25
A. Teori Faktor Internal dan Faktor Eksternal
SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). SWOT akan lebih baik dibahas dengan menggunakan tabel yang dibuat dalam kertas besar, sehingga dapat dianalisis dengan baik hubungan dari setiap aspek (wikipedia.org).
Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam gambar matrik SWOT, di mana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru (wikipedia.org).
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Analisis SWOT membandingkan antara faktor
eksternal Peluang dan Ancaman dengan faktor internal Kekuatan dan Kelemahan ( Rangkuti, 2006) .
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor berupa daya tarik wisata yang meliputi kekuatan (Strengths) dan kelemahan (Weaknesses) dalam menarik wisatawan di obyek wisata Kota Cirebon. Analisis faktor internal yang meliputi kekuatan (Strengths) dan kelemahan (Weaknesses) dilakukan untuk mengetahui kondisi daerah tersebut secara internal.
Menurut Pearce/Robinson (dalam Maryam, 2011) kekuatan merupakan sumber daya atau kapabilitas yang dikendalikan oleh atau tersedia bagi suatu perusahaan yang membuat perusahaan relative lebih unggul dibandingkan pesaingnya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan yang dilayaninya. Sedangkan kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam satu atau lebih sumber daya atau kapabilitas suatu perusahaan relatif terhadap pesaingnya, yang menjadi hambatan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan secara efektif.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor berupa daya tarik wisata yang meliputi peluang (Opportunities) dan ancaman (Threats) dalam menarik wisatawan di obyek wisata Kota Cirebon. Analisis eksternal yang meliputi peluang (Opportunities) dan ancaman (Threats) dilakukan untuk mengetahui posisi daerah dalam berhadapan dengan lingkungan eksternalnya. Menurut Pearce/ Robinson (dalam Maryam, 2011) peluang merupakan situasi utama yang menguntungkan dalam lingkungan suatu perusahaan, sedangkan ancaman adalah situasi utama yang tidak menguntungkan dalam lingkungan suatu perusahaan.
B. Teori Kepariwisataan
Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan yang terdiri atas tujuh belas bab dan tujuh puluh pasal yang mengandung ketentuan meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
2. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.
3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah.
4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan pengusaha.
5. Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
6. Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
7. Usaha Pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata.
8. Pengusaha Pariwisata adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan usaha pariwisata.
9. Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.
10. Kawasan Strategis Pariwisata adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti
pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan.
Definisi-definisi mengenai kepariwisataan juga dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu sebagai berikut:
1. Definisi Kepariwisataan
Dalam buku Oka A. Yoeti (1996:114-118) terdapat beberapa definisi kepariwisataan menurut beberapa ahli diantaranya yaitu:
Herman V. schulalard, seorang ahli ekonomi bangsa Australia, dalam tahun 1920 telah memberikan batasan pariwisata sebagai berikut:
“tourism in the sum of operations, mainly of an economic nature, which directly related to the entry, stay and movement of foreigner inside certain country,city region”. Menurut pendapatnya, yang dimaksudkan kepariwisataan adalah sejumlah kegiatan, terutama yang ada kaitannya dengan kegiatan perekonomian secara langsung sehubungan dengan masuknya,adanya pendiaman dan bergeraknya orang-orang asing keluar masuk suatu kota, daerah atau Negara.
E. Guyer Freuler merumuskan pengertian kepariwisataan dengan memberikan batasan sebagai berikut: pariwisata dalam artian modern adalah merupakan fenomena dari jaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar dan menumbuhkan (cinta) terhadap keindahan alam dan pada khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas masyarakat manusia sebagai hasil dari pada pengembangan perniagaan, industri, perdagangan serta penyempurnaan dari pada alat-alat pengangkutan.
Hunzieker dan K. Krapt dalam tahun 1942 mengemukakan : tourism is the totallyof the relationship and phenomena arising from the travel and stay of strangers (Ortsfremde), provide the stay does not imply the eshtablishment of a permanent resident. Yang dimaksudkan dengan kepatiwisataan adalah keseluruhan dari pada gejala-gejala yang ditimbulkan oleh perjalanan dan pendiaman orang-orang asing serta penyediaan tempat tinggal sementara, asalkan pendiaman itu tidak
tinggal menetap dan tidak memperoleh penghasilan dari aktivitas yang bersifat sementara itu.
Hans. Buchli mendefinisikan kepariwisataan adalah setiap peralihan tempat yang bersifat sementara dari seseorang atau beberapa orang, dengan maksud memperoleh pelayanan yang diperuntukkan bagi kepariwisataan itu oleh lembaga-lembaga yang digunakan untuk maksud tersebut. Dalam batasan ini Prof. Hans. Buchli menekankan bahwa setiap perjalanan untuk pariwisata adalah merupakan peralihan tempat untuk sementara waktu dan mereka yang mengadakan perjalanan tersebut pemperoleh pelayanan dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri pariwisata.
Sedangkan Kurt Morgenroth mengatakan kepariwisataan, dalam arti sempit, adalah lalu lintas orang-orang yang meninggalkan tempat kediamannya untuk sementara waktu, untuk berpesiar di tempat lain, semata-mata sebagai konsumen dari buah hasil perekonomian dan kebudayaan guna memenuhi kebutuhan hidup dan budayanya atau keinginan yang beraneka ragam dari pribadinya.
Sementaraitu Hubert Gulden mengartikan kepariwisataan adalah suatu seni dari lalu lintas orang, di mana manusia-manusia berdiam di suatu tempat asing untuk maksud tertentu, tetapi dengan kediamannya itu tidak boleh dimaksudkan akan tinggal menetap untuk melakukan pekerjaan selama-lamanya atau meskipun sementra waktu, sifatnya masih berhubungan dengan pekerjaan.
Kepariwisataan juga dapat didefinisikan sebagai pengertian dari pada perjalanan untuk maksud liburan, kesenangan, urusan dagang atau dinas atau alasan-alasan lainnya. Dalam banyak hal, karena alasan urusan-urusan atau peristiwa-peristiwa penting dari kepergiannya dari tempat tinggalnya yang tetap hanyalah untuk sementara waktu saja, dengan ketentuan bahwa dalam perjalanan dinas dikecualikan dengan perjalanan yang teratur ketempat pekerjaan sehari-hari.
Selanjutnya R. Gluckmann, dengan kepariwisataan kita artikan keseluruhan hubungan antara manusia yang hanya berada sementara
waktu dalam suatu tempat kediaman dan berhubungan dengan manusia- manusia yang tinggal di tempat itu.
Menurut ketetapan MPRS No. I-II Tahun 1960, kepariwisataan dalam dunia modern pada hakikatnya adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam memberi liburan rohani dan jasmani setelah beberapa waktu bekerja serta mempunyai modal untuk melihat-lihat daerah lain (pariwisata dalam negeri) atau Negara-negara lain (pariwisata luar negeri).
2. Definisi Pariwisata
Dalam pengertian kepariwisataan terdapat beberapa faktor penting yang harus ada dalam batasan suatu definisi pariwisata, faktor yang dimaksudkan antaranya adalah (Yoeti, 1996:118):
a. Perjalanan itu dilakukan untuk sementara waktu.
b. Perjalanan itu dilakukan dari sutu tempat ke tempat lainnya.
c. Perjalanan itu, walaupun apapun bentuknya, harus selalu dikautkan dengan pertamasyaan atau rekreasi.
d. Orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak mencari nafkah di tempat yang dikunjunginya dan semata-mata sebagai konsumen di tempat tersebut.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut diatas definisi pariwisata adalah sebagai berikut: pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha (business) atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna pertamasyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam (Yoeti, 1996:118).
Kemudian Salah Wahab (1992) dalam bukunya mengemukakan bahwa batasan pariwisata hendaknya terdiri dari tiga unsur, yaitu manusia (man), yaitu orang yang melakukan perjalanan wisata; ruang (space), yaitu daerah atau ruang lingkup tempat melakukan perjalanan;
dan waktu (time), yakni waktu yang digunakan selama dalam perjalanan dan tinggal di daerah tujuan wisata.
