RISALAH RAPAT PANITIA KHUSUS (PANSUS)
PEMBAHASAN 5 RUU BIDANG PERPAJAKAN
Tahun Sidang : 1996 - 1997 Masa Persidangan : III
Rapat Ke : 6
Jenis Rapat : Rapat Kerja ke 4 Sifat Rapat : Terbuka
Hariffanggal : Rabu, 26 Pebruari 1997
Pukul :14.10-16.00WIB
Tempat : Ruang Kaca Grahatama DPR-RI Ketua Rapat : H. Andya Lestari SE, MBA Sekretaris Rapat : Ny. Anita Soekarjo, SH
Acara : Pembahasan Materi DIM RUU Balik Nama Tanah dan Bangunan
Hadir Anggota Pansus :
I.
51 orang dari 59 orang Anggota Tetap 19 orang dari 28 orang Anggota Penggati - Pemerintah (Departemen Keuangan RI) :
28 orang
ANGGOTA PANSUS A. ANGGOTA TETAP:
l. NOVYAN KAMAN, SH
2. H. ANDAYA LESTARI, SE, MBA 3. JUSUF TALIB, SH
4. H. SYAIFUL ANWAR HUSEIN 5. DRS. YAHYA NASUTION 6. DRS. H. ASNAWI HUSIN 7. dr. H. FATHI DAHLAN
8. DRA. NY. S.A. RUm LENGKONG, MPA 9. DRS. MOH. MURNI
10. DRS. H. MUCHSIN RJDJAN
1 J. H. AGUS TAGOR 12. DRS. H. HASANUDDIN
13. NY. HJ. OETARTI SOEWASONO,SH 14. DJIMANTO
15. HISOM PRASETYO, SH
16. NY. MUSTOKOWENI MURDI, SH 17. IBNU SALEH
18. NY. HARTINI MOCHTAR KASRAN, SH 19. SOEKOTJO SAID, SE
20. MOH. SUPARNI, BA
21. IR. NY, BAMBANG SIGIT PRAKOESWO 22. ABDULLAH ZAINIE, SH
23. DRS. AWANG FAROEK ISHAK 24. DRS. MADE SUDIARTHA 25. BEN MESSAKH, SE
26. NY. SIS HENDARWATI HADIWITARTO 27. ANDI HASAN MACHMUD
28. DRS. H. MEKKAHAYADt.
29. MOEHARSONO KARTODIRDJO 30. H. ABDUL BAKRI SRiHARDONO 31. JR. S.M. TAMPUBOLON
32. DRS. SIMON PATRICE MORIN 33. R. M. PURBA
34. DJATMIKANTO D., S.IP .35. PUDJIARTO, SE
36. DANIEL TODlNG., SJP 37. SOEWARNO
38. SUTRlSNO R., SE 39. DRS. M. SITUMORANG 40. L.J. ARIFIN
41. DRS. PAIMAN 42. DRS. SUPRIADI
43. DRS. H.M. MUKROM AS' AD 44. H. ALI HARDl KIAIDEMAK, SH 45. DRS. H. JUSUF SYAKIR
46. DRS. H.M. SYAFIE NONGKE
47. JR. H.M. SALEH KHALID, MM 48. H. ZAIN BADJEBER
49. H. ALIMARWAN HANAN, SH
50. DRS. H. NADHIER MUHAMMAD, MA 51. H. URAl FAISALHAMID, SH
52. DRS. IGNATIUS SUWARDI 53. DRS. NOORACHARI 54. Bum HARDJONO, SH 55. IR. H. ANWAR DATUK 56. DJUFRI, SH
57. HANDJOJO PUTRO, SH 58. SOENARJO
59. SETYADJI LAWI, BA
B. ANGGOTA PENGGANTI :
60. DRS. USMAN ERMULAN 61. JAHYA BAHAR
62. HA. KAMIL SHAHAB
63. NY. SRI REDJEKI SUMARYOTO, SH 64. DRS. H. MASKA RIDWAN
65. H. NANANG SUDJANA, SH 66. G.B.P.H. JOYOKUSUMO 67. SUNDORO SYAMSURI
68. DRS. SARWOKO SOERJOHOEDOJO 69. DRS. ALOYSIUS ALOY
70. ALI RASYIDI
71. PROF. DR. IR. FACHRUDDIN 72. DRS. BAMBANG WAHYUDI 73. F.P.D. LENGKEY
74. H. JAKUB SILONDAE 75. SUPARMAN ACHMAD 76. I GDE ARTJANA, S.IP 77. OENG RUMADn, SH 78. DRA. PAULA B. RENYAAN 79. TEDYYUSUF
80. DARYANTO, SE, MM
81. H. YUDO PARIPURNO, SH 82. H. SOELAlMAN BIYAHIMO 83. K.H. SA' AD SYAMLAN, BA 84. DRS. H.A. CHOZnN CHUMAIDY 85. nop HARUN SITORUS
86. H. MARWAN ADAM
87. NI Gusn AYU EKA SUKMADEWI II. PEMERINTAH
1. DRS. MAR'IE MUHAMMAD 2. DR. FUAD BAWAZIER 3. DR. DONO ISKANDAR D.
4. DR. IR. BAMBANG SUBIANTO 5. ARIE SOELENDRO
6. DR. AGUS HARYANTO, SH, MA 7. AGUS PURWANTA
8. DJOKO HIDAYANTO 9. BUSRORI
10. FACHROEDY 1.
11. M. PALAL SANTOSO 12. JOHN SETIADJ 13. SUMANTORO 14. SAHALA L. GAOL
15. BAMBANG RUSSAMSENO 16. BENNY HARYONO
17. SUGITO
18. DRS. MACHFUD SIDIK, M.,Sc.
19. ACHMAD SOFYAN 20. NURYADI
21. DJAZOELI SADHANI 22. YONG SUAR
23. GUNADI
24. DJUNAEDJ ARIEF 25. JAMARSEN SIPAYUNG 26. SUSIYATI B. HTRAWAN 27. ARLEN T. PAKPAHAN 28. M. ARIEF N.
29. NUGROHO HARI PRASETYO 30. M. YASIN BUCHARI
KETUA RAPAT (H. ANDAYA LESTARI SE, MBA) : Assalamualaikum wamhmatullahi wabarokatuh.
Dengan seizin Bapak-bapak dan Ibu sekalian, skors saya cabut kembali.
(Skors dicabut puku114.10 Will)
Bapak-bapak sekalian untukslangini sayaditugaskan untuk me lanjutkan pernbahasan RUU tentang Bea Balik Nama Tanah dan Bangunan. Dan untuk itu pertama-tama kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, bahwa sampai dengan selang hariini kita masih diberikan kesehatan untuk melanjutkan tugas kita dalam pembahasan RUUini. Dan dalam pembahasan ini tentunya mengenai mekanisme saya kira saya mengikuti apa yang telah dilakukan pada hari-hari terdahulu dan untuk itu saya kira kalau memang ada DIM yang kira-kira bisa kita putus ya kita dalam dua putaran ini mudah- mudahan bisa diputus. Oleh Ikarena itu memang kita harapkan adanya saling pengertian, saling musyawarah untuk mufakat, saling mendekatkan sehingga masing-masing ini bisa mencapat kesepakatan yang bulat.
