• Tidak ada hasil yang ditemukan

Edisi Revisi 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Edisi Revisi 1 "

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Buku Ajar

RISET

EPERAWATAN

Anas Tamsuri

Edisi Revisi 1

(3)
(4)

Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah yang telah memberikan karunia sehingga penulis berhasil menyelesaikan pembuatan buku sederhana ini.

Buku ini sengaja dibuat untuk menjawab kebingungan mahasiswa diploma III keperawatan dalam penyusunan riset keperawatan. Begitu banyaknya buku riset ternyata tidak mampu memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk memahami riset.

Karena itu buku ini sengaja dibuat dalam bentuk sederhana untuk menuntun mahasiswa menyelesaikan pembuatan laporan riset.

Penulis menyadari isi dan pendekatan yang dilakukan dalam buku ini tidak relevan lagi bagi peneliti yang cukup mapan dan menguasai riset, karena memang kehadiran buku ini “hanya” untuk mengantarkan mahasiswa memahami riset dengan mudah.

Pamekasan, Februari 2004

(5)

Pengantar Edisi Revisi

Puji syukur kehadirat Allah yang telah memberikan karunia sehingga penulis mampu melakukan revisi terhadap buku yang sebelumnya telah beredar dikalangan mahasiswa dengan judul

“Panduan Praktis Membuat Riset Keperawatan Bagi Pemula.”

Perbaikan yang dilakukan oleh penulis dalam kesempatan ini dilakukan dengan mempertimbangkan banyak hal. Salah satu kebutuhan yang mendesak adalah mengatasi berbagai kekurangan- kekurangan dan mungkin kekeliruan yang cukup banyak terdapat pada edisi perdana. Persiapan pembuatan buku edisi perdana yang cukup singkat (2 hari) membuat kekurangan semakin nampak disana sini.

Dalam kesempatan ini penulis perlu menyampaikan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan masukan dan koreksi baik secara langsung maupun tidak langsung, yang kesemuanya memberikan wacana baru bagi perbaikan pada buku ini. Khusus kepada Bp. Dr. Windhu Purnomo, MS; yang telah banyak membuka wawasan dan wacana, kami ucapkan banyak terimakasih.

Selanjutnya perlu kami sampaikan bahwa dengan beredarnya diktat ini dikalangan mahasiswa, maka buku edisi perdana yang sempat beredar di kalangan mahasiswa angkatan tahun 2003 tidak berlaku lagi.

Akhirnya, sekali lagi saran dan masukan yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dari segenap rekan dosen, mahasiswa dan pihak lainnya demi kemajuan dan perbaikan dimasa datang.

Kediri, September 2006

(6)

DAFTAR ISI

Judul Dalam ………... i

Pengantar ……….. iii

Pengantar Edisi Revisi ……….... iv

Daftar Isi ……….... v

BERFIKIR ILMIAH DAN METODE ILMIAH ……….. 1

MENGEMBANGKAN MASALAH PENELITIAN ………... 10

MENENTUKAN TUJUAN PENELITIAN ……….. 17

MENGEMBANGKAN TEORI, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ………..…. 19

MENENTUKAN DESAIN PENELITIAN ……….... 25

PENENTUAN SAMPEL DAN SAMPLING ………..…. 36

MEMBUAT KERANGKA KERJA ……… 42

VARIABEL DAN DEVINISI OPERASIONAL ……… 45

MENGEMBANGKAN ALAT UKUR ……… 49

MELAKUKAN PENGOLAHAN DATA ……… 57

STATISTIKA PENELITIAN ………. 64

(7)
(8)

BERFIKIR ILMIAH DAN METODE ILMIAH Secara umum terdapat 2 macam cara memperoleh pengetahuan yaitu:

A. Cara tradisional (Non Ilmiah)

Cara tradisional atau non ilmiah ini meliputi : 1. Cara Coba salah (Trial dan Error)

Cara coba salah merupakan teknik yang telah dilakukan oleh manusia sejak jaman sebelum kebudayaan. Ketika manusia menghadapi masalah mereka akan melakukan usaha coba- coba dengan menggunakan berbagai kemungkinan dalam memecahkan berbagai masalah. Metode ini banyak membantu perkembangan berfikir manusia kearah yang lebih sempurna. Contohnya adalah penemuan kina dari penderita malaria, pencegahan lumpur Lapindo Brantas.

Metode ini masih sering digunakan pada saat sekarang, utamanya apabila penalaran telah buntu untuk memecahkan masalah.

2. Cara kekuasaan atau otoritas

Dalam kehidupan banyak sekali kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang, tanpa elalui penalaran apakah yang dilakukan itu baik atau buruk. Kebiasaan ini umumnya diwariskan secara turun temurun. Seperti mengapa harus ada acara selapanan dan kenduri, mengapa anak kecil dilarang makan kelapa, dan sebagainya. Kebiasan ini seolah diterima dari sumbernya sebagai kebenaran yang mutlak.

Sumber pengetahuan dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya. Dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama maupun ahi ilmu pengetahuan.

3. Berdasarkan pengalaman

Pengalaman dapat menjadi sumber pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalaha yang dihadapi pada masa yang lalu. Apabila dengan cara yang digunakan tersebut orang dapat memecahkan maslah yang dihadapi, maka untuk memecahkan masalah lain yang sama, orang dapat pula menggunakan cara tersebut untuk memecahkan maslah dikesempatan yang lain.

(9)

4. Melalui jalan pikiran

Sejalan dengan perkembangan kebudayaan manusia, cara berfikir manusia juga berkembang. Di sini manusia telah memapu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya; baik melalui jalan induksi maupun deduksi.

Induksi dan deduksi merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan, sehingga dicari hubungannya sehingga dapat sibuat suatu kesimpulan. Apabila proses spembuatan kesimpulan it pernyataan-pernyataaan khusus kepada umum dinamakan induksi sedangkan apabila penarikan kesimpulan dilakukan dari pernyataan umum kepada khusus maka disebut deduksi.

Induksi

Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus kepada pernyataan yang bersifat umum. Hal ini berarti dalam berfiir induksi pembuatan kesimpulan tersebut didasarkan pengalaman-pengalaman yang ditangkap oleh indra; kemudian disimpulkan dalam suatu konsep yang memungkinkan seseorang untuk memahami suatu gejala. Karena proses berfikir undiksi itu beranjak dari hasil pengamatan indera atau hal-hal yang nyata, maka dapat dikatakan bahwa induksi berasal dari hal-hal konkret kepada hal-hal yang abstrak.

Proses berfikir induksi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu induksi sempurna dan induksi tidak sempurna. Induksi sempurna terjadi apabila kesimpulan diperoleh dari penjumlahan dari kesimpulan khusus. Misalnya, masing-masing atau tiap-tiap anak yang lahir prematur perkembangannya lambat, jadi kesimpulannya semua anak prematur perkembangannya lambat. Proses pengamatan pada induksi lengkap dilakukan pada seluruh objek kemudian seluruh objek itu diidentifikasi keumumannya (kesamaan-kesamaan dalam suatu hal) dan ditarik kesimpulan umumnya.

Adapun induksi tidak sempurna adalah apabila keseimpulan tersebut diperoleh dari lompatan pernyataan-pernyataan khusus pada beberapa objek saja (hanya pada beberapa sampel saja). Misalnya:

Anas pengetahuannya kurang perilakunya buruk

(10)

Andi pengetahuannya kurang perilakunya buruk Tono pengetahuannya kurang perilakunya buruk Kesimpulannya :

Orang yang pengetahuannya kurang perilakunya buruk.

Deduksi

Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan umum ke khusus. Aristoteles (834-322 SM) mengembangkan cara berikir deduksi ini kedalam suatu cara yang disebut “silogisme”. Silogisem merupakan salah satu bentuk deduksi yang memungkinkan seseorang untuk dapat mencapai kesimpulan yang lebih baik. Di dalam proses berfikir deduksi berlaku bahwa sesuatu dianggap benar pada kelas tertentu, berlaku juga kebenarannya pada semua yang terjadi pada setiap yang termasuk dalam kelas itu. Disini terlihat proses berfikir berdasarkan pada pengetahuan umum mencapai pengetahuan yang khusus. Silogisme sebagai bentuk berfikir deduksi yang teratur terdiri atas tiga pernyataan atau proposisis yaitu pernyataan pertama atau disebut premis mayor, yang berisi pernyataan yang bersifat umum, pernyataan kedua yang bersifat lebih khusus daripada pernaytaan pertama disebut permis minor, sedangkan pernyataan ketiga merupakan kesimpulannya, disebut konklusi atau konsekuen.

Contoh :

Semua anak yang status gizinya baik memiliki IQ tinggi (Premis Mayor)

Ruli status gizinya baik (Premis minor) Jadi ruli anak yang IQ-nya tinggi (konklusi).

Silogisme dibagi menjadi dua macam yaiut silogisme ktegoris dan silogisme hipotetis. Ynag dimaksud silogisme kategoris ialah proses berfikir, dengan melakukan penyelidikan identitssas (kesamaan) atau diversitas (perbedaan) dua konsep objektif; dengan membandingkannya ketiga konsep tersebut berturut- turut. Contoh :

Semua penderita malaria mengalami kekurangan darah Pak ali menderita malaria

(11)

Pak ali kekurangan darah

Sedangkan silogisme hipotetis adalah silogisme, dimana premis mayornya merupakan pernyataan hipotesis dan premis minornya mengakui atau menolak salah satu atau bagian dari perimis mayor tersebut.

