• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. karena adanya Stockholm Declaration ini, baik pada taraf nasional, regional maupun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. karena adanya Stockholm Declaration ini, baik pada taraf nasional, regional maupun"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Perubahan iklim menjadi isu utama di dunia saat ini. Hampir semua negara memfokuskan diri pada upaya mengurangi dampak perubahan iklim yang sudah semakin nyata terhadap kehidupan manusia. Dampak perubahan iklim ini menyadarkan semua pihak untuk bertindak sesuatu guna menyelamatkan kehidupan manusia di bumi.

Kepedulian sekelompok manusia saja terhadap lingkungan hidup tidak cukup oleh karena perubahan suatu lingkungan bukan saja berdampak secara lokal, tetapi sering dapat pula berdampak global. Misalnya saja menguapnya chlorofluorocarbons (CFCs) yang dipakai dalam air conditioning (AC), lemari es, dan plastik foams ke dalam atmosfer bagian atas, telah merusak lapisan stratospheric ozone yang melindungi kita dari radiasi ultraviolet yang membahayakan. Sekalipun CFCs tersebut berasal dari AC dan lemari es di Indonesia tetapi akibatnya terasa diseluruh dunia. Itulah sebabnya mengapa “United Nations Conference on the Human Environment” yang diselenggarakan di Stockholm tanggal 5-16 Juni 1972 telah menegaskan dalam rumusan kedua dari hasil konperensi itu bahwa pengelolaan lingkungan hidup demi pelestarian kemampuan lingkungan hidup merupakan kewajiban dari segenap umat manusia dan setiap pemerintah di seluruh dunia.1

Perkembangan hukum lingkungan telah memperoleh dorongan yang kuat karena adanya Stockholm Declaration ini, baik pada taraf nasional, regional maupun internasional. Keuntungan yang tidak sedikit adalah mulai tumbuhnya kesatuan pengertian dan bahasa di antara para ahli hukum dengan menggunakan Stockholm

1Abdurrahman, Pengantar Hukum Lingkungan Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,

(2)

Declaration sebagai referensi bersama.2Berbagai forum internasional terus digelar untuk membahas tindakan nyata mengatasi perubahan iklim yang antara lain diselenggarakan di Copenhagen, Denmark, tanggal 7-12 Desember 2009.

Inti hakekat masalah lingkungan hidup adalah memelihara hubungan serasi antara manusia dengan lingkungan. Pembangunan menimbulkan perubahan, baik dalam lingkungan alam maupun dalam lingkungan sosial, maka penting diusahakan agar perubahan-perubahan lingkungan ini tidak sampai mengganggu keseimbangan hubungan antara manusia dengan lingkungan.3

Menyadari perlunya dilakukan pengelolaan lingkungan hidup demi pelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan, maka Indonesia yang berada pada posisi yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, wajib mengembangkan dan melestarikan lingkungan hidup agar dapat tetap menjadi sumber penunjang hidup bagi bangsa dan rakyat Indonesia serta makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu dalam setiap GBHN dicantumkan landasan bagi kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Dalam GBHN 1999-2004 dicantumkan antara lain:

a. Mengelola sumber daya alam dan memelihara daya dukungnya agar bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dari generasi ke generasi. b. Meningkatkan pemanfaatan potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup

dengan melakukan konversi, rehabilitasi dan penghematan penggunaan dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan.

2

Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, (Yogyakarta, Gajah Mada University

Press, 1999), hal. 11.

3Emil Salim, Pembangunan Berwawasan Lingkungan, (Jakarta : LP3ES, P.T. Media Surya

(3)

c. Mendelegasikan secara bertahap wewenang pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam secara selektif dan pemeliharaan lingkungan hidup sehingga kualitas ekosistem tetap terjaga, yang diatur dengan undang-undang.

d. Mendayagunakan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal, serta penataan ruang, yang pengusahaannya diatur dengan undang-undang.

e. Menerapkan indikator-indikator yang memungkinkan pelestarian kemampuan keterbaruan dalam pengelolan sumber daya alam yang dapat diperbarui untuk mencegah kerusakan yang tidak dapat balik.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 sebagai landasan konstitusional bagi penyelenggaraan pemerintah dalam Pasal 33 ayat (3) menyebutkan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dkuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Hal yang sama dipertegas lagi pada tahun 1982, dimana Indonesia untuk pertama kalinya mengundangkan suatu undang-undang yang sangat penting mengenai pengelolaan lingkungan hidup, yaitu Undang-undang No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, selanjutnya Undang-undang ini telah diganti dengan Undang-Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan kemudian kembali diganti dengan Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (selanjutnya disebut UUPPLH).

Kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup dalam setiap GBHN dan diundangkannya UUPPLH tersebut merupakan tanggapan (response) pemerintah dan

(4)

bangsa Indonesia terhadap hasil “United Nations Conference on the Human Environment” yang diselenggarakan tanggal 5-16 Juni 1972 di Stockholm.

Perubahan iklim timbul dari hubungan sebab akibat antara efek rumah kaca dan pemanasan global, maka keberlanjutan bisnis perbankan juga merupakan hubungan sebab akibat antara perilaku bisnis dan lingkungan. Kesadaran ini dimiliki oleh kalangan perbankan demi menyelamatkan lingkungan, sebagai motor penggerak roda perekonomian negara maka perbankan dalam era perubahan iklim layak memberikan kontribusi optimal.

Perbankan perlu beradaptasi secara interdepedensial dengan lingkungan, dalam hal ini dikenal dengan istilah green banking, sebagai cara untuk memenangkan persaingan pasar sekaligus turut melestarikan lingkungan, karena perbankan tidak bisa hidup tanpa lingkungan yang memadai. Ini tercermin dari aspek iklim usaha yang baik maupn lingkungan hidup yang lestari.

Pembiayaan proyek pada bank yang berwawasan lingkungan (green banking) telah terbukti dapat meningkatkan daya saing dan memberi keunggulan tersendiri dalam strategi bisnis. Dengan demikian, perbankan diharapkan dapat meningkatkan peran dan perhatian terhadap pembiayaan kepada proyek-proyek yang mempunyai perhatian terhadap peningkatan kualitas lingkungan hidup.

Peran serta sektor perbankan dalam rangka mendukung pengelolaan lingkungan hidup (green banking) sejalan dengan undang-undang dan diamanatkan dalam Pasal 8 Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 10 Tahun 1998, yang berbunyi bahwa:

(5)

(1) Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan syariah, Bank Umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisa yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan.

Dengan demikian keyakinan berdasarkan analisa yang mendalam dalam memberikan kredit atau pemiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang sehat, bank harus pula memperhatikan hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) bagi perusahaan yang berskala besar dan atau beresiko tinggi agar proyek yang dibiayai tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam hal pemberian kredit, bank dituntut agar dapat memperoleh keyakinan tentang kemampuan nasabah sebelum menyalurkan kreditnya, maka faktor melakukan penilaian secara cermat dan seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha, debitur wajib meyakinkan bank. Undang-undang Perbankan ini secara implisit menentukan bahwa pemberian kredit harus memiliki jaminan cukup menyandarkan diri pada keyakinan atau kemampuan dan kesanggupan dari debitur untuk melunasi hutangnya. Terdapat suatu ilustrasi mengenai keterkaitan dunia usaha dengan lingkungan hidup, yakni:

“Suatu badan usaha mendapatkan fasilitas kredit di bank pelaksana, untuk ini bank telah melakukan evaluasi yang mendalam tentang karakternya, kemampuannya, modalnya, agunannya, dan kondisi serta prospek usaha dan/atau kegiatan badan usaha yang bersangkutan.”4

4Hassanuddin Rahman, Kebijakan Kredit Perbankan Yang Berwawasan Lingkungan, Cet. 1,

(6)

Dalam hubungan inilah Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) dan perturan lingkungan hidup lainnya dapat diberlakukan, yaitu suatu usaha dan/atau kegiatan dalam opersionalnya harus selalu mengindahkan UUPPLH serta peraturan lingkungan hidup lainnya.

Ada beberapa ketentuan dalam UUPPLH yang dapat dijadikan landasan bagi peran dan tanggung jawab bank dalam pelaksanaan green banking dalam hukum perkreditan di Indonesia, antara lain Pasal 22, Pasal 36, Pasal 65, Pasal 66, Pasal 67, dan Pasal 68. Disamping itu dapat pula diambil kebijakan perbankan, dimana Bank Indonesia yang berkewajiban menunjang kebijakan tersebut sebagai otoritas moneter yang antara lain bertugas mengatur dan mengawasi bank sebagaimana hal itu ditentukan dalam Pasal 8 huruf c Undang-undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 3 Tahun 2004.

