KUMPULAN ABSTRAK JURNAL
KOLEKSI E-DEPOSIT
PERPUSTAKAAN
NASIONAL
TEMA PERTANIAN
2020
PENYUSUN : VALENTINE HILSINKA D.
PENYUNTING : YULITHA RANTE LILING
PENGARUH PENAMBAHAN TELUR PADA KANDUNGAN PROKSIMAT, KARAKTERISTIK AKTIVITAS AIR BEBAS (AW) DAN TEKSTURAL
SNACK BAR BERBASIS PISANG (MUSA PARADISIACA)
Achmat Sarifudin, Riyanti Ekafitri, Diki Nanang Surahman, Siti Khudaifanny Dasa Febrianti Asna Putri
ABSTRAK
Dalam penelitian ini telah dibuat makanan ringan berbentuk batang (snack bar) diformulasikan dari bahan-bahan baku utama tepung pisang dan pure pisang.
Pengaruh penambahan telur (0% sebagai kontrol, 5%, 9%, 13% dan 17%) terhadap kandungan proksimat, nilai air bebas (aw) dan tekstural dari produk snack bar tersebut dievaluasi. Dari hasil percobaan terungkap bahwa penambahan telur mampu meningkatkan kandungan proksimat yaitu air, lemak, abu dan protein dari snack bar tersebut dengan kisaran secara berturut-turut yaitu air 18,13-30,01 %bk, lemak 15,08- 17,89 %bk, abu 3,00-3,11 %bk, dan protein 3,91-6,95 %bk. Nilai aw dari snack bar tersebut juga meningkat seiring peningkatan konsentrasi telur yang digunakan, sedangkan karakteristik tekstural produk snack tersebut yang meliputi kekerasan dan elastisitasnya cenderung menurun. Kisaran dari nilai aw, kekerasan, elastisitas, kekenyalan dari sampel snack bar secara berturut-turut adalah : 0,70-0,82; 11,12- 14,31 kgf; 0,62-0,85 dan 0,27-0,37.
Kata kunci : Tepung pisang, puree pisang, snack bar, telur, tekstur pangan Nama Jurnal : Agritech : Jurnal Teknlogi Pertanian
Volume : Vol. 35, No. 02 (Mei 2015)
DOI : https://doi.org/10.22146/agritech.9413
Link URL : https://jurnal.ugm.ac.id/agritech/article/view/9413
AKTIVITAS ANTIAFLATOKSIN B1 EKSTRAK DAUN RUMPUT KEBAR (BIOPHYTUM PETERSIANUM) TERHADAP ASPERGILLUS flAVUS
Meike Meilan Lisangan, Rizal Syarie, Winiati Pudji Rahayu, Okky Setyawati Dharmaputra
ABSTRAK
Aflatoksin B1 merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh Aspergillus flavus yang berbahaya bagi kesehatan karena bersifat karsinogenik. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari bahan antikapang dan antiaflatoksin yang berasal dari bahan alami seperti tumbuhan. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari aktivitas ekstrak daun rumput kebar terhadap pertumbuhan miselium dan produksi aflatoksin B1 dari isolat A. flavus BC F0219 dan A. flavus BIO 2236 pada media model pangan kaya karbohidrat, lemak dan protein. Ekstrak daun rumput kebar diekstraksi secara bertingkat dengan pelarut n-heksana-etil asetat-metanol (HEM). Konsentrasi ekstrak yang diuji untuk isolatA. flavus BCC F0219 dan A. flavus BIO 2236 masing-masing adalah 1; 1,5; dan 2 MIC (Minimum Inhibitory Concentration). Nilai MIC untuk A.
flavus BCC F0219 pada media kaya karbohidrat, lemak, dan protein berturut-turut sebesar 12, 14, dan 14 mg/mL. Sedangkan nilai MIC untuk A. flavus BIO 2236 pada media kaya karbohidrat, lemak, dan protein berturutturut sebesar 12, 16, dan 16 mg/mL.
