• Tidak ada hasil yang ditemukan

iusalah RAPAT PANITIA KHUSUS (PANSUS) PEMBAHASAN 5 RUU BIDANG PERPAJAKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "iusalah RAPAT PANITIA KHUSUS (PANSUS) PEMBAHASAN 5 RUU BIDANG PERPAJAKAN"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

iUSALAH RAPAT PANITIA KHUSUS (PANSUS)

PEMBAHASAN 5 RUU BIDANG PERPAJAKAN

Tahun Sidang : 1996 - 1997 Masa Persidangan : III

RapatKe : 5

Jenis Rapat : Rapat Kerja ke 3 Sifat Rapat : Terbuka

HarilTanggal : Seiasa, 25 Februari 1997 Pukul : 09.00 - 16.00 WIB

Tempat : Ruang Kaca Grahatama DPR-RI Ketua Rapat : Novyan Kaman, SH

Sekretaris Rapat : Ny. Anita Soekarjo, SH

Acara : Pembahasan Materi DIM RUU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

Hadir Anggota Pansus

53 Orang dari 59 Orang Anggota Tetap 23 Orang dari 28 Orang Anggota Tetap

(2)

140

- Pemerintah (Departemen Keuangan RI) 29 orang

ANGGOTA PANS US A. ANGGOTA TETAP

1. NOVYAN KAMAN, SH.

2. H. ANDAYA LESTARI. SE, MBA 3. JUSUF TALIB, SH

4. H. SYAIFULANWAR HUSEIN 5. DRS. YAHYA NASUTION 6. DRS. H. ASNAWI HUSIN 7. dr. H. FATHI DAHLAN

8. DRA. NY. S.A. RUm LENGKONG, MPA 9. DRS. MOH. MURNI

10. DRS. H. MUCHSIN RIDJAN 11. H. AGUS TAGOR

12. DRS. H. HASANUDDIN

13. NY. OETARTI SOEWASONO, SH 14. DJIMANTO

15. HISOM PRASHTYO. SH

16. NY. MUSTOKOWENI MURDI, SH. 17. IBNU SALEH.

(3)

19. SOEKOTJO SAID. SE 20. MOH. SUPARNI, BA

21. IR. NY. BAMBANG SIGIT PRAKOESWO 22. ABDULLAH ZAENIE. SH

23. DRS. AWANG FAROEK ISHAK 24. DRS. MADE SUDlARTHA. 25. BEN MESSAKH, SE

26. NY. SIS HENDARWATI HADIWITARTO 27. ANDl HASANMACHMUD

28. DRS. H. MEKKA HAYADE 29. MOEHARSONO KARTODIRDJO 30. H. ABDUL BAKRI SRIHARDONO 31. IR. S.M. TAMPUBOLON

32. DRS. SIMON PATRICE MORIN 33. R. M. PURBA 34. DJATMIKANTO D., S.lP 35. PUDRARTO, SE 36. DANIEL TODING, S.lP 37. SOEWARNO 38. SUTRISNO R, SE 39. DRS. M. SITUMORANG 141

(4)

40. LJ. ARIFIN 41. DRS. PAIMAN 42. DRS. SUPRIADI

43. DRS. H.M. MUKROMAS'AD 44. H. ALI HARDI KIAIDEMAK, SH 45. DRS. H. JUSUF SYAKIR

46. DRS. H.M. SYAFIE NONGKE 47. IR. H.M. SALEH KHALID. MM 48. H. ZAIN BADJEBER

49. H. ALIMARWAN HANAN, SH

50. DRS. H. NADHIER MUHAMMAD. MA 51. H. URAl FAISAL HAMID. SH

52. DRS. IGNATIUS SUWARDI 53. DRS. NOORACHARI 54. BUDI HARDJONO. SH 55. IR. H. ANWAR DATUK 56. DJUFRI, SH

57. HANDJOJO PUTRO, SH 58. SOENARJO

(5)

B. ANGGOTA PENGGANTI 60. DRS. USMAN ERMULAN 61. JAHYABAHAR

62. H.A. KAMIL SHAHAB

63. NY. SRI REDJEKI SUMARYOTO, SH 64. DRS. H. MASKA RIDWAN 65. H. NANANG SUDJANA, SH 66. G.B.P.H. JOYOKUSUMO 67. SUNDORO SYAMSURI 68. DRS. SARWOKO SOERJOHOEDOJO 69. DRS. ALOYSIUS ALOY 70. ALI RASYIDI

71. PROF. DR. IR. FACHRUDDIN 72. ANDI MATTALATTA, SH, MH 73. F.P.D. LENGKEY

74. H. JAKUB SILONDAE 75. SUPARMAN ACHMAD 76. I GEDE ARTJANA, S.IP 77. OENG RUMADn, SH 78. ORA. PAULA B. RENYAAN 79. TEDY YUSUF

(6)

8). H. YUDO PARIPURNO, SH 82. H. SOELAIMAN BIYAHliMO 83. K.H. SA'AD SYAMLAN, BA 84. DRS. H.A. CHOZIN CHlIMAIDY 85. TIOP HARON SITORUS

86. H. MARWAN ADAM

87. NI GUSTI AYU EKA SUKMADEWI C. PEMERINTAH ). DRS. MAR'JE MUHAMMAD 2. DR. FUAD BAWAZLER 3. DRS. MACHFUD SIDIK, M.Sc. 4. DR. AGlIS HARYANTO, SH, MA 5. WARDI, BA

KE:TUA RAPAT (NOVYAN KAMAN, S.H.) : Assalamu 'alalkum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Bapak Menteri Keuangan besel1a Staf~ dan rekan-rekan Anggota Pansus yang kami hormati.

Para hadirln yang kami muliakan.

Karena kemarin rapat kita skors sampai pukul 09.00 WIB hari ini, maka pada saat ini skors kami cabut, dan rapat kita lanjutkan.

(7)

-

---(Skorsing dicabut Pukul 09.00 Wm)

Sebelum rapat ·kita lanjutkan dihadapan kita masing-masing telah ada I (satu) risalah yaitu mengenai hasil rapat kita k:emarin, dan untuk: hal ini kami ingin menanyakan kepada fraksi-fraksi, apakah ada pembetulan atau yang dianggap tidak tepat catatan daripada Sekretariat, untuk itu kami mohon pendapat daripada masing-masing Fraksi lebih dahulu, dan tentu saja termasuk Pemerintah.

Maka untuk itu, baiklah Pertama-tama. kami persilakan kepada F-KP. F-KP (m. NY. BAMBANG SIGIT PRAKOESWO) :

Terima kasih.

Untuk sementara kebetulan dapat kami terima, namun pada DIM Nomor 56 mengenai "Istilah Badan" disini akan dicantumkan dalam Ketentuan Umum dengan mengambil istilah dari "KUP".ini memang demikian, tetapi sebaiknya didalam notulen ini dicantumkan juga Keterangan dari Bapak Menteri Keuangan yang menanggapi menjelaskan, bahwa pertanyaan dari F-KP mengenai "Reksadana" antara lain Reksadananya. Jadi termasuk penjelasan dari Pak Menteri itu sebaiknya dinotulenkan disini.

Demikian dari F-KP, apabila nanti ada hal kita ketemukan, kita akan memberikan tambahan.

Terima kasih. KETUA RAPAT : Terima kasih.

Dari F-KP dengan catatan disini diperhatikan yaitu masalah "Reksadana" yang telah juga tercantum didalam rumusan "Badan" pada Undang-undang lain.

(8)

Baiklah saya rasa nanti ini dapat dibahas didalam Panja. Jadi apa yang Pak Menteri jelaskan kemarin, nanti dalam Panja barangkali tentu ikut dibahas. Baiklah, kami persilakan kepada rekan dari F-ABRI.

F-ABRI (DRS. PAIMAN) :

Terima kasih Bapak Pimpinan Rapat.

Untuk sementara ini notulen rapat pada dasarnya dapat kami terima, namun nanti sambil berjalan kita akan mengadakan perbaikan-perbaikan ataupun koreksi-koreksi, kalau memang ada. Terima kasih.

KETUARAPAT:

Terima kasih dari rekan F-ABRI. Kami persilakan dari F-PP. F-PP (H. ALI HARDI KIAIDEMAK, S.H.) :

Terima kasih.

Karena naskah ini bam kami terima sekarang, belum sempat memhacanya, maka pada prinsipnya kami sudah menerima ini dan memang sekarang kami masukan dalam herkas kami untuk kami baca selama kita sedang memhahas. Oleh karen a itu, nanti kalau ada hal-hal yang perlu diperbaiki, kami perbaiki sementara rapat berjalan. Terima kasih.

KETUARAPAT:

Terima kasih Pak Kiaidemak.

Kemudian kami lanjutkan kepada rekan F-PDI, Silakan. F-PDI (SOENARJO) :

(9)

Kira-kira atas kareksi dari notulen ini adalah kemungkinan salah kutip atau kurang kutip, tapi pada dasarnya bisa kami terima. Hanya saja perlu kami tegaskan, misalnya saja pada DIM I urut nomar 34 Pasal 1 butir 15 disetujui dengan rumusan :

Disana ada tambahan, kata "tambahan" yang mestinya tidak perlu dan itu tidak ada, nanti akan menjadikan permasalahan. Jadi koreksi misalnya, "Surat Ketetapan Pajak Daerah kurang bayar", tidak pakai "tambahan". Disitu ada kata "tambahan" mestinya "tambahannya" harus dihilangkan.

KETUA RAPAT :

Sebentar Pak, itu halaman berapa Pak.

F-PDI

(SOENARJO) :

Halaman 4 Pak, paling atas, alinea pertama paling atas.

Surat Ketetapan Pajak Daerah kurang bayar, itu mestinya kan tidak pakai "tambahan". Jadi ini terlalu aktif ngetik, begitu jadinya ada "tambahan". Yang selanjutnya disingkat SKPDKB adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi admlnlstrasi, itu "dan"-nya belum diketik. Jadi mestinya ada kata "dan", jumlah tidak pakai "y" 'kan,jumlah "yy" kan Jadinya sulitjuga. Jadijumlah tidak pakai "y", kalau bacanya repot 'kan bisa repot, "dan" jumlah (Jadi kurang kata "dan"), "e" dibelakang huruf "h" dihilangkan yang masih harns dibayar. Kemudian selanjutnya masih dihalaman 4, DIM nomor urut 42 ini hanya text word saja, yaitu kalimatnya "Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi yang meliputi keadaan harta, kewajiban atau utang, modal, penghasilan dan biaya serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan (ini saya kira "menyusun laporan", bukan "menyusun 147

(10)

laporan", ini kurang "n") keuangan berupa Neraca dan Perhltungan Rugi Laba pada setiap Tahun akhir Pajak".

