DINAMIKA STOK MINYAK SAWIT DI NEGARA PRODUSEN DAN KONSUMEN MINYAK SAWIT DUNIA PADA MASA DISRUPSI SUPPLY
Oleh PASPI-Monitor
RESUME
Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, disrupsi supply yang terjadi di Indonesia dan Malaysia pada periode tahun 2019-2021 akibat El Nino, Pandemi Covid-19 dan kebijakan Indonesia, turut mempengaruhi ekspor minyak sawit kedua negara tersebut dan selanjutnya mempengaruhi ketersediaan (volume ending stock) dunia.
Meskipun disrupsi supply berdampak pada volume ending stock minyak sawit Indonesia dan Malaysia. Namun trennya menunjukkan perbedaan dimana ending stock minyak sawit Malaysia konsisten menurun sementara Indonesia relatif berfluktuasi sehingga gabungan volume ending stock minyak sawit menunjukkan kecenderungan peningkatan. Sebaliknya, volume ending stock minyak sawit di negara importir utama menunjukkan penurunan signifikan sebesar 36 persen. Kondisi ini menciptakan terjadinya excess demand dan menyebabkan harga minyak sawit dunia meningkat.
Palm ’ Journal
Analisis Isu Strategis Sawit Vol. III, No. 07/05/2022
PENDAHULUAN
Sejak tahun 2006, minyak sawit dunia telah menjadi minyak nabati terbesar yang diproduksi dan dikonsumsi secara internasional baik sebagai bahan pangan (PASPI Monitor, 2021a) maupun sebagai bahan energi (PASPI Monitor, 2021b). Pangsa produksi minyak sawit dalam empat minyak nabati utama dunia pada tahun 2021 telah mencapai 43 persen. Kemudian disusul minyak kedelai dengan pangsa sebesar 32 persen, minyak rapeseed sebesar 14 persen dan minyak biji bunga matahari sebesar 11 persen.
Pada tahun 2006, juga terjadi perubahan negara produsen minyak sawit. Indonesia tampil menjadi produsen minyak sawit terbesar dunia yang sebelumnya diduduki Malaysia. Pangsa Indonesia pada tahun 2021 mencapai 59 persen dari produksi minyak sawit dunia dan kemudian disusul oleh Malaysia pada posisi kedua dengan pangsa 25 persen.
Besarnya pangsa minyak sawit dalam produksi minyak nabati dunia membawa pengaruh dalam dinamika pasar minyak nabati dunia. Perubahan stok minyak sawit dunia akan mempengaruhi dinamika perubahan stok minyak nabati dunia secara keseluruhan.
Demikian juga, perubahan pasokan minyak sawit Indonesia dan Malaysia ke pasar dunia akan mempengaruhi perubahan stok minyak sawit di negara-negara importir utama minyak sawit. Hal tersebut selanjutnya akan mempengaruhi perubahan stok minyak nabati dunia secara simultan yang kemudian berdampak pada perekonomian di berbagai negara tersebut. Keterkaitan dan ketergantungan (dependency) dunia pada minyak sawit disebabkan karena banyaknya sektor-sektor ekonomi di berbagai negara
yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku baik untuk produk pangan, produk energi dan industri terkait (Kojima et al., 2016; Cui dan Martin, 2017; Shigetomi et al., 2020).
Tulisan pada artikel ini mendiskusikan disrupsi supply minyak sawit yang terjadi pada negara-negara produsen utama minyak sawit dunia khususnya dalam periode 2019- 2021. Selanjutnya juga dilihat dampaknya pada dinamika stok minyak sawit di negara- negara importir utama minyak sawit dunia.
DISRUPSI SUPPLY
Dalam periode 2019-2021, disrupsi supply minyak sawit yang terjadi pada negara-negara produsen utama minyak sawit dunia yakni Indonesia dan Malaysia (PASPI Monitor, 2022). Disrupsi supply minyak sawit tersebut membawa perubahan pada volume ekspor minyak sawit dunia. Adapun disrupsi supply dimaksud adalah sebagai berikut.
