• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... ABSTRACT... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN Latar Belakang Identifikasi Masalah...

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... ABSTRACT... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN Latar Belakang Identifikasi Masalah..."

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

ix DAFTAR ISI Bab Halaman KATA PENGANTAR... v ABSTRAK ... vii ABSTRACT... viii DAFTAR ISI ... ix DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Identifikasi Masalah ... 2 1.3. Tujuan Penelitian ... 3 1.4. Kegunaan Penelitian ... 3 1.5. Kerangka Pemikiran ... 3

1.6. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 6

II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1. Deskripsi Itik... 7

2.2. Sistem Pemeliharaan ... 9

2.3. Pertumbuhan Bagian Tubuh... 10

2.3.1. Karkas... 11

2.3.2. Giblet... 11

2.4. Bagian Yang Tidak Bisa Dikonsumsi... . 12

(2)

x

2.4.2. Bulu... .. 13

2.4.3. Kepala... .. 13

2.4.4. Lemak Abdominal... .. 14

2.4.5. Kaki... 14

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1. Bahan dan Objek Penelitian ... 15

3.1.1. Ternak Percobaan ... 15

3.1.2. Kandang Percobaan ... 15

3.1.3. Peralatan Yang Digunakan ... 16

3.1.4. Ransum Yang Digunakan... 16

3.2. Proses Penelitian... 17

3.2.1. Prosedur Penelitian... 17

3.2.2. Tahap Pemeliharaan ... 17

3.2.3. Tahap Pemotongan ... 18

3.2.4. Pengukuran Bagian Edible ... 19

3.2.5. Pengukuran Bagian Inedible ... 19

3.3. Metode Penelitian... .. 19

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Manajemen Pemeliharaan ... 21

4.2. Bobot Potong Itik Rambon dan Cihateup ... 22

4.3. Proporsi Bagian Edible………... 24

4.4. Proporsi Bagian Inedible……….. ... 25

V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 29 5.2. Saran ... 29 RINGKASAN... 30 DAFTAR PUSTAKA ... 31 LAMPIRAN ... 36 BIODATA………... 42

(3)

xi

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Susunan Ransum Penelitian Itik Rambon dan Cihateup

Generasi Ketiga Umur 1 Hari Sampai 10 Minggu ... 16

2. Persentase Kandungan Zat Penyusun Ransum Penelitian Itik Rambon dan Cihateup Generasi Ke Tiga Umur 1 Hari Sampai 10 Minggu ... 17

3. Bobot Potong Itik Rambon dan Cihateup Umur 10 Minggu……… 22

4. Proporsi Bagian Edible Itik Rambon.……… ... 23

5. Proporsi Bagian Edible Itik Cihateup……….. ... 23

6. Proporsi Bagian Indible Itik Rambon.………... ... 25

(4)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1 Perhitungan Edible Itik Rambon...38

2 Perhitungan Edible Itik Cihateup ...39

3 Perhitungan Inedible Itik Rambon ...40

4 Perhitungan Inedible Itik Cihateup ...41

(5)

I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Itik Rambon (Ras milik Cirebon) merupakan salah satu komoditas ternak unggas lokal Indonesia dan berasal dari Provinsi Jawa Barat. Itik Rambon diketahui merupakan itik lokal jenis petelur hasil persilangan dari Itik Tegal dengan Itik Magelang (Mentri Pertanian, 2013). Itik Rambon Jantan dapat dimanfaatkan sebagai ternak potong sedangkan Itik Rambon betina sebagai penghasil telur karena produksinya cukup tinggi yaitu 220 - 260 butir per ekor per tahun. Itik Cihateup merupakan itik yang berasal dari itik mallard yang berimigrasi ke Indonesia dan beradaptasi dengan lingkungan kemudian diseleksi oleh masyarakat, sehingga muncul sifat khas. Itik Cihateup betina dapat memproduksi telur sebanyak 180-200 butir telur/tahun (Mentri Pertanian, 2014).

Pesatnya perkembangan jumlah penduduk telah berdampak pada tingginya angka konversi lahan yang mengakibatkan penyempitan lahan pertanian sebagai tempat penggembalaan itik. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sebagian peternak itik merubah sistem manajemen pemeliharaannya dari ekstensif menjadi intensif. Pemeliharaan itik secara intensif yaitu pemeliharaan pada kondisi minim air berkaitan dengan efisiensi penggunaan air karena ketersediaannya hanya untuk minum itik saja, tidak disediakan kolam untuk itik berenang. Pemeliharaan pada kondisi minim air ini masih relatif jarang dilakukan oleh peternak, karena sebagian besar masih menggembalakan itiknya di lahan-lahan persawahan yang masih tersisa. Itik Rambon merupakan salah satu jenis itik yang relatif lebih mudah beradaptasi dengan kondisi pemeliharaan

(6)

minim air. Pada pemeliharaan dengan kondisi minim air, performa reproduksi itik Rambon masih tetap baik.

Secara umum pertumbuhan hampir semua jenis itik dibagi menjadi tiga periode yaitu periode starter, grower, dan, layer. Peningkatan bobot badan yang terus berlangsung naik terjadi pada umur 1 - 8 minggu kemudian melambat dan berhenti. Selama fase pertumbuhan Itik Rambon pada umumnya membutuhkan pakan yang relatif banyak dan berkualitas agar ternak dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna.

Secara komersial, bagian tubuh unggas terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian edible dan inedible. Bagian edible atau part of edible yaitu bagian tubuh unggas yang dapat dikonsumsi oleh manusia, sedangkan bagian inedible adalah bagian tubuh yang tidak dapat dikonsumsi. Bagian tubuh itik yang bisa dikonsumsi atau edible meliputi karkas, giblet (jantung, hati, dan ampela) dan leher, sedangkan bagian yang tidak dapat dikonsumsi atau inedible terdiri atas darah, bulu, kepala, kaki, lemak abdominal, dan jeroan tanpa giblet. Proporsi bagian edible dan inedible sangat penting untuk diketahui, karena berkaitan dengan bobot badan akhir yang dihasilkan oleh unggas.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk meneliti “Proporsi Bagian Edible dan Inedible Itik Rambon dan Itik Cihateup Generasi ke-3 Umur 10 minggu yang Dipelihara Pada Kondisi Minim Air”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan, maka dapat diidentifikasikan masalah, yaitu berapa besar proporsi bagian edible dan inedible

(7)

3 Itik Rambon dan Itik Cihateup generasi ke-3 umur 10 minggu yang dipelihara pada kondisi minim air.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proporsi bagian edible dan inedible Itik Rambon dan Itik Cihateup generasi ketiga umur 10 minggu yang dipelihara pada kondisi minim air.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai informasi dasar dan pengetahuan tentang proporsi bagian edible dan inedible itik yang dipelihara pada kondisi minim air.

1.5 Kerangka Pemikiran

Itik merupakan salah satu ternak yang sudah cukup lama dibudidayakan di Indonesia. Itik yang banyak dibudidayakan di Indonesia pada umumnya yaitu jenis petelur dan pedaging. Itik merupakan jenis unggas air yang memiliki keunggulan daya tahan tubuhnya lebih baik dibandingkan dengan jenis unggas lainnya (Mustawa dkk., 2016). Itik lokal pada umumnya memiliki nama yang disesuaikan dengan asal itik tersebut. Masing-masing itik memiliki sifat yang khas, baik dalam anatomi, morfologi maupun produksi telur dan dagingnya (Dewi dkk., 2016). Itik Rambon (Ras milik Cirebon) merupakan salah satu komoditas ternak unggas lokal Indonesia yang banyak dibudidayakan disekitar daerah Kabupaten Cirebon (Kementrian Pertanian, 2013). Itik Cihateup merupakan itik yang berasal dari Desa Cihateup, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Daerah asal itik Cihateup berada pada ketinggian 378 m di

(8)

atas permukaan laut (mdpl) yang merupakan dataran tinggi(Wulandari dkk., 2005). Karakteristik pada jantan itik Cihateup ialah bagian leher, dada, sepanjang tulang punggung, tubuh bagian samping dan ekor berwarna coklat tua (Kementrian Pertanian, 2014). Pada umumnya, itik dipelihara oleh petani masih secara tradisional yaitu dilakukan secara ekstensif. Semakin sempitnya areal penggembalaan dan banyaknya kasus kematian itik akibat keracunan pestisida, pemeliharaan secara tradisional dapat mengancam kelestariannya (windhyarti, 2012). Dampak dari pemeliharaan ini (ekstensif) adalah pertumbuhan itk lambat dan kualitas daging yang dihasilkan rendah (Matitaputty, 2011). Perkembangan usaha ternak itik yang relatif cepat saat ini mengarah pada pergeseran dari sistem pemeliharaan tradisional kepada sistem intensif (Prasetyo, 2006). Pada pemeliharaan intensif, itik dikandangkan sepanjang waktu dan pakan selalu disediakan oleh peternak (Budiraharjo, 2009). Sistem ini memudahkan dalam pemberian pakan, pemberian obat, pengumpulan telur dan memudahkan mengatur ketersediaan air (Mustawa, dkk., 2016). Penerapan sistem pemeliharaan Itik Rambon secara intensif meningkatkan konsumsi pakan itik (Mahfudz, 2004).

