• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

1. Yogyakarta sebagai Kota Pelajar dan Degradasi Kualitas para Pemuda

Kota Yogyakarta dikenal luas dengan julukan sebagai Kota Pelajar1 dan telah

menjadi salah satu tujuan utama bagi para pelajar untuk menuntut ilmu, baik itu jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi. Oleh karena banyaknya jumlah pelajar pendatang yang menuntut ilmu di kota Yogyakarta, maka berpengaruh pula pada jumlah penduduk di Yogyakarta yang semakin bertambah, terutama pada rentang usia 15-24. Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk terbanyak adalah penduduk

dengan rentang usia 15-19 dan 20-242, hal ini semakin menguatkan julukan

Yogyakarta sebagai kota pelajar yang memiliki banyak pemuda.Namun, jumlah pemuda yang sangat banyak ini bukannya tidak menimbulkan masalah sama sekali, pemuda saat ini selalu dikaitkan dengan hal-hal yang negatif, seperti kenakalan remaja, ketidak patuhan kepada orangtua, frustasi, kecanduan terhadap narkotika,

hilangnya kebudayaan karena globalisasi dan masa depan suram3

1

. Hal-hal ini banyak

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_julukan_kota_di_Indonesia

Wikipedia, Daftar Julukan Kota Kota di Indonesia. Yogyakarta: Kota Gudeg, Kota Pelajar, Kota Seni dan Budaya, Kota Istimewa, Kota Pariwisata, Kota Republik, Kota Buku.

2http://jogjakota.bps.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=42:pendudukkota&catid=5:kepe ndudukan&Itemid=6

Badan Pusat Statistik Kota Yogyakarta, Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin

Menurut hasil sensus penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk kota Yogyakarta dengan rentang usia 15-19 berjumlah 18.542 orang dengan jenis kelamin laki-laki dan 20.920 orang dengan jenis kelamin perempuan. Sedangkan penduduk dengan rentang usia 20-24 berjumlah 24.146 orang dengan jenis kelamin laki-laki dan 25.395 orang dengan jenis kelamin perempuan. Jumlah penduduk dengan rentang usia 20-24 dan 15-19 menduduki peringkat pertama dan kedua penduduk di Yogyakarta menurut kelompok umur.

3http://wasnudin.blogdetik.com/2010/10/29/pemuda-dan-sosialisasi/ Hidup adalah Belajar, Pemuda dan Sosialisasi

Masalah-masalah yang menyangkut generasi muda saat ini adalah: Menurunnya jiwa nasionalisme, idealisme dan patriotisme; kekurangpastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya; belum seimbangnya jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia; kurangnya lapangan dan kesempatan kerja; kurangnya gizi yang dapat menghambat pertumbuhan badan dan perkembangan kecerdasan; masih banyaknya perkawinan di bawah umur; adanya generasi muda yang menderita fisik dan mental; pergaulan bebas; meningkatnya kenakalan remaja, penyalahgunaan narkotika; belum adanya peraturan perundang-undangan yang menyangkut generasi muda.

(2)

2 diakibatkan akan kurangnya pendidikan soft skill di luar pendidikan formal, sehingga para pemuda tersebut tumbuh dengan kualitas sifat yang kurang baik. Hal inilah yang berusaha diselesaikan oleh pemerintah Yogyakarta untuk mengurangi permasalahan pada para pemuda yang notabene merupakan cermin dari sebuah bangsa. Menurut

Robert F. Kennedy4

2. Budaya Bersosialisasi dan Tren Kegiatan Pemuda

, kualitas dunia ini bergantung pada kualitas pemuda yang hidup di dalamnya, karena para pemuda dapat menjadi penggerak dunia dengan sifat-sifatnya yang identik dengan pola pikirnya yang dinamis, keinginan untuk maju dan berubah, kualitas imajinasi yang baik, keberanian dan keinginan bertualang untuk mencari sesuatu yang baru. Karena itulah permasalahan pemuda ini perlu mendapat perhatian khusus agar bangsa Indonesia ini memiliki generasi penerus yang layak.

