• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Pengumpulan Data

5.1.1 Data penjualan Battery Tahun 2003

Untuk mendukung alasan pemilihan kenapa analisis difokuskan pada Grid Casting untuk pelat tipe GLSYB1,4P maka di dalam pengumpulan data ini akan dijabarkan data penjualan Battery sampai bulan Agustus 2004, Lalu data ini akan dianalisis menggunakan Pareto untuk menemukan tipe aki yang paling berperan dalam penjualan aki di PT. Yuasa Battery Indonesia. Karena fokus pembahasan kali ini adalah aki mobil, dan proses perakitan aki mobil dan motor berbeda, maka data yang akan disajikan adalah aki Mobil.

Pareto Data Penjualan

0 20 40 60 80 100

N70 NS40Z 34B19L NS70 NS-40 46B24L N50Z NS40S 46B24R NS40ZL N70Z N150 55B24L N50 NS60S 56024 55559 55B24R N100 56638 N120 N50ZL 95D31R

Tipe

Persentase

Persentase Total Persentase Kumulatif

Diagram 5.1 Diagram Pareto data penjualan produk

(2)

Tabel 5.1 Tabel Perhitungan Pareto Type

Battery

Total

Penjualan Kumulatif

Persentase Total

Persentase Kumulatif

N70 12318 12318 18,42357164 18,42357164

NS40Z 12039 24357 18,00628178 36,42985343

34B19L 8165 32522 12,21208495 48,64193838

NS70 7116 39638 10,64313491 59,28507329

NS-40 6500 46138 9,72180676 69,00688005

46B24L 5593 51731 8,365240802 77,37212085

N50Z 3916 55647 5,857014657 83,22913551

NS40S 3370 59017 5,04038289 88,2695184

46B24R 3061 62078 4,578223153 92,84774155

NS40ZL 2830 64908 4,232725097 97,08046665

N70Z 700 65608 1,046963805 98,12743045

N150 458 66066 0,685013461 98,81244391

55B24L 264 66330 0,394854921 99,20729883

N50 160 66490 0,239306013 99,44660485

NS60S 156 66646 0,233323362 99,67992821

56024 130 66776 0,194436135 99,87436434

55559 35 66811 0,05234819 99,92671253

55B24R 32 66843 0,047861203 99,97457374

N100 14 66857 0,020939276 99,99551301

56638 2 66859 0,002991325 99,99850434

N120 1 66860 0,001495663 100

N50ZL 0 66860 0 100

95D31R 0 66860 0 100

Total 66860 100

Dapat Dilihat dari Pareto diatas, Tipe battery yang menggunakan Grid tipe GLSYB 1,4 P yaitu tipe N70, N50Z dan NS 40Z menempati posisi tertinggi dalam penjualan. Maka Pembahasan selanjutnya akan dibatasi pada tipe grid ini, karena sudah mewakili produk yang lain.

(3)

5.1.2 Hasil Pengumpulan Sampel data

Yuasa Telah menggunakan sistem pengendalian kualitas dengan menggunakan metode – metode Statistical Quality Control, termasuk juga untuk pengambilan contoh.

Yuasa menggunakan AQL ( Acceptance Quality Level) 2,5 untuk semua inspeksi proses, serta AQL 0,65 untuk komponen Vent Plug di bagian penerimaan. Standar yang dipakai adalah MIL-STD-105-D dengan tingkat inspeksi Single Normal Inspection.

Penggunaan metode ini adalah untuk memotong waktu inspeksi serta menghemat biaya karena jumlah kapasitas produksi yang tinggi dan jumlah tenaga kerja yang terbatas.

Apabila jumlah sample yang diambil sudah melewati batas yang ditolak, maka lot tersebut di-reject , dan akan dilakukan 100% inspection untuk produk yang dibuat pada shift yang sama untuk mencegah terjadinya produk cacat yang keluar ke konsumen.

Data yang akan dianalisa merupakan sejumlah data yang dikumpulkan dari pengamatan di lapangan. Untuk mempermudah pembahasan, maka data yang diambil dan dianalisis adalah data dari salah satu proses saja serta diuji dengan uji kecukupan data. Hal ini dilakukan agar pembahasan menjadi lebih singkat dan sederhana, namun dengan data yang valid dan cukup untuk melakukan pembahasan.

5.1.2.1 Data Variabel dan Data Atribut

Data yang dikumpulkan adalah dari bagian Grid Casting untuk plat tipe GLSYB1,4PParameter yang diukur disini adalah Tebal, serta Berat sebagai perwakilan dari data Variabel, serta data pengecekan secara Fisik ( Penampilan ) untuk mewakili data Attribut. Data dikumpulkan selama 2 minggu. Sampel Data bulan Juli 2004 hasil CheckSheet Grid Casting dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

(4)

Tabel 5.2 Tabel Hasil Pengumpulan Data Inspeksi

No Berat Tebal ( Subgroup No.) Penampilan ( AQL 2,5 )

1 2 1 2 3 4 Populasi Contoh(n) Cacat 1 107,0 107,2 1,417 1,406 1,394 1,395 1400 50 1(b)

2 106,0 108,0 1,375 1,395 1,393 1,401 3200 100 0 3 105,2 108,0 1,397 1,404 1,420 1,405 3750 100 0 4 107,5 107,0 1,407 1,399 1,394 1,405 2500 82 0 5 104,7 106,7 1,396 1,397 1,395 1,397 4000 100 2(a),3(g) 6 106,7 106,0 1,389 1,399 1,414 1,398 3700 100 3(b),3(a) 7 103,5 108,2 1,390 1,389 1,388 1,415 3050 100 0 8 106,2 104,5 1,395 1,390 1,409 1,391 3100 100 0 9 105,5 106,5 1,366 1,388 1,401 1,399 3800 100 0 10 105,7 107,0 1,392 1,431 1,391 1,388 3250 100 3(d),3©

11 106,5 106,5 1,389 1,400 1,396 1,395 3450 100 0 12 108,0 107,0 1,391 1,398 1,370 1,407 4200 100 0 13 105,7 104,0 1,405 1,417 1,404 1,394 2950 100 0 14 106,7 107,7 1,394 1,391 1,428 1,411 3000 100 0 15 106,7 107,0 1,386 1,407 1,388 1,396 4000 100 2(a) 16 106,5 108,7 1,392 1,392 1,403 1,411 3800 100 3(b) 17 107,0 106,2 1,394 1,392 1,390 1,411 3500 100 1(b) 18 105,5 106,7 1,400 1,372 1,391 1,386 4500 100 0 19 106,7 106,5 1,384 1,394 1,404 1,394 3800 100 2(a) 20 109,0 106,5 1,395 1,385 1,419 1,407 850 32 0 21 102,5 107,5 1,387 1,358 1,405 1,404 5000 100 0 22 101,7 106,5 1,403 1,402 1,391 1,392 4000 100 2(a) 23 107,7 107,0 1,394 1,388 1,408 1,376 4200 100 0 24 105,5 108,5 1,395 1,407 1,405 1,403 4000 100 0 25 104,7 106,7 1,408 1,407 1,375 1,391 4900 100 0 26 102,0 108,5 1,388 1,379 1,388 1,386 5000 100 3(b) 27 103,5 107,2 1,358 1,409 1,393 1,417 3800 100 1(b) 28 107,7 107,0 1,398 1,397 1,421 1,411 4200 100 0 29 107,7 106,5 1,420 1,388 1,404 1,390 4000 100 2©

30 108,0 108,2 1,388 1,420 1,396 1,395 4000 100 2(e) 31 107,2 106,5 1,380 1,417 1,413 1,407 3700 100 0 32 107,2 106,5 1,409 1,410 1,425 1,438 4900 100 2©

33 106,7 108,0 1,393 1,387 1,375 1,410 4000 100 0 34 108,2 109,0 1,408 1,382 1,399 1,393 3500 100 0 35 106,0 107,5 1,397 1,399 1,396 1,429 3750 100 3(b),2©

36 105,0 104,0 1,403 1,390 1,400 1,392 4450 100 0 37 105,7 107,0 1,399 1,403 1,402 1,415 3900 100 2(a) 38 102,5 107,5 1,378 1,427 1,387 1,400 4000 100 0 39 106,0 108,5 1,390 1,393 1,405 1,393 3700 100 0 40 102,5 107,0 1,388 1,371 1,397 1,408 4200 100 1(b)

(5)

Keterangan Cacat Penampilan dari tabel diatas : a. Retak

b. unfilled ( tidak terisi )

c. Fins ( kelebihan timah di dalam panel) d. Flash (kelebihan timah di luar panel ) e. Lubang

f. Berubah bentuk g. Shrinkage h. Lain – Lain

Ukuran Standar Tebal dari Battery Grid:

Partial Value ( per satuan pengukuran ) = 1,40± 0,15 mm Mean Value ( rata – rata per subgroup ) = 1,40± 0,05 mm

Ukuran Standar Berat dari Battery Grid:

Mean Value ( rata – rata per subgroup ) = 103± 8 gram

5.1.2.2 Data Historis Kerusakan

Data Historis Kerusakan ini dikumpulkan dengan tujuan untuk digunakan pada analisis dan implementasi Metode Failure Mode and Effects Analysis ( FMEA ) dalam usulan perbaikan metode analisis yang akan dibuat. Tentunya untuk Penyebab variansi yang khusus tidak dimasukkan dalam analisis.

