Ilmu Eksakta hanya ada Monocausal  satu. sebab untuk satu akibat.  panas  mendidih 100 derajat C, bisa di Reversed/ Reversable.  Dalam Ilmu Sosial tidak bisa di reversed karena merupakan Multicausal / Multifactors  setiap gejala/akibat berasal dari banyak faktor 27.

(28)   tidak semua kepribadian menyebabkan depresi. ada.  . . . anak2 yang kepribadiannya sama tetapi tidak depresi  Mengapa?  mungkin karena orang tuanya pengertian  Orang tua yang pengertian ini merupakan hal2 lain yang menyebabkan ilmu sosial merupakan Multifactors. Peramalan dalam ilmu bisa 100% benar  ilmu pengetahuan yang dikontrol dengan baik dapat dipredict 100% Misal: meramalkan pendaratan pesawat ke bulan, bisa 100% benar tanpa harus eksperimen lebih dahulu kebulan  eksperimen dilakukan dibumi. Dalam Psikologi setiap gejala/ akibat berasal dari banyak sebab  jadi harus dicari sebab yang sesungguhnya dengan memperhatikan kondisi antar constituant.. 28.

(29)  CARA MENGUKUR GEJALA PSIKOLOGI  Semua gejala harus mampu diobservasi,. diukur  sehingga secara obyektif dapat dikualitatifkan, dapat dibandingkan  Interpretasi yang kurang jelas terjadi  karena indikasi tidak dijelaskan secara keseluruhan, sehingga perlu adanya indikasi lain untuk memperjelas interpretasi  Indikasi & Interpretasi harus dapat diukur secara psikologis 29.

(30)  Alat ukur harus obyektif  dalam. mengungkapkan gejala psikologi sejak awal harus obyektif  agar dapat ditangkap oleh semua orang dengan cara yang sama/ persepsi atau kesan sama.  Harus ada persepsi yang sama dengan menyebutkan Definisi Konseptual  definisi yang menggambarkan konsep  terdapat dalam kamus/Literatur/buku/teori psikologi  Sistem Ilmu Pengetahuan ada pada cara berpikir.  Yang penting dalam gejala psikologi adalah konsep.. 30.

(31)  OBSERVASI.  Mengamati dengan teliti & sistematis  Alat dasar seorang psikolog  Yang harus dilihat dalam mengobservasi agar dapat melakukan indikasi:  Body Language (Bahasa tubuh)  Paralinguistic (kata2 khas seseorang)  Ekspresi  Bodily Effect  efek faali/fisiologis (keringat, air. mata). 31.

(32)  INDIKASI.  Dilihat dari segi psikologis  Whole Indication  Indikasi Keseluruhan  Partial Indication  Indikasi sebagian (dipakai oleh psikolog) Contoh: Gejala Psikologi dari Covert menjadi Overt 32.

(33) OVERT. Observation. COVERT SAD. IndicationInterpretationMeasure. OBJEKTIF 33.

(34)  Penjelasan:  Sedih bisa diindikasi (melihat air. mata/menangis) kemudian bisa diinterpretasi  Indikasi tidak secara keseluruhan, hanya sebagian karena menangis belum tentu karena sedih  Setelah sedih diindikasikan baru bisa diobservasi agar dapat menjadi perilaku overt. 34.

(35)  TINGKAT PERKEMBANGAN ILMU. PENGETAHUAN  Mistis (magis)  Pengetahuan (Knowledge) / Pengalaman  Ilmu Pengetahuan (Science)  PENGETAHUAN.  Segala sesuatu yang kita ketahui adanya  ada aturan2 tertentu 35.

(36)  ILMU PENGETAHUAN.  Suatu badan pengetahuan yang berstruktur, terdiri dari kumpulan pengetahuan yang telah disortir, memakai metode2 tertentu dan sistematis. Badan  kumpulan Berstruktur  bagian2 yang bergabung mengikuti aturan t’tentu shg meaningful Disortir  dipilih, tidak semua pengetahuan Metodis  ada metode/teknik tertentu Sistematis  ada aturan2 tertentu 36.

(37) OBYEK ILMU PENGETAHUAN  Obyek Material  materi yang diteliti  contoh: manusia  Obyek Formal  dari sudut pandang/pendekatan apa ditelitinya  Psikologi, Kedokteran, Ekonomi etc Obyek Material dari Psikologi  manusia (perilakunya) Obyek material dari Kedokteran  manusia Jadi ilmu pengetahuan itu bisa mempunyai obyek material yang sama, namun pasti berbeda dalam obyek formalnya 37.

(38) Contoh:  Perkembangan ilmu psikologi  Mistis  Filosofis = knowledge  Eksperimen oleh W.Wundt (1879)  science  syaratnya :  obyektif  dapat diukur  ada metode  sistematika, bukan mistis. 38.

(39)  Obyektif  dapat dipersepsikan secara sama bagi. semua orang  Dalam psikologi dimana gejalanya Intangible, sulit menjadi obyektif  jadi kita perlu alat ukur yang obyektif, misalnya dalam Psikometri.  Bagi juri2 dalam lomba lukis/lagu, ada kriteria tertentu untuk menentukan mana yang lebih bagus dari yang lain.. 39.

(40)  Pada olah raga : senam, loncat indah  penilaian. mungkin cenderung subyektif, tetapi bisa di standarisir.  Biasanya juri berjumlah ganjil untuk mempermudah. Juga nilai juri yang terlalu ekstrim dihilangkan agar tidak mempengaruhi nilai secara umum.  Psikolog, terlebih dahulu harus sebagai scientist, ilmu pengetahuan. Baru kemudian sebagai psikolog, ilmu Psikologi mengikuti syarat2 ilmu pengetahuan. 40.

(41) PROBLEM  Problem = permasalahan  Segala sesuatu yang masih dipertanyakan  Halangan untuk mengerti sesuatu  Pro = didepan  Balein = batu halangan  Pertanyaan 41.

(42)  Munurut kamus BBI, Masalah adalah sesuatu yang. harus diselesaikan.  Menurut Sugiyono (2009:52) masalah diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara turan dengan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksana.  Menurut James Stoner, Masalah suatu situasi menghambat organisasi untuk mencapai satu atau lebih tujuan.. 42.

