Kalimat Efektif
Shafwan Nugraha, S.S., M.Hum.
Apa itu kalimat efektif?
Kalimat efektif dikenal juga sebagai kalimat yang baik dan benar.
▪ Benar → penyusunannya sesuai dengan kaidah baku yang berlaku, baik dari segi tata bunyi, tata bentuk, tata bahasa, kosakata, maupun ejaan.
▪ Baik → mampu menyampaikan gagasan dengan efektif, tepat, dan efisien.
Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan gagasan dengan baik dan efisien melalui struktur dan bentuk-bentuk bahasa yang sesuai
kaidah baku.
Syarat-Syarat Kalimat Efektif
Sebuah kalimat efektif memenuhi syarat-syarat antara lain:
1. Kesepadanan → kejelasan hubungan S+P 2. Keparalelan → kesamaan bentuk kata 3. Ketegasan → fokus kalimat yang jelas 4. Kehematan → tidak boros kata-kata 5. Kecermatan → pilihan katanya tepat
6. Kepaduan → hubungan antarkata jelas dan erat 7. Kelogisan → masuk akal, tidak ambigu
Problematika Kalimat
Tidak Efektif
Ingat kembali ciri-ciri kalimat!
1. minimal terdiri dari dua kata 2. bersifat predikatif
3. mengandung gagasan utuh 4. intonasinya lengkap
5. diawali huruf kapital dan diakhiri tanda pengakhir kalimat (titik, seru, tanya)
Problematika kalimat tidak efektif berhubungan erat dengan ciri-ciri kalimat tersebut karena seringkali kalimat menjadi tidak efektif karena tidak memenuhi ciri-ciri
tersebut.
Problematika Kalimat yang Tidak Efektif
Masalah yang seringkali terjadi sehingga kalimat menjadi tidak efektif berhubungan dengan:
▪ perkara subjek-predikat
▪ kekeliruan konjungsi
▪ kehematan kata
▪ ketepatan struktur
▪ kelogisan kalimat
▪ keparalelan struktur
1. Subjek Hilang
Sebuah kalimat yang tidak memiliki subjek bukanlah kalimat yang lengkap. Kalimat
yang tidak punya subjek biasanya diawali dengan unsur keterangan tanpa diikuti unsur subjek.
Klausa anak kalimat
Pola: K + P ...
Ciri kalimat yang subjeknya hilang karena diawali keterangan berpola:
a. Preposisi + ... ini/itu/tersebut + KK
b. Konjungsi + S + P, K.Kerja + O ...
Seharusnya klausa induk kalimat, tapi tanpa subjek, jadi
tidak valid sebagai klausa Keterangan
kalimat
1. Subjek Hilang
Contoh:
▪ Dalam buku tersebut memaparkan tips dan trik untuk memperoleh beasiswa.
▪ Pada seminar ini membahas hasil penelitian yang dilaksanakan bulan lalu.
K
Perbaikan:
▪ Buku tersebut memaparkan tips dan trik untuk memperoleh beasiswa.
▪ Seminar ini membahas hasil penelitian yang dilaksanakan bulan lalu.
o p
preposisi + ... = fr. preposisional
= keterangan
K p O
2. Subjek Ganda
• Subjek berfungsi sebagai fokus kalimat. Subjek ganda menyebabkan kebingungan fokus kalimat.
• Subjek ganda biasanya terjadi karena salah satu unsur semestinya menjadi unsur keterangan, namun tidak menjadi keterangan karena tidak diawali preposisi atau konjungsi yang tepat.
Contoh kalimat bersubjek ganda:
Kalimat 1
▪ Pembangunan jembatan desa ini kami dibantu anggota TNI.
Kalimat 2
▪ Tanaman kangkung air pertumbuhannya melambat di tanah kering.
S S p O
S S p k
2. Subjek Ganda
Perbaikan Kalimat 1
✓ Dalam pembangunan jembatan desa ini kami dibantu TNI.