Silogiseme hipotesis ini ini terdiri atas tiga macam yaitu silogisme kondisional, silogisme disjunctive (pemisahan) dan silogisme konjunctive (penghubung).

Silogisme hipotesis kondisional ialah silogisme dimana premis mayornya berbentuk suatu keputusan bersyarat, dirumuskan dengan kata-kata jika, apabila atau maka Misalnya:

Apabila Minah mendapatkan imunisasi polio, ia tidak cacad

Minah tidak cacad

Jadi minah telah mendapatkan imunisasi polio

Silogisme pemisahan ialah silogisme, dimana premis mayornya berbentuk hipotesis yang ebrsifat memisahkan. Contoh:

Didi atau dudung yang kekurangan gizi Didi berat badannya normal

Jadi dudung yang kekurangan gizi

Adapun silogisme penghubung adalah silogisme yang premis mayornya berbentuk penyataan yang menghubungkan

Contoh :

Tidak mungkin ibu hamil yang gizinya baik menderita anemia

Ibu ani hamil gizinya baik

Jadi ibu Ani tidak menderita Anemia B. Cara modern atau cara ilmiah

Cara perolehan pengetahuan melalui cara ilmiah pertama kali dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626). Cara ini disebut juga metodologi penelitian (research methodology). Tahapan dari ketiatan ini adalah pengamatan secara langsung terhadap gejala alam atau kemasyarakatan, kemudian hasil pengamatannya dikumpulkan atau diklasifikasikan dan akhirnya

(12)

ditarik kesimpulan. Metode induktif yang dilakukan oleh Bacon ini dilanjutkan oleh Deobold van Dallen dimana ditambahkan bahwa dalam observasi langsung diadakan pencatatan- pencatatan terhadap semua fakta yang berhubungan dengan objek yang diamatinya. Pencatatan ini mencakup 3 hal pokok yaitu:

a. Segala sesutau yang positif, yakni gejala tertentu yang muncul pada saat dilakukan pengamatan

b. Segala sesuatu yang negatif, yaitu gejala tertentu yang tidak muncul pada saat dilakukan pengataman

c. Gejala-gejalayang muncul secara bervariasi, yaitu gejala yang berubah-ubah pada kondisi-kondisi tertentu.

Berdasarkan hasil pencatatan ini kemudian ditetapkan ciri atau unsur yang pasti ada pada sesuatu gejala. Selanjutnya hal tersebut digunakan untuk melakukan pengambilan kesimpulan atau melakukan generalisai. Prinsip-prinsip umum yang dikembangkan oleh Bacon ini kemudian dijadikan dasar untuk mengembangkan metode penelitian yang lebih praktis.

Selanjutnya dilakukan penggambungan antara proses berfikir deduktif-induktif-verivikatif sperti yang dilakukan oleh Newton dan Galileo, yang menghasilkan suatu cara penelitian yang sekarang ini kita pelajari yaitu metode penelitian ilmiah (Scientific Method)

C. Metode Ilmiah

Metode ilmiah pertama kali dikenalkan oleh John Dewey melalui buku How We Tink (1910) yaitu sebagai berikut:

1. Merasakan adanya suatu masalah atau kesulitan, dan masalah atau kesulitan itu mendorong perlunya pemecahan 2. Merumuskan dan atau membatas kesulitan/maslah tersebut.

Didalam hal ini diperlukan observasi untuk mengumpulkan fakta yang berhubungan dengan masalah tersebut

3. Mencoba mengajukan pemecahan masalah / kesulitan tersebut dalan bentuk hipotesis-hipotesis. Hipotesis ini merupakan pernyataan yang didasarkan pada suatu pemikiran atau generalisai untuk menjelaskan faktatentang penyebab masalah

4. Merumuskan alasan dan akibat dari hipotesis yang dirumuskan secara deduktif

5. Menguji hipotesis yang diajukan, dengan berdasarkan fakta- fakta yang dikumpulkan melalui penyelidikan atau penelitian.

(13)

Hasil pembuktian hipotesis ini bisa menguatkan hipotesis dalam arti hipotesis diterima, dan dapat pula memperlemah dalam artian hipotesis ditolak. Dari hasil penelitian selanjutnya digunakan untuk membuat pemecahan masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.

Almack membuat batasan bahwa metode ilmiah adalah suatu cara menerapkan prinsip-rpinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Dengan demikian maka penelitian pada dasarnya adalah proses penerapan metode ilmiah tersebutt dan hasilnya adalah ilmu (kebenaran).

Dalam metode ilmiah, sebaiknya memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Berdasarkan fakta

Informasi serta ketaraangan dan data yang dikumpulkan serta dianalisis dalam proses penelitian harus berdasarkan fakta-fakta atau kenyataan; dan bukan berdasarkan dugaan atau pemikiran pribadi atau orang lain.

2. Bebas dari prasangka

Penggunaan fakta dan data dalam poses penerapan metode ilmiah harus berdasarkan bukti yang lengkap dan objektif, dan bebas dari pertimbangan-pertimbangan subyektif. Oleh karena itu metode ilmiah harus bebas dari prasangka atau dugaan.

3. Menggunakan prinsip analisis

Fakta dan data yang telah diperoleh dari hasil pengumpulan data pada penelitian tidak hanya disajikan apa adanya namun perlu dilakukan proses analisa terhadap data sehingga dapat dilakukan penarikan kesimpulan.

4. Menggunakan hipotesis

Hipotesis penelitian diperlukan untuk memandu jalan pikiran atau kearah mana tujuan penelitian ingin dicapai

5. Menggunakan ukuran objektif

Pengumpulan data hendaknya menggunakan ukuran yang obyektif. Tidak boleh dinyatakan berdasarkan pertimbangan subyektif (pribadi)

Adapun langkah-langkah metode ilmiah secara umum adalah:

1. Memilih dan atau mengidentifikasi masalah

Masalah adalah kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Masalah dapat diperoleh daripengalaman

(14)

pribadi, kenyataan/ kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat secara umum, atau ditemui dalam bidang pekerjaan atau keilmuan tertentu. Kenyataan hidup dapat menjadi masalah manakala kenyataan itu tidak sesuai dengan harapan/

kondisi ideal, teori atau tujuan serta kebijakan-kebijakan.

Untuk dapat menemukan masalah maka seseorang harus memiliki wawasan yang cukup luas sehingga mampu menentukan apakah suatu fenomena dapat disebut sebagai masalah atau bukan.

2. Menetapkan tujuan penelitian

Langkah penetapan tujuan penelitian dilakukan setelah masalah penelitian dirumuskan. Tujuan penelitian pada hakikatnya adalah suatu pernyataan tentang informasi (data) apa yang akan digali melalui penelitian tersebut.

3. Studi literatur

Untuk mendapatkan dukungan teoritis terhadap masalah penelitian yang dipilih, maka peneliti perlu banyak membaca buku literatur yang dapat berupa buku teks, majalah jurnal, maupun hasil penelitian orang lain. Dari studi literatur (tinjauan teoritis) maka peneliti dapat membangun kerangka konsep penelitian

4. Merumuskan kerangka konsep

Kerangka konsep penelitian pada hakikatnya adalah uraian dan visualisasi konsep-konsep serta variabel-variabel yang akan diukur (diteliti). Melalui kerangka konsep penelitian maka dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas kearah mana penelitian itu berjalan atau data apa saja yang perlu dikumpulkan.

5. Merumuskan hipotesis

Agar analisis penelitian itu terarah, maka perlu dirumuskan hipotesis penelitian terlebih dahulu. Hipotesis pada hakikatnya adalah dugaan sementara terhadap terjadinya hubungan variabel yang akan diteliti.

6. Merumuskan metode penelitian

Metode penelitian menggambarkan tentang cara apa saja yang diperlukan sehingga tujuan penelitian dapat tercapai.

Dalam metode penelitian ditetapkan desain penelitian, kelompok objek yang diteliti (populasi, sampel dan sampling), alat ukur untuk pengumpulan data, serta rencana analisis data.

(15)

7. Pengumpulan data

Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan berdasarkan pada alat pengumpulan data yang telah ditetapkan pada metode penelitian, dan diterapkan (diberlakukan) pada kelompok objek yang telah ditetapkan sebelumnya pada metode penelitian

8. Pengolahan dan analisis data

Kegiatan pengolahan data pada hakikatnya adalah proses pembuatan kesimpulan atau proses menjawab pertanyaan penelitian melalui data yang telah diperoleh. Kegiatan pengolahan data dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan bantuan komputer.

9. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan hasil dari proses analisa data. Penarikan kesimpulan umumnya dilakukan dengan memperhatikan tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

10. Pembuatan laporan

Laporan penelitian pada dasarnya adalah penyajian data.

Artinya dalam laporan hasil penelitian akan disajikan data hasil penelitian tersebut.

