BAB II BAB II TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA 1. Definisi 1. Definisi Thalas
Thalassemia adalah semia adalah suatu kelainan genetik darah suatu kelainan genetik darah dimandimana a produkproduksi si hemoglhemoglobin yangobin yang normal tertekan karena defek sintesis satu atau lebih rantai globin. Thalassemia beta mayor normal tertekan karena defek sintesis satu atau lebih rantai globin. Thalassemia beta mayor terjadi karena defisiensi sintesis rantai ß.
terjadi karena defisiensi sintesis rantai ß.7,87,8
2. Epidemiologi 2. Epidemiologi
Secara epidemiologi thalassemia banyak ditemukan di daerah mediterania, timur tengah, Secara epidemiologi thalassemia banyak ditemukan di daerah mediterania, timur tengah, India
India, , PakisPakistan, Asia tan, Asia tenggartenggara, a, Rusia dan Rusia dan ChinaChina..55 Indonesia termasuk dalam sabuk thalassemiaIndonesia termasuk dalam sabuk thalassemia sehingga prevalensi gen pembawa cukup tinggi yaitu 5-10% (Lanni, 2002). Jumlah penderita sehingga prevalensi gen pembawa cukup tinggi yaitu 5-10% (Lanni, 2002). Jumlah penderita thalassemia beta mayor yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya mencapai 80 anak. Kurang thalassemia beta mayor yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya mencapai 80 anak. Kurang lebih 3% dari penduduk dunia mempunyai gen thalassemia dimana angka kejadian tertinggi lebih 3% dari penduduk dunia mempunyai gen thalassemia dimana angka kejadian tertinggi sam
sampai pai dendengan gan 40% kasus 40% kasus adaadalah lah di di AsiAsia.a.66 Di Di IndonesIndonesia ia thalathalassemissemia a merupamerupakan kan penyakipenyakitt ter
terbanbanyak yak diadiantantara ra golgolongaongan n anemanemia ia hemhemoliolititik k dendengan gan penpenyebayebab b intintrakrakorporpuskuskuleuler. r. JenJenisis thalassemia terbanyak yang ditemukan di Indonesia adalah thalassemia beta mayor sebanyak thalassemia terbanyak yang ditemukan di Indonesia adalah thalassemia beta mayor sebanyak 50%
50% dan dan thathalaslassemsemia ia β–Hβ–HbE bE sebsebanyaanyak k 45%45%..7,87,8 FrekueFrekuensi nsi pembawpembawa a sifasifat t thalthalassemassemia ia untuk untuk Indonesia ditemukan berkisar antara 3-10%.
Indonesia ditemukan berkisar antara 3-10%.9,10,119,10,11 Bila frekuensi gen thalassemia 5% denganBila frekuensi gen thalassemia 5% dengan angka kelahiran 23‰ dan jumlah populasi penduduk Indonesia sebanyak 240 juta, diperkirakan angka kelahiran 23‰ dan jumlah populasi penduduk Indonesia sebanyak 240 juta, diperkirakan akan lahir 3000 bayi pembawa gen thalassemia setiap tahunnya.
akan lahir 3000 bayi pembawa gen thalassemia setiap tahunnya.1212
3. Patofisiologi 3. Patofisiologi
Thalassemia beta mayor terjadi karena defisiensi sintesis rantai ß sehingga kadar Hb Thalassemia beta mayor terjadi karena defisiensi sintesis rantai ß sehingga kadar Hb A(α
A(α2ß22ß2) ) menmenuruurun n dan dan terterdapdapat at kelkelebiebihan han dardari i ranrantai tai α, α, sebsebagai agai komkompenspensasi asi akan akan dibdibententuk uk banyak
banyak rantai rantai γ γ dan dan δ δ yang yang akan akan bergabung bergabung dengan dengan rantai rantai α α yang yang berlebihan berlebihan sehinggasehingga pembentukan Hb
pembentukan Hb F (α2γ2) F (α2γ2) dan Hb dan Hb A2 (α2δ2) A2 (α2δ2) meningkat.meningkat.13,1413,14 Meskipun demikian masih terdapatMeskipun demikian masih terdapat kelebihan rantai α yang bebas dan akan beragregasi membentuk badan inklusi pada eritrosit kelebihan rantai α yang bebas dan akan beragregasi membentuk badan inklusi pada eritrosit berinti
berinti di di sumsum sumsum tulang. tulang. Badan Badan inklusi inklusi yang yang banyak banyak mengakibatkan mengakibatkan membran membran eritrosit berintieritrosit berinti men
menjadjadi i kakkaku, u, tidtidak ak mammampu pu berbertahtahan an lamlama a dan dan menmengalgalami ami desdestrutruksi ksi intintra ra medmeduleuler. r. PadPadaa tha
Eritropoiesis menjadi tidak efektif, hanya sebagian kecil eritrosit yang mencapai sirkulasi perifer Eritropoiesis menjadi tidak efektif, hanya sebagian kecil eritrosit yang mencapai sirkulasi perifer dan timbul anemia.