Perbaikan kalimat 2
1. Pertumbuhan tanaman kangkung air melambat di tanah kering.
2. Pertumbuhannya melambat di tanah kering.*
*dengan catatan klitika -nya sudah dirujuk di kalimat sebelumnya
3. Predikat Hilang
Kalimat tanpa predikat biasanya terjadi karena setelah subjek langsung diikuti unsur keterangan bewujud frasa preposisional atau memaksakan kata kerja yang didahului
“yang” sebagai predikat.
Contoh:
▪ Pak Yusuf masih di Jakarta.
▪ Kami sudah ke kosan.
▪ Solusi ini yang paling tepat.
S K
# Predikat kalimat berupa kata kerja, frasa verbal, kata benda, frasa nominal, kata sifat, atau frasa adjektival.
# Kata keterangan tidak bisa menjadi predikat karena tidak bisa menjadi inti frasa verbal.
# Pola frasa verbal:
• KK+KK
• K.Ket + KK
• KK + K.Ket
# Predikat tidak bisa diawali dengan “yang” karena
“yang” adalah konjungsi yang menyetarakan fungsi di sebelah kiri dan kanan kata tsb.
4. Kesalahan Konjungsi/Preposisi
# S + KK Transitif + tentang/mengenai
• Pola ini mengakibatkan kata kerja transitif tidak memiliki objek, padahal KK transitif wajib memiliki objek.
# Jika/kalau/apabila ..., maka ....
• Pola ini mengakibatkan kalimat tidak memiliki induk kalimat.
# Karena ..., maka/sehingga ....
• Pola ini juga mengakibatkan kalimat tidak memiliki induk kalimat.
# Konjungsi intrakalimat + S + P (kalimat tunggal)
• Konjungsi intrakalimat harus menghubungkan minimal 2 klausa dalam satu kalimat!
# S + KK Transitif + tentang/mengenai
Pola ini mengakibatkan kata kerja transitif tidak memiliki objek, padahal KK transitif wajib memiliki objek.
Ingat! KK Transitif harus diikuti objek; pola: S + KK Transitif (P) + O Contoh:
Beliau menceritakan tentang pengalaman ketika bekerja di Dubai.
Dia selalu mengungkit tentang kegagalan proyek kami.
Di kesempatan ini kita bisa membahas tentang hal-hal yang kritis dan krusial terhadap keberlanjutan organisasi.
# Jika/kalau/apabila ..., maka ....
Jika dan maka adalah konjungsi subordinatif. Kedua konjungsi ini menandai bahwa klausa setelahnya adalah anak kalimat sampai tanda batas tertentu.
Pola ini mengakibatkan kalimat tidak memiliki induk kalimat.
Contoh:
Jika besok hujan, maka saya batal berangkat.
Apabila customer tidak dapat menunjukkan bukti pembelian, maka klaim garansi tidak dapat diberikan.
Kalau bak ini sudah penuh, maka pompa air harus dimatikan.
#”Jika/kalau ..., maka...” untuk Perbandingan
Konjungsi jika diikuti dengan syarat. Konjungsi maka diikuti dengan hasil/akibat.
Keduanya berfungsi menyatakan hubungan sebab-akibat antargagasan klausa, bukan untuk perbandingan.
Untuk perbandingan gunakan konjungsi sedangkan.
Contoh:
Kalau Islandia punya Kawah Viti, maka Indonesia punya Kawah Ijen.
Jika di Lembang banyak wisata alam, maka di Bandung kita bisa jumpai banyak wisata belanja.
5. Ketidakhematan Kata
Ketidakhematan kata biasanya terjadi karena penggunaan kata-kata yang maknanya sama lebih dari satu kali atau mengungkapkan hal yang sama berkali-kali, misalnya:
1. Penjamakan berlebihan
2. Deretan kata-kata bersinonim
3. Deret kata berpola Hipernim-Hiponim
#Penjamakan Berlebihan
Penjamakan berlebihan biasanya terjadi ketika:
k.bilangan jamak + k.ulang (jamak) Contoh:
▪ setiap anak-anak
▪ para siswa-siswi
▪ kesepuluh judul buku-buku itu ...