Adapun langkah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:

Masalah Penelitian Tujuan

Kerangka Konsep Pengumpulan Data

Pengolahan dan Analisis Data

Pengalaman Empiris Teori Hasil Penelitian

Penarikan Kesimpulan

Pembuatan Laporan

(16)

Proses pembuatan riset sebagaimana alur diatas dapat dirinci sebagai berikut:

1. Merumuskan masalah penelitian, baik dalam bentuk pernyataan masalah maupun pertanyaan masalah

2. Merumuskan tujuan penelitian, baik tujuan umum maupun tujuan khusus

3. mengembangkan landasan berfikir (teoritis) yang terkait dengan konsep-konsep dalam penelitian, hubungan antar konsep, variabel dan hipotesis penelitian

4. Mengembangkan metode penelitian, yaitu metode yang digunakan dalam penelitian meliputi jenis (desain) penelitian, penentuan populasi penelitian, sampel penelitian dan teknik pengambilan sampel (sampling), penentuan variabel penelitian dan definisi operasional variabel, teknik pengumpulan data, teknik pengolahan dan analisa data, serta teknik penarikan kesimpulan; termasuk keterbatasan dan rancangan waktu penelitian.

5. Melakukan pengumpulan data dari responden penelitian atau objek observasi penelitian

6. Mengolah data yang telah dikumpulkan menjadi informasi 7. Melakukan analisis terhadap data yang telah dikumpulkan 8. Membuat kesimpulan dan saran, sesuai dengan hasil

penelitian.

(17)

MENGEMBANGKAN MASALAH PENELITIAN A. Pengantar

Masalah penelitian adalah pokok persoalan yang akan dipecahkan atau diatasi berdasarkan hasil penelitian. Masalah adalah kesenjangan (gap) antara harapan dan kenyataan, antara apa yang diinginkan atau yang dituju dengan apa yang terjadi atau faktanya.

Misalnya dijumpai fakta bahwa tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan di ruang rawat X adalah 56 %;

padahal RS telah menetapkan bahwa kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan diharapkan sebesar 80%. Berarti terdapat masalah yaitu kurang tercapainya target pencapaian derajad kepuasan pasien. Berdasarkan pada kondisi diatas selanjutnya dilakukan penelitian untuk mengetahui penyebab faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kurangnya derajad kepuasan pasien. Contoh lain misalnya di desa Y didirikan dua buah Posyandu baru sebagai sarana pemantauan kesehatan Balita di dua wilayah RW. Namun setelah Posyandu berjalan 2 bulan, ternyata kunjungan hanya 50% dari targe sasaran penduduk yang ada disekitar Posyandu. Idealnya seluruh warga dengan balita memanfaatkan Posyandu namun kenyataannya tidak seluruh warga memanfaatkan Posyandu, Masalah penelitian dapat dirumuskan : Apakah keberadaan Posyandu belum diterima oleh seluruh unsur masyarakat?

Dari dua contoh diatas, dapat diperoleh gambaran bahwa posisi penelitian mungkin mengatasi masalah secara langsung (misalnya masalah kurangnya kunjungan Posyandu), atau bisa juga untuk menjadi media dalam mengatasi masalah (pada kasus kurangnya pelayanan RS).

Masalah adalah titik tolak dari setiap kegiatan penelitian, dimana melalui masalah inilah maka aktivitas penelitian dapat dilakukan. Mengingat pentingnya keberadaan masalah penelitian, dapat dikatakan bahwa tanpa adanya masalah penelitian maka mustahil penelitian dapat dilakukan.

Meskipun masalah selalu ada dan banyak, namun tidak mudah untuk mengangkatnya menjadi masalah penelitian.

Setidaknya diperlukan berbagai syarat sehingga suatu masalah atau fenomena dapat diangkat menjadi masalah penelitian.

Syarat itu antara lain bahwa peneliti harus cukup peka dan memiliki minat yang cukup besar, memiliki cukup banyak sumber

(18)

dan atau teori yang mendukung serta memungkinkan untuk mengangkat masalah tersebut menjadi masalah penelitian.

Kepekaan terhadap masalah penelitian dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

1. Profesi

Profesi atau bidang pekerjaan seseorang dapat menjadi sumber minat untuk melakukan penelitian. Dalam melakukan pekerjaan terkait dengan profesinya perawat seringkali dihadapkan pada masalah-masalah yang terkait dengan profesi tersebut. Semakin seringnya seseorang terpapar dengan masalah makin semakin besar dorongan untuk mengatasi masalah.

2. Spesialisasi

Adanya keahlian khusus pada diri seseorang akan menyebabkan seseorang semakin peka terhadap maslah yang terkait dengankeahliannya tersebut. Apabila seseorang menekuni suatu bidang tertentu, maka orang tersebut menjadi sangat peka dengan bidang garapannya. Seorang perawat yang biasa berhadapan dengan pasien kritis akan semakin mengetahui masalah yang terkait dengan perawatan pasien kritis, dan sebagainya.

3. Akademis

Orang yang mengalami program pendidikan tinggi biasanya telah mendalami salah satu disiplin keilmuan. Dengan kedalaman bidang ilmu maka akan memiliki daya tangkap terhadap masalah lebih baik.

4. Pengalaman lapangan

Semakin banyak seorang perawat berada di lapangan (berhadapan langsung dengan pasien) maka semakin besar kepekaannya terhadap masalah yang dihadapi oleh pasien 5. Kebutuhan dan praktek kehidupan sehari-hari

Dengan menaruh perhatian terhadap kebutuhan serta pengalaman hidup sehari-hari, dapat menimbulkan kepekaan akan masalah. Seseorang yang secara seksama memperhatikan kebersihan diri atau keluarga akan semakin mudah melihat berbgai masalah yang muncul

6. Bahan bacaan atau kepustakaan

Buku merupakan sumber wawasan yang dapat memberi inspirasi terhadap masalah. Melalui bahan bacaan juga ditemukan berbagai sumber yang mendukung untuk timbulnya suatu masalah.

(19)

B. Masalah Penelitian dalam Keperawatan

Untuk menentukan masalah keperawatan, perlu dilakukan batasan-batasan sehingga menunjukkan bahwa masalah yang ditetapkan relevan dengan tugas perawat sehari-hari. Membuat batasan masalah keperawatan tentu relatif lebih sulit dibandingkan membuat batasan masalah kesehatan. Perawat perlu melakukan pembatasan sehingga masalah penelitian yang diangkat merupakan masalah keperawatan karena berbagai pertimbangan:

1. Tujuan pemecahan masalah

Umumnya kegiatan riset bagi keperawatan digunakan untuk upaya mengatasi masalah keperawatan baik yang terkait dengan pelayanan, pendidikan, maupun kegiatan manajerial. Manakala masalah yang dikembangkan terlepas dari bidang-bidang keperawatan maka secara keilmuan hasil dari penelitian tersebut kurang mampu memberikan kontribusi terhadap pelayanan keperawatan pada umumnya.

2. Faktor keahlian dan kewenangan

Mengingat bahwa perawat umumnya memiliki kecenderungan (minat) dan keahlian dalam bidang keperawatan; maka akan lebih mudah bagi perawat untuk memilih masalah yang berkait dengan keperawatan dibandingkan dengan bidang lain yang kurang dikuasainya.

Untuk memberikan batasan apakah suatu masalah penelitian merupakan bidang garap keperawatan, dapat dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek berikut ini:

1. Masalah berhubungan dengan Paradigma Keperawatan Masalah penelitian dapat dikembangkan oleh peneliti manakala masalah tersebut berhubungan dengan faktor hubungan antara kesehatan manusia dengan lingkungan, perawatan untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan manusia, pengembangan teknik perawatan dan manajemen asuhan bagi kesehatan, pemanfaatan teknologi dan pengembangan sumber daya keperawatan, dan maslaah lainnya yang terkait dengan aktivitas perawat dalam pengelolaan asuhan bagi manusia, lingkungan maupun perannya sebagai tim kesehatan.

(20)

2. Masalah berhubungan dengan Peran dan Fungsi Perawat Masalah penelitian berada pada lingkup masalah keperawatan manakala masalah tersebut sangat terkait erat dengan peran dan fungsi perawat; baik sebagai provider pelayanan kesehatan, sebagai pendidik (edukator), fasilitator, advocator, peneliti, maupun dalam peran lainnya.

3. Masalah berhubungan dengan Lingkup kerja perawat Suatu masalah penelitian dapat disebut merupakan masalah penelitian dalam keperawatan manakala masalah tersebut berkaitan erat dengan lingkup kerja perawat yaitu dalam kedudukannya sebagai perawat pasien secara individu, keluarga, kelompok khusus maupun dalam masyarakat.

Pada kenyataannya, sering dijumpai adanya tumpang tindih lingkup penelitian yang dilakukan antar profesi kesehatan.

Lingkup penelitian yang dilakukan oleh ahli kesehatan lingkungan, dokter, bidan dan perawat, tenaga gizi dan sebagainya kadangkala saling bertautan dan bahkan kadangkala memiliki lingkup masalah yang sama. Kondisi ini mungkin dapat ditorerir karena memang semua bidang profesi diatas sebenarnya bekerja pada bidang garap yang saling terkait sebagai profesi kesehatan.