(6)

Tabel 5.3 Tabel Faktor Penyebab Reject Tgl Masala

h Sebab Penyebab Masalah

Tindakan Preventive

Penanggulangan

Sementara Faktor

22/01/

2004

Ketebala n Plat tidak

Standar (Terlalu tebal)

Mesin

Spraygun Rusak pada frame atas

spraygun lama

Hasil produksi selalu di - check tiap 300 panel bersama operator

Dicek ulang dan

dilebur 350 Panel Khusus

08/03/

2004 Retak Manusia

Kontrol kurang teliti

Dilakukan pengecekan per 200 panel saat produksi

Dicek ulang dan

dilebur 500 Panel Umum

23/03/

2004 Retak Metode

Sedikit bergelomb ang

Sebelum Melakukan produksi, setiap setelah di- spray harus disapu kawat

Semua produk dicek ulang sambil ditekuk2, dilebur 400 panel

Umum

20/04/

2004 Retak Metode Sedikit bergelomb ang

Sebelum Melakukan produksi, seitap setelah di- spray harus disapu kawat

Semua produk dicek ulang sambil ditekuk2, dilebur 400 panel

Umum

24/04/

2004 Retak Manusia

Kontrol Kurang teliti

Diberi Pengarahan agar lebih teliti dalam pengecekan mold, dibuat Checklist tiap shift.

Dilebur total 900

Panel Umum

(7)

27/07/

2004 Retak Manusia

Kontol Kurang Teliti

Diberi Pengarahan agar lebih teliti dalam pengecekan mold, dibuat Checklist tiap shift.

Dilebur total 1000

Panel Umum

28/04/

2004

Ketebala n Plat tidak

Standar (Terlalu tipis)

Manusia

Operator belum menguasai metode Spray untuk tipe AMB

Untuk type GLSYB 1,4P dilakukan pengecekan ulang tiap 450 panel atau 1/2 shift

Dicek ulang dan

dilebur 900 Panel Umum

13/05/

2004 Retak Manusia

Kontol Kurang Teliti, operator Baru

Diberi Pengarahan agar lebih teliti dalam pengecekan mold, dibuat Checklist tiap shift.

Dilebur total 1800

Panel Umum

12/06/

2004 Retak Manusia

Kontol Kurang Teliti

Pengecekan diperketat per 1/2 shift 350 unit, dibuat Checklist tiap shift.

Dilebur total 500

Panel Umum

13/06/

2004 Retak Metode Cara Spray salah

Cara Spray diperbaiki dan setelah spray harus disapu

kawat. isi checklist selama 1 mg

Dicek ulang dan dilebur ulang 650 Panel

Umum

(8)

16/06/

2004

Ketebala n Plat tidak

standar ( Terlalu Tebal )

Manusia

Tidak dikontrol saat perbaikan Spraygun

Dicek

setiap 1/2 Shift

Dicek ulang, dilebur 600 panel Khusus

18/07/

2004 Retak Manusia

Kontol Kurang Teliti

Pengecekan diperketat per 1/2 shift , dibuat

Checklist tiap shift.

Dilebur total 500

Panel Umum

07/08/

2004 Retak Manusia

Kontol Kurang Teliti

Pengecekan diperketat per 1/2 shift , dibuat

Checklist tiap shift.

Dilebur total 200

Panel Umum

08/08/

2004 Retak Manusia

Kontrol kurang teliti

Operator diberi pengarahan langsung dan harus isi checklist 1 mgg

Dicek ulang dan dilebur total 700 Panel

Umum

14/08/

2004 Retak Material Timah baru

dikuras , kandungan kurang stabil, hasil Grid rapuh

Melting Pot diberi

timah 2 potong

Dilebur total 1100

panel Umum

5.1.2.3 Pengumpulan Data Cost Of Poor Quality

Cost Of Poor Quality adalah Biaya yang dikeluarkan untuk kualitas yang buruk, misalnya biaya untuk memproduksi produk yang cacat, yaitu :

(9)

Diketahui Produksi rata - rata 1 hari = 80.000 unit total 24 Mesin dengan 3 Shift 24 Jam.

Kapsitas Produksi per jam per mesin =

24

* 24

80000

=138.89 unit

Biaya Listrik : 1 Kwh = Rp 500,-

1 unit Mesin = (18A + 12A + 8A + 50A ) *220V = 19,360 Kwh Biaya listrik per unit Grid = 500

24 00024 . 80

360 ,

19 x

x

Kwh = Rp. 69,64 per unit

Biaya tenaga kerja :

1 Mesin = 1 Operator per Shift

Gaji operator per bulan Rata – rata = Rp 750.000,-

Hari Kerja per bulan rata – rata 25 hari dengan 8 jam kerja per hari Biaya Tenaga kerja per unit Grid = =



 

 

 

3 25 24

80000 750000

x

Rp 27 per unit

Biaya Gas :

1 Mesin = 5 Kg Gas per jam 1 Kg gas alam = Rp 1750,- Biaya Gas per unit Grid =



 

 24 24 80000

1750 5

x

x = Rp 63,- per unit

Biaya Timah :

Harga 1 Ton timah = Rp 9.000.000,-

1 Grid membutuhkan rata – rata 100 gram timah Biaya timah per Grid = .9000000

1000000

100 xRp = Rp 900,- per unit

(10)

Biaya timah ini akan ada apabila Reject baru diketahui di divisi Pasting, dimana Grid patah setelah terkena Pasta, yang berakibat Grid sama sekali tidak dapat dilebur ulang. Sedangkan bila terjadi di saat sebelum keluar divisi Grid Casting maka operator akan melebur lagi dan hanya kehilangan biaya energi dan tenaga kerja.

5.2. Hasil Analisa Data dan Pembahasan

Sesuai dengan pemilihan proses di awal, Pembahasan akan difokuskan pada proses produksi Grid Casting untuk Grid No. GLS YB 1,4 P. Untuk sistematika pembahasan yang lebih terstruktur maka akan digunakan metode Six Sigma untuk melakukan perbaikan proses ini, maka pembahasan ini akan melalui 5 tahap DMAIC ( Define-Measure-Analysis-Improve-Control ).

5.2.1 DEFINE

Tahap ini merupakan tahapan untuk mendefinisikan proses yang akan dibahas selanjutnya sebelum menentukan karakteristik kualitas dan kebutuhan pelanggan yang lain. Untuk menggambarkan proses digunakan Diagram SIPOC ( Supplier, Input, Process, Output, Customer seperti dbawah ini :

(11)

Suppliers Inputs Processes Outputs Customers

PT. Muhtomas (Lead Antimony) Yuasa Japan (Spray Material)

Bentonite, Cork Powder, Water

Glass

Lead Antimony kadar antimoni (Sb)PbSb sebesar 2,5% - 3,5%.