Berdasarkan ketiga unsur itu Salah Wahab merumuskan pengertian pariwisata sebagai berikut:
A proposeful human activity that serves as a link beyond people either within one same country or beyond the geographical limits or states. It involves the temporary displacement of people to another region, country or continent for the statisfaction of varied needs other than exercising a renumerated function.
For the concerned tourism is and industry who “product” are consumed on the spot forming “invisible-export. The benefit accuring there from can be withnessed in the economic, cultural and sosial life of its community.
Menurut Salah Wahab, suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar yang mendapat pelayanan secara bergantian di antara orang- orang dalam suatu Negara itu sendiri (di luar negeri), meliputi pendiaman orang-orang dari daerah lain (daerah tertentu, suatu Negara atau benua) untuk sementara waktu dalam mencari kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialaminya dimana ia memperoleh pekerjaan tetap.
Bagi suatu Negara yang menganggap pariwisata sebagai suatu industri yang menghasilkan produk yang dikonsumir di tempat tujuan, maka ini dapat dianggap sebagai suatu eksport yang tidak kentara (invisible-exsport). Dan manfaat yang diperoleh dapat berpengaruh positif dalam perekonomian, kebudayaan dan kehidupan sosial masyarakat.
3. Bentuk-bentuk Pariwisata
Kepariwisataan menggambarkan beberapa bentuk perjalanan untuk memperoleh berbagai tujuan dan memuaskan berbagai macam keinginan.
Pariwisata sebagai suatu gejala yang terwujud dalam beberapa bentuk, antara lain sebagai berikut (Wahab, 1992: 6-8):
a. Menurut jumlah orang yang bepergian :
1) Pariwisata Individu, yakni hanya seorang atau satu keluarga yang bepergian.
2) Pariwisata Rombongan, yakni sekelompok orang yang biasanya terikat oleh hubungan-hubungan tertentu kemudian melakukan perjalanan bersama-sama misalnya: klub, sekolah atau suatu tour yang diorganisasi oleh suatu usaha perjalanan, dan biasanya rombongan ini didampingi oleh seorang pemimpin perjalanan.
Jumlah peserta rombongan itu boleh bervariasi tetapi biasanya lebih dari 15 atau 20 orang peserta.
b. Menurut maksud bepergian :
1) Pariwisata Rekreasi atau Pariwisata Santai, yaitu pariwisata dengan maksud kepergian untuk memulihkan kemampuan fisik dan mental setiap peserta wisata dan memberikan kesempatan rileks bagi mereka dari kebosanan dan keletihan kerja selama di tempat rekreasi.
2) Pariwisata Budaya, yaitu pariwisata yang bermaksud untuk memperkaya informasi dan pengetahuan tentang negara lain dan untuk memuaskan kebutuhan hiburan. Dalam hal ini termasuk pula kunjungan ke pameran-pameran dan fair, perayaan- perayaan adat, tempat-tempat cagar alam, cagar purbakala dan lain-lain.
3) Pariwisata Pulih Sehat, yaitu yang memuaskan kebutuhan perawatan medis di daerah atau tempat lain dengan fasilitas penyembuhan. Misalnya: sumber air panas, tempat-tempat kubangan lumpur yang berkhasiat, perawatan dengan air mineral yang berkhasiat penyembuhan secara khusus, penyembuhan dengan pasir hangat, dan lain-lain. Pariwisata ini memerlukan persyaratan tertentu antara lain kebersihan, ketenangan, dan taraf hidup yang pantas.
4) Pariwisata Sport, yaitu pariwisata yang akan memuaskan hobi orang-orang, seperti memancing, berburu binatang liar, menyelam ke dasar laut, bermain ski, bertanding dan mendaki gunung.
5) Pariwisata Temu Wicara, yaitu pariwisata konvensi yang mencakup pertemuan-pertemuan ilmiah, seprofesi dan bahkan politik. Pariwisata sejenis ini memerlukan tersedianya fasilitas pertemuan di negara tujuan dan faktor-faktor lain yang penting seperti letak yang strategis, tersedianya transportasi yang mudah, iklim yang cerah dan sebagainya. Seseorang yang berperan serta di dalam konferensi itu akan meminta fasilitas wisata yang lain misalnya tour dalam dan luar kota, tempat- tempat membeli cinderamata, dan lain-lain.
c. Menurut alat transportasi :
1) Pariwisata Darat, yaitu jenis pariwisata yang dalam kegiatannya menggunakan kendaraan bus, taksi atau kereta api. Jadi dalam tour ini yang penyelenggaraan pengangkutan dari dan ke daerah tujuan juga menggunakan pengangkutan darat.
2) Pariwisata Tirta, yaitu kegiatan kepariwisataaan yang menggunakan kapal laut dan perahu untuk pesiar atau mengunjungi tempat-tempat wisata obyek wisata.
3) Pariwisata Dirgantara, yaitu jenis pariwisata yang menggunakan pengangkutan udara dari dan ke daerah tujuan wisata yang hendak dikunjungi.
d. Menurut letak geografis :
1) Pariwisata Domestik Nasional, yang menunjukkan arus wisata yang dilakukan oleh warga dan penduduk asing yang bertugas di sana, yang terbatas dalam suatu negara tertentu.
2) Pariwisata Regional, yaitu kepergian wisatawan terbatas pada beberapa negara yang membentuk suatu kawasan pariwisata.
Misalnya perjalanan wisatawan di Negara-negara Eropa Barat.
3) Pariwisata Internasional, yang meliputi gerak wisatawan dari suatu negara ke negara lain di dunia.
e. Menurut umur (umur menentukan kebutuhan dan kebiasaan):
1) Pariwisata Remaja, yaitu jenis pariwisata yang dikembangkan bagi para remaja yang suka melakukan perjalanan wisata dengan
harga relatif murah yang biasanya menggunakan akomodasi Youth Hostel.
2) Pariwisata Dewasa, yaitu kegiatan pariwisata yang diikuti oleh orang-orang yang berusia lanjut. Biasanya orang-orang yang melakukan perjalanan ini adalah orang-orang yang sedang menjalani masa pensiunnya yang ingin menghabiskan masa tua dengan melihat negeri lain yang belum pernah dilihat atau dikunjunginya.
f. Menurut jenis kelamin:
1) Pariwisata Pria, yaitu jenis pariwisata yang kegiatannya hanya diikuti oleh kaum pria saja, seperti Safari Hunting Adventure yang sering dilakukan di Afrika.
2) Pariwisata Wanita, yaitu jenis pariwisata yang hanya diikuti oleh kaum wanita saja, seperti halnya tour yang diselenggarakan khusus untuk menyaksikan demonstrasi kecantikan masak memasak, hias menghias, dan lain-lain.
g. Menurut tingkat harga dan tingkat sosial:
1) Pariwisata Taraf Lux, yaitu perjalanan wisata yang menggunakan fasilitas standar lux, baik alat pengangkutan, hotel maupun atraksi yang hendak disaksikannya.
2) Pariwisata Taraf Menengah, yaitu perjalanan wisata yang diperuntukkan bagi mereka yang menginginkan fasilitas dengan harga dan fasilitas tidak terlalu mahal, tetapi juga tidak terlalu jelek.
3) Pariwisata Taraf Jelata, yaitu jenis pariwisata yang penyelenggaraannya dilakukan secara bersama dengan biaya yang diperhitungkan semurah mungkin dengan fasilitas cukup memadai selama dalam perjalanan.
Dalam buku yang ditulis Yoeti (1996:120-124), sesuai dengan potensi yang dimiliki pada suatu Negara, maka timbulah bermacam- macam jenis pariwisata yanga diantaranya adalah:
a. Menurut letak geografis, di mana kegiatan pariwisata berkembang:
1) Pariwisata Lokal adalah pariwisata setempat, yang mempunyai ruang lingkup relatif sempit dan terbatas dalam tempat-tempat tentu saja.
2) Pariwisata Regional yaitu kegiatan kepariwisataan yang berkembang di suatu tempat atau daerah yang ruang lingkupnya lebih luas bila dibandingkan dengan pariwisata lokal, tetapi lebih sempit jika dibandingkan dengan kepariwisataan nasional.
3) Pariwisata Nasional, dalam arti sempit yaitu kegiatan kepariwisataan yang berkembang dalam wilayah suatu Negara.