Bapak-bapak dan Ibu sekalian.
Saya melihat record yang yang telah disusun oleh sekretariat yaitu tentang lumlah DIM pada RUU Tentang Bea Balik Nama Tanah dan Bangunan ini sejumlah 182. Dari 182 itu usul perubahan 152, tetap 28, sedangkan penjelasan 64 DIM, kemudian usul perubahan 17. ladi sesuai
dengan apa kesepakatan kita bersama bahwa yang kita bahas adalah Batang Tubuh sejumlah tentunya 152 inL Mudah-mudahan dalam waktu dua jam inl sebagian besar kalau bisa kiita dapat selesaikan.
Kemudian kami mulai yang pertama yaitu DIM nomor satu, mengenai Judul. Jadi iniadausul perubahandari F-KP, F-ABRIjugaada perubahan kata
"bea" diganti "pajak", kemudian usul perubahanjuga dari F-PP, sedangkan F-PDI mempertanyakan apakahjudul tidak sebaiknya disesuaikan dengan isl mengenai Bea Balik Nama Tanah dan Bangunan.
Sesuai dengan apa yang telah kita lakukan kemarin tentang judul ini maka ini adalah hal yang kita pandang sangat strategis, maka oleh karena itu memang kami minta untuk bisa diputus pada saat di Pans us ini, sehingga dengan demikian untuk selanjutnya bisa pembahasan kita ini sesuai dengan judul dan lsi Undang-undang itu akan sarna.
Untuk itu saya mahan dari F.ABRJ dulu untuk menjelaskan DIM-nya, Silakan.
F'-ABRI (SOEWARNO) : Terima kasih Ketua.
Mengenal judul untuk F-ABRI mengusulkan agar kata-kata "bea"
diganti dengan "pajak". Alasan yang dipakai oleh F-ABRI adalah dengan pengertian pajak. Itu dimaksudkan yaitu iuran k(:pada negara yang terutang oleh Wajiib Pajak berdasarkan Undang-undang dengan tidak mendapatkan prestasi atau balas jasa kembali secara langsung. Ini adalah menurut Ensiklopedia Ekonomi dan Manajernen. Sedangkan dengan bea itu bisa diartikan apakah itu pajak, apakah itu ongkos, apakahjuga biaya. Dan untuk ongkos dan blaya biasanya ada balas jasa secara langsung oleh penerima.
Demikian ini yang dipakai sebagai alasan dari F-ABRl, terima kasih.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Silakan F-PP sekaligus menanggapi dari F-ABRI.
F-PP (DRS. H. M. MUKROM ASAD) : Terima kasih Bapak K{~tua.
Jadi kami masih mempertahankan kata "bea", Alasannya Pertama secara prinsipiil Memang perbedaan itu sangat kecil antara Bea, pajak, kemudian iuran, asal bersifat wajib. Hanya kita mengenal beberapa jenis bea yang masih berlaku, misalnya bea masuk, bea meteral, kemudian tenikhir dalam pajak restrlbusi daerah kita mengenal BBNKB Disamping pajak kendaran bermotor.
Pembedaannya kalau umpamanya kalau pajak kendaraan bermotor yang mudah dengan bea Balik nama kendaraan berrnotor, kalau pajak kendaraan bermotor dia berlaku pakai masa pajaknya yaitu per tahun. Sedangkan bea Balik nama kendaraan bermotor tidak ada masa pajaknya, Sehingga dia berlaku bea. Demikian juga dengan ini, kalauini tidak mempunyai mas a tetapi juga dia tergantung pada beraksi sarna dengan bea Balik nama, maka kami mengambil kata "bea" . Ditinjau dari segi imbalan, kalau bea Imbalan itu memang tidak langsung tetapi nampak, dibanding dengan pajak hampir tidak nampak sarna sekali. Umpamanya bea Balik nama, maka dia halal menjadi nama dia, itll langsung kena pada dirinya. Bea kendaraan bermotor dia bisa menikmati pemiIikan kendaraan itu setelah dia membayar bea. Tapi kalau pajak kan hampir tidak ada sarna sekali, baik dalam arti kata Imbalan yang sepertli restribllsi maupun Imbalan seperti bea. Dia membayar bea sehingga dia bisa masuk, bea masuk. Jadi memang sangat tipis sekali tetapi pembedaan ini saya kira penting sekali. Maka kami masih mempertahankan kata bea Balik nama tanah,jadi masih menggunakan kata
bea. Timbul juga pertanyaan, jadi kalau PKB ito setahun dia harus bayar ulang lagi, tapi kaJau bea kan cuma sekali, tetapi dia Imbalannya ito dia menjadi berhak terhadap prestasi yang telah diberikannya kepada negara berupa pembayaran itu, lebih kurangnya kami demikian mempertahankan judul ini dan sekaligus menanggapi apa yang telah disampaikan oleh F-
ABRI. Terima kasih.
KETUARAPAT:
Terima kasih.
Saya teruskan kepada F-KP sekaligus menanggapi F-ABRI dan F-PP.
Silakan.
F-KP (DRS. H. HASANUDDIN) : Terima kasih Saudara Ketoa.
Saya kira ini permulaan yang baik.
Langsung saja F-KP mendukung usuJ F-ABRI bahwa "bea" ito diganti dengan kata "pajak", dan juga usul F-PP masalah perolehan hak atas ito jelas kami dukung. Oleh karena usul dari F-KP bea Balik nama ito menjadi pajak perolehan hak atas dan sebagainya. Kenapa Pak Ketua kami mengusulkan begito, oleh karena kalau kita Iihat Pasal 2 ayat (1) mengenal Rancangan Undang-Undang ini mengatakan bahwa yang menjadi obyek pajak adalah perolehan hak alas tanah atau bangunan dan sebagainya sebagaimana dikatakan dalam ayat (2), dan saya pikir penggabungan antara kedua usul F-ABRI, dan F-PP ini dirangkum oleh F-KP dan saya kira tidak ada permasalahan.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih F-KP.
Meskipun dari F-PDI ini sifatnya bertanya, tetapi saya kira ini saya serahkan untuk sekaligus apa yang dipertanyakan, kemudian menanggapi ketiga fraksi. Kami persilakan F-PDI.
F-PDI (TIOP HARUN SITORUS) :
Terima kasih Bapak Ketua.
Ibu Bapak yang saya hormati.
Pertama-tama kami ingin klarifikasi dulu bahwa untuk RUU Bea Balik Nama dan Bangunan, kami telah menyampaikan ralat DIM yang baru tertanggal 24 februari 1997 yang lalu. Jadi saya kira untuk memperlancar pembahasan kita nanti kami akan berpegang kepada ralat DIM yang terakhir. Saya tidak tahu apakah Bapak Pimpinan dan Fraksi-fraksi yang lain sudah menerima.