Mixed Spray Material Temperatur Tepat Metode Spray tepat

Pemilihan Mold Sesuai jenis Grid

Grid Battery

GLSYB 1,4 P Divisi Pasting

Spray mold

Scrap Mold

Setting Tempera tur tepat

Timah dlelehkan

Timah Dialirkan

ke Cetakan

Grid Dipotong

sesuai ukuran

Grid Melalui Proses Ageing 2 - 4 hari

Diagram 5.2 Diagram Analisa SIPOC Keterangan dari Analisa SIPOC diatas :

Supplier menentukan kualitas bahan Lead antimony (PbSb ) dengan kadar Antimony

antara 2,5 – 3,5%, yang sebelum memasuki produksi harus ditest di lab untuk kadarnya, apabila tidak memenuhi maka akan menyebabkan hasil cetakan tidak sempurna, sedangkan untuk bahan aktif material telah dibuat di jepang dan tidak memerlukan pengecekan lebih lanjut.

Input yang menentukan adalah setting temperatur mesin yang telah ditentukan sesuai dengan panduan dari Yuasa Jepang untuk menjaga tingkat kekentalan timah. Dimana setting mesin ini sudah secara otomatis, dan yang paling memungkinkan untuk menyebabkan defect adalah beda temperatur yang sangat kecil di dalam mold yang ditentukan oleh bahan aktif material yang dispray dan metode spray nya.

Proses : Metode yang menentukan kualitas grid yang dihasilkan adalah metode spray pada awal proses untuk mempersiapkan mold sebelum melakukan pencetakan timah.

Apabila metode spray belum dikuasai, maka hasil cetakan sangat mungkin cacat berupa retak atau grid yang rapuh.

(12)

Output Hasil Grid yang telah keluar dari cetakan ini akan dicek seacara fisik oleh operator terlebih dahulu, baru setiap shift ada petugas yang melakukan inspeksi dari produk yang telah dibuat. Apabila terjadi kerusakan , maka semua grid yang dihasilkan dalam lot yang sama akan dicek dan yang rusak akan dilebur ulang.

Customer disini merupakan proses selanjutnya yang menggunakan hasil dari Grid Casting ini, yaitu bagian Pasting, dimana Grid yang telah jadi masuk ke mesin untuk dilapisi dengan pasta. Seringkali apabila komposisi Grid tidak baik dan retak, maka di proses grid casting ini akan terjadi korosi ataupun rusak, dan haurs dibuang.

5.2.2 MEASURE

Dalam Tahap measure ini, akan dilakukan beberapa analisa untuk menentukan bagaimana kondisi porses yang sedang berjalan saat ini dan apa target yang ingin dicapai setelah dilakukan perbaikan dengan metode Six Sigma, diantaranya:

1. Penentuan Karakteristik Critical To Quality, yaitu apa saja karakteristik produk yang dibutuhkan dan sangat kritis bagi konsumen yang merupakan proses pasting yang menggunakan produk dari divisi Grid Casting ini.

2. Karakteristik Target yang diinginkan oleh manajemen untuk sasaran jangka pendek dan jangka panjang kedepan.

3. Pengukuran kondisi saat ini dengan berapa besar tingkat sigma , Defect per Million Opportunities (DPMO), dan juga Kapabilitas Proses saat ini.

4. Penentuan Cost of Poor Quality ( COPQ ) , yaitu biaya yang timbul akibat diproduksinya produk cacat dalam proses ini.

(13)

5.2.2.1 Penentuan Critical To Quality Jenis cacat yang ada di bagian Grid Casting ini adalah :

1. Ketebalan tidak standar, yaitu akibat pelat yang memiliki tebal melewati atau kurang dari batas toleransi standar untuk jenis tersebut. Hal ini dapat diakibatkan oleh setting mesin yang salah, kondisi mold sudah aus, atau beberapa faktor lainnya. Akibat yang dapat ditimbulkan adalah pelat yang mudah korosi saat melalui proses pasting apabila terlalu tipis, serta tidak masuk ke container apabila terlalu tebal.

2. Berat tidak standar, hal ini dapat terjadi apabila berat material plat melebihi standar, hal ini hanya berakibat pada borosnya penggunaan material. Sedangkan apabila berat dibawah standar , dimungkinkan material yang masuk memiliki komposisi yang salah.

3. Cacat Fisik / penampilan, yaitu cacat yang dapat terlihat dengan mata , untuk cacat penampilan dapat digolongkan pada :

o Retak ; apabila grid patah di salah atu kisi – kisinya dengan karakteristik tertentu sehingga grid tidak dapat mengalirkan listrik dengan baik bila digunakan.

o unfilled ( tidak terisi ): yaitu kondisi dimana grid tidak penuh pada salah satu kisi – kisinya.

o Fins ( kelebihan timah di dalam panel): yaitu apabila antara kisi – kisi grid terdapat lelehan timah.

o Flash (kelebihan timah di luar panel ): yaitu apabila lelehan timah ada diluar panel

(14)

o Lubang : yaitu bila ada kisi – kisi yang tidak terisi penuh, sehingga berlubang.

o Berubah bentuk: Yaitu akibat panas yang berlebih sehingga grid nya rusak dan tidak memiliki bentuk yang simetris.

o Shrinkage : yaitu Grid pada saat pendinginan mengalami penyusutan bentuk sehingga tak sesuai dengan spesifikasi.

Dari kerusakan – kerusakan yang terjadi di atas, maka dapat ditentukan Critical To Qualitynya adalah :

Tabel 5.4 Tabel Penentuan Critical To Quality Persyaratan

Output

Karakteristik kualitas (CTQ)

Metrik Kinerja Internal

Deskripsi Critical To Quality

Ketebalan Grid XR Chart Tebal Melebihi Standar Tebal Dibawah standar Berat Grid XR Chart Berat Melebihi standarr

Berat Dibawah standar Kualitas

Grid

GLSYB1,4P

Penampilan Grid % lot yang ditolak

a. Retak b. unfilled c. Fins d. Flash e. Lubang

f. Berubah bentuk g. Shrinkage

5.2.2.2 Karakteristik Target

Karakteristik Target jangka pendek perusahaan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kapabilitas proses menjadi lebih baik daripada kondisi saat ini, dan tentunya untuk jangka panjang adalah mencapai kinerja yang memenuhi standar Six Sigma, dengan 3,4 unit produk cacat per 1 juta unit produksi, dapat digambarkan di tabel 5.5 dibawah ini, yaitu :

(15)

Tabel 5.5 Tabel Karakteristik Target Karakteristik

kualitas (CTQ)

Metrik Kinerja Internal

Kondisi Saat ini Target Jangka Pendek

Kondisi Ideal

Ketebalan Grid XR Chart

Cp = 1,314 Cpk = 1,27 Cpm = 1,298 Cpmk = 1,246 Sigma = 5,23

Cp = 1,45 Cpk = 1,33 Cpm = 1,5 Cpmk = 1,5 Sigma = 5,5

Cp = 1,33 Cpk = 1,33 Cpm = 2 Cpmk = 2 Sigma = 6 Berat Grid XR

Chart

Cp = 1,735 Cpk = 0,98 Cpm = 0,70 Cpmk = 0,397 Sigma = 4,45

Cp = 1,9 Cpk = 1,1 Cpm = 0,9 Cpmk = 0,6 Sigma = 5,6

Cp = 1,33 Cpk = 1,33 Cpm = 2 Cpmk = 2 Sigma = 6 Penampilan

Grid

% lot Rejection

Cp = 0,9 Cpk = 0,82 Sigma = 4,59

Cp = 1,2 Cpk = 1,2 Sigma = 5

Cp = 1,33 Cpk = 1,33 Sigma = 6

5.2.2.3 Pengukuran Kapabilitas Proses saat ini

Sebelum dilakukan pengukuran Kapabilitas proses dan DPMO ini, perlu diuji dahulu apakah data yang diambil dari perusahaan telah mencukupi untuk mewakili proses sebenarnya.

5.2.2.3.1 Uji Kecukupan Data

Uji kecukupan Data diujicobakan kepada salah satu data, misal data Tebal Grid sebagai sampel , apabila data tersebut cukup, maka jumlah data sampel yang diambil sejumlah 40 merupakan data valid untuk digunakan pada perhitungan ini.

(16)

Tabel 5.6 Tabel Perhitungan Uji Kecukupan Data No Tebal ( Subgroup No.)

