• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL TERHADAP GERAK DASAR SISWA SD NEGERI 2 KAYUAMBON.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL TERHADAP GERAK DASAR SISWA SD NEGERI 2 KAYUAMBON."

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL TERHADAP GERAK DASAR SISWA SD NEGERI 2 KAYUAMBON

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi

Oleh :

RIZAL FAISAL 0807741

PRODI PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN

(2)

PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL TERHADAP

GERAK DASAR SISWA SD NEGERI 2 KAYUAMBON

Oleh Rizal Faisal Nim. 0807741

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

© Rizal Faisal 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

Agustus 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

SKRIPSI

PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL TERHADAP GERAK DASAR DAN KEBUGARAN JASMANI SISWA SD NEGERI 2 KAYUAMBON

(Penelitian kuasi eksperimen di SD Negeri 2 Kayuambon di kelas V)

RIZAL FAISAL NIM. 0807741

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING :

Pembimbing I,

Dr. Uhammisastra, MS. NIP.19510622 198002 1 001

Pembimbing II,

Kurnia Eka Wijayanti,. dr. M.KM NIP. 19820322 200801 2 006

Diketahui oleh Ketua Program Studi

Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi

(4)

ABSTRAK

PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL TERHADAP GERAK DASAR SISWA SD NEGERI 2 KAYUAMBON

Pembimbing 1 : Drs. Uhamisastra,. MS.

Pembimbing 2 : Kurnia Eka Widjayanti,. dr. MKM.

”Rizal Faisal”

(5)

ABSTRAC

THE INFLUENCE OF TRADITIONAL GAME TO MOTION BASIC

ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS OF 2 KAYUAMBON

Adviser 1 : Drs. Uhamisastra,. MS.

Advisers 2 : Kurnia Eka Widjayanti,. dr. MKM.

”Rizal Faisal”

This research aims to know the influence of the traditional game of basic motion SD Negeri 2 Kayuambon students. The authors of the research methods used in this research was quasi experiment method by using Pretest-Posttest design research One Grou Design. The population and a sample of research is a student v about 20 people. Samples obtained through sampling techniques purpossive that splits a group of which is the experiment. To answer to the matter and test hypotheses, the use writers tests and measurement as a gatherer of data by using the instruments motor abillity test. The data obtained then tillable and analyzed by using t. test based on the data processing and analysis of data; obtained that t count -- 12,7 & it; of table = t 1,645. In real standards; & ampères.

(6)

DAFTAR ISI

Hal

ABSTRAK………..………... i

KATA PENGANTAR………..………... ii

UCAPAN TERIMAKASIH iii PERNYATAAN... v

DAFTAR ISI ………..………..…... viii

DAFTAR GAMBAR... xi

DAFTAR TABEL... xii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Perumusan Masalah ... 9

D. Tujuan Penelitian ... 10

E. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESISPENELITIAN ... 11

A. Kajian Pustaka... 11

1. Pendidikan Jasmani... 11

2. Tujuan Pendidikan Jasmani ………... 13

3. Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani ………... 15

B Permainan Tradisional ... 16

1. Permainan Tradisional Galah Asin... 18

2. Permainan Tradisional Sondah... 19

3. Permainan Tradisional Bebentengan………... 20

4. Permainan Tradisional Ucing Baledog/Kucing Lempar ... 20

5. Permainan Tradisional Lompat Tali ... 21`

(7)

1. Keterampilan Gerak Lokomotor... 26

2. Keterampilan Gerak Nonlokomotor... 27

3. Keterampilan Gerak Manipulatif... 27

D. Kerangka Pemikiran... 29

E. Hipotesis Penelitian... 30

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 31

A. Metode Penelitian... 31

B. Desain Penelitian... 32

C. Populasi dan Sampel Penelitian... 33

1. Lokasi Penelitian... 33

2. Subjek Penelitian... 33

3. Waktu Penelitian... 33

D. Populasi dan Sampel... 34

1. Populasi... 34

2. Sampel... 34

E. Instrumen Penelitian... 35

1. Tes Motor Abillity untuk Sekolah Dasar... 36

a. Tes Shutle Run 4x10 meter... 36

b. Tes Lempar Tangkap Bola Jarak 1 Meter Dengan Tembok... 36

c. Tes Stork Stand Positional Balance... 37

d. Tes Lari Cepat 30 Meter... 38

F. Prosedur penelitian... 38

1. Tahap Persiapan... 38

2. Tahap Pelaksanaan... 39

3. Tahap Akhir Penelitian... 39

G. Analisis Data... 39

BAB IV HASIL PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ... 42

A. Pengolahan dan Analisis Data... 42

1. Hasil Uji Normalitas... 42

(8)

3. Pengujian Hipotesis... 47

B. Diskusi Penemuan ... 49

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 50

A. Kesimpulan... 50

B. Saran... 50

DAFTAR PUSTAKA... 51

LAMPIRAN – LAMPIRAN ...

1. Lampiran A. Surat Keputusan Skripsi...

2. Lampiran B. Surat Izin Penelitian...

3. Lampiran C. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran...

4. Lampiran E. Foto Penelitian...

5. Lampiran F. Daftar Riwayat Hidup...

54

55

56

57

85

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya pendidikan jasmani merupakan sebuah proses pendidikan

melalui aktivitas jasmani. Melalui proses tersebut, pendidikan jasmani bertujuan

untuk meningkatkan perkembangan anak secara keseluruhan dalam berbagai

aspek. Aspek - aspek tersebut tercakup dalam istilah aspek gerak atau

psikomotorik, perkembangan aspek pengetahuan atau kognitif, serta aspek

perkembangan sikap yang tercakup dalam istilah perkembangan afektif. Sesuai

dengan yang diungkapkan oleh Pusat Kurikulum Depdiknas (2003) yaitu:

Pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan keterampilan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan, penalaran dan pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan serta perkembangan yang seimbang.

