• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP KEGUNUNGAPIAN ATAU VULKANISME : Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Negeri 16 Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP KEGUNUNGAPIAN ATAU VULKANISME : Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Negeri 16 Bandung."

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

ii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

ABSTRAK ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR GRAFIK ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Hipotesis Penelitian ... 11

F. Definisi Operasional ... 12

G. Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian ... 17

BAB II MULTIMEDIA INTERAKTIF DAN PEMAHAMAN KONSEP- KEGUNUNGAPIAN (VULKANISME) A. Kajian Pustaka ... 19

1. Pembelajaran ... 19

2. Media Pembelajaran ... 21

a. Multimedia Interaktif ... 23

b. Media Grafis ... 28

3. Metode Pembelajaran Diskusi ... 30

(2)

iii

5. Konsep Kegunungapian (Vulkanisme) ... 42

B. Penelitian Terdahulu ... 59

C. Paradigma Penelitian ... 62

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 64

B. Subjek Penelitian ... 65

C. Langkah-langkah Penelitian ... 68

D. Variabel Penelitian ... 74

E. Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data ... 76

F. Teknik Analisis Data ... 89

G. Prosedur Penelitian ... 94

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 95

B. Deskripsi Hasil Penelitian ... 96

1. Hasil Tes Pemahaman Konsep Kegunungapian ... 97

a. Hasil Tes Pemahaman Konsep Kegunungapian Kelas Eksperimen ... 97

b. Hasil Tes Pemahaman Konsep Kegunungapian Kelas Kontrol ... 102

c. Perbandingan Hasil Test Pemahaman Konsep Kegunungapian di Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 107

d. Uji Normalitas Data ... 108

e. Uji Homogenitas Data ... 109

f. Uji Hipotesis Penelitian ... 111

2. Tanggapan/Respons Siswa terhadap Pembelajaran dengan Menggunakan Multimedia Interaktif Kegunungapian ... 118

3. Kendala-kendala Implementasi Pembelajaran dengan Menggunakan Multimedia Interaktif ... 121

(3)

iv BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan ... 134

B. Rekomendasi ... 138

DAFTAR PUSTAKA ... 140

(4)

v

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1.1. Operasionalisasi Pemahaman Konsep Kegunungapian ... 15

2.1. Operasionalisasi Pemahaman Konsep ... 41

3.11. Parameter Penilaian Laporan Hasil Diskusi ... 85

3.12. Parameter Penilaian Presentasi ... 86

3.13. Kriteria Gain yang Dinormalisasi ... 90

3.14. Standar Penilaian Pemahaman Konsep kegunungapian ... 91

4.1. Hasil Pre Test Kelas Eksperimen ... 98

4.2. Hasil Post Test Kelas Eksperimen ... 100

4.3. Perbedaan Hasil Pre-Post Test Kelas Eksperimen ... 101

4.4. Hasil Pre Test Kelas Kontrol ... 103

4.5. Hasil Post Test Kelas Kontrol ... 104

4.6. Perbedaan Hasil Pre-Post Test Kelas Kontrol ... 106

4.7. Perbandingan Hasil Pre Test Kelas Eksperimen-Kontrol ... 107

4.8. Perbandingan Hasil Post Test Kelas Eksperimen-Kontrol ... 108

4.9. Hasil Uji Normalitas Data ... 109

4.10. Hasil Uji Homogenitas Data ... 110

(5)

vi

4.12. Ringkasan Hasil Uji Wilcoxon Pre-Post Test Kelas Kontrol ... 113 4.13. Hasil Uji Mann- Whitney Pre Test Kelas Eksperimen-Kontrol ... 114 4.14. Ringkasan Hasil Penilaian Pemahaman Konsep Kegunungapian di Kelas

Eksperimen-Kontrol ... 115 4.15. Ringkasan Hasil Uji Mann-Whitney Post Test Kelas Eksperimen-Kelas

Kontrol ... 117 4.16. Respons/Tanggapan Siswa terhadap Penggunaan Multimedia Pembelajaran

(6)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(7)

viii

DAFTAR GRAFIK

Grafik Halaman

4.1. Hasil Pre Test Pemahaman Konsep Kegunungapian Kelas

Eksperimen ... 99 4.2. Hasil Post Test Pemahaman Konsep Kegungapian Kelas

(8)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A : Halaman

1. Silabus ... 148

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen ... 149

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol ... 155

4. Lembar Kerja Siswa ... 161

Lampiran B : 1. Rancangan Instrumen penelitian ... 169

2. Kisi-kisi Instrumen Penelitian ... 170

3. Soal Uji Instrumen Pilihan Ganda ... 175

4. Kunci Jawaban Soal Tes Pemahaman Konsep Kegunungapian ... 179

5. Angket Tanggapan/Respons Siswa terhadap Penggunaan Multimedia Interaktif Kegunungapian ... 180

Lampiran C : 1. Storyboard Multimedia Interaktif Kegunungapian ... 182

2. Hasil Validasi Multimedia Interaktif Kegunungapian ... 191

Lampiran D : 1. Uji Validitas & Reliabilitas ... 194

2. Uji Tingkat Kesukaran & Daya Pembeda ... 195

Lampiran E : 1. Tabulasi Data Hasil Pre Test Kelas Eksperimen ... 196

2. Tabulasi Data Hasil Pre Test Kelas Kelas Kontrol ... 199

3. Tabulasi Data Hasil Post Test Kelas Eksperimen ... 202

4. Tabulasi Data Hasil Post Test Kelas Kelas Kontrol ... 205

5. Tabulasi Total Nilai Post Test Kelas Eksperimen ... 208

6. Tabulasi Total Nilai Post Test Kelas Kontrol ... 210

7. Deskripsi Uji Statistik ... 212

(9)

x Lampiran F :

1. Jadual Pelaksanaan Penelitian ... 221 2. Surat Keterangan Ijin Penelitian ... 222 3. Foto-foto Kegiatan Pembelajaran dengan Menggunakan Multimedia

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tuntutan di masa depan dalam berbagai bidang kehidupan tak terkecuali pada bidang pendidikan memerlukan adanya pergeseran tujuan ke arah yang lebih baik. Dalam hal ini dari tujuan pendidikan yang hanya untuk mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana, statis dan dapat diramalkan ke arah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang kompleks, dinamis dan tak mudah diramalkan yaitu dunia dimana setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pemikiran (Meier, 2009).

Pendidikan dipandang sebagai suatu esensi kehidupan, baik bagi

perkembangan pribadi, masyarakat maupun perkembangan bangsa dan negara. Kondisi tersebut, memberikan implikasi terhadap perlunya kesiapan pendidikan di Indonesia dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan, agar peserta didik mampu berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

(11)

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Rumusan konstitusional di atas dipertegas melalui Undang-undang No.20 tahun 2003 pasal 1 butir 1, bahwa tujuan pendidikan nasional merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam konteks persekolahan, penjabaran tujuan pendidikan dalam berbagai mata pelajaran termasuk di dalamnya IPS merupakan konsekuensi logis ke arah pencapaian tujuan akhir dari sistem pendidikan yang dijalankan di Indonesia.

Kondisi pembelajaran pendidikan IPS saat ini, Al Muchtar (dalam Syaodih, 2007 : 8) mengungkapkan, bahwa : “implementasi materi IPS di sekolah saat ini masih menghadapi berbagai kendala, di antaranya 1) lebih menekankan aspek pengetahuan, 2) berpusat pada guru , 3) mengarahkan bahan berupa informasi yang tidak mengembangkan berpikir nilai, serta 4) hanya membentuk budaya menghapal dan bukan berpikir kritis”.

Sehubungan dengan kegiatan dan budaya menghapal dalam pembelajaran IPS yang selama ini berlangsung, Exline (2004) menegaskan, bahwa “ memorizing facts and information is not the most important skill in today's world. Facts

change, and information is readily available -- what's needed is an understanding

(12)

penting di dunia saat ini karena fakta dan informasi sudah tersedia tetapi pemahaman tentang fakta dan informasi tersebut merupakan hal yang lebih penting karena proses pengalaman belajar tersebut akan mempunyai makna lebih pada diri peserta didik”.