1 2 3 4 Jumlah X bar X bar^2 1 1,417 1,406 1,394 1,395 5,612 1,403 1,968409 2 1,375 1,395 1,393 1,401 5,564 1,391 1,934881 3 1,397 1,404 1,420 1,405 5,626 1,4065 1,97824225 4 1,407 1,399 1,394 1,405 5,605 1,40125 1,963501563 5 1,396 1,397 1,395 1,397 5,585 1,39625 1,949514063 6 1,389 1,399 1,414 1,398 5,600 1,4 1,96

7 1,390 1,389 1,388 1,415 5,582 1,3955 1,94742025 8 1,395 1,390 1,409 1,391 5,585 1,39625 1,949514063 9 1,366 1,388 1,401 1,399 5,554 1,3885 1,92793225 10 1,392 1,431 1,391 1,388 5,602 1,4005 1,96140025 11 1,389 1,400 1,396 1,395 5,580 1,395 1,946025 12 1,391 1,398 1,370 1,407 5,566 1,3915 1,93627225 13 1,405 1,417 1,404 1,394 5,620 1,405 1,974025 14 1,394 1,391 1,428 1,411 5,624 1,406 1,976836 15 1,386 1,407 1,388 1,396 5,577 1,39425 1,943933063 16 1,392 1,392 1,403 1,411 5,598 1,3995 1,95860025 17 1,394 1,392 1,390 1,411 5,587 1,39675 1,950910563 18 1,400 1,372 1,391 1,386 5,549 1,38725 1,924462563 19 1,384 1,394 1,404 1,394 5,576 1,394 1,943236 20 1,395 1,385 1,419 1,407 5,606 1,4015 1,96420225 21 1,387 1,358 1,405 1,404 5,554 1,3885 1,92793225 22 1,403 1,402 1,391 1,392 5,588 1,397 1,951609 23 1,394 1,388 1,408 1,376 5,566 1,3915 1,93627225 24 1,395 1,407 1,405 1,403 5,610 1,4025 1,96700625 25 1,408 1,407 1,375 1,391 5,581 1,39525 1,946722563 26 1,388 1,379 1,388 1,386 5,541 1,38525 1,918917563 27 1,358 1,409 1,393 1,417 5,577 1,39425 1,943933063 28 1,398 1,397 1,421 1,411 5,627 1,40675 1,978945563 29 1,420 1,388 1,404 1,390 5,602 1,4005 1,96140025 30 1,388 1,420 1,396 1,395 5,599 1,39975 1,959300063 31 1,380 1,417 1,413 1,407 5,617 1,40425 1,971918063 32 1,409 1,410 1,425 1,438 5,682 1,4205 2,01782025 33 1,393 1,387 1,375 1,410 5,565 1,39125 1,935576563 34 1,408 1,382 1,399 1,393 5,582 1,3955 1,94742025 35 1,397 1,399 1,396 1,429 5,621 1,40525 1,974727563 36 1,403 1,390 1,400 1,392 5,585 1,39625 1,949514063 37 1,399 1,403 1,402 1,415 5,619 1,40475 1,973322563 38 1,378 1,427 1,387 1,400 5,592 1,398 1,954404 39 1,390 1,393 1,405 1,393 5,581 1,39525 1,946722563 40 1,388 1,371 1,397 1,408 5,564 1,391 1,934881 Jumlah 55,91275 78,15766331 Rata2 1,39781875 1,953941583

(17)

N = 40

k/s = 16,5 dengan tingkat keyakinan 90% dan tingkat ketelitian 10 %.

Pemilihan tingkat keyakinan dan ketelitian ini didasarkan oleh kondisi pengecekan secara visual yang paling umum dan dianggap pengukuran memerlukan tingkat presisi yang cukup tinggi.

2 2

2 ( )

' /





 −

=

∑ ∑ ∑

xj

xj xj

N s

N k =

2 2

91275 , 55

) 91275 , 55 ( ) 15766331 ,

78

* 40 ( 5 , 16





 −

N’ = 0,006176103

Karena N’< 40 , maka data disimpulkan cukup.

5.2.2.3.2 Data Tebal

Data tebal memiliki subroup sebesar 4 buah untuk tipe GLSYB1,4P ini, karena setiap patroli dan pengukuran diambil 4 data. Dibawah ini adalah Peta Kendalinya :

Peta Kendali X & R ini menggunakan perhitugan statistik dari data yang ada pada sampel yang akan dibahas, perhitungan USL dan LSL dalam bats 3 sigma dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Dengan diketahui :

X = 1,398, R = 0,027 , dan n = 40.

Karena Subgroup 4 maka didapat data berikut : A2 = 0,729 ,D4 = 2,282 ,D3 = 0

Maka Batas – Batas kendalinya adalah :

(18)

Peta Kontrol X

CL = X = 1,39724 UCL = X + A2. R = 1,41668 LCL = X – A2. R = 1,37780 Peta Kontrol R

CL = R = 0,02667

UCL = D4. R = 0,06085 LCL = D3. R = 0 Standar deviasi = 0,01268

3 Sigma X Chart

1,351,36 1,37 1,38 1,391,4 1,41 1,42 1,43

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 Subgroup

X Value

X bar LCL CL UCL

Grafik 5.1 Grafik X Chart Tebal

Dari Peta kendali diatas didapat pada periode ke 32 sedang ada perbaikan mesin sehingga produk yang dihasilkan tidak memenuhi spesifikasi, maka revisinya adalah seperti yang dibawah ini:

(19)

3 Sigma X Chart

1,35 1,36 1,37 1,38 1,39 1,4 1,41 1,42

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 Subgroup

X Value

X bar LCL CL UCL

Grafik 5.2 Grafik X Chart Tebal Revisi

3 Sigma R Chart

0 0,02 0,04 0,06 0,08

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 Subgroup

Range

Range LCL CL UCL

Grafik 5.3 Grafik R Chart Tebal Revisi

Perhitungan Kapabilitas proses dengan Spesifikasi USL dan LSL hasil perhitungan : Perhitungan Cp :

σ 6

LSL Cp USL

= =

) 0,01268 (

6

38 , 1 42 ,

1 −

= 0,5110

Perhitungan CpK :

01268 , 0 3

38 , 1 398 , 1

3SD x

LSL

CPL= X − = − = 0,5311

01268 , 0 3

398 , 1 42 , 1

3SD x

X

CPU =USL− = − = 0,4909

CpK = Min[CPL ; CPU] = Min[0,5311 ; 0,4909] = 0,4909

(20)

Apabila Peta kendali X tersebut diplot dengan batas – batas kendali yang disesuaikan dengan spesifikasi proses yang telah ditentukan oleh bagian teknik untuk proses grid casting ini, maka akan didapat X chart yang baru sebagai berikut :

X Chart ( Standard )

1,3 1,35 1,4 1,45 1,5

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 Subgroup No.

Tebal

LCL Std CL Std UCL Std Mean

Grafik 5.4 Grafik X Chart Tebal dengan standar teknis Perhitungan Kapabilitas Proses dengan Spesifikasi Teknis :

Untuk data tebal ini, spesifikasi proses yang telah ditentukan sebagai toleransi yang diinginkan oleh konsumen yang dalam hal ini adalah divisi pasting sebagai demikian :

USL = 1,45 mm CL = 1,40 mm LSL = 1,35 mm

Dengan Menggunakan USL dan LSL dari spesifikasi, maka dihitung :

σ 6

LSL Cp USL

= =

) 0,01268 (

6

35 , 1 45 ,

1 −

= 1,31441

Sedangkan untuk perhitungan CpK adalah :

01268 , 0 3

35 , 1 398 , 1

3SD x

LSL

CPL= X − = − = 1,26183

(21)

01268 , 0 3

398 , 1 45 , 1

3SD x

X

CPU =USL− = − = 1,366982

CpK = Min[CPL ; CPU] = Min[1,33;1,44] = 1,26183

Dari hasil perhitungan Cp dan Cpk diatas, didapatkan bahwa nilai Cp dan Cpk sudah mendekati sempurna yaitu 1,33, oleh karena itu dibuat perhitungan dengan menggunakan indeks Cpm dan Cpmk yang berhubungan pula dengan indeks Cp dan Cpk diatas. Hal ini diperlukan karena Indeks kapabilitas proses Cp dan Cpk hanya diperuntukkan bagi proses yang memiliki kemampuan maksimal 4 Sigma, maka dengan Cp atau Cpk diatas 1,33 saja sudah dianggap baik, sedangkan Indeks Cpm dan Cpmk diperuntukkan bagi proses yang dengan sigma mendekati 6, sehingga dapat dihitung lebih akurat, karena proses dianggap baik apabila memiliki Cpm dan Cpmk diatas 2.

