DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PARIPURNA KE-5 MASA SIDANG I TAHUN SIDANG

35  Download (0)

Full text

(1)

Nomor : DPD.220/SP/5/2011

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH

SIDANG PARIPURNA KE-5

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA MASA SIDANG I TAHUN SIDANG 2011-2012

I. KETERANGAN

1. Hari : Jumat

2. Tanggal : 28 Oktober 2011 3. Waktu : 09.40 WIB – Selesai

4. Tempat : GEDUNG NUSANTARA V

5. Pimpinan Sidang : Pimpinan DPD

1. H. Irman Gusman, SE., MBA. (Ketua)

2. Dr. Laode Ida (Wakil Ketua) 3. GKR. Hemas (Wakil Ketua)

6. Sekretaris Sidang : 1. Sekretaris Jenderal DPD (DR. Ir. Siti Nurbaya Bakar, MSc.) 2. Wakil Sekretaris Jenderal DPD (Drs. Djamhur Hidayat) 7. Panitera : Kepala Biro Persidangan II (Dra. Sri Sumarwati Isf.)

8. Acara :

1. Laporan perkembangan pelaksanaan tugas masing-masing Alat Kelengkapan DPD RI.

2. Pengesahan Putusan DPD RI.

3. Penutupan Masa Sidang I Tahun Sidang 2011-2012

9. Hadir : 96 Orang

10. Tidak hadir : 36 Orang II. JALANNYA SIDANG :

(2)

1. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Karena waktu kurang 20 menit jam 10.00, sementara hari ini adalah hari Jumat, maka saya kira kit tidak perlu menundanya lagi dan sidang ini saya buka dengan resmi.

Bapak-bapak Ibu-ibu sekalian, pertama sekali saya atas nama pimpinan mengucapkan mohon maaf, karena Pak Irman Gusman, Pak Ketua itu berhalangan hadir untuk bagian pertama pada pembukaan sidang hari ini, pagi ini, karena beliau memberikan satu kesaksian yang dia tidak bisa tinggalkan pada hari ini sehingga meminta saya untuk menggantikan beliau. Tapi beliau segera menyusul pada sekitar jam 10.00, beliau akan segera menyusul.

Pagi ini adalah pembukaan Sidang Paripurna ke-5 dewan Perwakilan Daerah Masa Sidang I Tahun 2011-2012.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera buat kita semua.

Om Swastyastu.

Sebelum kita memasuki sidang, maka sebagaimana diatur dalam undang-undang kita wajib menyanyikan lagu Indonesia Raya. Untuk itu pada tim paduan suara kami mintakan waktunya untuk memandu lagu Indonesia Raya dan kita semua diharapkan berdiri.

2. PEMBICARA : PADUAN SUARA Hiduplah Indonesia raya…

Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku. Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru. Indonesia bersatu. Hiduplah tanahku. Hiduplah negriku.

Bangsaku Rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya.

Bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya. Indonesia Raya. Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta.

SIDANG DIBUKA PUKUL 09.40 WIB

(3)

Indonesia Raya. Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya.

3. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Bapak-bapak Ibu-ibu anggota DPD yang sama saya hormati.

Berdasarkan catatan daftar hadir yang disampaikan oleh sekretariat, pada sekarang ini sudah hadir 50 orang anggota, yang sedang bertugas, yang ijin 3 orang dan laporan yagn bertugas belum ada. Jadi karena kita pada sidang pagi ini kita akan mengambil beberapa keputusan dari setiap alat kelengkapan, maka saya kira kita sambil menunggu waktu kita skors sidang dulu sekitar 10 menit atau 5 menit.

4. PEMBICARA : H. ABDUL GAFAR USMAN, MM. (RIAU) Pimpinan.

5. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Pak Gafar, silakan.

6. PEMBICARA : H. ABDUL GAFAR USMAN, MM. (RIAU)

Saya melihat materi yang kita terima tidak semuanya mengambil keputusan. Karena tidak semuanya mengambil keputusan, kita dahului saja yang tidak mengambil keputusan tidak perlu kuorum. Jadi saran saya, karena hari ini hari Jumat jadi kita dulukan sekarang agenda yang tidak mengambil keputusan. Demikian Pak Ketua terima kasih sekali.

7. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Iya, apa kita setuju seperti itu? karena yang mengambil keputusan kita putuskan berdasarkan kuorum, tapi yang tidak mengambil keputusan saya kira kita bisa lanjutkan. Saya kira ini ide yang bagus. Setuju? Oke kita lanjutkan.

Saya kira kita lanjutkan dengan mendengarkan laporan saja dari alat-alat kelengkapan yang menyampaikan laporan perkembangan kegiatannya tetapi tidak emngambil keputusan. Yang pertama PPUU, kemudian yang kedua Panitia Urusan Rumah tangga, ketiga PAP, dan keempat Kelompok DPD di MPR. Empat alat kelengkapan ini yang akan menyampaikan laporan tapi tidak diambil keputusan. Untuk itu dengan hormat saya mengundang Ketua PPUU atau Pimpinan PPUU untuk menyampaikan laporan perkembangannya. Belum ada?

(4)

PAP, PAP ini saya kira sudah siap ini laporannya, bahannya masih ditunggu ya Pak? PURT? PURT silakan, Pak Budi.

8. PEMBICARA : Dr. BUDI DOKU (GORONTALO)

Bahannya belum dikasih, nanti, bagus menunggu kuorum kalau PURT. 9. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Kalau begitu Kelompok DPD di MPR.

10. PEMBICARA : ISHAK MANDACAN, SH. (PAPUA BARAT)

Ijin Pak Ketua, kalau bisa dikasih istirahat 5 menit sambil menunggu berkas-berkas yang sedang dipersiapkan.

11. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Sudah diputuskan dilanjutkan, tapi saya kira.

12. PEMBICARA : ISHAK MANDACAN, SH. (PAPUA BARAT)

Taip bahan yang mau dilaporkan itu sementara lagi didalam proses. Dan ini mau dibacakan apa kalau orang-orangnya sudah ada tapi bahannya belum ada. Jadi mohon pertimbangkan.

13. PEMBICARA : Ir. H. BAMBANG SUSILO, MM. (KALTIM)

Pimpinan, B-92. Mungkin bisa di cek kedepan ada tambahan. Terima kasih. 14. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Sementara saya minta di cek oleh sekretariat sudah berapa orang yang hadir, dan saya kira hampir mencapai kuorum paling tidak ya. Sudah 62 orang dalam catatan dan yang ijin 3 orang, jadi 65 orang. Kurang 2 orang lagi untuk mencapai kuorum. Pak Farouk sudah ada yang bisa disampaikan? PURT? Silakan PURT.

15. PEMBICARA : dr. BUDI DOKU (KETUA PURT) Jangan lupa ketik kodomo sms ke Rahmat. Eh komodo. Bismillahirrohmanirrohim.

Laporan perkembangan pelaksanaan tugas PURT DPD Masa Sidang I Tahun Sidang 2011-2012 pada Sidang Paripurna ke-4 DPD, dibacakan oleh dr. Budi Doku.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua.

Om Swastyastu.

Yang saya hormati pimpinan DPD. Saudara-saudara anggota DPD RI.

Yang terhormat saudara Sekretaris Jenderal DPD beserta jajarannya. Hadirin yang berbahagia.

(5)

Pada hari ini ijinkanlah kami atas nama seluruh anggota PURT melaporkan hasil pelaksanaan tugas pada Masa Sidang I Tahun Sidang 2011-2012, pada Sidang Paripurna ke-4 DPD Tahun Sidang 2011-2012. Yang berkenaan dengan penyusunan kebijakan anggaran dan kerumahtanggaan DPD sesuai dengan tugas dan wewenang DPD yang diamanatkan dalam peraturan DPD tentang tata tertib. Dalam rangka efektifitas pelaksanaan tugas pada tahun sidang 2011-2012 PURT telah membentuk 3 tim kerja PURT DPD, yaitu tim kerja bidang anggaran, tim kerja bidang sarana dan prasarana, tim kerja bidang peningkatan kinerja dan pengawasan.

Pada masa sidang pertama tahun sidang 2011-2012 ini PURT telah melakukan pembahasan mengenai revisi anggaran program kegiatan DPD tahun anggaran 2011, rancangan anggaran program kegiatan DPD tahun 2012, pembentukan kantor DPD di ibukota provinsi, dukungan sarana prasarana dalam rangka peningkatan kinerja DPD, review rencana strategis DPD Tahun 2010-2014, penyusunan petunjuk operasional kegiatan dana aspirasi percepatan pembangunan daerah (P2D) DPD Tahun Anggaran 2011 dan evaluasi Askes bagi anggota beserta keluarga.

Hadirin yang berbahagia, seiring dengan perkembangan pelaksanaan tugas alat kelengkapan, pelaksanaan tugas dan kewenangan alat kelengkapan DPD dan Kelompok DPD, PURT memandang bahwa masih terdapat program kegiatan alat kelengkapan DPD dan Kelompok DPD yang anggarannya tidak mencukupi, atau bahkan belum teralokasi, atau dalam anggaran DPD tahun 2011. Untuk itu PURT telah melakukan optimalisasi melalui revisi anggaran berdasarkan usulan, masukan dari seluruh alat kelengkapan DPD dan Kelompok DPD di MPR dalam rangka optimalisasi penyerapan anggaran DPD RI Tahun 2011.