▪ daftar nama-nama
▪ seluruh
#Deret Sinonim
Deret sinonim biasanya terjadi ketika kita ingin menegaskan suatu makna, namun malah menjadi kalimat yang tidak efisien karena mengulang kata bermakna sama.
Contoh:
Surat yang hilang itu masih belum ditemukan.
... sudah pernah dibahas sebelumnya
... agar supaya kita mendapat guna dan manfaatnya.
... amat sangat terlalu banyak sekali banget.
Menurut Fulan (2019:10) menyebutkan bahwa ....
Tiap-tiap siswa akan mendapat masing-masing satu set alat tulis.
Sepertinya kegiatan itu mungkin harus ditunda.
#Deret Hipernim-Hiponim
▪ Hipernim = kata umum
▪ Hiponim = kata khusus
Hipernim biasanya menjadi kategori dari sebuah hiponim, sedangkan hiponim adalah anggota dari hipernim.
Karena hiponim adalah bagian dari hipernim, sebagian makna hipernim sudah diwakili oleh hiponim. Maka dari itu, tidak perlu menggunakan hipernim sekaligus hiponim.
Cermati dan analisis ketidakefektifan kalimat berikut!
• Setiap hari Rabu, Pak Hamid mengenakan baju kemeja berwarna biru tua.
• Karina membeli bunga mawar dan kue tar untuk ulang tahunku.
6. Kelogisan Kalimat
Kalimat yang tidak logis biasanya disebabkan dua masalah:
a. ketidaktepatan pemilihan kata
• Kemarin saya naik bus ke Makassar.
• Pak Hamid mengajar bahasa Indonesia.
• Kami menanam pohon mangga di lapangan depan masjid.
• Doni lelah karena setiap hari membawa mobil ke kampus.
b. Kesalahan struktur
• Karena rusak lagi, Adi membongkar laptopnya.
• Meskipun hujan, dia tetap berangkat.
Kedua kesalahan tersebut bisa terjadi bersamaan, misalnya:
• Sebelum meledak, pemilik rumah tidak menyadari bahwa gasnya bocor.
7. Keparalelan Struktur
Keparalelan berarti kesejajaran antarunsur di dalam kalimat. Keparalelan terutama bisa diamati pada fungsi subjek atau objek kalimat.
Contoh kalimat tidak paralel:
• Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data, menganalisis data, membuat simulasi, dan penulisan laporan hasil penelitian.
• Agar keamanan struktur bangunan itu terjamin, kita harus melakukan pengukuran dan menghitung dengan teliti.
• Obat tersebut dipercaya mampu mencegah pembengkakan dan percepatan penyembuhan.
Permasalahan Ejaan
Kalimat Baku
1. Kesalahan tanda baca koma
Tanda baca koma rawan disalahgunakan karena banyak orang yang tidak begitu paham dan hapal penggunaan tanda baca koma. Beberapa kesalahan yang sering terjadi
antara lain.
a. Penggunaan tanda koma sebelum konjungsi setara (koordinatif)
Konjungsi intrakalimat yang bisa didahului tanda baca koma adalah NAPASTEMAN (namun, padahal, sedangkan, tetapi, melainkan)
b. Penggunaan tanda koma sebelum preposisi.
Preposisi yang didahului tanda koma adalah preposisi penanda contoh, keterangan, permisalan, perincian, atau aposisi: SEMIYANTO (seperti, misalnya, yaitu, antara lain, contohnya).
1. Kesalahan tanda baca koma
Kaidah penggunaan tanda baca koma pada PUEBI mewajibkan penggunaan tanda koma sebelum konjungsi setara (koordinatif), terutama hubungan pertentangan:
Masyarakat meminta kejelasan dana bantuan, tetapi pemerintah desa enggan menjelaskan.
