• Tidak ada hasil yang ditemukan

m nitor Analisis Isu Strategis Sawit Vol. II, No. 30/8/2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "m nitor Analisis Isu Strategis Sawit Vol. II, No. 30/8/2016"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Pola konsumsi minyak nabati utama di Cina telah mengalami perubahan dari dominasi minyak rapeseed kepada minyak kedelai. Sekitar 50 persen konsumsi minyak nabati Cina saat ini adalah minyak kedelai. Kemudian disusul minyak rapeseed dengan pangsa sekitar 25 persen. Minyak sawit merupakan minyak nabati ketiga dalam konsumsi Cina dan pangsanya masih cenderung meningkat. Minyak sawit dikonsumsi secara bersama- sama dengan minyak kedelai dengan blending rate yang relatif konstan PO-30. Peluang untuk memperbesar pangsa pasar minyak sawit di Cina masih terbuka luas kedepan.

Minyak sawit berpeluang merebut sebagian pasar minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. Peningkatan pangsa minyak sawit juga terbuka melalui peningkatan blending rate PO-SBO kedepan terutama dengan makin terbatasanya lahan kedelai di Cina. Selain untuk pangan, dalam jangka panjang peningkatan kebutuhan Cina akan minyak sawit juga berpeluang untuk biodiesel. Cina sebagai salah satu negara yang paling tinggi konsumsi fosil fuel dunia, diproyeksikan akan mengembangkan biodiesel untuk mengurangi konsumsi fosil fuel.

Keywords : Pola konsumsi, blending rate, subsitusi, komplementer

PERUBAHAN KONSUMSI MINYAK NABATI UTAMA CINA DAN PELUANG MEMPERBESAR PANGSA MINYAK SAWIT

Oleh

Tim Riset PASPI

m nitor

Analisis Isu Strategis Sawit Vol. II, No. 30/8/2016

PASPI

Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute www.paspimonitor.or.id

“Dapat dikutip untuk pemberitaan”

(2)

PENDAHULUAN

Cina merupakan salah satu negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia.

Dengan jumlah penduduk Cina sekitar 1.4 miliar orang dan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dalam 15 tahun terakhir, membuat Cina merupakan pasar yang cukup besar bagi minyak nabati termasuk minyak sawit. Apalagi tingkat konsumsi minyak nabati per kapita Cina masih jauh dibawah negara-negara maju, menjadikan pasar Cina menjadi pasar yang sangat besar bagi minyak nabati kedepan.

Berbeda dengan negara berpenduduk besar lainnya seperti India, Cina memiliki kebijakan kemandirian pangan nasional yang lebih tinggi termasuk dalam pengadaan minyak nabati. Dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dan sejarah politik negara Cina dimasa lalu, Cina lebih mengandalkan produksi dalam negerinya untuk penyediaan minyak nabati dan dari impor hanya sebagai pelengkap atau menambah cadangan jika terjadi penurunan produksi domestik.

Cina merupakan salah satu produsen terbesar minyak kedelai dan minyak rapeseed dunia yang produksinya diutamakan untuk kebutuhan domestik.

Kedelai merupakan komoditi yang strategis bagi Cina karena kedelai bukan hanya sebagai bahan minyak nabati, tetapi juga bahan pangan penting (tahu, tempe) dan bahan baku pakan ternak (bungkil kedelai).

Kedelai merupakan solusi penting bagi how the feeding people sekaligus solusi bagi how the feeding swine (FAPRI, 1998; Fuller et al, 2004).

Oleh karena itu peningkatan produksi domestik kedalai di Cina merupakan salah satu kebijakan nasional yang memperoleh dukungan penuh dari Pemerintah termasuk dukungan modal dan harga. Sebagai contoh Pemerintah Cina menambah sekitar 3 juta hektar kebun kedelai menuju tahun 2020

dengan varietas unggul high protein non GMO, sehingga produksi minyak kedelai domestik akan naik dari sekitar 14 juta ton tahun 2015 menjadi sekitar 19 juta ton tahun 2020 (FAO, 2016a; FAO 2016d).

Kebijakan minyak nabati Cina yang memberi prioritas pada kedelai, mempengaruhi pola konsumsi minyak nabati utama Cina termasuk minyak sawit.

Studi ini mendiskusikan bagaimana perubahan pola konsumsi minyak nabati utama Cina dalam kurun waktu 1965-2015 dan bagaimana peran minyak sawit dalam pola komsumsi minyak nabati Cina. Selain itu juga disikusikan dimana peluang Indonesia sebagai eksportir terbesar minyak sawit dunia kedepan.

