ABSTRAK
Era logging mendegradasi ekonomi dan ekologi daerah logging sehingga menjadi daerah kritis, miskin, terbelakang, kumuh dan mati, serta menghasilkan emisi karbon ke atmosfer bumi. Kehadiran perkebunan kelapa sawit justru menghijaukan kembali ekonomi dan ekologi eks daerah logging. Dari segi ekologi antara lain, perkebunan kelapa sawit menyerap karbondioksida, menghasilkan oksigen, menambah biomas dan stok karbon, konservasi tanah dan air atau meningkatkan kapasitas menahan air dan menghasilkan biofuel pengganti solar yang mengurangi emisi karbondioksida. Secara sosial perkebunan kelapa sawit meningkatkan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, meningkatkan pembangunan pedesaan dan memperbaiki ketimpangan pendapatan. Sedangkan secara economi perkebunan kelapa sawit meningkatkan pendapatan petani, peningkatan pembangunan ekonomi daerah, peningkatan penerimaan pemerintah dan menghasilkan devisa.
Keywords : Logging, degradasi, hijaukan kembali, kebun sawit
LOGGING TINGGALKAN DAERAH TERDEGRADASI DAN KEBUN SAWIT MERESTORASI EKONOMI DAN EKOLOGI
Oleh
Tim Riset PASPI
m nitor
Analisis Isu Strategis Sawit Vol. II, No. 37/9/2016
PASPI
Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute www.paspimonitor.or.id
“Dapat dikutip untuk pemberitaan”
PENDAHULUAN
Perkebunan kelapa sawit Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 11 juta hektar (Statistik Kelapa Sawit, 2013). Pandangan masyarakat umum saat ini menganggap bahwa lahan kebun sawit seluas tersebut merupakan hasil konversi hutan secara langsung. Pengembangan kebun sawit dipersepsikan sebagai penyebab berkurangnya hutan (deforestasi) di Indonesia saat ini.
Pandangan yang demikian makin kuat dengan banyaknya LSM anti sawit saat ini yang gencar melakukan kampanye negatif bahwa kebun sawit yang ada saat ini merupakan hasil konversi langsung dari hutan alam. LSM yang saat ini banyak diisi generasi muda, tidak memiliki informasi yang cukup bagaimana proses deforestasi di masa lalu dan bagaimana kebun sawit dikembangkan. Pandangan yang demikian juga makin kuat akibat pernyataan Kementerian Kehutanan (sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) yang sering menuduh kebun sawit sebagai pemicu deforestasi hutan, melupakan sejarah atau menghilangkan
"dosa" Kementerian Kehutanan memberikan ijin logging besar-besaran tanpa kontrol sehingga banyak hutan terdegradasi pada masa Orde Baru.
Pandangan yang keliru tersebut perlu diluruskan agar tidak menjadi momok bagi industri sawit yang merupakan industri strategis nasional. Meskipun deforestasi merupakan fenomena normal dalam proses pembangunan di setiap negara, jangan
"dosa" tata kelola hutan masa Orde Baru dialihkan menjadi beban industri sawit nasional saat ini. Kaitan antara tududan kebun sawit sebagai pemicu utama deforestasi dan pengembangan kebun sawit dapat dipahami dengan menelusuri sejarah logging dan pembangunan kebun sawit di Indonesia. Kehadiran pembangunan perkebunan sawit di Indonesia justru merestorasi atau menghijaukan kembali ekonomi dan ekologi yang terdegradasi akibat logging masa sebelumnya.
Studi ini mengungkap dan mendiskusikan bahwa deforestasi hutan di
Indonesia telah berlangsung massif, jauh sebelum perkebunan sawit dikembangkan.
Bagaimana sejarah logging dan konversi eks logging menjadi kawasan non hutan (kawasan budidaya) di Indonesia. Kemudian akan diuraikan sejarah perluasan kebun sawit di Indonesia dikaitkan dengan pola konversi daerah eks logging tersebut. Studi ini menggunakan data-data Statistik Kehutanan dan Statistik Perkebunan Kelapa Sawit (berbagai tahun terbitan). Selain itu juga menggunakan data-data penafsiran citra satelit perubahan hutan dan kebun sawit yang dilakukan berbagai peneliti sebelumnya.