Pada era sebelum adanya internet dan alat komunikasi yang canggih, kegiatan para pemuda biasanya bersifat regional di sekitar tempat tinggal para pemuda tersebut. Karena keterbatasan cara berkomunikasi dan bersosialisasi, mereka hanya bisa bersosialisasi dengan cara bertatap muka. Sehingga dengan berkumpulnya para pemuda tersebut, muncul kegiatan-kegiatan pemuda yang bersifat regional, seperti karang taruna, rapat RT, rapat RW, pengajian, dan banyak kegiatan lain yang biasa dilakukan di lingkungan tempat tinggal. Namun setelah era internet dan komunikasi yang maju, cara bersosialisasi dari para pemuda ini semakin berubah. Sudah jarang ditemui organisasi karang taruna di lingkungan perumahan modern. Di sisi lain, para pemuda di era modern ini lebih banyak bersosialisasi melalui dunia maya internet dan komunikasi nirkabel seperti telepon dan pesan singkat. Dengan adanya teknologi komunikasi tersebut, jarak dan regional sudah tidak menjadi masalah dalam bersosialisasi bagi para pemuda. Sehingga terjadi peribahan bentuk sosialisasi dari yang tadinya mencari teman-teman sebaya yang berada di sekitar tempat tinggal, menjadi mencari orang-orang yang memiliki minat dan hobi yang sama di dunia maya. Hal inilah yang kemudian membentuk

4http://en.wikipedia.org/wiki/Youth Wikipedia, Youth

Robert F. Kennedy menjelaskan bahwa: “This world demands the qualities of youth: not a time of life but a

state of mind, a temper of the will, a quality of imagination, a predominance of courage over timidity, of the appetite for adventure over the life of ease”

(3)

3 komunitas-komunitas para pemuda, yang memiliki keberagaman minat dan kebutuhan.

Rentang usia pemuda merupakan fase krusial dalam hidup seseorang. Pada tahap itulah seseorang mendapatkan jati dirinya. Pencarian jati diri inilah yang mendorong para pemuda memiliki berbagai kegiatan di luar jam sekolah/kuliah. Mereka biasanya mengikuti berbagai kegiatan/komunitas yang mereka minati dalam

berbagai bidang, baik itu olahraga, seni, dan lain-lain5. Kegiatan yang mereka lakukan

inilah yang nantinya akan membentuk jati diri para pemuda tersebut, kegiatan yang baik akan membantu mereka untuk mengembangkan minat dan bakat mereka sehingga mereka dapat berkembang dan memanfaatkan bakat mereka dengan baik. Namun tidak sedikit yang tidak dapat menyalurkan minat dan bakat mereka dengan baik, hal ini banyak diakibatkan dari kurangnya fasilitas untuk menyalurkan minat

dan bakat mereka6

3. Kebutuhan akan Youth Community Center sebagai Ruang Komunitas Pemuda , akibatnya banyak dari pemuda tersebut yang kemudian terjerumus ke dalam kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti nongkrong setelah sekolah, pergaulan bebas, dunia malam, dan lain-lain.

Untuk membentuk pribadi seseorang menjadi pribadi yang berkualitas baik tidaklah mudah, diperlukan berbagai macam hal yang mendukung para pemuda untuk dapat melakukan kegiatan positif yang akan membentuk karakter yang baik. Hal inilah yang biasanya luput diberikan di intitusi pendidikan formal, biasanya intitusi pendidikan formal hanya fokus pada transfer ilmu pengetahuan dan luput pada pemberian soft skill yang dibutuhkan para pemuda tersebut untuk menjadi pribadi yang berkualitas baik. Maka dari itu, para pemuda biasanya mendapatkan pelajaran soft skill dari pendidikan non-formal dan kegiatan sehari-hari. Apabila kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan tidak baik, maka soft skill yang mereka

5https://docs.google.com/spreadsheet/gform?pli=1&key=0AuQdRntgiN2qdFc4UUVWNTV0QWlDTkRjRFNjVG1 wZGc&hl=en#chart

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan penulis, per 24 Desember 2012

Dari 87 koresponden, 61 orang (70%) memiliki kegiatan atau komunitas diluar sekolah/kuliah, 24 orang (28%) tidak memiliki kegiatan atau komunitas dan 2 orang (2%) tidak memilih.

6https://docs.google.com/spreadsheet/gform?pli=1&key=0AuQdRntgiN2qdFc4UUVWNTV0QWlDTkRjRFNjVG1 wZGc&hl=en#chart

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan penulis, per 24 Desember 2012

Dari 61 koresponden yang memiliki kegiatan di luar sekolah/kuliah, 35 orang merasa fasilitas yang ada belum memenuhi kebutuhan kegiatan yang mereka lakukan, sedangkan 26 orang sudah merasa fasilitas tersebut memenuhi kebutuhan kegiatan mereka.