Berbicara mengenai tujuan pembelajaran penjas, pendapat lain pun salah

satunya dikemukakan oleh Mahendra (2001 : 2) yaitu terdapat empat tujuan yang

harus dicapai dalam pendidikan jasmani :

1. Tujuan perkembangan fisik (physical development objective) : berkaitan

dengan program yang membangun kekuatan fisik di dalam diri individu

melalui pengembangan berbagai sistem organ tubuh.

2. Tujuan perkembangan gerak (motor development objective)

:berkepentingan dalam rangka meningkatkan kecakapan gerak yang

bermakna sampai tingkat proficient (cakap), graceful (lemah lunglai),

dan aesthetic.

3. Tujuan perkembangan mental (mental developmnet objective):

berhubungan dengan pengakumulasian pengetahuan dalam bidang

olahraga dan meningkatkan kemampuan untuk menggunakan

(10)

2

4. Tujuan perkembangan sosial (sosial development objective):

berkepentingan dalam membantu individu dalam membuat penyesuaian

personal, kelompok serta sebagai anggota masyarakat.

Dari pendapat diatas dapat kita tinjau bahwasannya keterampilan

perkembangan gerak merupakan salah satu indikator dalam tercapainya sebuah

tujuan pembelajaran, dimana di dalamnya tedapat sebuah tujuan untuk

meningkatkan keterampilan gerak yang sejatinya diperlukan oleh siswa dalam

kehidupannya sehari-hari. Hal tersebut sejalan dengan Kurikulum Berbasis

Kompetensi (2004 : 6) yaitu sebagai berikut:

1. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerja sama, percaya diri dan demokratis melalui akivitas jasmani.

2. Mengembangkan kemampuan gerak dan ketrampilan berbagai macam permainan dan olahraga.

3. Mengembangkan ketrampilan pengelolaan diri dalam upaya mengembangkan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani.

Dari pendapat diatas dapat kita lihat bahwa pendidikan jasmani merupakan

bagian integral dari sebuah proses pendidikan secara keseluruhan dan bertujuan

membantu siswa dalam meningkatkan kesegaran jasmani dan kesehatan melalui

pengenalan dan penanaman sikap positif serta kemampuan gerak dasar dalam

berbagai aktivitas jasmani, seperti yang diungkapkan oleh Lutan (2000:2-3),

bahwa :

1. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya yang berkaitan dengan aktivitas jasmani, perkembangan estetika, perkembangan estetika, dan perkembangan sosial.

2. Mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk menguasai keterampilan gerak dasar yang akan mendorong partisipasinya dalam aneka aktivitas jasmani

3. Memperoleh dan mempertahankan derajat kebugaran jasmani yang optimal untuk melaksanakan tugas sehari-hari secara efisien dan terkendali

(11)

3

5. Menikmati kesenangan dan keriangan melalui aktivitas jasmani termasuk permainan olahraga.

Pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang

diselenggarakan di jenjang pendidikan dasar atau sekolah dasar. Dalam proses

belajarnya pendidikan jasmani tidak lepas dari permainan, dan permainan tidak

lepas dari bergerak. Keterampilan gerak adalah suatu kemampuan yang perlu

dikuasai oleh setiap siswa, dan salah satu tujuan progam pendidikan jasmani

diberikan kepada siswa dalam proses kegiatan belajar mengajarnya adalah agar

siswa terampil dalam beraktivitas fisik. Ketrampilan gerak yang diperoleh melalui

aktivitas fisik dalam pembelajaran pendidikan jasmani tidak hanya berguna dan

bertujuan untuk menguasai cabang olahraga tertentu saja, akan tetapi keterampilan

gerak tersebut berguna juga untuk melakukan aktivitas dan tugas fisik dalam

kehidupan sehari-hari. Karena manusia pada kodratnya adalah benda hidup, bukan

benda mati. Benda mati dapat bergerak disebabkan apabila ada gaya eksternal

yang mempengaruhi benda tersebut. Sedangkan benda hidup dapat bergerak baik

karena pengaruh gaya eksternal maupun karena pengaruh gaya internal. Dan

dalam menjalankan aktivitasnya manusia tidak lepas dari bergerak, maka dari itu

keterampilan gerak dirasakan perlu dikuasai oleh seluruh manusia khususnya oleh

siswa sekolah dasar karena keterampilan gerak ini akan menjadi landasan mereka

untuk menguasai kcabangan olahraga yang diminatinya saat mereka beranjak

dewasa.

Ketrampilan gerak bagi anak-anak sekolah dasar diartikan sebagai sikap

perkembangan dan penghalusan aneka ketrampilan gerak yang tentunya berkaitan

dengan permainan olahraga. Ketrampilan gerak ini diupayakan untuk

dikembangkan dan diperhalus agar anak dapat melakukan gerakan dengan benar

dan dilakukan sesuai dengan tenaga yang efektif. Apabila gerakan dasar tersebut

telah dikuasai dengan matang maka selanjutnya akan dikembangkan kepada

sebuah bentuk permainan dan aktivitas olahraga yang bermuara pada kecakapan

siswa dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Meskipun demikian, tentunya dalam

setiap proses pembelajarannya pendidikan jasmani harus sesuai dengan

(12)

4

sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak secara keseluruhan, hal

ini dikarenakan perkembangan dan pertumbuhan fisik secara kususnya akan

berada pada suatu tingkatan yang memungkinkan anak untuk melakukan beberapa

ketrampilan gerak yang kompleks dalam sebuah kecabangan olahraga.