Bank memiliki peranan sebagai penghimpun dana dari masyarakat untuk odal pembangunan. Sebagai lembaga keuangan, Bank memiliki usaha pokok, yaitu memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang.

Pemberian kredit merupakan salah satu bagian yang penting dalam kehidupan perbankan, sebab bank dapat hidup dari usaha penyaluran dan berupa pemberian kredit tersebut.

Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional, bank perlu terus ditingkatkan dan diperluas peranannya, sehingga dapat memberikan manfaat yang optimal. Berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan nasional tersebut dalam

(7)

ketentuan Pasal 4 Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan ditentukan bahwa:

“Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.”

Ketentuan di atas jelas bahwa lembaga perbankan mempunyai peranan penting dan strategis tidak saja dalam menggerakkan roda perekonomian nasional, tetapi juga diarahkan agar mampu menunjang pelaksanaan pembangunan nasional. Ini berarti bahwa lembaga perbankan haruslah mampu berperan sebagai agent of

development dalam upaya mencapai tujuan nasional tadi,5 termasuk melalui upaya

perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui pola green banking.

Selama ini bank belum melihat jauh kepada permasalahan-permasalahan dan akibat-akibat yang mungkin ditimbulkan oleh dunia usaha sehingga dengan timbulnya berbagai masalah yang terjadi seperti pencemaran lingkungan tersebut bank merasa tidak ikut bertanggung jawab, padahal dengan perjanjian kredit bank, dijumpai permasalahan hukum yang bila dilihat dari kacamata kepentingan bank, sangat merugikan bank.6

Sebagai institusi keuangan yang memberikan pinjaman dananya kepada debitur, pada dasarnya bank tersebut menghendaki agar pinjaman tersebut dapat dikembalikan sesuai dengan perjanjian yang disepakati, walaupun apabila dalam kegiatan yang dilakukan debitur akan menghadapi masalah dengan lingkungan, maka debitur akan mengalami kerugian, yang pada akhirnya menghadapi kesulitan untuk mengembalikan pinjamannya.

5

Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), hal. 40

6Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2009), hal. 265.

(8)

Dengan kerugian yang dialami debitur, maka bank sebagai lender tentu akan menerima dampaknya pula, karena kredit yang diberikan menghadapi kemungkinan tidak akan dapat dikembalikan (macet). Untuk menghindari kerugian, maka sebenarnya bank dapat meminta persyaratan-persyaratan di bidang lingkungan misalnya dengan melihat apakah AMDAL-nya sudah ada, bagaimana environmental assessment dilakukan, apakah debitur sudah memiliki standar lingkungan. Bank juga perlu malakukan monitoring terhadap implementasi kegiatan yang dilakukan oleh debitur untuk melihat apakah dana yang digunakan tersebut telah sesuai dengan syarat-syarat lingkungan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Terhadap konsekuensi lingkungan dari kredit yang diberikan, bank perlu lebih sensitif, di Indonesia lembaga keuangan yang berwawasan lingkungan (Green Banking) mulai muncul, misalnya dalam menerapkan bahwa analisis mengenai dampak lingkungan menjadi bagian penting dalam analisis pemberian kredit dan menyangkut dokumentasi perkreditan (loan documentation).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

2. Bagaimana Green Banking dalam kebijakan perbankan di Indonesia?

3. Bagaiamana peran dan tanggung jawab perbankan dalam penegakan Green Banking mengenai kebijakan kredit?

(9)

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan perumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk memahami dan mengetahui Green Banking dalam kebijakan perkreditan di Indonesia.

2. Untuk mengetahui peran dan tanggung jawab perbankan dalam penegakan Green Banking mengenai kebijakan kredit.

3. Untuk mengetahui dan memahami instrumen Green Banking dalam perjanjian kredit.

D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis

Manfaat penelitian ini adalah sebagai bahan atau informasi di bidang ilmu hukum, khususnya di bidang perbankan, hasil penelitian ini diharapkan akan dapat menjadi bahan studi lanjutan untuk melengkapi materi hukum ekonomi.

2. Secara Praktis

Secara praktis, pembahasan dalam tesis ini diharapkan dapat menjadi masukan dan sebagai kontribusi yuridis kepada pengambil keputusan dalam bidang perbankan, bagi kalangan praktisi, pemerintah, DPR, peminat dunia industri Perbankan, serta masyarakat penyimpan dana pada umumnya.

