• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

7

A. Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) bukanlah tanaman asli Indonesia, melainkan tanaman yang berasal dari Afrika Barat.Walaupun demikian tanaman kelapa sawit cocok dikembangkan di daerah luar asalnya termasuk di Indonesia. Pada tahun 1848 tanaman kelapa sawit masuk ke Indonesia dibawa oleh bangsa Belanda, yaitu sebanyak empat batang.Dua batang dari Bourbon atau Mauritius dan dua batang lagi dari Amsterdam.Bibit tersebut ditanam di Kebun Raya Bogor untuk dijadikan tanaman koleksi Kebun Raya Bogor (Setyamidjaja, 1993). Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman monokotil. Adapun klasifikasi tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut :

Divisi : Embryophyta siphonagama

Kelas : Angiospermae

Ordo : Monocotyledonae

Famili : Arecaceae (dahulu disebut Palmae)

Subfamil : Cocoideae

Genus : Elaeis

Spesies : Elaeis guineensis Jacq (Pahan, 2013).

Tanaman kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu bagian vegetatif dan bagian generatif.Bagian vegetatif kelapa sawit meliputi akar, batangdan daun, sedangkan bagian generatif yang merupakan alat perkembangbiakan terdiri dari bunga dan buah (Fauzi et al.,2005).

(2)

1. Akar

Sebagai tanaman jenis palma, kelapa sawit tidak memiliki akar tunggang maupun akar cabang. Akar yang keluar dari pangkal batang sangat besar jumlahnya dan terus bertambah banyak (Setyamidjaja, 1993).Akar tanaman kelapa sawit berfungsi sebagai penyerap unsur hara dalam tanah, dan respirasi tanaman.Selain itu, sebagai penyangga berdirinya tanaman sehingga mampu menyokong tegaknya tanaman pada ketinggian yang mencapai puluhan meter hinggatanaman berumur 25 tahun.Akar tanaman kelapa sawit tidak berbuku, ujungnya runcing, dan berwarna putih atau kekuningan (Fauzi et al.,2005).

Tanaman kelapa sawit berakar serabut.Perakarannya sangat kuat karena tumbuh ke bawah dan ke samping membentuk akar primer, skunder, tersier dan kuarter. Akar primer tumbuh ke bawah di dalam tanah sampai batas permukaan air tanah.Akar sekunder, tertier dan kuarter tumbuh sejajar dengan permukaan air tanah bahkan akar tertier dan kuarter menuju ke lapisan atas atau ke tempat yang banyak mengandung zat hara.

Akar tersier dan kuarter banyak di tumbuhi bulu - bulu halus yang dilindungi oleh tudung akar (kaliptra).Bulu bulu tersebut dapat menyerap air, udara dan unsur hara dari dalam tanah. Kedua akar ini paling banyak ditemukan 2 - 2,5 m dari pangkal batang dan sebagian besar berada di luar piringan. Akar tersier dan kuarter juga banyak ditemukan sampai dengan 1 mdi dalam tanah.Namun, sistem perakaran yang paling banyak ditemukan adalah pada kedalaman 0 – 20 cm, yaitu pada lapisan olah tanah atau top soil (Fauzi et al.,2005).

2. Batang

Kelapa sawit merupakan tanaman monokotil, yaitu batangnya tidak mempunyai kambium dan umumnya tidak bercabang.Batang berfungsi sebagai penyangga tajuk serta menyimpan dan mengangkut bahan makanan.Batang kelapa sawit berbentuk selinder dengan diameter 20 – 75

(3)

cm. Pada tanaman yang masih muda, batangnya tidak terlihat, karena tertutup oleh pelepah daun.Pertambahan tinggi batang terlihat jelas setelah tanaman berumur 4 tahun.Tinggi batang bertambah 25 – 45 cm/tahun.Jika kondisi lingkungan sesuai, pertambahan tinggi batang dapat mencapai 100 cm/tahun. Tinggi batang maksimum yang ditanam di perkebunan adalah 15 -18 m, sedangkan yang di alam mencapai 30 m. Pertumbuhan batang tergantung pada jenis tanaman, kesuburan lahan dan iklim setempat (Fauzi et al.,2005).

3. Daun

Daun kelapa sawit bersirip genap dan bertulang sejajar.Pada pangkal pelepah daun terdapat duri duri dan bulu bulu halus sampai kasar.Panjang pelepah daun dapat lebih dari 9 meter. Helai anak daun yang terletak di tengah pelepah daun adalah yang paling panjang dan panjangnya dapat melebihi 1,2 meter. Jumlah anak daun dalam satu pelepah adalah 100 - 160 pasang.Pohon kelapa sawit normal dan sehat yang dibudidayakan, pada satu batang terdapat 40 - 50 pelepah daun.Apabila tidak dilaksanakan pemangkasan sewaktu panen, maka jumlah daun dapat melebihi 60 buah.