Sedangkan dalam arti luas yaitu kegiatan kepariwisataan yang berkembang dalam suatu wilayah suatu negara. Jadi disini selain adanya lalu lintas wisatawan di dalam negeri sendiri, juga ada lalu lintas wisatawan dari luar negeri, maupun dari dalam negeri ke luar negeri.
4) Regional-Internaional Tourism, yaitu kegiatan yang berkembang di suatu wilayah internasional yang terbatas, tetapi melewati batas-batas lebih dari dua atau tiga Negara dalam wilayah tersebut. Misalnya kepariwisataan ASEAN, Timur Tengah, Asia, Eropa Barat, dan lain-lain.
5) International tourism atau Word Tourism, yaitu kegiatan kepariwisataan yang berkembang di seluruh Negara di dunia, termasuk didalamnya, selain “regional-international tourism”
juga kegiatan “national tourism”.
b. Menurut pengaruhnya terhadap neraca pembayaran:
1) In Tourism atau Pariwisata Aktif, yaitu kegiatan kepariwisataan yang ditandai dengan gejala masuknya wisatawan asing ke suatu negara tertentu. Disebut sebagai pariwisata aktif, karena dengan masuknya wisatawan asing tersebut berarti dapat memasukkan devisa bagi negara yang dikunjungi yang dengan sendirinya akan memperkuat posisi Neraca Pembayaran Negara yang dikunjungi wisatawan tersebut.
2) Out-going Tourism atau Pariwisata Pasif, yaitu kegiatan kepariwisataan yang ditandai dengan gejala keluarnya warga Negara sendiri bepergian ke luar negeri sebagai wisatawan.
Disebut sebagai pariwisata pasif, karena ditinjau dari pemasukan devisa Negara, kegiatan ini merugikan Negara asal wisatawan, karena uang yang seharusnya di belanjakan di dalam negeri dibawah ke luar negeri dan tidak ada arti ekonominya bagi negaranya sendiri. Karena itu jarang suatu Negara berkeinginan untuk mengembangkan pariwisata semacam ini.
c. Menurut alasan/tujuan perjalanan:
1) Bussines Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana pengunjungnya datang untuk tujuan dinas, usaha dagang atau yang berhubungan dengan pekerjaannya, kongres, seminar, convention, simposium, musyawarah kerja.
2) Vacational Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana orang-orang yang melakukan perjalanan wisata terdiri dari orang-orang yang sedang berlibur, cuti atau vacancy.
3) Educational Tourism, yaitu jenis pariwisata di mana pengunjung atau orang melakukan perjalanan untuk tujuan studi atau mempelajari sesuatu bidang ilmu pengetahuan. Termasuk di dalamnya adalah darmawisata (Study Tour).
d. Menurut saat atau waktu berkunjung:
1) Seasonal Tourism, yaitu jenis pariwisata yang kegiatannya berlangsung pada musim-musim tertentu. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah Summer Tourism atau Winter Tourism, yang biasanya ditandai dengan kegiatan olahraga.
2) Occasional Tourism, yaitu jenis pariwisata di mana perjalanan wisatanya dihubungkan dengan kejadian (occasion) maupun suatu events, seperti misalnya Galungan dan Kuningan di Bali.
e. Pembagian menurut objeknya:
1) Cultural Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana motivasi orang- orang untuk melakukan perjalan disebabkan karena adanya daya
tarik dari seni-budaya suatu tempat atau daerah. Jadi objek kunjungannya adalah warisan nenek moyang benda-benda kuno.
2) Recupretional Tourism, biasanya disebut sebagai pariwisata kesehatan. Tujuan orang-orang untuk melakukakan perjalanan adalah untuk menyembuhkan suatu penyakit, seperti dengan mandi di sumber air panas, mandi lumpur, mandi susu, mandi kopi dan sebagainya.
3) Commercial Tourism, disebut sebagai pariwisata perdagangan, karena perjalanan wisata ini dikaitkan dengan kegiatan perdagangan nasional atau internasional, dimana sering diadakan kegiatan Expo, Fair, Exhibition,dan lain-lain.
4) Sport Tourism, biasanya disebut dengan istilah pariwisata olahraga. Yang dimaksud dengan jenis pariwisata ini ialah perjalana orang-orang yang bertujuan untuk melihat atau menyaksikan suatu pesta olahraga di suatu tempat atau Negara tertentu, seperti Olympiade, All England, pertandingan tinju, sepak bola, atau ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu sendiri.
5) Political Tourism, biasanya disebut sebagai pariwisata politik, yaitu suatu perjalanan yang tujuannya melihat atau menyaksikan suatu peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan kegiatan suatu negara, sepeti ulang tahun atu peringatan hari tertentu.
6) Sosial Tourism, pariwisata sosial jangan hendaknya diasosiasikan sebagai suatu pariwisata yang berdiri sendiri.
Pengertian ini hanya dilihat dari segi penyelenggaraannya saja yang tidak menekankan untuk mencari keuntungan, seperti misalnya Study Tour, Picnic, atau Youth Tourism yang sekarang kita kenal dengan pariwisata remaja.
7) Religion Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana tujuan perjalanan yang dilakukan adalah untuk melihat atau menyaksikan upacara-upacara keagamaan, seperti haji dan umrah.
Menurut Priyadi (2016:26-29) ada berbagai bentuk pariwisata apabila ditinjau dari berbagai segi. Berikut adalah bentuk-bentuk paariwisata dalam berbagai segi:
a. Bentuk pariwisata dari segi jumlahnya:
1) Individual Tour (wisata perorangan), yaitu suatu perjalanan wisata yang dilakukan oleh satu orang atau sepasang suami-istri.
2) Family Grooup tour (wisata keluarga) yaitu suatu perjalanan wisata yang dilakukan oleh serombongan keluarga yang masih mempunyai hubungan kekerabatan satu sama lain.
3) Group Tour (wisata rombongan), yaitu suatu perjalanan wisata yang dilakukan bersama-sama dengan dipimpin oleh seorang yang bertangung jawab atas kebutuhan dan keselamatan seluruh anggota kelompok wisata. Sekelompok paling sedikit 10 orang, dan sering dilengkapi dengan adanya diskon dari perusahaan prinsipal bagi orang yang kesebelas. Potongan harga antara 25%
hingga 50% dari biaya transportasi penginapan normal.
b. Bentuk pariwisata dari segi kepengaturannya:
1) Pre-arranged Tour (wisata berencana), yaitu suatu perjalanan wisata yang jauh hari sebelumnya telah diatur transportasi.
Akomodasi, dan objek-objek yang akan dikunjungi. Biasanya wisata jenis ini diatur oleh suatu lembaga yang khusus mengurus, mengatur, maupun menyelenggarakan perjalanan wisata yang bekerja sama dengan semua instansi atau lembaga yang terkait dengan kepentingan tersebut.
2) Package Tour (wisata paket atau paket wisata), yaitu suatu produk perjalanan wisata yang dijual oleh suatu Perusahaan Biro Perjalanan atau Perusahaan transportasi yang bekerja sama dimana harga paket wisata tersebut telah mencakup biaya perjalanan, hotel, ataupun fasilitas lainnya yang memberikan kenyamanan bagi konsumen (wisatawan). Paket wisata tersebut merupakan komposisi perjalanan yang disusun dan dijual guna
memberikan kemudahan dan kepraktisan dalam perjalanan wisata.
3) Coach Tour (wisata terpimpin), yaitu suatu paket perjalanan ekskursi yang dijual oleh biro perjalanan dengan dipimpin oleh seorang pemandu wisata dan merupakan perjalanan wisata yang diselenggarakan secara rutin, dalam jangka waktu yang telah ditetapkan dan dengan rute perjalanan tertentu.
4) Special Arranged Tour (wisata khusus), yaitu suatu perjalanan wisata yang disusun secara khusus guna memenuhi permintaan seorang langganan atau sesuai dengan kepentingannya.
5) Optional Tour (wisata tambahan/manasuka), yaitu suatu perjalanan wisata tambahan di luar rute yang telah disusun dan dilakukan atas permintaan pelanggan.
c. Bentuk pariwisata dari segi maksud dan tujuannya:
1) Holiday Tour (wisata liburan), yaitu suatu perjalanan wisata yang diselenggarakan dan diikuti oleh anggotanya untuk berlibur, dan bersenang-senang.