(43)  Menurut Prajudi Atmosudirjo, Masalah adalah sesuatu. yang menyimpang dari apa yang diharapkan, direncanakan, ditentukan untuk dicapai sehingga merupakan rintangan menuju tercapainya tujuan.  enurut Roger Kaufman, Masalah adalah suatu kesenjangan yang perlu ditutup antara hasil yang dicapai pada saat ini dan hasil yang diharapkan.  Menurut Dorothy Craig, Masalah adalah situasi atau kondisi yang akan datang dan tidak diinginkan. 43.

(44)    . . seorang peneliti harus terlebih dahulu menanyakan pada diri sendiri tentang beberapa pertanyaan berikut: “Apakah topik tersebut dapat dijangkaunya/ dikuasainya (manageble topic)?” “Apakah bahan-bahan/ data-data tersedia dengan cukup (obtainable data)?” “Apakah topik tersebut penting untuk diteliti (significancy of topic)?” “Apakah topik tersebut menarik untuk diteliti dan dikaji (interested topic)?”. 44.

(45)  masalah yang dipilih layak dan relevan untuk diteliti diungkapkan oleh Notoatmodjo.  (2002), meliputi:  1. Masalah masih baru.  2. Aktual.  3. Praktis  4. Memadai.  5. Sesuai dengan kemampuan peneliti.  6. Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah.  7. Ada yang mendukung.. 45.

(46)  .   . maka peneliti harus menjawab beberapapertanyaan berikut agar masalah yang diteliti layak dan relevan (Notoatmodjo, 2002): Apakah masalah yang akan diteliti merupakan masalah yang sedang hangat di dalam masyarakat saat ini? Apakah masalah tersebut benar-benar aada di dalam masyarakat? Sejauh mana masalah tersebut dirasakan? Apakah penduduk atau masyarakat merasakan masalah tersebut? Apakah masalah tersebut mempengaruhi kelompom tertentu, misalnya ibu hamil, bayi, atau anak balita? Apakah masalah tersebut berhubungan dengan masalah sosial, kesehatan atau psikologi yang luas? 46.

(47)  Menurut Nasution (1996:16) Masalah dapat dipilih     . . berdasarkan pertimbangan pribadi dan praktis, misalnya: Apakah masalah itu sesuatu yang baru, menarik serta menimbulkan rasa ingin tahu pada peneliti? Apakah masalah itu sesuai dengan jurusan, kemampuan dan latar belakang pendidikannya? Apakah masalah memerlukan alat-alat khusus dan kondisi kerja yang dapat dipenuhi oleh calon peneliti? Apakah dengan metode tertentu dapat dikumpulkan data yang diperlukan? Apakah calon peneliti dapat menaggung segala pembiayaannya? Apakah calon peneliti dapat menyelesaikannya dalam waktu yang tersedia?. 47.

(48) SUMBER PROBLEM 1. Observasi kejadian sehari-hari 2. Mempelajari penelitian2 sebelumnya & menimbulkan pertanyaan  Ada kesenjangan pada hasil penelitian  Hasil penelitian saling bertentangan  Fakta tampil dalam bentuk informasi yang kurang jelas. 48.

(49) 3. Bila tidak ada informasi atau ada gap dalam pengetahuan kita:  Timbul pertanyaan: Why  merupakan motivasi bagi. penulis  Ada sesuatu perilaku reaksi tertentu dari stimulus  Ada tingkah laku tertentu berhubungan dengan tingkah laku lain  sesuai dengan asas penelitian, yaitu mencari hubungan antar 2 variabel. 4. Hasil penemuan fakta yang saling bertentangan  Problem yang sama hasilnya berbeda-beda  Dapat disebabkan oleh penanganan penelitian yang. buruk  Syarat2 yang penting tidak terpenuhi 49.

(50) 5. Theoritical (Procedures) Prediction. Menghubungkan fakta yang hipotesis maupun teori dan diaplikasikan pada gejala lain 6. Kemajuan Teknologi  Teknologi baru berakibat penelitian problem lama dengan cara baru  Perkembangan teknologi menimbulkan problem baru. 50.

(51) FUNGSI PROBLEM  Mengarahkan Penelitian  Mengorganisasikan seluruh kegiatan penelitian  Menentukan metode penelitian  Menentukan cara mengukur gejala yang diteliti SYARAT PROBLEM, Problem harus:  Baik  memenuhi syarat sebagai suatu problem  Dirumuskan secara baik (Problem’s Behavior)  Tidak semua problem dapat dijawab ilmu pengetahuan. 51.

(52) Problem harus bersifat SOLVABLE, artinya:  TESTABLE  dapat dijawab secara empiris dalam suatu “Tentatice Solution” berupa hipotesis yang relevan.  RELEVAN dengan pertanyaan & jawaban yang akan diteliti  TRUE or FALSE  mempunyai Degree of Probability untuk menjadi True or False Nilai 0,0 sangat salah & 1,0 sangat benar.. 52.

(53)  KRITERIA TESTABILITY  Apakah semua variabel yang diteliti bersifat gejala yang. dapat di observasi secara empiris?  Seberapa besarkah degree testability dari problem?.  DEGREE of TESTABILITY dari Problem,. ditentukan oleh:  Pseudo-Problem atau Unstructured Problem . Rumusan & batasannya harus jelas (Problem Field).  Definisi operasionalnya Adekuat (tepat benar & sesuai),. tidak ambigue  Memungkinkan pengumpulan data. 53.

(54)  TAHAPAN dalam APPROACH PROBLEM:  Definisi Konseptual.  menyamakan persepsi,visi untuk obyektifitas  Definisi Konstruk.  untuk mampu mengerti aspek2 apa yang membangun konstruksi gejala yang diteliti berdasarkan teori tertentu. . Perlu untuk mengembangkan item2 instrumen ukurnya.  Definisi Operasional.  untuk mempu mulai operasi kegiatan penelitian, dengan sifat mampu ukurnya gejala. 54.