Berkenaan dengan Pagu Anggaran DPD Tahun 2012, pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 15/KMK.02/2011 Tanggal 30 Juni 2011 telah menetapkan Pagu Sementara DPD RI Tahun 2011 sebesar Rp. 604.098.380.000. (Enam ratus empat milyar sembilan puluh delapan juta tiga ratus delapan puluh ribu rupiah). Dengan perincian :

1. Program penguatan kelembagaan DPD dan sistem demokrasi sebesar Rp 301.000.000.000. (tiga ratus satu milyar).

2. Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas lainnya DPD RI Rp. 264.000.000.000. (dua ratus enam puluh empat milyar)

3. Program peningkatan sarana/prasarana aparatur DPD RI Rp. 37.000.000.000. (tiga puluh tujuh milyar)

Total Rp. 604.098.382.000. (Enam ratus empat milyar sembilan puluh delapan juta tiga ratus delapan puluh dua ribu rupiah).

PURT menilai bahwa Pagu Sementara DPD Tahun 2012 belum dapat mendukung pelaksanaan tugas dan kewenangan DPD sebagaimana yang diamanatkan oleh Peraturan Perundang-undangan. Untuk itu DPD mengajukan usulan penambahan Pagu Anggaran DPD Tahun 2012 sebesar Rp. 743.012.472.700. (tujuh ratus empat puluh tiga milyar dua belas juta empat ratus tujuh puluh dua ribu tujuh ratus rupiah). Yang antara lain dialokasikan untuk pembangunan gedung kantor DPD di ibukota provinsi, operasional kantor sementara DPD di ibukota provinsi dan dukungan anggaran untuk pelaksanaan tugas-tugas konstitusional DPD. Sehingga diharapkan Pagu Anggaran Tahun 2012 sebesar Rp.1.340.110.854.700 (satu triliun tiga ratus empat puluh milyar seratus sepuluh juta delapan ratus lima puluh empat ribu tujuh ratus rupiah). Usulan penambahan Pagu DPD tahun 2012 telah pula disampaikan oleh anggota PURT yang berasal dari Komite IV DPD kepada Banggar DPR pada saat sidang bersama antara Badan Anggaran DPR dan Komite IV DPD dalam rangka pembahasan RAPBN 2012 pada tanggal 6 Oktober 2011.

(6)

Hadirin yang berbahagia, berkenaan dengan perkembangan pembentukan kantor DPD di ibukota provinsi pada tahun anggaran 2011 dapat kami sampaikan bahwa berdasarkan Instruksi Presiden No. 7 Tahun 2011, tanggal 7 April 2011, seluruh kementerian, lembaga termasuk DPD diminta untuk melakukan review dan evaluasi terhadap alokasi pembangunan gedung kantor termasuk pengadaan tanah pada tahun anggaran 2011. Pembangunan gedung kantor dapat dilaksanakan sepanjang sangat diperlukan (urgent) dengan besaran luasan sesuai dengan kententuan perundangan yang berlaku, azas kepatutan dan kepantasan. Berdasarkan persetujuan clearance dari Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Persetujuan clearance atas rencana pembangunan gedung DPD di ibukota provinsi dari Kementerian Menpan telah diterbitkan pada tanggal 26 Agustus, dari BPKP pada tanggal 13 September 2011, sedangkan dari Kementerian PU pada tanggal 16 Oktober 2011. Kementerian PU dalam surat persetujuan tersebut juga menyampaikan analisa teknis atas pembangunan gedung DPD di ibukota provinsi dengan luasan 2.100 meter yang meliputi 3 lantai. Dimana keseluruhan biaya pembangunan gedung kantor DPD di 33 provinsi adalah sebesar Rp. 93.655.247.600 ( sembilan puluh tiga milyar enam ratus lima puluh lima juta dua ratus empat puluh tujuh ribu enam ratus rupiah). Penetapan luasan gedung 2.100 meter yang meliputi 3 lantai tersebut berdasarkan Surat Menteri Menpan tanggal 21 September 2011 tentang persetujuan organisasi kantor DPD di ibukota provinsi, bahwa kepala kantor DPD di ibukota provinsi adalah pejabat struktural Eselon IIIA dengan didukung oleh 4 pejabat struktural Eselon IVA serta pejabat fungsional.

Selanjutnya PURT juga telah menyepakati bahwa pembangunan gedung kantor DPD RI di 33 provinsi dilakukan melalui kontrak tahun jamak (multi years contract) selama 3 tahun mulai tahun 2011 sampai dengan tahun 2013. Berkaitan dengan ketersediaan tanah dalam hal hibah lahan tanah kepada DPD RI, PURT juga menyepakati bahwa pembangunan gedung kantor DPD di 33 provinsi dilaksanakan dengan tiga tahapan yang telah disesuaikan dengan kesiapan lahan di masing-masing provinsi. Tahap pertama ada 9 provinsi. Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jogja, NTT, Kalimantan Tengah, Papua Barat dan Sulawesi Barat. Dan gambarnya sudah ada di anggota PURT dan sudah diserahkan ke teman seprovinsi. Itu tahap pertama yang akan dimulai bulan depan. Yang tahap kedua, 13 provinsi. Jadi yang tahap pertama ini yang sudah menyelesaikan hibah. Yang tahap kedua masih pinjam pakai dan akan di-ini sampai ke hibah. Sumatera Barat, Riau, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara dan Maluku. Tahap tiga, DKI Jakarta, Nanggroe Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Kaltim, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara dan Papua.

Hadirin yang berbahagia, pada Sidang Paripurna ke-5 DPD Masa Sidang I Tahun Sidang 2010-2011 pada tanggal 26 Oktober 2010 DPD telah menetapkan Keputusan DPD Nomor 7/DPDRI/I/2010-2011 tentang dana aspirasi untuk percepatan pembangunan daerah atau dikenal dengan P2D yang telah menetapkan 3 alternatif atas usulan Komite IV. Pertama, penyaluran dana aspirasi untuk percepatan pembangunan daerah, itu alternatif pertama dana aspirasi masyarakat melalui lembaga parlemen. Alternatif kedua, Bagian Anggaran 99 Kementerian Keuangan. Alternatif ketiga, dana alokasi khusus aspirasi percepatan pembangunan daerah.

Berdasarkan Keputusan DPD tersebut anggaran DPD Tahun 2011 telah dialokasikan dana aspirasi untuk percepatan pembangunan daerah sebagaimana yang ditetapkan dalam alternatif pertama, yaitu dana artikulasi aspirasi masyarakat melalui lembaga parlemen.

Selanjutnya, Sidang Pleno ke-3 PURT DPD pada tanggal 4 September 2011 telah menyepakati pembentukan tim ad hoc PURT DPD dalam rangka penyusunan petunjuk operasional kegiatan dana aspirasi percepatan pembangunan daerah DPD tahun 2011 yang

(7)

beranggotakan 7 orang, yang terdiri atas gabungan anggota PURT dan anggota Komite IV. Tim ad hoc bersama sekretariat jenderal DPD, mantan auditor utama BPK dan mantan pejabat kantor perbendaharaan Kementerian Keuangan, pakar ahli telah merumuskan rancangan petunjuk operasional kegiatan dana aspirasi P2D DPD tahun 2011. Yang meliputi dasar hukum, prinsip-prinsip dan tujuan, alokasi anggaran, kriteria umum kegiatan yang biasa didanai oleh dana P2D DPD, kelompok penerima dana P2D DPD, persyaratan kelompok penerima dana ini dan mekanisme pengelolaan dana P2D dan petunjuk teknis pengelolaan anggaran P2D DPD.

Dari hasil perumusan ini diketahui bahwa terdapat perbedaan mekanisme dan teknis penganggaran dana ini yang ditetapkan dalam keputusan DPD No.7/DPDRI/I/2010-2011 dan rancangan petunjuk operasional kegiatan dana aspirasi P2D DPD tahun 2011. Sehingga perlu dilakukan perubahan atas keputusan DPD No.7/DPDRI/I/2010-2011.

Dari logika peraturan perundang-undangan yang berhak mengubah atau mencabut keputusan tesebut adalah si pembuat keputusan yaitu Komite IV. Dan proses awalnya harus diulangi kembali yang mana Komite IV DPD perlu merumuskan kembali dengan DPR dan pemerintah jika akan melakukan perubahan atas keputusan tersebut.

Selanjutnya Sidang Pleno PURT ke-7 PURT DPD Masa Sidang I Tahun Sidang 2011-2012 pada tanggal 26 Oktober 2011 merekomendasikan agar dilakukan moratorium tentang dana aspirasi ini dan mengembalikan kepada Komite IV DPD untuk menyusun keputusan DPD No.7/DPDRI/I/2010-2011 tentang dana aspirasi untuk percepatan pembangunan daerah, untuk penyempurnaan mekanisme dan teknis penganggaran dana aspirasi untuk percepatan pembangunan daerah. PURT juga berpandangan perlu dilakukan kajian secara mendalam atas konsep dana aspirasi DPD agar pelaksanaannya tidak ada penyimpangan dan sorotan publik. Dan perlu ada telaahan tentang mekanisme dana aspirasi berkenaan dengan mekanisme keuangan, politis, hukum terkait penyaluran dana aspirasi berdasarkan pakar ahli.

Hadirin yang berbahagia, demikianlah beberapa hal yang dapat kami sampaikan. Atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.

Wabilahitaufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Syalom.

Om Shanty Shanty Shanty Om.

16. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Terima kasih Pak Ketua PURT.

Memang berdasarkan catatan yang masuk dari sekretariat sekarang sudah berjumlah 67, yang masuk dua orang terakhir, berarti 69. Yang sakit, yang izin 2 orang, yang tugas 1 orang. Jadi sudah sekitar 72 orang yang hadir dalam ruangan ini yang menandatangani administrasi. Tapi saya kira tadi kita sudah mulai dulu dengan yang tidak mengambil keputusan. Tadi kita sudah mendengarkan laporan dari Ketua PURT dan saya kira itu rekomendasi-rekomendasinya perlu ditindaklanjuti secara administrasi dan secara politik oleh alat kelengkapan yang terkait. Kami persilakan.