Mengenai pembahasan kita dari DIM I. Dari DIM yang terbaru kami seperti angka "1996" itu dihapus, seperti fraksi yang lain. Kemudian walaupun sebenamya kami menanyakan mengenaijudul ini, secara konkrit sebenamya kami ingin mengusulkan supayajudulnya menjadi "Bea Balik Nama Tanah dan atau Bangunan". Jadi kami ingin mengusulkan setelah kata "dan" kata "atau". Kenapa demikian ? supaya ada altematif, jadi tidak akumulatif kalau hanya "dan". Karena didalam prakteknya nanti sudah barang tentu transaksinya hanya ada tanah, barangkali juga hanya ada bangunan tanpa tanah. Jadi sehingga kami merasa per/u mengusulkan "dan atau". Jadi itu usul dari F-PDI.
Kemudian menanggapi usul rekan fraksi yang lain mengenai perubahan
kata bea dengan pajak. Ini pun kami sudah membahas secara mendalam di fraksi kami. Sehingga kami sampai pada kesimpulan mempertahankan nama "bea", karena asumsi kami demikian Bapak Pimpinan, pemakaian kata pajak berkonotasi terhadap suatu pengenaan pajak atau pengenaan kewajiban dalam suatu tenggang waktu tertentu, apakah bulanan, dua bulanan, atau tahunan. Sedangkan yang dimaksud dalam RUU ini adalah tergantung kepada transaksi. Jadi kami tiba kepada kesimpulan dengan pemakaian kata bea.
Kedua kami lebih cenderung sangat menyetujui pemakaian kata bea ini.
Karena kalau kita pakai pajak seolah-olah nanti secara politis masyarakat akan menilai pajak apa lagiini. Apakah ada penambahan pajak baru. Jadi saya kira secara politis memang karena bea ini sudah biasa sedangkan ini kita ganti dengan pajak seolah-olah kita menambah suatu PDT ini pajak yang baru. Ini barangkali yang menjadi alasan kami mempertahankan kata
"bea" dan mengusulkan kata "atau". Demikian, terima kasih.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Jadi posisinya saya kira split ini, kalau dari F-ABRI tentang penggantian
"bea" menjadi "pajak" tetapi F-PP dengan F-PDI tetap "bea", lalu Balik Nama juga demikian, an tara F-PP dengan F-KP sarna, sedangkan yang tetap adalah F-ABRI dengan F-PDI. Jadi ini posisinya split, kita harus mendekatkan. Oleh karena itu saya mohon dari Pemerintah untuk bisa memperjelas sehingga sebenamya apa yang tepat menurut judul Undang- undang ini. Saya mohon kejelasan dari Pemerintah.
PEMERINTAH (DEPARTEMEN KEUANGAN RIlDRS. MAR'IE MUHAMMAD):
Saudara Pimpinan dan Para Anggota Pansus yang kami hormati.
Mengapa dalam hal kami menggunakan istilah bea balik nama ada beberapa pertimbangan. Diajukannya RUU tidak terlepas daripada bea balik Nama yang sudah dikenal oleh masyarakat yaitu sejak diberIakukannya ordonansi bea balik nama atas Staatblad 24 Nomor 291. Jadi ini sebetulnya supaya masyarakat tidak dan itu sudah umum dikenal, sehingga tidak menimbulkan suatu kesan ada sesuatu pajak baru lagi. Ini alasan historis.
Kedua; pajak pada lazimnya kita tidak memperoleh suatu imbalan secara langsung, sedangkan ini kita mempunyai sebetulnya, meskipun tidak sekonkrit jika dibandingkan dengan restribusi, yaitu hak atau title itu, karena itu bea balik nama ini dibebankan kepada yang memperoleh hak, jadi bukan yang menjual tapi justru pembeli yang memperoleh hak dan title.
Selain itu ltadi sudah dikemukakanjuga bahwa disini tidak dikenal masa pajak. Pada saat transaksi pada saat itulah terutang bea balik nama atas tanah dan bangunan ini, bisajuga dan atau bangunan, supayajudulnya saja supaya tidak panjang. Tapi kalau isinya memang bisa"dan atau bangunan", flat-flat yang tinggi-tinggi itu memang isinya sudah itu. Hanya supaya nanti judulnya tidak "dan atau", tetapi yang penting kan isinya.
Kemudian beberapa pertimbangan-pertimbangan, selain itu kita sudah mengenal banyak bea Balik nama. Kata bea ini kita sudah mengenal bea meterai, bea masuk, bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) .. Jadi ini bukan merupakan hal yang baru, karena kalau dibilang restribusil persis tidak juga, tapi dibilang pajak tidak juga. Tapi kalau kita mau melihat betul-betul dia lebih de kat kepada retribusi. Dia diantara keduanya itu. tapi terus terang saja dia agak lebih dekat kepada restribusi. Karena itu Saudara Ketua tanpa mengurangi sedikitpun penghargaan kami terhadap kawan- kawan yang mengusulkan pajak dirubah, kami tetap mempertahankan dengan alasan-alasan nama daripada RUU ini. Tetapi Saudara Ketua, jika kemudian dilihat lebih lanjut Bab I mengenai Ketentuan Umum, karena
ini ada kaitannya lang sung yang dimaksud dengan Bea Batik Nama Tanah dan Bangunan ada "pajak", kita tidak menyebut retribusi. Yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan yang selanjutnya disebut pajak. Jadi kami pakai istilah pajak disini. Tapi kalau diteliti betul-betul karakteristiknya dia sebetulnya lebih dekat seperti retribusi, meskipun bukan retribusi juga, kami tadi katakan diantara. Jadi karena itu mungkin memang diluar negeri seperti Jepang ada Transfer Tax. Jadi Tax diterjemahkan langsung saja pajak, karena mungkin di negara-negara tersebut tidak dikenal historis seperti yang kami kemukakan tadi Staatblad 24 Nomor 291, mungkin historisnya kita hams tihat negara-negara tersebut berbeda dengan kita.
Oleh karena itu dengan pertimbangan-pertirnbangan itu, maka kami berpendapat bahwa nama daripada Rancangan Undang-undang ini cukup memadai dan apa yang dimaksud sudah jelas dengan membaca dengan penjelasan Pasal 1 mengenai apa yang dimaksud dengan bea batik nama tanah dan bangunan. Jadi masyarakat yang umum sudah jelas bahwa ini adalah transfer tax, transfer of title, yang memperoleh title itu yang temtang kewaj iban bea batik nama.
Dengan penjelasan ini Saudara Ketua, kami harapkan kiranya lebih jelas bagi saudara-saudara sekalian khususnya bagi kawan-kawan yang menganggap perlu adanya modifikasi daripada nama RUU ini, terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih Pak Menteri.
Demikian saya kira penjelasan mengenai judul. Jadi sekarang saya mohon dari F-ABRI, tentunya dengan apa yang dikemukakan Pak Menteri tadi adalah bahwa judul bea ini sudah umum dikenal oleh masyarakat dan
secara historis sudah berla'ku. Oleh karena itu saya mohon kepada fraksi- fraksi untuk bisa mendekati kearah ini kalau itu memungkinkan. Jadi satu putaran lagi saya mohon untuk memperdekat. F-ABRI.
