• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gangguan Tulang Belakang Osteoporosis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gangguan Tulang Belakang Osteoporosis"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

Modul 4

Blok 5

Gangguan Tulang Belakang

“Osteoporosis”

(2)

Tutorial 21

• Monica Sugiono 1010046

• Ade Melinda Dasmasela 1310047

• Alfonsa Angwarmase 1310102

• Yuliana K. O. Barut 1310103

• Shielda N. Shidarta 1310144

• George Allan Harefa 1310167

• Fhanny Harinatiyus 1310168

• Raden Alvin K. Putra 1310217

• Kartika Prilia Nur Aini 1310226

(3)
(4)

OSTEOPOROSIS

• Osteo → tulang , Porous → berlubang-lubang / keropos tulang yang keropos

• Osteoporosis → penyakit dengan sifat khas berupa massa tulang yg rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jar. tulang → kerapuhan tulang dengan risiko terjadinya patah tulang.

(WHO pada International Consensus Development Conference, di Roma, Itali, 1992)

(5)
(6)

HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP)

• Keluarnya nukleus pulposus dari discus melalui robekan annulus fibrosus hingga keluar ke belakang/dorsal menekan medulla spinalis atau mengarah ke dorsalateral menekan radix spinalis sehingga menimbulkan gangguan

(7)
(8)

SINDROMA SAKROILIAKA

Tanda-tanda atau gejala penyakit yang

berhubungan dengan sacrum ilium termasuk otot, sendi dan ligamennya.

(9)

KYPHOSIS

Kyphosis → kelainan tulang belakang, di mana tulang punggung menunjukkan sebuah

kelengkungan ke depan melebihi batas normal (40ᵒ) → kelainan tulang yg digambarkan

sebagai bungkuk

http://www/organisasi.org/1970/01/macam-jenis-gangguan-pada-tulang-dan-sendi-tulang-manusia-penyakit.html?m=1

(10)
(11)

LORDOSIS

• Lordosis → gangguan pada tulang belakang, di mana tulang belakang melengkung ke belakang • Bagian cekung pada kolumna spinalis

(dorland)

http://www/organisasi.org/1970/01/macam-jenis-gangguan-pada-tulang-dan-sendi-tulang-manusia-penyakit.html?m=1

(12)
(13)
(14)

Terdiri dari 33 vertebra: • 7 cervicalis • 12 thoracica • 5 lumbalis • 5 sacralis (fusi  os sacrum) • 4 coccygea (os coccygis)

COLUMNA

VERTEBRALIS

14

(15)

Ciri khas vertebra lumbal

• Corpus : uk paling besar, bentuk spt ginjal • Foramen vertebra : btk triangular

• Processus transversus : panjang, ramping terdapat processus acessorius

• Processus articularis : Facies superior

menghadap posteromedial, Facies inferior

menghadap posterolateral, terdapat processus mammilaris

• Processus spinosus : pendek, tebal, spt kampak

(16)
(17)
(18)

Persendian vertebra lumbal

• Persendian corpus vertebra

Persendian symphisis (secondary cartilaginous joint) utk menanggung beban&kekuatan

• Persendian arcus vertebra

Articulatio zygapophysialis (facet

joints/synovial joint) art.plana antara proc.articularis superior dan inferior dari vertebrae yang berdekatan

(19)

Gerakan Regio Lumbalis

• Bidang sendi berorientasi sagitalis

memudahkan flexio, extensio, lateral flexio. • Proc.articularis saling mengunci sehingga

(20)

Musculi Dorsi

• Musculi dorsi ekstrinsik

– Meliputi otot superficial (M. Trapezius, M. Latissimus dorsi, M. Levator scapulae, M.