Siswa sekolah dasar merupakan masa yang tepat untuk mendapatkan

pembelajaran yang berkaitan dengan gerakan dasar, karena pada dasarnya fase

anak pada fase 6-12 tahun apabila diberikan beberapa macam bentuk

pembelajaran gerak dasar, maka akan mudah diarahkan ke dalam tahap

perkembangan gerak yang selanjutnya seiring pertumbuhan dan perkembangan

anak itu sendiri. Namun demikian, keberhasilan sebuah pendidikan ditentukan

oleh kualitas dalam proses belajar mengajar itu sendiri. Manusia dalam

kehidupannya tidak lepas dari proses belajar, bayi yang baru lahir pada masa

pertumbuhannya selalu mengalami proses belajar, dan proses belajarnya pun

selalu melalui tahapan-tahapam dari mulai tahapan yang mendasar hingga pada

akhirnya mendapatkan keterampilan gerak yang kompleks. Contoh kecil seperti

ketika seorang manusia yang sedang belajar berjalan, seorang bayi belajar secara

bertahap dari mulai merangkak, kemudian belajar berdiri hingga akhirnya dia bisa

berjalan dengan sempurna. Berkaca dari tahapan belajar itulah maka

pembelajaran gerak dasar dirasakan penting diberikan di sekolah dasar dengan

tujuan agar proses pembelajaran tersebut dapat menjadi sebuah landasan dasar

sebelum anak melakukan keterampilan gerak yang lebih sukar dan lebih

kompleks. Maka dari dapat dikatakan bahwa belajar menduduki peranan penting

dalam kehidupan semua mahluk hidup.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dalam hal ini guru penjas

diharapkan mampu untuk aktif dan kreatif dalam memilih bahan, metode dan alat

bantu yang sesuai dengan karakteristik peserta didik guna tercapainya tujuan

pembelajaran, kususnya dalam konteks ini adalah pembelajaran gerak dasar.

Dengan segala keterbatasannya diharapkan guru harus mampu mengakomodir

kendala-kendala yang ada dalam proses kegiatan belajar mengajarnya. Karena

keberhasilan seorang anak tidak lepas dari peran orang dewasa dan dalam hal ini

(13)

5

orang dewasa, maka guru harus mampu memperhatikan keterbatasan-keterbatasan

yang dimiliki oleh anak, baik rasa takut, keinginan, kebutuhan, dan harapan.

Sehingga diharapkan anak dapat terlibat dalam aktivitas pembelajaran olahraga

dengan cara penuh, tanpa ada paksaan, tentunya dengan rasa senang dan gembira.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa pendidikan jasmani adalah sebuah proses

pendidikan yang sangat digemari dan dinanti-nanti oleh sebagian besar siswa,

khususnya siswa sekolah dasar, karena pada dasarnya siswa-siswi sekolah dasar

senang akan aktivitas yang dinamis seperti aktivitas permainan. Aktivitas

permainan ini terdapat dalam proses pembelajaran penjas. Sukintaka (1992) mengatakan bahwa “kalau anak bermain atau diberi permainan dalam rangka pendidikan jasmani, maka anak akan melakukan permainan itu dengan rasa senang”. Melalui permainan inilah akan terdapat interaksi secara langsung antara siswa dengan guru ataupun antara siswa dengan siswa atau bahkan antara siswa

dengan lingkungan. Dengan demikian secara tidak langsung baik disadari ataupun

tidak disadari anak akan mengungkapkan kepribadian yang sesungguhnya pada

saat mereka bermain, baik berupa watak asli, ataupun kebiasaan yang sering dia

lakukan di kehidupannya sehari-hari. Diharapkan melalui aktivitas permainan

seluruh aspek pertumbuhan dan perkembangan anak akan terlatih dan diharapkan

dapat meningkat seperti perkembangan aspek kognitif, afektif maupun

psikomotorik.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam proses pembelajarannya,

tujuan pembelajaran pendidikan jasmani tidak tercapai dengan baik, karena dalam

proses pembelajarannya tidak terlepas dari kendala-kendala yang dihadapi saat

kegiatan pembelajaran berlangsung. Salah satu kendala yang sering dihadapi

dalam proses kegiatan belajar mengajar penjas diantaranya adalah kurangnya

variasi dan strategi yang di rancang oleh guru dalam kegiatan pembelajaran,

sehingga mengakibatkan siswa merasa jenuh dan bosan ketika melakukan

kegiatan belajar mengajar penjas. Secara tidak langsung hal tersebut dapat

berdampak terhadap rendahnya kemampuan perkembangan gerak (motor

development) siswa sebagai salah satu tujuan pembelajaran. Faktor penyebab lain

(14)

6

jumlah siswa yang banyak, namun sarana dan prasarana pendukung kurang

memadai, sehingga motivasi, partisipasi dan waktu aktiv belajar siswa ketika

kegiatan belajar mengajar berlangsung menjadi kurang optimal. Selain itu jika

kita lihat proses kegiatan belajar mengajar penjas di sekolah-sekolah dasar, pada

umumnya guru kurang memperhatikan karakteristik siswa sekolah dasar yang

senang akan aktivitas permainan. Seperti yang telah dijelaskan Montessori dalam

Uhamisastra (2010) yang menyatakan bahwa :

Bermain adalah dunia anak. Bermain sangat signifikan dengan perkembangan anak secara fisik, sosial, emosional, kognitif. Bermain dapat didefinisikan dalam berbagai cara dan berbagai perspektif, antara lain, bermain melibatkan motivasi intrinsik dan spontanitas anak sebagai individu, bermain aktif melibatkan anak tenggelam dalam dunia mereka sebagai anak, bermain sangat lentur, mendorong diri mereka mampu berubah menyesuaikan diri saat bermain mengikuti berbagai aturan yang dibuat dengan cara-caranya, dalam bermain ada sebuah proses yang dilalui anak, bukan hanya perolehan hasil semata.

Dengan bermain, anak akan melakukan permainan itu secara sukarela dan

tanpa paksaan, karena tujuan dari bermain adalah untuk memperoleh kesenangan.

Yang mana di dalam permainan tersebut tersirat sebuah proses pembelajaran

seperti belajar bekerja sama dengan teman, menghormati lawan, toleransi terhadap

teman, disiplin terhadap peraturan, dll. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan

bahwa aktivitas gerak yang dilakukan oleh anak dalam permainan merupakan

sebuah naluri yang timbul dengan sendirinya dari dalam diri anak itu sendiri,

untuk memenuhi salah satu kebutuhan geraknya dengan melakukan aktivitas

bermain.