F-ABRI (DARYANTO, SE, MM) : Terima kasih.
Bapak-bapak dan Ibu sekalian,
Kami akan meperjelas apa yang dikatakan oleh rekan kami. Tadi rekan kami mengambil ensiklopedia ekonomi, bisnis, dan manajemen. Nah ini kami mengambil dari kamus besar Bahasa Indonesia. Yang disebut bea adalah pajak, cukai, biaya, ongkos. Kemudian pajak ialah pungutan wajib biasanya bernpa uang, yang harns dibayar oleh penduduk sebagai surnbangan wajib kepada negara atau Pemerintah sehubungan dengan pendapatan, pemilikan, harga beli barang dan lain sebagainya. Kemudian kami tambahkan yang tadi dikatakan oleh Bapak Menteri halaman 9 DIM Nomor 20; bea balik nama dan bangunan adalah pajak.
Jadi menurnt hemat kami yang lebih tepat memang adalah pajak. Tidak usah kita melihat secara psikologi dan lain sebagainya, saya kira ini lebih baik namanya pajak. Sekialll dan terima kasih.
KETUARAPAT:
Terima kasih. Saya lanjutkan F-PP.
F-PP (DRS. H. M. MUKROM AS;AD) : Bapak Ketua.
F-PP hanya ingin memajukan kepantasan saja Pak, kalau kita punya
obyek pajaknya kendaraan bennotor, kita punya bea balik nama kendaraan bermotor, punya pajak kendaraan bennotor. Obyek pajaknya bumi dan bangunan, kita PBB, kita punya bea balik nama pajak Bumi dan Bangunan.
Jadisudah satu stel lah. Jadi kalau mau indah begitu ya sudah indahlah seperti itu.
Terima kasih Saudara Pimpinan.
KETUA RAPAT :
Terima kasih. F-KP.
F-KP (DRS. H. HASANUDDIN) : Terima kasih Saudara Ketua.
Kalau Pemerintah masih bertahan, saya kira F-KP juga punya alasan untuk bertahan. F-KP dapat mengerti mengenai masalah istilah bea balik nama ini sudah memasyarakat. Tapl jangan lupa Saudara Menteri bahwa itu adalah istilah-istilah yang dilahirkan jaman kolonial dulu. Kita ingat betul bahwa sejak dicanangkannya Undang-undang Pokok Agraria tanggal 24 September 1960 sebenamya masaiah itu sudah tidak ada dan sudah dihapus. Dan saya kira kalau kita berpendapat masalah-masalah itu perlu diganti dengan Undang-undang nasional, saya pikir masalah-masalah itu tidak usah malu bahwa kita pun akan mensosialisasikan istilah-istilah baru yang memang tidak sarna dengan istilah jaman kolonial. Apalagi dari segi undang-undang masalah itu sejak 24 September 1960 sudah dicabut dan tidak berlaku, itu yang pertama.
Kemudian yang kedua daripada pasal-pasal berikut saya tidak sebut pasal berapa, itu semua bicara masalah perolehan hak atas tanah. Memang pemah ada itu di Jawa Barat misalnya tahun 1970 ada yang namanya Peraturan Daerah tentang Bea Balik Nama Tanah. Saudara Mukrom itu
wakil Ketua DPRD, BBNT namanya. 1m pada waktu dulu, tapi kalau sekarang kita bicara masalah pajak, memang itu pajak atas perolehan hak, kenapa kita harns malu.
Terima kasih Saudara Ketua.
KETUA RAPAT :
Terima kasih. Silakan F-PDI.
F-PDI (SETYADI LAWI, BA) : Saudara Ketua yang terhormat.
Melengkapi penjelasan rekan kami, didalam benak kami bahwa pajak itu mernpakan pengenaan yang pada lazimnya sudah berjalan adalah secara terns menerus, tahun pertahun. Kalau seseorang mempunyai kesempatan untuk memiliki tanah Karena membeli, kemudian dia dikenakan biaya untuk pengenaan itu artinya menjadi nama sendiri, layak kah dia selalu dihantui talmn pertahun kena pajak? kalau istilahnya pajak, karena pajak itu pengenaannya terus menerus. Sedangkan biaya ini dikenakan cuma sekali, yaitu saat dia memperoleh nama. Keputusan terhadap beaini final. Tidak lagi kemudian ada tahun yang akan datang, kecuali dalam Undang-undang ini kalau pajaknya kurang, itu ada pengenaan kurang. Khawatir kami adalah bahwa kalau orang kena pajak itu Kemudian ada terbayang kemungkinan sekali tahun depan kena pajak lagi seperti yang diberlakukan pada pajak bumi dan bangunan setiap tahun kena. Oleh karena pengenaannya hanya sekali, maka menurut kami tidak layak kalau masyarakat dihantui dengan perkataan pajak itu, lebih halus kalau disebut dengan bea. Toh bea ini klasifikasinya merupakan pajak Sebab bea masuk, itu disana disebut bea masuk, tidak disebut pajak masuk karena pengenaannya pun hanya satu kali. Andaikata kata kemudian terjadi revisi-revisi terhadap pengenaan bea masuk karena yang dikenakan adalah pengusaha yang melakukannya
dengan self assesment. Apakah juga terhadap orang yang ingin memillki nama terhadap tanah itu perlu mengajukan self assesment ? dengan mengajukan kepada PPAT dia sudah selesal.
Yang kedua; mengapa itu bea. Bahwa kalau kita mengacu kepada Undang-undang yang dipakai sebagai rujukan Undang-undang ini. Pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 sebenarnya tanah ini kan tidak ada yang tidak ada punya hak. Tanah di lndonesia itu semua diberikan hak, sampaipun tanah yang tidak dimiliki oleh orang-orang toh dikuasai oleh negara. Andaikata kemudian negara tidak menguasai sampai sejauh itu toh disebutkan tanah negara bebas. Tetapi toh itu tanah negara, ada yang menghaki. Kemudian yang lainnya ada hak milik, hak guna bangunan, semuanya mempunyai hak. Sehingga kalau orang mendapatkan, itu sebetulnya sudah ada hak yang dimiliki. Kalau itu kemudian beralih ke nama orang lain bukankah itu merupakan semacam peralihan hak dari negara kepada orang, namanya peralihan hak. Dari tanah bebas ke perorangan namanya tanah. Semuanya ada sudah ada yang menghaki.
Oleh karena itu bea Balik nama merupakan hal yang tepat. Karena tidak ada tanah di Indonesia yang tidak ada yang menghaki Perolehan hak itu darimana, ya karena Balik nama tadi. Kalau hak mllik ya dari Nama A ke nama B, kalau dari tanah negara ya dari negara kepada B, dian seterusnya, semuanya beralih. Jadi tidak ada yang semata-mata kemudlian matoki ini tanah saya, hak saya, tidak ada. Karena itu terjadi peristiwa bahwa ada orang yang menduduki tempat tanpa hak, karena haknya sudah dimiliki orang lain, atau instansi lain.
Oleh karena itu Bapak-bapak sekalian, bahwa kategorinya adalah Pajak.