Sebagai rambu-rambu bagi perawat untuk menentukan apakah masalah kesehatan dapat menjadi masalah penelitian dibidang keperawatan adalah:

1. Apakah bidang tersebut terkait dengan keilmuan perawat yaitu upaya pemenuhan kebutuhan klien, baik individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat

2. Apakah masalah yang ada terkait dengan peran dan fungsi perawat sebagai pemberi pelayanan, pendidik, manajer, motovator, dan sebagainya

3. Apakah masalah tersebut berhubungan dengan tugas dan kewenangan perawat. Sebagaimana diatur dalam regulasi/peraturan tentang tugas dan kewenangan perawat yang telah ditetapkan.

C. Menetapkan Masalah Penelitian

Setelah kita yakin bahwa masalah penelitian yang dibuat merupakan masalah dalam bidang garap keperawatan, selanjutnya perlu dilakukan penetapan masalah tersebut.

Sebelum menetapkan masalah, sebaiknya peneliti

(21)

mempertimbangkan apakah masalah penelitian yang direncanakan layak untuk diteliti, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Masih baru

Pengertian baru adalah bila masalah / tema penelitian tersebut belum pernah diteliti oleh orang lain. Hal ini dilakukan agar penelitian yang nantinya dilakukan tidak sia- sia.

Dalam beberapa situasi mungkin suatu penelitian memiliki topik masalah yang sama, namun memiliki tujuan yang berbeda atau kecenderungan arah penelitian yang berbeda, maka hal ini diperkenankan untuk upaya klarifikasi dan penguatan terhadap hasil-hasil yang telah ditemukan pada penelitian sebelumnya.

2. Aktual

Masalah penelitian sebaiknya aktual, artinya masalah tersebut benar-benar terjadi atau berlangsung di masyarakat. Masalah penelitian yang mendasar pada fenomena di masyarakat akan memiliki manfaat yang lebih dapat dirasakan. Masalah penelitian tidak boleh mengawang atau tidak berpijak pada kenyataan yang ada. Masalah yang baik adalah masalah yang dirasakan oleh masyarakat, dan bukan masalah yang dirasakan oleh peneliti.

Agar masalah yang dibuat merupakan masalah aktual, mungkin peneliti perlu melakukan penjajagan seperti sering mengadakan dialog, membaca berita, atau melakukan studi pendahuluan.

3. Praktis

Masalah penelitian yang diangkat sebaiknya memungkinkan untuk dilakukan, yaitu apabila topik penelitian tidak terlalu luas, namun juga tidak terlalu sempit.

Masalah penelitian juga harus memiliki nilai praktis, yaitu hasil penelitian harus dapat menunjang kegiatan praktis.

4. Memadai

Masalah yang diangkat sebaiknya tidak terlalu sempit lingkup dan permasalahannya. Masalah yang terlalu sempit menghasilkan hasil yang kurang berbobot dan kurang berguna bagi masyarakat.

5. Sesuai dengan kemampuan peneliti

Kemampuan peneliti dalam melakukan penelitian perlu diperhatikan. Penelitian yang terlalu besar yang memerlukan

(22)

biaya yang terlalu besar pula mungkin hanya akan membebani peneliti, yang pada akhirnya penelitian tidak dapat berlangsung dengan baik. Kemampuan peneliti ini meliputi kemampuan konsep keilmuan, kemampuan luas penelitian, kedalaman kajian, kemampuan finansial dan tenaga.

6. Sesuai dengan kebijakan

Penelitian yang diselenggarakan yang sesuai dengan regulasi hukum, keilmuan dan pemerintahan mungkin akan lebih mudah dilaksanakan dan lebih mendapatkan fasilitas dan prioritas dibandingkan dengan penelitian yang bertentangan

7. Tidak melanggar prinsip norma / etika

Penelitian harus memperhatikan nilai-nilai norma, etika dan moral. Penelitian tentang perilaku seksual masyarakat desa, misalnya; mungkin akan sulit dilaksanakan karena norma belum dapat menerima.

8. Didukung oleh pihak lain

Penelitian yang mendapatkan dukungan dari pihak lain akan semakin mudah untuk dilaksanakan, misalnya fasilitas bimbingan dari institusi riset/ pendidikan, finansial dari pemerintah dan swasta, bantuan fasilitas dari donatur, dan sebagainya.

D. Rumusan Masalah

Masalah penelitian dapat dinyatakan dalam dua bentuk, yaitu Pernyataan Masalah dan Pertanyaan masalah. Pernyataan masalah adalah statemen/ pernyataan adanya masalah, berisi deskripsi fakta yang ada pada saat itu. Sedangkan pertanyaan penelitian adalah suatu kalibat berbentuk pertanyaan yang menghendaki jawaban dari penelitian yang akan dilakukan.

Pernyataan maslah umumnya menggambarkan fenomena yang menjadi masalah sedangkan pertanyaan masalah memberikan arah kemana penelitian akan dilakukan berdasarkan pada pernyataan masalah yang telah dirumuskan.

Contoh perbedaan antara pernyataan penelitian dan pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut:

(23)

Contoh 1

Pernyataan Penelitian :

Di wilayah desa B telah dilakukan pencanangan gerakan pemberantasan Nyamuk demam berdarah melalui Gerakan 3 M (Menimbun, Menutup dan Menguras). Namun kenyataannya program ini tidak dilakukan oleh seluruh unsur masyarakat, Ditemukan hanya 20% Keluarga yang melakukan gerakan 3 M.

Masalah :

Terdapat 80% keluarga yang tidak menjalankan program 3 M Pertanyaan Penelitian :

Faktor-faktor apasaja yang mempengaruhi perilaku keluarga untuk melakukan gerakan 3 M ?

Contoh 2

Pernyataan Penelitian :

Hasil survay selama satu bulan terakhir didapatkan di ruang perawatan anak dijumpai terdapat 4 orang anak (8 %) yang mengalami plebitis setelah dilakukan pemasangan infus. Dari hasil pendataan ternyata anak tersebut telah dipasang infus selama lebih dari 1 minggu.

Masalah :

Terjadi Plebitis pada 4% pasien anak yang dipasang infus selama lebih dari 1 minggu

Pertanyaan penelitian :

Adakah hubungan lama pemasangan infus dengan kejadian Plebitis?

(24)

MEMBUAT TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian adalah indikasi kearah mana suatu penelitian akan dilakukan atau data (informasi) apa yang akan dicari melalui kegiatan penelitian. Tujuan menggambarkan upaya yang akan dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya.

Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan yang konkrit.

Suatu tujuan penelitian yang baik umumnya mengandung syarat- syarat spesifik (specific) , dapat diukur (measureable), dan dapat dicapai (achievable). Suatu tujuan disebut spesifik apabila tujuan itu hanya mengandung satu kegiatan tertentu yang jelas (nyata) serta tidak menimbulkan bermacam interpretasi. Dapat diukur berarti bahwa tujuan yang ditetapkan dapat diukur tingkat keberhasilannya atau hasil yang akan dicapai tersebut dapat dinilai atau dievaluasi.

Sedangkan syarat bahwa tujuan harus dapat dicapai adalah tujuan tersebut secara rasional dapat dipenuhi oleh peneliti, baik terkait dengan kemudahan proses pencapaian tujuan, kemudahan biaya, kemudahan teknik pelaksanaan dan sebagainya.

Contoh tujuan :

1. Memperoleh gambaran tingkat pengetahuan masyarakat kecamatan G tentang Flu Burung

2. Mengetahui hubungan antara lama kontak perawat – pasien dengan tingkat penerimaan pasien terhadap perawat

3. Mengetahui perbedaan keefektifan antara stimulasi kontralateral dengan distraksi visual terhadap penurunan sensasi nyeri pada pasien penderita fraktur

4. Mendapatkan gambaran tentang perilaku keluarga pasien selama mendampingi pasien di rumah sakit

5. Memperoleh gambaran kemampuan pasien dalam melakukan injeksi insulin secara mandiri

6. dan sebagainya

Biasanya tujuan penelitian dibedakan menjadi dua bagian yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum menggambarkan tujuan yang bersifat lebih luas dan mencakup seluruh aspek yang terdapat pada tujuan khusus. Sebaliknya tujuan khusus merupakan penjabaran dari tujuan umum.

(25)

Contoh : Tujuan Umum:

Mengetahui pengaruh penyuluhan terhadap perilaku pemberian makan pada bayi

Tujuan Khusus:

a. Mengetahui perilaku pemberian makan pada bayi oleh keluarga yang tidak mendapatkan penyuluhan

b. Mengetahui perilaku pemberian makan pada bayi oleh keluarga yang mendapatkan penyuluhan

c. Membandingkan perilaku pemberian makanan pada bayi oleh keluarga yang mendapatkan penyuluhan dan yang tidak mendapatkan penyuluhan

Pada contoh diatas, didapatkan gambaran bahwa tujuan khusus merupakan bentuk penjabaran dari tujuan umum; dalam artian seluruh statemen yang berada pada tujuan khusus tidak melampaui statemen yang ditetapkan tujuan umum.

Apabila tujuan umum suatu penelitian tidak dapat atau tidak perlu dispesifikkan lagi, maka tidak perlu adanya tujuan umum dan khusus, tetapi cukup dibuat “Tujuan Penelitian“ saja.