LOGGING HASILKAN DAERAH RUSAK, MISKIN DAN MATI
Kegiatan penebangan kayu alam (logging) di Indonesia telah berlangsung lama bahkan telah dimulai sejak zaman kolonial. Kegiatan pembukaan jalan dari Anyar ke Panarukan (kolonial Inggris) dan masa tanam paksa (cultuure stelsel) merupakan kegiatan penebangan kayu hutan yang kemudian lahannya dikonversi menjadi lahan non hutan. Jika diasumsikan semua daratan di Indonesia (189 juta hektar) sebelumnya berupa hutan, maka menurut data Kehutanan (Hannibal, 1950) luas hutan tahun 1950 adalah seluas 162.3 juta hektar.
Hal ini berarti sebelum tahun 1950 deforestasi (konversi hutan menjadi non hutan) di Indonesia telah seluas 28 juta hektar. Sementara pada tahun 1950 luas kebun sawit Indonesia baru mencapai sekitar 105 ribu hektar yang dibangun dalam kurun waktu 1911-1950.
Kegiatan logging dan deforestasi terbesar terjadi dalam kurun waktu 1950- 2000 khususnya pada masa pemerintahan Orde Baru (1969-2000). Kegiatan logging pada masa Orde Baru yang massif dan hampir tidak terkontrol (Kartodihardjo dan Supriono, 2000, Forest Watch Indonesia, 2001) tercermin dari jumlah dan luas HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang diberikan pemerintah kepada perusahaan logging pada masa Orde Baru (Gambar 1).
Gambar 1. Grafik Perkembangan Volume Produksi Kayu Bulat Indonesia (Sumber : BPS)
Luas HPH pada masa Orde Baru yang tercatat saja terjadi pada tahun 1993 yakni sudah mencapai 61,7 juta hektar dan tahun 2000 sudah mencapai 69,4 juta hektar (Kementerian Kehutanan, 2013). Jika kegiatan logging yang tak tercatat diperhitungkan diperkirakan sekitar 95 juta hektar hutan produksi (yang ditetapkan oleh TGHK, 1984) telah menjadi areal logging selama masa Orde Baru.
Intensifnya kegiatan logging pada masa Orde Baru tersebut tercermin juga dari produksi kayu bulat (log). Menurut data BPS, tahun 1969 produksi kayu bulat Indonesia baru mencapai 8.1 juta meter kubik, meningkat menjadi 22.3 juta meter kubik tahun 1980. Tahun 1990 meningkat lagi menjadi 37 juta meter kubik dan tahun 2012 menjadi 49 juta meter kubik. Pada masa Orde Baru Indonesia pernah memiliki "raja- raja kayu" yang dikenal bagian kroni dari rezim pemerintahan Orde Baru. Selain itu pada masa Orde Baru Indonesia pernah menjadi negara produsen terbesar kayu log dunia.
Kegiatan logging yang massif dan intensif khususnya di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi pada masa Orde Baru, mengakibatkan banyaknya eks hutan yang mengalami degradasi, berubah menjadi semak belukar dan terlantar. Kegiatan logging yang bersifat ekstraktif dan ekslusif, semua kayu bulat dikuras dan mengalir dari daerah-daerah logging ke Pulau Jawa dan sebagian di ekspor ke berbagai negara.
Pada daerah- daerah logging hanya tertinggal ekosistem rusak, semak belukar,
jalan looging, eks barak-barak logging, kantong-kantong kumuh dan masyarakat lokal yang miskin dan terbelakang. Hasil penjualan logging juga tidak direinvestasikan ke daerah-daerah logging, sehingga ekonomi daerah logging tidak berkembang bahkan menjadi kota mati atau kota hantu (ghost town) sebagaimana terjadi pada daerah eks tambang di negara Barat.
Daerah-daerah eks logging yang terdegradasi baik secara ekonomi, sosial dan ekologis tersebut dalam pemerintahan Orde Baru disebut sebagai cadangan lahan untuk pembangunan (land of Bank) dan sebagian besar dikonversikan untuk keperluan pembangunan sektor lain. Sektor transmigrasi yang merupakan salah satu program penting pada masa Orde Baru, memanfaatkan lahan tersebut baik untuk pemukiman baru maupun untuk lahan pertanian pangan. Seluruh daerah transmigrasi yang dikenal baik di Pulau Sumatera, Kalimantan maupun Sulawesi merupakan daerah eks logging.
Dengan proses yang demikian konversi eks looging menjadi lahan non hutan dalam kurun waktu 1950-1985 adalah seluas 42.6 juta hektar. Kemudian dalam periode tahun 1985-2000 seluas 16.7 juta hektar dan dalam periode tahun 2000-2013 seluas 14.3 juta hektar. Sehingga dalam kurun waktu 1950-2013 konversi hutan menjadi non hutan mencapai 101.2 juta hektar (Gambar 2). Sementara luas hutan yang tersisa adalah sekitar 89 juta hektar atau sekitar 49 persen luas daratan (syarat minimum ekologis 30 persen hutan dari luas daratan).