(10)

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan oleh peneliti dan tenaga administrasi di Sekretariat Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara bahwa tidak terdapat tesis yang menganalisa topik yang terkait dengan kebijakan perbankan dalam konteks perkreditan yang berwawasan lingkungan. Oleh karena itu penelitian ini adalah “asli”, karena sesuai dengan asas-asas keilmuan yakni: jujur, rasional, objektif dan terbuka/transparan. Sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah dan terbuka atas masukan dan kritikan, serta saran-saran yang bersifat membangun.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Kelangsungan perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi, aktivitas penelitian dan imajinasi sosial, juga sangat ditentukan oleh teori.7 Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi,8 dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.9

7Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta :UI-Press, 1986), hal. 6 8

J.J.J. M. Wuisman, dengan penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid I, (Jakarta:Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1996), hal. 203. M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan

Penelitian, (Bandung : CV. Mandar Maju, 1994), hal. 27. Menyebutkan, bahwa teori yang dimaksud

disini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut tetapi merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan biar bagaimanapun meyakinkan, tetapi harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.

(11)

Menurut Burhan Ashshofa suatu teori merupakan serangkaian asumsi, konsep, definisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan konsep.10 Sedangkan Snelbecker yang mendefinisikan teori sebagai seperangkat proposisi yang terintegrasi secara sintaksis yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat diamati dan fungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati.11

Dari pengertian tersebut di atas, maka dapat diambil suatu pengertian perihal Kerangka Teori, yaitu bahwa kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis.12

Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan arahan/ petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati.13

Sesuai dengan tujuan penelitian yang hendak mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam permasalahan penelitian, yakni mengenai sinkronisasi dan harmonisasi peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang green banking secara vertikal, maka teori yang hendak digunakan untuk hal tersebut adalah teori Hans Kelsen mengenai keabsahan norma dasar dari peraturan perundang-undangan terhadap tingkatan yang lebih tinggi.

10Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Rineka Cipta, 1996), hal. 19 11Snelbecker, dikutip dalam Lexy J. Moleong, Metodologi, Penelitian Kualitatif, (Jakarta:

Remaja Rosdakarya, 1993), hal. 103.

12M. Solly Lubis, Op. Cit, hal. 80

13 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosdakarya,

(12)

Menurut Kelsen, pernyataan bahwa norma yang mengacu kepada perilaku manusia adalah “absah” berarti bahwa ia bersifat mengikat, bahwa seorang individu mesti berperilaku dengan cara yang ditetapkan oleh norma itu.14 Keabsahan atau keberlakuan dari suatu norma bukanlah fakta, tapi karena dia merupakan harapan (out to be), sebab sesuatu yang out to be tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu yang berlaku (is). Dengan kata lain, dari keadaan bahwa sesuatu itu ada tidak bisa disimpulkan bahwa sesuatu itu seharusnya terjadi, dan bahwa sesuatu yang seharusnya ada, tidak bisa menjadi alasan bahwa sesuatu itu ada. Yang bisa menjadi alasan keberlakuan sebuah norma hanyalah keberlakuan norma lain. Sebuah norma yang mempresentasikan alasan bagi keberlakuan norma lain secara kiasan dikatakan sebagai norma yang lebih tinggi dalam kaitannya dengan norma yang lebih rendah.. Oleh sebab itu pula untuk mengukur keabsahan suatu norma hanya dapat dilaksanakan dengan cara melihat hubungan antara norma-norma hukum yang diatur oleh peraturan yang lebih tinggi dengan norma-norma hukum yang diatur oleh norma-norma hukum yang lebih rendah tingkatannya, yang kedua-duanya diundang oleh otoritas.

Norma dasar yang terkandung dalam peraturan perundangan-undangan lebih tinggi merupakan premis mayor (out to be), sedangkan yang terdapat di dalam peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tingkatannya merupakan premis minor (is). Namun hanya premis mayor, yang berupa pernyataan seharusnya (out to

14Hans Kelsen, (Alih bahasa oleh Raisul Muttaqien), Pure Theory of Law, Teori Hukum Murni, Dasar-dasar Ilmu Hukum Normatif, (Bandung : Nusamedia & Nuansa, 2007), hal. 216

(13)

be), yang merupakan conditio per quam dalam kaitannya dengan simpulan, yang juga berupa pernyataan seharusnya (out to be), yakni norma yang keabsahannya dinyatakan dalam premis mayor merupakan alasan bagi keabsahan norma yang keabsahannya dinyatakan dalam kesimpulan. Sedangkan pernyataan adalah (is) yang berfungsi sebagai premis minor hanya merupakan conditio sine quanon dalam kaitannya dengan simpulan. Artinya fakta yang terdapat atau keberadaannya dinyatakan sebagai is dalam premis minor (pada tingkatan peraturan perundang-undangan yang lebih rendah derajatnya) bukan merupakan ukuran mengenai keabsahan norma yang keabsahannya ditegaskan dalam simpulan.