(26)

MENGEMBANGKAN TEORI, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

Setelah masalah penelitian dirumuskan dan tujuan penelitian ditetapkan; hal yang penting dilakukan sebelum mengembangkan penelitian lebih lanjut yaitu mengembangkan landasan teori yang cukup memadai. Tinjauan kepustakaan (landasan teori) ini pada umumnya menyangkut dua hal yaitu:

1. Tinjauan yang terkait dengan permasalahan yang akan diteliti.

Hal ini dimasksudkan agar pra peneliti mempynyai wawasan ayng cukup luas sebagai dasar untuk mengembangkan atau mengidentifikasi variabel yang akan diteliti/ Tinjauan teori ini juga dimaksudkan agar peneliti dalam meletakkan atau mengidentifikasi masalah yang ingin diteliti berada dalam konteks keilmuan.

2. Tinjauan dari hasil-hasil penelitian yang lain yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti

Untuk mengembangkan suatu landasan teori, diperlikan berbagai sumber informasi yang mampu mendukung terhadap pemecahan masalah. Secara umum sumber informasi itu terditi atas sumber informasi dokumenter, sumber informasi kepustakaan (bibliografi) amupun sumber informasi lapangan.

Yang disebut sumber informasi dokumenter adalah semua bentuk sumber informasi yang ebrhubungan dengan dokumen, baik dokumen resmi maupun tidak resmi; misalnya catatan perkembangan pasien, statistik, catatan harian dan sebagainya.

Sumber informasi dokumen ini dapat dikategorikan menjadi dua yaitu sumber primer dan sumber sekunder.

Sumber kepustakaan adalah sumber teori yang didasarkan atas buku-buku, hasil penelitian,, majalah ilmiah, jurnal, dan sebagainya.

Dari buku dapat diperoleh teori, generalisasi dan konsep-konsep yang dikemukakan oleh para ahli.

Sumber informasi lapangan adalah sumber informasi yang didapatkan langsung dari lapangan, misalnya dari rumah sakit, dari Posyandu, dari bangsal perawatan dan sebagainya. Termasuk dalam sumber informasi lapangan adalah studi pendahuluan.

Teori-teori yang digunakan dalam suatu penelitian berguna untuk memberikan kepastian hasil, penguatan dan sekaligus menjadi

(27)

prediksi bagaimana hasil penelitian nantinya. Suatu tinjauan pustaka (landasan teori) yang baik hendaknya mampu menggabungkan dan membangun kerangka pikir yang menunjang pelaksanaan penelitian.

Interrelasi antar konsep, teori dan model konsep dalam penelitian perlu dikembangkan sehingga mengarah pada prediksi hasil penelitian. Contohnya misalkan seorang peneliti mengangkat masalah :

belum diketahuinya dampak penyuluhan kesehatan pada pasien pasca operasi katarak terhadap perilaku perawatan luka katarak Maka peneliti harus mengembangkan konsep tentang apa (pengertian), bagaimana (teknik), dan dampak penyuluhan kesehatan; apa (pengertian) perilaku, jenis perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku. Pada akhirnya peneliti merumuskan (membuat prediksi) tentang bagaimana dampak penyuluhan terhadap perilaku (perawatan luka post katarak).

Dalam teori, setidaknya dibahas variabel-variabel yang terdapat dalam penelitian itu sendiri. Pada contoh diatas, variabel yang terlibat adalah penyuluhan dan perilaku perawatan luka post operasi;

maka kedua teori diatas yang perlu dikembangkan.

Jika pada penelitian deskriptif; misalnya peneliti ingin mendapatkan gambaran umur, jenis kelamin dan pekerjaan lansia; maka variabel yang perlu dimasukkan dalam teori antara lain tentang proses menua, dan gambaran demografik lansia itu sendiri.

Dalam pengembangan literatur, peneliti dapat memasukkan model konseptual, konsep dan teori-teori.

Konsep adalah gambaran imajinasi abstrak atau kesan mental yang dibentuk dari observasi dunia nyata terhadap sesuatu, objek atau peristiwa yang dialami seorang individu.

Misalnya konsep tentang imunisasi : - tindakan memasukkan obat ke tubuh

- Obat dibuat dari kuman yang dimatikan atau dilemahkan - bertujuan untuk meningkatkan kekebalan

- banyak dilakukan pada Balita

Model Konsep adalah gambaran yang memberikan keteraturan berfikir, mengobservasi dan menginterpretasikan apa yang dilihat, memberikan arah riset untuk mengindentifikasi suatu pertanyaan

(28)

untuk menanyakan tentang fenomena dan menunjukkan pemecahan masalah.

Misalnya :

Konsep Model sehat menurut Florence Nightingale

Manusia Sehat

Sedangkan teori merupakan komposisi dari konsep-konsep dan proposisi yang spesifik, yang berusaha untuk menjelaskan pengertian tertentu yang diamati dalam dunia nyata. Teori digunakan untuk menggambarkan faham, menjelaskan suatu gagasan atau untuk memperkirakan apa yang dapat diamati.

Teori dan kerangka konseptual hampir sama, yaitu hubungan antar konsep. Namun terdiri atas informasi atau konsep yang lebih spesifik. Misalnya :

Nyeri dapat dipengaruhi oleh situasi psikologis

Kekuatan otot akan menurun pada kondisi inaktivitas kronis Dan sebagainya

Untuk membangun teori yang spesifik yang berhubungan, peneliti dapat menggabungkan berbagai konsep dalam bentuk aksioma ataupun teorema. Aksioma dan teorema ini seringkali disebut juga proposisi.

Aksioma adalah pernyataan yang menghubungkan konsep yang dianggap benar dan teorema adalah pernyataan yang menunjukkan suatu hubungan antara konsep-konsep yang diturunkan dari hubungan yang telah dibentuk oleh aksioma.

Misalnya :

(Aksioma I) :Perilaku dipengaruhi oleh pengetahuan

(Aksioma 2): Pengetahuan dapat di-peroleh dari pendidikan

Teorema :

Perilaku dipengaruhi pengetahuan

Peneliti juga dapat mengembangkan teori berdasarkan atas model konseptual yang telah ada. Contohnya adalah pada Model konsep dari Florence Nightingale :

Lingkungan/sosial

Manusia

(29)

Manusia Sehat

Dapat diubah menjadi :

A. Konsep dalam Penelitian

Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal yang khusus. Pada pengertian sebelumnya, konsep diartikan sebagai gambaran imajinasi abstrak atau kesan mental yang dibentuk dari observasi dunia nyata terhadap sesuatu, objek atau peristiwa yang dialami seorang individu.

Oleh karena konsep merupakan abstrasi, maka konsep tidak dapat langsung diamati atau diukur. Konsep hanya dapat diamati atau diukur melalui konstruk atau yang lebih dikenal dengan nama variabel. Jadi variabel adalah simbol atau lambang yang menunjukkan nilai atau bilangan dari konsep. Disebut variabel karena menimbulkan variasi. Misalnya konsep tentang Hamil;

hamil adalah konsep; yaitu istilah yang menunjukkan bahwa seseorang mengandung janin sebagai calon individu baru; yang untuk mengetahui apakah seseorang hamil atau tidak maka perlu dilakukan pengukuran-pengukuran khusus (konstruk) atau variabel misalnya denyut jantung janin, ditemukan pembesaran perut, tinggi fundus uteri, dan sebagainya. Ukuran pembesaran perut yang terjadi antara satu orang dengan yang lain berbeda- beda, begitu pula tinggi fundus uteri dan denyut jantung janin.

Karena itulah ukuran-ukuran ini disebut sebagai variabel.

Sosial ekonomi adalah konsep, dan untuk mengukur status sosial ekonomi keluarga misalnya, harus melalui variabel-

Lingkungan/sosial Manusia

Suhu lingkungan <25OC Pasien demam Tindakan

perawatan:

Kompres Minum banyak

Suhu tubuh menurun

(30)

variabel : tingkat pendidikan, pekerjaan dan pendapatan keluarga.

B. Variabel Penelitian

Variabel adalah ukuran atau ciri (atribut) yang dimiliki oleh sesuatu (benda, orang, keadaan, dan sebagainya). Varibel disebut juga sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu.

Misalnya konsep tentang kursi, maka variabel bisa berupa warna kursi, bahan kursi, dan sebagainya. Warna kursi bisa beranekaragam seperti merah, hijau, kuning, biru, ungu, dan sebagainya. Begitu juga bahan pembuat kursi; ada yang dari kayu, besi, beton, karet, dan sebagainya.

Berdasarkan hubungan fungsional antara variabel yang satu dengan yang lain, variabel dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu variabel tergantung (dependen) atau disebut juga variabel akibat; dan variabel independen (bebas) atau disebut juga variabel sebab.

Pada contoh masalah anemia diatas, maka dapat ditetapkan bahwa variabel dependen-nya adalah Anemia, dan variabel independennya adalah asupan gizi dan status pekerjaan.

C. Membangun kerangka konsep

Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep- konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan.