2) Familiarization Tour (wisata pengenalan), yaitu suatu perjalanan yang dimaksudkan guna mengenal lebih lanjut bidang atau daerah yang mempunyai keterkaitan dengan pekerjaannya. Misalnya, sebuah biro perjalanan luar negeri menyenggarakan perjalanan wisata bagi keryawan-karyawannya ke Indonesia guna mengenal lebih jauh objek-objek wisata yang ada di Indonesia. Hal ini bertujuan agar nantinya mereka dapat memberikan informasi yang lebih tepat dan akurat mengenai objek wisata di Indonesia.
3) Education Tour (wisata pendidikan), yaitu suatu perjalanan wisata yang dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan, gambaran maupun studi perbandingan mengenai bidang kerja yang dikunjungi. Wisata jenis ini disebut juga sebagai study tour atau perjalanan kunjungan pengetahuan.
4) Scientific Tour (wisata pengetahuan), yaitu perjalanan wisata yang tujuan pokoknya adalah untuk memperoleh pengetahuan atau penyelidikan terhadap suatu bidang ilmu pengetahuan.
Misalnya kunjungan wisata melihat perkembangbiakan rumput laut, melihat gerhana matahari total, menyelidiki kehidupan komodo, melihat orang hutan di Kalimantan, dan lain-lain.
5) Pileimage Tour (wisata keagamaan), yaitu perjalana wisata yang dimaksudkan guna melakukan ibadah keagamaan, misalnya perjalanan umroh, tour ke Lourdes di Perancis Selatan, tour mengikuti upacara perayaan Waisak di Candi Borobudur, Pawon, Mendut, dan lain-lain.
6) Special Mission Tour (wisata kunjungan khusus), yaitu suatu kunjungan wisata yang dilakukan dengan suatu maksud khusus, misalnya misi dagang, misi kesenian, dan lain-lain.
7) Special Programme Tour (wisata program khusus), yaitu suatu perjalanan wisata yang dimaksudkan untuk mengisi kekosongan khusus, misalnya Laddies Programme, suatu kunjungan ke suatu objek wisata oleh para istri yang suaminya sedang mengikuti rapat konvensi atau pertemuan khusus.
8) Hunting Tour (wisata perburuan), yaitu suatu kunjungan wisata yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan perburuan binatang yang telah diijinkan oleh penguasa setempat sebagai hiburan semata-mata. Contohnya berburu babi di hutan Sumatera, berburu Kanguru di Australia, atau memancing di beberapa wahana laut atau sungai.
d. Bentuk pariwisata dari segi penyelenggaraannya:
1) Ekskursi (Excursion), yaitu suatu perjalanan wisata jarak pendek yang ditempuh kurang dari 24 jam guna mengunjungi satu atau lebih objek wisata.
2) Safari Tour, yaitu suatu perjalanan wisata yang diselenggarakan secara khusus dengan perlengkapan maupun peralatan khusus pula yang tujuan maupun objeknya bukan merupakan objek
kunjungan wisata pada umumnya. Misalnya perjalanan wisata bahari ke Baluraan di Jawa Timur, safari tour ke Ujung Kulon, safari Tour ke Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain.
3) Cruise Tour, yaitu perjalanan wisata dengan menggunakan kapal pesiar mengunjungi objek-objek wisata bahari dan objek wisata didarat tetapi menggunakan kapal pesiar sebagai basis pembarangkatannya.
4) Youth Tour (wisata remaja), yaitu kunjungan wisata yang penyelenggaraannya khusus untuk para remaja yang menurut golongan umur yang ditetapkan oleh hukum Negara masing- masing. Di Indonesia umumnya dianggap remaja adalah mereka yang masih dalam pendidikan Sekolah Menengah Atas, atau mereka yang usianya di bawah 21 tahun, dan belum kawin.
5) Marine Tour (wisata bahari), yaitu suatu kunjungan ke objek wisata, khususnya untuk menyaksikan keindahan lautan, seperti wreck-diving (menyelam) dengan perlengkapan selang lengkap.
4. Definisi wisatawan
Kata wisatawan berasal dari bahasa sansekerta, dari kata “wisata”
yang berarti perjalanan ditambah dengan akhiran “wan” yang berarti orang yang melakukan perjalanan wisata. Dalam bahasa inggris, orang yang melakukan perjalan untuk tujuan wisata di sebut Traveller.
Sedangkan orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan wisata disebut Tourist. Organisasi Wisata Dunia (WTO) menyebut wisatawan sebagai pelancong yang melakukan perjalanan pendek. Menurut organisasi ini, wisatawan adalah orang yang melakukan perjalan kesebuah daerah dan menginap minimal 24 jam atau maksimal enam bulan ditempat tersebut.
Wisatawan juga dapat di definisikan sebagai orang yang melakukan perjalanan untuk berlibur, berobat, berbisnis, berolahraga, menuntut ilmu dengan mengunjungi tempat-tempat yang indah atau sebuah Negara tertentu (Priyadi, 2016:23).
Adapun definisi wisatawan dari berbagai ahli yaitu sebagai berikut (Yoeti, 1996:130-143):Dalam the united nations conference on customs formalities for the temporary importation of private road motor vehicles and for tourism, dalam pasal I ayat b) dikatakan istilah wisatawan harus diartikan sebagai seorang, tanpa membedakan ras, kelamin, bahasa, dan agama, yang memasuki wilayah suatu Negara yang mengadakan perjanjian yang lain dari pada Negara dimana orang itu biasanya tinggal dan berada disitu tidak kurang dari 24 jam dan tidak lebih dari 6 bulan, di dalam jangka waktu 12 bulan berturut-turut, untuk tujuan non imigran yang legal, seperti misalnya perjalanan wisata, rekreasi, olahraga, kesehatan, alasan keluarga, studi, ibadah keagamaan, atau urusan usaha (business).
Menurut Panitia Statistik Liga Bangsa-Bangsa dalam sidang dewan yang diselenggarakan pada tangggal 22 Januari 1937, istilah wisatawan hendaklah dimaksudkan, setiap orang yang melakukan perjalanan selama 24 jam atau lebih dalam suatu Negara yang lain dari Negara dimana ia biasanya tinggal.
Kemudian panitia pariwisata dari organisasi kerjasama ekonomi dan pembangunan (Organization of Economic Cooperation and Development) pada tahun 1970 mengambil definisi sebagai berikut :”A tourist should be defined as foreign resident staying in country for over twebty four hours”. Jadi menurut pengertian ini yang dimaksud dengan wisatawan adalah orang asing yang tinggal pada suatu Negara selama lebih dari 24 jam.
Selanjutnya menurut G.A. Schmoll “Tourist: individuals or group of individuals who, considering, their purchasing power available for vacation and recreational travel, interest in and motivation for traver in general, past travel behavior, exiting knowledge, interest in and awareness concerning the services or destinations concerned, are likely,prospects for future visit”. Yang dimaksudkan dengan wisatawan oleh G.A. Schmoll adalah individu atau kelompok individu yang mempertimbangkan dan merencanakan tenaga beli yang dimilikinya
untuk perjalanan rekreasi dan berlibur, yang tertarik pada perjalanan pada umumnya dengan motivasi perjalanan yang pernah ia lakukan, menambah pengetahuan, tertarik oleh pelayanan yang diberikan oleh suatu daerah tujuan wisata yang dapat menarik pengunjung di masa yang akan datang.
P.W. Ogilive, seorang ahli kepariwisataan Inggris mengemukakan bahwa wisatawan adalah semua orang yang memenuhi dua syarat.
Pertama bahwa mereka meninggalkan rumah kediamannya untuk jangka waktu kurang dari satu tahun dan kedua bahwa sementara mereka pergi, mereka mengeluarkan uang di tempat yang mereka kunjungi tidak dengan mencari nafkah di tempat tersebut.
Sedangkan menurut A.J. Norwal yang mengatakan bahwa seorang wisatawan adalah seorang yang memasuki wilayah negeri asing dengan maksud tujuan apapun, asalkan bukan untuk tinggal permanen atau untuk usaha-usaha yang teratur melintasi perbatasan dan yang mengeluarkakn uangnya di negeri yang dikunjungi, uang yang mana diperolehnya bukan di negeri tersebut, tetapi di negeri lain.