Berikutnya halaman 5, DIM nomor urut 48 Pasal 1 butir 29 itu masih ada kekurangan, "Wajib Retribusi adalah orang pribadi kata "pribadi" kurang, terus ditambahkan orang pribadi; atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungutan atau pemotongan retribusi tertentll" .

Selanjutnya semua sudah satna, namun nanti kalau ada hal-hal yang memang menyusul, karena ini kami membacanya kilat Pak, kami akan susllikan lebih lanjut. Ada 3 (tiga) hal koreksi itu yang kami sampaikan.

Terima kasih Saudara Ketua. KETUARAPAT:

Terima kasih dari rekan F-PDI.

Memang enak Pak kalau kitaini bersama-sama, dan rupanya dari F-PDI sudah teliti sekali ini, "m" saja satu ketinggalan sudah kelihatan. Dibisikan oleh Pak Jusuf sementara ini barangkali Bapak kitaini seorang guru yang baikjuga, ini barangkali.

Jadi ada beberapa perobahan tadi yang memang telah kami cek kepada Sekretariat, Sekretariat membenarkan. Ini peringatan pertama kepada Sekretariat, agar ini lebih hati-hati dalam rangka mengetiknya nanti. Baiklah setelalh empat fraksi, kami mohon kiranya dad Pemerintah. Silakan.

PEMERINTAH (MENTERI KEUANGAN RIIDRS. MAR'IE MUHAMMAD) : Dari kami sementara ini Saudara Pimpinan, kami belum menemllkan, nanti kalall ada kami akan susulkan.

(11)

Terima kasih. KETUA RAPAT : Terima kasih Pak Menteri.

Maka oleh sebab itu dapat kita simpulkan, pada prinsipnya risalah ini telah dapat kita terima, tetapi tentu dengan catatan seperti yang diungkapkan oleh beberapa rekan Fraksi tadi, kalau-Iah masih terdapat hal-hal yang dijumpai dan tentu nanti akan dapat disampaikan pada rap at berikutnya. Demikian, maka hasil Risalah Rapat Kerja atau Hasil Rapat Kerja kemarin telah dapat kita sahkan. Terima kasih.

Baiklah, sekarang kita beralih kepada butiryang kemarin kitaendapkan, karena kita menskors rapatdan alau kami tidak khilaf huruf "a" Pajak Kendaraan Bermotor ini didalam Batang Tubuh atau didalam substansi Batang Tubuhnya tetap, cuma kemarin kita berkisar disekitar Penjelasan.

Ini diharapkan oleh dua Fraksi ada penjelasan pasal nantinya, dan kemarin Pak Menteri telah mengungkapkan yaitu hal-hal apa yang harus kita ungkapkalTl didalam Penjelasan tersebut. Maka oleh sebab itu, karena Penjelasan inil nanti akan dibahas didalam Panja dan Penjelasan itu kami harapkan draft awalnya dari Pemerintah, apakah Pemerintah akan menyampaikan saat ini atau dalam Panja nantinya akan disampaikan.

PEMERINTAH :

Kami akan sampaikan di Panja. Terima kasih. KETUA RAPAT :

Kalau demikian butir "a" ini diserahkan kepada Panja, sekali lagi 149

(12)

dengan catatan substansl hutir "a" Pajak Kendaraan Bermotor itu tetap CHma Penjelasannya nanti yang akan diserahkan kepada Panja yang drafi awalnya disiapkan aleh Pemerintah.

Terima kasih.

Sekarang kami beralih kepada butir "b" Bea Balik Natna Kendaraan Bermotor". Dari F-KP dipertanyaannya, mempertanyakan mengenal "Bea", apa tidak disamakan saja menjadi "P2~ak".

F-ABRI tetap, F-PP tetap, dan F-PDI tetap.

Maka sekarang karena F-KP hertanya, pertanyaan itu mohan hendaknya diberikan jawaban Pak Menteri.

Silakan ja\Naban Pak Menteri hanya mempertanyakan, F-KP mempertanyakan, apa tidak disamakan saja "Bea" dalam kalimat ini dengan "Pajak". Jadi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor kalau disamakan dengan Pajak, Pajak Balik Nama Kendaraan Bermotor". Jadi mana yang akan dipakai, hanya tanya s~a Pak Menteri.

PEMERINTAH :

Saudara Pimpinan.

Karena kita sudah baku "Bea Balik Nama", kami l'ebih cenderung tdap menggunakan "Bea Masuk", nanti kalau "Pajak" itUi orang apa lagi, tapi kalau sudah "Bea Balik Nama" karena sudah berjalan dan selama ini tidak ada persoalan. Kita tidak perlu mengganti yang nanti menimbulkan persoalan.

Terima kasih.

(13)

KETUARAPAT: Terima kasih Pak Menteri.

Dari F-KP sudah cukup hanya mempertanyakan. F-KP(SOEKOTJO SAID, SE):

Sudah cukup Pak. KETUARAPAT

Jadi "Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor" huruf "b" okey punya. (RAPAT: SETUJU)

Kemudian huruf "e" Bahan bakar kendaraan berrnotor dipertanyakan dari F-KP, mengingat pajak ballan bakar kendaraan bermotor adalah Pajak Daerah TIngkat I, apakah tidak dikelola sarna dengan dua pajak lainnya ?

Dari F-ABRI, setelah kata "bennotor" ditambahkan dengan kata "dan bah an bakar mesin stasioner"', pada Penjelasan pasal ditambahkan pengertian tentang "mesin stasioner". Setelah peru bahan, "pajak bahan bakar kendaraan bermotor dan bahan bakar mesin stasioner". Dari F-PP tetap. Kernudian dad F-PDI tetap.

Jadi sekarang karni mohon kepada Pernerintah rnenjawab pertanyaan dulu Pak. Jadi pertanyaalO dari F-KP, mengingat pajak bahan bakar kendaraan berrnotor adalah Pajak Daerah Tingkat I, apakah tidak dikelola sarna dengan dua pajak lainnya ? Karni persilakan Pak Menteri.

PEMERINTAH : Saudara Pirnpinan.

(14)

Jika dilihat pada Pasal 2 daripada Rancangan Undang-Undang yang bersangklltan BAB II Pasall 2 tersebut, maka pada butir 4 pakai tanda didalamnya kurung. Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada Dinas Tingkat II setelah dikurangi 10% untuk Daerah Tingkat I yang bersangkutan.

Jadi ini lInhlk memudahkan pengadministrasiannya kita masukan kesini, karena itu kami lebih cenderung ditetapkan sekarang, ini memudahkan pengadministrasian saja, pengelolaan saja. tapi jelas bahwa ini adalah untuk Daerah Tingkat II setelah dikurangi 10% untuk Daerah Tingkat I yang bersangkutan.

Jadi dengan kata lain, 90%-nya untuk Daerah Tingkat II dalam lingkungan Daerah Tingkat I yang bersangkilltan. Daerah Tingkat I hanya tekhnis pemungutannya saja daripada masing-masing Daerah Tingkat II ini hanya pengadministrasiannya, tapi nanti dalam Peraturan Pemerintah seperti sekarang ini juga kiita lihat beberapa ketentuan, maka tentunya hams terjamin bahwa ini betul-betul pemotongan, karena ini Undang-undang, ya kita harus percaya dengan Ul1dang-Undang-undang, bahwa tidak boleh menyimpang daripada itlll, itu masalah lain, itu masalah pelaksanaan masalah law enforcement dan tekhnisnya bagaimana nami, tentunya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Terima kasih.

KETUA RAPAT : Terima kasih Pak menteri.

Karena ini mempertanyakan, setelah dijawab kami kembalikan kepada F-KP dulu. Silakan.

F-KP (DRS. H. AWANG FAROEK ISHAK, MM) : Terima kasih Pak Ketua.

(15)

Bapak Menteri, Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang kami hormati.

Memang Fraksi kami mempertanyakun, mengapa Pajak bahan bakar kendaraan bermotor ini disebut Pajak Daerah Tingkat I. Timbul pertanyaan dalam Fraksi kami, kalau memang pemungutan dari Pajak bahan bakar kendaraan bermotor ini nantinya akan dilakukan bersamaan dengan PPN bahan bakar minyak dalam satu kesatuan administrasi, maka kenapa tidak kita sebut saja ini Pajak PUisat, misalnya saja sarna dengan PBB. Sehingga dengan demikian Pajak bahan bakar kendaraan bermotor ini jelas nanti : pengelolaan itu ada di Tingkat Pusat secara nasional.

Apalagi kilta mengetahui didalam Undang-undang ini nanti, Pemerintah Daerah nantinya hanya mengenal 2 (dua) golongan Pajak yang menjadi penerimaan Daerah. Satu Pajak yang dibagihasilkan kepada Daerah, dan Pajak Daerah yang berdasarkan pada Undang-Undang PD dan RD ini. Sehingga dengan Demikian cocok dengan heading-nya diatas itu, heading diatasnya jtu dikatakan :

"Pajak ini adalah Pajak Daerah Tingkat I".

Sehingga dengan demikian kami kembali mohon Penjelasan Pak Menteri, sebab banyak Daerah-daerah yang bertanya pada saat kami mengadakan Kunjungan ke Daerah dan menyerap aspirasi mereka. Kalau memang ini nanti dike lola oleh Pusat, ya kenapa tidak dikatakan saja "Pajak Pusat".

Jadi mohon tambahan penjelasan Pak. terima kasih.

KETUARAPAT:

Baiklah, sebelum kami putar, mudah-rnudahan dengan jawaban Pak Menteri sekarang ini F-KP dapat memahami Pak. Kami minta jawaban Pemerintah duJu Pak, Silakan.

(16)

PEMERINTAH :

Ada beberapa hal, mengapa kami cantumkan sebagai Pajak Daerah? ini berbeda dengan PBB, PBB memang Pajak Pusat yang penggunaannya diserahkan untuk Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat

n,

lebih banyak Daerah Tingkat

n,

kita mengetahui segala prosentasenya.