Pertama, El Nino Effect pada periode tahun 2018/2019 melanda Indonesia dan Malaysia sebagai negara sentra minyak sawit dunia. Anomali iklim tersebut yang ditandai dengan penurunan curah hujan, kekeringan panjang dan ekstrem hingga menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Dampak El Nino juga menyebabkan tanaman mengalami stres, fotosintesis tidak sempurna, keterlambatan atau penundaan pemupukan sehingga menyebabkan penurunan produktivitas perkebunan sawit. Meskipun El Nino terjadi pada tahun 2018/2019, namun dampaknya terhadap penurunan produktivitas masih terjadi hingga tahun 2021. Penurunan produktivitas tersebut menyebabkan terjadinya penurunan produksi minyak sawit baik di Indonesia maupun di Malaysia (Tabel 1).
Gambar 1. Volume Produksi dan Ekspor CPO Indonesia dan Malaysia pada Periode Tahun 2019- 2021 (Sumber: GAPKI; MPOB, data diolah PASPI)
Kedua, Pandemic Covid-19 Effect yang melanda dunia khususnya sejak tahun 2020.
Pandemi Covid-19 yang disertai dengan kebijakan lockdown dan pembatasan aktivitas sosial ekonomi di beberapa negara menyebabkan gangguan produksi dan supply chain pada seluruh komoditas di dunia termasuk minyak sawit. Produksi minyak sawit dunia juga mengalami penurunan di masa pandemi sebagai akibat dari kekurangan tenaga kerja perkebunan di Malaysia (Ashaari et al., 2022).
Ketiga, Indonesian Policy Effect yakni kombinasi kebijakan pungutan ekspor, kebijakan hilirisasi domestik dan kebijakan mandatori biodiesel B30 yang semakin intensif diimplementasikan sejak tahun 2019.
Indonesia memiliki posisi strategis baik dalam pasar minyak sawit dunia maupun minyak nabati dunia. Sebagai negara produsen minyak sawit terbesar dunia, perubahan volume pasokan minyak sawit Indonesia ke pasar dunia (ekspor) akan mempengaruhi dinamika pasar minyak sawit dunia.
Implementasi program B30 di Indonesia menyebabkan peningkatan penyerapan minyak sawit domestik dari 5.8 juta ton CPO tahun 2019 menjadi 7.2 juta ton CPO tahun 2020 dan 7.3 juta ton CPO tahun 2021. Hal ini menyebabkan pasokan minyak sawit dunia berkurang. Selain itu, kebijakan pungutan ekspor dan hilirisasi domestik juga mempengaruhi komposisi dan manajemen stok minyak sawit dunia di negara negara importir. Perubahan komposisi ekspor Indonesia akibat hilirisasi domestik (PASPI
Monitor, 2021c, 2022) akan mengurangi volume ekspor langsung CPO secara signifikan.
Efek dari El Nino dan Pandemi Covid-19 telah menurunkan produksi CPO Indonesia dari sekitar 47.18 juta ton tahun 2019 menjadi 46.89 juta ton tahun 2021.
Sedangkan produksi minyak sawit Malaysia juga mengalami penurunan dari 19.86 juta ton menjadi 18.11 juta ton pada periode yang sama.
Dampak neto El Nino, Pandemi Covid-19 dan Kebijakan B30 telah menurunkan volume ekspor CPO Indonesia dari 37.4 juta ton tahun 2019 menjadi sekitar 34 juta ton tahun 2021. Sementara itu, volume ekspor CPO Malaysia juga menurun dari 17.2 juta ton menjadi 15.8 juta ton sebelum naik sedikit menjadi 16.4 juta ton pada periode tersebut.
PERUBAHAN STOK
Menurunnya volume produksi minyak sawit Indonesia dan Malaysia, juga turut menurunkan pasokan minyak sawit dari negara produsen utama minyak sawit dunia.
Artinya ending stock minyak sawit di negara produsen tersebut juga menurun. Kondisi ini juga menyebabkan ending stock minyak sawit di negara importir mengalami penurunan.
Perubahan volume ending stock minyak sawit pada gabungan negara produsen (Indonesia dan Malaysia) tahun 2019 mencapai 5.9 juta ton per bulan (Gambar 1).