Dalam instruksi Presiden No. 9 Tahun 1969 yang memberikan definisi wisatawan (tourist) adalah setiap orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dan kunjungannya itu.
5. Jenis-jenis Wisatawan
Melihat dari sifat perjalanan dan ruang lingkup dimana perjalanan wisata itu dilakukan, maka kita dapat mengklasifikasikan wisatawan sebagai berikut (Yoeti, 1996:143-145):
a) Wisatawan asing (foreign tourist), adalah orang yang melakukan perjalanan wisata, yang datang memasuki suatu Negara lain yang bukan merupakan Negara di mana ia biasa tinggal. Wiasatawan asing bagi suatu Negara dapat ditandai dari status warga negaraannya, dokumen perjalanan yang dimilikinya dan dapat pula dari jenis mata uang yang dibelanjakannya, karena pada umumnya golongan wisatawan ini hampir selalu menukarkan uangnya terlebih
dahulu pada bank atau Money Changers sebelum berbelanja. Dalam rangka meningkatkan tambahan penghasilan devisa Negara, maka jenis wisatawan ini yang perlu ditingkatkan jumlahnya, karena uang yang dibelanjakannya merupakan “devisa” bagi Negara yang menjadi “tourist receiving countries”.
b) Domestic Foreign Tourist yang dimaksudkan dengan wisatawan semacam ini adalah orang asing yang berdiam atau bertempat tinggal pada suatu Negara, yang melakkukan perjalanan wisata di wilayah di mana ia tinggal. Orang tersebut bukan warga Negara di mana ia berada, tetapi adalah warga Negara asing yang karena tugasnya atau kedudukannnya menetap dan tinggal pada suatu Negara, dengan memperoleh penghasilan dengan mata uang Negara aslinya atau dengan mata uang Negara di mana ia tinggal tetapi dalam jumlah yang berimbang, karena itu dalam membelanjakan uangnya dapat dengan mata uang Negara aslinya atau dapat pula dengan mata uang Negara di mana ia tinggal. Contohnya, seorang bangsa Amerika yang bekerja di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta yang melakukan perjalanan wisata ke Bali.
c) Domestic Tourist adalah wisatawan dalam negeri, yaitu seseorang warga Negara suatu Negara yang melakukan perjalanan wisata dalam batas wilayah negaranya sendiri tanpa melewati perbatasan negaranya. Jadi di sini tidak ada sama sekali unsur asingnya, baik kebangsaannya, uang yang dibelanjakannya atau dokumen perjalanan yang dipunyainya.
d) Indigenous Foreign Tourist adalah warga Negara suatu Negara tertentu, yang karena tugasnya atau jabatannya diluar negeri, pulang ke Negara asalnya dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negaranya sendiri. Misalnya, mahasiswa yang tergabung dalam IPPI di Eropa pulang ke Indonesia dan sampai di Indonesia mereka melakukan perjalanan wisata ke Danau Toba.
e) Transit Tourist yang dimaksud dengan transit tourist adalah wisatawan yang sedang melakukan perjalanan wisata ke suatu
Negara tertentu, yang menumpang kapal udara atau kapal laut ataupun kereta api, yang terpaksa mampir atau singgah pada suatu pelabukan/airport/stasiun bukan atas kemauannya sendiri. Biasanya hal ini terjadi bila transportasi yang digunakan diganti untuk meneruskan perjalanan ke Negara tujuan atau menambah penumpang atau bahan bakar dan kemudian melanjutkan perjalanan untuk tujuan semula. Karena waktunya relatif cukup lama, maka waktu menunggu ini digunakan oleh penumpang untuk sighseeing atau di tempat di mana ia singgah. Ada pula kita jumpai istilah
“transient”. Ini belum tentu seorang wisatawan, ada kemungkinan ia adalah seorang traveller biasa. Sebenarnya yang dimaksud dengan transient adalah seseorang yang melintasi suatu negeri atau Negara tanpa tinggal/singgah di daerah yang dilaluinya, walaupun perjalanannya memakan waktu lebih dari 24 jam.
f) Business Tourist yang dimaksudkan dengan business tourist adalah orang yang melakukan perjalanan (apakah orang asing atau warga Negara sendiri) yang mengadakan perjalanan untuk tujuan lain bukan wisata, tetapi perjalanan wisata akan dilakukannya setelah tujuannya yang utama selesai. Jadi di sini perjalanan wisata merupakan tujuan sekunder, setelah tujuan primer selesai dilakukan.
Misalnya delegasi PATA, dia datang hanya sebagai delegasi untuk konferensi, tetapi biasanya selalu ada kegiatan “pre conference tour”
dan “post conference tour” yang diikutinya sebelum kembali ke Negara masing-masing.
C. Wisata Syariah
1. Dasar Hukum Pariwisata Syariah
Ada banyak dalil Al-Quran maupun Sunnah Nabi yang berkaitan dengan pariwisata, berikut ini dalil-dalil normatif dalam islam tentang pariwisata (Sucipto & Andayani, 2014: 48-53):
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: Berjalanlah di muka bumi, Kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu." (QS Al- An’am: 11)
Begitu pentingnya melakukan perjalanan di muka bumi ini (melancong) dengan tujuan untuk mencari pelajaran dan hikmah, Allah SWT. mengulangi ayat yang nyaris sama di surah yang berbeda.
“Katakanlah: Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa”. (QS An-Naml: 69)
Pada ayat pertama, Allah menganjurkan manusia agar melakukan perjalanan di muka bumi ini guna menemukan jawaban dan bukti bahwa orang-orang yang mendustakan kebenaran Tuhan ditimpa azab yang pedih. Pada ayat berikutnya, Allah menganjurkan manusia untuk melakukan perjalanan guna menemukan jawaban dan bukti bahwa hidup orang-orang yang berdosa berakhir dengan malang. Intinya, melancong atau berwisata memiliki tujuan spiritual, yakni untuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan dan mengakui kebesarannya.
Dalam kitab Mahasinu At-ta’wil, Al-Qasimi rahimahullah berkata;
“Mereka berjalan dan pergi ke beberapa tempat untuk melihat berbagai peninggalan sebagai nasehat, pelajaran dan manfaat lainnya.”
Tidak hanya untuk mencari hikmah kehidupan, berwisata dianjurkan oleh Islam dengan tujuan untuk mengagumi keindahan alam, supaya jiwa menjadi tenang. Wisata dalam Islam adalah sebuah safar atau travelling untuk merenungi keindahan ciptaan Allah SWT., menikmati keindahan alam untuk menguatkan keiimanan dan memotivasi diri untuk terus menunaikan kewajiban hidup. Refreshing sangat diperlukan oleh jiwa agar selalu tumbuh semangat baru. Allah SWT.
berfirman:
”Katakanlah: Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Ankabut: 20)
Selain teks-teks Al-Quran, terdapat pula beberapa sabda Rasulullah Saw. Yang berkaitan dengan pariwisata. Berikut ini adalah Sabda-sabda nabi. Pertama,
وُسَّرلا ِدِجْسَمَو ِماَرَْلْا ِدِجْسَمْلا َدِجاَسَم ِةَثلاَث َلَِإ لاِإ ُلاَحِّرلا ُّدَشُت لا مقر ،يراخبلا هاور( ىَصْقَلأا ِدِجْسَمَو َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِل
3311
مقر ،ملسمو ) 3131
“Tidak dibolehkan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasulullah sallallahu’alaihi wa saal dan Masjidil Aqsha." (HR. Bukhari, no. 1132, Muslim, no. 1397)
Berdasarkan hadis di atas, umat Muslim dianjurkan untuk melakukan perjalanan wisata ke tiga macam masjid; Masjid Haram yang berada di Kota Makkah, Arab Saudi; Masjidil Aqsa yang berada di Palestina; dan Masjid Nabawi yang berada di Kota Madinah, Arab Saudi.
Tentu saja, umat Muslim yang ingin pergi ke kedua Negara di atas akan mendapat pahala.