(4)

4 dapatkan tidak berkualitas. Maka dari itu dibutuhkan fasilitas untuk mendukung dan menyalurkan minat serta bakat yang dimiliki oleh para pemuda, sehingga mereka tidak terjerumus ke dalam lingkungan dan kegiatan yang negatif.

Melayani dan memfasilitasi para pemuda agar mereka dapat menyalurkan

kegiatan mereka adalah kewajiban pemerintah7, hal ini disadari oleh pemerintah DIY

sehingga dibentuklah Balai Pemuda dan Olahraga, yang merupakan Unit Pelaksana

Teknis Dinas (UPTD) Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY8yang

mengurusi segala hal tentang sarana dan prasarana pendidikan, pemuda dan olahraga.Fasilitas pendukung inilah tempat dimana para pemuda-pemudi menyalurkan bakat dan keinginannya serta mendapatkan soft skill yang dibutuhkan untuk menjadi penerus bangsa.Tetapi pada kenyataannya, fasilitas yang disediakan belum mampu mewadahi apa yang diinginkan oleh para pemuda-pemudi di Yogyakarta karena masih banyak fasilitas yang tidak digunakan, kegiatan-kegiatan

yang dilakukan di sembarang tempat yang bukan fungsinya9

7

, dan masih banyak pemuda-pemudi yang melakukan tindakan yang tidak patut dilakukan, seperti tawuran, merusak fasilitas dan anarkisme, serta kegiatan-kegiatan lain yang seharusnya tidak terjadi apabila hal-hal yang dicanangkan pemerintah sudah tepat sasaran. Hal inilah yang dijadikan latar belakang untuk mendesain sebuah Youth

http://www.bpkp.go.id/uu/filedownload/2/26/115.bpkp

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, Pasal 35:

(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan prasarana dan sarana kepemudaan untuk melaksanakan pelayanan kepemudaan

(2) Organisasi kepemudaan dan masyarakat dapat menyediakan prasarana dan sarana kepemudaan (3) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan organisasi kepemudaan dan

masyarakat dalam penyediaan prasarana dan sarana kepemudaan

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan prasarana dan sarana kepemudaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

8http://www.bpo-diy.or.id/html/index Balai Pemuda dan Olahraga, Sejarah Singkat

Setelah otonomi daerah dan dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2002 dan Keputusan Gubernur Nomor 159 Tahun 2002, muli tahun 2003 Pembinaan Kepemudaan ditangani oleh Balai

Pengembangan Pemuda dan Olahraga yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Provinsi DIY sedangkan untuk pembinaan keolahragaan ditangani oleh Seksi Olahraga Bidang PLS Dinas Pendidikan Provinsi DIY.Dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur No.41 Tahun 2008 tanggal 12 Desember 2008 Pembinaan Kepemudaan dan Keolahragaan dijadikan satu unit yang ditangani oleh Balai Pemuda dan Olahraga ( BPO ) yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas ( UPTD ) Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi DIY. 9https://docs.google.com/spreadsheet/gform?pli=1&key=0AuQdRntgiN2qdFc4UUVWNTV0QWlDTkRjRFNjVG1 wZGc&hl=en#chart

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan penulis, per 24 Desember 2012

Beberapa contoh koresponden menuliskan komunitas mereka berkumpul di tempat seperti lapangan parkir sebuah restoran atau kilometer 0, dimana komunitas mereka adalah komunitas mobil atau sepeda yang notabene memerlukan sebuah tempat parkir khusus agar tidak mengganggu masyarakat sekitar.

(5)

5

Community Center di Yogyakarta sebagai ruang komunitas pemuda, dan menjadi pusat kegiatan bagi komunitas pemuda di Yogyakarta, serta menjadi landmark bagi pemuda di Yogyakarta.

B. PERMASALAHAN

1. Permasalahan Umum

Jumlah pelajar pada rentang usia pemuda di Yogyakarta sangat banyak sehingga dibutuhkan sebuah fasilitas untuk menyalurkan minat dan bakat para pemuda yang bervariasi tersebut agar mereka tidak terjerumus ke dalam kegiatan yang negatif. Dengan fasilitas ini, diharapkan para pemuda mendapatkan soft skill yang tidak diperoleh di intitusi pendidikan formal sehingga para pemuda-pemudi memiliki kualitas yang layak sebagai generasi penerus bangsa ini.