17. PEMBICARA : Ir. H. BAMBANG SUSILO, MM. (KALTIM)

Interupsi Ketua. Saya pikir kan sudah kuorum ini, ada hal-hal sesuai keputusan Panmus segera dilakukan keputusan di paripurna. Mungkin kembali lagi yang tadi bisa dicabut untuk memberi kesempatan kepada komite-komite atau alat kelengkapan lain melakukan suatu pengesahan. Terima kasih.

(8)

18. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Nanti setelah PAP, karena Pak Faoruk sudah siap dari tadi, ya?

19. PEMBICARA : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (KETUA PAP) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat pagi salam sejahtera. Om Swastyastu.

Pimpinan dan forum paripurna yang sama kami hormati.

Dengan terlebih dahulu memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas kesempatan ini dan kami langsung saja kepada pokok permasalahan. Sebelumnya sebagai ilustrasi kami laporkan kepada pimpinan sebagaimana secara tertulis sudah disampaikan bahwa di awal masa sidang pimpinan Komite IV bersama PAP telah mengadakan pertemuan dan dicapai suatu kesepatakan. Sehingga PAP lebih memfokuskan tugasnya kepada penanganan kasus itu, itu yang utama dari kesepakatan yang kita lakukan. Dan alhamdulillah hal itulah yang dilakukan oleh PAP dalam masa sidang I ini.

PAP laporan lengkap, mudah-mudahan sudah dibagi kepada para anggota semua yang terhormat. Secara summary saja saya menyampaikan beberapa hal.

Pertama mengenai kunjungan kerja PAP provinsi Bali, Kalimantan Timur dan Riau. Dan objek obrik yang dikunjungi atau yang didengar, atau dilakukan klarifikasi itu di Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Pemerintah Provinsi Riau, Kabupaten Indragiri hilir, Indragiri hulu, Kuantan Singingi, Kabupaten Siak dan Kota Pekanbaru. Pemilihan ini didasarkan kepada kasus-kasus yang menonjol dari temuan-temuan BPK sebelumnya, 2009-2010, bahkan ada yang 2011. Kasus dan kerugian yang disampaikan di provinsi Bali atau masing-masing kabupaten secara teknis sudah tertera di dalam laporan kami, yaitu masing-masing di Provinsi Bali ada 1 kasus, kemudian Kabupaten Badung ada satu kasus, Kutai Kartanegara ada 11 kasus, Provinsi Riau 6 kasus, Indragiri hulu 5 kasus, Indragiri hulu 10 kasus, Kuantan Singi 1 kasus, Siak 5 kasus dan kota Pekanbaru 7 kasus.

Klarifikasi ada 47 kasus yang dapat diklarifikasi dan telah berhasil menambah pengembalian kerugian negara senilai, jadi dari posisi terakhir pada waktu kita klarifikasi ada penambahan updating data pemutakhiran 2,7 milyar yang berasal dari Provinsi Riau dan Kota Pekanbaru. Disamping itu juga dari Kabupaten Kutai Kartanegara dari seluruh kerugian negara yang semestinya harus dikembalikan sekitar 18 milyar baru dikembalikan sekitar 2 milyar, berarti ada penambahan dari laporan terakhir kepada BPK sekitar 1 milyar. Ada beberapa kendala yang ditemukan dalam tindaklanjut temuan BPK ini, termasuk peraturan pemerintah yang memang belum dibentuk, diadakan. Adanya perbedaan penafsiran. Ini yang menjadi hal yang sangat penting. Jadi acap kali ternyata pemerintah daerah ini kita coba gali pemikiran-pemikirannya, apa kendala-kendala yang dihadapi dalam menindaklanjuti temuan BPK. Kita telah memberikan rekomendasi kepada objek terperiksa untuk segera menyelesaikan tagihan-tagihan. Dan untuk sebagian yang dipandang sudah ada indikasi korupsi untuk kita koordinasikan dengan aparat penegak hukum.

Kasus yang menonjol yang perlu kami laporkan disini pertama; pengadaan tanah di desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung. Dimana ada dugaan terjadi mark up, ini kejadian tahun anggaran 2008 sebesar kurang lebih 1 milyar. Dan ternyata disini ada beda persepsi antara pemerintah daerah dengan BPK. Tapi dilain pihak juga ini telah menjadi diproses secara hukum oleh Polda tetapi tidak dilanjutkan, nanti kami jelaskan.

(9)

Kasus kedua, terkait dengan penerimaan negara dari sumber royalty. Ini yang menjadi permasalahan kita hadapi. Ternyata ditemukan di daerah itu didalam temuan BPK itu ada sejumlah perusahaan tambang yang belum membayar royalti yang mestinya masuk menjadi bagian dari pemerintah daerah. Ini kita temukan di Kutai Kartanegara saja itu ada sekitar hampir 10 milyar dan 9 juta US Dolar sejak 2008-2009. Dan ternyata kasus ini kita coba kembangkan ditemukan untuk seluruh Kalimantan Timur ada sekitar 7 triliun uang mestinya masuk di kas daerah. Hal serupa kita temukan juga di kabupaten yang lain seperti di Indragiri Hilir maupun Indragiri Hulu, Kuantan Singingi. Ini permasalahan saya pikir sangat berarti bagi pemerintah daerah. Mestinya uang dari royalti itu masuk, dibayar ke pemerintah pusat diturunkan ke pemerintah daerah, tapi pemerintah daerah ternyata belum menemukan. Ini adalah harus menjadi bagian dari perjuangan kita DPD untuk dilakukan oleh kita sebagai wakil dari daerah ini.

Kemudian ada beberapa kasus yang juga kita koordinasikan dengan aparat penegak hukum. Pertama dengan Polda. Di Bali ada 2 kasus yang sedang ditangani, yaitu kasus yang tadi saya sampaikan, pengadaan tanah atau dugaan mark up dari pengadaan tanah ini, kurang lebih dengan kerugian 1 milyar. Tapi kasus ini ternyata belum bisa diserahkan oleh Polri, karena Polri masih menunggu audit dari BPK dan pemeriksaan saksi ahli. Hal serupa ini ternyata menjadi fenomena, sekian banyak kasus-kasus tindak pidana korupsi yang sekarang ini ditangani oleh aparat penegak hukum itu tidak bisa berlanjut, alasannya karena audit dan karena keterangan ahli. Yang agak menonjol saya sampaikan kepada forum yang terhormat ini kasus misalnya Papua Barat. Papua Barat belasan milyar kasus dari dana transfer dari bagi hasil masuk ke rekening diluar rekening pemerintah daerah, katakanlah pribadi, sudah 2 tahun, 3 tahun ditangani oleh kejaksaan agung tapi tidak ada ujung pangkalnya. Saya langsung telepon jaksa agung dan menanyakan bagaimana kelanjutan kasus ini Pak Basrief, “oh saya baru Pak Farouk, nanti biar jaksa jampidsus yang menghubungi Pak Faoruk”. Saya dihubungi jampidsus Pak Andi dijelaskan kepada saya tentang duduk persoalan kasus ini dan beliau mengatakan, “Kejaksaan Agung telah mengirim kepada BPK untuk melakukan audit, atau memberikan keterangan ahli tentang kerugian negara”. Hal serupa saya temukan di beberapa, lain, di polisi ada kasus Bupati Rembang terjadi hal serupa, masih menunggu. Jadi rupanya ada permasalahan stagnas dari proses penegakan hukum ini, salah satunya bersumber dari keterangan ahli. Dilain pihak saya mendapat informasi dari BPK itu mereka kesulitan, jumlah sumber daya tenaganya terbatas, itu memerlukan proses yang cukup panjang. Berarti lagi-lagi ini merupakan permasalahan yang ada semua di dalam rangkaian proses mulai dari pengelolaan keuangan negara, pengawasan sampai dengan penegakan hukum. Di lain itu kami juga mengkoordinasikan dengan kepolisian setempat tentang adanya pengaduan masyarakat yang mengakibatkan ada orang mati tertembak karena melakukan unjuk rasa beberapa tahun yang lalu, pengaduan masyarakat terkait penahanan warga karena sengketa tambang. Di Riau juga kita mencoba menanyakan minta klarifikasi dari penegak hukum tentang proses pemanggilan atau istilahnya undangan kepada pejabat daerah yang memang dalam proses PJR-nya itu masih berlangsung. Ini masalah-masalah yang kita koordinasikan baik dengan polda maupun dengan kejaksaan Tinggi.

Kemudian kami juga mengadakan rapat dengar pendapat dengan aparat penegak hukum. Tapi dengan sangat menyesal harus saya sampaikan bahwa rapat RDP yang semestinya dengan Kapolri diadakan pada tanggal 12 Oktober dan rombongan dari mabes Polri mewakili Kapolri sudah ada sekitar 15 orang tapi yang PAP hanya 8 orang. Karena itu dengan sangat menyesal itu kami mohon maaf dan ditunda dengan alasan bahwa sebagian anggota PAP masih ternyata ada kendala teknis belum bisa kembali ke Jakarta dari perjalanan dinas luar daerah. Begitu juga dengan Kejaksaan Agung esok harinya kita tidak bisa lanjutkan karena anggota yang bisa hadir hanya 8 orang. Jadi kita lain kali mungkin kalau kami mengundang pejabat ini ya sudahlah kita ajak saja anggota-anggota komite lain

(10)

supaya, karena permasalahan ini mungkin begitu, jangan hanya PAP sajalah. Mungkin kan banyak yang mempunyai masalah dengan kepolisian yang punya masalah dengan kejaksaan, karena ini barang yang sifatnya umum jadi mungkin itu nanti.

Kemudian PAP juga melakukan FGD Bapak ketua, wakil ketua, yang lalu 3 dan sekarang 2 sehingga menjadi 5. Dan FGD ini terkait untuk menggali lebih banyak tentang permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah daerah dalam terkait dengan hasil pengawasan atau pemeriksaan dari BPK.