DARI RAPESEED KE KEDELAI

Empat minyak nabati utama dunia yakni minyak sawit (PO), minyak kedelai (SBO), minyak rapeseed (RSO), dan minyak bunga matahari (SFO) juga merupakan empat minyak nabati terbesar yang dikonsumsi Cina. Sekitar 20 persen volume konsumsi empat minyak nabati utama dunia tersebut dikonsumsi di Cina.

Berdasarkan data Oil World, pola konsumsi minyak nabati utama Cina telah mengalami perubahan yang makin didominasi oleh SBO (Gambar 1). Dalam periode 1965-2000 minyak RSO merupakan terbesar dalam konsumsi minyak nabati Cina yang pangsanya menurun dari sekitar 68 persen tahun 1965 menjadi sekitar 45 persen tahun 2000. Sementara itu, minyak SBO diurutan kedua, pangsanya meningkat cepat dari semula 23 persen tahun 1965 menjadi 33 persen tahun 2000. Sedangkan minyak sawit diurutan ketiga pangsanya juga meningkat dari sekitar 8 persen tahun 1965 menjadi 18 persen tahun 2000. Dan urutan terakhir adalah minyak SFO.

(3)

Gambar 1. Struktur Konsumsi Empat Minyak Nabati Utama Cina Dengan demikian pola komsumsi 4

minyak nabati utama Cina dalam periode 1965-2000 adalah RSO-SBO-PO-SFO. Setelah tahun 2000 sampai sekarang (2000-2015) pola komsumsi 4 minyak nabati Cina mengalami perubahan yang menempatkan minyak kedelai sebagai pangsa terbesar yaitu pola SBO-RSO-PO-SFO. Pangsa SBO mengalami peningkatan dari 33 persen tahun 2000 menjadi sekitar 51 persen tahun 2015. Sedangkan pangsa RSO meskipun cenderung turun masih cukup besar yakni dari 45 persen tahun 2000 menjadi sekitar 26 persen tahun 2015.

Pangsa minyak sawit meskipun secara absolut meningkat, pangsanya dalam konsumsi minyak nabati Cina berfluktuasi besar. Pangsa PO tahun 2000 mencapai 19 persen, kemudian naik menjadi 28 persen (2005), kemudian turun menjadi 24 persen (2010) dan turun lagi menjadi 19 persen (2015). Pola yang fluktuatif juga terjadi pada SFO yakni dari 4 persen tahun 2000 menjadi 1.5 persen tahun 2010 dan kembali naik menjadi sekitar 3 persen tahun 2015.

Dominasi minyak kedelai dalam konsumsi minyak nabati Cina tersebut terkait dengan peran kacang kedelai sebagai komoditas strategis Cina. Kedelai merupakan bagian penting dari how the feeding people dan how the feeding swine.

Pola diet Cina yang antara lain berbasis kedelai dan ternak (khususnya danging ayam dan babi) memerlukan ketersediaan kedelai baik sebagai bahan pangan (food) maupun sebagai bahan baku pakan ternak (feed) maupun sebagai minyak goreng.

Mengingat pentingnya kedelai dalam sistem

ketahanan pangan Cina, pemerintah Cina memberikan dukungan besar untuk pengembangan kebun kedelai di dalam negeri baik bentuk subsidi petani, jaminan harga petani, maupun pengelolaan buffer stok yang dikontrol Pemerintah. Kekurangan stok terutama pada saat produksi domestik turun, dipenuhi dari impor kedelai ataupun dari minyak nabati lainnya (FAO, 2016b;

FAO, 2016d).

PERSAINGAN ANTAR MINYAK NABATI

Dari perubahan pola konsumsi minyak nabati Cina dari waktu ke waktu tampaknya minyak SBO bersaing (subsitut) dari minyak RSO. Hal ini tercermin dari perubahan pangsa SBO dan RSO dalam komsumsi minyak nabati Cina. Pangsa RSO konsisten menurun sejak tahun 1965 sampai tahun 2015, sedangkan pangsa SBO konsisten meningkat selama periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan produksi minyak nabati domestik Cina selama ini adalah mensubstitusi RSO dengan SBO dan berhasil.

Hubungan SBO dengan PO tampaknya bukan saling bersaing melainkan sebagai pelengkap /komplemen dalam pola konsumsi minyak nabati Cina. Pangsa SBO yang meningkat dari sekitar 23 persen tahun 1965 menjadi sekitar 52 persen tahun 2015.

Demikian juga pangsa PO meningkat dari 8 persen menjadi 18 persen dalam waktu yang sama. Kehadiran minyak sawit di pasar Cina belum menggeser posisi minyak kedelai.