dan timbul anemia.1515 Se
Selalain in ererititroropopoieiesisis s yayang ng titidadak k efefekektitif, f, teterjrjadiadinynya a ananememia ia didiperperbeberarat t ololeh eh prprososeses hemolisis. Proses hemolisis terjadi karena eritrosis yang masuk sirkulasi perifer mengandung hemolisis. Proses hemolisis terjadi karena eritrosis yang masuk sirkulasi perifer mengandung badan
badan inklusi inklusi dan dan segera segera dibersihkan dibersihkan oleh oleh limpa limpa sehingga sehingga usia usia eritrosit eritrosit menjadi menjadi pendek. pendek. Umur Umur eritrosit penderita thalassemia antara 10,3-39 hari. Hemolisis dan eritropoiesis yang tidak efektif eritrosit penderita thalassemia antara 10,3-39 hari. Hemolisis dan eritropoiesis yang tidak efektif bersama
bersama – – sama sama menyebabkan menyebabkan anemia anemia yang yang terjadi terjadi oleh oleh karena karena gangguan gangguan dalam dalam pembentukanpembentukan Hb, produksi eritrosit dan meningkatnya penghancuran
Hb, produksi eritrosit dan meningkatnya penghancuran eritrosit dalam sirkulasi darah.eritrosit dalam sirkulasi darah.1616 Erit
Eritropoiropoiesis esis yang yang meninmeningkat gkat mengakmengakibatkibatkan an hiperphiperplasilasia a dan dan ekspanekspans s sumsusumsum m tulantulangg sehingga timbul deformitas pada tulang. Pada sumsum tulang, akibat eritropoiesis yang masif, sehingga timbul deformitas pada tulang. Pada sumsum tulang, akibat eritropoiesis yang masif, sel-sel eritroid akan memenuhi rongga sumsum tulang atau terjadi hiperplasia sumsum tulang sel-sel eritroid akan memenuhi rongga sumsum tulang atau terjadi hiperplasia sumsum tulang yan
yang g menmenyebayebabkabkan n desdesakan akan sehsehingingga ga terterjadjadi i defdeformormitaitas s tultulang ang terterutautama ma padpada a tultulang ang cepeceper r seper
seperti pada ti pada tulantulang g wajahwajah. . Tulang – Tulang – tulantulang g frontfrontal, parietalal, parietal, , zigomzigomatikuatikus s dan maksila menonjoldan maksila menonjol hingga gigi – gigi atas nampak dan pangkal hidung depresi yang memberikan penampakan hingga gigi – gigi atas nampak dan pangkal hidung depresi yang memberikan penampakan sebagai
sebagai facies facies CooleyCooley. Fenomena. Fenomena facies facies CooleyCooley menunjukkan tingkat hiperaktif eritropoiesis.menunjukkan tingkat hiperaktif eritropoiesis. Eritropoietin juga merangsang jaringan hematopoesis ekstra meduler di hati dan limpa sehingga Eritropoietin juga merangsang jaringan hematopoesis ekstra meduler di hati dan limpa sehingga timbul hepatosplenomegali. Akibat lain dari anemia adalah meningkatnya absorbsi besi dari timbul hepatosplenomegali. Akibat lain dari anemia adalah meningkatnya absorbsi besi dari saluran cerna menyebabkan penumpukan besi berkisar 2-5 gram pertahun.
saluran cerna menyebabkan penumpukan besi berkisar 2-5 gram pertahun.1717
Gambar 1. Gangguan keseimbangan rantai globin. Gambar 1. Gangguan keseimbangan rantai globin.1616
4. Manifestasi Klinis 4. Manifestasi Klinis
Pada thalassemia beta mayor gejala klinis umumnya telah nyata pada umur kurang dari 1 Pada thalassemia beta mayor gejala klinis umumnya telah nyata pada umur kurang dari 1 tahun. Kondisi kronik thalassemia beta mayor menunjukkan tampilan klinis wajah khas
tahun. Kondisi kronik thalassemia beta mayor menunjukkan tampilan klinis wajah khas facies facies Cooley
Cooley, hidung menjadi pesek, maloklusi antara rahang atas dan bawah, ekspansi tulang panjang, hidung menjadi pesek, maloklusi antara rahang atas dan bawah, ekspansi tulang panjang mengakibatkan tulang panjang menjadi rapuh dan mudah terjadi fraktur, penutupan prematur mengakibatkan tulang panjang menjadi rapuh dan mudah terjadi fraktur, penutupan prematur dari epifisis femur bagian bawah sehingga pasien bertubuh pendek, perut anak membuncit, dari epifisis femur bagian bawah sehingga pasien bertubuh pendek, perut anak membuncit, aki
akibat bat pempembesbesaraaran n hathati i dan dan lilimpampa. . HepHepatoatomegmegali ali disdisebaebabkan bkan proproses ses hemhematoatopoipoiesiesis s eksekstratra meduler dan deposit besi yang berlebihan. Splenomegali terjadi karena limpa membersihkan meduler dan deposit besi yang berlebihan. Splenomegali terjadi karena limpa membersihkan sejumlah eritrosit rusak sehingga terjadi hiperplasia limpa sebagai kompensasi. Limpa yang sejumlah eritrosit rusak sehingga terjadi hiperplasia limpa sebagai kompensasi. Limpa yang te
terlrlalalu u besbesar ar memembmbatatasasi i gergerak ak pependndereritita a sesehihingngga ga memeninimbmbululkakan n pepeniningngkatkatan an tetekakananann intraabdominal dan bahaya terjadinya ruptur. Bila terjadi ruptur sangat berbahaya bagi anak intraabdominal dan bahaya terjadinya ruptur. Bila terjadi ruptur sangat berbahaya bagi anak karena dapat terjadi perdarahan yang
karena dapat terjadi perdarahan yang banyak, sedangkabanyak, sedangkan n anak thalassemanak thalassemia sendiri selalu ia sendiri selalu dalamdalam keadaan kadar hemoglobin yang rendah.
keadaan kadar hemoglobin yang rendah.18,1918,19
Penderita juga mengalami gangguan pertumbuhan dan malnutrisi, dimana berat badan Penderita juga mengalami gangguan pertumbuhan dan malnutrisi, dimana berat badan dan tinggi badan menurut umur berada dibawah persentil 50 dengan mayoritas gizi buruk. dan tinggi badan menurut umur berada dibawah persentil 50 dengan mayoritas gizi buruk.2020 Wahidiyat I (1996), menemukan 2,7% penderita thalassemia beta mayor digolongkan dalam gizi Wahidiyat I (1996), menemukan 2,7% penderita thalassemia beta mayor digolongkan dalam gizi baik,
baik, sedangkan sedangkan 64,1% 64,1% gizi gizi kurang kurang dan dan 13,2% 13,2% gizi gizi buruk.buruk.2020 Aspek klinis ini berpengaruh besar Aspek klinis ini berpengaruh besar terhadap kehidupan anak sehari-hari, timbulnya stress tambahan dan dampak psikologis pada terhadap kehidupan anak sehari-hari, timbulnya stress tambahan dan dampak psikologis pada keluarga dan anak.