Kata kunci : Aflatoksin B1 , anti aflatoksin, Aspergillus flavus, Biophytum petersianum, media model pangan, rumput kebar
Nama Jurnal : Agritech : Jurnal Teknlogi Pertanian Volume : Vol. 35, No. 02 (Mei 2015)
DOI : https://doi.org/10.22146/agritech.9414
Link URL : https://jurnal.ugm.ac.id/agritech/article/view/9414
PENENTUAN DIFUSIVITAS PANAS PEMPEK LENJER SELAMA PEREBUSAN MENGGUNAKAN METODE NUMERIK
Railia Karneta, Amin Rejo, Gatot Priyanto, Rindit Pambayun
ABSTRAK
Koefisien difusivitas panas pada perebusan pempek lenjer harus diketahui, karena dapat ditentukan waktu pengolahan pempek yang tepat (optimal). Formula dan suhu akan mempengaruhi koefisien difusivitas panas.Tujuan penelitian adalah menentukan koefisien difusivitas panas pada perebusan pempek lenjer secara numerik. Variabel yang diukur adalah suhu sampel pada titik pusat (r0) = 0 cm, r1= 1 cm, r2= 2 cm, dan lama pemasakan pempek. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model difusivitas panas di titik sembarang dan model difusivitas panas di titik pusat, dengan program computer Engineering Equation Solver (EES) Ver 8.91.Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien difusivitas panas pempek lenjer pada formula 1 adalah interval 0,321 - 1,515. 10-7 m/s, pada formula 2 adalah 0,297 - 1,389. 10-7 m2/s, pada formula 3 adalah 0,378 - 1,471. 10-7 m/s, dan formula 4 adalah 0,2778 - 1,620.
10-7 m2/s.
Kata kunci : Difusivitas panas, pempek lenjer, metode numerik Nama Jurnal : Agritech : Jurnal Teknlogi Pertanian
Volume : Vol. 35, No. 01 (Februari 2015) DOI : https://doi.org/10.22146/agritech.9415
Link URL : https://jurnal.ugm.ac.id/agritech/article/view/9415
FORMULASI DAN STABILITAS MIKROEMULSI O/W DENGAN METODE EMULSIFIKASI SPONTAN MENGGUNAKAN VCO DAN MINYAK SAWIT
SEBAGAI FASE MINYAK: PENGARUH RASIO SURFAKTAN-MINYAK
Setyaningrum Ariviani, Sri Raharjo, Sri Anggrahini, Sri Naruki
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk (1) formulasi mikroemulsi o/w dengan variasirasio surfaktan-minyak, (2) menentukan stabilitas mikroemulsiterhadap sentrifugasi, pemanasan dan penyimpanan suhu ruang, dan (3) karakterisasi mikroemulsi dengan stabilitas terbaik. Mikroemulsi dibuat menggunakan campuran tiga surfaktan food grade yaitu surfaktan HLB rendah (span 80), sedang (span 20 atau span 40), dan tinggi (tween 80), dengan rasio surfaktan minyak 2, 3, 4 dan 5. VCO dan minyak kelapa sawit digunakan sebagai fase minyak, 10 μM bufer fosfat pH 7 sebagai fase aqueous. Mikroemulsi o/w terbentuk pada rasio surfaktan minyak 3 atau lebih untuk penggunaan VCO dan pada rasio surfaktan minyak yang lebih tinggi (yaitu 4 atau 5) untuk penggunaan minyak sawit sebagai fase minyak. Mikroemulsi dengan fase minyak VCO yang stabil terhadap sentrifugasi, pemanasan maupun penyimpanan suhu ruang adalah mikroemulsi dengan rasio surfaktan-minyak 4 atau 5, sedangkan penggunaan minyak sawit sebagai fase minyak menghasilkan mikroemulsi yang stabil pada rasio surfaktan-minyak 4.
Kata kunci : Mikroemulsi, formulasi, stabilitas, surfaktan minyak Nama Jurnal : Agritech : Jurnal Teknlogi Pertanian
Volume : Vol. 35, No. 01 (Februari 2015) DOI : https://doi.org/10.22146/agritech.9416
Link URL: https://jurnal.ugm.ac.id/agritech/article/view/9416
KOMPOSISI KIMIA SERTA AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK HIDROFILIK BEKATUL BEBERAPA VARIETAS PADI
Sri Hartati, Yustinus Marsono, Suparmo Suparmo, Umar Santoso
ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia, kadar serat pangan serta aktivitas antioksidan ekstrak hidrofilik bekatul dari empat varietas padi yaitu IR-64, Sintanur, Rajalele dan Menthikwangi. Masing-masing sampel bekatul dianalisis proksimat dan kadar serat pangannya. Ekstrak hidrofilik diperoleh dengan cara mengekstrak masingmasing sampel bekatul dengan pelarut metanol. Ekstrak diuji kandungan total fenol dengan reagen Folin Ciocalteu dan aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat sampel memiliki kadar air, kadar abu, kadar protein dan kadar lemak yang bervariasi. Kadar lemak bervariasi dari 16,80±0,05 % - 23,75±0,04%db, dengan kadar tertinggi dimiliki bekatul varietas Sintanur (23,75±0,04 %db) dan terendah bekatul varietas IR-64 (16,80±0,05 %db). Kadar serat larut (soluble fiber, SF) bekatul dari keempat varietas padi tidak berbeda secara signifikan yaitu antara 4,07 - 4,14
%db namun terdapat perbedaan pada kandungan serat tak larut (insoluble fiber, IF) yang berpengaruh pada kadar serat total.