Pendidikan pada era industrialisasi, komunikasi dan globalisasi saat ini, dituntut agar menghasilkan sumber daya manusia yang cepat tanggap dalam menghadapi perubahan dan permasalahan yang terjadi. Tuntutan itu juga tentu berlaku bagi pendidikan IPS khususnya geografi yang merupakan salah satu cabang ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dalam upaya mendorong peningkatan mutu kehidupan. Pembelajaran IPS-geografi dituntut untuk tidak hanya memberikan pengetahuan saja, akan tetapi juga memberikan pemahaman dan keterampilan untuk dapat memecahkan berbagai problema kehidupan.

Pembelajaran IPS-geografi menurut UNISCO (1965) dalam Maryani (2009 : 54), mengungkapkan :

the aim of any selective teaching of geography must be to concentrate on the problem often crucial, which men need solve so to provide for increasing numbers and higher standard of living. Any account, however summery, of what must be done to ensure that the world potensials resources are used for improving the condition of existence and the living standard of these indeed shows the immensity of the tasks a waiting the men of tomorrow, who are our pupil to day.

(13)

masa depan, (5) memberikan wawasan global baik dalam bentuk peluang maupun tantangan.

Menurut pendapat Setiawan (2008 : 21), bahwa : ”salah satu masalah yang sampai saat ini mengemuka dalam pembelajaran geografi adalah rendahnya minat dan motivasi siswa untuk belajar geografi. Belajar geografi cenderung membosankan dan tidak bermakna. Akibatnya tujuan pembelajaran geografi seringkali tidak tercapai”. Kondisi pembelajaran geografi di persekolahan yang seringkali tidak menarik untuk dipelajari, dipertegas pula oleh pendapat Maryani (2009 : 30), menurutnya, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : ”(1) pembelajaran geografi seringkali terjebak pada aspek kognitif tingkat rendah; (2) pembelajaran geografi cenderung bersifat verbal ; kurang melibatkan fakta-fakta aktual, tidak menggunakan media konkrit dan teknologi mutakhir; (3) kurang aplikabel dalam memecahkan masalah-masalah yang berkembang saat ini”.

(14)

Data nilai hasil belajar geografi siswa kelas X pada semester 1 tahun pelajaran 2011/2012 yang didapat dari data base di bagian kurikulum SMAN 16 Bandung untuk mata pelajaran geografi menunjukkan rata-rata hasil ulangan harian geografi sebesar 60,97 sedangkan nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) siswa kelas X di SMAN 16 Bandung untuk mata pelajaran geografi adalah 70. Berdasarkan sumber data tersebut, hanya sebesar 40,28% dari jumlah siswa kelas X yang mendapatkan nilai sama dengan atau di atas KKM sehingga sebagian besar lainnya yakni, sebesar 59,72% harus melakukan remedial, kondisi nilai yang kebanyakan berada di bawah KKM tersebut tentunya sangat merepotkan guru karena harus melakukan remedial dengan jumlah siswa yang relatif banyak tetapi waktunya relatif sangat terbatas. Hasil ujian tengah semester (UTS) 1 juga menunjukkan keadaan yang tidak jauh berbeda. Rata-rata nilai UTS hanya sebesar 54,311 dengan jumlah siswa yang skornya di atas nilai ketuntasan minimal (KKM) hanya sebesar 42,30%.

(15)

Penggunaan media dalam pembelajaran dapat mempermudah siswa dalam memahami sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkrit”.

Salah satu media pembelajaran yang diharapkan dapat berperan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu konsep adalah multimedia berbasis komputer. Sebagaimana dikemukakan oleh Hemani (2002 : 2), bahwa “multimedia pembelajaran berbasis komputer dapat meningkatkan pemahaman terhadap suatu konsep dan keterampilan berpikir siswa”.

Budiman (2008 : 16) mengungkapkan, bahwa “multimedia interaktif dapat meningkatkan pemahaman siswa pada aspek translasi, interpretasi dan ekstrapolasi”. Hal ini dimungkinkan, karena dalam multimedia terdapat beberapa keunggulan, yakni kemampuannya yang dapat merangkum dan menyajikan sejumlah media pembelajaran yang berbeda seperti animasi, grafik, teks, suara dan video dalam suatu software. Hal ini lebih dipertegas oleh pendapat Arsyad (2004 : 24) yang mengemukakan, bahwa “multimedia interaktif memiliki beberapa keunggulan diantaranya, adalah adanya keterlibatan organ tubuh siswa seperti telinga (audio), mata (visual) dan gerak tangan (kinetik). Keterlibatan berbagai organ tubuh ini, membuat informasi yang terkandung lebih mudah dipahami”.

(16)

yakni teks, suara, grafik, animasi, video dan aspek interaktif pada suatu storyboard”, sehingga diharapkan siswa dapat lebih termotivasi untuk belajar yang pada akhirnya berimbas pada peningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran pendidikan geografi di SMA.

Penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran geografi memungkinkan untuk memudahkan guru untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sekalipun materi itu bersifat abstrak dan sulit untuk dipelajari secara langsung. Selain itu siswa pun akan merasa terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam proses pembelajaran karena dengan multimedia pembelajaran interaktif siswa dituntut untuk melaksanakan pembelajaran secara mandiri dan lebih aktif.

(17)

mengenai materi erupsi gunung api, karena siswa SMA Negeri 16 Bandung merupakan bagian dari masyarakat intelektual yang diharapkan dapat menjadi penggerak dalam upaya mitigasi bencana erupsi gunungapi di Indonesia pada umumnya dan Bandung pada khususnya, sehingga dampak dari bencana erupsi gunungapi berupa jatuhnya korban jiwa, harta benda dan kerusakan lingkungan fisik maupun sosial dapat dihindari atau paling tidak diminimalisir.

Berdasarkan pada berbagai permasalahan khususnya yang terkait dengan rendahnya pemahaman siswa pada materi pembelajaran IPS-geografi yang bersifat abstrak dan sulit dipelajari secara langsung terutama pada materi kegunungapian dan masih kurang optimalnya penggunaan media dalam pembelajaran IPS-geografi serta adanya indikasi multimedia interaktif sebagai suatu media pembelajaran yang berpotensi dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang dipelajarinya, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Penggunaan Multimedia Interaktif terhadap Pemahaman Konsep Kegunungapian”. (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X di SMA Negeri 16 Bandung).

B. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah diungkapkan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini, adalah : Bagaimana pengaruh penggunaan multimedia interaktif terhadap pemahaman konsep kegunungapian pada siswa kelas X SMA Negeri 16 Bandung ?

(18)

1. Apakah terdapat perbedaan hasil tes pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di kelas yang menggunakan multimedia interaktif sebelum dan sesudah perlakuan diberikan (pre-test – post-test kelas eksperimen) ?

2. Apakah terdapat perbedaan hasil tes pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di kelas yang tidak menggunakan multimedia interaktif sebelum dan sesudah perlakuan diberikan (pre test – post test kelas kontrol) ?

3. Apakah terdapat perbedaan hasil tes pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di kelas yang menggunakan dan tidak menggunakan multimedia interaktif sebelum perlakuan diberikan (pre test kelas eksperimen-kontrol) ? 4. Apakah terdapat perbedaan pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di

kelas yang menggunakan dan tidak menggunakan multimedia interaktif sesudah perlakuan diberikan (kelas eksperimen-kontrol) ?

5. Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif pada konsep kegunungapian ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini, adalah untuk mengetahui :

1. perbedaan hasil tes pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di kelas yang menggunakan multimedia interaktif sebelum dan sesudah perlakuan diberikan (pre-test – post-test kelas eksperimen)

(19)

3. perbedaan hasil tes pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di kelas yang menggunakan dan tidak menggunakan multimedia interaktif sebelum perlakuan diberikan (pre test kelas eksperimen-kontrol)

4. perbedaan pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di kelas yang menggunakan dan tidak menggunakan multimedia interaktif sesudah perlakuan diberikan (kelas eksperimen-kontrol)

5. respons atau tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif pada konsep kegunungapian

6. kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dapat diambil dari hasil penelitian ini, adalah sebagai berikut.

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan wawasan dan pengetahuan terkait dengan penggunaan multimedia interaktif dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu diharapkan dapat menjadi salah satu landasan dasar bagi penelitian dan pengembangan selanjutnya yang terkait dengan penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran pada umumnya.