2 2 2

2 6 (1,398 1,40) 0,01268 )

35 , 1 45 , 1 ( )

( 6

) (

+

= − +

= −

S T X

LSL

Cpm USL = 1,298355

2 2

01268 , 0

) 4 , 1 398 , 1 1 (

36 , 1 )

1 (





 −

+

=





 −

+

=

S T X

Cpmk Cpk = 1,24642

Analisa :

Berdasarkan dari hasil pengukuran diatas, maka didapatkan bahwa CpmK sebesar 1,24642 yang berarti CpmK berada antara range 1,00 – 1,99 dan proses dianggap cukup mampu, serta memiliki kesempatan terbaik untuk dapat dikembangkan dengan Six Sigma. Sedangkan untuk parameter pengukuran kinerja yang saat ini dipakai perusahaan yaitu CpK, didapat CpK sebesar 1,26183 yang berarti sudah baik.

Adanya perbedaan antara Cp dan Cpk apabila dihitung dengan menggunakan USL dan LSL hasil perhitungan dengan apabila menggunakan Cp dan Cpk dengan USL

(22)

dan LSL yang telah ditetapkan disebabkan karena proses ini sebenarnya sudah sangat baik, sehingga apabila menggunakan USL dan LSL hasil perhitungan yang hanya menggunakan data yang sangat sedikit dan tidak stabil akan didapatkan Cp dan Cpk yang kecil. Serta apabila produk sudah memenuhi batas spesifikasi yang diberikan oleh bagian teknik, yaitu antara 1,35 sampai 1,45 mm, produk ini sudah sangat baik. Maka untuk selanjutnya perhitungan akan menggunakan Spesifikasi Teknis yang sudah ditetapkan, dan tidak menggunakan data USL dan LSL hasil perhitungan.

Perhitungan DPMO

Kemungkinan Cacat diatas USL = ( ) 1.000.000 S x

X Z USL

P 



 −

= 1.000.000

01268 , 0

398 , 1 45 ,

1 x

Z

P 



 −

= P

{

1−(Z ≤4,1009)

}

x1.000.000= 20,58437 Kemungkinan Cacat dibawah LSL = ( ) 1.000.000

S x X Z LSL

P 



 ≤ −

= 1.000.000

01268 , 0

398 , 1 35 ,

1 x

Z

P 



 ≥ −

= P

{

1−(Z ≤−3,78549)

}

x1.000.000= 76,72854 Defects per Million Opportunities (DPMO) = 97,31291 unit

Didapat bahwa Sigma Level dari tabel Konversi nilai sigma adalah 5,22589 Sigma Bisa dikatakan untuk data tebal, hasil yang diperoleh sudah sangat baik dan hanya memerlukan sedikit improvement untuk mencapai kualitas Six Sigma, dengan DPMO sebesar 3,4 unit per satu juta produk. Karena sebernarnya proses ini sudah baik.

(23)

5.2.2.3.3 Data Berat

Data berat memiliki subroup sebesar 2 buah untuk tipe GLSYB1,4P ini, karena setiap patroli dan pengukuran diambil 2 data. Dibawah ini adalah Peta Kendalinya :

Peta Kendali X & R ini menggunakan perhitugan statistik dari data yang ada pada sampel yang akan dibahas, perhitungan USL dan LSL dalam batas 3 sigma dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Dengan diketahui :

X = 106,4413 , R = 1,873 , dan n = 40.

Karena Subgroup 2 maka didapat data berikut : A2 = 1,88 ,D4 = 3,267 ,D3 = 0

Maka Batas – Batas kendalinya adalah : Peta Kontrol X

CL = X = 106,47179 UCL X + A2. R = 109,76903 LCL = X – A2. R = 103,17456 Peta Kontrol R

CL = R = 1,75385

UCL = D4. R = 5,72952 LCL = D3. R =0

Standar deviasi = 0,01268

(24)

3 Sigma X Chart

95,0 100,0 105,0 110,0 115,0

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 Subgroup

X Value

X bar LCL CL UCL

Grafik 5.5 Grafik X Chart Berat

3 Sigma R Chart

0 2 4 6 8

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 Subgroup

Range

Range LCL CL UCL

Grafik 5.6 Grafik R Chart Berat

Karena pada data 26 sedang ada perbaikan mesin, sehingga setelah produksi hasil yang diperoleh diluar range dan banyak variasinya, maka data itu tidak diambil, dan revisinya adalah seperti dibawah ini :

3 Sigma X Chart

95,0 100,0 105,0 110,0 115,0

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39

Subgroup

X Value

X bar LCL CL UCL

Grafik 5.7 Grafik X Chart Berat Revisi

(25)

3 Sigma R Chart

0 2 4 6 8

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 Subgroup

Range

Range LCL CL UCL

Grafik 5.8 Grafik R Chart Berat Revisi

Apabila Peta kendali X tersebut diplot dengan batas – batas kendali yang sebenarnya, yaitu yang sesuai dengan spesifikasi proses yang efisien untuk proses Grid casting ini, maka akan didapat X chart yang baru sebagai berikut :

X Chart ( Standard )

90 120

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39

Subgroup

Berat

LCL Std CL Std UCL Std Mean

Grafik 5.9 Grafik X Chart Berat dengan standar teknis Perhitungan kapabilitas proses dengan spesifikasi teknis:

Untuk data berat ini, spesifikasi proses yang telah ditentukan sebagai toleransi yang diinginkan oleh konsumen yang dalam hal ini adalah divisi pasting sebagai demikian :

UCL = 111 gram CL = 103 gram LCL = 95 gram

(26)

Perhitungan Cp :

σ 6

LSL Cp=USL− =

) 536559 ,

1 ( 6

103 111−

= 1,7355

Perhitungan Cpk :

536559 ,

1 3

95 4718 , 106

3SD x

LSL

CPL X

− =

= = 2,4886

536559 ,

1 3

4718 , 106 111

3SD x

X

CPU USL

− =

= = 0,9823

CpK = Min[CPL ; CPU] = Min[2,4886; 0,9823= 0,9823 Perhitungan Cpm dan Cpmk :

2 2 2

2 6 (106,4718 103 1,536559 )

95 111 ( )

( 6

) (

+

= − +

= −

S T X

LSL

Cpm USL = 0,702377

2 2

536559 ,

1

) 4718 , 106 1 (

982325 ,

0 )

1 (



 +

=





 −

+

=

S T X

Cpmk Cpk = 0,397563

Analisa:

Berdasarkan dari hasil pengukuran diatas, maka didapat kan bahwa CpmK sebagai parameter pengukuran kalau kondisi saat ini memiliki CpmK sebesar 0,397563 yang berarti CpmK berada dibawah 1,00 dan proses dianggap sangat buruk dan perlu dibenahi, Sedangkan untuk parameter pengukuran kinerja yang saat inii dipakai perusahaan yaitu CpK, didapat CpK sebesar 0,982325 yang berarti proses masih berada diatas spesifikasi dan berarti masih perlu perbaikan.

(27)

Perhitungan DPMO

Kemungkinan Cacat diatas USL = ( ) 1.000.000 S x

X Z USL

P 



 ≥ −

= 1.000.000

536559 ,

1

4718 , 106

111 x

Z

P 



 −

= P

{

1−(Z ≤2,946974)

}

x1.000.000= 1604,567399 Kemungkinan Cacat dibawah LSL = ( ) 1.000.000

S x X Z LSL

P 



 −

= 1.000.000

536559 ,

1

4718 , 106

103 x

Z

P 



 ≥ −

=P

{

1−(Z ≤−7.65903)

}

x1.000.000= 0,0000000417 Defects per Million Opportunities (DPMO) = 1604,567 unit

Didapat bahwa Sigma Level dari tabel Konversi nilai sigma adalah 4,4469 Sigma

Bisa dikatakan untuk data tebal, hasil yang diperoleh sudah sangat baik dan hanya memerlukan sedikit improvement untuk mencapai kualitas Six Sigma, dengan DPMO sebesar 3,4 unit per satu juta produk.