Kelsen berpendapat bahwa hanya otoritas yang berkompeten saja yang dapat menciptakan norma-norma hukum yang valid dan kompetensi itu hanyalah berdasarkan kepada norma-norma hukum yang diciptakannya. Penguasa atau pemerintah mempunyai otorisasi untuk menciptakan norma-norma dan dia merupakan subyek hukum dalam norma-norma hukum yang diciptakannya tersebut sebagaimana yang berlaku bagi individu. Keabsahan dari norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tingkatannya hanyalah dapat diukur dengan jalan menelusurinya kembali melalui norma-norma dasar dari suatu sistem norma. Norma-norma dasar merupakan sumber-sumber yang sifatnya umum untuk melihat dan atau mengukur tentang keabsahan dari semua norma-norma hukum dari peraturan yang sama. Suatu norma hukum dapat dikatakan absah apabila ia diciptakan berdasarkan norma-norma dasar yang lebih tinggi. Karena itu, suatu norma hukum harus merupakan bagian dari suatu peraturan

(14)

perundang-undangan yang penciptaannya berdasarkan norma-norma dasar. Oleh karena itu pula norma-norma hukum dari suatu peraturan perundang-undangan harus diciptakan melalui proses yang tertentu.

Dapat disimpulkan dari uraian di atas bahwa norma-norma hukum dari suatu peraturan perundang-undangan keabsahan norma-normanya hanya dapat diukur melalui tingkatan-tingkatan peraturan perundang-undangan itu sendiri, yang secara teoritis harus terkoordinasi tingkatan demi tingkatan melalui tingkatan perundang-undangan itu.

Dengan demikian keabsahan norma-norma hukum dari suatu peraturan perundang-undangan tingkat keberlakuannya hanya dapat diakhiri berdasarkan aturan-aturan yang terdapat di dalam peraturan perundang-undangan itu sendiri. Dengan menggunakan teori dari Kelsen mengenai sinkronisasi dan harmonisasi hukum melalui kajian terhadap keabsahan norma-norma hukum berdasarkan hierarki peraturan perundang-undangan, diharapkan dapat mengungkapkan data tentang kelemahan-kelemahan yang ada dari norma-norma hukum mengenai pengaturan Green Banking dan implikasi-implikasi yuridis yang timbul dari kondisi tersebut terhadap penerapan hukumnya.

Teori dan konsep mengenai disiplin hukum merupakan bagian dari ilmu hukum (teori hukum) terutama kaidah hukum (normwissenscahf) atau das Sollen. Setiap kaidah hukum pada umumnya berisikan satu atau lebih fakta positif mengenai pola-pola perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kajian terhadap ilmu kaidah dimaksudkan untuk menganalisis sampai sejauh manakah kaidah-kaidah

(15)

hukum yang terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan (hukum negara) yang mengatur tentang green banking telah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga dapat memperkirakan das Sein-nya yang pada akhirnya dapat pula diperkirakan mengenai derajat penegakannya.

Dalam konsep perlindungan lingkungan, manusia dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan keberadaannya dalam lingkungan kehidupannya dengan unsur-unsur lingkungan lainnya, sumber daya alam dan sumber daya buatan. Lingkungan merupakan suatu kesatuan yang sedemikian komplek isi muatannya. Kompleksitas tersebut tidak hanya menggambarkan tentang isi dari lingkungannya, tetapi juga menggambarkan pula tentang adanya hubungan yang berkaitan antara unsur-unsur dari lingkungan, sebagai gambaran akan adanya hubungan timbal balik.

Konsep-konsep hukum pada mulanya hanya mengatur tentang bagaimana manusia mendapatkan landasan hak untuk dapat menguasai suatu hak kebendaan yang berhubungan erat dengan sumber-sumber daya alam. Dalam perkembangannya konsep hukum telah memuat pula asas-asas atau dasar-dasar filosofi tentang bagaimana sumber daya alam dan sumber daya buatan (sebagai unsur yang sangat penting dalam menjaga kelestarian dan daya dukung/manfaat lingkungan tersebut) dapat dimanfaatkan oleh manusia secara bertanggung jawab. Pertanggungjawaban bukan saja kepada manusia pada generasi yang sama, tetapi bagaimana tingkat kelestarian dan manfaat lingkungan tersebut masih dapat dinikmati oleh generasi-generasi yang akan datang (“generation unborn”).