Kata kunci : Bekatul, ekstrak hidrofilik, varietas padi, fenol, DPPH
Nama Jurnal : Agritech : Jurnal Teknlogi Pertanian Volume : Vol. 35, No. 01 (Februari 2015)
DOI : https://doi.org/10.22146/agritech.9417
Link URL: https://jurnal.ugm.ac.id/agritech/article/view/9417
AKTIVITAS ANTIMIKROBA MINYAK ESENSIAL JAHE MERAH (ZINGIBER OFfiCINALE VAR. RUBRUM) DAN LENGKUAS MERAH (ALPINIA PURPURATA K. SCHUM) TERHADAP BAKTERI PATOGEN
DAN PERUSAK PANGAN
Tita Rialita, Winiati Pudji Rahayu, Lilis Nuraida, Budi Nurtama
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, komposisi dan aktivitas antimikroba minyak esensial jahe merah dan lengkuas merah lokal Indonesia terhadap empat spesies bakteri patogen dan perusak pangan, yaitu B.cereus ATCC 10876, E.coli ATCC 25922, S. typhimurium ATCC 14028, dan P. aeruginosa ATCC 27853. Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan dengan metode difusi cakram untuk menentukan zona hambat, sertabroth microdillution untuk menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Minimum Bactericidal Concentration (MBC). Karakteristik minyak esensial jahe merah yang dihasilkan yaitu kuning kecoklatan, berat jenis 0,883, indeks bias 1,480, putaran optik -8.45, larut jernih (1:1) dalam alkohol 90%, bilangan asam 2,06, dan bilangan ester 42,45. Minyak esensial lengkuas merah memiliki karakteristik warna kuning terang, berat jenis 0,895, indeks bias 1,496, putaran optik -9.15, larut jernih (1:1) dalam alkohol 90%, bilangan asam 1,95 dan bilangan ester 140,15.
Kata kunci :Antimikroba, jahe merah, lengkuas merah, minyak esensial Nama Jurnal : Agritech : Jurnal Teknlogi Pertanian
Volume : Vol. 35, No. 01 (Februari 2015) DOI : https://doi.org/10.22146/agritech.9418
Link URL : https://jurnal.ugm.ac.id/agritech/article/view/9418
EDIBLE COATING BERBASIS PATI SAGU DENGAN PENAMBAHAN ANTIMIKROBA MINYAK SEREH PADA PAPRIKA: PREFERENSI
KONSUMEN DAN MUTU VITAMIN C
Widaningrum Widaningrum, Miskiyah Miskiyah, Christina Winarti
ABSTRAK
Salah satu teknologi potensial untuk diterapkan pada paprika yaitu pelapisan permukaan paprika dengan bahan edible (dapat dimakan) dan ditambah dengan antimikroba alami untuk menghindari serangan mikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi minyak sereh dan lama perendaman terhadap sifat kimia dan organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa) paprika merah yang diberi perlakuan edible coating berbasis pati sagu dan antimikroba alami minyak sereh. Selain itu juga dianalisis perubahan mutu kimia vitamin C pada paprika merah selama penyimpanan. Perlakuan yang diberikan untuk pengujian karakteristik sensori yaitu (a) konsentrasi minyak sereh 0,2% dan 0,4% dan (b) lama pencelupan dalam formula edible coating yaitu 3 dan 5 menit. Paprika lalu disimpan pada suhu 8°C.
Sebagai kontrol dilakukan juga pengamatan terhadap paprika yang tidak di coating dan yang di coating namun tanpa menambahkan minyak sereh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan coating tidak berpengaruh nyata pada penerimaan panelis terhadap atribut aroma, tekstur, rasa maupun penerimaan keseluruhan paprika.
Kata kunci : Paprika, edible coating, preferensi konsumen, vitamin C Nama Jurnal : Agritech : Jurnal Teknlogi Pertanian
Volume : Vol. 35, No. 01 (Februari 2015) DOI : https://doi.org/10.22146/agritech.9419
Link URL : https://jurnal.ugm.ac.id/agritech/article/view/9419
KINETIKA PERTUMBUHAN MIKROBIA DAN KEMUNDURAN MUTU BAKSO DAGING TERLAPISI PATI UMBI KIMPUL (XANTHOSOMA
SAGITTIFOLIUM) YANG DIINKORPORASI KALIUM SORBAT
Warkoyo, Budi Rahardjo, Djagal Wiseso Marseno, Joko Nugroho Wahyu Karyadi
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kinetika pertumbuhan mikrobia, dan kemunduran mutu bakso terlapisi pati umbi kimpul (X. sagittifolium) yang diinkorporasi kalium sorbat. Perlakuan yang dicoba dalam penelitian ini adalah konsentrasi kalium sorbat yang berbeda pada pelapis edible. Parameter pengamatan meliputi jumlah mikrobia, kadar protein, TVB-N, susut berat, dan tekstur.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kalium sorbat berpengaruh nyata terhadap jumlah mikrobia, TVB-N, dan tekstur, serta berpengaruh tidak nyata terhadap kadar protein dan susut berat bakso. Jumlah mikrobia meningkat secara eksponensial dengan laju penghambatan 0,101 kali konsentrasi kalium sorbat, sementara TVB-N, dan tekstur bakso berubah secara linier dengan laju penghambatan masing-masing sebesar 0,584 dan 0,036 kali konsentrasi kalium sorbat. Pelapis edible aktif berbasis pati X. sagittifolium yang diinkorporasi kalium sorbat 0,6% dapat meningkatkan umur simpan bakso sampai 4 hari, sementara bakso tanpa pelapis hanya bertahan kurang dari 1 hari.
Kata kunci : Pelapis edible aktif, kinetika pertumbuhan mikrobia, kalium sorbat
Nama Jurnal : Agritech : Jurnal Teknlogi Pertanian Volume : Vol. 35, No. 01 (Februari 2015)
DOI : https://doi.org/10.22146/agritech.9420
Link URL : https://jurnal.ugm.ac.id/agritech/article/view/9420
PREPARASI KATALIS ABU KULIT KERANG UNTUK
TRANSESTERIFIKASI MINYAK NYAMPLUNG MENJADI BIODIESEL
Zuhra, Husin, Fikri Hasfita, Wahyu Rinaldi
ABSTRAK
Biodiesel, sebagai sumber energi potensial telah menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir, karena dapat diproduksi dari sumber terbaharukan dan menghasilkan polutan yang rendah. Secara konvensional, biodiesel diproduksi melalui transesterifikasi minyak nabati menggunakan katalis homogen, yaitu: KOH, NaOH, dan H2SO4. Proses katalitik homogen memiliki beberapa kekurangan, seperti:
banyak mengeluarkan air buangan dari pencucian residu katalis dan tidak dapat digunakan kembali. Untuk mengatasi kekurangan penggunaan katalis homogen baik secara ekonomi maupun lingkungan ditempuh dengan mengembangkan katalis heterogen atau katalis padat, yang dapat dengan mudah dipisahkan dari campuran reaksi secara filtrasi. Katalis ini juga rendah korosi dan lebih ramah lingkungan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan abu kulit kerang yang mengandung CaO (kalsium oksida) sebagai katalis heterogen terhadap rendemen biodiesel. Bahan baku untuk pembuatan biodiesel adalah minyak nyamplung. Katalis disiapkan dengan metode kalsinasi sederhana pada temperatur:
600, 700, 900 oC, dan tanpa kalsinasi.
Kata kunci : Kulit kerang, biodiesel, katalis heterogen, kalsium oksida minyak nyamplung, transesterikasi
Nama Jurnal : Agritech : Jurnal Teknlogi Pertanian Volume : Vol. 35, No. 01 (Februari 2015)
DOI : https://doi.org/10.22146/agritech.9421
Link URL : https://jurnal.ugm.ac.id/agritech/article/view/9421
AKSEPTABILITAS DAN SIFAT DAGING ITIK AFKIR YANG DILAKUKAN CURING MENGGUNAKAN EKSTRAK KURKUMIN KUNYIT UNTUK
MENGHAMBAT OKSIDASI LEMAK SELAMA PENYIMPANAN
Sri Hartati Candra Dewi, Niken Astuti
ABSTRAK
Daging itik afkir diperoleh dari itik petelur yang sudah tidak produktif yang berumur 24-26 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi oksidasi dari ekstrak kurkumin dan potensinya dalam curing daging itik afkir terhadap akseptabilitas dan sifat daging selama penyimpanan beku.Materi yang digunakan 36 ekor itik betina afkir dengan kisaran umur 24-26 bulan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial 3x4 dengan faktor variasi ekstrak kurkumin 0,0%; 0,1%; 0,2% dan 0,3% dan lama curing 5, 10 dan 20 menit.
Parameter yang diteliti meliputi akseptabilitas daging itik curing ditentukan dengan metode Hedonic Test, kadar air, kadar lemak, asam lemak dan angka peroksida penyimpanan beku selama 8 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging itik afkir yang paling akseptabel adalah daging itik dengan curing menggunakan 0,3%
ekstrak kunyit dengan lama curing selama 10 menit.
Kata kunci : Daging itik afkir, antioksidan kurkumin, akseptabilitas, kualitas daging Nama Jurnal : Agritech : Jurnal Teknlogi Pertanian
Volume : Vol. 34, No. 04 (November 2014) DOI : https://doi.org/10.22146/agritech.9436
Link URL : https://jurnal.ugm.ac.id/agritech/article/view/9436