Keadilannya itu kategori pajak seperti diberIakukan pada bea cukai. Bea itu adalah juga kategorinya pajak. Mengapa untuk balik nama kok hams pajak, kenapa tidak bea masuk itu disebut pajak. Pada waktu kita membuat Undang-undang itu kita semua sepakat tidak, ini tidak boleh disebut pajak, ini hams disebut bea. Lah sekarang kita malah mengatakan bahwa
yang untuk masyarakat-masyarakat umum kecil yang tidak berhubungan dengan masalah penguasaan ini harns disebut pajak, wah ini ada rasa ketidak-adilannya dalam penerapan itu, dan menurut kami tebih baik kita berpendapat itu klasifikasi pajak tetapi namanya bea, seperti keadilannya menghadapi masalah bea masuk.
Disamping itu Bapak sekalian, didalam pasal-pasal yang disebut di sana itu bea sebutannya. Perkataan "pajak" itu merupa-kan klasifikasi pada ketentuan umum tetapi selebihnya adalah bea. Untuk menyebut orangnya disebut wajib pajak untuk menyingkatkan saja, tetapi kalau isinya adalah bea.
Sekali lagi Bapak sekalian, bahwa keterangan kami ini asumsinya adalah bahwa ada hal yang sudah kita lakukan dan pengenaan terhadap adalah hanya satukali sepanjang tidak terjadi pengalihan hak kemudian yang ketiga bahwa didalam alam di Indoneslaini tidak ada tanah yang tidak dimiliki, tidak dikuasai, paling tidak dikusai oleh negara. Sehingga pengalihan hak atau perolehan hak menurut pendapat kami kurang pas.
Pasnya adalah balik nama, pengalihan hak itu, batik nama tersebut dari negara kepada orang-perorangan, dad orang-perorangan kepada perorangan dan sebagainya.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih Pak Lawi.
Saya kira karenaini dua putaran Pemerintah juga masih satu putaran, jadi saya persilakan Bapak Menteri untuk barangkali sekali lagi untuk
menanggapi dari fraksi-fraksi, persilakan.
PEMERINTAH :
Saudara Ketua, kalau kami boleh usul apa bisa kita skors sebentar kita
rembugan seperti dua hari yang lalu, mungkln ada Inspirasii-inspirasi bam, Saudara Ketua. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Bail<:, jadi ini saya tawarkan padla Saudara-saudara sekalian karena memang sesuai dengan apa yang kita balhas kemarin ini memang hams putus untuk kelanjutan dari pada pembahasan kita mengenai judul ini.
Oleh karen a itu usul dari Pemerintah untuk diadakan lobby. Apakah bisa disepakati.
Baik, saya kira kita skors 15 menit, jadi wakil-wakil dari masing- masing fraksi dan Pemerintah untuk berkumpul di tempat lobby, mungkn ada yang ditentukan. Sebentar Pak, ini 15 men it kira-ki.ra cukup atau tidak, karena menyingkat waktu juga, kalau tidak ada usul yang 30 men it, menurut pendapat saya kira tidak sampai 30 menit, 20 men it, kalau tidak bisa ya kita perpanjang, setujui.
Saya skors selama 20 menit. Terima kasih.
(RAPAT DI SKORS PUKUL 14.45) KETUA RAPAT :
Bapak dan Ibu sekalian skors saya cabut kembali.
(SKORS DI CABUT PUKUL ]l5.25 Wm)
Jadi ternyata lobby yang kita lakukan Ilebih daripada 30 men it, yaitu jadi 45 menit. Hasil daripada lobby saya sampai kepada Bapak!
Ibu sekalian, bahwa masih belum terjadi kesepakatan judul, yang sudah menjadi kesepakatan adalah kata "balik nama" diganti "JPerolehan hak atas". Kemudian yang belum mendapatkan kesepakatan "bea dan pajak".
Oleh karena itu sesuai dengan hasilakhir, maka diberikan kesempatan pada Fraksi-fraksi untuk konsultasi kepada Pimpinan Fraksi dan diharapkan barangkali kalau bisa besok sudah ada ketentuan. Sehingga dengan demikian maka judul itu akan juga mewarnai isi dalam pembahasan itu bisa lebih baik.
Lalu kesepakatan yang kedUla, adalah bahwa pembahasan dari konsiderans menimbang sampai dengan melilgiingat itu diserahkan ke Panja, dan Panja diamanatkan uil1tuk membuat Tim Kedl untuk merumuskan termasuk penjelasan umum saya kira itu sesuai dengan kemarin juga sarna dan Timcil diberikan mandat penuh.
1tulah kira··kira kesepakatan dari pada lobby yang kita lakukan.
Bapak dan Ibu sekalian, maka kita lanjutkan masih ada waktu setengah jam, kita manfaatkan utrtUlk membahas, jadi kesepakatan saya ketok ini
perlu untuk dicatat oleh Sekretariat.
(RAPAT: SETUJU)
Lalu kita lanjutkan kepada halaman 8 saya kira pada DIM kita yaitu DIM nomor 16. Saya kira di sini nom or 16 tetap semua,jadi ini saya kira bisa kita setujui.
(RAPAT: SETUJU)
Kemudian nomor 17 Bea Balik Nama juga kita pending saya kira ini belum bisa kita sepakati, belum bisa kita bahas karena ini menunggu hasil lobby hanya "P'erolehan HakAtas" yang saya kiraini sudah disepakatl, kita menunggu hasil konsultasi.
Kita lanjutkan kepada Bab I nomor 18, tetap, tetap, tetap, tetap, ini oke.
Kemudian namar 19 Pasal 1 tetap semua jadi ake.
(RAPAT : SETUJU)
Kemudian DIM namar 20, Bea Balik Nama Tanah saya kira belum kita bahas kita tunda sampal hasil kansultasi selesai, apakah ini Pajak atau Bea ini saya kira mempengaruhi, kiita tunda saja Pak.
INTERUPSI F-KP (BEN MESAK) :
Balik nama saya kira sudah bisa diminta persetujuannya, karena sudah diganti dengan "Perolehan Hak Atas", sehingga itu sudah bisa diganti.
KETUA RAPAT :
Satu kalimat, jadi kita tunggu saja. Kalau mengatakan "Balik Nama"
diganti dengan "Perolehan Hak Atas'" baleh saya ketak, tetapi ini satu kalimat, jadi kita lebih baik menunggu hasil konsultasi saja.
Lalu DIM namor 21 tetap.
INTERUPSI F-PDI (SETYADJI LAWI, BA)
Kalau yang namar 1 itu kec:uali yang tadi sudah kita sepakati. F-KP itu mengusulkan penghapusan di sana, apakah itu tidak kita bahas sekarang atau kita gabung dengan yang di atasnya itu. Jadi saya ulangl lagi di DIM namar 20 itu ada kalimat yang lngin dihapuskan aleh rekan F-KP, apakah kita tundajuga pembicaraan untuk itu.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Kalau saya baleh menyarankan lebih baik ayat ini saya kira pending
saja, sekaligus saja. Sebab nanti barangkali apa dinapus atau tidak itu nanti kaitannya dengan yang kita sepakati nanti. Jadi mohon persetujuan untuk ditunda saja sampai besok pagi.