(16)

Sejak tahun 1968 dengan adanya The Biosphere Conference, muncul istilah-istilah “Suistanable Development”, “Suistanable Use”, dan seterusnya. Suistanable Development adalah konsep nilai yang terdeskripsi dari formula Deklarasi Stockholm dan Deklarasi Rio sebagai upaya kompromi antara kalangan developmentalis dan environmentalis. Namun tampaknya environmentalis belum puas dengan konsep pembangunan berkelanjutan karena bila mencermati konsep demikian yang ditilik dari segi manapun selalu lebih aksentual kepada pembangunan.15

Gerakan kesadaran lingkungan telah mampu meyakinkan para politisi dan pengambil keputusan tentang pentingnya masalah lingkungan terintegrasi dalam konsep-konsep pembangunan.

Komitmen mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan pun menjadi titik tolak atau orientasi pembangunan nasional pascakonferensi Stockholm 1972. Prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan berdasarkan Deklarasi Stockholm 1972 diaktualisasikan ke dalam perundang-undangan nasional (UULH-82) dan disempurnakan pada tahun 1997 (UUPLH-97) berdasarkan perkembangan baru dalam KTT Bumi di Rio de Janeiro 1992. Deklarasi Rio yang menyoroti aspek lingkungan dan pembangunan itu merupakan refleksi dari komitmen terhadap berbagai prinsip yang menunjang konsep pembangunan berkelanjutan (suistainable development).

Menurut Daud Silalahi, pembangunan berkelanjutan (suistainable development) merupakan konsep baru yang terkait dengan konsep pembangunan. Arti keterkaitan ini dapat dihubungkan dengan masalah efisien dan keadilan. Melakukan

(17)

efisien untuk memperbesar kue pembangunan dan keadilan (equity) untuk pembagian yang layak dan menjaga keberlanjutan pemanfaatannya.16

Konsep-konsep hukum yang baru yang dikandung dalam konsep-konsep di atas telah mencoba mengharmonisasikan antara kedua kepentingan yang satu dengan lainnya yang saling mempengaruhi, yakni antara eksploitasi dan konservasi, antara eksplorasi dan pelestarian, antara “development” dan “conservation” dan antara pemanfaatan dan pengelolaan, sebagai pasangan nilai-nilai suatu sistem pengelolaan yang harus dibakukan dalam setiap produk hukum yang mengaturnya.

Selanjutnya muncul pula istilah-istilah tentang perusakan dan pencemaran lingkungan, yang kemudian diatur oleh peraturan-peraturan hukum tentang cara pencegahan dan penanggulangannya. Di negara-negara yang telah maju seperti di negara di Eropa, Amerika dan Kanada, hal-hal semacam itu telah membudaya dalam kehidupan sehari-hari. Peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang pemanfaatan sumber-sumber daya alam telah memuat unsur-unsur dan kaidah-kaidah hukum tentang pencegahan dan penanggulangan terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan. Pemuatan konsep-konsep ekologi ke dalam konsep hukum dimaksudkan untuk menjaga tingkat keberlanjutan fungsi alam bagi kehidupan manusia, baik generasi yang sekarang maupun yang akan datang.

16 Daud Silalahi, Perangkat Hukum Nasional, Regional dan Internasional dalam Pembangunan yang Berkelanjutan, Artikel pada Jurnal Hukum Lingkungan Tahun I Nomor I,

diterbitkan oleh ICEL, Jakarta, 1994, hal. 37. Dikutip dari : Syamsuharya Bethan, Penerapan Prinsip

Hukum Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup dalam Aktivitas Industri Nasional, Sebuah Upaya Penyelamatan Lingkungan Hidup dan Kehidupan Antar Generasi, (Bandung: P.T. Alumni, 2008), hal.

(18)

Konsep Green Banking sebenarnya bukan seluruhnya hal yang baru. Sering orang memperkirakan apakah konsekuensi tindakan yang akan dilakukannya, dan memikirkan apakah konsekuensi tindakan yang akan dilakukannya, dan memikirkan tindak lanjut apa yang diperlukan untuk memperbesar atau memperkecil konsekuensi tindakannya itu. Konsep Green Banking mempelajari dampak pembangunan terhadap lingkungan dan dampak lingkungan terhadap pembangunan yang didasarkan pada konsep ekologi. Ilmu ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik atau interaksi antara pembangunan dan lingkungan.