Hadits lain yang juga berkaitan dengan pariwisata religius ini tercermin dalam riwayat berikut: Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata,
"Aku pergi Thur (gunung Tursina di Mesir), kemudian aku bertemu Ka’ab Al-Ahbar, lalu duduk bersamanya, lalu beliau menyebutkan hadits yang panjang, kemudian berkata, "Lalu aku bertemu Bashrah bin Abi Bashrah Al-Ghifary dan berkata, "Dari mana kamu datang?" Aku
menjawab, "Dari (gunung) Thur." Lalu beliau mengatakan, "Jika aku menemuimu sebelum engkau keluar ke sana, maka (akan melarang) mu pergi, karena aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jangan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, ke Masjidil Haram, Masjidku ini dan Masjid Iliyya atau Baitul Maqdis."
(HR. Malik dalam Al-Muwatha, no. 108. Nasa’i, no. 1430, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih An-Nasa’i).
Kita tahu, gunung Thur Sinai, Mesir, adalah tempat di mana wahyu diturunkan kepada Nabi Musa As. Larangan berziarah ke Gunung Thur seperti yang tergambar dalam hadits di atas sah-sah saja apabila niatannya tidak benar, tidak untuk menemukan bukti-bukti kebesaran Allah SWT. dan tidak untuk tujuan-tujuan yang diridhai Islam. Kita tahu bahwa Ka’ab al-Akhbar adalah seorang mantan Yahudi. Ka’ab memeluk Islam setelah Muhammad Saw datang membawa ajaran Islam. Larangan Bashrah bin Abi Bashrah Al-Ghifaru kepada Ka’ab al-Akhbar bertujuan agar Ka’ab tidak kembali mengingat hal-hal yang berkaitan dengan ajaran Musa as. yang telah diselewengkan umatnya. Sebab, apabila Ka’ab kembali ke Thur Sinai maka hal itu rentan bagi keagamannya.
Sebaliknya kita sebagai umat Muhammad yang kuat memegang agama Islam menjadi tidak masalah untuk berkunjung ke bukit Sinai guna menggali hikmah dan merenungi keagungan Allah, terlebih terkait sejarah dimana Musa as. berdialog dengan Allah di bukit Sinai tersebut.
Betul sekali apa yang dikatakan oleh Syekh Shaleh Al-Fauzan hafizahullah.
Tidak boleh Safar ke negara kafir, karena ada kekhawatiran terhadap akidah, akhlak, akibat bercampur dan menetap di tengah orang kafir di antara mereka. Akan tetapi kalau ada keperluan mendesak dan tujuan yang benar untuk safar ke negara mereka seperti safar untuk berobat yang tidak ada di negaranya atau safar untuk belajar yang tidak didapatkan di negara muslim atau safar untuk berdagang, kesemuanya ini adalah tujuan yang benar, maka dibolehkan safar ke negara kafir dengan syarat menjaga syiar keislaman dan memungkinkan melaksanakan
agamanya di negeri mereka. Hendaklah seperlunya, lalu kembali ke negeri Islam. Adapun kalau safarnya hanya untuk wisata, maka tidak dibolehkan. Karena seorang muslim tidak membutuhkan hal itu serta tidak ada manfaat yang sama atau yang lebih kuat dibandingkan dengan bahaya dan kerusakan pada agama dan keyakinan. (Al-Muntaqa Min Fatawa Syekh Al-Fauzan, 2 soal no. 221)
Dalil lain yang membicarakan tentang wisata adalah sebuah riwayat panjang yang menceritakan dialog dan komentar Rasulullah Saw.
Tentang Kota Al-Hijr. Pada waktu itu, Rasulullah melewati Al-Hijr, tempat tinggal bangsa Tsamud, kemudian beliau bersabda: “Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi dirinya, khawatir kalian tertimpa seperti yang menimpa mereka, kecuali kalian dalam kondisi menangis. Lalu beliau menundukkan kepala dan berjalan cepat sampai melewati sungai." (HR. Bukhari, no. 3200 dan Muslim, no. 2980).
Dari hadits di atas kita tahu bahwa Rasululllah Saw. Melarang umatnya untuk mendatangi sebuah tempat kecuali untuk menyesalli dan menangis. Tujuannya agar umat Islam sadar bahwa menentang Allah dan melanggar perintah-Nya dapat mendatangkan musibah yang besar.
Pengecualian semacam ini adalah indikasi bahwa wisata itu boleh selama bertujuan untuk belajar dan menghayati kebesaran Allah SWT.
Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam menjelaskan hadits tadi, "Hal ini mencakup negeri Tsamud dan negeri lainnya yang sifatnya sama meskipun sebabnya terkait dengan mereka." (Fathul Bari, 6/380). Artinya, tempat-tempat lain yang mengandung pelajaran dan hikmah, yang berguna untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan, boleh dikunjungi dan diziarahi.
Selain itu dasar hukum wisata syariah terdapat pula pada firman Allah yaitu sebagai berikut:
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”(QS Al-Baqarah: 168)
Ayat diatas menjelaskan bahwa kita selaku umat muslim seharusnya mengkonsumsi dan melakukan kegiatan yang halal yang diperbolehkan oleh Allah SWT.
2. Definisi Pariwisata Syariah
Definisi wisata syariah yang dijelaskan dalam penelitian Asisten Deputi Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Kepariwisataan dengan judul Kajian Pengembangan Wisata Syariah (Studi Kasus Aceh dan Manado) (2015: 12-15).
Terminologi wisata syariah di beberapa negara ada yang menggunakan istilah seperti Islamic tourism, halal tourism, halal travel, ataupun as moslem friendly destination. Menurut pasal 1 Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia No. 2 Tahun 2014 tentang pedoman penyelenggaraan usaha hotel syariah, yang dimaksud syariah adalah prinsip-prinsip hukum islam sebagaimana yang diatur fatwa dan/atau telah disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia. Istilah syariah mulai digunakan di Indonesia pada industri perbankan sejak tahun 1992. Dari industri perbankan berkembang ke sektor lain yaitu asuransi syariah, pengadaian syariah, hotel syariah, dan pariwisata syariah.
Definisi pariwisata syariah adalah kegiatan yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah yang memenuhi ketentuan syariah.
Pariwisata syariah dimanfaatkan oleh banyak orang karena karakteristik
produk dan jasanya yang bersifat universal. Produk dan jasa wisata, objek wisata, dan tujuan wisata dalam pariwisata syariah adalah sama dengan produk, jasa, objek dan tujuan pariwisata pada umumnya selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan etika syariah. Jadi pariwisata syariah tidak terbatas hanya pada wisata religi.
Berdasarkan pengertian di atas menurut Hamzah & Yudiana, konsep syariah yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan etika syariah berhubungan dengan konsep halal dan haram di dalam islam.
Halal diartikan dibenarkan, sedangkan haram diartikan dilarang. Konsep halal dapat dipandang dari dua perspektif yaitu perspektif agama dan perspektif industri. Yang dimaksud dengan perspektif agama, yaitu sebagai hukum makanan apa saja yang boleh dikonsumsi oleh konsumen muslim sesuai keyakinannya. Ini membawa konsuekensi adanya perlindungan konsumen. Sedangkan dari perspektif industri. Bagi produsen pangan, konsep halal ini dapat diartikan sebagai suatu peluang bisnis. Bagi industri pangan yang target konsumennya sebagian besar muslim, diperlukan adanya jaminan kehalalan produk akan meningkatkan nilainya yang berupa intangible value. Contoh produk pangan yang kemasannya tercantum label halal lebih menarik bagi konsumen muslim.
Menurut Sofyan, definisi wisata syariah lebih luas dari wisata religi yaitu wisata yang didasarkan pada nilai-nilai syariah Islam. Seperti yang dianjurkan oleh World Tourism Organization (WTO), konsumen wisata syariah bukan hanya umat Muslim tetapi juga non Muslim yang ingin menikmati kearifan lokal (Asisten Deputi Litbang Kebijakan Kepariwisataan, 2015).