Pertumbuhan itik yang paling cepat dimulai sejak itik berumur 0 - 3 minggu (Srigandono, 1998). Pada umur pertumbuhan 1 minggu pertambahan bobot badan itik relatif kecil dan pada umur 2 minggu akselerasi pertumbuhan itik meningkat (Setioko, 2004). Itik jantan dan betina umur 1 hari sampai umur 6 minggu tingkat pertumbuhannya hampir sama, namun memasuki umur 7 dan 8 minggu bobot badan itik jantan lebih besar dari betina (Rukmiasih, 2015). Tingkat pertumbuhan itik pada umur 8 sampai 10 minggu mulai menurun (Brahmantiyo, 2002). Tingkat energi dan protein ransum berpengaruh terhadap performa itik Rambon jantan fase pertumbuhan (Alyandari, dkk., 2015).

(9)

5 Menurut Standart Nasional Indonesia (SNI) (1995) karkas dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian edible (bisa dikonsumsi) dan bagian in edible (tidak bisa dikonsumsi). Adapun bagian-bagian edible sendiri terdiri dari karkas, giblet, dan leher, sedangkan bagian in edible terdiri dari darah, jeroan selain giblet, kaki, kepala, bulu, dan lemak abdominal.

Edible dan Inedible merupakan istilah yang ada setelah terjadi pemotongan pada ternak. Meningkatnya konsumsi ransum yang diikuti dengan meningkatnya konsumsi protein akan berpengaruh terhadap meningkatnya presentase karkas (edible dan inedible), dan lemak tubuh (Saputra, dkk., 2014). Bagian-bagian karkas itik yang cukup penting menjadi perhatian bagi setiap konsumen adalah proporsi bagian dada, paha, punggung dan sayap (Purba dan Prasetyo, 2014). Bagian tubuh itik yang termasuk dalam edible adalah karkas, giblet (gizzard, jantung dan hati) dan leher (Simanullang, dkk., 2015). Karkas merupakan organ tubuh yang masak lambat, sehingga dengan bertambahnya umur, pertumbuhannya semakin bertambah dan persentase terhadap bobot potong juga meningkat (Daud, dkk, 2016).

Usia pertumbuhan berkaitan dengan pertambahan bobot komponen edible dan inedible (Murawska, 2016). Pertumbuhan pada unggas diartikan sebagai pertambahan bobot badan pada unggas seperti pada jaringan otot, tulang serta organ lain yang dicerminkan oleh pertambahan berat badan sebagai totalitas pertumbuhan (Simanullang, dkk., 2015). Kemampuan pertumbuhan pada unggas ditentukan oleh gen - gen penentu bobot badan, jenis kelamin, dan umur (Matitaputty, 2011). Faktor lingkungan seperti kepadatan kandang juga ikut mempengaruhi pertambahan bobot badan itik, kepadatan kandang yang optimal dapat meningkatkan pertambahan bobot badan yang optimal pula pada itik (Ali,

(10)

dkk., 2009). Bobot potong dipengaruhi oleh pertambahan bobot badan dan konsumsi ransum sehingga selaras dengan bobot persentase karkas (Mahfudz, 2009).

1.6 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Local Duck Breeding and Production Station Laboratorium Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2017 hingga Agustus 2017..

(11)

7 II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Deskripsi Itik

Itik merupakan salah satu jenis unggas yang sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Selain sebagai alat pemenuh kebutuhan konsumsi namun juga berpotensi untuk menghasilkan keuntungan ekonomis karena mampu menghasilkan daging maupun telur. Seiring dengan perkembangan zaman, itik liar tersebut kemudian dijinakkan oleh manusia dan dipelihara untuk dimanfaatkan lebih lanjut hingga sekarang.

Menurut Srigandono (1998) klasifikasi dari ternak itik adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Sub.Kingdom : Metazoa Phylum : Chordata Sub.Phylum : Vertebrata Class : Aves Ordo : Anseriformes Family : Anatinae Sub. Family : Anatinae Genus : Anas

(12)

Bangsa-bangsa itik lokal yang ada umumnya diberi nama berdasarkan tempat asalnya. Itik Cihateup berasal dari Desa Cihateup, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, hidup dan beradaptasi pada daerah ketinggian 378 mdpl yang merupakan dataran tinggi. Daya adaptasi itik Cihateup dengan lingkungan dingin yang baik, membuat itik tersebut sesuai dipelihara untuk daerah dingin atau pegunungan (Wulandari dkk., 2005). Ciri khas itik Cihateup dari itik lainnya adalah ukuran panjang leher, sayap, femur, dan tibia yang lebih panjang. Perbedaan ukuran tubuh tersebut diduga karena adanya pengaruh lingkungan pemeliharaan di kawasan pegunungan (Matitaputty dkk, 2014).Itik Cihateup mempunyai kelebihan dalam hal persentase karkas yaitu bagian-bagian yang berdaging tebal (dada dan paha) masing-masing sebesar 31,42% dan 28,15%, namun dari segi penampilan dan aroma, daging itik Cihateup mempunyai kelemahan yaitu warna daging lebih merah gelap dan bau amis yang tajam (Randa, 2007).

Itik Rambon (Ras milik Cirebon) merupakan salah satu komoditas ternak unggas lokal Indonesia dan berasal dari Provinsi Jawa Barat. Itik Rambon diketahui merupakan itik lokal jenis petelur hasil persilangan dari Itik Tegal dengan Itik Magelang. Itik ini telah banyak berkembang di Kabupaten Cirebon, Indramayu dan Majalengka. Itik Rambon memiliki karakteristik bulu cokelat tua dibagian kepala, sepanjang tulang belakang dan ekor. Itik Rambon jantan dapat dimanfaatkan sebagai ternak potong karena memiliki bobot badan 1,6-1,7kg sedangkan Itik Rambon betina sebagai penghasil telur karena produksinya cukup tinggi yaitu 220-260 butir per ekor per tahun dengan bobot telur mencapai 55-65g (Mentri Pertanian, 2013). Itik Rambon menjadi jenis itik paling populer di

(13)

9 wilayah Kabupaten Cirebon karena telah mengalami proses adaptasi dan aklimatisasi cukup lama.

2.2 Sistem Pemeliharaan

Seiring dengan pesatnya perkembangan jumlah penduduk di Indonesia tiap tahunnya yang berdampak pada angka konverensi lahan yang mengakibatkan penyempitan ruang lahan pertanian yang berdampak pula pada peternak itik tradisional yang masih menggembalakan itiknya di sekitar area sawah - sawah maupun empang. Pemeliharaan itik lokal sebagai itik potong masih dilakukan dalam jumlah relatif sedikit dan masih ekstensif dan dampak yang diberikan adalah pertumbuhan itik lambat dan kualitas daging yang dihasilkan rendah (Matitaputty, 2011). Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sebagian peternak itik merubah sistem manajemen mereka yang awalnya ekstensif menjadi intensif (dikandangkan). Angka kematian pada ternak itik dengan menggunakan sistem intensif lebih rendah dibandingkan dengan sistem ekstensif (Juarini, dkk, 2006). Dengan menggunakan sistem intensif peternak dapat memperhatikan kesehatan dan kebutuhan pakan ternak lebih baik dibandingkan dengan ekstensif. Konsumsi pakan itik yang dipelihara dengan menggunakan sistem kandang intensif lebih tinggi dibandingkan dengan ekstensif (Mahfuds, 2004).

Ransum ternak merupakan kumpulan bahan makanan yang layak dimakan oleh ternak dan faktor penting untuk meningkatkan laju pertumbuhan dan produksi pada ternak. Bahan pakan yang umum digunakan dalam ransum unggas adalah jagung, dedak, tepung ikan, bungkil kedelai, minyak sayur, bungkil kelapa,

(14)

tepung kapur, batuan fosfat, asam amino sintetis dan campuran vitamin-mineral (Sinurat, 2004).

Tingkat konsumsi protein sangat ditentukan oleh tingkat konsumsi ransum. Tingkat energi dan protein yang tepat akan menghasilkan produktivitas dan performa yang maksimal (Alyandri, 2015). Optimalisasi biaya dan efisiensi penggunaan ransum merupakan salah satu tujuan usaha ternak. Efesiensi penggunaan ransum ialah kemampuan ternak dalam mengkonsumsi ransum dalam satuan waktu terntentu yang menghasilkan bobot badan seekor ternak dalam waktu yang sama (Yamin, 2008).