Kemudian insya Allah puncak dari kegiatan FGD ini sebagaimana direncanakan akan dilaksanakan seminar nasional dan kemarin alhamdulillah sudah disepakati dalam Panmus seminar nasional itu akan diadakan pada tanggal 8 Desember dan insya Allah akan dibuka oleh Bapak Wakil Presiden dengan menghadirkan para gubernur, para bupati semua anggota DPD, sejumlah anggota DPR, dan semua pejabat dari kementerian pusat. Disana kita akan membahas fakta-fakta yang ditemukan oleh DPD tentang keluhan-keluhan dirasakan oleh pemerintah daerah, baik yang menyangkut BPK maupun aparat penegak hukum, begitu juga keluhan-keluhan BPK, begitu juga keluhan-keluhan aparat penegak hukum dan kita pertemukan semua dalam seminar itu, kita undang sebagai pembicara mulai dari Ketua BPK, Ketua Mahkamah Agung, KPK, Kapolri untuk memberikan tanggapan sehingga harus ada jalan keluar dan Wakil Presiden sangat appreciate pada langkah yang diambil oleh DPD. Karena itu beliau memberikan support secara teknis stafnya untuk membantu DPD supaya seminar ini lancar dan berhasil menelurkan suatu pemikiran untuk perubahan yang mendasar dari keseluruhan sistem pengawasan dan penegakan hukum di republik yang kita cintai ini.

Kemudian terakhir kami sampaikan juga bahwa kami menerima pengaduan dari masyarakat, ini masalah sangat krusial, sangat ini sekali. Dari Sumatera Selatan terkait pembebasan tanah wisma atlit yang akan digunakan untuk sea games beberapa hari yang akan datang. Ternyata ada warga masyarakat mengeluhkan karena sampai sekarang belum ada penggantian kerugian. Dan untuk itu PAP telah menyurati Gubernur Sumatera Selatan untuk menaruh perhatian, dan kemarin juga kami laporkan kepada Bapak Wakil Presiden, karena kemarin bersama ketua kami mengahadap Wakil Presiden untuk mohon kesediaan beliau untuk membuka dan memberikan sebagai keynote speaker pada seminar dan masalah ini juga kami sudah laporkan kepada Wakil Presiden dan Wakil Presiden akan memberikan perhatian. Dan Wakil Presiden sudah kami juga laporkan terkait royalti yang kami sebutkan tadi. Jadi ada hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang menyangkut hak-hak dari daerah yang perlu diperhatikan oleh pemerintah pusat.

Kami rasa cukup sekian yang dapat kami laporkan dalam forum yang kami hormati ini. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan terinformasikan dengan baik kepada semua anggota DPD. Kurang dan lebihnya kami mohon maaf.

Bilahitaufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Syalom.

Om Shanty Shanty Shanty Om.

20. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Terima kasih Pak Farouk, Ketua PAP. Karena tadi ada permintaan memang kita harus memutuskan berapa rancangan keputusan dari beberapa alat kelengkapan, maka saya kira kita mulai kembali dengan pimpinan Komite I untuk menyampaikan laporannya dan sekaligus saya kira rancangan keputusannya akan diambil pada pagi hari ini. Saya ingatkan waktu, saya kira tidak lebih dari 10 menit untuk setiap alat kelengkapan menyampaikan laporannya.

(11)

21. PEMBICARA : H. DANI ANWAR (DKI JAKARTA) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua.

Om Swastyastu.

Kepada yang terhormat pimpinan DPD RI, anggota DPD RI seluruh Indonesia.

Ibu Sesjen dan Bapak Wakil Sesjen beserta seluruh jajaran sekretariat jenderal dan hadirin serta undangan yang berbahagia.

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa yang berkat limpahan karunia-Nya sehingga kita dapat menghadiri dan insya Allah bisa mengikuti seluruh agenda sidang paripurna ke-5 DPD RI ini sampai selesai.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa Komite I dalam menjalankan tugas dan wewenang konstitusionalnya pada masa sidang tahun sidang 2011-2012 ini pada dasarnya diarahkan untuk terus mengoptimalkan penyelesaian program-program kegiatan terkait pembahasan RUU yang masuk prioritas Prolegnas 2011, pengawasan pelaksanaan undang-undang maupun perkembangan kekinian yang menuntut penanganan atas permasalahan aktual di daerah secara cepat. Untuk lebih lengkapnya sebagaimana agenda acara pada hari ini Komite I akan menyampaikan perkembangan pelaksanaan tugasnya sesuai dengan ruang lingkup tugas Komite I.

Perkembangan pelaksanaan tugas : 1. Penyusunan RUU usul inisiatif.

RUU tentang pertanahan.

RUU Pertanahan merupakan usul RUU inisiatif Komite I yang merupakan kelanjutan pembahasan dari masa sidang sebelumnya. Melalui Tim Kerja RUU Pertanahan yang diketuai oleh Dr. Rahmat Shah, telah disusun agenda kegiatan secara bertahap dimulai dari penyerapan aspirasi masyarakat yang dilakukan oleh rapat kerja, dengar pendapat umum, dengar pendapat, kunjungan kerja, studi referensi, uji shahih sampai dengan finalisasi penyusunan draft RUU. Dalam masa sidang I ini Komite I telah melakukan kegiatan kunjungan kerja ke provinsi Nusantara Tenggara Barat pada tanggal 12 sampai 14 Oktober 2011 dan kunjungan kerja ke Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 16 sampai 19 Oktober dengan laporan lengkap sebagaimana yang telah kami bagikan. Sampai dengan saat ini Komite I masih menghimpun masukan-masukan materi dari berbagai narasumber terkait dengan masalah pertanahan untuk kemudian akan dituangkan dalam sebuah naskah akademik.

2. Pembahasan RUU bersama DPR dan Pemerintah.

Penyusunan pandangan dan pendapat. Terkait dengan tugas legislasi lainnya, Komite I dalam masa sidang ini tengah melakukan pembahasan dalam rangka penyusunan pandangan DPD RI terhadap RUU Penanganan Konflik Sosial dan RUU Aparatur sipil negara.

a. Penyusunan pandangan atas Rancangan Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial. Komite I melalui tim kerja penangan konflik sosial yang diketahui oleh Bapak Anang Prihantoro melanjutkan tugas legislasi yang dimulai sejak akhir masa sidang IV tahun sidang 2010-2011 untuk menyiapkan pandangan DPD atas RUU Penanganan Konflik Sosial. Pada masa sidang I ini Komite I telah berhasil menyelesaikan pandangan atas RUU Penanganan Konflik Sosial untuk mendapatkan informasi yang sebanyak-banyaknya dari masyarakat dan pemerintah daerah telah dilakukan beberapa kegiatan oleh Komite I, diantaranya kunjungan kerja, rapat kerja, dengan pendapat umum dan finalisasi. Secara lengkap kegiatan yang dilakukan tersebut adalah sebagaimana yang

(12)

tertera dibawah ini. Setelah melakukan serangkaian kegiatan tersebut maka Komite I telah merumuskan sebuah pandangan terhadap RUU Penanganan Konflik Sosial yang dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Komite I berpandangan bahwa draft RUU Penanganan Konflik Sosial ini tidak perlu dilanjutkan pembahasannya. Mengingat dalam susbtansi pengaturan di RUU ini terdapat banyak berbagai permasalahan krusial dan fundamental. Berbagai permasalahan tersebut tidak hanya terkait dengan pengaturan di pasal perpasalnya, tetapi juga dalam naskah akademiknya.

b. Komite I berpandangan bahwa berbagai ketentuan pengaturan dalam RUU Penanganan Konflik Sosial ini menimbulkan sejumlah implikasi serius dan mendasar. Permasalahannya tersebut diantaranya :

1. Menimbulkan potensi terjadinya tumpang tindih fungsi, tugas dan kewenangan antara instansi pemerintah baik horizontal atau vertikal.

2. Jika RUU Penanganan Konflik Sosial ini dilanjutkan maka terbuka kemungkinan untuk mengabaikan penegakan hukum dan penggunaan lembaga negara dalam penyelesaian konflik.

3. Memiliki potensi menyuburkan praktek impunitas berkaitan dengan pelaku kejahatan, kekerasan dalam konflik.

4. Mengambil alih kewenangan presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan terkait hukum tata negara darurat.

5. Menimbulkan problematika dalam tata hubungan kewenangan antara pusat dan daerah terkait bidang keamanan.

6. Mengacaukan tata kelola keamanan negara berkaitan pembagian fungsi tugas dan kewenangan antara TNI dan Polri.

c. Komite I berpandangan bahwa dasar pembentukan RUU Penanganan Konflik Sosial tidak memiliki prespektif korban. RUU ini menggambarkan penekanan semata pada penyelesaian konfliknya.

d. Komite I berpandangan bahwa penanganan konflik sosial seharusnya dilakukan melalui upaya maksimalisasi kelembagaan negara yang sudah ada. Sejalan dengan itu memperbaiki koordinasi dan kerjasama yang selama dinilai bermasalah. Dengan demikian tidak perlu membentuk undang-undang dan lembaga baru yang khusus menangani konflik, karena persoalan yang ada bukan pada aspek regulasi akan tetapi kinerja setiap instansi pemerintah dari pusat sampai mengimplementasikan peraturannya yang telah ada. Oleh sebab itu melalui sidang paripurna yang mulia ini Komite I mengharapkan Bapak-Ibu anggota DPD RI dapat menyetujui naskah pandangan DPD RI terhadap RUU tentang PKS.

b. Penyusunan pandangan atas Rancangan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara. Untuk tugas legislasi penyusunan pandangan DPD atas RUU Aparatur Sipil Negara, Komite I membentuk tim kerja Aparatur Sipil Negara yang diketuai oleh Bapak Jack Jacob Ospara yang anggotanya merupakan anggota Timja RUU Pokok-pokok Kepegawaian dan Pejabat Negara yang RUU-nya telah mendapat persetujuan dalam sidang paripurna ke-3 DPD yang lalu. Dalam proses penyusunan pandangan DPD RI atas RUU Aparatur Sipil Negara dimaksud, Komite I telah memproleh berbagai macam masukan dari para pakar yang berkompeten. Setelah melakukan serangkaian kegiatan tersebut dan kajian secara mendalam maka Komite I telah merumuskan sebuah pandangan terhadap RUU Aparatur Sipil Negara yang secara garis besar memuat beberapa hal sebagai berikut :

(13)

1. Komite I mengusulkan agar nomenklatur RUU Aparatur Sipil Negara dirubah menjadi RUU tentang Pokok-pokok Kepegawaian dan Pejabat Negara.