2. Konsepsi

Konsepsi dalam bahasa Latin memiliki arti hal yang dimengerti. Sehingga konsepsi adalah merupakan salah satu bagian terpenting dari pada teori, dimana peranan konsepsi adalah untuk menghubungkan dunia teori dengan observasi, antara abstraksi dan realita.17 Konsep adalah suatu konstruksi mental, yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh suatu proses yang berjalan dalam pikiran penelitian untuk keperluan analitis.18

Konsep juga diartikan sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus, yang disebut dengan defenisi operasional. Pentingnya defenisi operasional ini adalah untuk menhindarkan perbedaan pengertian

17Masri Singarimbun dkk, Metode Penelitian Survey, (Jakarta : LP3ES, 1989), hal. 34

18Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tujuan Singkat,

(19)

atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai. Selain itu, dipergunakan juga untuk memberikan pegangan pada proses penelitian ini.19

Oleh karena itu, agar dapat menjawab permasalahan di dalam penelitian ini, akan dijelaskan bagian kerangka konsepsi yaitu hal-hal yang berkenaan dengan konsep yang digunakan oleh peneliti dalam penulisan tesis ini. Dalam proses penelitian tesis ini dipergunakan definisi operasional untuk memberikan pegangan bagi penulis, yakni sebagai berikut :

1) Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.20

2) Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan dan penegakan hukum.21

3) Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan

19

Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hal. 3

20 Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup

(20)

untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.22 4) Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara

kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.23

5) Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.24

6) Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.25

7) Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.26 8) Kredit adalah Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan

itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.27

22Ibid., Pasal 1 Angka 3 23Ibid., Pasal 1 Angka 6 24Ibid., Pasal 1 Angka 11 25

Pasal 1 Angka 1 Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan

26Ibid., Pasal 1 Angka 2 27Ibid., Pasal 1 Angka 11

(21)

9) Nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa bank.28

10) Nasabah debitur adalah Nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip syariah atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan.29

11) Kredit berwawasan lingkungan adalah kredit yang diberikan dengan mempertimbangan sumber daya dan kualitas`lingkungan dalam analisisnya, sehingga semua pihak dapat menarik manfaat daripadanya guna meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat banyak.30

12) Green banking adalah suatu institusi keuangan yang memberikan prioritas pada sustainability (pelestarian lingkungan secara berkelanjutan) dalam praktek bisnisnya.31

G. Metode Penelitian

1. Jenis, Sifat, dan Pendekatan Penelitian

Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam mengembangkan ilmu pengetahuan maupun teknologi. Hal ini disebabkan, oleh karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematika, metodologis, dan konsisten.

28Ibid., Pasal 1 Angka 16 29Ibid., Pasal 1 Angka 18

30Hassanuddin Rahman,. Op.Cit. hal. 39

31Leonard T. Panjaitan, Anggota Corporate Sustainability Team (CST) Bank BNI-Kantor

Besar Jakarta, Green Banking di Indonesia: Adaptasi Bisnis dalam Perubahan Iklim, dipublikasikan Kamis, 21 Januari 2010.

http://wargahijau.org/index.php?option=com_content&view=article&id=659:green-banking-di-indonesia-adaptasi-bisnis-dalam-perubahan-iklim&catid=6:green-corporation&itemid=11

(22)

Metodologi yang terapkan harus senantiasa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya.32

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif. Penelitian normatif menurut Ronald Dworkin disebut juga penelitian doktrinal (doctrinal research), yaitu suatu penelitian yang menganalisis baik hukum sebagai law as it written in the book, maupun hukum sebagai law as it by the judge trough judicial

process.33

Penelitian ini bersifat deskriptif analisis34, karena metode yang digunakan untuk menggambarkan, menelaah dan menjelaskan peraturan perundang-undangan yang berlaku kemudian menghubungkan dengan keadaan atau fenomena dalam praktek, yang memerlukan evaluasi terhadap substansi peraturan hukum tentang kebijakan kredit perbankan yang berwawasan lingkungan pada P.T. Bank Danamon Indonesia, Tbk. terhadap perjanjian kreditnya.