(55)  PERUMUSAN PROBLEM yang Baik:  Merupakan kalimat tanya (?).  Diutarakan dalam kata2 sederhana, jelas, tidak. ambigue, lengkap, statement yang adekuat..  Know What The Problem Is, Know What Is To Do.  Problem harus menggambarkan hubungan antara 2. variabel  Dirumuskan sedemikian rupa sehingga mengandung kemungkinan untuk dilakukan pembuktian secara empiris.. 55.

(56) TAHAP PERUMUSAN PROBLEM  Rumuskan dalam kalimat tanya  Tentukan Problem Fieldnya (batasan problem)  Tentukan konseptual  Tentukan Problem Operasional (identifikasi cara mengukur gejala) Untuk menjawab pertanyaan, peneliti harus berdasar atau bergantung pada:  - Data  suatu informasi yang dihasilkan oleh penelitian  - Interpretasi Data yang dilakukan oleh ahli penelitian 56.

(57) Setiap data yang diperoleh selalu tergolong ke dalam salah satu dari 4 skala pengukuran:  Nominal.  Ordinal  Interval  Ratio. Jadi Problem yang dirumuskan secara baik memenuhi syarat:  sudah operasional  menggambarkan hubungan antara 2 atau lebih variabel yaitu IV & DV  dimungkinkan dibuktikan secara empiris  tidak ambigu 57.

(58)  HIPOTESIS. Definisi: HIPOTESIS adalah dugaan/jawaban coba2 (bersyarat) terhadap problem yang harus didukung fakta. 4 UNSUR PENTING dalam HIPOTESIS:  Dugaan coba2 dalam arti Tentative Solution  berarti belum menampakkan jawaban, dan masih harus. diteliti secara empiris.  Bersyarat artinya harus berdasarkan fakta, bukan ramalan.  didukung oleh fakta artinya ada referensi dari penelitian2 lain atau teori2 yang mendukung tentang dugaan tersebut, bukan sekedar ramalan.  Jawaban terhadap problem yang belum dibuktikan kebenarannya  Bisa ditolak, bisa diterima 58.

(59)  SUMBER HIPOTESIS:  Penemuan hasil penelitian yang menimbulkan. pertanyaan baru  Hipotesis yang ditolak yang menimbulkan hipotesis baru  Peta ilmu pengetahuan. Fakta2 baru berasal dari. hipotesis2 yang dikembangkan ilmuwan.. 59.

(60)  FUNGSI HIPOTESIS:  Sebagai “Working Instrument”. Hipotesis. dapat direduksi dari teori atau dari hipotesis lain.  Hipotesisi dapat ditest sebagai True or False  Hipotesis merupakan alat yang ampuh untuk kemajuan ilmu pengetahuan karena dapat obyektif  Mengarahkan penelitian lebih baik  Memungkinkan peneliti untuk merumuskan secara spesifik & empirik. 60.

(61)  KRITERIA HIPOTESIS yang Baik:  Menggambarkan hubungan antara 2 atau. lebih variabel  Hubungan antara variabel2 tersebut dapat dibuktikan secara empiris.  Harus dapat diukur & dapat diamati gejalanya.. 61.

(62)  JENIS HIPOTESIS:  Hipotesis Positif/ Hipotesis Alternatif (HA).  hipotesis yang dirumuskan sesuai dengan keadaan kita  Hipotesis Negatif/ Hipotesis Null (H0)..  hipotesis yang dirumuskan berlawanan dengan dugaan kita. Hipotesis Null biasa disebut sebagai Hipotesis Statistik & dipakai sebagai Working Hypothesis.. 62.

(63) GUNAnya kita bekerja berdasarkan Hipotesis Null:  Untuk menghindari sugesti peneliti kepada hal2 yang sudah dipercayai sebagai pendapat umum atau seolah2 benar  supaya tidak mengarahkan penelitian kepada membuktikan hipotesis.  Supaya menjaga objektivitas penilaian peneliti mengenai hal yang diteliti  melalui negasi/penolakan hasil dengan merumuskan H0. 63.

(64)  H0  tidak boleh mengganti kata2.  ditambah kata “tidak”  anak yang ditekan terus menerus akan introvert  H0  anak yang ditekan terus menerus tidak introvert  tidak boleh diganti dengan ekstrovert.  Kita Bekerja dalam Pembuktian di lapangan. dengan H0, karena:  analisis statistik akan membuktikan H0 melalui bantuan. pengukuran  analisis statistik tidak membuktikan suatu hubungan, tetapi hanya membuktikan bahwa data mendukung HA dan tidak mendukung H0. 64.

(65) VARIABEL Untuk dapat mengenali problem, perlu mengenali Variabel2 yang terkait. VARIABEL adalah :  suatu gejala yang dikenai nilai atau harga, yang dapat divariasikan. Penelitian harus mengenali variabel2 apa saja yang secara teoritis terkait dalam penelitian, misalnya:  Independent Variable  Dependent Variable  Extraneous Variable  Secondary Variable  Intervening Variable 65.

(66) Independent Variable (IV)  variabel bebas  variabel yang menentukan keadaan variabel lainnya (DV).  biasanya pada penelitian experimental, variabel ini dapat dimanipulasi atau divariasikan/diubah2 oleh peneliti. Dependent Variable (DV)  Variabel tergantung  variabel yang keberadaannya dan keadaannya tergantung dari variabel lain (IV).  variabel ini adalah variabel yang hendak diukur dalam penelitian dan tidak boleh diubah-ubah. 66.

(67) Hubungan variabel2 yang ingin diketahui dalam penelitian, dapat menghasilkan tingkatan2 1. Deskriptif,.  yaitu gambaran terlihat seperti apa adanya  tidak bermaksud mencari hubungan  Pertanyaan Problem : Bagaimanakah ……..?. 67.

(68) 2. Hubungan Korelasional.  adanya hubungan yang berirama antara 2 variabel tersebut, sehingga yang diteliti adalah derajat hubungan tersebut.  Pertanyaan Problem:  apakah ada hubungan signifikan….. 3.. Hubungan Causalitas.  dimana salah satu varibel dimanipulasi, kemudian dilihat perubahan efek pada variabel lain  Pertanyaan Problem: Apakah ……? 68.