5.2.2.3.4 Data Penampilan

Pengambilan sampel untuk penampilan Grid ini menggunakan metode sampling Normal Inspection dengan MIL-STD-105D dengan AQL 2,5. oleh karena itu didapat jumlah sampel yang berbeda – beda sesuai dengan besarnya lot produksi yang dilakukan. Pengamatan dilakukan dengan cara visual, lalu bila ada cacat dicatat, apabila sudah melewati AQL, maka satu lot tersebut akan reject.. namun tetap dicatat untuk

(28)

kendalinya dengan menggunakan rumus berikut dengan batas kendali yang berbeda untuk setiap sampel.

3 sigma CL = p

UCL = p 3+ Sp LCL = p 3Sp

Dengan

n p Sp p(100− )

=

P Chart 3 Sigma

0 0,02 0,04 0,06 0,08

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 Subgroup

Non Conformities

p LCL CL UCL

Grafik 5.10 Grafik P Chart Penampilan

Karena Ternyata pada data di subgroup 6,7,10, dan 35 terdapat penyimpangan yang setelah dianalisis ternyata akibat kerusakan mesin, sehingga bukan merupakan penyebab umum yang sering terjadi, oleh karena itu dapat diabaikan dan peta kendali dapat direvisi sebagai berikut :

(29)

P Chart 3 Sigma

0 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 Subgroup

Non Conformities

p LCL CL UCL

Grafik 5.11 Grafik P Chart Penampilan Analisa Kapabilitas

Perhitungan kapabilitas proses (Cp) untuk data penampilan adalah sebagai berikut:

Diketahui dari perhitungan proporsi cacat adalah 0,692841 % a = 1 –

2 x 100

cacat proporsi persentase

= 1-

2 x 100 0,692841

= 0,997

Berdasar kurva normal, maka nilai a = 0,996536 berada pada z = 2,70021 Setelah mendapat “titik z” maka kita dapat menghitung Cp dengan rumus :

90009 , 3 0

2,70021 = Cp=

karena Cp <1, maka proses ini masih menghasilkan produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi.

Perhitungan indeks kapabilitas performansi Kane (Cpk) untuk data penampilan adalah sebagai berikut:

a = 1 –

100

cacat proporsi persentase

=1- 100 0,692641

=0,993072

Berdasar kurva normal, maka nilai a = 0,997 berada pada z = 2,460954 Setelah mendapat “titik z” maka kita dapat menghitung Cp dengan rumus :

(30)

820318 ,

3 0 2,46954 =

= Cpk

Sama dengan kesimpulan diatas, karena Cp tidak sama dengan CpK dan kedua nilai tersebut dibawah 1, berarti proses masih tidak dalam pengendalian dan membutuhkan perbaikan.

Perhitungan DPMO

1. Jumlah Unit cacat = 24 Unit dari hasil produksi yang dicek sebanyak 3464 Unit 2. Karakteristik CTQ ( Critical To Quality ) yang ditemukan dalam pengamatan

ada 7 Buah, yaitu : o Retak o unfilled o Fins o Flash o Lubang

o Berubah bentuk o Shrinkage 3. Defect per Unit ( DPU )

0,006928 3464

24

_ = =

=Total Check Defect DPU

4. Total Opportunities ( TOP )

24248 3464

7

_ = × =

×

=OP Total Check TOP

5. Defect Per Opportunities ( DPO ) 0,00099 2424824 =

=

= TOP Defect DPO

(31)

990 1000000 00099

, 0

1000000= =

=DPOx x

DPMO 7. Sigma Level

Dari Tabel Konversi DPMO ke Sigma didapat proses ini adalah 4,5932 Sigma Analisa :

Dengan Level Sigma yang didapat sudah sangat baik, yaitu 4,59 Sigma dan dengan Cp dan Cpk yang berada dibawah 1,00 , seharusnya proses ini masih mampu dikembangkan sampai mencapai level sigma yang jauh lebih kecil lagi, dengan sedikit perbaikan, karena kapabilitas prosesnya masih rendah.

5.2.2.4 Perhitungan COPQ

Perhitungan COPQ ( Cost Of Poor Quality ) ini akan mencakup biaya – biaya yang harus dikeluarkan dalam bentuk material, energi, tenaga kerja, serta penurunan umur mesin yang terpakai untuk membuat produk yang cacat, sehingga tidak dapat digunakan dan harus didaur ulang.

Dalam perhitungan COPQ ini, jumlah reject yang didapat adalah reject dari satu tahun produksi yang dilakukan selama 2004 sebelum diimplementasikan Six Sigma, yaitu : Total Produksi = 5282500

Jumlah lot yang reject karena penampilan = 32 Lot Total Unit Reject = 118900

Total Biaya produksi thn 2004 = 5282500 x (Rp 4500 + 69,64+ 63+ 27 ) = Rp 24.614.548.300,-

Total Ongkos Produksi thn 2004 = 5282500 x Rp 69,64+63+27 = Rp 843.298.300,- Total Ongkos Produksi = Rp 159,64

(32)

Maka Total COPQ yang timbul selama 2004 adalah : Biaya Listrik = 118900 x Rp 69,64 =Rp.8.280.196,- Biaya Gas = 118900 x Rp 63 =Rp 7.490.700,-

Biaya Tenaga Kerja = 118900 x Rp 27 =Rp 3.120.300,- Total Ongkos Produksi = 118900 * 159.64 = Rp 18.981.196,-

Maka Rasio COPQ terhadap biaya produksi adalah

= + + =

% 0 100

2461454830

) 3120300 7490700

8200196

( x 0,0764 %

Rasio COPQ terhadap ongkos produksi tanpa material adalah

= *100% 2,25% 843298300

18981196

=

Apabila dilihat selama periode pengamatan saja:

Total Produksi = 149000 unit x (Rp 4500+69,64+63+27) = Rp 694.286.360,- Total Ongkos Produksi = 149000*159.64 = Rp 23.786.360,-

Total Defect, yang dihitung dari jumlah unit dalam lot yang di-reject apabila jumlah produk cacat melebihi standar bisa dilihat pada tabel 5.7 dibawah ini

Tabel 5.7 Tabel Jumlah Defect Lot yang reject

Lot Ke Jumlah Reject Unit

5 4000 6 3700 10 3250 35 3750

Total Defect 14700 Unit

(33)

COPQ = 14700 x ( Rp69,64 +63+27) = Rp 2.346.708,- Persentase COPQ dari biaya produksi = 0,338 % Persentase COPQ dari ongkos produksi = 9,866 %

5.2.3. ANALYZE

Pada tahapan Analyze ini akan dibuat analisa tentang apa saja cacat yang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya. Pembahasan akan dibatasi pada karakteristik CTQ yang paling membutuhkan perhatian dengan menggunakan Pareto Diagram dan Fishbone Diagram untuk mengidentifikasi proses yang perlu diperbaiki. Karena seluruh karakteristik kualitas ini sangat berhubungan antara satu dengan lainnya dengan sebuah proses produksi yang sama, maka apabila dilakukan perbaikan di salah satu karakteristik, akan mempengaruhi karakter kualitas lainnya.

Data yang dikumpulkan adalah data cacat yang pernah terjadi selama 1 tahun, didapat data sebagai berikut :

Hasil Produksi selama 1 tahun : 5.282.500 Unit

Unit yang diperiksa selama 1 tahun untuk data Atribut : 140.178 Unit Unit yang diperiksa selama 1 tahun untuk data Variabel : 1.567 Unit Cacat Data variabel yang ditemukan :

Tebal Lebih dari Standar : 7 Unit dari 1567 Unit yang diinspeksi

Tebal yang kurang dari standar, Berat tidak ada yang melewati batas standar Cacat Data Atribut yang ditemukan dapat dilihat pada tabel 5.8 dibawah ini :

(34)

Tabel 5.8 Tabel jenis cacat penampilan selama 2004

Jenis Cacat Jumlah

a Retak 333 b Unfilled 277 c Fins 79 d Flash 22 e Lubang 45 f Berubah bentuk 32

g Shrinkage 40

5.2.3.1 Diagram Pareto

Berdasarkan Pengumpulan seluruh data cacat pada tahun 2004 didapat proporsi cacat yang dapat dilihat pada tabel 5.9, dan dengan diagram pareto yang digambarkan dapat dilihat dalam Diagram 5.3 dibawah ini.