- 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000

1965 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2010 2015

000 ton

PO SBO SFO RSO

(4)

Tabel 1. Rasio Konsumsi PO terhadap SBO, SFO dan RSO

Rasio Konsumsi 1965-2000 2000-2015

PO/SBO 0,48 0,51

PO/SFO 3,68 11,48

PO/RSO 0,24 0,89

Sumber : Oil World (diolah)

Hubungan antara konsumsi SBO dengan PO sebagai komplementer juga terkonfirmasi dengan rasio konsumsi antara SBO dengan PO yang relatif konstan yakni rata-rata 0.48 dalam periode 1965-2000 dan 0.51 pada periode tahun 2000-2015 (Tabel 1). Pencampuran (blending rate) SBO dengan PO dalam konsumsi minyak nabati Cina relatif konstan yakni PO-30. Setiap seratus persen blending SBO dan PO, terdapat 30 persen PO dan 70 persen SBO.

Berbeda dengan PO dengan SBO, tampaknya PO dan RSO saling bersaing (subsitusi) dalam pola diet masyarakat Cina.

Hal ini tercermin dari perubahan pangsa RSO yang makin menurun dengan makin meningkatnya pangsa PO. Masuknya PO dalam konsumsi minyak nabati Cina, ikut menggerogoti pangsa RSO. Hal ini juga tercermin dari rasio konsumsi PO dengan RSO yang makin memperbesar konten PO dalam komsumsi RSO.

Dengan demikian untuk memasuki pasar Cina, SBO bukanlah pesaing dari PO karena kedua-duaanya dikonsumsi secara bersamaan (komplementer). Meskipun secara di pasar intenasional harga SBO lebih mahal dari PO, adanya intervensi pemerintah Cina dalam produksi dan pengelolaan stok kedelai di dalam negeri dan kebijakan tarif impor PO, membuat daya saing SBO di pasar domestik secara keseluruhan lebih tinggi dari pada PO.

Pesaing PO di pasar domestik Cina adalah RSO. Meskipun RSO juga dihasilkan Cina, tampaknya pemerintah Cina tidak terlalu memberikan perlindungan terhadap produksi RSO (tidak seperti SBO). Oleh karena itu, untuk meningkatkan pangsa pasar PO di pasar domestik Cina, pangsa RSO berpotensi untuk direbut kedepan.

PELUANG MINYAK SAWIT KEDEPAN

Dalam pola konsumsi minyak nabati utama Cina, minyak kedelai masih memimpin dengan pangsa sekitar 50 persen.

Posisi minyak kedelai yang demikian di-back up oleh kebijakan pemerintah Cina mengingat kedelai merupakan salah satu komoditi strategis dalam ketahanan pangan Cina.

Minyak sawit meskipun berada diurutan ketiga pangsanya masih bertumbuh seiring dengan peningkatan konsumsi minyak kedelai. Minyak sawit dikonsumsi secara bersama-sama (komplementer) dengan minyak kedelai dengan ratio konsumsi yang relatif stabil (0.48-0.51) atau blending rate sekitar PO-30 selama 50 tahun terakhir.

Tampaknya upaya Cina untuk ekspansi kedelai makin terbatas akibat keterbatasan lahan. Hal ini tercermin dari kebijakan Cina untuk menambah 3 juta lagi areal kebun kedelai menuju 2020, yang harus melakukan konversi lahan pertanian lainnya (FAO, 2016d). Konversi lahan pertanian menjadi lahan kedelai, tentu ada batasnya karena akan mengurangi produksi komoditas pertanian lainnya sehingga pemerintah Cina akan kesulitan ekspansi areal kedelai setelah tahun 2020. Peningkatan produksi kedelai yang diharapkan adalah peningkatan produktivitas, namun juga masih sangat terbatas dalam jangka pendek.

Oleh karena itu, kedepan Cina diperkirakan akan memperbesar blending rate minyak sawit dalam konsumsi minyak kedelai. Jika blending rate berubah dari PO- 30 menjadi PO-50 saja, maka ada tambahan kebutuhan minyak sawit untuk pasar Cina sekitar 4 juta ton per tahun.

(5)

Selain akibat perubahan blending rate tersebut, tambahan kebutuhan minyak sawit juga terbuka dengan merebut pangsa pasar RSO dan SFO yang masih ada sekitar 25 persen. Jika minyak sawit berhasil merebut separuh pangsa pasar RSO, maka ada tambahan kebutuhan minyak sawit sekitar 3-3.5 juta ton per tahun.

Selain untuk bahan pangan tersebut, dalam jangka panjang potensi pasar Cina untuk minyak sawit juga datang dari kebutuhan biodiesel. Cina merupakan salah satu pengkonsumsi minyak fosil terbesar dunia. Jika Cina menerapkan kebijakan pengurangan konsumsi minyak fosil dan menggantikannya dengan biodiesel, dapat dipastikan akan menambah impor minyak sawit. Cina tampaknya tidak akan menggunakan produksi minyak nabati domestiknya untuk biodiesel karena akan membawa Cina terjebak dalam food-fuel trade-off (FAO, 2016c).

Tentu saja, potensi pasar minyak sawit di Cina tersebut tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus direbut.

Mempromosikan industri minyak sawit perlu menjadi agenda berkelanjutan kerjasama ekonomi Indonesia dengan Cina kedepan. Industri minyak sawit Indonesia perlu ditempatkan sebagai bagian dari feeding and fueling the China kedepan.

Kegiatan promosi minyak sawit perlu dilakukan lebih intensif dan berkelanjutan ke pasar domestik Cina.

KESIMPULAN

Pola konsumsi minyak nabati utama di Cina telah mengalami perubahan. Jika sebelum tahun 2000, minyak rapeseed yang menjadi minyak nabati utama Cina, setelah tahun 2000 sampai sekarang berubah kepada minyak kedelai. Sekitar 50 persen konsumsi minyak nabati Cina saat ini adalah minyak kedelai. Kemudian disusul minyak rapeseed dengan pangsa sekitar 25 persen.

Meskipun minyak sawit merupakan minyak nabati ketiga dalam konsumsi Cina, pangsanya masih cenderung meningkat.

Minyak sawit dikonsumsi secara bersama-

sama dengan minyak kedelai dengan blending rate yang relatif konstan PO-30.

Peluang untuk memperbesar pangsa pasar minyak sawit di Cina masih terbuka luas kedepan. Minyak sawit berpeluang merebut sebagian pasar minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. Peningkatan pangsa minyak sawit juga terbuka melalui peningkatan blending rate PO-SBO kedepan terutama dengan makin terbatasanya lahan kedelai di Cina.

Selain untuk pangan, dalam jangka panjang peningkatan kebutuhan Cina akan minyak sawit juga berpeluang untuk biodiesel. Cina sebagai salah satu negara yang paling tinggi konsumsi fosil fuel dunia, diproyeksikan akan mengembangkan biodiesel untuk mengurangi konsumsi fosil fuel.

DAFTAR PUSTAKA

FAO. 2016a. Oilcrops Monthly Price and Policy Update. Januari, 2016. Food and Agriculture Organization of United Nations. Roma.

FAO. 2016b. Oilcrops Monthly Price and Policy Update. Februari, 2016. Food and Agriculture Organization of United Nations. Roma.

FAO. 2016c. Oilcrops Monthly Price and Policy Update. Maret, 2016. Food and Agriculture Organization of United Nations. Roma.

FAO. 2016d. Oilcrops Monthly Price and Policy Update. Juni, 2016. Food and Agriculture Organization of United Nations. Roma.

FAPRI. 1998. Impacts of Chinese Swine Feeding Practices on Future Chinese Feed Grain and Livestock Trade.

Fuller, F, F. Tuan and E. Wailes. 2004. Raising Demand for Meat: Who Will Feed China’s Hogs. USDA.

OECD. 2007. Agricultural Outlook 2007-2016.

OECD. Paris.

Oil World. 2009-2015. Oil World Statistic.

ISTA Mielke GmBh. Hamburg.

(6)

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan komposisi minyak nabati yang diimpor oleh Cina adalah minyak sawit dengan kontribusi sebesar 68,31%, minyak kedelai 23,75%, minyak biji lobak 6,91% dan minyak bunga

Industri minyak sawit juga memerlukan SDM pelaku perkebunan kelapa sawit (petani, pengusaha, karyawan setiap jenjang) yang kreatif dalam mengeksekusi

Di sisi lain, penurunan harga BBM akan menguntungkan negara negara pengimpor minyak, dimana daya beli negara tersebut akan meningkat, dan mendorong peningkatan

PENCIPTAAN PENDAPATAN DOMESTIK Penerimaan ekspor minyak sawit terse- but merupakan bagian dari permintaan produk akhir industri minyak sawit domestik yang secara langsung

Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, disrupsi supply yang terjadi di Indonesia dan Malaysia pada periode tahun 2019-2021 akibat El Nino, Pandemi Covid-19 dan

Berbagai regulasi sebagai pedoman atau standar nasional terkait sistem berkelanjutan minyak sawit Indonesia sudah cukup komprehensif, namun terdapat poin-poin yang dapat dikritisi

oleh industri minyak sawit salah satunya berupa penciptaan pendapatan tidak hanya dinikmati oleh negara-negara produsen minyak sawit dunia seperti Indonesia, tetapi

Tidak hanya itu karena minyak sawit mampu meredam kenaikan harga berlebihan pada minyak nabati lainnya, sehingga masyarakat dunia juga dapat menikmati manfaat baik dari pangan maupun