Ini tidak demikian. Sebab kalau ini Pajak Pusat, itu letaknya tidak disini, kita letakan di Undang-undang yang lain, seperti PPh itu kan sebenarnya pada dasarnya tergantung pada Pemerintah Plllsat, dia mau kasih berapa (wong itu Pajak Pusat kok, PBB itu). Sekarang kita serahkan, bahkan sekarang sudah seluruhnya diluar upah pungut.

Ada alasan politis yang prinsipil, jika ini Pajak Pusat maka akan timbul berbagai keluhan-keluhan yang serius dari Daerah, karen a sekarang juga sudah timbul keluhan bahwa dengan adanya Undang-undang ini banyak Perda-perda, banyak macam-macam itu yang akan dikurangi. Jadi kita lakukan sekaligus penertiban.

Tentunya timbul pertanyaan, lalu dimana Pendapat AsH kami? Sebab kalalll Pajak Pusat tidak terrnasuk Pendapat Asli Daerah" secara politis dia adalah Pajak Pusat, PBB bukan Pendapatan Asli Daerah. Memang penggunaannya kita serahkan, karena itu tampak dalam APBD, baik Tingkat I maupun Tingkat II, dia bukan Penerimaan Asli Daerah PBB.

Karena itu untuk meredarn keluhan-keluhan semacam itu yang kami kira memang masuk akal, maka kita sampaikan bersama bahwa meskipun banyak nanti sumber-sumber PAD yang kecil-kecil itu yang akan hilang, tapi mereka akan menerima kompensasi yang jauh lebih besar. Karena itu dalam berbagai kesempatan kami sampaikan dengan adanya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Atas Tanah, maka telah hampir dapat dipastikan bahwa meskipun disana-sini ada pengurangan

(17)

daripada jurn lah Pajak Daerah, tetapi Penerirnaan Daerah justru tidak akan berkurang bahkan rneningkat, telah harnpir dapat dipastikan.

Kalau ini kitajadikan Pajak Pusat, tentunya lain ceritanya, persoalannya rnenjadi lain, dan letaknya bukan disini. Letaknya kita harus adakan revisi dalarn Undang-undang kita PPh, PPn, dan lain-lain itu disana letaknya, seperti PBB juga Pajak Pusat.

Jadi karni kira Saudara Ketua, ada alasan-alasan prinsipil rnengapa kita letakan disini, rnernang ini Pajak Daerah.

Dengan demikian sekaligus memberikan jaminan kepada Daerah, ini hak kami, ini tidak bisa dipusatkan. Tetapi kalau Pajak Pusat, itu tergantung daripada selera politik, kemauan pol itik daripada Pemerintah Pusat. Kalau Pajak Pusat "wong dia punya kok", saya serahkan kamu, nanti kalau ada yang lain "akh rasanya sudah cukup, tidak perlu lagi diserahkan", bisa, secara teoritis kami katakan. Yuridis tidak bisa digugat itu, bisa, "wong itu Pajak Pusat", tapi kalau ini tidak bisa. Karena Undang-undang mengatakan sudah kok, ini adalah Pajak Daerah, yang kegunaannya juga setelah 10% untuk Daerah Tingkat I, telah diperuntukkan sudah Irma dalarn Undang-undang, bahwa 90% untuk Daerah Tingkat II dalam kawasan Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Kami kira demikian Pak Ketua, mudah-mudahan dengan penjelas-anini menjadi tuntas. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih.

Dengan jawaban Bapak Menteri mudah-mudahan dapat menjadi, dan kami lihat F-KP sudah ketawa-tawa, mudah-mudahan tuntas Pak.

(18)

F-KP (DRS. H. AWANG FAROEK ISHAK, MM): Terima kasih Pak Ketua.

Jadi setelah mendengarkan Penjelasan Bapak Menteri dengan gamblang, kami yakin bahwa penjelasan inilah yang makin memperjelas apa yan~

menjadi keragu-raguan kami. Karena heading diatas itu Pajak Daerah Pak sedangkan Pengelolaannya adalah dipusatkan. Saya kira dengan demikian, kami dapat menerima penjelasan Pemerintah.

Terima kasih. KETUA RAPAT : Terima kasih.

Jadi F-KP dalam hal ini sudah tetap.

Sekarang kami mohon penjelasan dari F-ABRI, Silakan. F-ABRI (DJATMIKANTO DANUMARTONO, S.IP.) : Terima kasih Saudara Pimpinan.

Kami mecover kepada apa yang kami singgung kemarin pada waktu kita membahas butir "a" Pajak Kendaraan Bermotor, ditnana dari kami menyampalkan memang timbul kekhawatiran kalauini tidak diberikan kejdasan akan rnuncul mungkht klaim dan sebagainya dari para pengguna bahan bakar kendaraan bermotor pada butir "c".

Justru berkait dengan itu kami mengajukan disini memasukan "bahan bakar mesin stasioner", ini sebetulnya dilatarbelakangi pewaspadaan kesulitan pada saatnya nanti, pada waktu pemungutan, mungkin ini hanya masalah pemungutannya dan sebagainya.

(19)

Tapi karena kami berpikir mungkin sederhana, kalau saya punya mesin stasioner katakanlah pembangkit listrik untuk milik pribadi, saya menggunakan 'bahan bakar yang sarna dengan bahan bakar kendaraan bermotor. Padahal judulnya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, saya kan bisa minta pengembalian Pajak tadi.

Sehubungan dengan itu, kami menyarankan masuknya tambahan kata-kata "dan bahan bakar mesin stasioner". Kalau ini dapat dijelaskan sehingga tidak menimbulkan kesulitan dikemudian hari bagi para pemungut pajaknya, mungkin bisa kami mengerti, ini dapat dilepaskan.

Terima kasih Pak Ketua.

KETUA RAPAT :

Terima kasih dari rekan F-ABRI.

Karena ini masih mengharapkanjuga penjelasan dari Pemerintah lebih dulu, kami mohon kiranya Pemerintah dapat memberikan tanggapan atas pertanyaan atau atas kejelasan dari F-ABRI tersebut. Kami persilakan.

PEMERINTAH :

Memang kendaraan-kendaraan bermotor kami tidak masukan mesin stasioner, mesin adalah mesill1, kendaraan adalah Kendaraan. Memang tidak masuk Saudara Ketua, mesin ya mesin, ini kendaraan. Jadi dengan demikian nanti dalam kita merumuskall1 pengertian kendaraan bermotor sebagaimana yang kita sepakati, kami bersedia rnernbantu didalam penjelasannya dan kita akan Panjakan. Tetapi untuk menjawab pertanyaanini, memang tidak dimasukan mesin stasioner sebagai kendaraan bermotor. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Bagaimana rekan dari F-ABRI.

(20)

F-ABRI (DJATMIKANTO DANUMARTONO, S.IP.) : Terima kasih atas penjelasannya.

Jadi dengan demikian kami jelas, bahwa mesin stasioner bahan bakamya tidak dikenakan pajak. Soal tehnis sudah barang tentu nanti akan dilanjutkan dengan peraturan yang lebih lanjut. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Simpulnya, apakah F-ABRI dapat menyetujui butir "c" ? F-ABRI (DJATMIKANTO DANUMARTONO, S.IP.) : Tetap.

KETUA RAPAT :

Kalau demikian butir "c" Bahan kendaraan bermotor, okey punya. Dari F-PP masih ada, Silakan.

F-PP (H. SOELAIMAN BIYAHIMO) : Saudara Ketua, Bapak Menteri yang terhormat.

Seperti kita ketahui bersama selama ini. Pajak-pajak Daerah itu ada Pajak Daerah Tingkat I, Pajak Daerah Tingkat II. PKB dan BBN adalah Pajak Daerah Tingkat I. Sekarang yang Jadimasalah walaupun DIM kami tetap mengenai BBN ini ada permasalahan, bahwa kalau memang PKB dan BBN itu memang bermula dari Ordonansi Tahun 1934. Kemudian kita perbaharui dengan beberapa Undang-undang, terakhir Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992.Yang menjadi pikiran dari saya adalah Pajak yang butir "c"ini bahan bakar kendaraan bermotor, barangkali bisa digambarkan

158

(21)

kepada kami atau kepada floor ini, dasar hukum yang digunakan pengenaan ten tang Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, karena sebelumnya saya tidak pernah mendengar baik itu ordonansi jaman Belanda apalagi jaman Jepang. Sekarang pada jaman RepUiblik kita ini setelah 52 tahun merdeka, kita akan melahirkan suatu Undang-undang tentang Pengenaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Bukan apa-apa supaya di dalam pelaksanaannya kita paling tidak punya pegangan, satu dasar hukum yang sudah barang tentu sesudah Undang-undang ini diundangkan inilah menjadi dasar hukum pengenaan itu, cuma sebelumnya saya kira motivasi tentang pengenaan bahan bakar, sebab masalah ini pernah dilakukan di beberapa Daerah Tingkat I dan pada saat itu dilarang oleh Pemerintah Pusat, sebab pemungutannya waktu itu SK Gubernur, hanya berdasarkan SK Gubernur bahwa dalam setiap SBPU dikenakan opsen atau subsldi bahan bakar namanya Rp 1,- per liter. Pada saat semua pungutan oleh Pemerintah Pusat hams disertakan maka tidak ada dasar hulkum yang bisa dipakai untuk sebagal cantolan atau dasar hukum dari pada membuat Peraturan Daerah. Oleh karena itu subsldi bahan bakar minyak Rp 1,- per liter itu dihapus. Sekarang kita setelah beberapa puluh tahun berlalu Undang-undang ini memuat Rancangan Pengenaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.

Yang jadi masalah nanti mungkln di dalam Peraturan Pemerintah bisa diatur pengenaannya kepada Pertamina, kepada SBPU apa kepada konsumen, kalau kepada konsumen kita hams pertimbangkan konsumen usaha, konsumen perorangan, Pegawal Negeri, pedagang kecil dan sebagainya. Kemungkinan ini akan menimbulkan masalah kalau yang dikenakaji itu SBPU penyalur, apakah kira-kira demikian dan bagaimana kira-kira gambaran. RPP itu hanya Peraturan Pemerintah itu. Ini bukan apa-apa oleh karena nanti di daerah menemui kesulitan dalam menerapkan ini.