2. Manfaat Praktis

(20)

guru-guru, bahwa penggunaan multimedia interaktif merupakan salah satu upaya alternatif yang dapat dilakukan untuk mempermudah mempelajari suatu materi yang bersifat abstrak dan sulit dipelajari secara langsung, (c) memberikan informasi kepada masyarakat melalui para siswa tentang upaya mitigasi bencana yang telah diundangkan oleh pemerintah agar jika terjadi peristiwa erupsi gunungapi jatuhnya korban dapat diminimalisir, (d) memberikan masukan kepada Kementerian Pendidikan Nasional dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam membuat kebijakan memasukan materi mitigasi bencana ke dalam kurikulum pendidikan yang berlaku di Indonesia.

E. Hipotesis Penelitian

Adapun hipotesis yang diajukan pada penelitian ini, dijabarkan sebagai berikut.

1. Terdapat perbedaan hasil tes pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di kelas yang menggunakan multimedia interaktif sebelum dan sesudah perlakuan diberikan (pre-test – post-test kelas eksperimen).

2. Terdapat perbedaan hasil tes pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di kelas yang tidak menggunakan multimedia interaktif sebelum dan sesudah perlakuan diberikan (pre test – post test kelas kontrol).

(21)

4. Terdapat perbedaan pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di kelas yang menggunakan dan tidak menggunakan multimedia interaktif sesudah perlakuan diberikan (kelas eksperimen-kontrol).

F. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan definisi yang didasarkan pada karakteristik yang dapat diamati dari apa yang didefinisikan. Sebagaimana diungkapkan oleh Tuckman (1978 : 79) ”an operational definition is a definition based on the observable characteristics of that which is being defined”.

Adapun beberapa hal yang menjadi penekanan dalam penelitian ini, sehingga dipandang perlu untuk didefinisikan, adalah :

1. Media Pembelajaran

Nandi (2006 : 42) memandang informasi atau pesan pembelajaran dapat diterima oleh peserta didik melalui penggunaan media pembelajaran, seperti dikemukakannya, bahwa “media pembelajaran adalah suatu alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran”. Lebih lanjut Sudrajat (2008 : 20) mengungkapkan, bahwa “media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik”.

(22)

a. Multimedia Interaktif

Multimedia adalah suatu bentuk media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hofstetter (2001) dalam Ariani dan Haryanto (2010 : 11), bahwa ”multimedia, adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafis, audio, video dengan menggunakan alat yang memungkinkan pemakai berinteraksi, berkreasi dan berkomunikasi”.

Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan multimedia interaktif adalah suatu multimedia berbasis komputer dengan menggunakan program flash yang dirancang secara sistematis, interaktif dan berbentuk sajian secara tutorial dalam hal ini langkah-langkah operasionalisasinya didasarkan kepada instruksi-instruksi

tertentu dengan tujuan untuk memudahkan siswa dalam mempelajari bahan ajar

yang terangkum di dalam multimedia yang berisi materi pembelajaran

kegunungapian (vulkanisme). Multimedia interaktif ini, secara keseluruhan berdurasi sekitar 15 menit, dirancang untuk kegiatan pembelajaran dalam satu kali pertemuan (dua jam pelajaran). Terbagi menjadi 4 (empat) bagian utama, yaitu bagian A (Magma), B (Erupsi), C (Pascavulkanik) dan bagian D (Awan Panas) yang diperuntukan untuk kegiatan pembelajaran di kelas dengan metode diskusi kelompok.

b) Media Grafis

(23)

pula disebut sebagai media dua dimensi, yaitu media yang hanya mempunyai ukuran panjang dan lebar”.

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan media grafis, adalah media berbentuk gambar, foto, grafik, bagan, tabel dan lain-lain yang berisi materi kegunungapian yang disusun dalam bentuk slide-slide power point. Penggunaan media grafis dimaksudkan sebagai media kontrol terhadap penggunaan multimedia interaktif yang digunakan di kelas eksperimen.

2. Pemahaman

Pemahaman dalam penelitian ini diartikan sebagai kemampuan siswa dalam melakukan translasi, interpretasi dan ekstrapolasi tentang konsep-konsep kegunungapian yang diukur melalui penyelenggaraan tes pemahaman konsep kegunungapian sebelum dan sesudah proses pembelajaran dilaksanakan. Selain hasil tes objektif, karena implementasi pembelajaran dalam penelitian ini dilaksanakan dengan metode diskusi, maka kemampuan membuat laporan dan kemampuan presentasi tiap kelompok menjadi aspek penilaian tersendiri yang dimaksudkan untuk memperdalam hasil penelitian dalam mengukur kemampuan pemahaman siswa tentang konsep-konsep kegunungapian baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol setelah pembelajaran dilaksanakan.

(24)
(25)

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa konsep merupakan abstraksi dari ciri-ciri, karakter atau atribut yang sama dari sekelompok objek dari suatu fakta, baik berupa proses, peristiwa, benda ataupun fenomena alam maupun sosial yang membedakannya dari kelompok lainnya dan dapat diterima oleh umum.

Kegunungapian adalah peristiwa yang berkaitan dengan pergerakan magma. Magma sebagai masa silikat cair pijar sangat giat melakukan gerakan ke segala arah baik secara vertikal, miring maupun mendatar, yang bergerak di permukaan bumi ataupun hanya di dalam bumi (Editiya, 2010).

Konsep kegunungapian pada penelitan ini diartikan sebagaikonsep-konsep yang berhubungan dengan peristiwa pergerakan magma yang menyusup ke lapisan yang lebih atas sampai ke permukaan bumi dengan kata lain konsep kegunungapian dapat didefinisikan sebagai konsep yang berhubungan dengan proses pembentukan gunung api.

4. Kelas Eksperimen

(26)

5. Kelas Kontrol

Kelas kontrol pada penelitian ini, adalah kelas X yang tidak diberi perlakuan secara khusus atau berlebih seperti halnya pada kelas eksperimen. Dalam hal ini perlakuan yang diberikan hanya berupa penggunaan media grafis berupa bagan, gambar, tabel, foto dan lain-lain tentang konsep-konsep kegunungapian yang ditayangkan dalam bentuk slide-slide power point pada proses pembelajaran. Kelas kontrol dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas, yakni kelas X-1 dan X-10.

G. Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 16 Bandung dengan dasar pertimbangan antara lain, sebagai berikut.

1. Kondisi di lapangan (hasil observasi) menunjukan seringkali guru geografi di SMA Negeri 16 Bandung menggunakan metode pembelajaran konvensional yang pasif dalam menyampaikan berbagai materi pembelajaran, dengan media yang relatif terbatas, sedangkan proses pembelajaran melalui metode diskusi dengan menggunakan multimedia pembelajaran interaktif belum pernah dilaksanakan sekalipun.

2. Hasil observasi awal di lapangan menunjukan, bahwa dalam pembelajaran sehari-hari, siswa hanya mencatat dan mendengarkan penjelasan dari guru serta selanjutnya mengerjakan tugas berupa pengisian soal-soal pada lembar kerja siswa (LKS), sehingga proses pembelajaran bersifat monoton dan tidak berkembang.

(27)

api, sehingga wilayahnya relatif rentan terhadap dampak erupsi gunung api, terutama dari erupsi Gunungapi Tangkuban Perahu, Kamojang, Patuha dan Malabar, sehingga pemiliham lokasi penelitian ini dimaksudkan sebagai sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman siswa di SMA Negeri 16 Bandung tentang potensi bencana erupsi gunung api yang melingkupi wilayahnya melalui penerapan multimedia interaktif, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran yang mendalam tentang lingkungan sekitarnya.

4. Dukungan sarana/prasarana di SMA Negeri 16 untuk kegiatan penelitian berbasis multimedia relatif memadai.

5. Di SMA Negeri 16 Bandung belum pernah ada penelitian sejenis.

Adapun yang dijadikan populasi dalam penelitian ini, adalah seluruh siswa

kelas X SMA Negeri 16 Bandung pada tahun pelajaran 2011/2012 yang tersebar di

10 kelas/rombongan belajar. Sampel penelitian diambil sebanyak empat kelas yang

(28)

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini berisi penjabaran lebih rinci tentang metode penelitian, populasi dan sampel penelitian, alasan pemilihan lokasi penelitian, variabel penelitian, proses pengembangan instrumen, teknik pengumpulan data dan alasan rasionalnya serta memuat teknik analisis data dan tahap-tahap penelitian yang dimulai dari persiapan sampai dengan penyusunan laporan akhir.

A. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan desain yang digunakan adalah kuasi eksperimen (Quasi Experimental Design). Salah satu ciri penelitian dengan menggunakan desain eksperimen kuasi adalah adanya kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimen. Hal ini berarti bahwa untuk mengetahui hasil pembelajaran yang dieksperimenkan benar-benar efektif perlu diadakan kelompok yang tidak diberi perlakuan (treatment) sama dengan kelas eksperimen.

Penelitian eksperimen ini melibatkan dua kelompok siswa, yaitu siswa di kelas eksperimen dan siswa di kelas kontrol. Kedua kelompok mendapat perlakuan pembelajaran yang berbeda. Kelas eksperimen dikenai perlakuan (treatment) berupa pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif, sedangkan kelas kontrol tidak dikenai perlakuan dengan menggunakan multimedia interaktif tetapi hanya diberi perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan media grafis.

(29)

Tabel 3.1.

Desain Kuasi Eksperimen Nonequivalent Control Group Design

Kelas Tes Awal Perlakuan Tes Akhir

Eksperimen T1 X1 T2

Kontrol T3 X2 T4

Sumber : diadaptasi dari Sukmadinata (2007 : 207) Keterangan :

T1 = pre test (sebelum perlakuan) pada kelas eksperimen

T2 = post test (setelah perlakuan dengan multimedia interaktif) pada kelas

eksperimen

T3 = pre test (sebelum perlakuan) pada kelas kontrol

T4 = post test (setelah perlakuan tanpa multimedia interaktif) pada kelas

kontrol

X1 = kelas eksperimen dengan menggunakan multimedia interaktif

X2 = kelas kontrol dengan menggunakan media grafis.

B. Subjek Penelitian

(30)

Data hasil ujian tengah semester 1 tahun pelajaran 2011/2012 pada mata pelajaran geografi di SMA Negeri 16 Bandung dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.2.

Daftar Nilai Ujian Tengah Semester (UTS) 1 Geografi Kelas X SMAN 16 Bandung Thn. Pel. 2011/2012

Kelas Nilai masing-masing siswa yang dijadikan subjek penelitian berjumlah 40 siswa untuk setiap kelasnya yaitu kelas X-1, X-3, X-7 dan X-10. Pengambilan empat kelas tersebut didasarkan kepada homogenitas nilai ujian tengah semester 1 mata pelajaran geografi pada empat kelas tersebut, seperti terlihat pada tabel 3.2 di atas. Kelas X-3 dan X-7 dijadikan sebagai kelas eksperimen, sedangkan X-1 dan X-10 dijadikan kelas kontrol.

(31)

1. Kondisi di lapangan (hasil observasi) menunjukan seringkali guru geografi di SMA Negeri 16 Bandung menggunakan metode pembelajaran konvensional yang pasif dalam menyampaikan berbagai materi pembelajaran dengan penggunaan media yang relatif terbatas, sedangkan proses pembelajaran melalui metode diskusi dengan menggunakan multimedia pembelajaran interaktif sangat jarang dilaksanakan.

2. Hasil observasi di lapangan menunjukan, dalam pembelajaran sehari-hari di kelas, siswa hanya mencatat dan mendengarkan penjelasan dari guru serta selanjutnya mengerjakan tugas berupa pengisian soal-soal pada lembar kerja siswa (LKS), sehingga proses pembelajaran bersifat monoton dan tidak berkembang.

3. SMA Negeri 16 Bandung merupakan salah satu SMA yang berdasar kepada letak geografisnya, berada pada lokasi yang dikelilingi oleh beberapa gunung api, sehingga wilayahnya relatif rentan terhadap dampak erupsi gunung api, terutama dari erupsi Gunungapi Tangkuban Perahu, Kamojang, Patuha dan Malabar, sehingga pemiliham lokasi penelitian ini dimaksudkan sebagai sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa di SMA Negeri 16 Bandung tentang potensi bencana erupsi gunung api yang melingkupi wilayahnya melalui penerapan multimedia pembelajaran interaktif, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran yang mendalam tentang lingkungan sekitarnya.

(32)

komputer yang memungkinkan dapat dilaksanakannya pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif.

5. Di SMA Negeri 16 Bandung belum pernah ada penelitian sejenis.

6. Mencoba menerapkan media pembelajaran yang relatif baru pada siswa-siswa kelas X di sekolah yang berada pada cluster terendah di Kota Bandung yang mempunyai taraf intelegensia yang relatif homogen menengah-bawah berdasarkan dari passing grade pada awal mereka masuk sekolah tahun pelajaran 2011/2012, sehingga penggunaan multimedia interaktif pada penelitian ini merupakan salah satu upaya dalam memotivasi siswa-siswa di SMA Negeri 16 Bandung agar lebih dapat meningkatkan dan mengembangkan cara dan hasil belajarnya, terutama dalam memahami konsep-konsep yang relatif abstrak dan atau sulit dipelajari secara langsung.

C. Langkah-langkah Penelitian

Tahap-tahap yang ditempuh dalam penelitian ini meliputi lima langkah, yaitu : studi pendahuluan, studi literatur, persiapan, implementasi dan diakhiri dengan analisis hasil penelitian serta penyusunan laporan.

1. Studi Pendahuluan

(33)

geografi di salah satu SMA di Kota Bandung yang berkaitan dengan permasalahan dan kendala yang dihadapi siswa dan guru geografi dalam kegiatan pembelajaran. Studi pendahuluan ini dilaksanakan dengan cara mewawancarai guru-guru geografi dan siswa serta mencatat hasil-hasil belajar geografi di bagian kurikulum di SMA yang bersangkutan . Hasilnya ditemukan bahwa pemahaman konsep siswa terhadap materi yang dipelajarinya masih rendah yang dicirikan dengan banyak siswa yang memperoleh hasil di bawah nilai ketuntasan belajar minimal dan sikap belajar siswa yang masih rendah yang ditunjukkan dengan motivasi belajar yang juga rendah. Selain hal itu, pemanfaatan media pembelajaran berbasis komputer dalam pembelajaran geografi oleh guru juga masih rendah. Selanjutnya, temuan tersebut digunakan sebagai pijakan untuk mengembangkan multimedia pembelajaran interaktif sebagai alternatif pemecahan masalah.

2. Studi Literatur

(34)

3. PerancanganMultimedia Interaktif dan Instrumen Penelitian

Hasil-hasil yang diperoleh dari studi literatur dan pendahuluan, digunakan untuk merancang produk awal (draft). Multimedia Interaktif (MMI) dibuat berdasarkan atas hasil-hasil analisis terhadap SK, KD dan indikator-indikator mengenai konsep kegunungapian yang diharapkan dapat dicapai setelah pembelajaran dengan MMI dilakukan. Selanjutnya dari indikator-indikator pemahaman konsep kegunungapian dibuat instrumen penilaian. Instrumen penilaian yang dibuat berupa tes tertulis berupa soal pilihan ganda dan uraian yang terpisah dalam bentuk pre dan post test. Setelah dilakukan pengembangan dan perancangan MMI, maka dilakukan validasi (judgment) oleh Dr. Ahmad Yani M.Si. (ahli multimedia Jur. Pendidikan Geografi FPIPS UPI Bandung) dan Ir. Yakub Malik, M.Pd. (ahli Geografi Fisik/Kegunungapian Jur. Pendidikan Geografi FPIPS UPI Bandung) untuk kelayakan MMI sebagai instrumen yang dapat digunakan untuk kegiatan penelitian (Lampiran C.2).

4. Uji Coba Instrumen Penelitian

Untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kemudahan dan daya pembeda instrumen penelitian yang dibuat terlebih dahulu diujicobakan pada siswa-siswa kelas XI pada salah satu SMA di Kota Bandung. Dari hasil uji coba butir soal kemudian diambil butir-butir soal yang dinyatakan valid dan reliabel untuk dapat digunakan sebagai instrumen penelitian.

5. Tahap Implementasi

(35)

siswa kelas X di SMA Negeri 16 Kota Bandung. Setelah implementasi pembelajaran ini selesai, dilakukan post test untuk mengetahui tingkat pemahaman konsep siswa terhadap materi kegunungapian dan pengisian angket tanggapan/respons siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif.