Pertumbuhan pelepah daun tiap tahun pada tanaman muda yang berumur 4 - 6 tahun mencapai 30 - 40 helai, sedangkan pada tanaman yang lebih tua berjumlah antara 20 - 25 helai (Setyamidjaja, 1993).

4. Bunga

Bunga kelapa sawit berumah satu (monoecious).Pada satu batang terdapat bunga jantan dan bunga betina yang letaknya terpisah pada tandan bunga yang berbeda.Tandan bunga terletak diketiak daun, mulai tumbuh setelah tanaman berumur sekitar satu tahun.Primordia (bakal) bunga terbentuk sekitar 33 – 34 bulan sebelum bunga matang (siap melaksanakan

(4)

penyerbukan).Pertumbuhan bunga sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah.Tanaman yang tumbuh kerdil pertumbuhan bunganya lebih lambat (Setyamidjaja, 1993).

5. Buah

Buah kelapa sawit masak setelah 5- 6 bulan dari proses penyerbukan. Lamanya proses pembentukan buah dari saat terjadinya penyerbukan sampai matang, tergantung pada keadaan iklim dan faktor faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Lamanya proses pemasakan buah dibeberapa kawasan berbeda beda contohnya di Malaysia sekitar 5,5 bulan, di Sumatra 5 - 6 bulan dan di Afrika 6 - 9 bulan.

Buah kelapa sawit termasuk buah batu, yang bagian bagiannya terdiri dari kulit buah (exocarp), daging buah (mesocarp), cangkang/ tempurung(endocarp), dan inti/ kernel (endosperm).Tiap buah panjangnya dapat mencapai 2 – 5 cm dan beratnya dapat melebihi 30 gram.

Selama buah kelapa sawit masih muda, yaitu sampai berumur 4,5 - 5 bulan, buah kelapa sawit berwarna ungu. Setelah itu warna kulit buah (exocarp) berubah dari ungu berangsur angsur menjadi merah kekuning kuningan.Pada saat itu terjadi pembentukan minyak yang intensif pada daging buah (mesocarp) dan butir butir minyak tersebut mengandung zat warna karotin yang berwarna jingga (Setyamidjaja, 1993).

Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman tahunan yang berumur panjang dengan usia ekonomis 25 tahun. Kelapa sawit adalah tanaman daerah tropika basah yang tumbuh baik antara 120Lintang Utara dan 120 Lintang Selatan, pada ketinggian 0 – 500 m dpl. Curah hujan optimum yang di perlukan tanaman kelapa sawit rata rata 2.000 – 2.500 mm/tahun, dengan distribusi merata sepanjang tahun tanpa bulan kering yang berkepanjangan. Lama penyinaran matahari optimum yang diperlukan dalam sehari adalah berkisar antara 5 – 7 jam. Sedangkan suhu

(5)

yangdiperlukan untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah 24 -280 C dan kelembabannya adalah 80% (Fauzi et al.,2005).

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, seperti podsolik, latosol, hidromorfik kelabu, alluvial, atau regosol.Kelapa sawit tumbuh baik pada tanah gembur, subur, berdrainase baik, permeabilitas sedang, dan mempunyai solum tanah yang tebal sekitar 80 cm, tanpa lapisan padas.Dengan tekstur tanah ringan, kandungan pasir 20 – 60 %, debu 10 – 40 %, dan liat 20 -50 %.Tanah yang kurang cocok untuk kelapa sawit adalah tanah pantai berpasir dantanah gambut tebal.Sedangkan topografi yang dianggap cukup baik untuk tanaman kelapa sawit adalah dengan kemiringan 0 – 150dan pHnya antara 4 - 6 (Fauzi et al.,2005).

Berdasarkan ketebalan cangkang dan daging buah, kelapa sawit dapat dibedakan beberapa tipe sebagai berikut :

1. Tipe Dura, dengan ciri ciri : daging buah (mesocarp) tipis, cangkangnya (endocarp) setebal 2 - 8 mm. Intinya besar dan tidak terdapat cincin serabut. Persentase daging buah 35 - 60 % dengan rendemen minyak 17 - 18 %.

2. Tipe Pisifera, dengan ciri ciri : daging buahnya tebal, tidak mempunyai cangkang, tetapi terdapat cincin serabut mengelilingi inti. Intinya lebih kecil bila dibandingakan tipe Dura maupun Tinera. Perbandingan daging buah terhadap buahnya tinggi, dan kandungan minyaknya juga tinggi. Tipe ini hanya dipakai sebagai pohon bapak dalam persilangan dengan tipe Dura.