Saya kira bisa disepakati ?
(RAPAT : SETUJU) Terima kasih.
Lalu DIM nomor 2 F-KP tetap, jadi saya kira ini usul dari pada F-ABRI kata "perolehan" diganti kata "peralihan", lalu dari F-PDI kata "pribadi"
diganti kata "perseorangan", saya kira ini bisa Panja ini, kata "pribadi diubah menjadi "perseorangan".
Untuk F-ABRI bagaimana ini, apakah "perolehan" diganti "peralihan"
tadi saya kira perlu disampaikan saja.
F-ABRI (DARYANTO, SE.M.M) : Terima kasih Pak.
Ini sesuai dengan lobby tadi, kalau memang demikian,jadi "perolehan"
diganti kata "peralihan" kami taTik semuanya, yang pertama. Namun demikian pada akhir kalimat ditambah dengan kata "berdasarkan akte yang dibuat dihadapan PPAT atau karena keputusan Kantor Lelang", ini untuk kepastian hukumnya. Sekian, terima kasih.
KETUARAPAT:
Baik, ini saya kira Panja saja, bisa disetujui termasuk F-PP maupun F-PDI. Panja ?
(RAPAT : SETUJU)
DIM nomor 22 usul perubahan dihapus.
Baik saya kira ini coba saya putar, coba F-PP mengenai usul perubahan dihapus karena yang lain tetap, barangkali siapa tahu bisa putus.
F -PP (DRS. H. JUSUF SYAKIR, SH) :
Ini usul kami dihapus karena sudah dengan sendirinya "hak atas tanah adalah hak atas tanah sebagaimana dimaksudl UU Pokok Agraria". ladi itu di undang-undang lain tidak ada yang mengatur hak atas tanah itu kecuali di UU Agraria. ladi sudah dengan sendilrinya, karena sudah dengan sendirinya sudah jelas tidak perlu ada ketentuan lagi.
KETUA RAPAT :
Terima kasih.
Barangkali F-KP untuk menanggapi dari usul dari F-PP.
F -KP (MUSTOKOWENY MURDI, SH) : Terima kasih.
Kami langsung menanggapi dari F-PP, F-KP tetap pad a usulan DIM yaitu tetap, karena di sini di dalam penjelasan Ketentuan Umumjustru harus ada guidance obyek yang diatur di dalam UU ini yaitu disini dijelaskan
"hak atas tanah adalah hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 5 Tahun 60". Karena memberi batasan hak atas tanah itu, hak atas tanah yang mana?, oh ini yang diatur oleh UU Nomor 5 Tahun 1960. ladi kami pikir ini masih sangat relevan untuk tecantum di dalam UU ini.Terima kasih Pak.
KETUA RAPAT :
Terima kasih, persilakan F-PDI.
F-PDI (TIOP HARUS SITORUSO) : Terima kasih Bapak Pimpinan.
Menurut hemat kami walaupun ini sudah dijelaskan dalam UU Nomor 5 Tahun 1960, Ketentuan Umum ini sangat penting tetap kita cantumkan di dalam Ketentuan Umum RUU ini. Karena ini nanti akan menjadi pedoman didalam pasal-pasal berikutnya. Demikian.
KETUA RAPAT :
Terima kasih, persilakan F-ABRI.
F-ABRI (SOEWARNO) : Terima kasih Ketua.
Supaya tidak mengulang, saya F-ABRI sependapat sekali dengan apa yang disampaikan baik oleh F-KP maupun oleh F-PDI. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih. barangkali penegasan dari Pemerintah.
PEMERINTAH :
Ini untuk memberikan kepastian saja, karena itu kami kira ini perlu tetap ada dan saya kira ini bisa di Panjakan. Terima kasih.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Apakah saya kembalikan kepada F-PP Pak, barangkali ini memang
untuk memudahkan menurut fraksi-rraksi dalam kaitan membahas RUU ini. Jadi saya persilakan.
F-PP (DRS. H. JUSUF SYAKIR) :
Sebelum kami menyetujuii itu di Panjakan, kami setuju di Panjakan.
Cuma rasa-rasanya tidak ada u:ndang-undang lain yang mengatur mengenai hak tanah, hanya ada di UU Agraria, itu satu. Kemudian kalau ini hak atas tanah di jelaskan, nanti Hak Atas Bangunan itu berdasar apa?, tidak ada.
Jadi saya kira lebih bagus itu dihilangkan, tetapi bagaimanapun juga kami setuju untuk di Panjakan. Terima kasih.
KETUARAPAT:
Baik, terima kasih, bagaimana usul di lPanjakan dapat disetujui ? (RAPAT : SETUJU)
Terima kasih.
DIM nomor 23, dari F-KP saya kira ini, menanti say a kilra ini, jadi kita tunda pending sama saja F-ABRIjuga, F-PP juga. Jadi DIM nomor 23 kita pending.
(RA1PAT : SETUJU)
DIM nomor 24, sarna saya kira "Bea Balik Nama" diganti dengan kata
"Pajak Perolehan Hak Atas tanah".
Terima kasih, saya diingatkan bahwa pending ini dalam kaitan "Bea", kalau masalah "perolehan hak atas" ini sudah disepakati. Jadi pendingnya
"Bea", jadi "Bea" dan "Pajak" ini saya kira yang kita pending. Saya kira setujui.
(RAPAT : SETUJU)
DIM Nomor 25 sarna, pending.
(RAPAT : SETUJU) DIM Nomor 26.
INTERUPSI F-KP (BEN MESAKH, SE) :
Tanpa mengurangi ketukan palu tadi, F-KP itu sebenamya tidak hanya berganti nama tetapi masalah kata "dapat" itu diPanjakan juga dan singkatan-singkatan, pada nomor ... .
KETUA RAPAT :
Baik, jadi saya kira itu nanti Pak saya harapkan besok pagi sudah ada keputusan, kita coba ulangi kembali, yang Panja kita lemparkan ke Panja, karena ini masalah "Bea" dan "Pajak" saja ini, yang lainnya sudah ada kesepakatan.
DIM nomor 26, saya kim kita pending juga ini. F-PDI persilakan.
F-PDI (SETYIADJI LAWI, BA):
Saudara Pimpinan dan Saudara-saudara sekalian Untuk DIM nomor 26 kami telah menyampaikan ralat, bahwa untuk DIM nomor 26 ini kami mengusulkan untuk dihapus. Oleh karena seperti yang kami sampaikan pada Pengantar Musyawarah, apakah sekiranya kebijaksanaan atau ketentuan ini patut karena Kami merasa bahwa itu tidak adil. Tidak adil karen a orang yang telah membayar apa itu "Bea" atau "Pajak Balik Nama" sudah dibayar itu masih ada Kemungkinan untuk membayar lagi sebagai kurang bayar setelah ada temyata dapat ditemui dokumen yang menunjukkan bahwa dia kurang bayar, dalam pasal diusulkan 5 tahun itu nanti kita bicarakan lebih Ian jut.