Implementasi pembelajaran pada kelas eksperimen dalam penelitan ini dilaksanakan dengan menggunakan multimedia pembelajaran interaktif melalui

metode diskusi dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut.

a. Guru menetapkan masalah kegunungapian terkait dengan bencana erupsi gunung api untuk didiskusikan.

b. Guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran dengan metode diskusi kelompok.

c. Guru membagi siswa di kelas eksperimen menjadi 4 (empat) kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari sekitar 10 siswa dan di bawah bimbingan guru membentuk peserta diskusi, memilih pimpinan diskusi (ketua, moderator, notulis), mengatur denah ruang/tempat duduk, sarana/prasarana dan sebagainya.

d. Guru menyajikan materi kegunungapian melalui CD multimedia interaktif pada layar monitor masing-masing siswa yang operasionalisasinya dilakukan baik secara individu maupun kelompok secara interaktif .

(36)

pembelajaran interaktif tentang kegunungapian sebagai acuan pelaksanaan diskusi kelompok, dengan rincian sebagai berikut.

2) Kelompok A mendiskusikan materi yang terkait dengan pengertian gunung api, pengertian magma, perbedaan intrusi dan ekstrusi magma, bagian-bagian dari gunung api dan jenis erupsi gunung api berdasarkan tempat keluarnya magma.

3) Kelompok B mendiskusikan materi yang terkait dengan jenis erupsi gunung api berdasarkan tenaga letusannya, bentuk-bentuk gunung api dan tipe-tipe letusan gunung api.

4) Kelompok C mendiskusikan materi yang terkait dengan bahan-bahan yang dikeluarkan gunung api ketika terjadi erupsi dan gejala-gejala pascavulkanik.

5) Kelompok D mendiskusikan materi yang terkait dengan dampak positif (manfaat) gunung api dan dampak negatif (bencana) yang ditimbulkan oleh erupsi gunung api.

f. Setiap kelompok mempresentasikan/melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasil yang dilaporkan itu dicermati dan ditanggapi oleh seluruh siswa (terutama dari kelompok lain), sedangkan guru berperan sebagai nara sumber dan jika diperlukan sekaligus menjadi moderator.

g. Guru membimbing siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan diskusi, meluruskan kesalahpahaman dan memberi penghargaan kepada masing-masing kelompok.

(37)

power point oleh guru di depan kelas melalui metode diskusi dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a. Guru menetapkan masalah kegunungapian terkait dengan bencana erupsi gunung api untuk didiskusikan.

b. Guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran dengan metode diskusi kelompok.

c. Guru membagi siswa di kelas kontrol menjadi 4 (empat) kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari sekitar 10 siswa dan di bawah bimbingan guru membentuk peserta diskusi, memilih pimpinan diskusi (ketua, moderator, notulis), mengatur denah ruang/tempat duduk, sarana dan sebagainya.

d. Guru menyajikan materi kegunungapian dengan media grafis berupa tayangan slide-slide powerpoint melalui layar di depan kelas.

e. Guru memberikan tugas berupa lembar kerja siswa (LKS) sebagai acuan dasar pelaksanaan diskusi kelompok, dengan rincian :

1) Kelompok A mendapat tugas untuk mendiskusikan hal-hal yang terkait dengan pengertian gunung api, pengertian magma, perbedaan intrusi dan ekstrusi magma, bagian-bagian dari gunung api dan jenis erupsi gunung api berdasarkan tempat keluarnya magma.

2) Kelompok B mendapat tugas untuk mendiskusikan hal-hal yang terkait dengan jenis erupsi gunung api berdasarkan tenaga letusannya, bentuk-bentuk gunung api dan tipe-tipe letusan gunung api.

(38)

4) Kelompok D mendapat tugas untuk mendiskusikan hal-hal yang terkait dengan dampak positif (manfaat) gunung api dan dampak negatif (bencana) yang ditimbulkan oleh erupsi gunung api.

f. Siswa melaksanakan diskusi kelompok, sehingga setiap kelompok dapat menemukan dan merumuskan konsep-konsep yang berhubungan kegunungapian yang menjadi pokok bahasannya.

g. Setiap kelompok mempresentasikan/melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasil yang dilaporkan itu dicermati dan ditanggapi oleh seluruh siswa (terutama dari kelompok lain), sedangkan guru berperan sebagai nara sumber dan jika diperlukan sekaligus menjadi moderator.

h. Guru membimbing siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan diskusi, meluruskan kesalahpahaman dan memberi penghargaan kepada masing-masing kelompok.

D. Variabel Penelitian

(39)

pokok bahasan kegunungapian (vulkanisme) yang terdapat pada mata pelajaran Geografi di SMA Kelas X.

Definisi operasional dari variabel-variabel penelitian tersebut di atas, diuraikan pada tabel berikut.

Tabel 3.3. Definisi Variabel Penelitian

(40)

E. Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian, adalah sebagai berikut :

1. Tes

Menurut Webster’s Collegiate, “tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensia, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok” (Arikunto, 1995 : 29). Cronbach (dalam Azwar, 1987 : 3) mendefinisikan tes sebagai “a systematic procedure for observing a person’s behavior and describing it with the aid of a numerical scale or category system”.

(41)

digunakan untuk tes objektif berbentuk pilihan ganda, disajikan dalam bentuk tabel berikut.

Tabel. 3.4. Kisi-kisi Soal Tes Objektif

Variabel Dimensi Indikator No. Soal

P

Menguraikan kembali bahan-bahan yang dikeluarkan gunung api

Menjelaskan perbedaan intrusi dan ekstrusi Menguraikan ciri-ciri gunungapi yang akan meletus Menjelaskan karakteristik gunungapi di Indonesia Menjelaskan jenis gempa akibat aktivitas gunungapi

1

Menemutunjukan bagian-bagian gunung api melalui bagan/ penampang gunung api

Mengidentifikasi jenis erupsi gunung api berdasarkan tempat keluarnya magma

Menginterpretasi jenis erupsi gunung api berdasarkan tenaga letusannya

Mengidentifikasi gunung api berdasarkan bentuknya Mengidentifikasi gunung api berdasarkan tipe letusannya.

Membedakan gejala-gejala keluarnya magma sampai ke permukaan bumi

Menyimpulkan gejala-gejala pascavulkanik

Menyimpulkan dampak positip (manfaat) gunung api Menyimpulkan dampak negatif letusan gunung api. Memperluas upaya yang bersifat aplikatif dalam mengantisipasi bencana erupsi gunungapi

Untuk mengetahui kelayakan perangkat tes pengambilan data dalam

penelitian ini, terlebih dahulu dilakukan uji validitas, reliabilitas, daya pembeda

dan tingkat kesukaran butir soal. Secara rinci penjelasan uji prasyarat instrumen

diuraikan sebagai berikut.

a. Validitas Butir Soal

(42)

Menurut Arikunto (2006:168) validitas tes adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan. Soal yang valid adalah soal yang dapat mengukur apa yang akan diukur. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan menggunakan teknik korelasi product moment angka kasar (Arikunto, 2006 : 168) :

rXY = koefisien korelasi

X = skor tiap butir soal

Y = skor total yang benar dari tiap subyek N = jumlah subyek

Untuk menginterpretasi koefisien korelasi yang telah diperoleh digunakan tabel nilai r product moment, dengan taraf signifikansi 5%, artinya kebenaran atau

dalam hal ini validitasnya mencapai 95%. Jika rxy hitung ≤ rxy, maka soal tersebut

tidak valid dan jika rxy hitung≥ rxy tabel, maka soal tersebut valid.

(43)

Tabel 3.5.

Hasil Uji Validitas Instrumen Soal Pemahaman Konsep Kegunungapian (Vulkanisme)

Item soal rxy hitung rxy tabel Keterangan

Butir 1 2,67246 1,68595 Valid

Sumber : Pengolahan data, 2011.

(44)

peneliti kurangi satu sehingga berjumlah 20 butir soal yang dianggap mewakili aspek translasi, interpretasi dan ekstrapolasi, hal ini dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan waktu pelaksanaan penelitian yang hanya berlangsung dalam waktu yang relatif sangat terbatas yakni dua jam pelajaran tanpa mengurangi ketercakupan aspek-aspek pemahaman konsep kegunungapian yang akan diukur. b. Reliabilitas

Suatu perangkat tes yang baik merupakan perangkat yang menghasilkan skor yang tidak berubah-ubah atau ajeg dengan kata lain suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Salah satu bentuk pengujian realibilitas adalah dengan internal consistency melalui teknik KR.20.