Selain istilah wisata syariah, dikenal juga istilah halal tourism atau Wisata Halal. Pada peluncuran wisata syariah yang bertepatan dengan kegiatan Indonesia Halal Expo (Indhex) 2013 dan Global Halal Forum yang digelar pada 30 Oktober - 2 November 2013 di Semeru Room, lantai 6, Gedung Pusat Niaga, JIExpo (PRJ), Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (30/10/2013), President Islamic Nutrition Council of America,
Muhammad Munir Caudry, menyampaikan bahwa, “Wisata halal merupakan konsep baru pariwisata. Ini bukanlah wisata religi seperti umroh dan menunaikan ibadah haji. Wisata halal adalah pariwisata yang melayani liburan, dengan menyesuaikan gaya liburan sesuai dengan kebutuhan dan permintaan traveler muslim. Dalam hal ini hotel yang mengusung prinsip syariah tidak melayani minuman beralkohol dan memiliki kolam renang dan fasilitas spa terpisah untuk pria dan wanita (detik.com).
Sedangkan menurut Sapta Nirwandar, keberadaan wisata halal sebagai berikut: Halal tourism adalah extended services. Kalau tidak ada dicari, kalau ada, bisa membuat rasa aman. Wisata halal bisa bergandengan dengan yang lain. Sifatnya bisa berupa komplementer, bisa berupa produk sendiri. Misalnya ada hotel halal, berarti membuat orang yang mencari hotel yang menjamin kehalalan produknya akan mendapatkan opsi yang lebih luas. Ini justru memperluas pasar, bukan mengurangi. Dari yang tadinya tidak ada, jadi ada” (Asisten Deputi Litbang Kebijakan Kepariwisataan, 2015).
Wisata syariah dapat didefinisikan sebagai, “ upaya perjalanan atau rekreasi untuk mencari kebahagiaan yang tidak bertentangan dan tidak menyalahi prinsip-prinsip ajaran Islam, serta sejak awal diniatkan untuk mengagumi kebesaran ciptaan Allah. Selain itu perjalanan dengan tujuan tertentu juga diniatkan sebagai sebuah perjalanan syiar, setidaknya dengan melafalkan ayat-ayat suci, atau bertasbih mengagumi keindahan alam sekitar, dan amalan positif lainnya yang sesuai dengan ajaran Islam serta memberi manfaat bagi kehidupan umat manusia dan lingkungan sekitar” (Sucipto & Andayani, 2014: 45).
Berikut ini tabel perbandingan antara wisata konvensional, wisata religi, dan wisata syariah:
Tabel 2.1. Perbandingan wisata konvensional, wisata religi, dan wisata syariah
No Item
Perbandingan
Konvensional Religi Syariah
1 Objek Alam, budaya, Heritage, Kuliner
Tempat Ibadah, Peninggalan Sejarah
Semuanya
2 Tujuan Menghibur Meningkatkan Spritualitas
Meningkatkan Spirituaitas dengan cara menghibur
3 Target Menyentuh
kepuasan dan kesenangan yang berdimensi nafsu, semata- mata hanya untuk hiburan
Aspek spiritual yang bisa menenangkan jiwa. Guna mencari
ketenangan batin
Memenuhi keinginan dan kesenangan serta
menumbuhkan kesadaran beragama
4 Guide Memahami
dan menguasai informasi sehingga bisa menarik wisatawan terhadap objek wisata
Menguasai sejarah tokoh dan lokasi yang menjadi obyek wisata
Membuat turis tertarik pada obyek sekaligus membangkitkan spirit
religiusitas wisatawan, mampu menjelaskan fungsi dan peran syariah dalam bentuk
kebahagiaan dan kepuasan batin dalam kehidupan manusia.
5 Fasilitas Ibadah
Sekedar pelengkap
Sekedar pelengkap
Menjadi bagian yang menyatu dengan obyek pariwisata, ritual ibadah menjadi bagian paket hiburan
6 Kuliner Umum Umum Spesifik yang
halal 7 Relasi dengan
Masyarakat dilingkungan objek wisata
Komplementer dan semata- mata mengejar keuntungan
Komplementer, semata-mata mengejar keuntungan
Integrated, interaksi
berdasar pada prinsip-prinsip syariah
8 Agenda perjalanan
Mengabaikan waktu
Peduli waktu perjalanan
Memperhatikan waktu
Sumber: (Sucipto & Andayani, 2014: 44)
Pariwisata Menurut Haidar Tsany Alim, dkk (2015:2). Negara- negara Muslim cenderung menafsirkan pariwisata berdasarkan apa yang Al-Qur'an adalah sebagai berikut berdarkan Al-Qur’an: 15
a. Hijja, yaitu melibatkan perjalanan dan ziarah ke Mekah. Perjalanan ini merupakan persyaratan untuk setiap Muslim dewasa yang sehat.
Setidaknya sekali dalam seumur hidup untuk mengambil haji.
b. Zejara, adalah mengacu pada kunjungan ke tempat-tempat suci lainnya.
c. Rihla, adalah suatu perjalanan untuk alasan lain, seperti pendidikan dan perdagangan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pariwisata dalam Islam yang berdasarkan arti di Al-Qur’an adalah suatu perjalanan ke tempat-tempat untuk mentadaburi alam ciptaan Allah SWT yang indah, sehingga dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Di antara maksud wisata dalam Islam adalah mengambil pelajaran dan peringatan.
Menurut Prof. Dr. H. Abdullah Ali, ada beberapa tujuan wisata Islam diantaranya adalah:
a. Mensyukuri nikmat keagungan Allah
Keindahan alam dengan segala isinya, adalah karunia Allah, yang telah menciptakannya untuk kesejahteraan umat manusia penghuni alam itu dengan cara memelihara kebersihan lingkungan sekitarnya, agar tidak terlihat kumuh merusak pemandangan dan melestarikan kebudayaan sebagai peninggalan sejarah. Orang beriman akan mengucapkan “subhana Allah” (Maha Suci Gusti Allah) yang telah menciptakan keindahan, sehingga sedap mata kita memandang indahnya alam raya, membuktikan betapa Allah yang telah menciptakan tentu Maha Luas dan Maha agung.
b. Memelihara dan melestarikan keindahan
Keindahan alam wisata yang sengaja Allah sediakan untuk makhluk Nya dimuka bumi, harus tetap dipelihara dan dilestarikan.
Jangan kita merusak lingkungan sekitar dengan tangan jahil, mencoret-coret batu, tembok atau pagar dinding dan lain-lain yang membuat pemandangan menjadi kotor. Apalagi jika corat-coret itu sama sekali tidak memberi makna bagi yang membacanya. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi ada sungai yang mengalir air jernih, yang menyejukkan serta nikmat dirasakan bagi mereka yang bermaksud mandi atau mencuci di atas batu-batuan sungai Melestarikan berarti memberikan keindahan alam itu tetap terpelihara serta menarik perhatian para wisatawan untuk datang mengunjunginya. Jangan sampai kita tergolong orang yang disindir
Allah, berkenaan dengan telah terjadinya kerusakan lingkungan di darat dan di laut, akibat tangan-tangan manusia.
Wisata syariah sendiri dapat didefinisikan sebagai kegiatan perjalanan Muslim ketika bergerak dari satu tempat ke tempat lain atau ketika berada di satu tempat di luar tempat tinggal mereka yang normal untuk jangka waktu kurang dari satu tahun dan untuk terlibat dalam kegiatan dengan motivasi Islam. Perlu dicatat bahwa kegiatan wisata dalam Islam harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang berlaku umum, yaitu halal. konsumen wisata syariah bukan hanya umat Muslim tetapi juga non Muslim yang ingin menikmati kearifan lokal. Adapun kriteria umum pariwisata syariah ialah; pertama, memiliki orientasi kepada kemaslahatan umum. Kedua, memiliki orientasi pencerahan, penyegaran, dan ketenangan. Ketiga, menghindari kemusyrikan dan khurafat. Keempat, bebas dari maksiat. Kelima, menjaga keamanan dan kenyamanan. Keenam, menjaga kelestarian lingkungan. Ketujuh, menghormati nilai-nilai sosial budaya dan kearifan lokal (Jaelani, 2017:8).