Tabel 5.9 Tabel Perhitungan Pareto cacat penampilan Jenis Cacat Jumlah Presentase Kumulatif

Retak 333 40,21739 40,21739

Unfilled 277 33,45411 73,6715

Fins 79 9,541063 83,21256

Lubang 45 5,434783 88,64734

Shrinkage 40 4,830918 93,47826

Berubah Bentuk 32 3,864734 97,343

Flash 22 2,657005 100

Diagram pareto Cacat

0 20 40 60 80 100

Retak

Unfilled Fins Lubang

Shrinkage Berubah Bentuk

Flash Jenis Cacat

Persentase

Presentase Kumulatif

Diagram 5.3 Diagram Pareto cacat penampilan

(35)

Dari semua jenis Cacat yang ada, Cacat terbesar terdapat pada 2 jenis cacat yang paling fatal dan perlu penanganan khusus, karena paling berpengaruh pada kekuatan, kemampuan dan ketahanan Battery yang akan diproduksi, yaitu :

Tabel 5.10 Tabel Jumlah cacat terbesar

Jenis Cacat Jumlah Presentase

Retak 333 40,21739

Unfilled 277 33,45411

Sehingga apabila kedua jenis cacat ini diatasi, maka cacat yang lain juga akan berkurang secara signifikan. Tentunya cacat data variabel juga memiliki kecenderungan yang akan terus berkurang, karena dalam sebuah proses ini apabila tahapan – tahapan proses telah dilakukan dengan benar, maka ketiga CTQ ( Tebal, berat dan penampilan ) ini yang muncul secara bersamaan pada sebuah produk.akan terkena pengaruhnya.

5.2.3.2 Diagram Ishikawa / Fishbone

Dalam Diagram ini akan dianalisis penyebab kedua masalah diatas. Diagram ini dibuat berdasar faktor – faktor penyebab yang dapat tercatat dalam laporan ketidaksesuaian produk saat kerusakan melampaui batas AQL yang ditetapkan seperti pada subbab pengumpulan data diatas, serta wawancara langsung dengan operator di Pabrik dan petugas QA.

Setelah dilakukan wawancara dan pengamatan langsung , didapatkan bahwa penyebab unfilled dan retak berasal dari sumber yang sama , dan dapat digambarkan penyebabnya dalam fishbone diagram dibawah ini :

(36)

Retak / Unfilled

Metode Manusia

Material Timah Baru diisi,

kandungan belum stabil Operator Baru

Skill kurang

Operator belum terbiasa dengan Grid jenis ini

Mesin Temperatur Mold tidak stabil

Mold sudah rusak / Retak

Setting Temperatur tidak sesuai standar

Listrik Turun Sensor suhu rusak

Pencampuran material Spray tidak merata

Kandungan Sb timah tidak standar Metode Spray harus

didukung skill operator

Cara Spray Salah

Cara skrap material spray tidak bersih Spray tidak merata

Komposisi campuran tidak standar Tempat Drum pencampur tidak bersih sebelum diisi

Belum pernah praktek

Diagram 5.4 Diagram Ishikawa / Fishbone untuk kategori Retak / Unfilled 5.2.4 IMPROVE

Dalam tahapan Improve ini akan dilakukan perbaikan akan masalah – masalah yang telah dianalisa pada tahapan sebelumnya, Perbaikan akan menggunakan metode FMEA untuk rekomendasi perbaikan, serta akan dilakukan perbaikan dari metode kerja yang ada, dan disebarkan ke seluruh operator yang bekerja di divisi Grid Casting ini.

5.2.4.1 Metode FMEA

Metode FMEA ini dibuat dengan cara mendaftarkan semua kemungkinan kesalahan yang terjasi, serta memberikan alternatif penyelesaiannya. Lalu perbaikan akan dilakukan pada subbab realisasi perbaikan dibawah untuk mencegah terjadinya kembali kerusakan yang sama. Dalam kasus ini, FMEA akan digunakan untuk menentukan prioritas masalah mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu dengan menghitung nilai RPN dari masalah tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.11 dibawah ini.

(37)

Tabel 5.11 Tabel process FMEA untuk Retak / Unfilled POTENTIAL FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS

Item :Grid Process responsibility : Moh.Noor

FMEA

Number :01 / LPMM / QC / QPL-01

Model :GLSYB1,4P Key Date : 10-Okt-04 Prepared by :Hendra Suryanto

Core Team :Mr. Sukirman ( Leader ) , Hendra Suryanto FMEA Date :10-

Okt-04 Rev :10-Okt-04

Process Function requirements

Potential Failure

Mode

Potential Effects of

Failure S

Potential Cause of Mechanism

Failure O

Current Process

Controls D RPN Reccomended Action

Aki tidak dapat menyimpan

listrik

Operator baru pertama mengerjakan

Grid ini

6 XR

Chart 10 600

Operator terbaik yang dapat mengerjakan Grid ini dengan cacat paling sedikit dijadikan

pelatih bagi operator baru

Timbul karat pada grid setelah

pasting

Metode kerja tidak diikuti dengan baik

5 XR

Chart 10 500 Diberikan penjelasan metoda setiap operator

akan mulai bekerja

Grid patah saat melalui

proses pasting

Setting temperatur tidak sesuai standar

3 XR Chart, Sensor Suhu Digital

3 90

Dibuat Checklist untuk memastikan setting suhu sesuai standar

Timah baru diisi, campuran tidak stabil

2 XR

Chart 4 80

Pencampuran timah dilakukan perlahan agar tidak timbul terak Pembuatan

Grid tipe GLSYB1,4P

dengan Automatic Grid Casting

Machine

Terjadi Cacat berupa

Retak atau Unfilled

pada beberapa bagian Grid

Grid yang patah merusak

mesin pasting

10

Pencampuran material spray tidak rata

1 XR

Chart 1 10

Pemeriksaan warna material spray sebelum

digunakan

5.2.4.2 Analisa FMEA

Dari FMEA yang telah disusun, didapat bahwa RPN (Risk Priority Number) tertinggi adalah pada bagian berikut :

Operator yang baru pertama mengerjakan Grid ini umumnya menghasilkan Grid yang cacat / retak, hal ini diakibatkan karena Supervisor Pabrik menganggap apabila sudah ada work instruction dan metode kerja untuk setiap Grid hampir

(38)

sama, dimana sebenarnya pada pelaksanaanya setiap Grid butuh penanganan khusus dan improvisasi serta ketelitian dari operator sangat dibutuhkan untuk menghasilkan Grid yang baik.

Metode kerja yang ada seringkali tidak diikuti dengan baik, karena operator seringkali melakukan cara kerja yang lebih cepat dengan improvisasi sendiri, yang berakibat pada cacatnya produk

Masalah Setting temperatur mesin, timah, dan pencampuran material Spray tidak terlalu signifikan, karena sangat jarang muncul, dimana ukuran temperatur dan takaran bahan material spray sudah ada jelas dalam work instruction dan sudah ada kontrol dari Incoming Material Inspection yang sangat kecil kemungkinannya untuk meloloskan bahan defect ke proses produksi. Masalah utama yang paling sering terjadi adalah kesalahan manusia, maka untuk menangani masalah ini lebih tepat apabila dilakukan pembenahan masalah metode kerja dan training untuk operator agar mereka dapat menghasilkan produk yang berkualitas.

5.2.4.3 Realisasi Perbaikan

Setelah dilakukan dialog dan diskusi dengan bagian produksi dan Quality Assurance, akhirnya diperoleh kesimpulan untuk aplikasi pelaksanaan perbaikan yang paling efektif adalah pada training operator baru oleh operator yang sudah berpengalaman, dengan cara metode spray yang dilakukan oleh operator tersebut didokumentasikan dan merevisi metode yang sudah ada, lalu metode ini disebarluaskan

(39)

ke seluruh perusahaan. Untuk mencegah kejadian yang sama lagi, maka setiap operator baru akan menerima on the job training oleh operator – operator yang ditunjuk ini.