Rhomboideus major, M. Rhomboideus minor) dan

Intermediat (M.seratus posterior superior,

M.seratus posterior inferior)

– Mengatur gerakan membrum dan respirasi

• Musculi dorsi intrinsik (profundus)

– Khusus beraksi pada columna vertebralis

(21)

Musculi Dorsi

Ekstrinsik Superfisial

(22)

Musculi Dorsi

Ekstrinsik

Intermediat

(23)

Musculi dorsi intrinsik (propii/profunda), terbagi menjadi:

• Lapisan superficialis (M.splenius capitis, M.splenius cervicis)

• Lapisan intermediat (Musculus erector spinae yg dibagi menjadi 3 lajur :

- M.iliocostalis (lateralis):

lumborum, thoracis, cervicis – M.longisimus (intermediat): thoracis, cervicis, capitis

– M.spinalis (medialis) : thoracis, cervicis, capitis

• Lapisan profundus (M. Semispinalis, Mm. Multifidi, Mm. Rotatores)

(24)

Musculi Dorsi

Intrinsik

(25)

Musculi Dorsi

Intrinsik

(26)

Musculi Dorsi

Intrinsik Profundus

(27)

Arteri yang mengurus medulla Spinalis adalah cabang dari: •A.vertebralis •A.cervicalis ascendens •A.cervicalis profunda •A.intercostalis •A.lumbalis •A.sacralis lateralis

(28)
(29)

Tulang

Fungsi : • Penyokong

• Pelindung organ

• Tempat melekatnya otot & tendo

• Pembentuk elemen darahada sumsum tulang

• Penyimpan cadangan kalsium, fosfat dan ion lain

(30)

Matriks Tulang

Matriks Anorganik • Kalsium • Fosfor • Bikarbonat • Sitrat • Flour • Magnesium • Natrium Matriks Organik • Serabut kolagen95% serabut kolagen tipe I • Substansi dasar

(31)

Struktur Tulang

Tulang Spongiosa • Tulang berongga / cancelous bone • Tonjolan-tonjolan tulang (trabekula)membentuk rongga-rongga saling berhubungan • Seperti spons

• Isi : sumsum tulang

Tulang Kompakta • Tulang padat • Masa padat • Mikroskop cahaya gambaran berongga-rongga

(32)

Klasifikasi Tulang

• Tulang panjang • Tulang pendek • Tulang pipih

(33)

Sel Tulang

Sel osteoprogenitor

• Berasal : jar. Mesenkhim • Terdapat pemukaan bebas

tulang, lapisan dalam periosteum, endosteum • Bentuk seperti gelendong,

Inti oval pucat, Sitoplasma asidofil

• Fungsipembentukan matriks organik tulang

• Bentuk sel kuboid-silindris, Inti besar 1 nucelolus,

Sitoplasma basofil Osteoblas

(34)

Osteosit

• Sel utama dalam tulang • Terdapat di dalam lakuna

diantara lamel-lame • Bentuk gepeng sesuai

bentuk lakuna

• Memiliki tonjolan-tonjolan sitoplasma terdapat di

dalam kanalikuli

Osteoklas

• Fungsi : resorbsi tulang • Sel raksasa, inti banyak,

sitoplasma asidofil

• Ruffled Borderlipatan membran plasma ke

dalamcelah-celah permukaan ditemukan

kristal-kristal matriks tulang kalsium

• Berasal penggabungan sel-sel monosit

(35)
(36)

Definisi

• Adalah sebuah proses dimana sel tulang tua di hapus dan di ganti sel-sel baru.

• Ada dua tahap remodeling tulang yaitu :

Resorpsi ( osteoklast) dan pembentukan tulang ( osteoblast)

(37)

Resorpsi

• Sel osteoklas juga terbentuk dari sel prekursor yang kemudian berdiferensiasi menjadi sel

osteoklas matang. Sel prekursor adalah stem sel hematopoetik yang disebut monosit.

Osteoklas mengabsorbsi tulang dengan cara menempel pada permukaan tulang dan

menurunkan pH sekelilingnya sehingga

mencapai kadar asam sekitar 4,5. Mineral tulang kemudian menjadi larut dan kolagen menjadi pecah

(38)

Pembentukan tulang

• Sel osteoblas terbentuk dari sel prekursor yang kemudian berdiferensiasi menjadi sel osteoblas matang. Sel prekursor adalah stem sel dari sum-sum tulang yang disebut stem sel mesenkim (mesenchymal stem cell l [MSC]). Beberapa sel osteoblas berdiferensiasi lebih

sampai menjadi osteosit. Osteosit membentuk lebih dari 90% sel tulang pada orang dewasa.

(39)

Pengaturan remodeling tulang

• Efek PTH

PTH meningkatkan kadar kalsium dalam darah. Disekresi saat kadar kalsium darah turun.

(40)

• Efek calcitonin

Calcitonin dari kel. Tiroid berefek terbalik dengan PTH. Pada tulang caltitonin

menurunkan aktivitas osteoclast.

(41)

• Efek hormon lain

Hormon tiroid penting untuk pembentukan tulang dan remodelling. Hipertiroid

menimbulkan hilang masa tulang.

Estrogen diperkirakan mengurangi resorpsi tulang karna membentuk OPG pada

osteoblast, sedangkan glukotiroid mengurangi fungsi OPG.

(42)

Biokimiawi Metabolisme

Tulang

(43)

Tulang secara kimiawi

Senyawa anorganik

o Garam-garam kalsium fosfat dan kalsium karbonat

o Magnesium (Mg2+), hidroksida (OH-), fluorida

(F-), dan sulfat (SO

42-)

o Mineral hidroksi apatit Ca10(OH)2(PO4)6

(44)

Senyawa organik

o Lemak 25% dalam sumsum tulang o Protein, KH, as.nukleat 30-35%

o Kolagen tipe 1, glikoprotein, sitrat 1%, osteokalsin

(45)

Faktor yang mempengaruhi

metabolisme tulang

o Senyawa anorganik : kalsium dan fosfor o Vit. D3 (1,25-dihidroksikolekalsiferol :

1,25(OH)2D)

o Hormon (kelenjar paratiroid, tiroid,

hipofisis anterior, adrenal, dan kelenjar kelamin)

o Diet protein dan laktosa, makanan yang menyebabkan pembentukan garam

kalsium tidak larut dalam usus

(46)

Daftar pustaka

Fraser WD, 2005. Calcium and bone

metabolism. In : Baynes JW, Dominiczak MH (editors). Medical Biochemistry, 2nd, Philadelphia : Elsevier Mosby, 345-358

(47)

Definisi, Etiologi, Prevalensi,

Insidensi, Faktor Resiko,

(48)

Definisi

• Osteoporosis berasal dari kata osteo dan

porous, osteo artinya tulang, dan porous

berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang keropos,

yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau

berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan

tulang, yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang ( Tandra, 2009).

(49)

• Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang,

dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat

meningkatnya kerapuhan tulang dengan risiko terjadinya patah tulang (WHO pada

International Consensus Development Conference, di Roma, Itali, 1992)

(50)

Atas dasar definisi dari WHO ini maka

osteoporosis diukur densitas massa tulang/DMT dengan ditemukan nilai t-score yang kurang dari – 2,5.

Sedangkan dikatakan normal nilai t-score > -1

dan Osteopenia apabila t-score antara -1 sampai - 2,5. Dan dikatakan osteoporosis apabila nilai

score < 2.

(51)

• Osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh compromised bone

strength sehingga tulang mudah patah

(National Institute of Health/NIH, 2001)

(52)

Etiologi

1. Osteoporosis pascamenopause 2. Osteoporosis senilis

3. Osteoporosis sekunder

4. Osteoporosis juvenil idiopatik

(53)

Prevalensi

Data Perosi (2006) menyatakan bahwa

prevalensi Osteoporosis pada wanita Indonesia, terjadi peningkatan dari 23% pada usia 50

hingga 80 tahun, menjadi 53% pada usia 70 hingga 80 tahun.

Angka prevalensi ini cukup tinggi dibanding dengan negara lain di Asia

(54)

Insidensi

Insidensi osteoporosis pada wanita meningkat dari 15 % pada usia 60-64 tahun, menjadi 70 % pada usia lebih dari 80 tahun. Di negara

berkembang seperti Indonesia, data mengenai penyakit ini masih belum banyak dijumpai.

Gambaran Kepadatan Tulang Wanita Menopause

Pada Kelompok ‘X‘ di Bandung. Adam BH Darmawan, Slamet Santosa

(55)

Faktor Resiko

• Yang tidak dapat dikendalikan a) Jenis kelamin

b) Usia c) Ras

d) Pigmentasi dan tempat tinggal e) RPK

f) Sosok tubuh g) Menopause

(56)

• Yang dapat dikendalikan a) Aktivitas Fisik

b) Asupan Ca, vit. D c) Merokok d) Miras/Alkohol e) Minuman Soda f) Stress g) Bahan Kimia h) Nuliparitas, Paritas http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22611/4/Chapter%20II.pdf

(57)

Klasifikasi Osteoporosis

a) Osteoporosis primer yang dapat terjadi pada tiap kelompok umur.