2. Sumber Data

Pada penelitian hukum normatif, bahan pustaka merupakan data dasar yang dalam ilmu penelitian digolongkan sebagai data sekunder. Dengan demikian, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Bahan hukum primer yakni bahan hukum yang terdiri atas peraturan perundang-undangan yang terdiri atas undang-undang yang berkaitan dengan perbankan dan

32Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji,. Op.Cit. hal.1

33 Bismar Nasution, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum,

(Medan : Majalah Hukum, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2003), hal., 1.

34Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktek, (Jakarta: Sinar Grafika,1996), hal.

8, menyatakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk melukisksn tentang sesuatu hal di daerah tertentu dan pada saat tertentu.

(23)

lingkungan hidup, antara lain : Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL dan peraturan lainnya yang berhubungan.

b. Bahan hukum sekunder, seperti buku-buku teks ynag ditulis oleh para ahli hukum, jurnal-jurnal hukum, pendapat para sarjana hukum dan hasil simposium yang berkaitan dengan hukum.

c. Bahan hukum tersier, seperti bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum, ensiklopedia hukum, surat kabar dan majalah yang memuat tentang topik yang relevan dalam penulisan tesis ini.35

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang dipergunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan 2 (dua) metode, yakni:

a. Penelitian Kepustakaan (Library Research).

Studi dokumen yaitu dilakukan dengan menginventarisir berbagai bahan hukum baik bahan hukum primer, sekunder dan tertier melalui penelusuran kepustakaan (library research).

b. Penelitian Lapangan (Field Research).

35 Johnny Ibrahim, Teori dan Penelitian Hukum Normatif, (Surabaya : Bayu Media

(24)

Data atau materi pokok dalam penelitian ini diperoleh langsung dari para responden melalui penelitian lapangan (field research) dengan melakukan wawancara kepada informan dalam upaya untuk mengetahui penerapan kebijakan kredit yang berwawasan lingkungan pada P.T. Bank Danamon Indonesia, Tbk.

Adapun informan tersebut adalah Security Document Sub Manager pada P.T. Bank Danamon Indonesia, Tbk. Cabang Medan-Diponegoro.

4. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian tesis ini dilakukan dalam rangkaian aktivitas yang dimulai dari pengumpulan data sampai dengan penarikan kesimpulan. Metode analisis dilakukan dengan metode analisis kualitatif yang difokuskan pada kedalaman analisis antar konsep yang dipergunakan atau ditemukan dalam penelitian.

Secara umum rangkaian kegiatan analisis dapat diuraikan sebagai berikut: a. Menginventarisasi dan memilah bahan hukum yang relevan dengan topik

penelitian.

b. Menemukan norma-norma hukum atau asas-asas hukum dalam konsep-konsep hukum yang terdapat dalam bahan hukum yang dipegunakan.

c. Mensistematisasikan konsep-konsep hukum dalam kategori yang lebih umum. d. Menganalisis dan mendeskripsikan hubungan antara kategori-kategori yang

diperoleh dalam penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Ketika sinyal dari masukan berlogika tinggi (+5V) maka arus akan melewati dioda D1 (D1 on), kemudian arus tersebut akan membias transistor T1, sehingga arus

Setelah membuat simulasi sistem injeksi bahan bakar pada motor diesel dapat disimpulkan bahwa prinsip kerja aliaran bahan bakar pada motor diesel dimulai dari pompa

Pengujian dilakukan dengan cara mencobakan instrument sekali saja, kemudian data yang diperoleh dari analisis dengan teknik tertentu, dalam hal ini teknik yang

jumlah sampel yang diuji, maka dapat dihitung tingkat cemaran Salmonella sp berdasarkan jumal sampel yang diuji adalah jumlah sampel positif dibandingkan total sampel adalah 20% yang

Terlaksananya Reviu Laporan Keuangan Daerah, Evaluasi LAKIP, dan SPIP pada seluruh SKPD di Kabupaten Purworejo 2 kali reviu, 1 kali evaluasi LAKIP, dan Pelaksanaan SPIP di

Latar belakang didirikannya Gapoktan Rizki Usaha Berdua di awali atas inisiatif dari petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) Desa Tungkal UV Desa, yaitu Bapak Wasimin

Sony sound forge 9.0 merupakan suatu software yang digunakan oleh para professional dalam bidang audio yang digunakan untuk merubah dari audio analog menjadi

Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa gugus yang berperan terhadap pengikatan ion Cu(II), adalah gugus S-H dan gugus –OH dari silanol, yang ditunjukkan dengan