Jadi demikian Saudara Ketua, beberapa hal dan mengenal pembagian namanya Pajak Daerah Tingkat I seperti yang dikemukakan oleh F-KP tadi. Kalau Pajak Tingkat I itu dominasinya mestinya pembagiannya 159

(22)

pada Tingkat I. Tingkat II mendapat bagian dan rnengatur pembagian untuk Daerah Tingkat II ada kesulitan. Kesulitan daerah subur Surabaya yang kira hampir I juta kendaraan bermotor dan Pacitan yang kira-kira hanya 1000 kendaraan bermotor itu melljadi suatu masalah, dimana pemera-taannya itu. Surabaya yang 1 juta kendaraan bermotor mendapat pembagian lebih besar, sedangkan Pacitan yang kecil menjadi kecil, oleh karena itu alii Tingkat II disitu akan berbeda-beda dan akan menimbulkan kecemburuan. Seperti kita ketahui PKB juga Tingkat II mendapat tetapi diadakan pemungutan secara keseluruhan dibagi seluruh kendaraan Jawa Timur misalnya atau Jawa Barat misalnya ditemukan indeks kemudian dikalikan jumlah kendaraan bermotor di daerah Tingkat II yang bersangkutan.

Jadi PKB Tingkat II juga dapat sekarang bahan bakar minyak juga dapat tetapi dengan presentase yang demikian itu padahal namanya pajak daerah Tingkat J. Kemudian BBN juga mendapat begian terutama dari Kepolisian Republik Indonesia mendapat bagian yang besar dari pada BPN itu, sedangkan Daerah Tingkat II juga mendapat bagian yang kecil artinya. Demikian Saudara ketua barangkali ada klarifikasi dari Bapak Menteri. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Ini menanggapi atau tidak, Silakan pak.

F-PDI (SOENARJO) :

Saudara ketua.

Kami ingin memperoleh gambaran dari Pak Menteri untuk bagaimana tehnik dalam rangka pemungutan mengenai pajak tentang bahan bakar

(23)

kendaraan bermotor, tolong untuk sedikit dilberikan gambaran sehingga apa yang tadi oleh F-ABRI ada satu keraguan ini akan mcnjadi lebih jelas, contoh soal Pak : kalau dari F-ABRI tentang mesin stasioner, bapak mengatakan tentang bahan bakar kendaraan bermotor. Nah sekarang misalnya eontoh soal Rice Mill/Huller dia menggunakan solar, solar itu pasti beli di stasiun bahan bakar. SBPU kalau ini termasuk hanya kendaraan bermotor dimana Rice Mill tidak kena pajak padahal dia disitu dan ini sudah diambil dari sana. Kalau misalnya pemungutannya di pool oleh Pertamina itu mesti sudah kena apa itu akan ada pengembalian hal ini saya kira tidak Demikian. Oleh karena itu to long Pak, biar kita sama-samajelas yang pertama adalah mengenai masalah bahan bakar bagi Rice Mill, bagi listrik yang pakai diesel itu atau pabrik tapi.oka yang menggunakan bahan bakar minyak jugaini tehniknya bagaimana karena itu bukan kendaraan bermotor, itu yang pertama.

Kemudian yang kedua, menyambung dari pada apa yang dikemukakan oleh F-PP kira-kira daerah Kabupaten Tingkat II ada POM Bensin-nya. Jadikira-kira untuk menghitung tidak akan sulit tetapi kalau di luar Jawa dimana ada daerah Tingkat II yang belum ada POM Bensinnya tetapi juga ada kendaraan yang lewat disitu dan ada Pemerintah daerah yang punya kendaraan disitu atau swasta punya kendaraan disitu, lalu membaginya bagaimanaini. Jadi jatah pembagiannya apakah karena disitu ada POM Bensin-nya, apa disitu hanya karena ada kendaraannya. lni tolonglah Pak supaya kita-kita ini tidak raneu atau kita-kita ini tidak pusing dalam rangka masalah pelaksanaan mengenai bahan bakar kendaraan bermotor.

Demikian Saudara Ketua. Terima kasih.

KETUA RAPAT : Terima kasih.

(24)

Sebetulnya kami tadi ingin menyampaikan supaya kita kembali pada mekanisme, karena disini tadi PDI tetap, F-PP tetap dan tadi ada mempertanyakan sudah hampir putus, maka sekarang ini ada ingin penjelasan barangkali untuk bahan Pemerintah. Jadi ini sudah oke, tetapi barangkali ada sedikit kejelasan dan sekarang ini kami mohon ada kejelasan dari Pak Menteri.

PEMERINTAH:

Saudara Ketua, dan Para Anggota Pansus yang kami hormati.

Kami justrn gembira untuk meng-clear-kan kembali hal-hal yang memangini sifatnya adalah terns terang hal barn, supaya nanti dibelakamg hari kita sudah lega semua. Kita ambil dulu pengalaman negara lain dan kita sendiri, pajak bahan kendaraan bermotor bukan hal barn bagi negara-negara lain, alasannya sederhana bahwa pembetulan jalan. Jadi kita tidak mengatakan pembangunan jalan barn, perbaikan jalan, pemeliharaan jalan diluar jalan tol yang itu sudah dikenakan suatu bea tertentu itu ; bukan semakin hari semakin mahalm, mengapa semakin mahal karena memang dengan meningkatnya kegiatan ekonomi maka beban terhadap jalan semakin tinggi kita mengetahui bahwa jalan-jalan di negara kita tidak semuanya adalah tanggungan Pusat dan Daerah kita adalah begitu luas Pemerintah juga terns membangun jalan-jalan barn di daerah-daerah.

Dengan demikian maka, kalau semua ini harns nanti menjadi be ban pusat tidak mungkin, sebaliknya kalau ini menjadi beban Dati I dan Datini uangnya tidak cukup, sia-sialah kita membangun jalan nanti menJadikubangan semua, kita berhitung dalam jangka 5 sapai 10 tahun, 20 tahun yang akan datang semakin banyak yang kita bangun.ini alasan ekonomis dalam jangka panjang mengapa pajak ini perlu kita clear.

Alasan yang lain adalah sebagaimana telah kami kemukakan tadi bahwa banyak keluhan dari daerah bahwa penghasilannya PAD nya akan 162

(25)

berkurang, kalau ini tidak kita adak an saya kira kita tidak fair kita hanya tahu mangkas tetapi tidak tahu mengisi, kita hanya tahu mengurangi tetapi tidak tahu mengisi tidak fair. Jadi adanya pajak inilah yang sebetulnya sangat membantu daerah didalam meningkatnya PAD-nya sekaligus mengkompensasikan yang hilang.

Kemudian bagaimana mekanisme, mt:kanismenya adalah memang melalui Pertamina, mengapa Pertamina, Pertamina persis tahu berapa bahan bakar yang disalurkan melalui SBPU-SBPU dalam Dati I yang bersangkutan dan selain itu ada pertimbangan lain kita pungut melalui Pertamina dengan demikian Collection Cost-nya Zero. Jadi daerah bisa menerima sepenuhnya 5%, tidak potongan-potongan, karena orang kita maaf Pak Ketua suka motong-motong, kita paling ahli potong-potong, nyunat paling ahli, sangat kreatif dalam sunat menyunat itu. Jadi karena itu tidak ada alasan untuk kurang seperak pun pajak ini zero, zero collection cost. Kemudian luengapa Dati I persis seperti tadiyang disampaikan oleh Pak Soeieman, kemudian yang disampaikan oleh F-PDI, bahwa kalau ini Dati ini akan menimbulkan kesuliitan administratifberarti langsung Dati ini yang bersangkutan dan kita harus ingat tidak semua Datini punya POM Bensin, pertama. Kedua karena ini dikaitkan dengan beban jalan bisa terjadi orang mengisi POM Bensin disini tetapi yang banyak dillalui justru Kabupaten yang lain, kan bisa menggerutu, masing-masing bisa perang Perda dan itu bisa gawat kita, karena itu maka Dati I apa benar pemikiran itu, karena ini bobotnya hanya 10% Dati I. Jadi yang menikmati 90% Datini, harus ke Datini, tidak, contoh PBB, PBB Pajak Pusat, tetapi Pemerintah pusat diluar upah pungut tidak menerima apa-apa.ini masalah menejemen menyangkut administrasi. Jadi kalau ini disebut Dati I meskipun dominannya yang menikmati Datini tidak harus menjadi Datini, analog adalah PBB, dia pajak pusat tetapi Pemerintah pusat tidak menerima apa-apa bahkan keluar uang untuk biaya-biaya macam-macam PBB, kan banyak pemetaan macam-macam 163

(26)

itu, itu minus untuk Pemerintah pusat dibandingkan upah pungut yang diterima. Mengapajustru tidak Dati I, selain tnasalah-masalah tadi itu ada Datini yang tidak punya POM Bensin, kemudian kalau orang mengisi di Datini tertentu yang disini belum tentu ada beban jalan, disini justru nanti diajalannya kemari. Jadimisalnya daerah perbatasan ujung dari Kabupaten tertentu dia mengisinya POM bensin itu tetapi dia kan jallannya banyak di Datini, apa lagi truk-truk itu, kalau umpamanya Datini yang bersangkutan yang dapat sepenuhnya dilalui, apa karena :ini dikaitkan dengan sumber pendanaan bagi perbaikan jalan baik Dati I dan lebih-Iebih Datini karena sekarang harus diakui bahwa sumber pembiayaan, pemeliharaan jalan bagi jalan Kabupaten minim, ini sekaligus mengurangi ketergantungan pemeliharaan jalan bagi Pemerintah pus at, terus terang saja Pemerintah Pusat tidak sanggup, kita hitung saja 10 tahun yang akan datang nanti saya tidak tahu berapa APBN baik pusat maupun Dati I. Datini hanya untuk perbaikanjalan, kita belum bicara pembangunanjalan.

Jadi dengan demikian sekaligus juga aspek keadilan, kemudahan administrasi dan juga ada aspek pemerataan, persis seperti PBB juga ada pemerataan. Jadi Datini umpamanya yang tidak dapat POM bensin tetap tidak ada SBPU nya tetap akan dapat masalah, nanti mengaturnya bagaimana ? Kami akan bicarakan dahulu, sudah ada konsepnya, sudah kita bicarakan berkali-kali dengan Departemen Dalam Negeri tetapi kami sangat prematur kalau sekarang teknis mengatur formulanya satu persatu, tetapi saya kira bagi Aggota Dewan kami telah sampaikan gambaran umum dan alasan-alasan ; baik politis maupun tehnis mengapa kita menjadikan ini sebagai pajak Dati I. Kemudian landasan hukumnya apa ?, landasan hukum ya UU ini memang betul seperti Pak Soelaiman sampaikan yang terhormat. Beberapa waktu yang lalu ada Pemda-Pemda itu opsen, opsen apa, SK Gubernur tidak bisa dong suatu pajak kok SK Gubernur tidak bisa, karena itulah kita perlu angkat dalam bentuk UU, kan ini sesuai dengan amanat Pasal 23 UUD 1945, segala sesuatu yang membebani rakyat harus dengan UU, karena itu kita jadikan UU. 164

(27)

Dengan demikian kami kira Pak Ketua karena ini sifatnya klarifikasi, semoga dengan klarifikasi yang agak panjang lebar supaya buat kita semua Jega kami kira cukup memadai.

Terima kasih. KETUA RAPAT : Terima kasih Pak Menteri.

Tentu dalam hal ini st:bagaimana telah kita putuskan tadi sudah oke dan ditambah kejelasan-kejelasan tadi dengan pertanyaan tadi karena ini memang merupakan suatu hal pajak baru bagi kita. Jadi seperti kata Pak Menteri mudah-mudahan akan merupakan plong bagi kita dan selanjutnya akan kita lihat pengaturnya didalam Peraturan Pemerintah.

Baiklah 1 jam sudahkitabersidanghanya3 butirbarudapatkitaselesaikan. Sekarang kita masuk pada ayat (2) pajak Daerah Tingkat II terdiri dari F-KP tetap, F-ABRl tetap, f..pp setelah angka ayat (2) ditambah kata jenis, F-PDI tetap inil sebagaimana yang terdahulu, maaf karena didalam butir 63 Usul Perubahan oleh F-PP ditambah huruf d baru yang berbunyi opsen atas pajak negara tertentu setelah perubahan opsen atas pajak negara tertentu.

Kami persilakan dari f.·PP.

F-PP (H. ALIHARDI KIAIDEMAK, SH) : Terima kasih Pimpinan.

Yang penting disini masalah substansinya mengapa F-PP melahirkan substansi ini, ini memang pada waktu sudah tersiar RUU ini akan disampaikan kepada Dewan, maka didalam kunjungan-kunjungan kerja dari pada Fraksi, kami lal[u mendapatkan amanah-amanah dari dat:rah, 165

(28)

an tara lain misalnyajangan sampai sesuai dengan UU Darurat tahun 1957, kita dapat pajak-p~ak lagi, pajak anjing, pajak kendaraan tak bermotor, pajak bertinggal lebih dari 120 hari, yang besar-besar tidak, tetapi kemudian begitu naskah kami beritahukan kepada mereka, maka masih ada usulan-usulan yang disampaikan yaitu dimana didalam UU Darurat Nomor 11 tahun 1957 ada opsen atas pajak, lalu mereka memohonkan kalau bisa dipertim-bangkan sebenamya yang mereka mintakan itu bukan saja opsen dari pajak pusat tetapi juga termasuk yang non pajak, pokoknya penerimaan pusatlah. Ini dikaitkan dengan pengalaman yang dialami oleh daerah dimana daerah-daerah yang punya kekhususan karen a kondisi seperti misalnya Riau dengan pertambangan minyaknya, Kalimantan dengan hutannya, Sulawesi, Irian dengan hutannya. Sebagai contoh mereka mengatakan bahwa IHH misalnya itu dibagi keseluruh termasuk Jakarta dapat tetapi manakala mereka melirik penghasilan Jakarta dibidang PKB dan BPNKB banyak sekali tetapi mereka tidak kebagian.

Oleh karena itu mereka masih mempertanyakan akan bisa ada; opsen untuk pajak negara tertentu bahkan mereka juga inginkan non pajak di daerah tertentu, sebagaimana kejadian-kejadian yang kita alami misalnya di Irian Jaya, bagaimana masyarakat disekitar Freeport yang melihat bayangan-bayangan dari pada kemewahan, temyata daerah tidak merasakan, schingga ini akan ada kaitannya sesungguhnya penempatannya kami maksudkan menjadi ayat sendiri tetapi karena adanya problem dari Fraksi kami, maka yang penting substansinya dulu dimunculkan didalam DIM ini dan ada kaitannya dengan butir DIM 80 bahwa opsen ini diatur dengan Peraturan Daerah Sehingga daerah bukan hanya dengan SK Gubemu:r. Jadi ini ; latar belakang yang pertama bahwa F-PP menyampaikanini selain memang di UU Darurat Nomor 11 tahun 1957 ada opsen atas pajakjuga karena Memang aspirasi yang disampaikan oleh daerah-da,crah mereka menginginkan itu., bahkan ada satu Iagi Pak Menteri yang mereka Inginkan ketegasan bahkan mereka menginginkan supaya dimasukan hanya kami masih bimbang masukannya itu pengalaman kalau PAD mereka mengalami penurunan 166

(29)

akibat kebijakan dari pada Pemerintah Pusat, mereka memintajaminan ada kompensasi tetapi mana kalau dimasukan didalam UU seperti bagaimana. Jadi barangkali kalau penjelasan saudara Menteri bisa kami kembalikan penjelasan itu ke daerah, ini karena namanya amanah. Saya kira Pak Mar'ie bisa memahami, bagaimana beban hukum dari pad a amanalh untuk kami yang menerima amanah. Itulah yang terpenting substansi ini soal penempatannya mungkin di ayat bam dis.atukan dengan butir 80 atau tidak disepakati sarna sekali, buat kami yang penting amanah sudah kami sampaikan. Terima kasih.

KETUA R-\PAT :

Pak Menterii karena ini mungkin ada sangkut pautnya dengan penjelasan barangkali opsen didalam UU Nomor 11 dulu itu ada yang sekarangini pada prlnslpnya tidak kanri gunakan lagi, maka oleh sebab itu sebelum Fraksi menanggapi barangkali dengan jawaban Pak

Menteri nanti akan dapat jalan keluarnya. Oleh sebab itu sebelum Fraksi-fraksi menanggapi tambahan ayat baruini atau ditambah huruf d baruini opsen atas pajak negara tertentu kami mohon penjelasan dari Pak Menteri. Kami persilakan.

PEMERINTAH :

Saudara Ketua.

Sebelumnya perlu klarifikasi kita bersama yang seringkali ini kerap timbul kesalahpahaman dari beberapa pihak termasuk dari beberapa daerah, jika Pemerintah Pusat memungut PPH, PPN itu untuk siapa ? kern bali pertanyaan prinsipil, kembalinya ke siapa saja, dilihat saja alokasi APBN, kalau rutin adalah pegawai negeri termasuk ABRI dan pensiunan itu pegawai negerinya siapa, kemudian dari pegawai itu setengah itu adalah gum SD,

(30)

guru SO nya siapa, apa guru SO nya di Pusat, ini toJong dipikir baik-baik. Semua Pemda itu dibayar dari pada subsidi daerah otonom kita lihat di Anggaran Belanja kita yang saya percaya bahwa bapak-bapak disini meskipun bukan Anggota APBN cukup menghayati itu tetapi sebagaimana disampaikan bahwaini amanah diteruskan, diteruskan bagi Pemerintah tentunya tidak untuk Pemerintah saja untuk kita bersama. Kemudian kalau Pemerintah membayar cicilan hutang luar negeri itukan Umumnya bantuan proyek, proyek itu dimana dilihat baik-baik apa di Jakarta kita membangun macam-macam misalnya terutama pembangkit Iistrik itu apa di Jakarta di lihat baik-baik.

Oemikian juga Penerimaan Negara Bukan Pajak ada itu di APBN, itu larinya kemana kan untuk kita bersama, artinya untuk kepentingan seluruh Negara Republik Indonesia. Ini yang saya kira pertama kaJi kita perlu klarifikasi, karena amanat saya teruskan kembali amanatini bagi bapak-bapak untuk diteruskan amanat ini, mungkin yang di daerah itu kurang betul-betul menghayati alokasi penggunaan APBN, meskipun setiap talmn kami memberikan di rapat-rapat Gubernur itu yang saya percaya Pak Gubernur pasti tahu itu semua tetapi mungkin di bawah-bawahnya mengerti tetapi penghayatannya yang mungkiin perlu ditingkatkan, kemana uang APBN ini.

Kemudian saudara-saudara ini yang secara umum tanggapan dan sekaligus untuk kita renungkan bersama. Kemudian mengenai opsen terhadap pajak negara, kami kira bicara disini pajak daerah, jika kita bicara itu maka letaknya saja kita harus bicara entah UU PPHIPPN .PPHlPPN itu bongkar semua namanya dan saya kira kita tidak forumnya untuk mebicarakan itu kembali lebih-Iebih setelah saya beri penjelasan yang saya percaya, saya hanya mengulang saja untuk refreshing, renungan kita bersama pad a pagiini karena saya sering di daerah-daerah ditanya itu, terus saya jawab begitu coba kita lihat baik-baik kemana uangnya sih yang dikumpulkan dengan susah payah. Kemudian kalau kita misalnya

(31)

melakukan yang mendapat pujian WHO, misalnya vaksinasi, sampai kita masukan untuk vaksin yang baru dalam paket vaksinasi hepatitis B, kalau saya tidak saliah penje\asan Menteri Kesehatan satu-satunya di dunia baru Indonesia yang memasukan hepatitis B dalam vaksinasi, itu untuk siapa, untuk anak-anak dimana, kan diseluruh Indonesia kalau kita memberikan tambahan makanan bagi anak-anak sekolah adakan perbai kan makanan itu dalam APBN itu, itu anak-anak dimana itukan

APBN, itukan anak-anak seluruh Indonesia bukan hanya anak-anak di Jakarta saja atau di Jawa saja, anak-anak di seluruh Indonesia dan kita tidak bedakan anak dimanapunjuga adalah anak kita.

Jadi mungkin kesadaran-kesadaran semacam ini yang pertu juga saya amanatkan bagi bapak-bapak yang sering ke daerah untuk juga diteruskan kembali jadi mengenai opsen telah kami tegaskan bahwa tidak ada maksud sedikitpun bagi kam i untuk memb icarakan opsen danini sarna sekali hal baru dan Undang-Undang Darurat Tahun 1957 sudah banyak perkembangan, Undang-Undang PPh sudah beberapa kali direvisi, PPn juga sudah direvisi, itu berarti kita harus bicara dari awal kern bali dan kami kira bukan forumnya seperti yang disampaikan tadi dari F-PP, ini meneruskan amanat. Saya terima, sudah diteruskan dan sudah kita bicarakan. Demikian Salldara Ketua Jawaban dari kami. Terima kasih atas perhatiannya.