Kriteria pengujian realibilitas adalah jika rhit > rtab dengan tingkat

kepercayaan 95% dengan dk (n-2) maka item pertanyaan itu dapat dikatakan reliabel. Dalam penelitian ini, uji reliabilitas dihitung secara manual menggunakan rumus berikut.

r11 = reliabilitas instrumen.

p = proporsi subyek yang menjawab item dengan benar. q = proporsi subyek yang menjawab item dengan salah

(q = 1 - p).

pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q.

n = banyaknya item.

(45)

Setelah dilakukan perhitungan, maka diperoleh koefisien reliabilitas tes pilihan ganda pada tabel berikut.

Tabel 3.6.

Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Pilihan Ganda Butir Soal Pemahaman Konsep Kegunungapian (Vulkanisme)

Koefisien Reliabilitas N of Items Keterangan

0,853955 25 Sangat tinggi

Sumber : Pengolahan Data, 2011.

Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai r11 untuk soal tes pilihan ganda

sebesar 0,853955 kemudian r11 dikonsultasikan dengan rtabel sebesar 0,312

didapatkan r11 > rtabel. Berdasarkan perhitungan tersebut dapat dikatakan bahwa alat

tes reliabel untuk digunakan dalam penelitian. c. Tingkat Kesukaran

Uji tingkat kesukaran dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaran suatu soal. Uji ini penting agar dalam suatu perangkat soal tidak didominasi oleh soal mudah atau sukar saja. Suharsimi (1991 : 210) menyatakan bahwa bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran (difficulty index). Uji tingkat kesukaran dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaran suatu soal, uji ini penting agar dalam suatu perangkat soal tidak didominasi oleh soal mudah atau sukar saja. Selanjutnya Karno To (1999) menjelaskan untuk menghitung taraf kesukaran butir soal dipergunakan rumus berikut.

(46)

Untuk menginterpretasi tingkat kesukaran tiap butir soal dilakukan dengan berdasar pada kriteria tingkat kesukaran soal pada tabel berikut.

Tabel 3.7.

Kriteria Tingkat Kesukaran

Batasan Klasifikasi

0.00 - 0.30 Sukar 0.30 - 0.70 Sedang 0.70 - 1.00 Mudah

Hasil perhitungan uji tingkat kesukaran instrumen soal pilihan ganda disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 3.8.

Hasil Uji Tingkat Kesukaran Instrumen Soal Pemahaman Konsep Kegunungapian (Vulkanisme)

Nomor

Soal Tingkat Kesukaran Kategori

1 0,40 Sedang

2 0,63 Sedang

3 0,20 Sukar

4 0,50 Sedang

5 0,65 Sedang

6 0,53 Sedang

7 0,50 Sedang

8 0,40 Sedang

9 0,63 Sedang

10 0,53 Sedang

11 0,83 Mudah

12 0,45 Sedang

13 0,53 Sedang

14 0,60 Sedang

15 0,65 Sedang

(47)

17 0,75 Mudah

Sumber : Pengolahan data, 2011.

Berdasarkan tabel uji tingkat kesukaran butir soal pilihan ganda (PG) di atas dapat disimpulkan bahwa, sebagian besar soal berada pada kategori sedang. d. Daya Pembeda

(48)

Keterangan :

DP = daya pembeda J = jumlah peserta tes

JA = banyaknya peserta kelompok atas

JB = banyaknya peserta kelompok bawah

BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu benar

BB = banyaknya peserta kelompok bawah menjawab soal itu benar

PA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar

PB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Adapun kriteria untuk menentukan daya pembeda adalah sebagai berikut. Tabel 3.9.

Berdasarkan hasil perhitungan uji daya pembeda instrumen soal pilihan ganda pada penelitian ini diperoleh data sebagai berikut.

Tabel 3.10.

(49)

9 0,75 Baik

Sumber : Pengolahan data, 2011.

2. Lembar Observasi

Lembar observasi ini dimaksudkan untuk melihat kemampuan siswa dalam mempresentasikan dan menyusun laporan hasil diskusi kelompok mengenai materi kegunungapian. Parameter untuk mengukur kemampuan siswa menyusun laporan hasil diskusi dan kemampuan presentasi didasarkan pada aspek-aspek pada tabel berikut.

Tabel 3.11.

Parameter Penilaian Laporan Hasil Diskusi Kelompok

No Aspek yang dinilai Bobot

1 Sistematika laporan 5

2 Representasi isi laporan 10 3 Penyajian dan penguasan materi 30

4 Ketepatan waktu 5

(50)

Tabel 3.12.

Parameter Penilaian Presentasi Kelompok

No Aspek yang dinilai Bobot

1 Penguasaan materi 20

2 Sistematika penyajian 15

3 Kemampuan penyajian materi 20 4 Kemampuan berargumentasi 15

5 Kemampuan menjawab 20

6 Pengaturan waktu 10

Skor maksimal 100

3. Lembar Kerja Siswa

Lembar kerja siswa (LKS) dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai acuan pembahasan masing-masing kelompok dalam pelaksanaan pembelajaran melalui metode diskusi mengenai materi kegunungapian (vulkanisme).

4. Validasi Multimedia Interaktif

Media pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini berupa

multimedia pembelajaran interaktif yang dirancang sedemikian rupa dengan

menggunakan program flash dalam bentuk sajian yang bersifat tutorial, dalam hal

ini langkah-langkah operasionalisasinya didasarkan kepada instruksi-instruksi

tertentu dengan tujuan untuk memudahkan para siswa dalam mempelajari bahan

ajar yang terangkum di dalam multimedia.

Multimedia pembelajaran interaktif ini berisi tentang materi

kegunungapian (vulkanisme) pada Mata Pelajaran Geografi di SMA kelas X,

(51)

keseluruhan berdurasi sekitar 20 menit, dirancang untuk kegiatan pembelajaran

dalam satu kali pertemuan (dua jam pelajaran) dan disesuaikan dengan kebutuhan

kegiatan penelitian, terbagi menjadi 4 (empat) bagian utama, yaitu bagian A

(Magma), B (Erupsi), C (Pascavulkanik) dan bagian D (Awan Panas) yang

diperuntukan untuk kegiatan pembelajaran di kelas dengan metode diskusi

kelompok, sehingga dalam pelaksanaan penelitian ini, siswa di kelas eksperimen

dibagi menjadi menjadi empat kelompok diskusi yakni Kelompok A (Magma), B

(Erupsi), C (Pascavulkanik) dan Kelompok D (Awan Panas) untuk mendiskusikan

secara kelompok, kemudian melaporkan hasilnya dan mempresentasikan dalam

bentuk presentasi pada diskusi kelas sesuai dengan materi kajiannya

masing-masing.

Multimedia interaktif ini, sebelum digunakan untuk kegiatan penelitian,

terlebih dahulu dilakukan uji produk. Uji produk dilakukan dengan cara meminta

pendapat dan penilaian para ahli dalam rangka kelayakan multimedia interaktif

yang akan digunakan untuk kegiatan penelitian.

Penilaian terhadap aspek-aspek multimedia interaktif kegunungapian dalam

penelitian ini, meliputi :

a. relevansi multimedia interaktif kegunungapian dengan kurikulum/SK/KD.

b. kejelasan tujuan pembelajaran dalam multimedia interaktif.

c. kesesuaian multimedia interaktif dengan tujuan pembelajaran.

d. kemampuan multimedia interaktif dalam menarik perhatian siswa.

e. kemampuan multimedia interaktif dalam memotivasi belajar siswa.

f. kontekstualitas multimedia interaktif yang disajikan.

(52)

h. ketepatan penggunaan metode pembelajaran.

i. sistematika multimedia interaktif.

j. interaktivitas.

k. tampilan multimedia interaktif (teks, gambar, audial, visual, animasi, dll.).

l. kejelasan instruksi dan paparan informasi dalam multimedia interaktif.

m. representasi multimedia interaktif.

n. kreativitas dalam penuangan ide dan gagasan multimedia interaktif.

o. kemampuan multimedia dalam membantu eksplanasi guru.

Adapun hasil penilaian uji produk multimedia interaktif tentang

kegunungapian yang telah divalidasi oleh Dr. Ahmad Yani, Msi. (ahli multimedia

Jur. Pend. Geografi UPI Bandung) dan Ir. Yakub Malik M.pd. (Ahli Geografi

Fisik/ Kegunungapian Jur. Pend. Geografi UPI Bandung) disajikan dalam bentuk tabel pada lampiran C.2.