2. Permasalahan Khusus

Dari rumusan masalah umum yang ada tersebut kemudian dapat dijabarkan secara lebih mendalam menjadi permasalahan-permasalahan yang lebih khusus sebagai berikut:

• Permasalahan pemuda menjadi isu utama dalam memperbaiki kualitas para pemuda melalui edukasi secara informal di dalam fasilitas Youth Community Center

• Komunitas-komunitas yang memiliki beragam kegiatan dan kebutuhan yang berbeda-beda belum memiliki fasilitas yang memadai untuk mewadahi kegiatan mereka

• Fasilitas yang ada sekarang dianggap tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar dan mulai ditinggalkan. Sehingga dibutuhkan sebuah fasilitas baru yang

benar-benar dapat memenuhi kebutuhan dan kegiatan para pemuda saat ini10.

10http://www.bpkp.go.id/uu/filedownload/2/26/115.bpkp

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, Pasal 37:

(1) Dalam hal di suatu wilayah telah terdapat prasarana kepemudaan, Pemerintah atau pemerintah daerah wajib mempertahankan keberadaan dan mengoptimalkan penggunaan prasarana kepemudaan

(2) Dalam hal terdapat pengembangan tata ruang atau tata kota yang mengakibatkan prasarana

kepemudaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggap tidak layak lagi, Pemerintah atau pemerintah daerah dapat memindahkan ke tempat yang lebih layak dan strategis.

(6)

6 C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Menyusun konsep dasar perancangan arsitektur untuk sebuah desain Youth Community Center yang sebagai ruang interaksi para pemuda. Fungsi Youth Community Center ini sebagai wadah untuk menyalurkan minat dan bakat para pemuda sehingga mereka dapat menyalurkan waktu mereka untuk kegiatan yang positif, dan tidak melakukan hal-hal negatif lainnya.

2. Tujuan Khusus

• Menciptakan tempat sebagai wadah para pemuda untuk menyalurkan minat dan bakat mereka

• Sirkulasi dan tata ruang yang tepat sehingga dapat mewadahi aktivitas dengan baik dan berfungsi sebagai ruang interaksi komunitas

• Menambah sarana dan objek pariwisata baik untuk masyarakat lokal maupun wisatawan.

D. SASARAN

Menganalisa, memecahkan permasalahan dan merumuskan konsep dasar perancangan arsitektur untuk bangunan fasilitas umum yang dapat memicu interaksi sosial, dengan memahami apa itu interaksi sosial dan implikasinya pada desain, serta memahami seberapa besar porsi tiap ruang agar didapatkan desain yang efektif dan efisien namun tetap dapat mewadahi fungsinya dengan maksimal.

E. LINGKUP PEMBAHASAN

Lingkup pembahasan mengenai Youth Community Center ini terbatas dalam mewadahi komunitas para pemuda dimana kegiatan-kegiatan yang dilakukan banyak bersifat fisik, baik itu kegiatan dalam ruang maupun luar ruang. Dengan penggabungan fungsi bangunan fasilitas umum dengan penekanan pada ramah lingkungan, dan pemecahan permasalahannya yang akan dijabarkan menjadi hal-hal yang sesuai dengan tujuan dan sasaran yang masih berada dalam lingkup disiplin arsitektur.

(7)

7 F. METODOLOGI

1. Studi Literatur

Kegiatan studi literatur yang dilakukan antara lain: • Studi literatur mengenai Youth Community Center • Studi literatur mengenai kondisi kota Yogyakarta 2. Observasi

Kegiatan observasi yang dilakukan antara lain:

• Studi kelayakan fasilitas pendukung kegiatan komunitas pemuda • Observasi kegiatan komunitas pemuda

3. Wawancara

Kegiatan wawancara meliputi:

• Para pemuda mengenai kegiatan-kegiatan mereka • Pendapat para pemuda tentang fasilitas yang sudah ada

• Keinginan para pemuda tentang fasilitas untuk mewadahi kegiatan mereka 4. Analisa dan Pendekatan

Melakukan kajian lebih dalam terhadap fasilitas pendukung kegiatan pemuda yang sudah ada di Yogyakarta baik lokasi, fungsi yang diwadahi dan bentuk fisik bangunan untuk menemukan permasalahan dan kekurangannya. Kemudian dari analisa tersebut dilakukan upaya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dengan berbagai pendekatan.