Osteoporosis primer ini terdiri dari dua bagian : 1. Tipe I (Post-menopausal) : Terjadi 15-20 tahun setelah menopause

(53-75 tahun).

2. Tipe II : Terjadi pada pria dan wanita usia >70 tahun

(58)

b) Osteoporosis sekunder

• Osteoporosis dapat terjadi pada tiap kelompok umur • Disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau

obat-obatan.

c) Osteoporosis idiopatik

• Merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui.

• Terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang

memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

(59)

Stadium Osteoporosis

1. Pada stadium 1, tulang bertumbuh cepat, yang dibentuk masih lebih banyak dan lebih cepat daripada tulang yang dihancurkan. Ini biasanya terjadi pada usia 30-35 tahun.

2. Pada stadium 2, umumnya pada usia 35-45 tahun, kepadatan tulang mulai turun (osteopenia).

3. Pada stadium 3, usia 45-55 tahun, fraktur bisa timbul sekalipun hanya dengan sentuhan atau benturan ringan.

4. Pada stadium 4, biasanya diatas 55 tahun, rasa nyeri yang hebat akan timbul akibat patah tulang. Anda tidak bisa bekerja,

(60)

Patogenesis, Patofisiologi,

Gejala Klinik

(61)
(62)
(63)

Resorpsi

• Sel osteoklas juga terbentuk dari sel prekursor yang kemudian berdiferensiasi menjadi sel

osteoklas matang. Sel prekursor adalah stem sel hematopoetik yang disebut monosit.

Osteoklas mengabsorbsi tulang dengan cara menempel pada permukaan tulang dan

menurunkan pH sekelilingnya sehingga

mencapai kadar asam sekitar 4,5. Mineral tulang kemudian menjadi larut dan kolagen menjadi pecah

(64)
(65)
(66)

Gejala Klinik

• Silent disease

• Kifosis (bungkuk)

(67)

Dasar Diagnosis,

(68)

Dasar Diagnosis

• Ny. D , 60 thn .

• Keluhan utama Nyeri pada punggung

sejak 7 hari yll setelah jatuh terduduk akibat terpeleset

nyeri bertambah  berdiri dan berjalan

nyeri berkurang  beristirahat dan duduk

punggung terasa semakin membungkuk tiap hari

memiliki 4 org anak

(69)

Pemeriksaan Penunjang

• Dual energy x-ray absorptiometry (DEXA)

• Pemeriksaan Radiologik : foto rontgent vertebrae lumbal

• Foto polos

• Pemeriksaan densitas tlg

– SPA : foto rontgent tl. Absorpsiometri foton tunggal – DPA : absorpsi foton ganda

– CT SCAN – DEXA

(70)

Diagnosis Banding,

Diagnosis Kerja

(71)

Diagnosis Banding

1. Osteomalasia

* Kurang mineral, defisiensi vit. D

* Predileksi : iga, skapula, ramus pubis, aspek medial femur proksimal

2. Paget’s Disease

* Alkali fosfatase meningkat, untuk menyeimbangkan, kalsium dan vit.D harus meningkat. Tapi apabila tidak cukup, menjadi PD.

(72)

Diagnosis Kerja

* Fraktur a/r vertebra lumbal I & II (trauma jatuh terduduk + Osteoporosis

(73)

Daftar Pustaka :

• http://id.wikipedia.org/wiki/Osteoporosis

• Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia Jilid III Edisi V

• http://josephinewidya.wordpress.com/2012/02/28/osteoporosis-kriteria-diagnosis/

(74)
(75)

Penatalaksanaan osteoporosis

• Non farmakologis

1. Olahraga ringan dan teratur, jalan-jalan 30-60 menit/hari

2. Jaga asupan suplemen Ca 1000-1500mg/hari 3. Hindari merokok dan minum alkohol

4. Kenali berbagai penyakit pendukung OP(

sirosis,hiperkortisolisme,hiperkalsiuria,kelain an gastrointestinal,hiperparatiroidisme, RA)