Setelah itu, setelah dia misalnya kemudian membayar kurang bayar dia masih harus menunggu Iagi atau dibayangi lagi akan Kemungkinan membayar kurang bayar tam bahan" itu diusulkan lagi perlode berikutnya.
Jadi kami membayangkan bahwa orang yang membeli sela,a jangka waktu dua kali usulan yang ada yaitu 5 tahun ditambah 5 tahun dibayang- bayangi Kemungkinan membayar lagi. Orang yang tidak tahu setelah membayar uang Bea Balik Nama tadi 5 tahun sudah lupa tenltang peristiwa itu sekonyong-konyong datang tagihan untuk membayar Bea Balik Nama Kurang Bayar, mungkln dia sudah terkejut dengan itu.
Kemudian terjadi lah dialog yang mungkln sarna-sarna keras untuk tidak sampai terjadi mungkin dia membayarnya. Tetapi setelah itu 5 talmn kemudiaR1 datang lagi tagihan, yaitu kurang bayar tambahan ini untuk yang kedua kali mungkln orangnya jadi mati. Jantungan Pak ini selama 10 talmn ini nantinya. Apakah ini dapat dikatakan adil, menurut kami ini tidak manusiawi untuk tagihan yang kedua. Bukankah sudah cukup kalau dikenakan kepada kurang bayar tadi 5 tahun pertama itu tagihan kurang bayar itu mungkin itu sudah dengan macam-macam persoalan. Kita tidak boleh berpikir ini nanti yang besar-besar yang penguasaan lahannya sampai ratusan, ribuan hektar, bagaimana itu harus dikejar. Tetapi UU ini berlaku dari mulai yang harus yang kena wajib pajak, mungkin dia orang yang membeli dengan Rp. 35 juta yang dikenakan itu toh berlaku tentang kemungkinan tagihan kurang bayartambahan itu. Ini mungkin akan menjadi problema masyarakat yang rasanya sangat mencekam, kami mengusulkan dihapus demi keadilan Pak.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih.
Jadi pada nomor 26 ini untuk Bea dan Pajak ini memang kita pending tetapi dengan ada usulan bam atau ralat, maka saya mahan sebelum kita Panjakan kalau nanti terpaksa kita Panjakan, kami mahan penjelasan dari Pemerintah atas usul daripada F-PDI. Saya persilakan.
INTERUPSI F-ABR][ (SOEWARNO) : F-ABRI nya belum ditanya Pak.
KETUA RAPAT :
Bukan Pak, ini penjelasan dari dihapusl1ya ini,jadi nanti saya kira nanti setelah itu kita lihat. Karena ini saya kira sebetulnya kalau tidak ada ini kita pending karena pending masalah pajak dan bea. Tetapi dengan adanya ralat bam, maka saya lang sung saja kepada Pemerintah kalau sudah ada kejelasan itu apa yang dimaksud langsung kita Panjakan saja kalau Saudara-saudara setuju, saya kiira Pemerintah pak.
PEMERINTAH:
Mengapa perlu ketentuan ini, karena ini pada dasamya self assessment Pak. Kemudian tentunya kita tidak main pukul bahwa seperti tidak ada kepastian hukum. Ketentuan ini atau kita bam perumusannya atau pasalnya mengenai ini adalah hanya dikenakan dalam hal terjadi ada nyata bahwa misalnya transaksi karena yang akan memllngut adalah BPH dan notaris di bawah NJOP dan biasanya kalau kita salahkan notaris atau PPAT dia bilang tidak. Kami ini hanya mencatat saja apa yang disampaikan oleh pihak-pihak yang bertransaksi dan tidak tertutup kemungkinan bahwa mereka Ibemsaha merendahkan. Karena dengan demikian ini suatu presentase tertentll atas nilai transaksi ini yang pertama.
Kemudian yang kedua dan kita tidak bisa menyalahkan Notaris atau PPAT itu terns terang saja menurnt ketentuan yang berlaku, begitulah, kami hanya mencatat.
Kemudian yang kedua adalah dalam hal terjadi ada temuan baru, dalam hal itu memang harus ada ketentuan mengenai ini dan ini adalah analog juga dengan PPH. Jadi ini juga mengambil ketentuan dari KUP, tentunya kalau lebih bayar juga kita adlil Pak, ada di Pasal 27 imbang, kalau lebih juga kita kembalikan, Surat Ketetapan Lebih Bayar,jadi adil, kalau kurang ya harus nambah kalau lebih kita kembalikan. Jadi orang tidak main-main, kalau tidak ada pasalini semua diturunkan nilainya di Notaris yang begituan tidak, bisa ngapain Notarisnya itu, PPAT juga. Paling kalau PPAT kalau dia itu masih Pegawai Negeri, Camat itu, dia kena PP 30 sanksi hukuman. Lha kalau Notaris mau diapain, wong dia itu blUkan pegawal kok.
Jadi karena dengan ketentuan ini untuk mencegah hal-hal sebagaimana yang kami kemukakan tadi Pak, ini sarna dengan PPH sebetulnya. Terima kasih.
Ketua ini diperdalam di Panja, ini cuma tambahan keterangan, mengapa perlunya dicatumkan ketentuan mengenal ini.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Jadi DIM nomor 26 ini untuk "Bea" dan "Pajak" kita pending, kemudian usulan perubahan yang nomor 2 dan 3 dari F-KP dan ralat baru dari F-PDI kita Panjakan.
Apakah bisa disetujui ?
F-PDI (SETYlADn LAW, BA) :
Untuk hanya tambahan penjelasan saja, memudahakan nanti pada waktu di Panja. Pak Menteri, kalau kelebihan dikembalikan memang, tetapi tidak ada kelebihan tambahan dikembalikan tidak ada. Jadi ada dihitung, lebih,
kernbalikan, tidak ada hitungan lagi lebih tambahan kembalikanjuga tidak ada, di sini cuma sekali mengembalikan. Tetapi kalau kurang bayar bisa dua kali, kurang bayar ada lagi kurang bayar tambahan bayar lagi ini yang kami anggap kurang menentramkaru, demikian Pak. Terima kasih.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
PEMERINTAH:
Maaf Saudara Ketua, pada setiap self assessment sanksinya hams diperberat, ini prinsipnya pajak universal,. ini sesuai dengan KlJP. Jadi semakin jauh kita menerapkan self assessment, maka kewajiban hak-hak yang diberikan kepada wajib pajak untuk melunasi penyetoran untuk membayar sel1diri itu hams diikuti dengan sanksi yang berat, itu adalah suatu asas universal, kecuali ini kalau official assessment. Jadi semakin jauh kita menerapkan sistim self assessment, maka sanksi hams makin diperberat. Masalahnya adalah maksudnya agar supaya dengan sanksi yang berat itu dari pagi-pagi wajib pajak yang bersangkutan itu jangan sampai menyalahgunakan haknya untuk menghituJl1g" membayar dan melaporkan kewajiban perpajakannya. Demikian Saudara Ketua.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Jadi saya tawarkan untuk butir 2 dan dari F-PDI, lalu ralat yang bam ini kita Panjakan. Sedangkan untuk "Bea" dan "Pajak" kita pending. Dapat kita setujui ?