(69) LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN ALAT UKUR 1. Mengidentifikasi tujuan utama penggunaan alat ukur 2. Mengidentifikasi tingkah laku yang mewakili konstruk. /mendefinisikan domain perilaku yang akan diukur 3. Menyiapkan serangkaian spesifikasi alat ukur, termasuk proporsi item yang akan dibuat berkaitan dengan tingkah laku yang akan diukur dari konstruk 4. Mengkonstruk sejumlah item (items pooling) 5. Mereview item, melakukan revisi jika dibutuhkan.

(70) LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN ALAT UKUR 6. Melakukan tryout, merevisi item. 7. Melakukan pengambilan data lapangan pada. sejumlah sampel yang representatif mewakili populasi yang dituju oleh alat ukur. 8. Melakukan pengujian statistik terhadap item-item. alat ukur, jika dibutuhkan menghilangkan item-item yang tidak memenuhi kriteria item yang baik atau melakukan revisi terhadap item-item tersebut..

(71) Langkah-langkah menyusun AUP 1.. 2. 3.. 4. 5.. Menentukan tujuan utama penggunaan alat ukur Mendefinisikan secara operasional konstruk yang akan diukur. Menyiapkan serangkaian spesifikasi alat ukur, termasuk jenis tes yang digunakan, atribut (aspek) konstruk, gambaran perilaku di setiap atribut dan membuat indikator. Mengkonstruk(membuat) sejumlah item (items pooling) berdasarkan indicator yang sudah dibuat. Mereview item dan melakukan revisi jika dibutuhkan sebelum melakukan tryout 71.

(72) 6. Melakukan tryout dengan pengambilan data. lapangan pada sejumlah sampel yang representatif mewakili populasi dan merevisi item. 7. Melakukan pengujian statistik (uji reliabilitas dan validitas) terhadap item-item alat ukur, jika dibutuhkan menghilangkan item-item yang tidak memenuhi kriteria item yang baik atau melakukan revisi terhadap item-item tersebut. 8. membuat pedoman administrasi, skoring, dan interpretasi terhadap skor alat ukur. 72.

(73) UTS  PENELITIAN ILMIAH, ILMUWAN VS AWAM  PERBEDAAN KUALI DAN KUANTI  PERUMUSANA MASALAH, PROBLEM.  HIPOTESIS  OPERASIONAL VARIABEL  PENYUSUNAN ALAT UKUR.. 73.

(74) METODE PENELITIAN. Dibagi kedalam 2 kelompok besar:  Experimental Research  Non- Experimental Research. Atau:  Laboratory Research  Fiels Research. 74.

(75)  Untuk penelitian ilmu sosial dibagi menjadi 4 golongan besar:  Laboratory Experimental  Field Experimental  Field Studies.  Survey Research. 75.

(76) LABORATORY EXPERIMENTAL  Control Ada: Kontrol ketat Manipulasi IV Randomisasi Hasil:. Presisi Akurat Pasti Tidak ambigu Reliabel. tidak akan error. 76.

(77) Kelemahan:  IV lemah, oleh karena dibuat (situasi simulasi)  Kurang Real  karena simulasi  Interpretasi dapat salah, bisa tidak sesuai dengan. kondisi non-lab  High internal validity(krn dikontrol ketat), tetapi low external validity (kalau diterapkan pada keadaan nyata, kurang tepat). 77.

(78) Kegunaan:  Alat untuk mempelajari hubungan variabel dalam kondisi murni, tidak ada kontaminasi  Pembuktian dugaan atas teori tertentu  Meneliti hubungan variabel2 tanpa kontaminasi varibel lainnya..    . Syarat experiment: dapat diobservasi karena gejala timbul & berakhir  dibawah kontrol dapat diukur gejalanya dapat divariasikan dapat diulang 78.

(79)  Keterbatasan:  tidak dimungkinkannya manipulasi IV.  tidak dapat merandomisasi  resiko adanya interpretasi yang salah karena tidak. dimungkinkan kontrol yang ketat..  Keunggulan:  sering digunakan dalam psikologi, sosiologi, pendidikan.  karena variabelnya banyak  terutama untuk gejala yang tidak mungkin dimanipulasi  dipakai dalam real-life natural setting. 79.

(80) FIELD EXPERIMENTAL.  ½ eksperimen  suatu penelitian dimana 1 atau lebih IV dimanipulasi oleh eksperimenter dibawah kondisi yang terkontrol  perbedaan dengan eksperimental : kontrol tidak seketat eksperimental. 80.

(81)  Kekuatan / keuntungan:  dalam skala tertentu bisa dimanipulasi & dirandom. (paling tidak secara teoritis)  sering dipakai psikolog  Efek variabel & validitas eksternal  Lab. Exp..  sesuai untuk masalah sehari2, bisa untuk masalah kompleks.  Kelemahan:  Presisi kurang.  ada error2 karena kontrol tidak kuat  kemungkinan kontaminasi besar. 81.

(82) FIELD STUDIES  Wajar  Menemukan hubungan variabel2 dalam struktur sosial yang wajar:  tidak ada/ tidak boleh manipulasi  harus sewajar. mungkin.  Digunakan bila:  gejala rusak bila dimanipulasi  disimulasikan  gejala yang wajar  lakukan metode ini  apa adanya  masalah aplikasi  wajar sehari2. 82.

(83)  Kekuatan:  realistis.  variabel nyata  kuat tampilannya ( karena wajar)  orientasi teori ( tetap didukung teori2)  bervariasi (tampilan & gejala kaya).  Kelemahan:  Hubungan variabel lemah (karena banyak variabel2 lain. yg mengkontaminasi)  Presisi pengukuran kecil  Masalah praktis dalam feasibility, cost, sampling, time 83.

(84) Jenis2 Field Studies: Katz membagi menjadi 2 jenis:  Exploratory  bertujuan menemukan variabel yang berperan dalam. situasi wajar lapangan  mencari perkiraan hubungan variabel  meletakkan dasar yang sistematis untuk testing hipotesis.  Hypotesis- Testing  menemukan hubungan antar variabel. 84.