Hubungan antar konsep dapat ditentaukan berdasarkan atas teori-teori dan tinjauan literatur serta hasil penelitian sebelumnya, atau bilamana tidak mungkin dapat dilakukan proses logika.

Dalam membentuk hubungan antar konsep, peneliti mencoba mengkaitkan konsep-konsep yang akan diteliti untuk selanjutnya menentukan manakah yang menjadi faktor penyebab dan akibat atau adakah hubungan timbal balik diantara variabel-variabel tersebut.

Misalkan ditetapkan pertanyaan penelitian yaitu adakah hubungan antara Status Gizi dan Pekerjaan dengan Kejadian Anemia pada ibu hamil trimester III?; maka peneliti perlu merumuskan bagaimana hubungan antara status gizi dengan

(31)

kejadian anemia; dan juga hubungan antara pekerjaan dengan kejadian anemia.

Jika dari hasil studi literatur didapatkan bahwa anemia adalah kurangnya kadar Hemoglobin dalam darah (lebih rendah dari 10 mg%) sedangkan hemoglobin hanya dapat diproduksi apabila dalam tubuh banyak terdapat Heme (zat besi) dan Globin (Protein) maka dapat dirumuskan bahwa gizi mempengaruhi terjadinya anemia, atau jika gizinya baik diharapkan kadar hemoglobin meningkat (tidak terjadi anemia).

Sedangkan untuk hubungan antara pekerjaan dan anemia;

dalam studi literatur didapatkan bahwa pekerjaan yang tinggi membutuhkan energi dan kalori yang besar; yang mengakibatkan asupan nutrisi hampir semuanya disalurkan untuk pemenuhan energi, sehingga protein yang semestinya digunakan untuk membuat hemoglobin akan dipecah menjadi glukosa melalui proses Glukoneogenesis.

Dari tinjauan teori diatas, maka dapat dirumuskan kerangka konsep untuk penelitian diatas menjadi :

Pada kerangka konsep diatas, terdapat tiga konsep utama yaitu konsep anemia, konsep gizi dan konsep aktivitas. Konsep anemia dapat diukur dengan menggunakan pemeriksaan kadar Hemoglobin darah. Konsep pemenuhan gizi dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner tentang pemenuhan gizi, atau melakukan pemeriksaan kadar globin (protein) tubuh.

Sedangkan konsep aktivitas dapat diukur dengan menggunakan obervasi harian atau menggunakand aftar pertanyaan.

Asupan Gizi kurang

Produksi Intake Zat Besi

kurang

Intake

Protein Kadar

Hemoglobin berkurang

ANEMIA

Aktivitas

Keb. Nutrisi terfokus pada pemenuhan energi

Keb. Energi Meningkat

Glukoneogenesis

Kadar Protein kurang

(32)

Pada kerangka konsep diatas, konsep hanya membahas bagaimana hubungan antara konsep-konsep yang diajukan dalam penelitian. Adapun hal-hal lain yang tidak terkait langsung dengan hubungan antar variabel tidak digambarkan. Misalnya faktor-faktor yang mempengaruhi asupan nutrisi, dampak dari anemia pada ibu hamil, ataupun faktor lain penyebab timbulnya anemia tidak perlu dibahas dalam kerangka konseptual.

D. Menyusun Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara atau dugaan sementara atas pertanyaan masalah yang telah ditetapkan. Hipotesis berguna untuk memberi arah kemana penelitian akan dilakukan.

Hipotesis ditarik dari serangkaian fakta atau teori yang telah ditemukan atau hasil pengumpulan berbagai data, untuk selanjutnya digunakan sebagai alat untuk merumuskan jawaban sementara atas pertanyaan penelitian. Secara umum hipotesis dapat bersumber pada :

1. Memperoleh langsung dari kegiatan praktik lapangan

2. Fakta yag diidentifikasi dengan cara yang menggambarkan atau menafsirkan dari sumber yang asli, misalnya melalui pendapat pakar, buku, karya ilmiah dan sebagainya

3. Melalui proses penalaran terhadap fenomena-fenomena Sebagai jawaban sementara atas pertanyaan penelitian, maka kebenaran hipotesis akan dibuktikan dalam penelitian nantinya.

Pada hakikatnya hipotesis adalah sebuah pernyataan tentang hubungan yang diharapkan antara dua buah variabel atau lebih yang dapat diuji secara empiris. Biasanya rumusan hipotesis terdiri atas pernyataan tentang ada atau tidak adanya kaitan antara dua variabel, yaitu variabel bebas (independen variable) dan variabel terikat (dependen variable).

(33)

MENENTUKAN DESAIN PENELITIAN

Yang dimaksud dengan desain penelitian ini adalah gambaran umum tentang bagaimana cara suatu penelitian dilakukan.

Penentuan desain ini disesuaikan dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Untuk memudahkan peneliti menentukan jenis desain penelitian, maka peneliti dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam bagan berikut :

A. Macam Desain Penelitian

Secara umum desain penelitian dibedakan dalam dua kelompok besar, yaitu desain penelitian yang memerlukan perlakuan khusus dari peneliti atau disebut desain eksperimental, dan desain penelitian yang hanya memerlukan observasi tanpa perlu perlakuan khusus dari peneliti; yang disebut juga desain observasional.

• Desain penelitian Observasional

Desain penelitian observasional adalah desain penelitian dimana untuk mencapai tujuan penelitian peneliti tidak perlu melakukan/memberikan suatu perlakuan atau mengamati adanya perlakuan yang diberikan pada objek penelitian.

Desain penelitian observasional dapat dikategorikan lagi dalam penelitian deskriptif dan penelitian analitik.

a. Penelitian deskriptif

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan suatu fenomena atau kejadian tertentu secara objektif. Desain penelitian deskriptif dilakukan dalam rangka mendapatkan gambaran tentang suatu fakta, atau menguraikan secara deskriptif bagaimana fakta tersebut dapat terjadi (sebab kejadian) atau menguraikan secara deskriptif dampak dari kejadian tersebut.

Model penelitian deskriptif antara lain adalah:

• Survey

Survey adalah tindakan melakukan tinjauan terhadap suatu fenomena yang terjadi pada suatu/sekumpulan objek yang berjumlah relatif banyak dalam wantu tertentu. Kegiatan survey ini misalnya untuk mengetahui distribusi penyakit

(34)

skabies, mendapatkan gambaran tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) warga desa Z, Mengetahui pola-pola perawatan anak kejang demam di wilayah kecamatan R, mengetahui gambaran persepsi masyarakat tentang obat bebas, dan sebagainya.

Pada berbagai tujuan seperti contoh diatas, peneliti berusaha mengungkapkan kenyataan (fakta-fakta) tentang obyek penelitian tanpa melakukan analisis lebih lanjut tentang faktor apasaja yang mempengaruhinya atau adakah hubungan antara fenomena dengan fenomena tertentu lainnya.

Kegiatan peneliti hanyalah melakukan identifikasi terhadap kelompok objek penelitian terhadap fenomena untuk selanjutnya dipaparkan sebagai hasil penelitian.

• Studi kasus

Studi kasus adalah kegiatan telaah terhadap suatu permasalahan atau suatu kasus yang terdiri atas satu unit tunggal. Unit tunggal disini dapat diartikan satu orang, satu organisasi atau slekompok penduduk yang terkena masalah.

• Studi perbandingan

Dalam studi perbandingan, peneliti berusaha untuk membandingkan secara deskriptif ciri-ciri dari suatu kelompok atau objek dengan objek atau kelompok lainnya. Kegiatan pembandingan yang dilakukan oleh peneliti adalah hanya ditingkat deskripsi.

Misalnya peneliti menetapkan tujuan untuk membandingkan perbedaan gejala klinis Gondok Endemik di desa X dan di desa Y, membandingkan tingkat persepsi masyarakat tentang penyebab demam berdarah antara warga desa dan perkotaan, dan sebagainya; maka untuk mencapai tujuan diatas peneliti mengumpulkan data-data deskriptif untuk kemudian mengadakan pembandingan hasil dari dua kelompok atau membandingkan antara fakta dengan teori-teori yang telah ada

(35)

• Studi prediksi

Studi prediksi adalah studi deskriptif dimana peneliti melakukan pemaparan atau penguraian terhadap prediksi dari suatu fenomena. Dalam studi ini peneliti menggambarkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi akibat suatu fenomena yang sedang berlaku atau telah berlaku. Misalnya peneliti menetapkan tujuan untuk memprediksi perubahan tingkat kematian bayi akibat tetanus neonatorum dengan dilaksanakannya program imunisasi TT, atau bertujuan untuk melakukan prediksi tingkat perkembangan ketrampilan anak yang mendapatkan PMTAS; maka peneliti harus melakukan tinjauan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi akibat suatu fenomena.

• Studi evaluasi

Studi evaluasi adalah bentuk penelitian dimana peneliti bertujuan untuk mengetahui efek atau perubahan-perubahan yang terjadi akibat adanya suatu program. Misalnya penelitian ditetapkan untuk mengetahui perilaku ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan kehamilan setelah dilaksanakannya program penyuluhan oleh Dinas Kesehatan; maka peneliti mengidentifikasi perubahan perilaku pemeriksaan kehamilan oleh ibu hamil setelah pelaksanaan program penyuluhan.

b. Penelitian Analitik

Penelitian analitik adalah penelitian observasional dimana peneliti menetapkan tujuan untuk mencai tahu/

menganalisis ada tidaknya hubungan atau beda antara dua atau lebih kelompok/variabel. Jika pada penelitian deskriptif peneliti hanya menggambarkan fenomena- fenomena tanpa melakukan analisis lebih lanjut ada tidaknya hubungan antara fenomena-fenomena tersebut.