2. Dalam beberapa ketentuan pasal per pasal masih diperlukan adanya beberapa penajaman dan konfirmasi lebih lanjut seperti pola karir, peta garis, peta karir, rencana suksesi, orientasi married system, struktur pembinaan dan sebagainya. Selain itu diperlukan perhatian lebih terhadap masih adanya ciri power culture, format pegawai negeri tidak tetap, konsistensi filosofi dan trust building.

3. RUU ini hendaknya dapat mengatur lebih jelas dan tegas mengenai netralitas pegawai negara.

4. Meleburkan komisi aparatur sipil, Lembaga Administrasi Negara dan Badan Kepegawaian Negara menjadi komisi kepegawaian negara. Oleh sebab itu melalui sidang paripurna yang mulia ini Komite I mengharapkan Bapak-Ibu anggota DPD RI dapat menyetujui naskah pandangan DPD RI terhadap RUU tentang Aparatur Sipil Negara.

3. Pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang.

a. Untuk melaksanakan tugas dan kewenangan Komite I yang terkait untuk pengawasan atas pelaksanaan undang-undang, Komite I telah sepakat untuk mengawasi 2 buah undang-undang yaitu Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, ditambah dengan pengawasan atas pelaksanaan program e-KTP. Terkait dengan pengawasan atas Undang-Undang Wilayah Negara dan sebagai bagian dari upaya untuk memperdalam permasalahan perbatasan khususnya menyikapi permasalahan aktual perbatasan di wilayah RI dan Malaysia, Komite I telah melakukan rapat kerja dengan Kementerian Pertahanan, Bakorsurtanal dan Gubernur Kalimantan Barat pada tanggal 24 Oktober 2011 yang menghasilkan nota kesepakatan sebagai berikut : 1. Cara pandang atau paradigma yang perlu dibangun bersama mengenai wilayah

Indonesia yaitu wilayah Indonesia merupakan wilayah bekas penjajahan Belanda. Maka peta perbatasan Indonesia berdasarkan pada peta yang dibuat oleh pemerintah Belanda bersama dengan pemerintah Inggris untuk di Kalimantan. 2. Terdapat perbedaan pada segmen Tanjung Batu dan Camar Bulan yang perlu

disatukan dengan bersama-sama mempelajari dengan teliti : a. Peta Kerajaan Sambas yang menjadi wilayah Belanda. b. Dokumen Belanda dan Inggris.

c. Kondisi lokal dan masyarakat daerah. d. Kondisi lapangan tertindih.

Komite I bersama-sama dengan Gubernur Provinsi Kalimantan Barat meminta agar pemerintah pusat meninjau kembali memorandum of understanding tahun 1978.

4. Terhadap perbedaan garis perbatasan 10 out boundary problems di Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, Komite I meminta agar pemerintah pusat teliti dan hati-hati dalam membuat kesepakatan dengan pemerintah Malaysia. Tidak boleh ada sejengkal tanah pun yang lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5. Komite I DPD RI memperjuangkan penambahan anggaran untuk menjaga kedaulatan wilayah perbatasan Indonesia.

6. Bangun kesejahteraan masyarakat perbatasan dengan mengembangkan potensi ekonomi dan pemberdayaan sumber daya manusia.

b. Terkait dengan tugas pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi manusia. Untuk mengefektifkan pembahasan Komite

(14)

I telah membentuk tim kerja yang diketuai oleh Bapak Amang Syafrudin. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan oleh Komite I dalam rangka penyusunan hasil pengawasan DPD RI atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 adalah penyerapan aspirasi masyarakat yang dilakukan melalui dengar pendapat umum, dengar pendapat, rapat kerja maupun kunjungan kerja dan finalisasi pengawasan ditargetkan selesai pada masa sidang III tahun 2011-2012.

c. Terkait dengan pengawasan pelaksanaan program e-KTP sebagaimana diketahui bahwa program e-KTP oleh pemerintah akan ditargetkan selesai pada tahun 2012. program e-KTP dapat dikatakan sebagai salah satu mega proyek pemerintah karena dana yang dianggarkan untuk program ini sangat besar, yakni hampir mencapai 6 triliun. Oleh sebab itu Komite I memandang perlu dilakukan pemantauan atas pelaksanaan program e-KTP dengan maksud agar program pemerintah tersebut jangan sampai gagal dan dapat berjalan efektif. Sehubungan dengan hal itu Komite I mengharapkan kepada seluruh anggota untuk dapat melakukan pemantauan atas pelaksanaan program e-KTP di daerah pemilihannya masing-masing pada saat reses. d. Tindaklanjut Pansus Perbatasan. Komite I melalui tim kerja perbatasan yang

merupakan tindak lanjut dari tugas Pansus Perbatasan telah menyelesaikan pembahasan dalam rangka penyusunan buku laporan yang menandai berakhirnya tugas tim kerja perbatasan. Sehubungan dengan hal tersebut pada kesempatan ini kami mohon ijin kepada pimpinan sidang untuk memberikan kesempatan kepada ketua tim kerja perbatasan untuk menyampaikan laporannya. Atas ijin Bapak Ketua nanti kami persilakan kepada Bapak Ferry Tinggogoy untuk menyampaikan laporan mengenai perbatasan.

Demikian laporan perkembangan pelaksanaan tugas Komite I untuk sidang paripurna ke-5 pada masa sidang tahun 2011-2012 yang dapat kami sampaikan. Atas perhatian pimpinan dan seluruh anggota DPD RI serta hadirin kami ucapkan terima kasih

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam Sejahtera bagi kita semua.

Om Shanty Shanty Shanty Om.

22. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Terima kasih Pak Ketua Komite I. Tadi kita ada permintaan untuk mengesahkan 2 rancangan keputusan DPD. Tapi sebelum itu juga ada permintaan untuk mempersilakan Ketua Panja Perbatasan, Panitia Kerja Perbatasan untuk menyampaikan laporannya. Itu saya kira. Ini saya tawarkan, tapi saya kira ini bagian dari laporan Komite I ya Pak, mudah-mudahan tidak lebih dari 5 menit. Silakan Pak

23. PEMBICARA: FERRY F.X. TINGGOGOY (KETUA PANSUS PERBATASAN) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam Sejahtera, dan Om Swastyastu.

Pimpinan yang kami hormati, Ibu Sekjen, Wakil Sekjen dan staf yang kami hormati, sahabat-sahabat senator dari seluruh Indonesia yang saya banggakan.

Dihadapan Bapak dan Ibu ada dua buku yang kami sampaikan, satu buku agak tebal, agak membosankan untuk membaca, kadang-kadang agak ilmiah dan ada yang kecil. Saya berharap yang kecil saja dipahami, maka seluruh masalah perbatasan negara dapat dipahami. Kalau kita berbicara tentang perbatasan sangat terkait dengan Undang-Undang Dasar.

(15)

Dimana dikatakan bahwa sebuah negara harus terdiri dari sebuah wilayah, kemudian penduduk dan pemerintahan, lain-lain hanya tambahan. Permasalahannya wilayah yang kita peroleh dari saudara tua kita Belanda diserahkan kepada kita belum memperoleh garis batas yang pasti. Jangan dipersoalkan kenapa kita dengan Malaysia masih banyak permasalahan. Dalam buku yang kecil ini Bapak-bapak bisa pahami dan rasakan terutama sahabat-sahabat dari 12 provinsi yang memiliki perbatasan. Dari 12 provinsi yang mengalami perbatasan provinsi mana saja tolong dibaca. Ada 2 masalah yang sangat berat yaitu masalah perbatasan darat antara Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dengan Malaysia. Masalahnya karena Malaysia lebih sejahtera, sedangkan kita selama 65 tahun tidak memperhatikan masalah perbatasan. Artinya selama 65 tahun negara tidak hadir di perbatasan sehingga perbatasan itu identik dengan terpencil, miskin dan bodoh. Siapa yang disalahkan? Mari kita bersama-sama menyalahkan negara termasuk diri kita sendiri. Saatnya untuk kita berbuat sahabat-sahabat senator dari perbatasan siapakah anda, lakukan sesuatu untuk bisa membangun perbatasan.

undang yang berbicara perbatasan baru 65 tahun kemudian lahir di Undang-Undang 43 Tahun 2008. Untung ada Komite I yang ada perhatian, terima kasih dibawah kepemimpinan Pak Dani Anwar, calon Gubernur kita yang akan datang. Kami akan tetap lanjutkan sebuah kritik yang harus saya sampaikan kepada Pansus yang diberikan waktu 6 bulan hari kerjanya itu tidak lebih dari 30 hari kerja. Karena hanya diberikan 1 hari, masalahnya begitu luas belum terpotong dengan kerja reses dan lain-lain. Jadi saya kira itu juga perlu diperhatikan.