47.18
47.03 46.89
32.00 33.00 34.00 35.00 36.00 37.00 38.00
46.70 46.80 46.90 47.00 47.10 47.20 47.30
2019 2020 2021
Ekspor (ribu Ton)
Produksi CPO (ribu ton)
Indonesia
Produksi Ekspor
19.86
19.14 18.11
15.00 15.50 16.00 16.50 17.00 17.50
17.00 17.50 18.00 18.50 19.00 19.50 20.00
2019 2020 2021
Ekspor (ribu Ton)
Produksi CPO (ribu Ton)
Malaysia
Produksi Ekspor
Gambar 2. Dinamika Volume Ending Stock Minyak Sawit di Indonesia dan Malaysia (Sumber:
MPOC)
Volume ending stock minyak sawit di negara produsen utama tersebut mengalami sedikit peningkatan pada tahun 2020 menjadi 6.1 juta ton per bulan atau naik sekitar 3 persen dari posisi tahun 2019.
Namun, volume ending stock minyak sawit bulanan pada tahun 2021 mengalami penurunan signifikan menjadi 5.3 juta ton per bulan atau turun sekitar 13 persen dibandingkan posisi tahun 2020 dan turun sekitar 10 persen dari posisi 2019.
Dinamika ending stock di negara produsen minyak sawit tersebut menampilkan perilaku yang berbeda. Sebagai produsen utama minyak sawit, volume ending stock bulanan Indonesia tahun 2020 mengalami peningkatan menjadi 4.4 juta ton dibandingkan pada tahun 2019 (3.4 juta ton), namun volume tersebut mengalami penurunan menjadi sekitar 3.7 juta ton tahun 2021. Sebaliknya volume ending stock Malaysia konsisten terus menurun dari sekitar 2.5 juta ton tahun 2019 menjadi 1.7 juta ton tahun 2020 dan 1.6 juta ton tahun 2021.
Dinamika ending stock di negara produsen utama minyak sawit dunia tersebut
menunjukkan dua hal penting yakni:
Pertama, respons industri sawit Malaysia lebih sensitif terhadap disrupsi supply (El Nino, Pandemic Covid-19) dibandingkan industri sawit Indonesia. Meskipun dampak El Nino berdampak menurunkan produksi minyak sawit di kedua negara tersebut, namun manajemen stok minyak sawit Indonesia lebih stabil karena kebijakan pungutan yang fleksibel, progresif dan proporsional, kebijakan hilirisasi domestik dan kebijakan mandatori B30. Kedua, secara keseluruhan produksi dan stok Indonesia dan Malaysia masih di bawah posisi sebelum disrupsi supply (tahun 2019). Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2021, industri sawit Indonesia dan Malaysia belum sepenuhnya mengalami recovery ke posisi kinerja tahun 2019. Namun tampaknya volume ending stock minyak sawit di Indonesia dan Malaysia sudah mengalami recovery pada tahun 2022.
Dinamika perubahan ending stok minyak sawit di negara importir (China, India, Bangladesh, Pakistan, USA) dalam periode 2019-2022 menunjukkan (Gambar 3) hal yang menarik.
Gambar 3. Volume Ending Stock Bulanan pada Negara Importir Minyak Sawit Dunia (China, India, Bangladesh, Pakistan, Amerika Serikat) pada Periode Tahun 2019-2022 (Sumber: MOPC)
4,000 4,500 5,000 5,500 6,000 6,500 7,000 7,500 8,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Ribu Ton
2019 2020 2021 2022
900 1,400 1,900 2,400 2,900
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Ribu Ton
2019 2020 2021 2022
Pada masa sebelum disrupsi supply pada tahun 2019, volume ending stock di negara importir minyak sawit masih sekitar 2.09 juta ton per bulan. Namun volume ending stock tersebut mengalami penurunan sebesar 24 persen pada tahun 2020 yakni menjadi sekitar 1.59 juta ton. Volume ending stock kembali mengalami penurunan pada tahun 2021 sebesar 16 persen atau menjadi 1.34 juta ton. Artinya ketika terjadi ketiga disrupsi supply pada periode tahun 2019-2021, volume stok minyak sawit di negara importir tersebut menurun sebesar 36 persen.