KETUA RAPAT :

Terima kasih Bapak Menteri. Kembali kepada F-PP. F-PP (H. ALI HARIH KIAIDEMAK, SH)

Sebagaimana tadi kami kemukakan, karen a ini namanya amanah bahkan barangkali yang masih perlll ditambahkan, yang mereka tanyakan juga karena pada akhirnya yang selalu dinilai bahwa Pemerintah Daerah itu jangan selalu tergantung kepada Pus at, sehingga sebagaimana yang

(32)

diterangkan aleh Menteri tadi, sesungguhnya walaupun semuanya pusat talu ke daerah, kan daerah juga yang merasakan meroang pusat tidak ada, yang ada di Jakalia daerahnya pun Jakarta, apa yang diprayekkan oleh pusat semua memang ya terbagi ke daerah-daerah tapi secara politis ada yang alakasi untuk PAD, ada yang alokasi sumbangan dari Pemerintah pusat untuk Daerah yang statusnya tidak masuk dalam pendapatan asli daerah, sehingga dipertanyakan yang Tadijuga bel urn dislnggung Menteri, kampensasi-kompensasi terhadap kebljakan Pusat yang mengakibatkan PAD mereka turun, walaupunini bukan tempatnya karena amanahnyaini disampaikan dalam rangkuman. Karena amanahini disampaikan dalam farumini barangkali juga dari Fraksi lain bisa mendengarkan pendapat mereka, apa aspirasi daerahini, dan bagaimana tangapan fraksi lain terhadap aspirasiini, sebelum itu akan dilengkapi oleh ternan.

F -PP (H. SOELAIMAN BIYAHIMO) : Saudara Ketua.

Yth. Bapak Menteri.

Kemungkinan didalam RUUini tidak dipikirkan lagi tentang opsen, memang apsen ini pernah ada di Republikini dan banyak daerah-daerah yang membuat Perda tentang Opsen antara lain pada saat pajak kekayaan masih ada, banyak daerah yang membuat Perda ten tang Opsen tentang Pajak Kekayaan yang besarannya kalau tidak salah tertinggl 10% dan ada semacam apsen juga tapi Istilahnya ada penyediaan fasilitas, sehingga menjadi retribusi misalnya Retribusi tentang Tempat Lelang Kayu Hasil Hutan, itu juga semacam apsen di ilhami oleh apsenten itu.

Saya tidak tahu itu memang dari zaman Belanda, kalau kita sudah mcnuju kepada Legislasi Nasianal kemllngkinan apsenten itu tidak diberlakukan lagi barangkali memang kita bisa pahami, hanya sumber akar masalahnya memang setelah RUU P~ak dan Retribusi Daerahini kita sahkan dan latar

(33)

belakang an tara lain pembaharuan Undang-Undang Nomor 11 DRT 57, 12 DRT 57, karen a memang kita meJihat banyak daerah-daerah yang punya kreasl membuat Perda-Perda tentang Pajak dan Retribusi dan pungutan-pungutan yang teJah dijelaskan oleh Dirjen Pajak pada waktu kunjungan kedaerah-daerah antara lain di Surabaya bahwa ini untuk memangkas pajak-pajak dan retribusi yang tidak relevan. Memang kita bisa pahami oleh karena daerah keterbatasan PAD seperti tadi yang sudah dijelaskan. Kita memang dihadapkan kepada beJum adanya hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah, Sehingga pada saat ini yang bisa kita lihat daerah-daerah ditunjang oleh Inpres-Inpres dan lain sebagainya.

Oleh karena itu sepanjang opsent,en ini masih belum dilarang saya pikir diberikan kesempatan kepada daerah-daerah itu untuk bisa membuat Peraturan Daerah yang ikut kepada Peraturan Pajak Pusat yang operasionalnya juga didaerah dan itu cukup besar, misalnya pada waktu Pajak Kekayaan masih berlaku Jawa Timur bisa mendapatkan 10 % dari opsenten cukup besar dan retribusi tempat leJang kayu hasil hutan ini. Saya kira ini pikiran-pikiiran yang berkembang sehingga kalau opsenten tidak diberikan, ada amanat dari daerah seperti yang dipesankan Bapak H. Ali Hardi Kiaidemak tadi ada kompensasi pengurangan pungutan pajak dan retribusi daerah yang akan dipangkas oleh Undang-Undang ini, misalnya ada daerah-daerah yang mengandalkan pajak kendaraan bermotor diatas air dengan tonase tertentu daerah-daerah boleh memungut pajak kendaraan bermotor diatas air, itu berlaku untuk di Kalimantan, Sumatera dan sebagainya termasuk di Jawa Timur. Sekarang masalahnya setelah itu tidak dibolehkan lagi maka timbul kekurangan pajak daerah, ini yang menjadi pikiran dari daerah sehingga dengan diadakan RUU ini, apakah hal-hal yang begitu itu sarna sekali dilarang atau tidak.

Demikian Saudara Ketua. Wassalamu 'alaikum Wr. Wh.

(34)

KETUA RAPAT : Terima kasih.

Kalau tadi penjelasan Pemerintah sudah jelas, maka sekarang kami putar saja pada tanggapan Fraksi-Fraksi. Untuk itu kami persilakan dari F-KP.

F-KP (IR. NY. ARIE BAMBANG SIGIT PRAKOESWO) :

Kami bisa memahami apa yang disampaikan oleh F-PP, namun dengan penjelasan-penjelasan Bapak Menteri Keuangan yang panjang lebar dan Bapak Menteri Keuangan juga ikut bertanggungjawab atas pendapatan-pendapatan daerah. Saya bisa memahami penjelasan dari Bapak Menteri Keuangan, jadi tetap pada DIM, kemudian hal-hal seperti itu nanti mungkin bisa disampaikan pada Undang lain, misalnya Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah yang namanya dulu Undang-Undang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang sudah tidak memadai lagi, tapi tidak dibicarakan pada saat ini karena kurang tepat waktunya untuk membicarakan, walaupun kita bisa memahami seluruhnya. Sekian. Terima kasih.

KETUARAPAT:

Terima kasih dari F-KP. Selanjutnya dari F-ABRI. F-ABRI (DRS. PAIMAN) :

Terima kasih Bapak Pimpinan Rapat.

Menanggapi apa yang disampaikan oleh pengusul, tadinya memang F-ABRI membuka apa yang dimaksud sebenamya pengertian daripada opsen, setelah kami lihat di Kamus Purwadar minta dimana dinyatakan

(35)

bahwa opsen adalah tambahan pajak menurut prosentase tertentu biasanya untuk kepentingan Kas Pemerintah Daerah.

Kemudian setelah hal tersebut kami melihat dan mendapatkan penjelasan dari Bapak Menteri, kiranya hal tersebut akan diatur oleh Undang-Undang yang lebih lanjut,jadi tidak perlu dimasukkan dalam Undang-Undang ini, maka kiranya kepada pengusul mungkin untuk dapat dipertimbangkan lagi dan F-ABRI berpendapat akhirnya kita kembali kepada RUU. Terima kasih dan mungkin ada tambahan dari rekan kami Bapak R.M. Purba.

F-ABRI (R.M. PURBA) : Tambahan Bapak Ketua.

Pertama-tama kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada F-PP, karena idenya adalah agar Pemerintah Daerah itu jangan sampai kekurangan dalam penerimaan pajak maupun retribusinya yang akan menyulitkan program pembangunan daerah itu sendiri, F-ABRI dalam mempelajari RUU ini dan juga dalam mengumpulkan masukkan-masukkan dari daerah-daerah sangat memperhatikan masalah tersebut. Jadi dalam hal ini F-ABRI dan F-PP dan kami yakin semua fraksi maupun Pemerintah berpikiran yang sarna.

Tadi ada satu hal yang telah disampaikan oleh F-PP yaitu mungkin perlu adanya semacam imbalan, kalau dengan berlakunya Undang-Undangini nanti penerimaan asH daerah menjadi berkurang, inipun juga suatu hal yang diperhatikan oleh F-ABRI. tapi kalau kita Hhat RUUini sebenarnya kekhawatiran seperti itu sudah dipikirkan dan sudah diatasi didalam RUUini sendiri, untuk itu barangkaJi kalau kita pelajari Bab X Ketentuan Peralihan Pasal 43 dan Penjelasannya, maka disitu jelas bahwa dalam ketentuan peralihan ini ditetapkan bahwa pajak daerah maupun retribusi daerah itu ada pemberlakuannya tidak sesegera begitu RUU ini

(36)

disahkan menjadi Un dang-Un dang, misalnya di Pasa143 ayat (1) Peraturan Daerah yang telah ada dan seterusnya itu masih tetap berlaku sebelum diberlakukannya Peraturan Daerah yang barn sesuai dengan Undang-Undangini, di ayat (2) juga Demikian ada Peraturan daerah tentang pajak maupun retribusi yang masih berlaku 3 tahun. Jadi sebenarnya proses ini tidak sekaligus berlaku sepenuhnya begitu RUU ini disahkan, jadi ada tenggang waktu bagi Pemerintah Daerah untuk menyesuaikan pelaksanaan pernbahan pajak daerah maupun retribusi yang selama ini berlaku.

Kalau kita baca lagi penjelasan Pasal 43 pun jelas sekali dikatakan bahwa untuk menghindari kevakuman Peneriimaan Pemerintah Daerah, maka berlakunya Undang-Undang inn diatur secara tidak sekaligus. Jadi dengan demikian apa yang dikhawatirkan ole:h F-PP yang tadinya juga kekhawatiran dari F-ABRI ternyata RUUini sendiri sudah mengatisipasinya. Demikian. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih Bapak R.M. Purba. Selanjutnya kami persilakan dari F-PDI. F'-P][)I (SOENARJO) :

Saudara Ketua.

Pertama-tama kami sampaikan apa yang diuraikan daripada F-PP memang juga merupakan suatu keinginan dan keresahan dari daerah-daerah dengan kemungkinan-kemungkinan, bahwa pajak-pajak yang cukup bilangannya itu berpuluh, bahkan sampai ada yang diatas dua puluh, dengan Pasal 2 ayat (2) dimana Pajak Daerah Tingkat II misalnya saja ini hanya menjadi enam, namun kualitas enam ini sebenarnya akan lebih memadai daripadajumlah yang banyak sekali ada pajak radio, pajak sepeda, pajak anjing, pajak bangsa asing dan macam-macam pajak, tapi dilihat walaupun enam rupa-rupanya akan memadai, karena yang semula tidak

(37)

dikerjakan/ditarik oleh TIngkat II sekarang ditarik oleh Tingkat II misalnya saja tentang Pajak Bahan Pengolahan Galian Golongan C misanya, ini dulu tidak di Tingkat II tapi sekarang di Tingkat II, tentang Atas Pengamhilan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dulu tidak di Tingkat II sekarang di Tingkat IIini contoh soal, apalagi dengan akan ditambahnya tentans; Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.