2.3 Pertumbuhan dan Bagian Tubuh

Pertumbuhan adalah proses dimana perubahan bentuk dari tubuh yang meliputi ukuran, volume, bobot. Keberhasilan dalam usaha ternak juga ditentukan oleh pertumbuhan ternak itu sendiri terutama pada fase starter (Susanti, 2007). Pertumbuhan pada unggas diartikan sebagai pertambahan bobot badan pada unggas seperti pada jaringan otot, tulang serta organ lain yang dicerminkan oleh pertambahan berat badan (Simanullang, 2015). Pertumbuhan merupakan interaksi antara faktor genetik dan lingkungan yang dipengaruhi oleh spesies, jenis kelamin, kualitass dan kuantitas pakan (Abbas, 2009). Kemampuan pertumbuhan pada unggas ditentukan oleh gen-gen penentu bobot badan, jenis kelamin, dan umur (Matitaputty, 2011).

Pertumbuhan itik yang paling cepat dimulai sejak umur itik berumur 0 - 3 minggu (Srigandono, 1998). Pada umur pertumbuhan 1 minggu pertambahan bobot badan itik relatif kecil dan pada umur 2 minggu akselerasi pertumbuhan itik meningkat (Setioko, 2004). Tingkat penggunaan energi dan protein ransum berpengaruh terhadap performa itik jantan fase pertumbuhan (Alyandri, 2015).

(15)

11 Istilah bagian tubuh ternak yang dapat dikonsumsi disebut juga dengan part of edible. Bagian edible menurut Standart Nasional Indonesia (SNI) (1995) terdiri dari karkas dan giblet. Sedangkan menurut Biyatmoko (2011) bagian edible terdiri dari bobot karkas yaitu bobot tubuh tanpa darah, bulu, leher, kaki, kepala, dan seluruh isi rongga perut kecuali giblet. Untuk giblet sendiri meliputi dari jantung, hati, dan ampela (gizzard) dan leher.

2.3.1 Karkas

Karkas merupakan bentuk komoditi yang paling banyak dan umum diperdagangkan. Karkas adalah bagian tubuh ternak setelah dilakukan penyembelihan secara halal sesuai CAC/GL 24-1997, pencabutan bulu dan pengeluaran jeroan, tanpa kepala, leher, kaki, paru-paru, dan atau ginjal, dapat berupa karkas segar, karkas segar dingin, atau karkas beku (Standar Nasional Indonesia, 2009). Perbandingan bobot karkas terhadap bobot hidup atau dinyatakan sebagai persentase karkas sering digunakan sebagai ukuran produksi.

Meningkatnya produksi karkas berhubungan dengan bobot badan karena peningkatan bobot badan diikuti oleh peningkatan bobot karkas (Jull, 1979). Karkas merupakan faktor penting pada penilaian produksi dari hewan pedaging. Proporsi bagian yang dapat dimakan (edible) pada unggas jantan lebih besar dibandingkan dengan unggas betina, karena persentase bagian yang dapat dimakan akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan bobot badan (Brake et al, 1993). Peningkatan persentase bobot karkas itik meningkat pada itik berumur 5 minggu sampai umur itik 10 minggu (Iskandar, 2000). Ternak itik yang dipelihara secara ekstensif memiliki karaksteristik persentase bobot karkas yang lebih rendah (Triyantini, 1997).

(16)

2.3.2 Giblet

Giblet merupakan hasil ikutan dari karkas berupa organ-organ yang dapat dikonsumsi (Part of Edible) yang terdiri dari jantung, hati, dan gizzard. Giblet tergolong dalam kategori edible karena pada umumnya di Indonesia dikonsumsi oleh masyarakat (Simanullang, dkk., 2015).

Pertumbuhan giblet itik secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah asupan nutrisi yang tersedia dalam pakan, serta seiring juga dengan pertumbuhan tubuh secara keseluruhan akan diimbangi oleh pertumbuhan bagian giblet ternak tersebut (Simanullang, dkk., 2015). Seiring dengan umur itik yang bertambah, laju pertumbuhan giblet pada itik pun ikut menurun. Laju pertumbuhan giblet pada itik menurun pada umur 7 minggu (Saputra, 2014).

2.4 Bagian Tubuh yang Tidak Bisa Dikonsumsi (Part of Inedible)

Bagian tubuh itik yang tidak bisa dikonsumsi atau disebut sebagai Part of Inedible. Bagian Inedible adalah bagian dari tubuh ternak itik yang tidak dikonsumsi atau dapat dikategorikan sebagai hasil sampingan atau hasil ikutan yang dapat dimanfaatkan (Simanullang, 2015). Bagian dari Inedible itu sendiri terdiri dari jeroan tanpa giblet, kepala, kaki, bulu, darah, dan lemak abdominal (Biyatmoko, 2011).

Presentase bagian yang tidak bisa dikonsumsi atau part of inedible akan semakin menurun dengan meningkatnya bobot hidup (Forest, et al., 1975). Semakin bertambah umur semakin bertambah pula bobot potong maka produksi karkas semakin meningkat, maka menurun pula bobot non karkas atau inedible (Matitaputty, 2011).

(17)

13 2.4.1 Darah

Darah merupakan bagian inedible karena pada umumnya darah tidak dikonsumsi oleh masyarakat. Pemanfaatan darah di Indonesia biasanya digunakan sebagai tepung darah untuk ransum unggas. Tepung darah merupakan hasil ikutan ternak yang memiliki potensi untuk dijadikan bahan pakan sumber protein penyusun ransum ternak karena memiliki kandungan protein yang tinggi yaitu sekitar 80 - 85% (Ramadhan, 2015).

Fungsi darah sangat penting bagi tubuh terutama itik yaitu sebagai sistem transportasi zat-zat nutrisi dari makanan, air, oksigen, dan karbondioksida. Persentase bobot darah pada ternak unggas biasanya sebesar 10% dari bobot potong ternak unggas itu sendiri (Donald, 2002).

2.4.2 Bulu

Bulu pada umumnya tidak dapat dikonsumsi oleh manusia, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia, karena kandungan protein (keratin) sebesar 80 - 90% yang bermanfaat bagi ternak (Sari, 2015).

Bulu dapat dijadikan sebagai objek pembeda ataupun ciri-ciri dari berbagai macam jenis itik. Warna bulu itik jantan maupun betina tidak berbeda, yaitu berwarna kemerah-merahan dengan variasi coklat, hitam dan putih. Itik jantan dan betina dapat dibedakan dari bulu ekor, yaitu selembar atau dua lembar bulu ekor yang melengkung ke atas pada jantan (Wahid, 2003).

2.4.3 Kepala

Kepala itik yang sudah melalui proses pemotongan biasanya tidak memiliki nilai ekonomis. Kepala itik biasanya langsung dibuang setelah dilakukan proses pemotongan atau diproses kembali sebagai pakan ternak. Persentase berat

(18)

kepala pada unggas jantan biasanya lebih besar dibandingkan dengan berat kepala ternak unggas betina (Deptan, 1992).

2.4.4 Lemak Abdominal

Lemak abdominal adalah lemak yang diantara proventiculus, gizzard, duodenum, dan disekitar kloaka (Setiawan, 2009). Lemak abdominal didapat dari lemak yang terdapat pada sekelili gizzard dan lapisan yang menempel antara otot abdomnial serta usus (Kubena, 1973).

Lemak abdominal akan meningkat dengan bertambahnya umur dan tingkat energi metabolis ransum (Dalton dan Loth, 1985). Lemak abdominal juga dapat meningkat jika diberikan ransum dengan tingkat energi tinggi (North dan Bell, 1990). Lemak abdominal pada unggas tertimbun sebagai akibat dari ransum yang kelebihan energi berupa karbohidrat dan kelebihan lemak (Anggorodi, 1995). 2.4.5 Kaki

Kaki itik merupakan bagian part of inedible yang dihasilkan dari proses pemotongan. Nilai ekonomis dari kaki itik berbeda dengan kaki ayam broiler yang dimana sebagian masyarakat mengkonsumsinya yang biasa disebut dengan ceker. Kaki tersusun oleh tulang panjang (Os tarsometarsus) dan jari-jari kakinya tersusun oleh tulang yang pendek (Wiradhana, 2014).