Hal yang menarik dari dinamika ending stock bulanan pada negara-negara importir tersebut adalah Amerika Serikat. Volume ending stock minyak sawit di negara tersebut relatif stabil bahkan cenderung meningkat yakni dari 161 ribu ton tahun 2019 menjadi 164 ribu ton tahun 2020 dan 166 ribu ton tahun 2021. Sebaliknya negara importir minyak sawit lainnya mengalami penurunan volume ending stock yang drastis selama periode tersebut.
Anjlognya posisi stok minyak sawit khususnya di negara-negara importir minyak sawit dunia tersebut, menciptakan excess demand minyak sawit dunia. Hal ini menyebabkan peningkatan harga minyak sawit dunia. Berdasarkan data World Bank (2022), harga minyak sawit dunia mengalami peningkatan dari USD 537 per ton pada Januari 2019 menjadi USD 1,823 per ton pada bulan Maret 2022.
Jika dilihat posisi ending stock negara- negara importir minyak sawit dunia mengalami penurunan sebesar 36 persen dalam periode tahun 2019-2021. Hal ini menunjukkan bahwa pasar minyak sawit dunia belum mengalami recovery. Kondisi excess demand minyak sawit dunia masih berlangsung setidaknya sampai semester pertama tahun 2022.
Defisit stok di negara-negara importir sawit dunia tersebut sekitar 0.75 juta ton. Jika Indonesia melakukan relaksasi stoknya sebesar 0.75 juta ton saja setiap bulan melalui peningkatan ekspor, maka excess demand minyak sawit dunia akan turun drastis dan harga minyak sawit dunia akan cenderung turun. Sebaliknya, jika Indonesia mengurangi pasokan ekspor minyak sawit ke pasar dunia, maka kondisi excess demand pasar minyak sawit dunia akan berlanjut.
KESIMPULAN
1. Tiga disrupsi supply yang mempengaruhi produksi dan pasokan ekspor minyak sawit dunia dalam periode tahun 2019- 2021 adalah El Nino, Pandemi Covid-19, dan Kebijakan Indonesia.
2. Dalam periode 2019-2021, volume ending stock minyak sawit di negara produsen utama (Indonesia dan Malaysia) secara keseluruhan mengalami dinamika dengan kecenderungan yang meningkat.
3. Dinamika ending stock minyak sawit di negara-negara importir minyak sawit mengalami penurunan sebesar 36 persen tahun 2021 dibanding posisi tahun 2019.
4. Industri sawit dunia diperkirakan masih dalam kondisi excess demand sampai pertengahan tahun 2022. Hal ini ditandai oleh belum pulihnya stok minyak sawit di negara-negara importir minyak sawit dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Ashaari A, Abdullah M, Fuzi NM. 2022.
Malaysian Palm Oil Industry Performance During Epidemic Covid 19.
International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences.
12(1): 622 – 628
Cui JJ, I Martin. 2017. Impact of US biodiesel Mandat on World Vegetable Oil Market.
Energy Economics Edition 65.
Kojima Y, Parcell J, Cain J. 2016. A Global Demand Analysis of Vegetable Oils for Food Use and Industrial Use. Bahan Presentasi Konferensi Agricultural and Applied Economic Association pada 31 Juli-2 Agustus 2016 di Boston, Massachusetts.
PASPI Monitor. 2021. Contribution of Palm Oil Industry: Feeding the World. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(4): 299-304
PASPI Monitor. 2021. Palm Oil: Biofueling the World. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(6): 311-316.
PASPI Monitor. 2021. Downstream and the Change in The Export Composition of
Indonesian. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(13): 351-356.
PASPI Monitor. 2021. Palm Cooking Oil in Transformation of Cooking Oil Consumption in Indonesia Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(25): 434-438.
PASPI Monitor. 2021.The Indonesian Foreign Exchange and Trade Balance In 2021 Hit A Record High. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 3(2): 589- 594.
PASPI Monitor. 2022. Fenomena Peningkatan Harga Minyak Sawit dan Kelayakan Program Mandatori Biodiesel. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 3 (4): 601-606.
Shigetomi Y, Shimura Y, Yamamoto Y. 2020.
Trends in Global Dependency on the Indonesian Palm Oil and Resultant Environmental Impacts. Scientific Reports. 10:20624.
Sipayung T. 2018. Politik Ekonomi Perkelapasawitan. Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute.