LAPORAN KUNJUNGAN KERJA SPESIFIK KOMISI VI DPR RI
DALAM RANGKA PENINJAUAN
KAWASAN INDUSTRI TERPADU BATANG, JAWA TENGAH
PADA MASA PERSIDANGAN III
TAHUN SIDANG 2020 – 2021
4 s.d. 6 Februari 2021
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
I.
PENDAHULUAN
A. Dasar Hukum
Pasal 67 dan 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis
Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (MD3), sebagaimana diubah
terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2019 Tentang
Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang MD3,
diatur bahwa DPR RI memilki 3 (tiga) fungsi, yakni Fungsi Legislasi, Fungsi
Anggaran dan Fungsi Pengawasan. Untuk menjalankan ketiga fungsi tersebut,
dapat dilaksanakan melalui pelaksanaan kunjungan kerja, baik di dalam
maupun ke luar negeri, sebagaimana diatur dalam Pasal 98 UU MD3.
Pelaksanaan kunjungan kerja spesifik dalam rangka Peninjauan Kawasan
Industri Terpadu Batang, Provinsi Jawa Tengah ini
didasarkan pada aturan
pada undang-undang tersebut. Selain itu, pelaksanaan kunjungan ini juga
didasarkan pada Keputusan Pimpinan DPR RI tentang Penugasan Anggota
Komisi I s.d. XI DPR RI untuk melakukan Kunjungan Kerja pada Masa
Persidangan III Tahun Sidang 2020
– 2021, dan Keputusan Rapat Internal
Komisi VI DPR RI mengenai Sasaran dan Objek Kunjungan Kerja Komisi VI
DPR RI dalam Masa Persidangan III Tahun Sidang 2020–2021.
B. Susunan Anggota Tim Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI
NO. ANGGOTA NO. N A M A KETERANGAN
1 A-327 GDE SUMARJAYA LINGGIH, S.E., MAP. PIMP. F.PG / KETUA TIM
2 A-189 ARIA BIMA PIMP. F. PDIP
3 A-229 ST. ANANTA WAHANA, S.H., M.H. F. PDIP
4 A-232 I NYOMAN PARTA, S.H. F. PDIP
5 A-181 Dr. EVITA NURSANTY, M.Sc. F. PDIP
6 A-209 SONNY T. DANAPARAMITA F. PDIP
7 A-268 LAMHOT SINAGA F. PG
8 A-302 NUSRON WAHID F. PG
9 A-311 DONI AKBAR, S.E. F. PG
10 A-65 ANDRE ROSIADE F. GERINDRA
11 A-128 Dr. SUPRATMAN ANDI AGTAS, S.H., M.H. F. GERINDRA 12 A-135 HENDRIK LEWERISSA, S.H., L.LM. F. GERINDRA
13 A-36 IR. H. M. NASIM KHAN F. PKB
14 A-19 MARWAN JA’FAR F. PKB
15 A-544 Dr. Ir, E. HERMAN KHAERON, M.Si. F. PD
16 A-554 EDHIE BASKORO YUDHOYONO, M.Sc. F. PD
17 A-433 MAHFUDZ ABDURRAHMAN, S.Sos. F. PKS
II. INFORMASI DAN TEMUAN KUNJUNGAN KERJA
Indonesia berpotensi kuat untuk menjadi kekuatan di pasar ekonomi global. Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Tidak heran Indonesia disebut sebagai tujuan investasi terbaik dalam pengembangan industri berkelanjutan, termasuk Jawa Tengah merupakan area yang menjanjikan untuk di eksplorasi.
Pemerintah Indonesia membangun Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang yang terletak di kabupaten Batang. Kawasan Industri modern dengan luas total 4.300 hektar. Kawasan ini dirancang dengan konsep smart and sustainable dan akan membuka era baru perkembangan perekonomian Indonesia. Karena Batang di Jawa Tengah ini akan menjadi pusat manufaktur.
Sumber : PT Pembangunan Perumahan (Persero), Tbk
19 A-500 DAENG MUHAMMAD, SE, M.Si. F. PAN
20 -- DEWI RESMINI, SE, M.Si. SETKOM VI DPR RI
21 -- RINA SARTIKA PAMELA, S.T., M.H. SETKOM VI DPR RI
22 -- DEVI RISNAYANTI, SE SETKOM VI DPR RI
23 -- MUHAMMAD DARWINSYAH, S.E., M.M. TENAGA AHLI KOMISI VI DPR RI
24 -- TAUFAN SYAHRULLI MEDIA CETAK DAN
SOSIAL
Kalau kita lihat kelebihan Kawasan Industri Terpadu Batang terintegrasi juga dengan tol Trans Jawa, kemudian nanti akan ada PLTU terbesar di Asia Tenggara dan juga Pertamina yang siap menyediakan fasilitas energi. Disamping itu KIT Batang memiliki lokasi strategis yang berada dalam koridor ekonomi utara Jawa, sebagai gerbang ekonomi nasional, sekaligus mampu menjangkau konektivitas internasional. Memiliki jalan akses tol dan non tol di sekitar kawasan industri yang artinya semakin menstimulasi mobilitas ekonomi. Dengan adanya dry port dan pelabuhan yang terintegrasi maka efisiensi dan efektivitas dalam rangkaian distribusi perdagangan akan tercapai. Tidak hanya itu adanya pekerja yang terampil dan kompetitif ini diproyeksikan akan mampu melewati tantangan bisnis yang dinamis. Selanjutnya pembangunan yang terintegrasi terpadu dan diimplementasikan sesuai fungsi melalui konsep smart and sustainable dan pendekatan yang komprehensif dan responsif, kawasan industri menjadi wujud nyata sebuah inovasi. Tidak kalah pentingnya ada dukungan yang kuat dari pemerintah dalam proses investasi dan kemudahan perbankan akan memberikan manfaat jangka panjang bagi investor.
Saat ini sedang dilakukan permohonan Persetujuan Teknis perubahan RTRW Kab. Batang yang mengakomodir perubahan fungsi penggunaan lahan di RTRW pada lokasi KIT Batang dari sebelumnya peruntukan perkebunan menjadi Kawasan Peruntukan Industri (KPI). Konsorsium Pengelola KIT Batang telah terbentuk dengan perusahaan dengan nama PT. Kawasan Industri Terpadu Batang yang melingkupi unsur dari seluruh BUMN terkait baik Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW), Pembangunan Perumahan (PP), PTPN IX dan Perusda Batang.
Sedangkan progres pembangunan fisik KIT Batang pada lahan tahap I seluas 450 ha per Januari 2021, antara lain:
a. Area Timur : Pematangan 100% ditambah adanya perkerasan jalan utama b. Area Tengah : Pematangan 85%
c. Area Baat : Pematangan 10%
Selain itu, sudah terdapat pembangunan marketing gallery sebagai penunjang promosi dan proses jual beli lahan KITB.
Beberapa Kawasan Industri sedang disiapkan, ada yang di Semarang, ada yang di Cilacap, Semarang kota dan sekitarnya. Ini awalnya cukup, kemudian bergeser mengembangkan Kendal. Kendal menjadi tempat yang eksotis untuk investasi dan Pantura masih menarik untuk disiapkan, yaitu di Brebes. Batang punya persediaan lahan yang sangat cepat untuk dimanfaatkan. Batang bisa dijadikan Proyek Strategi Nasional atau PSN. Dengan cara PSN maka semua akan bisa mengikuti ketentuan yang lebih cepat, dengan strategi percepatan melalui keputusan atau regulasi PSN. Jawa Tengah memberikan
alternatif menyewa atau dijadikan intensif untuk sekian tahun bebas biaya sewa, baru kemudian membayar.
Hal ini menarik konsumen raksasa produk baterai listrik, mengingat kita punya modal yang besar dari cadangan nikel yang luar biasa, nomor satu di dunia. Jadi semakin jelas bersama Jawa Tengah, Indonesia akan mewujudkan mimpi menjadi raksasa penghasil baterai listrik terbesar secara global. Digambarkan industri-industri lain juga sudah bersiap masuk ke Kawasan Industri Terpadu Batang. Kita harapkan di masa pandemi ini juga tidak menyurutkan investor lain yang mau masuk ke Indonesia. Pembangunan Jawa Tengah ini adalah sebuah komitmen untuk negeri dan cara terbaik berkontribusi adalah menggerakkan aktivitas ekonomi dengan berinvestasi.
Sampai saat ini semua pihak terkait pengembangan KIT Batang memiliki visi dan tujuan yang sama dalam pembangunan KIT Batang dan masing-masing urun rembug sesuai dengan kemampuan masing-masing. Perizinan dan pengelolaan Kawasan Industri akan dikoordinasikan oleh KIW yang sudah berpengalaman dalam pengembangan kawasan dipandu oleh Kementerian Perindustrian, adapun pihak yang akan mengajukan izin adalah atas nama PT. KIT Batang sebagai konsorsium. Perencanaan dan pembangunan fisik dan infrastruktur diserahkan kepada PP yang memang memiliki spesifikasi dalam pembangunan dan konstruksi infrastruktur. Untuk perencanaan Kementerian Perindustrian akan melakukan pendampingan sesuai dengan pedoman teknis Kawasan industri. Adapun untuk alih status/konversi HGU Kebun ke HPL akan diproses oleh PTPN selaku pemilik lahan. Semua ini dilakukan dengan koordinasi dengan Pemerintah Daerah Kab. Batang. Koordinasi sendiri dilakukan secara rutin dengan menggunakan aplikasi konfrensi daring dengan menggundang semua stakeholder terkait.
Pengembangan KIT Batang merupakan salah satu strategi dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan Kawasan Kendal - Semarang - Salatiga - Demak Grobogan, Kawasan Purworejo - Wonosobo - Magelang - Temanggung, dan Kawasan Brebes - Tegal – Pemalang yang bercita-cita rangka mendukung pembangunan ekonomi Jawa Tengah sebesar 7%. Namun selama pandemi covid-19, pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah pada kuartal I di tahun 2020, turun menjadi 2,61%. Di kuartal II, turun dratis menjadi minus 5,42%, dan di kuartal III menjadi minus 3,92%. Diharapkan KIT Batang dapat menjadi bounce back project yang menawarkan pengembangan ekonomi baru di Batang khususnya dan Jawa Tengah secara umum. Pengembangan Kawasan Industri sebagai pusat ekonomi baru telah terbukti mendatangkan APBD yang cukup besar. Hal ini berkaca dengan pembangunan IMIP di Morowali, Sulawesi Tengah dan IWIP di Halmahera Tengah, Maluku Utara Strategi
pengembangan KIT Batang tentu dengan pemberian insentif sebagai Kawasan Industri Prakarsa Pemerintah yang saat ini peraturannya sedang disusun oleh Kementerian Perindustrian.
Sumber : PT Pembangunan Perumahan (Persero), Tbk
Sampai saat ini sebagian lahan KIT Batang masih tidak berada di lahan KPI, padahal sesuai PP 142 Tahun 2015, Kawasan Industri harus berada di dalam Kawasan Perhatian Investasi (KPI). Saat ini, proses Peninjauan Kembali RTRW Kab. Batang sedang dilakukan, dan proses penambahan KPI sudah berada di Kementerian ATR/BPN. Saat ini sudah dilakukan survey lapangan sebagai syarat keluarnya Persetujuan Teknis untuk perubahan RTRW. Oleh karena itu diharapkan proses perubahan RTRW dapat dilakukan dengan cepat dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan sehingga investasi juga dapat segera masuk ke KIT Batang. Permasalahan lain ada terkait ketersediaan infrastruktur seperti gas dan air bersih, dimana untuk gas saat ini masih dibahas mengenai kelanjutan rencana pembangunan pipa gas Cirebon – Semarang. Hal lain ada terkait usulan pembangunan pelabuhan dalam kawasan industri yang saat ini masih belum ada kesepakatan untuk pembangunannya. Terkait hal ini Kemenperin beserta K/L terkait serta Pemprov Jateng dan Pemkab Batang akan terus berkoordinasi untuk menyelesaikan hambatan yang ada