3. Tipe Tenera, merupakan hasil persilangan antara tipe Dura dan tipe Pisifera. Sifat tipe

Tenera merupakan kombinasi dari sifat khas dari kedua induknya. Tipe ini mempunyai tebal

(6)

tipe Pisifera, sedangkan intinya kecil. Perbandingan daging buah terhadap buah 60 – 90 % dan rendemen minyaknya 22 – 24 % (Setyamidjaja, 1993).

B. Pembibitan Kelapa Sawit

Pembibitan merupakan kegiatan awal di lapangan bertujuan untuk mempersiapkan bibit saiap tanam.Pembibitan harus sudah dipersiapkan sekitar satu tahun sebelum penanaman di lapangan agar bibit yang di tanam memenuhi syarat baik umur maupun ukurannya.Menurut Pahan (2013), sistem pembibitan kelapa sawit terdiri dari sistem pembibitan di lapangan dan sistem pembibitan di kantong plastik (polibag). Pembibitan di polibag terdiri dari dua macam, yaitu sistem pembibitan polibag tahap satu(Prenursery) dan sistem pembibitan polibag tahap dua(Main nursery). Pada persemaian kecambah ditanam dalam kantong plastik kecil (polibag) dengan ukuran 25 cm x 25 cm selama 3 bulan. Sesudah masa pre nursery, bibit dipindahkan ke polibag besar (42,5 cm x 50 cm) dan dipelihara sampai beumur 10 – 12 bulan, tahap kedua ini disebut pembibitan utama (main nursery).

Persiapan pembibitan akan menentukan sistem pembibitan yang akan dipakai dengan melihat keuntungan dan kerugian komprehensif (Pahan, 2013). Membuat naungan dengan tinggi 2 m – 2,5 m sedangkan lebar dan panjang naungan tergantung banyaknya bedengan yang dinaungi. Setelah itu bedengan dibuat dengan ukuran panjang lebar 1,2 m dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahan, sedangkan jarak antar bedengan adalah 60 cm – 80 cm. Polibag kecil yang berukuran 25 cm x 25 cm dengan tebal 0,1 mm disiapkan. Lalu media tanah disiapkan dengan pupuk yang digunakan.Kemudian benih ditanam satu persatu ke dalam polibag dengan kedalaman tanam kurang lebih 3 cm, sebelumnya benih di seleksi dan polybag disiram terlebih dahulu.Benih ditanam dengan posisi radikula pada bagian bawah dan plumula pada

(7)

bagian atas.Pembibitan pre nursery ini harus dipelihara selama 3 bulan agar bibit menjadi sehat dan subur (Darmosarkoro et al., 2008).

C. Zat Pengatur Tumbuh Atonik

Di dalam tanaman terdapat hormon tumbuh yaitu senyawa organik yang jumlahnya sedikit dan dapat merangsang ataupun menghambat berbagai proses fisiologis tanaman. Di dalam tanaman senyawa ini jumlahnya hanya sedikit, maka perlu penambahan hormon dari luar.Hormon sintetis yang ditambahkan dari luar tanaman disebut zat pengatur tumbuh.Zat ini berfungsi untuk merangsang pertumbuhan, misalnya pertumbuhan akar, tunas, perkecambahan dan sebagainya (Daisy dan Wijayani, 2008).Salah satu zat pengatur tumbuh adalah atonik, atonik merupakan zat perangsang tumbuh karena senyawa yang dikandungnya berfungsi memacu pertumbuhan tanaman. Atonik bekerja secara biokimia, langsung menyerap ke daun, akar dan kuncup bunga, dan mempengaruhi proses aliran plasma sel dan memberikan kekuatan vital untuk mempergiat pertumbuhan. Atonik mempunyai efek tersendiri, menyempurnakan proses penyerbukan sehingga memastikan terjadinya biji (Heddy, 1996).Atonik tersebut berkhasiat merangsang pertumbuhan akar tanaman, meningkatkan daya serap akar terhadap unsur hara, mempercepat pertumbuhan daun, keluarnya bunga, dan pembentukan buah juga meningkatkan jumlah dan bobot buah (Sarwono, dkk, 2005).Zat yang dikandungnya adalah natrium orthophenol (0,2%), natrium para nitrophenol (0,3%), natrium 5-nitroguaiacolat (0,1%), dan 2,4 dinitrophenolat (0,01%) (Afandhie dan Yuwono, 2007).

Hasil penelitian Reksa (2007) menyatakan pada taraf 2 cc/liter respon tanaman berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun. Hal ini diduga karena zat pengetur tumbuh atonik yang diberikan mampu mengaktifkan laju metabolisme, laju translokasi dan proses

(8)

penyerapan unsure hara yang berada di daun sehingga perkembangan sel semakin meningkat dan bidang serap daun lebih besar diduga juga turut mempengaruhi peningkatan jumlah daun.

D. Pupuk Kandang Sapi

Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dan pembenah tanah, memberikan batasan pengertian bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya, nilai C-organik itulah yang menjadi pembeda dengan pupuk anorganik (Simanungkalit et al, 2006).Pemakaian pupuk organik terus meningkat dari tahun ketahun sehingga perlu ada regulasi atau peraturan mengenai persyaratan yang harus dipenuhi oleh pupuk organik agar memberikan manfaat maksimal bagi pertumbuhan tanaman dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.Pupuk organik mempunyai keunggulan dan kelemahan. Beberapa keunggulan dari pupuk oganik adalah antaralain: meningkatkan kandungan bahan organik di dalam tanah, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air (water holding capacity), meningkatkan aktivitas kehidupan biologi tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation tanah, mengurangi fiksasi fosfat oleh Al dan Fe pada tanah masam, dan meningkatkan ketersediaan hara di dalam tanah. Kelemahan dari pupuk organik antara lain: kandungan haranya rendah, relatif sulit memperolehnya dalam jumlah yang banyak, tidak dapat diaplikasikan secara langsung ke dalam tanah, tetapi harus melalui suatu proses dekomposisi, pengangkutan dan aplikasinya mahal karena jumlahnya banyak.

(9)

Bahan organik membantu mengikat butiran liat membentuk ikatan butiran yang lebih besar sehingga memperbesar ruang-ruang udara diantara ikatan butiran (Schjennlnq et al. 2007

cit. Intara et al.,2011). Kandungan bahan organik yang semakin banyak menyebabkan air yang

berada dalam tanah akan bertambah banyak. Bahan organik dalam tanah dapat menyerap air 2-4 kali lipat dari bobot awalnya yang berperan dalam ketersediaan air (Sarief, 1989). Penambahan bahan organik dalam tanah dapat dilakukan dengan cara pemberian pupuk organik baik pupuk kandang ataupun kompos.

Pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi merupakan pupuk padat yang banyak mengandung air dan lendir.Pupuk ini digolongkan sebagai pupuk dingin. Pupuk dingin merupakan pupuk yang terbentuk karena proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung secara perlahan-lahan sehingga tidak membentuk panas.Pupuk organik dari kotoran sapi harganya lebih rendah dibanding pupuk organik dari kotoran ayam dan diharapkan tersedia pada saat diperlukan, karena pupuk organik dari kotoran sapi merupakan potensi sumberdaya lokal yang mudah didapatkan (Sumanto dan Suwardi, 2010). Hasil penelitian Manurung (2015) menyatakan bahwa takaran pupuk kandang sapi 150 g/polibag merupakan takaran pupuk kandang sapi yang terpat pada pertumbuhan tanaman kelapa sawit di Pre-Nursery.

E. Hipotesis

Pada penelitian ini diduga pemberian zat pengatur tumbuh atonik 2 cc/liter dan takaran pupuk kandang sapi 150 g/polibag dapat memberikan pertumbuhan bibit kelapa sawit yang terbaik.

Referensi

Dokumen terkait

ke sembilan yaitu desain dan conduct formative evaluation of instruction (merancang dan melaksanakan evaluasi formatif). Uji coba dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui

Sedangkan dal am pel aksanaannya mul ai dar i pengumpul an dat a, pengol ahan dat a, anal i si s hasi l / masal ah sampai dengan penyusunan l apor an ber pedoman pada

Karena itu, penulis sebagai penutur jati bahasa Melayu Kupang tertarik untuk menganalisis makna kedua kata tersebut untuk melihat persamaan dan perbedaannya melalui analisis

[r]

Adanya inovasi baru di desa Gempol mengenai pertanian organik ini dimulai dari sosialisasi pada kelompok tani yang sudah merubah pola pikir untuk mengubah tekstur tanah

Sehingga dari hasil penelitian bermanfaat untuk masyarakat terutama bagi pengelola kebun agroforestri dapat mengetahui pengaruh serangga tanah yang nyata terhadap lahan

Dari penelitian ini juga dapat digunakan untuk mendukung sebuah keputusan dalam mengambil keputusan yang memiliki nilai alternatif terbaik yang kedepannya dapat