5.2.4.3.1 Metode persiapan dan spray Mold PbSb saat ini.

Dari hasil studi dokumentasi, didapatkan sebuah metode spray yang pada saat ini diterapkan pada bagian produksi Grid Casting dengan bahan Lead Antimony. Metode kerja ini tidak bersifat kaku, karena dibutuhkan keahlian tangan dari operator dan ketelitian operator pada saat melakukan spray pada mold yang akan digunakan untuk mencetak grid . Metode itu sesuai dengan urutannya adalah :

1. Spray Mold Bagian Atas

Gambar 5.1 Metode Spray Tahap 1 2. Spray Mold Secara Mendatar

Gambar 5.2 Metode Spray Tahap 2

(40)

Gambar 5.3 Metode Spray Tahap 3 4. Ulangi Spray Mold Secara Mendatar

Gambar 5.4 Metode Spray Tahap 4

5. Kupas bahan spray pada bagian kuping, konektor dan frame dengan sapu kawat

Gambar 5.5 Metode Spray Tahap 5

(41)

6. Sekrap seluruh bagian mold secara merata

Gambar 5.6 Metode Spray Tahap 6 7. Ulangi spray secara mendatar

Gambar 5.7 Metode Spray Tahap 7 8. Ulangi spray secara tegak

Gambar 5.8 Metode Spray Tahap 8

(42)

9. Gores bahan spray pada bagian kuping dan konnektor dengan sapu kawat.

Gambar 5.9 Metode Spray Tahap 9 10. Kupas bahan spray di bagian bawah.

Gambar 5.10 Metode Spray Tahap 10

Ditemukan selama analisa di proses produksi , bahwa langkah yang sering dilakukan oleh para operator yang memiliki prestasi baik adalah untuk mengecek kembali permukaan mold yang telah dispray apabila terdapat sisa – sisa bahan skrap yang tertinggal dan untuk dilakukan Touch Up spray di bagian itu agar tidak timbul dan menyebabkan temperatur di bagian tersebut terlalu dingin. Hal ini sering dilupakan oleh operator yang tidak terlatih dan masih baru, sehingga hasil kerjanya cacat Untuk itu untuk berikutnya dilakukan revisi, di dalam metode spray setelah no. 5,6, 9 dan 10 ditambahkan pengecekan visual untuk melihat adakah sisa bahan spray yang tertinggal, dan apabila ada dibersihkan lalu diberi touch up spray di bagian itu. Fokus dari bagian yang harus diperiksa dapat dilihat pada gambar 5.11 dibawah ini

(43)

Gambar 5.11 Bagian yang harus dicek secara visual

5.2.4.3.2 Training

Dari 57 orang operator yang pernah mengerjakan Grid tipe ini selama 1 tahun, akan dipilih orang – orang yang akan menjadi trainer untuk operator baru ataupun operator lain, Pemilihan operator ini adalah dengan cara menggunakan analisa dari data produksi selama tahun 2004 untuk orang – orang yang sering menangani Grid ini namun paling sedikit membuat defect. Setelah melalui penyaringan, hasilnya dapat dilihat dalam tabel 5.12 dibawah ini :

Tabel 5.12 Data Operator terbaik

Query Data Fewest Average of NonConfromities

Operator Times Handle GlsYB1,4P Average of NC

Aat 87 0.55

Irwansyah 108 0.18

Karsono 95 0.24

Royadi 102 0.43

Sadino 89 0.65

Sugeng 84 0.61

Sugimin 84 0.07

Sutardi 86 0.13

Sutisna 112 0.13

(44)

Dari Team yang didapat itu, yaitu 9 Orang terbaik yang mengerjakan Grid tipe ini, mereka dibagi menjadi 3 shift, masing – masing operator memberi briefing dan menjelaskan metode kerja mereka dan skill yang dibutuhkan pada operator yang akan mengerjakan Grid tipe ini pada shift tersebut. Hal ini dilakukan selama 1 bulan dengan diawasi oleh manager produksi dan setelah itu dipantau hasil produksi yang dibuat pada 2 minggu terakhir. Setelah itu data yang didapat dibuat catatannya dan dihitung level sigmanya.

5.2.4.3.3 Action Plan

Dari 2 Metode diatas, maka dibuat serangkaian rencana perbaikan di bagian Grid Casting ini, lalu diserahkan pada pemilik proses , yaitu bagian produksi, untuk dilaksanakan dan diimplementasikan sebelum dilakukan pengukuran ulang oleh bagian Quality Assurance, maka Instruksi Action Plan yang dibuat adalah : 1. Dilakukan Review terhadap Metode Spray yang ada dengan melakukan diskusi dengan beberapa operator yang terbaik tentang bagaimana cara memperbaiki metode dengan pengalaman mereka di lapangan.

2. Dibuat sebuah tim trainer dari operator yang berpengalaman tersebut untuk disetiap shift dan digilir tiap 1 minggu sekali untuk melatih dan memberikan briefing dengan didampingi oleh supervisor mereka. Hal ini dilakukan sampai setiap operator dapat menghasilkan produk yang sama baik , dan dilakukan kembail apabila terdapat operator yang baru masuk.

(45)

3. Dilakukan Koordinasi antara Operator dan Teknisi Maintenance untuk menangani masalah sensor suhu dan kontrol temperatur yang rusak.

4. Ditingkatkannya koordinasi antara Inspektor departemen Quality Assurance dengan operator untuk melakukan inspeksi secara manual oleh operator sebelum dilakukan sampling oleh bagian QA.

5.2.5 CONTROL

Setelah Semua Perbaikan dilaksanakan dengan baik, maka pada tahap ini dilakukan pemantauan pada hasil yang diproduksi setelah perbaikan tersebut dilakukan dengan menggunakan metode yang sama dengan pada tahap Meausre, sehingga akan didapat hasil yang obyektif. Serta akan dilakukan pengukuran tingkat DPMO dan Sigma Level yang baru, sebagai perbandingan apakah target yang diinginkan perusahaan dapat tercapai, akan dilakukan pengukuran penurunan COPQ dari saat sebelum diimplementasikannya perbaikan.

5.2.5.1 Pengukuran Setelah Perbaikan

Sampel data berikut adalah data bulan November yang didapat dari hasil pengukuran setelah diterapkan metode kerja yang baru dan telah disosialisasikan ke seluruh operator mesin yang bertindak sebagai tim percobaan, Pengukuran dilakukan dengan jumlah sampel yang sama dengan sebelumnya, yaitu 40 data, agar perbandingan seimbang. Juga data berikut diambil 2 minggu setelah implementasi metode Six Sigma, agar hasil proses sudah seimbang. Sampel Data bulan Oktober 2004 hasil CheckSheet Grid Casting dapat dilihat pada tabel 5.13 dibawah ini :

Gambar

Grafik 5.4 Grafik X Chart Tebal dengan standar teknis  Perhitungan Kapabilitas Proses dengan Spesifikasi Teknis :
Grafik 5.9 Grafik X Chart Berat dengan standar teknis  Perhitungan kapabilitas proses dengan spesifikasi teknis:
Grafik 5.11 Grafik P Chart Penampilan  Analisa Kapabilitas
Tabel 5.9 Tabel Perhitungan Pareto cacat penampilan  Jenis Cacat  Jumlah Presentase Kumulatif
+7

Referensi

Dokumen terkait

4.1 Hasil Pengujian Menggunakan Metode Sturgess Pada Waktu Pelayanan Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan perhitungan interval kelas dengan menggunakan

Sebelum melakukan tahapan analisis dan perbaikan menggunakan tahapan FMEA terlebih hasil dari tahap Analyze menggunakan diagram ishikawa dikembangkan terlebih dahulu

Tahapan terakhir dari pembuatan aplikasi ini adalah tahap pengujian dan evaluasi aplikasi. Pengujian pada aplikasi ini menggunakan metode black box testing dengan menguji

Pada tahap analisa penyebab defect dilakukan analisa penyebab akar masalah dilakukan pengidentifikasian alternatif perbaikan menggunakan FMEA yang disusun berdasarkan

Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan penulis adalah mengamati proses pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen. Dengan menggunakan pedoman observasi untuk

Berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data serta perbaikan terhadap masalah yang telah dilakukan maka dapat diasumsikan bahwa dengan mengimplementasikan metode TPM

Data kriteria lingkungan pemasok tersebut selanjutnya akan dilakukan pengelompokkan untuk menentukan warna pemasok menjadi hitam, merah, kuning dan hijau menggunakan

4 1.5 Metode Penyelesaian masalah Tahapan proses penyelesaian masalah yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan metode yang disusun secara terurut dengan melakukan tahapan-