0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 45,00 50,00
1969 1975 1980 1984 1990 2010 2012
juta m3
KEBUN SAWIT HIJAUKAN KEMBALI EKONOMI DAN EKOLOGI
Pengembangan perkebunan kelapa sawit sesungguhnya baru mulai intensif sejak tahun 2000. Sampai tahun 1985 (Gambar 2) luas kebun sawit baru mencapai sekitar 597 ribu hektar (hanya sekitar 1.4 persen dari luas konversi hutan menjadi non hutan tahun 1985). Kemudian tahun 2000 luas kebun sawit mencapai 4.1 juta hektar atau hanya sekitar 4.7 persen dari luas akumulasi konversi hutan menjadi non hutan tahun 2000.
Kemudian tahun 2013 luas kebun sawit secara akumulatif mencapai sekitar 10.4 juta
hektar atau sekitar 10 persen dari akumulasi luas konversi hutan menjadi non hutan di Indonesia. Dengan demikian pandangan bahwa ekspansi sawit menjadi pemicu konversi hutan menjadi non hutan (deforestasi) tidaklah benar karena luas kebun sawit hanya 10 persen dari luas konversi hutan menjadi non hutan di Indonesia.
Jika ditelusuri asal usul lahan sawit di Indonesia berdasarkan data citra satelit (misalnya Gunarso, dkk. 2012) ternyata dari 10.4 juta hektar kebun sawit Indonesia tahun 2013, hanya sekitar 2.5 juta hektar yang berasal dari konnversi hutan eks logging menjadi kebun sawit (Gambar 3)
Gambar 2. Asal-Usul Lahan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia
Gambar 3. Penyebab Deforestasi Adalah HPH
Sedangkan sisanya yakni 7.9 juta hektar berasal dari konversi dari lahan sektor lain (yang jauh sebelumnya telah dikonversi menjadi non hutan) seperti lahan transmigrasi dan lahan terlantar (semak belukar). Data tersebut makin meyakinkan bahwa perkebunan kelapa sawit bukan pemicu utama bahkan secara netto tidak berasal secara langsung dari hutan.
Berbeda dengan logging yang mendegradasi ekonomi dan ekologi daerah logging, kehadiran perkebunan kelapa sawit justru menenam dan me budidayakan pohon sawit, menghijaukan kembali ekonomi dan ekologi daerah (Gambar 4). Dari segi ekologi antara lain, perkebunan kelapa sawit menyerap karbonsioksida, menghasilkan oksigen (Henson, 1999), menambah biomas dan stok karbon (Chan, 2002), konservasi tanah dan air atau meningkatkan kapasitas menahan air (Harahap, 1999) dan menghasilkan biofuel pengganti solar yang mengurangi emisi karbon dioksida (European Commision, 2012).
Secara sosial perkebunan kelapa sawit meningkatkan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, meningkatkan pembangunan pedesaan dan memperbaiki ketimpangan pendapatan (World Growth,
2011, Joni, 2013, Susila, 2004, Syahza, 2007, PASPI, 2014, 2015, 2016). Sedangkan secara economi perkebunan kelapa sawit meningkatkan pendapatan petani, peningkatan pembangunan ekonomi daerah, peningkatan penerimaan pemerintah, penghasil devisa (World Growth, 2011, Joni, 2013, Susila, 2004, Syahza, 2007, European Economic, 2014, PASPI, 2014, 2015, 2016).
Dengan kata lain jika kegiatan logging menghasilkan emisi karbonsioksida dari pemanfaatan kayu, mematikan proses produksi oksigen, mengurangi biomas dan stok karbon, perkebunan kelapa sawit justru menyerap kembali emisi karbondioksida, menghidupkan dan mengembangkan produksi oksigen dan meningkatkan produksi biomas dan stok karbon.
Jika kegiaatan logging menguras sumberdaya daerah, menciptakan kemiskinan daerah, menjauhkan masyarakat dari sumber-sumber ekonomi dan mematikan ekonomi daerah, perkebunan kelapa sawit justru mereinvestasikan modal, menciptakan pendapatan, menurunkan kemiskinan, mendekatkan sumber-sumber ekonomi bagi masyarakat lokal dan menggerakkan serta mengembangkan ekonomi daerah.