keluarga dan anak.21,2221,22 May
Mayorioritas tas pendpenderierita ta thathalaslassemsemia ia betbeta a maymayor or memmemiliiliki ki gamgambarbaran an anemanemia ia hiphipokrokromom mikrositik tanpa adanya defisiensi besi. Parameter hematologis yang penting untuk menandai mikrositik tanpa adanya defisiensi besi. Parameter hematologis yang penting untuk menandai sindr
sindroma oma thalasthalassemia beta semia beta mayor yaitu mayor yaitu konsentkonsentrasi hemoglobirasi hemoglobin, n, Mean Mean CorpuCorpusculascular r VolumVolumee (MC
(MCV), V), MeaMean n CorCorpuspusculcular ar HaeHaemogmogloblobin in (MC(MCH) H) yanyang g renrendahdah, , mormorfolfologi ogi sel sel dardarah ah mermerahah (mikrositik hipokrom, anisositosis, poikilositosis, sel target,
(mikrositik hipokrom, anisositosis, poikilositosis, sel target, basophilic stippling basophilic stippling ), ), peningpeningkatankatan hitung retikulosit, penurunan fragilitas osmotik. Pemeriksaan penting lainnya yaitu pengukuran hitung retikulosit, penurunan fragilitas osmotik. Pemeriksaan penting lainnya yaitu pengukuran HbA2 dan HbF dan Hb elektroforesis untuk mengetahui varian hemoglobin. Pada dewasa normal HbA2 dan HbF dan Hb elektroforesis untuk mengetahui varian hemoglobin. Pada dewasa normal sel darah mengandung kira-kira 98% HbA, sangat sedikit HbF dan 2% HbA2. Pemeriksaan sel darah mengandung kira-kira 98% HbA, sangat sedikit HbF dan 2% HbA2. Pemeriksaan kadar besi juga diperlukan (
kadar besi juga diperlukan (Serum IronSerum Iron/SI,/SI, Transferin Iron Binding CapacityTransferin Iron Binding Capacity/TIBC), Feritin/TIBC), Feritin se
Pemeriksaan sumsum tulang menunjukkan gambaran hiperplasia eritroid, dengan rasio eritroid : Pemeriksaan sumsum tulang menunjukkan gambaran hiperplasia eritroid, dengan rasio eritroid : mieloid adalah 20:1 atau lebih tinggi dari semestinya. Sebelum onset hipersplenisme, kecepatan mieloid adalah 20:1 atau lebih tinggi dari semestinya. Sebelum onset hipersplenisme, kecepatan hematopoiesis juga dapat terlihat dari gambaran darah tepi yaitu dengan peningkatan jumlah sel hematopoiesis juga dapat terlihat dari gambaran darah tepi yaitu dengan peningkatan jumlah sel darah putih dan trombosit. Lekositosis yang terjadi dapat dibedakan dengan gambaran yang darah putih dan trombosit. Lekositosis yang terjadi dapat dibedakan dengan gambaran yang tampak pada penderita infeksi karena
tampak pada penderita infeksi karena hitung jenis tetap normal.hitung jenis tetap normal.9,23,249,23,24 5. Diagnosis
5. Diagnosis Di
Diagnagnososis is ththalalasassesemimia a bebeta ta mamayoyor r diditetegagakkkkan an berberdadasasarkrkan an gagambmbararan an klklininis is dadann pemeriksaan laboratorium. Klasifikasi secara kli
pemeriksaan laboratorium. Klasifikasi secara klinis dalam 3 kategori sebagai berikut.nis dalam 3 kategori sebagai berikut.1717 a.
a. ThalasThalassemia β rsemia β ringan, bingan, biasaniasanya tidaya tidak menunjuk menunjukkan probkkan problem yang blem yang bermaknermakna secara secara klinia kliniss dan tidak memerlukan pengelolaan. Kadar Hb biasanya sekitar 8-10 g/dl
dan tidak memerlukan pengelolaan. Kadar Hb biasanya sekitar 8-10 g/dl b.
b. Thalassemia Thalassemia β β sedang, sedang, merupakan merupakan mayoritas mayoritas thalassemia thalassemia β. β. Pasien Pasien paling paling banyak banyak mempunyai kadar Hb sekitar 6-7 g/dl. Secara klinis gejala mirip dengan thalassemia mempunyai kadar Hb sekitar 6-7 g/dl. Secara klinis gejala mirip dengan thalassemia in
intetermrmediedia a dan dan sesecarcara a nornormamal l titidadak k memememerlrlukukan an trtranansfsfususi i dadararah h kekecucualali i memererekaka mengalami infeksi yang dicetuskan oleh anemia
mengalami infeksi yang dicetuskan oleh anemia c.