(19)

15 III

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

3.1 Bahan dan Objek Penelitian 3.1.1 Ternak Percobaan

Itik Rambon dan Cihateup yang digunakan sebagai bahan penelitian adalah Day Old Duck (DOD) hasil pembibitan generasi ke-3 sebanyak 9 ekor itik Cihateup dan 10 ekor itik Rambon, yang selanjutnya akan dipelihara selama 10 minggu pada kondisi minim air. Pemeliharaan dilaksanakan di kandang Local Duck Breeding and Production Station Laboratorium Produksi Ternak Unggas, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

3.1.2 Kandang Percobaan

Bangunan kandang terbuat dari bambu dan kawat dengan atap menggunakan asbes. Kandang yang digunakan terdapat 8 unit setiap unit mempunyai dimensi 1x1x1 untuk kapasitas 5 ekor itik. Penambahan ukuran dimensi kandang dilakukan pada saat umur itik 8 minggu mengingat tubuh itik semakin membesar pula dengan dimensi kandang 2 x 1 x 1 (panjang, lebar, tinggi). Pada penelitian kandang litter mempunyai kelengkapan sebagai berikut :

a. Kawat pemisah digunakan sebagai pemisah antar ternak. b. Round feeder (tempat pakan).

c. Round waterer (tempat minum)

d. Lampu pijar 60 watt sebagai penghangat ternak dan pencahayan di kandang.

e. Sekam.

(20)

3.1.3 Peralatan yang Digunakan

a. Timbangan digital untuk menimbang bobot itik. b. Marker, Wing Tag sebagai penanda.

c. Timbangan untuk menimbang ransum.

d. Kamera untuk memberikan bukti fisik berupa gambar tentang pelaksanaan penelitian.

e. Bak plastik untuk tempat menyimpan ransum.

f. Kalkulator dan laptop yang digunakan untuk menghitung dan menyimpan data.

g. Pisau untuk proses pemotongan itik. h. Tempat Pakan dan Minum itik. i. Baki untuk tempat sampel. 3.1.4 Ransum yang Digunakan

Ransum yang diberikan kepada itik umur 1 hari sampai umur 10 minggu, adapun susunan ransum yang digunakan disajikan pada Tabel 1. Ransum disusun berdasarkan standar kebutuhan protein dan energi. Persentasi kandungan zat bahan penyusun ransum disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1. Susunan Ransum Penelitian Itik Rambon dan Cihateup Generasi Ketiga Umur 1 Hari Sampai 10 Minggu.

Komposisi Starter (%) Grower (%) Jagung Dedak Bungkil kedelai Bungkil kelapa Tepung ikan Tepung tulang Minyak Top mix 59,00 7,00 14,00 5,75 11,00 1,25 1,50 0,50 55,00 22,50 7,00 6,00 7,00 2,50 1,50 0,50

Keterangan: Hasil Pengujian di Laboratiorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (2017).

(21)

17 Tabel 2. Persentase Kandungan Zat Penyusun Ransum Penelitian Itik Rambon

dan Cihateup Generasi Ke Tiga Umur 1 Hari Sampai 10 Minggu.

KandunganZatPakan Starter Grower

Protein (%) ME (Kcal/kg) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Total Kalsium (%) Total fosfor (%) 20,02 3,006 5,93 3,83 1,03 0,61 16,01 2,716 5,84 5,16 1,05 0,62 Jenis pakan : Pelet.

Pakan : Adaptasi pemindahan dari starter – grower.

3.2 Proses Penelitian 3.2.1 Tahap Persiapan

1. Persiapan penelitian yang dilakukan pada tahap awal meliputi persiapan semua alat yang akan digunakan. Melaksanakan sanitasi kandang dengan membersihkan dan mencuci peralatan.

2. Melakukan pengapuran pada kandang kemudian lantai kandang ditaburi sekam lalu persiapan instalasi listrik.

3. Mempersiapkan pakan. 3.2.2 Tahap Pemeliharaan

1. Pemeliharaan dilakukan pada itik Rambon dan Cihateup sebanyak 19 ekor, terdiri atas 10 ekor itik Rambon jantan dan 9 ekor itik Cihateup jantan yang dipelihara dari umur satu hari (DOD) sampai dengan umur 10 minggu.

2. Mencuci tempat minum dicuci setiap hari, setelah itu tempat minum diisi menggunakan air bersih dan diberikan pada itik, air minum diberikan ad libitum.

(22)

4. Pemberian ransum dilakukan sebanyak dua kali sehari, yaitu pagi pada pukul 08.00 WIB dan sore hari pukul 15.00 WIB.

5. Pada umur 10 minggu ternak diambil sebanyak 10 ekor jantan itik Rambon secara acak dan 9 ekor itik Cihateup jantan dari populasi itik Rambon dan Cihateup yang dipelihara, selanjutnya dilakukan proses pemotongan untuk mengetahui bagian edible dan inedible.

3.2.3 Tahap Pemotongan

1. Sebelum dipotong itik dipuasakan selama 10 - 12 jam.

2. Penyembelihan dilakukan menggunakan standar MUI (Majelis Ulama Indonesia) dengan cara menghadap kiblat dan membacakan basmalah. 3. Proses pemotongan dilakukan dengan memotong tiga saluran, yaitu

saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan pembuluh nadi. 4. Timbang itik tanpa darah.

5. Pencelupan ke dalam air panas dengan suhu 65-800C selama 30 detik untuk mempercepat pencabutan bulu dan dilanjutkan dengan pencelupan ke dalam air dingin untuk mencegah rusaknya kulit.

6. Pencabutan bulu dilakukan secara manual. 7. Penimbangan karkas tanpa bulu.

8. Pemotongan

9. Pembersihan isi rongga perut (viscera).

(a). Pengambilan jeroan dada serta pembersihan.

(b). Pemisahan bagian edible yaitu karkas dan giblet (hati, jantung, gizzard) dan bagian inedible yaitu kepala, leher, kaki seluruh jeroan kecuali giblet diantaranya usus, paru-paru, esofagus, trakea, ginjal, lemak abdominal, alat reproduksi, limfa.

(23)

19 (c). Pencucian karkas dan non karkas.

10. Penimbangan terhadap bagian edible dan inedible. 3.2.4 Pengukuran Bagian Edible

Menurut Biyatmoko, 2011 pengukuran bagian edible ada tiga bagian yang perlu diamati antara lain terdiri dari :

a. Bobot hidup (g). b. Bobot karkas (g).

c. Bobot giblet (jantung, hati, dan gizzard) (g) 3.2.5 Pengukuran Bagian Inedible

Menurut Biyatmoko, 2011 pengukuran bagian inedible tujuh bagian yang perlu diamati antara lain :

a. Bobot jeroan tanpa giblet (g). b. Bobot kepala (g).

c. Bobot kaki (g). d. Bobot leher (g).

e. Bobot darah yaitu bobot potong dikurangi bobot setelah disembelih

f. Bobot bulu yaitu bobot ternak hidup dikurangi bobot darah dan karkas pencabutan bulu.

(24)

3.3 Metode Penelitian

Data bagian edible dan inedible diperoleh dari 10 ekor jantan itik Rambon dan 9 ekor itik Cihateup. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut :

a. Rata – rata data kuantitatif dihitung dengan jalan membagi jumlah nilai data pertumbuhan oleh banyak data.

=

Keterangan :

= Rata-Rata

= Jumlah data x ke-i

n = Jumlah data

b. Simpangan baku adalah akar dari ragam. Ragam merupakan jumlah kuadrat semua deviasi nilai – nilai individu terhadap rata – rata populasi.

S=

Keterangan :

= Rata-rata

= Data sampel ke-i

∑ = Jumlah

n = Banyaknya Data

c. Koevisien variasi merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui besarnya variasi nilai dari hasil pengukuran variabel yang diamati.

KV =

x

100

Keterangan :

KV = Koefisien Variasi S = Simpangan Baku

(25)

21 IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Manajemen Pemeliharaan

Sistem pemeliharaan yang dipakai pada ternak itik Rambon dan Cihateup ialah sistem pemeliharaan intensif pada kondisi minim air selama 10 minggu. Kandang yang digunakan menggunakan kandang dengan sistem kandang postal. Setiap pen memiliki ukuran bangunan 1 m2 untuk kapasitas 5 ekor itik. Penambahan ukuran kandang dilakukan pada saat umur itik 8 minggu, mengingat ukuran tubuh itik semakin membesar dengan ukuran kandang 2 x 1 x 1 (panjang, lebar, tinggi). Penerangan sekaligus penghangat pada kandang itik Rambon dan Cihateup menggunakan lampu pijar 5 watt. Tempat pakan yang digunakan ada round feed kapasitas 10 kg. Pakan diberikan satu kali sehari dengan penambahan secara bertahap pada keesokan harinya. Pakan yang diberikan untuk itik fase starter protein 20,02% dan energi metabolis 3,006 kkal/kg ransum, sedangkan itik fase grower mengandung protein 16,01 energi metabolis 2,716 kkal/kg sedangkan tempat minum menggunakan round waterer dan menggunakan galon dan pipa paralon yang dibuat secara otomatis untuk mempermudah itik minun. Alas kandang postal menggunakan sekam padi sebagai litter.