Gambar 4. Perkebunan Kelapa Sawit Menghijaukan Kembali Ekonomi dan Ekologi Daerah Eks Logging
KESIMPULAN
Kegiatan logging yang massif dan intensif khususnya di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi pada masa Orde Baru, mengakibatkan banyaknya eks hutan yang mengalami degradasi, berubah menjadi semak belukar dan terlantar. Kegiatan logging yang bersifat ekstraktif dan ekslusif, semua kayu bulat dikuras dan mengalir dari daerah-daerah logging ke Pulau Jawa dan sebagian diekspor ke berbagai negara.
Pada daerah-daerah logging hanya tertinggal ekosistem rusak, semak belukar, jalan looging, eks barak-barak logging, kantong-kantong kumuh dan masyarakat lokal yang miskin, ekonomi daerah logging tidak berkembang bahkan menjadi daerah kota mati atau kota hantu (ghost town).
Berbeda dengan logging yang mendegradasi ekonomi dan ekologi daerah logging, kehadiran perkebunan kelapa sawit justru menenam dan me budidayakan pohon sawit, menghijaukan kembali ekonomi dan ekologi daerah. Dari segi ekologi antara lain, perkebunan kelapa sawit menyerap karbonsioksida, menghasilkan oksigen, menambah biomas dan stok karbon, konservasi tanah dan air atau meningkatkan kapasitas menahan air dan menghasilkan biofuel pengganti solar yang mengurangi emisi karbon dioksida.
Secara sosial perkebunan kelapa sawit meningkatkan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, meningkatkan pembangunan pedesaan dan memperbaiki ketimpangan pendapatan. Sedangkan secara economi perkebunan kelapa sawit meningkatkan pendapatan petani, peningkatan pembangunan ekonomi daerah, peningkatan penerimaan pemerintah, penghasil devisa.
DAFTAR PUSTAKA
Chan, K. W. 2002: Oil Palm Carbon Sequestration and Carbon Accounting:
Our Global Strength. MPOA.
Europe Economies, 2014. The Economic Impact of Palm Oil Imports in The EU.
Europe Economics Chancery House.
London
European Commission. 2012. GLOBAL EMISSION EDGAR. Joint Research Centre European Centre:
HTTP://WWW. GLOBALCARBO
European Commission NPROJECT.ORG/
CARBONBUDGET/12/DATA.HTML Gunarso, P, M. E. Hartoyo, Y. Nugroho, N.I.
Ristiana, R. S. Maharani. 2012: Analisis Penutupan Lahan dan Perubahannya Menjadi Kebun Kelapa Sawit di Indonesia Tahun 1990-2010.
Hannibal. L. H. 1950. Peta Vegetasi Indonesia Bagian Perencanaan. Dinas Kehutanan RI.
Harahap, E, M. 2007. Peranan Tanaman Kelapa Sawit Pada Konservasi Tanah dan Air. Pidato Pengukuhan Guru Besar.
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.
Joni, R. 2012. Dampak Pengembangan Biodiesel dari Kelapa Sawit Terhadap Kemiskinan, Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.
Disertasi. IPB. Bogor.
Kartodihardjo, H dan A. Supriono. 2000.
Dampak Pembangunan Sektoral Terhadap Konversi dan Degradasi Hutan Alam; Kasus Pembangunan HTI dan Perkebunan di Indonesia. Center for International Forestry Research. Bogor Kementerian Kehutanan. 2014. Statistik
Kementerian Kehutanan 2013. Jakarta.
Kementerian Pertanian RI. 1990-2013:
Statistik Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia 1990-2013. Kementerian Pertanian RI. Jakarta.
Kementerian Pertanian RI. 2014. Statistik Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia 2013-2015. Kementerian Pertanian RI.
Jakarta.
PASPI, 2014. Industri Minyak Sawit Indonesia Berkelanjutan : Peranan Industri Minyak Sawit dalam Pertumbuhan Ekonomi, Pembangunan Pedesaan, Pengurangan Kemiskinan dan Pelestarian Lingkungan. Bogor.
PASPI, 2015. Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global. Edisi Pertama.
Bogor.
PASPI, 2016. Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global. Edisi Kedua. Bogor.
Susila, W. R. 2004. Contribution of Palm Oil Industry to Economic Growth and Poverty Allevation in Indonesia. Jurnal LITBANG Pertanian 23(3).
Syahza, A. 2007. Kelapa Sawit dan Dampaknya Terhadap Percepatan Ekonomi Pedesaan di Riau. Universitas Riau.
World Growth, 2011: The Economic Benefit of Palm Oil to Indonesia. World Growth.