c. ThThalalasassesemimia a β β beberarat. t. MaManinifefeststasasi i klklininis is sasama ma dendengagan n ththalalasassesemimia a mamayoryor. . KaKadadar r HbHb sekitar 4-5 g/dl
sekitar 4-5 g/dl
6. Penatalaksanaan 6. Penatalaksanaan
Tra
Transfnsfusi usi dardarah ah mermerupaupakan kan pengpengobatobatan an utautama ma untuntuk uk menmenanganggulgulangi angi aneanemia mia padpadaa thalassemia. Regimen transfusi populer adalah regimen hipertransfusion yang mempertahankan thalassemia. Regimen transfusi populer adalah regimen hipertransfusion yang mempertahankan kadar rata-rata Hb pada 12,5 g/dl dan kadar pratransfusi tidak berkurang dari 10 g/dl. Kadar Hb kadar rata-rata Hb pada 12,5 g/dl dan kadar pratransfusi tidak berkurang dari 10 g/dl. Kadar Hb pascatransfusi
pascatransfusi tidak tidak boleh boleh diatas diatas 16 16 g/dl, g/dl, dapat dapat terjadi terjadi hiperviskositas hiperviskositas dan dan komplikasi.komplikasi. Diharapkan pertumbuhan normal dan dapat melakukan aktifitas fisik, menekan eritropoiesis, Diharapkan pertumbuhan normal dan dapat melakukan aktifitas fisik, menekan eritropoiesis, mencegah perubahan skletal dan penyerapan besi gastrointestinal, mencegah hemopoiesis ekstra mencegah perubahan skletal dan penyerapan besi gastrointestinal, mencegah hemopoiesis ekstra medul
medular, ar, mencegmencegah ah splesplenomegalnomegali i dan dan hiperhipersplenisplenisme sme yang akan yang akan berpenberpengaruh garuh terhaterhadap dap kualikualitastas hidupnya. Pemberian transfusi darah yang berulang-ulang mengakibatkan terjadinya penimbunan hidupnya. Pemberian transfusi darah yang berulang-ulang mengakibatkan terjadinya penimbunan besi
besi diberbagai diberbagai jaringan jaringan atau atau organ organ tubuh tubuh seperti seperti kulit, kulit, sel-sel sel-sel Retikulum Retikulum Endotelial Endotelial (RE), (RE), hati,hati, limpa, sumsum tulang, otot jantung, ginjal, tiroid dan
limpa, sumsum tulang, otot jantung, ginjal, tiroid dan lainlain.lainlain.2525
Pada penderita thalassemia beta mayor, besi hasil dari pemecahan/penghancuran eritrosit Pada penderita thalassemia beta mayor, besi hasil dari pemecahan/penghancuran eritrosit disi
disimpan dalam mpan dalam sel-ssel-sel RE el RE untuk yang untuk yang makin lama semakin banyak makin lama semakin banyak sehinsehingga kesanggupan sel-gga kesanggupan sel-sel RE untuk menyimpan besi berkurang dan besi dilepaskan kedalam plasma yang kemudian sel RE untuk menyimpan besi berkurang dan besi dilepaskan kedalam plasma yang kemudian
dia
diangkungkut t oleoleh h tratransfnsferierin n keskeselueluruh ruh tubtubuh. uh. AkiAkibatbatnya nya kadakadar r besbesii serum serum ironiron meninmeningkat gkat dandan saturasi transferin
saturasi transferin juga meningkat. juga meningkat. Kandungan Kandungan besi tubuh besi tubuh normal normal 3-5 g, 3-5 g, pada pada anak anak thalassemiathalassemia sekitar 0,75 g/kgbb. Normalnya setiap orang menyerap 1 mg besi perhari dari pencernaan, pada sekitar 0,75 g/kgbb. Normalnya setiap orang menyerap 1 mg besi perhari dari pencernaan, pada an
anak ak ththalalasassesemimia a sesekikitatar r 10 10 mgmg/h/harari. i. SeSetitiap ap 1 1 ununit it dadararah h sesegagar r atatau au sesebabanyanyak k 45450 0 mlml,, mengandung 200-250 mg besi. Setiap cm kubik
mengandung 200-250 mg besi. Setiap cm kubik packed cell packed cell mengandung 1- 1,6 mg besi, denganmengandung 1- 1,6 mg besi, dengan rat
rata-ra-rata ata trtransansfusfusi i perpertahtahun un dibdibutuutuhkan hkan 180 180 cc/cc/kg/kg/ packed packed cell cell , , tubtubuh uh menmengakugakumulmulasi asi 200200 mg
mg/k/kgbb gbb bebesi si sesetitiap ap tatahuhun. n. KadKadar ar feferirititin n seserurum m padpada a pependenderirita ta ththalalasassesemimia a bebeta ta mamayoyor r meningkat dan ini mencerminkan jumlah kadar cadangan besi pada penderita tersebut. Kadar meningkat dan ini mencerminkan jumlah kadar cadangan besi pada penderita tersebut. Kadar feritin serum penderita thalassemia beta mayor dapat mencerminkan jumlah kadar cadangan besi feritin serum penderita thalassemia beta mayor dapat mencerminkan jumlah kadar cadangan besi penderita tersebut.
penderita tersebut.2525
Zat besi di dalam tubuh disimpan sebagai cadangan dalam bentuk persenyawaan feritin Zat besi di dalam tubuh disimpan sebagai cadangan dalam bentuk persenyawaan feritin dan
dan hemhemosiosiderderin. in. KadaKadarnyrnya a dapadapat t diudiukur kur dengdengan an carcara a anaanalislisa a kimkimia, ia, sedsedangkangkan an yanyang g leblebihih mudah adalah secara histologis melihat kumpulan hemosiderin dalam jaringan. Bila keadaan mudah adalah secara histologis melihat kumpulan hemosiderin dalam jaringan. Bila keadaan hemosiderosis ini disertai dengan kerusakan jaringan dan mengganggu fungsi dari organ yang hemosiderosis ini disertai dengan kerusakan jaringan dan mengganggu fungsi dari organ yang terkena maka disebut hemokromatosis. Penimbunan besi diotot jantung terjadi setelah pemberian terkena maka disebut hemokromatosis. Penimbunan besi diotot jantung terjadi setelah pemberian darah sebanyak 100 unit (kira-kira mengandung besi sebanyak 20-25 g), tetapi sebelum hal ini darah sebanyak 100 unit (kira-kira mengandung besi sebanyak 20-25 g), tetapi sebelum hal ini terjadi besi telah banyak ditimbun didalam hati dan limpa.
terjadi besi telah banyak ditimbun didalam hati dan limpa.2525 Penentuan konsentrasi feritin serumPenentuan konsentrasi feritin serum atau plasma merupakan cara tersering digunakan, karena noninvasif, walaupun kurang sensitif atau plasma merupakan cara tersering digunakan, karena noninvasif, walaupun kurang sensitif dan spesifik, kurang berhubungan dengan konsentrasi besi hati. Interpretasi kadar feritin dapat dan spesifik, kurang berhubungan dengan konsentrasi besi hati. Interpretasi kadar feritin dapat dip
dipengengaruaruhi hi berberbagbagai ai kondkondisi isi yang yang menmenyebayebabkan bkan perperubahubahan an konskonsententrasrasi i bebbeban an besbesi i tubtubuh,uh, termasuk defisiensi asam askorbat, panas, infeksi akut, inflamasi kronis, kerusakan hati baik akut termasuk defisiensi asam askorbat, panas, infeksi akut, inflamasi kronis, kerusakan hati baik akut maupun kronis, hemolisis dan eritropoiesis yang tidak efektif, semuanya terjadi pada pasien maupun kronis, hemolisis dan eritropoiesis yang tidak efektif, semuanya terjadi pada pasien thalassemia beta mayor.