Bapak-Ibu sekalian, pada akhirnya Komite I akan merencanakan supaya perbatasan akan ada seminar pada satu waktu yang melibatkan seluruh unsur negara ini. Karena miskin dan bodoh itu adalah stigma yang paling tidak enak untuk kita terima bagi bangsa yang sudah merdeka, karena itu kita akan coba mengangkat masalah perbatasan. Dan kesimpulannya BNPP yang hanya dibentuk dengan Keppres tidak mungkin akan mampu menangani masalah perbatasan. Sehingga dari lembaga yang terhormat ini kita mengusulkan bahwa pemerintah yang akan datang sudah layaknya membentuk perbatasan sebagai satu kementerian tersendiri. Mudah-mudahan masalah perbatasan dapat ditangani dengan sebaik-baiknya dan insya Allah republik kita tidak akan malu lagi berhadapan dengan dunia luar.

Terima kasih atas perhatian sahabat-sahabat sekalian dan kami akhiri penyajian dari Komite I. Terima kasih.

24. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Tapi kalau ada seminar tadi, jangan seminar di Jakarta lagi, seminar di perbatasan, bukan di hotel mulia, saya kira begitu sehingga nuansanya lebih, iya kan? Tadi ada 2 rancangan keputusan dari Komite I; yang pertama adalah pandangan DPD RI atas Rancangan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara. Itu saya kira dokumennya sudah ada didepan kita semua dan ini sudah dibahas panjang lebar oleh teman-teman di Komite I. Yang kedua pandangan DPD RI atas Rancangan Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial. Tadi saya kira kita sudah dengar intinya, DPD itu sebetulnya dengan berbagai pertimbangannya minta untuk rancangan undang-undang ini tidak perlu dilanjutkan pembahasannya. Saya kira begitu intinya. Dan saya minta tanggapan apa ini disetujui? Pak Farouk dan Pak Jhon Pieris ada yang angkat tangan, mudah-mudahan kita bisa mengatur waktu sampai.

25. PEMBICARA : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (NTB)

Terima kasih pimpinan dan forum yang saya hormati. Perkenankan saya menyampaikan kekecewaan saya, kepada Pimpinan Komite I yang menyampaikan mengangkat, membawa naskah pandangan, baik RUU Penanganan Konflik Sosial maupun

(16)

RUU Aparatur Sipil Negara ini didalam sidang paripurna. Sementara ada prasyarat didalam keputusan yang tidak diindahkan. Pada waktu pembahasan terakhir di Hotel Gran Mahakam kita sepakat sikap kita sudah jelas, yaitu mengusulkan untuk tidak membahas atau menerbitkan RUU tentang Konflik Sosial. Permasalahannya, didalam naskah ini itu masih belum mencakup semua apa yang diharapkan. Pada saat itu yang dipersoalkan kalau kita ingin menyatakan sikap, kuncinya, kata intinya itu menolak ini RUU, maka semua argumentasi kita itu harus bermuara kesana. Jangan ada argumentasi-argumentasi yang justru melemahkan, dengan mengambil misalnya menanggapi pasal maupun naskah akademik. Dengan cara begini saya sudah katakan, ini sama saja mengatakan DPD memang mengatakan menolak ini RUU. Tapi sebenarnya DPD juga menyetujui asal pasal-pasal tertentu itu diperbaiki. Ini yang dapat disini. Ini yang kemarin sudah disepakati sebenarnya, dicoba memang kepada, tapi hasilnya itu dikembalikan lagi kepada kita, coba dilihat dulu. Dan secara khusus kemarin saya disebutkan, minta, bahkan kemarin kecenderungannya kita semua forum itu mengarah, sudahlah nanti pada masa sidang berikut saja ini RUU Penanganan Sosial. Toh DPR juga bingung kok. Pada waktu itu Pak Adang Daradjatun sebagai Ketua Pansus yang diundang, begitu saya mengajukan beberapa pertanyaan itu tidak ada yang bisa dibela oleh Pak Adang. Memang menerima semua. Kuncinya hanya di republik Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini ada konflik yang begini ini. Jadi persoalannya bukan karena tidak ada Undang-Undang Konflik, di negara lain banyak tidak ada konflik bukan karena mereka punya Undang-Undang Konflik. Kenapa ini terjadi? Karena ada persoalan mendasar, konflik sosial rakyat ini baku tembak dan baku ini semua bukan karena kelengahan dari pemerintah. Sumbernya ada dari sana keadilan, ketimpangan sosial, pengangguran, keteladanan. Ini sebenarnya yang harus kita tunjukan dalam RUU ini. Kita minta RUU ini tidak dilanjutkan tapi kita minta ada dua; satu, aspek harmonisasi. Disini ada disharmonisasi, itu yang harus ditekankan, sudah ter-coveri. Tapi yang kedua, memperbaiki akar masalahnya, ini tidak, masih belum itu. Jadi saya minta ini saya apa boleh buat, saya mau itu jangan diputuskan, kembalikan dulu ke Komite I, RUU Penangan Konflik Sosial, karena ini menghianati kesepakatan yang telah dicapai. Saya tidak mau. Yang paling berharga dalam hidup ini adalah kita menghormati apa yang kita sepakati. Tapi begitu yang paling anu bagi saya adalah menghianati kesepakatan itu adalah paling prinsip dalam hidup saya.

Hal serupa juga RUU ASN, RUU ASN sudah jelas-jelas dikatakan, oke diberi kesempatan untuk memperbaiki, tapi tolong itu semua forum waktu mengajukan kembali kepada saya, saya diberi kesempatan untuk melihat apakah semua sudah tercatat atau tidak. Ternyata disini ada keanehan sistematika, coba baca baik-baik ini, tidak ada sistematika DPD model begini.

Yang kedua, ada masalah-masalah yang tidak terakomodir, istilah aparatur tidak dijelaskan disini. Itu kunci, karena nama undang-undang itu aparatur. Aparatur itu lembaga kok, sedang yang diatur adalah manusianya, ini tidak pernah dibahas. Dan yang paling prinsip saya punya kritikan waktu itu RUU ini membuat ketentuan pidana. Pasal-pasal yang sudah diatur undang-undang lain dan mestinya itu dirubah. Ini sama sekali tidak dirubah. Saya minta dua RUU pandangan ini tidak dibahas disini. Ini adalah bukan apa-apa karena penyimpangan, penghianatan terhadap apa yang sudah disepakati dalam rapat Komite I sendiri. Saya minta Komite I tidak perlu memaksakan diri mengejar target seperti SKPD. Dan mohon maaf ini tidak berarti mengurangi dukungan saya kepada Ketua Komite I Pak Dani Anwar untuk menjadi calon gubernur, saya tetap dukung, tapi berbicara ini prinsip buat saya. Terima kasih.

(17)

26. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Iya, Pak Jhon Pieris, kita mohon atur, saya kira kalau ada yang prinsip-prinsip tekan pada prinsipnya saja.

27. PEMBICARA : Prof. Dr. JHON PIERIS, SH., MS. (MALUKU)

Mengenai batas wilayah saudara ketua ini isu yang sangat besar. Saya berpikir atau saya mengusulkan agar supaya selepas sidang paripurna ini mungkin Komite I tidaklah salah kalau melakukan konferensi pers dengan 1 strong point bahwa negara membiarkan ketertinggalan, ketersiksaan masyarakat di daerah perbatasan. Ini untuk mengangkat citra DPD sebagai lembaga pengawas pembangunan dan lembaga untuk menaikan citra masyarakat Indonesia supaya masyarakat itu hidup dalam kemaslahatan yang layak. Kalau tidak kita lakukan itu saudara ketua, saya kira keterpurukan lembaga ini akan semakin menjadi-jadi, intinya adalah itu. Kalau tidak keberatan setelah ini konferensi pers saja untuk mengkritik pemerintah sepedas-pedasnya. Terima kasih.

28. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Saya kira dua penanya telahg memberikan komentar ini, saya minta dulu Pak Dani Anwar untuk memberikan respon. Tapi kalau memang hal-hal yang prinsip tadi memang disetujui mungkin dikembalikan kepada Komite I atau diberikan catatan pada Komite I untuk mencoba menyempurnakan ini. Karena Pak Farouk juga sebetulnya setuju dengan prinsip bahwa tidak perlu untuk membahas ini, karena tetapi argumen-argumen yang harus dibangun ke arah itu saya kira harus komprehensif dan mendasar untuk memastikan bahwa kita menolak untuk membahas ini. Silakan Pak Dani

29. PEMBICARA : H. DANI ANWAR (KETUA KOMITE I) Terima kasih pimpinan.

Terima kasih juga dukungannya Pak Farouk untuk menjadi calon gubernur DKI. Jadi begini Pak pimpinan, sebetulnya tidak ada penghianatan sebagaimana yang disampaikan sama Pak Farouk. Saya orang yang taat asas terhadap keputusan yang diambil. Keputusan pleno pada saat itu meminta kepada tim ahli untuk mengejar ini sampai pada tanggal 28 dan itu disepakati pleno, kalau misalnya dianggap tim ahli bisa memperbaiki, karena memang waktu itu ada beberapa alinea yang dianggap abu-abu, begitu. Dan kemarin sore staf ahli yang mendampingi ini sudah melapor ke Pak Anang Prihantoro sebagai Ketua Timja RUU PKS ini. Dan Pak Anang sudah setuju untuk ini kemudian diajukan di paripurna untuk disahkan, begitu. Jadi, karena Pak Anang sebagai ketua timjanya saya menghormati keputusan dari timja dimaksud untuk kemudian ini diambil keputusannya. Dan pleno memang mengamanahkan demikian. Pleno mengamanahkan, karena waktu itu terjadi perdebatan bukan tentang keputusannya. Keputusannya kita semua sepakat untuk ini tidak dilanjutkan. Kita menolak RUU PKS ini tentang argumentasinya. Makanya kemudian kita minta kepada staf ahli coba bisa tidak dikejar dalam wakltu satu jam saya bilang. Orang semuanya ketawa kalau satu jam mana mungkin Pak Dani. Ya dua jamlah saya bilang begitu, dua jam tidak mungkin. Akhirnya coba kita kejar kejar sampai dengan tanggal 28. Kalau sampai tanggal 28 nanti itu kalau dianggap selesai, selesai. Kalau persoalan kemudian draft ini tidak diberikan ke Pak Farouk saya tidak tau juga, karena mohon maaf saya kemarin dua hari ada di Sulawesi Tengah, tidak ada di Jakarta untuk tugas MPR. Jadi begitu posisinya Pak Farouk, saya baru hadir mendarat semalam. Jadi kalau misalnya, yang saya ingin koreksi

(18)

adalah persoalan penghianatan. Tidak, sama sekali tidak ada penghianatan itu. Dan kalau Pak Farouk merasa itu dihianati oleh Komite I silakan, kemudian teman-teman anggota Komite I yang lain berkomentar apakah memang ada penghianatan itu. Saya kira keputusan plenonya demikian Pak pimpinan. Terima kasih.

30. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Pak Anang, ada yang mau ditambahkan Pak? Silakan.

31. PEMBICARA : Ir. ANANG PRIHANTORO (LAMPUNG) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Menambahkan apa yang disampaikan Pak Dani dan tanggapan Pak Farouk terhadap tanggapan DPD RI terhadap RUU Penanganan konflik sosial adalah, saya kira Pak Farouk saya mohon Pak Farouk agak lebih wise begitu ya. Terkait dengan penilaian Pak Farouk bahwa Komite I menghianati silakan saja Pak Farouk menyampaikan itu. Tetapi substansinya adalah bahwa apa yang belum tertuang alasan penolakan itu saya kira bisa ditambahkan. Misalnya tentang aspek penanganan akar konflik sosial berupa kesenjangan sosial ekonomi dan juga ketidakadilan, itu saya kira Pak Farouk betul, betul Pak Farouk, itu belum eksplisit dimunculkan disini. Kemudian terkait dengan tanggapan DPD RI terhadap naskah akademik, memang itu kita lakukan pada rapat-rapat sebelumnya bahwa kita juga ingin memberikan tanggapan atas naskah akademik. Karena masukan dari Pak Jusuf Kalla misalnya, kalau norma dalam draft RUU itu muncul itu pasti sebelumnya ada latar belakang yang namanya naskah akademik. Kalau naskah akademiknya itu tidak memungkinkan dinormakan maka naskah akademik pasti juga dikoreksi, karena ini kan mindset. Naskah akademik mindset sehingga turunlah norma, itu ya. Dengan demikian atas masukan itu kita juga perlu memberikan tanggapan terhadap naskah akademik, begitu ya. Saya kira sekali lagi Pak Fraouk saya mohon kalau Pak Farouk bisa menerima jalan pikiran saya, maka apa yang tidak lengkap, apa yang belum masuk menjadi dasar argumentasi terhadap penolakan ini saya kira kita perlu masukan. Tetapi kalau mungkin tidak terlalu fatal kenapa tidak kita terima. Tapi sekali lagi bukan dalam rangka mengejar target. Saya kira tanggapan saya seperti itu, mohon maaf kalau juga menyinggung Pak Farouk. Terima kasih Pak Farouk.

32. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Saya kira tidak perlu diperpanjang lagi persoalan ini, saya mohon maaf, karena sudah jelas posisinya sebetulnya bahwa ini ditolak. Tetapi argumen-argumen yangharus dibangun lebih baik lagi sehingga, dan Pak Farouk saya kira bisa memberikan catatan khusus untuk itu. Oleh karena itu saya kira tanpa mengabaikan pandangan-pandangan lain, ini sudah jelas arahnya bahwa kita tidak melanjutkan untuk membahas ini. Ada sedikit yang mau dibahas? 33. PEMBICARA : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (NTB)

Sebentar, satu menit saja meng-clear-kan. Sebenarnya ada di dalam keputusan. Keputusan itu pertama terhadap ASN, itu eksplisit disebutkan supaya tim ahli mengkonsultasikan rumusan baru itu kepada saya, disebutkan di situ. Begitu juga yang namanya 28 itu staf ahli-staf ahlinya konflik sosial itu. Persoalannya di sini, Pak, bukan saya dianggap, kalau saya dianggap tidak wise, ya sudah tidak apa-apa. Saya cukup wise sebenarnya. Tetapi disini persoalannya pertentangan. Kita mau menolak, tetapi kita memberikan uraian-uraian yang bersifat parsial. Ini yang berbahaya di dalam mengajukan

(19)

itu. Saya pikir inilah kita perbaiki semua. Tidak ada yang perlu kita kejar. Kita ingin juga kualitas produk-produk kita itu, ya orang baca, kalau orang dengar DPD menolak, kenapa alasannya? Kita harus punya memang bangunan konstruksi yang cukup inilah. Kalau memang ini tidak mau dihargai, ya sudahlah saya tidak tahu lagi. Terima kasih pimpinan. 34. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Saya kira sudah agak banyak memberikan tanggapan. Tolong berikan pandangan untuk solusinya saja saya kira. Pak Jack Ospara, Pak Ferry Tinggogoy, Pak Gafar. Saya kira poin-poin saja yang disampaikan.

35. PEMBICARA : JACOB JACK OSPARA, S.Th., M.Th. (MALUKU) Terima kasih pimpinan.

Jadi yang pertama masalah teknis saja, Pak. Teknisnya adalah waktu pertemuan kita di Gran Mahakam, dan waktu penyusunan materi perbaikan-perbaikan hasil pleno komite itu dengan sidang paripurna hari ini itu terlalu sempit waktunya. Itu pertama masalah teknis. Yang kedua, saya menghormati sekali apa yang dikemukakan oleh Pak Farouk. Tetapi, saya mau katakan beliau adalah anggota Komite I yang tak terpisahkan pendapatnya dengan keputusan kita sekarang. Karena itu jalan keluar yang saya sampaikan sekarang adalah substansi apa yang dilaporkan oleh pimpinan Komite I tidak mengalami perubahan. Tetapi kalau kita mengesahkan sekarang, kita mengesahkan dengan perbaikan-perbaikan. Salah satu perbaikan itu adalah antara lain pendapat Pak Farouk supaya dimasukan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keputusan kita hari ini. Itu usul saya Pak. Terima kasih.

36. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Pak Ferry.

37. PEMBICARA : FERRY F.X. TINGGOGOY (SULUT) Terima kasih pimpinan.

Sebenarnya kalau kita melihat ada approach akhirnya tujuannya memang tercapai sama. Cuma caranya sampai kesana yang dianggap ada hal yang mesti disempurnakan. Saya kira secara internal tidak ada masalah, yang kita pikirkan eksternalnya. Dengan demikian barangkali saran dari sahabat saya Maluku, tolong kesetjenan tolong siapkan pers konferensi di mana Komite I akan memberikan penjelasan yang lengkap termasuk alasan-alasannya. Dengan demikian masalahnya sudah bisa dinetralisir. Terima kasih pimpinan.

38. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Terima kasih Pak.

39. PEMBICARA : H. ABDUL GAFAR USMAN, MM. (RIAU) Terima kasih Pak Ketua.

Lembaga kita ini membuat suatu produk lebih berorientasi kepada outcome dengan benefit, jadi bukan output. Jadi orientasi kita outcome dan benefit-nya. Itu orientasi produk kita di industri DPD ini. Nah oleh karena itu kami melihat ada beberapa substansi yang dipersoalkan karena ada persoalan substansi dan prosedur. Dua ini Pak, prosedur dan

(20)

substansi. Nah oleh karena itu alangkah indahnya ini kita pending saja. Jadi bukan ditolak, tetapi kita pending untuk lebih memikirkan outcome dan benefit dari substansi dan prosedur, karena saya lihat ini ada prosedur dan substansi yang kita bicarakan. Ini saya sarankan kita pending saja, karena ini menjadi produk lembaga, bukan produk Komite I. Kalau Komite I kita terima, tetapi atas nama lembaga paripurna kita pending. Demikian Pak Ketua.

40. PEMBICARA : Drs. PAULUS YOHANES SUMINO, MM. (PAPUA) Terima kasih saudara ketua.

Sejak pembahasan rancangan undang-undang ini, baik internal di komite maupun selama kunjungan di daerah-daerah, memang rancangan undang-undang ini menimbulkan harapan, tetapi juga menimbulkan ketakutan. Oleh karena itu kesimpulan yang telah di ambil di komite bahwa kita menolak undang-undang ini. Bahwa ketika kita menolak argumentasinya cukup banyak, sangat kuat sekali. Tapi ketika argumentasi itu rupanya dalam waktu yang pendek ini belum tersusun secara memuaskan, maka saya pikir pleno ini dapat memberikan suatu keputusan tentang sikap dasar kita dengan catatan perbaikan-perbaikan di dalam argumentasi-argumentasi itu. Titik tolak apa yang disampaikan oleh Pak Farouk intinya adalah benar, bahwa mestinya kita harus mencabut akar masalah yang dapat memungkinkan menyebabkan konflik itu. Jadi bukan kita menggarap di muaranya, begitu. Sebenarnya alur pikirnya adalah di sana. Oleh karena itu menurut hemat saya pleno ini tetap dapat menerima laporan daripada Ketua Komite I dengan perbaikan-perbaikan daripada alasan-alasan yang dapat disempurnakan. Terima kasih.

41. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Terima kasih Pak Paulus.

Saya kira sudah jelas ya bahwa ini substansinya kita terima bahwa kita menolak untuk membahas, untuk melanjutkan pembahasan ini, Rancangan Undang-Undang tentang Konflik Sosial. Mekanismenya saya kira ada dua alternatif; Pertama, kita mengembalikan kepada kepada Komite I. Atau yang kedua, kita mengesahkan dulu dan penyempurnaannya dikembalikan kepada Komite I. Ini dua pilihan itu saja dikomentari.