(85) SURVEY RESEARCH  Luas tapi dangkal  peninjauan umum / Penelitian awal.  peneliti belum punya data apa2.     . Meneliti populasi besar/ kecil dengan cara memilih & meneliti sample dari populasi: untuk menemukan kejadian distribusi, hubungan variabel2 psikologis dapat disebut sebagai sample survey mengambil sample dari populasi kemudian dari sample ini disimpulkan (generalisasi) pada populasi yang telah ditentukan karakteristiknya cara: interview, kuesioner berupa laporan, gambaran  sensus 85.

(86)  Metode :  menggunakan flow plan (alur rencana) proposal.  menjelaskan, membatasi problem  sampling plan  konstruksi interview.  Keuntungan:  dimungkinkan checking data  data banyak & akurat.  Kelemahan:  luas tapi dangkal  data hanya deskriptif  perlu banyak waktu & cost 86.

(87) . . . . ARM- CHAIR EXPERIMENTAL  adalah penelitian dimana peneliti mengolah gejala hanya melalui reasoning saja, tanpa bersentuhan dengan empiri Terutama dengan logika deduktif Merumuskan preposisi, melalui hukum2 logika, lalu disimpulkan Misal: silogisme Dilakukan oleh para ahli filsafat Harus kuat dalam logika. 87.

(88) PENELITIAN DESKRIPTIF  METODE OBESERVASI  PENELITIAN SURVEI (kolerasional)  PENELITIAN KASUS (CASE STUDIES).  PENELITIAN PERKEMBANGAN (DEVELOPMENTAL)  PENELITIAN TINDAH LANJUT (FOLLOW-UP)  PENELITIAN ANALISIS DOCUMEN. 88.

(89) OBSERVASI  Alat jitu untuk psikolog  Pengamatan & pencatatan secara teliti dan sistematik. atas gejala.  Pertama kali terjadi hubungan antara peneliti & subyeknya dan merupakan metode yang paling langsung tanpa media perantara.  hal2 yang covert supaya menjadi overt.. 89.

(90) 2 macam Observasi (pembagian menurut Jehoda): 1. OBSERVASI NATURAL  sifatnya. lebih awam. mengamati seperti apa adanya gejala menurut metode2, tanpa dibatasi oleh aturan2 tertentu. 90.

(91)  OBSERVASI SISTEMATIS  lebih ilmiah  pengamatan dilakukan oleh ilmuwan  diatur oleh tujuan riset yang telah dirumuskan  direncanakan dengan sistematis  harus ada rancangan  dihubungkan dengan proposisi yang umum, tidak. semata2 untuk rasa ingin tahu  dapat dicek / dilihat kebenarannya dan dikontrol validitas & reliabilitasnya.. 91.

(92) RELIABILITAS Error dalam observasi disebabkan oleh:  PENGAMATAN  keterbatasan pengamatan:  Adaptasi --- kebiasaan --- prasangka --- mekanisme --   . proyeksi Waktu lebih lama, berulang-ulang Lebih dari 1 observer Observe lebih dari 1 jenis obyek Adaptasi  penyesuaian diri  lama2 berakibat kurang peka 92.

(93)  INGATAN  catatan  ditulis sesegera mungkin.  Mechanical Devices  alat2 audiovisual, handycam  Lebih dari 1 Observer  agar bisa saling mengingatkan  Pusatkan pada item yang relevan  Dibantu pengamatan lain  membandingkan dengan. pengamatan2 lain..  Parsimoniovs  ada efisiensi / simplicity pada. sikap ilmiahnya.. 93.

(94) JENIS2 OBSERVASI:  PARTICIPANT OBSERVATION  untuk riset explorative  untuk soal lulus, umum, baru  observer ikut serta dalam proses sehingga menghayati. proses lebih mendalam.   SYSTEMATIC (STRUCTURED) OBSERVATION  Ada kerangka yang memuat faktor2 yang telah. ditentukan penggolongannya dengan ciri2 khusus.  Ciri2 khusus disebutkan dalam teori 94.

(95)  EXPERIMENTAL OBSERVATION  Situasi dikendalikan sesuai tujuan riset, dibuat situasi. perangsang tanpa diketahui partisipannya  agar yang covert menjadi overt. 95.

(96) Kebaikan  Alat yang paling langsung  Memudahkan subyek.  Dapat dicatat serempak  Sederhana, tdk perlu. m’buat alat  Tdk t’gantung Self report. Keburukan. • Banyak hal yang tidak terjangkau • Dpt t’jadi bias, partisipan mrs diobservasi • T’gantung lamanya kelangsungan gejala • Bisa t’ganggu hal2 yg unpredictable • Tidak dapat diatur. 96.

(97) MENGAMBIL SAMPEL PERILAKU  Validitas eksternal  mengacu pada sejauh mana hasil-hasil sebuah penelitian dapat digeneralisasikan ke populasi-populasi, setting dan kondisi yg berbedabeda.  Time samping  Memilih interval waktu untuk melakukan observasi. secara sistimatis atau secara acak  Jika peneliti tertarik pada kejadian-kejadian yang terjadi, mereka menyadarkan dari pada event samping untuk mengambil sampel perilaku.. 97.

(98) SITUASI SAMPING  Melibatkan kegiatan mempelajari perilaku di lokasilokasi yang berbeda dan berbagai keadaan dan kondisi yang berbeda-beda.  Meningkatkan validitas ekternal temuan yang diperoleh.  Dalam berbagai situasi, subyek sampling dapat digunakan untuk mengobservasi sebagaian orang dalam setting itu.. 98.

(99) KLASIFIKASI METODE OBSERVASI 1. OBSERVASI TANPA INTERVENSI tujuan untuk mendeskripsikan perilaku yyang sering terjadi secara normal dan meneliti hubungan di antara berbagai variabel OBSERVASI DENGAN INTERVENSI. 1.  . . Participant obervation Obervasi tersruktur Field experiment. 99.