Berdasarkan hasil validasi ahli multimedia interaktif tentang kegunungapian itu, dapat dijabarkan sebagai berikut : relevansi multimedia interaktif (MMI) kegunungapian dengan kurikulum/SK/KD merupakan suatu hal yang dijadikan

acuan utama dalam pembuatan multimedia yang dicirikan dengan sistematika

(53)

Multimedia interaktif kegunungapian ini dirancang untuk pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran diskusi yang dicirikan dengan adanya pengelompokan materi ajar yang dibuat untuk kelompok A-D dengan sistematika yang disesuaikan dengan indikator. Pembelajaran dengan menggunakan multimedia ini dirancang dengan interaktivitas baik secara indivudial maupun kelompok belajar. Tampilan multimedia interaktif disajikan dalam bentuk teks, gambar, animasi, suara dan video dengan instruksi dan paparan informasi dalam multimedia interaktif yang sangat mudah dipahami sehingga secara umum multimedia interaktif ini diupayakan dapat membantu eksplanasi guru dalam proses pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas.

5. Angket

Instrumen ini digunakan untuk mengetahui respons atau tanggapan siswa terhadap penggunaan multimedia interaktif mengenai materi kegunungapian (vulkanisme). Setiap siswa diminta untuk menanggapi pernyataan-pernyataan dengan alternatif jawaban sebagai berikut : sangat setuju (SS), setuju (S), kurang setuju (KS), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Masing-masing jawaban dikaitkan secara kuantitatif dengan ketentuan nilai SS = 5, S = 4, KS = 3, TS = 2 dan STS = 1.

F. Teknik Analisis Data

(54)

sesudah pembelajaran dihitung dengan rumus faktor g (N-gain) yang dikembangkan oleh Hake (1999) dalam Samsudin (2008 : 88) dengan rumus :

pre

Tabel 3.13. Kriteria Gain yang dinormalisasi

G Kriteria

Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini, meliputi : 1. Penilaian Peserta Didik Berdasarkan Standar Nilai

Penilaian mengenai kemampuan pemahaman konsep siswa pada materi kegunungapian baik pada siswa di kelas eksperimen maupun kontrol setelah perlakuan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan instrumen, sebagai berikut.

a. Tes objektif berbentuk pilihan ganda dengan penskoran maksimal = 1 untuk tiap jawaban benar. Skor total maksimal = 20.

(55)

c. Presentasi hasil diskusi dengan penskoran maksimal = 100

Untuk mengetahui tingkat kemampuan pemahaman konsep kegunungapian secara lebih mendalam setelah dikenai perlakuan baik pada siswa di kelas eksperimen maupun kelas kontrol seyogyanya diukur dari penjumlahan hasil tes pemahaman konsep melalui tes objektif, laporan hasil diskusi dan presentasi masing-masing kelompok akan tetapi karena penskoran yang sangat heterogen dengan rentang nilai yang tidak homogen dan tidak seimbang, maka uji normalitas, homogenitas dan uji hipotesis penelitian untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep siswa pada materi kegunungapian akan dilakukan dengan analisis data hasil tes objektif soal pilihan ganda. Sedangkan analisis data secara keseluruhan untuk mencari perbedaan hasil dan N-gain serta persentase kemampuan pemahaman konsep pada kelas eksperimen dan kontrol akan didasarkan kepada standar nilai berikut.

Tabel 3.14.

Standar Nilai Pemahaman Konsep Kegunungapian

No. Variabel Standar Nilai Persentase Keterangan

1

Pemahaman Konsep Kegunungapian

Sangat tinggi 80 – 100 %

2 Tinggi 66 – 79 %

3 Cukup 56 – 65 %

4 Kurang 40 – 55 %

5 Sangat kurang 39 – 0 %

(Standar nilai diadaptasi dari : Daryanto, 2008 : 211) 2. Uji Normalitas Data

(56)

Dalam penelitian ini, Uji normalitas data dan dilakukan dengan uji statistik kolmogorov-smirnovdengan bantuan software SPSS versi 17 for windows.

Uji normalitas menggunakan SPSS tersebut menghasilkan tiga jenis keluaran, untuk keperluan penelitian cukup perhatikan tabel Test of Normality dan hasil keluaran berdasarkan pada uji Kolmogorov-Smirnov. Untuk menetapkan data yang telah dianalisis normal atau tidak, maka ditetapkan krtiteria sebagai berikut :

a. Tentukan taraf signifikansi uji (α = 0.05)

b. Bandingkan nilai p (p value) dengan taraf signifikansi yang diperoleh. c. Jika signifikansi (Sig) yang diperoleh > α, maka sampel berasal dari

populasi yang berdistribusi normal.

d. Jika signifikansi (Sig) yang diperoleh < α maka sampel bukan berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

3. Uji Homogenitas Data

Uji homogenitas data dilakukan untuk mengetahui apakah varians sampel-sampel yang digunakan homogen atau tidak.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan bantuan software SPSS versi 17 for windows dalam menguji homogenitas data yang diperoleh.

Sama halnya uji normalitas, uji homogenitas juga menghasilkan banyak keluaran, namun kita hanya perlu fokus pada tabel Test of Homogenity of Variance. Interpretasi dilakukan dengan memilih salah satu statistik, yaitu statistik yang didasarkan pada rata-rata (based on mean). Untuk menetapkan data yang telah dianalisis homogen atau tidak, maka ditetapkan krtiteria sebagai berikut:

a. Tentukan taraf signifikansi uji (α = 0.05)

(57)

c. Jika signifikansi (Sig) yang diperoleh > α maka variansi setiap sampel sama (homogen).

d. Jika signifikansi (Sig) yang diperoleh < α maka variansi setiap sampel tidak sama (tidak homogen).

4. Uji hipotesis

(58)

G. Prosedur Penelitian

Penelitian yang dilakukan menggunakan prosedur sebagaimana digambarkan dalam bentuk alur penelitian berikut ini.

Ujicoba Instrumen

(59)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini, antara lain :

1. Berdasarkan uji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji-t diperoleh kesimpulan sebagai berikut : a) terdapat perbedaan hasil tes pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di kelas yang menggunakan multimedia interaktif sebelum dan sesudah perlakuan (pre-post test kelas eksperimen), b) terdapat perbedaan hasil tes pemahaman konsep kegunungapian pada siswa di kelas yang tidak menggunakan multimedia interaktif sebelum dan sesudah perlakuan (pre-post test kelas kontrol), c) tidak terdapat perbedaan hasil tes pemahaman konsep kegunungapian antara siswa di kelas yang menggunakan dan tidak menggunakan multimedia interaktif sebelum perlakuan (pre test kelas eksperimen-kontrol), d) terdapat perbedaan pemahaman konsep kegunungapian antara siswa di kelas yang menggunakan dan tidak menggunakan multimedia interaktif sesudah perlakuan.

(60)

3. Hasil pengisian angket oleh siswa di kelas eksperimen, pada umumnya mereka berpendapat : a) sangat terbantu dalam memahami konsep-konsep kegunungapian yang diajarkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Supriatna (2009 : 13) , bahwa rancangan isi dan desain multimedia interaktif, merupakan visualisasi informasi/proses yang cenderung abstrak (tidak kasat mata), jika ditampilkan melalui multimedia interaktif, akan memudahkan siswa memahaminya” b) interaktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif melalui metode diskusi menjadi sangat tinggi baik secara individu maupun kelompok sehingga proses pembelajarannya tidak lagi bersifat teacher of center. Hal ini sangat sesuai dengan pendapat Supriatna (2009 : 13), bahwa “rancangan isi dan desain multimedia interaktif, memberi peluang untuk menumbuhkan kreatifitas peserta didik melalui kegiatan-kegiatan belajar mandiri”.