Bermain adalah bentuk kegiatan yang dapat dimainkan dimana saja, oleh

siapa saja, berbagai kalangan, berbagai usia, tanpa memandang status sosial.

Bermain dapat dilakukan dengan alat yang sederhana hingga alat yang

memerlukan biaya yang mahal atau bahkan tanpa alat. Bermain merupakan

kegiatan yang dilakukan tanpa adanya paksaan, tanpa didesak oleh rasa tanggung

jawab, serta bermain memiliki tujuan tertentu. Pada dasarnya semua manusia

(15)

7

bermain maka seseorang akan mendapatkan kesenangan, relaksasi, harmonisasi,

sehingga seseorang cenderung akan bergairah dalam melakukan aktivitasnya

sehari-hari. Apalagi jika permainan ini dimainkan oleh anak yang pada dasarnya

memiliki karakteristik yang senang akan aktivitas permainan. Seperti

diungkapkan Rachel Carcon dalam Mahendra (2009:13) bahwa “dunia anak

adalah dunia yang segar, baru, dan senantiasa indah, dipenuhi dengan keajaiban dan keceriaan”.

Lebih jelas lagi Saputra (2002:4) menyatakan bahwa “siswa sekolah dasar

memiliki kekhasan dalam bersikap yang diungkapkannya melalui bermain.”

Karakteristik inilah yang dianggap perlu untuk dieksplorasi bahkan di

kembangkan disetiap kegiatan pembelajaran penjas guna tercapainya tujuan

pembelajaran. Karena pada dasarnya pembelajaran penjas dapat memberikan

dampak yang positif terhadap keterampilan gerak yang kaya sehingga diharapkan

melalui penjas, peserta didik mendapatkan kesehatan jasmani maupun rohani.

Seperti yang di kemukakan oleh Dauer and Pangrazy (1992) dalam Mahendra

(2008:20) mengemukakan bahwa „pembelajaran penjas bisa memberikan

pengaruh dalam meningkatkan kebugaran jasmani dan kesehatan. Terkuasainya

keterampilan fisik yang kaya, serta meningkatkan pengertian siswa dalam

pinsip-prinsip gerak serta bagaimana menerapkannya dalam praktek.‟

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti

berkenaan dengan proses pembelajaran pendidikan jasmani di SD negeri 2

Kayuambon. Ditemukan bahwa pelaksanaan pembelajaran penjas di sekolah

tersebut tidak teratur dan tidak sistematis. Mulai dari kelemahan dalam proses

perencanaan pembelajaran, guru di sekolah tersebut tidak merancang dengan baik

sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran, yang mengakibatkan materi ajar yang

akan diberikan tidak menuju pada sebuah indikator yang diharapkan, seperti

membiarkan siswa bermain terlebih dahulu tanpa diberikan tugas gerak yang

seharusnya diberikan, tidak mengacu pada materi ajar yang seharusnya diberikan

serta kuarangnya inovasi guru dalam merancang sebuah kegiatan belajar yang

mampu merangsang siswa agar mampu berpartisipasi aktiv dalam kegiatan

(16)

8

dalam melakukan tugas ajar yang diberikan oleh guru tidak maksimal, siswa

merasa jenuh dan merasa bosan, hal tersebut dapat dilihat dari partisipasi siswa

pada saat kegiatan belajar mengajar tidak 100% aktiv bergerak.

Maka dari itu, alternatif yang akan diimplementasikan dalam penilian ini

adalah proses pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa yang senang

akan permainan. Maka peneliti akan mencoba sebuah proses pembelajaran yang

diharapkan mampu memperbaiki gerak dassar siswa melalui aktivitas permainan

tradisional. Permainan tradisional mudah dilakukan, tidak memerlukan lapangan

yang khusus, peralatan sederhana, bersifat massal, namun sangat menarik dan

berguna untuk meningkatkan kesehatan, kesegaran jasmani, keterampilan gerak

dasar, dan meningkatkan komponen tubuh seperti kelincahan dan keterampilan

cabang olahraga. Salah satu pertimbangan lainnya yaitu permainan tradisional

dapat dilakukan di tingkat Sekolah Dasar. Senada dengan apa yang dikemukakan

oleh Saputra (2002 : 63) yaitu

Untuk membina dan meningkatkan aktivitas pengembangan kemampuan daya gerak siswa sekolah dasar, maka guru pendidikan jasmani perlu merancang bentuk-bentuk yang menarik bagi siswa usia sekolah dasar. Pendekatan bermain, menjadi kata kuncinya, karena siswa sekolah dasar memiliki karakteristik belajar sambil bermain.

Maka dari itu pendapat diatas dapat dijadikan sebagai landasan dalam

melakukan penelitian ini. Karna diharapkan apabila aktivitas permainan itu

disusun secara terencana dan bentuk-bentuk permainan dan peraturan yang

dirancang sedemikian rupa oleh guru, maka bentuk permainan tersebut akan

menarik dan menyenangkan untuk para pesrta didik. Jika dilakukan dengan

suasana renang gembira, maka kesempatan mereka bergerak akan lebih banyak

dan seyogianya hal tersebut dapat memberikan dampak yang positif bagi

(17)

9

B. Identifikasi Masalah

Bertitik tolak dari keterangan-keterangan di atas, mendorong penulis untuk

meneliti sejauh mana pendekatan permainan tradisional dapat memberikan

pengaruh terhadap gerak dasar siswa SD Negeri 2 Kayuambon.

Agar penelitian ini terfokus pada suatu permasalahan yang di angkat oleh

penulis, penulis akan membatasi fokus penelitian terhadap gerak dasar siswa.

Selain itu agar penelitian ini lebih terencana dengan baik, penulis memilih

beberapa jenis permainan tradisional yang akan diberikan kepada siswa, jenis

permainan tersebut merupakan jenis permainan yang memiliki karakteristik yang

hampir sama dengan unsur-unsur yang ada di dalam gerak dasar, dimana di dalam

permainan tersebut terdapat unsur lari, lompat, dan lempar. Maka permainan

tradisional yang akan di berikan kepada siswa merupakan permainan yang di

dalamnya terdapat unsur-unsur tersebut, dengan tujuan agar penelitian ini lebih

terperinci dan untuk menghindari kesalah pahaman yang mungkin terjadi.