(100) ALAT OBSERVASI  ANECDOTAL RECORDS  Daftar riwayat tingkah laku tipikal, apa dan bagaimana.  CATATAN BERKALA (DIARY)  Menggambarkan secara deskriptif dari hari ke hari/. bulan  Tidak menggambarkan anekdot. 100.

(101)  CHECK LIST  Mengisi daftar subyek & faktor2 yang hendak diteliti . sistematis, obyektif ada atau tidak ada tingkah laku..  RATING SCALE  Keadaan subyek menurut gradasi, seragam & dapat. diolah secara statistik.  MECHANICAL DEVICES  Obyektif, dapat diulang. 101.

(102) METODE KUESIONER Berdasar: Self Report  jawaban2 paling valid dibanding observasi Asumsi dasar  subyek paling tahu (shg paling unggul) tentang dirinya, apa yang dinyatakan, dapat dipercaya, interpretasi tentang gejala sama.. 102.

(103) BENTUK:  Kuesioner Langsung  diisi oleh yang bersangkutan (subyek yang diteliti)  Kuesioner Tidak Langsung.  diisi oleh orang lain misal: seorang bayi  ditulis oleh ibunya tentang riwayat bayi tsb.. 103.

(104)  KELEMAHAN:  Hal2 yang tidak disadari oleh subyek tidak dapat   . . diungkap Jawaban subyek dipengaruhi Whisful  prasangka & bisa bias Dapat tertutup  subyek bersifat tertutup pada hal2 yang tidak disukai Kesulitan pengungkapan lewat bahasa ( mengerti/ tidak, subyek tidak bisa menangkap bahasa kuesioner  jawaban bisa salah) Kecenderungan dibuat2 logis ( jadi jawaban dibuat logis sesuai dengan keinginan subyek/ bisa subyektif  peranan subyek dapat merubah hal2 yang ada dalam kuesioner) 104.

(105)  JENIS KUESIONER berdasarkan TIPE JAWABAN:.  KUESIONER TIPE ISIAN  OPEN and ITEM  jawaban bebas  subyek mengisi apa saja menurut kemauan.  CLOSED FORM ITEM  menentukan ya / tidak.  bentuk tertutup  subyek tidak dibenarkan menjawab semaunya  jawaban sudah tersedia, tinggal mengisi 105.

(106) KUESIONER TIPE PILIHAN  FORCED CHOICE  pilihan yang dipaksa  bipolar, hanya tersedia secara ya / tidak  dipaksa. memilih  subyek sering mengalami saja, tidak begini/begitu, sehingga subyek merasa dipaksa  contoh: Dalam EPS mengukur drive2 anda.  MULTIPLE CHOICE  menyediakan suatu skala dengan nuansa yang lebih. fleksibel  misal: setuju – agak setuju – etc  gradasi lebih halus 106.

(107)  KELEMAHAN  KUESIONER TIPE ISIAN  OPEN-END ITEM  partisipan segan menjawab panjang/ memikir sendiri. (jawaban panjang lebar kadang perlu)  Tidak mencantumkan hal yang penting (yg peneliti inginkan) karena subyek menjawab menurut pendapat sendiri.  Analisa komparatif sulit karena tidak mampu membandingkan jawaban yang individual (hanya frekuensi saja). 107.

(108)  Open -end Item dipakai bila:  mendekati approach secara khusus ; perlu jawaban. panjang & individual  Penelitian kualitatif  perlu jawaban terbuka (open). 108.

(109) KUESIONER TIPE PILIHAN perlu diperhatikan:  TEKNIK SUSUNAN  Bagaimana menyusun multiple choice, sehingga tidak. salah persepsi (kurang setuju sampai dengan tidak setuju tidak boleh salah dalam memberi scorenya)  Misal : S = Setuju ; AS = Agak Setuju  Perlu menyelipkan NEGITUR STATEMENT  untuk recheck apakah orang tersebut konsisten (check bohong atau tidak)  jawaban yang inkonsisten tidak bisa menjelaskan kecenderungan reliabilitas jawaban seseorang. 109.

(110)  PETUNJUK BUKU  Forced Choice / Multiple Choice  perhatikan instruksi. dari test..  PERHATIKAN :  jangan atau merasa dipaksa  ada rambu2 mengatasi atau terpaksa  misal: bayangkan kalau anda saat ini disuruh memilih. pasangan hidup.  rambu2 ini ada dalam petunjuk instruksi penting. 110.

(111)  CATATAN:  Dalam Kuesioner Tipe Pilihan  Rambu2 yang penting:  Ini tujuannya begini, tetapi tidak disebutkan isinya ( Ini. adalah suatu test kejujuran). Test kecenderungan Minat, Kejujuran  Tidak ada jawaban yang benar, hanya kecenderungan  Bunyi kecenderungan  dalam hal ini jawaban tidak salah, jawaban yang paling benar adalah yang sesuai dengan diri anda.. 111.

(112)  Dalam ANONIMOUS  Hasil anda dalam test tidak mempengaruhi keadaan. anda secara pribadi.  Namun kesungguhan anda akan mempengaruhi hasil keseluruhan (penting)  Jadi disini tidak dinilai secara pribadi tapi secara umum  memberikan rasa aman.  Instruksi awal penting  untuk mendapat data. 112.

(113) METODE SAMPLING. Berapa jumlah sample yang sesuai untuk mewakili populasi?  lihat data penelitian Data penelitian : sumber sampling/ jenis sampling. Sumber Data Penelitian: Pada psikologi : sumber data  subyek /partisipan dimana data dapat diperoleh. Wilayah Sumber data dapat dibagi 3:  Penelitian Populasi  Penelitian Sample  Penelitian Kasus 113.

(114) PENELITIAN POPULASI Dilakukan apabila ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian  study populasi/ study kasus Dari jumlahnya:.  jumlah tertentu/ terbatas  bila subyek / parttisipan tidak terlalu bannyak, bisa diteliti.  jumlah tak terhingga  hampir tidak mungkin dapat diteliti 114.

(115)  Syarat mengadakan Penelitian Sample:  populasi harus homogen (supaya bisa digeneralisasi) . karakteristik sama.   Keuntungan:  karena sedikit, lebih efisien & cepat  lebih teliti, tidak terlewat  lebih mudah, tidak repot  dapat menanggulangi kerugian  mengurangi bias data besar. 115.