Kegiatan pembersihan kandang berupa pembersihan lantai kandang dilakukan seminggu 3 kali dengan penggantian liiter dan sekam yang baru serta pembersihan tempat pakan dan minum setiap hari yang bertujuan untuk mengurangi ancaman penyakit yang terdapat pada kandang, tempat pakan dan minum.

(26)

4.2 Bobot Potong Itik Rambon dan Cihateup Umur 10 Minggu

Bobot potong merupakan bobot hidup ternak sebelum dipotong yang telah dipuasakan selama 8 - 12 jam.

Tabel 3. Bobot Potong Itik Rambon dan Cihateup Umur 10 Minggu

Komponen SD KV

Bobot Potong Rambon

... gr...

1245,2 172,83

... % ... 13,87

Bobot Potong Cihateup 1170,8 143,46 12,25

Keterangan : : Rata –Rata, SD: Standar Deviasi, KV:Koefisien Variasi. Berdasarkan pada Tabel 3 menunjukkan bahwa bobot potong pada itik Rambon sebesar 1245,2±172,83 gr dan koefisien variasi (KV) sebesar 13,87%, sedangkan untuk bobot potong pada itik Cihateup 1170,8±143,46 gr dan koefisien variasi (KV) sebesar 12,25%. Koefisien variasi pada bobot kedua itik yang diteliti masih di bawah 15%, hal ini menunjukkan bahwa data bobot potong baik pada itik Rambon maupun itik Cihateup tergolong seragam. Hal ini sesuai dengan pendapat Simanullang dkk (2015) bahwa data dikatan seragam apabila koefisien variasinya di bawah 15%.

Perbedaan bobot potong itik Rambon dan itik Cihateup yang didapat tidak terlalu jauh hal ini dikarenakan itik Rambon dan Cihateup memiliki hubungan genetik yang cukup dekat. Berdasarkan hasil penelitian Muzani (2005) secara morfologis bahwa hubungan genetik antara itik Cihateup dan Cirebon terhadap itik Mojosari berjauhan, sedangkan untuk itik Cirebon dengan itik Cihateup secara morfologis hubungan genetiknya cukup dekat.

Terdapat perbedaan antara bobot potong itik Rambon dengan itik Cihateup dikarenakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi diantaranya kelembaban.Kelembaban meningkat di area kandang postal itik Cihateup dikarenakan terhambatnya saluran air minum pada kandang postal itik Cihateup

(27)

23 tersebut sehingga menyebabkan meluapnya air hingga membasahi kandang postal itik Cihateup. Kusnadi (2009) pertumbuhan bobot badan unggas menurun karna suhu kelembaban tinggi. Ali (2009) kelembaban udara dalam kandang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan itik. Menurut Wahju (1997), pertumbuhan ternak dipengaruhi oleh faktor bangsa, jenis kelamin, umur, ransum, dan lingkungannya.

4.3 Bobot dan Proporsi Bagian Edible Itik Rambon dan Cihateup Umur 10 Minggu

Bagian edible adalah merupakan hasil dari pemotongan ternak yang dapat dikonsumsi (Simanullang dkk., 2015). Biyatmoko (2011) bagian edible terdiri dari karkas dan giblet (jantung, hati, dan gizzard). Rataan proporsi bagian edible itik Rambon dan Cihateup pumur 10 minggu dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5.

Tabel 4. Bobot dan Proporsi Bagian Edible Itik Rambon

Komponen % SD KV ... gr ... ... % ... Karkas 680,3 54,6 132,89 19,53 Jantung 8,6 0.7 1,71 19,88 Hati 25,4 2 2,63 10,35 Gizzard 58,9 4,7 10,51 17,84

Keterangan : : Rata-Rata, SD: Standart Deviasi, KV : Koefisien Variasi Tabel 5. Bobot dan Proporsi Bagian Edible Itik Cihateup

Komponen % SD KV ... gr ... ... % ... Karkas 671,7 57,3 96,84 14,41 Jantung 8,5 0,7 1,01 11,88 Hati 27 2,3 3,87 14,33 Gizzard 53,3 4,5 10,36 19,43

(28)

Tabel 4 dan 5 menunjukkan bahwa itik Rambon dan Cihateup memiliki masing-masing bobot karkas 680,3±132,89 gr (54,6%) untuk itik Rambon sedangkan untuk Cihateup seberat 671,7±96,84 gr (57,3%). Karkas pada itik Rambon dan itik Cihateup umur 10 minggu didapatkan hasil yang relatif sama yang sejalan dengan itik hasil penelitian Randa (2007) yang menggunakan itik Cihateup umur 10 minggu dengan nilai persentase berkisar 58,07% sampai dengan 58,43% dan Sunari (2001) yang menggunakan itik mandalung dengan nilai persentase karkas 62,5% pada umur potong 10 minggu. Iskandar, dkk (2000) persentase bobot karkas itik jantan Tegal umur 10 minggu mencapai berat 63%.

Tabel 4 menunjukkan bobot giblet (jantung, hati, gizzard) itik Rambon masing - masing seberat 8,6±1,71 gr (0,7%), 25,4±2,63 gr (2%), dan 58,9±10,51 gr (4,7%) dan tabel 5 menunjukkan bobot giblet (jantung, hati, gizzard) itik Cihateup masing - masing seberat 8,5±1,01 gr (0,7%), 27±3,87 gr (2,3%), dan 53,3±10,36 gr (4,5%). Rataan bobot giblet (jantung, hati, gizzard) pada itik Rambon dan Cihateup yang didapat memiliki masing-masing nilai yang relatif sama terhadap penelitian Purba dan Prasetyo (2014) yang menggunakan itik pedaging EPMp umur 12 minggu. Jantung itik Rambon dan itik Cihateup memiliki persentase bobot masing-masing sebesar 0,7% sedangkan pada itik EPMp memiliki kisaran bobot persentase 0,8%. Bobot persentase hati itik Rambon dan itik Cihateup memiliki 2% dan 2,3% yang relatif sama, sedangkan bobot persentase itik EPMp berkisar 1,97%. Bobot persentase gizzard itik Rambon dan itik Cihateup realtif sama yaitu 4,5% dan 4,7% dan itik EPMp sebesar pada penelitian Purba dan Prasetyo (2014) sebesar 3,57%.

Faktor nutrisi merupakan salah satu yang mempengaruhi komponen bagian edible karkas dan giblet. Suparno (2005) mengatakan bahwa nutrisi merupakan

(29)

25 faktor lingkungan terpenting yang mempengaruhi komponen karkas. Adanya kebutuhan nutrisi yang tinggi berakibat pada alat pencernaan dan proses metabolisme di dalam tubuh itik ikut berpengaruh. Bagian dalam tubuh itik yang berpengaruh yaitu ada pada jantung, hati dan gizzard, dikarenakan 3 komponen tersebut merupakan komponen penting dalam proses metabolisme dalam tubuh. Tingginya aktifitas itik jantan mengakibatkan kerja jantung, hati, dan gizzard semakin berat. Hetland et al (2005) menyatakan bahwa ransum yang masuk ke dalam tubuh akan terjadi proses metabolisme yang akan mempengaruhi aktivitas kerja jantung, hati dan gizzard. Perkembangan giblet pada itik semakin menurun seiring bertambahnya umur itik. Sunari (2001) menyatakan bahwa giblet pada itik menurun sesuai meningkatnya umur. Laju pertumbuhan sudah menurun sebelum umur 7 minggu akan tetapi pada umur 8 sampai 9 minggu terjadi perkembangan pada karkas.

4.4 Bobot dan Proporsi Bagian Inedible Itik Rambon dan Cihateup Umur 10 Minggu

Inedible pada itik yaitu bagian tubuh ternak yang tidak dikonsumsi. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) (1995) bagian inedible pada unggas yaitu darah, bulu, jeroan, kepala, kaki, leher, dan lemak abdominal. Rataan proporsi bagian inedible itik Rambon dan Cihateup dapat dilihat pada Tabel 6 dan 7.

(30)

Tabel 6. Bobot dan Proporsi Bagian Inedible Itik Rambon Komponen % SD KV Darah ... gr... 63,8 5,1 12,72 ... % ... 26 Bulu Jeroan Kepala Kaki Leher L. Abdominal 53,6 53,7 75,4 31,4 97,3 6 4,3 6,43 4,3 5,71 6 5,87 2,5 2,06 7,8 13,93 0,5 0,81 11,99 10,63 7,78 6,56 13,31 13,5 Keterangan : : Rata –Rata, SD: Rata-Rata, KV:Koefisien Variasi. Tabel 7. Bobot dan Proporsi Bagian Inedible Itik Cihateup

Komponen % SD KV Darah ... gr... 65,5 5,6 15,32 ... % ... 23,38 Bulu Jeroan Kepala Kaki Leher L. Abdominal 45,7 55 75,3 30,2 95,9 5,7 3,9 14,88 4,7 7,29 6,4 5,5 2,6 4,23 8,2 12,67 0,5 0,7 32,56 13,25 7,3 14 13,21 12,28 Keterangan : : Rata –Rata, SD: Rata-Rata, KV:Koefisien Variasi.

Tabel 6 dan 7 menunjukkan bobot dan proporsi bagian inedible dari itik Rambon dan itik Cihateup. Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan bahwa bobot dan proporsi bagian inedible masing-masing pada itik Rambon sebesar, darah 63,8±12,72gr (5,1%), bulu 53,6±6,43 gr (4,3%), jeroan 53,7±5,71 gr (4,3%), kepala 75,4±5,87 gr (6%), kaki 31,4±2,06 gr (2,5%), leher 97,3±13,93 gr (7,8%), dan lemak abdominal 6±0,81 gr (0,5%) dan berdasarkan Tabel 7 menunjukkan bahwa bobot dan proporsi bagian inedible masing-masing pada itik Cihateup sebesar, darah 65,5±15,32 gr (5,6%), bulu 45,7±14,88 gr (3,9%), jeroan 55±7,29 gr (4,7%), kepala 75,3±55 gr (6,4%), kaki 30,2±4,23 gr (2,6%), leher 95,9±12,67 gr (8,2%), dan lemak abdominal 5,7±0,7 gr (0,5%).

(31)

27 Bagian inedible tidak dikonsumsi menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) (1995) dikarenakan bagian – bagian inedible masih mengandung sisa – sisa pembuangan. Menurut Anggorodi (1995) bagian inedible pada unggas biasanya menjadi limbah peternakan yang dapat diolah kembali menjadi bahan ransum untuk pakan ternak kembali karena masih mengandung nilai protein yang baik.

Darah merupakan cairan didalam tubuh manusia dan juga hewan. Bobot darah berkaitan dengan bobot tubuh hewan ternak karena darah cairan tubuh yang berfungsi sebagai alat tranpsortasi zat penting yang dibutuhkan dan mengangkut bahan-bahan kimia hasil dari metabolisme. Volume darah dalam tubuh biasanya mengikuti perkembangan bobot tubuh ternak, sehingga semakin besar bobot ternak maka semakin banyak pula volume darah yang terdapat dalam ternak tersebut. Anggorodi (1995) bahwa persentase darah tubuh sekitar 5 – 10 %. Pada penelitian ini didapatkan persentase darah yang terdapat pada itik Rambon dan Cihateup sebesar 5,1% dan 5,6%. Lemak abdominal itik Rambon dan Cihateup yang didapatkan yaitu sama – sama memiliki persentase 0,5%. Bobot lemak abdominal dipengaruhi oleh jenis nutrisi ransum yang terkandung dan juga umur potong ternak. Sunari (2001) mengemukakan bahwa organ tubuh yang mempengaruhi persentase komponen non pangan (inedible) merupakan organ tubuh yang masak dini. Organ tersebut mempunyai pertumbuhan yang cepat pada waktu masih muda, namun akan melambat dengan bertumbuhnya umur. Bobot lemak abdominal dipengaruhi oleh jenis nutrisi ransum yang terkandung dan juga umur potong ternak. Bobot bulu itik penelitian Rambon dan Cihateup yang dipelihara selama 10 minggu tergolong rendah yaitu 4,3% dan 3,8%, hasil ini lebih rendah dari penelitian Sunari (2001) yang memperoleh persentase bulu pada umur potong 10 minggu sebsar 5,5%. Rendahnya persentase bulu disebabkan oleh

(32)

adanya kerontokan bulu akibat ketika bersaing mendapatkan pakan. Hal ini sejalan dengan Saputra (2014) bobot bulu sangat rendah karena terjadi kanibalisme yaitu peristiwa saling mematuk. Persentase kepala, kaki, dan leher pada itik Rambon dan Cihateup pada umur potong 10 minggu memiliki nilai yang relatif sama yaitu untuk itik Rambon 6%, 2,5%, dan 7,8% sedangkan untuk itik Cihateup 6,4%, 2,6%, dan 8,2% dan berdasarkan hasil penelitian (Wiradhana, 2014) menggunakan itik Bali umur 10 minggu memiliki bobot potong kepala, kaki, dan leher seberat 5,30%, 2,49%, dan 8,09%. Persentase bagian kepala, kaki, dan leher relatif sama karena bagian tubuh tersebut erupakan bagian tubuh ternak yang tersusun oleh banyak jaringan tulang. Komponen tulang adalah komponen yang masak dini sehingga ransum serta zat-zat gizi lainnya terlebih dahulu dimanfaatkan untuk pembentukan tulang (Wiradhana, 2014). Bagian tubuh ternak yang tersusun dari banyak tulangnya seperti sayap, kepala, leher, punggung, dan kaki persentasenya semakin menurun dengan meningkatnya umur unggas, karena bagian-bagian ini mempunyai pertumbuhan yang konstan pada saat unggas dewasa (Soeparno, 1992).

(33)

29 V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian menunjukkan bahwa proporsi bagian edible dan inedible itik Rambon dan Cihateup generasi ke-3 umur 10 minggu yang dipelihara pada kondisi minim air maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

Proporsi rata – rata bagian edible itik Rambon meliputi berat karkas 680,3 gr, jantung 8,6 gr, hati 25,4 gr, gizzard 58,9 gr. Itik Cihateup memiliki berat karkas 671,7 gr, jantung 8,5 gr, hati 27 gr, gizzard 53,3 gr.

Proporsi rata – rata inedible itik Rambon meliputi berat darah 63,8 gr, bulu 53,6 gr, lemak abdominal 6 gr, leher 97,3 gr, kepala 75,4 gr, kaki 31,4 gr, dan jeroan 53,7 gr . Itik Cihateup memilik berat darah 65,5 gr, bulu 45,7 gr, lemak abdominal 5,7 gr, leher 95,9 gr, kepala 75,3 gr, kaki 30,2 gr, dan jeroan 55 gr.

5.2 Saran

Berdasarkan dari hasil penelitian, maka perlu adanya peningkatan manajemen budidaya itik Rambon dan Cihateup lebih ditingkatkan lagi agar memperoleh nilai hasil edible yang lebih tinggi.

(34)

RINGKASAN

Penelitian mengenai proporsi bagian edible dan inedible pada itik Rambon dan Cihateup generasi ke-3 umur 10 minggu bertujuan untuk mengetahui seberapa besar proporsi bagian edible dan inedible pada itik Rambon dan Cihtaeup generasi ke-3. Day Old Duck (DOD) yang diteliti merupakan Itik Rambon dan Cihateup generasi ke-3 yang diperoleh dari telur yang ditetaskan Laboratorium dan Local

Duck Breeding and Production Station Laboratorium Produksi Ternak Unggas,

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Sumedang yang kemudian

dibudidayakan di dan Local Duck Breeding and Production Station Laboratorium Produksi Ternak Unggas, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran selama 10 minggu. Kandang itik menggunakan tipe kandang postal, penambahan ukuran dimensi kandang dilakukan pada saat umur itik berusia 8 minggu. Ransum yang diberikan merupakan susunan ransum berdasarkan standar kebutuhan protein dan energi pada itik, persentase kandungan zat penyusun ransum dan bentuk diberikan secara bertahap agar itik dapat beradaptasi dengan baik terhadap perubahan yang ada.

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi mengenai seberapa besar proporsi bagian edible dan inedible itik Rambon dan Cihateup generasi ke-3 umur 10 minggu yang dipelihara pada kondisi minim air. Penelitian ini menggunakan perhitungan analisis statistik deskriptif berupa perhitungan rata-rata data kuantitatif, simpangan baku dan koefisien variasi.

Hasil analisis statistik yang didapat untuk bobot potong rata – rata itik Rambon seberat 1245,2 gr dan bobot potong rata – rata itik Cihateup seberat 1170,8 gr. Bagian edible rata – rata itik Rambon bobot karas 795,5 gr, jantung 8,6 gr, hati 25,4 gr, gizzard 58,9 gr. Itik Cihateup memiliki berat karkas 760,7 gr, jantung 8,5

(35)

31 gr, 27 gr, gizzard 53,3. Bagian inedible rata – rata inedible itik Rambon yang meliputi berat darah 63,8 gr, bulu 53,6 gr, lemak abdominal 6 gr, leher 97,3 gr, kepala 75,4 gr kaki 31,4 gr, dan jeroan 53,7 gr. Itik Cihateup memilik berat darah 65,5 gr, bulu 45,7 gr, lemak abdominal 5,7 gr, leher 95,9 gr, kepala 75,3 gr kaki 30,2 gr, dan jeroan 55 gr.

(36)

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Arsyadi. Febrianti, Nanda. 2009. Performans Itik Pedaging (Lokal x Peking) Fase Starter Pada Tingkat Kepadatan Kandang Yang Berbeda Di Desa Laboi Jaya Kabupaten Kampar. Jurnal Peternakan Vol. 6 No.1. Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska. Riau.

Alyandari, Nadia, Resti., Wahyuni, Siti , H, S., Abun. 2015. Performa Itik Rambon Jantan Fase Pertumbuhan Pada Pemberian Ransum Dengan Kandungan Energi – Protein Berbeda. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.

Anang, A., Setiawan, I., Indrijani, H., and Lan. L. 2017. Mathematical Model of Growth and Feed Intake Of Rambon Indonesian Local Duck. Asian – Australasian Journal Of Animal Science (sumbitted).

Anggorodi, H, R. 1995. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gredia, Jakarta.

Anggorodi, H, R. 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. PT. Gredia Pustaka Utama. Jakarta. 106-112.

Biyatmoko, D. 2001. Pertumbuhan Alometri Irisan Karkas, Non Karkas dan Organ Vital Itik Tegal. Al Ulum Vol. 8 No. 2. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Kalimantan. Kalimantan.

Biyatmoko, D. 2011. Permodelan Usaha Pengembangan Ayam Buras dan Upaya Perbaikannya di Pedesaan. Makalah disampaikan pada Temu Aplikasi Paket Teknologi Pertanian Subsektor Peternakan. Banjar Baru.

Brahmantiyo., B. 2002. Karakteristik Pertumbuhan Itik Pegagan Sebagai Sumber Plasma Nutfah Ternak. Balai Penelitian Ternak. Bogor.

Brake, J., Havenstein, G. B., Scheideler, S. E., Ferket, P. R., Rives, D. v. 1993. Relationship of Sex, Age, and Bod Weightto Broiler Carcass Yield and Offal Production, Poultry Sci, 72 : 1137 – 1145.

Budiraharjo, K. 2009, Analisis Profitabilitas Pengembangan Usaha Ternak Itik Di Kecamatan Pagerbarang Kabupaten Tegal. MEDIAGRO Vol. 4 No. 2 Hal 12-19. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Semarang. Dalton, J. W., B. D. Lott. 1985. Age and Dietary Energy Effect on Broiler

(37)

33 Daud M., Mulyadi, dan F. Zahrul. 2016. Persentase Karkas Itik Peking yang Diberi Pakan dalam Bentuk Wafer Ransum Komplit Mengandung Limbah Kopi. Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh dan Fakultas Pertanian, Universitas Abulyatama, Aceh Besar. Agripet Vol 16, No. 1.

Dewi A., Cipta. Asmara, Indrawati, Yudha., Setiawan, Iwan. 2016. Karakteristik Produksi dan Fertilitas Telur Itik Rambon dan Cihateup Hasil Kawin Alam dengan Lama Pencampuran Jantan dan Betina Berbeda. Vol. 5 No. 4. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.

Donald, D.B. 2002. Waste Management. In: Commercial Chicken Meat and Egg Production. Fifth edition. Kluwer Academic Publisher. Hal. 585-595. Hanggara, D. S. 2014. Pengaruh Pembatasan Tingkat Protein Dalam Ransum

Terhadap Edible dan In edible Pada Itik Jantan Lokal. Fakultas Peternakan. Universitas Padjadjaran.

Hetland, H., Shivus, B., Chocht, M. 2005. Role of Insoluble Fiber On Gizzard Activity in Layers. Journal Applied Poultry Research. 14:38-46.

Iskandar, S., Bintang, I, A, K., Triyantini. 2000. Tingkat Energi/Protein Ransum untuk Menunjang Produksi dan Kualitas Daging Anak Itik Jantan Lokal. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor 18-19 September 2000, Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan 300-309.

Juarini, E., Sumanto., Zainuddin, D. 2006. Pengembangan Ayam Lokal dan Permasalhannya Di Lapangan. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Balai Penelitian Ternak Ciawi. Bogor.

Jull, M. A., 1979. Pultry Husbandry. University of Maryland College Park Md. Tata McGraw-Hill Publishing Company Ltd., Bombay-New Delhi.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan). 2013. Penetapan

Rumpun Itik Rambon. Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 700/Kpts/PD. 410/2/2013 hal.2. Jakarta.

Kementrian Pertanian Republik Indonesia (Kementan). 2014. Penetapan Rumpun Itik Cihateup. Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No.

(38)

Kubena, L. F., Deaton, J. W., Chen, T. C., Reece, F. N. 1973. Factor Influencing The Quantity of Abdominal Fat In Broilers 1. Rearing temperature, Sex Age or Weight, and Dietary Choline Chloride and Inositol Suplementation. Poultry Sci. 53: 211-241.

Kusnadi, Engkus. 2009. Pengaruh Berbagai Cekaman Terhadap Perubahan Beberapa Komponen dan Biokimia Darah Unggas. Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Kampus Limau Manis, Kotak Pos 79. Padang.

Mahfudz, L. D., Sarengat, W., Ardiningsasi, S. M., Supriatna, E., dan Srigandono, B2004. Pemeliharaan Sistem Terpadu Dengan Tanaman Padi Terhadap Performans dan Kualitas Karkas Itik Lokal Jantan Umur 10 Minggu.. Fakultas Peternakan Universitas Dipenogoro. Semarang.

Mahfudz, L. D. 2009. Karkas dan Lemak Abdominal Ayam Broiler Yang Diberi Ampas Bir Dalam Ransum. Fakultas Peternakan Universitas Dipenogoro Semaranag.

Matitaputty, P, R. 2011. Performa, Persentase Karkas dan Nilai Heterosis Itik Alabio, Cihateup dan Hasil Persilangannya pada Umur Delapan Minggu. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Ambon.

Matitaputty, P,R., Suryana. 2014. Tinjauan tentang Performans Itik Cihateup (Anas platyrhyncos Javanica) sebagai Sumberdaya Genetik Unggas Lokal di Indonesia. WARTAZOA Vol. 24 No. 4 Th. 2014.

Murawska, Daria. 2016. The Effect of Age on The Growth Rate of Tissues and Organs and The Percentage Content of Edible and Inedible Components in Koluda White Geese. Department of Commodity Science and Animal Improvement. Faculty of Animal Bioengineering University of Warnia and Mazury. Poland.

Mustawa, A, A., Sujana, Endang., Setiawan, Iwan. 2016. Evaluasi Telur Tetas Itik CRp (CIHATEUP X RAMBON) Yang Dipelihara Pada Kondisi Minim Air Selama Proses Penetasan. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Muzani, A., Brahmantiyo, B., Sumantri, C., Tapyadi, A. 2005. Pendugaan Jarak

Genetik pada Itik Cihateup, Cirebon, dan Mojosari. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor

North. M. O., D. D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. An Avi Book Published by Van Nostrand Reinhold Published. New York.

(39)

35 Prasetyo, L, H., 2006. Strategi dan Peluang Pengembangan Pembibitan Ternak

Itik. Balai Penelitian Ternak. WARTAZOA Vol. 16 No. 3. Bogor.

Purba. M., Prasetyo, L, H. 2014. Respon Pertumbuhan dan Produksi Karkas Itik Pedaging EPMp terhadap Perbedaan Kandungan Serat Kasar dan Protein dalam Pakan. JITV Vol. 19 No. 3. Bogor.

Ramadhan. R. F. 2015. Metode Pengolahan Darah sebagai Pakan Unggas: Review. Fakultas Peternakan. Universitas Andalas.

Randa, S, Y. 2007. Bau Daging dan Performa Itik Akibat Pengaruh Perbedaan Galur dan Jenis Lemak Serta Kombinasi Komposisi Antioksidan (Vitamin A, C, dan E) dalam Pakan. Disertasi. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rukmiasih. 2015. Performan Pertumbuhan dan Produksi Karkas Itik CA [Itik Cihateupx Itik Alabio] sebagai Itik Pedaging. Vol. 4 No. 2. Departemen Ilmu dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Saputra, Hanggara, Dimas., Garnida, Dani., Adriani, Lovita. 2014. Pengaruh Pembatasan Tingkat Protein Dalam Ransum Terhadap Edible dan Inedible Pada Itik Jantan Lokal. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.