Beberapa permainan tradisional yang penulis sajikan dalam penelitian ini adalah

permainan tradisional yang umunya berada di daerah Jawa Barat. Dari sekian

banyak macam-macam permainan tradisional yang tersebar di Jawa Barat, peneliti

memilih 5 macam permainan tradisional saja yang dianggap memiliki

karakteristik yang sama dengan bidang kajian yang akan di teliti oleh peneliti.

Permainan tradisional itu diantaranya adalah permainan tradisional galah asin,

permainan tradisional sondah, permainan tradisional bebentengan, permainan

tradisional ucing baledog, dan permainan tradisional lompat tali.

C. Perumusan Masalah

Untuk membatasi ruang lingkup penelitian, maka disusun rumusan

pertanyaan penelitian sebagai berikut :

(18)

10

D. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin di capai oleh peneliti adalah sebagai berikut :

“Untuk mengetahui apakah permainan tradisional dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap gerak dasar siswa SD Negeri 2

Kayuambon.”

E. Manfaat Penelitian

Dengan dilaksanakan penelitian ini peneliti berharap dapat memberikan

kontribusi positif terhadap proses belajar mengajar penjas khususnya dalam

penerapan materi ajar yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar yang

pada dasarnya senang akan aktivitas bermain. Selain itu peneliti berharap agar

penelitian ini bermanfaat dan memberikan kontribusi positif terhadap penguasaan

(19)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penggunaan sebuah metode dalam penelitian bertujuan agar dapat

memperoleh data yang dapat mengungkap permasalahan yang ingin diselesaikan.

Hal ini seperti yang di jelaskan oleh Sugiyono (2011)“bahwa metode penelitian

pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan

kegunaan tertentu”. Pendekatan yang akan di implementasikan dalam penelitian

ini adalah pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (20011:8) bahwa:

Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Peneliti mengambil pendekatan ini dikarenakan beberapa hal. Pertama,

data yang dikumpulkan bersifat kuantitatif atau dapat dihitung atau diukur. Kedua,

penelitian ini membutuhkan hipotesis atau pertanyaan yang perlu dijawab untuk

membimbing arah dalam pencapaian tujuan penelitian. Ketiga, analisis data

dilakukan dengan menggunakan statistika. Keempat, instrumen yang digunakan

valid (dapat dipercaya) dan reliable (andal).

Mengenai bentuk dan jenis metode penelitian yang digunakan dalam

sebuah penelitian biasanya disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam

sebuah penelitian tersebut. Di samping itu, penggunaan metode tergantung kepada

permasalahan yang akan dibahas, dengan kata lain penggunaan suatu metode

harus dilihat dari efektivitasnya, efisiennya, dan relevansinya metode tersebut.

Suatu metode dikatakan efektif apabila selama pelaksanaan dapat terlihat adanya

perubahan positif menuju tujuan yang diharapkan. Sedangkan suatu metode dapat

dikatakan efisien apabila penggunaan waktu, fasilitas, biaya dan tenaga dapat

(20)

32

Metode dikatakan relevan apabila waktu penggunaan hasil pengolahan dengan

tujuan yang hendak dicapai tidak terjadi penyimpangan.

Metode penelitian yang digunakan penulis untuk mengungkap

permasalahan dalam penelitian ini adalah dengan metode penelitian eksperimen.

Sugiyono (2011:72) mengemukakan bahwa “metode penelitian experimen dapat

diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh

perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan”.

Selanjutnya Sugiyono (2011:73) membagi jenis penelitian eksperimen

berdasarkan desain menjadi empat jenis, yaitu Pre-experimental Design,

True-experimental Design, Factorial Design, dan Quasi Experimental Design. Dari ke

empat jenis desain penelitian tersebut, peneliti menggunakan pendekatan desain

Quasi Experimental Design.

B. Desain Penelitian

Desain yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian

pretest-postest one group design”. Bentuk desain penelitian ini merupakan

bentuk pengembangan dari Quasi Experimental Design. Desain ini tidak

mempunyai kelompok kontrol dan hanya memnggunakan kelompok eksperimen..

Selanjutnya kelompok eksperimen tersebut diberikan tes awal yang disebut

dengan Pretest kemudian diberikan perlakuan, setelah itu diberikan posttest

dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan hasil perbedaan hasil dari penelitian.

Berikut ini adalah gambar desain penelitian yang digunakan beserta

keterangan.

R = O1  X  O2

Keterangan:

R = Random menentukan sampel dengan cara acak.

X = treatment yang diberikan kepada sampel yaitu permainan tradisional.

O1= pre-testtes awal sebelum perlakuan yang diberikan pada kelompok

(21)

33

O2 = post-testtes akhir setelah perlakuan yang diberikan pada kelompok

eksperimen.

C. Lokasi dan Subjek Penelitian

1. Lokasi penelitian

Penulis mengambil lokasi penelitian ini di Sekolah Dasar Negeri 2

Kayuambon. Kec. Lembang. Kab. Bandung Barat. Penulis memilih SDN 2

kayuambon dikarenakan menurut guru penjas di SD tersebut sejauh ini belum

pernah ada penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran penjas yang dilakukan

di SD tersebut.

2. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi kelas V tahun

ajaran 2012/2013. Peneliti memilih subyek tersebut berdasarkan atas kebutuhan

penelitian itu sendiri dan berdasarkan atas situasi dan kondisi sekolah tersebut

dengan tujuan agar lebih memudahkan dalam pelaksanaan penelitian karena

siswa-siswi kelas V telah memiliki cukup pemahaman dan lebih kooperative

untuk kebutuhan penelitian ini dibandingkan dengan kelas rendah. Selain itu

pemilihan subjek tersebut atas dasar saran dan masukan-masukan guru penjas dan

guru-guru di sekolah tersebut sehingga peneliti memutuskan untuk mengambil

subjek penelitian akan di lakukan pada kelas V.