thalassemia beta mayor.2626
Manifestasi klinis yang ditimbulkan akibat penimbunan besi yang berlebihan didalam Manifestasi klinis yang ditimbulkan akibat penimbunan besi yang berlebihan didalam berbagai jaringan/organ tubuh
berbagai jaringan/organ tubuh adalah pertama pada adalah pertama pada kulit terjadi pigmentasi, kulit tampak kulit terjadi pigmentasi, kulit tampak kelabu.kelabu. Pa
Pada da pepememeririksksaaaan n hihiststolologiogis s tatampmpak ak banbanyayak k pipigmgmen en memelalaninin, n, sesedandangkgkan an besbesi i teterlrlihihatat mengelilingi kelenjar keringat.
mengelilingi kelenjar keringat.2727 Kedua pada kelenjar endokrin terjadi gangguan fungsi endokrin.Kedua pada kelenjar endokrin terjadi gangguan fungsi endokrin. Gan
Gangguagguan n funfungsi gsi endendokrokrin in menmenyebyebabkaabkan n perpertumtumbuhbuhan an dan dan masmasa a pubepubertartas s yang yang terterlamlambatbat.. Ketiga pada jantung terjadi gangguan faal jantung. Gangguan ini biasanya timbul pada dekade Ketiga pada jantung terjadi gangguan faal jantung. Gangguan ini biasanya timbul pada dekade kedua yaitu berupa dekompensasi
kedua yaitu berupa dekompensasi jantung, perikarditis, aritmia, fibrilasi dan pembesaran jantung.jantung, perikarditis, aritmia, fibrilasi dan pembesaran jantung. Gan
Wahidiyat I (1996) mendapatkan bahwa dekompensasi jantung yang merupakan sebab kematian Wahidiyat I (1996) mendapatkan bahwa dekompensasi jantung yang merupakan sebab kematian uta
utama ma dardari i penpenderderita ita thathalaslassemsemia ia betbeta a maymayor or diddidahulahului ui radradang ang parparu u berberat. at. PendPenderierita ta yanyangg meninggal tersebut selama hidupnya rata-rata telah mendapat transfusi darah lebih dari 40 liter meninggal tersebut selama hidupnya rata-rata telah mendapat transfusi darah lebih dari 40 liter atau mendapat masukan besi lebih dari 20 g. Keempat pada pankreas dapat terjadi gangguan faal atau mendapat masukan besi lebih dari 20 g. Keempat pada pankreas dapat terjadi gangguan faal pankreas,
pankreas, tetapi tetapi gangguan gangguan faal faal pankreas pankreas ini ini sangat sangat jarang jarang dijumpai. dijumpai. Gangguan Gangguan faal faal pankreaspankreas biasanya
biasanya ditemukan ditemukan pada pada penderita penderita thalassemia thalassemia dewasa dewasa atau atau yang yang berumur berumur lebih lebih dai dai 20 20 tahun.tahun. Ganggua
Gangguan n faal pankreas faal pankreas dapat menimbulkdapat menimbulkan an DiabetDiabetes es MelitMelitus.us.2828 Kelima pada hati akan terjadiKelima pada hati akan terjadi pembesaran
pembesaran hati hati disertai disertai sirosis sirosis atau atau fibrosis. fibrosis. Hal Hal ini ini biasanya biasanya terjadi terjadi pada pada dekade dekade pertama,pertama, ter
terutautama ma pendpenderierita ta thathalaslassemsemia ia betbeta a maymayor or yanyang g menmendapdapat at banybanyak ak trtransansfusfusi i dardarah. ah. SirSirosiosiss ditemukan pada penderita thalassemia yang telah mendapat transfuse darah sebanyak 43,175 ml ditemukan pada penderita thalassemia yang telah mendapat transfuse darah sebanyak 43,175 ml atau masukan besi sebanyak 21.587 mg.
atau masukan besi sebanyak 21.587 mg.66 Terapi kelasi sebaiknya dimulai sesegera mungkin saatTerapi kelasi sebaiknya dimulai sesegera mungkin saat timbunan besi cukup untuk dapat menimbulkan kerusakan jaringan yaitu setelah pemberian timbunan besi cukup untuk dapat menimbulkan kerusakan jaringan yaitu setelah pemberian 10-20 kali transfusi atau kadar feritin meningkat diatas 1000μg/l dan diharapkan menghentikan 20 kali transfusi atau kadar feritin meningkat diatas 1000μg/l dan diharapkan menghentikan progresifitas
progresifitas fibrosis fibrosis hati hati menjadi menjadi sirosis.sirosis.2929 KeKelalasi si bebesi si yayang ng seseriring ng didigungunakakan an adaadalalahh Defer
Deferoksamioksamin, n, tetatetapi pi mempunmempunyai yai beberabeberapa pa keterketerbatasbatasan, an, pemberpemberian ian secara parenteralsecara parenteral, , efek efek samping dan biaya.
samping dan biaya.77 Penelitian Abetz (2006) mengenai pemakaian kelasi besi yaitu penilaianPenelitian Abetz (2006) mengenai pemakaian kelasi besi yaitu penilaian dampak terapi kelasi besi parenteral terhadap kualitas hidup, dan kebutuhan akan terapi oral dampak terapi kelasi besi parenteral terhadap kualitas hidup, dan kebutuhan akan terapi oral dengan tujuan mudahnya pemberian terapi, efikasi dan toleransi baik. Ketaatan rendah terhadap dengan tujuan mudahnya pemberian terapi, efikasi dan toleransi baik. Ketaatan rendah terhadap kelasi besi berdampak negatif terhadap kualitas hidup.
kelasi besi berdampak negatif terhadap kualitas hidup.3030 Deferiprone dan Deferasiroks sebagaiDeferiprone dan Deferasiroks sebagai kel
kelasi asi besbesi i oraoral l memmempunpunyai yai sejsejumlumlah ah keunkeungguggulan lan dibdibandiandingkangkan n defdeferoeroksaksamin min yaiyaitu tu dapadapatt menembus membrane sel dan mengkelasi spesimen beracun intraseluler.