Desain penelitian analitik berdasarkan waktunya dapat dibedakan menjadi cross sectional (sewatu) maupun time series (waktu berkelanjutan). Desain analitik

(36)

menggunakan desain cross sectional jika data penelitian diambil dalam satu waktu untuk tiap-tiap variabel.

Desain time series diberlakukan jika akan dilakukan identifikasi sejumlah dua kali atau lebih pada satu sampel. Pada penelitian jenis survey, biasanya dibedakan dalam desain cohort (prospective) dan Case Control (Retrospective). Desain prospectif yaitu data diambil selama lebih dari satu kali dimana pengambilan data kedua dan selanjutnya dilakukan terhadap sampel pada periode setelah data pertama diambil. Desain retrospektif adalah desain dimana pengambilan data kedua dilakukan terhadap situasi/ data yang terjadi sebelum pengambilan data pertama.

• Desain Cross Sectional

Desain cross sectional ialah suatu penelitian dengan tujuan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat. Artinya, tiap subyek penelitian hanya diobservasi sekali saja untuk tiap variabel.

Misalnya peneliti ingin mengetahui hubungan antara umur dan aktivitas harian terhadap kejadian Anemia selama kehamilan. Maka peneliti melakukan identifikasi/ mengukur sejumlah ibu hamil yang menjadi responden penelitian terhadap variabel anemia (dengan mengukur Hb), mengukur umur (dengan menanyakan umur atau melihat KTP) serta mengukur aktivitas harian (dengan kuesioner khusus), yang seluruh variabel tersebut hanya dikaji satu kali tindakan.

Dalam penelitian ini, fenomena-fenomena yang terjadi selanjutnya dianalisis dengan menghubungkan antar variabel baik menggunakan analisis statistika ataupun menggunakan teori-teori yang ada.

• Desain Case Control (retrospective)

Adalah penelitian analitik yang menyangkit bgaimana faktor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan retrospektif (mundur kebelakang). Dengan kata lain efek (dampak) dari

(37)

suatu masalah diidentifikasi saat ini, kemudian faktor resiko diidentifkasi adanya/terjadinya pda masa lalu.

Secara skematik, model penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

• Desain Cohort (Prospective)

Adalah penelitian dimana korelasi antara faktor resiko dengan efek (penyakit) ditinjau dengan mengidentifikasi faktor resiko terlebih dahulu untuk kemudian diidentifikasi dampak yang ditimbulkan akibat faktor resiko yang terjadi. Secara ringkat desain ini dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Populasi

Sudah ada Outcome +

Faktor +

Faktor -

Outcome + Outcome -

Outcome + Outcome - Mulai Klasifikasi Pengukuran Outcome

(komparasi)

Populasi

Sudah ada Outcome +

Faktor +

Faktor -

Outcome + Outcome -

Outcome + Outcome - Mulai Klasifikasi Pengukuran Outcome

(komparasi) Outcome +

Outcome - Faktor +

Faktor - Faktor + Faktor -

Masa lalu Saat ini

Klasifikasi (komparasi)

Mulai

Outcome +

Outcome - Faktor +

Faktor - Faktor + Faktor -

Masa lalu Saat ini

Klasifikasi (komparasi)

Mulai

(38)

• Desain Penelitian dengan Perlakuan (eksperimental)

Desain penelitian eksperimental dibedakan dalam tiga tingkatan yaitu desain : (1) pre eksperimental (2) eksperimental semu dan (3)eksperimental murni

a. Desain Pra Eksperimental

Dalam tingkat pre ekperimental, rancangan penelitian dibagi lagi menjadi tiga yaitu :

One shot case study/ Post test only design

Pada rancangan ini intervensi dilakukan pada satu kelompok kemudian diobservasi (dilakukan pengambilan data) setelah dilakukan intervensi.

S - X O

S = Subjek X = perlakuan O = observasi

One Group pre-post test design

Pada rancangan ini dilakukan observasi terhadap satu kelompok sampel pada waktu sebelum dan sesudah perlakuan (intervensi)

S O1 X O2

Static group comparison

Rancangan ini melibatkan dua kelompok dimana satu kelompok diberi intervensi dan kelompok lainnya tidak dilakukan intervensi. Lalu dilakukan evaluasi pada akhir intervensi.

Sa - - O2

Sb - X O2

b. Desain Eksperimental Murni (True Experimental)

Desain ini disebut desain eksperimental murni bilamana memenuhi syarat yaitu dilakukan randomisasi terhadap kelompok perlakuan dan terdapat kelompok kontrol.

(39)

Adapun jenis desain eksperimental murni ini meliputi:

Pretest-Posttes with Control Group

Rancangan ini menggunakan dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, dimana kedua kelompok dilakukan observasi sebelum dan sesudah perlakuan.

Ra O1 - O2

Rb O1 X O2

Rancangan ini dapat diperluas dengan membuat lebih dari satu kelompok perlakuan seperti berikut Ra O1 - O2

Rb O1 X1 O2 Rc O1 X 2 O2

Post test only control group design

Random-post test design melibatkan dua kelompok perlakuan dan kontrol dan diobservasi sesudah perlakuan.

Ra - - O2

Rb - X O2

Randomized Solomon Four Group

Rancangan Solomon (Solomon Design) merupakan gabungan dari dua rancangan sebelumnya sehingga melibatkan empat kelompok.

Ra - - O2

Rb - X O2

Rc O1 - O2

Rd O1 X O2

c. Desain Eksperimental Semu (Quasy Experimental) Desain penelitian eksperimental semu adalah desain penelitian eksperimental dimana karena kondisi tertentu tidak dapat memenuhi syarat sebagaimana penelitian eksperimental murni. Dalam penelitian lapangan, sangat sulit bagi peneliti untuk melakukan kontrol ketat terhadap

(40)

perlakuan atau faktor lain yang mempengaruhi perlakuan dan dampak perlakuan serta melakukan randomisasi kelompok sampel. Suatu penelitian eksperimental disebut penelitian semu jika syarat randomisasi dan syarat pengontrolan terhadap perlakuan dan subyek penelitian (responden) tidak terpenuhi.

Selain tipe penelitian eksperimetal murni yang tidak dapat dikontrol, tipe penelitian ini antara lain adalah:

Time Series Design

Model penelitian ini adalah seperti rancangan pre- post test pada satu kelompok, manun kegiatan observasi untuk pretest dan posttest dilakukan lebih dari satu kali.

S O1O2O3 X O4O5O6

Control time series design

Model ini pada prinsipnya seperti Time Series Design, hanya menggunakan kelompok pembanding (kontrol)

Sa O1O2O3 X O4O5O6

Sb O1O2O3 - O4O5O6

Nonquivalent control group

Desain penelitian ini seperti model pre-post test with control, namun kelompok perlakuan dan kontrol tidak dapat dianggap benar-benar sama.

Sa O1 - O2

Sb O1 X O2

Separate sample pretest-posttest

Desain ini menggunakan sampel dua kelompok perlakuan yang dipilih secara acak, namun masing- masing kelompok hanya diukur satu kali yaitu pre test untuk kelompok pertama dan post test untuk kelompok kedua. Model ini sangat baik untuk menghindari pengaruh atau efek dari test.

Ra - X O

Rb O X -

(41)

Secara ringkas desain penelitian diatas dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut :

Pra Eksperimental

Quasy Eksperimental

True Eksperimental

One Shot Case Study One Group Pre-Post test Static Group Comparison

Time series design Non equivalent control group

control time series design Separate sample pre-post

Pre-post test with control Post test only with control

group Solomon design EKSPERIMENTAL

DESAIN

OBSERVASIONAL

DESKRIPTIF Survey

Case study Comparative study Corelation study Evaluation Study ANALITIK

Cohort (Prospective) Case Control

(Retrospective) TIME SERIES

CROSS

(42)

B. Cara Menentukan Desain Penelitian

Untuk memudahkan peneliti pemula dalam menentukan desain apa yang paling cocok untuk pencapaian tujuan penelitian, maka dapat digunakan alur pikir sebagai berikut:

Tidak Ya

Cohort (Prospektif) Case Control (Retrospektif) 1

Apakah akan dicari hubungan atau beda antara variabel Deskriptif

Ya Analitik Berapakah jumlah variabel ?

Tdk Ya

Apakah data diambil dari observasi pada waktu sebelum penelitian dimulai Cross-Sectional

Apakah data perlu diambil lebih dari satu kali untuk satu atau lebih variabel ?

Time Series

Tidak Ya

Apakah perlu perlakuan khusus untuk mencapai tujuan penelitian ?

Apakah kelompok perlakuan dan kontrol diambil secara random dan perlakuan dikontrol ?