3. Waktu Penelitian

Waktu untuk pemberian perlakuan selama penelitian adalah selama tiga

bulan yang dilaksanakan pada bulan Januari – April 2013. Waktu pembelajaran 1

kali pertemuan setiap minggu untuk dua kelompok perlakuan. Lama waktu

penelitian selama 4 jam pelajaran yang setiap jam pelajaran adalah 35 menit.

Jumlah minggu efektif dalam semester 2, tahun ajaran 2012/2013 yaitu sebanyak

12 minggu. Sehingga perlakuan diberikan sebanyak 12 kali pertemuan,

(22)

34

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2010:117). “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 2 Kayuambon Lembang. Populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V yang berjumlah 80 orang. Peneliti

memilih populasi tersebut berdasarkan pertimbangan waktu, tempat, sarana dan

prasarana. serta atas dasar kesepakatan dengan guru PJOK SDN 2 Kayuambon

tersebut.

2. Sampel

Mengenai sampel Arikunto (2006:17) mengatakan bahwa : “Sampel

adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti). Sampel

penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagian sumber data dan

dapat mewakili seluruh populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat

mewakili seluruh populasi”. Sugiyono (2009:57) memberikan pengertian bahwa : “Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang memiliki oleh populasi”.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sampel

adalah bagian dari populasi ysng mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang

akan diteliti. Karena tidak semua data dan informasi akan diproses dan tidak

semua orang atau benda akan diteliti melainkan cukup dengan menggunakan

sampel yang mewakilinya.

Teknik pengambilan sampel atau teknik sampling adalah suatu cara

mengambil sampel yang representatif dari populasi. Pengambilan sampling ini

harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel yang benar-benar

dapat mewakili dan dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya.

Pada kesempatan ini penulis mempergunakan teknik Sampling purposif

yang dikenal juga dengan sampling pertimbangan, terjadi apabila pengambilan

sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan perorangan atau pertimbangan

(23)

35

dimiliki setiap anggota populasi. Sehingga akan terbentuk kelompok-kelompok

yang memiliki tingkat anggota yang merata.

Sampel dalam penelitian adalah SD Negeri 2 Kayuambon Lembang.

Karena populasinya 80 orang maka peneliti ini mengambil sampel 20%, minimal

20 orang sebagai kelompok kontrol dari jumlah populasi. Hal ini sesuai dengan

pendapat Arikunto (2006:112) yang mengemukakan bahwa :

Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih.

Bedasarkan pernyataan diatas, penulis menetapkan jumlah sampel yang

akan diteliti adalah 20% dari jumlah populasi, dari hasil perhitungan yang penulis

uraikan dengan lebih jelas tentang teknik samplingnya dilakukan, maka sampel

yang diperoleh sebanyak 20 orang.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan sebuah alat pengumpul data. Menurut

Sudjana dan Ibrahim (2009 : 99) mengemukakan bahwa instrumen dibedakan

menjadi beberapa jenis, antara lain 1) Tes, 2) wawancara dan kuisioner, 3) daftar

inventory, 4) Skala pengukuran, 5) observasi, dan 6) sosiometri.Dalam penelitian

ini penulis menggunakan tes sebagai alat pengumpulan datanya.Menurut Sudjana

dan Ibrahim (2009:100) bahwa :

Tes adalah alat ukur yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang diharapkan baik secara tertulis atau secara lisan atau secara perbuatan. (tes tulisan, lisan, tindakan). Hasil pengukuran biasanya berupa data kuantitatif (sebagaian besar) bisa pula berupa data kualitatif. Data kuantitatif dari alat ukur ini umumnya data interval, sehingga dapat diperoleh dengan teknik-teknik statistika. Ada dua jenis tes, yaitu tes prestasi belajar (achievement test) dan tes intelegensi/bakat/kecerdasan.

Tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa Instrument tes yang

(24)

36

dasar. Adapun tes yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Tes Motor Ability untuk Sekolah Dasar

Tes motor abilty ini digunakan untuk mengukur kemampuan gerak dasar

bagi siswa sekolah dasar. Menurut Cholil dan Nurhasan (2007:135) menjelaskan

bahwa “Tes ini mempunyai reliabilitas sebesar 0,93 dan validitasnya sebesar 0,87.” Tes ini terdiri dari 4 butir tes yaitu :

a. Tes shutle Run meter

1) Tujuan : Mengukur kelincahan dalam bergerak mengubah arah

2) Alat/Fasilitas : Stop watch, lintasan yang lurus dan datar dengan jarak 10

meter

Tes Shuttel Run di SD Negeri 2 Kayuambon

b. Tes lempar tangkap bola jarak 1 meter dengan tembok

1) Tujuan : Mengukur kemampuan koordinasi mata dan tangan

2) Alat/fasilitas : bola tenis, stopwatch, tembok/dinding

3) Pelaksanaan : Subyek berdiri di belakang garis batas sambil

memegangbola tenis dengan kedua tangan di depan dada. Aba-aba “ya”

subyek dengan segera melakukan lempar tangkap ke dinding selama 30

(25)

37

Tes Lempar Tangkap di SD Negeri 2 Kayuambon

c. Tes Stork Stand Positional Balance

1) Tujuan : Mengukur keseimbangan tubuh

2) Alat/fasilitas : Stop watch

3) Pelaksanaan : Subyek berdiri dengan tumpuan kaki kiri, kedua tangan

bertolak piggang, kedua mata dipejamkan, lalu letakkan kaki kanan pada

lutut kaki kiri sebelah kanan. Pertahankan sikap tersebut selama mungkin.