(61)
(62)
(63)

individu dan kelompok dalam merumuskan tindak lanjut kegiatan berikutnya yang berhubungan dengan kesepakatan yang telah disetujui bersama (Sudjana, 1995 : 49), f) multimedia interaktif yang dibuat bisa digunakan berulang-ulang oleh guru dan siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Siswa bisa memiliki media tersebut dalam bentuk file atau compact disc (CD). Hal ini sangat berguna ketika siswa ingin mengulang kembali untuk memperdalam pemahaman dan penguasaan materi terkait secara mandiri, mereka dapat dengan mudah mempergunakannya tanpa harus selalu berhubungan dengan guru, g) penggunaan multimedia interaktif berbasis komputer hanya sesuai diimplementasikan di sekolah-sekolah yang mempunyai sarana/prasarana penunjangnya, h) penggunaan multimedia interaktif berbasis komputer hanya sesuai diimplementasikan di sekolah-sekolah dengan latar belakang siswa berkemampuan kognitif dan psikomotorik menengah-atas, sedangkan pada siswa berkemampuan kognitif dan psikomotorik rendah memungkinkan terjadi miskonsepsi pada isi/materi yang dipelajarinya.

B. Rekomendasi

Beberapa hal yang perlu direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian ini, yakni :

(64)

animasi interaktif, simulasi, materi subjek, latihan soal dan evaluasinya serta SK/KD dalam pembelajaran IPS-geografi.

2. Perlunya upaya peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan-pelatihan terutama terkait dengan perancangan multimedia pembelajaran interaktif sehingga pada masa yang akan datang penggunaan multimedia pembelajaran interaktif bisa memberikan hasil maksimal untuk kebutuhan optimalisasi hasil belajar siswa terutama pada aspek pemahaman konsep yang bersifat abstrak dan sulit dipelajari secara langsung khususnya pada mata pelajaran IPS-geografi. 3. Perlu dilakukan kajian lebih lanjut sehubungan dengan penggunaan multimedia

interaktif melalui metode diskusi banyak mendapatkan kendala terkait dengan tata letak meja di ruang multimedia di persekolahan pada umumnya berderet memanjang, sehingga kurang sesuai dengan metode diskusi kelompok, oleh karena itu perlu dikaji jenis metode pembelajaran yang lebih sesuai untuk implementasi pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif.

(65)

DAFTAR PUSTAKA

Al Muchtar, Suwarma. (2008). Strategi Pembelajaran Pendidikan IPS. Bandung : SPs UPI.

Ariani, N. dan Haryanto, Dany. (2010). Pembelajaran Multimedia di Sekolah Pedoman Pembelajaran Inspiratif, Konstruktif dan Prospektif. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. ( 2007). Dasar Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: PT Bumi Aksara.

Arsyad, Azhar. (1997). Media Pembelajaran. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada. Azwar, Saifuddin. (1987). Tes Prestasi. Yogyakarta : Liberty.

Baisa, Idi Rathomy, (2010). Pengaruh Penerapan Media Pembelajaran Berbasis Web terhadap Keterampilan Berpikir Kritis dan Kemampuan Kognitif Siswa Kelas V SD Islam Sabilillah Malang. Malang : UM (Tesis tidak diterbitkan).

Bloom, B.S., (1979). Taxonomy of Educational Objectives ; The Classification of Educational Gools. Hand Book 1 Cognitive Domain. USA : Longman Inc. BSNP. ( 2007 ). Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Jakarta : Badan Standar Nasional Pendidikan.

Budiman, Isep. (2008). Model Pembelajaran Multimedia Interaktif Dualisme Gelombang Partikel untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa. Bandung : SPs UPI Tesis : Tidak diterbitkan

Budiningsih, Asri. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.

(66)

Departemen pendidikan Nasional. ( 2006 ) Pengembangan Model Pendidikan Kecakapan Hidup , Jakarta : Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional. ( 2007 ) Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS ). Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.

Departemen Pendidikan Nasional. ( 2007 ) Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) SMP. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Djamari ( 1992 ). “Sosok Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Menyongsong Perkembangan Masyarakat dalam Globalisasi (Kenyataan dan Harapan )”. Bandung : Media IKA Komisariat FPIPS. 2, 19-25.

Djuwairiyah, Siti. (2007). Penerapan Metode Belajar Aktif Sebagai Upaya Membantu Meningkatkan Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas 6, Dinas Pendidikan Kota Probolinggo.

Elyana Surya, Fuji. (2011). Pengaruh metode role playing terhadap kemampuan komunikasi Peserta Didik. Bandung : Tesis SPs UPI. Tidak diterbitkan. Erliany, Syaodih. ( 2007 ). Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif untuk

Meningkatkan Keterampilan Sosial . Disertasi Doktor pada PPS Bandung : Tidak diterbitkan.

Erliany, S. dan Sukmadinata. ( 2009 ). Implementasi Kurikulum Satuan Pendidikan. Makalah Dalam Seminar Nasional Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia ( HIPKIN ) Tanggal 30 Mei 2009 di Hotel Preanger Bandung : Tidak diterbitkan.

Gulo, W. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Hagget. P. (2001). Geography ; a Global Synthesis. New York: Prentice Hall. Hamalik, Oemar ( 1997). Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru

Algesindo.

Hamalik, Oemar ( 2008 ). Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.

Hamalik, Oemar. ( 2008 ). Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara Hasan, M. Iqbal, (2002). Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta : Ghalia

(67)

Hasan, S.H., ( 1996 ). Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta : Dep. P dan K Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Hayati, Sri., Yani, Ahmad., Waluya, Bagja. (2006). “Penggunaan Media Komik Tanpa Kata untuk Meningkatkan Keberanian Mengungkapkan Pendapat pada Mata Pelajaran Geografi di SMPN 12 Bandung”. Jurnal Geografi Gea. 6, (1), 26-40.

Hemani. (2002). Pengembangan KBK Siswa SMU pada Pembelajaran Struktur Atom dan Sistem Periodik Berbasis Komputer. Bandung : Prosiding Seminar HKI.

Hermita, Neni. (2008). Pembelajaran IPA dengan Model Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Keterampilan Proses Sains Siswa SD. Bandung : Tesis SPs UPI. Tidak diterbitkan.

Ibrahim, H. (1997). Media pembelajaran: Arti, fungsi, landasan pengunaan, klasifikasi,pemilihan, karakteristik oht, opaque, filmstrip, slide, film, video, Tv, dan penulisan naskah slide. Bahan sajian program pendidikan akta mengajar III-IV. FIP-IKIP Malang.

Joyce, B. & Weil, M. (1980). Models of teaching. New Jersey Prentice : Hall International, Inc.

Joyce, Bruce, et al. (2009). Models of Teaching (Model-model Pengajaran) Edisi ke delapan(Terjemahan),Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Karli, H. dan Yuliariatiningsih, MS. (2002). Model-model pembelajaran. Bandung : Bina Media Informasi.

Karno To. (1996). Mengenal Analisis Tes (Pengenalan ke Program Komputer ANATES). Bandung : Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. FIP IKIP.

Kartimi, (2003). Pengembangan Model Pembelajaran Interaktif Berbasis Komputer untuk Bahan Kajian Partikel-Partikel Materi sebagai wahana pendidikan siswa SLTP. Bandung : Tesis UPI.Tidak diterbitkan.

Kaswan.(2005). Peningkatan Pemahaman Konsep dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Melalui Kegiatan Laboratorium Berbasis Inkuiri Pada Pokok Bahasan Rangkaian Listrik arus Searah. Bandung : Tesis UPI Tidak diterbitkan

Gambar

Tabel
Gambar
Grafik
Tabel 1.1.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan kandungan Total Fosfor Danau Rawa Pening dalam kondisi mesotropik, tapi berdasarkan kandungan Total Nitrogen dan kecerahan perairan yang kurang dari 2 meter

Analisis kajian yang dijalankan adalah analisis faktor-faktor yang menyebabkan pengurusan projek pembinaan tidak mengikut spesifikasi kerja oleh Pejabat Daerah Johor Bahru

Pembelajaran keterampilan perlu mengenalkan berbagai bentuk kerajinan dan teknologi tradisional dan modern yang ada di sekitar dan yang berkembang di

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya pada pengeringan dengan Solar Tunnel Dryer (STD) terhadap mutu produk ditinjau

Abstrak: Beberapa penelitian etnomedika yang tercatat dalam dokumen kuno dari beberapa wilayah Indonesia menunjukkan adanya beberapa jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai

diinginkan, atau perubahan yang ingin dicapai melalui kegiatan pengabdian yang akan dilaksanakan. Kondisi sekarang harus dapat dibedakan dengan kondisi baru. Tujuan kerja

[r]

Berdasarkan pengujian hipotesis, telah dibuktikan bahwa terdapat pengaruh positif dari variabel perceived usefulness terhadap online repurchase intention, artinya