(76)

5. Hindari pengangkatan beban yang berat

6. Hindari defisiensi vit.d ( berjemur/ suplemen 400-800 iu/hari )

7. Hindari peningkatan ekskresi Ca dengan membatasi asupan Na sampai 3gr/hari

(77)

• Farmakologis 1. Bifosfonat

- Risedronat 35mg/minggu, 5mg/hari - Alendronat 70mg/minggu, 10mg/hari - Ibandronat 150mg/bulan

- Zoledronat 5mg/drip selama 15 menit setahun sekali

(78)

2. SERMs (Selective estrogen receptor modulators)

- Raloksifen 60mg/hari 3. Estrogen

- Estrogen terkonyugasi alamiah 0,625-1,25mg/hari

- MPA(medroksiprogesteron asetat) 2,5-5mg/hari

(79)

Pencegahan, Komplikasi,

Prognosis

(80)

Pencegahan

• Pencegahan Primer

Dapat dilakukan dengan upaya menghindari terjadinya trauma benturan, terjatuh atau kecelakaan lainnya. Dalam melakukan aktifitas yang berat atau mobilisasi yang cepat dilakukan dengan cara hati – hati, memperhatikan pedoman keselamatan dengan memakai alat pelindung diri.

(81)

• Pencegahan Sekunder

Dilakukan untuk mengurangi akibat – akibat yang lebih serius dari terjadinya fraktur dengan memberikan pertolongan pertama yang tepat dan terampil pada penderita.

Mengangkat penderita dengan posisi yang benar agar tidak memperparah bagian tubuh yang terkena fraktur untuk selanjutnya dilakukan pengobatan. Pemeriksaan klinis dilakukan untuk melihat bentuk dan keparahan tulang yang patah.

(82)

• Pencegahan Tersier

Untuk mengurangi terjadinya komplikasi yang lebih berat dan memberikan tindakan pemulihan yang tepat untuk menghindari atau mengurangi kecacatan.

Pengobatan yang dilakukan disesuaikan dengan jenis dan beratnya fraktur dengan tindakan operatif dan rehabilitasi.

(83)

Komplikasi

• Deformitas permanen • Kelainan neurologis

• Gangguan traktus urinarius

• Syok hipovolemik dan traumatik • Sindrom emboli lemak

• Sindrom kompartemen

• Koagulasi intavaskuler diseminata (KID) • Functional limitation

• Disability

• Nyeri tekan akut • Malunion

• Nekrosis avaskuler (nekrosis aseptik) • Osteomyelitis

• Gangren Gas

Smeltzer S., 2001 Brainmeditation.blogspot.com

(84)

Prognosis

• Quo ad vitam = ad bonam

• Quo ad sanationam = dubia ad malam • Quo ad functionam = dubia ad malam

(85)

Referensi

Dokumen terkait

Pertolongan pertama yang cepat dan tepat pada luka bakar akan mengurangi tingkat kerusakan jaringan yang mengalami luka bakar.. Sebaliknya tindakan yang lambat dan keliru

memberikan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan neonatal, serta meningkatakan perawatan bayi baru lahir seperti peningkatan pemberian ASI Ekslusif, pencegahan infeksi, dan

 Maksud P3K adalah untuk memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan ditempat kejadian dengan cepat dan tepat sebelum tenaga medis datang atau sebelum korban

Hasil penelitian ini hendaknya memberikan informasi yang bermanfaat bagi petugas kesehatan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan

5) Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama. 6) Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien/ keluarga. 7) Membuat catatan dan laporan... Memberikan asuhan

Salah satu upaya yang diperlukan yaitu kesiapsiagaan orang sekitar terutama keluarga untuk memberikan tindakan pertolongan pertama pada penderita serangan stroke dengan cermat, cepat,

Pasien yang menggunakan obat tetes mata harus mengetahui cara penggunaan dengan tepat agar menjamin keberhasilan pengobatan dan mencegah terjadinya efek yang tidak diinginkan akibat

Salah satu upaya yang diperlukan yaitu kesiapsiagaan orang sekitar terutama keluarga untuk memberikan tindakan pertolongan pertama pada penderita serangan stroke dengan cermat, cepat,