4) Skor : Dihitung waktu yang dicapai dalam mempertahankan

(26)

38

d. Tes Lari Cepat 30 meter

1) Tujuan : Mengukur kecepatan lari

2) Alat/Fasilitas : Stop watch, lintasan lurus dan rata sejauh 30 meter,

bendera

3) Pelaksanaan : Start dilakukan dengan berdiri. Pada aba-aba “bersedia”

subyek berdiri dengan salah satu ujung kakinya sedekat mungkin dengan

garis start. Aba-aba “siap” subyek siap untuk lari menuju garis finish

dengan jarak 30 meter, sampai melewati garis finish.

4) Skor : Dihitung waktu yang di tempuh dalam melakukan lari

Tes Lari Cepat 30 meter di SD Negeri 2 Kayuambon

F. Prosedur penelitian

Secara garis besar penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu tahap

persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengolahan hasil penelitian. Secara rinci

tahapan-tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut.

1. Tahap Persiapan

Beberapa langkah yang dilakukan dalam tahapan ini diantaranya :

a. Mengajukan judul dan menyusun proposal penelitian.

b. Melaksanakan seminar proposal.

c. Mengidentifikasi permasalahan, merencanakan kegiatan pembelajaran

(27)

39

e. Mengurus perizinan untuk pelaksanaan penelitian.

f. Menentukan sampel penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan

Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Memilih sampel.

b. Melaksanakan pretes

c. Mengolah hasil tes awal (pretes)

d. Melaksanakan perlakuan (treatmen)

e. Melaksanakan posttes

f. Melakukan pengumpulan data

g. Mengolah hasil data

h. Membuat kesimpulan dan saran

3. Tahap akhir penelitian

Tahap akhir merupakan tahap bagi peneliti untuk mengolah dan

menganalisis data yang diperoleh dari tes akhir kemudian membuat laporan

penelitian

G. Analisis Data

Setelah data terkumpul dari hasil tes awal dan tes akhir. Selanjutnya data

tersebut diolah dan dianalisis secara statistik. Langkah-langkah pengolahan data

tersebut, ditempuh dengan prosedur sebagai berikut :

1. Mencari nilai rata-rata ( ̅) dari setiap kelompok data dengan rumus :

̅ ∑

Keterangan tanda dalam rumus diatas adalah :

̅ : Rata-rata suatu kelompok n : Jumlah sampel

Xi : Nilai data

(28)

40

2. Mencari simpangan baku dari setiap kelompok data dengan menggunakan

rumus :

√∑ ̅

Keterangan tanda dalam rumus diatas adalah :

S : Simpangan baku yang dicari

n : Jumlah sampel

∑ ̅ : Jumlah kuadrat nilai data dikurangi rata-rata 3. Rumus yang digunakan adalah uji chi kuadrat. Dengan rumus

4. Menguji homogenitas sampel dengan menggunakan :

Kriteria pengujian homogenitas adalah terima hipotesis jika Fhitung

lebih kecil dari Ftabel distribusi dengan derajat kebebasan = (V1.V2) dengan

taraf nyata (α) = 0,05.

5. Pengujian signifikan peningkatan hasil pembelajaran, dengan

menggunakan uji t-test. Uji yang digunakan adalah uji perbedaan mean.

Uji ini dapat menggambarkan bahwa terdapat peningkatan atau tidak

mengenai hasil penguasaan gerak dasar di SDN 2 Kayuambon yang

diberikan melalui pembelajaran permainan tradisional dengan cara

membandingkan hasil pretest dengan posttest. Sedangkan syarat untuk

menguji signifikansi, yaitu datanya harus berdistribusi normal dan

variansinya homogen. Jika berdistribusi normal dan homogen maka rumus

statistik yang digunakan yaitu uji t, dengan rumus sebagai berikut:

(29)

41

Sesuai dengan masalah penelitian dan tujuan penelitian, maka teknik

analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik korelasional

sederhana. Dengan kriteria sebagai berikut.

1) Jika t hitung < dari t tabel berarti Ha diterima dan Ho ditolak

(30)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Secara umum penelitian ini menyimpulkan bahwa : aktivitas permainan

tradisional pada dasarnya dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap

peningkatan hasil gerak dasar siswa SD Negeri 2 Kayuambon, akan tetapi tidak

dapat memberikan pengaruh yang signifikan. Hal ini terlihat dari adanya

peningkatan dari hasil pretest dan posttest.

B. SARAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan dan hasil pengolahan analisis data,

peneliti dapat memberikan saran khususnya untuk sekolah tempat penelitian

dilaksanakan. Berikut saran-saran dari peneliti :

1. Dalam meningkatkan hasil pembelajaran gerak dasar, kita dapat

menggunakan penerapan permainan tradisional sebagai acuan dalam

memilih materi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa

sekolah dasar.

2. Dalam memberikan materi pembelajaran guru harus memperhatikan

tingkat kelelahan siswa, sehingga pembelajaran berjalan dengan efektif.

3. Untuk penelitian selanjutnya dirasakan alangkah lebih baik jika

menggunakan subyek yang lebih banyak, intensitas waktu yang lebih

(31)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Rithaudin. (2011:31). Survai Model Aktivitas Pengembangan

Keterampilan Gerak dasar Di Sekolah dasar Se-Kecamatan Pengasih Kulon Progo. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia. Jurusan Pendor. FIK.

UNY

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Ateng, Abdulkadir. (1992). Asas dan landasan pendidikan jasmani. Jakarta : Depdikbud : Dirjen Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan

Abduljabar, Bambang. (2009). Manajemen pendidikan Jasmani dan Olahraga. FPOK UPI. Bandung

Eddiyana, dkk. (2002:8). Model Pembinaan Olahraga Tradisional Jawa Barat. Kerjasama Pemprov. Jabar dan FPOK UPI

Giriwijoyo, dkk. (2007). Ilmu Faal Olahraga. Jurusan PKO. FPOK. UPI.

Harsono. (1998:216). Coaching dan Aspek-Aspek Psikologis Dalam Coaching. Depdikbud, Dijren Dikti: Proyek Pengembangan Lembaga Kependikan. Jakarta.