Jadi secara jumlah saya kira-kira akan lebih memadai, ini hanya kekhawatiran ini yang pertama. Sehingga kekhawatiran untuk di Tingkat II yang masih memungkinkan dengan adanya satu aturan-aturan yang lain nanti memungkinkan bahwa daerah itu masih bisa meng-clear lagi ten tang adanya pajak-pajak kemungkinan yang hisa ada di daerah sebagaimana spesifik daerah itu sendiri, misalnya saja tentang sarang burung walet, sarang burung dan lain sebagainya. lni kemungkinan-kemungkinan yang spesifik daerah yang masih, kalau itu masih dimungkinkan karena ini belum ada penjelasan dari Bapak Menteri boleh atau tidak misalnya pajak tentang petani garam dilain daerah ada yang buat ada yang tidak, ini mungkinjuga akan dapat penjelasan-penjelasan lehih lanjut nantinya.

Kemudian yang kedua, bahwa opsen atas pajakini mestinya harus menunjuk pajiak apa, apa yang akan ditunjuk, karena ini tidak jelas menunjuk pajak mana, misalnya pajak suatu negara teltentu saja tapi bisa dibaca negara tertentu bisa repot lagi, padahal maksudnya pajak negara tertentu, tertentunya juga negara sendiri tapi kalau bisa pajak negara tertentu itu lain lagi permasalahannya.

Kemudian yang ketiga, karena tadi yang menyangkut yang kedua permasalahan pajak apa yang dikenakan opsen ini dan kalau ada apsen ini lalu kemudian tambah-tambah lagi, lalu kemudian penyederhanaan itu nanti menjadi tidak sederhana Jagi dan satu, dua, tiga itulah yang tad; juga dijelaskan aleh Bapak Menteri, untuk yang macam-macam itu saya kira

(38)

juga hanya Istilahnya saja lain tapi padahal disana sudah dibagi, opsen itukan pembagian.

Dari tiga hal itu, ditambah penjelasan dari Bapak Menteri, oleh karena itu mohon dengan penuh kerendahan hati memohon kepada F-PP untuk mencabut usul itu. Sekian, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih dari rekan F-PDI.

Saya rasa kalau tanggapan dari Pemerintah sudah cukup jelas, maka kami kembalikan pada F-PP.

F-PP (D. ALI HARDI KIAIDEMAK, SH) : Terima kasih.

Saya kira secara panjang Ilebar tadi kami telah menyampaikan latar belakang daripada usul ini dan memang kalau dirangkaikan dengan DIM 80 memang maksudnya pajak yang seperti ditanyakan oleh F-PDI, opsen pajak tertentu nanti diatur dengan Peraturan Daerah tapi kita tidak membicarakan masalah itu, tapi masalah yang menjadi pokok dikaitkanjuga dengan gencarnya program Pemerintah sekarang ini untuk mewujudkan pesan Undang-Undang Dasar maupun Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 bahwa bagaimana sehingga titik berat otonomi pada Datini itu bisa terealisir di Indonesia sekarang sudah dimulai dengan percontohan, sehingga tidak ada lagi satu bah as a dari Pusat ini yang menyatakan bahwa daerah hanya tergantung kepada Pusat saja.

Sehingga sebagaimana yang lalu juga dan sebagaimana kita maklumi bersama bagaimana daerah menjadi gelisah karena ada suara dari Pemerintah Pusat akan menciutkan Daerah Tingkat II yang akan mampu menghidupi

(39)

daerahnya, padahal sesungguhnya pendapatan asli daerah itu tergantung daripada slejauhmna porsi-porsi kewenangan urusan itu diserahkan kepada daerah yang bersangkutan jadi tidak semata-rnata ditentukan oleh daerah itu sendiri. Oleh karena ini amanah, maka kami tidak berani mengatakan mencabutnya karena namanya ini amanah terserah kepada permusyawaratan, yang penting sudah menyampaikannya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Dengan demikian amanah sudah disampaikan dalam persidangan dan telah menjadi catatan, baik dari Pemerintah maupun fraksi-fraksi dan tadi ada yang menyatakan barangkali nanti didalam perimbangan apakah istilahnya kedudukan, hubungan yang belum tentu nanti barangkali disana lebih tepat akan dibahas secara mendalam.

Maka oleh sebab itu kami kembali menanyakan apakah butir 62 ini tetap sebagaimana RUU, 62 tetap tanpa tambahan butir sebagairnana diusulkan didalam angka 63, karena ini merupakan amanat dan sarna-sarna telah kita d,engar, lebih-Iebih dari F-ABRI dapat rnernahaminya tetapi pembicaraannya nanti rnlLlngkin pada RUU yang lalnnya. Dernikian.

Apakah dapat kita setujui ? . F-ABRI setuju ?

F-KP setuju ? F-PDI setuju ?

Dengan sendirinya F-PP setuju dengan telah rnenyarnpaikan arnanah, saya rasa arnanah itu sarna-sama kita terima semuanya. Demikian terima kasih.

(40)

(RAPAT : SETUJU)

Jadi bukan dicabut artinya dalam permasalahan ini tapi dimusyawarahkan dan amanah ini telah dipahami oleh Pansus. Selanjutnya kita beralih kepada butir 42, jadi disini menjadi ayat (2) yaitu Pajak Daerah Tingkat II terdiri dari sebetulnya ini tetap semuanya, tapi F-PP menyatakan setelah angka dua ini ditambah katajenis, saya rasa dahulu sudah ada hal ini Panja, Timus. Demikian Saudara-saudara.

(RAPAT: SETUJU)

Sekarang butir 65 Pajak Hotel dan Restoran, F-KP mengusulkan supaya ada penjelasan pasal dan penjelasan pasalini telah disarankan, kernudian dari F-ABRI setelah kata hotel, kata "dan" dihapus dliganti tanda baca "koma" selanjutnya, seterusnya, redaksional, F-PP tetap., F-PDI tetap.

Menurut kami, disini karena dari F-KP hanya mengusulkan penjelasan dan penjelasan tentu tidak dibahas disini, kami menyarankan ini kita bawa ke Panja,jadi bukan Panja Timus, ke Panja karena nanti akan membahas penjelasannya. Bagairnana Pemerintah ?

PEMERINTAH : Setuju.

KETUA RAPAT : Rekan-rekan Fraksi ?

(RAPAT : SETUJU)

Nomor 66 Pajak Hiburan, juga saya rasa hal ini sarna kita serahkan ke Panja.

(41)

(RAPAT: SETUJU)

Nomor 67 Pajak Reklame, juga tiga Fraksi tetap, usul F-KP hanya ada penjelasan, kami rasa ini juga nanti di Panja.

(RAPAT : SETUJU)

Kemudian Pajak Penerangan Jalan Nomor 68 butir d, usul perubahan bagaimana dengan pihak swasta yang menghasilkan listrik untuk keperluan sendiri ? ini pertanyaan. Kemudian F-ABRI tetap, F-PP tetap, F-PDI Pajak Penerangan Jalan dibelakangjalan ditambah istilah "perkotaan".

Kalau melihat hal ini sebetulnya nanti ke Panja, tapi barangkali sedikitjawaban F-KP ini pertanyaan ?, sebab disini usul perubahan, tetapi dibawahnya pertanyaan, jadi pertanyaan bagaimana dengan pihak swasta yang menghasilkan tenaga listrik untuk keperluan sendiri ?, ini yang barangkali perlu sedikit dijawab Bapak Menteri.

PEMERINTAH:

Ketua, terus terang saJa mengenai hal ini memang ada, masih beberapa macam, kami hams jujur mengatakan, bahwa kami harus baik-baik bicara lebih lanjut dengan pihak PLN, dengan adanya swastanisasi PLN, karena itu telah berkali-kali dibicarakan hal ini dengan pihak-pihak terkait, pihak terkait ini sekarang sudah termasuk juga pihak swasta dan termasukjuga pihak asing, kami sudah beberapa kali membicarakan hal ini termasuk dengan Departemen Dalam Negeri, PLN. Dan PLN sekarangini sudah banyak terikat dengan pihak luar, ditambah lagi sekarang banyak perusahaan-perusahaan yang memakai tenaga sendiri (diesel sendiri).

Jadi hal-hal ini Saudara Ketua perlu menjadi bah an bagi kita bersama, karena hal-hal tehnis semacam ini akan diatur dalam RPP, namun kalau kami telah siap materinya ini yang sekarang masih berapa alternatif dan

(42)

kami belum menyampaikan ini nanti, kami usulkan Saudara Ketua pada waktll Panja nanti kami sudah akan sampaikan pokok-pokok konsep materi PP mengenai hal ini, sebab kalau sekarang ini diekspose, nanti akan timbul pro kontra, karen a adakalanya kita memuat setengah-setengah tidak sungguhan, karena itu materi-materi pokok RPP yang mengatur mengenai ini akan kami sampaikan dalam kesempatan Panja. Jadi dengan Demikian juga kita mengetahui bersama tentunya Panja inikan alat dall'ipada Pansus.

Terima kasih Saudara Ketua. KETUA RAPAT :

Terima kasih Bapak Menteri.

Karena disinijuga sekaligus ada tambahan dari F-PDI pada penerangan dalam perkotaan, saya rasa nanti dalam Panja sekaligus dibicarakan dan kami catat disini, dimana Pemerintah akan menjelaskan materi pokok daripada RPP-nya, jadi ini kita serahkan ke Panja.

(RAPAT: SETUJU) F-PP (H. ALI HARDI KIADEMAK, SH)i : Interupsi.

Tambahan Bapak Ketua. Tidak mengurangi yang sudah disetujui, barangkali nanti dapat digambarkan dalam penjelasan nanti, bahwa pajak penerangan jalan secara filosofis berkaitan dengan pelayanan Pemerintah terhadap masyarakat, akibat mereka sudah membayar pajak yang lain lalu dilayani dengan jalan itu lalu terang, sehingga dasar filosofis dijadikan pajakjalan lagi, barangkali perlu kita pahami bersama.