menembus membrane sel dan mengkelasi spesimen beracun intraseluler.66 Li
Limpmpa a yayang ng besbesar ar memerurupapakan kan wawadadah h popool ol dadari ri dadararah h sesehihingngga ga akakan an lelebibih h mumudadahh mengalami destruksi dan menambah volume plasma sehingga kebutuhan akan transfusi darah mengalami destruksi dan menambah volume plasma sehingga kebutuhan akan transfusi darah aka
akan n cendcenderuerung ng menmeningingkatkat. . IndIndikaikasi si splsplenekenektomtomi i ialialah ah limlimpa pa yang yang terterlallalu u besbesar ar sehsehinginggaga memba
membatasi tasi gerak gerak penderpenderita ita sehinsehingga gga menimmenimbulkan bulkan peningkpeningkatan atan tekanatekanan n intrintraabdomiaabdominal nal dandan bahaya terjadinya
bahaya terjadinya ruptur, hipersplenisme ditandai ruptur, hipersplenisme ditandai dengan peningkatan dengan peningkatan kebutuhan transfusi kebutuhan transfusi darahdarah atau
atau kebutukebutuhan han suspesuspensi nsi eritreritrosit/osit/ Packed Packed Red Red Cell Cell /PR/PRC C melmelebiebihi hi 250 250 mg/mg/kgbb kgbb daldalam am satsatuu tahun.
7. Prognosis 7. Prognosis
D e
D en gn ga n a n s es em am ak ik in n b eb er kr ke me mb ab an gn gn yn ya a i li lm u m u k ek es es eh ah at at an n s as aa t a t i ni ni i s us ur vr vi vi va l a l r ar at et e p
penen dede riri ta ta thth alal asas sese mimi a a bbetet a a mama yoyo r r mmenen jaja di di lele bibi h h ppanan jaja nng g didi mumu lala i i ddarar i i trtr aansns fufu si si ddarar aahh seca
secara ra rutrutin, in, dan terapi dan terapi kelakelasi. Selain itu si. Selain itu detedeteksi ksi dini dan dini dan monimonitor fungsi jantungtor fungsi jantung se
secarcara a berberkalkala a jujuga ga penpentiting ng padpada a penpenderderitita a thathalalassssemiemia a betbeta a mamayoryor. . OpOperaerasisi transpal
transpalntasi sumsum tulang merupakan satu – ntasi sumsum tulang merupakan satu – satunya terapi definitif untuk pasiensatunya terapi definitif untuk pasien thalassemia beta mayor.
Gambar 2. Manajemen dan komplikasi thalassemia Gambar 2. Manajemen dan komplikasi thalassemia
BAB III BAB III KESIMPULAN KESIMPULAN
1.
1. ThaThalaslassemsemia adalaia adalah h suasuatu kelaitu kelainan genetnan genetik darah dimanik darah dimana a proprodukduksi hemogsi hemogloblobinin yan
yang g nonormrmal al tetertrtekekan an kakarerena na dedefefek k sisintntesesis is sasatu tu atatau au lelebibih h rarantntai ai glglobobinin.. Thalassemia beta mayor terjadi karena defisiensi sintesis rantai ß.
Thalassemia beta mayor terjadi karena defisiensi sintesis rantai ß. 2.
2. Jenis tJenis thalashalassemia tesemia terbanyarbanyak yang ditemuk yang ditemukan di Indonekan di Indonesia adalsia adalah thalasah thalassemia betsemia betaa mayor sebanyak 50% dan thalassemia β–HbE sebanyak 45%.
mayor sebanyak 50% dan thalassemia β–HbE sebanyak 45%. 3.
3. ThaThalaslassemsemia beta mayoia beta mayor menunjr menunjukkaukkan tampin tampilan klilan klinis wajnis wajah khasah khas facies Cooley facies Cooley,, hidung menjadi pesek, maloklu
hidung menjadi pesek, maloklusi antara si antara rahang atas dan rahang atas dan bawah, ekspansi tulanbawah, ekspansi tulangg panjang
panjang mengakibatkan tulang mengakibatkan tulang panjang menjadi panjang menjadi rapuh dan rapuh dan mudah terjadi mudah terjadi fraktur,fraktur, penutupan
penutupan prematur prematur dari dari epifisis epifisis femur femur bagian bagian bawah bawah sehingga sehingga pasien pasien bertubuhbertubuh pendek, perut anak membuncit, akibat pembesaran hati dan limpa.
pendek, perut anak membuncit, akibat pembesaran hati dan limpa. 4.
4. MaMayoyoriritatas s pependndereritita a ththalalasassesemimia a bebeta ta mamayoyor r mememimililiki ki gagambmbararan an ananememiaia hipokrom mikrositik tanpa adanya defisiensi besi.
hipokrom mikrositik tanpa adanya defisiensi besi. 5.
5. KlasiKlasifikasfikasi secara klii secara klinis dalam 3 katenis dalam 3 kategori, yaigori, yaitu thalastu thalassemisemia β ringan, thalaa β ringan, thalassemissemiaa β sedang, dan thalassemia β berat.
β sedang, dan thalassemia β berat. 6.
6. ThalasThalassemia β risemia β ringan, biangan, biasanya tisanya tidak menundak menunjukkan prjukkan problem yaoblem yang bermang bermakna secarkna secaraa klinis dan tidak memerlukan pengelolaan.
klinis dan tidak memerlukan pengelolaan. Kadar Hb biasanya sekitar 8-10 g/dl.Kadar Hb biasanya sekitar 8-10 g/dl. 7.