D. Teori Strategi
Griffin (2000) mendefinisikan strategi sebagai rencana komprehensif untuk mencapai tujuan organisasi. (Strategy is a comprehensive plan for accomplishing an organization”s goals). Tidak hanya sekedar mencapai, akan tetapi strategi juga dimaksudkan untuk mempertahankan keberlangsungan organisasi di lingkkungan di mana organisasi tersebut menjalankan aktivitasnya (Tisnawati & Saefullah, 2013:32)
1. Sifat Strategi
Menurut Suwarsono (2013) dalam bukunya “Manajemen Strategik:
konsep dan alat analisis”, strategi adalah suatu alat untuk mencapai tujuan baik itu tujuan organisasi atau perusahaan, maka strategi memiliki beberapa sifat antara lain:
a. Menyatu (unifed): yaitu menyatukan seluruh bagian-bagian dalam organisasi atau perusahaan.
b. Menyeluruh (comprehensive): yaitu mencakup seluruh aspek dalam suatu organisasi atau perusahaan.
c. Integral (integrated): yaitu seluruh strategi akan cocok atau sesuai dari seluruh tingkatan (corporate, business, and functional).
2. Tipe Strategi
Menurut Rangkuti (2006) pada prinsipnya strategi dapat dikelompokkan berdasarkan tipe-tipe strategi yaitu:
a. Strategi Manajemen
Strategi manajemen meliputi strategi yang dapat dilakukan oleh manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara makro misalnya, strategi pengembangan produk, strategi penetapan harga, strategi akuisisi, strategi pengembangan pasar, strategi mengenai keuangan, dan sebagainya.
b. Strategi Investasi
Strategi ini merupakan kegiatan yang berorientasi pada investasi. Misalnya apakah perusahaan ingin melakukan strategi pertumbuhan yang agresif atau perusahaan melakukan penetrasi pasar, strategi bertahan, strategi pembangunan kembali suatu visi baru atau strategi divestasi, dan sebagainya.
c. Strategi Bisnis
Strategi bisnis ini sering juga disebut strategi bisnis secara fungsional karena strategi ini berorientasi pada fungsi-fungsi kegiatan manajemen, misalnya strategi pemasaran, strategi produksi atau operasional, strategi distribusi, strategi organisasi dan strategi yang berhubungan dengan keuangan.
3. Kriteria Strategi yang Efektif
Perumusan Bryson (dalam Hasan, 2016) suatu strategi yang efektif itu harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu:
a. Strategi secara teknis harus dapat dijalankan.
b. Strategi secara politis harus dapat diterima oleh para key stakeholder.
c. Strategi harus sesuai dengan filosofi dari nilai-nilai organisasi.
d. Strategi harus sesuai dengan isu strategis yang hendak dipecahkan.
E. Pengembangan Pariwisata
Pengembangan pariwisata adalah suatu usaha untuk mengembangkan atau memajukan objek wisata agar objek wisata tersebut lebih baik dan lebih menarik ditinjau dari segi tempat maupun benda-benda yang ada di dalamnya untuk dapat menarik minat wisatawan untuk mengunjunginya (Hasan, 2016:
16).
Pengembangan pariwisata adalah agar lebih banyak wisatawan datang pada suatu kawasan wisata, lebih lama tinggal, dan lebih banyak mengeluarkan uangnya di tempat wisata yang mereka kunjungi sehingga dapat menambah devisa untuk negara bagi wisatawan asing, dan menambah pendapatan asli daerah untuk wisatawan lokal. Disamping itu juga bertujuan untuk memperkenalkan dan memelihara kebudayaan di kawasan pariwisata tersebut. Sehingga, keuntungan dan manfaatnya juga bisa dirasakan oleh penduduk sekitar khususnya (Hasan, 2016: 16).
1. Prinsip Dasar Pengembangan Pariwisata
Menurut Sobari dalam Anindita, pengembangan pariwisata sebagai suatu industri secara ideal harus berlandaskan pada empat prinsip dasar, sebagaimana dikemukakan yaitu (Hasan, 2016: 17):
a. Kelangsungan ekologi, yaitu bahwa pengembangan pariwisata harus menjamin terciptanya pemeliharaan dan proteksi terhadap sumberdaya alam yang menjadi daya tarik pariwisata, seperti lingkungan laut, hutan, pantai, danau, dan sungai.
b. Kelangsungan kehidupan sosial dan budaya, yaitu bahwa pengembangan pariwisata harus mampu meningkatkan peran masyarakat dalam pengawasan tata kehidupan melalui sistem nilai yang dianut masyarakat setempat sebagai identitas masyarakat tersebut.
c. Kelangsungan ekonomi, yaitu bahwa pengembangan pariwisata harus dapat menciptakan kesempatan kerja bagi semua pihak untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi melalui suatu sistem ekonomi yang sehat dan kompetitif.
d. Memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat melalui pemberian kesempatan kepada mereka untuk terlibat dalam pengembangan pariwisata.
Dengan demikian, pengembangan pariwisata (yang berkelanjutan) perlu di dukung dengan perencanaan yang matang dan harus mencerminkan tiga dimensi kepentingan, yaitu industri pariwisata, daya dukung lingkungan (sumber daya alam), dan masyarakat setempat dengan sasaran untuk peningkatan kualitas hidup (Hasan, 2016: 16).
2. Pengembangan Pariwisata Berdasarkan Direktorat Jenderal Pariwisata.
Yoeti (1996), berkembangnya pariwisata tergantung pada produksi industri pariwisata yang meliputi daya tarik wisata, kemudahan perjalanan, sarana dan fasilitas serta promosi. Negara yang sadar akan pengembangan pariwisata berdasarkan Direktorat Jenderal Pariwisata biasa mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Perencanaan pengembangan pariwisata harus menyeluruh sehingga seluruh pengembangan pariwisata diperhitungkan dengan memperhatikan pula perhitungan untung rugi apabila dibandingkan dengan pembangunan sektor lain.
b. Pengembangan pariwisata harus diintegrasikan ke dalam pola dan program pembangunan ekonomi, fisik dan sosial sesuatu negara.
c. Pengembangan pariwisata harus diarahkan sedemikian rupa sehingga membawakan kesejahteraan ekonomi yang tersebar luas dalam masyarakat.
d. Pengembangan pariwisata harus sadar lingkungan sehingga pengembangannya mencerminkan ciri khas budaya dan lingkungan alam sesuatu negara, bukannya justru merusak lingkungan alam dan budaya yang khas tersebut.
e. Pengembangan pariwisata harus diarahkan sedemikian rupa sehingga pertentangan sosial dapat dicegah seminimal mungkin dan dapat menimbulkan perubahan-perubahan sosial yang positif.
f. Penentuan tata cara pelaksanaannya harus disusun sejelas-jelasnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang masak sesuai kemampuan.
g. Pencatatan (monitoring) secara terus-menrus mengenai pengaruh pariwisata terhadap suatu masyarakat dan lingkungan sehingga merupakan bahan yang baik untuk meluruskan kembali akibat perkembangan pariwisata yang merugikan sehingga merupakan sarana pengendalian pengembangan yang terarah.
3. Unsur-unsur Pengembangan Pariwisata
Pengembangan potensi daya tarik atau atraksi wisata meliputi daya tarik alami yang bersifat melekat (inherent) dengan keberadaan obyek wisata alam tersebut. Selain daya tarik alami, suatu obyek wisata memiliki daya tarik buatan manusia (man made attraction). Menurut Santoso unsur-unsur pengembangan pariwisata meliputi (Hasan, 2016:
19):
a. Atraksi
Atraksi atau daya tarik dapat timbul dari keadaan alam (keindahan panorama, flora dan fauna, sifat khas perairan laut, danau), obyek buatan manusia (museum, katedral, masjid kuno, makam kuno dan sebagainya), ataupun unsur-unsur dan peristiwa budaya (kesenian, adat istiadat, makanan dan sebagainya).
b. Transportasi
Perkembangan transportasi berpengaruh atas arus wisatawan dan juga perkembangan akomodasi. Di samping itu perkembangan teknologi transportasi juga berpengaruh atas fleksibilitas arah perjalanan, Jika angkutan dengan kereta api bersifat linier, tidak banyak cabang atau kelokannya, dengan kendaraan mobil arah perjalanan dapat menjadi lebih bervariasi. Demikian pula dengan angkutan pesawat terbang yang dapat melintasi berbagai rintangan alam (waktu yang lebih singkat).
c. Akomodasi