(43)

KETUARAPAT: Terirna kasih.

Barangkali sudah sarna-sarna didengar oleh Pernerintah dirnana dalarn penjelasan itu nanti agak rinci, sehingga kita dapat rnernaharni butir ini. Terirna kasih.

Jadi tidak rnerubah keputusan itu tetap ke Panja. Nornor 69 huruf e dari F-KP tetap, F-ABRI usul pengolahan ditarnbah kata "bahan" jadi ini redaksional, F-PP tetap, f.·POI tetap.

Saya rasa ini Tirnus, atau sudah dapat kita putus dalarn hal ini, curna F-ABRI lebih dulu karena ada disini setelah pengolahan ditarnbah kata "bahan" sehingga pajak pengambilan dan pengolahan bahan galian golongan c.

Untuk dapat kita putus. bagairnana. Karni persilakan F-ABRI. F-ABRI (DRS. PAlMAN) :

Terirna kasih Pirnpinan Rapat.

Didalarn DIM F-ABRI Nornor 69 disini tertulis setelah kata pengolahan ditambahkan kata "bahan", sehingga perubahannya menjadi pajak pengarnbilan dan pengolahan bah an gal ian golongan c.

Hal ini dirnaksudkan adalah seseuai dengan terminologi golongan bahan tarn bang sehingga perlu adanya kata-kata bahan. Terirna kasih.

KETUA RAPAT:

Kalau begitu kita coba rnenanyakan pada fraksi-fraksi. POI, ini tidak rnasalah, redaksional ini.

(44)

F-PDI (SOENARJO): Saudara Ketua.

Kali ini F-PDI mendukung pada F-ABRI walaupun kemarin F-ABRI tidak mendukung F-PDI. Kali ini F-PDI mendukung Sehingga perlu ditambah kata bahan. Terima kasih.

KETUA RAPAT: Dari F-KP?

F-KP (DRS. H. AWANG FAROEK ISHAK, MM):

Memang kalau kita perhatnkan usul dari F-ABRI ini memang sangat baik untuk kita terima karena di dalam UU Nomor 11 mengenai mengenai pertambangan juga demikian halnya. Sehingga dengan demikian kami setuju penambahan kata-kata bahan. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih dari F-KP kami lanjutkan dari F-PP. F-PP (H. ALI HARD I KIAI DEMAK, SH):

Disamping hal-hal yang normatif juga memang selama ini di dalam praktek selalu yang digunakan itu bahan-bahan galian C. Oleh karen a itu ini usulan yang positif dan baik, mengapa kita tidak setuju, maka kami setuju.

KETUA RAPAT: Terima kasih.

(45)

(RAPAT: SETUJU) Terima kasih.

Angka 70, f. Pajak atas pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan dari F-KP diusulkan agar dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) pada butir f dstnya. lni kalau dalam sudah mencapai permasalahan perlu kita bahas secara rinei di dalam Panja.

Dari F-ABRI, setelah kata atas kata pengambilan dan dihapus di dalam penjelasan pasaljuga Panja. F-PP diberikan penjelasan untuk huruff, khusus jadi sudah dicantumkan di sini dan F -POI tetap. Maka oleh sebab itu menurut pendapat kami hal ini akan kita rinei nanti di dalam Panja. Setuju, pak '1.

F-KP (DRS. H. AWANG FAROEK ISHAK, MM): Apa perlu diberikan latar belakang dari pada pengusul. KETUA RAPAT:

Tidak, saya rasa ini menyangkut penjelasan itu nanti di dalam Panja sebab kalau kita putar di sini memakan waktu dan nanti terulang lagi di dalam Panja. Jadi ini Panj21 penuh, hukan Panja Timus tetapi Panja penuh Pemerintah ? PEMERINTAH : Setuju, Pan~a. KETUA RAPAT: (RAPAT : SETUJU) Pasal 71 ayat (3).

(46)

Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan jenis Pajak lainnya selain ditetapkan dalam ayat (1) dan ayat (2) yang memenuhi kriteria sebagai berikut : F-KP penyempurnaan kalimat, dari F-ABRI tetap, F-PP usul perubahan ayat (3) dan seluruh isinya dihapus, F-PDI usul perubahan kata Peraturan Pemerintah diganti dengan undang-undang.

Baiklah dalam hal ini kalau F-KP karena ini hanya reclaksional kami tidak menanyakan lebih dulu. Kami persilakan kepada rekan F-PDI kali ini lebih dulu.

INTERUPSI F-KP (DRS. H. AWANG FAROEK ISHAK, MM): Pak Ketua. Tadi Pak Ketua mengatakan hanya redaksional tetapi kami menganggap ini substansi.

KETUA RAPAT :

Baik nanti kami berikan kesempatan, terima kasih. Silakan F-PDI. F-PDI (SOENARJO):

Saudara Ketua.

Walaupun semenjak kemarin Pak Menteri Keuangan telah memberikan satu gambaran-gambaran bahwa di dalam Peraturan Pemerintah kalau saya tidak salah ingat, bukan dalam rekaman ada nanti juga akan ada petunjuk. Namun sebagaimana yang telah ada, dan tadi juga kalimat dari pada Pak Menteri tadi pagi itu. Di UUD 1945 Pasal 23 ayat (2) bahwa segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-undang.

Oleh karena itu maka apabila ada jenis pajak yang lainnya, ini jangan dengan Peraturan Pemerintah oleh karen a itu dengan undang-undang. Sehingga F-PDI dalam DIM nomor 71, yaitu di dalam Pasal 2 ayat (3) ini, adalah mengusulkan bahwa dengan undang-undang dapat ditetapkan

(47)

jenis pajak lainnya selain yang ditetapkan pada ayat (1) dan ayat (2) yang memenuhi kriteria sebagal berikut :

Jadi apabi\a akan ada pungutan pajak terhadap masyarakat, terhadap rakyat maka ini diperlukan dengan undang-undang. Jangan sampai nanti akan ditentukan dengan Peraturan Pemerintah. Sebab kekhawatiran kalau akan ditentukan dengan Peraturan P,emerintah maka kira-kira jenis pajaknya lalu menjadi berkembang banyak sekali. Sedangkan ini akan ada penyederhanaan tapi menuju pada suatu kualitas dalam rangka pemungutan sehingga jenisnya tidak terlalu banyak dan tidak akan banyak membebani kepada masyarakat kepada rakyat, sehingga intinya Saudara Ketua, dari F-PDI adalah mengusulbn di dalam DIM nomor 71 ini adalah dengan undang-undang bukan deli1gan Peraturan Pemerintah sesuai dari pada amanat UUD 1945 pasal23 ayat (2), demikian Saudara Ketua. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih dari rekan PDI. Untuk hal itu kami teruskan dengan F-PP. Saya rasa kejelasan penghapusan dari pada ayat (3)ini. Kami persilakan dari F-PP.

F-PP (H. ALI HARDI KIAI DEMAK, SH): Terima kasih.

Kita berangkat dari pesan UUD 1945 bahwa setiap pengenaan beban kepada rakyat itu harus melalui undang-undang maka semula kita berpikir hanya menambah Peraturan Pemerintah setelah berkonsultasi dengan DPR-RI tapi Peraturan Pemerintah tidlak lazim dikonsultasikan dengan DPR-RJ. Oleh karena itu l:alau kami datang pada pikiran kedua untuk mengantinya dengan undang-undang lalu menjadi kelucuan sebab undang-undang ini bisa disempurnakan dikemudian hari kalau ada perkembangan dari pada pajak-pajak yang hendak di clear oleh kita sekalian. Dan barangkali masalah ini

(48)

yang berkaitan dengan mengapa judul RUU ini kami ingin rubah dengan ketentuan pokok kemarin itu. Dan barangkali sejalan dengan diskusi pada waktu kita lobby kemarin Saudara Menteri telah mengangkat bahwa kalau hanya persoalan tersebut yang berkaitan dengan adanya pajak-pajak yang baru, undang-undang ini bisa kita sempumakan lagi, bisa kita perbaiki lagi. Mudah-mudahan Menteri tidak lupa dengan kalimat yang disarnpaikan, maka menurut hemat F-PP tidak usah ada ayat ini, karena dimungkinkan undang-undang ini dirubah dengan penarnbahan pajak. Kami sarna dengan F-PDI bahwa tidak dilimpahkan kepada Peraturan Pemerintah atau yang selain undang-undang.

Terima kasih, pak. KETUA RAPAT:

Terima kasih rekan dari F-PP.

Kami persilakan dari F-KP dan sekaligus barangkali diminta menanggapi dari dua rekan kita yang mempunyai saran yang hampir sarna.

Kami persilakan.

F-KP (DRS. H. AWANG FAROEK ISHAK, MM): Terima kasih, Pak Ketua.

Bapak Menteri, Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian yang Kami hormati.

F-KP ingin mengusulkan perubahan untuk menyempumakan kalimat yang ada dengan menambah substansi yang barn. Jadi secara lengkap penyempumaan ini kami harapkan adalah setelah kata ditetapkan diganti dengan selain jenis-jenis pajak yang ditetapkan dalarn ayat (1) dan ayat

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penegasan istilah, yang dimaksud dengan Kelayakan Keanekaragaman Hayati dari Minyak Kelapa dan Madu Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Masker Gel untuk

Bandar udara pengumpul dengan skala pelayanan sekunder yaitu bandar udara sebagai salah satu prasarana penunjang pelayanan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang melayani penumpang

Uji kompaksi statik disini adalah suatu pengujian dengan menggunakan mold yang sama dengan mold yang digunakan pada uji Standard atau Modified Proctor, dimana

kebijakan Direksi dalam melaksanakan pengurusan bank serta memberikan nasehat kepada Direksi.  Dewan Komisaris telah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) model TAI memberikan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan model Problem Solving berbantuan tutor

• Tujuan Utama dari membangun tim proyek adalah agar tiap orang yang berada dalam tim dapat bekerja sama dengan efektif demi meningkatkan kinerja proyek • Training. • Team

Persamaan penelitian ini dengan penelitian Negara (2011) yang berjudul “Karakteristik Diksi dalam Rubrik “Email dari Amerika” Surat Kabar Harian Surya Edisi Tahun 2009”

Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini akan membahas bagaimana memperoleh premi tahunan untuk asuransi berjangka -tahun dengan tingkat suku bunga diubah menjadi