(116)  Kalau mengambil sample  yang penting seluruh. variabel dari populasi tercakup didalamnya.  Jumlah relatif  tidak bisa dipatok sekian % dari populasi  Misal: mau meneliti siswa SMU di Jakarta  mengambil sample nya harus siswa SMU di pusat, pinggiran, pagi, sore filial, kelas 1,2,3 dsb  pokoknya semua deh ada disini.......... 116.

(117) TEKHNIK SAMPLING  PROBABILITY SAMPLES / RANDOM SAMPLING.  sample yang diambil dengan menggunakan randomisasi dalam satu atau lebih tahapannya.  NON-PROBABILITY / NON RANDOM SAMPLING  sample tidak diambil sacara random, tidak semua individu mempunyai kesempatan sama untuk dipilih. 117.

(118)  RANDOM SAMPLING  pengambilan sample secara acak  semua. individu mempunyai kesempatan sama untuk dipilih menjadi anggota sample Cara:  undian  ordinal (setiap nomer ke........)  randomisasi dari tabel bilangan acak. contoh ordinal: PAM JAYA  setiap air yang keluar 1000 liter diambil sample untuk diteliti di lab. ( dengan asumsi setiap 1000 liter kualitas menurun) 118.

(119) PROBABILITY SAMPLING  STRATIFIED  dibagi dulu perstrata, lalu dari masing2 strata diambil sample sacara random contoh: Anak SD  kelas 1,2,3,4,5,6,  dalam kelas masing2 dirandom  CLUSTER.  dari unit yang paling besar dipilih unit yang lebih kecil secara random dst contoh: dari 3 kecamatan dipilih satu, lalu di kecamatan tersebut dari sekian kelurahan dipilih 1 kelurahan, di kelurahan tersebut dari sekian RW dipilih 1, dst sampai yang terkecil. 119.

(120)  SYSTEMATIC.  diurutkan, lalu ditentukan awalnya dan jaraknya (setiap kelipatan 3, misalnya)  bisa untuk kelompok. 120.

(121)  NAMA2 NON RANDOM SAMPLING  QUOTA SAMPLING  Telah menentukan jumlah subyek dengan ciri2 tertentu. yang akan diteliti, agar ‘merata’ samplenya  Misal: % berdasarkan agama, suku dsb  Atau hanya punya uang 1 juta, persample nya Rp 10.000,so ditetapkan bahwa jumlah sample yang diambil hanya 100.. 121.

(122)  PURPOSIVE SAMPLING  telah menentukan jenis subyek berdasarkan asumsi. tentang karakteristik kelompok tertentu  sengaja ditujukan  tergantung jenis/ tujuan penelitian  Misal: meneliti penderita AIDS. 122.

(123)  ACCIDENTAL SAMPLING  mengambil sample yang pas kebetulan ada.  misal: dikantin, angkatan 2001, dsb  karakteristik tetap harus ditentukan  terjangkau, efisien  masih ada lotere dalam mengambil sample. 123.

(124)  Double Sampling  Area probability Sampling  Proportional Sampling  populasi terdiri dari sub populasi yang tidak homogen,. & setiap sub populasi diwakili  bisa perwakilan berdasarkan besar/ kecilnya sub populasi, bisa dengan tidak memperhatikan ukuran sub populasi. 124.

(125)  PENELITIAN KASUS (CASE STUDIES)  Menganai satu subjek tunggal  mengapa individu tersebut bertindak demikian  Apa tujuan tindakan itu.  PENELITIAN PERKEMBANGAN. (DEVELOPMENTAL)  Longitudinal method  Cross-sectional method. 125.

(126)  PENELITIAN TINDAH LANJUT (FOLLOW-UP)  Menindaklanjuti penelitian selanjutnya.  PENELITIAN ANALISIS DOCUMEN. penelitian yang dilakukan terhadap informasi yang didekumentasikan dalam rekaman, baik gambar, suara, tulisan atau lainnya. sering disebut dengan penelitian analisis dokumen.. 126.

(127) PENELITIAN KORElASIONAL  Bermaksud untuk megetahui ada tidaknya hubungan    . antara dua atau lebih variabel Berhubungan jika dua variabel sama-sama bervariasi dengan satu trend. Besar atau tingginya hubungan dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi. Berbeda dengan komparasi (perbandingan kelompok subyek penelitian). Penelitian korelasional komparatif. contoh : “ hubungan pola asuh dengan kreatifitas siswa kelas II dan kelas III SDN di Jakarta Selatan”. 127.

(128)  Analisis skripsi korerasional.  Baca masing-masing. 128.

(129)  Manusia makhluk sosial yang harus dididik.  Pendidikan di indonesia  Pendidikan formal tingkat SMA.  SMA memegang peranan penting dalam. perkembangan remaja (sosial, kemampua dll).  Siswa memiliki pandangan terhadap kulalitas sekolah.  Persepsi siswa mengenai kehidupannya di sekolah merupakan hal yang dapat mempengaruhi siswa dan hasil pendidikannya secara signifikan (+/-) 129.

(130)  Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap .   . efektivitas sekolah adalah motivasi siswa. karakteristik kelas yang bervariasi dan lingkungan sekolah memberikan pengaruh kepada motivasi siswa Dari hal ini dapat dilihat bahwa quality of school life memiliki hubungan dengan motivasi berprestasi. Siswa yang memiliki motif berprestasi akan memiliki tujuan (goal) yang ingin dicapai. Pembahasan mengenai goal yang terkait erat dengan motivasi berprestasi adalah orientasi tujuan (goal orientation). 130.

(131)  Agar siswa memiliki goal orientation yang ideal maka. diperlukan adanya kondisi sekolah yang mendukung goal orientation siswa.  Adanya keterkaitan antara motivasi berprestasi dengan goal orientation ditambah dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya hubungan antara quality of school life dengan motivasi berprestasi serta teori yang mengatakan bahwa goal orientation yang dimiliki siswa tergantung pada bagaimana siswa mempersepsikan situasi belajar di kelas menimbulkan pertanyaan yang hendak dijawab dalam penelitian ini. Pertanyaan tersebut adalah apakah ada hubungan antara persepsi siswa mengenai quality of school life (kualitas kehidupan sekolah) dengan goal orientation (orientasi tujuan). 131.