Mereka memilih untuk diam, sedangkan kami bertekad untuk protes.
▪ Tidak baku
▪ Baku
Masyarakat meminta kejelasan dana bantuan tetapi pemerintah desa enggan menjelaskan.
Mereka memilih untuk diam sedangkan kami bertekad untuk protes.
1. Kesalahan tanda baca koma
c. Tanda baca koma harus digunakan setelah konjungsi antarkalimat seperti maka dari itu, oleh karena itu, dengan begitu/demikian, meskipun begitu/demikian, jadi, padahal, namun, selanjutnya, kemudian, dsb.
Contoh:
✓ Maka dari itu, pemerintah harus melakukan pengelolaan yang lebih transparan.
✓ Meskipun begitu, beberapa lembaga pemerintahan daerah belum mampu menerapkan aturan tersebut dengan optimal.
✓ Proses tersebut diawali dengan pengumpulan data. Kemudian, peneliti harus mengklasifikasi data berdasarkan parameter tertentu.
1. Kesalahan tanda baca koma
d. tanda baca koma digunakan ketika keterangan kalimat mendahului subjek dan tidak ada kata yang bisa menjadi pembatas antara keterangan dengan subjek.
Contoh:
✓ Setelah proses tersebut serbuk kayu dicampur dengan air dan zat perekat.
✓ Dalam tiga tahun, perusahaan tersebut mampu meningkatkan produksi sampai 225%.
Ingat! Tanda baca koma tidak boleh digunakan untuk memisahkan subjek dari predikat, kecuali subjek berupa frasa aposisi (ditandai dua tanda koma sepasang).
2. Kesalahan tanda baca titik dua
a. Titik dua yang digunakan setelah kata yaitu atau sebagai berikut.
Kesalahan ini terutama sering terjadi pada pemerian/perincian berdaftar. Perhatikan contoh berikut!
.... Untuk itu, calon pelamar diwajibkan menyiapkan kelengkapan sebagai berikut:
a. Fotokopi KTP
b. Fotokopi kartu keluarga c. Pasfoto 4x6 dua lembar
d. Surat keterangan catatan kepolisian
e. Surat keterangan kesehatan dari Puskesmas atau Dokter Praktek
... faktor yang mempercepat keausan logam, seperti misalnya:
• Temperatur,
• Intensitas gesekan,
• Koefisien muai bahan,
• Jumlah titik kontak dengan elemen bergerak,
• dan sebagainya.
2. Kesalahan tanda baca titik dua
Kata yaitu, sebagai berikut, antara lain, dan misalnya berfungsi menyatakan perincian.
Tanda baca titik dua juga berfungsi menandai perincian. Karena kedua unsur bahasa ini fungsinya sama, tidak perlu digunakan bersama-sama atau dua sekaligu. Cukup satu:
tanda titik dua saja, atau kata-kata penanda rincian saja.
.... Untuk itu, calon pelamar diwajibkan menyiapkan kelengkapan sebagai berikut:
a. Fotokopi KTP
b. Fotokopi kartu keluarga c. Pasfoto 4x6 dua lembar
d. Surat keterangan catatan kepolisian
e. Surat keterangan kesehatan dari Puskesmas atau Dokter Praktek
.... Untuk itu, calon pelamar diwajibkan menyiapkan kelengkapan:
a. Fotokopi KTP
b. Fotokopi kartu keluarga ...
▪ Tidak baku ▪ Baku
.... Untuk itu, calon pelamar diwajibkan menyiapkan kelengkapan sebagai berikut.
a. Fotokopi KTP
b. Fotokopi kartu keluarga ...
Daftar Pustaka
▪ Alwi, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Balai Pustaka.
▪ Arifin, Z. & Tasai, S.A. 2004. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.
Akademika Pressindo.
▪ Mulyadi, dkk. 2016. Intisari Tata Bahasa Indonesia untuk SMP dan SMA. Yrama Widya.
▪ Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.