42. PEMBICARA : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (NTB)

Baik, saya langsung saja. Memang sepakat kita. Jadi, saya setuju kita forum ini untuk kepentingan politik kita membuat keputusan bahwa menolak ini dan memperbaiki ini. Tapi dokumennya ini itu belum disahkan. Dokumen kita perbaiki, esensi, dan boleh konferensi pers. Dulu pernah kita lakukan soal DIY. Jadi segala apa yang kita kehendaki itu memang yang kita sepakati dulu disana. Terima kasih.

43. PEMBICARA : H. DANI ANWAR (KETUA KOMITE I) Interupsi pimpinan. Saya Ketua Komite I.

Jadi kalau memang posisinya seperti itu, jadi saya sebagai Ketua Komite I tidak mau lagi membahas draft itu karena ketua timja-nya sudah menyatakan selesai. Jadi kalau ada yang mau memperbaiki, silakan. Itu saja standing point-saya seperti itu karena Pak Anang tadi sudah clear menyatakan ini selesai. Pak Jack juga mengatakan sudah selesai. Jadi kalau ada orang yang merasa kemudian ini belum pas, ya silakan saja diputuskan di paripurna, seperti itu. Terima kasih.

(21)

44. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Saya kira tidak ada, satu pendapat sebetulnya bahwa kita menerima substansinya bahwa tidak membahas, kita putuskan seperti itu. Tetapi penyempurnaan substansinya atau materinya kita kembalikan kepada Komite I. Setuju?

45. PEMBICARA : H. DANI ANWAR (KETUA KOMITE I)

Tidak, saya tidak setuju. Jadi materinya jangan dikembalikan ke Komite I karena Komite I tidak akan membahas itu. Silakan kalau keputusan paripurna nanti memutuskan itu, silakan. Karena Pak Anang sudah menganggap selesai, Pak Jack juga sudah menganggap selesai.

46. PEMBICARA : Dr. H. RAHMAT SHAH (SUMUT) Interupsi ketua. Rahmat Shah B-6, interupsi, ketua.

47. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Pak Anang, silakan Pak Anang.

48. PEMBICARA : Dr. H. RAHMAT SHAH (SUMUT) Ketua, interupsi dulu.

Saya ingin menyampaikan untuk mencegah terus-terusan saling beralasan. Kepada seluruh anggota agar kita rajin hadir, begitu. Kalau kita tidak hadir ada keputusan yang baik sudah diputuskan jangan dipersoalkan. Maka rajinlah kita hadir, rajinlah bertanya, rajinlah membaca. Jadi kita tidak hadir dalam berapa sidang, dalam suatu keputusan yang konkrit di pleno kita persoalkan. Walaupun kita sepandai apapun sebagai manusia biasa kita ada kelemahan dan kekurangan. Dan ini hari Jumat Saya hanya mengingatkan itu. Ini tidak ditujukan ke Pak Farouk atau siapapun. Sebagai manusia biasa kita sadari kelemahan kita. Kita jarang hadir, jarang baca, jarang dengar, tahu-tahu mau mempersoalkan yang sudah final. Ini kurang baik di mata siapapun. Terima kasih.

49. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Saya mohon tidak diperpanjang. Satu pernyataan terakhir kami tunggu dari Pak Anang.

50. PEMBICARA : Ir. ANANG PRIHANTORO (LAMPUNG) Baik, terima kasih.

Saya ingin, mudah-mudahan ini tidak ditanggapi lagi. Saya kira kita sepaham penolakan ini, penolakan pembahasan atas RUU PKS ini saya kira sudah final, kita sepakat. Bahwa basis argumentasi yang dituangkan dalam pandangan DPD ini masih ada kekurangan. Kekurangan itu kita sepakati juga bahwa apa yang disampaikan Pak Farouk terkait dengan aspek penanganan akar konflik yang belum eksplisit dimunculkan di situ kita sudah terima bahwa ini mesti ada perbaikan pada basisi argumentasi penolakan itu. Artinya paripurna ini saya kira mesti memberikan keputusan untuk kita terima. Tetapi perbaikan atau catatannya itu mesti dilakukan. Hanya yang saya pikirkan apakah itu diserahkan ke Komite I atau ke

(22)

mana, silakan paripurna ini memutuskan. Saya kira apakah ada yang berbeda pendapat? Rasanya tidak. Terima kasih.

51. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Saya kira kita terima pandangan terakhir, dan bagaimanapun ini masih tetap dalam koridor tanggung jawab Komite I. Oleh karena itu kita putuskan saya kira.

52. PEMBICARA : H. DANI ANWAR (KETUA KOMITE I) Interupsi pimpinan.

Begini persoalannya pimpinan. Ini sudah dibicarakan dan sudah diputuskan di pleno, begitu. Jadi saya juga tidak ingin ini jadi preseden. Jadi kalau misalnya nanti ada satu materi yang sudah disepakati, ya kalau soal kepuasan, ketidaksempurnaan itu kan sesuatu yang wajar saja terjadi. Kenapa kemudian pimpinan misalnya tidak mengambil keputusan seperti yang pernah diambil oleh Pak Irman misalnya. Tatkala misalnya ada komite yang lain waktu itu, saya cuma berbicara apa adanya ya. Komite yang lain waktu itu menyampaikan, kemudian Pak Farouk protes. Kemudian diputuskan oleh pimpinan waktu itu Pak Irman, ini kita putuskan dengan perbaikan. Selesai, begitu. Tetapi kemudian jangan selalu dibicarakan ini materinya dikembalkan ke Komite I, materi ini dikembalikan ke Komite I. Karena di Komite I sudah selesai. Mekanismenya itu sudah panjang sekali ya, sudah final. Dan anggaran negara untuk ini sudah sangat habis ratusan juta rupiah. Jadi kalau suatu yang sudah habis itu kemudian dikembalikan lagi ke Komite I, kami tidak setuju sebagai pimpinan komite. Jadi kalau mau bahasanya “dengan perbaikan”, ya silakan. Tetapi jangan kemudian itu dikembalikan ke Komite I. Terima kasih.

53. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Saya kira intinya seperti itu ya, bahwa ini diterima, diputuskan dengan perbaikan. Siapa yang akan memperbaiki itu, itu nanti, ada Pak Wayan?

54. PEMBICARA : I WAYAN SUDIRTA, S.H. (BALI)

Saya singkat saja. Saya mencoba memahami dua pembicara yang seolah-olah belum ketemu. Saya mencoba menggunakan bahasa saya begini. Selama lima tahun pertama memang hampir tidak pernah produk-produk alat kelengkapan ditolak oleh paripurna. Ketika ada penyempurnaan, bahasanya “ini diterima dengan penyempurnaan”, “ini diterima dengan catatan”, yang paling menguasai untuk melakukan penyempurnaan adalah pihak yang menyampaikan, dalam hal ini alat kelengkapan ditambah pengusul. Itu kan selalu terjadi begitu. Sebenarnya Pak Dani dapat menangkap jika konsep yang ada ini dihargai seperti Pak Farouk juga mencoba menghargai ini dengan caranya yang khas. Lalu bahasa yang digunakan adalah jangan terkesan ini ditolak, begitu. Pasti Pak Dani mau terima itu karena mereka harus membela jerih payah anggotanya. Maka saya usulkan kalimat yang benar menurut pemahaman saya adalah “ini diterima dengan penyempurnaan dengan mengakomodir apa yang disampaikan oleh Pak Farouk”. Bagus sekali Pak Farouk juga hadir di sana. Jangan sampai nanti yang berikutnya ada ketidaksempurnaan. Kira-kira begitu. Dan saya mohon atas nama anggota beberapa teman yang sepaham, Pak Dani tidak lagi memahami ini sebagai sebuah penolakan. Terima kasih.

(23)

55. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Ya, saya kira bahasanya seperti itu ya. Jadi ini kita terima, kita putuskan dengan catatan ada penyempurnaan setelah ini berdasarkan masukan-masukan utamanya mengacu pada pandangan Pak Farouk. Jadi dari Komite I kita pandangan DPD RI atas rancangan undang-undang.

56. PEMBICARA : H. ABDUL GAFAR USMAN, MM. (RIAU) Pak, saya ingin klarifikasi sedikit Pak Ketua. Abdul Gafar Usman.

Apakah penyempurnaan ini diberi kewenangan penuh apabila disempurnakan dianggap sudah kita terima atau penyempurnaan itu kita bawa lagi ke sini? Ini perlu Pak. 57. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Ya, yang terakhir. Sudah diputuskan, tinggal disempurnakan. 58. PEMBICARA : H. ABDUL GAFAR USMAN, MM. (RIAU)

Jadi, setelah sempurna dianggap selesai?

59. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Ya.

60. PEMBICARA : H. ABDUL GAFAR USMAN, MM. (RIAU) Yang mengatakan itu sudah sempurna siapa?

61. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Kan dimasukan tadi Pak.

62. PEMBICARA : H. ABDUL GAFAR USMAN, MM. (RIAU)

Tidak, maksudnya ini kan produk Pak. Kita terima dengan penyempurnaan. Nah, kita beri wewenang penuh yang menyempurnakan itu siapa. Itu jelas Pak. Nanti hilang di tengah jalan dia siapa lagi. Itu maksud saya supaya clear.

63. PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)

Jadi sidang paripurna ini memutuskan menerima pandangan dari Komite I dengan penyempurnaan. Penyempurnaan itu mengakomodasi pandangan dari Pak Farouk Muhammad. Ini hasil sidang ini yang akan menyempurnakan itu, setelah itu, itulah yang kita putuskan. Ya?

Oke, jadi pandangan DPD RI atas Rancangan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara dan pandangan DPD RI atas Rancangan Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial yang diajukan oleh Komite I kita nyatakan kita terima, kita setujui, dan beberapa perbaikan setelah ini.

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in