(132) Pertanyaaan 1. 2.. 3. 4. 5.. Tentukan sumber permasalahan dalam latar belakang masalah penelitian tersebut. Tentukan rumusan permasalahannya. Tentukan metode penelitian yang digunakan. Tentukan IV dan DV dalam penelitian tsb. Ceritakan alur masalah sampai pada perumusan masalah .. 132.

(133) Analisi penelitian kolerasi Seorang psikolog sosial berusaha meneliti hubungan antara prasangka dan sikap terhadap rasial proffing sebagai alat pencegah kejahatan. 1. Gambarkan sebuah scatterplot yang menunjukkan hubungan antar kedua variabel. 2. Periksa scatterplot dan berikan komentar muncul atau tidaknya trand linier pada data tersebut. 3. Hitung koefisien korelasi untuk data ini dan tentukan arah dan kekutan kolerasinya (signifikan atau tidak). 4. Berikan kesimpulan atas penelitian tersebut. 133.

(134) Penelitian komparasi  Penelitian yang bertujuan membandingkan satu. variabel dengan dua sampel yang berbeda dengan menggunakan uji-t atau t-test.  Sampel independen (between subyek) sampel independen adalah sampel yang didapatkan dari data yang berasal dari subyek yang berbeda. contoh “perbedaan kecendarungan depresi pada lakilaki dan wanita”. “perbedaan resiliense siswa SMA dan Aliyah. 134.

(135)  Sampel berhubungan (between treatmen). sampel yang didapatkan dari data yang berasal dari subyek yang sama. contoh : “perbedaan kemandirian mahasiswa UHAMKA sebelum mendapatkan konseling dan sesudah mendapatkan konseling”.. 135.

(136) Latihan penelitian komparatif (sampel independen)    .  . Seorang psikolog meneliti tentang perbedaan resiliense siswa SMA dan Aliyah. Tentukan IV dan DV pada penelitian tersebut. Buatlah HA dan H0. Jika dilihat Dari mean tiap kelompok, mana mean yang lebih besar? Tentukan prediksi anda! Tentukan Levene’s test untuk uji homogenitas (perbedaan varians)? Tentukan apakah ada perbedaan varians pada data siswa SMA dan Aliyah! Tentukan t-test? Tentukan apakah ada perbedaan resiliense pada siswa SMA dan Aliyah! Tentukan penelitian ananda dengan menerima HA atau H0! 136.

(137) Latihan penelitian komparatif (sampel related)      . Seorang psikolog meneliti pengaruh konseling terhadap kemandirian. Psikolog tsb ingin melihat perbedaan kemandirian sebelum dan sesudah konseling Tentukan IV dan DV pada penelitian tersebut. Buatlah HA dan H0. Jika dilihat Dari kofisien kolerasi , Tentukan prediksi anda! Tentukan t-value? Tentukan apakah perbedaan sebelum dan sesudah konseling ! (ingat >1,96=ada perbedaan) Tentukan probabiliti? Tentukan apakah ada perbedaan perbedaannya signifikan atau tidak (0.05)! Tentukan penelitian ananda dengan menerima HA atau H0! 137.

(138) Latihan penelitian komparatif       . Seorang mahasiswa meneliti tentang pengaruh menggunakan kaca mata terhadap prestasi belajar siswa MAN 9. peneliti ingin melihat perbedaan prestasi pada siswa MAN 9 yang berkacamata dan tidak berkacamata. Tentukan IV dan DV pada penelitian tersebut. Tentukan perumusan masalah. Buatlah HA dan H0. Jika dilihat Dari mean tiap kelompok, mana mean yang lebih besar? Tentukan prediksi anda! Tentukan Levene’s test untuk uji homogenitas (perbedaan varians)? Tentukan apakah ada perbedaan varians pada data siswa yang menggunakan kecamata atau tidak! Tentukan t-test? Tentukan apakah ada perbedaan penggunaan kacamata terhadap prestasi belajar siswa MAN9! Tentukan penelitian anda dengan menerima HA atau H0! 138.

(139) Prestasi Katagori Kacamata 89 Berkacamata 86 Berkacamata 90 Berkacamata 85 Berkacamata 87 Berkacamata 96 Berkacamata 81 Berkacamata 89 Berkacamata 85 Tidak Berkacamata 92 Tidak Berkacamata 84 Tidak Berkacamata 96 Tidak Berkacamata 94 Tidak Berkacamata 84 Tidak Berkacamata 81 Tidak Berkacamata 89 Tidak Berkacamata 93 Tidak Berkacamata 83 Tidak Berkacamata. 139.

(140)

Referensi

Dokumen terkait

Paparan Data Proses Siklus III. Siklus III dilaksanakan sebanyak satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Pokok bahasan yang disajikan pada siklus III ini

Salah satu cara untuk mencari referensi tema dan judul adalah dengan melihat katalog tugas akhir yang terdapat pada perpustakaan kampus, namun pada saat ini katalog yang digunakan

1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerntah Pengganti Undng-Undang Nomor 1 Tahun

Agraria , Jakarta: Djambatan, hal. 3 Andria Sutendi, 2010 , Hukum Rumah Susun dan Apartemen, Jakarta: Sinar Grafika, hal.. tentang Rumah Susun bahwa sebagaimana dimaksud dalam

Nilai keindahan anyaman purun terletak pada kombinasi warna yang membentuk berbagai motif seperti mata punai, tapak catur, saluang mudik, ramak cangkih, gigi haruan,

Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi Peranan larutan

Pada tabel 4.6 juga menunjukan bahwa bobot biji pipilan kering perlakuan pupuk kandang sapi dan hijauan kirinyu berbeda nyata dengan tanpa perlakuan (AO). Bobot

Skripsi Pengaruh L - HPC (LH - 11 ) terhadap mutu fisik ..... ANGGI