Sari. E. P. 2015. Pemanfaatan Limbah Bulu Ayam Sebagai Pakan Ternak Ruminansia. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Al Azhar Indonesia. Jakarta Selatan.

Setiawan, Iwan., Sujana, Endang. 2009. Bobot Akhir, Persentase Karkas dan Lemak Abdominal Ayam Broiler Yang Dipanen Pada Umur Yang Berbeda. Fakultas Peternakan. Universitas Padjadjaran.

Setioko, A, R. 2004. Daya Tetas dan Kinerja Pertumbuhan Itik Pekin X Alabio (PA) Sebagai Induk Itik Pedaging. Balai Penelitian Ternak. Bogor.

Simanullang, Sarito., Setiawan, Iwan., Hilmia Nena. 2015. Bobot Potong, Edible dan Non Edible Itik Peking Mojosari Putih (Pmp) Pada Pemberian Pakan Sisa Rumah Makan dan Komersial. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.

Sinurat, A, P. 2004. Penggunaan Bahan Pakan Lokal Dalam Pembuatan Ransum Ayam Buras. Balai Penelitian Ternak. Bogor.

(40)

Standar Nasional Indonesia. 2009. Mutu Karkas dan Daging Ayam.

Srigandono, B. 1998. Beternak Itik Pedaging. Trubus Agriwidya. Unggaran. Soeparno. 1992. Komposisi Tubuh dan Evaluasi Bagian Dada Untuk Menentukan

Kualitas Produksi Ayam Kampung Jantan. Buletin Peternakan Vol. 16. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Sunari, R., Hardjosworo, P, S. 2001. Persentase Bagian Pangan dan NonPangan Itik Mandalung Pada Berbagai Umur. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Susanti, T. 2007. Model Regresi Pertumbuhan Dua Generasi Populasi Terseleksi Itik Alabio. Balai Penelitian Ternak, PO BOX 221. Bogor.

Triyantini. Abubakar. Bintang, I. A. K., Antawidjadja, T. 1997. Studi Komparatif Preferensi Mutu dan Gizi beberapa Jenis Daging Unggas. JITV2 (3): 157-163.

Wahid, A. 2003. Itik Sebagai Unggas Piaraan Tertua. Prosding. Kelompok Tani Ternak Itik “Tigan Mekar”, Karang Anyar – Pangurugan. Cirebon.

Wahju, J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan IV. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Windhyarti, Sandhy, Sakti. 2012. Beternak Itik Tanpa Air. Penebar Swadaya. Jakarta.

Wiradhana, A, P., Siti, N. W., Ariana., I. N. T. 2014. Berat Potong dan Bagian Offal External Itik Bali Jantan Yang Diberi Pak an Komersial Disubstitusi Pollar dan Aditif “Duck Mix. Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Denpasar.

Wulandari, A, W., Hardjosworo, P, S., Gunawan. 2005. Kajian Karakteristik Biologis Itik Cihateup Dari Kabupaten Tasikmalaya dan Garut. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Yamin, Moh. 2008. Pemanfaatan Ampas Kelapa dan Ampas Kelapa Fermentasi Dalam Ransum Terhadap Efesiensi Ransum dan Income Over Feed Cost Ayam Pedaging. J. Agroland 15 (2) : 135-139, Juni 2008.

(41)

37

(42)

Lampiran 1. Perhitungan Edible Itik Rambon

NO BB Potong BB Karkas Jantung Hati Gizzard

1 1310 862 10 25 68 2 1261 789 8 26 60 3 1209 738 7 25 49 4 956 613 7 19 37 5 1286 800 8 28 60 6 1485 966 11 27 70 7 1138 730 7 27 56 8 1380 899 11 28 68 9 1003 621 7 24 53 10 1424 939 10 25 68 JUMLAH 12452 7957 86 254 589 RATA-RATA 1245.2 795.7 8.6 25.4 58.9 SD 172.83 123.02 1.71 2.63 10.51 KV 13.8797 15.4606 19.88372 10.35433 17.8438

(43)

39

Lampiran 2. Output perhitungan Edible Itik Cihateup

NO BB Potong BB Karkas Jantung Hati Gizzard

1 1344 872 10 27 69 2 1106 723 7 26 46 3 966 625 8 20 39 4 1177 760 9 31 50 5 1095 693 8 24 41 6 1141 736 8 31 55 7 1357 934 10 29 64 8 1329 867 9 31 62 9 1022 636 8 24 54 JUMLAH 10537 6846 77 243 480 RATA-RATA 1170.8 760.7 8.5 27 53.3 SD 143.46 108.57 1.01 3.87 10.36 KV 12.25 14.27 11.88 14.33 19.43

(44)

Lampiran 3. Output Perhitungan Indible Itik Rambon

NO Darah Bulu Kepala Kaki Leher L. Abd Jeroa

n 1 61 60 81 32 108 6 55 2 74 56 74 32 96 6 54 3 50 45 69 30 94 5 53 4 55 40 68 27 70 5 39 5 71 59 76 32 94 6 58 6 78 55 83 34 112 7 59 7 47 55 73 31 98 6 54 8 77 59 81 32 110 7 57 9 49 55 68 30 80 5 51 10 76 52 81 34 111 7 57 JUMLAH 638 536 754 314 973 60 537 RATA-RATA 63.8 53.6 75.4 31.4 97.3 6 53.7 SD 12.72 6.43 5.87 2.06 13.93 0.81 5.71 KV 19.937 3 11.996 7.785 6.560 14.316 13.5 10.63 3

(45)

41

Lampiran 4. Output Perhitungan Inedible Itik Cihateup

NO Darah Bulu Kepala Kaki Leher L. Abd Jeroan

1 81 56 81 32 111 7 58 2 66 43 69 27 94 6 53 3 58 38 69 33 71 5 40 4 41 63 73 26 106 6 56 5 60 48 71 26 95 5 50 6 64 14 74 31 100 5 65 7 75 37 82 38 104 6 62 8 92 55 83 33 101 6 58 9 53 57 76 26 81 5 53 JUMLAH 590 411 678 272 863 51 495 RATA-RATA 65.5 45.7 75.3 30.2 95.9 5.7 55 SD 15.32 14.88 5.5 4.23 12.67 0.7 7.29 KV 23.38 32.56 7.3 14 13.21 12.28 13.25

(46)

Lampiran 5. Dokumentasi

Gambar 1. Proses Pembersihan Tempat Pakan dan Minum

Gambar 2. Itik Rambon dan Cihateup Generasi ke-3

(47)

43

BIODATA

Penulis, Ssangiyang Muhamad Iqbal dilahirkan di Banten, pada tanggal 16 Oktober 1995, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, putra dari Wawan Hermawan dan Iton Ritonah. Pada tahun 2007 penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 06 Cileungsi, dan pada tahun 2010 penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Cileungsi . Selanjutnya pada tahun 2013 menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Kota Serang Jurusan IPA. Akhirnya pada tahun 2013 penulis terdaftar sebagai Mahasiswa di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, yang kemudian menjalani Program Studi Minat Produksi.Selama masa kuliah penulis aktif berkegiatan di Paguyuban Mahasiswa Banten (PAMATEN) dan menjabat sebagai ketua umum pada tahun periode 2014 – 2015. Kemudian penulis aktif sebagai bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Cattle Buffalo Club (CBC).

Ssangiyang M Iqbal

Gambar

Gambar  1. Proses Pembersihan  Tempat  Pakan dan Minum

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Pembiayaan yang diberikan bank kepada nasabah diperuntukan untuk usaha yaitu teruntuk usaha mikro kecil menengah (UMKM). Bank memberikan pinjaman hanya kepada nasabah

Seperti yang sudah dijelaskan di bab sebelumnya mengenai barang yang diakadkan dalam akad salam kerajinan sangkar burung sudah memenuhi kriteria tersebut karena

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi pasien hipertensi di poli ginjal hipertensi RSUP Haji Adam Malik yang menderita gangguan pendengaran

SKPD Kantor Camat Reban sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah yang mempunyai tugas menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan dan sosial kemasyarakatan berdasarkan

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama R.I, menyatakan bahwa lembaga di bawah ini telah melakukan updating data Pendidikan Islam (EMIS) Periode Semester GENAP

Pengaruh Keterampilan Mengelola Kelas Terhadap Efektivitas Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Produktif Administrasi Perkantoran Kelas X Di Smk Pasundan 3 Bandung Universitas

masih jauh dari KKM yang ditetapkan, hal ini terlihat dari nilai evaluasi pada mata pelajaran bahasa indonesia, lebih dari 23 orang (60%) dari seluruh siswa

Subjek terdiri dari 6 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria 1) siswa kelas XI 2) siswa yang telah melaksanakan tes penyelesaian soal;