5. Perumusan Konsep

Perumusan Konsep adalah tahap mengumpulkan semua analisis dan permasalahan yang ada untuk kemudian didapatkan sebuah penyelesaian atas permasalahan yang ada dan menghasilkan sebuah konsep yang menjawab isu-isu lingkungan yang nantinya akan meningkatkan kualitas lingkungan itu sendiri.

G. SISTEMATIKA PENULISAN 1. Bab I Pendahuluan

Mengungkapkan latar belakang permasalahan, permasalahan, tujuan, sasaran, lingkup pembahasan, metoda pembahasan, sistematika pembahasan,

(8)

8 keaslian penulisan dan kerangka berpikir yang merupakan uraian tentang garis besar isi penulisan.

2. Bab II Kajian Youth Community Center

Membahas tentang pemuda dan komunitas, fasilitas pendukung kegiatan komunitas pemuda, Youth Community Center, dan studi preseden mengenai Youth Community Center untuk menjadi literatur dalam mendesain.

3. Bab III Kajian Wilayah Yogyakarta

Membahas tentang karakteristik wilayah, penduduk, potensi, penyebaran dan kegiatan pemuda di Yogyakarta, jenis dan penyebaran komunitas pemuda di Yogyakarta, dan fasilitas pendukung kegiatan komunitas pemuda yang sudah ada di Yogyakarta sebagai bahan pertimbangan dalam mendesain.

4. Bab IV Analisa Konsep Perancangan

Berisi tentang analisis site dan keadaan sekitar site, serta prinsip-prinsip, pendekatan, dan alternatif konsep yang digunakan sebagai pedoman untuk mendapatkan konsep.

5. Bab V Konsep Perancangan

Berisi tentang penerapan konsep sesuai analisa dan prinsip-prinsip desain, dan pengembangan desain yang direncanakan.

H. KEASLIAN PENULISAN

Beberapa laporan penelitian yang memiliki fungsi bangunan serupa telah dilakukan namun terdapat beberapa perbedaan yang menjadi keunikan laporan penelitian penulis. Beberapa laporan penelitian yang sudah ada dan ditemukan penulis antara lain:

• Judul : Yogyakarta Community Center Dengan Pendekatan Multi Fungsi

Oleh : Hettik (02/157290/TK/27295)

• Judul : Gelanggang Remaja di Purbalingga Sebagai Wahana Kegiatan

Rekreatif, Edukatif dan Interaktif

(9)

9

• Judul : Gelanggang Remaja Wadah Kegiatan Rekreatif dan Edukatif di

Yogyakarta

Oleh : Eksi Prasetyaningrum (06/192849/TK/31282)

• Judul : Gelanggang Remaja di Yogyakarta Dengan Pendekatan Versabilitas

Ruang Untuk Menciptakan Interaksi Pengguna Ruang

(10)

10 I. KERANGKA BERPIKIR

Referensi

Dokumen terkait

a) hendaknya memperhatikan pelaksanaan pendidikan bagi ABK di SLBN Tenggarong, dengan memberikan bantuan seperti pemenuhan fasilitas atau sarana dan prasarana pendukung

Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan merupakan program kerja dalam pembangunan bidang kepemudaan, seni, budaya, olahraga

Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan merupakan program kerja dalam pembangunan bidang kepemudaan, seni, budaya, olahraga

Kedua, sarana dan prasarana di SMK lebih pada penyediaan fasilitas pembelajaran kejuruan seperti bengkel atau ruang praktikum yang memungkinkan siswa memandang bahwa belajar

Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Solok disusun berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD),

Berisi tentang definisi dan hasil rumusan konsep baik perencanaan maupun perancangan yang akan diterapkan dalam mendesain taman kuliner sebagai fasilitas pendukung

Perancangan media ini dipilih untuk membuat para pemuda-pemudi tertarik untuk mempelajari tentang pentingnya ulos di dalam adat istiadat Batak dan menjadi media

Penelitian ini dibuat untuk mengetahui fasilitas dan layanan bagi penyandang disabilitas di Kota Salatiga baik dari segi sarana prasarana, tenaga pustakawan