Juliantine Tite, dkk. (2012:108) Belajar dan Pembelajaran Penjas. FPOK. UPI.

Kurikulum Berbasis Kompetensi. (2004)

Kurikulum Depdiknas. (2003)

Lutan. (1980:305). Perkembangandan Belajar Gerak Buku I. Jakarta: Depdikbud.

Lutan. (1988). Belajar Keterampilan Motorik, Pengantar Teori dan Metode. Departemen P&K Dirjen Dikti Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan. Jakarta

Lutan. (2001). Asas-Asas Pendidikan Jasmani. Pendekatan Pendidikan Gerak di

Sekolah Dasar. Dirjen Olahraga. Depdiknas.

Lutan. (2001:61). Strategi Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

(32)

52

Lutan. (2005). Teori Belajar Keterampilan Motorik Konsep dan Penerapannya. Program Pasca Sarjana. UPI. Depdiknas.

Lutan, dan Toho. ( 1996/1997:85). Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Depdikbud

Lutan, dkk. (2001). Pendidikan Kebugaran Jasmani Orientasi Pembinaan

Disepanjang Hayat. Dirjen Olahraga. Depdiknas.

M. Furqon H. (2002). Pembinaan Olahraga Usia Dini. Surakarta: Pusat Penelitian Dan Pengembangan Keolahragaan (Puslitbang-OR) Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Mahendra, Agus. (2009:3). Asas dan Falsafah Pendidikan Jasmani. Bandung

Mahendra, Agus. (2001). Pembelajaran Senam di Sekolah Dasar. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional

Mahendra, Agus. (2008). Bahan Ajar PLPG Penjas SMA/SMK. Tim Penyusun Naskah Penjas FPOK UPI.

Mahendra. (2001:2). Pembelajaran Senam di Sekolah Dasar. Sebuah Pendekatan

Pembinaan Pola Gerak Dominan. FPOK. UPI.

Metzler. (2000:347). Instructional Models for Physical Education. Copyright. 2000 by Allyn & Bacon. A Pearson Education Company Needham Heights, Massachustts 02194

Moeloek Dangsina. (1984:1). Dasar Fisiologi Kesegaran Jasmani dan Latihan

Fisik Dalam Buku: Kesehatan dan Olahraga. FK UI Jakarta.

Nurhasan. (1991). Tes dan Pengukuran Pendidikan Olahraga. FPOK-IKIP Bandung.

Nurhasan dan Cholil. (2007). Tes dan Pengukuran Keolahragaan. Jurusan Kepelatihan. Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. UPI. BANDUNG.

Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar dan Madrasah Iftidaiyah. Jakarta. Depdiknas.

(33)

53

Saputra. (2002). Pembelajaran Atletik di Sekolah Dasar. Depdiknas. Jakarta

Saputra. (2005). Modul Filsafat Olahraga. FPOK. UPI

Sudarno. (1992:6). Pendidikan Kesegaran Jasmani. Depdikbud, Dirjendikti. PPTG.

Sudjana. (2009). Metoda Statistika. Penertbit “Tarsito” Bandung.

Sugiyanto. (2001:4.27-4.32). Perkembangan Dan Belajar Motorik. Universitas Terbuka

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung

Suherman. (2008). Bahan Ajar PLPG Penjas SMA/SMK. Tim Penyusun Naskah Penjas FPOK UPI.

Sukintaka. (1992) Teori Bermain Untuk D.2 PGSD Penjaskes. Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan

Sukintaka, dkk. (1979) Permainan dan Metodik Buku II Untuk SGO. Depdikbud

Sumosardjuno. (1989). Petunjuk Praktis Kesehatan Olahraga. Jakarta: Pustaka Karya Grafita Utama

Supandi dan Seba, (1983). Dasar-dasar Belajar Gerak. Jakarta.

Uhamisastra. (2010). Pengaruh Pendekatan Belajar Kooperatif dan Belajar

Kompetitif Serta Kemampuan Motorik Terhadap Pengembangan Self Esteem Melalui Kegiatan Olahraga Permainan Pada Siswa SD. Disertasi.

UPI

Yudha. (2008). Perkembangan dan Belajar Motorik. Bandung. UPI.

http://id.wikipedia.org/wiki/Galah_Asin

safawi.multiply.com/ 2007 Wikipedia Indonesia

http://www.neosavata.com/permainan-tradisional

http://disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=1013&lang=id

(34)

54

Gambar

Tabel 3.1 kriteria penilaian
Tabel 3.2 kriteria penilaian

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan pendapat diatas, permainan tradisional dapat dijadikan sebagai media untuk pembelajaran dalam mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga di

Simpulan penelitian ini adalah melalui permainan gunungan dapat meningkatkan hasil belajar gerak dasar lompat dalam pembelajaran Penjas siswa kelas III SD Negeri 2

Maka penulis mengajak dan menganjurkan kepada guru pendidikan jasmani khusunya guru penjas SD Negeri Cigondewah untuk menerapkan permainan tradisional dalam pembelajaran

Berdasarkan observasi dan hasil penelitian tersebut dalam penelitian “Hubungan Permainan Tradisional Betengan Terhadap Gerak Lokomotor” dapat disimpulkan bahwa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keterampilan sosial siswa sekolah dasar setelah menerima pembelajaran permainan tradisional di SD Negeri Ngrancah

Dari penjabaran diatas maka dapat disimpulkan bahwa baik permainan invasi maupun permainan netting memberi pengaruh terhadap perkembangan gerak dasar fundamental siswa.

Atas dasar uraian di atas, maka perlu untuk melakukan penelitian tentang " Pengaruh Permainan Tradisional Egrang Terhadap Kemampuan Keseimbangan Motorik Kasar Pada Siswa SD Negeri

dengan demikian thitung> ttabel 2,238> 1,70 dengan demikian dapat disimpulkan Ada Pengaruh Permainan Tradisional Terhadap Peningkatan Gerak Dasar Lokomotor Pada Siswa Kelas III UPTD