7. ThaThalaslassemsemia β ia β sedsedang, meruang, merupakpakan an maymayorioritas thaltas thalassassemiemia a β. Pasieβ. Pasien n palpaling banyaing banyak k me
mempmpununyayai i kakadadar r Hb Hb sesekikitatar r 6-6-7 7 g/g/dldl. . SeSecacara ra klklininis is gegejajala la mimiririp p dedengnganan thalassemia intermedia dan secara normal tidak memerlukan transfusi darah kecuali thalassemia intermedia dan secara normal tidak memerlukan transfusi darah kecuali mereka mengalami infeksi yang dicetuskan oleh anemia.
mereka mengalami infeksi yang dicetuskan oleh anemia. 8.
8. ThalasThalassemia β bersemia β berat. Maniat. Manifestfestasi klinasi klinis sama deis sama dengan thalngan thalassemassemia mayor. Kaia mayor. Kadar Hbdar Hb sekitar 4-5 g/dl.
sekitar 4-5 g/dl. 9.
9. TraTransfnsfusi darausi darah h mermerupakupakan pengobaan pengobatan utamtan utama a untuntuk menanguk menanggulgulangangi i anemanemia padaia pada thalassemia.
thalassemia. 10.
10. Terapi kelasTerapi kelasi diperlukan untuk mengatasi diperlukan untuk mengatasi penimbunan besi akibat transfusi penimbunan besi akibat transfusi padai pada jaringan
jaringan atau atau organ organ yang yang bisa bisa menyebabkan menyebabkan gangguan gangguan fungsi fungsi dan dan kerusakankerusakan organ tersebut, terutama jantung.
11.
11. SelSelain ain itu itu dipdiperlerlukan ukan jugjuga a monmonitoitoriring ng funfungsi gsi janjantuntung g secsecara ara rutrutin. in. GangGangguaguann jantung merupakan penyebab kematian utama pada thalassemia beta mayor.
jantung merupakan penyebab kematian utama pada thalassemia beta mayor. 12.
12. IndikaIndikasi splenektsi splenektomi ialah limpa yang omi ialah limpa yang terlterlalu besar sehingga membatasalu besar sehingga membatasi i gerak gerak penderita
penderita sehingga sehingga menimbulkan menimbulkan peningkatan peningkatan tekanan tekanan intraabdominal intraabdominal dandan bahaya terjadinya ruptur.
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA
1.
1. IskIskandaandar. r. (20(2010)10).. ThThalalasasememia ia pepenynyakiakit t tutururunanan n yayang ng bibisa sa didicecegahgah. . InInililahah.c.comom
http://www.inilah.com/news/read/gaya-hidup/2010/01/02/255741/thalasemia-penyakit-turunan-yang-bisa-dicegah/
turunan-yang-bisa-dicegah/
2.
2. RuRuswswanandidi. . (2(200009)9).. Jumlah Jumlah penderita penderita thalasemia thalasemia naik naik 8,3%.8,3%. Kompas.comKompas.com http://kesehatan.kompas.com/read/2009/03/05/21122544/Jumlah.Penderita.Thalassemia.
http://kesehatan.kompas.com/read/2009/03/05/21122544/Jumlah.Penderita.Thalassemia.
Naik.8,3.Persen
Naik.8,3.Persen..
3.
3. RuRudodolplph h C. D, C. D, RuRudodolplph h A. M, A. M, HoHoststetetteter r M. K, M. K, LiListster G er G anand d SiSiegegel N. el N. J. (20J. (200202).). Rudolph’s
Rudolph’s Pediatric’sPediatric’s. . parpart t 19 19 bloblood od and and bloblood-od-forforminming g tistissuesues. s. ThaThallallasemsemia. ia. 21s21stt Edition. McGraw-hill company: North America.
Edition. McGraw-hill company: North America.
4.
4. HaHassssan R an R dadan n AlAlatatas H. (20as H. (200202)).. Buku Buku Kuliah Kuliah 1 1 Ilmu Ilmu Kesehatan Kesehatan anak anak . . babagigian an 1919 Hematologi, Bagian ilmu kesehatan anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Hematologi, Bagian ilmu kesehatan anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.
Jakarta.
5.
5. WeWeatatheher DJr DJ, Cl, Clegegg JB. (g JB. (2002001)1).. The Thalassemia syndromesThe Thalassemia syndromes, 4th ed. Blackwell Scientific, 4th ed. Blackwell Scientific Publ. Oxford.
Publ. Oxford.
6.
6. RunRund D, d D, RacRachmihmilewlewitz itz E. E. (20(2005)05).. Medical progress β thalassemia Medical progress β thalassemia. NEJM.. NEJM.
7.
7. MuMuntnthe he BGBG. (. (19199797).). Country report thalassemia and update in hematologyCountry report thalassemia and update in hematology, Jakarta., Jakarta.
8.
8. WaWahihididiyayat t I, ModeI, Modell B, ll B, MuMuslslicichahan n S, AbduS, Abdulslsalalam am M. (198M. (1985)5).. ThalasThalassemia and semia and itsits problem
problem in in Indonesia Indonesia by by the the year year of of 20002000. . PresePresented in nted in the Internatthe International Conferencional Conference e of of thalassemia. Bangkok.
thalassemia. Bangkok.
9
9.. WWaahhiiddiiyyaat t II.. ThalasThalassemia dan semia dan permapermasalahasalahannya nnya di di IndonesIndonesiaia. . In In : : FiFirmrmanansysyah ah A,A, Sastroasmoro S, Trihono PD, Pujiadi A, Tidjaja b, Mulya GD. (1999.)
Sastroasmoro S, Trihono PD, Pujiadi A, Tidjaja b, Mulya GD. (1999.) eds.eds. Naskah Naskah Lengkap Konika XI
Lengkap Konika XI . IDAI. Jakarta.. IDAI. Jakarta.
10.
10. SofSofro AS. (199ro AS. (1995).5). Molecular pathology Molecular pathology of the of the α-thalassemia in Indonesiaα-thalassemia in Indonesia. South east As. South east As J Trop med and Pub Health.
J Trop med and Pub Health.
11.
11. WahWahidiidiyat I. yat I. (19(1979)79).. Penelitian Penelitian thalassemia thalassemia di di Jakarta Jakarta (dissertation)(dissertation). Jakarta: Fakultas. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kedokteran Universitas Indonesia.
12.
12. WaWahihididiyayat t PAPAW. W. (2(2007007).). Problem Problem and and management management of of thalassemia thalassemia in in JakartaJakarta.. Department of child health FKUI. PIT Yogyak
Department of child health FKUI. PIT Yogyakarta.arta.
13.
13. WasWasi P. (199i P. (1996).6). Thalassemia : Clinical aspect and screening Thalassemia : Clinical aspect and screening . In: Mc Arthur JR, editor.. In: Mc Arthur JR, editor. Ed
Educucatatiion on prprogogrramamme me of of tthe he 2626tth h cocongngreresss s of of tthe he inintterernanatitiononal al sosocicietety y of of haematology.Singapore.
14.
14. WeaWeathetheralrall l DJ. (2004)DJ. (2004).. The The ThalThalassassaemiaemias as : : The The rolrole e of of molmolecuecular lar gengenetietics cs in in anan evolving global health problem
evolving global health problem. American Journal of Human Genetics.. American Journal of Human Genetics.
15.
15. Mc Donagh KT, NiMc Donagh KT, Nienhuis Aenhuis AW. (1993)W. (1993).. The thalassemiasThe thalassemias. In : Nathan DG, Oski FA, eds.. In : Nathan DG, Oski FA, eds. Hematology of infancy and childhood. 4th ed. Philadelphia: WB Saunders Company. Hematology of infancy and childhood. 4th ed. Philadelphia: WB Saunders Company.
16.
16. CapeliCapelini N, Cohen ni N, Cohen A, EleftA, Eleftheriiheriiou A, ou A, Piga A, Porter J. (2000).Piga A, Porter J. (2000). eds. Guidelines for theeds. Guidelines for the clinical management of thalassemia
clinical management of thalassemia. Thalassemia International Federation.. Thalassemia International Federation.
17.
17. Cao A, RosatelCao A, Rosatelli MC, Monni G, Galanelli MC, Monni G, Galanelo R. (2002).o R. (2002). Screening for thalassemia: a model Screening for thalassemia: a model of
of sucsuccescesss. . InIn: : SymSymposposiuium m nenew w horhorizizon on in in ththalalasassesemimia a cocontntrorol l frfrom om gengene e to to ththee community. Jakarta.
community. Jakarta.
18.
18. BenBenz z EJ, GiarEJ, Giardindina a PJVPJV. . (19(1995)95).. Thalassemia syndromesThalassemia syndromes. In: Miller DR, Baehner RL,. In: Miller DR, Baehner RL, Miller PL, eds. Blood diseases of infancy and
Miller PL, eds. Blood diseases of infancy and childhood. 7th ed. New childhood. 7th ed. New York Mosby.York Mosby.
19.
19. LokLokesheshwar MR. war MR. (20(2005)05).. Modern Modern trends trends in in management management of of thalassemiathalassemia. New England. New England Journal Med.
Journal Med.
20.
20. TienboTienboon P, Sanguansermon P, Sanguansermsri T, Fuchs GJ. (1996)sri T, Fuchs GJ. (1996).. Malnutrition and growth Malnutrition and growth abnormalitisabnormalitis in children with beta thalassemia mayor
in children with beta thalassemia mayor . K Trop Med Public Health.. K Trop Med Public Health.
21.
21. PerPerin JM, Thyen U. (1999in JM, Thyen U. (1999).). Chronic illnessChronic illness. In : Levine MD, Carey WB, Crocker AC,. In : Levine MD, Carey WB, Crocker AC, eds. Developmental-behavioral pediatrics. 3rd ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company. eds. Developmental-behavioral pediatrics. 3rd ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company.
22.
22. RatRatip S, ip S, ModModell B. (1996ell B. (1996).). Psychological Psychological and and sociological sociological aspect aspect of of thalassemiathalassemia. In :. In : Seminars in Hematology, Vol 33, No 1 (January).
Seminars in Hematology, Vol 33, No 1 (January).
23.
23. GalaneGalanello R, llo R, ElefEleftheritheriou A, ou A, SynodiSynodinos JT, Old nos JT, Old J, Petrou M, AngastiniJ, Petrou M, Angastiniotis M. (2003).otis M. (2003). Prevention
Prevention of of thalassemias and thalassemias and other haemoother haemoglobin globin disordersdisorders. Published by Thalassemia. Published by Thalassemia International Federation.
International Federation.
24.
24. OliviOlivieri NF. (eri NF. (1999).1999). The ß thalassemiasThe ß thalassemias. NEJM.. NEJM.
25.
25. LokeshLokeshwar MRwar MR. (200. (2005).5). Modern trends in management of thalassemia Modern trends in management of thalassemia. NEJM.. NEJM.
26.
26. PermonPermono B, Ugrasena IDo B, Ugrasena IDG. (2005).G. (2005). Hemoglobin Hemoglobin abnormal, abnormal, thalassemiathalassemia. In : Buku Ajar . In : Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak, IDAI.
Hematologi-Onkologi Anak, IDAI.
27.
27. TelfeTelfer P, r P, ConstaConstantinintinidou G, dou G, AndreoAndreou P, u P, ChrisChristou S, tou S, Modell B, AngastiModell B, Angastiniotiniotis M. s M. (2005)(2005).. Quality of life in thalassemia
Quality of life in thalassemia. Annals of the NY Acad of Science.. Annals of the NY Acad of Science.
28.
28. Vullo R, ModVullo R, Modell B, Georgell B, Georganda B. (1995)anda B. (1995).. What is thalassemia? 2nd ed What is thalassemia? 2nd ed . The Thalassemia. The Thalassemia International Federation.
29.
29. Rund D, RachmRund D, Rachmilewiilewitz. (2000tz. (2000).). New trends New trends treatment of treatment of thalassemiathalassemia. Critical reviews in. Critical reviews in Oncology hematology.
Oncology hematology.
30.
30. AbeAbetz L, tz L, BalBaladi JF, Jones P, Rofaiadi JF, Jones P, Rofail l D. (2006D. (2006).). The impact of iron overload and itsThe impact of iron overload and its treatment on quality of life:result from a literature review
treatment on quality of life:result from a literature review . Health and Quality of life. Health and Quality of life outcomes.