INTERUPSI F-PP (DRS. H. JUSUF SYAKIR) : Mau tanya dulu Pak.
Saya mau menanyakan kepada F-PDI, apakah yang diusulkan itu hanya penghilangan SKBKBT kah atau termasuk SKBKB ?
F-PDI (SETYIADJI LAWI, BA):
SKBKBT saja.
Jadi kurang Bayar Tambahannya itu yang dihapus. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Jadi bagaimana kita Panjakan ?
(RAPAT : SETUJU) Terima kasih.
Kita lanjutkan pada DIM nomor 27.
Ini kelihatanya F-KP ada ralat penyusunan atas. Usul perubahannya dari F-KP ada ralat, yaitu "penyesuaian atas usul peru bah an judul".
Jadi saya kira ini termasuk di pending Pak ya" pending menunggu hasil konsultasi termasuk juga F-ABRI ini juga dipellding, usul F-PP saya kira ini sudah putus,jadi dengan demikian kita pending sampai hasil konsultasi bisa disampaikan.
DIM nomor 28 ini juga sarna ini, pending. Karena itu juga ada ralat dari F-KP tentang penyesuaian daripada judu!. Saya kira memang harus pending sesuai dengan kesepakatan tadi, sedangkan tadi setelah dipending memang sebaiknya mernang harus kita di Panjakan, jadi kita rnenunggu mudah-mudahan besok pagi bisa kita selesaikan.
Bapak dan Ibn sekalian.
Saya kira kurang empat rnenit, ini waktunya saya kira kelihatannya
sudah perlu istirahat Pak. Jadi apabila disetujui kita selesai sampaidi sini, Kemudian rapat kita skors dan Insya Allah besok siang kita kumpul kembali di ruang ini pukul 13.00 WIB, makan siangjam 12-00 seperti biasa.
Saya kira demikian dengan ini, maka Rapat saya skors. Terima kasih.
PEMERINTAH :
Maaf Saudara Ketua.
Besok itu adalah Tingkat IV RAPBN, jadi kami tidak bisa janji jam berapa. Selesai disitu, Saya tidak bisa tidak muncul. Jadi begitu Sidang Pleno ke sini Pak Ketua, Jadi kita tidak bicara waktu. Begitu selesai Sidang Pleno ke sini (Pansus). Terima kasih.
KETUARAPAT:
Saya kira demikian. Jadi memang jam 12.00 WIB disiapkan makan di sini, terserah kalau memang sempat, mudah-mudahan jam 13.00 sudah selesai, selesailllya dari Pleno, kita akan teruskan. Dengan demikian rapat saya skors sampai besok siang setelah makan siang.
(Rapat diskors Pukul 16.00 WID.)
Jakarta, 26 Februari 1997 A.N. KETUA RAPAT
PANSUS 5 RUU BIDANG PERPAJAKAN SEKRETARIS PANSUS
NY~K
NIP. 210000974LAPORAN SINGKAT PANITIA KHUSUS (pANS US)
PEMBAHASAN 5 RUU TENTANG PERPAJAKAN
Tahun Sidang : 1996 - 1997 Masa Persidangan : III
Rapat Ke : 6
Jenis Rapat : Rapat Kerja ke 4 Sifat Rapat : Terbuka
Hariffanggal : Rabu, 26 Pebruari 1997 Pukul : 13.50 - 16.00 WIB
Tempat : Ruang Kaca Gedung DPR-RI Ketua Rapat : H. Andya Lestari SE, MBA Sekretaris Rapat : Ny. Anita Soekarjo, SH
Acara : Pembahasan Materi DIM RUU Tentang Bea Balik Nama Tanah dan BangUlnan
Hadir Anggota Pansus :
51 orang dari 59 orang Anggota Tetap 19 orang dari 28 orang Anggota Penggati
- Pemerintah : (Menteri Keuangan RI beserta jajarannya)
1. Skors dicabut pukul 14.10 WIB, rapat dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.
2. Ketua mengharapkan adanya saling pengertian, saling musyawarah mufakat dan saling mendekatkan, sehingga masing-rnasing bisa mencapai kesepakatan yang bulat.
3. Ketua mengumumkan bahwajumlah DIM pada RUU tentang Bea Balik Nama Tanah dan Bangunan sebanyak 182 masalah, dan dari jumlah tersebut terdiri atas U sui Perubahan sebanyak 152, tetap sebanyak 28, pada penjelasan sebanyak 64 rnasalah dengan usul perubahannya sebanyak 17.
4. Setelah melalui forum lobby:
judul belurn tercapai kesepakatan.
- Kata "Balik Nama" disetujui diubah rnenjadi "Perolehan Hak Atas".
Kata "Bea" dan "Pajak" dipending sarnpai tanggal 27 Februari 1997 untuk memberikan kesempatan kepada rnasing-masing fraksi- fraksi berkonsultasi dengan Pimpinan fraksinya.
Pernbahasan konsideran menimbang, mengingat dan penjelasan umum diserahkan kepada Panja untuk diteruskan ke Tim Kecil.
Khusus untuk pembahasan penjelasan umum, Tim Kecil diberikan mandat penuh.
4.1. DIM No. Urut 16 disetujui sesuai RUU dengan rumusan sebagai berikut:
DENGAN PERSETUnJAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
4.2. DIM No. Urnt 17 pending, konkordan denganjudul RUU yang belum disepakati.
4.3. DIM No. Urnt 18 judul Bab I disetujui sesuai RUU dengan rumusan sebagai berikut:
BAD I
KETENTUAN UMUM
4.4. DIM No. Urut 19 disetujui sesuai RUU dengan rumusan sebagai berikut:
Pasal 1
Yang dimaksud dalam Undang-undang ini dengan:
4.5. DIM No. Urut 20 Pasal 1 butir 1 (RUU) pembahasannya dipending.
4.6. DIM No. Urut 21 Pasal 1 butir 2 (RUU) pembahasannya diserahkan ke Panja.
4.7. DIM No. Urut 22 Pasal 1 butir 3 (RUU) pembahasannya diserahkan ke Panja.
4.8. DIM No. Urut 23 Pasal I butir 4 (RUU) pembahasannya dipending.
4.9. DIM No. Urut 24 Pasal ! butir 5 (RUU) pembahasannya dipending.
4.10. DIM No. Urut 25 Pasal ! butir 6 (RUU) pembahasannya dipending.
4.11. DIM No. Urut 26 Pasa! 1 butir 7 pembahasannya diserahkan ke Panja.
Catatan: kata "Bea" dipending.
4.12. DIM No. Urut 27 Pasa! 1 butir 8 (RUU) pembahasannya dipending.
4.13 .. DIM No. Urut 28 Pasa! 1 butir 9 (RUU) pembahasannya 5. Rapat diskors puku! 16-00 WIB.
Jakarta, 26 Februari 1997 A.N. KETUA RAPAT
PANSUS 5 RUU BIDANG PERPAJAKAN SEKRETARIS PANSUS