Quasi Eksperimental True Eksperimental Ya Tidak

Pra Eksperimental

Ya Tidak

Apakah jumlah kelompok sampel yang diamati lebih dari 1?

Apa observasi pada satu kelompok lebih

dari 1 kali ? Ya

(43)

PENENTUAN SAMPEL DAN SAMPLING

A. Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi terjangkau yang menjadi subyek penelitian. Subyek inilah yang nantinya menjadi sumber informasi atau data dalam penelitian.

Dalam suatu penelitian, sampel yang baik harus representatif (mewakili keseluruhan populasi) dan memiliki jumlah yang relatif banyak.

Karena penentuan sampel sangat dipengaruhi oleh populasi, maka dalam penelitian perlu dilakukan penentuan populasi.

Dalam penelitian yang dimaksud dengan peneliti adalah segenap subyek yang terdapat dalam lingkup penelitian. Jadi luas dan besarnya subjek sangat ditentukan oleh keluasan ruang lingkup penelitian itu sendiri. Populasi dapat terdiri atas seluruh orang yang ada di propinsi, seluruh penduduk desa X, segenap mahasiswa akper Y atau seluruh pasien yang dirawat di ruang Z pada periode tertentu.

B. Teknik Penenuan Sampel (Sampling)

Sampling adalah proses penyeleksian/ pengambilan anggota populasi untuk dijadikan sampel penelitian. Secara garis besar teknik pengambilan sampel dari populasi (sampling) dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu acak (random/probability sampling) dan non acak (non random/non probability sampling).

Teknik acak adalah teknik pemilihan sampel sedemikian rupa sehingga tiap-tiap anggota populasi menda-patkan kesempatan yang sama untuk terpilih atau tidak terpilih sebagai sampel.

Yang termasuk dalam sampling acak (random) adalah : Simple random sampling

Adalah teknik pemilihan sampel secara sederhana dimana nama setiap anggota populasi diundi untuk kemudian diambil secara acak dan ditentukan sebagai sampel hingga jumlah sampel tepenuhi.

(44)

Stratified random sampling

Adalah teknik acak dengan terlebih dahulu mengelompokkan populasi dalem kelompok-kelompok yang ditentukan peneliti dan peneliti menentukan proporsi masing-masing kelompok. Selanjutnya penentuan sampel dilakukan secara acak sesuai dengan kelompok.

Contohnya jika penelitian pada pelajar SMU dengan 100 pria dan 200 wanita; dan jumlah sampel yang dikehendaki 100 orang maka nama-nama mahasiswa dipilah antara pria dan wanita, selanjutnya diambil 33 nama pria secara acak dan 67 nama wanita secara acak.

Cluster sampling

Adalah teknik pengelompokan sampel berdasarkan wilayah. Misalnya penelitian tentang peran perawat di RS swasta; maka sampel diambil dari masing-masing RS swasta sesuai dengan proporsinya sehingga menggambarkan seluruh RS swasta.

Systematic sampling

Merupakan pengembangan teknik acak apabila terdapat daftar populasi. Misalnya populasi 100 dan sampel yang akan diambil 25 maka penentuan sampel dilakukan pada anggota dengan nomor tertentu dengan selisih (100:25=4).

Misalnya anggota nomor 3,7,11,15, dst.

Multistage sampling

Pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan berdasrakan tingkat wilayah secara bertahap dan merupakan pengembangan dari teknik kluster sampling.

Misalnya populasi penelitian adalah balita sekabupaten kediri, maka penentuan sampel didasarkan dari proprosi masing-masing wilayah kecamatan, selanjutnya dibagi lagi berdasarkan masaing-masing wilayah desa, dan dari desa diambil sampel dari perwakilan RW di tingkat desa.

Selanjutnya teknik penelitian non acak (non random) meliputi teknik-teknik :

Purposive sampling

Adalah teknik penentuan sampel berdasarkan pada kehendak peneliti.

(45)

Consecutive sampling

Adalah teknik pengambilan sampel dimana subyek ditetapkan apabila sesuai dengan kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu.

Convinience sampling

Adalah pemilihan sampel dengan mancari subyek yang kebetulan ditemui di tempat dan waktu yang bersamaan pada pengumpulan data.

Quota sampling

Adalah teknik penetuan sampel berdasarkan ciri-ciri tertentu sampai jumlah terpenuhi, namun pemilihan dilakukan tidak secara acak, namun berdasar keinginan peneliti

Sampling jenuh

Adalah teknik pengambilan seluruh populasi menjadi responden (subyek penelitian) dan hal ini biasanya bila populasi kecil (kurang dari 30)

Snowball sampling

Adalah penentuan sampel yang mula-mula berjumlah kecil, kemudian sampel disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya sampai jumlah sampel memenuhi jumlah yang diharapkan.

C. Penentuan Jumlah Sampel (Sample Size)

Penentuan jumlah sampel sangat menentukan apakah sampel yang diambil representatif atau tidak. Sampel yang representatif artinya sampel tersebut dapat memenuhi syarat untuk mewakili populasi yang diwakilinya.

Terdapat berbagai teknik penentuan jumlah sampel. Namun secara umum besaran sampel sangat ditentukan dari:

1. Tujuan penelitian

2. Besaran angka perkiraan dari proporsi kejadian dalam populasi. Bila tidak diketahui atau belum dapat diperkirakan sebesar 0,50 (50%)

3. Berapa tingkat kepercayaan yang diinginkan dalam penelitian tersebut, atau berapa jauh penyimpangan estimasi

(46)

sampel dari proporsi sebenarnyadalam keseluruhan populasi. Biasanya besarnya 0,01 atau 0,05

4. Besarnya derajat kepercayaan (confidence level) yang akan digunakan agar estimasi sampel akurat. Pada umumnya digunakan 91% atau 95% derajad kemaknaan (confidence level).

5. Besarnya jumlah populasi yang harus diwakili oleh sampel.

Untuk menghitung besarnya populasi dapat digunakan patokan sebagai berikut:

A. Menghitung Jumlah Sampel Untuk Penelitian Deskriptif Estimasi Proporsi

B. Menghitung Jumlah Sampel Untuk Penelitian Deskriptif Estimasi Rerata

2

2

( 1 )

4

W n = • z • •

= proporsi / angka prevalensi kejadian

bila tdk diketahui hrs dianggap = 50% = 0,50 W = lebar penyimpangan (maksimum = 10-20% =

0,1-0,2)

= 0,05 z = 1,96

2 2

4

2

W n = • z

= simpangan baku (SD) kejadian W = lebar penyimpangan

(maksimum = 10% dari rerata kejadian outcome)

= 0,05 z = 1,96

(47)

C. Menghitung Jumlah Sampel Untuk Penelitian Analitik Komparasi dengan Estimasi Proporsi

D. Menghitung Jumlah Sampel Untuk Penelitian Analitik Komparasi dengan Estimasi Rerata

[ ]

2 2 1

2 2 2

1 1

) (

) 1 ( 2 ) 1 ( 2 ) 1 (

4 • • + • • + • •

= z z

n

z1/2. = adjusted SD untuk uji 2 arah

z = adjusted SD untuk ( =0,20 z =0,84)

1 = proporsi respons kelompok 1 yang diharapkan

2 = proporsi respons kelompok 2 yang diharapkan

= proporsi gabungan = ( 1+ 2)/2

z1/2. = adjusted SD untuk uji 2 arah

z = adjusted SD untuk ( =0,20 z =0,84)

= SD respons kelompok kontrol/konvensional µ1 = rerata respons kelompok 1 yg diharapkan µ2 = rerata respons kelompok 2 yg diharapkan

2 2 1

2 2

) (

) (

4

µ µ

+

= • z z

n

(48)

E. Menghitung Jumlah Sampel Untuk Penelitian Analitik

z1/2. = adjusted SD untuk uji 2 arah

z = adjusted SD untuk ( =0,20 z =0,84)

= koefisien korelasi antar variabel yg diharapkan

3 1

ln 1 2 1

2

+ +

= z + z

n

Referensi

Dokumen terkait

Melakukan revisi kedua terhadap produk (sesuai dengan data yang sudah dianalisis dari hasil uji coba kelompok kecil). Data wawancara, obeservasi dan kuesioner

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tipologi hubungan objek dengan tanda untuk menjelaskan makna tanda yang terdapat pada nama-nama tokoh dalam kaba-kaba

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif melalui survei dengan menggunakan pendekatan sistem. Pendekatan sistem ini digunakan untuk merumuskan rekomendasi

Sistem Pakar Diagnosis ADHD Pada Anak Usia Sekolah ini berbasis website agar mudah untuk diakses oleh pengguna, yang memiliki beberapa menu di antaranya menu

2) Identifikasi kriteria tanaman siap panen dengan mengamati fisik tanaman seperti warna, bentuk, ukuran daun, tinggi dan umurnya, sesuai jenis sayuran. 3)

Weiss (dalam Brehm, 2002) mengatakan bahwa kelompok dengan penghasilan yang lebih rendah cenderung mengalami kesepian.. Hal

Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu wilayah dalam suatu periode tertentu adalah data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik atas

Standar Kompetensi: Setelah menyelesaikan perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan dapat memainkan Kecapi Bugis/Makassar dalam mengiringi music teater Kompetensi Dasar: